Stands at Times of Challenge and Controversy

by : Jihan

***

Kalau diberi pertanyaan mengenai film paling berkesan, kira-kira sama tidak, ya, jawabannya dengan film paling favorit? Karena buat saya, TIDAK .

Film paling berkesan itu justru … “Dreamcatcher”. Filmnya justru sama sekali tidak menarik. Manalagi saya bukan penggemar film thriller, apalagi thriller super garing yang melibatkan makhluk aneh-aneh macam cacing raksasa seperti di film ini .

Nonton film itu berempat, bareng teman-teman kampus yang malah akrab setelah kami lulus kuliah. Pas lulus itu, ceritanya nge-geng, hahaha, tua-tua kok baru punya geng . K

Sesekali, kami nonton film. Nah, waktu itu, sedang enggak ada film oke yang diincar. Langsung datang ke bioskop dan milih-milih judul yang ada saja. Tertarik dengan “Dreamcatcher” karena si Mr.G ngotot pengin nonton yang mistik-mistik katanya. Yang lain akhirnya setuju demi melihat potongan kalimat di bawah judul film, “based on novel by Stephen King.”

Itulah film terburuk yang pernah saya tonton di bioskop!

Peristiwa nonton film ini sudah diawali dengan insiden salah putar film. Setengah jam setelah duduk dalam teater, yang diputar malah film animasi.

“Eh, tadi bukan film animasi, kan?”
“Keluar yok ah, salah masuk bioskop kali.”
“Udah sih, liat aja dulu.”
“Kayaknya iklan doang ini.”
“Iklan? Ini udah ampir setengah jam gilak.”

Lagi seru-serunya berdebat, film benerannya pun diputar, “Dreamcacther.” Iya sih, 15 menit pertamanya bagus dan bikin penasaran. Kami menonton dengan serius. Tapi enggak ada angin, enggak ada hujan, begitu scene yang memunculkan seekor cacing raksasa dari balik jamban… hadeuuuhhh… penonton kecewa! Hahaha.

Sumpah ya, logika filmnya benar-benar aneh . Sudah ingin keluar bahkan sebelum satu jam film diputar, tapi ngapain di luar? Soalnya teman saya 2 orang berkeras mau menonton sampai habis. Sementara teman saya satu lagi sudah sibuk sms-an, tidak serius menonton lagi.

Keluar bioskop, Mr.G langsung jadi sasaran kemarahan. Hahaha. Sepanjang jalan menuju tempat makan malam, kami sibuk mencela film tersebut.

Nah, di janjian “Jalan-jalan berempat” seterusnya, momen ini terus terbawa-bawa. Padahal gondok pas hari H nya. Setelah itu, malah jadi bahan ketawa-ketawa… sampai terakhir kami bertemu kembali waktu mudik november kemarin. Film ini yang selalu kami bahas di hampir setiap kesempatan bertemu. Film yang paling berkesan dan tak terlupakan. Hehehe.

Memang begitu seringnya. Hal-hal yang berkesan justru tidak dibangun dari kejadian-kejadian indah dan selalu membahagiakan. Kadang, gampang saja melupakan pengalaman-pengalaman indah tapi sulit menghapus yang tidak indah .

***

Sebelum ke Saudi yang saya bayangkan wilayah ini pasti sangat religius. Walau berada di bawah kucuran sinar matahari nan menyengat, masa iya kehadiran dua kota suci, Mekkah dan Madinah, tidak bisa menyejukkan kehidupan sehari-hari pemukim di sana. Hidup bersahaja yang selalu ditunjukkan rasulullah pasti dong menjadi ciri utama masyarakat sana.

Kenyataan berbicara sebaliknya. Hampir seluruh wilayah elit perkotaan dikepung mal-mal besar dan megah. Sampai menganga, deh, kalau lewat di salah satu sudut Tahliya Street.

Kontras dengan membanjirnya mal-mal mewah, parkiran mal tidak sedikit yang dipenuhi pengemis-pengemis kecil yang menadahkan tangan atau menjual pernak pernik macam sapu tangan dll.

Lihat Ferrari mah sampai bosan. Itu deretan mobil mewah punya adiknya Atut yang bikin ngiler, bolak balik lewat di jalan-jalan besar Kota Jeddah . But again, di perempatan lampu merah yang jual asongan juga banyak.

Di Jakarta, di Jeddah…

“Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…” (Ahmad Syafii Maarif)

***

Sempat merasa gamang *tsaaahh*. Tapi ya, kalau cuma bisa bete apa pula gunanya. Rezeki suami toh ada di Jeddah. Suami selalu menghibur, “Kita kan tidak hidup dengan cara mereka. Kita di sini mencari rezeki.”

Pikiran mulai teralih. Manusia mah suka rusuh memikirkan hal-hal di luar jangkauan –> tunjuk diri sendiri! Seringnya luput berkaca ke dalam diri sendiri.

Benar kata suami. Merantau ke Timur Tengah relatif lebih mudah daripada melangkah langsung dari Indonesia ke negara-negara maju. Wajar. Saingan dikit hehe. Biaya hidup murah (beda lho dengan negara TimTeng lain), apalagi untuk penganut Goberisme . Selisih pendapatan dan pengeluaran yang jumlahnya lumayan bisa dipersembahkan sebagai devisa untuk tanah air . Syukur-syukur mengurangi kepadatan penduduk Jakarta juga, kan? Hehe.

Kelakuan orang-orang di Jeddah juga luar biasa. Sekolah hafidz di mana-mana, tapi entah dimana itu hapalan alquran yang dibangga-banggakan dalam berinteraksi dalam keseharian, apalagi kalau sudah menyetir di jalan raya. Semenjak di Jeddah, jadi rajin baca doa keluar rumah, nih, sebelum mobil distarter hahaha.

Banyak sekali alasan untuk jengkel. Apalagi kalau bermukim sebagai pendatang. Indonesia pula, perempuan pula. Otomatis itu stempel ‘TKW’ terukir di dahi masing-masing. Yassalam ya, mesti banyak-banyak istighfar hehe.

Suami pernah menyarankan saya yang awalnya ngomel-ngomel melulu untuk meng-upgrade penampilan, “Belilah satu dua barang mahal. Abaya yang elit dikit. Daripada ngomel melulu.”

Rasain lu dinyinyirin sama suami sendiri hehe.

Lalu, kita jadi belajar dengan sendirinya. Begitulah cara-cara unik Tuhan untuk membuat kita belajar. Memegang prinsip di tengah terjangan dunia yang sungguh jauh berbeda dari yang dicita-citakan. Mengomel tanpa jelas juntrungannya? Capek doang dapatnya.

Itulah ujiannya. Bagaimana menjalani keyakinan tanpa perlu sibuk ngomelin lingkungan.

Setelah sok-sok ikhlas menerima keadaan, mulai dong memutuskan untuk menciptakan kebahagiaan ala diri sendiri. Tanpa perlu meleburkan diri dalam hal-hal tidak disukai sekaligus tidak perlu memprotes mereka yang memilih untuk ‘berubah’.

Daripada menyibukkan diri dengan yang bete-bete, mari dicari-cari apa yang bisa dinikmati. Mumpung hidup di tengah situasi ‘keras’, saatnya berusaha menggembleng diri untuk menjadi lebih bijak. Katanya sih begitu hehe.

Malah di Jeddah, jadi rajin menulis. Padahal resign sudah dua tahun sebelumnya. Bikin blog komunitas macam-macam. Judulnya blog komunitas, tapi behind the screen nya mah, eike-eike juga yang menulis hahaha. Tapi, jam terbang sudah mulai menunjukkan hasilnya, kan? .

Betul juga ternyata. Kala sudah ada kepastian harus hengkang dari Jeddah, ide menuangkan pelajaran-pelajaran penting yang dituai selama tinggal di Jeddah mulai ada. Begitulah asal mulanya “Memoar of Jeddah” dituliskan .

Banyak yang ‘berat’ dan mengesalkan, tapi kesannya justru dalam banget. Ratu drama pun mulai beraksi. Hampir tiap hari, di sebulan terakhir tinggal di Jeddah, terangkai banyak cerita dalam draft. Sebagian saya posting di wall, sebagian tetap dalam draft pribadi.

Kesal suka disangka ’embak’? Beragam pengalaman yang bikin gondok? Kita pun jadi memahami sepenuhnya … “People with bad behaviour only exist to remind us not to do the same thing” .

Bete dilecehkan karena penampilan? Tekankan kepada diri sendiri untuk tidak seenaknya menilai orang dengan cara yang sama. Inspirasi yang ini bisa ditemukan di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” –> “(Never) Judge a Book by Its Cover.”

Apa iya orang-orang Arab itu kasar-kasar semua? Nah, jangan sampai mendengar cerita segelintir orang membuat kita bermain-main terlampau jauh dengan stereotip. Walau stereotip bahwa “Orang Bugis pasti manis” itu benar adanya (lemparin cermin :P), tapi belum tentu penilaian negatif tentang orang lain juga benar, kan?

Inspirasi tentang pengalaman pribadi saya berupa interaksi langsung orang-orang Arab selama di Jeddah, ada di chapter 8, “People We Haven’t Met Yet.”

Anugerah di tengah keterbatasan kehidupan perempuan di Saudi jauh lebih besar, salah satunya ada di 2 chapter favorit sang penulis. Yang pertama di chapter 2, “Saat Ka’bah Hanya Berjarak Satu Jam Saja.” Dan di chapter paling panjang, terukir dalam 20 halaman penuh, kisah “Naik Haji via Jeddah” dari hari pertama hingga hari ke-6 prosesi haji.

Kehidupan khas ala Saudi yang mungkin tak ada di tempat lain ada di chapter 4, “Ngabuburit ala Orang Arab” dan chapter 7, “Bergaya dengan Abaya.”

Tempat liburan hanya ada di Mekkah dan Madinah? Waduh, berarti belum pernah tinggal di Jeddah ini hihihi. Dari chapter 11-16, silakan dinikmati pesona lain Saudi selain 2 kota suci tadi .

Cerita jalan-jalan, lengkap dengan foto-foto. Walau dicetak hitam putih, foto-fotonya itu mahakarya fotografer kelas dunia, Bapak Dani Rosyadi . Mahakarya dari fotografer yang sama yang juga yang menghiasi cover buku “Memoar of Jeddah.” Abis ini gue pasti dapat inbox, “Lu ngapain sih bawa-bawa nama gue.” Hahaha. Sungkem dulu sama suami .

Chapter sisanya, berinti sama, bahwa kita sering terjebak dalam paradigma, “katanya, katanya, katanya…” Ingatlah salah satu mutiara pembelajaran dari Sayyidina Ali, bahwa, “Manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya.”

Bukunya ditutup dengan kesimpulan panjang lebar yang bisa dipadatkan dalam satu kalimat andalan yang jangan bosan ya bila sudah sering ditulis … “Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” .

Chapter penutup, chapter 18 : “When One Door Closes, Another Opens.”

Demikianlah curhat sang penulis selama tinggal di Jeddah dipersembahkan dalam 18 chapter tulisan di dalam sebuah buku bertajuk, “Memoar of Jeddah, How Can I Not Love Jeddah?”

Kasihan lho ini, menyusunnya sampai berbulan-bulan . Beli yaaaa –> pasang tampang imut ala Pussy Boots . Kalau pun kurang berkenan membeli, minimal suruh temannya yang beli. Kan bisa numpang baca, tuh, hahaha.

Terbit tanggal 16 september 2013, sudah bisa didapatkan di toko-toko buku gramedia di seluruh Indonesia. Harganya sekitar 29 ribu rupiah. Mendapat diskon 10-15% bila dibeli via toko-toko buku online : inibuku.com, grazera.com, gramediaonline.com, parcelbuku.net dsb.

Mumpung sabtu-minggu tuh besok. Patungan deh patungan ama temannya hehehe. Kan bisa tuker-tukeran bacanya. Umm…apalagi ya kalimat bujukannya? hahaha. Alamak, susahnya cari uang, yak .

Therefore, saya tutup tulisan ini dengan pepatah cantik dari Marthen Luther King, Jr :

The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy.

Selamat membaca 🙂.

promosi MoJ
***

27 thoughts on “Stands at Times of Challenge and Controversy

    • Mudah-mudahan ada, ya. Takutnya enggak mencakup 100% gerai-gerai Gramedia. Maklum, penulis baru, dicetaknya pasti belum banyak-banyak amat. Takut enggak laku hehehe.

  1. Huahahaha… orang ini yaaaa… bener2 parah cerdasnya! Muter-muterrr yang baca sampe keblingerrrr akhirnya klengerrrrr…! 😆
    Iya, iya. Aku mau beli kok mbak, bukumu. Walopun masih pundung nggak dikasih tandatangan. Huhuhu…
    Btw, orang bugis manis, yang baca cuma bisa meringis daripada nanti ada yang nangis. Hah! Bisa bikin rima! 😆

    • Wiiihh, ada urang awak hehehe. Tauwa, lama meki’ di Makassar? Aga kareba? :D. Harusnya sudah ada kalau menurut editornya. Tarimo kasih ya Uni :).

      • barupi, dr 2009. alhamdulillah baji2 ji. aih, janki panggil uni kesyan. ka barangkali saya mi dulu yg menyanyi waktunya wisuda ta :p *maapkan kesalahan grammar di sana-sini yaa kakak* btw, td sy ke gramed mp dan stoknya kosoong loh mba. best seller! 😀

        • Bukan kosong ces! Hihihi. Tapi belumpi ada! Hahahahaha. Soalnya baru terbit. Di Semarang saja belum pi masuk. Baru Jakarta dan sekitar. Mungkin bulan depan pi ada di Makassar :D.

  2. hahahaha kasih royalti ke fotografer kelas dunia dong, bawa bawa namanya. Iya udah niat belinya nanti weekend deh mampir Gramed Bandung mudah-mudahan udah ada ya dan nggak tetiba abis diborong sama ebo ebo yang TUM-ers kan mencintai tulisanmu tuh.

    • Iiiihhh, beli seniatnya aja hehehe. Jangan karena kasihan ah belinya hahaha. Siapa yang mau borong, yang kenal kan cuma pembaca blog sama pemirsa di wall FB :P.

          • hihi samalah tulisanmu di blog kan juga gitu banyak selipin agama tetep aja bisa dimengerti dan diambil hikmahnya. Aku beli gak nunggu weekend gak sabar errr terpaksa juga sih sekalian krn cari kado buat dua temen krucils yang ultah Dan udah kubaca setengah itu kayaknya cerita daily lives juga deh bisa jadi bahan renungan. Eh btw itu diletakkan di bagian novel dong. Ihihihi novel yang true story nih ye

  3. Miris memang apa yg mba JIhan sampaikan pada paragraf kedua.
    Membaca paragraf2 selanjutnya, sepertinya bukunya memang bercerita pengalam selama di negara Arab. Menarik. Betewe, selamat ya, atas peluncuran bukunya 🙂

  4. iya bagus ini Memoar of Jeddah, ayo ayooo pada beli 😀 *jadi inget janji mau bikinin resensi belum jadi2 😉
    Ditunggu karya selanjutnya ya mak Ji, moga2 ntar bikin juga tulisan ttg Ireland. Selamat menulis, eike mah nunggu aja utk membacanya hihihiii…

  5. wahhh mba jihan..langsung ke Gramed besok..telat aku hu.hu..hu..pas banget nih buat cerita ke anak ttg fakta di sana..heheh abis nonton infotainment Ola Ramlan umroh tadi sore..anakku nanya macem2 ttg kehidupan di Mekah..Alhamdulillah, terima kasih mba..postingannya di FB

  6. InsyaAllah Kalo jalan2nemu buku mak Jihan beli ahhh..hihi jarang Jalan sih akunya…kalau baca ya seru ya pengalamannya …Kalo ngalamin sendiri saya gak Akan lebih kuat dari mak Jihan…semangat mak!!!

  7. Haha Jihan … tadinya mau silent reader di sini, tapi jemariku ndak mau kompak habis baca penggalan ini: Orang Bugis pasti manis 😀
    *langsung bercermin di layar monitor*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *