There’s Always a Different Story in Every Parenting Style

Jujur saja, saya paling malas membaca buku-buku parenting yang menyarankan kita untuk ini itu. Awalnya memang rajin.

Kalau teori bisa mumet sendiri dan pasti selalu terpikir, “O ya ampun, ibu macam apa gue?” atau “Hastaga, jadi selama ini gue ini bukan ibu yang baik…” dan seterusnya, dan seterusnya. Maklum ya, kadang nafsu besar, idealisme membuncah, apa daya ‘kemampuan’ terbatas .

 

Waktu hamil memang rajin membaca teori-teori kehamilan tapi jadinya putus asa karena sudah menuruti instruksi hamil mudanya tetap parah banget, hiks . Apalagi ada teori yang bilang, hamil muda jadi ‘drama’ itu ya tergantung orangnya ‘drama’ beneran apa kagak. Matilah eike! Hahahahahahaha.

Begitu lewat 17 minggu (yoi, 16 minggu pertama bagaikan roller coaster :P), ‘drama’ pun berlalu. Eh, hamil anak ke-2, saat rasanya mental jauh lebih siap dan sudah punya pengalaman, ya sami mawon! Hahahahaha. Kembali berhadapan dengan 16 minggu penuh ‘drama’.

Pola asuh orang tua
Gambar : pregnancyhumor.com

Soal menyusui juga sama. Karena waktu hamil menggembleng diri dengan banyak literatur, sifat ambisius membawa saya sok idealis sejak awal. Harus ASI Ekslusif! Harus, harus, harus, pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa. And that’s how the new drama begins … hahahaha.

Nyatanya, segitu banyak buku dibaca, rasanya sudah siap tempur sejak hamil 7 bulan … eh, gagal, dong, dong, dong!

Terus membaca forum dan segala macam malah makin stres. Nyokap juga berkomentar semacam, “Duh, netek in anak aja ribet bener. Kok kayaknya yang susah banget? Itu kan alamiiiiiii … “

 

Suami adalah sahabat terbaik saat itu, waktu pertama akhirnya ngasih sufor kan ada rasa semacam mau bunuh diri saja! ‪#‎eaaaaaa‬. Itulah akibat kemakan drama dari forum-forum emak yang instead of menyemangati malah seperti menakut-nakuti hihihihi.

Suami terus menenangkan, “Sufor hanya akan dikasih kalau kamu mau. Kalau enggak, ya udah enggak apa-apa. Jadi ini terserah kamu.”

Karena masih tinggal sama ibu mertua, suami juga menegaskan hal ini kepada ibu mertua yang memang sudah gemas melihat ASI menantu yang pas-pasan ini hahahaha. Sufor pertama pun terjadi sudah. Well, mungkin kedengarannya lebay. Tapi waktu ngasih susu botol untuk pertama kalinya ke anak sulung, eike nangis bombay. Pikir saya, I have failed, I have failed, I hava failed.

Mulai dari payudara bengkak, puting berdarah, datang ke konsuler laktasi jauh-jauh ke Cikini, tapi ya … akhirnya menyerah ke sufor hehehe.

Gagal dah dapat ijazah S1 dan S2 boro-boro yang S3-ASI hahaha. Sumpah, ijazah-ijazah ini salah satu istilah yang paling gengges buat yang gagal asi ekslusif. Biasa, sirik tanda tak mampu hahaha.

Uniknya begitu masuk kerja lagi dan rajin mompa bareng teman-teman di Nursery Room, eh ASI nya malah lancar sendiri 😉.

Anak kedua? Voila, ASI lancar bangeeeeeet hehehe. Padahal gak nyiapin apa-apa. Sudah pasrah aja dan pokoknya yakin bisalah. Sudah pengalaman mungkin dan tinggal jauh dari kerabat juga. Asli lho, padahal waktu itu cuma berduaan sama suami ngurus 2 bocah, tapi ASI oke banget, berat badan anak ke-2 juga lebih bagus daripada anak sulung *garukGarukKepala*.

Anak kedua dibawa santai. Enggak pernah baca apa-apa lagi. Pokoknya jalani aja ^_^.

Lucunya, baru-baru ini teman saya curhat via inbox. Dia bingung anak pertama dulu ASI lancar dan payudara enggak masalah, anak ke-2 kok malah banyak masalah. Nah lo! Gimana tuh?  Buku mana buku, teori mana teori! Hahahaha.

pola asuh orang tua
Gambar : wisudanitawibowo.blogspot.com

Toilet training juga gitu. Anak sulung saya, sudah saya latih sejak umur 18 bulan. Suksesnya kapan? Sampai umur 5 tahun masih ngompol di kasur hahaha. Karena capek gonta ganti seprei, kalau malam tetap saya kasih diaper. Awalnya kasihan aja sih sama landlord. Tapi sekarang sudah bebas diaper.

Anak kedua canggih benar hasilnya.

Saya kapok. Jadinya saya benar-benar tunggu sampai si anak ke-2 ini bisa diajak komunikasi. Bilingual membuat dia sedikit terlambat berbicara. Saya enggak sabar. Akhirnya saya putuskan bahasa Inggris 100% untuk si bungsu. Hanya sebulan saya terapin, dia langsung lancar bahasa Inggris.

Toilet training di usia 2 tahun 5 bulan. Hanya butuh 1 bulan untuk sukses!. Tapi suami bete karena yang bungsu pengetahuan bahasa Indonesianya minim banget. Saya sih sekarang sudah mulai ngajarin dan saya rasa lebih enak ya mengajarkan dia bahasa yang lain setelah dia menguasai satu bahasa dulu. Sotoy? Biariiiiiinnnn 😛.

Mengapa memilih bahasa Inggris? Karena abangnya sudah terbawa pergaulan di sekolah. Jadi, saya pikir yang kecil ini bingung. Emaknya ber-ayo-ayo, ber-kamu-kamu abangnya ber-kemon-kemon ber-you-you hihihi.

Pola asuh orang tua
Gambar : womensforum.com

Makanya jaranglah mau share-share soal merawat anak bla bla bla, lebih senang menulis dari sisi drama kehidupan ibu ajah . Soal merawat anak, sakarepmu wae lah para ibu-ibu . Saya bukan tipe ibu yang selalu lembut pada anak hihihi. Walau suami lumayan kutu buku dan saya pun lumayan membaca ya enggak pernah sampai gimanaaa gitu ke anak.

Yang gede suka gambar ya hayoooo, yang kecil seneng main lego ya terserah saja. Bed time story? Jujur saja, hampir enggak pernah! Hahahaha. Saya waktu kecil mana kenal sama bed time story. Ada juga rebutan mau tidur di kasur mana dan sibuk masang kelambu sambil dipelototin sama nyokap biar cepat-cepat tidur 😀.

Suami saya katanya waktu kecil punya koleksi buku banyaaaaak banget. Dia dan semua saudaranya tergila-gila membaca. Eh begitu gede, ujung-ujungnya sama juga, ya hehehe. Sama-sama jadi anak Fasilkom dan sama-sama senang membaca. Toss dulu . Ibarat yang satu akar melati, satunya akar mawar, belakangan sama-sama tumbuh jadi anggrek. Nah lo! :D.

Bukan berarti saya anti teori parenting. Tetap suka kok dan kepo-in selalu. Cuma belakangan lebih senang membaca yang sifatnya pengalaman bukan dari buku atau the people called ‘pakar anak’!  Pakar para anak ya emaknya masing-masing lah 😉.

Kalau ada yang baik ya pasti saya ikuti, kalau enggak, ya biasa-biasa juga.

That’s why saat pertama kali kenal The Urban Mama tahun 2010, saya merasa situs adalah sesuatu yang ‘berbeda’. Saya tahu TUM hampir setahun setelah digagas Trio Ninit-Slesta-Tahlia di bulan Desember 2009.

Awalnya suka banget membaca forum. Forum TUM mempersatukan ibu ASi, ibu Sufor, ibu bekerja, ibu di rumah, ibu pengajar, ibu pelajar, ibu-ibu di dalam negeri, di luar negeri, macam-macam lah. Pembahasannya juga beragam.

pola asuh orang tua the urban mama
Gambar : theurbanmama.com

Makanya jadi tahu, konsep toilet training itu luas banget. Penerapan beda-beda. Tujuan pun beda-beda. Lebih penting lagi, beda tak selalu berarti salah . Drama dan kompetisi tentu kadang tak terhindari. Tapi biasanya sudah ada moderator yang siap menyemprit siapa pun yang dirasa sudah mulai menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak lain.

Yang menyenangkannya juga, di TUM tak melulu soal anak. Karena kadang saya terpikir, menjadi ibu tak mengharuskan kita melepaskan titel kita sebagai individu yang berdiri sendiri 🙂. Walau sudah punya buntut, we are still human. Tak lantas otomatis menjadi malaikat maha sempurna 😉.

Ada topik semacam Fit Mama atau geng Running Mama, Kumpul-kumpul Mama, membahas film-film atau buku-buku favorit yang ada juga yang tak ada hubungannya dengan parenting. A mom can still enjoy herself as a single person. Namun tak berarti anak ditelantarkan dong, yak 😀.

Kita menjadi belajar keseimbangan dan memahami, “Life is not about making others happy. Life is about being honest and sharing your happiness with others.” -unknown quote-

Simpel kan? Kalau tak jujur pada diri sendiri macam mana mau bahagia . Kalau tak sanggup membahagiakan diri sendiri, macam mana pula mau sok-sok bikin anak bahagia . Macam mana orang bugis tahu-tahu ngomong sok kayak orang batak hahahaha 😛.

Don’t get me wrong, ya. I’m not against any parenting books or any person called ‘pemerhati anak’. Aku tetap sayang padamu, Ibu Elly Risman, Abah Ihsan, Ayah Edi dll  *icon love, love, love* :D.

Hanya saja, saya percaya kontrol dan pilihan ada di tangan ibu-ibu masing-masing. Teori-teori tak lantas memasung kita untuk tak ber’improvisasi’ sesuai sikon masing-masing 😉.

“Trust yourself. You know more than you think you do.”
― Benjamin Spock

As I’ve said … “There is always a different story in every parenting style”.

Where Ignorance is Our Master

“Yam, tolonglah aku…” Kata si Kucing.

“Nape lu?” Jawab si Ayam ogah-ogahan.

“Jadi gini…”

Kucing pun mulai bercerita tentang masalah dalam rumah. Jadi, Pak Bolang, majikan mereka, tengah diresahkan oleh banyaknya tikus-tikus berkeliaran dalam rumah. Sudah berbagai cara dilakukan untuk mengusir para tikus.

Kucing merasa kasihan dan tidak berdaya. Dia pun meminta bantuan Ayam.

“Ooo gitu. Waduh, gue kan punya kandang sendiri. Enggak tinggal dalam rumah. Lagian gue telaten banget bersihin kandang gue. Kagak mungkin tu tikus bakal ke sini.”

Kucing pun beranjak pergi. Dia menuju kandang sapi.

Kucing menyapa, “Pi, sibuk, gak?”

“Apaan?”

“Busyet. Galak amat.”

Sapi terkekeh sebentar, “Abis lu dateng-dateng ngagetin gue. Gue lagi kilik-kilik kuping. Kaget, Cing. Ya ude, apaan?”

Kucing pun menceritakan hal yang sama. Seperti yang diutarakannya tadi kepada si Ayam. Sapi manggut-manggut dan menjawab singkat, “Kandang gue gede. Lo mau tidur di sini saja? Sok aja atuh.” –> Sapi Sunda? hihihi .

“Bukan gitu, Pi. Kasihan sama Pak Bolang. Kita bantulah cari solusi.”

“Yaela, itu bukan urusan kite lah. Tikus kan kagak bakalan gangguin kita.”

“Tapi, Pi …”

“Duh, kayak hidup kita masih kurang repot aje. Udahlah. Diemin aja. Entar tu tikus juga bakal pergi sendiri. Jaga diri sendiri aja baik-baik. Oke, Cing?”

