Lihatlah Warna pada Cahaya

Waktu kuliah dulu saya belum kepikiran lagi soal menulis. Pokoknya fokus gimana biar cepat lulus, dapat kerja dan cari suami! Hahahaha 😀.

Tapi, dari dulu saya sudah ngefans dengan tulisan-tulisan salah satu teman kuliah dulu, si Miftahul Huda ini 😀. Cerpen iseng-isengnya atau opini-opini ringannya memang suka bikin jantung kelojotan hehehe. Dasar penulis berbakat, yang iseng-iseng dan ringan-ringan itu selalu sarat pesan-pesan yang bagus .

Saya selalu setuju jika sejarah harus dicermati dari berbagai sisi. Seperti saya meyakini, read as much as you can, but remember, you don’t have to believe them all.

Kalau menurut saya pribadi, orang mudah terjebak dalam ekstrimisme karena dalam mempelajari suatu peristiwa selalu cari yang gampangnya. Fokus pada “what”, “where”, “when” atau “who” yang memang relatif lebih mudah dihafalkan tanpa perlu mengobok-obok nalar terlampau dalam.

Sisi “how” atau “why” yang seharusnya menjadi potensi terbesar kita dalam memahami sejarah sering didangkalkan bahkan ditinggalkan . Apa pula gunanya kemampuan berpikir dianugerahkan kepada kita kalau disia-siakan? .

Nah, tulisan Huda kali ini lebih menonjolkan sisi “how” atau “why” dari beberapa kejadian masa lalu yang kesemuanya bersinggungan dengan agama-agama samawi. Isinya akan sangat ‘sensitif’ .

Khusus untuk Sunan Kalijaga vs Syekh Siti Jenar, saya pribadi belum pernah membaca literatur yang sama dengan yang diceritakan Huda ini hehehe.

Tapi sisanya, sejalan dengan yang sudah pernah saya tahu atau baca 🙂.

Saya share di sini untuk menambah wawasan saja .

Saya kutipkan akhir artikelnya dikit :

“Sejarah Sunan Kalijaga vs Syekh Siti Jenar, Yesus, Muhammad and friends, dll, merupakan kisah-kisah kehidupan manusia-manusia luar biasa yang memiliki cita-cita, ide-ide, ambisi, perjuangan, dan merekapun mengalami jatuh cinta, patah hati, kehilangan, kekecewaan, seperti manusia pada umumnya. Memandang orang-orang ini dan sejarah dari kacamata “humanisme” alias “kemanusiaan” akan membuat kita belajar jauh lebih banyak dari sekedar berusaha memetakan “benar” vs “salah”.

Pembelajaran menghasilkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan menjadi fondasi cinta. Dan cinta adalah energi kehidupan.

Dan kita memulainya dari kesadaran akan begitu berwarnanya sejarah.”

Selamat membaca dan ruang diskusi tentu dibuka lebar-lebar 🙂.

 

Gambar : id.zulkarnainaziz.com

Gambar : id.zulkarnainaziz.com

 

================
The color of history
================

Oleh : Miftahul Huda

Saya baru menonton film dokumenter the Story of Jesus dan mencoba mengerti posisi beberapa pihak, termasuk kelompok para rabi, orang-orang Farisi dan bahkan Judas.

Jika kita memandang sejarah dalam konteks hitam-putih, benar-salah, kita akan kehilangan banyak pelajaran, dan lupa akan keindahan hidup yang berwarna. Kehidupan manusia begitu berwarna, jadi memang agak-agak sulit untuk dinilai dengan pandangan yang terlalu sederhana.

Misal sejarah Syekh Siti Jennar vs Sunan Kalijaga. Pendukung Sunan Kalijaga menganggap Syekh Siti Jenar sesat, pendukung Jenar menganggap Kalijaga jahat. Padahal tidak seperti itu. Sunan Kalijaga mendirikan organisasi kekanjengan Sunan, alias Wali Songo yang dipimpin oleh 9 orang misionaris muslim, tujuannya adalah untuk melindungi para misionaris, guru-guru pengajar Islam, alias sunan-sunan yg jumlahnya ratusan, yang mengalami kekerasan dari mayoritas Hindu saat itu.

Orang-orang Hindu saat itu ketakutan karena proses “islamisasi” ini dan dapat dimengerti memang dasarnya setiap orang takut akan kehilangan identitas dan tradisi mereka yg sudah mereka anut generasi bergenerasi. Banyak muslim saat inipun di Indonesia takut sekali dengan “kristenisasi”.

Untuk memiliki bantuan otoritas, kekanjengan mendekati kerajaan agar dapat mendapat dukungan pemerintah. Pemerintahpun setuju untuk melindungi para misionaris, masjid-masjid dan sekolah-sekolah agam Islam. Tapi lama kelamaan agar bisa tetap mendapatkan lindungan pemerintah, kekanjengan ini pun menjadi kepanjangan tangan pemerintah yg terlalu menindas rakyat, seperti penerapan pajak yg terlalu tinggi atau kerja paksa. Ulamapun menjadi pendukung kebijakan2 pemerintah yg mengekang rakyat. Sebuah dilema yg sering dihadapi oleh kekanjengan.

Syekh Siti Jenar datang dan tak tahan melihat penderitaan rakyat dan mengajarkan rakyat utk melawan. Tuhan ada dalam diri kita, kata Jenar, dan karena itulah kita bebas menentukan nasib kita sendiri. “Fight against tyrany and be fear not, because God is in you” kata Jennar. Hal ini membangkitkan pemberontakan rakyat dan Jenar dianggap sebagai pembuat onar, penyebar “ajaran sesat”.

Sunan Kalijaga sendiri sadar bahwa Jenar bukan orang jahat, hanya saja posisi nya terjepit. Sunan Kalijaga memanggil Jennar memintanya utk menghentikan ajarannya, menghindari keonaran yg dapat mengancam perlindungan pemerintah terhadap para misionaris muslim. Tapi Jenar menolak, “I’m telling the truth and you know it!”. Akhirnya kerajaan memerintahkan Jenar ditangkap, disiksa dan dihukum mati.

Kalijaga yang mengeksekusinya, dan sebelum memenggal kepala Jenar, Kalijaga mengangkat pedangnya ke langit dan berseru, “orang ini bersalah di mata manusia. Tapi benar di mata Tuhan” dan memenggal kepalanya. Dia tahu Jenar orang benar, dan saya yakin sebelum melakukan eksekusi, Kalijaga berseru ke langit dan bertanya, “Why, God, Why! Tell me what the hell is going on, my dear God! Tell me what the hell should I do?”

Tapi seperti biasanya, langit tak menjawab, Dia hanya diam, diam dan diam, membiarkan kita manusia selalu dalam kebingungan dan membuat kita akhirnya belajar untuk menerima every shit that happens. “Man can only do what he can do and let destiny reveal itself”, begitu kata film Last Samurai.

Saya tidak menyalahkan Kalijaga, atau Jenar, atau orang-orang Hindu yang khawatir akan “islamisasi” ini. It’s just that shit happens, and all we can do is.. well accept it. Dan itu sebabnya kita tidak bisa membaca sejarah dalam kacamata hitam-putih belaka. Hidup terlalu berwarna.

 

 

Gambar : spoki.tvnet.lv

Gambar : spoki.tvnet.lv

 

====================
Jesus and the Jewish rabi
====================

Saya rasa posisi para rabi Yahudi, farisi dan Judas yg bertanggung jawab terhadap kematian Yesus juga sama. Beratus-ratus tahun anti-semitisme dunia Kristen berkembang karena ini, darah Yesus yang harus ditanggung oleh keturunan-keturunan Yahudi. Selama ratusan tahun dunia Kristen bertanggung jawab terhadap kecurigaan, pembantaian, pembunuhan yg selalu dihadapi oleh orang-orang Yahudi. Anti semitisme Hitler bukanlah hal baru di Jerman, alasan kenapa ribuan orang Jerman menerima ajaran Hitler yang anti Yahudi, memang karena sudah sejak dulu dunia Kristen menyalahkan Yahudi atas kematian Yesus.

Baru setelah perang dunia kedua selesailah, gereja meminta maaf dan memutuskan untuk memutus rantai anti semit dan berkata pada seluruh dunia Kristen, “Yesus dan hampir semua orang-orang Kristen awal adalah Yahudi” untuk menyadarkan seluruh orang Kristen menghentikan kebencian mereka terhadap Yahudi.

Bangsa Romawi yg menguasai orang-orang Israel, meruntuhkan kuil Solomon dan memperbudak orang-orang Israel, adalah bangsa yang sangat kuat. Merekalah yg berhasil menguasai Yunani—-bangsa yang bahkan orang-orang Persia yang berusaha menguasai Yunani selama ratusan tahun akhirnya menyerah dan berkata, “Hanya para dewata yg bisa menguasai Yunani”. Bangsa Romawi adalah para dewata tersebut.

Jika orang-orang Israel masih bisa kabur dari penjajahan Mesir, tidak dengan Romawi. Romawi terlalu besar dan kekuasaan membentang kemana-mana. Tak ada tempat di mana bangsa Israel bisa menghindari Romawi.

Agar mereka bisa beribadah dengan bebas, menjalankan tradisi-tradisi mereka dan mendirikan kuil-kuil, rabi-rabi dan pembesar-pembesar Yahudi berusaha melobi pihak penguasa Romawi. Merekapun bersahabat dengan penguasa Romawi dan menjadi bagian dari mereka. Alasannya untuk melindungi keberlangsungan tradisi, ajaran, agama Yahudi.

Tapi memang karena hal inilah mereka mengalami dilema, bagaimanapun, pada akhirnya para pembesar Yahudi ini menjadi kepanjangan tangan penguasa Romawi untuk menekan rakyat jelata Israel. It happens anywhere. Seperti Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya di kekanjengan.

Yesus, yang menurut banyak skolar, mendapatkan banyak pelajaran dari Yohannes pembaptis yang kebetulan memiliki masalah besar dengan Raja Herod, penguasa Judea di bawah kekaisaran Romawi, sedikit banyak terpengaruh oleh pandangan Yohannes tentang betapa bejatnya para penguasa Israel dibawah Romawi. Yesus bahkan memandangnya lebih luas lagi, kebejatan yg dalam pandangan Yohannes merupakan pelanggaran terhadap ajaran-ajaran Yahudi, diperluas menjadi pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan kebebasan orang-orang Yahudi.

Yohannes pembaptis adalah seorang religius tradisional, dimana “jahat” bagi Yohannes adalah pelanggaran terhadap hukum-hukum Yahudi, Yesus lebih besar lagi, seorang religius yang humanis dan sosialis, di mana “jahat” memiliki makna lebih luas; menindas, menyiksa dan pelanggaran terhadap hak-hak manusiawi.

Yesus memang tidak langsung menentang penguasa Romawi, dia mulai dari lingkaran yg lebih kecil dulu, yaitu para pembesar Israel. Mengkritik dan menghujat mereka atas kejahatan mereka terhadap rakyat Israel. Rakyat kecil yang merasa ditindas mengikuti Yesus, dan beberapa dari mereka, seperti Barnabas, mengharapkan hal lebih besar lagi, agar Yesus memimpin pemberontakan melawan Romawi. Mereka ingin Yesus langsung berhadapan langsung dengan otoritas Romawi, tidak hanya melawan “raja-raja kecil”.

Pada akhirnya para “raja kecil” Yahudi ini berhasil membawa Yesus ke hukuman mati dengan melobi otoritas Romawi, didorong rasa takut mereka keonaran yang dibuat Yesus akan berdampak besar terhadap keberlangsungan rakyat Yahudi dalam perlindungan dan toleransi Romawi. Yesus ditakutkan akan menjadi bibit pemberontakan. Para penguasa Yahudi tahu, jika itu terjadi, mereka semua akan mati tak terkecuali.

So shit happens. Saya tidak menyalahkan para rabi dan farisi ini, atau bahkan Yudas, atau Yesus. Mereka ini “people”, dengan pola pikir, tujuan dan rasa takut masing-masing. Hanya saja kadang ini saling bersimpangan dan berbentrokan. Saya merasa para rabi Yahudi dalam posisi yg sama dengan para wali songo termasuk sunan Kalijaga, dalam dilema yg sulit dipecahkan dan akhirnya memilih “korbankan satu orang utk menyelamatkan keseluruhan”. Dan dalam hal ini, Yesus adalah Syekh Siti Jennar.

Kita tidak bicara “skenario Tuhan” di sini bahwa itu sesuatu yang harus terjadi. Itu kepercayaan. Saya bicara dalam konteks sains dan sejarah. Saya membahas dari sisi personal setiap orang dan kita tahu bahwa kebanyakan manusia tidak sepenuhnya jahat dan tidak sepenuhnya baik. Kita terombang ambing dalam ketidakjelasan makna hidup dan “maksud Tuhan” yang membuat pusing kepala.

Hidup sangat berwarna. Chaos with colors. That what makes it beautiful.

 

 

Gambar : glogster.com

Gambar : glogster.com

 

============================
Sahabat-sahabat Nabi, Sunni, Syiah
============================

Setelah kematian Muhammad, nabi Islam, masyarakat Islam mulai mengalami kebingungan tentang apa yang harus mereka lakukan terhadap warisan nabi ini.

Oh ya, seperti Yesus, Musa, Muhammad, dll, jaman dulu memang agama menjadi bagian penting dan mendasar dalam kehidupan sosial dan politik. Jaman sekarang jika kita tidak setuju pada pemerintah, kita menciptakan partai baru atau aliran ideologi baru. Jaman dulu, kita menciptakan agama atau sekte baru. Ketika Musa menentang kuasa Mesir, dia menentang dengan agama. Ketika Yesus menentang kuasa Yerussalem, dia menentang dengan agama. Begitu juga Muhammad, ketika menentang kuasa Mekkah, dia menentang dengan agama. Agama-agama dan sekte-sekte baru selalu bermunculan ketika tirani menjadi begitu kejam dan menindas. Jaman dulu kita belum mengenal partai dan sekulerisme. Tuhan dan agama menjadi bagian dari pergerakan politik untuk melawan raja-raja, para penguasa dan tirani. Jadi jangan heran, namanya juga orang Jadul alias Jaman Dulu.

Nah, ketika Muhammad meninggal, muncul 2 kubu, kubu penganut demokrasi dan kubu penganut monarki. Penganut demokrasi berargumen, “hey Rosul bilang, pilih pemimpin di antara kamu yang paling kompeten. Itu artinya pemimpin itu dipilih, tauks!” Penganut sistem monarki keturunan ingin agar keluarga nabi yg menjadi pemimpin yaitu Ali, keponakan dan menantu Muhammad.

Yang menang kelompok demokrasi, mereka mengankat Abu Bakar sebagai pemimpin islam. Dilanjutkan oleh Ummar. Dilanjutkan lagi oleh Usman. Masalah sepertinya mulai muncul pada jaman Usman. Usman ini ganteng, baik hati dan sangat lembut. Wanita-wanita selalu membicarakannya dan menginginkannya. Beda dengan Ummar yang keras dan bahkan kadang terlalu kasar, membuat para wanita menjauh dan menyebutnya laki-laki berang. Orang takut padanya.

Masalahnya, saking lembut dan baik hati si Usman, dia kesulitan menolak ketika keluarga dan klannya meminta posisi-posisi di pemerintahan. Usman pun menjadi KKN dan menempatkan banyak orang yang kurang kompeten di pemerintahan. Infrastruktur, perdagangan, perekonomian yang telah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya, menjadi porak poranda dan salah urus. Muncullah pemberontakan dan akhirnya pembunuhan terhadap Usman.

Naiklah Ali, menantu Muhammad ke pemerintahan. Sialnya Ali, terlalu banyak hal-hal besar yang harus dia urus, perbaikan ekonomi, infrastruktur, perdagangan, dll dan penegakkan hukum; menyusut kematian Usman. Ali manusia biasa, kemampuannya terbatas, dia terlalu fokus pada perbaikan ekonomi, infrastruktur dan dianggap mengabaikan penyusutan pembunuhan Usman.

Klan dan keluarga Usman menuntut pembalasan darah dan memulai pemberontakan karena tidak puas dengan Ali, yang diakhiri dengan jatuhnya Ali dari kekuasaan, dan bahkan pembunuhan kejam terhadap dia dan keluarganya. Dan karena jaman dulu politik dan agama adalah satu paket, maka muncullah berbagai macam aliran dan sekte baru, termasuk Syiah, Murjiah, Khawarij, dll dengan berbagai pandangan politik masing-masing. Terima kasih sekularisme, mencegah munculnya terlalu banyak agama dan sekte di dunia ini. 

Terlalu panjang untuk diceritakan, tapi intinya adalah bahwa ini semua adalah politikal, dan setiap orang mulai dari Abu Bakar, Ummar, Usman dan Ali adalah manusia-manusia biasa. Mereka orang-orang baik yang, well kebetulan saja dalam siatuasi yang seringkali membingungkan, membuat dilema dan well shit happens.

It;s like everywhere to us men. Shit happens dan kadang kita hanya bisa pasrah dan menerima. Memandang segala kejadian dalam kacamata hitam putih akan melahirkan kebencian dan dendam tak berujung. Berusaha mengerti posisi masing-masing, dari kacamata-kacamata dan warna yang berbeda, akan melahirkan pengertian, pandangan yg lebih dalam, dan kebijaksanaan.

Sejarah Sunan Kalijaga vs Syekh Siti Jenar, Yesus, Muhammad and friends, dll, merupakan kisah-kisah kehidupan manusia-manusia luar biasa yang memiliki cita-cita, ide-ide, ambisi, perjuangan, dan merekapun mengalami jatuh cinta, patah hati, kehilangan, kekecewaan, seperti manusia pada umumnya. Memandang orang-orang ini dan sejarah dari kacamata “humanisme” alias “kemanusiaan” akan membuat kita belajar jauh lebih banyak dari sekedar berusaha memetakan “benar” vs “salah”.

Pembelajaran menghasilkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan menjadi fondasi cinta. Dan cinta adalah energi kehidupan.

Dan kita memulainya dari kesadaran akan begitu berwarnanya sejarah.

Gambar : quotesinfinite.com

Gambar : quotesinfinite.com

=============

3 thoughts on “Lihatlah Warna pada Cahaya

  1. artikel yg bagus mbak. setidaknya ngasi persepsi yg baru ttg kejadian2 di atas. tp gk mesti percaya kan? 😀 *your silent reader

    • Maaf baru lihat komentarnya hehehehe :D. Iya, enggak harus percaya. Persepsi baru dengan gaya tulisan yang menyenangkan, ya. Tulisan teman saya ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *