Happiness is not Given … It is Made :)

***

Untuk saya, film “Life is Beautiful” besutan sutradara Roberto Benigni adalah contoh paling indah untuk menggambarkan peribahasa, “Happiness is not given, it is made.”

Gambar : kootation.com
Gambar : kootation.com

Film yang benar-benar menguras emosi ini ditayangkan pertama kali tahun 1997. Tapi saya menontonnya di acara kampus, 3 atau 4 tahun kemudian. Lupa acara apa, pokoknya acara nonton gratis di aula. Gratis? Ikuuuutttttt. Hahaha.

Saat itu, saya tak tahu sinopsisnya cuma dengar-dengar kalau filmnya bagus, semacam komedi gitu. Jadi, saya tak siap ketika menonton. Ketawa-ketawa iya, tapi nangis juga paling kenceng.

***

Tokoh utamanya adalah Guido, pria italia keturunan Yahudi yang di awal film sibuk memenangkan cinta Dora, ibu guru cantik yang tinggal di kota yang sama. Masalahnya, Dora telah bertunangan. Ngikik-ngikik, deh, nonton kreatifnya Guido merebut perhatian Dora. Finally he did win her love. Makanya, awal film saya tidak sadar kalau ini komedi tragis. Kirain beneran film lucu.

Setting waktu segera berganti, 5 tahun telah berlalu. Diantara mereka berdua, sudah ada Joshua, sang buah hati.

Saya sudah mulai curiga ketika ada tentara Nazi yang digambarkan mulai menerjang masuk ke Italia. Aih, film apa pula ini. Singkat cerita, para pria dan wanita keturunan Yahudi ditangkap dan digiring ke suatu tempat, kamp konsentrasi.

Guido dan Joshua tak luput dari penangkapan. Dora sebenarnya bukan keturunan Yahudi. Tapi, ibu mana yang tahan terpisah dari kedua belahan jiwanya. Dengan sukarela, Dora memaksa masuk ke dalam kereta yang kemungkinan akan membawa seluruh penumpangnya ke gerbang kematian. Guido tak sanggup membujuk Dora agar turun dan merelakan Guido dan Joshua saja yang pergi.

Yang terjadi di kamp konsentrasi inilah yang menjadi pesan kuat dalam cerita ini. Bagaimana Guido sekuat tenaga berusaha ‘mengelabui’ Joshua mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp konsentrasi. “It’s just a game, Son. We just have to win it. Anything you see, it’s nothing but a game.” Begitu kira-kira ide yang ditanamkan Guido pada anak laki-lakinya.

Bayangkan, sedang berada di ujung maut, demi kebahagiaan anaknya, Guido mampu mengerahkan kreatifitasnya untuk membuat segala hal pahit dalam kamp tersebut menjadi hal-hal yang menyenangkan. “See? It’s just a game.” Begitu katanya berulangkali jika keraguan mulai merasuk pada pikiran si Joshua kecil. Berkali-kali Guido sukses membawa Joshua lolos dari perangkap maut.

Banyak kejadian lucu memang. Tapi di hampir setengah film, eike meweeeeekkk aja kerjaannya hehehe.

Saya pikir akan berakhir happy ending, ketika tentara sekutu datang untuk menyelamatkan para tawanan yang tersisa. Kenyataannya, di detik-detik terakhir, Guido tertembak mati juga. I’m still crying while I’m writing this imagining the moment he put this little Joshua inside a trash bin. Joshua nyengir-nyengir di dalam tong sampah melihat ayahnya digiring oleh seorang tentara Nazi. Guido mengedipkan matanya dari jauh seolah tak terjadi apa-apa. Joshua tak tahu itulah pandangan mata terakhirnya dengan sang ayah.

Ini adalah film flashback. Ternyata, narator yang bercerita itu adalah Joshua dewasa . Guido sukses mengelabuinya. Joshua tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kamp itu hingga ia dewasa. Dalam kebingungannya ketika pasukan Nazi kocar kacir digempur tentara sekutu, Joshua akhirnya dipertemukan kembali dengan ibunya. Di kamp, laki-laki dan perempuan dipisah tempat tinggalnya.

Adegan yang cukup mengharukan adalah ketika mobil tank para sekutu lewat di hadapan Joshua. Joshua melotot dan bersorak gembira, kira-kira kalau gak salah dia berpikir begini, “Wow, we win! This is the prize that Daddy always tells me. A real tank.” Setelah sekuat tenaga mengendalikan tangis tanpa suara di balik tisu, di adegan ini, eike histeris hahahaha. Duh, mudah-mudahan enggak ada yang ingat *tutupMuka*. Makanya, sang ratu drama jadi belajar juga. Kalau mau nonton film gini-ginian, be alone! .

***

Film ini sungguh luar biasa. Mengundang kritik dari beberapa pihak Yahudi yang memprotes adegan-adegan di kamp yang dianggap kurang sadis dan kurang menggambarkan teror yang dialami leluhur mereka. Ah, saya rasa memang bukan pesan itu yang ingin diajarkan Benigni pada pemirsanya.

Tak sedikit teman-teman saya ketika di Jeddah dulu yang selalu merasa betapa menderitanya hidup di Saudi. Tertutup lah, panas lah, kasihan anak-anak lah, orang arab menjengkelkan lah, nyetir di Jeddah bikin stres lah. Lucunya, tak sedikit teman-teman kami di tanah air yang berkomentar iri saban ada yang pamer-pamer foto depan Ka’bah, “Ah, kapan ya bisa ke sana.”

