Blogger yang Baik dan Benar ???

Wah, hari ini hari Blogger ternyata. Harus eksis dong yaaaaa, poni mana poni hahahahaha 😀.

Btw, beberapa waktu lalu ramai-ramai orang posting tentang tipe-tipe blogger dan semacam ‘kode etik’ yang harus dilakukan oleh para blogger. Berasa ketampar bolak balik pas bagian “blogger yang baik harus rajin blogwalking” ‪#‎ups‬ . Dan makin keselek di bagian “blogger yang baik harus rajin balas komentar pengunjung blognya” huhuhu.

Saya mulai ngeblog kalau enggak salah dari tahun 2004 apa 2005 ya. Dulunya sih, hanya sekadar memindahkan kebiasaan menulis diary. Dari lembaran kertas ke dalam blog elektronik . Isinya waduh…curhat terooossss . Dari blogspot, friendster blog, sampai akhirnya tahun 2009 punya Multiply.

Gambar : padasuatuketika.blogspot.com
Gambar : padasuatuketika.blogspot.com

Tahun 2011, lahir juga Mama Sejagat dan Cerita Jeddah. Pokoknya menulis terosssss hehehe. Kedua blog ini yang saya kembangkan lebih serius. Blog pribadi malah enggak pernah di-share.

Lalu Multipy ‘wafat’, sekitar september 2012 lahirlah jihandavincka.wordpress.com. Yang beberapa bulan terakhir ini akhirnya jadi jihandavincka.com :D. Saat pindah ke wordpress ini, banyak postingan yang dihapus karena ya gitu deh hihihihi.

Blog pribadi dulu jarang saya publikasikan. Barulah setelah awal 2013 mulai ikut lomba blog, trafficnya mulai berubah. Apalagi kalau hoki lagi bagus dan kebetulan menang. Traffic langsung cling tuh hahaha. Baru deh mulai was-was dan ogah curhat gak penting lagi.

Tahun 2005-2011 saya suka blogwalking, kok. Suka komentar juga di mana-mana. Tapi saya memang enggak membaca semua blog. Sesuai minat saja . Dan kalau sampai berkomentar, sejujurnya saya enggak pernah berharap akan dibalas, ya saya komentar kalau ada yang ingin disampaikan tidak mengharap KUNBAL.

Istilah KUNBAL ini juga saya baru tahu ketika tidak sengaja ada blogger yang ngomel-ngomel di blog orang lain (di kolom komentar), mengeluhkan soal blogger inisial JD yang katanya, “belagu luar biasa. Gue setengah mati komentar di blognya, dia enggak pernah satu kali pun KUNBAL ke gue. Terus, gue link blognya, eh dia enggak ngelink balik blog gue. Gue unfollow aja tu orang!”

Panjang lebar dia menceritakan si JD karena banyak temannya yang nanya-nanya : Si JD ini perempuan. Tinggal di luar negeri, pernah tinggal di Arab Saudi, suka menulis cerpen, dan yang paling bikin yakin dia juga menulis … mentang-mentang orangnya cakep! ‪#‎eaaaaa‬ . And again…poni mana poni hahahhaahha.

Gambar : wowkeren.com
Gambar : wowkeren.com

Iya sih, saya rasa memang kurang sopan kalau kita tidak membalas komentar. Padahal blog saya sedikit lho komentarnya hahahaha. Memang dasar pemalas saja . Mungkin ini menjadi peer biar enggak dicap belagu. Karena kalau kolom komentar saya tutup pernah ada yang protes, “Ngapain nulis kalau enggak mau dikomentarin?” Huhuhuhu. Kudu piye iniiiiiiii…

Soal KUNBAL ya gimana ya… Jujur saja, saya menulis itu lebih karena hobi dan memang senang menulis. Kalau blogger lain suka pusing mengatur waktu biar bisa menulis, saya malah repot mengurangi waktu menulis kalau suami mulai komplen hihihihi .

Saya punya target menulis tersendiri dalam jangka waktu tertentu. Dan tidak pernah memasukkan komponen “jumlah komentar” ke dalam target itu . Tapi nanti dibilang sombong lagi ya *alamak* 😀.

Simpel saja. I write to express not to impress 😉. Pasti senang dong kalau ada yang baca dan sampai meninggalkan komentar segala, saya senaaaanggg banget . Tapi balik lagi, saya tidak ingin memaksa dan saya anu…tak cukup pandai berbassa basi untuk hal semacam ini. Saya merasa enggak sanggup kalau harus blogwalking ke mana-mana tiap ada komentar . Padahal kalau kata suami, ya basa basi saja, tulis komentar apa kek. Maafkan kelemahan ini ya 🙁.

Tapi saya sadar ini bukan hal yang benar. Untuk komentator yang rajin komen di blog saya, saya sering bagi-bagikan buku gratis hihihihi. Memang, there are things that money can’t buy. Tapi mau gimana lagi, daripada benar-benar cuek, saya upayakan memberi perhatian lebih.

Sejak membaca tulisan tipe-tipe blogger itu, saya jarang share link blog saya di grup-grup komunitas yang saya ikuti. Tapi takutnya disangka enggak aktif, saya usahakan share link sebulan sekali sajalah . Saya hanya share di Twitter dan akun FB pribadi yang versi rutinnya .

Biar ‘fair’ saja sih . Agar orang-orang yang main ke blog saya ya karena memang ingin membaca tulisan saya (karena mereka kan ngekliknya dari akun pribadi saya) dan sebisa mungkin menghindari pengunjung yang mungkin memang blogwalking untuk KUNBAL tadi.

Mengharapkan KUNBAL ini BUKAN perilaku yang buruk kok. Saya paham dan menganggap itu wajar . Hey, berbeda boleh dong, tidak salah juga kan untuk memperpanjang talisilaturahmi dan networking. Cuma mungkin, I’m not that type . Sungkem dulu sama blogger-blogger pro KUNBAL .

Ya mungkin memang ada tipe blogger macam saya yang tangannya gatal saja untuk menulis ini itu. Menulisnya ya karena gatal hihihhi. Bikin blog ya karena ingin bikin kenang-kenangan saja, biar tulisan-tulisan terarsip rapi dan bisa dibaca-baca untuk diri sendiri buat lucu-lucuan. Narsis kauuuuuu . Selain karena mungkin saya ekstra sotoy dan kepo juga sih ya .

Kalau membaca buku saya takut lupa makanya saya suka menulis tentang hal-hal yang sudah saya baca. Kemudian sok-sok nambah-nambahin ini itu biar kesannya cerdas gitu deh hahahahahaha.

Kalau pun ada orang lain yang ikut menikmati, wah, sekali lagi….saya sebenarnya senaaaaangggg . Tapi tidak mau menjadikan itu sebagai beban. Karena bukan itu tujuan utama saya nge-blog . Saya tekankan sekali lagi, to express not to impress. Kalau ada yang nyangkut dan jadi follower wah alhamdulilah banget tuh ^_^.

Gimana ya menjelaskannya biar enggak dibilang belagu *garukGarukPoni* hihihihi. Tenar kagak, songong iya :p.

Pokoknya begitulah. Semoga tidak menyinggung siapa pun. Saya enggak mau cari pembenaran apa pun. Ya memang beginilah adanya blogger pemalas satu ini hihihihi. Mungkin memang model kayak saya bukan tipe blogger yang terpuji *tertundukMalu*.

Bukannya tak ingin menyambung tali silaturahmi, tapi ya, kalau untuk pergaulan lebih suka di media sosial saja. Walau sering juga di FB malas balas komentar hahahahahaha. Udah sih, ngaku aja kau pemalassss!!!! . Masih ngeyel aje.

Mohon maaf jika selama ini banyak kekurangannya ya. Tidak masuk kategori blogger yang baik. Tetap semangat ngeblog ya teman-teman. Jangan sedih kalau pengunjung sedikit, komentar sedikit, menang lomba blog jarang, dapat job review enggak pernah …

Kebetulan saya seorang muslim. Di mana sebagai muslim, kita dituntut untuk percaya kepada Hari Akhir .

Jika keringat kita tak berbayar di dunia, masih ada akhirat kan? Therefore, menulislah selalu untuk kebaikan ^_^.

Selamat hari Blogger! 😉

Gambar : koran-indonesia
Gambar : koran-indonesia

 

Lihat Segalanya Lebih Dekat

Gara-gara tulisan tentang “Namanya IKEA, Kelakuan Indonesia” yang jadi trending topic kenapa jadi pada judgemental begitu, ya? Hehehehe.

Mental Indonesia katanya. Mental minta dilayani.

Sebenarnya sih, itu bukan mental Indonesia. Lebih tepat jika dikatakan sebagai “mental yang ada di negara berkembang pada umumnya” . Enggak cuma di Indonesia sajalah gaya hidupnya macam begitu. Di India juga sami mawon 😀.

Salah satu pembeda utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kesenjangan sosial-ekonomi sepertinya. Kita selalu mencap negara-negara maju adalah negaranya orang-orang tajir. Kurang tepat lagi.

Jakarta yang glamour ^_^
Jakarta yang glamour ^_^

Karena di negara maju yang menonjol itu justru kalangan menengah-nya. Dan mungkin akan sedikit sulit menemukan kelas masyarakat yang mesti sampai mengais sampah untuk cari makan *hiks*.

Kalau mau cari orang-orang kaya yang petantang petenteng, nah, di negara-negara berkembang itu baru gampang dapatnya . Tapi biasanya kontras. Ibu-ibu yang pakai Hermes ada, tapi ibu-ibu yang modal kantong plastik buat naruh dompet dan segala macam juga ada hihihihihi .

Dari segi gaji saja, mari mengambil contoh Indonesia-Arab Saudi dan Irlandia. Tiga negara yang cukup lama pernah kami diami 😀.

Di tahun 2008 itu, kalau kalian tahu berapa gaji telco engineer di INdonesia pasti sesak nafas. Termasuk saya yang dulu masih bekerja sebagai IT Business Analyst di salah satu consumer goods paling yahud seNusantara. Ihiiiiyyy :D.

Mengamuk dong ah melihat slip gaji suami. Untung suami sendiri ya. Hahahahahaha. Gaji suami di Jakarta dulu jauuuuhhh lebih besar daripada pendapatan perkapita rata-rata penduduk di Indonesia.

kemiskinan indonesia

Di Arab Saudi, hampir sama. Melihat biaya hidup di Jeddah, compare to the salary, saya sempat takut itu kalau suami pasti mau seumur hidup kerja di Jeddah! Hahahahhahaha. Untunglah, Tuhan mendengar doa saya :p.

Penghasilan rata-rata seorang telco engineer di Arab Saudi juga di atas pendapatan perkapita rata-rata penduduk di sana. Walau tidak ‘sejomplang’ seperti di Indonesia sih ya.

Nah, di Irlandia baru agak berbeda. Gajinya sih tetap di atas rata-rata. Tapi enggak yang jomplang banget kayak di Indonesia dan Arab Saudi. Malah saya melotot pas dikasih tahu suami penghasilan seorang karyawan toko di Irlandia. Wah, pengeeeeennnn, hahahhaha.

Dan mengapa toko-toko pada tutup kalau hari Minggu (atau ada juga dari sabtu udah tutup). Karena tenaga manusia di Irlandia … mahaaaaalllll. Di Jakarta sih, justru hari minggu toko-toko ramai dan pada buka semua.

Apalagi kalau kerja di hari libur mingguan itu (di negara maju). Gajinya harus ekstra.

Di rumah-rumah makan, jumlah pegawainya pas-pasan. Ya seringnya, dia yang kasir, dia yang ngantar makanan, dia yang beres-beres meja, dia yang nyapu-nyapu. Ya karena itu tadi, gaji mereka mahaaaaallll . Manusia itu sangat dimanusiakan di negara-negara maju .

Makan di resto itu harganya bisa selangit ketimbang beli bahan dan masak sendiri. Di Saudi dan di Indonesia? Seringnya sih mending jajan daripada masak sendiri hahahaha. Harganya paling beda tipis . Belum kalau jajannya di ‘kaki lima’, murahnya suka keterlaluan ya *hiks*. Di eropa, enggak ada gitu-gituan huhuhu.

Beda dengan negara-negara berkembang di mana si kaya dan si miskin itu punya tembok yang sangat sukar dirobohkan . Kita bisa mempekerjakan simbok yang jam kerjanya enggak jelas juga secara kan simboknya tinggal di rumah . Gajinya? ya gitu deh hehehehe.

India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)
India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)

Di Saudi juga begitu kok. Penghasilan pekerja-pekerja domestik ya ala kadarnya. Makanya, banyak keluarga yang memanfaatkan jasa mereka.

Di Eropa? Ya mikiiiiirrrr hahahahaha. Konon, satu jam beres-beres rumah mintanya 20 euro. 20 euro mah bisa buat belanja di Aldi tuh untuk kebutuhan makan satu minggu hahahaha. Iyaaaaa, jangan kau kira Eropa ini mahalnya ampun-ampun. Enggak juga kok . Kapan-kapan saya bahas terpisah ah .

Pssttt…daging di sini lebih murah daripada di tanah air. Jangan garuk tanah yak hahahahaha.

