Courage Doesn’t Always Roar

Dulu bingung kalau menonton video klip lagu “Anything” dari 3T. Yuhuuu, abege 90an masa iya enggak tahu 3T? 3T itu lhooooo, ponakan-ponakannya Om Jacko yang kece-kece itu. Kece di masanya tentu saja :D.

Saya pikir mungkin mereka berhemat jadinya hanya menggunakan satu model perempuan. 

Di video klipnya, model ceweknya hanya satu. Sementara kan lagunya macam lagu cowo-cowo patah hati gitu. Tapi tiga-tiganya patah hatinya sama SATU perempuan gitu? Sudah semacam curiga ini simbol apa kali ya hanya make satu model doang? 

Kalau dulu susah kepo karena internet belum hits, sekaranglah baru segala misteri itu terjawab sudah! 😀

Saat lagi rekaman album itu, di tahun 1994, ternyata ibunda mereka tercinta, Delores “Dee Dee’, meninggal karena kecelakaan di kolam renang.

Personel 3T sangat terpukul. Konon mereka memaksa ayah mereka, Tito Jackson, untuk habis-habisan menuntut si tersangka yang merupakan pasangan baru dari Delores tadi, “Don’t let him get away, Dad!”

Jadilah katanya lagu “Anything” ini dipersembahkan untuk mengenang ibunda Delores tercinta :’). Bertahun-tahun menyimpan kecurigaan nan berburuk sangka sekarang nangis deh pas tahu backgroundnya huhuhuhu.

That girl in that video, yang mereka “ratap-ratapin” itu, adalah personifikasi dari almarhumah ibunda Delores “Dee Dee” yang keburu meninggal sekitar setahun sebelum album mereka rilis secara resmi.

Yang menarik juga adalah fakta bahwa Delores dan Tito Jackson sebenarnya sudah cerai sejak tahun 1990. Delores malah sudah punya cem-ceman baru lagi. But the boys still love her as much as before :’).

Kurang tahu cerainya karena apa, yang jelas 3T tetap sayang banget sama si Papa dan Mama. Apa karena udah pada gede-gede ya? :). They seemed completely understand about their parent’s situation.

Kalau menurut saya pribadi, dalam kehidupan pernikahan apalagi dalam urusan anak, beban terbesar terlalu sering diletakkan kepada sang Ibu :(. Sebenarnya senang juga mendengar istilah, “Ibu adalah madrasah utama untuk anak-anaknya.” Pokoknya ibu, ibu, ibu.

Bangga gitu ya :). But, but, but … bagaimana kalau seringkali kenyataannya tidak seindah itu?

As a mother, terasa tidak sih, selain beban bahwa “Anak gagal berarti ibunya yang gak beres!”, mamah-mamah kayak kita pun sering dirundung ketakutan apakah anak-anak akan menggambarkan kita sebaik yang kita inginkan?

Misalnya saya 7 bersaudara. Gedenya ternyata beda-beda. Nah itu gimana itung-itungannya hihihi. Kami dibesarkan oleh orang tua yang sama tapi kok ya ujung-ujungnya bisa beda-beda nasib gini. Berarti faktornya kadang tidak sesederhana itu dong ya :).

Lalu, saya jadi terkenang dengan sebuah film hollywood, duh lupa judulnya. Cuma film asal lewat gitu. Diputar di TVRI. Tentang anak perempuan umur 6 tahun yang setengah mati dibujuk oleh dinas sosial agar mau meninggalkan ibunya yang janda yang kecanduan minuman keras dan jadi pelacur gara-gara dipecat dari tempat kerjanya.

Ibunya sendiri pas diwawancara oleh dinas sosial ya pasrah-pasrah saja. Umumnya, di negara-negara maju, negara bertanggung jawab pada anak-anak yang terlantar. Negara berhak mengambil alih pengasuhan anak jika orang tua dianggap tidak mampu.

Ilustrasi aja ya, gak ada hubungan ama filmnya hehe (gambar : kadinsalmevzular.com)
Ilustrasi aja ya, gak ada hubungan ama filmnya hehe (gambar : kadinsalmevzular.com)

Sang Ibu dikirim ke pusat rehabilitasi. Ibunya oke saja. Tapi anaknya yang ngamuk-ngamuk, she was screaming, “You don’t know that she’s the only person that love me that much!”

Yang ada di memori si anak wedok itu adalah ibunya menyisir rambutnya tiap hari. Memasak makanan kesukaannya tiap hari. Pernah sekali diingatnya, ibunya tidak jadi beli lipstik gara-gara dia mengamuk minta es krim dan balon-balon waktu jalan-jalan ke toko something.

Waktu dikonfrontasi oleh Pak Polisi kalau ibunya sering mukulin dia, anak kecil itu tetap bertahan, “It’s because I’m not listening when she asked me to do something. But she hugs me after that. You know nothing! You know nothing!”

Itu adegan paling nyesek. Karena ibunya ada di ruangan sebelah.

Sebelumnya si ibu sudah menyatakan penyesalan dan bersedia menjalani hukuman apa pun. Dia mengaku stres. Standarlah. Suami kabur sama perempuan lain. Dia tidak punya apa-apa. Hanya sanggup ngontrak di flat sempit. Suaminya juga membebaninya dengan banyak utang.

Dia bahkan ingin meminta maaf pada anaknya tadi. Dia bilang dia pasrah kalau anaknya sampai dewasa nanti tidak akan kembali lagi padanya, “I deserved to be abandoned.”

Mendengar anaknya malah ngomong gitu, ibunya makin mewek lah ya pastinya. Berkali-kali dia bergumam, “Oh God, after all this time, she still thought that I’m her angel.”

Si anak kecil meronta kayak banteng saat melihat ibunya dibawa oleh Pak Polisi.

Akhirnya, sang Ibu yang tadinya ogah-ogahan menerima prosedur pengobatan, pas mau disuntik apa gitu. Dia maunya langsung masuk penjara aja.

