Penggemar Sepatu Crocs

Bosen ah ber-saya-saya. Mari ber-gue-gue hehehe. Secara ini pun postingan iseng hehehe.

Waktu masih kerja di ULI, tiap tahun pasti ada acara gathering ke luar kota (selama 3 tahun berturut-turut gue di sana, acaranya ke Bali terus). Namanya annual conference. Yang paling ditunggu-tunggu selain menutup laptop rapat-rapat dan memanfaatkan jalan-jalan gratis dari kantor (hehehe), adalah ‘goodie bag‘ nya :D.

Nah, di tahun 2009 itu, tersebarlah rumor beberapa minggu sebelum hari H kalau salah satu starter kit yang bakal dibagikan sebelum berangkat adalah…sepatu Crocs!

Ori apa KW neh? hehehe. Duh, kalau kerja di ULI mah ya, jangan inferior begitu. Ya pasti ori dong, dong, dong :P. Awalnya gue dan beberapa teman protes keras. Apalagi pas lihat harganya di website resmi Crocsnya (450 ribu waktu itu!), makin nyinyir aje gue. “Ngapain sih ngasih sepatu plastik warna permen kayak gitu? Banyak palsunya tau di ITC! mending ngasih duit!”

Oiya, selain ngasih Crocs, di tahun itu juga dapat IPod Nano booo, dalam rangka ulang tahun kantor. Boleh milih antara IPod Nano dan tas LongChamp. Karena gue mikirnya kalau tas susah jualnya, jadi milih IPod aja ahahahahahaha. Itu IPod harganya 1.5 jutaan tempo hari. Kalau ingat yang gini-gini, kok mendadak lupa ingatan kenapa ya dulu bisa sampe resign? hehehe.

Balik ke Crocs. Karena gak bisa ngapa-ngapain juga, ya terpaksa diterima aja tuh acara bagi-bagi crocsnya. Gue cerita ke Buntel dan kakak gue. Eh, mereka malah yang semangat. Buntel sukses membuat gue bersumpah kalau entar pulang dari Bali, crocsnya buat dia!

Sepatu Crocs Indonesia Anw, Crocsnya salah pesen, ukuran kegedean, jadi gak gue bawa ke Bali. Pulang dari Bali baru deh dapet tukerannya yang ‘bener’.

Gak ngerti seluk beluk Crocs, akhirnya gue ikut ‘suara terbanyak’ cewe-cewe yang milih Malindi Cotton. Dan pilih warna candy (pink) biar lebih imut :P.

Terus kan ceritanya pulang dari Bali udah last days tuh. Udah resign dari bulan lalu. Jadi sekalian perpisahan ama ULI, tetep ngotot ikut jalan-jalan ke Bali :D.

Dan udah mau berangkat ke Tehran, tuh. Iseng gue pake si Malindi Candy belanja-belanja ke ITC. LUmayan lama muter-muter di sana.

Eh pas pulang, duduk-duduk di rumah bongkar-bongkar belanjaan terus nyadar, “gileee, ada kali 3 jam muter-muter.” 3 jam itu waktu yang super lama buat orang yang males berkeliaran di pusat perbelanjaan kayak gue. Soalnya kaki suka pegel. Ini kok gak pegel-pegel ya. Langsung inget tadi pake sepatu CROCS! Iklan banget dah, ahahahahaha.

Gue pegang-pegang tuh sepatu karet (bukan plastik ye ternyata :P) dengan takjub. Padahal baru sekali pake. Biasnya kan sepatu masih bikin lecet-lecet kaki di awal-awal pemakaian. Eh, ini kok langsung nyaman, ya. Baru, deh, ngerti kenapa si Crocs yang modelnya (waktu itu) cupu-cupu bisa hits dimana-mana. Dan sekaligus menjelaskan harga mahalnya itu. Emang nyaman to the max.

Langsung gue batalin sumpah ke Buntel. Pasti dia ngamuk tapi berhasil diredam dengan IPod Nano :D. Gak apalah nyenengin adek sendiri. Gue emang lebih butuh CROCSnya. Tadinya si IPod juga mau dijual aja sih hihihihi. Jadilah sejak hari pertama berCROCS ria itu gue langsung naksir abis-abisan.

Hampir kemana-mana pakai CROCS. TInggal ke kondangan doang kali yang enggak. Gue bawa 3 sepatu ke Tehran, tapi dari naik pesawat, pas jalan-jalan di sana, ampe pulang lagi naik pesawat, teteeeepppp… pake CROCS  terus :P.

Sampe ke Jeddah pun, gak bawa sepatu apa-apa lagi. Cuma si Malindi Candy seorang itu. Kuat ya, selama sekian tahun gue pake, gak ada lecet dan kerusakan sedikit pun. Nyucinya juga gampang. Keringnya gampang. Dan yang paling penting…super nyaman di kaki!

Selamat 3.5 tahun bersama dengan si Crocs gratisan itu, jodoh kita berakhir saat Umrah Ramadhan kemarin :(. Karena gak inget naro kresek sepatu di rak nomor berapa, sibuklah kita menjelajahi rak sepatu yang super banyak itu dalam masjidil Haram. Tahu sendiri kalau Ramadan, sesaknya Haram kayak apa :(. Jadi pasrah saja ketika kreseknya gak ketemu. Dengan demikian, selamat tinggal, Malindi Candy.

Karena pengetahuan gue yang terbatas mengenai fashion sepatu ini, gak pake pikir panjang mau beli Crocs lagi hehehe.

Belinya di Andalus Mall. Ternyata ada counter CROCS di sana. Baru sih, kata temen-temen. Beli, deh yang modelnya mirip-mirip Malindi. Malindi udah gak dijual di sana katanya :(.

Nah, yang baru ini namanya Flower Dance Espresso. Tetep ya mesti yang pinky-pinky dikit biar imutnya gak ilang hehehe. Dan berhasil membujuk suami juga ikut beli Crocs. Si doi kan tadinya males bener beli sendal yang menurutnya gak jelas dan mahal itu :D. Tapi gue suruh pake di toko, langsung mau dia ^_^.

Selama dua tahun lebih di Jeddah, gue emang jarang banget beli sepatu, sih. PErnah sekali beli pas diskon. Sepatu merek apaaa gitu. Eh, jarang dipake. Kepake pas si Malindi ilang doang. Begitu abis beli Crocs baru, nganggur lagi deh sepatu itu.

