Secret of The Future?

 

Untuk suku Bugis di Kerajaan Bone, Arung Palakka dianggap sebagai pembebas. Apalagi di Bone, tak jarang ditemui patung-patung besar yang menggambarkan beliau sedang berdiri gagah bertelanjang dada. Memegang tombak panjang dan pandangan sangat menentang.

Arung Palakka, anak bangsawan Bugis yang harus menyaksikan bangsanya diperbudak oleh pemerintah kerajaan yang dipimpin oleh Makassar. Walau Arung Palakka dibesarkan oleh bangsawan Makassar secara terhormat bahkan dibekali pendidikan yang mumpuni, tidak mungkin darah Bugisnya tidak membara melihat perbudakan yang menimpa mayoritas keluarga dan rakyat kerajaannya.

Gambar : bonekab.go.id
Gambar : bonekab.go.id

Kalian jangan hanya memulai saat Arung Palakka berdiri di barisan yang sama dengan VOC untuk menghancurkan benteng pertahanan terbesar Nusantara yang terakhir di Timur Indonesia. Ingatlah, sebelum Arung Palakka melarikan diri dari Sulawesi, hatinya terluka melihat kerabatnya yang dulunya adalah bangsawan terhormat di tanah Bone dipaksa melakukan pekerjaan kasar oleh sang penjajah.

Saat itu rakyat Bugis banyak yang lari dan meninggal karena kerja paksa. Sehingga pihak Kerajaan Gowa mengharuskan kalangan bangsawan untuk menggantikan tugas tersebut.

Arung Palakka mengobarkan perlawanan pemuda Bugis. Kalah telak. Arung Palakka malu dan melarikan diri. Malu kenapa? Kami orang Bugis punya budaya yang namanya SIRI’. Pantang sekali melihat kaum kami dipermalukan tapi tak ada yang bisa dilakukan. Lebih baik mati. Begitu lebih terhormat.

Tapi Arung Palakka tidak memilih bunuh diri. Dia tidak mau mati begitu saja. Dia lari membawa sisa-sisa pasukan dan merantau ke Jawa dengan sebuah sumpah dalam hatinya, bahwa suatu hari akan dibebaskannya bangsanya yang tengah diperbudak. Whatever it takes!

Memang benar, Arung Palakka sudah membabi buta. Bersama gengnya, dia menjadi preman di pelabuhan-pelabuhan Batavia dan menarik perhatian petinggi VOC. Memang itu yang dia cari. Dia bahkan pernah membantu VOC mematahkan perlawanan orang-orang Minang di salah satu wilayah Sumatera Barat.

Arung Palakka mencari muka kepada pihak yang dianggap kuat untuk menjadi sekutunya nanti. Untuk menemaninya mengembangkan layar kembali ke tanah Sulawesi dan sekali lagi … bertempur untuk harga diri kaumnya! Menuntaskan rasa malu kala dulu gagal melepaskan mereka dari perbudakan.

Jangan dikira hepi-hepi saja perantauannya. Sempat Arung Palakka dan teman-temannya kena fitnah. Apalagi saat terjadi chaos di kepemimpinan VOC di Batavia. Kalau tidak salah, kedua sahabatnya terbunuh, sedangkan Arung Palakka berhasil merebut hati pemimpin VOC yang baru.

Singkat cerita, hari yang ditunggu-tunggunya datang juga. Sekian lama berusaha menunjukkan kesetiaannya pada VOC, pucuk dicinta ulam tiba. Akhirnya VOC meminta Arung Palakka dan pasukannnya bergabung dalam penyerbuan ke Pelabuhan Makassar yang dikuasai oleh Gowa-Tallo.

Begitulah hingga akhirnya perdagangan di perairan Timur Indonesia bisa jatuh ke tangan VOC. Salah Arung Palakka? Bisa jadi.

Gambar : indonesianhistorical.blogspot.com
Gambar : indonesianhistorical.blogspot.com

Tapi mengganggu juga itu predikat pengkhianat. Karena siapa yang dikhianati? Saat itu wilayah Nusantara belum dipersatukan dalam wadah NKRI lho :P. Inga’, inga’ hehehehe.

Masing-masing kerajaan berdiri sendiri-sendiri. Jadi ini seharusnya bukan cerita pengkhianatan terhadap Republik Indonesia. Belum ada lho, Kakaaaaa :p. Republiknya berdiri setelah lebih dari 200 tahun kemudian.

Meraba-raba kejadian di masa lampau itu sepertinya bakal repot kalau hanya terus-terusan memandang dari satu sisi. Apalagi hanya sepotong yang sengaja kita tekankan demi tercapainya maksud/tujuan pribadi.

Heran saya, di wall teman ada yang berkomentar soal sejarah pengkhianatan di Kerajaan Makassar yang konon dikomandai oleh orang Bugis. Itu tidak salah. Tapi tolong, kalau melihat asap, diperhatikan juga apinya dari mana ;). Kalau hanya asapnya yang kalian kibas-kibasan kita akan luput melihat kenapa ada asap? Pemantik apinya juga harus diwaspadai.

Lagipula ini perseteruan antara 2 kerajaan besar yang kebetulan masing-masing berasal dari suku yang berbeda. Jangan lagi kalian berusaha percikkan api kebencian yang tidak penting. Karena puluhan tahun lalu, Bugis-Makassar hidup damai berdampingan di tanah Sulsel. Kita sudah MOVE ON, Cuy! ^_^.

Enggak tahu ya dengan kalian. tapi antara Bugis dan Makassar sekarang tuh sudah seperti saudara saja. Kalau pun ada friksi tidak pernah sampai mesti perang atau bunuh-bunuhan. We’re so over it ;).

Jangan melulu hanya melihat kelihaian Arung Palakka membabi buta dalam mencari sekutu. Itu karena dia seorang petarung. Hidupnya tidak hanya untuk memikirkan dirinya sendiri yang seharusnya sudah hidup enak dengan masa depan cerah karena kecerdasannya yang menonjol. Dia bahkan sudah diterima dengan baik oleh orang tua asuhnya yang keturunan bangsawan Makassar.

Tapi dia tidak pernah lupa, dalam darahnya itu mengalir darah Bugis. Darah yang sama yang ada di jantung orang-orang yang tengah terhina hidupnya akibat perbudakan semena-mena.

Pelajaran yang diambil kan banyak. Perbudakan itu hal yang terlarang. Sudah seharusnya kita menentangnya.

Buat yang muslim tentu tahu, sebagian besar dosa yang kita lakukan mungkin bisa terampuni jika kita melakukan 3 hal berdasarkan prioritas. Anda tahu redemption nomor 1 itu apa? Memerdekakan satu orang hamba sahaya. Kemudian jika tak sanggup memberi makan 60 orang anak yatim, dan terakhir berpuasa 2 bulan berturut-turut.

Memerdekakan hamba sahaya dan menyantuni anak yatim lebih dianjurkan daripada berpuasa 2 bulan berturut-turut. Rahmatan lil aalamiin ;).

Dari sisi Arung Palakka juga ya banyak korsletnya :p. Jangan menghalalkan segala cara. Karena pada akhirnya ada yang namanya karma. Konon, saat sudah memimpin di Sulawesi, banyak petinggi-petinggi kerajaan yang bete dan menentang keras karena Arung Palakka loyal banget sama VOC. Selalu ikut bertempur dan membantu. Itu karena “utang” yang harus dibayarnya atas “jalan pintas” yang dipilihnya.

See? Kalau kalian lihat lebih tuntas dan lebih komplit, kalian akan tahu karakter orang itu tidak statis. Orang yang mungkin by default luhur budinya suatu hari bisa kena ujian dengan situasi dan kondisi yang sulit. Tidak itu namanya orang yang jahat sejak lahir kecuali kelainan genetik tertentu (which is very rare) yang pernah saya pelajari dulu saat SMA. Tidak karena dia lapar lalu dia mencuri maka dia adalah orang yang hina luar biasa. Tengok dulu, kenapa dia lapar, siapa yang membuat dia lapar bla bla bla.

Gambar : trashware.eu
Gambar : trashware.eu

Kita tidak sedang melakukan pembenaran tapi kita lebih baik memilih untuk tidak menghakimi. Tidak menghakimi itu sulit kalau kita tidak tahu persoalannya secara utuh. Untuk mengetahui secara utuh butuh waktu dan baca, baca, dan “baca” ;). Maka dari itu, tempo hari di status saya menuliskan kalimat dari seorang teman bahwa “Untuk mengkritik kita perlu ilmu…maka belajarlah” :).

Saya tidak suka, untuk menyerang orang-orang yang mereka benci, mereka membawa-bawa masa lalu dan bertindak seperti Hakim dengan seenak jidat melabeli siapa yang jahat siapa yang berkhianat. Al Hakim, Yang Mahabijaksana, itu sifat Sang Maha Esa, bukan ranah manusia biasa seperti kita ;).

Sejarah bukan untuk mengungkit-ngungkit kebencian untuk menakut-nakuti orang lain untuk mengkhawatirkan masa depan. Sejarah penting untuk penentuan masa depan. Jangan membaca sejarah dengan penuh kebencian apalagi memang sengaja untuk nyari-nyari salah. Satu, itu sia-sia. There’s nothing you can do about it now ;). Dua, untungnya apa coba?

Sejarah itu penentu masa depan. Hanya dan hanya kalau kita bisa petik pelajarannya tanpa perlu pusing memikirkan, “Ya Allah si anu jahat bener ya. Aduh ada ya orang sekejam itu.”

Sudah kau baca masa kecilnya Hitler, what he had gone thru. What he had seen. Napoleon Bonaparte? Lenin? Mengapa komunisme ada? Siapa Stalin? Dengan cara apa yang dibesarkan? Apa yang dialaminya? Di masa apa dia hidup? Bagaimana perputaran dunia saat itu?

Hati hanya akan rusuh dan rusuh kalau niatnya tidak untuk mencari kebaikan.

Dirahasiakannya masa depan itu bukan untuk petantang petenteng tebar-tebar ayat untuk mengancam orang-orang yang enggak sejalan, mengancam-ancam akan makin dekatnya hari akhir? Karena apa yang kalian mau tidak terwujud kalian ancam orang lain yang tidak sejalan? Bahwa hidup akan suram karena yang kalian inginkan tidak tercapai?

Setahu saya, di alquran tertulis jelas, bahkan Rasulullah pun berkali-kali menerangkan kepada kaum yang menentang bahwa Rasulullah sekali pun tidak tahu masalah gaib yang satu ini. 100% rahasia Allah. KetentuanNya semata. Bukan ranah manusia :).

Tugas kita ya terus mengingatkan untuk hal-hal yang baik, bukan mengancam-ngancam, sok-sok meramal masa depan. Bagus kalau ramalannya enak dibaca, lah ini, diramalnya kita bakal hancur -_-. Anu, anu, anu.

Kok senangnya mengutuk-ngutuk orang sih?

Sebuah kalimat teduh yang saya unduh via Google ini mungkin bisa menjadi penyejuk bagi kita semua. Bagaimana sebenarnya rahasia masa depan itu ^_^.

Gambar : notegraphy.com
Gambar : notegraphy.com

Apakah kalau kita sudah melakukan semua itu maka dunia akan berputar sesuai niat baik kita? Ya belum tentu. Penentunya kan Yang Mahakuasa, Maha Menguasai masa depan. Situ Mahakuasa bukan? :p

“God never requires us to succeed. He only requires that we try.” -Bunda Theresa-

Just try! Cobalah lebih banyak berprasangka baik. Tidak takut ya kau ramal buruk bangsamu sendiri. You’re part of us, aren’t you? ;).

Saat galau saat cemas, jika begitu sulit untuk “membaca” maka berdoalah. Berdoa yang baik-baik.

So what’s the secret of the future? Choose happiness over suffering. Always :).

***

[Film Tokyo Love Story] Ku Tak Tahu Harus Memulai Dari Mana

Hari ini hari ulang tahunnya Kanji. Rika sudah menyiapkan surprais macam-macam. Kanji dan Rika? Penggemar film Tokyo Love Story harusnya langsung ngeh dong ya ;).

Hokinya Rika kayaknya lagi jelek. Karena ternyata, di hari yang sama, Satomi menelepon Kanji. Nampak pengin curhat :D. Kanji memilih menemui Satomi.

Sebel banget deh pas episode yang ini. Cengeng amat ya ini si Satomi. Gak penting, gak jelas, kegeeran bakal ditaksir sama semua orang! Suara hati hater banget gak sih? Hahaha.

Problem is… ini si Mbak Satomi pan sudah sama Mikami, ya. Ngapain lagi ganggu-ganggu Kanji yang ternyata lagi ditaksir habis-habisan sama Rika –> ceritanya yang nulis ngefansnya sama Rika :p.

Film Tokyo Love Story
Rika & Kanji

Habis maki-maki Satomi, Kanji juga harus dipersalahkan. Mbok ya, empati dikit toh yaaaa. Dihargai sedikit usaha temannya yang sudah berusaha keras biar ente tahu kalau dese itu lagi naksir berat :p.

Terus belakangan ternyata diceritakan juga tentang pertemanan Satomi-Kanji-Mikami dalam Film Tokyo Love Story, yang ternyata lahir dan dibesarkan bahkan bersekolah bareng dan menjadi sahabat karib sejak kecil. Mereka sama-sama merantau ke Tokyo dari sebuah desa kecil yang sama.

Sejak kecil, Kanji memang sudah memberi perhatian lebih kepada Satomi. Selalu ingin melindungi semacam itulah. Sampai remaja juga begitu. Tapi Kanji kan ceritanya pemalu jadi dia diam saja dan berharap Satomi nanti tahu sendiri.

Too bad, Satomi malah naksirnya sama Mikami. Sebaliknya dengan Kanji, Mikami ini tipe-tipe “bad boy” begitulah. Tapi Satomi yang perangainya keibuan dan tidak terlalu suka banyak bicara malah senengnya sama yang model Mikami ini. Onde Mande kuadrat lah.

Film Tokyo Love Story
Satomi Sekeguchi

Duh, begitulah cinta ya, deritanya tiada akhir –> Cu Pat Kay mode on. Cu Pat Kay? Jangan kebanyakan nonton drama, sekali-sekali nonton Kera Sakti dong ah :v :v :v.

Then, they grew up. Rame-rame hijrah ke Tokyo. Tetap bersahabat karib. And here came Rika Akana. Beda dengan Satomi, Rika ini mulutnya toa’ abis. Ceriwis luar biasa. Dia adalah rekan kerja Kanji di kantor.

Sampai-sampai tidak sedikit adegan di mana Kanji bete dan bilang ke Rika, “Kamu ini bisa diam, gak, sih?” Hahahaha.

Ealah, Rika malah naksir sama Kanji yang bawaannya tenang dan irit ngomong. Enggak tanggung-tanggung, dalam suatu acara kantor, Rika lagi pegang mic terus teriak kencang-kencang, “I love you, Kanji Nagao!”

Terus mukanya Kanji di close up, kelihatan banget kalau saat itu ekspresinya semacam “aku mau mati saja”. Cewek sableng emang! Hahaha.

Terusnya lagi, Satomi malah jadian dengan Mikami (finally!) tapi ternyata Mikami masih ‘bandel’. Sibuklah si mbak-nya curhat ke Kanji. Kanji ya sebenarnya sudah mau move on, apalagi mungkin pusing juga ya dipepetin terus sama Rika (hihihi). Tapi dia enggak rela juga kalau melihat Satomi sakit hati.

Intinya, Kanji ikhlas Satomi buat Mikami asalkan Satomi hepi. Macam itulah. Tapi kenyataannya kan enggak.

Nah, dari situlah, cinta segi lima dimulai. Segi lima? Yoih, karena ada satu tokoh perempuan lagi yang namanya … duh, lupa. Malas browsing. Pokoknya si Eneng yang ini naksir sama Mikami gitu lah.

Rika & Mikami
Rika & Mikami

Kepada RIka, Kanji sebenarnya juga enggak tega. Tapi gimana ya, bingung juga ngadepin cewek super agresif satu ini kali hehe. Tidak ingin menyakiti tapi gimana, naksirnya dari dulu sudah sama orang lain :).