Kemaren-kemaren dia meronta-ronta, habis dengar anaknya ngomong gitu, sang Ibu malah meminta prosedur pengobatannya dipercepat dan dia bersedia kooperatif asalkan cepat sembuh. Kalau gak salah ibu itu sempat bilang, “My girl needs me.”

Memorable banget flmnya hehehehe.

Ada satu video lagi yang lebih kekinian.

https://www.youtube.com/watch?v=T3WC58czpRc

Sejumlah ibu-ibu dikumpulkan. Diminta untuk, “Describe yourself as a mother”. Keluarlah semua curcol. Emak-emak gitu lho hahahaha.

Kebanyakan grogi dan malah menyesalkan banyak hal. Berharap menjadi ibu yang lebih sabar, kepengin menjadi ibu yang lebih bisa mengendalikan diri. Intinya, rata-rata merasa mereka kurang capable dan merasa ada yang harus diubah.

But guess what, beberapa hari kemudian giliran anak-anak mereka yang dpanggil dan ditanyain tentang ibunya. Para unyu-unyu ini menjawab dengan mata bersinar-sinar, “My Mom was totally awesome” atau “She does cook a lot of food for me” atau “She’s just unique that’s why I love her so much”.

Ibu-ibunya diberi kesempatan menonton rekaman masing-masing anak mereka. Tentu saja, mewek lagi, mewek lagi lah mereka melihat ternyata beda banget persepsi anak vs semua kekhawatiran mereka :).

Ini maksudnya apa sih? Is it oke to be a monster Mom gitu? Boleh gitu jadi mamak-mamak tukang marah-marah? Sah-sah saja mamah-mamah jadi pencandu miras? Hehehehe.

Pesannya sih bukan begitu. Sepenangkapnya saya yaaaa, yang jelas-jelas bukan pemerhati anak-anak, bukan ahli parenting dalam bidang apa pun, background pendidikan juga banyaknya gaul ama mesin hhihihi ….

Bern zendermatelli 1

Menurut saya, as a mother, many times we need to stand back for a while :). Sekadar untuk mengingatkan diri sendiri untuk tidak terbebani dengan macam-macam slogan seperti yang saya sebutkan di awal tadi. Sadarilah, dengan menjadi seorang Ibu pun, kita itu TETAP MANUSIA BIASA.

Walau tentu, harapan kita pastilah ingin menjadi BIDADARI TERBAIK untuk suami dan anak-anak *benerinSayap*.

But you know… sometimes things did not go as we wanted them to be :). Sering juga lepas kendali. Kalau baca buku parenting kalau ibu harus begini, harus lembut tidak boleh marah-marah, bahkan katanya bilang jangan saja enggak boleh harus diganti dengan kata-kata lebih lunak bla bla bla.

Menghadapi sekian banyak pekerjaan tiap hari, apa mungkin tone suara kita bisa stabil sepanjang hari, sepanjang tahun gitu? :v :v :v.

Tidak nyari pembenaran apa-apa lho hehehe. Mengingat saya ini memang bukan tipe ibu bijak nan lembut penuh kasih sayang huhuhu. Enggak teriak-teriak sehari saja kayaknya sudah rekor tuh hahahahaha *tutupMuka*, minimal tiap pagi harus merepet ke sana kemari sembari nyiapin anak-anak buat sekolah 😀 *ngumpetDiBalikPanci*.

Tapi…janganlah hal ini membuat semangat ke-IBU-an kita perlahan memudar.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya. Selalu belajar memaafkan diri sendiri. Harus berani menerima kekurangan, tentunya ada usaha perbaikan diri juga hehehe. Diskusikan dengan suami, curhat di forum emak-emak, ya banyaklah caranya untuk bisa terus belajar dan mengasah diri lah ya :D.

Dan mungkin…waktu yang dibutuhkan juga beda-beda. Take your time. As long as kesadaran itu selalu ada kan ya? :).

Tidak hanya berani menghadapi macam-macam masalah tapi juga berani memasrahkan apa yang sudah terjadi. Mana sangguplah kita membeli waktu atau memintanya berputar ulang? ;).

Jangan juga kebanyakan drama mikirin apa kata pakar-pakar parenting something. Habisnya kadang kita kayak ditakut-takutin gitu gak sih. Belum lagi banyaknya label macam-macam. Baru ngeh pas dikasih tahu teman, “Ada lho sekarang label Ibu Profesional. Berarti ada Ibu Amatir gitu kali ya.” Hahahahahaha.

Bern gutern

Many times, kita terlalu dikuasai ketakutan yang tidak perlu. Tuh sudah ada buktinya. Seringkali anak-anak memandang kita jauh berbeda dengan apa yang kita galaukan :). Anak-anak lebih “murni” lho pikirannya, tidak macam orang dewasa yang sudah kena virus dan bakteri macam-macam :p.

Jadi perempuan apalagi sudah menyandang status “ibu”, pressure-nya kan memang tidak ringan. Apalagi peer pressurenya itu lho. Persaingan ketat sesama ibu-ibu hahahahaha.

Terima saja faktanya. Mari coba kita imbangi terus dengan cara … learn to love yourself. As well as learn to forgive yourself… all the time.

Jangan takut untuk memulainya dari awal lagi, berjanji kembali, dan tetap semangat menghadapi hari-hari ke depan walau dirasa kok ya kemaren-kemaren banyak errornya ini hehehehhe.

Pokoknya tiap bangun pagi kudu, “Cemungud eaaaaaa…”

“Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the little voice at the end of the day that says I’ll try again tomorrow.”
― Mary Anne Radmacher

Never lose that courage, Moms! ^_^

***

Working Mom vs Stay at Home Mom, a Never Ending Story :p

Sebosan-bosannya saya dengan tulisan “Every Mom Has Her Own Battle ini” ini hahahhaha, tetap saja beberapa hari lalu rasanya harus di-share untuk ‘menghibur’ seorang kawan yang merasa terintimidasi oleh salah satu video emak-emak yang sempat go viral beberapa waktu lalu :D. Eh, videonya kemudian bangkit lagi 2 hari lalu hihihi.

Ditanggapi sebagai : Working Mom vs Stay at Home Mom :D. Again and again, yaaaaaa :p.

Saya nonton videonya padahal pesannya tuh tentang pentingnya memberi hari libur yang layak kepada para asisten rumah tangga dan tidak serta merta mempercayakan semua-muanya kepada mereka. Tapi saya perhatikan sebagian teman saya memang share videonya sebagai justifikasi “hebatnya menjadi stay at home Mom.” Enggak nyambung sebenarnya sama isi videonya hehehe. Tapi ya sudahlah, penerimaan orang kan beda-beda.

Maaf ya, ilustrasi tulisan ini pakai foto-foto pribadi yang sebenarnya enggak ada hubungan dengan video hahahaha. Malas ah share videonya :p. Tidak ingin memperkeruh acara #gagalPaham ini :D.

Ceritanya lagi nemenin anak browsing hihihi
Ceritanya lagi nemenin anak browsing hihihi

Untuk saya pribadi, sudah cukup saya melihat bukti nyata ibu-ibu yang tetap hebat walau harus berkarier di luar rumah. Dua diantaranya adalah kerabat yang cukup dekat, lho. ANak-anak mereka sudah tumbuh dewasa dengan kapasitas di atas rata-rata menurut saya ;). Sayang, tak enak mau sebut nama. Belum minta izin :D. Sebaliknya, ada juga contoh ibu-ibu yang ‘stay at home’ yang (maaf) tidak menunjukkan hasil yang cukup :). Saya juga kenal langsung dan melihat dengan mata kelapa sendiri.

Adapun jika saya memilih menjadi yang ‘stay at home’ ya terus kenapa? Jadi keren gitu? hehehehe. Ya situasi-kondisi-pemikiran-pilihan pribadi saja lah ^_^.

Alhamdulillah, some of us did not have to stay away from our children/home for some extra cash ;). Alhamdulillah, dengan tetap berada di rumah masih ketemu cara untuk membahagiakan diri sendiri. Alhamdulillah, semua kebutuhan materi tercukupi cukup dengan suami saja yang harus wara wiri di luar rumah hehehehe.

Tapi pernahkah terpikir mengenai kehidupan seorang ibu tunggal misalnya? Pernahkah terpikir bahwa bukan ibu tunggal pun kadang memaksa seorang Ibu ‘turun gunung’ untuk menopang ekonomi keluarga. Bukan semata-mata karena lari dari tanggung jawab mengasuh anak, kan? :).

Alhamdulillah, jika sebagian dari kita diberikan berkah lain berupa potensi untuk memberikan ‘lebih’ kepada lingkungan sekitar di luar lingkungan keluarga. Apalagi ada kondisi internal yang memadai. Suami mendukung penuh misalnya. Anak bisa dititipkan pada kerabat atau mendapat embak yang oke punya ^_^. Why not?

Ceritanya ini mama mau berangkat bekerja :D. Working Mom nih maksudnya
Ceritanya ini mama mau berangkat bekerja :D. Working Mom nih maksudnya

Tapi adakah terlintas mungkin ada juga orang yang punya potensi sama tapi lebih memilih di rumah saja sama anak-anak? Boleh dong yaaaa ^_^. Atau mungkin potensinya justru dalam rumah. Hobinya masak atau bikin kue misalnya. Dia tidak berniat membuka bisnis katering sih tapi boleh kan kalau dia hobinya di dapur.

Orang-orang kayak gini jadi berkah tersendiri buat tetangganya yang ogah nge-dapur hahahahaha. Di Jeddah dulu, tidak tanggung-tanggung, 3 tetangga Indonesia saya jagoan dapur semua. Depan rumah spesialis masakan Makassar asal daerah saya. Yang lantai 5 masterchef hampir semua masakan khas Indonesia. Ajegile, bikin mie goreng biasa saja bisa bikin suami saya klepek-klepek hihihi. Yang lantai 1 senang berbaking ria.

Adalah saya yang tidak tahu diri dan kerjanya hanya menerima kiriman saja hahahhahaha. Aku padamulah ya emak-emak Mushirifah. Kapan-kapan harus reuni khusus berempat, kalian masak, gue yang makan! Hahahhahaha.

Alhamdulillah, jika sebagian dari kita tinggal di rumah pun bisa tetap mengisi kantong sendiri tanpa harus meninggalkan anak-anak. Apalagi memang sudah hobi dan malah bikin kita makin hepi.

Tapi memangnya kenapa kalau ada yang memilih di rumah dan tidak berniat mencari dana tambahan? Ya kali dia sudah merasa cukup toh ya? Tidak berarti tidak punya keahlian apa-apa yang bisa dijual kan? Ya kali aja orangnya memang santaiiiiiii ^_^.

Ceritanya mama lagi nemenin anak di rumah nih :D
Ceritanya mama lagi nemenin anak di rumah nih 😀

Ingat-ingatlah, tidak semua orang punya pemikiran dan kondisi yang sama. Jangan digunakan ‘berkah’ yang dianugerahkan Tuhan kepada kehidupan kita untuk menjustifikasi hidup orang lain, yes? ;).

Again, saya merasa videonya netral dan tidak melarang sama sekali ibu-ibu menggunakan jasa asisten rumah tangga dan sama sekali tidak ada indikasi melarang ibu-ibu berkarier di luar rumah. Pesannya adalah tentang berbagi tugas yang adil dan tetap bertanggung jawab kepada anak sekali pun harus sering berada di luar rumah. Itu masalah persepsi orang-orang yang menonton aja apa, ya. Kalau ada yang sensi dan tersinggung, yuk ah, ini tulisan hiburan buat kalian semua hehehehe.

Tidak berlebihan sih kalau dibilang antara working Mom vs stay at home Mom, entah sampai kapan ini kelarnya? Hahaha. A never ending story…indeed :).

Foto-fotonya menghibur kaaaannn?  –> minta dilempar granat! Hahaha. Mau eksis saja mesti dong dibikini tulisannya *ngelapKeringat* :p.

