Model Sepatu, dari Impian Kanak-kanak Hingga Dewasa
Di usia belasan, saya sering membayangkan diri saya sepuluh tahun ke depan. Dengan lipstik merah di bibir, memakai blazer ke kantor dan tentu saja memakai sepatu high heels kemana-mana. Menurut saya kala itu, high heels merupakan salah satu aksesoris penting untuk memasuki gerbang kedewasaan.
Gambar : pixabay.com
Saya pernah bergaya di depan kaca dengan koleksi sepatu berhak tinggi punya Ibu. Berusaha menyeimbangkan langkah ketika berjalan. Tapi seringkali percobaan demi percobaan berakhir dengan kaki terasa pegal. Saya bingung mengapa banyak perempuan dewasa yang bisa bertahan begitu lama dengan beralaskan sepatu model ini, ya? “Ah, nanti kalau sudah besar pasti akan otomatis terbiasa,” pikir saya.
Memasuki gerbang universitas, salah satu kakak saya yang penggila fashion membelikan sepasang sepatu baru. Sol sepatunya tinggi tapi tebal merata dan tidak runcing seperti biasanya. Ketika dipakai jauh lebih nyaman. Belakangan saya tahu, namanya wedges.
Saya langsung merasa cocok dengan wedges. Tapi pada akhirnya di kampus saya lebih sering memakai sepatu kets. Dari tempat kos, saya mesti berjalan cukup jauh untuk mengambil bis menuju ke kampus. Begitu pula saat pulang. Kadang-kadang jalanan yang saya lewati tergenang sisa-sisa air hujan, sering pula jalannya becek. Sepatu kets pilihan yang paling tepat.
Mengawali kehidupan baru sebagai karyawati di perusahaan swasta, mulai ingat lagi dengan bayangan masa kecil. Saatnya mengenakan high heels? Lagi-lagi situasi dan kondisi yang tidak kunjung tepat. Dahsyatnya kemacetan ibukota memaksa saya mengandalkan transportasi kereta. Ditambah lagi posisi kantor dan tempat kos yang sangat dekat dari stasiun.
Tentu saja pesona kereta yang ‘anti macet’ tak cuma memikat saya, tapi juga menjadi pilihan utama ratusan ribu penumpang lainnya. Saat jam pergi dan pulang kantor, luar biasa jumlah penumpangnya. Harus gesit saat merebut jalan untuk masuk ke dalam, harus sigap menyelinap keluar saat tiba di stasiun tujuan. Saat itu saya merasa nyaman dengan flat shoes.
Flat shoes pun punya banyak ragam model dan warna. Penampilan bisa tetap terlihat chic.
Banyak rekan perempuan di kantor punya cara unik tentang penampilan. Ada rekan yang sesama pengguna kereta. Di kereta, dia hanya berkaos biasa dan memakai sandal. Begitu tiba di kantor, dia tak langsung menuju ke ruang kerja. Tapi berputar ke arah kamar mandi dan mengganti baju di sana. Alas kakinya pun segera ditukar begitu tiba di meja kerja. Ternyata, beragam high heels dan wedges aneka rupa dan warna telah ditata rapi di salah satu rak mejanya. Tinggal dipilih. Hanya sesekali dibawa pulang. Cerdik juga.
Saya tak menerapkan itu. Bukannya tak peduli penampilan. Tapi pekerjaan saya sebagai IT programmer kala itu lebih sering membuat saya bercengkrama dengan layar monitor. Sesekali bertemu user yang juga lebih banyak menghabiskan waktu di belakang meja. Membicarakan banyak hal teknis. Penampilan tak terlalu penting. Peer pressure-nya pun tak banyak. Mengingat di divisi kerja saya yang saat itu terdiri dari sekitar 60 orang, pegawai perempuannya hanya sekitar 5 orang saja.
Walau begitu, saya tidak nyinyir dengan urusan penampilan rekan perempuan lain. Apalagi soal sepatu. Beberapa pria suka meremehkan kebiasaan pasangan atau rekan perempuannya yang mendewakan urusan sepatu. Jangan memandang rendah kalau menurut mereka sepatu bukan urusan main-main. Tidak percaya?
“A pair of shoes can obviously change your life. Just ask Cinderella.” -Anonymous
Gambar : www.dangerdame.com
Fashionable Daily Shoes, Where to Get?
Bagi sebagian perempuan, sepatu tak dianggap sekadar pelengkap. Walaupun hanya alas kaki, pengaruhnya terhadap keseluruhan penampilan tidak bisa dianggap enteng.
Funny that a pair of really nice shoes makes us feel good in our heads — at the extreme opposite end of our bodies.” -Levende Waters
Funny yet true. Jangan heran kalau tidak sedikit perempuan yang gemar mengoleksi sepatu. Sepatu menjadi salah satu penunjang penampilan harian. Kebutuhan akan fashionable daily shoes cukup umum di kalangan perempuan.
Saya bukan penggila sepatu. Apalagi jika harganya mahal. Saya merasa lebih baik memiliki beberapa pasang sepatu yang cukup nyaman dengan harga yang terjangkau. Selain harga, model pun patut dipertimbangkan.
Sepatu beralas rata dan rendah menjadi pilihan sehari-hari. Dengan menenteng 2 balita laki-laki kemana-mana, saya merasa nyaman dengan flat shoes. Selain flat shoes, sandal juga pilihan yang jitu. Tapi ada juga, lho, rekan saya yang biarpun ber-high heels setiap waktu, tetap lincah dan tidak terganggu ;).
Filosofi Sepatu
Ada yang sudah terbiasa ber-high heels kemana-mana. Tidak sedikit pula yang seleranya sama dengan saya, pencinta flat shoes. Tak jarang yang koleksi sepatunya didominasi oleh wedges. Bahkan, yang percaya diri dengan sandal kemana-mana juga banyak.
Untuk saya, tampil ‘cantik’ di hadapan umum itu perlu. Tapi jangan sampai mengorbankan kenyamanan. Memaksakan diri memakai high heels agar terlihat anggun sementara kaki memberontak bukan pilihan bijaksana.
Siapa bilang dengan flat shoes atau sandal tak menjamin untuk tampil menawan? Penampilan juga dipengaruhi dengan cara kita memandang diri sendiri yang datang dari dalam hati. Kita bebas memilih jenis sepatu mana pun. Tak ada kata mati gaya. Just be yourself <3.
Namun, jangan pula menutup diri dengan mencoba sesuatu yang baru hanya karena takut atau merasa rendah diri. Penggemar flat shoes seperti saya, sesekali pernah juga mencoba wedges di beberapa kesempatan. It still feels good on me. Bertahan sekitar sejam di acara undangan pernikahan dengan high heels pun pernah saya coba hehe. Sejam saja tapi yaaaaa, lebih dari itu pingsan deh, hahaha :p.
Lebih penting lagi, selalu berhati-hati dengan langkah-langkah yang Anda ambil. Sepatu apa pun yang melekat di kaki, “Always remember to Watch your step, Ladies. You don’t know where it might lead you to.”
untuk mengambil langkah ke depan untuk masa depan yang lebih baik ;).
Anak saya yang ke-2 baru saja berulang tahun yang ke-2. I have reached the moment when all I hear is, “No!” Ucapan “No” di hampir setiap tawaran-ajakan-pertanyaan-himbaun padanya disertai dengan kedua tangan dilipat ke arah dada. Syukur-syukur dia tidak pakai buang muka.
Dalam dunia parenting, istilah “the trouble 2” ini cukup populer. Narda, si jagoan kecil ini, punya perangai yang berbeda dengan kakaknya, walaupun sama-sama laki-laki. Termasuk perkembangan motoriknya.
Nabil, kakaknya, biarpun terlihat sangat lincah dan supel, tapi lumayan penakut. Narda, meskipun sekilas kelihatan kalem, pemberaninya jangan ditanya.
Usia 10 bulan dia sudah lancar berjalan. Usia 13, dia sudah berlari. Cenderung telat berbicara dibanding kakaknya yang sangat verbal. Kakaknya agak takut ketemu air. Narda sekali dibawa ke kolam renang, mengamuk luar biasa saat diangkat dari kolam untuk ganti baju. Dia berani meloncat dari atas sofa ke lantai di usianya yang masih 15 bulan. Kalau kakaknya iseng mengajaknya memanjat-manjat, Narda tak pernah gentar. Kakaknya sudah turun karena takut lebih tinggi lagi, dia terus merangkak naik.
Nabil lebih mudah diarahkan. Diberitahu apa saja kemungkinan besar akan menurut. Dia takut gelap dan takut bila ditinggal.
Narda berbeda sekali. Dia suka ngambek tidak mau naik ke stroller saat akan dibawa untuk menjemput kakaknya di sekolah. Saya sebal. Saya tinggal saja dia di depan pintu apartemen, saya pura-pura akan meninggalkannya sendiri dengan harapan dia akan terbirit-birit mengikuti saya. Kenyataannya, dia malah berlari menjauh ke arah sebaliknya. Olala, waktu sudah makin sempit, direpotkan pula dengan mengejar bocah ini di sepanjang lorong lobi gedung apartemen. Jadilah saya mesti setengah berlari sambil mendorong stroller agar tak terlambat tiba di sekolah.
Kalau sedang berdinas di dapur saya inginnya dia dekat-dekat saya. Tapi dia kadang ingin bermain di dalam kamar. Saya pura-pura tutup pintunya dengan nada mengancam. Berharap dia akan berteriak-teriak menangis dan minta ikut. Lama saya tunggu. Pas pintu dibuka lagi, dia berdiri menantang dengan wajah keras. Boro-boro menangis ketakutan.
Terdengar menggemaskan, ya? Tapi percayalah, mengurusi kedua balita super aktif ini, saat nun jauh di negeri rantau, tak punya asisten sama sekali, kadang menjadi ‘cobaan’ tersendiri buat Mama-nya yang memang terkenal dengan stok kesabaran yang pas-pasan. Sebagai manusia biasa, tak jarang saya merasa putus asa dan meradang.
Narda dan abang 😀 (Athlone Regional Sport Center)
***
Ibu saya pernah bilang, “Dada waktu kecil dibawa naik perahu menyeberang laut. Nangis terus sepanjang perjalanan.”
Ibu bercerita tentang kakak saya yang nomor 4. Katanya lagi, saking kesalnya mau dibuang ke laut saja rasanya. Kakak saya yang ini cengeng sekali kata Ibu. Apa-apa mesti minta gendong.
Lain lagi dengan kakak saya nomor 2. Waktu memasuki usia sekolah, susah payah Ibu membujuknya untuk ke sekolah.
“Kalau tidak mau sekolah, nanti jadi tedong,” ancam Ibu (tedong = kerbau, bahasa bugis). “Biarmi jadi tedong,” jawab kakak saya sambil menangis. (Biarmi = biar saja, logat sulawesi).
Saya pun bukannya tak pernah berulah. Perkenalkan, si kecil Jihan yang pundungan luar biasa. I’m a picky eater as well. Saking pemilihnya, waktu kecil sakit-sakitan. Kalau sakit, rewel luar biasa. Kalau mood lagi jelek waktu bangun tidur di sore hari, habislah isi lemari baju saya lemparkan semua ke lantai! My oh my *nyengirImut*.
Saat kami semua telah dewasa, saya perhatikan Ibu selalu menceritakan semua kerusuhan yang kami buat saat kecil sambil tertawa-tawa. Tak ada rasa menyesal sama sekali.
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)
***
Saya pernah membaca sebuah kisah populer via internet mengenai dialog seorang anak dengan Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia. Sang anak mengungkapkan kegundahannya atas semua hal-hal yang akan dihadapi di dunia barunya nanti. Tuhan menjawab dengan sabar semua pertanyaan si anak dengan, “Tenang saja. Sudah kusiapkan seorang malaikat di dunia untukmu. Seseorang yang akan kau panggil…Ibu.”
Menurut cerita itu, Ibu adalah malaikat untuk anak-anaknya. Betulkah?
Di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri (pesertanya sebagian besar ibu-ibu), fasilitator bertanya kepada kami, “Ibu-ibuuuu, anak itu banyak meminta atau banyak memberi.”
Tanpa dikomando, jawaban kompak kami bergema di seluruh ruangan, “Memintaaaa…”
Tiga kali fasilitator bertanya dan kami tetap keukeuh pada jawaban kami, anak-anak lebih banyak meminta. Kami diminta mengeluarkan handphone, masuk ke folder foto, memilih foto anak kami, dan memandanginya lama-lama. Sejenak, seisi ruangan hening. Fasilitator mulai bersuara lagi, “Bayangkan kalau wajah yang Anda pandangi di foto itu sedang sakit. Sakitnya parah. Sampai Anda harus melarikannya ke rumah sakit. Ternyata, takdir tak berpihak pada kita. Anak anda dinyatakan…”
Belum selesai ucapannya, suasana hening buyar dengan tangisan Ibu-ibu peserta tadi.
Ah, kita semua terkecoh. Bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.
Kalaupun ternyata kita yang harus pergi lebih dahulu, mereka bisa dirawat oleh siapa saja. Perlahan, apalagi jika usianya masih sangat kecil, mereka mungkin sanggup menghapus bayangan ibunya. Tapi bila dibalik, Ibu mana yang sanggup membayangkan ketiadaan anak-anaknya? Sejak dua buah garis muncul di selembar testpack saja, kebahagiaan seorang (calon) Ibu sudah sedemikian membuncah-buncah.
Lagi-lagi kita terkecoh. Anak-anak tak pernah meminta dilahirkan. Justru kehadirannya yang memberikan banyak sekali hal yang sebagian besarnya berlabel “kebahagiaan.”
Waktu kecil mungkin mereka akan terlihat bagai monster mini. Apa-apa minta ditemenin. Apa-apa harus diajarin. Makannya pun mesti dijaga. Seperti saya, berjalan kaki kemana-mana makin terasa repot karena ada mereka dalam stroller.
Tapi saya ingat lagi cerita Ibu. Waktu bapak sudah tidak ada, Ibu kerepotan mencari teman untuk dibawa ke kondangan karena waktunya sebagian besar di malam hari. Waktu masih kecil-kecil, semuanya heboh minta ikut. Begitu sudah abege, sudah punya kesibukan sendiri.
Waktu masuk TK sudah ada yang tidak mau tangannya digandeng. Malu pada guru dan teman-temannya. Yang tadinya tak bisa tidur kalau tidak dipeluk sama mama. Ke sekolah pun sudah minta jalan sendiri. Tak senang lagi bila kepalanya diusap-usap, apalagi dipeluk dan dicium.
Ibu-ibu yang kerempongan dengan balita, bersabarlah.
Sebuah puisi kecil ini (copas dari sebuah gambar via internet) mungkin bisa menjadi bahan renungan :
I won’t always cry ‘mommy’ when you leave the room, and my supermarket tantrums will end too soon. I won’t always wake, daddy, for cuddles through the night, and one day you’ll miss having a chocolate face to wipe. You won’t always wake to find my foot kicking you out of bed, Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head. You won’t always have to carry me in asleep from the car, Or piggy back me down the road when my legs can’t walk that far. so cherish every cuddle, remember them all. Because one day, mommy, I won’t be this small.
***
I don’t know who the author is, but I do love this poem.
We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worry… because one day Mommy, they won’t be this small.
Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka.
Seize the day, Mommies :). You don’t know what you miss when it’s gone.
Selamat ulang tahun, Ananda tercinta…Narda Atif Rosyadi :).
Saya pernah doyaaaan banget nonton dorama Jepang. Circa 1995 – 2000. Ceritanya variatif dan tidak melulu mentok di kisah sepasang kekasih yang sering ditampakkan sebagai “It’s us against the world!”
Gambar : weheartit.com
Serial romantis dari dorama Jepang yang berkesan, tontonan wajib abg 90 an :P, apalagi kalau bukan “Tokyo Love Story” dan “Ordinary People.”
Tapi sebenarnya ada satu, nih, yang lumayan meninggalkan bekas. Bukan karena cerita atau tokohnya tapi sepenggal percakapan di beberapa episodenya. Oh ya, judul filmnya, “The End of The World.”
Ini adalah semacam ‘tes’ iseng-iseng si pemeran utama perempuan jika bertemu laki-laki sebayanya (siapa saja, tidak mesti kecengan atau pacar) :
P : “Kalau kiamat datang, kau diberikan sebuah perahu. Tapi kau hanya boleh membawa satu jenis binatang bersamamu. Kuda, merpati, macan, atau merpati. Kau pilih apa? Kenapa?”
Biasanya si laki-laki menjawab macam-macam. Ada yang tegas memilih merpati, “Burung mudah dipelihara.”
Ada yang berpikir dahulu, “Mmm…aku rasa kuda atau macan. Entahlah karena apa.”
Sedikit yang menjawab, “Kambing.”
Waktu saya SMA, saya hampir selalu menanyakan hal yang sama kepada teman-teman saya. Baik laki-laki maupun perempuan. Tiap hewan yang dipilih akan menunjukkan satu hal yang paling dianggap penting dalam kehidupan si penjawab.
Untuk yang menjawab “kambing” memang hanya orang-orang tertentu. Nampak akurat sih dulu :p.
Try that for fun! ^_^.
***
Begitu usia sudah tidak muda lagi *uhuk uhuk*, I still love the love stories. Tapi lebih suka yang nyata. Bertanya langsung kepada teman-teman saya, “Eh, dulu lo ketemu suami lo gimana ceritanya?”
Pertanyaan ini bagi yang sudah menikah saja.
Ini sudah kebiasaan lama, kok hehehehe. Reaksinya macam-macam. Sebagian besar selalu malu dan risih pada awalnya. Tapi, tak lama, dengan penuh semangat, meluncur deh cerita selengkapnya.
Beberapa cuplikannya adalah sbb (tentu saja, nama disamarkan :P) :
Yang ini cerita si Wortel, “Ih, dulu gue kenalnya dia masih punya pacar, taukkk. Waktu putus, ampe nangis-nangis dia cerita ke gue.” Terus, kita ngakak berdua.
Saya penasaran, “Terus, terus?”
“La ya gak tau juga. Tahu-tahu kita jadi dekat terus gak lama kawin, deh.”
“Lu paksa kali.”
“Enak aja. Tahu enggak, pacarnya yang dulu itu pinter-pinter.”
“Nyesel dong dia.”
Muka Wortel malu-malu, “Katanya gue juga pinter. Pinter ngurus anak.”
Eaaaahhhhhhh…ngakak guling-guling.
Kalau Tomat lain lagi. “Ketemu pertama enggak sengaja. Janjian ama temen lain padahal di kantin gedung lantai 14.” (Masih ingat dong gue lantainya ahahahahahahha).
Pertemuan kedua pun tak ada yang istimewa. Ketiga, diajak makan siang bareng. Tomat dong buru-buru ke toilet rapiin rambut. Ealah, ternyata lunchnya berempat ihihihihihi.
Setelah beberapa kali jalan bareng, Tomat tidak tahan. Minta nomor HP duluan. Serasa nonton film ih dengar si Tomat berkisah. Kita, waktu itu ada beberapa teman lain sebagai pendengar, sampai tepuk tangan dengan noraknya. Hahaha.
Tomat bercerita hanya kenal dan sempat jalan-jalan sekitar beberapa bulan, tak dijanjikan komitmen apa-apa. Tapi tak lama tahu-tahu diajak bertemu keluarga besar si calon suami. Lengkap dengan insiden saltumnya :P.
Itu tuh contoh laki-laki jagoan. Enggak banyak omong, langsung tentuin tanggal! ;). Lucky you, Tomat :D.
Bayam tidak kalah serunya. “Waktu kuliah sih, rasanya biasa saja. Tapi kemana-mana aku diintilin melulu, Mbak.” Ihiiiyyyyy.
Kisah mereka tak terlalu mulus, sedikit ditentang oleh pihak-pihak tertentu. Namun, berakhir manis di pelaminan :).
Ada juga, Bawang Merah dan Cabe Rawit. Dua-duanya melalui jalur ta’aruf (spelling?).
Kata Bawang Merah, “Waktu mau menikah, kita nentuin kesepakatan bersama, gimana enaknya, gimana baiknya. Kayak bikin proposal aja.”
Tapi jodoh di tangan Tuhan, ya. Keduanya masih langgeng sampai sekarang. Insha Allah sampai seterusnya :).
Terong Ungu ketemu sang pangeran di bangku sekolah. Kenal dari kecil. Waktu SMA, malah Terong Ungu berada di posisi sebagai mak comblang. Eeehhh, malah jadian sama klien sendiri :P.
Terpisah jarak dalam kurun waktu yang tidak sebentar tapi akhirnya bersanding bersama di hari H :). Ada yang dalam sekejab mata, ada yang menjalani rentang waktu yang lama.
Kalau Sawi malah bilang, “Pertama kali mau dikenalin ke aku, dianya enggak mau!”
Sayangnya, ceritanya tidak kelar-kelar sampai sekarang. Tidak tahu nih lanjutannya apa sehingga akhirnya duduk berdampingan di hadapan bapak penghulu :D.
Yang dijodohkan orang tua juga ada. Sebut saja Daun Kemangi (ya ampuuunn, enggak ada sayuran lain, nih. Hihihihihi). Daun Kemangi konon sudah menjadi incaran calon ibu mertua waktu umurnya masih 10 tahun. Beneran kejadian akhirnya.
Saya pernah bertanya, “Nyesel gak sih dulu nerima lamarannya?”
Daun Kemangi tidak perlu waktu lama menjawab tegas, “Suamiku itu satu diantara seribu.” Nyesssssss :D.
Yang akhirnya mengikat janji dengan teman lama tidak sedikit juga. Buncis misalnya. Sudah jauh-jauh kuliah di kota lain, berjodohnya ternyata dengan teman SMP (apa SMA, ya?) di tanah kelahiran juga akhirnya :).
Ada pula kisah cinta ala “Ainun-Habibie”. Ini Brokoli punya cerita. Konon, kekasihnya kala itu adalah seorang calon dokter. Datang wakuncar dengan mengendarai sedan. Lalu, si calon suami datang di saat yang sama. Lupa euy, waktu itu datang pakai angkot atau motor. Yang jelas bukan becak kayak Habibie :D.
Entah kenapa, Brokoli malah mantap dengan yang datang tanpa mobil itu. Cerita indah mereka berlanjut di pelaminan dengan jumlah anak yang kini tidak sedikit. Tambah lagi, Mbak Brokoli! *dilemparPampers*
Kembang Kol mengaku ‘salah sasaran’. Maksudnya?
“Gue dulu naksirnya sama yang lain. Eh, kok malah dia yang geer dan gencar deketin. Ya sudahlah, malah keterusannya sama dia.”
“Yaaaa, nyesel dong…”
“Enggak banget. Kita memang banyak bedanya. Tapi gue akuin, dia yang paling cocok buat gue.” How lovely :). Bravo, Kembang Kol.
Tuhan punya caranya sendiri untuk mengirimkan pasangan yang tepat untuk kita. Bahkan memilihkan yang mungkin tidak terpikir sebelumnya. Jangankan kepikiran, masuk kriteria saja tidak.
***
Tidak perlu capek-capek menonton film romantis. Kerasa loh getaran yang sama kalau melihat wajah mereka (si para sayuran di atas :P) yang tanpa sadar merona merah. Matanya berbinar-binar biarpun sibuk cekikikan malu-malu.
Kalau melihat tanggalan hari ini, 14 februari, langsung ingat…coklat! Hehehehehe. Konon, hari ini adalah hari kasih sayang. Bahasa kerennya, Valentine Day.
Semua juga sepakatlah, kasih sayang itu seharusnya dirayakan tiap hari. Tapi saya senang-senang saja ada penanggalan khusus seperti ini.
Bukan karena pengin disayang-sayang, tapi karena sebagian besar rak-rak makanan di toko-toko akan memajang aneka rupa coklat. Penggila coklat langsung bersorak :D. Belum lagi tawaran potongan harganya.
Jadi, selamat hari Valentine buat para penjaja coklat. Selamat menikmati salah satu momen dimana keuntungan meningkat secara signifikan.
Selamat hari Valentine buat para penjual bunga :). Mungkin hari ini, omzet yang biasanya tidak seberapa, tiba-tiba melonjak tajam. Enjoy this day :).
And my dear friends, yang kisah-kisahnya saya ceritakan di atas, I love you too. Not only for today. Tapi karena hari ini saya melanggar janji untuk tidak mengisahkan cerita kalian ke publik, saya mohon kasih sayangnya untuk sudi memaafkan hihihihihi.
Kebahagiaan sudah selayaknya dibagi-bagi. “Happiness is only real when shared” 🙂.
(Cerpen Femina dimuat di Femina no.50/2012, oleh redaktur tokoh perokok diedit menjadi klubber. Femina mempunyai kebijakan “against smoking habits”, versi di bawah adalah versi aslinya)
by : Jihan Davincka
***
Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.
Seorang perempuan berkaus hitam melempar sepuntung rokok yang masih menyisakan bara ke tanah dan menginjaknya kuat-kuat. Dia menepuk-nepuk pahanya, mengibas tangannya ke udara berharap tak ada sisa asap yang menempel di sekujur tubuhnya. Dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.
Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.
Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibukota.
***
“Apa kau masih merokok?” si Rambut Ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.
“Sudah lama berhenti,” Kaus Hitam menjawab cepat tanpa ragu.
“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu merokok.”
Kaus Hitam memalingkan wajah ke Rok Merah, “Siapa yang bisa melebihi kehebatan Bu Dokter cantik sepertimu. Eh, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”
Rok Merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”
Rambut Ikal bersuara dengan serius, “Wah,wah, kalian berdua sama sibuknya dong sekarang. Aku rasa kau dan suamimu kelelahan melayani pasien. Apa kalian tak ingin segera punya anak?”
“Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”
“Dan kalian baik-baik saja dengan hal itu? Wow, kau beruntung sekali. Suamiku dari dulu selalu ingin punya anak. Banyak anak kalau bisa. Hahahaha.” Kali ini giliran Rambut Ikal yang tertawa lepas.
“Kau sendiri bagaimana? Dari tadi sibuk bicara tentang orang lain.” Kaus Hitam mengarahkan perhatian ke Rambut Ikal.
“Jadwalku padat sekali akhir-akhir ini. Ah, kalian tak tahu rasanya punya anak 3 dengan kesibukan macam-macam. Sudah tiga bulan ini, tiap akhir pekan aku nyambi menjadi penyiar radio, lho.”
Jawaban Rambut Ikal membuat kedua temannya memekik perlahan, “wow…”
Kaus Hitam terdengar merajuk, “kenapa baru cerita, sih?”
“Aku tiap hari berkicau di twitterku. Kalian ini yang ketinggalan berita. Kenapa sih tidak aktif di media sosial?”
“Tak ada waktu.” Jawab Rok Merah cepat.
Kaus Hitam menyambung, “anakku masih kecil-kecil. Kalau di rumah rasanya seharian tak cukup menemani mereka. Energimu benar-benar luar biasa.”
Lalu, Rambut Ikal bercerita panjang lebar tentang profesi tambahan barunya. Betapa senangnya mendapat teman-teman baru. Honor tambahan yang jumlahnya tidak sedikit. Terbawa pergaulan dengan beberapa selebritis ibukota. Biarpun mereka hitungannya mungkin masih artis papan bawah, belum terlalu tenar.
“Mungkin kapan-kapan, hari sabtu atau minggu siang, abis siaran, kita janjian, yuk. Nanti kukenalkan pada teman-teman baruku.”
Rok Merah langsung menolak, “Wah, tiap akhir pekan, aku pasti ada acara berdua suami.”
Kaus Hitam tak mau kalah, “Akhir pekan ya acara keluarga, dong.”
Rambut Ikal angkat bahu, “Terserah kalian saja.”
Sesekali obrolan mereka terlempar ke masa lalu. Masa-masa belasan tahun yang lalu dimana mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Derai tawa sesekali mengundang pandangan mata dari pengunjung kafe yang lain.
“Kau ingat tidak anak laki-laki kelas sebelah yang mati-matian mengejarmu? Dengar-dengar dia sedang melanjutkan S3 di Eropa. Dia dokter juga, kan? Apa kalian dulu satu kampus?”
Rok Merah tersipu malu sebelum berujar, “Tidak, tidak. Itu cuma gosip, ah. Kampusnya juga beda, kok.”
“Ah, suamimu sekarang kan tak kalah hebatnya. Ngomong-ngomong, apa tak ingin mencoba bayi tabung saja? Mertuamu pasti punya banyak kenalan dokter hebat.”
“Aku kan sudah bilang. Kami baik-baik saja. Tak terlalu memikirkan hal itu. Karier pun sekarang sedang bagus-bagusnya. Tak perlu memusingkan hal yang belum ada, kan?” Rok Merah menjawab diplomatis dengan senyuman bijak.
“Aku iri sekali pada pasangan seperti kalian.”
“Eh, bagaimana denganmu? Apa betah seharian di rumah saja? Mau gak aku kenalkan pada teman-temanku di radio? Kau ini dulu jurnalis, kan?”
“Wah, seharian di rumah bersama anak selalu membuatku berpikir waktuku tak pernah cukup.”
“Ini cuma paruh waktu saja. Mana tahu kau tertarik, coba dulu saja.”
Kaus Hitam menjawab enggan, “Tidak, ah. Aku masih mau menikmati masa-masa santai bersama anak-anak dulu.”
“Aku malah salut padamu. Apa tidak kerepotan dengan kesibukan sepanjang hari? Bagaimana kau bisa punya waktu mengurus ketiga anakmu?”
Rambut Ikal menjawab dengan percaya diri, “itu masalah pengaturan waktu saja. Anak-anak semua tak ada masalah, kok. Semuanya berjalan normal.”
“Kalau akhir pekan kau pun bekerja, kapan kau berlibur dengan anak-anak?”
“Berlibur tidak mesti keluar rumah, kan? Dan tidak mesti akhir pekan. Setiap hari aku selalu punya waktu untuk mereka.”
Kaus Hitam memandang temannya dengan kagum, “Benar-benar supermom.”
Beberapa cangkir kopi sudah hampir kosong. Piring-piring kecil berisi roti dan kue sudah tergeletak tak beraturan. Tapi suara mereka masih terdengar penuh semangat.
Beberapa kali Rambut Ikal nampak memperlihatkan foto anak-anaknya melalui layar ponselnya. Rok Merah tertegun cukup lama sebelum bergumam, “Cantik dan ganteng-ganteng, ya.”
Rambut Ikal tersenyum bangga, “Aku beruntung sekali. Mereka anak-anak yang hebat.”
Kaus Hitam menceritakan dengan detail tingkah pola anak-anaknya di rumah. Dan betapa senangnya menjadi orang yang pertama menyaksikan semua hal-hal kecil namun luar biasa itu. “Kenikmatannya tak bisa diukur dengan uang,” ujarnya penuh semangat.
Rok Merah juga ikut berbagi pengalaman menghadapi berbagai macam pasien. Dan sedikit bergosip mengenai roman picisan antara dokter dan suster yang tidak jarang ditemuinya di rumah sakit.
Kedua temannya nampak tertarik, menyimak dengan serius ucapannya. “Perawat-perawat yang baru masuk, banyak yang mencari-cari kesempatan untuk menggoda dokter-dokter muda.”
Kaus Hitam menggodanya, “Kau yakin kau tak pernah terlibat cinta lokasi seperti itu? Tak pernah naksir dengan teman doktermu yang laki-laki?”
“Eh, aku rasa malah teman dokternya yang tergila-gila padanya.”
Rok Merah mendelik sambil tertawa kecil, “Sembarangan saja kalian. Jangan lupa, aku praktik di rumah sakit yang sama dengan suamiku.”
Lalu, beberapa gelas kaca berisi minuman dingin diantarkan ke meja mereka. Pelayan kafe mengangkat gelas-gelas dan piring-piring kosong dari hadapan mereka. Tapi mereka tetap larut dalam berbagai macam obrolan.
Sekali waktu nampak mereka mengomentari pengunjung lain yang duduk di sekitar mereka. Berbisik-bisik mengenai seorang wanita muda yang nampak duduk gelisah seperti menanti seseorang. Menebak-nebak hubungan antara seorang perempuan yang sudah cukup berumur yang duduk berhadapan dengan seorang pria tampan yang usianya jauh lebih muda.
“Tidak mungkin itu anaknya.” Kaus Hitam berbicara dengan suara rendah.
“Mungkin keponakannya.” Rok Merah mengedipkan matanya.
Rambut Ikal memicingkan mata, “Aneh betul bertemu dengan keponakan sore-sore di kafe seperti ini.”
Lalu mereka saling melempar pandangan. Berusaha menyembunyikan tawa.
Gelap sudah memenuhi langit ketika mereka melangkah keluar dari kafe. Berpelukan di pintu kafe dan berjanji untuk pertemuan berikutnya yang mungkin bisa berlangsung beberapa bulan lagi.
***
Denisa menutup pintu mobil perlahan setelah menghempaskan tubuh ke dalam sedan mewahnya. Perasaannya tak menentu mengingat kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya tadi. “”Ah, aku dan suamiku santai saja. Kalau belum diberi kenapa mesti ngotot?”
Profesinya sebagai dokter mungkin sedang meroket. Setelah setahun lalu menggenggam gelar spesialis, resmi menjadi seorang internis, dia mulai ikut praktik di sebuah rumah sakit. Bapak mertuanya, salah seorang dokter ternama di sana, ikut memuluskan jalannya.
Siapa bilang enam tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran anak membuat dia dan suaminya biasa-biasa saja? Hubungan mereka makin lama malah makin dingin.
Masing-masing tenggelam dalam kesibukan menangani pasien dan terus berburu ilmu yang seolah tiada habisnya untuk profesi yang cukup melelahkan ini. Akhir pekan pun diisi oleh seminar-seminar atau tenggelam dalam tumpukan diktat.
Denisa iri membayangkan kedua temannya yang sudah punya buah hati. Ada yang punya 3 malah. Kapankah Tuhan memberikan kepercayaan itu? Mungkin kehadiran seorang bayi mungil akan sanggup mengembalikan kehangatan cinta mereka kembali. Airmatanya menitik sambil mengelus-elus perutnya, “Tuhan, beri aku satu saja.”
***
Arumi menghela nafas panjang. Tidak sekali tapi berkali-kali sebelum akhirnya memacu mobilnya meninggalkan halaman kafe.
Memiliki 3 anak, berada di puncak karir sebagai salah satu senior marketing manager, siapa yang tak iri padanya? Bahkan sebagai penyiar saat akhir pekan di salah satu radio wanita ibukota, namanya mulai dilirik.
Tapi siapa yang tahu, semua hanya pelarian terhadap kekecewaannya atas kondisi dua anak terakhirnya. Mereka mungkin tidak cacat tapi mendapat vonis sebagai anak berkebutuhan khusus.
Ditutupnya rapat-rapat cerita ini kepada siapa pun. Dia takut segala puji yang sudah terlanjur disematkan untuknya mungkin akan berbalik. Mereka akan mengarahkan telunjuk menghakimi kepadanya. Seolah ini adalah hukuman atas pilihannya sebagai Ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
Arumi bahkan tak sanggup menghadapinya langsung. Empat tahun terakhir ini, dia memboyong keluarganya kembali tinggal bersama ibunya. Menitipkan pengawasan anak-anak kepada Ibu dan beberapa pengasuh anak.
Kalau boleh memilih, ingin rasanya melepaskan diri dari pencitraan palsu ini. Yang gencar dihembuskannya melalui media sosial. Ingin rasanya melepaskan diri dari puja puji, melewati waktu yang lebih panjang bersama anak-anak di rumah. Kalau saja Tuhan memutar waktu dan menganugerahkan anak-anak yang normal.
***
Rinjani menutup mata sambil menikmati hisapan rokoknya dalam-dalam. Dibiarkannya kaca jendela terbuka agar asap rokok tak terperangkap dalam mobil.
Dia memang pernah berhasil menjauhi puntung-puntung kenikmatan yang membius ini. Tapi itu dulu. Sejak dua tahun terakhir ini, begitu dia menyudahi masa-masa berkarir, dia gagal menghalau keinginannya untuk kembali merokok.
Berpura-pura menikmati masa-masa berhenti bekerja adalah hal konyol yang sering dilakukannya di hadapan orang lain. Padahal hingga kini, hatinya masih sulit berdamai dengan keputusan besar itu.
Menghabiskan waktu lebih banyak di rumah malah membuatnya merasa terperangkap tak berdaya. Pernah dicobanya untuk menjadi penulis lepas. Sekedar melampiaskan hasratnya yang pernah lama berkarir di bidang jurnalistik. Tapi hasilnya seringkali hanya ampas rokok memenuhi asbak, buku-buku bertebaran di dekat ranjang, dan dokumen di laptop yang tak berhasil diisi oleh satu kata pun.
Kembali ke dunia kerja juga bukan pilihan tepat untuk anak-anak. Suaminya lebih banyak dinas ke luar kota. Kedua balitanya berada di bawah pengawasan asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Rinjani lebih suka menghabiskan waktu dalam kamar, atau berjalan-jalan sendiri ke mal, dan sesekali menyambangi salon.
Rinjani membayangkan kehidupan kedua temannya yang mandiri. Dia terbakar iri kepada si dokter cantik. Biarpun tanpa anak, tapi didampingi suami yang sangat pengertian. Ah, seperti apa akhir pekan mereka. Mungkin tiap minggu akan terasa bagai bulan madu.
***
Ketiga perempuan itu menembus padatnya jalanan ibukota, larut dalam keterpurukannya masing-masing. Tanpa menyadari bahwa tiap jalan cerita dalam kehidupan punya rahasianya masing-masing. Bahwa seringkali rumput tetangga tak sehijau yang tampak di hadapan mata.
I had to admit that 2011 was one of the best years of my life. Apparently, 2012 is not less interesting.
As a mother, faced with two little man who are incredibly growing faster and faster, actually becomes an exceptional experience. Can’t thank God enough for this.
In personal life, a giant step has been taken. Let’s highlight the beginning of 2012 for “Bunda of Arabia.” The process has taught me about faith. The faith that took me farther. I wrote for some national media starting on June. 7 articles have been published during these last 7 months. Thanks, Femina – Republika – Kartini.
As a wife, a great moment has been reached when the husband finally said, “can’t believe you can cook now.” Mom is right as she always says, “It’s just about a matter of habit.” Proudly pronounce that cooking is no longer a specter for me.
As a friend, 2012 has brought me lots of new friends. Some turn into close friends. The coming soon drama was all about leaving them soon :'(. I’m not good in maintaining such this thing. But a promise has been made. Distance won’t beat us, ladies. Friendship lasts forever. I hope you all share the same feeling with me.
As a moslem, 2012 is truly unbelievable. I performed my first umrah at Ramadhan in August. Completed the ritual-hajj with my husband at the end of October. Fabiayyi’ ala irabbikuma tukadzibaan.
As a family, we are facing a big change. Super excited yet very sad. It’s hard to tell but yes, both my husband and I really love Jeddah. It took us a very long discussion to finally accept the offer. It’s surely not an easy one. But decision has been made. Wish us nothing but the best :).
Seems like my every wish and every dream somehow became reality in this year. Thank You, Allah.