Makanya, jangan heran, kalau orang-orang di negara maju otomatis ya harus menguatkan diri untuk semandiri mungkin. Bukan karena dari lahir mereka sudah top atau pendidikannya gimana-gimana. Enggak juga kok. Lebih karena situasi dan kondisi . Janganlah terlalu menganggap rendah bangsa kita sendiri.

Karena asal tahu, orang-orang Indonesia kalau dilempar ke Eropa ya umumnya bisa beradaptasi dengan baik kok . Dan kalau emak-emak bule itu kau kirim ke Jakarta, ya mereka pasti pakai simbok begitu tahu ‘gaji’nya cuma ‘segitu’ .

Saya pernah menjadi tutor di 4 keluarga asing berbeda (ada yang asal Inggris, US dan kawin campur Asia-Eropa) di Jakarta pas masih kuliah dulu. Mereka ngaku kok senang tinggal di Jakarta. Enggak capek. Sama kantor disediakan supir 2, asisten rumah tangga 2, plus tukang kebon 1 hihihihi.

Yang tinggal di apartemen ada. Di Dharmawangsa. Apartemen imut-imut begitu, ya tetap pakai asisten rumah tangga tuh 😉. Pan judulnya tinggal di Jakarta. Pakai simbok? Why not? ^_^.

Masalah penghasilan minimum bagaikan buah simalakama. Macam tempo hari buruh-buruh perempuan minta dana kosmetik, ibu-ibu kantoran pada ngamuk dan nyinyirnya minta ampun hahahahaha. Sadarilah, kita sendiri tidak siap bukan melepaskan diri dari kesenjangan ekonomi yang sudah terlanjur ada sekarang? . Tanpa sadar, kita ikut “menikmati”.

Bayangkan kalau simbok minta gaji minimal 2.5 juta. Pingsan kan? Karena pegawai kantoran di Jakarta juga gajinya enggak segede itu. Kita sudah terbiasa dengan paradigma, “Ya masa gaji gue beda-beda tipis sama pembantu?”

Well, heloooooo, itulah yang terjadi di Eropa yang kalian puja-puja itu . Jangan mau makmurnya saja, tapi enggak mau bagian ‘susah’nya :p.

Imbasnya juga ke pendidikan. Nih, suami baru dari Cina, assignment 6 minggu di sana. Dia cerita terkaget-kaget mendengar anak SMP di sana pulang sekolahnya bisa hampir malam gitu hahahhahha. Di India pun ternyata kurikulumnya termasuk ‘disiplin dan keras’.

Sisi lain  India (gambar : blogs.sacbee.com)
Sisi lain India (gambar : blogs.sacbee.com)

Di negara-negara berkembang, persaingan sangat tinggi. Umumnya kan negara model begini, jumlah penduduknya membludak. Jadi, wajar bila anak-anak kita harus dikondisikan seperti itu . Maksud saya, tidak sepenuhnya karena pemerintah kita enggak peduli. Ada faktor situasi dan kondisi di sini.

Jangan lupa, profesi-profesi non formal di negara-negara berkembang, penghasilannya bikin nangis. Beda dengan profesi non formal di negara maju yang tetap memungkinkan mereka hidup layak seperti orang lain pada umumnya .

Jadi, orang di negara-negara maju ya tidak punya tekanan sebesar kita yang besar di negara-negara raksasa macam India, Indonesia dan Cina . Jepang pun jangan salah, ‘sadis’ juga lho kurikulumnya ketimbang kurikulum standar ‘barat’.

Kita harus berusaha keras membuat anak-anak agar siap bersaing dengan keterampilan yang mumpuni. Harapan kita kan pasti profesi-profesi kelas atas. Jangan nyinyir-nyinyir soal memaksakan kehendak kepada anak unless you’re ready when someday they say, “Ah, aku mau jadi pegawai toko aja deh Ma, asyik ya kayaknya. Ketemu banyak orang tiap hari. Kerjanya dinamis lagi.”

Orang bule mah santai saja anaknya entar mau jadi pegawai toko. Toh, pegawai toko di sini ya tinggal di apartemen yang sama, berpenampilan sama, berpenghasilan cukup, dibanding orang-orang lain.

Belum lagi tunjangan dari pemerintah di negara maju macam-macam. Termasuk jika mereka sudah tua. Dari anak lahir saja, child benefit menanti hihihihi. Lumayan banget lho jumlahnya. Kan sudah saya bilang ya, hidup di Eropa itu sesungguhnya tidak bisa dibilang mahal (ya tergantung gaya hidup sih ya :p).

Kesehatan terjamin. Di usia pensiun pun dapat penghasilan. Jumlahnya cukup untuk hidup normal tanpa harus bekerja sama sekali. Kalau ada yang bekerja itu karena mereka bosan saja. Tidak semata-mata cari duit. Jangan heran, aki-aki dan nenek-nenek di sindang, kerjaannya nongkrong di kafe pagi-pagi. Ketawa-ketiwi sesamanya hihihihihi. Ikut dong, Neeeekkkk 😀.

Dun Leary - Irlandia
Dun Leary – Irlandia

Coba di Indonesia? Apaaaa kamu mau jadi petugas pemadam kebakaran? Orang tua bisa langsung pingsan tuh! Hahhahahahahha. Padahal di negara-negara maju, petugas pemadam mah dianggap “normal” lho 😉.

Ya karena hidup di Indonesia itu keras, Bung!

Tempat nongkrong di negara-negara yang kesenjangan ekonominya tinggi juga bisa beda. Ada warteg untuk kalangan menengah ke bawah, ada cafe dan resto-resto mahal untuk yang tajir-tajir. Sangat mempengaruhi gengsi kan itu? Ayolah, kita semua manusia biasa . Wajar itu. Kondisi bisa membuat kita menjadi egois.

Sementara di negara-negara maju, enggak segitu-gitunya perbedaannya.

Dengan tantangan masa depan seperti itu, bekal yang harus dipersiapkan ke si anak memang harus ekstra. Gak bisa dikit-dikit lihat negara maju, dikit-dikit lihat negara maju. Kecuali ya itu tadi, kita mau melihat segalanya lebih dekat.

Industri kreatifitas di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya belum mendapat tempat. Jujur saja, kita akan lebih ‘tenang’ jika anak-anak kita memilih profesi macam dokter, insyinyur, pegawai bank ketimbang mereka tiba-tiba bilang, “ingin mengejar cita-cita menjadi pemain drum kawakan” atau “mau menjadi pemain bola kayak Ronaldo.”

Jujur saja. Are we ready?

