Mengenang Gandhi

***

Hari ini, tahun 1948 silam, seorang tokoh dunia telah wafat karena terbunuh. Tokoh yang terkenal dengan kesederhanaan dan sikap anti kekerasannya. Dijuluki Mahatma (Jiwa Agung). Seorang yang terlahir dengan nama asli Mohandas Karamchand Gandhi.

Gandhi_smiling_R

Gandhi terbunuh oleh penganut Hindu fanatik yang menganggapnya terlalu baik kepada kaum muslim India.

Gandhi terkenal dengan 10 ajarannya :

1. Change Yourself.

“You must be the change you want to see in the world.”

Berubah dulu untuk diri sendiri. Jangan berharap dunia/lingkungan berubah dengan sendirinya. Seperti kata Michael Jackson, “I’m starting with a man in the mirror.” :).

2. You are in Control.

“Nobody can hurt me without my permission.”

Kita adalah pengendali utama untuk diri kita sendiri.

3. Forgive and Let it Go.

“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong…. An eye for eye only ends up making the whole world blind.”

Tepat sekali. Memaafkan memang merupakan salah satu hal tersulit di dunia ini :(.

4. Without Action You aren’t Going Anywhere.

“An ounce of practice is worth more than tons of preaching”

Indeed, action speaks louder :).

5. Take care of this moment.

“I do not want to foresee the future. I am concerned with taking care of the present. God has given me no control over the moment following.”

Seize the day! ^_^

6. Everyone is Human.

“I claim to be a simple individual liable to err like any other fellow mortal. I own, however, that I have humility enough to confess my errors and to retrace my steps.”

“It is unwise to be too sure of one’s own wisdom. It is healthy to be reminded that the strongest might weaken and the wisest might”

Tidak ada yang sempurna. Tak ada gading yang tak retak.

7. Persist.

“First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.”

Jangan menyerah, pantang mundur.

8. See the Good in People and Help Them.

“I look only to the good qualities of men. Not being faultless myself, I won’t presume to probe into the faults of others”

“Man becomes great exactly in the degree in which he works for the welfare of his fellow-men”

“I suppose leadership at one time meant muscles; but today it means getting along with people”

Kasturba, wanita pendamping Mahatma yang setia itu, barangkali bingung mendengar ucapan Sang Mahatma. Maka, pada suatu hari ia bertanya: “Bila memang demikian, kenapa kau ingin mengusir Inggris dari India? Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan dengan mereka?”

Mahatma membisu selama beberapa detik, baru menjawab: “Karena negeri ini adalah negeri kita, dan sudah sepatutnya kita sendiri yang mengurusinya. Mereka tidak perlu mengurusi kita.”

“Nonviolence does not signify that man must not fight against the enemy, and by enemy is meant the evil which men do, not the human beings themselves.”

“Tanpa-Kekarasan tidak berarti kita tidak boleh melawan musuh. Hanya saja yang kita musuhi adalah kejahatan yang dilakukan oleh manusia, bukan manusianya.” Kita melawan tanpa senjata, tetapi dengan kekuatan logika, rasio, dan di atas segalanya cinta-kasih serta pemaafan.

9. Be Congruent, be Authentic, be Your True Self.

“Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.”

“Always aim at complete harmony of thought and word and deed. Always aim at purifying your thoughts and everything will be well.”

10. Continue to Grow and Evolve.

“Constant development is the law of life, and a man who always tries to maintain his dogmas in order to appear consistent drives himself into a false position.”

Keep on moving on, everyone!

***

Rest in peace, our Mahatma :).

Salahuddin Al Ayyubi

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), Dicinta Kawan Dipuja Lawan

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), salah satu tokoh besar yang dipersembahkan oleh peradaban Islam di abad 6 – 7 Hijriah. Lahir tahun 1138 M di daerah Tikrit, Irak. Seorang keturunan Kurdi yang di usia belasan ikut hijrah bersama keluarganya ke Damaskus, Suriah. Namun menaiki panggung kebesarannya melalui daratan Mesir.

Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin. Dijuluki sebagai Salahuddin. Dunia barat memanggilnya sebagai Saladin. Al Ayyubi merupakan nama keluarganya. Salahuddin Al Ayyubi.

Salah satu keistimewaannya adalah namanya tidak cuma bergema di kalangan muslim saja. Tapi disebut-sebut di berbagai literatur barat.

Salahuddin Al Ayyubi
Salahuddin Al Ayyubi

***

Secara sekilas sudah sering sekali mendengar kebesaran seorang Salahuddin Al Ayyubi. Tapi baru benar-benar ‘tersentak’ ketika membaca sepak terjangnya secara khusus dalam perjalanan panjang kisah Perang Salib. Ditulis dalam buku “Perang Suci, dari Perang Salib Hingga Perang Teluk.”

Karena peristiwa di Gaza beberapa waktu lalu, saya terpancing untuk kembali membolak-balik 800 halaman dari buku yang ditulis oleh seorang Karen Armstrong yang mengaku dirinya sebagai ‘freelance monotheist’ ini. Tapi rasanya pengetahuan saya masih terlalu minim untuk membahas soal Gaza dan zionisme.

[adCOntent]

Saat kembali mengurai halamannya satu persatu, kisah Salahuddin Al Ayyubi (Saladin) -lah yang lagi-lagi mencuri perhatian.

Membaca pertama kali buku ini hampir 3 tahun yang lalu, saya sampai-sampai begitu ngotot kalau punya anak laki-laki lagi, namanya mesti Saladin. Ketika 20 bulan lalu putra kedua saya lahir, usul ini tidak mendapat approval dari bapaknya hehehehe.

***

Yusuf remaja sebenarnya adalah pemuda yang sangat sensitif. Malah cenderung penakut. Yusuf trauma dengan peperangan melelahkan yang pernah dijalani bersama pamannya, Syirkuh. Terkesan ogah-ogahan saat harus kembali berangkat menuju Mesir bersama Syirkuh. Namun akhirnya, bersama Yusuf, Syirkuh berhasil memukul mundur para Crusaders (ksatria Perang Salib) dari perbatasan Mesir.

Atas jasanya, Syirkuh diangkat menjadi wazir Mesir. Ketika Syirkuh wafat, secara tak terduga, Yusuf-lah yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Saat inilah perubahan besar mulai terjadi pada pemuda berhati lembut ini. Yusuf meyakini takdirlah yang telah mengutusnya untuk berjihad di jalan Islam. Membawa kembali kejayaan Muslim yang seakan terbenam dengan direbutnya Baitul Maqdis di periode Perang Salib pertama.

Mendalami agama dan mengobarkan semangat jihad, Yusuf menjelma menjadi seorang pemberani yang diimbangi oleh tingkat kesalehan yang tinggi.

Yusuf tampil dan dikenal dengan gaya kepemimpinan yang revolusioner. Pemimpin besar pendahulunya, Sultan Nuruddin, dikenal sebagai pemimpin saleh dan dermawan. Tapi seperti kebanyakan model kepemimpinan di Timur Tengah, Nuruddin nyaris tak terjangkau oleh rakyatnya. Tinggal di istana besar dalam kemewahan, Nuruddin tak luput dari gaya despotiknya yang kental.

Yusuf justru membuka aksesibilitas dirinya terhadap rakyat seluas-luasnya. Gayanya yang informal mengejutkan banyak pihak. Termasuk ketika beliau pasrah kepada pelayannya yang menceramahinya untuk banyak beristirahat. Hanya tertawa-tawa ketika kuda salah satu pengawalnya mencipratinya dengan lumpur.

Yusuf kembali mengingatkan dunia Islam akan sejarah masa lampau Kepemimpinan Islam yang diterapkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ingatlah Nabi Muhammad, kenanglah Abu Bakar, lihatlah Umar, Usman, dan Ali. Adakah mereka memberi jarak terhadap umat yang seharusnya dibela kepentingan dan kehormatannya?

Satu kejadian lucu saat saya membawakan materi ini di pengajian rutin kami minggu lalu, di bagian ini, seorang teman saya langsung menyeletuk, “Ih, kayak Jokowi dong, ya.” Hehehehe. Bukan tanpa dasar, saya sempat mengelu-elukan beliau secara khusus di wall ini ;).

Ya, beda kelas lah :D. Terlalu dini untuk menyanjung seorang Jokowi setinggi pahlawan besar seperti Salahuddin. Namun kita berharap Jokowi adalah sebuah tipping point bagi negeri yang tengah terpuruk ini :(. Membawa angn segar, setidaknya memacu perubahan tipe kepemimpinan yang makin memihak kepada rakyat. Hidup blusukan :P.

Dengan semangat tinggi, Yusuf menyatukan kerajaan-kerajaan Islam kecil menjadi satu kekuatan besar. Mengobarkan semangat jihad yang pada akhirnya merebut kembali Baitul Maqdis di Perang Salib periode ke-2.

Sekalipun Yusuf adalah petarung ulung dalam perang, jangan lupakan pribadinya yang mudah tersentuh. Yusuf tak pernah menyiksa tawanan perang. Yusuf tak segan mengabulkan permintaan gencatan senjata bila lawan sedang kepayahan. Dalam Islam, tak masalah dilakukan gencatan selama tidak merugikan kaum muslim.

Kejujurannya pun sangat teruji. Yusuf tak pernah melanggar gencatan senjata mana pun. Sekali beliau murka ketika para Crusader menyerang rombongan kaum muslim yang akan berangkat berhaji di masa gencatan senjata tengah berlangsung. Tanpa ragu, Yusuf turun langsung mengobarkan perlawanan kepada musuh yang dianggap berkhianat. Pengasih namun pantang direndahkan :).

Salah satu kisah teladannya menghadapi musuh adalah saat berhadapan dengan Raja Richard. Richard yang dijuluki The Lion Heart, Hati Singa, saking pemberaninya.

Ketegasan nyaris tak pernah mempengaruhi jiwa kemanusiaannya. Di suatu pertempuran, kala pasukan Richard terdesak, dimana akhirnya sang Raja ikut berjalan bersama pasukannya tanpa menunggang kuda, Yusuf luluh.

Yusuf meminta salah seorang serdadu mengirimkan kuda buat Richard. Sabdanya, “Aku tak tega melihat pejuang besar sepertinya mempermalukan diri seperti itu.”

Saat Richard tengah sakit keras, Yusuf mengirimkan tabib terbaik kerajaan untuk turut merawatnya.

Allah bersabda, “Hai orang-orang yg beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yg selalu menegakkan keadilan karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya :).

Di akhir hayatnya, pemimpin besar ini hanya meninggalkan harta 47 dirham saja. Konon, pengawal pribadinya selalu menyisihkan sebagian harta kerajaan secara diam-diam untuk mencukupi kehidupan seorang Salahuddin. Masya Allah :'(.

***

Ada satu hal penting lain tersirat dari buku sejarah (saya lebih suka menyebutnya sebagai “buku sejarah” instead of “buku agama”) karya Armstrong ini.

Di masa-masa awal perang Salib, Eropa barat selaku kaum yang menginvasi umat Muslim di Timur Tengah, tengah berada dalam periode abad kegelapan. Peradaban mereka diwakili oleh kaum Frank, yang digambarkan Armstrong sebagai kaum barbar.

Perang Salib sedikit demi sedikit memacu mereka memasuki babak baru. Abad kebangkitan. Darimana mereka ‘mengembangkan’ peradaban mereka?

Invasi mereka ke kaum muslim sekaligus memperkenalkan budaya keislaman di Timur Tengah. Bangsa Eropa barat ini belajar mandi dan membersihkan diri dan kaum muslim. Mereka belajar kebersihan, memakai wangi-wangian, dan tertarik pada kain tenun khas Timur Tengah. Peradaan Muslim yang kala itu banyak melahirkan ilmuwan dan sastrawan besar tak luput dari perhatian mereka.

Mereka berusaha ‘memindahkan’ peradaban ini dan memajukan kawasan mereka. Dan sejarah meninggalkan jejaknya hingga kini. Seperti apa kehidupan umat muslim sehari-hari di kawasan Timur Tengah. Pernah tinggal di Saudi? Doyan mandi gak orang Saudi? :P. Isu kebersihannya bagaimana? Di Indonesia bagaimana? :(.

Apakah yang khas dari negara-negara maju di Eropa? Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan tahun lalu, “How Islamic are Islamic countries?” menasbihkan negara New Zealand dan negara-negara barat lainnya di jajaran 10 besar. Kemana umat muslim? Di urutan keberapa negara-negara yang dijejali penduduk yang berstatus Islam? Arab Saudi di urutan ke-131! Indonesia? Urutan 140!

Coba bayangkan, mereka belajar kebersihan dari dunia muslim? How come? 🙁

***

Nama Salahuddin Al Ayyubi terpatri kuat di hati rakyatnya. Semangat jihadnya menyebar benih-benih kekuatan bagi dunia Islam saat itu. Namun, kebesarannya pun tak luput dari perhatian dan puja puji dari kaum lawan.

Selayaknya, tak ada keraguan, jika dipatuhi secara benar dan displin, sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil ‘aalamin. Dan tokoh Saladin merupakan salah satu peletak dasar atas (pernah) berjayanya Syariah Islam di hampir 2/3 belahan dunia kala itu. Sejarah pernah mencatat bahwa ketiga agama ini pernah hidup tentram damai selama 450 tahun dalam naungan Syariah Islam. 450 tahun, hampir setengah milenium!

Jangan hanya lantang berbicara aqidah. Muliakan akhlak dan buat dunia sekali lagi mengakui kebesaran Islam :). Rahmat bagi seluruh umat manusia :).

***

Biografi Soekarno : Yang Terbit, Tenggelam, dan Kembali Bersinar

by : Jihan Davincka

***

Rujukan tulisan, disarikan dari berbagai sumber. Lihat di akhir tulisan, ya ;).

***
Di pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, yang cukup sering diulas adalah peristiwa Gestapu. Peristiwa yang me’wajib’kan kita, terutama para belia di masa tahun 80 an, untuk menghujat PKI (organisasi busuk yang kerjanya membantai ustaz). Sekaligus menanamkan paham bahwa Soekarno, sang presiden kala itu, bertanggung jawab atas salah satu sejarah terkelam tersebut.

Kelam bukan karena ada 7 jenderal yang terbunuh di penghujung bulan september 1965. Tapi, justru ada ratusan ribu nyawa lain yang ikut melayang selepas peristiwa tersebut.

Peristiwa yang sudah menyajikan banyak bukti namun masih sarat misteri dalam gelaran sejarah revolusi nasional.Sang presiden yang punya prinsip ‘gila’ untuk menyatukan kaum Nasionalis-Agamis-Komunis tersebut tentu tak diizinkan mendapat simpati dari kaum muslim. Jadi, semasa sekolah, saya tahunya komunis itu ya penentang Islam.Saya tidak memuja komunis.

Buat saya, baik kapitalis maupun sosialis, tak ada yang benar. Sebagai seorang muslim, saya selalu percaya syariah Islam masih satu-satunya jalan terbaik untuk kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, mohon maaf, kalau yang sekarang lagi hits membawa-bawa nama Islam dalam dunia politik sangat jauh dari bayangan saya tentang kesempurnaan Islam itu sendiri *noOffense* :P.***Timeline hari ini ramai membahas gelar “Pahlawan Nasional” yang akhirnya resmi disematkan kepada Soekarno-Hatta. Sebelumnya, keduanya cuma resmi mendapat gelar “Pahlawan Proklamator”.

Kebetulan literatur yang sudah banyak dibaca adalah tentang Soekarno. Jadi tulisan ini khusus untuk membahas Bung Karno. Presiden pertama RI yang pernah sukses membuat ‘galau’ pemerintahan kapitalis Amerika di tahun 60-an silam :D.

***

Dulu, satu-satunya yang saya tahu, presiden satu ini nyentrik banget. Tergila-gila pada seni dan…wanita! Hehehe. Buku pertama tentang Soekarno yang saya baca adalah : “Istri-istri Soekarno.”

Masa remajanya banyak diulas dalam buku “Kuantar ke Gerbang.” Sebuah buku yang sebenarnya bercerita tentang Inggit Garnasih, perempuan pertama yang berusia 12 tahun lebih tua daripada beliau. Yang berhasil menawan hati sang proklamator dalam rentang waktu paling lama.

Diceritakan tentang Soekarno muda yang tampan, idealis, cerdas, dan dari dulu ternyata memang penggemar wanita. Hehehe.

Cara berpikir lugas dan kegemarannya berbicara membawanya sebagai salah satu orator ulung. Salah satu untaian kata-kata beliau yang sangat terkenal adalah :

“BERI aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.” (Bung Karno)

Sesungguhnya Soekarno muda sudah sering mendapat perhatian khusus dari guru-guru belandanya. Tapi beliau memang bukan orang sembarangan. Di usia belia, sudah ditancapkannya cita-cita membawa bangsa Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka.

Sebuah mimpi besar yang kelak membawanya bolak balik masuk penjara, bahkan terbuang di pengasingan nun jauh di Pulau Bangka.

Di masa-masa perjuangan kemerdekaan, sedari muda, pergaulannya sudah sangat luas. Salah satu tempat favoritnya adalah di lingkungan rumah Tjokroaminoto (yang disebutnya sebagai “dapur revolusi Indonesia.”). Disinilah beliau bertemu Ki Hajar Dewantara (penggagas pendidikan nasional melalui Taman Siswa), berkenalan dengan Alimin (yang memperkenalkannya pada Marxisme), bahkan dengan Semaun. Seorang tokoh yang aktif di Sarekat Dagang Islam sekaligus anggota dari ISDV, cikal bakal PKI.

Mungkin dari situlah, Soekarno mendapat gagasan tentang Agama-Komunis, dua hal yang hingga kini tak pernah bisa terjembatani. Tapi kemudian di masa kuliah, Soekarno takluk pada paham Nasionalis. Di masa itulah, mimpinya, akan sebuah negara merdeka tempat berbagai ras dan agama mengikatkan kesetiaan pada satu tanah air yang sama, mulai bersemi.

Namanya makin bergaung setelah menuliskan artikel “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme.” Soekarno menyerukan semangat persatuan. Berdiri dalam lingkaran yang sama untuk melakukan perlawanan non-kooperatif terhadap penjajahan Belanda.

Soekarno adalah ilham terhadap Sumpah Pemuda. Sekaligus perumus dasar-dasar Pancasila secara gemilang.

***

Perjuangannya mengalami pasang surut. Tak jarang Soekarno yang narsis mengalami hubungan yang sulit dengan rekannya, Bung Hatta. Bung Hatta menginginkan kaderisasi untuk mendukung lahirnya militan-militan sekaliber Soekarno. Sebaliknya Soekarno lebih suka berkoar-koar di depan massa, mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menggerakkan mereka.

Siapa sangka, karier politiknya, yang kelihatannya akan berakhir di pengasingan selama 4 tahun di Pulau Ende, malah kembali bersinar setelah Belanda menyerah pada Jepang.

Soekarno memiliki harapan yang terlampau tinggi pada ‘tuan baru’nya ini. Ditelannya rasa arogan yang dulu berkobar sedemikian perkasa terhadap Para Meneer. Dikerahkannya kemampuan untuk menghipnotis khalayak melalui orasinya. Dibujuknya para pemuda untuk ikut barisan Romusha. Sebagian besar mereka dikirim untuk kerja paksa dan tak pernah kembali lagi.

Hatinya remuk mengenang dirinya yang dianggapnya telah mengirim mereka ke lembah kematian. Tapi ucapannya setelah itu, “Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, akan saya lakukan.”

Tentu saja, hal ini akan selalu menjadi polemik sepanjang waktu. Perdebatan moral yang tak ada habisnya.

Bersama Hatta, Soekarno tampil ke depan podium, membuka sejarah baru untuk bangsa Indonesia. Jatuh bangun bersama-sama di awal masa-masa kemerdekaan. Namun, Hatta yang lebih ‘dingin’ dan disiiplin akhirnya memilih untuk menyingkir dan membiarkan Soekarno yang terkesan tak sabaran berkibar dengan Demokrasi Terpimpin-nya.

***

Di tahun 60-an, prinsip Nasakomnya membuat kaum kapitalis gemas. Pemerintah Amerika yang tengah bergulat dengan komunis Vietnam, makin dirundung kecemasan dengan Soekarno yang keras kepala. Indonesia, dengan PKI-nya, berhasil menjadi negara dengan partai komunis terbesar di luar negara-negara yang memang berpaham komunis.

Tapi, kepopuleran Soekarno di mata rakyat menggentarkan sang Negara Jantung Dunia untuk ‘menyerang’ secara terbuka. Konon, kaum kapitalis ini, diam-diam menyusup dalam setiap kisruh yang sepanjang tahun 50 dan 60-an gencar dilancarkan oleh daerah. Melalui mata-matanya, para kapitalis turut membiayai dan mendanai para perongrong kekuasaan Bung Karno.

Namun kemudian, sadar dengan kesalahannya, kaum kapitalis akhirnya menemukan ‘sekutu sejati’nya : Angkatan Darat.

Tak ada buku yang benar-benar sanggup membahas siapa sebenarnya ‘otak’ dari peristiwa Gestapu. Peristiwa sehari yang terkesan ‘konyol’ ini yang akhirnya diputarbalikkan secara sempurna untuk menjungkalkan kekuasaan Soekarno.

PKI, yang kala itu merupakan anak emas Soekarno, salah satu alat kesombongannya untuk menantang Raksasa Kapitalis, ditumpas nyaris tak berbekas. Setelah Gestapu dilumpuhkan dalam tempo sangat singkat, kurang dari 24 jam saja.

Pertanyaan besar yang sudah tak menyisakan saksi hidup ini masih terus berputar. Mengapa PKI, sebuah partai besar beranggotakan sekitar 3 juta orang, mendapat dukungan penuh dari Presiden Soekarno, yang masih sangat berpengaruh saat itu, rela ‘membunuh diri’nya dengan pemberontakan bodoh (yang secara skenario sudah dipastikan akan gagal) di penghujung september 1965.

***

Di tengah-tengah kehancuran yang tengah dijalaninya, Soekarno ‘menitipkan’ Ali Sadikin untuk ibukota. Soeharto merestui dengan setengah hati. Kala Ali Sadikin memimpin Jakarta, dana yang dikucurkan sangat sedikit. Tapi, Soekarno tak salah pilih. Justru di tangan Ali Sadikin, Jakarta berbenah dengan sendirinya.

Meskipun jalan yang ditempuh Bang Ali cukup kontroversial. Beliau mendanai pembangunan fasilitas umum dengan melegalkan perjudian dan prostitusi. Ditanggapinya semua kontroversi dengan ucapan, “Anda nikmati saja semua fasilitas umum itu. Kita tahu dananya darimana. Urusan lainnya, itu antara saya dengan Tuhan saja.”

Dan sejarah menasbihkan Ali Sadikin sebagai salah satu gubernur yang dianggap paling mumpuni, hingga detik ini.

Berpuluh-puluh tahun setelah G 30 S, Orde Baru berusaha keras membenamkan nama besar Soekarno. Namun, Soekarno membuktikan sumpahnya sendiri, “Sejarah akan membersihkan namaku.”

Segala upaya tersebut berakhir dengan hasil terbalik. Sesungguhnya nama besarnya tak pernah pudar. Dan orde baru tak pernah benar-benar mampu melumpuhkan pesona seorang Bung Karno. Sejarah dan waktu justru melahirkan pengampunan untuk kekhilafannya di masa lalu.

Bahkan, pemerintah menolak permintaannya untuk dikuburkan di Bogor. Bogor terlalu dekat dengan pusat pemerintahan. Tentu dikhawatirkan makam beliau akan menjadi tempat ziarah populer.

Dalam salah satu buku 4 serangkai bapak bangsa keluaran Tempo “Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia” dituliskan bahwa “Jasad matinya pun membuat gentar!”

Kini, kapitalis sudah sangat menggurita. Mungkin sudah terlambat untuk mencerna cita-cita seorang Soekarno yang pernah ingin mengusir penuh kepemilikan asing untuk sumber daya apa pun di Indonesia. Yang begitu perkasa meyakini kemampuan kita untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Dan tak lelah membagi ‘kesombongan’ ini kepada rakyatnya.

Lihatlah kita, bahkan sebagai negara penghasil tempe, kita pernah diterjang badai : kisruh soal tempe. Sudah semakin menjauh dari pernyataan garang beliau, ” Biar Bangsa Tempe Asal Bukan Mental Tempe!”

***

Sebegitu banyak ironi yang ditampilkan dari sosok pemimpin kontroversial ini. Tapi nama besarnya tentu tak boleh sedikit pun dikecilkan atas jasa luar biasanya.

Meskipun (mungkin) tak pernah mengangkat senjata secara langsung di hadapan kompeni, tapi anak muda luar biasa ini jatuh bangun bertahun-tahun, melepaskan tawaran masa depan dari Para Meneer, bersama-sama para pejuang lain, mengantarkan kita semua memasuki gerbang kebebasan sebagai bangsa yang merdeka.

Bahkan nama besarnya masih bergema di KTT GNB 2012, dikutip oleh pemimpin Iran, Khameini, “….tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Sukarno, satu dari para pendiri gerakan ini di Konferensi Bandung 1955 yang legendaris, dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan.”

***

Begitulah seorang Soekarno. Seseorang yang sarat dengan puja dan caci. Yang tak pikir panjang menentang pembentukan negara Federasi atas Malaysia dan Singapura oleh pemerintahan Inggris di kala itu. Namanya pernah menciutkan pemimpin dunia sekaliber negara Amerika sekali pun.

“Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa.” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat).

***

Disarikan dari berbagai buku :

“Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia.” (seri 4 serangkai Bapak Bangsa oleh Majalah Tempo)

“Dalih Pembunuhan Massal / Pretext for Mass Murder” (John Roosa, 2006)

“Kuantar ke Gerbang” (Ramadhan KH).

“Istri-istri Soekarno.” (Lupa nama pengarangnya :P).

“Darah itu merah, Jendral!”

– Darah itu merah Jendral -Masih ada yang ingat Gestapu? :D.

Sejak era reformasi, gaung peristiwa Gestapu 1965 makin melemah. Saya juga tak sadar kalau hari ini adalah 30 september. Dimana belasan tahun masa kecil saya, saya suka tersiksa di tanggal ini. Karena malamnya sudah pasti sebuah film dokumenter akan diputar di TVRI.

Saya takut menonton film ini. Intro musik di awal film saja sudah bikin saya pengin pipis. Tapi sumpah deh kepo bener pengin tahu filmnya secara lengkap. Ahahahaha. Makanya saya bilang saya tersiksa, antara takut sama kepo :P.Tapi rasa takut yang selalu menang. Hingga saat ini, saya tidak pernah berani menonton filmnya hingga tuntas. Paling bagian-bagian tertentu saja, itu pun pakai acara ngumpet di bantal. Atau kalau adik saya ikut menonton bersama saya, saya ngumpet dan terus-terusan merongrong dia, “eh, gimana? gimana? adegan apa sekarang? adegan apa sekarang?” ahahahahaha… colek si Buntel :P.Judul tulisan di atas adalah salah satu kalimat yang cukup tenar gara-gara film “Pengkhiatan G30S/PKI” itu. Ada yang masih ingat? :).

***

Waktu masih kecil, tahu apa sih kita salah satu sejarah hitam dalam perjalanan menuju orde baru ini? Saya sendiri sih jelas. Sangat-sangat-sangat benci PKI. Pokoknya partai ini kalau dalam PSPB dan pelajaran sejarah dulu, adalah partai biang kerok. Mereka dengan liciknya membubarkan Masyumi dan beberapa partai besar lainnya.

Ideologinya? Duh, gak pernah pengin tahu, tuh. Pokoknya jahat saja. Titik. Ibaratnya dalam sinetron, PKI adalah Lely Sagita! Ahahahahaha.

Era internet memperkenalkan saya kepada banyaknya tulisan-tulisan tentang konspirasi gerakan ini. Baru tahu ternyata di mata banyak kalangan, gerakan ini tergolong bodoh dan impulsif. Btw, jangan cuma baca konspirasi Rheumason-Yahudi dong, boleh diintip sekali-sekali konspirasi tentang sejarah bangsa sendiri :P.

Tentang PKI dan D.N Aidit, ada banyak tuh biografi tentang beliau di internet :). Gratisan, asal mau baca saja sih :). Baru tahu ideologinya PKI yang sebenarnya. Siapa D.N Aidit dan apa falsafah hidupnya. Tolol juga dulu tahunya cuma sebatas PKI itu komunis dan penyiksa para ustaz :P.

***

Tokoh lain yang menarik perhatian saya dalam peristiwa Gestapu adalah Bung Karno. Zaman orde baru, tak banyak sejarah perjuangan Bung Karno yang diajarkan di sekolah. Ya, paling pahlawan proklamator dan ikut berjuang demi kemerdekaan.

Dulu saya suka bingung kenapa Bung Karno dan Bung Hatta sih yang disuruh bacain proklamasi? Tempo itu saya mikirnya, “oohh, mungkin beliau berdua yang paling hits di zaman segitu. Makanya dipilih.” Hehehehe. Dan diajarkan juga bahwa beliau pun dikenal sebagai seorang orator ulung. Karena itu juga kali makanya dipilih.

Sejarah masa muda Soekarno pertama kali saya dapatkan dari sebuah buku percintaan. Lho? Iya, dari buku “Kuantar Hingga ke Gerbang”, kisah cinta beliau dengan Ibu Inggit Garnasih.

Sumpah lho, saya malah baru tahu waktu baca buku itu bahwa Ibu Fat bukan istri pertama Bung Karno. Bukan pula istri ke-2. Tapi yang ke-3!

Kalau Bung Karno punya banyak istri saya sudah tahu ;). Di masa kuliah, di salah satu koleksi buku Ibu kosa ada buku “Istri-istri Soekarno.” Lumayan, bacaan gratis kalau bengong di kosan.

Nah, di buku itu banyak diceritakan tentang Soekarno muda. Yang tampan, sangat cerdas, tapi sejak remaja sudah ‘nyolot’ ke pemerintah Belanda. Konon, beliau itu kesayangan guru-guru Belandanya. Tapi, beliau menampik setiap kesempatan untuk menjadi ‘piaraan’ kompeni, dan sudah berpikir tentang kemerdekaan untuk bangsa pribumi.

Berkali-kali bolak balik masuk penjara tapi gak kapok-kapok. Ternyata jasa Bapak proklamator ini bukan cuma sebagai orang paling hits sehingga terpilih untuk membacakan naskah proklamasi. Sedari usia belia, hampir seluruh masa mudanya dihabiskan untuk memikirkan dan sekaligus memperjuangkan langsung tentang nasib kaum pribumi.

Jadi, pantaslah masih banyak orang yang begitu menggilai Bung Karno, sampai ke keturunannya. Jelas. Kita boleh keki sama Megawati dan adik-adiknya :P, tapi jangan lupa, di darah mereka mengalir darah Soekarno. Tanpa kerja keras beliau, belum tentu kita bisa berbangga sebagai sebuah bangsa merdeka :).

Tapi tentu tiap pribadi punya kekurangannya masing-masing. Dan masih simpang siur tentang keterlibatan dan pengetahuan Bung Karno soal gestapu ini.

***

Pening kalau ngikutin semua teori tentang siapa sebenarnya dalang Gestapu 47 tahun silam. Apa betul PKI? Banyak yang meragukan. PKI adalah sebuah partai yang sangat besar waktu itu. Juga memiliki kedekatan khusus dengan Soekarno. Why would they become so stupid?

Tapi gosipnya memang ada ketegangan antara Angkatan Darat dengan PKI karena isu angkatan ke-5.

Sebuah teori yang cukup masuk akal mengatakan ini kerjaan kapitalisme barat yang sebel sama Soekarno. Presiden pertama kita ini terkenal bukan cuma karena selera seninya yang luar biasa. Beliau pun tak pernah segan menghardik siapa pun yang berseberangan dengannya termasuk pada Amerika Serikat!

Ingat peristiwa Dwikora? Bung Karno sangat berani menentang pembentukan Federasi Malaysia, atas inisiatif Inggris. Kala itu perang dingin sedang melanda Blok Barat dan Blok Timur. Disimpulkan sendiri, deh. Ditambah lagi Bung Karno membiarkan paham komunis tumbuh subur di Indonesia.

Konon, di salah satu literatur disebutkan bahwa Kolonel Untung adalah salah satu fans berat beliau. Tapi banyak yang menyebutkan bahwa Untung ini bukan orang bodoh.

Ada juga teori yang mengatakan, ada pihak yang memanfaatkan Untung atas nama ‘keselamatan Soekarno’. Siapakah pihak itu? Jeng..jeeengggg… zoom in zoom out zoom in zoom out, itu lah misteri terbesarnya hingga saat ini. Semua teori konspirasi mentok disitu hehehe.

Ada pula tokoh Syam, yang out of nowhere tiba-tiba menjadi tenar. Pokoknya ini konspirasinya lumayan banyaklah ‘drama’nya hehehehe. Syam ini katanya otak Gestapu. Tapi pas ditangkap, tanpa perlu payah-payah disiksa, dia langsung mengakui semuanya secara gamblang, Konon, karena kerjasama Syam yang extraordinary ini, Syam sendiri paling belakangan dihukum mati.

Literaturnya lumayan banyak lho di internet. Silakan di-google jika berminat :).

Darah itu merah jendral
Gambar : pixabay.com

***

Yang jelas di masa lalu, sejarah politik negara kita lebih banyak diwarnai dengan perang ideologi yang sangat kental. Mana ada istilah “wani piro”? :P.

Mungkin buat para politikus yang hidup di era idealisme non kapitalis kala itu … “darah itu merah, Jendral!” Tidak seperti para koruptor di masa kini, “duit itu segalanya, Jendral!” :D. Hehehehe.

Berbicara Agama

Ini copas dari status di facebook tempo hari. Pantes lah saya gak bisa cocok sama Twitter. Biarpun dari dulu punya @davincka. Status facebook aja mesti deh minimal 5 paragraf, hehehehehe :P.

Status ini ditulis di tanggal 1 september kemarin. Pas lagi hangat-hangatnya isu Sampang sepertinya :D.
Lumayanlah buat nambah-nambah isi blog :D.

***

Bukan main. Luar biasa. Beberapa isu sensitif (agama, dkk) dalam rentetan peristiwa sekaligus.

Pilkada DKI yang awalnya saya pikir akan menggiring orang-orang untuk akhirnya menyadari bahwa musuh utama tanah air adalah PARA KORUPTOR, sekarang malah berputar-putar di urusan agama.

Konflik Rohingya, yang pernah ternoda oleh penebaran foto-foto palsu bukannya membuat kita tergerak untuk menolong.

Malah membuat foto-foto tentang kebencian terhadap agama Budha sempat beredar luas :(. Saya percaya betul segala penganiayaan itu ada, tapi lihat dong efeknya kalau mata Anda disuguhi foto-foto bombastis).Terus ada #SaveMaryam dengan slogan 2 juta nya. Ah, cuma salah data doang. Beritanya kan mungkin benar. Tapi cermati tujuan si pembuat video. Adakah video ini akan booming kalau mereka ganti datanya misalnya cuma 200 ribu?

Konflik Suriah, saya pikir akan dipahami sebagai lanjutan intervensi pemerintah AS di Timur Tengah (setelah sukses ‘menggoyang’ Mesir, Libya, dan sekarang giliran Suriah). Mulai dihembus-hembuskan sebagai isu kontroversial yang sudah hidup berabad-abad lamanya Sunni vs Syiah.

Isu Sunni vs Syiah diam-diam sudah berkembang sejak awal tahun. Tapi mengapa tiba-tiba ramai di tanah air? Ya karena ada peristiwa Sampang. Selain habis-habisan dikutuk sebagai penyulut pertikaian, paham Syiah pun secara internasional mulai dilirik dan dibahas.

Agak sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kita tidak merasa bingung!

Karena banyak media-media yang dengan mudah menjajakan liputan-liputannya kemana-mana.

Pengalaman pribadi yang pernah saya alami sendiri atas ‘ampuh’nya media internasional memborbardir dunia adalah perisitiwa pemilihan Presiden Iran di tahun 2009. Pemilu 2009 kembali membawa Ahmadinejad memperopleh mahkota pemimpin.

Saya tidak berbicara apakah Syiah sesat bla bla bla, atau apakah Ahmadinejad memperoleh suara terbanyak dengan cara ‘negatif’.

Tapi fakta yang saya tahu pasti, saat protes warga terhadap hasil pemilu, media internasional sudah BERBOHONG besar-besaran. BERBOHONGnya kompak lagi. Yaeyalaaahhh, negara penghasil minyak terbesar di Tim Teng nya kan ‘pacar’nya pemerintah AS. Jangan pura-pura gak tahu, ya ;).

Bukan asal bicara, awal Juni hinggal awal agustus, saya sekeluarga tengah bermukim di kota Tehran. Liputan-liputan media asing internasional diputar berulang-ulang dengan menyuguhkan tayangan yang itu-itu saja. Seolah-olah terjadi kerusuhan massal dan berdarah-darah di Tehran.

Saya sampai kewalahan menerima banyak email dari kerabat, bekas teman-teman kantor, dan teman-teman kuliah, dsb.

Saya tinggal di sekitar Vanak Street, salah satu wilayah jantung kota. Sumpah ya booo, kagak ada apa-apaan! Memang ada protes massal, tapi apa dikira berlangsung sepanjang hari?

Suami saya tetap ke kantor seperti biasa. Karena saya lihat di televisi, BBC, AL Jazeera, dkk, ramai-ramai membahas Tehran, wuiiihhh, jadi kepo dong kita hehehehe.

Gedung apartemen saya memiliki kaca jendela raksasa yang menghiasi seluruh dinding ruang tamu yang menghadap ke jalan. Tak perlu payah-payah saya bisa mengintip ke arah jalan kapan pun dengan mata telanjang. Kok sepi?

Saya telpon suami. Jawabannya bikin saya ngakak, “ooohh, demonya nanti. Kan masih pada kerja. Nanti bubaran kantor baru pada demo lagi.” Ahahahahahahaha.

Gak niat benar, deh :P. Harus belajar dari Indonesia nih. Demo itu ya Mas-mas Mbak-mbak Tehran kudu dari pagi ampe besok pagi laginya. Emang harus capek. Ya kalo nunggu jam kantor kelar, terus abis itu abis magrib udah bubaran, ya kapan suksesnya? hehehe.

Tapi, yang terlihat di berita-berita TV yang diputar tiap jam sekali mungkin (saya pantau terus BBC dan CNN), adalah massa beramai-ramai demo dan berteriak-teriak. Memang ada korban penembakan. Liputan empuk, nih. Saya sampai bosan lihat tayangan itu diputar berulang kali di waktu yang sama, dan pakai slow motion segala.

Bahkan saat demo tiba, masih banyak tempat-tempat publik yang buka seperti toko, dll. Suwer deh, kagak ada mencekam-mencekamnya pisan. Saya sampai gatal pengin ke jalan lihat orang-orang berdemo itu. Tapi rasa penakut saya sendiri yang mengurungkan niat itu hihihihihi.

Mungkin, Syiah itu punya pemahaman BERBEDA, mungkin mereka di mata kita SESAT (saya pun mengaplikasikan Islam saya sebagai seorang Sunni). Tapi jangan lupakan fakta soal Syiah. Bahwa pemerintah Iran, dedengkotnya para Syiah, adalah yang paling keras mendengungkan soal ‘Anti Zionisme ISrael’.

Iran tak anti Yahudi, lho. Bedakan zionisme Israel vs umat Yahudi di seluruh dunia. Konon, ada orang Yahudi yang hidup damai di tengah-tengah Iran. Jangan salah, warga Palestina juga ada yang berasal dari keturunan Yahudi. Jadi, jangan sampai salah menyebarkan ‘kebencian’ :).

Pertama kali Ahmadinejad menjadi Presiden di Iran, media nasional ramai-ramai memuji beliau. Jadi tenar deh langsung Ahmadinejad. Entah mengapa saat itu tak ramai membahas Syiah. Bener-bener deh, kita ini mengapa begitu mudah tersulut?

Soal ‘sisi lain’ kejadian di Suriah, ini ada link pembanding. Jangan langsung skeptis krena yang menulis adalah Ibu Dina Sulaeman, yang pernah tinggal di Iran, dan (mungkin) sudah menganut Syiah atau minimal pro Syiah. Baca saja dulu, ya.

Setelah baca, kalau Anda tetap berkeras bahwa Syiah memang ingin membantai Sunni, bolehlah menyimak sedikit ke ‘belakang’. Saat Irak berguncang di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, siapa yang berperan menjadi ‘korban’?

(linknya saya taruh dalam komen. Biar tulisan ini tidak langsung menunjuk pada link nya. Ntar disangka Syiah dan sesat lah saya. Karena menurut menteri agama, “mereka yang tidak menganggap Syiah sesat maka mereka sesat.”) 🙁

Gak akan ada habisnya gak, sih? Apakah pengabdian kita kepada agama akan selalu berbanding lurus dengan pemeliharaan kebencian terhadap penganut kepercayaan lain? (note : syiah dianggap bukan Islam!). Istilah favorit saya yang ditulis oleh salah satu peserta lomba menulis di MP adalah : istiqomah di dalam, toleransi di luar.

Apakah dalam menyiarkan kepercayaan mesti dengan menjelek-jelekkan kepercayaan lain?

Bagaimana kalau menyuarakan kelebihan-kelebihan kepercayaan Anda? Masa sih, menjatuhkan ‘pihak lain’ akan kita yakini sebagai cara untuk menaikkan ‘pihak kita’? Black campaign itu lama-lama #eaaahhhh….

Seberapa besar pun amarah yang berkobar di dada Anda, seberapa cintanya Anda pada ajaran yang menurut Anda telah diinjak-injak oleh orang-orang Syiah, jangan sampai rasa keadilan ikut lebur.

Jangan merasa ini kepentingan Allah. Allah maha Sempurna. Allah tidak butuh Anda untuk membelaNya. Kita beribadah untuk kebaikan kita sendiri, bukan untuk Allah. Tak ada cerita, keagunganNya akan berkurang bila sudah tak ada lagi yang peduli pada ajaranNya. Kalau Anda menyimpang, yang rugi bukan Allah, diri kita sendiri, kan? Camkan hal yang sama untul orang-orang yang Anda anggap sesat.

Anggap saja ini tulisan orang ‘liberalis’ atau ‘pluralis’ atau apalah yang Anda suka. Mungkin ada trend baru yang saya tidak tahu :D.

Ini kan cuma pendapat pribadi saja. Yang mungkin tak saya dapat dari duduk berjam-jam, bertahun-tahun menghapalkan ayat suci. Tapi saya dapatkan dari kehidupan sehari-hari melalui pengalaman dari kesempatan yang diberikan Allah untuk pernah mencicipi hal-hal lain, hidup di tanah berbeda-beda.

Dan mengajarkan bahwa sampai mati pun tak mungkin saya berharap : “ya Tuhan, kenapa seluruh dunia bukan orang Bugis semua? Kalau bisa Bugis-Islam. Dan kalau bisa Islamnya pun harus Sunni. Kalau bisa semua perempuannya pakai jilbab dan abaya hitam, biar gak pusing mereka gonta-ganti baju. Hehehehe” :).