Setetes Embun di Majalah Kartini

Kabar gembira nih dari rubrik Setetes Embun di Majalah Kartini ^_^.

Di Facebook, seorang teman men-tag saya di postingannya dengan cover Majalah Kartini. Intinya mengabari kalau tulisan saya ada yang dimuat di sana. Kaget juga. Redaktur sama sekali tidak memberi kabar. Dimuatnya tepat satu edisi setelah edisi yang memuat tulisan jalan-jalan kemarin. Padahal waktu liburan ke Jakarta harusnya sempat beli, tuh. Tapi karena gak tahu ya gak beli hehehe :P.

Belinya yang memuat tulisan jalan-jalan ke Thaif itu saja. Tahu gitu kan bisa beli satu edisi setelahnya lagi :(. Ya sudahlah, tahunya juga belakangan hehehe.

Untungnya di baqala Indonesia (Singaparna) ternyata menjual Kartini edisi ini. Horeeeee… Dimuat di rubrik setetes embun di Majalah Kartini. Akhirnya non fiksi selain tulisan jalan-jalan mulai menemukan jodohnya *tsaaahhh*.

Saya pikir kabar bahagia tentang jejak pena di media cetak sudah berakhir di tahun ini. Ternyata ada lagi. Alhamdulillah.

Terima kasih, Majalah Kartini ;).

Berikut tulisannya ya, naskah asli yang saya kirim ke Majalah Kartini sebagai  berikut (saya modifikasi dari tulisan “Every Mom Has Her Own Battle”, ganti-ganti katanya dikit biar lebih formal ^-^)  :

Ini dia

Contoh Tulisan Setetes Embun di Majalah Kartini

***

Salah satu ‘perang dingin’ yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. (Stay at Home Mom vs Working Mom).

Ibu Pekerja akan jumawa memamerkan dirinya sebagai potret emansipasi. Punya uang sendiri, berdiri di atas kaki sendiri. Merasa menampilkan wajah modern perempuan terkini.

Sedangkan Ibu Rumah Tangga akan membanggakan baktinya sebagai potret sejati seorang Ibu. Tinggal di rumah, merawat anak langsung dengan tangan sendiri adalah pekerjaan mulia tiada terkira. Dengan keyakinan penuh bahwa surgalah balasannya kelak.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru. Ibu yang tinggal di rumah namun tetap berbisnis dan menghasilkan uang.

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, menggenggam kemandirian sekaligus berperan aktif dalam rumah sepanjang hari.

Parenting style itu unik tiap keluarga. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Sekaligus tidak meyakini sepenuhnya bahwa para WM harus mengorbankan keluarganya demi karier.

Ibu saya tidak di rumah sepanjang waktu. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya. Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama sepanjang hari di rumah bersama kami.

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai Ibu Kantoran. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur ’Ibu Rumah Tangga’. Tapi kenyataan membuktikan anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Ibu Kantoran 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. Itu pilihan saya pribadi. Buat saya, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain.Tentu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Tidak 100%  kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

Tak perlu mencibir Ibu Kantoran yang menghabiskan banyak waktu di kantor. Sementara anak mungkin dititipkan kepada pengasuh atau kerabat.

Jangan lupa, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dilepas begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan menghakiminya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Jangan meremehkan para Ibu yang memilih untuk tak berbagi dengan siapa pun dalam pengasuhan anak dan urusan rumah tangga. Sekali pun mungkin mereka pernah mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya. Jangan anggap sepele, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera yang dimiliki mereka, yang memilih jalan ini.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karier demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja, tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain? Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka, jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “Selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaham bahkan Ibu Pelajar. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.

Semua pasti ada pengorbanannya. Setiap Ibu punya pertaruhan masing-masing. Menangkan pertempuran yang Anda pilih tanpa perlu nyinyir terhadap mereka yang memilih jalan ’lain’.

***

Tertarik mengirim ke rubrik Setetes embun di Majalah Kartini? Kirim saja ke email redaksi_kartini@yahoo.com ;).

 

Artikel Tentang Ibu : The Strengths You Did Not Know That You Had

Salah satu artikel tentang ibu saya : Mundur sejenak ke 14 tahun lalu. Tahun 1998. Bulan Juli yang cerah, saya sedang berada di atas kapal laut bersama Mama. Hendak memulai takdir baru menjadi anak sekolahan di rantau :D.

Suatu siang di kamar kami :

“Wah, mau ke Jakarta juga? Ini anak sulungnya ya, Bu?” seorang Ibu yang juga menghuni kamar yang sama menyapa Mama saya.

“Oh, bukan, bukan. Ini anak gadis pertama. Tapi kakaknya ada 4. Laki-laki semua.”

Ibu yang bertanya nampak bengong sebentar. “Ke-5? Ya ampun, beda usianya setahun-setahun ya, Bu? Rapet jaraknya?”

Mama nyengir santai. “Tidaklah. Selisihnya rata-rata 3 tahun. Ada yang hampir 4 tahun. 2 tahunan juga ada. Ini masih ada adiknya lho 2 orang.”

Saya rasa setelah itu si Ibu yang bertanya sibuk menerka-nerka, Ibu di hadapannya, yang sedang sibuk mengukir alis sepanjang percakapan (hihihihihi), menikah umur berapa, ya? =)).

Indeed :). Ibu saya menikah di usia 15 tahun. Tak sempat menggenggam ijazah SMP, Nenek sudah keburu menerima lamaran seorang pemuda untuknya.

Sejak menikah, langsung dibawa ke kota Makassar (dulu Ujung Pandang) oleh Bapak yang tengah merintis usaha di sana. Jauh dari orang tua, Mama melahirkan anak pertamanya di usia 16.

Dan bertahun-tahun setelahnya lahirlah kakak saya yang ke-2, yang ternyata kembar namun tak bertahan hidup. Kakak ke-3, 4, dan 5. Jadi, sebelum saya Mama sudah melahirkan 5 kali. Dan setelah saya, melahirkan 2 kali lagi. Terakhir di usia 39 tahun. Semuanya normal spontan. Semuanya lahir di kota, tidak pernah pulang ke kampung ke tempat Nenek. Mari ngelap keringat bersama-sama hehehehe.

Istimewanya, kerabat perempuan yang seusia Mama tidak banyak yang menikah muda. Mama saya punya saudara kembar. Mereka pernah hamil hampir berbarengan. Tante hamil anak pertama, Mama hamil anak ke-6! Jadi, Mama sudah mulai mantu, tante-tante lain masih sibuk dengan ABG-ABGnya. Yyyiiiuuukkkk.

artikel tentang ibu
Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.

Itu belum ada apa-apanya. Semasa masih gadis, lupa kapan, saya pernah membaca berita tentang seorang penjual pecel di stasiun. Anaknya 13. Yang membuat saya melongo adalah isi beritanya. Disebutkan sehabis melahirkan anaknya yang ke-13 di malam hari sekitar pukul 10 malam, subuh harinya, 7 jam kemudian, si Ibu sudah absen kemabli di stasiun. Siap dengan pecel buatannya :'(.

Isu kedua cerita di atas merembet dari isu menikah muda, hingga memberi jarak kelahiran, isu-isu sosial, sampai isu how does she raise her children? Tapi pertanyaan besarnya : HOW DO THEY GET THE STRENGTH TO GO THROUGH IT?

***

Saya tidak suka anak-anak. Misalnya saja ketika adik bungsu saya lahir. Usianya berjarak 11 tahun dengan saya. Adik saya yang perempuan (disingkat jadi Buntel aja, ya) yang sayang banget. Saat Mama melahirkan, Buntel ikut jagain dan menginap di rumah sakit hingga Mama pulang ke rumah.

Kakak yang lain pun senang menggodanya. Saya? Huh, tak usah, ya. Dengerin dia nangis malam-malam, saya ikut gelisah. Menggerutu karena jam tidur malam terganggu. Suatu kali Mama harus keluar, tak ada orang lain di rumah, si bungsu nampak shock ditinggal berdua dengan saya. Nah lo, nah lo, ahahahahahaha.

Makanya sampai sekarang, saya tak pernah menjadi ‘magnet’ buat anak kecil mana pun. Yang paling friendly sekalipun. Tapi untuk anak sendiri? Ho ho ho.

Saya menyimpan kegelisahan ini sebelum hamil anak pertama. But everything is as easy as it says. Jangankan pas lahir, dari awal tahu ada dua garis di atas test pack, rasa cinta itu tumbuh subur tak terbendung.

Proses kelahiran anak ke-2 yang sempat menggalau. Belum genap dua bulan di Jeddah, saya positif hamil. Memang niat, kok ;). Maboknya jangan ditanya. Sejak hamil muda rasanya sudah ingin pulang ke tanah air, bermanja-manja pada Mama :P.

Apalagi ketika usia kandungan 6 bulan, dapat kabar positif baik Mama dan Mami, tak ada yang bisa didatangkan untuk menemani saya. Tidaaaakkkkk.

Sebagai istri, bukan cuma anak dan diri sendiri yang harus dipikirkan. Sebagai muslim, ketika berani menerima pinangan seorang pria, prdikat istri mengikat janji untuk setia pada suami. Saya pun dulu sulit menerima nasihat, “Kesetiaan istri nomor satu pada suami.” Seiring berjalannya waktu, saya mulai paham betapa indahnya Islam :).

Saya teringat perjuangan suami memboyong saya dan si sulung ke Jeddah. 11 bulan kami ‘dipermainkan’ oleh agen, diberi janji-janji surga akan diberikan iqama (resident permit).

Saya hepi-hepi di Jakarta, banyak saudara, bisa ngider kemana-mana, duit kurang? tinggal ngadu lewat sms (hihihihi). Sementara suami menanggung rindu pada kami :'(.

Masa iya, baru dua bulan bersama, saya hamil, saya harus memutuskan hengkang ke tanah air lagi? Harus berani, pikir saya. Ucapan suami membakar semangat, “Aku siap bantu apa pun.”

Begitu tekad sudah dipupuk, voilaaaa… kekuatan itu datang sendiri :). Tentu mentalnya naik turun, ya. Seperti hormon yang gak stabil. Tapi kenyataannya, sukses melahirkan anak ke-2 tanpa sanak keluarga sama sekali. Hanya meminta tambahan tenaga dari asisten rumah tangga 3x seminggu, 4 jam sehari.

Betapa malunya segitu saja sudah merasa hebat. Bagaimana dengan penjual pecel beranak 13 dan Ibunda sendiri yang melahirkan hingga 8 kali? *plakkk*. Masih harus banyak belajar :'(.

 

***

Tanpa kita sadari, banyak diantara kita yang bertransformasi setelah menjadi Ibu. Yoi dong, “We are the real TRANSFORMERS” :p.

Ibu saya di masa gadisnya, boro-boro deh bisa masak. Konon beliau yang dikawinkan karena malas membantu Nenek menumbuk padi di lumbung. Suka licik. Maunya main sepeda terus. Disuruh memasak, malah kabur berenang ke sungai. Ahahhahaha. Keberanian yang tidak diwariskan pada saya yang sampai sekarang tak bisa berenang dan belum fasih bersepeda roda 2 :P.

Siapa sangka ABG tomboy itu dianugerahi 7 orang anak and she’s just fine ;). Love you, Mama.

Lulus SMP saja tidak, ngotot kalau anak-anaknya harus sarjana juga tidak pernah, tuh. Kepergian Bapak secara mendadak lebih dari 20 tahun yang lalu menciptakan badai ekonomi yang hebat. Tapi rezeki datangnya dari Allah, orang tua cuma perantara :).

5 dari kami menggenggam ijazah dari perguruan tinggi negeri. 1 orang memutuskan sendiri untuk berhenti di bangku SMA. Dan si bungsu sudah di tahun terakhirnya di bangku kuliah.

Selamat hari Ibu untuk Mamaku yang keren ;). Untuk Ibu Mertua, biarpun hubungan tak semulus jalan tol, rasa iri tak pernah luntur. Terima kasih ya Mami, sudah membesarkan anak-anak yang hebat untuk para menantumu ini hehehe. Semoga waktu kelak menghapus segala kesalahpahaman yang pernah, sedang, dan akan datang.

Untuk para sahabat yang masih berjuang meretas jalan merebut status Ibu. Allah Mahabesar. Iringi selalu perjuangan dengan munajat padaNya, ya :).

Untuk teman-teman yang jauh dari tanah air, yang kerap bermimpi membawa segala kerempongan kita balik ke pangkuan Ibunda tercinta, we know we can do it, rite? Tossss. Sharing lah di Mamasejagat *eaaaahhhh*.

As long as we believe, we can make it through…everything! Insya Allah.

“Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed.” ~Linda Wooten

Yes, it surely is :). Selamat hari Ibu.

***

Cerpen Femina

Cerpen (Lagi) di Femina

Akhirnya, ada (lagi) cerpen yang dimuat hehehe. Kali ini “Tiga Rahasia”, dimuat di Femina terbaru minggu ini. Edisi no.50/2012, 22-28 desember 2012, edar hari rabu 20 desember.

Menambah semangat untuk terus nulis-nulis fiksi. Biarpun nampaknya hokinya gak sebagus tulisan jalan-jalan, yang begitu dikirim, biasanya langsung dapet respons :D. Tapi kalau mau jujur, eyke lebih doyan emang bikin fiksi. Mungkin karena senang mengkhayal, ratu drama pula. Cucoklah ya hihihihi.

Naskahnya diedit sedikit oleh redaktur. Ada tiga tokoh dalam tulisan ini. Tokoh yang saya gambarkan gemar merokok diganti menjadi klubber. Ternyata redaktur cerpen di Femina memiliki aturan “against smoking habits” :). Sip deh, gak masalah, alur ceritanya tetap sama.

Kayak apa cerpennya? Diposting minggu depan yaaaaaaa. Ada baiknya sih beli aja majalah Feminanya minggu ini *maeninBuluMata*.

Alhamdulillah cerpen ini adalah tulisan ke-7 yang dimuat di media cetak nasional.  Not bad ya, targetnya sih 10 ahahahahahaha *tidakTahuDiri :P*.  Mulai nekad sok-sok kirim ke media cetak dimulai dari Juni tahun ini, sekitar 6 bulan yang lalu. Terima kasih untuk Femina (memuat tulisan saya 3x dalam kurun waktu 6 bulan ini, Republika (memuat 2 dalam setengah tahun ini), juga Kartini dan Pikiran Rakyat (eh, ini media cetak khusus Jabar, deng :P).

2013? Bikin buku (lagiiiiiiii)!!! Yyyiiiuuuuuukkkk ;;).

cerpen-tiga-rahasia-femina-no-50.jpg

Btw, cerpen di Femina “Tiga Rahasia” ini … adakah salah satu tokoh yang merupakan cerminan diri sendiri? Ummm … enggak sih, ya. Mungkin tokoh yang berhenti bekerja dan ingin menjadi penulis itu disangka mirip. Padahal enggak banget. Secara yang bersangkutan memang jurnalis. Sementara di sindang kan penulis-penulis gitu-gitu doang :D.

Dua tokoh lainnya itu terinspirasi dari teman atau kerabat di sekitar. Tapi itu juga enggak mirip-mirip banget. Dikasih bumbu-bumbu sana sini.

Itulah menyenangkannya menulis fiksi ^_^. Bisa punya tokoh khayalan sesuka hati, hahahha. Bisa juga berusaha menciptakan tokoh yang diinginkan yang tidak kesampaian di diri sendiri mungkin? :p.

Kalau disuruh memilih, fiksii atau non fiksi? Alamak, yang mana-mana yang banyak duitnya lah ya hahahahahaha. Tapi cerpen di Femina termasuk yang dokunya lumayan emang ;).

Oh ya, untuk Cerpen Majalah Femina yang judulnya “Namanya Aryana”, sudah ada versi vlognya, yah. Yuks, buat yang mau baca cerpen dengan background gambar + musik selowwwww hehehehe :

Challenge What The Future Holds!

by : Jihan Davincka

***

Saya termasuk beruntung. Dalam hitungan hari setelah sidang terakhir penentuan kelulusan, saya diterima bekerja. Bulan April 2002, saya sudah mendapat kepastian diterima bekerja. Jadi, ketika menghadiri wisuda di bulan September di tahun yang sama, saya sudah berstatus sebagai pegawai.

Tempat kerja pertama ini yang meninggalkan kesan paling dalam. As they said, “First love never ends.”

Kantornya di Cikini, tepat di depan stasiun kereta. Hanya membayar abonemen 45 ribu sebulan (bisa naik kereta sepuasnya), saya tinggal menyeberang jalan dari stasiun menuju lobi kantor.

Pertama kali ditempatkan dalam ruangan di lantai 8. Nama ruangannya 8C. Diisi 8 orang. Perempuannya cuma satu :P. Sebagai pekerja IT di awal tahun 2000-an, kondisi seperti ini sudah biasa. Sekarang sih, alhamdulillah, sudah banyak pekerja IT perempuan :).

Kalau makan siang, serasa tuan puteri dikelilingi pengawal :D. Bila hari jumat tiba, sebagian salat jumat di masjid. Sebagian lagi, yang non muslim, biasanya makan di tempat yang agak jauh. Mesti pakai acara nyetir gitu lah. Saya biasanya tetap memilih makan di sekitar kantor.

Nah, saat berjalan sendiri itu sering dibecandain teman-teman dari divisi lain, “bodyguardnya mana?” :D.

***

Di penghujung tahun 2005, saya pindah ke perusahaan lain. Kantornya di gedung BEJ. Tapi di sana tak lama. Cuma sekitar 6 bulan.

Baru sebulan masuk, saya sudah mendapat telepon dari sebuah perusahaan besar yang saya impi-impikan. Tiba-tiba tak ada kabar lagi. Saya pikir saya gagal. Tapi 3 bulan kemudian, ada telepon lagi. Kali ini tes kesehatan dan interview terakhir.

Bulan juni 2006, saya resmi menjadi karyawan di salah satu perusahaan consumer goods terbesar di Indonesia. Sebuah perusahaan yang bikin penasaran karena beberapa kali memenangkan award sebagai “The Most Admired Company” di Indonesia.

Masih ingat betul memasuki lobi kantor yang sangat megah saat interview terakhir, tak sadar dalam hati berbisik, “Kalau diterima, gak mau pindah-pindah lagi.” Intinya, “I wanna grow old here!” Segitunya, ahahahaha.

Memang benar, selama kerja di sana, saya nyaris tak pernah melamar lagi di perusahaan lain.

Semasa masih gadis, saya berangkat kantor sebelum jam 6 pagi. Menghabiskan waktu sejam terlebih dahulu di gym kantor, yang disediakan gratis buat seluruh karyawan di lantai paling atas. Setelah itu, baru deh mandi di kamar mandinya yang super komplit. Benar-benar tinggal bawa baju ganti. Mulai dari handuk, sabun, sampai hair dryer, tinggal comot saja. Ada fasilitas sauna segala, lho ;).