Kucing pun masuk kembali ke dalam rumah.

Sebulan berlalu. Kini, Kucing memandang sedih ke pekarangan di luar. Kandang ayam dan kandang sapi dibongkar oleh Pak Bolang. Kucing berguman pelan, “Andai saja dulu mereka …”

Kucing tak sanggup meneruskan kalimat batinnya. Sudut matanya telah basah. –> eya ampun, drama amat! Hahaha .

Ke mana ayam dan sapi?

Seminggu setelah Kucing mendapat jawaban berupa sikap cuek Ayam dan Sapi atas masalah dalam rumah Pak Bolang, majikan mereka, anak bungsu Pak Bolang jatuh sakit. Sakit tipes dikarenakan ulah tikus-tikus nakal tak terhalau yang wara wiri dalam rumah.

“Beri makanan bergizi biar cepat sembuh. Sup ayam juga boleh.” Begitu saran Pak Dokter. Ayam pun dipotong untuk dijadikan sup.

Si bungsu sembuh, ealah…yang sulung ikutan tipes. Pak Bolang bingung, ayam sudah tidak ada. Kata Pak Dokter,”It’s oke. Sup daging sapi juga tak masalah.”

Sapi dipotong untuk dijadikan sup. Akhirnya Pak Bolang nekat pergi ke kota dan membeli lem tikus plus perangkapnya walaupun harganya sangat mahal. Tikus-tikus pun bisa dienyahkan. Setelah terlebih dahulu mengorbankan nyawa Ayam dan Sapi.

Tinggallah Kucing bersenandung sedih tiap malam, “Sunyi sepi sendiri…sejak kau tinggal pergi…” #eaaaahhh, hayooo lagu apaan itu? hihihi *ngikikJadul*.

Ini bukan cerita karangan saya. Pernah baca di mana gitu. Lupa, hehehe. Tapi inti ceritanya sama. Pasti bisa, dong, menangkap pesan moralnya .

***

Kalau di atas cerita fiksi. Yang berikut ini cerita non fiksi alias berdasarkan kisah nyata.

Anggap saja namanya Ibu Mawar. Ibu Mawar ini ibu yang baik lah, terkenal cukup disiplin menjaga anak-anaknya. Termasuk si Kupu-kupu, anak perempuannya yang masih berusia 5 tahun.

Tiba-tiba Ibu Mawar dikejutkan oleh Kupu-kupu yang tiba-tiba demam tinggi dan suka meracau dalam tidurnya. Sebelumnya, Kupu-kupu juga mendadak menjadi anak yang pendiam. Padahal biasanya cuwawa luar biasa.

Terbongkarlah semuanya ketika akhirnya Kupu-kupu buka mulut dan membuat gempar seisi kompleks. Kupu-kupu mengaku telah sering disuruh untuk (maaf) menjilati (maaf lagi) anak kelamin salah seorang anak tetangganya. Namanya Kumbang. Usia Kumbang sekitar 11 tahun.

Kupu-kupu mengaku, awalnya dia senang-senang saja karena selalu dibujuk dengan pensil warna, permen atau pita rambut. Padahal Ibu Mawar berasal dari keluarga berada yang tidak segan-segan membelikan ini itu untuk putrinya. Tapi ya, kembali lagi, namanya juga anak-anak . Dikasih permen saja bisa loncat-loncat kegirangan huhuhu.

Lama-lama Kupu-kupu sering melawan dan malah membuat Kumbang marah. Hingga akhirnya dilakukan dengan cara paksaan. Bahkan, Kumbang mengajak Belalang, anak tetangga juga, laki-laki usia 8 tahun untuk ikutan dalam permainan yang dinamakannya, “Main celup-celupan.” Astagfirullah. Bayangkan perasaan Ibu Mawar.

Kasusnya sampai ke polisi kalau enggak salah. Ya kembali lagi, namanya juga anak-anak. Kumbang mengaku mengetahui aktifitas tersebut dari youtube. Ibunya si Kumbang berkeras kalau dia selalu mengunci ponsel dan gadget lainnya dengan password. Tapi Kumbang menjawab, dia tahu semua password ibunya. Nah lo.

Belalang mengaku hanya ikut-ikutan. “Kayaknya seru. Awalnya geli, tapi lama-lama enak.” Astagfirullah. Mau marah tapi bagaimana? Usianya masih 8 tahun .

Kejadiannya di kompleks perumahan menengah. Jadi bukan di kampung-kampung kismin lho ya.

Tamparan keras untuk Ibu Mawar dan seluruh keluarga dalam kompleks tersebut. Ibu Mawar konon sempat histeris karena tidak terima. Beberapa kali menjerit, “Apa dosaku Tuhan? Kurang apa? Kurang apa pada anak-anak?”

Saya tidak punya anak perempuan. Tapi membaca tulisan seorang teman di blog itu, yang dibuat berdasarkan kisah nyata kerabat dekatnya, membuat saya menangis. Iyalah. Saya juga prihatin pada Kumbang dan Belalang. Tahu apa sih mereka?

Konon, suasana kompleks mendadak ribut. Sampai rapat dan banyak ibu-ibu yang ikut menangis. Mengingat Kumbang, Belalang dan Kupu-kupu semuanya berasal dari keluarga baik-baik. Emosi pun tak kuat dibendung. Kalau tak salah, keluarga Kumbang akhirnya memutuskan hengkang dari kompleks karena tak tahan makian para tetangga.

Salah siapa? Ada apa ini?

Jawabannya simpel. Di blog itu juga ditulis oleh teman saya. Kata Ibu Elly Risman, seorang pembicara senior dalam seminar-seminar parenting sering mendengung-dengungkan kepada kita semua, “IT TAKES A VILLAGE TO RAISE OUR CHILDREN.”

Nabil & His Friends :D (Thuwal Beach, 2011)
Nabil & His Friends 😀 (Thuwal Beach, 2011)

Sungguh tidak bijaksana jika kita seringkali khilaf dan menganggap, “Aduh, gue mah lindungi keluarga sendiri aja, deh. Keluarga kan yang paling penting. Yang penting anak-anak gue, gue didik baik-baik.”

Jangan lupa, suatu hari, kita bisa berada dalam posisi Ibu Mawar. Astagfirullah *ketokKetokMeja*, “Jangan sampe, jangan sampeeee…”

Anak-anak kita tidak akan terbatas kehidupannya oleh dinding-dinding rumah kita saja. Tidak pula hanya sebatas pekarangan rumah. Bahkan pun tidak hanya dalam kompleks. Mereka kan makhluk sosial, sama seperti kita. Butuh berinteraksi dengan orang lain di berbagai tempat.

Dalam buku “Tipping Point” bahkan jelas-jelas sebuah penelitian dilakukan untuk memantau perkembangan anak-anak dalam 2 lingkungan berbeda. Hasilnya? Anak-anak dari keluarga broken home yang dibesarkan dalam lingkungan baik-baik ternyata LEBIH SELAMAT daripada anak-anak dari keluarga baik-baik yang dibesarkan dalam lingkungan yang kurang baik.

Jadi, jauhilah sikap seperti ‘Ayam dan Sapi’ tadi, ya . Generasi penerus adalah TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA. Apa pun yang bisa mengancam ‘masa depan’ mereka bukanlah semata-mata tanggung jawab orang tuanya. Tanggung jawab kita semua 🙂.

Nabil (Thuwal, 2012)
Nabil (Thuwal, 2012)

Kita harus bekerja sama . Untuk merobohkan ‘keangkuhan dunia’ yang kadang tidak peduli lagi pada sang penerus sing penting keuntungan materi :(.

Sesuai fitrahnya, manusia itu adalah makhluk sosial.

Maka, selayaknya sebagai orang tua, mari sama-sama terus saling mendukung perbaikan dan tindakan positif untuk menyelamatkan makhluk-makhluk mungil yang mungkin sekarang masih kita gendong-gendong atau masih kita suapin. Tapi suatu saat nanti…di tangan merekalah kelak dunia akan berputar 🙂.

Saatnya ‘melawan’, ya. Saatnya pro aktif untuk menyajikan lingkungan terbaik untuk memicu keberhasilan mereka di masa depan. Bukan hanya sebatas menyiapkan rumah yang hangat dan nyaman . Kalau pun mau homeschooling, sampai kapan? Suatu hari mereka pun harus kita ‘lepas’, kan? .

Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race. -Heal The World, Michael J-

Banyak hal-hal yang bisa kita bantu untuk kontrol. Acara televisi nasional misalnya. Walau kita sebenarnya sanggup menggunakan channel berbayar yang tayangannya lebih mudah kita pilih-pilih. Sebagai salah satu wujud ikhtiar kita bagi para penerus bangsa. Siapa yang tahu besarnya harga yang harus kita  bayar kelak atas ketidakpedulian  kita saat ini.

Where ignorance is our master,
there is no possibility of real peace.
-Dalai Lama-

Is it worth it anyway? Together, it is  :).

Amar ma’ruf nahi mungkar ^_^.

Wassalam

– dari seorang Ibu rempong-kepo-penuh drama-nan sok tahu  yang percaya kalau perbaikan itu bisa dimulai dari hal-hal yang kecil  ;)-

The Kids (Madain Saleh, 2012)
The Kids (Madain Saleh, 2012)

***

 

Let It Go, Let It Go

“Let it go, let it go … couldn’t keep it in, Heaven knows I tried …
Don’t let them know, don’t let them see …”

Film “Frozen” pas sekali menjadi hits kala musim dingin tengah melanda belahan utara dunia.

Saat berjalan hampir mencapai pintu gerbang gedung apartemen di kamis pagi kemarin, pemandangan mendadak berubah. Kapas-kapas putih berjatuhan dari langit.

Bukan pertama kali saya bertemu hujan salju. Sudah pernah beberapa kali. Pas sedang tidak ingin keluar rumah pula waktu itu. Mengintip lewat kaca jendela saja. Biasanya … hujan saljunya sedikit dan tidak lama.

Tapi pagi itu, lebat, booooo … Irlandia memang tidak akrab dengan hujan salju. It’s not something common here. Sudah terlanjur mau berangkat ke sekolah. Sempat ingin balik badan untuk berteduh. Dipikir, hujan enggak lama, 5 menit beres.

Untung saya tetap berangkat, salju terus mengguyur lebat sampai 30 menit.

Di jalan, awalnya Nabil heboh, “Mommie, look at your coat, it’s all white. Look at the road! Look at Narda’s stroller.” Norak-norak bergembira lah pokoknya, pertama kali jalan-jalan di bawah guyuran salju. Tapi sumpah, dingin, gilak.

Karena tidak mengira bakal turun salju, saya dan Nabil tidak membawa sarung tangan. Setengah perjalanan, Nabil mulai menggigil, “Mommie, I can’t hold the umbrella. My hands are freezing.”

“Deket lagi kok. Payungnya jangan dilepas.”

Maksudnya dia, dia pengin masukin tangannya ke dalam saku sementara saya tak bisa membantu memegang payung. Eike kan kudu dorong stroller.

Untungnya, sampai sekolah Nabil langsung hepi lagi.

Pulang ke rumah, saking khusyuknya menikmati hujan salju (hahaha), tak sadar tangan sudah memerah. Begitu masuk, rasanya sakit banget. Tapi tetap ya boo, buru-buru nyalain laptop, online di skype, nelepon suami nun jauh di Amerika Latin sana, “Papaaaaaaa, barusan hujan salju. Lebat banget. Ih, seruuuu…”

Suami yang masih muka bantal hanya bisa bengong mendengar bininya koar-koar enggak jelas. Hahaha.

Beberapa menit setiba di rumah telapak tangan sakit banget dan merahnya agak lama baru memudar, tetap saja senyum-senyum sendiri. Dalam hati terus bergumam, “It’s really beautiful. No regret.” 

***

Mungkin, memimpikan berjalan di bawah salju seperti memimpikan gelar seorang ibu. Sebelum hamil, pikir kita, ah, pasti senang banget kalau hamil-melahirkan-merawat anak dan seterusnya. Intinya, diharap yang indah-indahnya saja.

Giliran hamil, mabok berbulan-bulan sepanjang hari. Melahirkan jangan dikira enteng. Mau normal, mau via SC, perjuangannya tetap bikin ngelap keringat. Apalagi giliran merawatnya, du-du-du-du … antara mau bersenandung atau mau jambak-jambak rambut ini hihihi. It’s not easy but still… it’s beautiful 🙂.

Musim dingin berlalu, kala musim semi bergantian musim panas, rasanya pengin melihat salju lagi. Sama dengan punya anak. Begitu sudah lewat masa-masa ‘sulit’, kembali gelendotan ke suami, “Pa, bikin lagi, yuk!” Hahaha.

Menjadi perempuan, dramanya tidak sedikit. Sudah pakemnya hehehe. Dari usia sekolah sirik-sirikan model rambut, pas abege rebutan laki-laik #eh , begitu dewasa – menikah – punya anak, ajang kompetisi berlanjut ke masalah anak.

Waktu masih bekerja sehabis melahirkan dan pas ngantor rutin mengunjungi nursery untuk memompa ASI, ada kejadian unik.

Suatu sore, saya masuk ke dalam ruangan nursery seperti biasa. Tumben, sepi. Saya pikir tidak ada orang, karena ruangannya berbentuk huruf L. Eh, tiba-tiba terdengar suara teman yang lagi menelepon. Kira-kira dia memberikan instruksi seperti ini,

“Iya, kasih saja susu yang itu. Kalau habis, kaleng barunya ada di lemari dapur. Tempat biasa.”

Saya tahu itu suara siapa. Saya sudah keburu masuk. Saat dia berbalik badan melihat saya, dia mendadak gagap.

Akhirnya saya yang duluan bersuara, “Dicampur? Enggak apa-apa. Gue dulu sebelum lancar mompa, sempat ngasih sufor, lho.”

Dia tersenyum kikuk, “I..iya, nih. Anaknya rakus. ASI pas-pasan.”

Dia menuju pintu, sebelum keluar, dia menengok sebentar dan berbisik malu-malu, “Mbak, jangan cerita ke yang lain, ya.”

“Sip, sip.”

Sebagai sesama ibu-ibu, saya paham maksudnya.

Selama ini, dia sudah masuk ‘geng ASI’. Selalu ikut gencar bercerita soal ASI dan semacamnya. Tak sulit menerka mengapa dia merasa perlu ‘menyembunyikan’ soal si sufor tadi. Maklum, beberapa memang tergolong ‘garis keras’ hehe.

Ada semacam ‘konsekuensi’ yang harus ditanggung kalau sampai ketahuan memberi sufor . Termasuk rasa tengsin karena selama ini sudah ‘berdusta’ kali.

cara memikat hati wanita

Saya sebenarnya tidak setuju dengan beberapa penggiat ASI (terutama yang ‘garis keras’ :P) yang ngotot bahwa kampanye harus gencar dan beruntun karena masih banyak ibu-ibu yang sebenarnya enggak ngasih ASI karena tidak paham. Hm, tidak juga.

Saya tahu tidak sedikit teman-teman yang memutuskan untuk tidak memberi ASI atau sudah berniat memberi ASI hanya sampai usia tertentu yang tidak optimal menurut pakar ASI. Bukan karena mereka tidak paham soal manfaat ASI dll. Heloooo, era internet begini . Mereka pun bukan kalangan tidak berpendidikan. They don’t do that simply because they don’t want to 🙂.

Sebagian tidak malu-malu mengaku, “Repot. Apalagi gue suka bepergian ke luar negeri. Lagian kalau sufor kan bisa ganti-gantian sama suami. Kadang lembur juga gue di kantor. Capek.”

Tentu, tak berarti dia tidak sayang anaknya dong, ah. Mang situ siapa sampai hendak menjudge, “IBU MACAM APAHH KAMUUU?”

Saya pernah memutuskan unsubsribe dari sebuah forum ibu-ibu karena ‘berantem’ dengan seorang aktivis ASI yang berani melabeli sufor sebagai ‘racun’. Padahal kami tahu, isi forum tak cuma ibu-ibu yang tengah berjuang ASI ekslusif. Ini mau kampanye atau nakut-nakutin orang, sih?

Judgement seperti ini yang membuat sebagian lagi merasa gentar untuk jujur. Contohnya ya kasus teman tadi yang akhirnya berakting rajin ikut memompa ASI padahal sebenarnya anaknya sudah mengkonsumi 70% sufor.

Di masa-masa ‘dunia’ memprotes ‘pola didik ala Budaya Timur’ yang dianggap menafikan kebebasan anak, Amy Chua menyeruak dengan bukunya yang menjadi best seller kala itu, “The Battle Hymn of TheTiger Mom.” Amy Chua blak-blakan menuliskan caranya mendidik para gadisnya yang diungkapkannya sebagai, “Cara Ibu Cina.”

Tentu saja, pro kontra bermunculan.

Sempat hits pula masalah homeschooling. Pro kontra calistung di usia balita yang sempat ramai di forum tertentu yang bikin saya geleng-geleng kepala. Ada yang menuduh calistung di usia balita sudah tidak zaman. Tidak ada negara maju yang menerapkan calistung pada anak sekolah usia balita. Kata siapa? Sini, sini, sekolahin anak di Irlandia. Di sini, di sekolah anak saya, dari usia 4 tahun, calistung sudah diajarkan secara ketat.

Belum lagi pertentangan yang hingga kini  masih menduduki posisi jawara dalam urusan nyinyir-nyinyiran ala emak-emak, SAHM vs WM. Repot ini urusannya karena sudah sering bawa-bawa surga dan neraka.

“To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho

Hal-hal seperti ini yang membuat sebagian ibu jadi gamang. Sibuk mencari pembenaran. Ingat, “Every Mom Has Her Own Battle” . Jangan risau. Tak guna berbohong yang tidak penting.

Gelar ibu kan tidak otomatis membuat kita sempurna. Namanya manusia. Sudah punya anak pun tidak menuntut kita menjadi dewa.

Melahirkan normal atau SC, hendak terus berkarier di luar rumah atau melepaskan kesempatan untuk berdedikasi dari rumah, mau menjadi “Tiger Mom” atau “Rabbit Mom” , ingin memberi ASI sampai profesor hihihi atau memutuskan untuk memberi sufor, berangan-angan homeschooling atau tetap stay di ‘sekolah formal’ … it’s all yours.

Namun, hendaknya disadari. Bersama setiap keputusan, ada konsekuensi yang mengikuti. Be prepared .

Bukan ini yang seharusnya kita perjuangkan, “I would do anything to make YOU happy.”

Mungkin lebih tepat bila kita, ibu-ibu, punya ikrar begini, “I would do anything to make US happy” 

Apa pun pilihannya, bertahan saja dengan keputusan yang dirasa terbaik yang sudah diambil. There were moments when you believed you were the smartest Mom in the world and then incidentally you were hit by the fact that someone else was doing much better somewhere out there. Suddenly, you felt lost. Lesson learned : Being grateful all the time is challenging 🙂.

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

” … And the fears that once controlled me
Can’t get to me at all.” -Let It Go-

Apa yang kita takutkan? Lupakan pencitraan. Anak-anak jangan dijadikan ajang kompetisi masing-masing ibunya. Ingat, mereka bukan beban. Mereka separuh hati kita . Seorang ibu tetap menjadi pribadi yang utuh terlepas dari akan menjadi apa anak-anaknya kelak.

Just be yourself, Mommies. Let it go, let it go 🙂.

Seperti apa pun ‘citra Ibu’ yang kita pilih, let’s celebrate our own choices. Selamat hari Ibu 🙂.

***

#DearSon, Fly Abandonedly into The Sun

Nabil & Narda (in their baby pose :D)
Nabil & Narda (in their baby pose :D)

***

Memiliki anak laki-laki memang berbeda dengan anak perempuan. Kata ibu mertua, anak perempuan itu sedari kecil sudah bisa dimintai tolong. Misalnya punya adik, kakak perempuan sudah punya inisiatif mengambilkan diaper pengganti saat acara ganti popok. Kalau dibiarkan bermain berdua dengan adik laki-lakinya, naluri si kakak perempuan akan otomatis menjaga adiknya.

As for me, tidak masalah :D. Laki-laki, perempuan, sama saja. Melahirkan anak pertama dan kedua, sejak dalam kandungan, saya tidak pernah berharap jenis kelamin tertentu. Di USG pada trimester ke-2, baik kehamilan pertama dan kedua, saat dokter memberitahu jenis kelamin si janin, rasa bahagianya tetap maksimal ^_^.

Ada pun bila kedua bocah laki-laki saya ini menguras energi mamanya lebih banyak, tidak masalah juga. Panjang lebar tentang ini sudah pernah saya bahas di postingan yang ini, “Because One Day Mommy, I Won’t be This Small.”

Suami saya mengaku. Dia mengharap anak perempuan agar katanya kalau kami sudah tua nanti, ada yang menjaga. Hehehe. Kok sudah diniatin dari sekarang, sih, Bang? :P.

Tapi, alasan suami masuk akal juga. Saya langsung berkaca tidak sebatas kepada ‘rumit’nya hubungan saya dan ibu mertua saya, tapi terhadap hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuannya. Menyadari saya punya 2 anak laki-laki, seketika langsung terpikir, “Sooner or later, my time will come .”

Mama dan anak-anak

***

#DearSon, hamil kalian berdua sama-sama tidak mudah buat mama. Kecele dengan istilah ‘morning sickness’. Because in fact, rasa mual menyerang tidak hanya di pagi hari, tapi di sepanjang hari! Kompak sekali kalian :D. Membuat mama kewalahan dari minggu ke-5 hingga minggu ke-17. Belasan minggu yang penuh ‘warna’lah pokoknya.

Belum lagi ‘persaingan terselubung’ penuh ‘drama’ dengan sesama mama-bunda-ibu lainnya yang tanpa sadar terus berlangsung. Mulai dari masa menyusui (ASI vs sufor), masa MPASI (buatan atau alami), memilih diaper (disposable atau clodi ramah lingkungan yang harganya tidak ramah itu huhuhu :P), jadi SAHM atau WM, etc, etc, etc. Siapa bilang menjadi mama itu murni urusan pribadi, Nak? :P. Therefore, help your wife to get thru this someday, ya ;).

Lalu, ketika kalian masuk sekolah, profesi mama otomatis bertambah. Dari yang tadinya sebagai perawat dan koki, mama harus memainkan peran baru sebagai seorang guru. Aduh, mata pelajaran kalian lumayan berbeda dengan masa kecil mama dulu. Susah, euy. Bahkan kurikulum negeri bule sekarang pun bikin mama lagi-lagi kecele. Kata siapa kurikulum bule enggak seribet di tanah air? :D.

Lalu, kalian akan abege dan remaja, makin sibuklah mama jadi satpam. Hingga akhirnya, kalian akan dewasa kemudian … jatuh cinta kepada perempuan lain.

three

Lalu, kalian akan menikahi pujaan hati kalian dan mengayuh biduk kecil kalian, perlahan menjauhi kami, mama dan papa. Disitulah mungkin mama akan mempertaruhkan rasa keikhlasan mama. Karena mama juga manusia biasa dong, ah.

Masa iya, setelah susah payah merangkai kalian hingga suatu hari menjadi sehebat yang kalian bisa, mama bisa santai-santai saja ketika tiba saatnya harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi jika ternyata, perempuan itu berbeda dengan yang mama harapkan.

Di titik inilah, mama akhirnya sadar, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Mama seharusnya harus pandai-pandai mempersiapkan diri. Dimulai dengan, menjalin hubungan baik dengan oma kalian, mamanya papa :D. Mungkin semua kekhawatiran mama masih dalam angan-angan, sementara oma sudah harus berhadapan langsung dengan kenyataan itu .. sekarang.

***

#DearSon, mama juga ingin mempersiapkan yang lain. Dari sekarang, mama mati-matian menjaga kesehatan. Sejak awal tahun ini mama serius menjalani pola hidup sehat ala food combining. Tidak semata-mata karena mama ingin sekeren Angeline Jolie (hihihihi), tapi lebih ke alasan kesehatan. Mama ingin tetap bugar di masa tua nanti agar kalian tak perlu mengkhawatirkan mama :).

Foto TUM3

Maafkan mama juga ya, kalau suka kebablasan di depan laptop :P. Walau mama melepaskan karier di kantor tapi tidak ingin mengabaikan kebahagiaan mama sepenuhnya. Mama serius menjalani hobi menulis mama agar di masa tua nanti mama punya kesibukan. Untuk mencegah mama menghabiskan  hampir sepanjang waktu melirik layar ponsel berharap kalian menelepon mama. Dan kalau kalian tidak menelepon, mama takut mama akan berprasangka buruk pada istri kalian.

#DearSon, mama percaya, tak ada kebahagiaan yang bisa mama bagikan untuk kalian bila mama sendiri kesulitan berdamai dengan kebahagiaan mama sendiri. Tapi tenang, sekarang ini, kalian adalah prioritas mama. Tanya sama papa, deh ;). Sebesar apa pun cinta mama untuk kalian, mama minta sedikit pengertian bahwa mama ini tidak sempurna-sempurna amat. Sekali-sekali stres kalau mau ikut lomba blog atau menulis naskah pesanan. Hahaha.

_MG_2571

Biar kelak kalian bisa membanggakan mama di hadapan istri kalian, di depan cucu-cucu mama, “Eh, Nenek itu penulis ternama, lho. Keren ya Nenek. Udahlah langsing dan sehat, jago menulis pula.” Aduh, mama narsis sekali, ya hihihi.

#DearSon, walau sedari sekarang mama berusaha keras memupuk rasa ikhlas dan mempersiapkan diri jika saatnya kalian berlayar di dunia kalian masing-masing, sadarilah. Mungkin di saat itu, sekali-sekali mama akan cemburu atau iri. Sekali lagi, mama manusia biasa :).

But I’ll do my best ;). Untuk membiarkan kalian menjadi yang kalian mau, memilih jodoh yang kalian inginkan, mengikhlaskan apa pun jalan yang kalian pilih, semata-mata karena cinta. Yang konon katanya, “Cinta itu berarti sanggup melihat orang yang kita cintai bahagia walau kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”

Tapi mama yakiiiiiin sekali. Cinta kita, antara mama dan kalian, selamanya akan memiliki tempat khusus di hati kita masing-masing. Tempat yang tidak akan terganggu walau kita tak akan bersama dalam satu atap lagi. Suatu hari nanti.

negeri paman syam

#DearSon, pada akhirnya mama mengambil kesimpulan bahwa membesarkan kalian seperti merawat seekor kupu-kupu. Pas banget dengan lirik lagu Tante Mariah Carey yang satu ini,  “Butterfly” :).

Butuh energi lebih untuk membesarkan kalian dari seekor ulat hingga bersayap sempurna. Untuk akhirnya … terbang dan pergi melanglang buana. Itulah yang memang seharusnya kalian lakukan. Pergilah sejauh yang kalian bisa :). Mama sendiri sangat bahagia bisa mendapat kesempatan tinggal di berbagai tempat. My son, pengalaman adalah harta tak ternilai yang harus kalian perjuangkan hingga sejauh mana sayap kalian mampu menerbangkan kalian :).

Fly my son(s), fly away my butterflies, fly abandonedly into the sun :). Adapun mama akan tetap menjadi mama. Selamanya mencintai kalian, sebesar yang mama bisa :).

Now I understand to hold you

I must open up my hands

and watch you …

Spread your wings and prepare to fly

For you have become a butterfly

Fly abandonedly into the sun

(Butterfly, Mariah Carey)

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=xO0DoCqjdYM]

Proyek #DearSon ini digagas oleh para MakMin dari Kumpulan Emak-emak blogger, tempat kami para emak-emak yang jari-jarinya bawel ini bernaung hehehehe. Sistemnya semacam tongkat estafet.

Saya sendiri ditunjuk sebagai pemegang tongkat pertama langsung dari MakMinnya, Mak Indah. Setelah saya, tongkatnya saya lempar ke Mak yang satu ini nih yang bercerita tentang Mas I’am nya di sini :). Monggo dicek langsung ke TKP :D.

***

Every Woman’s Best Man

Di agama Islam ada sebuah hadis yang menceritakan ketika seseorang datang kepada Rasulullah untuk menanyakan, kepada siapakah dirinya harus berbakti. Rasulullah menjawab, “Ibumu … kemudian ibumu. Kemudian ibumu, lalu ayahmu…”

Tiga kali berturut-turut nama kata ibu disebut-sebut barulah kata ayah dimunculkan. Apa ini berarti seorang ayah tidak lebih penting daripada ibu? Belum tentu.

***

Cerita pewayangan memperkenalkan kita pada tokoh Begawan Bagaspati. Nama aslinya, Bambang Anggana Putra. Seorang ksatria tampan yang dikutuk menjadi raksasa oleh seorang dewa di khayangan. Saking saktinya, Anggana Putra pernah berhasil menaklukkan seorang raksasa hebat (Candrabirawa).

Candrabirawa akhirnya bersemayam dalam diri Anggana Putra yang membuat Anggana tidak akan bisa mati kecuali atas keinginannya sendiri. Ajian sakti mandraguna, Candrabirawa sendiri, boleh diwariskan oleh sang pemiliknya nanti.

Anggana Putra sebenarnya pria yang tak cuma sakti namun juga santun. Konon, kesalahpahaman akibat hobi becandanya yang membuat sang dewa murka. Aih, kudu ati-ati ini kalau begini *langsungNgaca* .

Padahal, undangan ke khayangan bagi Anggana Putra adalah memintanya memilih salah satu bidadari di sana untuk diperistri. Anggana Putra langsung meminta maaf ketika berkelakar, mengatakan akan memilih istri dari sang dewa (becandanya nekat bener *ngelapKeringat*).

Walaupun pundung, Sanghyang Manikmaya tetap memenuhi janjinya untuk mengizinkan Anggana Putra mencomot salah satu satu bidadari di khayangan. Dipilihlah Dewi Dharmastuti. Masih menahan amarah, sang dewa memberi ultimatum, “Setelah sang hapsari melahirkan anakmu, dia akan meninggalkanmu kembali ke khayangan.”

Tak hanya harus menanggung kutukan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang raksasa, Anggana Putra juga harus menduda ketika akhirnya Dharmastuti melahirkan seorang anak perempuan.

Anggana Putra mengikhlaskan takdirnya. Memilih hidup tenang sebagai raksasa bijaksana, seorang diri membesarkan Pujawati, buah hatinya bersama sang hapsari, dengan segenap cinta. Saking luar biasanya asuhan sang ayah, Pujawati tak pernah merasa merana karena ditinggal ibunya. Her life was just … perfect .

Nama Anggana Putra pun berganti … Resi Bagaspati. (Resi = Begawan)

Pujawati mewarisi kecantikan seorang bidadari, turunan dari ibunya. Singkat cerita, terjadi pertemuan antara Pujawati dengan seorang pria tampan. Naksir-naksiran terus jadian. Bahkan, akhirnya menikah. Pria yang menikahi Pujawati bukan pria sembarangan. Melainkan seorang calon prabu yang waktu itu masih bernama Narasoma.

Konon, Narasoma kaget dan tidak siap ketika mengetahui calon bapak mertua ternyata seorang raksasa. Sementara Narasoma adalah pewaris tahta sebuah kerajaan. Malu dong la yaowww punya bapak mertua seorang raksasa.

Bagai buah simalakama, cintanya pada Pujawati sudah kadung mendalam. Sekian lama menyimpan kegelisahan, Narasoma pun curhat ke Pujawati. Agar tak menyakiti pujaan hati, Narasoma mengatakan kegalauannya dalam bentuk teka teki.

Pujawati yang bingung, balik curhat ke sang ayah. Bagaspati, bukan resi biasa. Kebijaksanaannya yang tinggi membuatnya langsung mengerti maksud sang calon menantu.

Sembari curhat soal Narasoma, Pujawati pun mengungkapkan besarnya rasa cintanya pada Narasoma, “Aku takut ayah, dia akan pergi meninggalkanku. Bantu aku. He means everything to me.”

Permintaan Pujawati tidak main-main. Bagaspati awalnya berusaha menasihati putrinya perihal perangai Narasoma yang menurutnya tak menunjukkan seorang laki-laki yang patut. Pujawati malah bete.

Namun, peribahasa yang mengatakan, “Kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang jalan” menuai kebenarannya dalam kasus ini. Bagaspati menyadari, kebahagiaan putrinya adalah tujuan hidupnya.

Bagaspati tak perlu waktu lama untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya. Dipanggilnya Narasoma. Narasoma sebenarnya keki juga karena Bagaspati mengetahui maksud hatinya dengan mudah.

Sebelum meninggal, Bagaspati sudah memanggil Candrabirawa keluar dari raganya. Tadinya, Candrabirawa enggan untuk berpindah tangan kepada anak muda yang dianggapnya sebagai sosok yang sombong dan mementingkan diri sendiri. Selama ini, Candrabirawa sudah nyaman bersemayam dalam tubuh sang resi nan bijaksana.

Bagaspati meyakinkan Candrabirawa, “Bagaimana pun, dia pria pilihan putriku.”

Candrabirawa akhirnya bersedia diwariskan kepada Narasoma. Sebelum merelakan nyawanya di tangan keris Narasoma, Bagaspati memintanya bersumpah, “Menantuku, walau putriku hanya anak gunung, tolong jangan kau sakiti dirinya nanti jika kelak kau menjadi raja. Berjanjilah untuk menjaga cintanya seumur hidupmu.”

Karena memang naksir berat, Narasoma langsung iya-iya saja. Apalagi dia pun bernafsu memiliki ajian Candrabirawa. Usailah hidup sang resi di tangan calon menantunya. Narasoma sukses mempersunting Pujawati dan mendapatkan ajian sakit mandraguna.

Kelak, Narasoma memang menjadi orang penting dalam kisah Mahabharata. Gelarnya adalah Prabu Salya. Prabu Salya sendiri akhirnya takluk di tangan Yudistira. Candrabirawa memang bisa dikalahkan oleh ksatria berdarah putih yang tidak memiliki nafsu duniawi.

***

Versi ‘modern’ dari kisah Bagaspati mungkin bisa kita lihat di film Armageddon. To be honest, walaupun pencinta drama, ane kagak demen ama ni film dan tidak pernah tuntas menonton. Tapi sinopsisnya kira-kira mirip kan, ya? CMIIW .

Seorang ibu tentu punya tempat istimewa di sudut hati terkhusus dalam benak masing-masing anaknya. Namun, tak berarti cinta Ayah terkesampingkan . Tiap anak adalah buah hati dari 2 orang sekaligus, ayah dan ibunya.

Salah satu keinginan terbesar seorang perempuan di hari pernikahannya, selain hadirnya calon mempelai laki-laki, adalah berada di samping ayahanda tercinta. Bersyukurlah bagi yang diberi kesempatan untuk menghadapi hari bahagia itu dengan kehadiran kedua pria terbaik tersebut.

Sementara, sebagian perempuan hanya sebatas memimpikannya saja.

Gambar : searchquotes.com
Gambar : searchquotes.com

Bakti kepada ibu tidak melupakan kita pada kasih ayah, kan? . As for most women, a father is always be their best man.

Menuju sepertiga ramadan terakhir, selain bersungguh-sungguh memanfaatkan momentum suci untuk meraup amal semaksimal mungkin, jangan lupa mendoakan selalu kedua orang tua, ya. Baik ibu maupun ayah. Whether they’re still here with us or not .

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”

Artinya :”Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”

***