Pansel KPK versi terbaru baru saja terpilih. 9 orang. Perempuan semua. Kurang kontroversi apa, sih, Pakde-ku yang satu ini? Hahahaha.
Yang menarik sebuah komentar iseng-iseng, “Wah, perempuan kan makhluk yang lemah katanya. Berarti benar, KPK sedang dilemahkan.” Hahaha. Ngakak kuadrat :p.
Tapi memang benar, kontroversi sudah ada namun sayup-sayup. Semacam komentar, “Mau jadi apa negeri ini? Menyalahi aturan Tuhan. Benar-benar sudah mau kiamat.” Hanya karena pansel KPK 9 orang cewek semua, dunia sudah mau kiamat? –> *sodorinKarpetBuatPiknik* :p.
Kalau tebakan iseng saya mengapa beberapa pihak yang biasanya panas dingin kalau urusan beginian tapi soal teranyar ini urung bersuara itu karena…sosok Ibu Risma hehehe :p.
Tempo hari ramai mempertentangkan kepemimpinan beliau hanya untuk melemahkan sosok Ahok misalnya :p. Kan ribet ya, Cyin, kemarin-kemarin memuja Ibu Risma bak Dewi Kuan Im, sekarang kalau protes soal Pansel nanti bisa jadi senjata makan tuan, deh. Hihihihi :p.
Konon ada juga yang menuduh, “Itulah kelemahan perempuan. Terlalu main perasaan!” Wah, wah, wah, mentang-mentang sebuah jargon lama, “9 perasaan dan 1 pikiran pada perempuan” kok tahu-tahu bisa dianggap lemah?
Sudahlah ini sudah dibahas panjang lebar di sini, baca lagi, dong-dong-dong #eaaaaa –> “In Her Shoes”
Nanti kalian baca di situ justru ‘dominasi perasaan’ itulah yang menjadi kekuatan utama perempuan yang jungkir balik sekali pun tidak akan mungkin bisa dikuasai para laki-laki. Maksudnya? Ya klik dong linknya :p.
Salah satu pencapaian penting sebagai perempuan itu adalah Gelar “Ibu”. Salah satu lho, yaaaaa :D. Tidak berarti kalau belum jadi Ibu berarti anda perempuan yang tidak penting. Bukan itu maksudnya ;). Percaya deh, motherhood itu sudah satu paket sama keperempuanan kita, whether you’re a Mom or not ;).
Motherhood. Such a long way to go :). Di setiap prosesnya, seolah perasaan kita ikut terbanting-banting kiri kanan atas bawah serong sana serong sini hihihihi :p.
Mungkin waktu baru hamil, apalagi hamil pertama, bisa melewati masa hamil muda saja sudah kayak menang perang gitu ya, Booooo, hahaha.
Padahal masih ada fase melahirkan. Habis melahirkan, apalagi kalau prosesnya ribet dan normal pula, beuh, sudah merasa juara lah pokoknya :p. Tambah lagi ngasih ASI sampai segala puting berdarah dan bernanah tapi pantang menyerah hingga akhirnya bisa pamer foto “Anakku sarjana ASI” makin-makin deh … I’m the best mom ever! :p.
Sudahlah. Banyak dari kita memang HARUS melalui fase-fase narsis seperti itu. Ada yang setelah anak ke-2 dan seterusnya langsung tersadar dan menertawakan diri sendiri. Ada yang enggak move on, sampai anak ke-berapa juga, terus aja berkompetisi tanpa kenal lelah hahahaha. Judge sana sini, merepet sana sini dan sebagainya.
Tapi, jangan lantas kita sesama ibu-ibu ikut-ikutan merendahkan fakta bahwa peer pressure itu benar adanya. Merasa paling keren karena katanya tidak suka ikut-ikutan gini-ginian, sudah merasa ini basi, tapi komen juga paling kenceng ya, Ceu! Hahaha.
Gambar : ctworkingmoms.com
Santai sajaaaaaa ^_^. Faktanya memang begitu. Dunia ibu-ibu gitu, lho. Mari merayakan perbedaan dengan cara apa pun. Lagian perang-perang dunia maya mah, nanti kalau ada lomba blog paling temenan lagi dan tuker-tukeran info lagi. Ya gak, ya gak, ya gak? Kedipin dulu satu-satu ;).
Tapi yah akhir-akhir ini saya sendiri kembali digalaukan dengan motherhood-adventure ini.
Anak pertama saya tahu-tahu sudah besar.
Sekarang bapaknya lagi assignment ke luar pun, dia sudah tidak ‘sudi’ lagi tidur bareng saya :(. Padahal anaknya agak penakut lho hihihi –> like mother like son hahahaha. Dia maunya tidur berdua adiknya saja. Adiknya mah dari dulu tidur sendiri juga enggak pernah takut. Anak bugisku ini memang cetarrrrrrr <3 :p.
Karena bapaknya tidak ada, saya yang antar tiap pagi ke sekolah. Tidak mau lagi tangannya digandeng, “I’m a big boy.”
Apalagi dicium hahahahaha. Pokoknya kalau sudah dekat-dekat sekolahan, dia benar-benar menjaga supaya dia terlihat “mandiri”. Pagi-pagi kan waktunya memang mepet.
Di lampu merah terakhir, kalau lampu menyeberang jalan sudah hijau, saya biarkan dia lari menerobos jalan sendiri dan menghilang di balik gerbang sekolah. Biar hemat waktu juga buat saya. Dan dia senang banget dengan ide ini. Mungkin kesannya kayak anak gede gitu, ya. Sudah boleh menyeberang jalan sendiri.
Saya panggil-panggil juga biar dia nengok gitu, dadah-dadah basa basi gitu. Dia enggak nengok dan cuma mengibaskan tangan seolah pengin bilang, “It’s ok, I’m fine. Just go.”
Drama hamil-menyusui-melahirkan-nyuapin dia yang susah bener makannya dan badannya mungil pula yang bikin saya harus bolak balik ngelus dada menerima judgement macam-macam dari orang-orang… seolah tak ada artinya lagi dibanding mendapati kenyataan di depan mata bahwa tidak selamanya saya bisa menimang dia di samping saya.
Itu juga belum kejadian. Baru kelas 1 SD pun! Hahahahahha. Masih panjang perjalanan yang harus dilewati sebelum dia benar-benar melambaikan tangan untuk bilang, “Okey Mom, I need to catch my flight. See you next year!”
Oh, no. Tentu pengin ya anak-anak terbang sejauh yang mereka bisa tapi ya, faktanya pedih juga, Euy. Ini baru menepis tangannya tak hendak digandeng saya sudah terpukul begini hahahaha. Gimana kalau nanti dia udah ke rumah bawa-bawa bini dan cucu-cucu. Belum lagi kalau-kalau-kalau… like I’ve said, masih panjang betul perjalanan yang harus dilewati.
Itu baru anak pertama. Lanjut terus sampai ke adik-adiknya.
Tapi, anak pertama memang spesial. Saya ingat waktu kakak pertama saya meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain. Keterima Sipenmaru di PTN Surabaya. Bertepatan perginya dengan Ibu saya berangkat haji. Pulang-pulang naik haji, kakak sudah berangkat ke Surabaya.
Ibu saya terisak-isak melihat sepasang sepatu si Kakak yang mungkin sengaja memang tidak terbawa. Masih nangkring di kotak sepatu. Padahal adik-adiknya masih ada 5 biji (yang bungsu belum lahir waktu itu), tetap saja, pengalaman pertama ditinggal satu anak tuh, rasanya drama banget kali, ya, huhuhu.
Jadi intinya, yang sekarang-sekarang ini kita alami saat mereka masih dalam kandungan misalnya atau masih balita, aduh…masih ecek-ecek lah hihihihi. Ecek-ecek tapi lumayan menguras emosi kan, kan, kan? Hahaha *jabatTangan*.
Still, long way to go ini mah yaaa … rangkul satu-satu dari jauh <3.
Don’t lose your way with each passing day
You’ve come so far don’t throw it away
Live believing dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story Faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart
-Diana Ross, “If We Hold On Together”-
Jalan masih panjang begini, save our energy. Wonders are still waiting to start, aren’t they? ;).
Yup, tahun 2011 silam Amy Chua menerbitkan buku fenomenal “Battle Hymn of The Tiger Mother”. Banyak kalangan pendidik barat yang habis-habisan mengkritik ‘curhat’ Chua dalam buku tersebut. Di situ, Chua bercerita mengenai caranya, yang disebutnya sebagai “cara Ibu China”, membesarkan kedua orang putrinya.
Cari reviewnya di internet, ya.Banyak ituh :D. Di berbagai forum emak-emak, buku ini juga dibahas habis-habisan.
Amy Chua & anak-anaknya (gambar : thetimes.co.uk)
Terbitlah kembali dua kutub yang sebenarnya bukan barang baru, sih –> cara barat vs cara timur. Melambangkan “timur” sepertinya akan lebih berat kepada tipikal cara hidup sebagian besar orang-orang di Asia.
Jujur sih, ya, after living in Ireland for 2 4 years, saya kurang sepakat dengan gencarnya kenyinyiran beberapa kalangan “mengkritik” tajam sistem pendidikan di tanah air.
Tapi marilah saya ceritakan sedikit hal-hal menarik yang mudah-mudahan bisa kita tangkap benang merahnya bersama. CMIIW ya :).
Dengar-dengar ada seorang teman (asal Asia) yang akhirnya memilih meninggalkan sebuah kota kecil di salah satu negara Eropa karena lumayan syok saat anaknya bilang, “When I grow up later, I’m gonna work for McD!”
Ini maksudnya mau jadi waitress atau penjaga menu di kasir gitu, lho. Gelisah lah si ortunya. Apalagi katanya diulang-ulang terus sama si anak. Hihihihi.
Tapi, cita-cita si anak tadi itu hal yang sangat lumrah di Eropa sini :D. Padahal kita, kaum menengah di tanah air, apa enggak stres bin galau kalau anak begitu khusyuknya ingin menjadi pelayan McD. Ngaku saja! Hahaha.
Living in (most part of) European countries, tentu berbeda dengan bermukim di negara-negara berkembang padat penduduk macam India-Cina-Indonesia dan teman-temannya :).
Dalam hidup bermasyarakat di suatu komunitas tertentu, satu sistem memengaruhi sistem yang lain. Termasuk sistem pendidikan orang Eropa yang katanya bagaikan surga dunia *tsaaaah*. Apa benar?
Dimulai dengan hal-hal kasat mata. Pendapatan perkapita Irlandia, terakhir ngecek, mencapai 46 ribu USD per tahun. Itu rata-rata per kepala. Indonesia? Kayaknya sampai sekarang pun belum nyampe 4 ribu USD per tahun hehe :D.
Tapiiiiii … jumlah penduduk Irlandia enggak nyampe 5 juta jiwa :D. Indonesia punya lebih dari 250 juta jiwa. Jadi, secara GDP, Indonesia ya jauh di atas Irlandia. Peta kekuatan ekonomi Indonesia sangat patut diperhitungkan di mata dunia. Jangan inferior-inferior banget lah ;).
Kalau melihat pendapatan perkapita di Indonesia, sekilas kok kayaknya miskin-miskin benar, ya. Salah! Salah banget.
Siapa bilang tidak ada orang-orang kaya di Indonesia? Yang terjadi adalah, kesenjangan sosial ekonomi yang sangat curam. Orang kaya sih ada, tapi yang hidup pas-pasan dan nyaris jatuh ke bawah garis kemiskinan jumlahnya, unfortunately, lebih banyak :'(.
Dari pendapatan per kapita tadi, rata-rata tiap orang di Indonesia bisa dibilang punya penghasilan 3 juta rupiah per bulan. Nyatanya? Petinggi-petinggi sales dan marketing di perusahaan multi nasional di ibukota gajinya bisa mencapai ratusan juta, tuh ;). Ketinggian ya? Oke, pekerja IT deh. Mungkin enggak ratusan juta, tapi puluhan juta per bulan juga bisa banget ;).
Kontras dengan itu, banyak lapangan pekerjaan yang gajinya megap-megap :'(. Tukang angkat-angkat barang misalnya. Pekerja-pekerja supermarket juga paling penghasilannya di bawah 2 juta per bulan. Bagus kalau permanen, itu juga mayoritas karyawan kontrak. Ada lho lulusan S1 yang rela digaji harian saking sulitnya persaingan mendapatkan pekerjaan.
What do you expect? Jumlah penduduk sedahsyat ini mau hidup santai-santai macam orang bule! Realistis sajalah ;).
Di Irlandia, pendapatan perkapita segitu apakah berarti diantara 5 orang pekerja dari berbagai level ada 1 orang yang gajinya 150 ribu USD dan 4 orang lainnya berpenghasilan 20 ribu USD saja per tahun? Tet tooot! Salah lagi! :D.
Ilustrasinya begini, misalnya di gedung apartemen yang saya tinggali sekarang. Saya punya tetangga seorang ibu-ibu asal Polandia mungkin, ya. Saya sering mendengar dia ngoceh bahasa aneh-aneh ke anak-anaknya hihihihi. Di sini pendatang Polandia juga banyak bener hehehehe. Anak-anak kami sekolah di sekolah yang sama. Saban pagi sering banget papasan pas sama-sama nganterin anak-anak.
Tiap hari dia si emak-emak tadi berseragam biru tua. Saya pikir kerja di supermarket mana gitu, ya. Eh, belakangan sering ketemu dia lagi ngepel-ngepel lantai dalam mal :D. Besoknya ketemu lagi dia lagi bersih-bersihin toilet di mal yang sama. Oh, petugas kebersihan di mal. Belakangan, dia malah lebih sering nyetir mobil nganterin anak-anaknya.
My apartment 😀 (gambar : daft.ie)
Apa-apaan iniiiihhh, yang istri engineer saja bisanya cuma jalan kaki ke mana-mana? :v :v ;v. Apa kabar belajar nyetirnya, Mbak? –> suami sudah nyerah kayaknya hahahahaha.