Usai cuti melahirkan anak pertama, kembali masuk kerja dengan rutinitas tambahan : memeras ASI. Kalau ibu-ibu lain mungkin mengeluh harus penuh perjuangan memeras ASI di toilet kantor, kantor saya menyediakan nursery room yang sangat nyaman, luas dan fasilitas lengkap. Di salah satu pojok ruangan diletakkan sebuah kulkas untuk menitipkan ASI sebelum dibawa pulang.

Tapi sejak punya anak memang mendadak galau. Padahal ASI ekslusif biarpun susah awalnya, namun akhirnya menuai kesuksesan. Di hari-hari terakhir sebelum mengambil keputusan penting, pekerjaan di kantor sedang padat-padatnya. Hari libur pun masuk.

Setelah berpikir selama berbulan-bulan, saya akhirnya yakin untuk duduk di hadapan bos sambil menyerahkan surat resign saya. Untuk saya pribadi, keputusan resign adalah yang terbaik kala itu.

***

Hari terakhir resign biasa saja. Saya sengaja memilih tanggal resign dimana saat itu rekan-rekan satu divisi sedang Annual Conference di Bali. Saya ikut juga, sih hihihihihi. Hari terakhir ngantor dilewati dengan hepi-hepi di Nusa Dua :P.

Saya pulang lebih awal dari Bali. Eskoknya, di hari jumat, saat lantai tempat saya nyaris kosong, saya duduk sendirian menyusun farewell letter buat teman-teman.

Hari sabtunya, kantor libur. Saya minta suami menemani ke kantor untuk mengangkut sisa-sisa barang yang masih tersisa di meja.

Waktu memasuki lobi masih ketawa-ketawa. Sambil menerangkan ini itu kepada suami yang memang cukup terpesona dengan kemegahan kantor saya :P.

Tiba di lantai 7, waktu lift baru membuka pun masih sempat-sempatnya bersongong-songong ria, “Lihat nih Bang, ruanganku. Keren, ya. Tiap lantai beda-beda interiornya. Lantaiku mungkin temanya apa ya… outer space mungkin…”

Sementara suami sibuk lihat-lihat, saya berjalan menuju meja saya. Baru duduk sebentar, eeehhh…tahu-tahu mewek. Ahahahahaha. I really didn’t see this coming.

Suami sadar terus mendekat, “Take your time. Aku tunggu di bawah aja, ya.”

Begitu suami sudah menghilang di balik lift, baru deh meweknya lebih khusyuk lagi :P. Satu persatu barang-barang dari atas meja saya taruh dalam kardus. Melongok ke bawah meja, mewek lagi, lihat Reebok abu-abu yang setia menemani jam-jam fitnes di gym kantor. Drama abissss.

Hari itu resmi meletakkan karir yang dibangun tanpa jeda selama 7 tahun penuh.

***

Saya dari dulu suka iri pada salah seorang kakak saya. Yang nomor 4, pas di atas saya. Waktu tinggal di kontrakan yang sama, dia sering tidur larut.

Pernah saya intip, dia sedang sibuk sendirian dalam kamar. Dia asyik gonta ganji baju-celana-rompi-topi-sepatu-tas. Enggak heran, pekerjaannya memang di dunia wardrobe.

Biarpun didera jam kerja yang cukup panjang dan tidak teratur, dia kelihatan enjoy banget. Pulang larut, kadang tak langsung merebahkan diri di atas kasur. Malah sibuk wara wiri di kamar, membuka tumpukan majalahnya (katanya cari ide), atau sibuk berdandan sendiri depan kaca.

Pekerjaannya adalah wara wiri ke mal-mal besar, berburu busana-tas-sepatu sampai ke pasar loak, bertemu desainer, hingga mengurusi penampilan orang lain. Awalnya saya pesimis ada duitnya gak tuh, tapi dia tetap tekun. Terus meniti karier tanpa beban.

Bahkan, penghasilannya makin lama makin besar. Proud of you ;). Tapi kakak saya mau-mau saja mengerjakan proyek-proyek “thank you” dari teman-temannya. “Gue gak dibayar. Tapi ya, seneng-seneng aja, booo…”

Dia didorong passion yang luar biasa. Hidupnya memang paling bikin iri.

Duh, passion saya sendiri apa, nih? Sesuatu yang membuat kita terus ‘bertahan’ bahkan bila harus dikerjakan tanpa imbalan uang sekali pun.

***

Awal resign, saya rajin bikin kue. Iseng saja. Mana tahu ada bakat hehehe. Hobinya makan coklat. Jadi, ogah mempraktekkan resep lain selain kue coklat dan brownies coklat.

Lalu, rajin mengolah lauk dengan mengandalkan resep-resep online. Eh, lama-lama asisten rumah tangga saya yang tadinya tidak begitu mahir memasak, mendadak jadi jagoan di dapur. Karena sering menemani saya praktek, dia yang lebih getol. Sementara saya sudah makin mengendur semangatnya. Saya bisa memasak, kok. Tapi sebatas kewajiban saja.

Mencoba MLM juga sudah pernah. Tapi ya, mengerjakannya separuh hati. Jadi, saya putuskan berhenti.

***

Saat melangkahkan kaki pulang di hari sabtu itu bersama beberapa kardus berisi barang-barang di kantor yang siap dibawa kembali ke rumah, saya mengira hidup saya akan biasa-biasa saja setelah itu.

I thought, “The door has been closed.” Meksipun butuh 3 tahun kemudian untuk membuktikan pepatah lama, “When one door closes, another opens.”

Siapa sih yang mengira setelah memutuskan berhenti berkarier, banyak pengalaman baru menanti.

Tak lama setelah resign, tak lagi menunggu-nunggu tanggal 21, dimana saldo tabungan akan melonjak secara reguler, rezeki dialirkanNya melalui jalan lain. Obsesi suami selama berbulan-bulan untuk mencari peruntungan ke luar negeri, dikabulkan setelah saya mengajukan surat resign. Hanya 3 minggu setelah saya melewatkan hari terakhir di kantor, suami berangkat ke luar negeri untuk pertama kalinya.

Dan nasib baik terus bergulir hingga akhirnya kami sekeluarga bermukim di kota Jeddah. Di kota yang saya pikir akan menjadikan saya sebagai ‘tahanan rumah’, malah saya menemukan passion sejati saya. Eyke demen menulis ternyata ^_^.

Ini adalah hobi waktu masih kecil. Sudah belasan tahun tak tersentuh. Malah saya sudah lupa pernah punya kebiasaan menulis saat masih kecil dulu.

***

Hidup terlalu singkat untuk digunakan menyesali masa yang sudah lewat. Setahun pertama setelah resign dulu, kadang ada terselip rasa menyesal, “Why am I doing this again?”

Sesekali menyesali, tapi untungnya, harapan terus terpelihara. Selalu meyakini pasti ada sesuatu yang (mungkin) lebih istimewa menanti di depan sana. Tidak tahu apa, tapi insya Allah ada.

Menulis membangkitkan gairah baru. Energi yang jauh lebih besar yang tidak pernah terpikir bisa dicapai. Meskipun penghasilannya belum ada apa-apanya dibanding saat berstatus pegawai swasta, tapi mengerjakannya selalu senang dan semangat, tak ada bosannya. Di blog, di notes, di wall, dimana saja.

Sampai-sampai seorang teman pernah berujar, “Buset deh lu, sekarng kalau bikin status panjang-panjang amat. Pusing tauk bacanya.” Hehehehehe.

Padahal sebenarnya, tiap kali ingin update status saya cuma ingin menyapa dengan satu kalimat. Tapi tangannya nih yang gatel :P.

Seperti kali ini, saya awalnya hanya ingin mengucapkan “Selamat Tahun Baru Hijriah 1434” :).

Dirayakan dalam hati masing-masing saja, ya. Bersyukur diberikan waktu untuk menikmati pergantian tahun lagi. Waspada karena sisa umur akan makin terkikis. Make decisions, take some stands, and set some goals.

“Listen as your day unfolds, challenge what the future holds. Try to keep your head up to the sky.” (Desree, You Gotta Be)

Sekali lagi, “Selamat Tahun Baru Hijriah 1434.” Challenge what your future holds!

challenge blog

***

[Cerpen] “TITIPAN”

Oleh : Jihan Davincka

***

Nuril berusaha bangkit dari tempat tidur. Berjalan pelan ke arah jendela.

“Hm…enak juga dapat kamar yang viewnya bagus.” Nuril menggumam sendiri.

Hari masih pagi. Pukul setengah enam. Belum lama azan subuh berkumandang. Sisa hujan semalam masih menyisakan titik-titik embun di kaca jendela.

Wajar jam segini belum terdengar hiruk pikuk berarti di rumah sakit. Hanya sesekali suara langkah mendekat dan menjauh, beberapa obrolan dengan suara rendah dari luar pintu, dan selebihnya hanya kicau burung yang mengundang langkah Nuril mendekat ke arah jendela sekarang ini.

“Halo…,” Nuril tersenyum dan menyapa seekor burung kecil yang bertengger di depan kaca jendela yang masih tertutup rapat.

Nuril mengetuk lembut kaca jendela dengan telunjuknya, menggoda si burung kecil. Burung kecil itu mendadak terbang menjauh. Nuril tertawa lebar, “kamu sudah bisa terbang, ya.”

