Worst Form of Violence

Kalau kata lagunya Deddy Dhukun… “Karena orang ketiga … haruskah pusing kepala?” hehehe . Orang ketiga dalam rumah tangga yang saya maksud sih bukan WIL atau PIL .. tapi … asisten rumah tangga, alias tangan keduanya emak-emak di rumah :D.

Di Jakarta, puyeng kalau punya embak yang tingkahnya macam-macam. Jauh di rantau, kadang kangen juga pengin punya embak lagi D.

Sudah weekend lagi. Sekarang, subuhnya jam 7 pagi di sini. Jam segini masih gelap gulita. Bocah-bocah sudah berkeliaran. Subuh jam 7 pagi, magribnya jam 4 sore. Ini pasti nih penghuni muslim di Eropa rajin banget puasanya, yaaaaaa hahahaha.

Ramadan-nya boleh di musim panas. Ganti puasanya pas musim dingin . Puasa 19 jam di musim panas, begitu musim dingin tiba … puasa hanya 9 jam saja.

Segala sesuatu diciptakan berpasangan . Kedipin teman-teman di Skandinavia yang kemarin puasa Ramadan-nya sampai 22 jam 😉.

Selain musim yang dinamis berganti tiap tahun, kehidupan khas di sebagian besar daratan Eropa adalah … ibu rumah tangga kudu mandiri. Di sindang mana ada tangan kedua untuk tetek bengek rumah dll. Mau makan di luar juga meringis lihat harganya.

Suatu hari, saya pernah merasa kecape’an pas dorong-dorong stroller yang isinya penuh belanjaan. Mulai dari sayur-sayur, beras beberapa kilo, macam-macam lah itu isi keresekan yang gelantungan di stroller. Duuuhh… rasanya mau terbang kembali ke Jeddah saat itu  juga. Ke mana-mana naik mobil hihihi.

Rasa capek langsung luntur melihat emak-emak bule anak 3, dorong stroller yang juga isinya meriah kayak saya tidak cuma berisi batita . Dia juga sigap mengarahkan anak-anaknya yang lebih gede, usianya sekitar 4 sama 2 tahun kali, ya. Sementara bayinya masih kecil banget. Langsung malu hati. Dengan gegap gempita, mendorong stroller penuh semangat lagi :D. Tengsin sama yang anak 3 :P.

Foto depan pintu masuk gedung apartemen @Athlone ... rusuuuhhhh -_-

Foto depan pintu masuk gedung apartemen @Athlone … rusuuuhhhh -_-

Kata suami saya, pajak tempat dan upah pekerja di Eropa memang mahal. Jangan dikira kayak di negara-negara berkembang, walau direktur dan cleaning service staff gajinya sama-sama ratus-ratus, tapi yang satu pakai juta, yang satu pakai ribu hihihi. Becanda 😛. Enggak sejomplang itu kali, ya. Tukang bersih-bersih di Eropa juga bisa hidup layak seperti orang kebanyakan. Catat, seperti orang kebanyakan. Bukan berpenghasilan cukup cuma buat beli makan sama bayar kontrakan.

Jadi, kalau membeli barang-barang pokok makanan di supermarket, harganya enggak mahal lho . Tapi begitu beli makanan jadi di rumah makan, fffiiuuuhhh, Bibi Gober kagak demen! *benerinIsiDompetBukanPoni*. Kalau enggak terpaksa, Google-masterchef siap beraksi tiap hari! 7 hari dalam seminggu! Hahaha. Salah satu penyebab mahalnya ya karena tenaga kerja di sini upahnya enggak main-main. Untuk level pelayan resto sekali pun.

Saya sempat kaget, waktu OB gedung apartemen kami cuti. Katanya mau jalan-jalan ke luar negeri. Aih Kakaaaaa, keren amit hihihi. OB apartemen kami namanya Peter, usianya sekitar 50 tahunan kali, ya. Tiap pagi saat mengantar Abil ke sekolah, sering papasan di lobi. Dia selalu siaga dengan kemoceng dan vacuum cleaner. Hihihi. Hari gini masih pakai kemoceng cobak? 

Peter ini juga sering mengobrol dengan suami saya. Tiap selasa atau kamis dia dapat libur. Katanya kalau libur itu, dia main golf dengan teman-temannya. Awwww…main golf, boooo .

Upah minimum di Eropa ini tergolong tinggi. Masa kata suami saya, penghasilan pegawai supermarket (yang kalau di sini sibuknya minta ampun) mungkin bisa sepertiga atau seperempat gaji engineer. Kalau anak-anak gede, bolehlah eike lamar-lamar kerja di supermarket kali ya hahahhahaha –> dipelototin suami, “Masih kurang banyak kerjaan lo di rumah?” Hahaha.

Pantas saja, kesenjangan ekonomi di sini tidak terlalu terasa. Sekolah publik isinya macam-macam. Mulai dari anak OB, koki, sampai engineer . Padahal waktu di Indonesia saya suka marah-marah karena gaji suami saya bisa 3x lipat gaji saya! Saya kerjanya juga bukan di perusahaan main-main. Lah, memang ada perusahaan main-main? hihihi.

Saya bilang, “Apaan sih, kerjanya cuma melototin server doang. Kerenan pekerjaanku. Lebih susah kerjaanku.”

Suami menjawab sambil nyengir, “Lah, siapa suruh kerja susah-susah gajinya kecil. Emang yang bener gitu, kerja gampang, gaji asoy…”

Belaguuuuuuuu… –> *sambitSuamiPakaiDiaper* 

Oh well, satu sisi Eropa yang saya sukai adalah yang begini inih. Perekonomian mereka yang mengarah kepada sosialis 🙂. Sayup-sayup membayangkan kutipan dari ucapan seorang Ahmad Syarif Maarif… “Keadilan sosial yang demikian keras diperintahkan dalam alquran…” Ini kenapa malah diterapkan sama Eropa? Lirik kiri kanan … jarang banget ketemu masjid di sini *garukGarukKepala*.

Mari kembali merenung. Mengenang kembali Gandhi dengan salah satu quote maut-nya,

“Poverty is the worst form of violence.” – Mahatma Gandhi

Sambil merenung, pentungin kepala koruptor satu-satu. Itulah mengapa kita perlu serius betul melakukan ‘perlawanan’ kepada para tukang kemplang uang rakyat ini :(. Menyengsarakan hidup banyak orang kok, ya, pada masih bisa hidup tenang, ya? *berkabungTingkatDewa*.

Ada yang koleksi mobil mewah, ada yang meributkan tas-tas harga eM-eM-an, padahal lihatlah … tak sedikit yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Masih kurang jahat apa kita yang hanya bisa … DIAM?

Masih mau DIAM saja melihat pola tingkah para koruptor? Yang korupsi kecil-kecilan, korupsi sedang-sedangan, sampai besar-besaran…ingat, semuanya MALING!

Suka heran dengan orang-orang yang nyinyir sama KPK kala KPK kini tengah ‘sibuk’ menangkapi koruptor yang kata para ‘kritikus’ itu level teri doang. Halah, level teri sampai kakap, pencuri is pencuri. Semuanya memang harus dibasmi. Terserah yang mana duluan.

Seperti kata teman saya, silakan saja TEBANG PILIH…asal JANGAN SALAH TEBANG! Yes?

Gambar :  blog.djarumbeasiswaplus.org

Gambar : blog.djarumbeasiswaplus.org

7 thoughts on “Worst Form of Violence

    • Fiiittt, alamatmu dooonggg, ke davincka at gmail dot com dong, Cyiiinn… Btw, soal si OB, emang gitu di sini. Karyawan toko aja modis2 ih, jarang yang pake seragam. Kalau toko baju merek tertentu, ya. Kalau swalayan / model-model Sogo gitu biasanya seragaman sih. Makanya, suka tengsin kalau mau liat-liat ke butik. Takut disangka mau ngelamar kerja hahahahahahaha…

      • Ngelamar kerja? Emang umurmu masih nampak memungkinkan, ya? *memancing maut di lautan berlian ini namanya* Huahaha…
        Ah, mau kirim novel plus tanda tanganmu ya? Mauuuuuuu! Segera dikirim! *loncat2 kegirangan* 🙂

  1. itu OB apa OB?gilee… mainannya udah keluar negeri aje, mau deh jadi OB kalo gitu, eh… jadi yg jaga supermarket aja deh,ntar janjian ya mbak ji kalo mau ngelamar, huahaha… *bisik2 biar nggak kedengaran suami mbak ji*:lol:

  2. Pas ke Bali tahun lalu, aku jg takjub liat keluarga Ostrali beranak 5, anaknya dari umur 10 dan 3 beneran masih balita deh, yg paling kicik masih digendong gendong santaaai aja ke mana-mana, Kukira bule no art jadi males beranak banyak lho, Jihan. Sempet kenalan jg sama yg dari Turki, bawa anak juga banyak (antara 4 atau 5 aku lupa) mereka ramah beut ngobrol sama kami, itu anaknya kicik-kicik deh, dan santei aja liburan no art. Aku pikir td dari Arab, eh ternyata Arab-nya yg udah kesenggol yurop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *