Dulu bingung kalau menonton video klip lagu “Anything” dari 3T. Yuhuuu, abege 90an masa iya enggak tahu 3T? 3T itu lhooooo, ponakan-ponakannya Om Jacko yang kece-kece itu. Kece di masanya tentu saja :D.
Saya pikir mungkin mereka berhemat jadinya hanya menggunakan satu model perempuan.
Di video klipnya, model ceweknya hanya satu. Sementara kan lagunya macam lagu cowo-cowo patah hati gitu. Tapi tiga-tiganya patah hatinya sama SATU perempuan gitu? Sudah semacam curiga ini simbol apa kali ya hanya make satu model doang? read more
Sebosan-bosannya saya dengan tulisan “Every Mom Has Her Own Battle ini” ini hahahhaha, tetap saja beberapa hari lalu rasanya harus di-share untuk ‘menghibur’ seorang kawan yang merasa terintimidasi oleh salah satu video emak-emak yang sempat go viral beberapa waktu lalu :D. Eh, videonya kemudian bangkit lagi 2 hari lalu hihihi.
Ditanggapi sebagai : Working Mom vs Stay at Home Mom :D. Again and again, yaaaaaa :p.
Saya nonton videonya padahal pesannya tuh tentang pentingnya memberi hari libur yang layak kepada para asisten rumah tangga dan tidak serta merta mempercayakan semua-muanya kepada mereka. Tapi saya perhatikan sebagian teman saya memang share videonya sebagai justifikasi “hebatnya menjadi stay at home Mom.” Enggak nyambung sebenarnya sama isi videonya hehehe. Tapi ya sudahlah, penerimaan orang kan beda-beda.
Maaf ya, ilustrasi tulisan ini pakai foto-foto pribadi yang sebenarnya enggak ada hubungan dengan video hahahaha. Malas ah share videonya :p. Tidak ingin memperkeruh acara #gagalPaham ini :D.
Ceritanya lagi nemenin anak browsing hihihi
Untuk saya pribadi, sudah cukup saya melihat bukti nyata ibu-ibu yang tetap hebat walau harus berkarier di luar rumah. Dua diantaranya adalah kerabat yang cukup dekat, lho. ANak-anak mereka sudah tumbuh dewasa dengan kapasitas di atas rata-rata menurut saya ;). Sayang, tak enak mau sebut nama. Belum minta izin :D. Sebaliknya, ada juga contoh ibu-ibu yang ‘stay at home’ yang (maaf) tidak menunjukkan hasil yang cukup :). Saya juga kenal langsung dan melihat dengan mata kelapa sendiri.
Adapun jika saya memilih menjadi yang ‘stay at home’ ya terus kenapa? Jadi keren gitu? hehehehe. Ya situasi-kondisi-pemikiran-pilihan pribadi saja lah ^_^.
Alhamdulillah, some of us did not have to stay away from our children/home for some extra cash ;). Alhamdulillah, dengan tetap berada di rumah masih ketemu cara untuk membahagiakan diri sendiri. Alhamdulillah, semua kebutuhan materi tercukupi cukup dengan suami saja yang harus wara wiri di luar rumah hehehehe.
Tapi pernahkah terpikir mengenai kehidupan seorang ibu tunggal misalnya? Pernahkah terpikir bahwa bukan ibu tunggal pun kadang memaksa seorang Ibu ‘turun gunung’ untuk menopang ekonomi keluarga. Bukan semata-mata karena lari dari tanggung jawab mengasuh anak, kan? :).
Alhamdulillah, jika sebagian dari kita diberikan berkah lain berupa potensi untuk memberikan ‘lebih’ kepada lingkungan sekitar di luar lingkungan keluarga. Apalagi ada kondisi internal yang memadai. Suami mendukung penuh misalnya. Anak bisa dititipkan pada kerabat atau mendapat embak yang oke punya ^_^. Why not?
Ceritanya ini mama mau berangkat bekerja :D. Working Mom nih maksudnya
Tapi adakah terlintas mungkin ada juga orang yang punya potensi sama tapi lebih memilih di rumah saja sama anak-anak? Boleh dong yaaaa ^_^. Atau mungkin potensinya justru dalam rumah. Hobinya masak atau bikin kue misalnya. Dia tidak berniat membuka bisnis katering sih tapi boleh kan kalau dia hobinya di dapur.
