Hers is Where Mine Begins

Usai melahirkan adik perempuan saya, anaknya yang ke-7, Ibu saya datang ke dokter kandungannya, “Saya mau pasang KB, Dok.”

Sang dokter, yang sedari kehamilan ke-3 sudah mendesak Ibu agar memasang KB, agak syok. Tapi konon sang dokter akhirnya hanya senyum-senyum menggoda Ibu saya, “Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ya, Bu.”

Usia beliau saat itu baru 30 tahun. Sebenarnya di masa-masa Ibu lahir dan besar, pernikahan usia dini sudah bukan hal yang lumrah. Walaupun belasan tahun masa kecilnya dihabiskan di Rappang, kampung kelahirannya nun jauh di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Ibu punya saudara kembar. Saudara kembarnya ini menikah di usia yang tidak terlalu muda. Saat tante hamil anak pertama, Ibu pun sedang hamil saya, anaknya yang ke-6. Semua teman sepermainan kecilnya menikah di usia nyaris 30 tahun. My mom rocks! Ahahahahahaha.

Di usia 15, setelah menikah dengan almarhum Bapak, mereka berdua langsung hengkang ke ibukota propinsi, yang dahulu masih bernama kota Ujung Pandang. Memulai segalanya dari 0. Hidup menumpang pada kerabat lain sambil membantu usaha kerabat tersebut.

***

Ibu sering sekali bercerita kalau sebenarnya dia ingin melanjutkan pendidikan hingga lulus SMU. Berharap kami semua bisa meneruskan cita-citanya itu. Tapi istimewanya, Ibu tak menyimpan ‘ambisi’ masa lalu ini terlampau dalam.

Santai saja beliau dalam mendidik kami. Tak pernah mewajibkan kami ini itu. Tidak ngotot kami harus les ini les itu.Yang terjadi malah kebalikannya. Salah satu anak Ibu sangat ambisius dalam urusan sekolah, apalagi urusan nilai rapor.

Anak perempuan sulungnya menangis dan berdiam diri berhari-hari setelah di semester ke-4 di bangku SMP harus puas dengan peringkat ke-2 di kelas, setelah 3 semester berturut-turut menjadi juara kelas. Malah semester 1 juga menjadi peringkat 1 umum sekolah! Ahahahahahaha. Can’t believe that it was…ME! .

Maafkan anakmu yang norak ini ya, Mama hehehehe. Tidak pernah lho Ibu memaksa kami untuk berprestasi secara akademis setinggi mungkin. Catat, ya. Tidak pernah. Itu karena anaknya yang itu saja yang terlalu bernafsu ndak jelas ahahahahaha.

Sejak kelas 5 SD, saya aktif menjadi anggota drum band di sekolah. Kami sampai ke Jakarta segala lho ikut lomba . Waktu itu ada iuran sebesar 150 ribu. Saya kaget sekali waktu Bapak menolak keras dan menyarankan saya supaya tidak usah ikut. Ya ampun, padahal sudah capek-capek ikut latihan berbulan-bulan.

Waktu itu Ibu diam saja dan menenangkan saya yang sudah sesenggukan di meja makan, “Sudahmi. Nantipi Mama yang bicara sama Bapak. Diam mako dulu.” (Sudahlah. Nanti Mama yang bicara ke Bapak. Diam dulu, ya).

Akhirnya beberapa hari kemudian, Ibu kembali berkata, “Ooohh, salah dengarki Bapak. Dia kira 750 ribu. Kalau 150 ji, ada kok uangnya.”

Ah, waktu itu saya lega dan percaya saja pada kata-katanya. Tapi kini, saya paham. Pasti Ibu yang membujuk Bapak untuk membayar biaya kepesertaan tersebut.

Di kelas 6 SD, banyak teman drum band yang diresahkan oleh orang tua mereka yang menuntut agar mereka berhenti mengikuti kegiatan bermain musik tersebut. Kegiatannya dianggap akan mengganggu kegiatan belajar di sekolah.

Ibu tenang-tenang saja, “Ah, masa sih begitu? Belajar ya belajar. Main terompet itu kan bagus juga. Kau pasti bisa lah. Masa gara-gara drum band pelajaran jadi terganggu. Tidak ada itu.”

Beneran lho, ucapan Ibu sangat membakar saya. Cawu 1 kelas 6, saya dihujani puji-pujian oleh pembina drum band dan para pelatih . Setelah sekian lama selalu puas di peringkat 2,3 atau 4, pertama kalinya saya menjadi juara kelas .

Kala aktif-aktifnya saya dengan kegiatan drum band saya yang banyak dihujat oleh kalangan orang tua. Bahkan, wali kelas saya yang tadinya ‘sinis’ pada kami, si penggila drum band ini hihihihi, ikut memuja-muja saya di hadapan orang tua murid lain .

Sehabis menerima rapor kala itu, saya kegirangan dan percaya diri luar biasa kalau saya akan mendapat perlakuan istimewa darinya. Sewaktu di becak berdua Ibu, dalam perjalanan pulang, saya yakin sekali akan mendapat jawaban ‘ya’ ketika saya memberanikan diri untuk berujar padanya, “Ma, makan coto, yuk.”

Ibu menjawab tenang, “Aiii, tidak ada uangku, Nak. Nantipilah kapan-kapan, ya.”

Kasian deh loooo, ahahahahahaha. Mentang-mentang rengking 1 . Inilah salah satu keistimewaan beliau. Ibu tidak pernah mengistimewakan anak-anak berdasarkan prestasi akademis. Sama rata pokoknya. Kalau ada kerabat yang menyinggung-nyinggung adik perempuan saya, “Ini yang kecil tidak pintar seperti kakaknya di’ …”

Ibu selalu menjawab taktis, “Ooo, ini yang kecil banyak sekali temannya tauwa di sekolah. Pintarnya bergaul. Tidak seperti kakaknya. Pacceicereng ladde’, napoji mapakereng-kereng.” Hayooo, apa itu artinya, ahahahahaha.

2 hari setelah ebtanas SD, bapak meninggal dunia secara mendadak. Salah satu masa-masa terberat bagi kami semua. Tapi, menjelang pendaftaran masuk SMP, beliau tetap menyerahkan keputusan pada saya, “Jadi bagaimana ini, Nak? Tetap di Athirah atau mau ko masuk SMP 6?”

Saya sungguh tidak mengira Ibu akan bertanya. Sebesar apa pun keinginan saya untuk melanjutkan SMP ke Athirah, sekolah swasta selevel Al Azhar di kota saya dimana semua kecengan pun masuk sana boooo , saya tentu tahu diri untuk memilih sekolah negeri.

Kami semua sudah tahu, kepergian Bapak waktu itu lambat laun akan menghantam ekonomi keluarga. Tinggal masalah waktu saja.

“SMP 6 mi saja. Cukup kan NEM nya.” Saya menjawab tanpa ragu. Alhamdulillah, NEM saya sangat gemilang. Lebih dari cukup untuk bersaing merebut kursi di SMP negeri terbaik di kota kami saat itu. Eh, masih enggak, ya sekarang? ;).

***

Di bangku SMA, sebuah kejadian penting pun mewarnai hubungan kami. Sebuah perdebatan kecil pada saat penataran membuat saya menjadi berpikir masalah kerudung. Padahal semasa Bapak masih hidup, beliau sudah menegaskan kalau SMP, saya harus mulai berkerudung.

Idih, malas amat. Saya tentu menentang keras. Ibu membela saya, “Tidah usah dipaksa-paksa. Anak masih kecil disuruh pakai kudung.” (kudung -= kerudung).

Saat penataran, saya mengemukakan pendapat dengan ‘nyinyir‘nya dalam kelas, kira-kira isinya begini, “Sebagai negara dengan penganut agama bermacam-macam, anjuran memakai jilbab itu hanya akan mengurangi rasa nasionalisme. Cuma mau pamer-pamer agama saja.” Sekuler bener ini Mbak-nya ahahahaha, masih tahun 1995, bahkan Ulil bersama JIL-nya pun belum menetas kala itu :p.

Ketika saya dipindah kelas, saya bertemu dengan seorang teman berkerudung yang sangat bersahaja. Penampilannya rapi dan (maaf) badannya tidak bau hehehehe . Darinya, saya mendapat sebuah buku bersampul kuning, yang hanya butuh sekitar 2 jam untuk menuntaskan isinya. Sungguh, hidayah rahasia Allah semata .

Hanya perlu satu buku itu saja untuk memberanikan saya berkata secara tiba-tiba pada Ibu, “Ma, mo ka’ pakai jilbab.”

Ibu tentu terkejut. Memandangi putri sulungnya, yang rasanya belum lama berlalu ngomel-ngomel disuruh pakai jilbab, di usia 15 mendadak ingin mengenakan jilbab. Ibu keheranan, “Kenapa?”

Saya menyerahkan buku bersampul kuning tadi. Dan saya tinggalkan beliau yang segera sibuk membolak balik buku tersebut.

Besoknya, dari balik tangga, saya duduk sendiri mendengarkan Ibu berbicara di telepon. Entah dengan kerabat yang mana. Ibu lebih banyak diamnya, hanya sesekali menjawab. Tapi belakangan saya tahu, ternyata banyak kerabat yang menentang.

Saat itu di keluarga besar kami tak banyak remaja putri di usia SMA yang berkerudung, kecuali sepupu-sepupu yang memang lulusan pesantren. Tuduhannya macam-macam. Masa ada yang menuduh saya ikut-ikutan aliran sesat  *adaAdaAjaDeeehhh:P*. Dihujat karena terlalu banyak baca buku.

Ah, saya pasrahkan saja. Tahun segitu, memakai jilbab di usia 15 memang masih gimana gitu. Saya pikir, toh saya sudah mencoba. Kalau pun memang belum boleh, saya tak akan sedikit pun menentang beliau.

Tapi, sungguh tak disangka, beberapa hari kemudian, di suatu malam Ibu memanggil saya. Sambil menyerahkan sebuah kantong plastik hitam, “Ini dua pasang baju sekolah, lengan panjang sama rok panjang. Jilbabnya juga 2. Kapan mau pakai jilbab?”

Rasanya ingin terbang. Teman-teman lain di sekolah menghadapi begitu banyak drama hanya untuk menggunakan kerudung, jalan saya begitu mudah . Malam itu, agak sulit saya memejamkan mata. Bantal pun dihujani air mata. Terima kasih ya Mama, diantara sekian banyak hujatan, Mama memutuskan untuk percaya pada pilihan putrinya.

Sebagai informasi, baru beberapa tahun terakhir ini Ibu memutuskan untuk memakai tutup kepala. Saat saya meminta izin untuk berjilbab, beliau pun belum berjilbab saat itu.

***

Kontras dengan peristiwa awal mula berkerudung di kelas 1 SMA itu, menjelang pernikahan saya, hubungan kami tak terlalu baik. Resepsi pernikahan menjadi polemik tersendiri. Dengan dana pas-pasan, akhirnya jalan terbaik yang ditempuh adalah menumpang acara pernikahan di rumah kerabat.

Kondisi ekonomi keluarga sudah lama ambruk. Masing-masing kami membiayai sendiri acara pernikahan. Jadi, harap maklum kalau jadinya malah menumpang hehehhe.

Mau resepsi di mana pula eike, rumah pun tak ada ya, Ceu ehehehehe. Masa di rumah kontrakan? ahahahaha. Saya pun ingin menghormati keluarga suami dengan tidak mengadakan ‘acara murahan’ yang bertempat hanya di mesjid, sementara mereka sukarela mengadakan perhelatan di sebuah gedung tanpa meminta biaya dari pihak saya.

Kala itu, saya masih berstatus trainee di sebuah perusahaan besar yang memang sejak dulu menjadi incaran saya. Namanya juga trainee, masih masa-masa cari muka dan tidak berani bolos-bolos la yaoowww ahahahaha. Jadi, saya mempercayakan semuanya pada Ibu. Belum apa-apa, masalah baju pengantin sudah membuat darah mendidih.

Sudah sejak lama saya mewanti-wanti Ibu, “Pokoknya saya mau tetap pakai jilbab. Pakai baju la’bu’, jangan baju bodo.” (Baju la’bu’ = baju panjang, baju bodo = baju pendek).

Seolah ingin menambah drama pernikahan saya, beberapa hari sebelum resepsi akad nikah digelar, sebuah peristiwa menggegerkan divisi saya di kantor. Sebuah tabel utama dalam database perusahaan lenyap isinya. Ter-delete semua. Ini apa yaaa, bahasanya IT banget ahahahahaha.

Peristiwanya hari rabu. Sementara hari sabtu sudah harus duduk manis di pelaminan. Hampir mati rasanya waktu itu. Saya satu-satunya trainee dalam tim saya.

Alhamdulillah tak perlu tercekam terlalu lama, pucuk masalah ketahuan juga. Tim development dodol di Bangolore sudah melakukan kesalahan tolol dengan menghapus data di database production. Ahahahahahha. Itu peristiwa memalukan sebelum akhirnya setahun kemudian, perusahaan resmi beralih ke SAP .

Rabu itu, tak ada ampun meskipun berstatus sebagai satu-satunya perempuan dalam tim untuk ikut ‘menjaga’ proses recovery data hingga dini hari. Hari kamis pukul 4 pagi, barulah kami semua beranjak pulang meninggalkan kantor. Hari kamis pukul 9 pagi sudah pasang tampang siap siaga lagi depan Bos. Trainee oh trainee ahahahaha.

Hari jumatnya, karena peristiwa tersebut, saya tidak diberi cuti penuh. Bos tetap menghendaki saya untuk masuk setengah hari. Siangnya, pulang ke rumah kontrakan, maksudnya ingin langsung rebahan mengingat beberapa hari terakhir tidur tak pernah pulas. Ibu malah datang membawa berita, “Sudah disiapkan baju bodo baru. Warnanya biru. Bagus sekali bajunya.”

Tante saya ikut melaporkan biaya penyewaan tenda yang harganya melambung tinggi di luar perkiraan!

Sudahlah kurang tidur beberapa hari, stres mikirin urusan kantor, masih pening mikirin ongkos nikah yang menguras hampir seluruh isi tabungan, saya meledak-ledak . Berbicara dengan nada kasar pada beliau. Mengatakan banyak hal-hal yang amat tidak pantas .

Can you imagine, hanya beberapa jam menjelang hari pernikahan, saya malah bertengkar dengan Ibu. Dramanya pun mencapai puncak ketika malam itu juga, saya dihujat oleh keluarga besar karena dianggap tidak mensosialisasikan acara pernikahan. Selama itu, saya memang tidak berani minta cuti, saya menyerahkan semuanya pada Ibu .

Saya ini bodoh sekali. Sudah tahu dana cekak, masih saja berani berbagi keangkuhan pada Ibu bahwa semua biaya sanggup saya tanggung.

Tidak menyadari bahwa judulnya saja hanya ‘menumpang’, sudah seharusnya kami yang ikut keinginan keluarga besar. Jadi, selama ini Ibu tidak pernah berani berbicara terus terang kepada saya. Saya juga terlalu sibuk di kantor, tak terlalu merasa perlu ikut campur terlalu jauh.

Kakak-kakak saya yang lain pun tak berdaya ikut membantu. Mereka juga ya sibuk lah bekerja di kantor masing-masing. Tinggalnya terpencar-pencar. You know lah Jakarta beserta macetnya .

Lupa memaklumii bahwa siapalah Ibu saya. Mana mungkin Ibu mau sok tahu ikut-ikutan mengatur jalannya acara meskipun yang menikah adalah anak gadisnya .

Intinya, sesibuk apa pun, sempatkanlah untuk bersilaturahmi. Tidak ada istilah macet, capek dan segala macam.

***

Setelah menikah dan memiliki anak pun, rasanya kasih sayang Ibu tidak akan pernah terputus, ya. Saat bertikai masalah kepindahan ke Jeddah dengan suami, Ibu ikut menasihati saya, “Apa tahan terus-terusan hidup pisah-pisah? Di mana suamimu mau bekerja, menurut sajalah. Setengah mati diurus supaya kau bisa ikut, kenapa sekarang tidak mau?”

Kala itu saya berbagi kekesalan saya pada Ibu masalah Montreal vs Jeddah hehehe. Ibu pun menyemangati saya, “Jeddah itu bagus, kok. Jangan dengar kata orang-orang. Bayangkan Nak kau nanti di sana, bisa umrah, bisa naik haji. Dekatnya itu Mekkah na dari Jeddah. Kau itu beruntung, Nak. Ikut saja apa kata suamimu.”

Ibu memang yang suka memprotes kala saya harus hidup terpisah dari suami di setahun pertama keberangkatan suami ke Jeddah. Menurutnya, “Tempat terbaik bagi seorang istri adalah di samping suaminya.” . Dalam kondisi apa pun.