Masih memandangi pemandangan taman rumah sakit yang hijau dengan berbagai rupa bunga warna warninya, pikiran Nuril melayang ke masa lalu. Hinggap tepat di saat itu, kala itu, kala semuanya masih terasa berbeda.

***

Nuril tidak bisa tidur. Entah jam berapa sekarang. Terakhir dia menengok ke arah jam saat jarumnya menunjukkan pukul 1 pagi. Tapi itu mungkin sekitar sejam yang lalu. Jam 2 malam sekarang ini dan Nuril tak juga bisa memejamkan mata.

Kekhawatiran yang berlebihan sudah menjelma menjadi ketakutan. Nuril memandang ke arah suaminya yang sudah terlelap sejak tadi. Apakah ini bisa dianggap pengkhianatan? Dada Nuril berdegup makin kencang. Situasi sekarang ini sedang tidak menentu, haruskah masalah ini muncul?

“Tapi kan belum tentu, lho. Tunggu saja dulu beberapa hari lagi.” Suara hati kecil yang ini mampu meredakan kegelisahan yang sudah memuncak. Nuril mencoba mengatur nafas. Mencoba berpikir jernih. Belum tentu semua terbukti benar. Belum perlu menceritakan apa-apa kepada Abang.

Selang beberapa hari, Nuril malah makin gelisah. Ah, kelamaan menduga-duga. Di suatu sore Nuril memutuskan keluar rumah sebentar. Sudah saatnya menerima kenyataan, apapun itu.

“Mbak Is, aku keluar sebentar. Titip anak-anak, ya. Doni masih tidur kayaknya. Bella di kamarnya, tuh. Temenin main dulu, ya.”

“Kemana, Bu? Lama ndak? Nanti kalau Bapak tanya…”

“Nggak lama. Sebentar aja, kok. Sebelum Bapak pulang, Ibu dah di rumah.”

Malam itu Nuril akhirnya mendapat kepastian, tidak lagi menduga-duga. Hatinya ciut. Bagaimana ini? Terlintas keinginan untuk… astagfirullah, Nurul memejamkan matanya. Tidak boleh begini, tegasnya dalam hati. Biarpun keinginan terkutuk itu menghantui sepanjang malam, batin Nurul berusaha menghalau sekuat tenaga.

***

Suaminya sudah di rumah sejak siang tadi. Biarpun meragu luar biasa, Nuril mantapkan hati untuk berterus terang kepadanya. Hari ini juga. Memang bukan saat yang tepat. Dan entah akan seperti apa tanggapan suaminya. Tapi Abang harus tahu. Dia berhak tahu.

“Belum ada perkembangan, Bang?”

“Belum. Visanya tetap gak bisa. Gak tahu kenapa.”

“Orang sananya gimana? Mau nungguin?”

“Sepertinya enggak, Dek. Mereka butuhnya buru-buru.”

“Aduh, kok bisa jadi kayak gini, ya? Abang sih dulu buru-buru resign. Jadinya kan sekarang kayak gini.”

“Lho, kenapa jadi malah nyalahin aku, sih? Lagian divisiku kan emang mau bubar. Kalo gak resign juga bakal dikeluarin, Dek.”

“Tapi Bang…harusnya Abang bisa dapat paket pensiun dini itu. Andai saja mau bersabar, andai…” Suara Nurul mulai meledak-ledak.

“Kenapa malah marah, Dek?” Suaminya memotong ucapan Nuril. “Ini sudah kita bahas. Divisiku mau bubar, Dek. Temanku banyak yang mencari lowongan. Aku pikir urusan visa bakal lancar. Tentu dong aku harus sigap membaca kesempatan. Aku harus resign untuk mencoba lowongan itu, Dek. Aku kan sudah bilang, tak banyak yang bernasib sial seperti kita. Teman lain lancar-lancar saja urusan visa ini. Tapi ya…”

Nuril mendadak menangis. Suaminya terlihat bingung. Nuril sebenarnya juga tak tahu, tangisan apa ini. Mendadak saja segala emosi yang tertahan beberapa hari terakhir ini tumpah di saat itu.

“Maaf, Dek.”

Nuril mengangkat wajahnya.”Aku juga mau minta maaf.”

Nuril menyerahkan benda kecil yang sedari tadi dipegangnya. Dia meletakkan benda itu di telapak tangan kanan suaminya. Nuril menunduk lagi, tak berani mengangkat kepalanya..

Suaminya mendesah panjang. “Kok bisa?”. Nuril mendongak cepat, matanya menyala.

“Bukan, bukan itu maksudku.” Suaminya menggeleng cepat. Dia meraih kepala Nuril ke bahunya. Memeluk perlahan, mengangkat muka Nuril sehingga wajah mereka berhadapan.

“Maaf apa? Aku senang.”

“Tapi Bang…”

“Akan ada jalan keluarnya. Jangan takut, kok malah kayak gini, Dek. Selamat, ya.”

Tangis Nuril langsung pecah. Lebih menjadi-jadi dari yang tadi. Suaminya tertawa. “Kamu ini selalu kayak gitu, deh. Kalau hamil muda pasti cengeng.”

***

Nuril senyum-senyum sendiri. Begitu cepatnya waktu berlalu. Duh, capai juga berdiri terus. Nuril balik ke tempat tidur. Duduk bersandar dan meraih dompet yang tergeletak di meja di sebelah tempat tidur. Mengeluarkan sepucuk foto, menatapnya lekat-lekat. Dalam hitungan detik matanya sudah basah.

Doni, anak sulungnya sedang tertawa lebar membawa Anggun. Anggun di foto ini baru berusia 1 tahun. Bella, 4 tahun, berusaha menggapai Anggun yang diangkat tinggi-tinggi oleh Doni. Anggun tertawa jenaka seolah mengerti kedua kakaknya sedang berusaha memperebutkannya.

Proses hamil Anggun yang tadi hinggap di pikirannya. Memori saat suaminya baru saja kehilangan pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Sementara, iming-iming tawaran kerja di luar negeri belum menjadi rezeki keluarga mereka kala itu. Visa suaminya gagal. Entah kenapa.

Tapi memang semua orang sudah punya jodohnya masing-masing. Nuril yang mudah panik, gampang dilanda kecemasan, dihibur dengan telaten oleh suaminya, “Adek, rezeki anak ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan kita. Tapi kita pasti selalu berusaha yang terbaik buat mereka.”

Dan saat Nuril masih saja menyimpan keengganan, suaminya pun berkata, “Di atas kertas mungkin rasanya mustahil bagi kita untuk menambah anak saat ini. Biaya Doni dan Bella saja tidak sedikit. Aku menganggur. Asuransi kesehatan kita sudah tak punya. Tak ada kantor yang menanggung kita lagi. Tapi Dek, itu kan hitung-hitungan manusia. Matematika Tuhan itu bukan urusan kita untuk memahaminya. Tuhan punya kalkulator sendiri.” Betul, Tuhan punya kalkulator sendiri.

Dan memang, manusia itu keterbatasannya sangat terlihat dan Tuhan punya perhitungan yang maha luas. Belum genap 6 bulan kandungan, tiba-tiba tawaran kerja datang menghampiri.

Suami yang sudah berusaha melamar kemana-mana segera merespons. Biarpun sempat pesimis karena ini datang dari luar negeri lagi. Negara yang sama dimana beberapa bulan yang lalu pengurusan visanya terhenti di tengah jalan. Alhamdulillah, kali ini, pintu rezekinya membukakan diri lebar-lebar bagi mereka untuk masuk.

Hamil 7.5 bulan, Nuril memberanikan diri terbang jauh bersama suami dan kedua anak mereka. Merantau pertama kali ke luar negeri dan melahirkan Anggun, anak ketiga mereka, di sana.

Tiba-tiba terdengar bunyi langkah-langkah kaki mendekat. Nuril cepat-cepat menyusut airmatanya.

“Mama, mamaaaa…” Ketiga anaknya menghambur ke arahnya. Suaminya mengiringi di belakang mereka.

“Wah, sudah bangun.” Suaminya tersenyum. “Eh, mana bayinya?”

“Belum, tuh. Sebentar lagi mungkin.”

Dan benar saja. Pintu yang baru saja tertutup, dibuka lagi dari luar secara perlahan. Seorang suster melangkah masuk, tersenyum simpul sambil mendorong tempat tidur bayi berwarna putih.

“Itu adeknya Anggun. Itu adeknya Anggun.” Anggun langsung bersorak.

“Iya, Mama nanti sama adek terus. Anggun gak dipeluk-peluk Mama lagi,” seloroh Doni.

“Iya bener. Anggun tidur sendiri nanti. Gak boleh ya di kamar aku,” Bella ikut menggoda.

“Mamaaaa…,” tangis Anggun sudah hampir pecah.

“Anggun kan sudah besar, sudah punya adek. Nanti malah Anggun yang peluk-peluk Adek.” Suami Nuril angkat suara.

“Tapi Anggun mau sama mama…Anggun maunya te…”

“Ya gak bisa,” sergah Doni.

Suara Anggun sudah bercampur tangis. “Anggun gak mau besar. Anggun kecil aja terus.”

Seisi ruangan tergelak bersama.

***

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. KAMILAH yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS 17:31)

***

Kalau ‘ketakutan’ akan rezeki yang menghalangi untuk mencukupkan anak hingga angka tertentu, apa boleh menurut Alquran?

Eh yang disebutkan di ayatnya kan ‘membunuh’, ya. Kalau mencegah?

Bagaimana? 😉