Biografi Soekarno : Yang Terbit, Tenggelam, dan Kembali Bersinar

by : Jihan Davincka

***

Rujukan tulisan, disarikan dari berbagai sumber. Lihat di akhir tulisan, ya ;).

***
Di pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, yang cukup sering diulas adalah peristiwa Gestapu. Peristiwa yang me’wajib’kan kita, terutama para belia di masa tahun 80 an, untuk menghujat PKI (organisasi busuk yang kerjanya membantai ustaz). Sekaligus menanamkan paham bahwa Soekarno, sang presiden kala itu, bertanggung jawab atas salah satu sejarah terkelam tersebut.

Kelam bukan karena ada 7 jenderal yang terbunuh di penghujung bulan september 1965. Tapi, justru ada ratusan ribu nyawa lain yang ikut melayang selepas peristiwa tersebut.

Peristiwa yang sudah menyajikan banyak bukti namun masih sarat misteri dalam gelaran sejarah revolusi nasional.Sang presiden yang punya prinsip ‘gila’ untuk menyatukan kaum Nasionalis-Agamis-Komunis tersebut tentu tak diizinkan mendapat simpati dari kaum muslim. Jadi, semasa sekolah, saya tahunya komunis itu ya penentang Islam.Saya tidak memuja komunis.

Buat saya, baik kapitalis maupun sosialis, tak ada yang benar. Sebagai seorang muslim, saya selalu percaya syariah Islam masih satu-satunya jalan terbaik untuk kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, mohon maaf, kalau yang sekarang lagi hits membawa-bawa nama Islam dalam dunia politik sangat jauh dari bayangan saya tentang kesempurnaan Islam itu sendiri *noOffense* :P.***Timeline hari ini ramai membahas gelar “Pahlawan Nasional” yang akhirnya resmi disematkan kepada Soekarno-Hatta. Sebelumnya, keduanya cuma resmi mendapat gelar “Pahlawan Proklamator”.

Kebetulan literatur yang sudah banyak dibaca adalah tentang Soekarno. Jadi tulisan ini khusus untuk membahas Bung Karno. Presiden pertama RI yang pernah sukses membuat ‘galau’ pemerintahan kapitalis Amerika di tahun 60-an silam :D.

***

Dulu, satu-satunya yang saya tahu, presiden satu ini nyentrik banget. Tergila-gila pada seni dan…wanita! Hehehe. Buku pertama tentang Soekarno yang saya baca adalah : “Istri-istri Soekarno.”

Masa remajanya banyak diulas dalam buku “Kuantar ke Gerbang.” Sebuah buku yang sebenarnya bercerita tentang Inggit Garnasih, perempuan pertama yang berusia 12 tahun lebih tua daripada beliau. Yang berhasil menawan hati sang proklamator dalam rentang waktu paling lama.

Diceritakan tentang Soekarno muda yang tampan, idealis, cerdas, dan dari dulu ternyata memang penggemar wanita. Hehehe.

Cara berpikir lugas dan kegemarannya berbicara membawanya sebagai salah satu orator ulung. Salah satu untaian kata-kata beliau yang sangat terkenal adalah :

โ€œBERI aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.โ€ (Bung Karno)

Sesungguhnya Soekarno muda sudah sering mendapat perhatian khusus dari guru-guru belandanya. Tapi beliau memang bukan orang sembarangan. Di usia belia, sudah ditancapkannya cita-cita membawa bangsa Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka.

Sebuah mimpi besar yang kelak membawanya bolak balik masuk penjara, bahkan terbuang di pengasingan nun jauh di Pulau Bangka.

Di masa-masa perjuangan kemerdekaan, sedari muda, pergaulannya sudah sangat luas. Salah satu tempat favoritnya adalah di lingkungan rumah Tjokroaminoto (yang disebutnya sebagai “dapur revolusi Indonesia.”). Disinilah beliau bertemu Ki Hajar Dewantara (penggagas pendidikan nasional melalui Taman Siswa), berkenalan dengan Alimin (yang memperkenalkannya pada Marxisme), bahkan dengan Semaun. Seorang tokoh yang aktif di Sarekat Dagang Islam sekaligus anggota dari ISDV, cikal bakal PKI.

Mungkin dari situlah, Soekarno mendapat gagasan tentang Agama-Komunis, dua hal yang hingga kini tak pernah bisa terjembatani. Tapi kemudian di masa kuliah, Soekarno takluk pada paham Nasionalis. Di masa itulah, mimpinya, akan sebuah negara merdeka tempat berbagai ras dan agama mengikatkan kesetiaan pada satu tanah air yang sama, mulai bersemi.

Namanya makin bergaung setelah menuliskan artikel “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme.” Soekarno menyerukan semangat persatuan. Berdiri dalam lingkaran yang sama untuk melakukan perlawanan non-kooperatif terhadap penjajahan Belanda.

Soekarno adalah ilham terhadap Sumpah Pemuda. Sekaligus perumus dasar-dasar Pancasila secara gemilang.

***

Perjuangannya mengalami pasang surut. Tak jarang Soekarno yang narsis mengalami hubungan yang sulit dengan rekannya, Bung Hatta. Bung Hatta menginginkan kaderisasi untuk mendukung lahirnya militan-militan sekaliber Soekarno. Sebaliknya Soekarno lebih suka berkoar-koar di depan massa, mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menggerakkan mereka.

Siapa sangka, karier politiknya, yang kelihatannya akan berakhir di pengasingan selama 4 tahun di Pulau Ende, malah kembali bersinar setelah Belanda menyerah pada Jepang.

Soekarno memiliki harapan yang terlampau tinggi pada ‘tuan baru’nya ini. Ditelannya rasa arogan yang dulu berkobar sedemikian perkasa terhadap Para Meneer. Dikerahkannya kemampuan untuk menghipnotis khalayak melalui orasinya. Dibujuknya para pemuda untuk ikut barisan Romusha. Sebagian besar mereka dikirim untuk kerja paksa dan tak pernah kembali lagi.

Hatinya remuk mengenang dirinya yang dianggapnya telah mengirim mereka ke lembah kematian. Tapi ucapannya setelah itu, “Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, akan saya lakukan.”

Tentu saja, hal ini akan selalu menjadi polemik sepanjang waktu. Perdebatan moral yang tak ada habisnya.

Bersama Hatta, Soekarno tampil ke depan podium, membuka sejarah baru untuk bangsa Indonesia. Jatuh bangun bersama-sama di awal masa-masa kemerdekaan. Namun, Hatta yang lebih ‘dingin’ dan disiiplin akhirnya memilih untuk menyingkir dan membiarkan Soekarno yang terkesan tak sabaran berkibar dengan Demokrasi Terpimpin-nya.

***

Di tahun 60-an, prinsip Nasakomnya membuat kaum kapitalis gemas. Pemerintah Amerika yang tengah bergulat dengan komunis Vietnam, makin dirundung kecemasan dengan Soekarno yang keras kepala. Indonesia, dengan PKI-nya, berhasil menjadi negara dengan partai komunis terbesar di luar negara-negara yang memang berpaham komunis.

Tapi, kepopuleran Soekarno di mata rakyat menggentarkan sang Negara Jantung Dunia untuk ‘menyerang’ secara terbuka. Konon, kaum kapitalis ini, diam-diam menyusup dalam setiap kisruh yang sepanjang tahun 50 dan 60-an gencar dilancarkan oleh daerah. Melalui mata-matanya, para kapitalis turut membiayai dan mendanai para perongrong kekuasaan Bung Karno.

Namun kemudian, sadar dengan kesalahannya, kaum kapitalis akhirnya menemukan ‘sekutu sejati’nya : Angkatan Darat.

Tak ada buku yang benar-benar sanggup membahas siapa sebenarnya ‘otak’ dari peristiwa Gestapu. Peristiwa sehari yang terkesan ‘konyol’ ini yang akhirnya diputarbalikkan secara sempurna untuk menjungkalkan kekuasaan Soekarno.

PKI, yang kala itu merupakan anak emas Soekarno, salah satu alat kesombongannya untuk menantang Raksasa Kapitalis, ditumpas nyaris tak berbekas. Setelah Gestapu dilumpuhkan dalam tempo sangat singkat, kurang dari 24 jam saja.

Pertanyaan besar yang sudah tak menyisakan saksi hidup ini masih terus berputar. Mengapa PKI, sebuah partai besar beranggotakan sekitar 3 juta orang, mendapat dukungan penuh dari Presiden Soekarno, yang masih sangat berpengaruh saat itu, rela ‘membunuh diri’nya dengan pemberontakan bodoh (yang secara skenario sudah dipastikan akan gagal) di penghujung september 1965.

***

Di tengah-tengah kehancuran yang tengah dijalaninya, Soekarno ‘menitipkan’ Ali Sadikin untuk ibukota. Soeharto merestui dengan setengah hati. Kala Ali Sadikin memimpin Jakarta, dana yang dikucurkan sangat sedikit. Tapi, Soekarno tak salah pilih. Justru di tangan Ali Sadikin, Jakarta berbenah dengan sendirinya.

Meskipun jalan yang ditempuh Bang Ali cukup kontroversial. Beliau mendanai pembangunan fasilitas umum dengan melegalkan perjudian dan prostitusi. Ditanggapinya semua kontroversi dengan ucapan, “Anda nikmati saja semua fasilitas umum itu. Kita tahu dananya darimana. Urusan lainnya, itu antara saya dengan Tuhan saja.”

Dan sejarah menasbihkan Ali Sadikin sebagai salah satu gubernur yang dianggap paling mumpuni, hingga detik ini.

Berpuluh-puluh tahun setelah G 30 S, Orde Baru berusaha keras membenamkan nama besar Soekarno. Namun, Soekarno membuktikan sumpahnya sendiri, “Sejarah akan membersihkan namaku.”

Segala upaya tersebut berakhir dengan hasil terbalik. Sesungguhnya nama besarnya tak pernah pudar. Dan orde baru tak pernah benar-benar mampu melumpuhkan pesona seorang Bung Karno. Sejarah dan waktu justru melahirkan pengampunan untuk kekhilafannya di masa lalu.

Bahkan, pemerintah menolak permintaannya untuk dikuburkan di Bogor. Bogor terlalu dekat dengan pusat pemerintahan. Tentu dikhawatirkan makam beliau akan menjadi tempat ziarah populer.

Dalam salah satu buku 4 serangkai bapak bangsa keluaran Tempo “Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia” dituliskan bahwa “Jasad matinya pun membuat gentar!”

Kini, kapitalis sudah sangat menggurita. Mungkin sudah terlambat untuk mencerna cita-cita seorang Soekarno yang pernah ingin mengusir penuh kepemilikan asing untuk sumber daya apa pun di Indonesia. Yang begitu perkasa meyakini kemampuan kita untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Dan tak lelah membagi ‘kesombongan’ ini kepada rakyatnya.

Lihatlah kita, bahkan sebagai negara penghasil tempe, kita pernah diterjang badai : kisruh soal tempe. Sudah semakin menjauh dari pernyataan garang beliau, ” Biar Bangsa Tempe Asal Bukan Mental Tempe!”

***

Sebegitu banyak ironi yang ditampilkan dari sosok pemimpin kontroversial ini. Tapi nama besarnya tentu tak boleh sedikit pun dikecilkan atas jasa luar biasanya.

Meskipun (mungkin) tak pernah mengangkat senjata secara langsung di hadapan kompeni, tapi anak muda luar biasa ini jatuh bangun bertahun-tahun, melepaskan tawaran masa depan dari Para Meneer, bersama-sama para pejuang lain, mengantarkan kita semua memasuki gerbang kebebasan sebagai bangsa yang merdeka.

Bahkan nama besarnya masih bergema di KTT GNB 2012, dikutip oleh pemimpin Iran, Khameini, “….tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Sukarno, satu dari para pendiri gerakan ini di Konferensi Bandung 1955 yang legendaris, dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan.”

***

Begitulah seorang Soekarno. Seseorang yang sarat dengan puja dan caci. Yang tak pikir panjang menentang pembentukan negara Federasi atas Malaysia dan Singapura oleh pemerintahan Inggris di kala itu. Namanya pernah menciutkan pemimpin dunia sekaliber negara Amerika sekali pun.

“Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa.” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat).

***

Disarikan dari berbagai buku :

“Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia.” (seri 4 serangkai Bapak Bangsa oleh Majalah Tempo)

“Dalih Pembunuhan Massal / Pretext for Mass Murder” (John Roosa, 2006)

“Kuantar ke Gerbang” (Ramadhan KH).

“Istri-istri Soekarno.” (Lupa nama pengarangnya :P).

A Blast from Our Hajj-journey

Mabrook, Haji Dani Rosyadi ^_^. Thawaf qudum 1.5 jam, thawaf ifadah 2.5 jam. Semuanya non stop gendong Narda :). Tetap mampu khusyuk berdoa di tiap putaran. Thawaf wada nyaris 4 jam! Lucky us, I got my period in that morning. Can’t imagine if he did thawaf wada last night with me and our little boy hehehe.

Tercekat melihat Masjidil Haram dan sekitarnya sepanjang sore dan tadi malam. Akses ke lantai 1 ditutup rapat. Thawaf di lantai 2. Sesaknya juga minta ampun. Bis kami yang seharusnya meninggalkan Mekkah ke Jeddah pukul setengah 7 malam, mundur hingga jam 11 malam. Hampir semua rekan-rekan pulang dengan langkah tertatih-tatih dan wajah kelelahan.

Saya tak bisa berbahasa Arab. Hanya sanggup memberi tatapan mata menyemangati sembari berujar, “Mabrook, mabrook, mabrur insya Allah.”

Terima kasih ya Allah, putra kami tergolong tidak rewel sama sekali. Dalam tenda Arafah, orang-orang sekitar berdebat dan tidak sabaran karena panasnya cuaca. Saling berebutan menduduki karpet-karpet yang dekat dengan pendingin ruangan. Anak-anak kecil banyak yang meraung-raung. Tapi Narda terlihat santai saja bermain dengan kantong tidur yang dibagi-bagikan ke tiap orang. Hingga akhirnya terlelap sendiri :'(.

Antri menuju stasiun untuk kembali ke Mina dari Arafah selama 3 jam tak mengeluarkan tangis sama sekali. Sudahlah sesak, gerah, orang-orang tidak sabar dan saling dorong mendorong, tapi Narda diam saja bahkan sesekali tertidur.

Ada kesalahan teknis dalam melontar jumrah hari pertama. Kami jalan kaki dari Mina ke tempat jumarat, seharusnya naik kereta. Sekitar 4 kilo di teriknya siang hari juga tidak membuat bocah 1.5 tahun ini rewel sama sekali. Emaknya malah yang cranky (as usual, ya), ahahahahahahaha.

Thawaf ifada di lantai 2, biarpun memakan waktu 2.5 jam, tapi hawanya sejuk kena AC dan kipas angin yang tersebar di seluruh penjuru atap masjid. Tentu saja Narda riang terus dalam gendongan.

Mabrook juga buat haji kecil kami, Narda Atif Rosyadi :). Si lembut yang sabar hati :). Wajahnya mirip dengan saya (katanya) tapi sifatnya jauh ya booooooo :P.

Cerita-cerita seru lainnya menyusul ;). Ini cuma ‘pemanasan’ ho ho ho. Cerita seru selengkapnya akan saya tulis nanti.

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung

All That Comes Before

Tahun 2010, di bulan Juli melangkahkah kaki keluar dengan penuh keraguan dari bandara. Pertama kalinya menghirup udara kota Jeddah.

Baru saja menjejakkan kaki di Negeri Petro Dolar ini, saya sudah diberi rezeki. Hamil anak ke-2 di bulan ke-2 bermukim di kota (yang ternyata) cantik ini :).

Di tahun pertama itu, tetangga saya berangkat haji. One of my best friendsย  here who has left Jeddah at the beginning of this year.

Biarpun saya menggodanya sepanjang waktu, “Sepertiko mau pergi kemping, Rani. Coba kalau di Makassar, adami itu gandrang bulo antarko pergi Mekkah.” (Kayak mau kemping aja lu, ,Rani. Coba kalau di Makassar, sudah ada Gandrang Bulo yang mengiringi keberangkatan).

Tapi dalam hati saya iriiiiiiiii huhuhu.

Dan di tahun itu juga, saya sudah meyakini, tahun depannya pun, mungkin belum waktunya. Saya akan melahirkan, dan tahun haji berikutnya, si bayi masih akan berusia 6 bulan. No. Gak mungkin lah :(.

***

Saya dan suami sama-sama sepakat bahwa kesempatan untuk hidup di Jeddah adalah salah satu hal terbaik yang pernah dikaruniakan Allah kepada kami. Terima kasih ya, Allah :). Maaf jika dulu saya berburuk sangka :P.

Tapi hidup terus berjalan. Keinginan untuk mencicipi belahan bumi yang lain (dan kalau bisa ada saljunya ya Allah, hahaha :p) tak pernah surut. Setelah tahun ini tuntas menunaikan janji pada orang tua masing-masing, kami merasa, “Maybe it’s time to leave.”

Bulan Juni tahun ini, doanya langsung dijawab Allah. Prosesnya sangat meyakinkan. Tapi ternyata, on a very last step, He said, “Hold on! Not now.” But we managed to move on ;). Padahal saat itu, saya sudah pasrah.

Kami suka bercanda di sini, “Belum sah tinggal di Jeddah kalau belum naik haji.” Hehehehe. Mungkin saya akan termasuk yang tidak ‘sah’.

Selepas Ramadan tahun ini, beberapa teman sudah mencanangkan niat berhaji. Wah, kapan giliran saya? :(. Saya tanggapi dengan bergurau, “jangan semuanya, dong. Tahun depan gue ama siapa? hehehe.”

Dan rahasia dibalik takdirNya terjawab sekitar 2 bulan lalu. Dimulai dengan rekan kerja suami, “Bos, hajian lah. Ayolah. Giliran. Gue belum bisa, nih. Lu aja, Bos.”

Lalu Ibu mertua. Dan akhirnya saya pun meyakinkan suami, “eh, hajian sana. Aku gak apa ditinggal. Cuma 6 hari ini.”

Tadinya rencananya begitu. Suami akan hajian sendiri. Tapi setelah seminggu dia sudah berniat, dia tiba-tiba berkata, “Ikut, yuk.”

“Kemana?”
“Hajian juga.”
“Ha? Narda? Abil?”
“Abil titip. Narda bawa.”
“Ha? Yakin?”
“Bismillah aja.”

Saya kaget juga. Suami saya kok yakin ya bisa bawa anak. Tapi awalnya masih suka ragu. Serius nih mau bawa anak? Tapi dalam hitungan hari, kemantapan itu datang sendiri. Alhamdulillah :).

Bulan lalu, kami resmi mendaftar di sebuah biro haji lokal sini. Membayar lunas dan meyakinkan hati, Insya Allah dilancarkanNya.

On our regular pillow talk at night, I said to my husband, “Wah, kita dikasih kesempatan untuk naik haji dulu, Bang.”

“Iya, yah.”

“Bayangin kalau dari Indonesia. Ngantrinya berapa tahun? Kalau dari negara lain, waktunya pasti gak bisa cuma 6 hari seperti disini. Titip anak ke siapa kalau waktunya lama?”

“Ho-oh.”

“Tuh kan, bener teoriku selama ini. Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu.”

“Ah, bosen. Itu melulu.” Hehehehehe.

ibu-ibu di Jeddah
Some of the best friends ever ๐Ÿ˜€

***

Siapa menyangka, alhamdulillah, dibukakanNya ‘pintu keluar lain’ untuk rencana besar kami tahun ini. Semoga dilancarkan. Amiiinn.

Dan sekaligus diwujudkannya keinginan terbesar saya sejak menapakkan kaki di kota ini, “ingin diberi kesempatan naik haji.”

The path may seem unclear at that time, the moment when we were extremely dissapointed, “kenapa quota visanya mendadak habis?” :(. But all that comes before was truly meant to be :).

And this year is our turn :).

Labbayka Allฤhumma Labbayk. Labbayk Lฤ Sharฤซka Laka Labbayk. Inna l-แธคamda, Wa n-Niสปmata, Laka wal Mulk, Lฤ Sharฤซka Lak.

ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽุŒ ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽ ู„ุงูŽ ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽูƒูŽ ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽุŒ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ูู‘ุนู’ู…ูŽุฉูŽ ู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒูŽ ู„ุงูŽุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽูƒูŽ

***

Selepas magrib hari ini, kami akan menuju Mekkah untuk tawaf. Dan selanjutnya ke Mina. Untuk bergabung dengan jutaan jemaah lainnya melaksanakan wukuf di Padang Arafah, di tanggal 9 zulhijjah nanti.

Mohon maaf bila ada kesalahan dari saya dan suami :).

***

Selamat menunaikan haji untuk teman-teman tercinta lainnya :
Bunda Ratna, Bunda Andini, Neng Caca, Ibu Peri Mira, Mbak Tety, Mbak Berty, dan suami dan keluarga masing-masing :).

Untuk rekan-rekan fasilkom, Badai dan Selly.

Teman-teman dari Makassar : Riri dan Delsi.

Semoga apa pun kesulitan yang dihadapi setelah memantapkan hati memenuhi panggilan suciNya, kita semua diberi kekuatan untuk melewatinya dengan lancar. Dan tentu saja… menyandang gelar haji yang mabrur :). Amiiinnn.

Tak lupa terima kasih untuk Madam Cantik yang sudah ‘rela’ jagain Abil selama kami hajian nanti. Hihihihihi. Kecup paling kencang untukmu ya, Dear ^_^.

Dan teman-teman lain yang sudah mendoakan, meminjamkan kerudung (hihihihi). Terutama untuk yang malem-malem nganterin kaos kaki-jilbab-thobe buat Narda semalam ;).

How can I not love Jeddah? ;).

20120911-_MG_3698

[Cerpen] “TITIPAN”

Oleh : Jihan Davincka

***

Nuril berusaha bangkit dari tempat tidur. Berjalan pelan ke arah jendela.

“Hm…enak juga dapat kamar yang viewnya bagus.” Nuril menggumam sendiri.

Hari masih pagi. Pukul setengah enam. Belum lama azan subuh berkumandang. Sisa hujan semalam masih menyisakan titik-titik embun di kaca jendela.

Wajar jam segini belum terdengar hiruk pikuk berarti di rumah sakit. Hanya sesekali suara langkah mendekat dan menjauh, beberapa obrolan dengan suara rendah dari luar pintu, dan selebihnya hanya kicau burung yang mengundang langkah Nuril mendekat ke arah jendela sekarang ini.

“Halo…,” Nuril tersenyum dan menyapa seekor burung kecil yang bertengger di depan kaca jendela yang masih tertutup rapat.

Nuril mengetuk lembut kaca jendela dengan telunjuknya, menggoda si burung kecil. Burung kecil itu mendadak terbang menjauh. Nuril tertawa lebar, “kamu sudah bisa terbang, ya.”

Masih memandangi pemandangan taman rumah sakit yang hijau dengan berbagai rupa bunga warna warninya, pikiran Nuril melayang ke masa lalu. Hinggap tepat di saat itu, kala itu, kala semuanya masih terasa berbeda.

***

Nuril tidak bisa tidur. Entah jam berapa sekarang. Terakhir dia menengok ke arah jam saat jarumnya menunjukkan pukul 1 pagi. Tapi itu mungkin sekitar sejam yang lalu. Jam 2 malam sekarang ini dan Nuril tak juga bisa memejamkan mata.

Kekhawatiran yang berlebihan sudah menjelma menjadi ketakutan. Nuril memandang ke arah suaminya yang sudah terlelap sejak tadi. Apakah ini bisa dianggap pengkhianatan? Dada Nuril berdegup makin kencang. Situasi sekarang ini sedang tidak menentu, haruskah masalah ini muncul?

“Tapi kan belum tentu, lho. Tunggu saja dulu beberapa hari lagi.” Suara hati kecil yang ini mampu meredakan kegelisahan yang sudah memuncak. Nuril mencoba mengatur nafas. Mencoba berpikir jernih. Belum tentu semua terbukti benar. Belum perlu menceritakan apa-apa kepada Abang.

Selang beberapa hari, Nuril malah makin gelisah. Ah, kelamaan menduga-duga. Di suatu sore Nuril memutuskan keluar rumah sebentar. Sudah saatnya menerima kenyataan, apapun itu.

“Mbak Is, aku keluar sebentar. Titip anak-anak, ya. Doni masih tidur kayaknya. Bella di kamarnya, tuh. Temenin main dulu, ya.”

“Kemana, Bu? Lama ndak? Nanti kalau Bapak tanya…”

“Nggak lama. Sebentar aja, kok. Sebelum Bapak pulang, Ibu dah di rumah.”

Malam itu Nuril akhirnya mendapat kepastian, tidak lagi menduga-duga. Hatinya ciut. Bagaimana ini? Terlintas keinginan untuk… astagfirullah, Nurul memejamkan matanya. Tidak boleh begini, tegasnya dalam hati. Biarpun keinginan terkutuk itu menghantui sepanjang malam, batin Nurul berusaha menghalau sekuat tenaga.

***

Suaminya sudah di rumah sejak siang tadi. Biarpun meragu luar biasa, Nuril mantapkan hati untuk berterus terang kepadanya. Hari ini juga. Memang bukan saat yang tepat. Dan entah akan seperti apa tanggapan suaminya. Tapi Abang harus tahu. Dia berhak tahu.

“Belum ada perkembangan, Bang?”

“Belum. Visanya tetap gak bisa. Gak tahu kenapa.”

“Orang sananya gimana? Mau nungguin?”

“Sepertinya enggak, Dek. Mereka butuhnya buru-buru.”

“Aduh, kok bisa jadi kayak gini, ya? Abang sih dulu buru-buru resign. Jadinya kan sekarang kayak gini.”

“Lho, kenapa jadi malah nyalahin aku, sih? Lagian divisiku kan emang mau bubar. Kalo gak resign juga bakal dikeluarin, Dek.”

“Tapi Bang…harusnya Abang bisa dapat paket pensiun dini itu. Andai saja mau bersabar, andai…” Suara Nurul mulai meledak-ledak.

“Kenapa malah marah, Dek?” Suaminya memotong ucapan Nuril. “Ini sudah kita bahas. Divisiku mau bubar, Dek. Temanku banyak yang mencari lowongan. Aku pikir urusan visa bakal lancar. Tentu dong aku harus sigap membaca kesempatan. Aku harus resign untuk mencoba lowongan itu, Dek. Aku kan sudah bilang, tak banyak yang bernasib sial seperti kita. Teman lain lancar-lancar saja urusan visa ini. Tapi ya…”

Nuril mendadak menangis. Suaminya terlihat bingung. Nuril sebenarnya juga tak tahu, tangisan apa ini. Mendadak saja segala emosi yang tertahan beberapa hari terakhir ini tumpah di saat itu.

“Maaf, Dek.”

Nuril mengangkat wajahnya.”Aku juga mau minta maaf.”

Nuril menyerahkan benda kecil yang sedari tadi dipegangnya. Dia meletakkan benda itu di telapak tangan kanan suaminya. Nuril menunduk lagi, tak berani mengangkat kepalanya..

Suaminya mendesah panjang. “Kok bisa?”. Nuril mendongak cepat, matanya menyala.

“Bukan, bukan itu maksudku.” Suaminya menggeleng cepat. Dia meraih kepala Nuril ke bahunya. Memeluk perlahan, mengangkat muka Nuril sehingga wajah mereka berhadapan.

“Maaf apa? Aku senang.”

“Tapi Bang…”

“Akan ada jalan keluarnya. Jangan takut, kok malah kayak gini, Dek. Selamat, ya.”

Tangis Nuril langsung pecah. Lebih menjadi-jadi dari yang tadi. Suaminya tertawa. “Kamu ini selalu kayak gitu, deh. Kalau hamil muda pasti cengeng.”

***

Nuril senyum-senyum sendiri. Begitu cepatnya waktu berlalu. Duh, capai juga berdiri terus. Nuril balik ke tempat tidur. Duduk bersandar dan meraih dompet yang tergeletak di meja di sebelah tempat tidur. Mengeluarkan sepucuk foto, menatapnya lekat-lekat. Dalam hitungan detik matanya sudah basah.

Doni, anak sulungnya sedang tertawa lebar membawa Anggun. Anggun di foto ini baru berusia 1 tahun. Bella, 4 tahun, berusaha menggapai Anggun yang diangkat tinggi-tinggi oleh Doni. Anggun tertawa jenaka seolah mengerti kedua kakaknya sedang berusaha memperebutkannya.

Proses hamil Anggun yang tadi hinggap di pikirannya. Memori saat suaminya baru saja kehilangan pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Sementara, iming-iming tawaran kerja di luar negeri belum menjadi rezeki keluarga mereka kala itu. Visa suaminya gagal. Entah kenapa.

Tapi memang semua orang sudah punya jodohnya masing-masing. Nuril yang mudah panik, gampang dilanda kecemasan, dihibur dengan telaten oleh suaminya, “Adek, rezeki anak ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan kita. Tapi kita pasti selalu berusaha yang terbaik buat mereka.”

Dan saat Nuril masih saja menyimpan keengganan, suaminya pun berkata, “Di atas kertas mungkin rasanya mustahil bagi kita untuk menambah anak saat ini. Biaya Doni dan Bella saja tidak sedikit. Aku menganggur. Asuransi kesehatan kita sudah tak punya. Tak ada kantor yang menanggung kita lagi. Tapi Dek, itu kan hitung-hitungan manusia. Matematika Tuhan itu bukan urusan kita untuk memahaminya. Tuhan punya kalkulator sendiri.” Betul, Tuhan punya kalkulator sendiri.

Dan memang, manusia itu keterbatasannya sangat terlihat dan Tuhan punya perhitungan yang maha luas. Belum genap 6 bulan kandungan, tiba-tiba tawaran kerja datang menghampiri.

Suami yang sudah berusaha melamar kemana-mana segera merespons. Biarpun sempat pesimis karena ini datang dari luar negeri lagi. Negara yang sama dimana beberapa bulan yang lalu pengurusan visanya terhenti di tengah jalan. Alhamdulillah, kali ini, pintu rezekinya membukakan diri lebar-lebar bagi mereka untuk masuk.

Hamil 7.5 bulan, Nuril memberanikan diri terbang jauh bersama suami dan kedua anak mereka. Merantau pertama kali ke luar negeri dan melahirkan Anggun, anak ketiga mereka, di sana.

Tiba-tiba terdengar bunyi langkah-langkah kaki mendekat. Nuril cepat-cepat menyusut airmatanya.

“Mama, mamaaaa…” Ketiga anaknya menghambur ke arahnya. Suaminya mengiringi di belakang mereka.

“Wah, sudah bangun.” Suaminya tersenyum. “Eh, mana bayinya?”

“Belum, tuh. Sebentar lagi mungkin.”

Dan benar saja. Pintu yang baru saja tertutup, dibuka lagi dari luar secara perlahan. Seorang suster melangkah masuk, tersenyum simpul sambil mendorong tempat tidur bayi berwarna putih.

“Itu adeknya Anggun. Itu adeknya Anggun.” Anggun langsung bersorak.

“Iya, Mama nanti sama adek terus. Anggun gak dipeluk-peluk Mama lagi,” seloroh Doni.

“Iya bener. Anggun tidur sendiri nanti. Gak boleh ya di kamar aku,” Bella ikut menggoda.

“Mamaaaa…,” tangis Anggun sudah hampir pecah.

“Anggun kan sudah besar, sudah punya adek. Nanti malah Anggun yang peluk-peluk Adek.” Suami Nuril angkat suara.

“Tapi Anggun mau sama mama…Anggun maunya te…”

“Ya gak bisa,” sergah Doni.

Suara Anggun sudah bercampur tangis.ย “Anggun gak mau besar. Anggun kecil aja terus.”

Seisi ruangan tergelak bersama.

***

โ€œDan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. KAMILAH yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.โ€ (QS 17:31)

***

Kalau ‘ketakutan’ akan rezeki yang menghalangi untuk mencukupkan anak hingga angka tertentu, apa boleh menurut Alquran?

Eh yang disebutkan di ayatnya kan ‘membunuh’, ya. Kalau mencegah?

Bagaimana? ๐Ÿ˜‰

Mejeng di Republika (lagi)

Ini tulisan jalan-jalan ke-2 di Leisure – Jalan-jalan Religi. Muncul di edisi hari ini (selasa, 2 oktober 2012).

Kaget juga. Tak ada kabar apa pun dari redakturnya. Tiba-tiba saja tadi pagi, teman saya men-tag saya di sebuah foto. Pas dilihat itu foto artikel “Padang Pasir Badar” yang dimuat di Leisure selasa Republika. Hehehehe. Langsung seneng bertubi-tubi.

Agak kendor semangat menggempur media. Udah mengirim banyak tulisan, tapi tak ada satu pun yang tembus di bulan september kemarin :(. Makanya begitu di awal Oktober, ternyata keberuntungan belum pergi selamanya, langsung menggebu-gebu lagi pengin kirim tulisan ke media. Hehehehe.

Ini kenapa jadi artikel jalan-jalan yang banyak nyangkut, ya? Padahal kan cita-citanya mau jadi cerpenis :P.

Cmunguudddhhh, Kakaaaa ^_^ …