Orang-orang kayak gini jadi berkah tersendiri buat tetangganya yang ogah nge-dapur hahahahaha. Di Jeddah dulu, tidak tanggung-tanggung, 3 tetangga Indonesia saya jagoan dapur semua. Depan rumah spesialis masakan Makassar asal daerah saya. Yang lantai 5 masterchef hampir semua masakan khas Indonesia. Ajegile, bikin mie goreng biasa saja bisa bikin suami saya klepek-klepek hihihi. Yang lantai 1 senang berbaking ria.
Adalah saya yang tidak tahu diri dan kerjanya hanya menerima kiriman saja hahahhahaha. Aku padamulah ya emak-emak Mushirifah. Kapan-kapan harus reuni khusus berempat, kalian masak, gue yang makan! Hahahhahaha.
Alhamdulillah, jika sebagian dari kita tinggal di rumah pun bisa tetap mengisi kantong sendiri tanpa harus meninggalkan anak-anak. Apalagi memang sudah hobi dan malah bikin kita makin hepi.
Tapi memangnya kenapa kalau ada yang memilih di rumah dan tidak berniat mencari dana tambahan? Ya kali dia sudah merasa cukup toh ya? Tidak berarti tidak punya keahlian apa-apa yang bisa dijual kan? Ya kali aja orangnya memang santaiiiiiii ^_^.
Ceritanya mama lagi nemenin anak di rumah nih 😀
Ingat-ingatlah, tidak semua orang punya pemikiran dan kondisi yang sama. Jangan digunakan ‘berkah’ yang dianugerahkan Tuhan kepada kehidupan kita untuk menjustifikasi hidup orang lain, yes? ;).
Again, saya merasa videonya netral dan tidak melarang sama sekali ibu-ibu menggunakan jasa asisten rumah tangga dan sama sekali tidak ada indikasi melarang ibu-ibu berkarier di luar rumah. Pesannya adalah tentang berbagi tugas yang adil dan tetap bertanggung jawab kepada anak sekali pun harus sering berada di luar rumah. Itu masalah persepsi orang-orang yang menonton aja apa, ya. Kalau ada yang sensi dan tersinggung, yuk ah, ini tulisan hiburan buat kalian semua hehehehe.
Tidak berlebihan sih kalau dibilang antara working Mom vs stay at home Mom, entah sampai kapan ini kelarnya? Hahaha. A never ending story…indeed :).
Foto-fotonya menghibur kaaaannn? –> minta dilempar granat! Hahaha. Mau eksis saja mesti dong dibikini tulisannya *ngelapKeringat* :p.
Bekerja di luar rumah atau stand by di rumah, Mama harus tetap dekat dengan anak-anaknya dong ya ^_^
Hamil lagi :D. Ini sudah hamil 18 minggu, eh apa 19 minggu ya. Pokoknya segituanlah. Ada teman yang nanya, “Eh gimana? gimana? Hamil sekarang masih kurus gak?” 😀
Ternyata … udah enggak lagi huhuhu. Hamil pertama dulu memang ceking banget. Sampai-sampai di kantor, tiap hari wara wiri depan satpam, Pak Satpamnya baru ngasih selamat pas udah hamil 7 bulan!
Hamil anak pertama, 30 minggu, ceking kan hehehe
Katanya pagi itu, “Ya ampun Neng, alhamdulillah akhirnya hamil. Selamat ya” Hahahahhaaha.
Waktu minta izin cuti melahirkan di kantor, ada bos yang menghampiri meja dan bilang, “Jihan, gue lupa lo hamil! Hamil beneran gak sih? Tahu-tahu udah mau cuti?” Da`n dia pun menyerahkan segambreng kerjaan yang kebetulan berhubungan dengan divisinya hihihi. Bukan bos langsung soalnya.
Alasan dia, enggak kelihatan kalau hamil :D. Padahal menjelang lahiran rajin wara wiri ke mana-mana karena waktu itu kantor lagi ada perhelatan besar, mau ganti sistem! Pastilah personel IT yang paling dicari-cari :D. Dicari-cari untuk disuruh ini itu pastinya hahhaha. Sekarang sih di hamil 18 minggu so pasti udah melendung banget.
Seru kalau ingat dulu lagi training sistem baru, menyelinap keluar sebentar buat mompa ASI di Nursery :D. Pernah juga harus tetap ngantor pas libur tahun baru. Dijutekin sama suami :p. Tapi sebete-betenya, dianterin juga istri imutnya ini ke kantor pulang pergi. Terima kasih ya, Cinta. You’re my best <3. Kemaren abis anniversary, gombal jalan terus hahahaha.
Hamil minggu 19 di Bern, Swiss
Namanya libur, tahun baruan pula, hanya lantai tempat divisi IT doang yang ramai. Sistem baru go live. Dipas-pasin sama tahun baru. Sore-sore menjelang magrib masuk Nursery Room sendiri agak merinding hihihi. Tapi gimana dong, sudah hampir tumpah neh hahahaha.
Akhirnya komat kamit baca-baca surah macam-macam biar enggak takut karena sendirian doang. Saya mompanya kan pakai tangan jadi benar-benar sunyi senyap enggak ada bunyi pompa ASI elektrik yang digunakann mayoritas teman-teman di hari-hari biasa.
Hamil 18 Minggu
Nursery Room kantor saya dulu keren bingiiitsss ^_^. Ruangannya gede dan lengkap. Sagala aya! Unilever gitu lhooooo hehehehe :p. Kadang kalau sudah masuk Nursery, apalagi kalau lagi rame, sampai luber-luber dah tuh ASI saking serunya kita bergosip hahaha. Kadang sampai diteleponin sama Pak Bos ditanyain kok belum balik ke meja juga? Upssss… hahaha.
Tapi jangan khawatir. Di kantor saya dulu tuh, memeras ASI adalah hak! Kalau saya sudah nenteng tas item yang isinya segala macam perkakas mompa, Pak Bos enggak berkutik. Paling manyun aja dia padahal sudah siap-siap ngajak meeting! Hahhaahahaha. Sungkem dulu sama Pak Bos.
Hamil ke-2 di Jeddah. Ke mana-mana pakai abaya. Enggak pernah ganti abaya. ALhamdulillah sampai melahirkan, muat terus abayanya :D. Jadi makin-makin deh kurang gaung kalau hamil hihihihi.
Nah, hamil ke-3 ini, mungkin karena awalnya juga berat badan sudah lumayan hhhi. Jadilah, baru memasuki #week19 sudah buncit aja. Serius lho, hamil pertama dulu kan saya rajin foto-foto saban minggu hahahahaha. Itu perut baru nongol after #week25 :D. Hamil pertama, hamil mudanya paling parah. Turun sampai 5 kilo, enggak bisa makan.
Penampakan hamil anak ke-3 😀
Hamil ke-2 paling enak makannya hihihi. Sudah mana di sana kan katering banyak, rumah makan di mana-mana, harga murmer, mana mau eike nyentuh dapur pas hamil muda! Hahahahahaha.
Soal hamil muda, nyaris tidak ada perubahan! Drama selalu dimulai di #week6. Dan baru berakhir di #week16 *ngelapKeringat*. Entah kenapa konsisten ini dari hamil 1, 2, 3. Hamil 18 minggu sih sudah mulai enakan banget.
Karena semua kehamilan saya direncanakan, maklum ya enggak pakai kontrasepsi buatan hihihi, sebelum hari H mens berikutnya, saya sudah siap-siapin testpack. Hoki saya memang bagus nih. Alhamdulillah ya Allah :).
Banyak yang bertanya soal kontrasepsi alami yang saya pakai. Saya jujur saja, saya pribadi memang takut pakai kontrasepsi buatan apa pun (kecuali kondom, which is kurang sreg juga :p, tahu kan maksudnya hihihi). Alasan saya lebih ke “alasan agama”. Ya, ya, ya. Saya konservatif banget soal ini. But don’t judge me ya, saya juga menerapkan ini untuk pribadi saja, kok ;). Tidak berani melarang-larang orang lain untuk memilih hal yang sama.
Adik saya tanya dia mau pakai spiral, saya bilang pakai saja. Karena memang fatwa ulama sehubungan hal ini terbagi 2. Monggo dipilih mana yang dirasa cocok.
Saya sepakat dengan almarhum Bapak, “Anak adalah rezeki” ^_^. Dan rezeki tiap manusia ada di tangan Allah. Tapi saya sadar, enggak mungkin juga enggak pakai pengaman sama sekali. Suami juga keberatan. Makanya, saya berikhtiar dengan kontrasepsi alami tadi. Lumayan juga effort untuk meyakinkan suami. Karena kontrasepsi alami memang lebih rumit. Harus dengan kerja sama kedua belah pihak. Makanya saya prefer cara ini hihihi.
Enak saja kita perempuan yang harus menanggung macam-macam resiko kesehatan sementara suami enggak ngapa-ngapain :p.
Saya juga tipe orang percaya akan kekuatan ilmu. Entah mengapa, saya meyakini pasti ada cara yang cocok untuk saya biar tidak saban tahun tek dung melulu hihihihi. Cara yang aman yang tidak harus beresiko lumayan buat kesehatan. Cara yang tidak bertentangan dengan logika manusia.
Kombinasi dari hasil tanya-tanya sama dokter kandungan yang membuat saya makin bulat (dan makin takut! hahahahaha) untuk TIDAK menggunakan kontrasepsi buatan non-kondom, googling sana sini, membaca buku macam-macam, menguatkan hati dengan membaca ayat-ayat dalam alquran, akhirnya saya jadi belajar soal pembuahan-masa subur-seluk beluk sperma dan sel telur dan macam-macam hihihihi.
Apa efek karena dulu sempat ngebet pengin jadi dokter ya? #eaaaaa :v :v :v.
Ilmu sudah cukup saatnya praktik. Tapi apa pun itu, saya percaya, tiada daya dan upaya melainkan kehendak Allah semata :). Begitulah salah satu hikmah yang saya tangkap dari kisah Bunda Maryam dalam alquran.
Jadi ya, keyakinan memang modal utama untuk memilih metode kontrasepsi :). Jangan berpikir kita semua hokinya sama. Mungkin juga saya dibantu hoki, makanya saya tidak berani merekomendasikan ‘cara’ saya kepada siapa pun. Takut disangka sotoy. Padahal emang! Hahahaha .
Anyway, saya menggunakan cara standar kok –> senggama terputus :). Cari di Google maksudnya apa :p.
Periode menstruasi yang teratur juga menolong saya. Saya leluasa pakai sistem kalender ^_^. Ini kepake justru kalau lagi merencanakan kehamilan. Oh ya, pola makan itu juga berpengaruh untuk mengatur periode menstruasi katanya. Kurang tahu juga saya. Sejak pertama kali haid, alhamdulillah, memang teratur :).
Tapi ingat, kesehatan itu harus menyeluruh. Sehat bermula dari perut, ke perasaan, ke pikiran, ke olah tubuh secara fisik kan? Satu paket! ;).
Waktu hamil muda, mood lagi berantakan. Makanya sempat menghindari dunia maya biar enggak keposting yang aneh-aneh. Bawaannya pengin mengeluh terus soalnya hahahaha. Saya banyak-banyak tiduran saja, baca-baca biografi ini itu di atas tempat tidur dari Google biar tetap waras :p.
Iyalah, tidak perlu semua hal perlu kita publikasikan dong ya. Biar yang indah-indah saja yang keluar hahahaha. Pencitraan? Tidak juga. Karena saya pikir apa gitu untungnya mengeluh di media sosial? Masalah pribadi pula. Solusi enggak ada, malu iya hihihihi :p.
Masih bisa jongkok-jongkok ^_^
Untuk anak pertama memang saya khusus mendoakan minta anak laki-laki hehehe. Untuk seterusnya saya tidak peduli ^_^. Laki-laki lagi juga saya senang. Enak, gak ada saingan hahahaha. Enak juga karena sudah hands-on banget kalau anak laki :p. Kalau perempuan juga tetap senang.
Semoga bisa melahirkan normal lagi, semoga anaknya sehat jasmani dan rohani, Mama-nya juga bisa langsung fit, dan semua-muanya tidak masalah. Aamiin.
Kini, saya sedang mengandung anak ke-3 saya. Sudah memasuki minggu ke-19. Sekalian posting foto-foto jalan-jalan kemaren. Pada penasaran nanya soal perut hahahhaha. Sudah buncit, cit, cit! 😀 😀 :D. 3 hari lalu main ke mana gitu ya. Susah nama tempatnya hihihi. POkoknya masih di seputaran Bern.
Foto muka sendiri semua gini, jadi ya maaf “dikunci” untuk “FRIENDS” only :D. Sok kecakepan banget lo hahahahaha.
This is me, on my #thirdPregnancy in #week19 ^_^. Hamil minggu 19 :D. Doakan lancar ya teman-teman ^_^ *sungkem*.
Doakan semoga lancar semuanya hingga melahirkan and…beyond ^_^
Tahun 2011 sempat menyesal saya, duh, kenapa draft yang ini tidak dipublish. Ketinggalan momen deh hehehehe. Totally wrong. Bertahun-tahun setelah itu, saban hari Kartini ternyata titik kerusuhannya belum move on juga hahahhahaha. 4 tahun berlalu, mari kita tuntaskan draft ini :p. Tentang Cut Nyak Dhien dan Kartini.