Tak lama sering melihat dia jalan bareng seorang laki-laki yang belakangan ternyata satpam di mal yang sama. Kayaknya suami istri, ya. Berprasangka baik saja ;). Sering melihat mereka berdua naik lift bareng di gedung apartemen.
Saya tinggal di gedung apartemen level lumayan. Agak jauh dari City Center tapi harganya lebih mahal daripada apartemen-apartemen di jantung kota. Sebelah-sebelahan dengan sebuah hotel ‘level lumayan juga’ di kota ini. Dari luar, gedung apartemen saya persis modelnya dengan bangunan hotel di sampingnya :D.
Nah, seorang engineer + istrinya yang pengangguran (hihihihi :p) bisa saja tinggal di gedung yang sama dengan sepasang suami istri yang berprofesi sebagai satpam + office girl sebuah mal :D.
Btw, di sini juga apartemennya memang bagus-bagus sih, ya. Enggak yang jomplang banget macam di Jeddah dulu hahahahahaha. Di Jeddah, harga sewa apartemen range nya luas banget. Mulai dari yang super duper murah sampai yang level compound ;).
Jadi, pemerataan ekonomi di negara-negara maju Eropa sudah sangat lumayan :).
Contoh lain : Di Athlone, penjaga apartemen kami namanya Philip. Orangnya gempal dan sudah berumur. Sekali seminggu dia libur. Ngapain? Main golf, Kakaaaaaa :D. Busyet, olahraganya level pejabat gitu hahahahhaha.
Pernah dia menghilang agak lama, katanya cuti. Jalan-jalan ke mainland. Mungkin ke Perancis dan ke Swiss. Penampilannya memang necis, sih. Sambil vakum lantai dan ngelap kaca dia sering mengobrol dengan penghuni gedung apartemen yang juga sudah berumur. Kalau dia lagi enggak pegang kain lap, pasti enggak ketebak yang mana yang penjaga apartemen yang mana yang penghuni apartemen :D.
Tak usahlah saya jelaskan nasib “penjaga apartemen” di Jeddah atau nasib satpam di Indonesia. Sakitnya tuh di … mana-mana! :'(.
Itu adalah sedikit dari pahitnya fakta yang harus kita terima sebagai bagian dari negara berkembang. Singkat kata, di negara-negara maju Eropa, mau jadi kasir supermarket pun, insya Allah sangat mungkin untuk hidup layak dan bersanding dengan profesi-profesi lainnya :).
Kasarnya begini, di negara-negara macam Indonesia atau Arab Saudi, susahlah mau hidup nyaman kalau enggak ada duit :p.
Fasilitas kesehatan yang mumpuni dan menyeluruh di Eropa tidak harus membuat kita jungkir balik mencari perusahaan keren yang mampu menyediakan asuransi buat kita dan anak-anak kita.
Tinggal di kota kecil semacam Athlone sini yang jumlah penduduknya hanya 20 ribu, tidak susah nyari sekolah. Malah boleh pindah-pindah sesuka hati. Gratis pula hihihihihi. Kualitas ya kurang lebih sama lah. Enggak ada ya, gedung sekolah yang beratap rumbia atau banjir kalau hujan atau bikin kita menggigil kalau winter :p. Di kota selevel dusun sini pun, gedung sekolahnya keren punya ;).
Primary School in Athlone (gambar : www.rte.ie)
Jadi, buat orang-orang sini tuh, kalau anak-anak mereka santai macam di pantai, ya memangnya kenapa? Toh, ada child benefit dari anak-anak lahir sampai mereka berusia 18 tahun. Universitas negeri memberikan subsidi bagi warga negara Irlandia. Bayar kuliah bisa murah kalau mau kuliah. Enggak mesti bersaing memperebutkan beasiswa dan mesti punya otak seencer kancil atau prestasi setinggi elang. Beasiswanya buat siapa saja asal mau kuliah :D.
Ogah kuliah, mau nyantai kerja di swalayan. Go for it. Penghasilannya enggak kecil-kecil amat. Dengan jumlah penduduk minim, lapangan pekerjaan cukup memadai. Enggak perlulah sampai bersaing melawan ratusan bahkan ribuan applicant melewati rangkaian psikotes, bahasa Inggris, group discussion, wawancara, yang kadang proses seleksinya saja bisa memakan waktu setahun! Hahaha.
Anak-anak kita yang tumbuh dan besar di tanah air memang perlu punya sense of competition yang memadai. Kalian boleh memuja-muja sistem pendidikan Eropa yang katanya tidak ada ujian sampai kelas 6 SD. Well, di Irlandia sih sejak kelas 2 tiap minggu ada ujian tuh ;). And I’m very thankful for that! ^_^.
Ada yang katanya enggak ngasih peer. Wah, saya memandang peer sebagai bentuk pertanggungjawaban buat si anak :). Anak-anak kan naturalnya gitu. Penginnya maiiiiinnnn saja. Bisa sih kita provide macam sekolah-sekolah di Skandinavia. Maiiiinnnn saja sepanjang hari. Tapi ingat dong ah, di sana rasio guru vs murid berapaaaaaa. 5 orang anak konon dipegang 1 guru. Mungkin gak pakai rasio yang sama di Indonesia-India-Cina dan teman-temannya. Mungkin gaaaaaaaaaa…
Di masa depan mereka, anak-anak kita di tanah air memang harus melewati fase-fase seperti itu. Kecuali kalian, the Asian Parents, tidak merasa keberatan dan merasa fine-fine saja jika suatu hari anak kalian berkata, “Ah, aku mah maunya jadi kasir Indomaret saja nanti. Enak, bisa kerja sambil baca komik.”
Are you ready? ^_^
Tenaga guru di Irlandia relatif banyak. Jumlah murid pun juga tidak membludak. Di sekolah anak saya, belajar membaca intensif itu sudah dimulai sejak usia 4 tahun di level Junior Infant. Tapi gurunya banyaaaaaakkkk. Guru membaca pun khusus. Anak-anak benar-benar dibimbing satu persatu tanpa perlu dibanding-bandingkan hasilnya dengan anak-anak lain.
Is it possible to do that in Indonesia? Gaji guru berapaaaaaaaaa???? Jumlah murid berapa? Dana subsidi berapa? Pengalihan subsidi barang-barang energi saja bikin kalian berteriak-teriak hendak menerkam Pak Presiden hahahahahaha.
TDL naik, ngamuk! BBM dicabut subsidi, nyinyir! Memangnya situ kira di Eropa listrik murah apa? Hahahahahha. Winter pun kudu tabah biar heater enggak perlu nyala terus-terusan :p. Dinginnya winter seberapa sih? Sini yok, sini yok, tapi jangan datang sebagai turis kalau mau merasakan “the real winter life” :D. Percayalah, salju itu hanya indah dalam layar televisi saja :v :v :v.
Di sekolah anak saya, sejak kelas 1 SD, biar belajar efektif, tiap mata pelajaran anak-anak dibagi menjadi beberapa sub kelas. Ini digabung untuk seluruh kelas di level yang sama. Misalnya dalam pelajaran matematika ada 3 level : advanced, intermediate, basic. Uniknya, semua anak Asia (India, Pakistan, Bangladesh, China, Malaysia, Indonesia) itu rata-rata ada di kelas advanced hihihihi. Iyalah, mama-mama Asia gitu lho. Roaarrrrrrr :v :v :v.
Tapi dalam sehari-hari, pembagian kelasnya random. Itu hanya berlaku di pelajaran-pelajaran yang memang butuh skill khusus dan biasanya bervariasi sesuai kemampuan anak, misalnya : matematika dan bahasa.
Konon, Irlandia ini dijuluki sebagai Negeri Zamrud. Indonesia juga kan, ya. Zamrud Khatulistiwa ^_^.
Bentang alam Irlandia mayoritasnya adalah padang rumput. Rumput memang punya daya tahan yang bagus dalam berbagai musim. Irlandia juga tidak mengenal musim dingin level kronis macam-macam negara-negara di wilayah utara sana. Musim dinginnya paling banter -2 derajat saja.
Curah hujan cukup sering di Irlandia tapi kalau hujan tidak seganas di Indonesia hehehe. Sementara di Indonesia, ada wilayah yang kaya dengan hutan hujan tropis nan lebat macam Kalimantan dan Sumatera. Di Sulawesi pun, banyak hutan yang pohon-pohonnya tinggi menjulang. Ingatnya, hutan Pinus di Malino.
Sama-sama negeri Zamrud, tapi semesta menciptakan bentang alam yang berbeda. Tergantung musim dan cuaca yang menerpa masing-masing wilayah.
Dan begitu pulalah seharusnya kita memandang isu-isu kemasyarakatan antar negara dan wilayah :). Masyarakat kita ditempa dengan ‘musim’ dan curah hujannya masing-masing. Apa yang mereka lewati mungkin beda dengan apa yang harus kita hadapi.
Jangan sedih jika ternyata kita merasa kok cobaan kita lebih berat. Percayalah, alam yang keras, jalan kehidupan yang terjal, akan membentuk pribadi-pribadi yang lebih istimewa. Insya Allah :).
Jangan dikit-dikit Eropa, dikit-dikit Eropa lah.
Curah hujan yang lebih kejam, kelembaban yang tinggi, buktinya mampu mencetak batang-batang beringin yang lebar dan kokoh. Tidak hanya akan menghasilkan rumput cimik-cimik yang hanya mampu tumbuh sekian-sekian centi saja :D.
Memang, prinsip pendidikan jangan sampai memaksakan terlampau ‘kejam’ dan hanya akan mencetak robot-robot haus prestasi tanpa semangat berbakti :). But again, secara mental, kita, orang tua Asia, memang harus LEBIH berjiwa petarung. Kondisi kita berbeda.
Jawab tantangan itu. Mari menjadi bagian dari solusi bukan terus-terusan jadi orang yang HANYA paling pinter ngasih lihat masalahnya di mana ;).
Anak-anak harus kita persiapkan untuk menghadapi persaingan yang lebih ketat dan berat. Siapa bilang kita harus mengorbankan prinsip-prinsip hidup utama saat menuntun mereka menyongsong masa depan? Tidak juga kan? Tapi ya, jangan juga lebay ah, pengin mengadopsi rumput-rumput kecil yang dibesarkan dalam dekapan alam yang lebih nyaman?
Heyyyy, bukankah kita memang ditakdirkan untuk membesarkan pohon-pohon beringin? Yang batangnya lebar nan kokoh, dtiopang oleh akar yang kuat, daun-daunnya rimbun dengan cabang-cabang pohon yang tumbuh sampai ke mana-mana. Yang sanggup bertahan dalam terpaan hujan badai dan kemarau panjang.
Untuk membesarkan pohon raksasa selevel beringin, bukankah memang selalu ada harga yang harus kita bayar? 😉
“Kalo tida’ pi skola, nanti jadi tedong.” (Kalau tidak pergi ke sekolah, nanti jadi kerbau).
“Biarma’ jadi tedong …” (Biar saja menjadi seperti kerbau).
Hahahahha. Kalau ingat yang ini masih ngakak-ngakak sampai sekarang. One of the most memorial conversation back then. Waktu Mama saya membujuk salah satu kakak saya agar mau ke sekolah. Itu katanya si calon tedong kecil itu ngomongnya sambil sesengukan lho. Saking enggak maunya disuruh ke sekolah. Hahahhaha.
“Patteriang la’de’. Terri-terri okko salo’e” (Cengeng sekali. Menangis keras-keras saat di sungai).
This one isn’t less hilarious hihihihi. Kakak saya yang ini memang gampang menangis kata Mama. Suatu kali dibawa naik perahu menyeberang sungai. Lupa saya Mama mau ke mana. Hadeuh, sepanjang jalan menangis berteriak-teriak. Ribetnya bawa anak umur 2 tahun menyeberang sungai yang mengamuk pengin turun dari perahu *LOL*.
Kalau dibawa ke acara-acara juga begitu. Manja sekali. Maunya digendong terus. Kalau enggak digendong ya dia mewek hihihi.
Gambar : patheos.com
Terus kakak satu lagi, juaranya! Pernah kedapatan bolos sekolah 2 minggu penuh! Sekali ini, Mama benar-benar murka. Saking marahnya, mama sampai menangis.
Kakak ini akhirnya memilih berhenti sekolah. Tobat kali Bapak dan Mama. Dipindahin sekolah ke sana sini, enggak ada perubahan :p. Pas Bapak meninggal, dia yang ditugaskan menjaga kios. Duh, lagak lagunya. Hanya mau ke pasar kalau sudah makan nasi kuning komplit, susu coklat, atau apalah yang dia mau.
Tidak ada pilihan lain. Siapa lagi yang mau diandalkan ke pasar? Dituruti terus apa maunya. Saya mah ogah ya disuruh-suruh meladeni dia hahaha. Adik saya yang sering ketiban tugas beli-beli makanan yang si Tuan Besar ini mau :p.
Nah, adik perempuan saya, yang paling hobi mappasiterru-terru hihihi. Ini maksudnya, pulang sekolah, dia enggak pulang ke rumah dulu. Entah dia ke rumah temannya, entah dia langsung jalan-jalan sama gengnya. Pokoknya, beda sekali dengan saya yang anak rumahan banget dari kecil hehehe.
Mama kan suka panik. Sudah pulang dari kios, dia belum juga pulang dari sekolah -_-. Eh tahu-tahu diantar pulang temannya naik mobil. Adik saya selalu nge-geng sama teman-teman cewek yang ekonominya jauh di atas kami. Pinter cari temen emang si Buntel nih :p.
Adik saya juga susah benar disuruh belajar kalau mau ujian :p. Maunya mejeng aje sama teman-temannya :D.
Apakah anak rumahan seperti saya berarti enggak punya masalah?
Ini kata Mama waktu suami saya nanya-nanya, “Si Jihan kecilnya gimana, sih, Ma?”
“Takut kita, Nak, mau bawa-bawa dia pergi. Kalau mengamuk, tidak lihat tempat. Tidak takut sama siapa-siapa. Kalau sudah kumat, sepatunya dilempar, bajunya ditarik-tarik, teriak-teriak sambil mukul-mukul.”
Suami saya melirik saya seolah mau bilang, “Kalau hobi ngamuknya sih kayaknya masih lanjut sampai sekarang.” Hahahahaha.
Iya lho, bahkan sampai sudah agak gedean. Saya suka tahu-tahu mengamuk kalau baru bangun tidur. Moody-an banget. Kalau sudah kumat (seperti istilah Mama hihihi), isi lemari baju dikeluarin semua, dilemparin sesuka hati. Enggak ada yang berani menenangkan hahaha *tutupMuka*.
Waktu kecil saya sama sekali tidak mau makan sayur. Pernah sakit sembelit sampai parah banget :p. The real picky eater. Sering pingsan kalau lagi upacara di sekolah. Sampai Mama pernah bete sama guru di sekolah. Karena guru-nya sotoy juga, sih. Masa langsung melontarkan tuduhan bahwa saya kurang dirawat sama Mama jadi pas mau ke sekolah lupa dikasih sarapan hehehe.
Cerewet iya, cengeng iya, gampang mengamuk iya, badan kurus kering iya. Panggilan kecil saya itu “Jihan Tulang.” Duh, kok pas sudah gede begini, susah bener ya mau kurus lagi hahhhahahaha.
Yang suka bolos, putus sekolah, dan ngeselinnya minta ampun tempo dulu, now is a father of 2 children. Kakak saya yang ini yang dulu egoisnya minta ampun, sekarang yang paling ringan tangan dalam urusan apa-apa ^_^. Such an amazing father too, for his little girl and my cutie little nephew :).
Kalau yang suka mengamuk dan makannya dulu benar-benar bermasalah, langganan juara kelas waktu sekolah ;), kuliah sampai ke UI, bekerja kantoran hingga akhirnya sekarang … menjadi pengangguran! Hahahhahahaha :p. Anti klimaks bener *pukPukDiriSendiri*.
Dulu musuhan sama sayur? Sekarang jadi praktisi FC yang lumayan taat :D.
Waktu anak sulung saya kecil, makannya juga susah minta ampun. Kadang bisa sampai menangis saya biar dia mau makan. Hahahahaha. Drama, drama, drama :p.
Sempat bikin saya kecil hati, karena dulu di Jeddah ya, ada yang kasak kusuk kalau saya tidak pintar mengurus anak makanya anak saya kurus begitu. Duh, sakit hatinya. Kalau ingat, dia dulu minum susu saja, sampai telaten saya cekokin sesendok demi sesendok. Tiga kali sehari! Dulu belum paham FC sih ya :p.
Saya sampai ditegur Mama saya. Karena kadang saking sebalnya, anak saya yang saya marahin :(. Terus saya ingat saya juga dulu makannya susah, Mama bilang ke saya, “Didoakan je’, Nak. Aja tisi mu maceri kesi’.” (Didoakan, Nak. Jangan selalu dimarahi).
Iya, Mama sering bilang begitu. Dalam mengurus anak, menjadi Ibu, tidak selalu semuanya bisa kita kontrol. Makanya, selalu disertai dengan doa, doa, doa. Anak-anak kan tidak akan selalu tumbuh tanpa masalah sama sekali. Waktu kecil rasanya sudah setengah mati orang tua berusaha menjaga dan merawat, ada saja error yang kejadian hehehe.
Dulu, sebelum teknologi internet berkembang pesat, kurang informasi bikin kita sulit mengembangkan banyak keinginan. Cenderung “kuper”. Tak semudah seperti sekarang.
Menjadi Ibu di era digital dan saat globalisasi mengantarkan begitu banyak informasi bisa beda lagi tantangannya. Saya tidak bilang, menjadi Ibu sekarang lebih sulit daripada ibu-ibu kita dulu. Saya sudah sering mengatakan, tiap masa tiap zaman punya pertaruhannya masing-masing ;).
Sekarang, kelihatannya banyak saja yang jahat-jahat dan aneh-aneh, ya iyalah, dulu belum ada Facebook dkk dan cuma ada TVRI! Hihihihi. Dulu, masalah anak seperti di SD Padang tempo hari belum tentu bisa go viral sampai ke Sulawesi. Mau disebarin lewat apa? Koran juga masih terbatas. Memang sudah ada detik.com? :p.
Sungguh semua terasa jadi sulit. Banyak kekhawatiran. Sering galau memikirkan akan seperti apa anak-anak kita nanti tumbuh besar di luar sana. Dunia seperti apa yang akan mereka hadapi? Sad yet true … we’ll never know :(.
Masa depan mereka… di luar jangkauan kita. Kita hanya sanggup mempersiapkan sebaik yang kita bisa, memilihkan yang sekarang bisa kita tentukan, hingga akhirnya mereka akan tumbuh besar dan mengejar dunianya sendiri.
Untuk semua hal-hal di depan sana yang sungguh jauh di luar kuasa, selalu sertakan perlindungan Tuhan di dalamnya. Seperti kita melengkapi segala ikhtiar dan jerih payah dengan … doa seorang Ibu . Let’s always say a little prayer for them. As ‘scared’ as we are, always turn our worries over to God :)..
Siapa tahu, sebagian “keajaiban” dalam perjalanan hidup anak-anak hingga dewasa adalah perlindungan dari doa Ibu yang selalu menyertai :). Bahkan sampai saat kita sudah dewasa dan menikah dan sudah pergi menjauh. Saya yakin, Mama selalu tetap mendoakan kami bertujuh plus para menantu dan segambreng cucu-cucunya :). Let’s do the same.
“Hanya padaMu, Tuhan
Tempatku berteduh
Dari semua kepalsuan dunia”
Don’t worry be a Mommy, Tuhan selalu menyertai doa-doa terbaik kita. Be brave, stay strong … selamat hari Ibu :).
Hari minggu, siang bolong. Matahari lagi terik-teriknya. Saya dan sekumpulan puluahn teman-teman malah dipanggang di bawah sinar matahari Karebosi.
Setelah selesai mempelajari not-not lagu, bermain di kelompok sendiri, lalu berkolaborasi dengan pemegang alat tiup lain. Lalu, alat tiup dan kelompok perkusi/percussion digabung.
Kalau kakak-kakak pelatih sudah enggak manyun lagi, berarti sudah lumayan oke, hahahaha. Barulah tim ColourGuard/penari akan ikut serta dalam alunan lagu.
Selesai? Beluuuuummmm :D.
Puncaknya digiring ke lapangan dan berlatih konfigurasi. Jadi, sebagai pemain marching band, skill-nya tidak hanya berhenti di kemampuan bermain alat musik atau menari bagi para ColourGuard. Tapi harus menghafalkan konfigurasi juga. Harus jalan ke mana berapa langkah di not yang mana. Pening? Jangan. Because for sure, it’s super fun! ^_^.
Contoh konfigurasi (gambar : huffingtonpost.com)
Waktu kecil paling ogah disuruh ikut pramuka. Seru katanya. Belajar mengenal alam. Aish, saya malas euy kalau disuruh berkemah segala macam hehehe. Enggak ada nikmat-nikmatnya kalau untuk saya.
Aslinya saya bukan traveler kok :p.
Saya traveling karena saya suka menulis. Sementara mungkin, banyaknya itu orang menulis karena suka traveling.
Waktu SD, saya ingiiiiiiin sekali ikut ekstrakurikuler. Karate ya sudahlah ya, udah takut duluan denger orang teriak-teriak, “Ciyaat, ciyaaat, ciyaaat”.
Padahal ngefans sama film-film silat Cina yang pernah melegenda di tahun 80-an :D. Nonton mah doyan, kalau disuruh ciyat-ciyat sendiri, entar duluuuuuu hahaha.
Gambar : dreamstime.com
Begitu ada pengumuman di sekolah bahwa SD saya akan membuka ekstrakurikuler drum band, langsung semangat mendaftar. Cheerleader saya nomor satu adalah … Mama! Ah, senangnya ^_^.
Mama memang agak-agak anti mainstream :D. Waktu lagi aktif-aktifnya drum band, banyak teman bersitegang dengan orang tua karena kegiatan ini dianggap mengganggu aktifitas belajar, saya tetap mendapat dukungan penuh dari Mama ;).
Tahu kata Mama saya? “Biarinlah, nilai sekolah terganggu dikit paling. Main drum band itu kan juga belajar.” My mom rocks!! Laaafffff
Umur 10 tahun, kelas 5 SD, resmi menjadi anggota tim inti Drum Band cilik pertama di sekolahan saya, Drum Band Athirah ^_^. Gratis lho. Gak pakai bayar-bayaran. Ini juga kali yang bikin emak eike semangat! Hahahaha.
Saya masuk tim alat tiup. Nama alat yang saya mainkan, flugelhorn. Sialnya, menjelang penampilan perdana kami, sang drum band cilik legendaris di Kota Daeng? lebay! (hahaha), saya kena cacar air!
Flugelhorn
Sudah pasrah batal tampil.
Ternyata, 2 hari sebelum manggung, saya sembuh. Karena saya sudah menguasai semua lagu, pas konfigurasi tinggal dibantu oleh 2 teman sesama peniup flugelhorn yang lain.
Lagu-lagu yang kami mainkan di penampilan perdana itu kalau gak salah, “Semut-semut Kecil”, “Abang Tukang Bakso” dan “Oleh-oleh Bandung”.
Duh, sepertinya ada 4, deh. Lupa satunya. Diary SD gak kebawa ke sini, jadi gak ada contekan :p.
Namanya anggota drum band, harus belajar lagu-lagu mars. Mars PDBI itu yang paling wajib. Disusul Mars Gagah Perwira, Mars Harapan Bangsa dan favorit saya… Mars Colonel Bogey! dst dst dst ^_^.
Umumnya, melodi lagu/suara 1 dimainkan oleh terompet/trumpet. Barisan alat tiup memang didominasi oleh pemain terompet.
Suara 2 biasanya oleh tim flugelhorn, suara 3 oleh cornet horn, dan suara 4 oleh tim “Albert”. Albert adalah istilah khusus untuk alat-alat tiup berat (albert = alat berat :p) seperti : baritone horn, trombone horn, tuba horn yang segede gaban :D.
Jangan salah, makin gede ukurannya, justru makin gampang lho meniupnya. Terompet kelihatan langsing, tapi meniupnya paling susah ;).
Baritone horn, sekali coba, biasanya langsung pada bisa, padahal gede lho.
Berat alat juga tidak tergantung volumenya. Terompet itu lumayan berat juga.
Jadi, pas lagu dimainkan, nanti suaranya sahut-sahutan. Itu yang bikin seru ^_^. Saat chorus/reffrain lagu, tim fluegelhorn juga sering banget kebagian memainkan suara 1 di banyak lagu ;).
Kalau tidak salah di lagu Mars PDBI, reffrain-nya adalah jatah pasukan Albert :D.
Proses latihan menghafal lagu, dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil sesuai alat yang dimainkan. Nanti pelatihnya satu-satu. Setelah itu alat tiup digabung sama-sama untuk harmonisasi.
Tim Perkusi/alat pukul gabungnya belakangan. Mereka latihan sendiri juga terlebih dahulu. Perkusi terdiri dari snare drum, trio drum solo, quarto drum solo, bass drum, cymbal dan apalagi, ya.
Oiya di kelompok perkusi juga ada juga tim belira, xylophone dll. Belira ini juga macam-macam. Ada yang dipegang di tangan, ada yang dicantolin di bahu. Kalau xylophone berdiri sendiri. Pemainnya tinggal berdiri dan memainkan sticknya di atas xylophone.
Pemain xylophone ya pastinya enggak ikut konfigurasi, cuma berdiri paling depan. Gak mungkin lah mau geret-geret alat seberat itu. Tapi berat lho sebenarnya memainkan xylophone ini. Kedua tangan harus super lincah.
Dari kegiatan drum band, saya pernah traveling sampai ke luar kota. Pertama, saat ikut lomba DB sekolah dasar di Jakarta tahun 1991. Pas liburan kenaikan sekolah. Beramai-ramai dengan teman-teman, naik kapal laut dari pelaburan Makassar :D.
Usai lomba, pulangnya kami tur keliling Jawa pakai bis. Mampir di Tangkuban Perahu, menginap di Malioboro Yogyakarta, jalan-jalan ke Candi Borobobudur hingga akhirnya transit di Surabaya menunggu kapal yang akan membawa kami pulang ke Kota Makassar :).
Bayangkan rempongnya kakak-kakak pelatih mengurus anak-anak SD yang jumlahnya sekitar 80 an orang itu hahahahaha. Belum dramanya, belum baku bombe’-bombe’nya, belum gosip-gosipnya hahahahaha. Tim pagosip mana tim pagosip? :p
Gambar : pixabay
Sebelum ke Jakarta, kami sudah terlebih dahulu mengikuti Training Center di wilayah Malino. Malino ini sudah masuk wilayah kabupaten Goa. Cukup jauh dari Makassar.
Kami menginap di suatu rumah yang cukup besar dan latihan intensif selama 10 hari di sana. Tanpa orang tua sama sekali. Orang dewasanya hanya ada kakak pelatih, tim konsumsi dan tim kesehatan saja.
Ruwetnya kalau diingat-ingat lagi hihihi. Gimana biar bisa bangun subuh-subuh, latihan sampai malam sambil ngantuk-ngantuk menahan dingin. Malino ini terkenal bersuhu sejuk cenderung dingin.
Timnya terdiri dari anak-anak kelas 3 sampai kelas 5 SD. Bayangkan ribetnya kalau malam-malam ada adik-adik kelas 3 yang mau pipis tapi takut hahahaha. Heboooohhhh.
10 hari yang tak terlupakan :).
Lulus SD, saya masuk sekolah negeri. Kelas 2 SMP, grup kakak pelatih pindah ke Pertamina. Sebagian kami diajak masuk tim sana. Saya ikut pastinya hihihihi. Banci drum band emang!
Di Pertamina, namanya Gema Patra Makassar Marching Band/ GPM. Pelatih lama tapi teman-temannya banyak yang baru.
Di Pertamina, kakak saya yang ke-4 juga ikut. Awalnya menjadi pemain baritone horn, lama-lama dia malah nyasar jadi pelatih ColourGuard. Selain tertarik pada dunia fashion, dari kecil, kakak yang ini juga suka menari :).
The Colour Guards 🙂 (gambar : athletesarewarriors.com)
Saya sih sampai pensiun dari dunia marching band, tetap setia pada flugelhorn :D.
Via GPM, sempat 2 x ikut ke luar kota. Ke Surabaya tahun 1993 dan manggung di Istana Negara Jakarta, Parade Senja Februari 1994.
Pertamina sih enaaaakk, duitnya kenceng. Uang saku terbilang lumayan waktu itu. Semua biaya akomodasi pastinya ditanggung 100%. Tinggal bawa badan sajah ;).
Di Surabaya, kami menginap di asrama haji. Di Jakarta menginap di Cibubur. Duh, macam-macam deh kejadian serunya. Sampai ada yang kemasukan segala. Hiiiiyyyy… *merinding*.
Tampil-tampil di acara lokal juga sering. Beberapa kali izin dari sekolah demi manggung bersama tim Marching Band hehehe.
Akhir-akhir ini ada tuduhan bahwa orang tua sering mengeksploitasi anak untuk aktif ini itu. Katanya, zaman dulu enggak gitu.
Ah, kata siapa? ;).
Saat menghadapi pertandingan, kami digojlok latihan tiap hari. Pulang sekolah kadang hanya sempat makan, kerjain peer, langsung cabut lagi ke tempat latihan.
Sabtu-minggu ya itu tadi, dipanggang di bawah sinar matahari Lapangan Karebosi.
Stres? Enggaklah. Soalnya kan enjoy. Memang keinginan saya pribadi untuk aktif di Marching Band. Kegiatan ini justru memacu untuk tetap memperoleh nilai bagus di sekolah ^_^.
Absen 2 minggu ke Surabaya di semester 3 pas SMP tidak membuat nilai saya mendadak anjlok di sekolah ;).
Alasan nilai saya menurun di semester 4 dan harus puas jadi rengking 2 dan merelakan gelar juara kelas kayaknya bukan semata-mata karena marching band aja, deh. Buktinya dari SD lancar-lancar saja :D. Ada faktor lain, malu ceritainnya hahaha.
Via kegiatan drum band/marching band, tidak hanya sekadar belajar musik. Pergaulan juga diasah. Menghadapi banyak teman, banyak sifat. Karena interaksi tidak hanya di tempat latihan.
Kalau lagi training center, harus umpel-umpelan dalam kamar selama berhari-hari tanpa kehadiran orang tua.
Apalagi kami beberapa kali harus ke luar kota. Lebih seru lagi, tuh hihihi. Belajar mandiri pastinya ^_^. Belajar mengelola emosi saat konflik. Karena namanya banyak manusia, pasti adaaaaa aja dramanya :p.
Sedari kecil, belajar hidup kan memang tidak hanya di rumah dan di sekolah saja. Saya rasa yang dulu aktif di Pramuka juga banyak kesan-kesannya, ya. Aktif di OSIS atau di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dari SD sampai SMA, sedikit banyak memberi sumbangsih yang tidak sedikit :).’
Dari kecil memang sebaiknya sudah diajari disiplin. Saya sendiri kurang sepaham dengan metode pendidikan yang terlalu ‘santai’ hehehehe. Sesiap-nya anak, kalau gak salah, apa ya.
Duh, anak kecil ya tahunya memang senang-senang hihihi. Justru karena itu mereka butuh pengarahan hehehe. Butuh kegiatan, butuh diayomi, butuh diajari, butuh ditunjukkan. Yang penting…jangan dipaksa! ^_^.
Gambar : www.os-trnsko-zg.skole.hr
Teman saya cerita takut mengajari anaknya membaca dan menulis sebelum umur 5 tahun karena katanya anak bisa gila! Hahahhaahha. Ya kalau anaknya senang, anaknya tertarik, why not? Perkenalkan saja dulu ;). Respons selanjutnya ya terserah anaknya saja.
Ada yang mungkin lebih menikmati kesendirian dan terlihat enggak gaul ;). Tak berarti dia minder dan bodoh. Ada yang memang dari kecil gatal mau ini itu, hahahahaha. Memang enjoy tanpa perlu dipaksa-paksa. Tak berarti dia hiperaktif dan pasti hebat. Belum cencuuuuuu :p.
Ingat, kita tidak dilahirkan seragam ^_^.
Homeschooling is a good thing. Tapi pertimbangkan juga kalau anak-anaknya ternyata tipe yang memiliki kecerdasan interpersonal yang menonjol. Senang bergaul dan menikmati keberadaannya diantara banyak orang.
I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they posses inside
(The Greatest Love of All, Whitney Houston)
Provide the options, optimize our support, but always … let them choose ^_^.
Ish, dah macam ortu yang paling keren aja kauuuuu? Hehehehe. Sharing pengalaman aja sih, ya. Untuk info penyeimbang :p.
(Ini tulisan saya yang pernah dimuat di Tabloid Mom & Kiddie, edisi lama. Awal mei kemarin. Enggak ada kata terlambat untuk pamer ya, Kakaaaa hahhahhaha 😛.Ada sekitar 4 emak-emak Indonesia perantau lain yang juga diminta menceritakan pengalamannya tentang kurikulum sekolah di negara tinggal masing-masing. Sebagian dari mereka adalah kontributor di blog Mama Sejagat .
Di foto ini, yang atas tuh, ada Mama Bangalore-New Delhi, Mama Relda 😀. Saya kebagian sekolah anak di Irlandia.Dammit, ketauan deh umurnya hahaha.Ini naskah aslinya sih tentang sekolah anak di Irlandia. Enggak tahu hasil editannya kayak apa hihihi… Makanya rada ‘resmi’ dan enggak ada *benerinPoni* dkk pastinya :D)
Hari itu saya menghadiri salah satu seminar parenting yang cukup rutin dilaksanakan di sekolah anak saya. Seminar kecil sih biasanya. Peserta mungkin hanya 4-10 orang. Mungkin karena kesibukan di rumah, tak banyak ibu-ibu yang menghadiri seminar semacam ini di sekolah. Padahal gratis, lho. Maklum, di sini tak umum menggunakan jasa asisten rumah tangga 🙂.
Seminar berakhir sekitar pukul 11.30 siang. Pas dengan saat istirahat anak sekolah. Begitu keluar menuju pekarangan sekolah, ramainya anak-anak bermain di luar. Tak hanya ada anak-anak, ada sekitar 3-5 orang guru perempuan yang berjaga di sana. Semuanya bersiaga memperhatikan anak-anak yang berlarian di seluruh penjuru pekarangan sekolah yang memang luas banget itu.
Ada yang berdiri agak dekat ke pagar, untuk mencegah kalau ada yang keluar masuk mungkin, ya. Ada yang berdiri di tengah-tengah lapangan sambil sesekali memperingatkan kalau ada yang terlibat perselisihan. Lalu, terlihat seorang guru berambut panjang yang sepertinya sedang menemani beberapa murid yang masih nampak malu-malu ikut berbaur dengan yang lain. Mungkin anak baru.
Terkesan banget dengan pemandangan ini. Pengawasan penuh ternyata tidak hanya dalam kelas saja, saat di luar kelas pun, selama berada dalam jam sekolah, guru-guru tetap aktif memperhatikan murid-murid.
Anak saya bersekolah di St. Mary Primary School. Sebuah sekolah publik yang dibiayai oleh pemerintah di sebuah kota kecil, Athlone. Kota ini terletak sekitar 2 jam dari ibukota Republik Irlandia, Dublin. Sekolah tidak memungut bayaran sama sekali. Orang tua hanya diminta membeli beberapa buku dan iuran sekitar 20 euro per tahun. Seragam diwajibkan tapi tidak harus membeli model yang sama. Asal warnanya mirip tidak masalah mau membeli di mana.
Sekarang ini, putra sulung baru saja menyelesaikan selesai dari Senior Infant, selevel TK nol besar atau TK B kalau di Indonesia.
Kurikulum anak-anak setingkat TK di Irlandia enggak santai-santai banget ternyata. Ada pelajaran menulis, berhitung dan membaca juga sejak level junior infant (TK Nol kecil).
Tapi, metode pengajarannya sangat menyenangkan dan sama sekali tidak ada paksaan . Jadi, kemampuan membaca, berhitung dan menulis si kecil tidak pernah dijadikan patokan untuk naik kelas atau tidak. Murni untuk melatih keterampian saja.
Gurunya ada beberapa. Ada satu wali kelas yang menjaga penuh siswa selama di dalam kelas yang biasanya berlangsung dari pukul 09.20 pagi hingga 14.00 siang. Dinding kelas dipenuhi rak-rak berisi macam-macam mainan. Semuanya sudah disediakan oleh sekolah.
Ada guru khusus yang mengajar membaca, lho. Jadi, tiap hari sesuai jadwal anak-anak akan dipanggil satu persatu untuk mengecek perkembangan kemampuan membacanya. Ada semacam peer membaca tiap malam. Ringan, kok. Hanya satu halaman per hari. Isinya biasanya cuma 2-3 kalimat saja. Saat sang anak belajar membaca, anak-anak lain tetap bermain dalam kelas.
Saya senang karena anak saya jadi cepat bisa membaca-menulis-berhitung tanpa saya mesti repot-repot ini itu dan dia kelihatan riang dan tidak dipaksa-paksa .
Soal bullying selalu menjadi perhatian khusus di sekolah. Mungkin karena itulah, kamar kecil untuk anak-anak level junior dan senior infant hingga grade 1 diperhatikan betul. Kamar kecilnya terletak dalam kelas. Disediakan sebuah ruangan khusus di pojok ruangan.
Jorok tidak, ya? Saya beberapa kali pernah masuk dan memeriksa langsung. Bersih, lho. Saya tanyakan ke gurunya. Ternyata tiap hari memang ada petugas khusus yang membersihkan kelas beserta kamar kecil tadi.
St Mary Primary School terdiri atas 2 gedung dengan lokasi berseberangan. Pembagian kelasnya cukup unik. Anak-anak level junior infant, senior infant, grade 1 (kelas 1 SD) dan grade 6 (kelas 6 SD) ditaruh dalam lokasi yang sama. Sementara sisanya berada di gedung di seberang jalan. Menurut kepala sekolah, ini untuk mencegah senioritas berlebihan dari anak-anak kelas paling tinggi.
Justru anak-anak kelas 6 dilatih untuk menjaga adik-adiknya. Saya sering banget melihat sendiri, anak-anak kelas 6 ini diberi tugas mendampingi anak-anak level junior/senior infant dalam beberapa kegiatan. Seperti misalnya menemani mereka saat orang tua terlambat menjemput. Tentu saja, selalu ada guru yang mengawasi .
Anak saya juga cerita, kalau pelajaran olah raga, kadang ditemani oleh anak-anak kelas 6 ini. Katanya, “Big boys and big girls stay with us and teach me something while teachers are pretty busy with others.”
Kegiatan belajarnya tidak hanya dalam kelas atau olah raga. Ada kegiatan rutin tiap minggu yang namanya nature-walk activities. Kata anak saya, biasanya mereka dibawa berkeliling pekarangan sambil diajarin nama-nama pohon dan tumbuhan yang tumbuh subur di salah satu sudut pekarangan sekolah . Atau kadang dibawa naik bis ke taman dekat sekolah.
Hasil rapor anak saya sangat memuaskan. Keterampilan kognitif seperti membaca dan menulis bisa sejalan dengan keterampilan non-kognitifnya seperti communication skill dan kemampuan bersosialisasi.
Anak saya cerita, tiap minggu, posisi duduk diubah-ubah. Di kelas ada beberapa meja dengan berbagai warna : Red table, blue table, yellow table dan green table. Dia kadang berceloteh, “This week I’m in blue table with Tyrish, Kelly, Joseph and Tanvi.” Terus minggu depannya dia bilang lagi, “Mommy, I’m in red table now. You know, red is my favorite color. But I sit next to Hamzah. Last week, Hamzah was on green table.”
Tiap minggu juga ada pemilihan line-leader, student of the week, cushion-owner, yang biasanya digilir ke semua murid. Semua pasti mendapat giliran.
Oh ya, bagi anak-anak yang berkelahi, hukumannya berat. “They will stay at the big office for hours,” begitu kata anak saya. “Even if you forget to say thank you or sorry, teacher will be sad.”
Menurut pendapat saya, sekolah benar-benar berusaha memaksimalkan potensi si kecil dengan menyediakan berbagai macam ruang dan kegiatan untuk berekspresi. Sekaligus melatih sungguh-sungguh agar anak-anak memiliki tingkah laku yang baik. Dan semuanya tetap dalam pengawasan penuh untuk menjamin keamanan dan kenyamanan anak selama di sekolah. Semoga anak saya pun bisa mendapat manfaat optimal dari metode pendidikan yang tidak berat sebelah ini .
***
Btw, anak saya akan segera memasuki jenjang SD (grade 1) per tahun ajaran ini . Terima kasih buat Mrs. Gallagher yang sudah setahun penuh membimbing si Abil di kelas Senior Infant 🙂.
A teacher affects eternity: she can never know where her influence stops.
-Henry Brooks Adams
Thank you, Ibu Guru ^_^ …so very much 😉.
***
Note : intinya sih, pendidikan sekolah anak di Irlandia ini sangat menjunjung tinggi keutamaan tingkah laku :). Tapi tetap balance dengan ranah kognitif seperti membaca-menulis-berhitung, walau tidak dijadikan patokan utama penilaian ;). Yang paling penting sih … gratis ya Kakaaaa. Hahahahahahhaha 😛