Rika lama-lama juga “menyerah”. Semacam … “I can’t make you love me if you won’t…”

Film Tokyo Love Story ini cukup ribet dan bikin mikir. Karena by the time you hate Satomi misalnya, dikasih flashback soal masa lalu Mikami-Satomi-Kanji tadi. Jadi ya, bingung lagi, harus bete apa enggak nih hehehehe. Tokoh Mikami juga begitu. Kok ya laki-laki gatel-gatel aja bawaannya, ada juga “why” dan “how”nya sekilas-sekilas. Enggak jadi deh mau menghujat habis-habisan :D.

Setiap tindakan atau kelakuan masing-masing karakter tidak dilempar begitu saja. Tapi juga tidak diurai detil. Dikasihnya sedikit-sedikit biar nontonnya juga seru dan itu tadi…bikin mikir ^_^. Bahwa yang kita sangka enggak penting/genit/sok kecakepan ternyata enggak gitu-gitu amat :p.

Konflik kecil-kecilnya juga banyak. Pokoknya tidak ada tokoh yang sempurna baiknya –> cantik, baik, lugu, miskin (miskin tapi kullitnya semulus sutra zzzzzz -_-), selalu ditipu tapi akhirnya “happily ever after”.

Tidak ada juga karakter yang enggak ada angin enggak ada hujan, pokoknya dari lahir kayaknya sudah jahat ajah! :v :v :v.

Demam AADC beberapa hari terakhir ini malah bikin saya terkenang-kenang sama dorama Jepang “Tokyo Love Story.” Wah, nasionalismenya rendah ini! hehehe.

Mungkin, film AADC itu diputar justru saat saya sudah mau lulus kuliah :D. Dan saat saya SMA, urusan cinta-cintaan belum menjadi prioritas. Waktu itu benak saya 80% isinya, “Harus lulus di UMPTN! Mau kuliah di Jakarta! Pengin merantau ke tanah Jawa!”

Ada lah naksir-naksiran pas waktu SMA. Cuma ya, sekadar drama-drama-an ala abege yang memang agak tak terhindarkan ya :p.

Jadinya ya begitu, Film Tokyo Love Story lebih membekas karena settingnya sama-sama di usia kerja. Saat yang sama dengan saya dimana drama percintaan sedang ada di puncaknya hahahahaha.

Kisah dalam Film Tokyo Love Story juga lebih “membumi” dan logis. Walau tentu saja, sebagai fans garis keras Teteh Rika Akana, saya berharap endingnya adalah … Kanji Nagao sujud menyembah di hadapan si Teteh karena menyesal sudah telat datang ke stasiun kereta api tempat mereka berjanji untuk bertemu terakhir kalinya sebelum terpisah selama 3 tahun.

kanji nagao
Kanji Nagao

Ending Film Tokyo Love Story ini memang bikin gatal-gatal tapi memang jauh lebih masuk akal. Tiga tahun kemudian, secara tak sengaja Rika berpapasan di jalan dengan Kanji yang sedang bersama Satomi.

Rika, seperti biasa, tetap heboh dan ceria. Kanji lega melihat Rika biasa-biasa saja, mungkin tadinya sempat takut bakal disambit hahahahaha. Satomi malah menyarankan mereka berdua reunian dan dia undur diri.

Kanji sempat enggak enak. Tapi Satomi memberi senyuman manis penuh pengertian.

Rika akhirnya tahu kalau Kanji sudah menikah dengan Satomi. Mereka mengobrol biasa dan saling bertanya keadaan. Tidak terlalu diperlihatkan apakah Rika bete apa gimana. Pokoknya ya biasa saja. Tapi tidak juga digambarkan mereka seolah baik-baik saja dan pura-pura lupa sama masa lalu. Kesan grogi ada tapi ya … biasa aja gitu. Ini mbulet gini sih neranginnya hahahahahaha.

Kanji : Apa kabar, Rika? Balik Tokyo lagi?
Rika : Yoih. Ya, gue gini – gini aja. Enggak berubah banyak.
Kanji : Iya sih
Rika : Etapi, ngaku aja, kalau mau jujur, gue cakepan kan ya?
Kanji : (ketawa grogi)
Rika : Ngaku aja lo!
Kanji : Iya deh, iya. Lebih cakepan sekarang.
Rika : Wah, genit lo! Gue bilang Satomi ah… hahahaha (ngakak nenek sihir)
Kanji : Idih
Rika : Biarin, mau gue laporin! Hahahahahha

Mereka saling berpisah dengan cara berjalan saling membelakangi ke arah yang berbeda. Klise tapi nontonnnya enak aja gitu. Natural. Sempat becanda-becanda lagi si Rika kayak dulu-dulu. Sifat sablengnya ini yang bikin banyak yang ngefans kali ya sama karakter cewek grabak grubuk ini :p. Kanji juga ketawa-ketawa. Sama sekali tidak diperlihatkan ada tanda-tanda CLBK.

Rika bahkan menolak memberikan nomor teleponnya –> “Isn’t it better this way? Running into each other in a city like we did today.”

Rika & Kanji
Rika & Kanji

Scene terakhirnya adalah, Kanji langsung mencari Satomi dan begitu bertemu langsung senyum hepi dan jalan lagi berdua sambil nempel-nempel gitu. Sementara Rika, walau jalannya masih sendirian, tapi tampangnya tertawa lepas seolah satu beban sudah hilang dari hatinya. Sotoy aje dah yang nulis! :v :v :v.

Memang harusnya begitu kan, ya. Move on gak move on, hidup terus berjalan dan tidak perlulah ditunjukkan semua drama dalam hati ke seluruh penjuru dunia :p.

Untuk penonton macam kita juga diajak berpikir dan lama-lama jadi terasa sulit untuk sebel sama si Satomi. Dan jadi mereka-reka ulang, “Ini jadi yang jahat yang mana nih???”

Semua punya alasan walau tidak harus selalu dibenarkan. Tapi ya, kalau dirunut lagi satu-satu, ya memangnya siapa gitu “bad guy” nya? Hehehe.

Kenapa ya kita itu kecenderungannya selalu berusaha nyari-nyari siapa yang salah. Padahal cuma perlu menggeser pertanyaan sedikit, “Salahnya DI MANA?” Lebih general. Tidak harus mencari SIAPA ;).

Bisa saja, waktunya yang salah, kondisinya yang tidak memungkinkan, right one on the wrong time or right time on the wrong one. Karena konon, karakter orang per orang bukan sesuatu yang statis. Kondisi dan situasi yang tengah dihadapi merupakan salah satu faktor utama yang bisa memengaruhi si karakter tadi. Bersyukurlah, jika dalam perjalanan kita di dunia, kita jarang-jarang berada di “ujung jurang” atau tidak harus mengalami yang namanya “buah simalakama” :D.

Seharusnya akan sangat jarang kita boleh menyimpulkan, “Ish, dia memang jahat tauk! Orangnya memang gitu! Ih amit-amit, enggak pernah deh ketemu orang sekejam dia.”

Judgemental, judgemental, judgemental ^_^.

Itu dia. Mencari the whole story biasanya susah. Informasi tidak lengkap dan hanya sepotong-sepotong. Berat sebelah dan hanya mengupas dari satu sisi. Kadang juga makan waktu dan memang pada akhirnya seringnya kita tidak mungkin mendapatkan satu jalan cerita yang utuh.

Nah makanya jelas kan, seringnya kita sulit mengetahui sesuatu secara komplit, sistematis dan terstruktur (eh, ini pasangan katanya salah deh kayaknya hahahahaha). Maka dalam banyak hal pula, kita harusnya LEBIH SERING untuk tidak menuduh dan menghakimi ^_^.

We don’t judge others for often we don’t know the whole story ;). Jangan kebanyakan nonton sinetron gak jelas lah :p. Kalau pun (ngakunya) enggak pernah nonton, stop thinking others like the ones you refuse to watch on TV lah ;).

Salam damai dari fangirl garis kerasnya Teteh Rika Akana ^_^. Catat ya, sebelum ada Jokowi, saya sudah sering mengemban amanat sebagai fans garis keras! :v :v :v.

Pertanyaan penting dari tulisan yang tidak penting-penting amat ini :p –> kira-kira relevansi judul sama isi tulisan apa yaaaaaa? ;). Ini ending dari Film Tokyo Love Story nya :

Film Tokyo Love Story
Tokyo Love Story – The Ending Scenes 😀

***

Atas Nama Cinta :)

Mungkin diantara semua presiden Indonesia, Jokowi yang paling fenomenal sekaligus agak mengenaskan hihihihi. Baru dilantik 20 Oktober, ya ampun, sudah tumpah ruah semua cacian dan pujian di mana-mana hahaha.