Cut Nyak Dhien (gambar : sinarharapan.co)
Mengapa harus Kartini? Bukan Cut Nyak Dhien, bukan Rohana Kudus, bukan Dewi Sartika, bukan Christina Martha Tiahahu, bukan Emmy Saelan, pokoknya bukan mereka yang benar-benar punya jejak perjuangan yang nyata. Kartini tidak nyata, nih? hehehe :p.
Diantara sekian banyak kontroversi, muncul juga isu agama. Teori konspirasi ini itu. Bahwa katanya surat-suratnya palsu itu karangan orang Belanda. Bahwa Kartini sengaja diusung untuk membenamkan perjuangan perempuan-perempuan Islam di masa lalu. Intinya, ‘mereka’ ingin menghancurkan Islam! #eaaaaa.
Saya jadi penasaran … se-inferior apa sih umat Islam terkini, di mana semua kontroversi nampaknya begitu mudah ‘diselesaikan’ dengan tuduhan “ini pasti konspirasi!” :p.
Saya juga tidak bisa membaca pikiran Bung Karno saat itu. Mengapa beliau menetapkan hari lahir Kartini sebagai sesuatu yang ‘spesial’.
Diantara desas desus yang tidak kalah pentingnya yang beredar –> Dipilih karena Kartini kan orang Jawa!
Kartini (gambar : id.wikipedia.org)
Kalau mau bahas Jawa-nya, orang Bugis juga bisa berkilah. Kenapa bukan We Tenri Olle? Perempuan ini adalah pemimpin pertama dari Kerajaan Tanete di Sulawesi Selatan. Kontroversi pengangkatannya tidak membuatnya terjungkal dengan mudah. Selama 55 tahun menjadi Datu (Pemimpin Kerajaan/Raja/Ratu), We Tenri Olle bisa melejitkan wilayah Tanete.
We Tenri Olle juga dikenal sebagai “Siti Aisyah We Tenri Olle”. Pengaruh Islam sudah cukup besar di wilayah Sulawesi saat itu. Jadi, yang hendak menyerang citra Islam sebagai kepercayaan yang membatasi ruang gerak perempuan, mungkin situ referensinya kurang luas aja :p.
Islam justru mematahkan mitos perempuan sebagai “warga kelas dua” di masa turunnya di abad pertama di jazirah Arab. Kalau di Inggris orang baru ‘serius’ ribut-ribut emansipasi perempuan pasca Perang Dunia 2, Islam sudah belasan abad lebih dulu.
We Tenri Olle (gambar : kabarkami.com)
Islam “takut” melihat perempuan mandiri? Bunda Khadijah memangnya profesinya apa? Beliau seorang pedagang besar. Ingat, dulu belum bisa kongkow-kongkow di rumah buka toko online dengan modal “Inbox ya Sis” :p.
Bisa jadi, Bung Karno referensinya saat itu masih terbatas :). Nama We Tenri Olle sendiri belum hits. Referensi tentang dirinya sangat terbatas. Beliau pun tidak pernah menuliskan apa-apa tentang dirinya sendiri. Penting lhoooo menulis itu :D.
Balik lagi ke soal agama, Ibu Kartini pun sebenarnya seorang muslimah. Walau tanpa kain kerudung di kepalanya, konon, Bung Karno sangat tertarik dengan hasrat belajarnya yang tinggi. Kartini sempat mempertanyakan mengapa alquran tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipelajari.
Dari beberapa referensi, misteri “Habis Gelap Terbitlah Terang” ditengarai datang dari ayat-ayat dalam surah Al Baqarah :). Curhatan Kartini kepada Mrs Abendanon memang menyebut-nyebut soal ini. Arti aslinya, “Dari Gelap Menuju Cahaya” dikaitkan dengan “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur” –> “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” :).
Mengetahui betapa indahnya ajaran Islam di mata Kartini dan betapa berkesannya pemahamannya akan alquran, masa sih masih ingin menggugat keislamannya? Kenapa? Karena di kepalanya identik dengan konde instead of berkerudung? :p.
Kegelisahan lain adalah tentang prestasinya. Hadeeehhh, cuma emak-emak ningrat kurang kerjaan yang kebetulan bisa berbahasa Belanda yang nulis surat ke orang Belanda. Isinya curcol pula. Apa hebatnya?
Dewi Sartika yang juga ditampilkan sebagai figur berkonde malah sudah terjun menggagas pendidikan untuk kaum perempuan. Langsung mendirikan Sekolah Perempuan. Pemalas amat Kartini cuma bobo-bobo cantik di rumah sambil surat-suratan :p.
