Resensi Novel Arok Dedes

Dang Hyang Lohgawe untuk kedua kalinya mendehem, “Katakan apa yang kau ketahui, bukan pendapatmu tentangnya. Ayoh.”

“Ya Bapa, apalah artinya pengetahuan tanpa pendapat.”

“Baik, aku harus percaya kau telah mengetahui semua itu, dan kemudian berpendapat. Aku harus percaya bukan sebaliknya yang terjadi. Berpendapat tanpa berpengetahuan hukuman mati bagi seorang calon brahmana. Dia takkan mungkin jadi brahmana yang bisa dipercaya.”

Demikian salah satu kutipan di dalam novel “Arok Dedes” yang paling menohok buat saya. Sejalan dengan keyakinan dalam agama saya, betapa orang yang memiliki ilmu/pengetahuan memang dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi 😉.

Jadi, setop asbun (asal bunyi) dan asma (asal mangap) ya … untuk kita semua walau tak hendak menjadi sebijaksana seorang brahmana 🙂.

Jangan suka latah share-share info enggak penting apalagi pakai dibumbui kebencian enggak jelas . Pastikan kita tahu latar belakang sedalam-dalamnya sebelum menceburkan diri ikut campur dalam masalah tertentu . Ingat, berpendapat tanpa berpengetahuan itu efeknya tidak sepele.

Novel 500 an halaman ini bukan karya penulis sembarangan. Pramoedya Ananta Toer, gitu lho 😀.

Ketertarikan pertama tentu saja karena sinopsis buku yang sudah menyebut-nyebut tentang sejarah kerajaan Jawa. Jadi makin pengin bikin resensi novel Arok Dedes. Ini kisah tentang sebuah kudeta penting yang menjadi awal berdirinya banyak kerajaan besar di abad-abad ke-13 hingga 15 di tanah Jawa.

Kisah Ken Arok yang menggulingkan Tunggul Ametung yang pernah saya tahu kayaknya diceritakan dengan ala-ala mistis. Sering dihubung-hubungkan dengan kutukan keris Mpu Gandring. Nah, novel ini menguraikan kejadian tersebut secara lebih menyeluruh dengan mengambil sudut pandang sekaligus dari 3 pelaku sejarahnya : Ken Arok, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

Arca Prajnaparamitha yang juga dikenal sebagai Ken Dedes (gambar : id.wikipedia.org)
Arca Prajnaparamitha yang juga dikenal sebagai Ken Dedes (gambar : id.wikipedia.org)

 

Tak hanya mengurai masa lalu Arok secara tuntas, menuliskan siapa sebenarnya Tunggul Ametung dan menceritakan latar belakang seorang Dedes saja, novel ini juga tidak mengabaikan asal muasal peristiwa jauh ke belakang. Pasca berdirinya Kerajaan Hindu yang dipimpin oleh Erlangga.

Erlangga diceritakan sebagai raja Hindu pertama yang berasal dari kasta Sudra. Raja yang sama yang menghapuskan kasta Waisya dan Paria. Erlangga hanya mengakui 3 kasta di bawah kepemimpinannya : Brahmana, Ksatria, dan Sudra.

Lenyapnya kasta Paria membuat kerajaan seharusnya terbebas dari perbudakan. Banyak juga diceritakan soal apa yang terjadi pada Kerajaan pasca Airlangga lengser. Peristiwa terpecahnya kerajaan menjadi Panjalu (Kediri) dan Jenggala hingga disatukan kembali menjadi Kerajaan Kediri.

Bukan hal yang mudah untuk menyatukan Jenggala dan Kediri. Nyawa seorang perempuan harus dikorbankan. Kedua belah pihak hendak menjodohkan putri mahkota Panjalu dan putra mahkota Jenggala. Apa daya, sang putra mahkota telah terlebih dahulu terpikat pada anak seorang patih Jenggala. Cerita selengkapnya lihat di novelnya saja.

Dramanya mantap, euy. Dasar ratu drama!! Hahahahaha 😀.

Kisah Arok dan Tunggul Ametung terjadi di masa pemerintahan Sri Kretajaya. Kretajaya kembali ‘melegalkan’ perbudakan. Secara umum, kepemimpinannya semakin menjauhkan diri dari kesejahteraan masyarakat yang dulu pernah dirintis dan disukseskan oleh Erlangga.

Tunggul Ametung yang menjadi akuwu di Tumapel berusaha diusik kepemimpinannya oleh kalangan brahmana yang akhirnya sepakat mengutus Arok. Arok sendiri adalah keturunan Sudra yang memiliki kemampuan Ksatria dan jiwa seorang brahmana.

Kalau lihat Arok udah semacam Catatan si Boy gitu lah. Tapi ganteng sih enggak hahahahaha. Ini terlihat dari deskripsi Dedes yang menggambarkan Arok sebagai “orang Sudra pada umumnya”. Yang kece-kece itu biasanya keturunan Brahmana soalnya :p.

Harap dicatat, saat mencocok-cocokkan dengan wikipedia, ternyata tokoh Arok dan Dedes ini nyaris dicap sebagai tokoh fiktif. Saya jadi berpikir, mungkin saja penggambaran Arok dalam novel ini adalah keinginan pribadi Pramoedya Ananta Toer akan image seorang pemimpin yang diidam-idamkan.

Akur deh sama Om Pramoedya. Ganteng memang tidak pernah menjadi indikator saya dalam memilih pemimpin . Dulu milih SBY lebih karena orangnya kelihatan tenang dan tidak grabak grubuk. Ini apa sih, mau nulis resensi apa copras capres lagi???? Hahahahahahahha .

Membaca buku ini membuat saya jadi bertanya-tanya, “selain enggak ganteng, kekurangannya Arok ini apa coba?”

Arok sangat-sangat cerdas sampai membuat 2 gurunya, Tantripala dan Lohgawe terpesona habis-habisan pada anak sudra ini . Latar belakangnya yang tidak jelas membuat Arok sampai diasuh oleh 2 keluarga. HIngga di kemudian hari, Arok tak pernah lupa pada jasa orang tua asuhnya. Good boy banget lah.

Arok pun terkenal pemberani dan sangat pandai merancang taktik penyerbuan. Hatinya lembut dan nyaris tanpa hawa nafsu. Walau memang akhirnya jatuh hati pada Dedes yang unyu, Arok sudah terlebih dahulu menikahi Umang, saudara angkatnya yang selalu sempat disesalinya mengapa tak berwajah rupawan. Tapi Arok tak pernah lupa ada kebaikan adik angkatnya ini 🙂.

Arok sangat gemar melakukan pendekatan langsung kepada rakyat jelata hingga ke lapisan terbawah. Dia suka mencuri untuk membela orang-orang tak mampu ala-ala Robin Hood gitu. Iiiiihhh, Arok masa suka blusukan juga coba. Jangan-jangan Jokowi ini titisan Arok neh hahahahahahaha.

Apa novel ini juga novel pencitraan? Kan sekarang apa-apa pencitraan, dikit-dikit pencitraan . For info, novel ini selesai ditulis di penghujung tahun 1976 😉.

Saya sempat dibuat bingung dengan istilah-istilah Hindu Syiwa dan Hindu Wisynu. JUga ternyata ada dewa khusus bagi kaum Sudra yang namanya Hyang Pancagina.

Wah, ternyata kepercayaan Hindu pun tak lepas dari pertikaian internal . Macam Protestan vs Katolik atau di umat muslim juga ada perbedaan yang tidak kalah runcingnya antara Sunni vs Syiah. Tapi saya kurang tahu apakah Hindu Syiwa dan Hindu Wisynu ini masih ada sampai sekarang. CMIIW buat teman-teman yang beragama Hindu, ya. Maaf kalau saya nangkapnya salah.

Pertentangan antara penganut Syiwa dan Wisynu ini juga yang mewarnai perselisihan antara kaum Brahmana dan kepemimpinan Erlangga dan setelahnya.

Saya menangkapnya gini, mayoritas Brahmana itu adalah Syiwa. Sementara Sri Erlangga adalah seorang Wisynu. Kalau dibaca-baca lagi, Erlangga di mata kaum Brahmana-Syiwa ini pasti dicap liberal dah hahahahaha.

Erlangga memang dikenal sebagai raja dengan toleransi sangat tinggi. Erlangga melindungi Hindu Syiwa, HIndu Wisynu, dan juga Buddha :).

Sri Erlangga
Sri Erlangga


Arok sendiri mendapat kesempatan untuk belajar yoga dan beberapa kitab Buddha dari salah seorang gurunya, Tantripala. Sempat Arok terpikir Tantripala ini sebenarnya seorang brahmana yang sudah menganut Buddha. Maklum, buat kalangan brahmana Hindu, haram hukumnya mempelajari apa pun yang berbau Buddha.

Nah, kaum Brahmana Syiwa merasa Erlangga sudah melecehkan mereka saat Erlangga melarang penghancuran candi-candi Buddha dan mengizinkan kepercayaan lain hidup berdampingan dengan damai. Ya iya kaleeee, Erlangga pan katanya Hindu Wisynu toh ya? *garukGarukKepala*.

Tapi, kaum Brahmana tetap memuji-muji Erlangga yang menghapuskan perbudakan dan banyak membangun infrastruktrur layanan publik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum. Banyak sistem irigasi positif dan masif yang dipelopori oleh pemerintahan Sri Erlangga . Mungkin tepatnya, terstruktur masif dan sistematis? Nyepet mulu kauuuuu hahahahahahaha .

Ah, sejarah selalu berulang. Maunya sejahtera tapi enggak mau kalau sejahteranya harus barengan sama orang kafir? . Puas dengan kepemimpinan tapi meributkan soal kepercayaan pribadi? Ahok mana Ahok? 😀.

Mpu Gandring juga memiliki porsi tersendiri dalam kisah ini. Jauh banget deh dari yang selama ini saya tahu hehehe. Tentu saja tokoh Kebo Ijo yang memang sering disebut-sebut dalam kisah Tunggul Ametung vs Arok juga tidak luput dari novel yang ini.

Penulis juga sangat rapi dan konsisten dalam menyampaikan pesan tersirat, betapa laki-laki tak pernah mudah mengalahkan 3 penakluk utamanya : harta, tahta, dan wanita. Yang merasa wanita, boleh *benerinPoni* ramai-ramai hihihihi .

Jangan terkecoh dengan embel-embel “roman” di sampul buku. Kisah cinta antara Arok dan Dedesnya ternyata sambil lalu saja, kok . Filsafat Hindu yang kental justru merupakan nafas utama dari isi novel.

Awalnya agak kagok dengan gaya bahasa dan istilah-istilah HIndu yang digunakan. Tapi jadi senang soalnya jadi belajar dan mendapat harta baru. Hey, ilmu itu adalah harta yang paling menyenangkan, bukan? . Mudah didapatkan (kalau mau) dan mudah dibawa ke mana-mana serta tak pernah memberatkan pemiliknya ^_^.

Saya beri bintang 4.5 (out of 5) untuk novel ini. Semata karena saya kurang puas mengapa tokoh Arok kurang tajam pemaparan karakternya. Sotoy deh awwww, biasa nonton gosip artis, sok-sok pula mengkritisi karya pujangga besar. Hahahahahha.

Saya menikmati sekali falsafah-falsafah HIndu yang bertebaran di sepanjang cerita. Penokohan yang mendalam. Penceritaan yang lengkap yang membuat kita akhirnya merenung bahwa memang tak ada manusia yang sempurna. Yang paling jahat itu hawa nafsu. Manusia pada intinya narsis dan ingin diperhatikan. Merasa benar sendiri itu sudah penyakit kronis sejak dahulu kala.

Bahwa kejahatan kadang tak datang karena niat tapi karena ada kesempatan. Eh, jadi ingat Bang Napi! Hihihihi.

Tapi benar sih, sesuai lho dengan buku Tipping Point yang memaparkan bahwa tak adil jika kita menilai karakter seseorang dari tindak tanduknya semata. Kondisi lingkungan dan situasi saat itu dan latar belakang justru selalu menjadi hal penting untuk disajikan. Dan penulis berusaha keras untuk tidak menjatuhkan penghakiman pada tokoh mana pun tapi lebih memilih menyajikan data-data sebanyak mungkin. Yang ditarik jauh dari belakang hingga kini. Kesimpulan tentu terserah yang baca .

Soal teori menarik dari buku Tipping Point ini tak cukup satu paragraf. Kapan-kapan dibikinin tuilsan khusus mumpung bukunya udah ketemu.

Salut luar biasa untuk penulis novel ini . Wah, kayak apa itu yah observasinya bisa membuat novel yang begitu “hidup” mengingat setahu saya Pramoedya Ananta Toer bukan penganut Hindu kan, ya? Jadi penasaran mau baca buku-buku Pak Pram yang lain . Ke mana aja gue? Kebanyakan nonton infotainment sih hihihi *ngikikTukangGosip*,

Komentar pamungkas saya untuk novel ini, “Jagad Dewa! Jagad Pramudita! This novel is one the best!”

500 an halaman, Kakaaaaa 😀.  Selamat membaca ^_^.

Sampul buku "Arok Dedes"
Sampul buku “Arok Dedes”

Ya bisa dimulai dengan membaca resensi novel Arok Dedes nya dulu kali di sini hihihi.

Resensi Novel Gadis Kretek : Tentang Politik 1965 dan Kandasnya Asmara yang Tidak Selalu Menyakiti

Pak Radja sakit keras. Igauannya tentang sebuah nama tak hanya membuat sang istri, Purwanti, gondok dan marah-marah. Nama yang sama juga membuat ketiga anak laki-lakinya juga ikut-ikutan heboh .

Jeng Yah, adalah nama yang disebut-sebut Pak Radja saat itu. Cerita bergulir dari sana. Sebuah flash back menarik tentang masa lalu seorang Soeradja, juragan rokok yang sukses yang kala itu tengah sekarat dan mungkin berada di ujung maut.

Masa muda Soeradja saat merintis usaha. Perkenalannya dengan seorang saudagar rokok kretek. Disusul dengan hatinya yang jatuh kepada anak si saudagar. Yang membuat sang saudagar memuluskan langkah Soeradja menapaki tangga karier yang lebih baik dalam tempo lebih cepat.

Hal ini bukannya tanpa masalah. Desas desus dari karyawan lain membuat Soeradja mendadak menjadi malu dan bertekad untuk melepaskan diri dari bayang-bayang calon bapak mertua, Idroes Moeria.

Setting ceritanya berlangsung di tahun 1960 an. Kasih tak sampai Soeradja kepada si anak saudagar tak lepas dari peristiwa besar yang pernah menjadi titik balik dalam sejarah perjalanan bangsa.

Saat Soeradja tengah merangkai usaha bisnis dengan memanfaatkan pinjaman dana dari partai besar yang tengah naik daun kala itu, kejadian penting terjadi di ibukota. Merembet hingga ke daerah-daerah. Termasuk Jawa Tengah dan Yogyakarta, dua wilayah yang menjadi setting tempat dari novel ini.

Saya agak bingung sih ya, dengan nama kota-kotanya. Soalnya antara Yogya dan Jawa Tengah, saya enggak bisa bedain kadang-kadang hehehe. CMIIW ya.

Tiga minggu menjelang hari pernikahan, Soeradja yang sudah mencium akan bahaya yang mengancam dirinya lari dari rumahnya. Dia hendak menuju rumah Idroes Moeria.

Dengan mata kepalanya sendiri, Soeradja menyaksikan penangkapan terhadap keluarga mertuanya, termasuk melihat sang pujaan hati yang sebentar lagi akan dipersunting digelandang oleh para tentara.

Pergolakan tengah terjadi saat itu. Penangkapan besar-besaran banyak yang berakhir dengan mayat-mayat bergelimpangan setelah dibunuh begitu saja di sebuah kali besar. Semua orang-orang yang dicurigai ditangkapi termasuk kerabat dan orang-orang terdekatnya.

Soeradja memutuskan untuk pergi demi keselamatan calon mertua dan calon istri yang tak kuasa menghindari penangkapan karena bukti nama yang tertera di surat undangan.

Soeradja tak pernah terlibat politik sama sekali. Untuk memulai usaha rokok kreteknya sendiri, Soeradja berusaha menggalang dana tanpa melibatkan bantuan calon mertua. Tekadnya sungguh bulat untuk membuktikan kemandiriannya dan mementahkan sindiran orang lain kepada dirinya. Akhirnya Soeradja terpikir untuk membuat rokok dengan nama dagang Tjap Arit Merah.

Siapa pun yang terlibat apa pun dengan PKI memang dikejar-kejar begitu rupa. Belakangan Idroes Moeria dan anak gadisnya bisa dibebaskan berkat kepiawaian sang gadis melinting rokok kretek.

Walau Idroes Moeria harus pasrah ketika salah satu merek dagangnya, Rokok Merdeka dilarang diproduksi lagi. Hanya karena Rokok Merdeka menggunakan bungkus warna merah.

Kelihatannya sepele ya, tapi memang begitulah propaganda yang disebarkanluaskan saat itu untuk menghantam PKI hingga akar-akar terbawah pasca Gestapu.

Padahal, bungkus merah dari Rokok Merdeka yang diproduksi Idroes Moeria itu sudah ada sejak zaman kemerdekaan. Warna merah yang dimaksud berasal dari warna bendera tanah air, merah dan putih . Sial banget yang usahanya “berbau kemerah-merahan” hanya karena PKI identik dengan warna merah :(.

Soeradja mulai melupakan sang pujaan hati dan kembali nyangkut di tempat saudagar rokok yang lain, Soedjagad. Kembali membangun mimpi dengan kerja keras. Berkat bantuan Soedjagad jugalah, Soeradja bisa ‘membersihkan’ namanya dari status OT (organisasi terlarang).

Nah, siapakah Jeng Yah tadi? Setelah bertahun-tahun berlalu, mengapa Soeradja masih menyebut-nyebut nama Jeng Yah? Atas dasar cintakah atau gimana? Yuk ah, dibaca novel seru ini 😉.

Walau settingnya sekilas terasa ‘berat’ dan ‘serius’, isinya ternyata ringan dan menghibur kok. Endingnya lumayan mengejutkan *kerenAaaahhhh*.

***

Waktu novel ini baru terbit saya sudah tahu dari blog pribadi pengarangnya kalau gak salah. Apa dari mana gitu. Suka banget sama covernya yang super ciamik, jadul-jadul gimanaaaa gitu <3.

Terus terang, saat melihat covernya jadi kepikiran terus sama novel ini. Sempat lupa saat lagi hobi-hobinya membaca non fiksi  😀.

resensi novel gadis kretek

Nah, karena tahun lalu ikut lomba resensi buku dan dapat hadiah voucher 750 ribu dari Gramedia, novel ini langsung masuk daftar paling atas! Kalau gratisan emang paling gak mikir-mikir mau beli buku apa saja hahaha.

Sebelumnya, sudah pernah beberapa kali membaca cerpen si penulis novel ini, Ratih Kumala. Cerpennya memang bukan cerita biasa-biasa.

Melihat tahun kelahiran pengarang yang persis seperti tahun kelahiran saya kadang ada rasa iri euy, ini gue kemanaaaaa aja yah, si doi udah menulis banyak buku, yang di sini masih mentok di dunia fesbuk ajah hahaha.

Bintang 3 (dari 5) bukan karena novelnya tidak cukup bagus . Lebih karena saya dengan mudah menebak jalan ceritanya hihihihi . Tapi membacanya seru banget. Terlebih karena si pengarang memang sangat detil hasil observasinya. Tak sadar jadi tahu seluk beluk rokok filter dari membaca sekitar 200 an halaman novel ini .