Katanya modelnya Crocs ini terbatas dan kurang fasionable. Tapi bener-bener, kalau buat gue, nyamannya itu tiada tandingan lah :D. Dipake kemana aja mantap! Mungkin ntar Crocs bisa bikin model yang fancy dikit dong, buat dipake ke kondangan, hehehe.

Penggemar sepatu Crocs, mana suaranya? 😀 😀 :D.

(Apalah) Arti Sebuah Nama

by : Jihan Davincka

***

Hanya satu kata di akte kelahiran saya yang menunjukkan identitas nama lahir saya : JIHAN.

JIHAN sendiri diambil dari nama istri salah seorang presiden Mesir yang cukup terkenal di penghujung tahun 70 an, Anwar Sadat. Nama istri Presiden Sadat adalah Lady Jihan. Kakak saya sendiri juga ada, lho, yang namanya Anwar Sadat :P.

Kemungkinan besar nama Jihan Fahira pun diambil dari nama Lady Jihan ini. Mengingat Jihan yang ini lahirnya Januari 1978, tepat dua tahun sebelum saya. Hehehehe *pentingYeeee*.

Masalah mulai muncul ketika sekolah, nama harus pakai dua kata. Jadilah waktu SD, nama saya menjadi “Jihan Syamsuddin”. “Syamsuddin” itu nama Bapak.

Nama “Davincka” resmi saya tambahkan sendiri sejak duduk di bangku SMP. “Behind the scene” nama ini sendiri kok ya malas ya ngebahasnya hihihihi. Entar deh kapan-kapan :P.

***

Sebenarnya saya kurang puas, nih, dengan fakta nama satu kata ini. Jadilah, kedua anak saya, masing-masing memiliki 3 kata sebagai nama lahirnya di akte kelahiran. Hihihihihi *balasDendam*.

Ketika membuat akun email pertama kali di tahun 1998, tahun pertama kuliah, tanpa berpikir panjang, langsung memilih nama Davincka. Dan hampir semua identitas di dunia maya akhirnya menggunakan embel-embel Davincka ini.

Untuk teman-teman SMP, SMA, kuliah dan kantor, pasti langsung mengenali nama ini :D. Teman SD yang suka bertanya-tanya.

***

Begitu media sosial bermunculan, saya pun tak ragu-ragu mencantumkan nama “Jihan Davincka.” Ingat, ya. Pakai C dan K sekaligus *penting!* :D.

Masalah nama kadang tidak bisa dianggap sepele. Begitu mulai menikah, saya melihat beberapa teman mengganti nama belakang mereka. Saya suka kebingungan kadang-kadang. Kenapa mesti mengganti nama belakang, sih?

Hal lainnya adalah ketika ada invitation dari beberapa teman lama yang malah menuliskan namanya sebagai “Bundanya anu” atau “Umminya X” atau “Mamanya D.” Dan diper’parah’ dengan profil foto anak-anak mereka -_-. My oh my. How am I supposed to recognize you, my dear friends? Hehehehehe.

Makanya bukan cuma karena alasan narsis semata, mengapa saya lebih senang memakai foto diri sendiri untuk profil apa pun di dunia maya. Akhir-akhir ini lebih sering berfoto bertiga karena ‘terganggu’ dengan beberapa pesan yang bernada ‘kurang sopan’. Entah itu dari antah berantah atau dari teman lama yang mungkin malas mengecek sendiri isi info pribadi.

Foto bersama anak sekaligus menegaskan, “I’m married with 2 boys. Back off!” Mamak-mamak yang sok kecakepan bener gak, sih? Ahahahahaha.

_MG_6651

***

Dan baru-baru ini pun saya ‘terpaksa’ harus (lagi-lagi) memindahkan isi blog ke tempat yang baru. Saya pilihlah nama Jihan Davincka di wordpress ini. Apalah arti sebuah nama ya :D.

Semua postingan akhirnya rampung dipindahkan kesini. Biarpun ‘benah-benah’nya belum rampung 100%.

Foto profil pastilah memilih foto diri sendiri. Untuk blog karena komunikasinya lebih banyak satu arah, saya tak merasa perlu pamer-pamer foto anak jadi foto profil. Nama blog pun memilih nama sendiri (ini sih karena males repot + mikir lagi hehehe).

Sebagai seorang perempuan, identitas kadang menjadi ‘labil’. Dari kecil hingga dewasa, kita akan dikenali sebagai anaknya Pak Anu. Ketika sudah menikah, nama belakang pun ikut diganti. Padahal menurut guru mengaji saya disini, nama belakang seorang muslimah seharusnya tetap menggunakan nama Bapak, bahkan setelah menikah.

Setelah punya anak, berubah menjadi “Bunda/Mama/Ummi/Ibu-nya Anu.” Kalau teman baru di dunia maya, rasanya risih saya bertanya, “Mbak, namanya siapa, ya?” Jadi dengan canggung saya menyapa, “Mbak Bundanya X, apa kabar?” Hihihihihihi.

Saya rasa, berstatus apa pun seorang wanita (dari kecil hingga dewasa dan punya anak), identitas sebagai pribadi tetap harus dijaga :).

Jadi, saya adalah Jihan. Jihan Davincka ;). Jihan Davincka yang sekarang sekaligus menjadi seorang istri dan Ibu dari 2 anak laki-laki.

_MG_1747

Cara menerbitkan buku indie

Kritik Terhadap Bunda of Arabia

***

Kritik pertama adalah soal keakuratan isinya.

Sebelum “Bunda of Arabia” terbit, sebenarnya telah terbit satu buku non fiksi bergenre komedi yang bertajuk “Kedai 1001 Mimpi” yang dikarang oleh Vabyo, yang juga menggunakan latar belakang negara Saudi.

Ketika gencar berpromosi di beberapa milis (thanks to Bapak Dani hehehehe, Baba of Arabia :P), beberapa orang bertanya tentang “Bunda of Arabia” dan “Kedai 1001 Mimpi.” Isinya dianggap bertentangan.”Kedai 1001 Mimpi” karangan Vabyo (yang konon laris manis ini) diterbitkan oleh penerbit formal, Gagasmedia.

Gagasmedia sendiri kebetulan penerbit yang banyak melahirkan penulis-penulis favorit saya seperti suami istri Adhitya Mulya-Ninit Yunita dan Raditya Dika.Sayangnya sampai sekarang saya sendiri belum membaca buku ini. Tapi dari banyak review di berbagai media online, saya jadi maklum kenapa sampai disebut-sebut ‘bertentangan’.Sebenarnya, kedua buku tersebut TIDAK BERTENTANGAN sama sekali :). Kok, kok, kok???

Sudut pandang penceritanya berbeda. Ini nih pokok perbedaannya :).

Vabyo datang ke Saudi dengan ‘menyamar’ sebagai TKI informal dan bekerja di beberapa tempat untuk mengumpulkan bahan cerita.

Sedangkan “Bunda of Arabia” ditulis oleh ibu-ibu asal Indonesia yang datang ke Jeddah untuk mengikuti suami yang bekerja di sana. Spesifik tentang kota Jeddah dan sekitarnya.

Apa yang diceritakan Vabyo dalam “kedai 1001 mimpi” adalah kumpulan pengalamannya bekerja di Saudi selama (kalau tidak salah) 3 pekan (apa 3 bulan), ya.

Sedangkan para Bunda yang menuangkan pengalamannya di “Bunda of Arabia” rata-rata sudah bermukim minimal satu tahun.

Saya tidak suka menceritakan hal ini. Tapi memang pada kenyataannya kaum pekerja formal di kota Jeddah memiliki ‘dunia yang berbeda’ dengan dengan kaum pekerja informal.

Anda jangan lantas menganggap pekerja formal disini sombong. Salah satu sahabat saya disini, akibat terlalu entah lugu entah apa, dimanfaatkan secara materi oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.

Oknum, sih. Tapi ya, pengalaman itu guru paling berharga, bukan?

Juga jumlah kaum informal terlalu banyak. Dan nyaris tak tersentuh karena mereka tinggal di lingkungan tertentu dan seringnya berkelompok. Kerasnya kehidupan yang mereka alami mungkin sudah mengikis separuh rasa kesantunan mereka. Tapi jangan digeneralisir. Tentu tidak semuanya :).

Hal-hal ‘sensitif’ ini tak mudah untuk saya terangkan panjang lebar dalam tulisan :(.

***

Kritik kedua adalah isi “Bunda of Arabia” kok kayaknya ‘senang-senang’ semua? Emberrrrrr ahahahahahahaa :P.

Bunda-bunda hepi 😀

Justru sebenarnya saya menggagas buku ini sebagai penyeimbang. Atas berita-berita yang menurut saya terlalu berat sebelah tentang salah satu negara ‘penguasa’ gurun ini. Terutama mengenai kehidupan orang-orang yang berasal dari tanah air.

Saya sudah mengawalinya dengan blog mamasejagat dan ceritaJeddah. Tapi tentu perlu ada langkah lebih ‘serius’. Jadilah saya, yang memang memendam mimpi menjadi penulis (kelak), memberanikan diri mengangkat sisi lain ini ke dalam buku “Bunda of Arabia.”

Ah, berarti untuk kalangan terbatas. Kalau menilik tujuan awalnya saya setuju jika orang-orang berkata ini untuk kalangan terbatas. Makanya saya pantang berdebat lebih jauh ketika mencoba menawarkan naskah buku kepada sebuah penerbit formal dan langsung ditolak dengan alasan ‘segmented readers’. Saya sepenuhnya paham :).

Waktu membahas isu ini pun, resistensi dari rekan-rekan Bunda yang saya tawari untuk ikut menulis pun sudah ada.

Bahkan saya akhirnya rela mengganti judul yang awalnya adalah : “How can we not love Jeddah?” menjadi “Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati” untuk ‘menggaet’ salah satu penulis yang awalnya hendak hengkang, padahal dia adalah penulis incaran utama saya.

Beliau inilah yang sebenarnya memiliki kemampuan menulis yang paling ‘mumpuni’ diantara kami hehehe. Heran saya, orangnya masih gak pede juga melangkah lebih ‘jauh’ padahal sudah saya komporin hehehehe. Mana buku solo-mu, Mbaaaaakkkk? :D.

Demikian juga dengan rekan penulis lain yang menunjukkan keengganan saat saya minta menulis dengan tema yang sudah saya tetapkan. Meskipun tidak kepada saya, saya tahu dia meminta pertimbangan dari mana-mana. Saya maklum. Dia takut disangka mau pamer. Tapi alhamdulillah, melalui BBM intensif, beliau pun akhirnya ‘takluk’ dan mau nyetor tulisan hehehe.

Perempuan Indonesia yang banyak mendiami wilayah Saudi, sebagian besar datang dengan status TKW. Dan diantara mereka, jumlah terbesarnya memang ada di ranah domestik, sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh anak.

Jadi, kami (para penulis) pun mencoba sangat berhati-hati dalam tiap tulisan. Agar orang tak lantas menuduh kami sebagai ‘musuh dalam selimut’. Dan demi Tuhan, kami tak ada yang menentang dan tak ‘memusuhi’ apalagi memandang rendah pada mereka. Setiap orang berhak mencari rezeki halal dengan kesanggupannya masing-masing.

Maka dari itu, butuh kerja ekstra untuk terus menumbuhkan semangat ini kepada rekan penulis yang lain, bahkan mengusir ‘ketakutan’ yang sering hinggap di pikiran saya sendiri.

Meskipun tetap ada teman yang malah menganjurkan menulis tentang ‘tema perjuangan’, mengangkat kisah-kisah TKW dan semacamnya. Ini memang mungkin akan menjadi topik populer (mengingat kisah menyayat hati memang cukup laku di tanah air hehehe), tapi justru kisah-kisah seperti ini yang saya hindari.

Maksud saya, cukuplah berita-berita memilukan hati ini dimanfaatkan oleh media untuk menaikkan jumlah pembaca mereka. Sekali lagi, saya ingin menghadirkan ‘kisah penyeimbang’ :).

Jadi ya, dari awal pun, tujuannya malah untuk memperkenalkan ‘sisi lain Saudi’ kepada tanah air. Agar kalau Anda-anda kebetulan sedang umrah dan hajian, bertemu dengan perempuan berabaya hitam di masjidil haram, Anda tidak buru-buru memandangi mereka dengan rasa kasihan, mengeluarkan uang 10 riyal untuk anak kecil yang mereka bawa dan berucap, “senang disini? majikannya baik?” hehehehe ;). Terlepas dari apakah cerita macam ini akan ‘laku’ atau tidak :).

Bahwa hidup di kota Jeddah mungkin memang serba dilarang tapi ada hal-hal lain yang akan membuat iri para perantau asal Indonesia di negara lain :P.

***

Kritik ketiga, judulnya terlalu ‘drama’ sementara isinya sangat deskriptif. Hehehehe.

Saya akui pemilihan judul memang untuk menarik perhatian publik :D. Dan kalimat ini yang selalu terngiang di kepala saya saat melihat foto-foto teman-teman disini yang hobi sekali ‘foto loncat-loncat’ kalau lagi main ke pantai hihihihihi. Sebenarnya selain dicomot dari salah satu lirik lagu Kahitna, kalimat ini juga saya jadikan judul foto teman-teman yang tempo hari piknik ke South Corniche. Saya tak ikut, tapi saya yang menuliskan ceritanya di blog hehehe.

Ada pun tentang cara penulisan dan sebagainya, saya cuma mau bilang, kami tak ada yang berprofesi penulis sebelumnya. Harap dimaklumi :P. Cuma 3 orang blogger dan 6 orang Bunda yang mungkin sebenarnya ‘terpaksa’ karena saya teror terus. Ahahahaha.

***

Terima kasih atas pihak yang sudah membeli dan memberikan kritikan dan memberi review untuk buku kami :).

Bagi yang belum beli, saran saya cuma satu : inbox saya secepatnya, ya! hehehehehe.

Jangan lupa kunjungi page kami, di facebook – fanpage ini.

Salam dari Jeddah

Jihan Davincka, on behalf of penulis “Bunda of Arabia” (Ibu Euis Fauziah, Ibu Vica Item, Ibu Aina Hidayati, Ibu Nining HaerAni, Ibu Ismiyati Afni, Ibu Dini Fabria, Ibu Alfiani, Ibu Mira Sonia).

V.V.I.P

 

“Kalo gue, lulus kuliah, langsung kawin! Terus punya anak.”

“Nikah.”

“Sialan lu! Ya kawin, ya nikah.”

“Kalo gue, mau kerja dulu. Mau puas-puasin dulu berkarir. Ke luar negeri kalau perlu.”

“Kalau sudah tua, susah cari suami.”

“Ah, bisa operasi plastik kalau punya banyak uang. Makanya kerja. Punya uang banyak.”

“Nikah cepat. Cepat punya anak. Umur 40, anak gue sudah 17 tahun. Gue jadi tante-tante yang masih cantik.”

“Hahahahaha. Kuliah capek-capek malah mau kawin.”

“Kuliah di tempat yang tepat untuk mendapatkan suami yang tepat.”

“Hahahahhaha. Tidak intelek.”

“Tapi cerdas.”

“Hahahahaha.”

Itu salah satu percakapan saya dengannya di suatu hari saat kami sedang makan siang di salah satu kantin kampus. Kantin balsem, balik semak. Selain harganya yang murah-murah, kami berdua suka melihat beragamnya mahasiswa dari fakultas lain yang ikut makan di sana.

Banyak juga mahasiswa yang sekedar datang dan duduk tanpa memesan makanan atau pun minuman.

Dia selalu menertawakan niat saya yang dulu begitu lulus kuliah ingin segera menikah.

“Lu gak punya pacar.”

“Tahun depan bakal punya.”

“Masa? Caranya?”

“Ya kalau berusaha pasti dapat. Tinggal bilang ke orangnya.”

“Nekad lu. Hahahaha. Lu mah yang itu-itu melulu.”

Benar saja, semester berikutnya saya beneran punya pacar. Dengan si dia, yang sudah diincar sejak pertama melihatnya di masa orientasi. Ihiy. Hehehehe.

Saya tidak tahu kenapa diantara sedikit orang-orang yang bisa saya akrabi, dia termasuk salah satunya. Pertama kali ngobrol di Balairung, saat latihan paduan suara untuk mahasiswa baru. Di bulan Agustus 1998.

Di dua semester awal, saya juga dekat dengan beberapa teman perempuan lainnya. Tak banyak mahasiswi di kampus saya, terlebih lagi di angkatan kami.

Salah satu persamaan kami adalah ketidaksukaan kami menghabiskan waktu berlama-lama di lab. Lab hanya kami kunjungi untuk mengerjakan tugas-tugas kampus.

Kalau teman-teman dekat saya yang lain sibuk men-download film-film kartun dan lain-lainnya, saya menunggu dengan bosan di salah satu sudut lab. Kala itu belum kenal search engine mana pun. Belum ada google yang bisa saya andalkan untuk mencari gosip-gosip artis terkini. Friendster pun belum ada.

Jadilah, lama kelamaan saya lebih sering pergi berdua dengannya.
Saat tak ada ujian, tak banyak tugas, kami duduk-duduk di balsem. Mengomentari orang-orang yang lalu lalang. Atau mencemooh dengan penuh dengki mahasiswi cantik yang berpenampilan keren yang nampak dikerubutin cowok-cowok.

“Genit sekali.”

“Tapi bajunya bagus, ya. Lihat deh, pinggulnya ramping banget.”

“Tapi genit, ah.”

“Iya, ketawanya dibuat-buat.”

Ahahahahaha. Sirik tanda tak mampu memang :D.

Dia jauh lebih santai dalam urusan belajar, dibanding saya. Tapi kami berdua wisuda bareng. Berfoto bersama dengan toga, tersenyum lebar-lebar dengan lipstik merah menyala, tepat di hari sabtu minggu ke-3 di bulan september 2002. Biarpun tak suka menghabiskan banyak waktu di depan komputer (ya nama pun kuliah di fakultas ilmu komputer), kami menepati janji kami untuk wisuda setelah 8 semester terlewati. Saya mau kawin. Dia mau kerja. Hahaha.

Tapi kenyataan memang lain. Bulan April tahun yang sama, saya sudah bekerja setelah terlebih dahulu menyelesaikan tugas akhir dan menyematkan S.Kom di belakang nama saya. Bukan sarjana kompor, yeee :P. Saya menunggu 6 bulan untuk pemasangan toga secara legal, gagal memenuhi ambisi wisuda di bulan februari.

Tak ada foto berdua dengan lelaki berjas yang menggenggam sekuntum mawar di sebelah kami. Kami sama-sama mengakhiri masa-masa di kampus dengan status jomblo.

Malah, dua tahun setelah lulus, saya masih melewatkan malam minggu dengan menonton apa saja yang bisa ditonton di dalam TV dalam kamar kos, dia sudah berbicara soal pernikahan. Iya, dia menikah dua tahun lebih dahulu daripada saya, yang bercita-cita memiliki anak berusia 17 tahun saat saya merakayakan ultah ke-40. Hehehe.

***

Kakak laki-laki saya ada empat orang. Semuanya menyenangkan. Yang pertama, sangat suka ilmu fisika. Fotonya paling banyak di album foto keluarga. Iyalah, anak pertama :D.

Yang ketiga sangat kocak. Kami semua bisa tertawa-tawa seperti orang gila dan nyaris pipis kalau mengobrol ada dia. Tapi anehnya, di depan orang lain, yang bukan lingkungan dekatnya, dia mendadak banyak diam. Gak pede lu, ye. Hehehe.

Yang nomor 4 tergila-gila fashion dari dulu. Memakai baju mesti serasa dari atas hingga ke bawah. Tak heran, sekarang dia sudah menapaki jalan kesuksesan sebagai seorang fashion stylist. Traktir dooonggg kalau gue ke Jakarta :P.

Yang kedua juga anak teknik elektro. Wajahnya persis wajah almarhum Bapak sewaktu masih muda. Paling alim dari dulu. Paling sering melihatnya beraktifitas di atas sajadah dari dulu.

Dan yang paling penting, dia yang mengongkosi kuliah saya sampai lulus. Ahahahahahaha *matreAlert*.

Di semester terakhir, saya ragu untuk meminta uang untuk membeli PC. Rasanya makin sulit mengandalkan lab untuk mengerjakan tugas-tugas akhir. Mau nebeng ke teman pun tak mudah, kami semua sedang berjuang bersama melewati masa-masa penghabisan di kampus. Mereka pun sama sibuknya.

Lagian aneh ya Ceu, anak komputer ya ndak punya komputer, hehehe. Tapi ternyata, dia tidak berpikir lama-lama untuk mengabulkan permintaan saya. Dalam waktu singkat, uang terkirim, dan seperangkat PC itu benar-benar nangkring di atas meja kamar kosan. Alhamdulillah, akhirnya.

Saat ribet mikirin ongkos kawin, tanpa banyak basa basi, beliau ikut mengulurkan tangan. Makanya benarlah jika rezeki anak-anak tidak sepenuhnya di tangan orang tua. Di tangan kakak juga bisa. Hehehe.

Saya suka berdiskusi dengannya. Orangnya kadang lucu juga tapi kalau berbicara maknanya bisa menancap dengan kuat.

***

Selain punya empat kakak laki-laki. Saya ada dua adik. Satu perempuan. Terlahir 2 tahun 5 bulan setelah saya.

Waktu kami kecil dulu, dia seperti dayang-dayang saya. Saya tega membangunkan dia yang sedang tidur siang untuk, “Dek, belikanka’ dulu gula-gula camba kodong. (Dek, beliin permen asem, dong).”

Kenapa tidak beli sendiri ke warung? Ya, karena saya selalu punya dia untuk disuruh-suruh. Hahaha. Kadang saya lebihkan uangnya. Jasanya pun dimanfaatkan oleh kakak-kakak saya yang lain. Tentu dengan imbalan uang. Dari kecil kelihatan sudah punya bakat bisnis :P.

Waktu kuliah juga begitu. Dia membuka jasa pengetikan. Tidur larut untuk mengerjakan ‘bisnis jasa’nya. Tak pernah malu menjajakan apa pun. Beda sekali dengan saya, yang selalu merasa risih kalau disuruh menjual apa pun. Untung jual buku sendiri masih mau :P.

Makanya, di akhir tahun 1995, saat begitu banyak hal yang terjadi dan dia pindah ke Jakarta, rasanya sungguh tak enak. Sudah terbiasa tidur dengannya. Terbiasa menyuruhnya ini itu, hehehe.

jihan achie

Kami tinggal bersama lagi di tahun 2001. Tinggal di dalam kamar kos yang sama. Masa awal kerja kantoran, hampir tiap pagi kami berdua berpikir keras harus memasak atau membeli apa agar bisa dijadikan sarapan sekaligus bisa buat bekal makan siang saya. Lumayan menghemat uang jajan di kantor :P.

Tahun 2002, setelah tanpa putus asa mencoba UMPTN untuk terakhir kalinya, dia lulus di Bandung. Ditinggal lagi, deh. Huhuhuhu.

Dia lebih ceria daripada saya. Dia itu sanguinis-phlegmatis. Temannya banyak sekali dari berbagai kalangan. Iri sekali dengannya. Tidak seperti say
a yang biarpun kelihatan cerewet dan suka bergaul tapi galaknya minta ampun. Tidak segan-segan menghardik siapa pun yang saya anggap ‘menyerang’ saya. Saya tidak pernah punya geng perempuan.

Dia lebih suka suasana ramai. Saya lebih suka berdiam diri dalam kamar atau rumah. Dia suka mengelompok, saya lebih menjaga jarak dengan orang lain. Padahal menurut orang-orang, sifat kami itu sama. Cerewet tiada terkira dan suka terbahak-bahak tanpa malu di depan umum. Ahahahaha.

Di hari wisudanya, malah saya yang menangis, bukan Mama. Dia menuntaskan kuliahnya dengan predikat cum laude, setelah gagal menembus UMPTN dua tahun berturut-turut.

***

Empat tahun lalu, saya menginap di rumah sakit beberapa hari untuk proses melahirkan dia. Anak pertama saya.

Dua hari kemudian kalau tidak salah, final piala Eropa 2008. Spanyol masuk final. Sejak mengidolakan Spanyol (apa Casillas? :P) di piala dunia 2002, tak pernah berhenti berharap melihatnya menggenggam predikat juara.

Dia menangis meraung setiap kali saya menyalakan televisi. Ah, rewelnya. Saya kecilkan volumenya pun dia masih menangis. Jadi benar-benar televisinya tak boleh dinyalakan.

Kesal juga, ketika di pagi hari melihat berita kalau Spanyol juara. Aaaarrggghhhh….
Anaknya cerewet sekali. Tak diragukan dia mewarisi darah ibunya :P. Kehadirannya membuat saya banyak mengambil keputusan penting yang tidak pernah saya duga akan saya ambil. Termasuk meletakkan karir dan mengakhiri masa-masa bekerja di kantor 3 tahun yang lalu.

Tempat saya menempa kesabaran. Dimana kadar kesabaran saya bisa dibilang sangat tipis :(. Tapi dengannya saya menyadari, bahwa pada dasarnya pikiran kebanyakan orang itu salah.

Orang banyak menganggap Ibu melakukan apa pun untuk kebahagiaan anaknya. Tapi buat saya, segala kepanikan saat dia sakit, tidak saya lakukan untuk kebahagiaannya. Dialah justru salah satu sumber kebahagiaan saya. Saya menjaganya sepenuh hati bukan karena dia butuh saya, tapi nyatanya…saya yang tak pernah berhenti membutuhkan dia sejak dia lahir!

Saya lakukan untuk kebahagiaan diri saya sendiri. Dia bisa dirawat dan disayangi oleh siapa saja. Tapi saya yang tak pernah berani membayangkan ketiadaannya dalam hidup saya. Sejak detik dia meraung keras di kamar persalinan dan dokter yang membantu proses kelahirannya berkata, “Selamat Bu, laki-laki. Putih..ganteng..”

Sekali lagi dalam hidup saya, tepat pukul 10.05 malam itu, Tuhan menganugerahkan seorang pria tampan :).

***

13 Juni, selamat ulang tahun, sahabatku tersayang, Tri Leniarti :).

14 Juni, selamat ulang tahun, adik terbaik di seantero dunia, Nasli.

22 Juni, selamat ulang tahun, Daeng Salman Alfaris.

28 Juni, selamat ulang tahun, ananda tercinta Adnan Nabil Rosyadi.

(Penuh Cinta dari Jeddah
– Sahabat, Kakak, Adik, dan Mama- )

Cerpen Majalah Femina, Judul : Namanya Aryana


Cerpen Majalah Femina Cerpen Femina
Cerpen Majalah Femina, edisi no.24/2012

Namanya Aryana. Tetangga baru, persis depan rumahku. Seorang perempuan muda yang di suatu sore datang mengendarai sedan mewah seorang diri. Turun dengan anggun dari dalam mobil. Memasuki pintu rumahnya pertama kali dengan membawa beberapa buah koper besar seorang diri.

“Saya Aryana, Mbak. Penyewa baru di rumah depan.” Sapanya dengan manis saat mengantarkan sebuah kotak kardus berisi kue tar yang bersematkan nama sebuah toko kue yang mahal.

VERSI VLOGnya sudah ada ya buat yang mau baca pakai background music dan gambar 😉

“Terima kasih Mbak Aryana. Aduh repot sekali. Mari, silakan masuk.” Aku menerima hantarannya dengan gelagapan. Dia cantik sekali. Meskipun hanya mengenakan blus sederhana berwarna merah marun dengan dandanan seadanya. Sementara aku, yang mengira pintu rumah diketuk oleh seorang kurir, muncul di hadapannya dengan daster harian dan rambut digelung keatas seadanya.

“Terima kasih, Mbak. Saya sekalian ada perlu mau pergi tadi. Ini mau nganterin ini aja. Mari Mbak, saya permisi dulu.” Dia mengangguk sopan dan melangkah pergi.

***

Rumah di depan rumahku sudah lama kosong. Hanya sesekali pemiliknya, seorang pria tua perlente yang berpostur tinggi besar, datang menengok. Sampai sekarang aku pun tidak mengenal bapak itu sama sekali.

Sebulan pertama dia tinggal, aku sudah mulai hapal. Dia berangkat kerja jam 8 pagi. Menyetir sendiri. Bunyi deru mesin mobilnya akan terdengar lagi pukul 7 atau 8 malam. Bahkan di jumat sore pun, dia nyaris tidak pernah terlambat tiba di rumah. Selalu seorang diri.

Sabtu pagi dia akan pergi. Entah kemana. Dan mobil yang sama akan membawanya kembali di hari minggu sore. Tanpa seorang pun pernah terlihat menemaninya.

Beberapa bulan berlalu. Aku mulai terbiasa dan tidak terlalu menggubris apa saja yang dikerjakannya. Setiap pagi kami biasanya saling menyapa saat aku akan mengantarkan kedua anakku ke sekolah.

Dia biasanya asyik berkutat di taman kecil di halaman rumahnya. Saat aku memarkir mobilku kembali dari sekolah, dia pun sudah duduk di belakang kemudi siap ke kantor. Klakson mobil kadang menjadi pengganti sapaan rutin kami.

“Wah, hari ini gak mendung. Cuaca bagus. Yang pinter ya di sekolah.” Kadang dia menyapa dengan sangat ramah. Atau sekedar melambaikan tangannya beberapa kali. Atau mengangkat jempol sambil mengedipkan mata pada anak-anakku. Pokoknya tidak pernah terlihat tidak acuh.

Tapi tak pernah berkembang lebih jauh. Kadang aku ingin mengundangnya ke rumah. Atau aku yang ingin duduk ngobrol bertamu di rumahnya. Tapi kapan, ya?

Tetangga yang lain pun tidak terlalu peduli dengannya. Hidup di kompleks kecil di tengah kota pun tak punya banyak waktu untuk saling menyapa.

Paling pernah sekali tetangga samping berbisik-bisik padaku saat di suatu akhir pekan, “Eh Mbak Mala, itu tetangga depanmu siapa namanya? Andina, ya? Gadis apa janda, sih?”

Aku cuma tersenyum dan menjawab singkat, “Namanya Aryana, Mbak.”

***

Dengan dua anak yang berusia 6 tahun dan 3 tahun, waktuku banyak tersita untuk mereka. Awalnya berhenti bekerja kantoran membuatku sedikit iri pada kebanyakan penghuni perempuan kompleks kecil kami yang masih berstatus sebagai pekerja kantoran.

Dari 12 keluarga di pemukiman yang dikenal dengan istilah townhouse ini, hanya perempuan depan rumahku itu yang terlihat tinggal sendiri.

Aku senang dia cukup ramah dan rajin menyapa. Ingin juga rasanya punya sahabat untuk berakrab-akrab di dalam kompleks. Repot juga rasanya kalau tiap kali ingin mengobrol santai harus menelepon sahabat-sahabatku, yang selain tempat tinggalnya cukup jauh, mereka pun rata-rata masih kerja kantoran

Tapi sepertinya perempuan yang selalu berpenampilan rapi itu sudah punya jadwal sendiri. Rutinitasnya tak membukakan kesempatan untukku agar bisa mengenalnya lebih jauh lagi.

***

“Mbak Mala, Mbak Mala, bentar, deh.” Seorang Ibu, yang tinggal di rumah paling pojok, memanggilku dari teras rumahnya.

“Iya, Mbak Rina. Ada apa?,” aku menghentikan mobil di depan rumahnya dan membuka kaca jendela.

“Itu, Mbak. Tetangga depanmu. Arina siapa gitu namanya, ya? Dia itu ternyata perempuan simpanan, lho. Tau Pak Hendy, kan?”

“Pak hendy?”

“Pak Hendy, yang udah tua tapi masih keren itu, lho.” Mbak Rina cekikikan sebentar. “Pak Hendy yang punya rumah itu. Masa Mbak Mala gak tahu, sih.”

“Oh, namanya Pak Hendy.” Aku menggumam pelan.

“Eh, masa Mbak Mala gak pernah lihat. Seminggu terakhir ini kan, Pak Hendy suka dateng ke sana. Satpam kompleks yang cerita. Terus ada juga satu laki-laki yang mudaan. Ganteng juga. Duh, cantik-cantik kok gitu, ya. Dua lho sekaligus. Ampun, deh. Ternyata, ya. Kelihatannya sempurna, tapi…” Mbak Rina mencibirkan bibirnya setelah bercerita penuh semangat.

Aku terdiam sesaat. Dengan wajah kebingungan, aku hanya menjawab pendek. “Oh, begitu”

“Ya udah, Mbak Mala nanti perhatiin, deh. Baru-baru ini aja kok dia sering kedatangan tamu. Perhatiin deh kalau malam. Dan katanya sih, sekarang dia agak kurusan. Mungkin stres. Pusing mau putusin yang mana.” Mbak Rina tertawa sinis.

Aku masih bingung mau menjawab apa. “Ya udah, kalau begitu, Mbak Rina. Terima kasih infonya. Saya permisi dulu.” Aku berusaha menanggapi sesopan mungkin. “Oiya, namanya Aryana.” tukasku pendek sebelum menaikkan kembali kaca mobil dan berlalu dari hadapannya.

***

Dua minggu terakhir ini memang aku tidak lagi berdiam di rumah. Aku diterima menjadi tutor di sebuah lembaga bahasa inggris yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Lumayan, pikirku. Anak-anak ke sekolah dengan bus antar jemput sekarang.

Aku sendiri tiap pagi sibuk depan laptop. Menyiapkan atau mempelajari materi kursus. Saat sore atau malam tiba, sudah malas mengintip lewat jendela yang sering aku lakukan saat masih banyak waktu luang tersisa.

Ternyata memang ada yang berubah. Malam itu, aku mendengar deru mesin mobil menjelang pukul 10 malam. Tergesa aku menyibak perlahan gorden di kamar tidurku. Kisah dari Mbak Rina tadi mendorongku untuk kembali mematai-matai gerak gerik si tetangga depan ini.

Seorang pria paruh baya yang sudah kukenal turun dari mobil. Betul, dialah pemilik rumah depan itu. Jadi, apa benar?

Bukan itu satu-satunya perubahan yang bisa aku tangkap. Perempuan itu muncul di teras rumah dengan potongan rambut berbeda. Dia memangkas rambutnya. Sangat pendek. Wah, padahal aku tergila-gila dengan rambut panjangnya yang hitam legam dan lebat. Tapi, dengan bantuan cahaya lampu terasnya yang benderang, aku bisa melihat…dia tetap cantik. Masih sangat cantik. Dan dia juga terlihat lebih kurus. Apa pengaruh potongan rambutnya, ya?

Pagi itu, aku mendadak kangen ingin berbasa basi dengan perempuan itu. Aku menemani anak-anakku menunggu jemputan mereka datang. Dia muncul. Bukan cuma rambut pendeknya yang menyita perhatianku, mukanya lebih pucat.
Dia hanya tersenyum datar saat aku melambai ke arahnya. Oh, sikapnya pun sudah berubah.

Aku kecewa dan seketika mengurungkan niatku untuk menghampiri dan menyapanya. Dia langsung membuka pintu mobil dan melesat pergi. Dia berangkat lebih pagi. Dia tampil kasual dengan celana jeans dan kaos berwarna putih. Biasanya selalu mengenakan setelan kantoran yang chic yang sering membuatku berpikir untuk bertanya dimana dia membelinya. Dan iya, dia memang tampak lebih kurus.

Jangan-jangan dia sudah tahu
bila dirinya sedang menjadi omongan tetangga. Apa dia merana? Entahlah, aku tak pandai menilai orang. Tapi hati kecilku merasa omongan Mbak Rina tempo hari tidak benar. Setidaknya itulah yang aku harapkan.

Seiring dengan perubahan drastis pada sikapnya padaku dan penampilan fisiknya, dia mulai terlihat jarang di rumah. Akhir pekan rumah depan pasti kosong.

Kadang tetap menyetir seorang diri dengan sedan mewah yang sama. Kadang diantar oleh si Bapak pemilik rumah yang diduga kekasih gelapnya. Tapi sering juga dia dituntun turun oleh seorang lelaki yang terlihat seumuran dengannya. Seorang pria ganteng, seperti celoteh Mbak Rina tempo hari.

Dia tidak segesit biasanya. Dia masih sering terlihat turun sendiri dari mobil. Tapi kadang pria muda itu yang membukakan pintu mobil dan menuntunnya turun. Sakitkah dia? Aku merasa iba. Tapi jika mengingat kabar tak sedap tentangnya yang berhembus makin kuat, aku jadi bingung lagi.

Akhir-akhir ini dia terlihat lebih sering mengenakan tutup kepala. Suasana malam yang gelap dan teras rumahnya yang sering dibiarkan tanpa cahaya lampu membuatku agak sulit melihat dengan jelas.

Saat aku bercerita pada suamiku, suamiku hanya memberi nasihat pendek. “Sudahlah, gak usah ikut-ikutan. Belum tentu benar, kan? Kalau penasaran, sana, tanya langsung ke orangnya. Tapi yang sopan.”

Berhari-hari aku mulai mengumpulkan keberanian untuk mencoba mengobrol dengannya. Aku menyesal. Dulu aku punya lebih banyak kesempatan. Sayangnya, saat keberanian itu sudah mulai terbentuk, dia mendadak jarang terlihat lagi. Sebulan terakhir ini, rumah depan seperti rumah kosong lagi.

Sampai pada suatu sore, pria muda yang sering terlihat datang bersamanya, muncul tiba-tiba di depan pintu rumahku.

“Mbak Mala?” ujarnya sopan saat aku membuka pintu. Aku bengong.

Dia tersenyum sambil menyerahkan sebuah bungkusan padaku. “Ini dari Mbak Aryana, kakak saya. Katanya udah lama mau ngasih, tapi lupa terus.”

“Mbak Aryananya emang kemana? Kok jarang kelihatan?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Sekarang sudah dirawat di rumah sakit, Mbak. Mbak Aryana sakit. Selama ini hanya berobat jalan, sekarang sudah berat mau bolak balik.”

Aku sempat terpaku tapi buru-buru tersadar. “Oh, begitu. Wah, berarti kontrakannya udah selesai dong.” Aku menjawab canggung dan merasa kalimatku barusan tidak nyambung.

“Rumah depan kan rumah Ayah kami, Mbak. Iya, sepertinya abis ini mau dikontrakin ke orang lain saja. Mbak Aryana sudah tidak akan tinggal disini lagi.”

Sebelum aku sempat merespons, pria muda itu langsung pamit.

[catatan : INI ADALAH CONTOH CERPEN MAJALAH FEMINA]

“Maaf Mbak, saya perlu mengambil barang-barang Mbak Aryana. Permisi, Mbak. Terima kasih, ya. Salam katanya buat anak-anaknya Mbak Mala. Raka dan Falisha, ya? Disebut-sebut terus sama kakak saya, jadi ingat.” Dia menerangkan panjang lebar sebelum beranjak pergi meninggalkanku yang diterpa kebingungan.

Aku meletakkan begitu saja bungkusan yang aku terima barusan. Terduduk dengan perasaan campur aduk di sofa ruang tamu. Aku lega, ternyata dia bukan perempuan simpanan seperti sangkaan orang-orang selama ini. Tapi sekaligus sedih. Ternyata benar, kondisi fisiknya akhir-akhir ini memperlihatkan dengan jelas. Dia memang sakit. Bodohnya aku.

Ketika aku merasa perlu memberitahu Mbak Rina dan penghuni kompleks lain mengenai kedatangan si pria muda itu ke rumahku, aku dikagetkan oleh hal lain. Aku bukan satu-satunya orang yang mengetahui soal kebenaran si penghuni rumah depan itu. Bahkan, ada banyak fakta lain yang aku baru tahu. Lagi-lagi dari Mbak Rina.

“Si Marina itu ternyata anaknya Pak Hendy. Laki-laki yang satu lagi itu saudaranya ternyata. Itu yang cerita supirnya Pak Hendy. Dia suka ngobrol ama satpam kita. Supirnya itu udah kerja lama di sana. Denger-denger udah 20 tahunan lebih.”

“Namanya Aryana,” potongku.

Mbak Rina mengibaskan tangannya. “Ya, siapa lah. Ada yang lebih hot, nih.” Mbak Rina merapatkan duduknya ke arahku. “Dia itu kanker kata supirnya. Si Andina, eh siapa tadi, Arini, ya? Dulu dia itu SMA ampe kuliah di Australia. Bandel katanya. Sekitar 3 tahun lalu dia pulang, udah sakit waktu itu. Mamanya stres, gak kuat. Terus meninggal setahun lalu. Makanya bapaknya kesel jadi si Maryana itu diusir dari rumahnya.”

“Kanker?” Aku bergidik.

“Iya, Mbak Mala. Kata supirnya sih, dia ngaku ke orang tuanya kalau dia pernah aborsi ampe 5 kali gitu, deh. Idih, kanker rahim itu kayaknya, sih. Makanya jadi orang jangan macam-macam, deh. Sayang punya wajah cantik, anak orang kaya, gak pinter bersyukur. Kualat deh hidupnya.”

Mungkin memang benar cerita-cerita itu. Konon kata bapak satpam kompleks kami, si supir ini tahu lengkap ceritanya. Bahwa bapak pemilik rumah di depanku itu murka karena istrinya memendam sakit hati yang teramat dalam karena kelakuan putrinya. Sampai akhirnya meninggal dunia. Masih untung, si bapak mengizinkan putrinya tinggal di salah satu rumah kontrakannya.

Ketika mengetahui putrinya sudah sekarat dan mulai menjalani kemoterapi yang intensif, si bapak melunak. Bergantian dengan anak laki-lakinya, dia sering mengantar putrinya berobat. Kemarahannya belum sepenuhnya sirna karena dia masih belum mengizinkan putrinya kembali ke rumah. Entah sekarang bagaimana.

Hanya sekitar setahun dia tinggal beberapa meter di depan rumahku. Tak adil aku menghakimi tahun-tahun kehidupannya yang lain. Bukan urusanku bagaimana dia menjalani kehidupannya sebelum muncul dan memperkenalkan diri di pintu rumahku.

Kalau aku yang berada di posisinya, mungkin aku sudah lama gantung diri. Malu aku sering mengeluh dengan bosannya kehidupan yang aku jalani sehari-hari. Sungguh tak mengerti bagaimana dia tetap mampu menyisihkan perhatian untuk kami.

Airmataku menitik jatuh di atas bingkai foto yang sedang aku pegang. Itu bingkai foto yang aku temukan saat membuka bungkusan yang aku terima beberapa hari lalu. Dari pria itu. Pria yang mengaku adik Aryana.

Sebuah fotoku dan anak-anakku. Nampaknya diambil dari jendela rumahnya. Dia memotret kami diam-diam. Aku lagi berjalan ke arah mobil, menggendong anak bungsuku dengan satu tangan dan mendekap anak sulungku dengan tangan satunya lagi. Aku tidak ingat kapan foto itu diambil.

Namanya Aryana. Sosok yang menyadarkan aku bahwa hidup memang tidak sesempurna yang terlihat.. We don’t judge others, for often, we don’t know the whole story. Biarlah kabar burung yang menyita perhatian kami semua menjadi urusannya dengan Tuhan. Terserah seperti apa buruknya dia di mata orang lain, aku cuma tahu satu hal yang pasti, namanya Aryana.

Cerpen Majalah Femina, edisi 24/2012

Judul : Namanya Aryana

Oleh : Jihan Davincka

Cerpen Majalah Femina lainnya –>  Cerpen “Tiga Rahasia” (by : Jihan Davincka)

***