People We Haven’t Met Yet (5)

Baca : People We Haven’t Met Yet (4) 

Masa-masa naik kopaja jurusan Depok-Blok M yang ramainya naudzubillah itu tak sampai setahun. Naiknya boleh berdesakan dengan penumpang lain, tapi angkutan umum minim kenyamanan tersebut setia mengantar saya menuju rumah para murid yang rata-rata tinggal di pemukiman mentereng.

Mulai dari Kemang, apartemen daerah Dharmawangsa, hingga kompleks perumahan ekspat yang tertutup tapi super mewah di daerah TB Simatupang.

Biarpun harus menunggu wisuda di bulan Agustus, biarpun gagal meraih ambisi menuntaskan masa perkuliahan 7 semester saja, akhir maret saya resmi menjadi alumni :). Damn, selisih sebulan! huhuhu -_-.

Saya ikhlaskan membayar uang kuliah di semester 8 dimana saya sudah tak aktif kuliah sama sekali. Bahkan sudah memasuki dunia kerja. Selamat tinggal kampus, sampai jumpa di wisuda Agustus!

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Dunia kerja membuka mata lebih lebar. Memang tak ada keinginan untuk hengkang kembali ke tanah kelahiran :D. Stres juga mendengar minimnya lapangan pekerjaan untuk IT di daerah :(. Sebagian besar teman saya malah berlomba bekerja jadi pegawai Bank di sana. Duh.

Baca : Di Timur Matahari Mulai Bercahya

Saya ingat, pertama kali kerja di daerah Cikini. Kantornya pas di depan stasiun kereta api Cikini. Dan tidak habis pikir juga ternyata dulu saya sempat menjadi ANKER sejati selama nyaris 4 tahun. Bukan kereta ekspres yang full AC itu, tapi KRL Ekonomi yang murah meriah, yang (katanya) kayak kepiting rebus kalau udah di dalam hihihi.

Stasiun Cikini, gambar : tribunnews.com

Stasiun Cikini, gambar : tribunnews.com

Bergaul bersama rekan kantor, rekan satu divisi, user, dll, selama 5 hari seminggu, 8 jam sehari, tentu membuat wawasan lebih terbuka. Jangan kira, pekerja IT macam kami, sepanjang hari melotot depan layar monitor saja. Hehehe.

Saya jadi menemukan bukti bahwa bukan isapan jempol jika ada asumsi bahwa etnis Tionghoa memiliki etos kerja yang luar biasa. Tentu ada juga yang tidak. Tapi memang, hampir semua yang saya kenal baik memiliki karakter kerja seperti itu :).

Bukannya mereka tak suka bercanda. Duh, waktu masih berkutat dengan para Bapak-bapak di lantai 8 (ruangannya bernama 8C), bisa sampai mules-mules dan pengin pipis kalau bercanda dengan mereka semua. Oiya, asal tahu dari 8 karyawan divisi IT di ruangan ini, hanya satu yang berjenis kelamin perempuan, hehehe.

Tak ada canggung. Mengingat saya dibesarkan di keluarga mayoritas pria, dan kuliah pun di kampus yang (mungkin saat itu) 80% adalah pria.

Tapi begitu ada deadline, semua serius hingga sudi bekerja sampai larut malam dengan hasil kerja yang rata-rata memuaskan :). Play hard, work harder ;).

Mereka bukannya pelit, tapi sangat-sangat menghargai uang. Jangan kira kalau mereka berada bisa sembrono buang-buang duit. Bahkan saya sangat terkesan dengan sebagian besar mereka yang menyantap makan siang hingga butir nasi terakhir. Hingga piring mengkilat saking bersihnya.

Bahkan jika ada yang mengeluh, “Duh, salah pesan. Ini gak enak.” Mereka tetap menghabiskan dengan tekun hingga suapan terakhir.

Saya terkesan dengan kisah seorang rekan yang bercerita mengenai masa kecilnya yang tinggal di lingkungan kampung kecil. Dimana etnis tionghoa entah mengapa menghadirkan rasa enggan sedemikian tinggi dari warga sana. Keluarganya tidak terlalu berada. Setelah berjuang dengan menjadi pedangan keliling, karena konon orang-orang kampung tak suka mereka membuka toko, akhirnya keluarganya memilih hengkang ke kota besar terdekat.

Saya jadi tersadar. Saya termasuk orang yang (dulu) berpikir, “Ah, semua orang cina kan pasti kaya.”

Dia tapi memilih bungkam ketika saya bertanya apakah dia dan keluarganya ada di Jakarta saat kerusuhan 1998? Padahal saya merasa saya sudah bertanya dengan sangat hati-hati :(.

Baca : Cerbung Temanku Cina

***

Tapi, bukan berarti jika mereka orang berada mereka akan sok dan royal. Salah besar, tuh. Hehehehe. Saya pun pernah kerja di lingkungan yang didominasi etnis tionghoa tapi yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

Tidak tanggung-tanggung tajirnya kadang-kadang. Lulusan universitas yang cukup ternama dari luar negeri. Berpenampilan necis dengan mengendarai mobil pribadi tiap hari ke kantor. Nge-kos di daerah segitiga emas yang terkenal tidak murah.

Tapi, urusan uang, mereka pun sama disipilinnya. Ingat lho, bukan kikir. Tapi disiplin :D. Jangan kira tiap hari mereka akan mengajak makan di tempat-tempat enak-enak dan harus merogoh kantong hingga bolong (kantong saya maksudhya ahahahaha).

Budaya saya di geng mata sipit ini ketika bekerja di salah satu perusahaan yang berkantor di gedung BEJ, adalah makan siang ramai-ramai ke Semanggi-Expo. Murah meriah hehehe.

Hal konyol yang rutin kami lakukan adalah berlomba-lomba memesan menu dengan harga termurah! Bahkan ada yang rela tidak memesan minum dengan alasan, “minumnya nanti di kantor saja.” Ahahahahahahaha. Makin murah makin keren :P.

Oiya, hutang seribu perak pun pasti akan ditagih oleh mereka. Hehehe. Itu hak mereka. Bukan kikir sekali lagi. Ini menunjukkan betapa mereka menghargai uang, seberapa pun besarnya :).

***

Berjalannya waktu dan seringnya berpindah tempat kerja juga mengikis stereotip yang sudah terlanjur nempel di kepala terlalu lama. Seperti contoh di atas, tidak semua etnis Tionghoa tergolong orang berada.

Juga, orang Jawa pun jangan lantas dicap ‘jago basa basi’ semua. Ada juga, lho, yang dengan tulus hati rajin nawarin ini itu but they mean it. Contohnya yang kemarin protes di komen yang edisi no.3 ya kalau gak salah :P.

Orang Jawa pun, banyak yang ‘outspoken’ ;).

Orang Batak kasar-kasar dan pemberani? Saya pernah kenalan dengan mbak-mbak yang ngomongnya pelaaaann banget. Gak grasak grusuk pula. Malah cenderung penakut. Kasihan juga melihatnya, saat itu kami sering bertemu di halte stasiun kereta. Biarpun dia mengaku sudah bertahun-tahun naik kereta, dia suka pucat dan pasrah jika kereta terlihat sangat penuh.

Padahal saya sudah coba bantu dengan ikut memegang tangannya. Ya, karena didorong banyak orang, dan dia pun nampak ogah-ogahan jadinya gak keangkut. Sepertinya tak lama dia memilih mengganti jadwal makanya kami cuma sebentar saja akrabnya. Namanya Mbak X Sitompul. KUrang batak apa coba? Ahahahahahaha.

Orang Minang pelit? Memang! ehehehehe. Enggak semuanya tapi :P. Sahabat kuliah saya, yang entah sudah berapa kali saya sematkan namanya di berbagai tulisan adalah asli Minang 100% biarpun lahir dan besar di ibukota.

Orangnya royal sekali biarpun tidak berasal dari keluarga yang tajir mampus. Tak terhitung berapa kali dia mentraktir saya dan teman-teman lain. Kalau titip fotokopian ke dia, dia malah malas menagih dan menghitung. Suka-suka saja mau bayar berapa katanya.

Baca : V.V.I.P 

Hayooo…sebutin orang mana lagi? hihihihihi.

Baca : People We Haven’t Met Yet (6)

****