Ada kerabat yang malah sebal semasa tinggal di Eropa, katanya enggak enak, hidup bagai pembantu, segala kerjaan rumah harus dikerjakan sendiri. Yang tinggal di Jakarta sibuk menghujat macet, bete sama cuaca, kesal sama harga barang-barang mahal, kalau nyetir sebel sama angkot dan metro lah. Apalagi pas bensin naik. Sama, saya juga sering sih kayak gitu hihihihi.

Lain kali, saat kita merasa takdir begitu kejam memperlakukan kita, ingatlah Guido . Enakan mana tinggal di Jeddah atau dikirim ke kamp konsentrasi? hihihihihi. Ngeri amat padanannya hahaha.

Ketika wajah-wajah penghuni lain hanya pasrah menunggu ajal, Guido membuktikan satu hal penting bagi kita semua, “Happiness can be made … anywhere, anytime, anyway!”

Ah, tinggal di mana pun mana ada yang enak-enaknya doang. Tinggal di Jakarta? Satu paket dong sama macet dan segala macamnya. Tapi ingat kemudahan-kemudahan lain yang ada di sana yang kelak akan kalian rindukan saat jauh dari tanah air .

Tinggal di Saudi bikin stres? Ah, kamu bisa saja. Ingat harga bensin, ingat harga barang kebutuhan pokok yang serba nyaman . Ingat wajah-wajah iri teman dan kerabat saban situ pamer-pamer foto di Nabawi . Tinggal di eropa keren? Aih, kalau liburan doang iya kali hehehe. Tapi emang keren sih kalau dipikir-pikir ahahahahaha. Becandaaaaaa 😛.

Tak terasa sudah memasuki setengah bulan ramadan, banyak-banyak mengingat anugerah, yuk . Ingat, kalau si Joshua saja sudah girang bukan kepalang melihat tank di akhir petualangannya di kamp konsentrasi, apalagi janji Allah bagi umat yang banyak bersabar dan bersyukur dalam setiap tahapan kehidupannya. Enggak mudah, ya? Ya siapa bilang masuk surga itu gampang .

Note ini saya buat kemarin sore di wall FB. Selamat melanjutkan ibadah puasaaaaa . Yang di tanah air bentar lagi berbuka, nih. Selamat berbuka, ya. Untuk yang di Eropa, husss jangan lihat-lihat jam, buka puasa masih lamaaaaaaaa, hahahaha.

***

Take The Hits!

by : Jihan Davincka

***

Barusan melanglang buana ke salah satu blog favorit saya. Enggak berani share linknya di sini . Karena akhir-akhir ini nama sekaligus foto beliau, si empunya blog, muncul di beberapa situs islam tanah air dan diberi cap, “Hati-hati. Dia kafir” .

Tenang, beliau tidak sedang berdakwah di tulisan yang ini . Melainkan membahas tentang seorang penulis internasional yang juga saya kagumi, Karen Armstrong .

Salah satu buku yang disebut-sebut adalah buku “Muhammad Sang Nabi.” Saya juga sudah baca buku ini. Dipinjamkan oleh teman kantor (sekitar tahun 2005) yang juga fansnya si Armstrong yang ini .

Kalau membaca beberapa karya Armstrong, terlihat jelas keberpihakannya pada ajaran Islam. Meskipun buat saya pribadi, beliau masih memiliki penafsiran yang berbeda dengan saya.

Misalnya saja, di buku “Perang Suci”, Armstrong menafikan bukti bahwa Islam tidak memisahkan antara kehidupan beragama dan sendi kehidupan lain. Islam yang saya yakini justru menyatukan semua aspek kehidupan dalam naungan Islam . Kalau pada kenyataannya belum ada bukti praktikal bahwa semua sendi ini bisa berbalut rapi dalam Islam, itu adalah ‘kesalahan’ umatnya. Ajaran Islamnya mah pasti sempurna . In Shaa Allah.

***

Muhammad Sang NabiDi buku “Muhammad Sang Nabi”, ada bagian yang menceritakan mengenai perjanjian Hudaibiyah. Waktu SD dulu (karena saya sekolahnya di Yayasan Islam Athirah yang porsi pelajaran agama Islamnya cukup besar), saya tahunya kalau perjanjian ini terjadi terbatas karena Rasulullah tidak ingin ribut-ribut dengan penguasa Mekkah.

Armstrong dengan detail menjelaskan betapa Rasulullah punya pertimbangan luar biasa cerdas dan maksud tersembunyi yang sudah diperhitungkan matang-matang. Perjanjian yang dianggap sangat merugikan kaum muslim yang telah hijrah ke Madinah ini menuai rasa bingung/kecewa dari banyak sahabat.

Rasulullah membuktikan ‘kepiawaiannya’ dalam berstrategi. Perjanjian yang dianggap, malah sempat diprotes keras, akan merugikan kaum muslim malah berbalik.

Kembalinya sebagian mukimin Madinah ke Mekkah, yang telah dibekali dengan semangat muamalah Islam yang ‘indah’, membuka jalan dakwah yang nyaris sempurna : tanpa pertumpahan darah dan dengan mudah menarik perhatian/simpati banyak warga Mekkah.

Sebaliknya, mukimin Mekkah yang bebas bolak balik Madinah-Mekkah terbuka lebar-lebar matanya akan keindahan ajaran baru yang dibawa oleh seorang yang bergelar Al Amin . Sejarah membuka bahwa sekali pun ditentang keras oleh banyak petinggi Quraisy, akhlak Rasulullah tak pernah sanggup mereka buang sepenuhnya begitu saja .

Tak heran, belum lagi usai 10 tahun periode perjanjian ini, terjadilah peristiwa Futuh Mekkah. Mekkah diambil alih dengan cara yang ‘indah’, tanpa senjata, tanpa darah. Mahabesar Allah dengan segala petunjukNya. Mahaindah Islam dengan segala keutamaan akidah dan akhlaknya . Nah, makanya kata ‘indah’ saya sebutkan berkali-kali . Ajaran Islam yang saya yakini itu BENAR sekaligus INDAH. Literally.

Apakah semua penduduk Madinah kala itu MEMELUK AJARAN ISLAM SEPENUHNYA? Tak ada kaum Nasrani dan Yahudi? You tell me .

***

Armstrong menyebut-nyebut tentang Compassion (welas asih). Menurutnya, inilah salah satu kesuksesan Rasulullah dalam berdakwah. Compassion adalah sesuatu yang sifatnya stabil. Tidak seperti perasaan manusia yang kadang benci kadang sayang pada berbagai hal.

Berkaitan dengan sifat welas asih ini, saya ambil informasi blog yang saya sebut di awal tadi, Armstrong membagikan ‘golden rule’ yang disimpulkannya dari berbagai ajaran agama : “Jangan melakukan sesuatu yang kita pun tak ingin orang lain melakukannya pada diri kita.”

Sejalan dengan semangat ajaran ‘welas asih’ tadi, kata-kata kami dan mereka akan selalu melebur menjadi kata ‘kita’. Kita, bukan kami … bukan mereka.

Saya tahu setelah ini pasti banyak kritikan, “Sekuler lu!” Ahahahahahaha. Saya sih akan selalu meyakini bahwa Islam itu “rahmatan lil aalamiin”. Ajarannya tidak akan pernah menjadi sesuatu yang membuat alis kita berkerut, dada kita bergoncang gelisah.

“Apa pantas menyiram air teh ke wajah orang yang lebih tua karena dia itu liberal/pembenci Islam?” Walaupun kita tidak suka dengan figur yang seringkali ‘menantang’ Islam (bahkan siram seember juga rasanya pengin ya hehehehe), tapi apa iya batin kita tidak bergejolak dengan perlakuan seperti itu? Apa pantas berkata, “Allahu Akbar, Allah bersamamu.” Indahnya di mana? .

Baru-baru ini sebuah situs islam memberitakan 3 orang yang digadang-gadang telah berjihad karena membunuh seorang murtadin yang konon selalu mencela-cela ayat suci dan berdakwah sebagai seorang pendeta. Luar biasanya, tak sedikit komentar yang memuja-muja 3 orang tadi, yang kini telah ditangkap dan akan diadili. Katanya, “Biarkan hukum thagut yang melaknatmu. Tapi nama kalian sudah tertera di surga.”

Mengapa kita selalu menggeliat melihat ‘lawan-lawan’ yang mungkin hanya ada dalam pikiran yang selalu kita angap berkonspirasi ini itu? Mengapa tak pernah menggelisahkan umat sendiri?

Seperti pertanyaan besar saya selalu sejak saya pernah mencicipi ‘glamor’nya kota Jeddah, “Saudi sekaya dan sekuat ini, mengapa tak pernah mampu memperjuangkan Palestina secara TERBUKA?” Peristiwa Palestina telah dijelaskan panjang lebar oleh Armstrong di buku “Perang Suci.” Berhentilah melihatnya sebagai pusat perselisihan agama. Ini masalah kemanusiaan. Bahwa ada sekelompok kecil orang yang tahu-tahu mencaplok wilayah kelompok lain yang telah lebih dahulu tinggal di sana secara sah. Memangnya anda kira orang Palestina itu muslim semua? .

Di kota di mana Rumah Tuhan hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan, penghianatan terhadap hukum Tuhan berlangsung begitu banyak? . Baik dari penduduk asli maupun para pendatang. Memang, kalau urusan salat dan bacaan alquran, seratus jempol saya untuk penduduk asli. Tapi, urusan muamalah? .

Berbagai pertikaian di Timur Tengah sudah selayaknya membuka mata kita lebar-lebar. Seperti status dari salah satu teman saya yang mungkin bisa menjadi renungan bersama, “The middle easterns can actually kill each other all the times, but the problem is why the heck should most oils lie in there? Why? Why? :))”

A very good point. Penguasa sumber energi dunia secara logika harusnya bisa menjadi pengendali bumi (ih, jadi ingat avatar gak sih? ahahahahahaha). Pada kenyataannya … malah terbalik . Mungkin introspeksi diri untuk kaum di Middle East sana dan kita-kita yang juga berasal mayoritas yang sama. Mengapa kesenjangan ekonomi justru terjadi di banyak negara dengan mayoritas muslim??? WHY??????

Ini memang kita sudah terkena konspirasi musuh Islam atau kita yang tanpa sadar sudah menyembah tuhan mereka yang baru, “UANG” . Tuhan baru yang mampu melebur di ajaran agama mana pun tanpa memandang ideologi apa pun.

***
“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

We, moslems, are not THOSE COWARDS, aren’t we? ;).

Gambar : coveralia.com
Gambar : coveralia.com

Lomba Foto + Menulis Resensi di Koran

Oiya, tempo hari “Yamaha Motor Indonesia” mengadakan semacam photo contest gitu. Judulnya “Buku Jendela Impianku.” Peserta diminta berfoto dengan salah satu buku favoritnya. Terus di keterangan foto diminta menuliskan resensi buku.

Nah, eike tentu tak ketinggalan ingin bernarsis ria hihihihi. Foto-fotonya mah sebentar banget. Paling cuma 10 menit. Pulang dari nganter anak-anak + suami berenang, kita mampir di tepian Sungai Shannon. Apartemen kita kan emang di pesisir sungai ini. Jadinya kalau pulang, pasti ngelewatin salah satu spot bagus di sisi sungai yang ciamik buat foto-foto.

Foto-fotonya 10 menit, resensinya 4 jam! Huhuhuhu. Buku pilihan kali ini tebal punya :P. 400 halaman lebih. Bacanya sudah dari januari kemarin. Tapi kan mesti buka-buka lagi biar resensinya enggak asal jadi. Eh, ternyata baru sehari setelah deadline, pengumuman muncul. Alhamdulillah, juara 2! Horeeeeeee ^_^

pengumuman photo contest yamaha

Senang dong menang…pastinyaaaaa :D. Tapi langsung curiga, apa iya ini resensinya dibaca oleh juri? Terus nyadar, lahhh namanya juga “photo contest.” Tulisannya malah memang cuma pendukung saja.

Daripada mubazir, ditulisnya saja 4 jam, bela-belain tidur jam 1 malam ngejar deadline lomba :P, saya edit lagi terus dikirim ke rubrik “Ruang Perada” / resensi bukunya Koran Jakarta. Alhamdulillah, dimuaaaattttt :D. Enaknya Koran Jakarta ini, ada versi onlinenya juga :). Resensi saya ada di https://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/122521.

Sepertinya sudah diringkas juga oleh editor Koran jakarta. Berikut adalah versi aslinya :).

***

“Jas Merah” Para Ulama dalam Budaya Lampau Nusantara

Judul buku : Ulama & Kekuasaan, Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanuddin
Penerbit : Mizan
Cetakan : 1 / Juni 2012
Tebal (isi) : 397 halaman, total 496 halaman
ISBN : 978-979-433-691-5
Harga : Rp.85.000
Penulis resensi : Jiihan Davincka

Sebuah peristiwa politik (mungkin) tengah memasuki klimaks, setelah berbulan-bulan ikut menyeret isu ‘islam dalam politik ‘. Keislaman dalam bernegara tengah tergugat.

Menengok masa lampau tanah air, Islam tidak merekah dalam seketika. Tidak serta merta menjadi sebuah kepercayaan mayoritas di sebuah Negeri Khatulistiwa yang senyatanya berhamburan banyak budaya dan tradisi.

Sebuah paparan sejarah yang cukup bernas ditampilkan oleh penulis Jajat Burhanuddin dalam bukunya, “Ulama & Kekuasaan.” Menghamparkan aspek historis yang belum banyak terjamah yang membuat para ulama menancapkan posisi intelektual dan sosial dalam mempertahankan posisi penting mereka dalam Islam Indonesia. Pembahasan dimulai dari periode kerajaan-kerajaan Islam nusantara sebelum masa kolonial.

Munculnya kerajaan-kerajaan Islam tak lepas dari pengaruh para pedagang muslim yang mulai membanjiri pesisir Nusantara di abad ke-13. Setelah Kerajaan Samudera Pasai di Sumatera, kerajaan Islam mulai menuai keberhasilan di pulau Jawa dengan menampilkan kerajaan Demak di akhir abad ke-16. Di masa ini, kaum ulama menjadi bagian dari elite pemerintahan.

Pendekatan penyebaran Islam yang sama sekali tidak mengancam posisi raja membuatnya leluasa meraih pengaruh. “Islam telah dirumuskan dalam kerangka pemikiran politik yang memberi penekanan pada kemahakuasaan raja. Meskipun Islam dijadikan ukuran bagi raja ideal, ia tidak pernah menjadi basis evaluasi perilaku politik raja. Dalam diskursus Islam pada periode tersebut tidak ada peluang bagi rakyat untuk mempertanyakan hal itu kepada raja. Justru, Islam menjadi sumber pembenaran agama bagi para penguasa kerajaan absolutis di Nusantara, yang mencapai puncak di abad ke-17” (Hal.58).

Ide awal mengenai “Insan Kamil” (Manusia sempurna) yang dibawa kaum sufi ditantang oleh Islam yang berorientasi Syariat. “Berakhirnya kerajaan-kerajaan maritim di pesisir sering dipandang sebagai tahap akhir dari Islam kota dan kosmopolitan di pesisir. Pada saat bersamaan dianggap sebagai permulaan dari Islam tradisional yang berbasis di wilayah pedalaman Nusantara” (Hal.73).

Runtuhnya kerajaan, masuknya pengaruh kolonial, membuat para ulama mulai melepaskan diri dan membangun ranah sendiri di luar kerajaan. Muncullah pesantren di Jawa, surau di Minangkabau dan ‘dayah’ di Aceh.

Era ini membuka hubungan lebih jauh antara Islam nusantara dan Timur Tengah. Beberapa guru agama berguru ke Makkah dan Madinah. Selain menegaskan ajaran Islam yang berorientasi Syariat, terbukanya jaringan kepada kedua kota suci muslim tersebut mendatangkan orang-orang Arab di Nusantara sekaligus membentuk sebuah komunitas ulama Indonesia di Makkah, Ulama Jawi.

Semakin merebaknya anti kolonialisme di abad ke-19 membawa kaum ulama tampil sebagai penantang utama. Ulama dan komunitas santri pesantren menjadi kelompok utama dalam mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Mereka memberi justifikasi religius kepada pemimpin perang seperti Pangeran Diponegoro. Mengubah konflik internal keraton Jawa menjadi peperangan berdimensi agama.

“Politik Etis” membawa perubahan yang tidak sedikit bagi perkembangan komunitas Islam nusantara. Salah satu tokoh penting Islam yang dipersembahkan pada era ini adalah Raden Mas Tirtoadisurjo. Seorang priyayi yang memiliki minat sangat tinggi pada dunia jurnalisme. RM Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita, Medan Prijaji dan Putri Hindia. Lebih penting lagi, beliaulah pendiri Sarikat Dagang Islam.

Angin perubahan pun memunculkan reformisme Islam, terkait perubahan jaringan intelektual dari Makkah ke Kairo. Para ulama turut merespons dan memodernisasi pusat-pusat pengajaran Islam di pesantren-pesantren tanah air. Kelahiran organisasi Muhammadiyah yang digagas oleh Ahmad Dahlan di tahun 1912 merupakan salah satu buah reformasi Islam nusantara.

Tanpa disadari, kehadiran para reformis dianggap mengganggu otoritas para ulama tradisional. Pertentangan tokoh reformis vs muslim tradisionalis tergambar dari hubungan kedua sahabat, Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer. Kedua sahabat yang hubungannya memburuk sejalan dengan mencuatnya nama kedua tokoh ini sebagai aktor utama dari pertentangan 2 kubu tadi. Mas Mansoer akhirnya bergabung dengan Muhammadiyah dan memulai langkahnya hingga mencapai predikat Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Adapun Wahab Hasbullah, dengan restu ulama sepuh Hasyim Asyaari, mendirikan Nahdatul Ulama (NU) di tahun 1926. NU menjadi organisasi resmi bagi ulama tradisionalis seperti Muhammadiyah bagi kaum reformis islam nusantara.

Keterlibatan ulama di dalam politik riil merupakan cara lain untuk menegaskan keberadaan mereka pasca-kolonial. Mereka mulai menggunakan peranan beberapa posisi strategis di pemerintahan, seperti Kementrian Agaman, sebagai pelindung konstituennya. Cara ini menuai suara kritis dari tokoh-tokoh muslim baru yang menamakan diri, “intelektual Muslim.” HMI adalah salah satu bentukan organisasi yang mewakili kelompok ini.

Gerakan tarbiyah (pendidikan) yang muncul dalam kelompok-kelompok kecil adalah akar dari kehadiran sebuah partai dakwah, “Partai Keadilan” (PK) yang berdiri di tahun 1998. Sebelum pemilihan umum tahun 2004, PK mengganti nama menjadi “Partai Keadilan Sejahtera.”

Islam Indonesia kontemporer juga memunculkan dewan ulama yang disponsori pemerintah Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang menurut penulis, sebagian besar fatwa MUI dibuat dalam rangka justifikasi Islam bagi kebijakan-kebijakan pemerintah.

***

Kelemahan utama dari buku ini adalah cara penulisannya yang terlalu datar dan sungguh mudah memicu kebosanan. Yang membuat saya tak berkutik untuk tidak menyelesaikan 397 halaman isinya adalah ketertarikan saya (mungkin) terlalu besar pada sejarah. Topiknya pun tidak main-main. Membawa kita pada tamasya sejarah perkembangan Islam dalam rentang waktu beberapa abad lamanya. Kelengkapan referensi dan banyaknya aspek pendukung yang belum umum dibahas sangat menarik untuk dilewatkan.

Keberpihakan penulis pada ulama tradisionalis yang salah satunya ditunjukkan dalam kalimat, “Tidak ada yang lebih kuat tentang partisipasi ulama di Hindia Belanda yang tengah berubah selain pembentukan NU di tahun 1926” (Hal.13) tidak terlalu mengganggu keseimbangan isinya. Sekalipun untuk pembaca seperti saya, yang dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah yang cukup taat.

Buku ini favorit saya di awal tahun ini yang mungkin bisa menjawab pergulatan pemikiran bagi saya dan sebagian orang akan, “Masih perlukah membawa Islam dalam kehidupan politik tanah air?” Bahkan perdebatan yang menimpa kaum muslim sendiri, yang hingga saat ini masih merupakan komunitas terbesar di tanah air.

Salah satu ungkapan terkenal dari Bung Karno adalah “Jas Merah,” jangan sekali-sekali melupakan sejarah. “Ulama & Kekuasaan” adalah “Jas Merah” dari pergumulan elite muslim sebelum masa kolonial hingga puluhan tahun setelah kata “merdeka” resmi disematkan bagi bangsa besar ini. Selamat membaca :).

***

Ini hasilnya kenapa jutek begini? Padahal itu karena mataharinya terik lho, jadi sok-sok galak gitu hehehehe...
Ini hasilnya kenapa jutek begini? Padahal itu karena mataharinya terik lho, jadi sok-sok galak gitu hehehehe…

Biografi Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca

Biografi Bung Hatta

***

Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun.

***

Bung Hatta cukup kontras bila dibandingkan dengan Bung Karno. Sukarno terkenal sebagai orator ulung, penampilannya yang dandy, kisah cinta dengan berbagai wanita, keberaniannya yang menghentak dan perjalanan hidupnya yang bagaikan perputaran matahari. Terbit, tenggelam namun tak berhenti bersinar. Tulisan ini adalah sedikit biografi Bung Hatta.

Gaya bicara Bung Hatta membosankan. Selaras dengan raut wajahnya yang dingin dan kaku. Soal kemewahan, beliau bukan jagoannya. Dengan tampuk pimpinan yang pernah dipegangnya, memiliki sepatu merek ‘Bally’ adalah hal paling mewah yang hanya mampu dimimpikan … hingga akhir hayatnya. Hanya sepasang sepatu dengan merek tergolong mewah saat itu. Apa di zaman Bung Hatta tidak ada pejabat-pejabat bermobil dan hidup mewah? .

Tapi jangan salah. Bung Hatta tidak lahir dari keluarga sederhana. Dalam darahnya mengalir dua perpaduan keluarga terkemuka : pemuka agama dan saudagar. Beliau adalah keturunan dari garis terpandang di kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Di tahun 1947, 2 tahun setelah menjadi orang nomor 2 di Indonesia, beliau membuat seorang sais bendi murka di kampung halamannya. Bung Hatta sibuk menawar namun harga tak kunjung cocok. Sais bendi menghardik gusar, “Kalau tak punya uang, jangan naik bendi. Jalan kaki saja.” Beliau hanya tersenyum dan berlalu.

Hatta telah mempersembahkan sebuah tulisan luar biasa di usia 18, belum lagi menginjak bangku perguruan tinggi. Tulisan personifikasi yang menggambarkan ibu pertiwi dalam diri seorang wanita yang bernama Hindania. Sebuah tulisan yang menggambarkan betapa luasnya bacaan Hatta muda dan tingginya minat beliau pada bidang sastra.

***

Tak kurang sejarah yang menggambarkan dinamika kehidupan seorang Bung Hatta bersama Bung Karno. Setelah dipersatukan oleh cita-cita membawa bangsa Indonesia membuka pintu gerbang kemerdekaan, dwitunggal ini akhirnya tanggal di penghujung tahun 50 an. Ketika akhirnya Hatta dengan arif mengundurkan diri dari pemerintahan dan merelakan biduk negara yang pernah diperjuangkannya selama hampir separuh hidupnya menjadi milik Sukarno seorang.

Nurcholis pernah menggambarkan Hatta sebagai seorang dengan pemikiran yang sangat modern tapi tetap pekat dalam kesalehan agamanya. Terlahir dari keluarga Minang yang kental dengan ajaran Islam, Hatta menjadi sosok yang religius namun memiliki pemikiran tajam, wawasan luas dan tak terbatas waktu.

Masa kecilnya tak hanya diisi dengan belajar, mengaji dan menulis. Hatta adalah penggila bola. Tak hanya bersorak dari pinggir lapangan, Hatta tergabung dalam sebuah klub sepakbola yang diisi oleh pemuda-pemuda belanda dan kaum pribumi. Klub yang menjadi juara Sumatra selama tiga tahun berturut-turut selama dengan Hatta pada posisi gelandang tengah. Teman belandanya menjulukinya, “Onpas seerbaar” (sukar diterobos begitu saja).

Minatnya pada dunia pergerakan membawanya bergabung bersama Jong Sumatranen Bond semasa bersekolah di MULO. Tahun 1921, Hatta tiba di Negeri Kincir Angin untuk melanjutkan kuliah. Semasa di Belanda, Hatta aktif di sebuah perkumpulan yang beberapa kali berganti nama hingga akhirnya memilih nama, “Perhimpunan Indonesia.” Tahun 1926, Hatta memperkenalkan nama “Indonesia” kepada dunia internasional saat memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis.

Tahun 1932, setelah menamatkan pendidikannya di luar negeri, Hatta pulang ke tanah air. Selanjutnya, bersama Sukarno, Sjahrir dan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, mereka bahu membahu mengobarkan perlawanan kepada kaum penjajah. Menafikan semua perbedaan, para kalangan agamis-sosialis (bahkan yang sosialis garis keras sekali pun), bersatu memperjuangkan pencapaian kata “kemerdekaan” bagi segenap bangsa Indonesia.

Awal tahun 1935, Hatta dan kawan-kawannya dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Hatta menolak mentah-mentah tawaran seorang kapten Belanda yang menawarkan agar para tahanan politik ini bekerja pada pemerintah Belanda dengan upah 40 sen sehari dan memiliki kemungkinan untuk dikirim pulang ke ibukota. Hatta menegaskan, “Bila mau bekerja untuk kolonial sewaktu masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji tidak main-main. Tak perlu jauh-jauh ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan upah 40 sen.”

Di pengasingan nun jauh di salah satu wilayah paling timur Nusantara, Hatta membawa serta 16 peti buku-buku koleksinya. Di sana, Hatta terus mengobarkan perlawanannya dengan menulis. Akhir tahun yang sama, Hatta dan kawan-kawan dipindahkan ke Bandaneira.

Di masa pendudukan Jepang, Hatta kembali ke tanah Jawa. Masa-masa ini tak banyak pernyataan yang dikeluarkannya. Namun, di tahun 1942, pidatonya di Lapangan Ikada menggemparkan banyak pihak, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

17 Agustus 1945, bersama Bung Karno, Hatta muncul sebagai pemimpin bangsa yang merdeka secara resmi untuk pertama kalinya. Membawa mereka berdua sebagai “Bapak Proklamator Indonesia.”

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah. Termasuk untuk di bidang ekonomi dan koperasi. Tak hanya menuangkan pikiran dalam rangkaian kata-kata, Hatta aktif membimbing dan melaksanakan cita-cita dalam pembangunan koperasi dan konsepsi ekonominya. Karena jasanya ini, beliau layak mendapatkan predikat sebagai “Bapak Koperasi Indonesia.”

Jauh sebelum mengundurkan diri secara resmi, Hatta sudah melayangkan surat terlebih dahulu kepada Sukarno. Akhirnya, di 1 Desember 1956, Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Walaupun tengah didera berbagai perselisihan, Sukarno tak serentak mengizinkannya untuk ‘pergi’. Tapi Hatta tetap berkeras. Setelah Hatta benar-benar menyerahkan jabatannya sebagai orang nomor dua di RI, banyak pihak tetap memperjuangkan bersatunya kembali dwitunggal ini. Tak ada yang berhasil.

Tahun 1960, tulisan Hatta yang kontroversial, “Demokrasi Kita”, muncul dalam Majalah “Pandji Masyarakat”, asuhan Buya Hamka. Pemerintah murka. Buya Hamka dipenjara dan tulisan itu terlarang untuk disebarkan.

Namun, perseteruannya dengan Bung Karno tak pernah melebar kepada hal-hal pribadi. Mereka berdua hingga di akhir hayat masing-masing tetap merupakan dua sahabat yang sangat lekat.

Saat masa-masa suram mewarnai akhir hidup seorang Sukarno, Hatta tidak tinggal diam. Hatta yang mengetahui proses perawatan Sukarno yang dianggap kurang terhormat, menuliskan surat kecaman kepada Soeharto. Hatta pun ngotot ingin bertemu sahabatnya.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah setengah sekarat. Hatta menyapa “Bagaimana kabarmu, No?” Matanya sudah basah.

Bung Karno menjawab, susah payah tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” “Bagaimana pula kabarmu?”

Berdua, dalam kamar yang kondisinya sangat tidak layak, kedua proklamator bangsa ini menangis bersama. Sejarah menjadi saksi betapa tidak bahagianya dua orang yang pernah segenap jiwa memperjuangkan kemerdekaan bangsa mereka. Hatta pulang, tak lama Bung Karno pun meninggal. Seolah menunggu agar bisa bersua dengan sahabat lamanya. Sungguh hubungan yang menyesakkan dada.

***

Tak memiliki kemampuan verbal dalam berbicara sepiawai rekannya, Sukarno, Hatta mencurahkan pengetahuannya dalam bentuk tulisan. Meninggal di tahun 1980, Hatta mewariskan harta termahalnya, “30 ribu judul buku.” Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikannya mutiara tak terjamah dalam deretan pemimpin dahulu dan sekarang. Lebih langka lagi sebagai negarawan yang juga sangat aktif dalam menulis.

Seorang penyair dari Padang, pernah berkata kepada anak-anak yang datang kepadanya untuk belajar menulis puisi, “Tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta. Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan pernah tamat dibaca.”

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan pengampunan bagi beliau. Amin :). Sedikit biografi Bung Hatta ini semoga bisa membantu memahami jalan perjuangannya yang mungkin tidak sementerang rekannya, Bung Karno :).

***

Disarikan dari berbagai sumber :

“Hatta, Jejak Melampaui Zaman” (serial Bapak Bangsa Majalah Tempo)
eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=22
www.ghabo.com/gpedia/index.php/Mohammad_Hatta

Jejak Urang Awak dalam Sejarah Bangsa

by : Jihan Davincka

***

sejarah kecil

Baru saja menuntaskan sebuah buku dari kumpulan jilid “Sejarah Kecil Perjuangan Bangsa.” Buku ini bukan khusus membahas suku Minang. Buku biografi beiberapa tokoh pelopor sejarah perjalanan bangsa ini ditulis oleh Rosihan Anwar. Kesan pertama setelah menuntaskan isinya, “Minang lagi, minang lagi!” Hehehehehe.

Memang, majalah Tempo pun pernah merilis buku biografi 4 Bapak Bangsa. Tidak tanggung-tanggung, 3 dari 4 (Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka) terlahir dari salah satu suku terbesar di pulau terbarat nusantara. Bukan cuma mempopulerkan rendang, suku minang melahirkan tidak sedikit tokoh-tokoh penting di masa lalu. Pola pikir mereka yang beragam dan ‘intelek’ membuat banyak ideologi yang teranut. Membentang dari sayap kiri, tengah, dan kanan.

Sayap kiri ada Tan Malaka. Seorang tokoh komunis nasional yang namanya sempat diendapkan oleh rezim orde baru. Anda mungkin berpikir Tan Malaka seorang atheis :). Beliau seorang penghapal alquran. Mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sosialis ekstrim kiri. Berbeda dengan sosialis komunis yang diterapkan oleh Lenin dan Stalin, yang sayangnya menjadi standardisasi dalam menilai pengusung paham komunis. Selain Tan Malaka, ada juga Rustam Effendi.

Sayap tengah ada Syahrir. Bapak Bangsa yang jasanya tidak sedikit namun berakhir tragis dalam isolasi politik hingga akhirnya meninggal dunia. Syahrir sosialis beraliran kiri namun tidak menyetujui sosialisme ala Uni Soviet. Menurutnya, sosialisme adalah mengakui persamaan derajat antar sesama manusia.

Tokoh populer di sayap kanan antaralain : Muhammad Natsir, Agus Salim, dan Buya Hamka. Ketiganya bukan nama asing, kan?

Urang awak juga menghiasi daftar pujangga besar dan pejuang kemanusiaan tanah air. Ada Motinggo Busye, A.A Navis, Muchtar Lubis, dan Lukman Harun. Saya baru tahu kalau Motinggo Busye, cerpenis favorit saya, ternyata orang Minang juga. Rata-rata mereka memiliki keahlian bermacam-macam nan mumpuni. Seorang versatile.

Disebutkan kalau orang Minang tidak berjodoh dengan pemerintahan. Hatta mundur ketika merasa garis politiknya sudah tidak sejalan dengan Sukarno. Syahrir mundur dari jabatan perdana menteri di tahun 1947. Tan Malaka terlempar dari organisasi yang diperjuangkannya dengan segenap jiwa. Buya Hamka juga akhirnya memutuskan hengkang dari pucuk kepemimpinan dari MUI.

A.A Navis mengeluhkan apa yang salah dengan orang Minang?

Sementara Sukarno dan Suharto mati-matian membentuk kekuasaan. Sekali tergenggam, mereka tak sudi melepaskannya.

Orang Minang mulai ‘tersisih’ ketika pemberontakan PRRI/Permesta bergejolak. Satu persatu tokoh-tokohnya mulai dilemahkan.

Sisa-sisa intelektualitasnya masih sangat terasa hingga kini. Sebagian besar teman saya yang lahir dan besar di sana, saat merantau pas kuliah atau sudah bekerja, kecerdasannya memang tidak main-main :).

Bahkan pernah kami naik taksi. Supirnya ternyata urang awak. Saat macet tidak terasa karena dia dan suami sibuk mengobrol soal politik tanah air. Cara bicaranya tidak seperti orang kebanyakan. Kok bisa jadi supir taksi, ya? hehehehe.

Saya ingin menghindari stereotip atau stigma semacam ini. Tapi ya, sejarah dan pengalaman sehari-hari mana sanggup saya bantah :). Tidak semuanya, lebih tepat (mungkin) sebagian besar.

***

Ngomong-ngomong soal agama, suami saya bilang orang Minang termasuk suku yang ‘ketat’ untuk urusan keyakinan. Bisa dibilang, suku ini 100% penganut muslim. Makanya tidak berlebihan jika film “Cinta Tapi Beda” karya Hanung menuai protes keras dari ‘petinggi-petinggi Minang’. Duh Mas Hanung, apa yang dicari? Jangan disama-samakan yang memang sudah berbeda :). Toleransi ada batasnya.

Saya penasaran sekali mengapa orang-orang Minang ini bisa ‘eksentrik’ begitu, ya. Padahal sebagian besar mereka mengalami gemblengan masa kecil ala pesantren konservatif. Memiliki pengetahuan agama Islam yang tidak ecek-ecek. Memang banyak dari mereka yang akhirnya berkiprah dan memiliki nama besar dalam pengetahuan agama. Tapi banyak juga yang akhirnya memilih berpihak pada sosialisme.

Sebenarnya bila ditilik lebih jauh, para sosialis ini muncul sebagai bentuk perlawanan kepada kaum kapitalis. Makanya kalau melihat sejarah perjuangan bangsa, selain kaum muslim yang memang sudah mendominasi kala itu, perlawanan habis-habisan pun datang dari kaum sosialis. Muslim memandang imperialisme sebagai ‘kristenisasi’ dan Sosialis yang memandang imperialisme sebagai kapitalis.

Sebagian paham sosialisme memimpikan perwujudan “Masyarakat Madani”. Karena paham ini kerap dihembus-hembuskan sebagai ekstrim kiri, konotasinya menjadi negatif 100%. Padahal ekstrim kiri ya karena ekstrim kanannya sudah menjadi pakem penganut kapitalis :D. Iya enggak, sih? *sotoy*.

Kalau ditinjau lebih jauh lagi, sebagian paham sosialis belum sepenuhnya ‘mati’. Sebagian besar Eropa Barat masih menerapkan aturan sosialisme kemanusiaan. Berbeda dengan Amerika Serikat yang kental dengan liberalismenya. Liberalisme? Jangan bingung. ‘Teman’nya kapitalisme juga, kok. Hehehe.

Liberalisme mengingatkan pada istilah liberal. Islam di era terkini di Indonesia mulai digerogoti sebuah kelompok kecil yang menamakan dirinya JIL (Jaringan Islam Liberal). Pemahaman mereka bisa dicek di website resminya. Yang saya bingung, mereka banyak menyerang pemahaman Islam ‘konservatif’ termasuk ‘meragukan’ isi alquran. Lha ya bikin agama baru aja, kenapa mesti dompleng nama Islam? :). Takut enggak dapat pengikut ni yeeeee :P.

Tapi apesnya, istilah ‘liberal’nya ini menjadi istilah yang tidak jarang digunakan secara ‘serampangan’. Misalnya pas Pilkada kemarin milih Jokowi, dituduh ‘liberal, lu!’. Suami saya nih yang kerap dituduh ‘liberal’ oleh teman-temannya. Ahahahahhaha.

Suami saya kebetulan urang awak juga. Saya mengagumi semangatnya belajar bahasa Arab. Alasan utamanya karena dia ingin lebih mengerti isi alquran. Memang, orangnya kurang suka dengan doktrin-doktrin yang menurutnya membuat orang menjadi ‘malas belajar’ dan mencari tahu sendiri:).

***

Semoga sepenggal cuplikan masa lalu urang awak di atas (exclude my husband! :P) bisa menyemangati kita sebagai intelektual muda kaum muslim *tsaaahhh* untuk tidak enggan menggali dan terus mengasah pengalaman. Jangan takut rasa penasaran akan menjerumuskan kita. Perbedaan akan me’liberalisasi’ kita ?Tidak, kok. Bukan label ustaz yang akan membawa kemuliaan bagi tiap manusia.

Takwanya, bukan ‘label’nya :).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Jangan berlindung di balik zona nyaman, “kata ustaz kan begitu”. Jangan mentok gitu, dong hehehehe. Tentu kita selalu butuh guru dan bimbingan. Manalagi kita dihantui ketakutan hati tiap insan mudah terombang-ambing dan resiko ‘tergelincir’ itu selalu ada. Maka, lafadzkan selalu :

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

[HR.Tirmidzi]

Sekalipun rasa hormat pada kaum ulama harus selalu menjadi bagian dari akhlak utama seorang muslim, bersandarlah selalu pada Allah. Bukan pada orang, figur, dan lain-lainnya.

Hasbunallah wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar). Surah Ali `Imran (3).

Amin :).

***