Aduh, kok kayak nakut-nakutin? Hahahhahahaha. Enggak kok, ya. Biar bisa lebih luas saja daya jangkau pemahamannya. Saya ini tetap orang Indonesia lah biarpun tinggalnya sedang tidak di sana. Tersinggung juga kalau dibilang “kelakuan Indonesia”. Sementara saya sepakat jika seringkali karakter kita sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dan lingkungan. Baca buku Tipping Point tuh .

Peer pemerintahan kita banyak banget memang. Revolusi mental itu adalah jalan panjang yang belum tentu akan selesai dalam 5 atau 10 tahun. Ya sebelum melihat Eropa sekarang, coba saja baca-baca sejarah mereka dulu. Penuh drama dan air mata macam sinetron-sinetron hahahahaha.

Entah mana yang harus jadi prioritas? Penegakan hukum kah? Masyarakatnya kah? Membasmi korupsinya kah? Membersihkan jajaran pejabat pemerintahan dari tangan kotor kah? Mengusir kepemimpinan asing kah? Menghalau konspirasi kah?

Banyak. Teramat banyak. Ruwet. Tumpang tindih. Karena kalau ngomongin kelakuan suatu penduduk di wilayah tertentu itu faktornya tidak hanya sekadar individunya yang memang rusak atau gimana-gimana. Faktornya super duper akeh lho Mas-mas dan Mbak-mbak!

Pemerintah terlibat. Lingkungan terlibat.

Dengan hal yang sebegitu sulitnya, masih juga kau maki-maki presiden kau! Hahahhahahahaha.

Ya semoga penegakan hukum di negara kita bisa terus membaik karena kedisiplinan masyarakat agak sulit dikejar kalau penegakan hukum lemah. Macam buang sampah sembarangan. Undang-undangnya sih komplit. Tapi siapa yang mengawasi? Kalau yang mengawasi jujur? Lah, kalau bisa disogok juga? Bubar toh yaaaaaa 😀 😀 :D.

Memang kalau dipikir malah mumet. Serba tidak berdaya. Mulai dari mana saja enggak kebayang hihihi.

Saya sih memilih optimis. Walau mungkin ada faktor karena saya fansnya Pakde dari dulu. Tapi ya, pesimis enggak bakal bawa kita ke mana-mana kok ya ;).

Kalau pun hasilnya nanti nihil, ya tetap lebih baik daripada maki-maki toh, ya. Capek wooiii, capeeeeekkkk :D.

Jangan berputus asa. Kalau pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu. Doakan saja yang baik-baik. Siapa yang tahu doa-doa yang indah, dukungan positif kepada pemerintahan yang baru, harapan-harapan bagus, akan menjelma menjadi keajaiban tersendiri. Saya pernah dengar, doa yang baik bisa menghalau malapetaka yang akan terjadi. Mudah-mudahan benar ^_^.

Gambar : oprah.com
Gambar : oprah.com

Untuk Indonesiaku, selamat menempuh hidup baru ^_^. Semoga sakinah, mawaddah, warrahmah :D.

“Bermimpilah setinggi langit. Jika pun terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.” -Bung Karno-

***

Pro Kontra Food Combining?

Iya sih, dari pertama saya kepincut pola makan FC, langsung pula saya dapatkan semua link bantahannya hahahahaha. Tidak tanggung-tanggung, seorang dokter yang sangat saya kagumi karena kampanye RUM-nya juga ikut ‘mengutuk’ pola makan yang dianggap ‘sesat’ ini. Pro kontra food combining sangat rameeee :D.

Tapi ya, saya kan prinsipnya enggak pernah pegang satu mazhab tertentu dalam hal apa pun :D. Pelajari saja semuanya, ambil yang positif, yang gak cocok ditinggalkan, kalau diejek? ya telen aja lah kalau enggak bisa dilawan hihihihi.

Saya tetap dong menjadi penggemar ibu dokter yang ‘mengejek’ pola makan FC tadi ;). Soalnya saya tetap butuh ilmu RUM nya hehehe.

Saya pernah join di satu grup penggiat FC yang ternyata sebagian besar adalah komunitas anti vaksin. Ya saya pelajari FC dari mereka tapi ya tetap pro vaksin juga. GItu aja kok repot :p.

Gambar : acidalkalinediet.net
Gambar : acidalkalinediet.net

Tak lantas pula saya memuja-muja para aktifis FC setinggi langit. Banyak kok anjuran-anjuran FC ‘garis keras’ yang tidak saya jalankan hahahaha. Sungkem dulu sama Bang Erikar Lebang. Saya belum tertarik mengkonsumsi kangen water ya Bang :p.

Sempat juga dulu ada saran kalau kanker sebaiknya ikut pola makan FC biar sembuh. Waduh, saya enggak berani kasih saran kayak gitu. Kalau sudah terdeteksi kanker atau penyakit apa pun, segera ke rumah sakit atau dokter spesialis!!! Kalau pun mau mencoba alternatif, setidaknya dengar dululah penjelasan sang ahli.

Tapi saya enggak menentang pengobatan alternatif karena saya juga suka khasiat jamu-jamuan alami ^_^. Saya percaya dan memang banyak buktinya, tidak sedikit orang yang bisa sembuh via pengobatan alternatif.

The choice is yours. Asalkan apa pun yang kalian pilih, bekali dengan ilmu ;). Ilmu kan luas tuh, ya. Saya enggak pernah membatasi diri kalau untuk kesehatan pokoknya harus manut sama dokter (saja).

Sebenarnya, para pengkritisi FC ini banyak salah pahamnya sih. Ya abis udah nyinyir duluan. Saran saya, mbok ya dipelajari dulu lah benar-benar sebelum rusuh, “Penggiat FC itu hanya dipenuhi ilusi saja. Testimoni tidak boleh dijadikan acuan. Harus ada penelitian ilmiah.”

Oh well, saya sih tidak pernah menentang kedokteran modern atau apa pun yang katanya ilmiah-ilmiah itu ;). Tapi ya, untuk diri sendiri ya saya berpegang pada pengalaman sendiri saja dong, ya. Masa mau lihat orang lain? :D.

Mungkin juga keberhasilan FC pada saya itu karena faktor sugesti semata. Tapi logikanya, situ kalau mau ngikutin paham tertentu ya harus dimulai dengan rasa percaya dulu dong ya. Masa tahu-tahu menganut sesuatu tanpa ada keyakinan yang kuat. Jadi, ya kalau mau FC, ya harus optiimis pasti berhasil dulu, ya, Kakaaaaa ^_^.

Gambar : dailymail.co.uk
Gambar : dailymail.co.uk

Sugestinya berarti bagus, ya. FC membuat saya yang dari kecil gampang mabok dan masuk angin mendadak ‘tangguh’ begini hahahaha. Mabok? Kebanyakan minum bir kali mbak-nya :v :v.

Saya ini orang yang selalu percaya … tubuh-pikiran-akal-hati itu adalah satu kesatuan. Yang satu mengimbangi yang lain. Jadi, kalau kita melakukan aktifitas fisik dimana akal kita menentang ya mana bisa hasilnya optimal toh yaaaaaa :p.

Soal susu juga banyak yang salah kaprah. Katanya rasulullah aja ngajarin minum susu. Susu yang ‘dikritisi’ oleh pola makan FC adalah susu olahan (mana pun). Kalau susu murni, monggo banget lho ^_^. Susu murni = susu segar langsung dari asalnya. ASI contohnya :p. Lagipula hewan ternak sekarang kan pakannya sudah ‘aneh-aneh’ tuh ;). Serius enggak takut? :p

Yang dianjurkan adalah jangan dijadikan asupan rutin. Sekarang kan lagi ngetren, anak-anak dikasih susu pagi-siang-sore-malam. Kadang, biar aja enggak makan yang penting mau minum susu :p. Saya juga dulu gini soalnya *tutupMuka*.

Sekali lagi, gak bisa euy saya nunjukin bukti ilmiahnya. Cuma mau bilang, saya 7 bersaudara kagak ada yang digedein pakai susu sapi. Selesai ASI, ya minum air putih hahahaha.

Kalau dibilang kurang kalsium, ya banyak banget bukti ilmiahnya kalau kalsium ternyata bukan hanya monopoli si susu hewan ini ^_^. Lagipula, kaum vegan level paling atas (yang benar-benar tidak mengkonsumsi apa pun yang bersifat hewani) itu sudah banyak dari dulu dan mereka hidupnya biasa-biasa saja.

Enggak pernah kan ketemu berita, “Ada orang seumur hidupnya hanya makan nasi dan sayur dan buah-buahan eh ternyata tahu-tahu tulangnya keropos semua karena kurang kalsium dan protein. Ayooo makan daginglah yang banyak.”

Pernah gak dapat berita kayak gitu? :v :v :v. Fyi, sampai sekarang, orang-orang India masih banyak yang menganut pola makan vegan (dari level paling saklek sampai yang semi vegan).

Justru kebanyakan mengkonsumsi protein hewani yang membuat penyakit-penyakit degeneratif dan segala stroke, jantung, penyakit kolesterol, menjamur di mana-mana ;).

And for your info, kata siapa gituh kalau ikut FC gak boleh makan protein hewani? Hehehehe.

FC itu prinsip-prinsipnya memang banyak. Mungkin kalau yang jadi patokan Bang Erikar Lebang ya bisa pingsan ya saking sakleknya dan saking galaknya hehehe. Tapi put your shoes on his lah. Sudah sering banget beliau dihajar oleh kalangan medis dan dituduh sebagai “tukang kibul” hahahaha.

Jadi ya, kalau saya jadi dia mungkin akan memilih sikap yang sama. Capek kalau mau ngikutin semua nyinyiran yang datang. Mending bersikap tegas dari awal. Secara beliau juga memang meyakini benar-benar teori-teorinya. Psssttt…ibu dan neneknya Bang Erikar Lebang ini dokter lho ^_^. Dokter beneran, lulusan Fakultas Kedokteran.

Tapi, pokok-pokok pola makan ini semuanya standar saja dan tidak mesti gugur satu gugur semuanya. Diikutin satu, sebagian kecil atau setengahnya juga tidak membuat FC-nya sia-sia ^_^.

Di blog pernah mendapat komentar, “Testimoni tidak bisa dijadikan patokan. Jangan ngajarin yang enggak bener, Mbak.” Dan dia memberikan daftar dokter-dokter andalannya yang katanya sudah mengklaim kalau FC Ini “ajaran sesat”. Ya biarin ajalah. Saya cuma tidak ingin memperpanjang karena takut ujung-ujungnya dibilang enggak percaya sama dokter :D.

Buat mereka, dokter naturopati itu bukan dokter. Karena itu dia…enggak ilmiah! Saya enggak paham sih, ya. Karena buat saya, FC ini bukan masalah sugesti doang :D. Ya daripada ribet nyari jurnal ilmiahnya mending dipraktik-in aja langsung, terus tulis hasilnya :D. Toh, praktik-in FC selama beberapa bulan juga enggak menyebabkan kematian sih harusnya :p.

Banyak juga yang mempertentangkan FC dan raw food. Padahal ya raw food itu melengkapi pemahaman ideal tentang FC.

Saya sendiri, enggak saklek-saklek banget ikut FC-nya hehehe. Sering banget malah ‘bandel’nya akhir-akhir ini :D.

Gambar : rawandnaturalhealth.com
Gambar : rawandnaturalhealth.com

Untuk saya kesehatan itu harus dijaga secara total. Ya itu tadi … tubuh-pikiran-akal-hati harus positif terus ^_^. Menjaga pola makan, istirahat cukup, olah raga rutin, mensuplai pikiran dengan hal-hal yang bermanfaat (walau sesekali ada junk food masuk otak macam follow instagramnya Princess maju-mundur-cantik itu tuhhhh hahhahahaha).

Kalau yang menganut agama tertentu, membaca kitab masing-masing mungkin bisa jadi jurus yang jitu sebagai suplai harian untuk hati biar tetap kinclong dan berseri-seri ;).

Berkaitan dengan pola makan FC sendiri saya sih so far tidak ketemu ada teori yang bertentangan dengan anjuran rasulullah. Malah makin lama rasanya makin klop ^_^. Ya mungkin balik lagi, ini karena saya punya keyakinan yang besar terhadap gaya hidup satu ini :D. Keyakinan membuat kita percaya diri dan akhirnya menghasilkan sugesti positif ke diri sendiri.

Soal yang kontra, ya rasanya masih dalam batas wajar. Kalau sampai sudah mengeluarkan fatwa haram ber-FC nah itu baru bikin mumet kali hihihi. Tapi kalau cuma sebatas mempertanyakan ya kan tinggal dijelaskan saja dan jadi cambuk bagi kita-kita, para FC-er, untuk terus menggali ilmu dan mengupgrade pengetahuan –> mencoba bijak walau bawaannya pengin jitak! :v :v :v.

Biar adem, ini ada pesan bagus :

“Pendapat saya benar, namun mungkin memuat kesalahan. Pendapat orang lain salah namun mungkin juga ada benarnya” ~ Imam Syafi’i

Saya doakan kita semua sehat-sehat selalu terhindar dari yang aneh-aneh segala macam. Baik yang ikut FC maupun yang enggak, insya Allah … sehat semua! Aamiin ^_^. Terlepas dari apa pun pro kontra food combining ini.

Jadi … salam damai, yaaaaa ^_^. Mau FC? Yuk mari belajar sama-sama. Merasa FC enggak masuk akal? Ya enggak apa-apa juga sih –> penggiat FC yang cemen! :v :v :v.

***

C’est La Vie

Seringkali teman-teman di Grup Hits 80/90 an membanggakan masa kecil kami dahulu dan mengatakan bahwa zaman kami kecil itu layak disebut “Golden Age”. Tak sedikit yang mengejek kehadiran internet dan menjadikannya penyebab rusuhnya kehidupan di era terkini.

Padahal saya selalu merasa internet adalah keajaiban abad ini! Tak jarang saya senyum-senyum dan berharap, andai dulu sudah ada internet di masa saya kecil hehehe.

Gambar : hongkiat.com
Gambar : hongkiat.com

Pernah bincang-bincang iseng dengan suami soal buku 100 orang paling berpengaruh di dunia. Suami saya bilang, harusnya buku ini disusun ulang dan orang-orang kayak Bill Gates dan penemu internet harusnya masuk dalam daftar. Di 10 besar kalau bisa. Saya jawab, “Tunggulah beberapa ratus tahun lagi.” HIhihihi.

Tapi saya setuju, jika internet memang nyatanya sudah sangat berhasil mengubah wajah dunia. Tak sedikit yang mengutuk, tapi saya pribadi, adalah pengagum kecanggihan teknologi satu ini :D.

Waktu kecil, karena tak ada dukungan dari sekitar, setengah mati saya berusaha mengirimkan cerita ke media cetak. Saya tidak mengerti. Harus bertanya ke siapa dan harus bagaimana. Ya saya ikuti saja cara-cara standar. Lari ke kantor pos dan menunggu jawaban hihihi. Asal tahu, kumpulan puisi-cerpen-novel waktu kecil dulu ada banyak, lho :p.

Mau rutin membeli majalahnya, duit dari mana ya, Ceu? Beli majalah ya sebulan sekali itu sudah istimewa.

Saya mengerti kalau ibu saya sepertinya kurang mendukung karena ya di masa-masa itu, dunia menulis bisa menjanjikan apa, sih? Mana ada yang namanya email? PC pun hanya dimiliki oleh kalangan ‘atas’. Mana ada lomba blog? Mana ada lomba-lomba ini itu via online? :D.

Melihat prestasi akademis saya, ya wajar kalau ibu lebih mendorong saya untuk meraih masa depan di bidang formal yang sudah pakem macam jadi insyinyur kek atau jadi dokter yang sangat dicita-citakannya.

Gak apa-apa juga, sih :D. Saya tidak menyesal mengikuti saran itu.

Impian lainnya saat sudah lulus kuliah adalah…sekolah ke luar negeri! Hehehe. Saya tunggu-tunggu saat tepat itu datang. Waktu itu juga enggak tahu harus cari informasi ke mana. Malu juga kalau koar-koar ke mana-mana. Banyakan gengsinya sih. Hihihi.

Tapi saya memang orangnya susah fokus, sih, ya. Mau sekolah di luar negerilah, mau kawin lah, mau anu lah, hahahahaha. Prinsip saya, apa yang ada di sekarang, jalani secara optimal.

Karena rezekinya jadi perempuan kantoran, saya selalu berusaha keras mengejar karier dan pindah-pindah perusahaan sampai dapat yang cocok :D. Ya sambil cari suami juga pastinya, ya, Kakaaaaa *maeninBuluMata*.

Kalau dulu saya ditanya, “Tidak menikah sama sekali atau menikah dengan orang yang salah?”

Jawaban saya pasti, “Menikah dengan orang yang salah!”

Hahahahaha. And indeed, jadi jomblo sekarang bebannya lebih berat sepertinya ketimbang jadi janda/duda :v :v :v.

Dulu, saya perkirakan, kalau adik saya lulus kuliah, “kewajiban” saya bisa terlepas, barulah saya akan mencoba peruntungan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ealah, malah diajak ke pelaminan sama yayang. Enggak mikir 2x, ya mending menikah sih ya hihihihi *ngikikCentil*. Sama sekali tidak punya jiwa Cosmo-Girl-Single ‘n Fabolous ini Mbak-nya :v :v :v.

Gambar : jaksflowergirldresses.com
Gambar : jaksflowergirldresses.com

Iya sih, waktu menjelang kelulusan, sahabat-sahabat saya asyik memikirkan karier dan macam-macam, saya malah merusak angan-angan mereka dengan tahu-tahu melontarkan kalimat, “Terus kawinnya kapan?” Hahahhahahha.

Sejak bekerja, sudah ada rencana cadangan. Bermimpi-mimpi biar bisa mendapat pekerjaan yang membuat saya harus traveling ke luar negeri. Enggak pernah kejadian. Enggak pernah hoki. Bahkan di tempat kerja terakhir saat ada proyek yang melibatkan 90% personel divisi dan ada training bolak balik ke beberapa tempat di luar negeri, takdir memilih saya menjadi yang 10% nya *nangisDiPojokan*.

Anak pertama lahir, ya sudah. Pikiran sudah terbagi. Saya memutuskan resign. Lupakan cita-cita tinggal di luar negeri (niatnya memang tidak untuk sekadar jalan-jalan).

Kalau jalan-jalan fokusnya ya pasti beda dan yang kita tangkap juga pasti terbatas karena minimnya waktu. Kecuali jalan-jalannya benar-benar diniatin dan direncanakan dan dijalani dalam waktu yang tidak sebentar. Misalnya 3 bulan keliling Eropa bla bla bla. Pasti seru juga tuh ^_^. Tapi paling enak memang beasiswa sekolah, deh. Dibayarin soalnya hahahaha :p.

Tapi untuk adik-adikku yang lain, yang mungkin kini baru lulus kuliah dan baru mulai kerja, cicipilah kesempatan untuk tinggal di luar negeri :). Bukan untuk adu keren-keren-an. Untuk menimba pengalaman dan memperluas wawasan. Soal kualitas pendidikan, saya sih tidak terlalu menyembah-nyembah kurikulum negara lain.

Tapi…pengalaman hidupnya itu, lho. There are things that money can’t buy.

Sekarang … sudah ada internet ^_^.

Tanpa perlu berkoar-koar pun, dengan mudah kita memperoleh info berbagai macam beasiswa via internet. Kan ada juga yang seperti saya, maluuuu kalau mau tanya-tanya. Sudah tanya-tanya entar enggak dapat, ribet (atau tengsin) pula nerangin sana sini hihihihi.

