To The Grand Finale!

Jadi, begini toh yang namanya musim gugur. Hehehe. Angin kencang di hampir sepanjang hari selama dua minggu terakhir ini. Dalam satu hari, cuaca bisa sangat moody.

Sejam diguyur hujan lebat, sejam kemudian sangat terik (cerah doang, hawanya mah tetap di bawah 15 derajat), lalu sejam lagi kembali angin kencang plus hujan rintik, lalu berubah menjadi hujan yang jauh lebih ganas. Eh, enggak lama, mendadak terik dan hujan berhenti sama sekali. Serasa langit di atas kota Athlone terkena sindrom PMS. Hahaha.

Kalau angin kencang datang, daun-daun berhamburan jatuh dari atas pohon-pohon yang berjajar di seberang sungai. Nyaris sudah tidak yang warnanya hijau terang. Kalau enggak hijau butek, kekuningan, orange, bahkan ada yang berubah menjadi warna merah.

Sumpah, keren banget. Saban hari merengek ke suami minta difoto di bawah pohon-pohon yang daunnya sudah berserakan di atas tanah. Suami selalu menjawab, “Gila lu, dingin-dingin begini, sering hujan pula, minta foto di luar. Masak sana!” Hahaha.

Musim gugur memang sangat dinanti-nanti…oleh saya maksudnya hihihi. Puluhan tahun hidup di daerah tropis yang hanya kenal kalau enggak kemarau ya musim hujan , pasti kepo dong sama yang namanya musim gugur. Kalau sama salju sudah musuhan hahaha. Badan pantaiku ini sungguh tak sanggup berdamai dengan musim dingin .

Thanks to Food Combining yang membuat stamina tubuh meningkat pesat . Sedingin apa pun, yang namanya masuk angin belum pernah sukses merontokkan daya tahan tubuh . Padahal dulu, suhu panas saja bisa mendadak mual dan kembung coba. Hadeuuhhh .

Melihat situasi di musim gugur dan musim dingin, wajar sekali kalau orang-orang di sini noraknya minta ampun kalau musim panas hehe. Jalan-jalanan penuh saat matahari bersinar sangat terik. Kapal-kapal yang parkir di belakang apartemen, bisa menjadi godaan tersendiri buat suami saya hihihi. Cewe-cewe abegeh berbikini biasanya kumpul-kumpul di atas kapal sambil berjemur saat musim panas menjelang. Pas bulan puasa pula puncak musim panas tahun ini hahaha.

Musim semi juga begitu. Aduh, waktu baru datang, saban lihat pekarangan orang yang banyak bunga-bunganya, saya selalu ribut minta difoto sama suami. Suami suka marah-marah, “Lu ini bukan turis! Lu bakal tinggal di sini. Jangan norak nape?”

Tapi saya, sih, sampai sekarang, kalau menyusuri tepian Sungai Shannon, melihat bebek dan angsa berbaris, burung-burung camar sesekali berkelebat ramai-ramai di udara, rasa noraknya tidak berkurang sedikit pun. Hehehe. Terima kasih Tuhan, diberi kesempatan melihat yang begini-begini yang sedari kecil didamba-damba kala masih tinggal nun jauh di tepian Pantai Losari .

Musim gugur memang identik dengan kemurungan. Muram sekali rasanya, ya. Makin drama dengan suhu yang mulai dingin, daun-daun jatuh berguguran, warna-warna alam berganti menjadi coklat-orens-kuning.

Seperti musim yang terus berputar, begitu juga kehidupan kita selama menginjak bumi *tsaaahhh*. Dikit lagi jadi puisi ini hahaha.

Saya ingat, pertama kali datang ke Jeddah dan ingin membunuh rasa kecewa yang sudah bercampur dengan sepi dan bete dengan membuat kegiatan yang menyenangkan. Waktu itu, daripada stres melihat kaca jendela yang dibuat buram, lagian apa juga yang mau dilihat di luar , saya manfaatkan koneksi internet yang super ciamik dibanding koneksi di tanah air. Yang kalau lama-lama bisa bikin orang yang kesabarannya tipis kayak saya tidak tahan untuk menghajar laptop berkali-kali hahaha. Daripada rusak, ya enggak usah online sekalian .

Begitulah awal mulanya terpikir soal blog Mama Sejagat. Hanya Tuhan yang tahu susahnya mencari kontributor waktu itu hehehe. Saya kaget waktu ada orang yang menuduh saya hendak mencuri tulisan-tulisan di blognya. Santai, Mama. Saya selalu menuliskan nama kontributornya, kok. Walaupun tulisannya biasanya saya edit mati-matian. Begitu pun dengan foto-fotonya (kadang-kadang).

Blog komunitas tapi single fighter. Saya enggak berani menuntut lebih kepada kontributor yang lain. Lagian tak ada honor yang berani saya berikan. Cuma iseng-iseng saja hehehe. Suami suka ngeledek, “Subuh-subuh sudah bangun. Sibuk sendiri depan laptop. Mending kalau ada duitnya.” Hehehe.

Tapi ya gimana, saya senang, euy. Hehehe. Padahal saya sudah lama punya blog sendiri. Tapi memang di blog pribadi dulu enggak niat untuk publikasi. Murni curhat lokal hahaha. Melalui Mama Sejagat, saya belajar banyak tentang cara agar blog kita hitsnya bertambah, cara mendaftarkan blog di search engine. Macam-macamlah. Serius sekali mbak kita ini, padahal sorangan wae, duit pun tak ada. Hahaha.

Kadang suka kesal, sudah berhari-hari, kontributor enggak ada yang mengirim tulisan. Memaksa saya untuk bergerilya lagi, SKSD sana sini cari-cari orang yang kira-kira mau berkontribusi untuk Mama Sejagat. Anak bungsu masih kecil sekali waktu itu, jadi ya, waktu ngeblog hanya tengah malam atau subuh-subuh, saat semuanya masih pada teler di tempat tidur hehehe.

Eike sudah berlatih hidup tanpa embak dan tak pernah terpikir lempar-lempar cucian ke binatu. Padahal kondisi di Jeddah dan pundi-pundi suami sangat-sangat memungkinkan hal ini terjadi. Dalam hati, sudah siap-siap mana tahu suatu hari harus mangkal di negara-negara maju yang tidak kenal bibik dan laundry mahal. Hahahahha. Untung beneran tinggal di Eropa, kalau tidak, sia-sia itu ‘latihan’ di Jeddah hahahha.

Setahun pertama menyumbangkan kemampuan menulis untuk blog gratisan semacam Mama Sejagat bagai ‘musim gugur’ saking itu blog kok kayaknya enggak tenar-tenar juga, ya. Hahahaha. Untungnya selalu hepi dalam menjalani, jadi ya, tenar enggak tenar, yang penting batin puas .

Belakangan, ada Isti dari Kurdistan yang sangat tertarik menulis di sana. Dan semoga sanggup melanjutkan tongkat estafetnya, ya. Hehehe. Terus terang, saya sudah punya banyak keinginan lain dimana Mama Sejagat tidak masuk dalam prioritas utama lagi. Jadi Mak Isti, kupercayakan padamu, ya . Saya sih tetap ingin menjadi kontributor tapi ingin melepaskan diri dari embel-embel ‘pimpinan’ .

Siapa tahu anak-anak sudah besar-besar dan mandiri, Mama Sejagat masih ada, pasti akan saya perjuangkan kembali seperti dulu saat pertama memulai pondasinya, 2 tahun yang lalu.

Tak saya sangka, setahun terakhir updatenya pas-pasan, blog ini diliput oleh sebuah koran lokal. Mendadak dapat banyak DM di twitter hehehe. Terharu juga, ya. Jerih payah yang dulu disumbangkan untuk membesarkan Mama Sejagat mulai ada sedikit penghargaan. Walau di luar cuaca musim gugur masih kental, dalam hati berasa musim semi melihat timeline hari minggu kemarin hehehe. Norak, norak, norak 😛.

Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013

Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013

Jadi, jerih payah memang pasti akan berbayar. Mau setahun, dua tahun, eventually…pasti akan ada hasilnya . Sekarang, aduh, sampai meluber komentar di blog yang bersedia jadi kontributor. Hajar, Mak Isti hehehehe.

Musim semi tengah menghampiri Mama Sejagat. Mungkin nanti bakal ada-ada lagi episode musim gugurnya. Tapi abis itu masa senang-senangnya juga akan datang silih berganti.

“Fall has always been my favorite season. The time when everything bursts with its last beauty, as if nature had been saving up all year for the grand finale.” -Lauren DeStefano, Wither-

Seperti musim, tahun pun terus berganti. Hari ini, seluruh umat muslim akan kembali memasuki pergantian tahun . Selamat Tahun Baru Hijriyah. Apa resolusi tahun baru teman-teman? .

Kalau tahun yang akan segera kita sudahi ini lebih banyak empet-empetnya daripada senang-senangnya, jangan gentar! Siapa tahu, episode musim gugur yang dituliskan untuk perjalanan tahun yang akan berlalu akan dibayar dengan cantiknya pencapaian di tahun baru nanti. Iya, kan? Jangan-jangan musim semi tengah menanti di 1435 H nanti.

Pokoknya tetap semangatlah. Jangan terlalu letop menghadapi lingkungan. Jangan berani-berani menyalahkan perputaran dunia.

“Life asks no question, it goes on without you. Leaving you behind if you can’t stand the pace.” (Desree – You Gotta Be)

Ikhtiar jalan terus, doa tak akan terputus. Begitulah konon kombinasi dari usaha terbaik seorang muslim dalam menaklukkan dunia .

Selamat tahun Baru 1435 H ^_^. Stand the pace, Buddies ;).

***

9 thoughts on “To The Grand Finale!

  1. Selamat tahun baru ya, mbak Jihan sekeluargaaaa…
    Aku dong, udah baca artikelnya kemaren. 🙂
    Btw, baginda raja rupa2nya skrg ngefans juga loh, padamu. Nah itu, buku MOJ beliau udah tamat dari kapan bulan kali… 🙂

  2. One of muy fave soooooong *selain price tag yang bikin bahu joget joget mirip begini deh jadi mau joget*
    You gotta be cool, you gotta be calm, you gotta stay together…Analogi musim gugurnya baguuuuss. Dulu ada yg pernah blg gitu juga, pas anak-anak lg nyebelin itu masa musim dingin/gugur mereka, tapi kalau di situ bisa diatasin dengan baik, kita akan lihat mereka di musim seminya.

  3. De salah satu penggemar mama sejagat juga *tunjuk tangan*

    Pingin banget berkontribusi, apa daya belum pernah menjadi penduduk luar Indonesia.

    Cuma sering mondar mandir ke negara lain doang, utk berkunjung sesaat bukan menetap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *