Cinta Segitiga Pangeran Charles – Mendiang Putri Diana- Camilla

10 Februari 2005, pewaris tahta nomor satu di salah satu kerajaan di dunia yang masih bersisa itu mengumumkan pertunangannnya. Usia sang pangeran telah hampir mencapai 60 tahun, namun konon, dia berlutut ketika melamar kekasihnya. Kekasihnya sendiri bukan seorang gadis, usianya pun tak lagi muda. Usia mereka hanya selisih satu tahun.

Benar, sang pangeran akan menikah untuk kedua kalinya. Pernikahan kedua tapi bersama dengan perempuan yang sesungguhnya adalah cinta pertamanya. Yup, gosipin siapa kita kali ini? Siapa lagi kalau bukan Pangeran Charles dan Camilla.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla (Polo Match 1971), photos by Rex Feature

***

Perceraian Diana dengan Charles menghadirkan satu nama baru, Camilla. Saya tak bisa membayangkan seperti apa kehidupan Camilla di masa awal kematian Diana. Pasti keselek mulu gara-gara disumpahin sama banyak wanita di dunia 😛.

Kurang apa, sih, Diana? Cantik iya, langsing iya, tinggi iya, baik hati iya, sayang anak iya, rasa pedulinya tinggi pula kepada sesama. Why Charles? Why? Why? *alaRatuDrama*.

Apalagi waktu melihat penampakan Camilla di depan televisi. My oh my. Kagak ada cakep-cakepnya dibanding Diana. Selera berbusana Camilla pun sangat sembrono. Sementara Diana terkenal sebagai salah satu icon fashion dunia. Keanggunannya apalagi. Kalah jauh, deh.

Konon (konon melulu hihihihi, referensinya sudah lupa semua booo :P), ada dua versi mengenai pertemuan pertama Camilla dan Charles. Intinya mereka bertemu di sekitar tahun 70-71. Satu dekade sebelum Charles menikahi Diana.

***

Camilla ini gadis yang tomboy, pandai berkuda, suka berbicara (bawel :P), aktif dan kagak ada jaim-jaimnya, hehehe. Sangat berbeda dengan kelakuan cewek-cewek yang dibesarkan dalam lingkungan aristokrat. Tapi sebenarnya Camilla berasal dari keluarga yang sangat berada, lho. Dibesarkan dalam lingkungan kerajaan yang kaku dan dingin, entah mengapa Charles langsung tertarik pada Camilla remaja.

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
Charles and Camilla as a couple, 1971 (washingtonpost.com)

Tidak cuma saling tertarik, tapi pacaran *dijewerSamaUstFelixSiauw* . Hubungan berhenti begitu saja ketika di tahun 1973, sang pangeran mengikuti wajib militer. Mengapa mereka putus? Ini banyak lagi rumornya. Tapi rumor paling kuat ya karena keluarga besar Charles emoh dan merasa bahwa karakter Camilla kurang cocok jadi istri raja.

Camilla tak menunggu lama dan akhirnya menikah dengan orang lain. Charles sempat terluka dan mengirimkan surat kecaman kepada paman Camilla, Lord something gitu lah, “”I suppose the feeling of emptiness will pass eventually.”

Kekasih sudah menjadi milik orang lain, Charles pun move on. Pacaranlah beliau dengan beberapa orang sebelum akhirnya dijodohkan dengan Diana. Dunia pun bersorak ketika di tahun 1981, pernikahan Charles dan Diana dirayakan besar-besaran dan disaksikan jutaan mata melalui layar televisi.

Putri Diana
Washingtonpost.com

***

Dalam salah satu wawancara kontroversialnya di salah satu stasiun TV, Diana mengeluh terang-terangan, “There were three people in this marriage from the start. And it’s just too crowded.”

Diana pun mengakui, sebelum melangkah di depan altar, dia sudah tahu bahwa hati sang pangeran bukan miliknya. Bahkan konon, Camilla yang menyarankan Charles untuk menuruti keinginan ibunda ratu untuk meminang Diana. Di tahun 1979, Charles memang kembali berhubungan dengan Camilla. Dibiarkan oleh suami Camilla karena sang suami ini pun ternyata punya selingkuhan juga *ondeMande*.

Akhirnya, setelah sang putri tewas dalam kecelakaan maut di penghujung Agustus 1997, pelan-pelan Charles kembali menjalin hubungan dengan Camilla.

Entah pakai susuk apa ini Camilla sampai-sampai puluhan tahun berlalu, hati sang pangeran tetap tertambat. Charles pernah mengakui bahwa Camilla adalah sahabatnya. Tempatnya mencurahkan isi hati dan dia merasa cocok karena Camilla enak diajak berdiskusi soal apa saja termasuk politik, kerajaan, masalah sosial dan curhat-curhat lainnya .

Sementara menurut Charles, Diana adalah perempuan yang pendiam dan sering enggak nyambung kalau diajak ngobrol. Wallahu’alam ya. Ini fansnya Lady Di jangan unfriend eike, ya. Ini kata Charles sendiri, lho. Eike gak ngarang-ngarang hehehe.

Charles - Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)
Charles – Diana, mengumumkan perpisahan mereka (washingtonpost.com)

Masuk akal, sih. Kalau membaca biografi Camilla yang penuh warna. Teman-teman dan guru-guru sekolahnya menggambarkan Camilla sebagai perempuan gaul, cerdas dan penuh energi. Pernah sekolah sampai ke Swiss dan Perancis segala. Kalau tidak salah pernah pula berkecimpung dalam dunia jurnalis. Ya beda ‘karakter’ lah dengan Putri Diana yang dibesarkan ala bangsawan nan anggun yang berprofesi sebagai guru TK sebelum dipinang oleh sang pangeran. Diana kecil memang dikenal sangat pemalu.

Sewaktu mengetahui ternyata sang pangeran hanya berpura-pura, Diana tidak langsung menyerah. Dikuatkannya hati dan tetap melangkah di atas altar. Dengan harapan, kelak kesetiaannya akan terbayar dengan cinta sang pangeran. Sadly, it never happened 🙁.

Inilah hal yang sangat menyakitkan buat Diana, terungkap dalam salah satu ucapannya, “He never gave our marriage a chance.”

Sikap ogah-ogahan Charles sebenarnya sudah ‘tertangkap’ saat wawancara pertunangannya dengan Diana.

Anthony Carthew (ITN): And, I suppose, in love?
Lady Diana Spencer: Of course!
Charles, Prince of Wales: Whatever ‘in love’ means.

Kurang ajar banget, kan? Diana langsung mengiyakan. Sementara Charles malah mengungkapkan kalimat menggantung, “Whatever ‘in love’ means.”

Putri Diana Pangeran Charles Camilla
After decades … Finally-legally together :). Gambar : washingtonpost.com liveindia.com

***

Kita kan cuma bisa menerka-nerka dan sibuk baca-baca google ya boooo hihihihi. Yang namanya cinta kepada sesama manusia memang susah didefinisikan, susah ditebak, apalagi dikira-kira.

Bukan tugas kita menghakimi siapa pun di sini. Kisah-kisah semacam ini cukup dibaca dan dijadikan pelajaran, enggak perlu sampai jadi pikiran segala ih hehehe.

Bahwa, menghalangi dua insan yang lagi dimabuk asmara hanya karena alasan-alasan ‘duniawi’ macam enggak selevel lah, kurang ningrat lah, kurang anggun lah, tidak akan begitu saja menyelesaikan persoalan. Malah, bikin masalah baru –> rasa sakit hati lah, dendam lah, dan korban perasaan lainnya.

Wong naksirnya sama si A, dipaksa kawinnya ama si B.

Bahwa, mahligai pernikahan bukan ajang coba-coba. Kalau sang pangeran bersikap ksatria, pertahankan dong cinta anda kepada Camilla. Bukannya ‘menyerah’ dan ikut dalam sandiwara yang disutradarai oleh kerajaan.

Ingatlah akan kisah salah satu kakek anda, Edward VIII. Yang rela meletakkan tahta agar bisa mempersunting Wallis Simpson, seorang janda non ningrat asal Amerika Serikat.

Tapi, cinta Charles untuk Camilla menunjukkan satu hal, “There is something beyond physical attraction” . Konon, rasa kasih yang tidak hanya berdasar fisik semata biasanya memang lebih langgeng 🙂.

Yah, namanya juga konon. Boleh setuju boleh tidak hehe.

***

What If : Mengenang Mantan Terindah ???

Mantan terindah : Kebetulan, saya menikah dengan suami yang juga teman kuliah saat masih di bangku universitas. Kampus sama, fakultas sama. We both had a little story with someone else back then *uhukUhuk*.

Itulah mungkin salah satu enaknya menikah dengan sahabat sendiri. Karena di masa lalu punya lingkup pergaulan yang sama, kita suka bergosip tentang yang dulu-dulu.

“Eh, dulu si anu kan naksir si itu?”
“Masa, sih?”
“Iya, serius.”
“Oh, kalau soal X dulu putus asa Y tahu enggak karena apa?”
“Karena apa emang?”
“Jadi gini…”

Dan seterusnya, dan seterusnya … Tak cuma suka mengobrol soal politik, sejarah, soal anak-anak, soal duit , pasangan Gober juga hobi bener bergosip hahahahhaha.

The Gober(s) :D -2007 mantan terindah :D
The Gober(s) 😀 -2007

Gosip paling sensitif ya pasti tentang si ‘dia’ di masa lalu. Faktanya, sang mantan-mantan dengan pasangan masing-masing sekarang juga berada di daratan Eropa semua. What a coincidence 😛.

Sering, deh, ledek-ledekan dengan suami.

“Pengin jalan-jalan ke kota ABC, deh.”
“Cieeehhh, pengin ketemu itu kaleee…”
“Enak aje! Situ kali yang pengin ke negara XYZ.”

Tentang siapa mereka bukan inti tulisan ini, kok. Hahaha.

Saya barusan blogwalking ke tempat-tempat ‘langganan’ . Ketemu satu postingan lama seorang teman dengan tajuk “The One That Got Away.” Memang, judulnya diambil dari salah satu lagu popular milik Katy Perry. Isi tulisannya sangat menarik.

***

Baiklah. Saya mengakui, selama ini saya selalu menganggap pasangan saya sekarang adalah sosok yang mendekati sempurna. Enggak cuma ganteng luar biasa *eaaahhh*. Selain juga seru diajak mengobrol soal apa saja, sudah gitu kalau mengobrol bisa bikin ngakak-ngakak, dese juga tajir booooo hahahahahaha *ngikikMatre*.

Akankah uang belanja mendapat kenaikan dengan adanya paragraf sarat pujian ini? Hahahhaha *colek orang ganteng* .

Tapiii…enggak bohong juga, kadang-kadang kalau lagi iseng pernah terbersit pikiran soal si dia dari masa lalu. Semacam rasa penasaran, “What if I have never let him go…”

Ternyata saya tidak sendiri. Teman itu juga sama. Seperti saya, dia sering juga penasaran, akan seperti apa ya kehidupan seandainya kita berjodoh dengan orang lain, si dia yang sebenarnya ‘hadir’ lebih dahulu.

Kisah kami lagi-lagi sama. Kalau teman saya tidak direstui oleh keluarga mantannya, saya diputusin sama si doi huhuhu. Setelah itu ada, sih, proses rekonsiliasi, tapi intinya tetap bubar. Aduh, sedihnya waktu itu.

Bertahun-tahun memendam rasa sakit hati. Saya kepoin habis-habisan. Waktu baru kenal google, entah berapa kali namanya saya ketikkan di kolom pencarian hahahaha. Sampai jomblo pula eike dalam tempo yang tidak sebentar.

Bukan apa-apa, si doi yang itu adalah pacar pertama yang sangat diharapkan menjadi yang terakhir. Macam pepatah terkenal dari roman-roman tempo dulu, “Engkau yang pertama sekaligus yang terakhir” *tsaaaahhh*.

Hingga akhirnya, saya menghadiri pesta resepsi pernikahannya. Dan sangat kaget ketika dia memperkenalkan saya kepada istrinya, “Ini lho yang namanya Jihan.” Buset, deh. Langsung tengsin. Kira-kira dia bilang apa ya tentang saya hihihihi.

Walau sekarang kehidupan kami masing-masing terbilang bahagia dengan pasangan masing-masing, suka tidak suka, what if-what if tadi sesekali datang menghampiri. Tak jarang, ketawa-ketawa sendiri membayangkan seperti apa kehidupan seandainya waktu bisa diputar mundur dan takdir berlaku sebaliknya.

Akankah lebih bahagia? Apakah lebih seru?

Tapi kenyataannya, siapa pun dari masa lalu, mau dia lebih baik atau tidak, pasti akan selalu menjadi “The One That Got Away” dan menyisakan rasa penasaran. Tak bisa dimungkiri bila sekali waktu sebagian dari kita berharap waktu bisa berputar kembali dan menengok seperti apa kehidupan kita seandainya saja, “He/She’s Not Going Away.”

Makanya, yang masih muda-muda, dengerin deh nasihat Ustaz Felix. Mending enggak usah pacaran. Agar selamanya, what if-what if ini tidak perlu datang menghampiri hehe.

***

Tapi jangan dikira dengan adanya ‘what if’ ini bahwa kita masih menyimpan rasa lho, ya . For me, it’s totally different. Kalau ada yang bilang “First love never ends”, maka untuk hubungan antara perempuan dan laki-laki, saya menentang keras kalimat ini.

Orang sering salah mengartikan, nostalgia dengan istilah CLBK (cinta lama bersemi kembali). Walau beberapa waktu lalu, saya pernah ‘terjebak’ dalam kesalahpahaman seperti ini . Harga yang harus dibayar tidak sedikit, tapi pelajaran yang bisa dipetik juga banyak . Kapok deh ane.

Bahwa, siapa pun dari masa lalu akan selamanya menjadi bagian dari hidup kita memang tak terbantahkan. Kita tidak bisa meminta kepada Tuhan agar bagian kehidupan yang itu dihapuskan begitu saja. Tapi, tidak berarti posisi mereka akan selalu sama. Karena trust me ladies, “First love did end!”

Bahwa apa yang terjadi di masa sekarang bukanlah pengingkaran dari masa lalu. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. People do change, don’t they?

Bolehlah dulu si doi berjaya dan menghadirkan rasa kehilangan yang sangat besar ketika akhirnya dia memutuskan ‘pergi’. Tapi sekarang, walau kadang masih hadir dalam bentuk ‘what if’ tadi, “We’re so over them. Aren’t we?” 😉.

Dari dulu saya hobi banget ber-diari ria sampai terus merembet ke blog yang tak pernah disangka akan menjadi konsumsi publik. Untunglah, sebelum blog se’ramai’ sekarang, saya sudah membenamkan semua catatan-catatan hati tempo dulu.

Tidak pakai ganti status postingan ke ‘private’, langsung saya hapus begitu saja. Karena, kalau sampai terbaca oleh orang yang tidak tepat, maknanya bisa diselewengkan hehehe.

I truly believe what I have now is beyond my imagination 🙂. Dalam arti positif tentu saja. Walau ‘what if’ katanya tak terhindari, tapi masa lalu cukuplah menjadi masa lalu saja. Disimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan terpancing dengan kasih tak sampai di masa lalu. La terus kenapa situ tulis di wall/blog segala? Hahahaha.

Agar menjadi pelajaran buat kita semua dong, ya. ‘What if’ tetap akan menjadi ‘what if’, tapi yakinlah, “Old love(s) do end!” 🙂. Maybe we can not completely forget them, but we remember them in a very different way now. 

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=_vId_4r925o]

***

Lihatlah Warna pada Cahaya

Waktu kuliah, saya meniatkan untuk menyelesaikan kuliah di semester ke-7. Seorang teman bilang begini, “Model bossy kayak lo mah skripsi aje. Jangan ambil Student Project. Entar stres sendiri.”

Antara mau sok-sok mau membuktikan kalau saya ini bisa, lhooooo, diajak bekerja sama dan termakan ucapan pembimbing akademik, “Kalau mau berkarier di bidang profesional, kerja kantoran, mending ambil student project saja. Lumayan, lho, dapat ilmunya,” saya memutuskan mengambil jalur non skripsi.

Mata kuliah seminar lancar satu semester. Diantara ke-3 anggota, perempuannya cuma 1, drama bisa diminimalisir hahaha. Kami bertiga punya kelebihan berbeda-beda, sinerginya sangat bagus dan kami bertiga terbilang sukses membawakan presentasinya.

Saya gagal wisuda di bulan februari karena student project molor. Bisa diduga saya stres sendiri. Tetap memaksa memasukkan jadwal presentasi akhir untuk slot pertengahan maret.

Working with 4 others in Student Projects :D (Source : scotland.gov.uk)
Working with 4 others in Student Projects 😀 (Source : scotland.gov.uk)

Di tim kami, 2 laki-laki, 3 perempuan. Kedua teman perempuan lain, tanpa sepengetahuan saya, mengubah jadwal presentasi dengan alasan belum siap. Mudah ditebak, eike mengamuk bak singa. Tidak tanggung-tanggung, walaupun kedua teman ini terhitung kawan dekat, saya telponin satu-satu. Ini masih modal telepon umum di warnet sebelah kosan, Bo’. Waktu mau membayar di kasir, mas-mas penjaganya sampai grogi gitu, lho. Secara ya, eike berteriak-teriak kayak orang gila sekitar setengah jam. Hahaha.

Akhirnya kami tetap presentasi juga. Hanya mundur 2 minggu. Begitu lulus, saya sudah niatkan untuk mentraktir teman satu tim, hitung-hitung sebagai sedikit permintaan maaf atas tingkah laku yang sangat menjengkelkan nan gengges selama proyek itu berlangsung hihihihi. Padahal dana super tiris. Dua bulan terakhir itu saya memutuskan untuk cuti mengajar sebagai tutor matematika untuk anak-anak ekspat. Mau konsentrasi biar beneran bisa lulus februari.

Apa hendak dikata, walau akhir maret dinyatakan lulus secara akademik, saya tetap harus membayar uang kuliah di semester 8 walau tak ikut kuliah lagi. Tapi happy ending juga, langsung dapat kerja. Alhamdulillah.

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Mungkin karena itu saya tak pernah punya banyak teman dekat. Enggak pernah punya geng perempuan. Abisnya, dikit-dikit pundung, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngamuk. Siapa pula yang mau berteman dengan orang gila? 😀.

And then… I came to Jeddah. Hidup sehari-hari berteman tembok dan waktu itu belum maksimal hobi menulisnya, memaksa saya untuk mau tak mau kudu bergaul lebih intensif. Kaget juga dengan lingkungan baru ini.

Waktu mencoba berbasa-basi dengan seorang teman, sambil tersenyum seimut mungkin, “Wah, tasmu bagus, lho, Mbak.”

Dia menjawab cepat, “Iya. Di Indo ini harganya 24 juta! Kalau di Jeddah cuma 4000 riyal.”

Langsung syok, gak lo? Hahahaha. Apa-apaan ini?

Belum lagi waktu saya bertanya soal sofa.

“Beli di IKEA saja,” kata salah seorang teman. “Eh, tapi mahal, sih. Kan kamu baru datang. Sudah, menabung dulu saja. Kita-kita aja dulu nunggu 2 kok baru beli sofa. Mending uangnya ditabung buat beli rumah di Jakarta. Pasti belum punya rumah kan di Jakarta?”

Aduh, kalau tidak ingat lagi di Negeri Orang, rasanya pengin cakar-cakar muka waktu itu! hahahahaha. Sombong amat, pikir saya.

Berhari-hari saya mengeluh pada suami. Minta pulang ke Jakarta lah, menganggap mereka semua enggak asyik diajak berteman, dan bla-bla-bla lainnya.

Suami saya hanya menjawab dengan satu kalimat, “Berhari-hari kok cuma bisa melihat jelek-jeleknya orang saja. Ayolah, baru juga kenal. Lagian, apa kamu sendiri tidak punya sifat jelek?”

Plak! Berasa ditampar keras. Saya jadi berpikir-pikir. Astagfirullah. Kalau diingat-ingat, selama masa-masa perkenalan pun, saya terhitung sudah berani membully orang. Kebiasaan lama, suka ngeledekin orang depan umum. Suka berbicara dengan nada pedas nan tajam.

Misalnya, nih, ada teman menyodorkan masakannya dan bertanya, “Gimana, enak, gak?”

Teman-teman lain tanpa pikir-pikir langsung merespons, “Enak, kok. Enak banget. Rasanya pas.”

Saya dong, tembak langsung, “Kurang garam gini kaleeee…” <— minta ditampol gak, tuh? 😛.

Pelan-pelan saya mengubah cara berpikir saya. Agak berat, karena sudah ngelotok terlalu lama. Tapi keterpaksaan membuat semuanya kudu dilewati. Kalau enggak punya teman, bunuh diri aja kali tinggal di Jeddah hihihihi.

Bulan demi bulan, perubahannya mulai terasa. Bergaul lebih dekat dengan mereka. Mulai mengesampingkan hobi sebagian besar mereka yang sangat bertentangan dengan falsafah hidup saya *tsaaahhh*. Pelan-pelan mulai kelihatan, mereka punya keunikan masing-masing dan sarat dengan kebaikan yang selama ini tertutup karena eike sibuuuuukkkk aja nyari yang jelek-jeleknya 🙁.

Lucunya, malah berteman akrab dengan salah satu madam yang dikenal sebagai ratu belanja . Saya juga bingung, kok bisa senang sekali mengobrol dengannya. Seru aja gitu. Paling suka main-main ke rumahnya. Ngobrol lama gak kerasa, malah santai saja ngabisin kue-kue bikinannya <— tidak tahu diri 😛.

Walau tak suka belanja, sesekali saya ikut tur bersama mereka. Ampun dah para madam. Begitu keluar dari toko, saya pasti sibuk nyari bangku, dengkul pegal-pegal pengin istirahat sebentar. Mereka, seolah enggak ada capeknya, begitu keluar pintu, langsung sibuk jelalatan cari toko mana lagi yang bisa dimasukin. Hahahaha *ketawaStres*.

Shopping Ladies :D (Source : www.clipofart.com)
Shopping Ladies 😀 (Source : www.clipofart.com)

Mereka juga jago-jago masak. Tidak segan-segan mengadakan cooking class di rumah mereka, menyediakan waktu-tenaga-biaya pribadi dimana biasanya yang benar-benar memasak cuma 2-3 orang, sisanya (sekitar 6-8 orang) ngerumpi la yauuwww hehehe.

Seorang yang usianya jauh lebih muda juga menunjukkan bahwa usia bukan ukuran kedewasaan. Suatu kali kami terjebak dalam perselisihan sengit. Teman ini yang paling tenang dan tidak ikut-ikutan, tetap berkawan baik dengan kedua kubu yang sudah benar-benar saling meledak. Good for her 🙂.

Seorang yang lain mengajarkan keikhlasan, setia menolong dalam hal apa pun, kapan pun, kepada siapa pun . Ah, ya ampun, saya sering berpikir jangan-jangan berteman dengan saya adalah cobaan buat mereka hehehe.

Makanya, bukan hanya kesadaran bahwa kepindahan kami di awal tahun ini akan menciptakan jarak sedemikian jauh dengan kedua kota suci Mekkah dan Madinah yang membuat kami sempat ragu apakah akan pindah atau tidak. Minggu-minggu pertama yang terasa sulit beradaptasi dengan mereka malah menjlema menjadi minggu-minggu perpisahan yang penuh drama. Mewek melulu. Sedih banget rasanya, seumur-umur enggak punya geng, ternyata takdir membawa kami pergi menjauh dari mereka.

Source : www.bigstockphoto.com
Source : www.bigstockphoto.com

Kami? Iya, karena suami saya juga begitu. Menurut suami, “Di Jeddah enak, ya. Karena kita temenannya benar-benar antar keluarga. Suami saling cocok dengan suami. Istri-istri juga begitu. Anak-anak apalagi.”

Walau saat perpisahan di taman dan saat di bandara, eike steril dari airmata, tidak berarti kesedihannya sudah padam. Cuma ya, malu saja rasanya kalau saya membiarkan perasaan mengambil kendali. Ih, gengsi dong, menangis bombay depan umum. Jaga wibawa *benerinPoni*.

Tidak berarti setelah mengenal mereka saya akan mengubah prinsip. Eit, keluarga gober is keluarga gober . Justru berada di tengah-tengah geng elit ini mengajarkan kami, hey, berteman tidak mesti seragam, lho . It’s ok to be different . Lagian mana seru, satu bawa Nissan, semuanya ikut-ikutan. Satu pakai LV, semuanya membebek. Sesekali perlu ada yang pakai Yaris dan pakai tas Jarir biar bisa jadi bahan lucu-lucuan .

Kalau satu kelompok semuanya orang narsis ya mana seru. Kalau semuanya diam, ya siapa dong yang ngajak ngakak-ngakak. Kalau semuanya bawel, siapa dong yang bertugas mendinginkan suasana . Bahkan untaian pelangi terlihat indah karena ada 7 warna berbeda yang merekat menjadi satu yang digambarkan dalam sebuah lirik, “Pelangi, pelangi alangkah indahmu … merah, kuning, hijau, di langit yang biru.”

Kalau cuma satu warna namanya bukan pelangi . As “Strength lies in differences… not in similarities” .

my angels jeddah

***

Bodoh kalau mengira kita hanya akan bisa berteman dengan baik dan benar dengan orang-orang yang serupa dengan kita 🙂.

Saya pun terlalu sering mengeluhkan banyak hal. Waktu student projects kuliah, saya lupa. Diantara semua anggota, hanya saya yang ngebet pengin lulus. Sisanya masih harus berjuang di Kerja Praktik. Saya paksakan mereka berpacu mengikuti cara saya. Saya anggap mereka yang tak cakap. Tak konsisten lah, egois lah, padahal coba yaaaa … *sodorin kaca ke diri sendiri*.

Di Jeddah, saya gampang betul memberikan penilaian buruk kepada teman-teman baru saya waktu itu. Padahal lupa, memangnya situ sudah sempurna?

Ingat dong, sama-sama manusia … seperti tercantum dalam salah satu ayat suci, “Manusia, tempatnya salah dan lupa.” Berlaku untuk semua orang yang merasa dirinya manusia . Situ bukan malaikat, kan? 😛.

Allah sudah menciptakan tiap insan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pandai-pandai mengenali kekurangan diri sendiri sebelum menuntut kesempurnaan dari orang lain. Lagipula, manusia yang sempurna bukanlah seseorang yang tak pernah berbuat salah. Tapi mereka yang berbuat salah kemudian menyadarinya dan meminta maaf dengan tulus . Walau sulit, lebih sempurna lagi bila berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama .

Maka dari itu, menjelang ramadan yang akan segera berakhir ini, saya meminta maaf ya kalau ada salah-salah kata atau pun status yang menyinggung, baik yang disengaja maupun yang sangat disengaja hehehe .

Untuk madam-madamku di Jeddah, “If there ever comes a day when we can’t be together keep me in your heart, I’ll stay there forever (Winnie The Pooh)” As for me, you all are forever in my heart  (macam menggombal ke pacar saja, ya, hehehe).

Akhir kata, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Tidak berarti kalimat ini menandakan akhir ramadan karena masih ada waktu lho untuk memanfaatkan jam-jam terakhir untuk terus mengais amal di bulan penuh rahmat ini . Dengan harapan yang seragam … “semoga Allah menerima amalan kita semua.”

Amin, amin ya rabbal aalamiin :).

***

Every Woman’s Best Man

Di agama Islam ada sebuah hadis yang menceritakan ketika seseorang datang kepada Rasulullah untuk menanyakan, kepada siapakah dirinya harus berbakti. Rasulullah menjawab, “Ibumu … kemudian ibumu. Kemudian ibumu, lalu ayahmu…”

Tiga kali berturut-turut nama kata ibu disebut-sebut barulah kata ayah dimunculkan. Apa ini berarti seorang ayah tidak lebih penting daripada ibu? Belum tentu.

***

Cerita pewayangan memperkenalkan kita pada tokoh Begawan Bagaspati. Nama aslinya, Bambang Anggana Putra. Seorang ksatria tampan yang dikutuk menjadi raksasa oleh seorang dewa di khayangan. Saking saktinya, Anggana Putra pernah berhasil menaklukkan seorang raksasa hebat (Candrabirawa).

Candrabirawa akhirnya bersemayam dalam diri Anggana Putra yang membuat Anggana tidak akan bisa mati kecuali atas keinginannya sendiri. Ajian sakti mandraguna, Candrabirawa sendiri, boleh diwariskan oleh sang pemiliknya nanti.

Anggana Putra sebenarnya pria yang tak cuma sakti namun juga santun. Konon, kesalahpahaman akibat hobi becandanya yang membuat sang dewa murka. Aih, kudu ati-ati ini kalau begini *langsungNgaca* .

Padahal, undangan ke khayangan bagi Anggana Putra adalah memintanya memilih salah satu bidadari di sana untuk diperistri. Anggana Putra langsung meminta maaf ketika berkelakar, mengatakan akan memilih istri dari sang dewa (becandanya nekat bener *ngelapKeringat*).

Walaupun pundung, Sanghyang Manikmaya tetap memenuhi janjinya untuk mengizinkan Anggana Putra mencomot salah satu satu bidadari di khayangan. Dipilihlah Dewi Dharmastuti. Masih menahan amarah, sang dewa memberi ultimatum, “Setelah sang hapsari melahirkan anakmu, dia akan meninggalkanmu kembali ke khayangan.”

Tak hanya harus menanggung kutukan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang raksasa, Anggana Putra juga harus menduda ketika akhirnya Dharmastuti melahirkan seorang anak perempuan.

Anggana Putra mengikhlaskan takdirnya. Memilih hidup tenang sebagai raksasa bijaksana, seorang diri membesarkan Pujawati, buah hatinya bersama sang hapsari, dengan segenap cinta. Saking luar biasanya asuhan sang ayah, Pujawati tak pernah merasa merana karena ditinggal ibunya. Her life was just … perfect .

Nama Anggana Putra pun berganti … Resi Bagaspati. (Resi = Begawan)

Pujawati mewarisi kecantikan seorang bidadari, turunan dari ibunya. Singkat cerita, terjadi pertemuan antara Pujawati dengan seorang pria tampan. Naksir-naksiran terus jadian. Bahkan, akhirnya menikah. Pria yang menikahi Pujawati bukan pria sembarangan. Melainkan seorang calon prabu yang waktu itu masih bernama Narasoma.

Konon, Narasoma kaget dan tidak siap ketika mengetahui calon bapak mertua ternyata seorang raksasa. Sementara Narasoma adalah pewaris tahta sebuah kerajaan. Malu dong la yaowww punya bapak mertua seorang raksasa.

Bagai buah simalakama, cintanya pada Pujawati sudah kadung mendalam. Sekian lama menyimpan kegelisahan, Narasoma pun curhat ke Pujawati. Agar tak menyakiti pujaan hati, Narasoma mengatakan kegalauannya dalam bentuk teka teki.

Pujawati yang bingung, balik curhat ke sang ayah. Bagaspati, bukan resi biasa. Kebijaksanaannya yang tinggi membuatnya langsung mengerti maksud sang calon menantu.

Sembari curhat soal Narasoma, Pujawati pun mengungkapkan besarnya rasa cintanya pada Narasoma, “Aku takut ayah, dia akan pergi meninggalkanku. Bantu aku. He means everything to me.”

Permintaan Pujawati tidak main-main. Bagaspati awalnya berusaha menasihati putrinya perihal perangai Narasoma yang menurutnya tak menunjukkan seorang laki-laki yang patut. Pujawati malah bete.

Namun, peribahasa yang mengatakan, “Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan” menuai kebenarannya dalam kasus ini. Bagaspati menyadari, kebahagiaan putrinya adalah tujuan hidupnya.

Bagaspati tak perlu waktu lama untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya. Dipanggilnya Narasoma. Narasoma sebenarnya keki juga karena Bagaspati mengetahui maksud hatinya dengan mudah.

Sebelum meninggal, Bagaspati sudah memanggil Candrabirawa keluar dari raganya. Tadinya, Candrabirawa enggan untuk berpindah tangan kepada anak muda yang dianggapnya sebagai sosok yang sombong dan mementingkan diri sendiri. Selama ini, Candrabirawa sudah nyaman bersemayam dalam tubuh sang resi nan bijaksana.

Bagaspati meyakinkan Candrabirawa, “Bagaimana pun, dia pria pilihan putriku.”

Candrabirawa akhirnya bersedia diwariskan kepada Narasoma. Sebelum merelakan nyawanya di tangan keris Narasoma, Bagaspati memintanya bersumpah, “Menantuku, walau putriku hanya anak gunung, tolong jangan kau sakiti dirinya nanti jika kelak kau menjadi raja. Berjanjilah untuk menjaga cintanya seumur hidupmu.”

Karena memang naksir berat, Narasoma langsung iya-iya saja. Apalagi dia pun bernafsu memiliki ajian Candrabirawa. Usailah hidup sang resi di tangan calon menantunya. Narasoma sukses mempersunting Pujawati dan mendapatkan ajian sakit mandraguna.

Kelak, Narasoma memang menjadi orang penting dalam kisah Mahabharata. Gelarnya adalah Prabu Salya. Prabu Salya sendiri akhirnya takluk di tangan Yudistira. Candrabirawa memang bisa dikalahkan oleh ksatria berdarah putih yang tidak memiliki nafsu duniawi.

***

Versi ‘modern’ dari kisah Bagaspati mungkin bisa kita lihat di film Armageddon. To be honest, walaupun pencinta drama, ane kagak demen ama ni film dan tidak pernah tuntas menonton. Tapi sinopsisnya kira-kira mirip kan, ya? CMIIW .

Seorang ibu tentu punya tempat istimewa di sudut hati terkhusus dalam benak masing-masing anaknya. Namun, tak berarti cinta Ayah terkesampingkan . Tiap anak adalah buah hati dari 2 orang sekaligus, ayah dan ibunya.

Salah satu keinginan terbesar seorang perempuan di hari pernikahannya, selain hadirnya calon mempelai laki-laki, adalah berada di samping ayahanda tercinta. Bersyukurlah bagi yang diberi kesempatan untuk menghadapi hari bahagia itu dengan kehadiran kedua pria terbaik tersebut.

Sementara, sebagian perempuan hanya sebatas memimpikannya saja.

Gambar : searchquotes.com
Gambar : searchquotes.com

Bakti kepada ibu tidak melupakan kita pada kasih ayah, kan? . As for most women, a father is always be their best man.

Menuju sepertiga ramadan terakhir, selain bersungguh-sungguh memanfaatkan momentum suci untuk meraup amal semaksimal mungkin, jangan lupa mendoakan selalu kedua orang tua, ya. Baik ibu maupun ayah. Whether they’re still here with us or not .

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”

Artinya :”Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”

***

Every MakGer Has Her Own Story

MakGer tidak ada hubungannya dengan Mick Jagger :D. MakGer, emak blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak-emak Blogger, baru saja menuntaskan perhelatan akbar, Pemilihan Srikandi Blogger 2013. Maaf untuk para blogger pria, ini khusus untuk penulis blog perempuan saja. Peranan apa yang mereka mainkan sehingga memunculkan kompetisi untuk meraih mahkota ‘Srikandi Blogger’ ini? Apa istimewanya para MakGer ini?

Gambar : emak2blogger.web.id
Gambar : emak2blogger.web.id

Kekuatan Sharing via Blog

Era digital menggiring kita ke era kebebasan informasi. Saya ini termasuk yang sering banget  mengandalkan bantuan si kamus serba ada alias “Mbah Google” dalam soal apa pun. Termasuk saat saya sudah menyandang status Ibu dimana urusan anak otomatis menjadi prioritas penting dalam kegiatan sehari-hari.

Menjadi Ibu di zaman sekarang ini referensinya banyak dan mudah didapatkan secara gratis dari berbagai situs. Misalnya saat anak demam, muntah-muntah, dan diare. Kadang-kadang, bukannya ke dokter, saya malah googling dulu. Hehehe.

Masalah anak bukan cuma kesehatan saja, kan? Soal yang lain juga komplit dan mudah diakses hanya dengan memainkan jemari di atas keyboard saja.

Salah satu referensi andalan saya adalah blog. Terutama blog yang ditulis oleh beragam ibu-ibu di seantero nusantara. Melalui blog, saya leluasa meraup informasi berdasarkan pengalaman langsung dari sesama emak-emak. Saya bersyukur berkat membaca beberapa pengalaman mereka via blog tentang alergi pencernaan yang dialami anak-anak mereka membuat saya akhirnya menemukan jawaban atas alergi yang juga dialami oleh anak sulung saya.

Informasi makanan anak juga lengkap. Mulai dari panduan memilih bahan makanan sejak usia 6 bulan, variasi resep makanan si kecil, hingga tips-tips ketika si kecil memasuki fase GTM. Seiring dengan seru dan ramainya topik yang didiskusikan seputar perkembangan anak ini, memunculkan banyak istilah-istilah lain selain GTM, seperti : Clodi, MPASI, MPASU, Sufor, RUM, dsb. GTM sendiri artinya Gerakan Tutup Mulut. Segala sontekan ini sudah bisa diintip jauh sebelum sang anak hadir di dunia.

Blogger perempuan tak pernah mati gaya dalam berkisah. Sebelum melepas masa lajang, saya sering mengintip kisah-kisah persiapan pernikahan. Tak sedikit blogger perempuan yang mengabadikan perjalanan momen pernikahannya dalam blog. Mulai dari memilih venue, seserahan, model baju pengantin, dsb. Bercerita lengkap dari prosesi lamaran hingga resepsi digelar. Secara terperinci menjelaskan secara detail di mana berburu barang-barang seserahan. Konsep foto pre-wedding pun tidak ketinggalan. Lengkap dengan pilihan tempat untuk menjahit kebaya pernikahan, dsb.

Female Blogger(s) are 'in action'
Female Blogger(s) are ‘in action’ (gambar dari berbagai sumber / tercantum dalam gambar)

Perempuan dan Peer Pressure

Konon, perempuan tak mudah lepas dari peer pressure. Kita mengira segala drama persaingan ini akan berakhir ketika bangku sekolah sudah ditinggalkan.

Memasuki dunia emak-emak, ‘kompetisi’ berlanjut ke masalah anak. Tren ini pun dialami oleh para emak-emak blogger. Tadinya di masa lajang sering menulis tentang diri dan sekitar saja. Ketika hamil mulai rajin mencatatkan minggu demi minggu kehamilannya. Apalagi di kehamilan pertama.

Setelah berstatus resmi sebagai ‘Ibu’, isi blog mulai didominasi oleh perkembangan anak.  Selain untuk merekam kenangan, bisa menjadi referensi buat perempuan lain yang akan atau tengah menghadapi pengalaman serupa.

Terkadang tujuan utama sekadar ingin berbagi cerita. Lama kelamaan menjelma menjadi ajang persaingan. Mulai was-was sendiri melihat berat badan anak dibandingkan dengan berat badan anak si anu. Mengapa anak sendiri usia satu tahun berdiri pun belum tegak, tapi membaca kisah ibu lain di blog yang anaknya sudah berlari di usia 13 bulan.

Awalnya ingin berbagi serunya menyaksikan sendiri perkembangan anak karena memilih menjadi ibu rumah tangga. Namun, kebanggaan berlebihan membuahkan hujatan pada mereka yang berbagi masalah perawatan anak dengan para pengasuh.

Maksud hati ingin menyemangati ibu-ibu lain agar memberi ASI pada anaknya sekaligus berkampanye. Malah sering tak sadar menghakimi mereka yang tak mampu mengemban tugas menyusui anak dan beralih ke susu botol.

Sebuah buku mengenai parenting style, “Battle Hymn of the Tiger Mother” yang ditulis oleh Amy Chua, sempat menjadi menghebohkan kalangan ibu-ibu. Tak sedikit blogger perempuan yang mereview buku tersebut dan menghadirkan kompetisi baru antara ‘western parenting’ vs ‘eastern parenting’. Ada yang masih ingat? :).

Uniknya, perselisihan ‘klasik’ ini tak kalah serunya di dunia maya. Bermunculannya emak-emak blogger dari segala penjuru memungkinkan kita untuk memantau langsung kehidupan mereka sekaligus anak-anaknya. Jangankan anak tetangga, anak orang lain yang tinggal berjarak ratusan mil di sana terasa dekat dengan bantuan sebuah layar komputer saja.

 

mommies war all
(Gambar : dari berbagai sumber / tercantum dalam gambar)

Mengapa bersusah payah meributkan perbedaan yang sampai kapan pun pasti akan selalu ada? Kita sering melupakan satu persamaan besar kita. Kita semua sama-sama PEREMPUAN :). Fokus saja pada itu.

Bersatu di Bawah Naungan “Kumpulan Emak-emak Blogger”

Saya masih termasuk anak bawang dalam “Kumpulan Emak-emak Blogger.” Begitu bergabung, langsung berada dalam keramaian suasana  menjelang tahap akhir seleksi “Pemilihan Srikandi Blogger 2013.”

Saya sendiri tak ikut mendaftar. Saya sempat ciut. Saya pikir, “Ah, ini pasti yang dipilih nanti ibu-ibu yang banyak menulis tentang opini yang susah-susah.” Pasti bukan emak-emak blogger yang lebih sering menulis tentang anak-anak dan hal ringan lainnya seperti saya.

Ternyata…saya terkecoh. Dalam Kumpulan Emak-emak Blogger kita tidak melulu diminta untuk menulis hal yang ‘keren-keren’, misalnya opini tentang politik, kesetaraan gender dan topik-topik ‘tak ringan’ lainnya. Terbukti dari pemilihan para finalis Srikandi Blogger 2013 yang tidak didominasi oleh kalangan tertentu.

Finalis SB2013 (Gambar : dari Grup Facebook "Kumpulan Emak2 Blogger")
Finalis SB2013 (Gambar : dari Grup Facebook “Kumpulan Emak2 Blogger”)

Sebagian adalah ibu rumah tangga yang tak lelah berbagi pada dunia di tengah pertarungan sehari-hari mengurus anak, suami dan rumah. Salah satunya adalah Mak Eka Putri, yang aktif berkampanye “Stop Kekerasan pada Anak.” Ada juga Mak Myra Anastasia yang aktif menulis untuk mengikat kenangan tentang banyak hal termasuk kedua buah hatinya, Keke dan Naima :).

Apa hanya ibu-ibu rumah tangga saja yang berhak mendapat apresiasi lebih? Tidak, tuh :). Di jejeran finalis, ada Mak Diadjeng Laraswati, seorang karyawati yang juga hobi travelling dan fotografi. Tak ketinggalan seorang aktivis kemanusiaan dari Aceh yang kini aktif di UNDP, Mak Alaika Abdullah. Satu lagi nih, ada Mak Nchie Hanie. Selain hobi memasak dan nge-blog, emak satu ini juga berkecimpung di bisnis lain yang masih berhubungan dengan dunia online.

Ibu-ibu lain yang aktif berkiprah di ‘luar rumah’ tapi tidak berkantor ada beberapa. Ada seorang penerjemah paruh waktu, yaitu Mak Dina Begum. Mak Winda Krisnadefa malah menggagas sebuah komunitas yang bernama “Kampung Fiksi.” Cita-citanya ingin membagi semangat menulis fiksi untuk anak-anak usia sekolah. Jangan lupa masih ada Mak Shinta Ries, yang memiliki keahlian untuk mendesain web dan blog.

Finalis yang sangat mencuri perhatian saya adalah Mak Anazkia. Di sela-sela aktivitas pekerjaannya di Negeri Jiran, emak satu ini mempunyai program yang sangat layak diacungi jempol. Dia bercita-cita untuk menyalurkan buku ke seluruh wilayah nusantara.

Idola lain saya adalah Mak Oktaviani Nur Hasanah dari Kepulauan Selayar – Sulawesi Selatan. Bukan karena saya berasal dari propinsi yang sama, lho. Tapi terkesan dengan prinsipnya yang menekankan pentingnya berbagi mengenai hal-hal positif saja. Emak satu ini katanya sering menjuarai lomba blog mengenai kuliner atau kecantikan yang pernah membawanya ke Thailand segala.

Kesepuluh ‘Srikandi’ ini menjadi bintang di malam final yang berlangsung pada tanggal 28 April 2013 lalu. Saya, nun jauh di sini, hanya bisa menyaksikan kemegahannya melalui foto-foto yang tersebar di blog Kumpulan Emak-emak Blogger dan di Facebook.

Gambar : facebook.com/groups/KumpulanEmak2Blogger/
Gambar : facebook.com/groups/KumpulanEmak2Blogger/

Didukung oleh sponsor-sponsor besar, ini bukan acara ecek-ecek. Salah satu sponsornya adalah ACER. Sebagai mantan pekerja IT, saya tahu pasti bahwa ACER adalah brand komputer yang berskala internasional. Sponsor lain yang tak kalah gemerlapnya adalah Rinso. Saya pernah menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan yang memproduksi dan memasarkan Rinso. Home care brand satu ini termasuk produk andalan yang cukup laris di tanah air.

Yang akhirnya berhak memperoleh mahkota sebagai “Srikandi Blogger 2013” adalah Mak Alaika Abdullah. Mak Alaika akan menjadi perwakilan KEB di Asean Blogger yang berlangsung di Solo.  Berdasarkan vote, “Srikandi Favorit 2013” diraih oleh Mak Anazkia. Sedangkan vote yang lain memenangkan Mak Myra Anastasia sebagai “Srikandi Persahabatan 2013.”

Ketiga pemenang ini tentu saja banjir hadiah dari Acer, Rinso, maupun sponsor lain yaitu produk kosmetik Wardah. Ada touchscreen notebook, laptop, paket Rinso, kosmetik dll. Ketujuh finalis lainnya pun tidak pulang dengan tangan kosong. Ketujuh finalis masing-masing memboyong sebuah televisi dan hadiah dari Rinso maupun Wardah.

Ada 2 pemenang lain diluar kesepuluh finalis tadi. Mak Haya Aliya Zaki mendapat predikat “Blogger Inspiratif”. Gelar “Blogger dengan Lifetime Achievement” disematkan pada Mak Yati Rachmat. Masing-masing berhak atas sebuah televisi + paket Rinso dan Wardah.

Pemenang SB203 (Gambar : emak2blogger.web.id)
Pemenang SB203 (Gambar : emak2blogger.web.id)

Every MakGer Has Her Own Story

Every MakGer has her own story. Mainkan jemari di keyboard laptop/netbook/tablet atau apa pun ‘senjata’ yang para MakGer miliki. Menangkan hati pembaca tanpa perlu mengarahkan telunjuk kepada pihak mana pun. Jadilah srikandi-srikandi penebar inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif.

Jangan takut untuk menuliskan hal-hal yang kelihatannya sepele. Memaksakan diri untuk menulis opini-opini mengenai topik ‘berat’ tidak selalu menjadi pilihan bijaksana. Jadilah diri sendiri. Berikan sentuhan unik pada cerita-cerita kita. Kumpulan kisah yang berbeda-beda dari berbagai MakGer akan menjadi warna warni tersendiri dalam dunia blogger.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan sehelai daun kering yang tersia-siakan oleh angin bisa dipungut dan dijadikan kerajinan tangan berupa pembatas buku yang cantik :).

“One person can make a difference, and everyone should try.” ― John F. Kennedy

Mari bergabung dengan barisan MakGer. Siapkan diri menjadi penantang di kompetisi besar “Srikandi Blogger” di tahun-tahun mendatang ;).

***