Rohana Kudus, salah seorang pelopor jurnalis perempuan di Indonesia. Nah, tulisannya pun lebih cetar. Tidak sekadar lembaran curhat dan kegelisahan seorang ibu rumah tangga. Dia juga mendirikan sekolah, lho. Pakai kerudung pula. Kurang salehah apalagiiiiiii? Konon, Ibu Rohana punya ‘kekurangan’ di mata Bung Karno. Karena beliau mengkritisi poligami? Secara Bung Karno kan pelaku poligami?
Rohana Kudus (gambar : id.wikipedia.org)
Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu adalah pejuang wanita di garis terdepan. Emmy Saelan datang belakangan. Beliau adalah pejuang wanita yang juga bertempur langsung menghadapi musuh di era pasca kemerdekaan.
Di akhir hidupnya, Emmy Saelan memimpin puluhan pasukan menghadapi Belanda. Saat hanya dirinyalah satu-satunya yang tersisa, Emmy Saelan tetap tidak menyerah. Dilemparkannya sebutir granat, satu-satunya senjata yang tersisa di genggaman tangannya. Banyak pasukan lawan menjadi korban granatnya termasuk Emmy Saelan sendiri, gugur di pertempuran tersebut.
Mencoba menggugat perjuangan Kartini dibandingkan pahlawan-pahlawan perempuan yang saya sebutkan tadi seolah mengingatkan saya terhadap gugatan akan kemandirian perempuan. Ada pemikiran, perempuan tuh harusnya berkarya nyata dong di masyarakat. Lebih keren memberikan kontribusi langsung. Kalau cuma ngendon di rumah sambil momong anak + ngurus dapur, apa hebatnya?
Emmy Saelan (gambar : historia.id)
Menghina perempuan yang katanya cuma nulis surat doang compare to mereka yang benar-benar mendirikan sekolah untuk masyarakat dan mengangkat senjata? Bukankah jadinya ironis? 🙂
Kalau boleh menebak-nebak isi pikiran Bung Karno, kira-kira gimana tuh, ya.
Tahun penetapan hari lahir Kartini sebagai salah satu perayaan nasional adalah bertahun-tahun setelah masa kemerdekaan. Saat itu, perjuangan bangsa tidak lagi tentang mengangkat senjata di medan perang. Melainkan berusaha bersama-sama memajukan tanah air pasca kemerdekaan telah direbut dan pembagian wilayah sudah “tuntas” dengan Belanda.
Mungkin, kan ceritanya nebak-nebak nih hehehehe, Bung Karno ingin memperkenalkan bentuk perjuangan anti mainstream termasuk kepada para perempuan. Dilahirkan sebagai priyayi, Kartini dan saudara-saudaranya sudah termasuk keren di zamannya.
Dari sudut rumah yang lepas dari hiruk pikuk kontroversi penjajahan, Kartini muda konsisten menuntut ilmu. Dalam kebingungan dan banyak pertanyaannya, Kartini menuliskan kegalauannya.
Mengutip komentar Mas Bowo Kusumo tempo hari, “Kenapa Kartini menjadi popular? Karena dia menulis. Kalo zaman sekarang, mungkin dia bikin blog. Lantas blognya dibaca oleh jutaan orang dan banyak mengubah kehidupan orang banyak. Kartini menunjukkan bagaimana pena bisa lebih tajam dari pedang dan lebih ampuh dari peluru.”
Lah, Rohana Kudus juga menulis, kok.
Mungkin waktu itu Bung Karno belum tahu soal Ibu Rohana hehehehe. Kemungkinan kedua, Bung Karno memang ingin menawarkan perspektif yang lain. Memangnya kenapa kalau perempuan di rumah saja? Apakah jika Kartini pada akhirnya rela dimadu, kesannya kan lembek amat tahu-tahu mau dikawinin dan mengkompromikan cita-citanya, berarti Kartini tidak layak menjadi ikon emansipasi?
Buat saya, emansipasi perempuan ini masalah kebebasan. Kebebasan untuk MEMILIH. Apakah kehebatan perempuan itu selalu diukur dengan keberaniannya lebih banyak berkarya di luar rumah dan untuk orang banyak selain untuk keluarganya? Bagaimana dengan perempuan-perempuan seperti saya? Yang ternyata belakangan menyadari, setelah anak saya lahir dan diasuh baby sitter, saya kok tidak ikhlas rasanya.
Tapi, apakah perempuan yang akhirnya lebih banyak menyerahkan pengasuhan anak kepada tangan ketiga berarti menyalahi kodrat? Bagaimana pula dengan ibu saya?
Belakangan ibu saya mengaku kalau sebenarnya beliau sangat tidak suka menjahit. Punggungnya sakit. Tapi dengan beban ekonomi yang ketat, ibu memilh untuk membantu bapak. Ijazah SMP pun tidak punya, tak banyak keahlian yang bisa dipilih bukan? Ya sudah, biar sinkron dengan jualan bapak, ibu belajar menjahit gorden.
Ibu saya tak hendak menikah muda. Keadaan yang memaksa. Saudara kembarnya saja, tante saya, itu lulusan S1 IAIN lho :).
Mesin jahit zaman dulu (gambar : forum.kompas.com)
Ibu mertua saya lain lagi. Sejak pertama bertemu, saya sudah merasa terintimidasi dengan kecerdasan dan kecantikan Mami, panggilan buat ibu mertua saya, nih :D. Soal cerdasnya, tak heran lah, sejak dulu pendidikan tinggi bukan hal tabu bagi umumnya perempuan asal Minang.
Onde mande banget kalau lihat foto-foto Mami waktu masih muda. Yang super narsisi pun langsung angkat tangan! Hahahahha. Mami berdarah Bukittinggi 100%. Hidungnya mancung sekali, kulitnya putih bersih. Bukan lagi level kuning langsat. Putihnya seperti kulit orang bule. No wonder, suami saya sering disangka bukan orang Indonesia asli hehehehe. Dari situ asalnya ;).
Kalau tidak salah, hanya setahun Mami menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Di tahun kedua Mami memutuskan memilih pinangan dari bapak mertua. Sejak awal menikah, sudah dibawa merantau nun jauh ke Sulawesi Utara. Di tahun segitu, orang Minang memang sudah jauh lebih maju dalam dunia pendidikan. Di Sulawesi ya mau sekolah apaan? Hehehe.
Suami saya lahir di Yogyakarta. Di Yogya, Mami punya kesempatan untuk memilih. Usia baru 30 tahun. Dulu, wajar saja jika orang kuliah di umur segitu. Universitas bagus-bagus juga di Yogyakarta. Mami bilang tidak tega meninggalkan suami saya yang waktu itu umurnya baru setahunan.
Gambar : thestri.cafemom.com
Begitu banyak keinginan yang tidak kejadian, keadaan yang kadang ingin dihindari. Begitu banyak kombinasi jalan hidup yang harus dihadapi dan pilihan yang harus dibuat.
Seharusnya … perempuan PUN boleh memilih. Seharusnya kita, perempuan, bisa menjalani macam-macam pilihan tanpa penghakiman apa pun. Pening, kan? Memilih di rumah, dibilang sayang ijazahnya. Memilih berkarya di luar rumah, dibilang tak ada surga untuknya.
Memilih sekolah tinggi suka ditanya-tanya untuk apa? Ya masa tidak boleh menimba ilmu setinggi mungkin? Sekolah tidak tinggi pun, disindir perempuan harus tetap punya pendidikan mumpuni untuk mengasuh anak-anak. Kalau oon, entar anak-anaknya jadi apa? Memangnya ilmu hanya didapat dari bangku sekolah formal?
Punya karier cemerlang dianggap mengintimidasi laki-laki. Kasihan pasangan hidupnya. Tak punya karier apa-apa, ditakut-takuti karena dianggap tidak mandiri. Gimana kalau ditinggal suami?
Macam-macam ‘label’ tadi, yang justru tumbuh atas desakan lingkungan membuat kita, perempuan, menjadi serba insecure. Ujung-ujungnya, insekuritas tadi memicu peer pressure di kalangan perempuan sendiri.
Saling nyinyir-nyinyiran tak tentu arah. Segala alasan digunakan. Mulai dari alibi budaya sampai alibi agama. Saling menuduh saling menjatuhkan. Enggak capek, buibu? :p
Padahal kan, “To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho
Kisruh Cut Nyak Dhien vs Kartini sebenarnya adalah cerita lama untuk memperkuat insekuritas di kalangan perempuan itu sendiri. Apakah merayakan hari Kartini otomatis membuat kita mengingkari perjuangan Cut Nyak Dhien? Ya enggak lah :).
Kalau memang ingin mendesak pemerintah untuk lebih banyak menggali sejarah perjuangan perempuan Indonesia, tidak harus dengan menjelek-jelekkan yang lain kan? 🙂
Emansipasi harusnya dimanfaatkan untuk saling menguatkan. Saling berbagi pilihan masing-masing tanpa harus saling menghakimi :). Saling memahamkan bahwa bersama pilihan apa pun, akan selalu ada konsekuensi yang menyertai. Saling memberanikan diri menghadapi apa pun konsekuensi tadi.