Sampai-sampai barusan baca status, kurang lebih begini : “Gila, tarif listrik naik lagi. Dasar presiden pencitraan. Tarif listrik sering naik, tapi mati lampu juga makin sering! Setahun terakhir ini intens bener mati lampunya!”

Anu Mbak, Pakde-nya belum sebulan jadi presiden :p.

jokowi beritasatu com

Hey, you, the Lovers, belum sebulan! :p. Jangan keburu dipuji-puji bak malaikat dulu. Doanya saja dulu yang dikencengin. Saya mengerti, mungkin sebagian kita hanya ingin membagi optimisme. Tapi tolonglah, pasukan sakit hati masih merebak di mana-mana :p. Kalian optimis, mereka makin meringis.

Bahkan diantara mereka memang ada yang kebenciannya sudah berkarat sejak tahun 2012 silam. Memang belum ada tanda-tanda bisa “disembuhkan” :p. Mereka siap sedia, siaga penuh, mendukung Jokowi melakukan blunder. Kecil-besar, sudah pasti akan diberondong dengan kekuatan maksimal.

Makanya, yang lover jangan digosok-gosok terus emosi mereka :D. Tunggulah dulu.

Kayak Sinabung tempo hari. Yaela, Jokowi kan berkunjung ke sana sudah dalam kapasitasnya sebagai Presiden. Jangan saking senangnya kalian bisa-bisanya membanding-bandingkan dengan Pak SBY.

Show some respect dikit dong, Bro & Sis, sama mantan presiden yang sudah mempersembahkan 10 tahun hidupnya untuk mengurusi kalian yang bacotnya luar biasa ini hahahahaha :p. Bacot eike apalagi yak :v :v :v. Tuh, ngakaknya paling pinter –> tunjuk diri sendiri! :v :v.

Nanti saja kalian puji kalau benar-benar relokasinya sudah berhasil. Walau tetap kita hargai kecepatan beliau untuk sigap ke sana, tapi kan…udah sih, dalam hati saja dulu. Karena kalian euforia begitu, para hater akan makin bangkit kebenciannya dan jangan-jangan mereka malah sibuk mendoakan yang jelek-jelek. Kasihan kan saudara-saudara kita di Sinabung malah dapat doa yang bertentangan dengan yang mereka mau? :(.

Yang mendadak sidak ke mana-mana juga kalian puji bak dewa. Sebenarnya itu hal bagus tapi pujian yang berlebihan lagi-lagi akan membuat para hater tambah sakit hatinya :p. Tuh, TV One langsung ngeluarin berita bertajuk “Pencitraan Kabinet Kerja” hahahahahhaha.

Jokowi nampak sukses menularkan virus pencitraan ala blusukan kepada kloningan-kloningannya di kabinet. Saya pribadi sih senang banget. Itu harapan saya dari dulu. Agar para menteri mbok ya jangan duduk manis saja. Cobalah sekali-sekali memunculkan batang hidungnya di depan khalayak untuk meninjau langsung. Bukan sekadar datang, melambaikan tangan sebentar sambil pasang senyum paling berwibawa lengkap dengan setelan jas paling keren ;).

Menaker blusukan ^_^ (gambar : tv.liputan6.com)
Menaker blusukan ^_^ (gambar : tv.liputan6.com)

Mungkin, mungkin saja blusukan kayak gini enggak banyak gunanya. Tapi setidaknya kita tahu ya, mereka ada USAHA dan TERLIHAT NYATA. Capek lho Bo itu gebrak-gebrak pintu dan sidak langsung ke bandara :p. Rasain lu! Siapa suruh jadi menteri! Hahahahahha.

Tapiiiiiii….senangnya dalam hati saja duyuuuuuu. Doakan agar mereka terus bisa pencitraan selama 5 tahun penuh ^_^. Kayak Pakde dulu yang sukses “menipu” rakyat Solo selama hampir 10 tahun dan akhirnya “mengecoh” DKI hingga mampu “meluluhkan” rakyat di level nasional :p.

Karena ya itu tadi. Kadang saya berpikir, hater ini susah mau melunak kalau lover juga menggila hihihihi. Mungkin tadinya hater sudah ada yang mulai move on. Tapi panas lagi hatinya melihat lover pecicilan lagi. Dikatainya kita bodoh dan gampang ditipu sama pencitraan tapi kalian pasti marah dibilang bodoh and here we go again … berantem tiada akhir di dunia maya! Mending bobok-bobok cantik di dunia nyata hihihihi.

Lho, kenapa lover yang harus bertanggung jawab atas situasi batin para hater?

Karena teman-teman, “What barrier is there that LOVE cannot break?” ;). Itu kata Gandhi, saya cuma copas doang hahahahaha.

Walau amukannya terlihat lebih kuat dan membahana, sesungguhnya kekuatan terbesar itu ada di rasa CINTA, bukan di rasa BENCI. Jadi, para LOVER lah yang seharusnya menjadi solusi ^_^. Karena kalian jelas yang lebih kuat ;).

Sederhananya begini, kalian itu mengagumi Pakde aka Pak Presiden Jokowi kan ya? We love him because we believe he can do something better for us. Dan pastinya kita sebisa mungkin membantu beliau melakukan yang terbaik untuk kita semua. Termasuk mengerem semua kelakuan yang bisa membuat hater kumat lagi hahahahaha.

Ya pastinya beban yang ditanggung Bapak Presiden kita sudah terlalu berat. Akan makin berat dengan kutukan/sumpah serapah/nyinyiran para hater toh ya. Yang jangan-jangan sebenarnya lebih karena hater ini keselnya sama lover yang lebay bukan sama Pak Presiden-nya hihihi.

Ih, kok jadi lover yang salah? Iya sih, kita tidak bertanggung jawab terhadap kebencian yang entah kenapa susah benar hilang dari hati mereka :p. Tapi kan, let’s do our best to help Jokowi to get thru this ^_^. Kalau dia yang sukses, enaknya kan untuk kita semua juga. Lover dan hater selama semuanya masih berstatus WNI, pasti yang akan merasakan manfaatnya. Cuma mungkin kondisi batin hater masih sedemikian sulit untuk berdamai jadi luput melihat hal-hal kayak gini.

Kalau hater tak bisa, maka lover HARUS bisa :D.

Gambar : play.google.com
Gambar : play.google.com

Mending kita berdoa indah-indah saja. Kalau pun ada yang di share ya share harapan-harapan kita saja. Yang baik-baik dong tentunya ;). Pujian? Masih terlalu prematur :D.

Ini belum juga sebulan Jokowi jadi presiden sudah banyak bener kutukan negatif yang datang. Sudah banyak yang putus asa duluan. Khusus buat yang muslim, bukankah Allah melarang umatnya untuk berputus asa? :).

Anu, saya juga masih sering godain para hater via komen-komen di wall orang lain hihihi. But then, I realize, stupid me! Apa juga gunanya? :p. Tobat, woi, tobaaatttt :v :v.

Mari kita tunjukkan yuk kualitas lover yang baik dan benar ^_^. Sudahlah. Kalem dulu. Jangan jumpalitan mau share-share ini itu walau saya tahu ada banyak hal yang bikin kita gatal-gatal dan makin kagum sama si Bapak Presiden satu ini hihihi.

Beberapa teman yang saya tahu juga lovernya Pakde juga banyak sih yang lebih ‘bijak’. Instead of membombardir wall-nya dengan berita-berita hot soal kabinet, mereka lebih suka menganalisa hal-hal yang ada dan bahkan membantu memberi solusi. Senang deh bacanya. Mereka juga sudah ada yang mengkritisi tapi ada ilmunya juga. Dibeberkan panjang lebar kenapa-nya. And very-very make sense (for me). Yang membela juga ada tapi ya lagi-lagi dengan ilmu atau pengalaman.

Tunjukkan dong, kalau benci mereka membabi buta tapi cinta kita tidak buta *tsaaaahhh*.

Gambar : quotepixel.com
Gambar : quotepixel.com

Mari kita dukung Pak Jokowi dengan tidak lebay dan berusaha membantu menciptakan suasana kondusif yang kayaknya susah bener ingin dicapai padahal Pilpres sudah lama berlalu -_-. Banyak teman yang lari ke Path karena tidak tahan baca timeline di FB katanya hahahahha.

Kalau katanya “Kebencian itu seperti api. Yang sanggup membakar habis segalanya.”

Maka sebaliknya, “Being loved gives you strength, while loving gives you courage.”

Yuk ah, kita berikan kekuatan maksimal untuk mendoakan Bapak Presiden memimpin negeri kita tercinta ke arah lebih baik. Ternyata, si Pakde masih blusukan beneran itu. Semoga dijaga terus kesehatannya, lahir dan batin :).

Yuk bantu ciptakan situasi kondusif untuk memudahkan beliau dan segenap anggota kabinet melangkah maju tanpa harus banyak drama macam-macam hihihihi. Jangan bubuhi garam di atas luka para hater yang masih menganga. Percaya deh, makin kita lebay, makin emosi jiwa mereka hahahaha.

Satu lagi (buat para hater kalau yang ini :p), kekhawatiran itu belum perlu di blow up. Karena mengkhawatirkan masa depan itu sama SIA-SIA nya dengan menyesali masa lalu. There’s nothing you can do about them. Selain meminta ampun / bertaubat atas kejadian dulu yang tidak bisa dibanggakan dan berdoa untuk kebaikan di masa mendatang.

Bukan karena kita takut karena kita cemen karena kita mengaku kalah. Tapi… atas nama CINTA ^_^. Huhuuuyyyyy :p.

Cinta pada hal-hal baik dan keteladanan yang sudah ditunjukkan oleh beliau. Berharapnya ya tetap kepada Sang Mahasempurna nan Maha Mengabulkan ^_^. Berharap semoga tetap dijaga Pak Presiden ini tetap di jalan yang lurus di tengah ruwetnya permasalahan negeri yang harus dihadapi.

Semua keputusan seolah buah simalakama. Sudahlah ruwet luar biasa … yang siap menghadang, ramai mencaci, sibuk menghujat, tak lelah mengomel, juga tidak kalah banyaknya :p. Mari “ditangkis” dengan baik dan benar :D.

“What barrier is there that love cannot break?” 🙂

Quotation-Mahatma-Gandhi-love-Meetville-Quotes-54326

***

A Tribute to Ibu Susi Pudjiastuti : “Dalamnya Lautan Bisa Diterka, Tapi …”

Tulisannya didedikasikan buat Ibu Susi Pudjiastuti ;). Menteri kelautan yang lagi hits karena prestasi dan gebrakan positifinya :).

Dulu, jarang-jarang saya diajak Ibu berbelanja ke Paotere’. Paotere’ = pasar ikan, bahasa Makassar.

Saya sendiri walau lahir dan besar di Kota Makassar tidak lancar berbahasa Makassar. Jadi, saya bingung kalau ditanya artinya lagu Anging Mammiri itu apa? Hahahahhaaha :p. Kalau lagu Indo’ Logo saya tahu ^_^.

Iya teman-teman, di Sulawesi Selatan ada 4 suku besar yang hidup berdampingan.Plus banyak suku-suku imut-imut lainnya. Agak beda kondisinya dengan wilayah Sumatera Barat misalnya.

Kalau kata suami saya yang asli Minang, di seluruh wilayah Sumbar, apa pun sukunya ya bahasanya pasti bahasa Minang hehehe. Beda dengan kami di SulSel. Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis itu beda banget. Belum lagi Bahasa Toraja atau Bahasa Mandar. Btw, sebagian wilayah Mandar sudah memisahkan diri dan berdiri menjadi satu propinsi khusus, Sulawesi Barat :).

Itu baru intermezzo :p.

Kali ini mau cerita soal ikan yang kalau di Sulsel sering di-okkots-kan menjadi ikang hahahaha. Hanya orang sulawesi yang ngerti arti “okkots” :D.

Jam 5 pagi, ibu sudah bisik-bisik di telinga saya, “Temanika’ dulue, Nak, pi Paotere’.”

Duh, males banget. Tapi bisikan keduanya yang membuat akhirnya saya bangun juga. “Nanti kita makan pisang epek abis itu.” Cih, murahan bener. Diimingin pisang epek langsung angkat tangan! Hahahaha.

Habis salat subuh, pasang jilbab terus ikut ke pantai.

Saya kelas 3 SMA waktu itu. Tinggal di rumah salah satu kerabat yang kebetulan tinggalnya dekat banget dari kawasan Pantai Losari, Kota Makassar.

Di Paotere’ ternyata sudah ramai banget. Padahal langit belum lagi sepenuhnya pulih dari gulita malam. Sudah rusuh orang-orang lalu lalang. Baunya itu lho booooo huhuhu. Demi pisang epek, marilah kita mendampingi ibunda tercinta beli-beli ikang eh…ikan :p *benerinSendalJepit*.

Lantainya jelas becek. Yang kadang bikin lama, lagi nangkring depan dagangan seorang daeng (abang/mas/kang/aa’ dalam bahasa Makassar/Bugis), penjualnya malah enggak ada.

Penjual Ikan di Paotere' Makassar (gambar : beritadaerah.co.id)
Penjual Ikan di Paotere’ Makassar (gambar : beritadaerah.co.id)

“Sebentar Bu, sebentar dulu kasiang.” Begitu ada gelagat ibu mau hengkang ke penjual lain, tahu-tahu ada daeng-daeng berteriak dari kejauhan. Kayaknya ibu kasihan juga. Ditunggui deh tuh si Daeng.

Ngapain sih dia? Lagi ngebakso? hihihi. Enggak lah. Dia, seorang laki-laki yang kalau dari penampilan kayaknya udah tua tapi kan orang-orang yang ‘garis hidup’nya keras memang gitu ya. Dikira udah 50 tapi ternyata masih 40. Dia, seorang diri susah payah menyeret sebuah keranjang besar yang isinya penuh dengan ikan.

Tak jauh dari tempat berjualan memang ada lokasi pelabuhan kecil. Disitulah mungkin para nelayan berlabuh setelah semalaman sibuk memancing. Karena banyak perahu-perahu kecil bersandar di sana.

Asumsi saya, si daeng ini adalah nelayan yang memasarkan sendiri ikan-ikannya. Dia yang memancing, dia yang mengangkat ikan-ikannya sendiri menuju lokasi pasar, sambil melayani pembeli yang mulai ramai jam segitu. Jadi dicicil-cicil. Mungkin tadi pembeli sepi, dia buru-buru ke arah perahu mengangkut hasil tangkapannya.

Nah, model penjual kayak gini banyak. Sambil jualan sambil bolak balik sendiri mengangkut dagangannya.si

Pahit getir kehidupan nelayan di pedalaman (gambar : mitranews.com)
Pahit getir kehidupan nelayan di pedalaman (gambar : mitranews.com)

Di Paotere’, apalagi kalau beli langsung dari bapak nelayannya, murah bingiitsss. Segar-segar pula. Tapi satu hal terpuji yang selalu saya perhatikan dari ibu saya. Kalau membeli dari pedagang-pedagang kecil macam si daeng tadi, ibu nyaris tidak pernah menawar. Soalnya istri mantan pedagang eceran juga kali ya :D. Jadi paham banget kalau pedagang-pedagang kecil ini ngambil untungnya paling seberapa. Yang dikejar adalah sebanyak-banyaknya yang bisa laku.

Padahal Ibu saya ini… kalau nawar kain di kios-kios besar Tanah Abang, beuh! Galak, Euy! Hahahahahahha :p.

Hasil tangkapannya banyak lho. Saya sampai bingung, itu ikan segitu banyak apa habis dibeli? Soalnya nelayannya banyaaaaakkk. Pembeli juga banyak sih. Tapi kebanyakan mungkin yang model-model kayak ibu saya. Seorang janda tanpa penghasilan yang paling kuat belinya cuma sekantong plastik saja hihihi.

Ibu saya, walau belinya tidak banyak, udah kayak Jokowi aja gayanya. Blusukan ke sana sini hahahhahaha. Kalau menemani ibu belanja mah, betis mendadak atletis.

Sementara anak gadisnya ini sudah gelisah walau akhirnya daripada bosan, ya saya lihat-lihat saja suasana sekeliling. Sambil observasi enggak jelas. Ternyata, 17 tahun kemudian, tidak menyangka kalau akan datang juga kesempatan untuk mendayagunakan kisah ke Paotere’ itu di tulisan ini ^_^.

Berkali-kali ibu bergumam sambil mengangguk-angguk, “Dekke sempo, dekke kanja’ balena. Dekke loppo urang na. Iyoro cumi’na, dekke kanja’ dekke kanja’, sempona kesi’ … ” (Murah sekali, bagus sekali. Besar sekali udangnya. Itu cuminya, bagus sekali, bagus sekali, murah pula harganya).

Selepas SMA, saya pindah ke Depok. Nasib baik membawa salah satu embak bugis yang kece dan “produksi” asli Pantai Losari ini merantau ke Pulau Jawa *benerinJaketKuning* :p.

Terasa banget oleh saya bahwa harga-harga ikan dan produk-produk laut di tempat tinggal baru ini relatif lebih mahal. Sementara saya datang dari daerah yang kaya hasil laut.

Jenis-jenis ikan yang menjadi makanan sehari-hari di Makassar dulu, padahal saya pun bukan dari keluarga berada, ternyata di Jakarta harganya dahsyat.

Ikan Bolu Bakar, nyam-nyam-nyam (gambar : food.losari.org)
Ikan Bolu Bakar, nyam-nyam-nyam (gambar : food.losari.org)

Otomatis saja saat itu saya berpikir, “Ya kenapa enggak ambil saja ikan-ikan dari Sulawesi untuk di Jawa. Mungkin harganya tidak akan semahal itu. Wong ikan dan hasil laut di Makassar saja berlimpah ruah luar biasa.”

Lucu saja rasanya, di sana ikan melimpah harga murah. Di Jakarta ikan laut segar tidak sebanyak di Makassar wajar harganya mahal. Kan kalau bisa distribusi merata, hidup para nelayan enggak akan melarat amat-amat. Sampai-sampai harus menyeret keranjang ikan sendiri di area pasar pelabuhan setelah semalaman lelah bertarung di tengah laut.

Taraf hidup nelayan tak begitu bagus ditambah lagi, konsumennya di Paotere’ ya ibu-ibu rumah tangga serba nge-pas kayak ibu saya :p. Produksi berlimpah, tapi konsumen megap-megap. Tidak ada gunanya juga.

Coba ini ibu-ibu ekonomi menengah di Jakarta dikirim ke Paotere’, bisa kalap kali ya hahahahaha.

Disitulah asal mulanya menjadi cinta mati sama tahu-tempe hahaha. Di Makassar juga sering makan tahu-tempe tapi masih lebih cinta ikan dkk :D. Daging dari hewan berkaki empat dari dulu saya enggak terbiasa. Makanya suka diledekin suami karena saya enggak terbiasa makan steak dan teman-temannnya hahahaha.

Biarin! :p. Tak akan lupa kacang pada kulitnya dong. Ikang mana ikang :v :v.

Jawabannya ternyata ketemunya pas mendapatkan kesempatan bekerja di sebuah perusahaan consumer goods besar di tanah air. Kebetulan juga nyangkut di divisi Supply Chain-Distribusi. Kerjaan saya dulu ya kelayapan di gudang atau meeting dengan customer-customer. Gayanya doang mah hahahaha.

Saya seringnya malah sibuk merhatiin perwakilan Key Account Manager berdebat dengan tim CSOG di mobil dalam perjalanan menuju kantor customer. Nanti di customer berdebat lagi dengan orang salesnya Customer. Hihihihi. Siapa bilang jadi “sales” itu gampang ^_^.

Ketahuan deh kerja di mana hehehehe (gambar : industri.kontan.co.id)
Ketahuan deh kerja di mana hehehehe (gambar : industri.kontan.co.id)

Saya juga pernah bolak balik ke Surabaya. Ke Rungkut atau ke Waru.

Kalau di Gudang atau di Pabrik terus terang saya takut hahahahaha. Gudangnya gede banget gilak! :p. Tapi kalau mood lagi bagus dan posisinya ada di pintu gerbang gudang, saya senang juga ngobrol-ngobrol dengan orang gudangnya. Kepo-kepo sana sini.

Saya pernah terlibat penuh dalam pembuatan sistem “Transportation Cost”. Bekerja sama dengan tim Finance di Supply Chain-Customer Service.

Ternyata baru paham segala keruwetan di dunia nyata. Sumpah, enakan ngoding di komputer ini mah hahahahaha. Saya memang kaget melihat harga jual barang yang bisa melonjak luar biasa di beberapa wilayah tertentu. Pabrik barang jadi memang masih terpusat di Jakarta dan sekitarnya. Pabrik pengolahan juga mayoritas masih di tanah Jawa.

Saya suka marah-marah kenapa ada order yang manual yang sangat rentan dengan kesalahan karena ya di lapangan memang kondisinya begitu. Jadi malu suka nyinyirin mbak-mbak operator di gudang atau di MBAU :p. Sungkem dulu, sungkem lagi :v :v.

Betapa ruwetnya proses distribusi barang di Indonesia. Itulah mengapa, khusus di perusahaan saya ini di cabang Indonesia, Distribusi ini sempat dijadikan ‘agak terpisah’ dengan proses Supply Chain. Malah Distribusi dulu jadi satu dengan Sales. Tapi kalau gak salah terakhir Distribusi sudah kembali ke kodrat sejatinya, yaitu bagian dari Supply Chain :D.

Distribusi sangat khas dan menantang di Indonesia karena wilayah kepulauan di dunia memang ada berapa? ;).

Memang rumit. Apalagi untuk pengiriman barang yang sifatnya “makanan”. Berpacu dengan waktu/expired data dan harus menghadapi infrastruktur yang pas-pasan. Belum lagi kalau sudah ke wilayah Timur Indonesia. Sebagai orang asli Sulawesi, sakit hati juga saya melihat bedanya harga barang di wilayah Timur. Tapi setelah meraba-raba kondisi di lapangan, baru saya paham. Masalah distribusi di kepulauan Nusantara memang sangat challenging.

Belum lagi masalah keamanan. Jalan darat untuk pengiriman barang dari Jawa ke Sumatera sering ditempuh untuk menekan biaya transportasi jika harus menempuh jalan udara. Jalan daratnya ngeri juga, Bo. Banyak perampok huhuhu. Saya salut luar biasalah dengan teman-teman sesama trainee yang diterjunkan di daerah-daerah pedalaman. Sementara saya banyakan duduk-duduk cantik di kantor pusat hihihi :p.

Konon, perusahaan saya sempat harus melepas sebuah produk makanan ringan salah satu alasannya karena tidak kuasa lagi menyeimbangkan antara ongkos produksi dan ongkos distribusi yang akan berimbas ke harga jual. Seperti kasus ikan tadi. Tapi ini terbalik. Produsennya ada di Jawa tapi konsumennya malah ramai di luar Jawa.

Itulah mungkin jawabannya mengapa ikan yang berlimpah di wilayah-wilayah pedalaman sulit berjodoh dengan konsumennya di kota-kota besar. Masalah transportasi dan distribusi.

Gambar : nec.com
Gambar : nec.com

Sebagian besar kita mungkin hanya bisa seperti saya. Mentok di sebatas tahu saja tanpa tahu harus bagaimana :(. Sebatas bisa prihatin saja *tutupMuka*.

Maka, bayangkan tertamparnya saya (saya lho ya, kalian ya belum tentu hehehehe), membaca riwayat hidup si Ibu Susi Pudjiastuti yang penuh kontroversi itu. Terpikir lho dia untuk menerbangkan produksi ikan berlimpah itu dengan pesawat! Kapal terbang dan nelayan, 2 hal yang mungkin sangat tidak terbayangkan.

Ibu Susi Pudjiastuti paham betul kalau mengandalkan maskapai besar nan komersil itu ya jelas bubar lah. Dia pun menawarkan solusi maskapai penerbangan perintis.

Ide yang sangat brilian. Lebih brilian lagi karena beliau tidak mentok di ide. She’s a DO-ER! (DOER bukan dower ya Kaaaaa hahahhahaha :p). Dia benar-benar mengawal idenya sampai ke tahap aplikasi. Sesuatu yang sangat langka di dunia ini. Sudah pakemnya kan manusia itu, omongnya gede, semangat berkorbannya tipis *tertundukMalu*.

Tidak berhenti di masalah pemasaran ikan, Ibu Susi Pudjiastuti terus mengembangkan maskapai penerbangan perintisnya untuk “menolong” daerah-daerah pedalaman yang nyaris tak terjangkau teknologi nun jauh di wilayah tertimur Indonesia sana. Sudah nonton “The Worst Places to be a Pilot” belum?

Sebenarnya jujur saja, apakah tidak ada ahli yang mampu mengurai masalah ini? Pastilah ada. Bahkan banyak. Tapi mungkin berteori itu jauh lebih mudah daripada terjun langsung ke lapangan. Tidak hanya terjun, tapi datang membawa solusi dan mengawal solusi tersebut hingga menjadi kenyataan. Seberapa banyak sih dari kita yang sanggup kayak gitu? *sodorinKaca*.

Yang dibantunya orang-orang kecil pula. Para nelayan dan mereka yang hidup di tempat-tempat terpencil. Berapa memangnya keuntungan yang didapatkan oleh maskapai perintis yang berbisnis di pedalaman???? Jelas lebih untung berbisnis di maskapai penerbangan massal sekalian :D.

Tidak banyak orang-orang berhati emas seperti Ibu Susi Pudjiastuti :). Kalau yang “bacotnya emas” mungkin gampang nemunya hahahahaha.

Memang masuk akal juga jika ada pakar kelautan yang mencemooh ide Jokowi mengangkat Ibu Susi Pudjiastuti jadi menteri. Kelautan dan maritim itu bukan hanya masalah ikan, ikan dan nelayan. Banyak sekali aspeknya. Bu Susi itu apa sanggup?

Tapi balik lagi, yang milih dia kan Jokowi. Sementara Jokowi sudah kenyang kali dimaki-maki, “Solo itu cuma kampung kecil. Bisa apa lo di Jakarta?” –> “Jakarta itu cuma satu kota. Bisa apa lo ngurus seluruh Indonesia? Punya modal apa? Modal blusukan doang?”

Jokowi milihnya pasti yang setipe lah biar cocok jadi rekan kerja kali hehehe.

Nah, jangan lebay juga ngebelainnya. Biarkan saja. Biarkan Jokowi, Bu Susi, dan seluruh tim kabinet membuktikan kepiawaian mereka. Kita lihat saja apakah para pekerja keras yang katanya minim pengetahuan teoritis dan hanya punya pengalaman lapangan di area lebih kecil bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik?

Sembari menunggu, kalau tak sanggup berkontribusi langsung nan positif, kita doakan saja yang baik-baik yuk ^_^. Walau kontribusi positif ini sangat debatable. Kan mengkritisi negatif-negatif juga tujuannya bisa positif yaaaaa *uhuk Uhuk*.

Semoga Ibu Susi Pudjiastuti bisa dimampukan untuk berhenti merokok. Biar kesehatannya terus terjaga. Karena Indonesia sangat butuh para pemberani seperti beliau ini ^_^.

Susi Pudjiastuti
Ibu Susi Pudjiastuti

Semoga Koh Ahok juga bisa dikurangi marah-marahnya karena takut kena darah tinggi. Kita maunya Koh Ahok sehat terus ^_^. Untuk membasmi yang bandel-bandel itu karena kayaknya dinasehatin udah enggak pada mempan hehehe.

“Orang-orang baik itu banyak. Tapi yang berani itu sedikit.” -Ahok-

Orang baik dan para pemberani ini harus kita doakan supaya umurnya panjang toh ya ;).

Kalau ada yang bawa-bawa agama ya terserah saja. Untuk saya, agama saya selalu menganjurkan untuk beriman dan berbuat baik. Sementara saya tahu, keimanan itu letaknya dalam hati. Saya robek-robek dadanya juga belum tentu saya tahu sedalam apa imannya. Tapi perbuatan baiknya secara muamalah tentu sangat mudah untuk diukur secara kasat mata manusia biasa.

Kecuali situ malaikat lho, ya. Saya mengaku saja. Saya ini manusia biasa walau kadang suka khilaf dan mengaku sebagai bidadari #eaaaaaa :v :v.

Anda boleh beda pendapatnya ;).

Selamat berjuang Bu Susi Pudjiastuti, jelajahilah samudera nusantara dan selamatkan lautan Indonesia dan simpan rapat-rapat niat baik dalam hatimu untuk Yang Maha Mengetahui saja.

Dalamnya lautan bisa diterka, dalamnya hati siapa yang tahu ;).

Bu Susi Pudjiastuti

Little Things That Count

Pertengahan 1980, George Kelling dipekerjakan oleh New York Transit Authority dalam rangka pengawasan proyek pembangunan kembali sistem kereta bawah tanah yang menguras dana sampai jutaan millar dollar. Dipilihlah seorang direktur baru, David Gunn, untuk membantu tugas ini.

Banyak pejabat di direktorat terkait yang menyarankan Gunn agar tidak usah mengurusi masalah corat-coret di badan gerbong oleh anak-anak muda iseng. Mereka lebih menginginkan Gunn untuk fokus pada kejahatan-kejahatan yang lebih serius dan keandalan sistem. Masuk akal sih, ya.

Gambar : artnewsandviews.com
New York Graffiti Gambar : artnewsandviews.com

Ingat, New York pada saat itu sudah hampir lumpuh akibat tingginya kejahatan di kawasan tersebut. Segala macam kejahatan mulai dari perkosaan, perampokan, pencurian, pemerasan, pengedaran narkoba dsb. Komplit, plit, plit hihihi. Dari tahun ke tahun makin tidak terkendalikan.

Wajar saja jika hampir seluruh pejabat tadi meremehkan keinginan Gunn yang ingin serius membuat gebrakan awal dengan memberantas masalah corat-coret ini. Kalau dipikir-pikir, apa sih artinya corat-coret kereta dengan kasus pemerkosaan dan perampokan serta pembunuhan misalnya???

Gunn berkeras. Katanya, “Corat coret atau grafiti adalah simbol keambrukan sistem ini! Kita ingin menambahkan kereta-kereta baru yang per buahnya bisa sepuluh juta dolar. JIka tak mampu kita lindungi, kereta-kereta ini hanya akan berumur sehari dan setelahnya hanya akan ada … vandalisme.”

Dibuatlah sebuah sistem dengan anggaran dana yang disediakan. Semua diperhitungkan secara rinci dan cermat. Enggak hanya sekadar maju mundur cantik, maju mundur cantik pastinya ‪#‎eaaaaa‬ hahahahhahha 😀.

David Gunn, gambar : observer.com
David Gunn, gambar : observer.com

Gunn meminta timnya bereksperimen dengan teknik-teknik baru untuk membersihkan corat-coret. Gerbong yang sudah dicoret harus dipisahkan dari gerbong yang bersih. Di tiap terminal, sudah ada tim khusus yang disiapkan untuk menghapus grafiti-grafiti baru yang ada.

Jika gerbong gagal dibersihkan, gerbong tidak boleh diberangkatkan. Disiplin banget deh ngurusin masalah corat coret doang.

Ada beberapa fasilitas untuk menginapkan rangkaian kereta tertentu. Di mana saat malam hari, para berandalan akan menyelinap masuk dan seperti biasa, membuat gratifiti di badan gerbong.

Oleh Gunn, mereka dibiarkan. Tapi begitu grafitinya selesai, Gunn mengerahkan anak buahnya untuk langsung membersihkannya saat itu juga. Anak-anak ini butuh 3 hari untuk menyelesaikannya. Tapi Gunn mematahkan semangat mereka karena dia memastikan grafiti yang susah payah dibuat itu tak akan bisa terlihat oleh publik.

Gunn meminta anak buahnya untuk pantang menyerah. Dicoret lagi,, dibersihkan lagi, dicoret lagi, dibersihkan lagi, dicoret lagi, dibersihkan lagi.

Bersamaan pula dengan pembersihan grafiti oleh Gunn, NY Transit Authority melantik William Bratton menjadi komandan polisi kereta api baru. Seperti David Gunn, gebrakan yang dilakukan Bratton sama “aneh”nya.

Bratton juga memilih untuk fokus luar biasa pada penumpang-penumpang nakal yang naik kereta tanpa karcis. Kala itu, saking ‘rusaknya’ penegakan hukum di New York, naik kereta tanpa karcis itu sudah menjadi hal yang lumrah. Ada yang meloncati pagar pembatas dan lari masuk ke kereta. Ada yang mendobrakk pintu dan merusak mesin pembayar tiket. Orang ya mana peduli. Jangankan enggak punya karcis, bunuh-bunuhan di kereta aja juga saat itu terlihat lumrah, kok.

Bratton menganalisa dan berhari-hari bekerja penuh hampir 24 jam untuk memilih stasiun mana yang akan dipilihnya untuk proses pertama. Akhirnya dipilih stasiun dengan pelanggaran terbanyak.

Penjaga ditambah dan diperketat di setiap palang pintu pembelian karcis. Yang tidak punya karcis langsung disergap dan dikumpulkan. Proses administrasi yang biasanya memakan waktu seharian karena harus dibawa ke kantor polisi, isi berkas bla bla dipangkas oleh Bratton.

Bratton menyulap sebuah bus khusus menjadi sebuah kantor polisi yang dinamis, lengkap dengan mesin faks, telepon, ruang tahanan dan fasilitas sidik jari. Urusan penanganan seronga tangkapan berubah menjadi beberapa jam saja.

NYC Subway 1991 gambar : centennial.journalism.columbia.edu
NYC Subway 1991 gambar : centennial.journalism.columbia.edu

Semua yang tertangkap diperiksa dengan teliti. Banyak kalangan kepolisian yang mencemooh kerjaan Bratton. Diantara sekian banyak kejahatan berat, kok ya mau-maunya ngurusin yang remeh-remeh begitu?

Ternyata … ditemukan banyak fakta-fakta mengejutkan. Dari penggeledahan terhadap para pelanggar yang naik kereta tanpa karcis, ada saja yang kedapatan membawa senjata tajam tanpa izin, pisau, uang palsu dan bahkan harta hasil rampokan yang tak bisa mereka pertanggungjawabkan.

Voila! Tiba-tiba bagi kepolisian, penangkapan ini seperti tambang emas. Banyak kriminal-kriminal yang sedang diburu yang tidak sengaja terjaring melalui penyergapan yang dilakukan oleh Bratton tadi.

Bratton juga menerapkan dengan ketat aturan pengusiran orang mabuk dari stasiun bawah tanah. Perilaku yang mengganggu orang lain yang sifatnya remeh-remeh macam kedapatan membuang sampah sembarangan di areal stasiun juga ditindak secara masif, terstruktur dan sistematis :p.

Setelah Rudolph Giuliani terpilih sebagai wallikota New York 1994, Bratton diangkat menjadi Kepala Kepolisian New York City dan mulailah ia menerapkan hal yang sama di jajaran kepolisian kota.

Caranya ya gitu. Menindak dengan tegas kejahatan-kejahatan kecil seperti membuang sampah sembarangan (kali ini di seantero kota dihukum), buang air kecil sembarangan, melempar botol, mabuk di tempat umum (catat ya, di negara maju yang lo bilang sekuler itu, orang kagak boleh mabuk sembarangan cuy :p), dsb.

William Bratton di sampul Majalah Time ^_^
William Bratton di sampul Majalah Time ^_^

Nah, kita balik lagi ke kalimat pertama, ya. Siapa George Kelling tadi?

Again and again. Ini adalah sedikit ringkasan dari Buku Tipping Point hihihi. Duh, ni buku kagak habis-habis dibahas euy. Habisnya memang isinya menggemparkan .

George Kelling adalah salah satu penganut teori “Broken Windows”. Beliau adalah seorang kriminolog yang mengemukakan bahwa kriminalitas adalah akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat dan melihatnya cenderung akan berpikir pastilah di situ tidak ada yang peduli atau rumahnya tak berpenghuni.

Dalam waktu singkat, akan makin banyak jendela rumah yang pecah dan terus berkembang menjadi kejahatan lebih serius karena .. ketidakpedulian.

Awal yang remeh seperti corat coret dan naik kereta tanpa karcis, jika tidak ditindak tegas, hanya akan menjadi semacam ajakan bagi orang banyak untuk melakukan kejahatan yang lebih serius.

Inilah jawaban dari MISTERIUSnya kasus kejahatan di New York yang mencapai Tipping Point di tahun 1995. Secara mencengangkan, angka kejahatan dari tahun 70 an yang terus menukik naik, tiba-tiba menurun tajam. Dalam tempo 5 tahun saja, kasus pembunuhan berkurang sebanyak lebih dari 60%. Dan kejahatan-kejahatan serius lainnya terpangkas sampai kurang dari setengahnya. Fantastis!

Penerapan Teori “Broken Windows” ini yang akhirnya diakui sebagai pemicu utama “keajaiban” yang terjadi di kota New York yang menjelma menjadi kota ciamik setelah puluhan tahun bergulat dalam kemerosotan moral di seantero wilayahnya.

Gambar : newluxuryfeed.com
Gambar : newluxuryfeed.com

Saya kembali membaca lembar-lembar yang menceritakan tentang hal ini karena saya ingin membagikan harapan baru kepada teman-teman semua. Bahwa New York City yang keren itu dulunya tak lebih daripada sebuah kampung besar para penjahat dari segala kalangan.

Siapa tahu, ya siapa tahu… Jakarta bisa menjadi New York City hihihi. Dan lebih optimis lagi, Indonesia bisa berada di jalur yang sama ^_^.

Pemerintahan baru telah resmi dimulai. Kabinet sudah terbentuk. Diantara banyak pro dan kontra, mari terus kita awasi :).

Satu hal kecil telah membuat harapan tadi mulai bersemi dalam hati. Hati saya sih, ya, maksudnya .

Saat melihat sebuah foto di mana ada puluhan orang berkumpul dalam ruangan dalam istana. Orang-orang ini membelakangi kamera. Tapi semuanya seragam dengan memakai baju putih dan celana hitam. Saya sempat ngikik dalam hati, “Ya ampun, Jokowi sudah mulai kloningan neh!” Hahhahahaha.

Ternyata benar! Orang-orang yang berpakaian (cuma) sehelai kemeja putih dan celana hitam tadi adalah anggota-anggota kabinet yang akan segera diumumkan.

Kabinet Kerja 2014 - 2019 (gambar : beritasatu.com)
Kabinet Kerja 2014 – 2019 (gambar : beritasatu.com)

Jas-jas dan penampilan khas pejabat yang menurut saya kurang membumi itu ternyata sudah memperlihatkan sedikit cahaya perubahan. Kecil sih memang kalau dilihat dari banyaknya permasalahan. Teramat kecil dan mungkin dianggap tidak penting.

Btw, menurut saya beberapa tahun terakhir KPK sudah mulai menerapkan “Broken Windows” ini. Walau banyak suara-suara miring, “Dasar pengecut! Beraninya sama ikan teri! Tangkap kakapnya!”

Buktinya, dari penangkapan Nazaruddin tempo hari, sebuah persekongkolan besar di Hambalang ikut terbongkar . Mari kita semangati KPK untuk terus istiqamah dan mendapat dukungan penuh dari pemerintahan baru beserta seluruh jajaran kejaksaan-pengadilan dan kepolisian.

Muluk-muluk banget ih, hihihi. Tapi konon, harapan adalah satu-satunya hal yang membuat hidup terasa hidup .

“Never deprive someone of hope; it might be all they have.” H. Jackson Brown, Jr.

Let’s not kill THIS HOPE.

Setidaknya, sahih ya kalau saya bilang, “Sebuah perubahan telah terjadi.”

Walau di daratan Eropa musim gugur lagi ngamuk-ngamuk-nya, semoga perubahan kecil tadi adalah awal dari dimulainya “musim semi” di kawasan tanah air kita tercinta .

Selamat bekerja, Kabinet Kerja 2014 – 2019 . Doa terbaik kami (eh, minimal saya deh hehehehe) insya Allah akan terus mengiringi. For every little things that count .

Semoga suatu hari kita bisa kembali khusyuk menyanyikan bait-bait lagu ini,

“Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa” 🙂.

Stand still, Pakde. Stand still.

cropped-tagline1.jpg

***