Bekerja di luar rumah atau stand by di rumah, Mama harus tetap dekat dengan anak-anaknya dong ya ^_^
Bekerja di luar rumah atau stand by di rumah, Mama harus tetap dekat dengan anak-anaknya dong ya ^_^

 

Cut Nyak Dhien Menggugat Kartini?

Tahun 2011 sempat menyesal saya, duh, kenapa draft yang ini tidak dipublish. Ketinggalan momen deh hehehehe. Totally wrong. Bertahun-tahun setelah itu, saban hari Kartini ternyata titik kerusuhannya belum move on juga hahahhahaha. 4 tahun berlalu, mari kita tuntaskan draft ini :p. Tentang Cut Nyak Dhien dan Kartini.

Cut Nyak Dhien dan Kartini
Cut Nyak Dhien (gambar : sinarharapan.co)

Mengapa harus Kartini? Bukan Cut Nyak Dhien, bukan Rohana Kudus, bukan Dewi Sartika, bukan Christina Martha Tiahahu, bukan Emmy Saelan, pokoknya bukan mereka yang benar-benar punya jejak perjuangan yang nyata. Kartini tidak nyata, nih? hehehe :p.

Diantara sekian banyak kontroversi, muncul juga isu agama. Teori konspirasi ini itu. Bahwa katanya surat-suratnya palsu itu karangan orang Belanda. Bahwa Kartini sengaja diusung untuk membenamkan perjuangan perempuan-perempuan Islam di masa lalu. Intinya, ‘mereka’ ingin menghancurkan Islam! #eaaaaa.

Saya jadi penasaran … se-inferior apa sih umat Islam terkini, di mana semua kontroversi nampaknya begitu mudah ‘diselesaikan’ dengan tuduhan “ini pasti konspirasi!” :p.

Saya juga tidak bisa membaca pikiran Bung Karno saat itu. Mengapa beliau menetapkan hari lahir Kartini sebagai sesuatu yang ‘spesial’.

Diantara desas desus yang tidak kalah pentingnya yang beredar –> Dipilih karena Kartini kan orang Jawa!

biografi singkat RA Kartini
Kartini (gambar : id.wikipedia.org)

Kalau mau bahas Jawa-nya, orang Bugis juga bisa berkilah. Kenapa bukan We Tenri Olle? Perempuan ini adalah pemimpin pertama dari Kerajaan Tanete di Sulawesi Selatan. Kontroversi pengangkatannya tidak membuatnya terjungkal dengan mudah. Selama 55 tahun menjadi Datu (Pemimpin Kerajaan/Raja/Ratu), We Tenri Olle bisa melejitkan wilayah Tanete.

We Tenri Olle juga dikenal sebagai “Siti Aisyah We Tenri Olle”. Pengaruh Islam sudah cukup besar di wilayah Sulawesi saat itu. Jadi, yang hendak menyerang citra Islam sebagai kepercayaan yang membatasi ruang gerak perempuan, mungkin situ referensinya kurang luas aja :p.

Islam justru mematahkan mitos perempuan sebagai “warga kelas dua” di masa turunnya di abad pertama di jazirah Arab. Kalau di Inggris orang baru ‘serius’ ribut-ribut emansipasi perempuan pasca Perang Dunia 2, Islam sudah belasan abad lebih dulu.

We Tenri Olle Ratu Tanete biografi singkat RA Kartini
We Tenri Olle (gambar : kabarkami.com)

Islam “takut” melihat perempuan mandiri? Bunda Khadijah memangnya profesinya apa? Beliau seorang pedagang besar. Ingat, dulu belum bisa kongkow-kongkow di rumah buka toko online dengan modal “Inbox ya Sis” :p.

Bisa jadi, Bung Karno referensinya saat itu masih terbatas :). Nama We Tenri Olle sendiri belum hits. Referensi tentang dirinya sangat terbatas. Beliau pun tidak pernah menuliskan apa-apa tentang dirinya sendiri. Penting lhoooo menulis itu :D.

Balik lagi ke soal agama, Ibu Kartini pun sebenarnya seorang muslimah. Walau tanpa kain kerudung di kepalanya, konon, Bung Karno sangat tertarik dengan hasrat belajarnya yang tinggi. Kartini sempat mempertanyakan mengapa alquran tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipelajari.

Dari beberapa referensi, misteri “Habis Gelap Terbitlah Terang” ditengarai datang dari ayat-ayat dalam surah Al Baqarah :). Curhatan Kartini kepada Mrs Abendanon memang menyebut-nyebut soal ini. Arti aslinya, “Dari Gelap Menuju Cahaya” dikaitkan dengan “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur” –> “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” :).

Mengetahui betapa indahnya ajaran Islam di mata Kartini dan betapa berkesannya pemahamannya akan alquran, masa sih masih ingin menggugat keislamannya? Kenapa? Karena di kepalanya identik dengan konde instead of berkerudung? :p.

Kegelisahan lain adalah tentang prestasinya. Hadeeehhh, cuma emak-emak ningrat kurang kerjaan yang kebetulan bisa berbahasa Belanda yang nulis surat ke orang Belanda. Isinya curcol pula. Apa hebatnya?

Dewi Sartika yang juga ditampilkan sebagai figur berkonde malah sudah terjun menggagas pendidikan untuk kaum perempuan. Langsung mendirikan Sekolah Perempuan. Pemalas amat Kartini cuma bobo-bobo cantik di rumah sambil surat-suratan :p.

Rohana Kudus, salah seorang pelopor jurnalis perempuan di Indonesia. Nah, tulisannya pun lebih cetar. Tidak sekadar lembaran curhat dan kegelisahan seorang ibu rumah tangga. Dia juga mendirikan sekolah, lho. Pakai kerudung pula. Kurang salehah apalagiiiiiii? Konon, Ibu Rohana punya ‘kekurangan’ di mata Bung Karno. Karena beliau mengkritisi poligami? Secara Bung Karno kan pelaku poligami?

Cut Nyak Dhien dan Kartini
Rohana Kudus (gambar : id.wikipedia.org)

Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu adalah pejuang wanita di garis terdepan. Emmy Saelan datang belakangan. Beliau adalah pejuang wanita yang juga bertempur langsung menghadapi musuh di era pasca kemerdekaan.

Di akhir hidupnya, Emmy Saelan memimpin puluhan pasukan menghadapi Belanda. Saat hanya dirinyalah satu-satunya yang tersisa, Emmy Saelan tetap tidak menyerah. Dilemparkannya sebutir granat, satu-satunya senjata yang tersisa di genggaman tangannya. Banyak pasukan lawan menjadi korban granatnya termasuk Emmy Saelan sendiri, gugur di pertempuran tersebut.

Mencoba menggugat perjuangan Kartini dibandingkan pahlawan-pahlawan perempuan yang saya sebutkan tadi seolah mengingatkan saya terhadap gugatan akan kemandirian perempuan. Ada pemikiran, perempuan tuh harusnya berkarya nyata dong di masyarakat. Lebih keren memberikan kontribusi langsung. Kalau cuma ngendon di rumah sambil momong anak + ngurus dapur, apa hebatnya?

Emmy Saelan (gambar : historia.id)
Emmy Saelan (gambar : historia.id)

Menghina perempuan yang katanya cuma nulis surat doang compare to mereka yang benar-benar mendirikan sekolah untuk masyarakat dan mengangkat senjata? Bukankah jadinya ironis? 🙂

Kalau boleh menebak-nebak isi pikiran Bung Karno, kira-kira gimana tuh, ya.

Tahun penetapan hari lahir Kartini sebagai salah satu perayaan nasional adalah bertahun-tahun setelah masa kemerdekaan. Saat itu, perjuangan bangsa tidak lagi tentang mengangkat senjata di medan perang. Melainkan berusaha bersama-sama memajukan tanah air pasca kemerdekaan telah direbut dan pembagian wilayah sudah “tuntas” dengan Belanda.

Mungkin, kan ceritanya nebak-nebak nih hehehehe, Bung Karno ingin memperkenalkan bentuk perjuangan anti mainstream termasuk kepada para perempuan. Dilahirkan sebagai priyayi, Kartini dan saudara-saudaranya sudah termasuk keren di zamannya.

Dari sudut rumah yang lepas dari hiruk pikuk kontroversi penjajahan, Kartini muda konsisten menuntut ilmu. Dalam kebingungan dan banyak pertanyaannya, Kartini menuliskan kegalauannya.

Mengutip komentar Mas Bowo Kusumo tempo hari, “Kenapa Kartini menjadi popular? Karena dia menulis. Kalo zaman sekarang, mungkin dia bikin blog. Lantas blognya dibaca oleh jutaan orang dan banyak mengubah kehidupan orang banyak. Kartini menunjukkan bagaimana pena bisa lebih tajam dari pedang dan lebih ampuh dari peluru.”

Lah, Rohana Kudus juga menulis, kok.

Mungkin waktu itu Bung Karno belum tahu soal Ibu Rohana hehehehe. Kemungkinan kedua, Bung Karno memang ingin menawarkan perspektif yang lain. Memangnya kenapa kalau perempuan di rumah saja? Apakah jika Kartini pada akhirnya rela dimadu, kesannya kan lembek amat tahu-tahu mau dikawinin dan mengkompromikan cita-citanya, berarti Kartini tidak layak menjadi ikon emansipasi?

Buat saya, emansipasi perempuan ini masalah kebebasan. Kebebasan untuk MEMILIH. Apakah kehebatan perempuan itu selalu diukur dengan keberaniannya lebih banyak berkarya di luar rumah dan untuk orang banyak selain untuk keluarganya? Bagaimana dengan perempuan-perempuan seperti saya? Yang ternyata belakangan menyadari, setelah anak saya lahir dan diasuh baby sitter, saya kok tidak ikhlas rasanya.

Tapi, apakah perempuan yang akhirnya lebih banyak menyerahkan pengasuhan anak kepada tangan ketiga berarti menyalahi kodrat? Bagaimana pula dengan ibu saya?

Belakangan ibu saya mengaku kalau sebenarnya beliau sangat tidak suka menjahit. Punggungnya sakit. Tapi dengan beban ekonomi yang ketat, ibu memilh untuk membantu bapak. Ijazah SMP pun tidak punya, tak banyak keahlian yang bisa dipilih bukan? Ya sudah, biar sinkron dengan jualan bapak, ibu belajar menjahit gorden.

Ibu saya tak hendak menikah muda. Keadaan yang memaksa. Saudara kembarnya saja, tante saya, itu lulusan S1 IAIN lho :).

Mesin jahit zaman dulu (gambar : forum.kompas.com)
Mesin jahit zaman dulu (gambar : forum.kompas.com)

Ibu mertua saya lain lagi. Sejak pertama bertemu, saya sudah merasa terintimidasi dengan kecerdasan dan kecantikan Mami, panggilan buat ibu mertua saya, nih :D. Soal cerdasnya, tak heran lah, sejak dulu pendidikan tinggi bukan hal tabu bagi umumnya perempuan asal Minang.

Onde mande banget kalau lihat foto-foto Mami waktu masih muda. Yang super narsisi pun langsung angkat tangan! Hahahahha. Mami berdarah Bukittinggi 100%. Hidungnya mancung sekali, kulitnya putih bersih. Bukan lagi level kuning langsat. Putihnya seperti kulit orang bule. No wonder, suami saya sering disangka bukan orang Indonesia asli hehehehe. Dari situ asalnya ;).

Kalau tidak salah, hanya setahun Mami menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Di tahun kedua Mami memutuskan memilih pinangan dari bapak mertua. Sejak awal menikah, sudah dibawa merantau nun jauh ke Sulawesi Utara. Di tahun segitu, orang Minang memang sudah jauh lebih maju dalam dunia pendidikan. Di Sulawesi ya mau sekolah apaan? Hehehe.

Suami saya lahir di Yogyakarta. Di Yogya, Mami punya kesempatan untuk memilih. Usia baru 30 tahun. Dulu, wajar saja jika orang kuliah di umur segitu. Universitas bagus-bagus juga di Yogyakarta. Mami bilang tidak tega meninggalkan suami saya yang waktu itu umurnya baru setahunan.

Gambar : thestri.cafemom.com
Gambar : thestri.cafemom.com

Begitu banyak keinginan yang tidak kejadian, keadaan yang kadang ingin dihindari. Begitu banyak kombinasi jalan hidup yang harus dihadapi dan pilihan yang harus dibuat.

Seharusnya … perempuan PUN boleh memilih. Seharusnya kita, perempuan, bisa menjalani macam-macam pilihan tanpa penghakiman apa pun. Pening, kan? Memilih di rumah, dibilang sayang ijazahnya. Memilih berkarya di luar rumah, dibilang tak ada surga untuknya.

Memilih sekolah tinggi suka ditanya-tanya untuk apa? Ya masa tidak boleh menimba ilmu setinggi mungkin? Sekolah tidak tinggi pun, disindir perempuan harus tetap punya pendidikan mumpuni untuk mengasuh anak-anak. Kalau oon, entar anak-anaknya jadi apa? Memangnya ilmu hanya didapat dari bangku sekolah formal?

Punya karier cemerlang dianggap mengintimidasi laki-laki. Kasihan pasangan hidupnya. Tak punya karier apa-apa, ditakut-takuti karena dianggap tidak mandiri. Gimana kalau ditinggal suami?

Macam-macam ‘label’ tadi, yang justru tumbuh atas desakan lingkungan membuat kita, perempuan, menjadi serba insecure. Ujung-ujungnya, insekuritas tadi memicu peer pressure di kalangan perempuan sendiri.

Saling nyinyir-nyinyiran tak tentu arah. Segala alasan digunakan. Mulai dari alibi budaya sampai alibi agama. Saling menuduh saling menjatuhkan. Enggak capek, buibu? :p

Padahal kan, “To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho

Kisruh Cut Nyak Dhien vs Kartini sebenarnya adalah cerita lama untuk memperkuat insekuritas di kalangan perempuan itu sendiri. Apakah merayakan hari Kartini otomatis membuat kita mengingkari perjuangan Cut Nyak Dhien? Ya enggak lah :).

Kalau memang ingin mendesak pemerintah untuk lebih banyak menggali sejarah perjuangan perempuan Indonesia, tidak harus dengan menjelek-jelekkan yang lain kan? 🙂

Emansipasi harusnya dimanfaatkan untuk saling menguatkan. Saling berbagi pilihan masing-masing tanpa harus saling menghakimi :). Saling memahamkan bahwa bersama pilihan apa pun, akan selalu ada konsekuensi yang menyertai. Saling memberanikan diri menghadapi apa pun konsekuensi tadi.

Sebuah tulisan dari penulis perempuan di luar sana, sori lupa namanya hihihi, untuk pengingat kita, para perempuan. “Once were girls … we compete to each other. As women … let’s empower one another” :).

Gambar : lovethispic.com
Gambar : lovethispic.com

Mari memilih dan apa pun alasannya … let’s simply be happy :).

Apa pun pilihan itu, tak akan lupa kacang pada kulitnya, tak boleh lupa perempuan Indonesia pada ‘daster’nya ;). Selamat hari Kartini ^_^.

***

Kumpulan Emak Blogger

3 Tahun Kumpulan Emak Blogger #K3BSauyunan

Enggak nyangka juga, ya, setelah berhenti bekerja dan lebih banyak di rumah, tetap bakal banyak aja gitu urusan hahahahhaha.

Dikira bakal bosan ngangon anak dan ngurusin kerjaan rumah tangga saja, ealah, malah rasanya makin banyak saja yang BISA di-kepo-in :v :v :v *toyorKepalaSendiri*.

Dulu juga sempat merasa, “Duileh, cara bergaul bakal macam mana ni ya kalau sudah tidak bekerja lagi. Tiap hari beredar di kantor saja rasanya kenalan segitu-gitu aje.” :v :v :v

Thanks to internet ;). Hits dunia digital juga membawa perubahan bagi gaya hidup banyak orang. Jangan-jangan, tinggal di rumah kalau rajin ber-socmed bisa lebih sibuk ketimbang kerja kantoran :v :v :v .

Era digital juga sedikit demi sedikit memengaruhi cara kita mengakses informasi. Googling menjadi salah satu metode utama untuk mencari informasi dalam hal apa pun! Termasuk urusan tetek bengek anak-anak :D. Mengaku saja, saya ini ratu googling abis! :p.

Blogging adalah salah satu fasilitas socmed yang usianya paling “dahulu kala” :D. Menulis blog, hal yang dianggap menyenangkan yang dipilih oleh banyak orang. Termasuk ibu-ibu seperti saya.

Kumpulan Emak Blogger
Gambar : bloggingmatters.com

Akhirnya, banyak forum atau perkumpulan yang mempertemukan emak-emak yang doyan ngeblog ini. Di Kumpulan Emak Blogger misalnya.

Enggak terasa sudah 2 tahun join di grup emak-emak satu ini. Jadi ingat tahun 2013 lumayan sering ikut-ikut lomba, dapat macam-macam hadiah mulai dari mesin cuci, gadget, sampai duit :D. Ya rata-rata infonya dapat dari KEB ini nih :D.

Blogging itu cakupannya luas lho. TIdak bisa pakai alasan enggak bisa atau enggak suka menulis. Apalagi .., Ibu-ibu mah enggak ada matinya ;).

Ada yang membagi resep dan tips memasak (surga untukmulah para kitchen blogger! :D), ada yang mencatatkan perkembangan buah hati dan pengalaman membesarkan anak, ada yang menuangkan hobi fotografi, ada yang suka menulis fiksi, sharing tips-tips menjahit atau prakarya lainnya, tulisan jalan-jalan, wisata kuliner, tips-tips belanja :p, tips memilih sekolah, tips MPASI, atau sekadar kisah-kisah ringan keseharian mereka :).

Bahkan tak sedikit yang meraih keuntungan materi dari hobi ngeblog ini. Sudah kenal sama Mak Haya Aliya Zaki atau Mak Arin Murtiyarini? Tobat deh kalau melihat koleksi gadget atau uang yang mereka peroleh dari hasil menulis di blog :D. Bukan cuma mereka berdua, ada banyak yang lainnya lagi ^_^.

Kalau tak salah penantang baru makin ramai. Seperti misalnya Mak Pungky Prayitno yang juga merupakan pemenang Srikandi Blogger 2014 :D. Seru yaaaaa, ngerjain hobi sambil mengail rezeki ^_^.

There are lots and lots of positive things we can share … di dunia yang katanya maya ini ;).

Jangan takut untuk menuliskan hal-hal yang kelihatannya sepele. Memaksakan diri untuk menulis opini-opini mengenai topik ‘berat’ tidak selalu menjadi pilihan bijaksana. Jadilah diri sendiri. Berikan sentuhan unik pada cerita-cerita kita. Kumpulan kisah yang berbeda-beda dari berbagai emak blogger akan menjadi warna warni tersendiri dalam dunia blogger.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan sehelai daun kering yang tersia-siakan oleh angin bisa dipungut dan dijadikan kerajinan tangan berupa pembatas buku yang cantik :).

“One person can make a difference, and everyone should try.” ― John F. Kennedy

Sekalian share tulisan lama yang dibuat saat mengikuti lomba menulis pasca acara Srikandi Blogger 2013 silam.

Selamat ulang tahun, Kumpulan Emak Blogger #K3BSauyunan ^_^. Keep together, stay inspiring ;).

 

I Say a Little Prayer

“Kalo tida’ pi skola, nanti jadi tedong.” (Kalau tidak pergi ke sekolah, nanti jadi kerbau).

“Biarma’ jadi tedong …” (Biar saja menjadi seperti kerbau).

Hahahahha. Kalau ingat yang ini masih ngakak-ngakak sampai sekarang. One of the most memorial conversation back then. Waktu Mama saya membujuk salah satu kakak saya agar mau ke sekolah. Itu katanya si calon tedong kecil itu ngomongnya sambil sesengukan lho. Saking enggak maunya disuruh ke sekolah. Hahahhaha.

“Patteriang la’de’. Terri-terri okko salo’e” (Cengeng sekali. Menangis keras-keras saat di sungai).

This one isn’t less hilarious hihihihi. Kakak saya yang ini memang gampang menangis kata Mama. Suatu kali dibawa naik perahu menyeberang sungai. Lupa saya Mama mau ke mana. Hadeuh, sepanjang jalan menangis berteriak-teriak. Ribetnya bawa anak umur 2 tahun menyeberang sungai yang mengamuk pengin turun dari perahu *LOL*.

Kalau dibawa ke acara-acara juga begitu. Manja sekali. Maunya digendong terus. Kalau enggak digendong ya dia mewek hihihi.

Selamat Hari Ibu Jihan Davincka
Gambar : patheos.com

Terus kakak satu lagi, juaranya! Pernah kedapatan bolos sekolah 2 minggu penuh! Sekali ini, Mama benar-benar murka. Saking marahnya, mama sampai menangis.

Kakak ini akhirnya memilih berhenti sekolah. Tobat kali Bapak dan Mama. Dipindahin sekolah ke sana sini, enggak ada perubahan :p. Pas Bapak meninggal, dia yang ditugaskan menjaga kios. Duh, lagak lagunya. Hanya mau ke pasar kalau sudah makan nasi kuning komplit, susu coklat, atau apalah yang dia mau.

Tidak ada pilihan lain. Siapa lagi yang mau diandalkan ke pasar? Dituruti terus apa maunya. Saya mah ogah ya disuruh-suruh meladeni dia hahaha. Adik saya yang sering ketiban tugas beli-beli makanan yang si Tuan Besar ini mau :p.

Nah, adik perempuan saya, yang paling hobi mappasiterru-terru hihihi. Ini maksudnya, pulang sekolah, dia enggak pulang ke rumah dulu. Entah dia ke rumah temannya, entah dia langsung jalan-jalan sama gengnya. Pokoknya, beda sekali dengan saya yang anak rumahan banget dari kecil hehehe.

Mama kan suka panik. Sudah pulang dari kios, dia belum juga pulang dari sekolah -_-. Eh tahu-tahu diantar pulang temannya naik mobil. Adik saya selalu nge-geng sama teman-teman cewek yang ekonominya jauh di atas kami. Pinter cari temen emang si Buntel nih :p.

Adik saya juga susah benar disuruh belajar kalau mau ujian :p. Maunya mejeng aje sama teman-temannya :D.

Apakah anak rumahan seperti saya berarti enggak punya masalah?

Ini kata Mama waktu suami saya nanya-nanya, “Si Jihan kecilnya gimana, sih, Ma?”

“Takut kita, Nak, mau bawa-bawa dia pergi. Kalau mengamuk, tidak lihat tempat. Tidak takut sama siapa-siapa. Kalau sudah kumat, sepatunya dilempar, bajunya ditarik-tarik, teriak-teriak sambil mukul-mukul.”

Suami saya melirik saya seolah mau bilang, “Kalau hobi ngamuknya sih kayaknya masih lanjut sampai sekarang.” Hahahahaha.

Iya lho, bahkan sampai sudah agak gedean. Saya suka tahu-tahu mengamuk kalau baru bangun tidur. Moody-an banget. Kalau sudah kumat (seperti istilah Mama hihihi), isi lemari baju dikeluarin semua, dilemparin sesuka hati. Enggak ada yang berani menenangkan hahaha *tutupMuka*.

Waktu kecil saya sama sekali tidak mau makan sayur. Pernah sakit sembelit sampai parah banget :p. The real picky eater. Sering pingsan kalau lagi upacara di sekolah. Sampai Mama pernah bete sama guru di sekolah. Karena guru-nya sotoy juga, sih. Masa langsung melontarkan tuduhan bahwa saya kurang dirawat sama Mama jadi pas mau ke sekolah lupa dikasih sarapan hehehe.

Cerewet iya, cengeng iya, gampang mengamuk iya, badan kurus kering iya. Panggilan kecil saya itu “Jihan Tulang.” Duh, kok pas sudah gede begini, susah bener ya mau kurus lagi hahhhahahaha.

Who is this? Hahahahhahaha
Who is this? Hahahahhahaha

 

Years gone by :). Si anak kecil yang sampai nekat mau jadi tedong itu saking takutnya disuruh ke sekolah … gedenya jadi sarjana Teknik Elektro lulusan PTN, lho ;). Yang cengeng selalu minta digendong sekarang sudah jadi fashion stylist dan mulai merintis lini busananya sendiri ;).

Yang suka bolos, putus sekolah, dan ngeselinnya minta ampun tempo dulu, now is a father of 2 children. Kakak saya yang ini yang dulu egoisnya minta ampun, sekarang yang paling ringan tangan dalam urusan apa-apa ^_^. Such an amazing father too, for his little girl and my cutie little nephew :).

Yang hobi mejeng dan suka ngeceng, pas gedean suka dugem juga nih anak :p, lulus cum laude dari kampusnya. Now, she’s a working Mom with 3 super children (kalah eike bok! hahahaha).

Kalau yang suka mengamuk dan makannya dulu benar-benar bermasalah, langganan juara kelas waktu sekolah ;), kuliah sampai ke UI, bekerja kantoran hingga akhirnya sekarang … menjadi pengangguran! Hahahhahahaha :p. Anti klimaks bener *pukPukDiriSendiri*.

Dulu musuhan sama sayur? Sekarang jadi praktisi FC yang lumayan taat :D.

cara menurunkan berat badan dengan cepat

Waktu anak sulung saya kecil, makannya juga susah minta ampun. Kadang bisa sampai menangis saya biar dia mau makan. Hahahahaha. Drama, drama, drama :p.

Sempat bikin saya kecil hati, karena dulu di Jeddah ya, ada yang kasak kusuk kalau saya tidak pintar mengurus anak makanya anak saya kurus begitu. Duh, sakit hatinya. Kalau ingat, dia dulu minum susu saja, sampai telaten saya cekokin sesendok demi sesendok. Tiga kali sehari! Dulu belum paham FC sih ya :p.

Saya sampai ditegur Mama saya. Karena kadang saking sebalnya, anak saya yang saya marahin :(. Terus saya ingat saya juga dulu makannya susah, Mama bilang ke saya, “Didoakan je’, Nak. Aja tisi mu maceri kesi’.” (Didoakan, Nak. Jangan selalu dimarahi).

Iya, Mama sering bilang begitu. Dalam mengurus anak, menjadi Ibu, tidak selalu semuanya bisa kita kontrol. Makanya, selalu disertai dengan doa, doa, doa. Anak-anak kan tidak akan selalu tumbuh tanpa masalah sama sekali. Waktu kecil rasanya sudah setengah mati orang tua berusaha menjaga dan merawat, ada saja error yang kejadian hehehe.

Siapa sangka, kan, kecilnya bagai “monster”, gedenya bisa finally “normal” jugak! Hahaha.

Kekuatan doa ibu
The Magnificient 7! 😀

 

Dulu, sebelum teknologi internet berkembang pesat, kurang informasi bikin kita sulit mengembangkan banyak keinginan. Cenderung “kuper”. Tak semudah seperti sekarang.

Menjadi Ibu di era digital dan saat globalisasi mengantarkan begitu banyak informasi bisa beda lagi tantangannya. Saya tidak bilang, menjadi Ibu sekarang lebih sulit daripada ibu-ibu kita dulu. Saya sudah sering mengatakan, tiap masa tiap zaman punya pertaruhannya masing-masing ;).

Sekarang, kelihatannya banyak saja yang jahat-jahat dan aneh-aneh, ya iyalah, dulu belum ada Facebook dkk dan cuma ada TVRI! Hihihihi. Dulu, masalah anak seperti di SD Padang tempo hari belum tentu bisa go viral sampai ke Sulawesi. Mau disebarin lewat apa? Koran juga masih terbatas. Memang sudah ada detik.com? :p.

Sekarang, semua orang bebas mengoceh di media sosial yang bisa diakses hampir tanpa batas. Jangankan kejahatan beneran, berita hoax saja gampang betul go viralnya ;).

Sungguh semua terasa jadi sulit. Banyak kekhawatiran. Sering galau memikirkan akan seperti apa anak-anak kita nanti tumbuh besar di luar sana. Dunia seperti apa yang akan mereka hadapi? Sad yet true … we’ll never know :(.

Masa depan mereka… di luar jangkauan kita. Kita hanya sanggup mempersiapkan sebaik yang kita bisa, memilihkan yang sekarang bisa kita tentukan, hingga akhirnya mereka akan tumbuh besar dan mengejar dunianya sendiri.

Untuk semua hal-hal di depan sana yang sungguh jauh di luar kuasa, selalu sertakan perlindungan Tuhan di dalamnya. Seperti kita melengkapi segala ikhtiar dan jerih payah dengan … doa seorang Ibu . Let’s always say a little prayer for them. As ‘scared’ as we are, always turn our worries over to God :)..

Siapa tahu, sebagian “keajaiban” dalam perjalanan hidup anak-anak hingga dewasa adalah perlindungan dari doa Ibu yang selalu menyertai :). Bahkan sampai saat kita sudah dewasa dan menikah dan sudah pergi menjauh. Saya yakin, Mama selalu tetap mendoakan kami bertujuh plus para menantu dan segambreng cucu-cucunya :). Let’s do the same.

“Hanya padaMu, Tuhan
Tempatku berteduh
Dari semua kepalsuan dunia”

Don’t worry be a Mommy, Tuhan selalu menyertai doa-doa terbaik kita. Be brave, stay strong … selamat hari Ibu :).

Kekuatan doa ibu
Gambar : glitter.si

***