Beasiswa terbaru yang lagi hits adalah LPDP. Beasiswanya juga agak istimewa dibanding yang lain karena kesempatannya dibuka 4 x dalam setahun. SEmentara umumnya beasiswa yang lain hanya 1 x dalam setahun. Daya jangkau dan daya tampungnya juga banyak, lho ^_^. Ceki-ceki ya di https://www.beasiswalpdp.org

LPDP

Thanks to internet (again), kehadiran blogger dari berbagai kalangan juga memudahkan kita untuk mempelajari pengalaman dan cara/tips/trik orang lain untuk mendapatkan beasiswa. Semudah memainkan jemari tangan di atas papan ketik. Mainkan google-nya, Kakaaaaa ^_^.

Tapi untuk yang sudah lulus dan bekerja dan ternyata gajinya tidak hanya untuk membeli bedak untuk diri sendiri (hihihihi) tapi juga harus memegang peranan sebagai tulang punggung keluarga–> pilihan untuk sekolah ke luar negeri tentu bukan pilihan yang bijak, santai saja ….

“Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” ^_^.

Seperti saya yang sudah memasrahkan mimpi tinggal di luar negeri. Tuhan menjawab doa-doa di masa lampau itu melalui orang lain. Rezekinya justru datang via suami hehehe. Dua minggu setelah saya menyerahkan surat pengunduran diri di kantor, suami mendapat kabar gembira pertama kalinya dari luar negeri.

When it’s time, it’s time ;).

Namun, kalian yang masih muda dan segar, yang pilihannya masih terbentang luas di hadapan … kejarlah selagi ada kesempatan ;). Itulah sebagian fungsi positif internet dan media sosial :).

Saat kita berpikir kenapa ya akhir-akhir ini kok banyak berita kejahatan, apa berarti dulu enggak ada? Belum cencuuuuu. Dulu ada bahkan mungkin sama banyaknya, tapi dulu enggak ada internet yang bisa dengan cepat menyebarkannya hahahaha.

Macam dulu ibu saya selalu bernostalgia dengan foto-fotonya di tahun 70an dan selalu berkata fashion di tahun 70 an jauh lebih baik daripada fashion tahun 80 dan 90 an.

Sebagian kita, generasi 80/90 an kini merasa tahun kita jauh lebih keren daripada generasi milenium. Sejarah berulang :p.

Dulu pun ibu saya bilang enak juga ya jadi saya. Banyak pilihan sekolah. Untuk sekolah lintas pulau, dari Sulawesi ke Jawa pun, tidak se’sangar’ zaman dulu. Dunia pendidikan terus berkembang.

Termasuk saya juga yang kini berpendapat, “Enaknyaaaa generasi muda yang hidup di masa-masa jayanya internet.”

Siapa bilang, generasi sekarang tidak seberuntung kita dulu. Tiap zaman punya pertaruhannya masing-masing lah :). Semua kemudahan yang datang tinggal difokuskan pada manfaat positifnya saja.

Untuk ibu-ibu rumahan seperti saya, kehadiran internet malah terasa lebih banyak positifnya :D. Pendapat pribadi, ya ;).

Gambar : va-mom.com
Gambar : va-mom.com

Dunia terus berputar dan berubah. Ada harapan yang tercapai, ada yang memudar, ada yang datang belakangan, ada yang mungkin masih terus dikejar. Termasuk jika sudah berstatus ibu-ibu dan sudah punya anak, masih boleh kok untuk terus menerbitkan harapan-harapan dan keinginan untuk diri sendiri. Asalkan tahu prioritasnya saja ;).

“There is no real ending. It’s just the place where you stop the story.”
― Frank Herbert

Whether you really think about this or not … C’est la vie :).

Gambar : etsy.com
Gambar : etsy.com

Akidah atau Akhlak?

Saat Rasulullah pertama kali menyiarkan Islam di masa awal dulu, tentangan terbesar adalah dalam masalah akidah. Orang-orang lebih banyak mengkhawatirkan zona nyaman mereka yang terganggu dengan ajaran Nabi Muhammad.

Nabi-nabi lain sebelum Nabi Muhammad juga begitu. Umat yang diberi tahu masalah tauhid umumnya menolak dari segi akidah.

Lebih dari 1500 tahun setelah Nabi Muhammad wafat, keutamaan akhlaknya terus dipuja-puja oleh ilmuwan barat sekali pun.

Beberapa tahun lalu saya membaca biografi “Sang Nabi” karangan Karen Armstrong yang jelas-jelas bukan seorang muslim. Armstrong menekankan sekali kesuksesan Rasulullah tidak lepas dari akhlaknya yang tak pernah meresahkan “siapa pun”, termasuk “pihak musuh”.

Salah satu yang dibahas yang sangat berkesan bagi saya adalah Perjanjian Hudaibiyah. Armstrong memuji ‘taktik’ Nabi Muhammad yang menurutnya tak akan lahir dari orang sembarangan.

Perjanjian Hudaibiyah (gambar: www.islam.ru)
Perjanjian Hudaibiyah (gambar: www.islam.ru)

Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas terlihat sangat berat sebelah dan merugikan kaum muslim mendapat kecaman keras dari kalangan para sahabat. Nabi Muhammad bergeming. Tekanan para sahabat, kebimbangan banyak umat tidak membuatnya mengubah keputusan yang sudah diambil.

Perjanjian dalam tempo waktu 10 tahun tetap dilaksanakan. Salah satu intinya, orang Madinah yang berkunjung ke Mekkah tak boleh kembali ke Madinah. Sementara orang Mekkah yang datang ke Madinah boleh bolak balik sesuka hati Mekkah-Madinah.

Wah, wah, pantas saja para sahabat banyak yang resah. Rasanya kok merugikan umat muslim di Madinah?

Hasilnya? Sebelum 10 tahun, Islam telah berhasil mengubah peta kehidupan sosial masyarakat Mekkah . Begitulah awalnya peristiwa futuh Mekkah terjadi. Direbutnya Sang Kota Suci tanpa pertumpahan darah berarti. Istilah, dikuasai dengan damai. Damai, literally!

Apa sebab?

Masyarakat Madinah, walau pun heterogen hidup dalam naungan Islam dan berjalan dalam perangkat Syariah Islam yang memang terkenal dengan jargon “rahmatan lil aalamiin” nya . Jangan dikira di Madinah semua orang dipaksa untuk memeluk akidah Islam. No, no. Sistemnya Islam, tapi suka-suka situ mau ke sinagog atau ke gereja 😉.