Selipan sejarah penting Indonesia yang terjadi di tahun 1965 silam juga satu daya tarik penting buat eike yang suka sok-sok baca sejarah ini . Sisi sejarah bisa dipahami dengan lebih mendalam dari rangkaian peristiwa-peristiwa dan gambaran langsung di situasi saat itu daripada sekadar opini-opini bertebaran dari para pelaku sejarah itu sendiri bukan? :).

Jangan malas-malas membaca sejarah . Mungkin buat sebagian orang melelahkan, tapi melihat dari sudut pandang fiksi seperti novel “Gadis Kretek” ini, mungkin akan terasa lebih menyenangkan.

Masa lalu tak selalu menghendaki kita untuk saling menyakiti atau membangkitkan luka lama. Tapi justru menjadi penawar penting untuk ditarik hikmahnya untuk melanjutkan hidup di masa kini dan memperbaiki masa depan 🙂.

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
― Søren Kierkegaard

Gitu, deh, resensi novel Gadis Kretek ala saya. Selamat membaca ^_^.

****

Turn Our Back On The Crowd

Waktu membaca salah satu buku biografi tentang “Theodore Roosevelt”, tulisan pengantar buku menekankan soal leadership.

Nah, saya lupa-lupa ingat. Novel apa yang disebut oleh penulis pengantar di paragraf-paragraf awal. Duh, harusnya habis baca buku harus langsung bikin resensi ya huhuhu .

Kalau tak salah novel yang disebut adalah War and Peace (Leo Tolstoy). Konon, di novel ini (kalau memang benar ini yang dimaksud hihihi) dikatakan bahwa rangkaian kejadian penting dalam sejarah peradaban manusia tak ada hubungannya dengan manusia yang berperan di dalamnya. Disebut-sebut soal Napoleon salah satunya. Penulis novel menolak anggapan bahwa pelaku utama dalam kejadian tertentu memiliki pengaruh penting.

Napoleon, gambar : en.wikipedia.org
Napoleon, gambar : en.wikipedia.org

Menurut si penulis novel semuanya murni takdir Tuhan, tak penting siapa yang berbuat hasilnya akan sama. Sementara menurut penulis pengantar buku biografi yang saya baca ini, itu adalah anggapan yang kurang tepat .

Tak semua orang dianugerahi keberanian untuk mengubah . Tak semua orang punya nyali untuk memperjuangkan apa yang diketahuinya dengan pasti adalah sebuah kebenaran. Itulah kapasitas dari seorang leader. Seorang manusia ini pastilah seseorang yang spesial. Dari tangan-tangan merekalah sejarah akan tercipta.

Saya juga percayanya begitu hehehe. Bukannya hendak menghalau takdir Tuhan, tapi manusia diciptakan dengan pilihan-pilihan dan kehendak bebas . Tak semua dari kita dibuat sanggup mengalahkan ketakutan dan berdiri gagah menyatukan kata hati dan perbuatan di garis paling depan.

Sebagai contoh dalam pengantar buku itu disebut-sebut soal Winston Churchill. Siapa yang tahu apa yang terjadi pada Perang Dunia II ketika beberapa tahun sebelum kejadian itu, Churchill yang tengah menyeberang jalan menghembuskan napas terakhir saat ditabrak sebuah mobil?

Winston Churchill, gambar : amac.us
Winston Churchill, gambar : amac.us

Seberapa banyak orang Amerika Serikat yang tahu bahwa perbudakan adalah hal yang tidak benar tapi adalah seorang Abraham Lincoln yang benar-benar memperjuangkan amandemen walau jalan pahit menghadang di hadapan … Perang Sipil bertahun-tahun! Pertarungan antara Union vs Konfederasi menuliskan sejarah penting di akhir abad ke-19 untuk Sang Negeri Jantung Dunia ini.

Leadership, adalah salah satu dari sekian banyak hal terpuji nan terhormat yang tidak begitu saja terprogram otomatis dalam sanubari setiap kita .

It’s a big thing to kill your fear, shut off your worries, and turn your back on the crowd
– a saying-

Demikian pula sejarah Indonesia yang pernah mencatatkan satu nama sebagai salah satu pencetak sejarah kemerdekaan bangsa besar ini . Bung Karno.

Dalam perjalanan sejarah, tak mungkin menemukan sosok sempurna. Termasuk Bung Karno. Sedari muda menantang hal-hal besar, masa-masa awal perjuangannya nyaris tanpa cela. Hingga akhirnya memerintah dengan berbagai macam kontroversi dan mengakhiri hidupnya dengan kisah ‘mengenaskan’. Menghembuskan nafas terakhir dalam sunyi, penderitaan terbesarnya adalah dijauhkan dari mereka yang selalu diperjuangkannya sepenuh hati.

Kenyataannya, mana ada manusia yang sempurna . Bahkan untuk nama-nama besar yang sudah menjadi inspirasi bagi hampir seluruh umat manusia.

Apakah Truman telah melakukan kejahatan sosial saat memutuskan menjatuhkan 2 bom mematikan di Nagasaki dan Hiroshima? Tapi apakah jika tak dilakukan, Jepang akan menyerah dengan mudah begitu saja dan mengakhiri Perang Dunia ke-2 di tahun 1945 itu?

Apakah Lincoln adalah pejuang kemanusiaan saat mencoba meletakkan persamaan hak bagi warga kulit hitam di Amerika Serikat? Dengan pengorbanan ratusan ribu jiwa saat menghadapi perlawanan Konfederasi yang pro perbudakan di wilayah selatan?

Abraham Lincoln, gambar : en.wikipedia.org
Abraham Lincoln, gambar : en.wikipedia.org

Apakah Saddam Hussein adalah diktator keji yang menginvasi Kuwait sementara di negerinya Saddam adalah kebanggaan dan kecintaan warganya?

Termasuk Bung Karno. Keinginannya untuk membujuk pendudukan Jepang untuk menghadiahkan kemerdekaan membuatnya berorasi dengan menyala-nyala di hadapan para pemuda Indonesia. Membuat dada kaum muda berdentum-dentum dan serentak mengikuti permintaannya untuk bergabung bersama Romusha. Sebagian besar mereka tak pernah kembali lagi.

Perdebatan moral yang tak akan ada habisnya 🙂.

Makanya, mengapa kita tak pernah dianjurkan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Dan mengapa alquran menegaskan bahwa sebagian prasangka adalah dosa.

Kenang yang baik, jadikan pelajaran hal-hal yang dianggap buruk. Pelajaran yee, bukan dijadikan berita hoax untuk menyerang orang lain dan malah membuat kita terjebak dalam pembunuhan karakter kepada pribadi-pribadi hebat yang seharusnya bisa kita jadikan panutan dalam hal-hal yang lain 🙂. Termasuk 2 anak bangsa terbaik yang pernah dipersembahkan tanah air kepada perjalanan bangsa kita di abad terkini, Prabowo dan Jokowi .

Dua anak negeri yang tengah mempertaruhkan apa pun yang mereka bisa untuk berbuat lebih setelah sekian lama menabur mimpi-mimpi besar dan harapan untuk kita semua.

“Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”

6 Juni 2014, selamat ulang tahun, Bung Karno!

Bung Karno, gambar : en.wikipedia.org
Bung Karno, gambar : en.wikipedia.org

Peristiwa G 30 S PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (7-Finale)

Peristiwa G 30 S PKI : Dalih Pembunuhan Massal (7- Finale). Bagian sebelumnya di sini, ya.

Soekarno, “Sejarah Akan Membersihkan Namaku”

***

Bagian paling menyayat-nyayat hati dari film “Pemberontakan G30S/PKI” ala Orde Baru adalah saat mayat-mayat para jendral diangkat dari sumur di Lubang Buaya. Adegan ini kalau tidak salah diiringi dengan lagu “Gugur Bunga.” Betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku … betapa hatiku tak akan sedih hamba ditinggal sendiri …

‘Blunder’ yang belum terpecahkan dalangnya secara sahih hingga kini itu tak cuma mengubur rapat-rapat mimpi kaum komunis menguasai nusantara. Peristiwa G30S juga mengorbankan sebuah nama, Soekarno.

Setelah menghabisi nyawa hampir semua kader/simpatisan/anggota organisasi yang berafiliasi dengan PKI, tibalah Suharto dkk pada salah satu misi puncak mereka, menyudahi kekuasaan Soekarno.

Demo-demo yang belakangan dikenal sebagai Tritura digalakkan dengan mengerahkan mahasiswa dan ormas-ormas masyarakat. Tentu saja, ada sumbangan ‘nasi bungkus’ dari pemerintah AS . Hahaha. Abis yang ngetren sekarang panasbung, yak .

Tentu ini tidak serta merta. Rezim Suharto kan pinter banget propagandanya. Penculikan jendral digambarkan bagai peristiwa luar biasa. Genderang perang semacam ditabuh bertalu-talu. Kalau lihat di film, suasana di tanggal 1 Oktober itu mencekaaaaam banget.

Belakangan beredar foto-foto kalau ternyata ya biasa-biasa saja hehehe. Bundaran HI ya tetep macet hihihi. Boleh dicek di wallnya Om Anton Dwisunu, ya . Tempo hari sempat beredar foto Jakarta di pagi hari 1 Oktober 1965.

Juga sudah dibuktikan G30S dipukul mundur dengan sangat mudah dalam tempo yang cukup singkat. Namun, Suharto dkk membungkus peristiwa ini dengan kemasan perang urat syaraf yang cetar membahana . Jadi, sebenarnya menurut Roosa, penulis “Dalih Pembunuhan Massal”, G30S dan pembasmian PKI itu sebenarnya 2 hal yang berbeda .

Salah satu dokumen penting yang menandai peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Suharto adalah dokumen Supersemar. Namun hingga kini, dokumen aslinya entah ada di mana. Yang berada di Gedung Arsip Nasional hanyalah kopinya. Di mana sebagian pihak juga meragukan itu beneran kopinya atau bukan? Nah lo *seruputKopiAnget*.

Soekarno telah sering mengeluhkan tentang kesalahpahaman rezim Suharto tentang Supersemar ini. Apa daya, Suharto sudah merangsek terlalu jauh. Semua anggota kabinet loyalis Soekarno sudah dibabat. Petinggi-petinggi AURI yang pro Soekarno juga sudah dilumpuhkan semua. PKI apalagi.

Konon, Supersemar berisi limpahan kewenangan dari Soekarno kepada Suharto untuk mengambil tindakan-tindakan yang dirasa perlu dalam ‘chaos’ yang ada pada saat itu. Tetapi semuanya harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada Panglima Tertinggi ABRI, Soekarno.

Alih-alih menjalankan isi Supersemar, Suharto bahkan menggunakannya untuk melengserkan Soekarno. Ketiga jendral yang katanya merupakan saksi Supersemar juga bungkam hingga akhir hayatnya. Suharto pun mengunci rahasia ini dalam-dalam hingga ke liang lahat.

Btw, ke mana cinta masyarakat yang selama ini selalu menjadi ‘perisai’ terkuat Soekarno dari rongrongan AD maupun PKI? Jangan lupa, propagandanya ini tingkat tinggi dengan frekuensi yang luar biasa. Siang malam Suharto terus mendengung-dengungkan bahwa Soekarno telah menyerahkan tampuk kekuasaan kepadanya.

Suharto dan AD kan juga habis-habisan membuat masyarakat percaya bahwa negara sedang dalam gawat darurat dan butuh penanganan luar biasa. Sekaligus menenangkan rakyat dengan buaian, “Tenang, semuanya aman terkendali di bawah komando Suharto dan Angkatan Darat.”

Momentum G30S telah sukses menyempurnakan skenario perebutan mahligai kekuasaan yang dijalin cukup lama bahkan mungkin sudah hampir basi. Thank God, G30S meletus dan memutarbalikkan ‘keputusasaan’ pemerintah AS dan sekutu nusantara-nya, AD .

Setelah PKI dihabisi di Indonesia, pemerintah AS lebih santai menghadapi Perang Vietnam . Sip, sasaran utama telah di tangan. Toh, Vietnam ini sebenarnya salah satu pencegahan yang dilakukan AS agar komunis tak merebak di Indocina dan Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Negeri Raksasa yang mahakaya yang untungnya tak menyadari betapa berharganya daratan surga yang mereka diami.

Boleh dicek. Freeport mendaratkan tahtanya di Indonesia sejak tahun berapa?

Isu bahwa Soekarno pro komunis juga tidak sepenuhnya benar. Karena PKI di masa keemasannya pun tidak pernah berhasil menguasai posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Terlebih di tahun 1959, Soekarno membubarkan Pemilu. Ya, jangan-jangan untuk membenamkan komunis yang mulai tak terbendung.

Ingat, Bung Karno cita-citanya jauh lebih tinggi daripada pro komunis. Menyatukan kaum nasionalis-agamis dan komunis dalam dekapan Ibu Pertiwi. Nasakom.

Sesuatu hal yang cukup mustahil memang. Tapi hey, itulah Bung Karno yang suatu kali pernah berseru, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Jika terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang” .

Ada teori bahwa Soekarno hanya ingin memanfaatkan PKI untuk meredam Angkatan Darat yang sudah dikuasai oleh jendral-jendral sayap kanan. Sementara, Soekarno tetap membiarkan AD menduduki pos-pos strategis dalam pemerintahannya.

Di masa-masa akhir kepemimpinannya, saat Soekarno telah terisolasi dari kabinet dan masyarakat, ajudannya sempat berkata, “Mengapa Bapak tidak melawan? Rakyat masih cinta. Pasti akan mendukung bila diminta. Bapak ini seorang pejuang.”

Soekarno menjawab bijak, “Hidung mereka sama dengan hidungmu, sama dengan hidungku. Kamu minta saya melawan bangsa sendiri? Dulu, kita melawan penjajah. Hidungnya beda dengan hidungmu, beda dengan hidungku.”

Soekarno menghindari perang saudara yang pasti diyakininya akan lebih merugikan dan menyakitkan bahkan untuk dirinya sendiri. A true leadership. Praktik kepemimpinan yang terpuji.

Peristiwa G 30 S PKI
Gambar : biographypeople.info

Dari buku ini, digambarkan betul, betapa cinta masyarakat dan kepopuleran Soekarno yang bergema sedemikian kuat di hampir seluruh penjuru nusantara benar-benar membuat musuh-musuh politiknya harus bekerja keras mencari cara untuk menjatuhkan wibawanya.

AD punya kekuatan militer yang mumpuni. Apalagi sejak menjadi ‘panasbung’-nya AS hehehe . PKI, walau tak punya senjata, punya massa yang sedemikian banyak dari ibukota hingga ke desa-desa terpencil. Soekarno punya apa? Beliau cuma punya cinta . Cinta dari seluruh negeri. Berarti benar ya, kekuatan terbesar dalam dunia ini sebenarnya adalah CINTA.

Seperti kata Gandhi, “What barrier is there that love cannot break?” .

Kepemimpinan Soekarno dibangun dari rekam jejak yang tangguh dan lama. Sejak muda, ketampanan dan kecerdasan yang diatas rata-rata tidak membuatnya bertekut lutut pada iming-iming duniawi dari petinggi-petinggi kolonial . Tentu saja, rasa cinta yang membuncah-buncah pada Ibu Pertiwi yang mengokohkan beliau untuk terus mengobarkan perlawanan pada penjajah.

Rakyat tak pernah meragukan ketulusannya. Dan sudah dibayar lunas oleh Soekarno . Ketika Bung Karno memutuskan untuk tidak memberikan perlawanan habis-habisan saat Suharto tengah berusaha mati-matian menjatuhkannya. Beliau ya bukan politikus kelas sapi . Pasti tahu pasti jika dirinya tengah dirongrong dan yakin beliau bisa memberikan perlawanan sepadan jika mau.

But he did not . Cinta seorang pemimpin kepada rakyat. Tak akan rela melihat pengikutnya harus hancur hanya untuk kepentingan diri sendiri. Percayalah, sebegitu banyak konflik politik di berbagai belahan dunia, legowo demi keutuhan bangsa seperti yang dilakukan Bung Karno ini bukan pilihan yang mudah.

Kalau mau, beliau bisa berdiri menantang di atas podium dan mengaum sekuat-kuatnya untuk menyulut perang saudara. Once again, he did not .

Tentu saja, beliau ya manusia biasa. Kelemahannya juga tidak sedikit . Sifat impulsif dan banci tampilnya sampai pernah membuat gerah sang partner kala itu, Bung Hatta. Hatinya yang mudah jatuh pada perempuan membuatnya terkenal beristri banyak.

Tapi ya situ kalau baru sebatas menikah lebih dari 1x terus mau banding-bandingin diri sama Bung Karno ya keterlaluan juga sih ya hehehe. Situ sudah melakukan apa untuk bangsa dan negara? *sodorinKaca* .

Karena kedua hal yang bertentangan itulah mungkin yang membuat Majalah Tempo membuat judul di salah satu serial Bapak Bangsa versi Tempo, “Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia.” Paradoks. Yang akan selalu bermuara kepada kontradiksi.

Namun begitu, pesonanya pun tetap berkilau hingga di akhir hayatnya. Di buku “Paradoks Revolusi Indonesia” ada kata-kata, “Bahkan jasad matinya pun membuat gentar.” Yup, Suharto menolak jenazah Sang Proklamator dimakamkan di Bogor sesuai permintaan keluarga. Bogor terlalu dekat dengan ibukota .

Akhirnya, sang Paradoks Revolusi disemayamkan di kota kelahirannya, Blitar. Walau dikutuk bagai bandit, sejarah telah menerbitkan kembali namanya yang pernah dibenamkan. Sesuai sumpahnya sendiri, “Sejarah akan membersihkan namaku.”

***

Berpuluh-puluh tahun setelah G30S, masih banyak yang menyangka,”Alhamdulillah, PKI tidak berkuasa. Kalau PKI berkuasa, mana bisa kita sembahyang?” Hihihihi .

Mbok ya, udahan atuh propagandanya . Sekarang saatnya mencari informasi berimbang. Apa itu komunisme? Gagasan apa yang sebenarnya dibangun oleh paham yang dulu muncul sebagai penantang kapitalisme. Sosialisme hubungannya apa dengan komunisme. Marxisme itu apa. Leninisme juga ada. Belum lagi istilah Marhaenisme.

Seperti apa dunia berputar di kala komunisme datang dan menghentak di sebagian wilayah dunia? Apa yang terjadi saat itu? Latar belakangnya apa?

Nanti seru, deh. Jadi kesasar ke Perang Dunia I, Perang Dunia II, bahkan kalau mau lebih komplit, pelajari Eropa di Abad Kegelapan yang akan mengantarkan kita kepada rentetan Perang Salib. Siapa, apa, bagaimana dan mengapa. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil in shaa Allah ketimbang terus berkoar-koar “Ini pasti ulah zionis” hahahaha .

Jangan tahunya cuma ribut-ribut kaum komunis dulu membunuhi Tsar Rusia sekeluarga. Yuk, dicari tahu juga, seperti apa Rusia di bawah pemerintahan Tsar dan Tsarina-nya. Lah, Tsarina-nya memang kenapa? Ubek-ubek di Google dengan kata kunci Rasputin, deh, cobak .

Tidak untuk membenarkan siapa-siapa. Tapi untuk memperlihatkan warna warni politik-sosial-ekonomi di dunia yang ternyata tidak selalu terpenjara dalam hitam atau putih. Sekali lagi, you didn’t have to believe them all but you can always learn, learn, learn. In shaa Allah .

Demikianlah akhir dari pembahasan buku ini *ngelapKeringat*.

Versi blog menyusul ya .

Semoga kita bisa mengambil pelajaran penting dari sejarah yang satu ini.

1. Tentang kepemimpinan yang tulus yang dibangun dari rekam jejak yang tidak sebentar. Karena itulah, saya lebih kepengin Pakde Jokowi membuktikan diri di ibukota dulu hehehe. Hater masih terlalu banyak . Sementara legislatif masih awut-awutan. Jokowi masih perlu lebih banyak cinta. Masih perlu lebih banyak lover .

Mendulang rasa cinta yang ikhlas (kagak pakai nasi bungkus pastinya :P) jauh lebih sulit daripada menanamkan rasa benci . Sejarah membuktikannya berkali-kali. Cinta itu dari Ilahi, sudah diinstal sejak kita lahir. Sementara benci itu adalah rasa yang kita pelajari setelahnya. Kita HARUS diajar untuk membenci.

2. Tentang bahayanya HOAX . Yang tidak hanya melahirkan dendam tidak jelas selama puluhan tahun. Tapi juga membunuh ratusan ribu bahkan jutaan nyawa yang diyakini tidak berdosa. Yang di daerah terpencil ngerti ada kejadian G30S aja juga enggak tetap dibedil sampai mampus . Apa inikah makna fitnah lebih kejam dari pembunuhan?

3. Orang bilang tanah kita tanah surga. Ternyata, Macan Asia itu nyata adanya . Yuk, sama-sama kita bangunkan macan yang lagi pingsan ini hehehe .

4. Sejarah tergantung siapa yang bercerita. Jadi, situ enggak perlu percaya pada rangkaian tulisan ini hehehe. Saya juga ini sekalian melatih kemampuan menulis selain ingin berbagi pengetahuan (versi saya) hihihi.

Sekian :D.

The End.
***

G 30 S PKI : Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (6)

G 30 S PKI : Menyiapkan Panggung PemberontakanAidit mungkin merasa G-30-S sebagai rencana yang mantap. Jendral-jendral pembangkang bisa disingkirkan, Soekarno akan simpatik pada PKI. Sekali tepuk, partai dan posisi Soekarno bisa diselamatkan.

Yang tidak disadarinya, pihak AD maupun AS juga menunggu-nunggu saat ini datang. Mereka tahu, kudeta cara lama kepada Soekarno akan sia-sia. Soekarno masih terlalu popular di mata masyarakat. Mereka butuh dalih untuk menghajar PKI dengan alibi ingin menyelamatkan Soekarno. Setelah beres, barulah mereka bisa merongrong kekuasaan Soekarno.

Taktik khas AS yang masih dipakai sampai sekarang, “Hancurkan dulu teman-teman dekatnya!” Hint : bete sama Iran? Sikat dulu Suriah. Gampaaaang, tinggal gosok-gosok isu Sunni-Syiah saja untuk memancing reaksi masyarakat muslim internasional. Wow, it really works! Perbedaan yang sudah ada sekian abad itu tiba-tiba makin meruncing belakangan ini . Asyik, ya. Menghancurkan musuh dengan biaya dan effort yang sangat minimal secara materi. Angkat topi untuk AS .

Balik ke Indonesia tahun 1965, jangan salah, AS dan AD sudah bersiap-siap sejak lama . Tak hanya bantuan dana yang dikucurkan kepada sekutu mereka di Indonesia, AD dkk . Hal-hal lain yang berkaitan dengan pemerintahan telah mereka galang bertahun-tahun. Termasuk memberikan beasiswa kepada para lulusan ekonomi asal Indonesia. Familiar dengan istilah “Mafia Berkeley”? Nah, para ‘mafia’ itu lahirnya dari sini .

A.H Nasution yang memang telah menjadi ‘anak emas’ AS sedari awal meyakinkan ‘bos besar’ bahwa AD tidak akan membiarkan PKI mengambil alih kekuasaan. Dwifungsi ABRI adalah salah satu penetrasi yang dilakukan Nasution untuk menerabas ranah-ranah strategis dalam masyarakat sipil.

No wonder, zaman Orde Baru, yang menduduki jabatan-jabatan basah macam gubernur, walikota dll biasanya purnawirawan ABRI ya *menganggukAnggukSokPaham* . Belum lagi fungsional AD yang lain yang diwujudkan dalam “Golongan Karya” . Mantap. Sekarung jempol untuk AS, AD dkk .

Walau begitu, saya tetap sayang pada Ade Irma Suryani hehehehe *apaHubungannyaCoba* .

Makanya, AD dkk sudah sangat ‘siap’ bahkan sebelum G-30-S terjadi. Mereka hanya menunggu sebuah kejadian penting, semacam ‘keajaiban’.

Jangan dikata mereka banting tulang mati-matian secara mendadak nan tiba-tiba untuk ‘memperbaiki’ bangsa pasca Gestapu. Eit, persiapannya sudah bertahun-tahun, lho. Hehehe.

Jadi, peristiwa G-30-S ini bisa dibilang adalah jawaban dari doa AD & AS. Sejarawan tak menemukan bukti bahwa AS yang menjadi dalangnya. Lagi hoki aja hahaha.

Roosa pribadi meyakini G-30-S adalah ‘kesialan’ Aidit dan Biro Chusus-nya. Maksud hati hendak mempecundangi AD, ternyata mereka yang termakan perangkap. Namun, apakah Aidit yang dikerjai oleh Syam ataukah bagaimana-bagaimananya… masih tetap menjadi misteri yang sepertinya telah terkubur rapat-rapat bersama hampir semua dari mereka yang telah meninggal dunia.

Kudeta Suharto

Secara eksplisit, Roosa menempatkan kata-kata “Kudeta Suharto” sebagai bagian dari sub judul bukunya. Tepatnya, “Peristiwa G-30-S dan Kudeta Suharto”.

Salah satu sejarawan internasional mengemukakan teori konspirasi bahwa Suharto-lah dalang dari peristiwa ini. Dengan menempatkan dua sahabatnya (Kolonel Latief dan Letkol Untung) dalam tim inti dan ‘mempekerjakan’ Syam, Soeharto menyutradai semuanya dan belakangan mengkhianati kedua kolega perwira AD-nya tersebut. Inilah yang dijadikan alasan mengapa Soeharto lolos dari daftar penculikan.

Syam sendiri (konon) ditembak mati paling belakangan. Alibi rezim Orde Baru, karena Syam sudah banyak memberi informasi-informasi penting. Syam ditembak mati tahun 1986.

Tapi, Roosa menemukan fakta penting untuk tidak memercayai teori konspirasi ini. Soeharto tidak punya rekam jejak sebagai perwira yang cerdas dan memiliki strategi luar biasa. Bagaimana mungkin semua bisa berjalan sesempurna yang diinginkannya? Nope, Roosa menolak asumsi ini.

Mungkin maksudnya, masa iya ada orang yang sepanjang kehidupannya biasa-biasa saja tiba-tiba berubah jadi jenius dalam waktu setahun? Hehehe . Capek juga ya jadi sejarawan. Harus melihat rincian masa lampau satu persatu aktor dalam tiap peristiwa untuk menarik kesimpulan dan mengisi ruang-ruang kosong dengan asumsi akurat *ngelapKeringat*.

Kalau sekarang kan kagak perlu susah-susah mikir dan peduli setan sama rekam jejak, bukti dan sebagainya. Kalau terdesak, kan tinggal teriak-teriak dengan lantang, “Ini pasti ulah zionis!” Hahaha .

Suharto join di grup ‘penentang Soekarno’ setelah dijadikan sebagai komando nomor 2 oleh Ahmad Yani di perbatasan Malaysia saat Dwikora berkobar. Pura-pura saja AD mendukung Soekarno. Mereka sudah ‘main mata’ dengan AS dan sohibul karibnya, Inggris, yang menjadikan Malaysia sebagai negara federasi mereka. Inilah yang ditentang oleh Soekarno. Tidak merestui pihak sekutu yang ingin menjadikan Malaysia dan belakangan Singapura sebagai negara boneka mereka.

Di sinilah Suharto sudah mulai banyak tahu soal hal-hal ‘besar’ lainnya. Saat Ahmad Yani dinas ke luar negeri, jabatan Panglima Tertinggi AD sering disematkan pada Suharto.

Bagii Roosa, peristiwa G-30-S diyakini adalah kejutan bagi AD dan AS. Tentu mereka tidak akan segegabah itu membiarkan petinggi-petinggi AD seperti Ahmad Yani, S. Parman, Soeprapto dll menjadi korban begitu saja. Roosa yakin, AD pun kecolongan dalam hal ini.

Entah, ya, menurut Roosa, kebetulan saja Latief dan Untung itu adalah sahabat dekat Suharto secara personal. Tapi ada kecurigaan, Sueharto bermuka dua di hadapan mereka berdua. Latief pernah mengadukan masalah “Dewan Jendral” kepada Suharto dan Soeharto berjanji akan menyelidikinya. Kemungkinan, Latief tidak tahu kalau Suharto sudah join ke gank ‘sayap kanan’.

Sedari awal, Suharto sudah menyadari rencana AD dan hendak membangun kediktatorannya sendiri. Terlepas dari detil-detil yang dipegang oleh Nasution dkk yang tidak diketahuinya, begitu kesempatan itu datang di tahun 1965, Suharto menjalankan rencana-rencana yang sudah ada.

Mulailah Suharto carper ke AS. Suharto tahu AS sangat takut pada rencana nasionalisasi tambang minyak oleh Soekarno yang seharusnya sudah dibahas saat itu. Suharto turun tangan langsung di sidang kabinet pertengahan Desember 1965 saat Chairul Saleh membahas nasionalisasi Caltex. Sesaat setelah sidang berlangsung, Suharto tiba-tiba muncul, datang dengan helikopter. Suharto mengancam bahwa AS tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan gegabah pada perusahaan-perusaahn minyak. Chairul Saleh menciut dan langsung membatalkan pembahasan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Suharto tahu, dia harus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk menjamin kediktatorannya nanti. Suharto ingin segera mengakhiri politik bebas aktif ala Soekarno dan merapat ke AS. Sedari awal, Suharto sudah sibuk ngutang ke Paman Sam .

Setelah G-30-S terjadi, AS sempat meragukan apakah AD bisa memutarbalikkan situasi sesuai rencana yang telah mereka gadang-gadang selama ini. Walau Ahmad Yani sudah tidak ada, masih ada Nasution. Namun, tewasnya sang putri tercinta merupakan pukulan yang sangat dalam bagi sang jendral. Sementara situasi segenting ini harus disikapi dengan cepat dan konsentrasi penuh.

Untunglah, sisa-sisa petinggi Angkatan Darat, Soeharto dkk, sigap membaca peluang ini. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung sepakat menunjuk PKI sebagai dalang hanya dengan modal pengumuman Dewan Revolusi via RRI. Ya, lagian, memang tidak bermaksud mencari bukti konkrit, kok hehehe .

Bukti-bukti telegram Duta Besar AS di Indonesia kepada atasannya di AS sudah banyak yang terbongkar dan dijadikan data oleh para sejarawan. Termasuk jaminan dari AS bahwa pasukan Malaysia tidak akan mengganggu Indonesia selama AD sibuk ‘membunuhi’ kader/simpatisan PKI. Pokoknya dibantu semampunya .

Organisasi massa dipersenjatai dan diprovokasi oleh AD untuk menyerang massa PKI yang segambreng itu. Ada yang berkilah, masyarakat memang sudah dendam pada PKI sejak lama. Belum cencuuuu hehehe. Sedendam-dendamnya penduduk sipil, apa sampai berani membunuhi sesama sipil? Kudu dikompor-komporin dulu. Ini ada kok penelitian secara psikologisnya . Baca dewe, yo hehe.

Di film dokumenter “The Act of Killing/Jagal” (ini cerita teman, sih), selain propaganda besar-besaran, para pembantai sipil juga diberi alkohol. Konon, efek alkohol bisa mengurangi rasa berdosa mereka dan mencegah mereka dihantui mimpi buruk karena membantai segitu banyak massa PKI. Sudah nonton filmnya? Saya mah takuuuut hehehe. Film ini mengangkat sudut pandang masyarakat sipil yang ikut membantu AD menangkapi dan mencabut nyawa kader/simpatisan partai komunis yang saat itu tengah jaya-jayanya.

AD sangat hati-hati dalam merebut kekuasaan. Suharto sadar betul cara mereka merebut kekuasaan adalah tonggak penting bagi keberlanjutan dinasti militer secara nasional. Mereka menciptakan suasana histeris, penuh krisis dan meyakinkan masyarakat bahwa mereka semua dalam bahaya maut.

Sesudah membasmi PKI, AS membantu membiayai demonstrasi-demonstrasi atas nama mahasiswa yang menunjukkan ketidakpuasan atas kepemimpinan Soekarno.

G 30 S PKI
Gambar : hass.unsw.adfa. edu.au

Untuk melegitimasi tindakannya, Suharto bahkan menyalahgunakan Supersemar dari Soekarno. Misteri Supersemar juga terkubur bersama tiga perwira yang katanya menjadi saksi surat sakti ini. Protes dari Soekarno tidak menghentikan Suharto saat itu. Suharto mencopot 15 menteri yang ditengarai loyalis Soekarno dan mengangkat menteri-menteri yang tentu saja pro AD.

Sejak itu, Suharto melaju terus dan membawa kediktatoran militer memulai kekuasaannya selama lebih dari 30 tahun di bumi Nusantara. Menyudahi masa-masa jaya Soekarno dalam kepahitan. Well, every hero becomes a bore at last ).

***

(Bersambung ke sini)