Sebuah tulisan dari penulis perempuan di luar sana, sori lupa namanya hihihi, untuk pengingat kita, para perempuan. “Once were girls … we compete to each other. As women … let’s empower one another” :).
Gambar : lovethispic.com
Mari memilih dan apa pun alasannya … let’s simply be happy :).
Apa pun pilihan itu, tak akan lupa kacang pada kulitnya, tak boleh lupa perempuan Indonesia pada ‘daster’nya ;). Selamat hari Kartini ^_^.
Enggak nyangka juga, ya, setelah berhenti bekerja dan lebih banyak di rumah, tetap bakal banyak aja gitu urusan hahahahhaha.
Dikira bakal bosan ngangon anak dan ngurusin kerjaan rumah tangga saja, ealah, malah rasanya makin banyak saja yang BISA di-kepo-in :v :v :v *toyorKepalaSendiri*.
Dulu juga sempat merasa, “Duileh, cara bergaul bakal macam mana ni ya kalau sudah tidak bekerja lagi. Tiap hari beredar di kantor saja rasanya kenalan segitu-gitu aje.” :v :v :v
Thanks to internet ;). Hits dunia digital juga membawa perubahan bagi gaya hidup banyak orang. Jangan-jangan, tinggal di rumah kalau rajin ber-socmed bisa lebih sibuk ketimbang kerja kantoran :v :v :v .
Era digital juga sedikit demi sedikit memengaruhi cara kita mengakses informasi. Googling menjadi salah satu metode utama untuk mencari informasi dalam hal apa pun! Termasuk urusan tetek bengek anak-anak :D. Mengaku saja, saya ini ratu googling abis! :p.
Blogging adalah salah satu fasilitas socmed yang usianya paling “dahulu kala” :D. Menulis blog, hal yang dianggap menyenangkan yang dipilih oleh banyak orang. Termasuk ibu-ibu seperti saya.
Gambar : bloggingmatters.com
Akhirnya, banyak forum atau perkumpulan yang mempertemukan emak-emak yang doyan ngeblog ini. Di Kumpulan Emak Blogger misalnya.
Enggak terasa sudah 2 tahun join di grup emak-emak satu ini. Jadi ingat tahun 2013 lumayan sering ikut-ikut lomba, dapat macam-macam hadiah mulai dari mesin cuci, gadget, sampai duit :D. Ya rata-rata infonya dapat dari KEB ini nih :D.
Blogging itu cakupannya luas lho. TIdak bisa pakai alasan enggak bisa atau enggak suka menulis. Apalagi .., Ibu-ibu mah enggak ada matinya ;).
Ada yang membagi resep dan tips memasak (surga untukmulah para kitchen blogger! :D), ada yang mencatatkan perkembangan buah hati dan pengalaman membesarkan anak, ada yang menuangkan hobi fotografi, ada yang suka menulis fiksi, sharing tips-tips menjahit atau prakarya lainnya, tulisan jalan-jalan, wisata kuliner, tips-tips belanja :p, tips memilih sekolah, tips MPASI, atau sekadar kisah-kisah ringan keseharian mereka :).
Bahkan tak sedikit yang meraih keuntungan materi dari hobi ngeblog ini. Sudah kenal sama Mak Haya Aliya Zaki atau Mak Arin Murtiyarini? Tobat deh kalau melihat koleksi gadget atau uang yang mereka peroleh dari hasil menulis di blog :D. Bukan cuma mereka berdua, ada banyak yang lainnya lagi ^_^.
Kalau tak salah penantang baru makin ramai. Seperti misalnya Mak Pungky Prayitno yang juga merupakan pemenang Srikandi Blogger 2014 :D. Seru yaaaaa, ngerjain hobi sambil mengail rezeki ^_^.
There are lots and lots of positive things we can share … di dunia yang katanya maya ini ;).
Jangan takut untuk menuliskan hal-hal yang kelihatannya sepele. Memaksakan diri untuk menulis opini-opini mengenai topik ‘berat’ tidak selalu menjadi pilihan bijaksana. Jadilah diri sendiri. Berikan sentuhan unik pada cerita-cerita kita. Kumpulan kisah yang berbeda-beda dari berbagai emak blogger akan menjadi warna warni tersendiri dalam dunia blogger.
Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan sehelai daun kering yang tersia-siakan oleh angin bisa dipungut dan dijadikan kerajinan tangan berupa pembatas buku yang cantik :).
“One person can make a difference, and everyone should try.” ― John F. Kennedy