Akhlak para penduduk Madinah berhasil mencuri hati mereka yang di Mekkah. Kalau sudah ke Mekkah, orang Madinah kan enggak boleh pulang lagi, harus bermukim dan berbaur di sana. Di Mekkah inilah, orang-orang Madinah hasil binaan Rasulullah menunjukkan cara bermasyarakat yang mereka anut di Madinah sana.

Gambar : www.albabuldiin.com
Gambar : www.albabuldiin.com

Perlahan dan pasti, penduduk Mekkah mulai melupakan kebencian pada kaum muslim yang dulu mereka anggap tengah berusaha menghancurkan kepercayaan nenek moyang. Mereka melihat saudara-saudara mereka yang dulu hijrah bersama Rasulullah tumbuh menjadi insan-insan saleh dan sama sekali tidak menakutkan seperti yang mereka sangkakan. Tak ada dengki tak ada paksaan. Kesejukan malah yang didapatkan.

Demikian pula orang-orang Mekkah yang datang ke Madinah, terpukau dengan sistem kemasyarakatan yang “islami” ini . Mereka pun kembali ke Mekkah dan menceritakan betapa asoynya kehidupan di Madinah.
Sungguh taktik yang luar biasa. Salawat dan puji-pujian bagi Allah dan rasulNya 🙂.

CMIIW, ya. Mohon dibetulin kalau ada yang salah. Siapa tahu referensi saya kurang tepat hehe.

Antara Madinah dan Mekkah di masa lampau sungguh kontras dengan kehidupan umat muslim di masa terkini.

muhammad karen armstrong

Yang pernah ramai adalah wawancara Bill Maher dan Sam Harris yang juga mengorbitkan nama Ben Affleck sebagai pembela muslim. But sorry to say, setelah lihat interviewnya…anu…Ben Affleck agak-agak gak nyambung sih emang hehehe. Raise your knowledge Ben, not your voice :p.

Fokus ke pendapat Sam Harris dulu, yuk. Keresahan Bill Maher dan Sam Harris justru pada kelakuan umat Islam ekstremis yang mereka klaim sebagai ‘kelakuan mayoritas’ umat muslim. Hm, saya enggak punya datanya. Jangan-jangan benar itu, tak sedikit dari kaum muslim yang diam-diam bersorak memberi semangat kepada kaum ekstrimis itu? 🙁.

Beberapa situs “islami” di Indonesia menobatkan beberapa pelaku pengeboman bunuh diri di tempat sipil sebagai “pahlawan”. Zzzzzzz -_-.

Tapi seorang narasumber satu lagi mementahkan anggapan itu dengan menuduh media-media internasional yang terlalu gencar memberitakan sisi negatif kaum muslim. Tapi kemudian ada sebuah komentar di videonya yang bikin dada sesak “…kalau mereka mengklaim itu hanya orang-orang tertentu yang ekstrimis lalu mengapa tak ada yang lantang menentangnya? Sisanya kok diam saja? Their silence is deafening.”

Ya gimana dong, kalau kita tentang kebrutalan mereka, kita pula yang dibilang liberal-sekular-anu-anu-anu :p.

Apakah kita tidak terganggu jika dulu Rasulullah memperjuangkan akidah sekarang malah siapa yang ngomongin akidah Islam? Karena aksi terorisme-nya bergema lebih kuat? Belum masuk ranah akidah, orang lain sudah dibikin takut dengan akhlak orang-orang yang (katanya) memperjuangkan akidah ini.

Katanya, Islam itu membunuhi siapa pun yang dianggap kafir. Memang benar lho. Ada yang menganggap kita harus berperang (literally, berperang) melawan fitnah. Fitnah terbesar = kemusyrikan, musyrik = bukan agama Islam. Pingsan gak lo? -_-.

Sebuah situs dengan lincah mengumpulkan ayat-ayat dalam alquran yang ditengarai sebagai perintah Tuhan bagi kaum muslim untuk bunuh-bunuh-bunuh. Sekitar 209 ayat. Padahal alquran terdiri dari 6 ribuan ayat.

Fokus pada ayat-ayat yang turun saat peperangan fisik terjadi lantas bagaimana dengan Al Mumtahanah (surah ke-60, juz 28)? Ayat 8 dan 9-nya sungguh sejuk dan sangat mudah dipahami.

Komentar-komentar di video juga bagus sebagai bahan kita berkaca, “Islam itu memang agama yang paling beda. Kita harus ikut mereka. Untuk masuk surga, kita harus membunuhi banyak-banyak orang kafir. Orang kafir ya orang yang enggak percaya sama ajaran agama mereka. Bayangkan, mereka hidup di dunia, mengejar surga dengan cara kekerasan. Dan mereka mengklaim agama mereka sebagai agama perdamaian. It’s really hard to understand that thing. Or is it just me?”

Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris (gambar : theguardian.com)
Ben Affleck, Bill Maher, Sam Harris (gambar : theguardian.com)

Susah mau membela diri kalau tahu ayat-ayat alquran saja kita tidak. Jika diberondong dengan ayat-ayat kekerasan, jangan-jangan sebagian dari kita juga bingung hihihihi. Iya ya, alquran nyuruhnya bunuh-bunuhin orang euy. Hehehe.

Insya Allah, alquran itu menyimpan banyak sejarah masa lampau untuk kita belajar dan berkaca bukan untuk menghakimi siapa pun. Mengurai keutamaan tauhid dan iman sekaligus menjabarkan keutamaan akhlak dan tingkah laku.

Perhatikan saja, banyak sekali ayat yang diterjemahkan sebagai… “Beriman dan berbuat kebaikan”, “beriman dan beramal baik”, “beriman dan menganjurkan untuk memberi makan kaum miskin” pokoknya iman selalu disertai dengan perbuatan baik.

Tak berarti iman dan tauhid nomor 2 atau tidak penting. Enggak gitu ya. Semuanya penting. Justru kita ini yang sering mengesampingkan urusan muamalah. Ah, ndak penting-penting amat lah itu. Sing penting syahadat-salat-zakat-puasa. Beres. Surga di tangan.

Apa kita tidak terusik jika makin ke sini umat muslim ditakuti justru karena tingkah lakunya? . Boro-boro mau menerangkan tauhid, makna zakat, qurban, berpuasa, kalau belum-belum mereka sudah merinding duluan melihat penampakan dan aksi-aksi kita?

Sama-sama kita buktikan bahwa kehadiran umat muslim seharusnya selalu membawa kesejukan, kedamaian, keadilan, kesejahteraan pada sekitarnya. Sesuai pakemnya, Islam … rahmatan lil aalamiin, rahmat bagi seluruh umat manusia. SELURUH. Bukan buat umat muslim doang toh ya ;).