Jadi, saya selalu iri pada teman-teman yang bisa pulang ke haribaan ibunda tercinta untuk berlibur panjang bersama anak-anak sementara suami tak bisa lama-lama mengambil cuti hehehehe. Ibu saya bisa murka, “Musalai lakkemmu? Madosa ladde’ tu, Nak.” (Kau tinggalkan suamimu? Berdosa sekali itu, Nak).

Suami saya mungkin memberi izin, tapi malas enggak sih kalau dikutuk oleh ibunda sendiri? Hehehehe.

Kala hamil, tak pernah berani menyisipkan pikiran untuk pulang ke tanah air biarpun waktu hamil muda saya seperti orang gila (literally!) ahahahahaha. Ask my husband! . Ibu pasti akan menceramahi saya panjang lebar, “Baru hamil begitu sudah tidak tahan?

Mama itu melahirkan 8 kali, de nengka ulisu okko bolana indo’ku.” (Tidak pernah saya pulang ke rumah ibu saya).

Terima kasih ya Mama. Itu pelajaran sangat berharga . Tanpa kita sadari, kekuatan itu ada kok dalam diri kita. Setakut-takutnya saya saat hamil anak ke-2 jauh di negeri rantau, segaring-garingnya saya di Jeddah kala ramadan datang, terngiang selalu pesan Ibu, “Susah senang sama-sama, Nak. Begitu memang kalo sudah kawin.”

***

Ah, mau seribu paragraf pun rasanya tak akan pernah cukup untuk mengisahkan perempuan hebat ini . Tentu saja, Ibu saya pun hanya manusia biasa. Tak sedikit kekurangan bahkan hal-hal tak ‘layak’ yang pernah mengundang gunjingan orang. Meskipun saya pun tak pernah membahas hal ini secara terbuka dengan saudara-saudara saya, saya yakin hal itu tidak akan mengurangi rasa hormat kami pada beliau .

“But there’s a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother’s story, because hers is where yours begin.”

― Mitch Albom , For One More Day

61 tahun lalu, tepatnya tanggal 26 Mei, beliau terlahirkan ke dunia ini . Kelahirannya yang akan menghadirkan rangkaian perjalanan cerita pada kami bertujuh. 8 kali melahirkan, anak ke-2 (kakak kembar saya) menghembuskan nafas terakhir hanya beberapa detik setelah terlahir. Selamat ulang tahun, Ibunda tercinta .

Mama and her grown-up babies :D (January, 2013)
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ
سورة نوح﴿٢٨﴾
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA
Ya Alloh ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku
(QS.Nuh 28)
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِـيْراً
سورة الإسراء﴿٢٤﴾
ROBBIR_HAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil
(QS. Al-Isro’ 24)

 

Who are We to be Blind?

“…Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat …”

Masih ada yang ingat? :).

Paragraf di atas adalah alinea ke-4 dari pembukaan UUD 1945. Bertahun-tahun lalu, saat masih duduk di bangku SD hingga SMP, tiap hari senin para pelajar berjajar rapi di halaman sekolah masing-masing untuk melaksanakan upacara bendera. Mendengarkan naskah pembukaan undang-undang secara utuh adalah bagian dari ritual mingguan tersebut.

***

 

Baru-baru ini, melalui news feed di FB, beredar cerita mengenai seseorang yang bernama Hadi Susanto. Seorang anak dari keluarga yang tidak mampu yang semasa SMA harus mengayuh sepeda ontelnya sejauh 30 km menuju sekolah. Saking jauhnya dan saking miskinnya, tiap hari Hadi selalu membawa 2 buah tas. Satu tas lagi berisi bekal makanan yang dibawa dari rumah.

 

Hadi tergolong cerdas. Karut marut ekonomi keluarga tak membuat Hadi patah semangat untuk tetap mencoba peruntungannya melalui jalur UMPTN. Menempuh S1 di ITB, beasiswa pun menghembuskan nasib baiknya ke Belanda untuk menuntaskan pendidikan S2 sekaligus S3. Sempat bekerja di Massachusetts (US), kini Hadi menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Inggris. Tepatnya di University of Nottingham, kotanya Robin Hood.

Mantra apa yang ‘membebaskan’ Hadi yang memiliki nama kecil Combat (panggilan dari teman-temannya karena perawakannya yang seperti tentara) dari ketidakmampuan secara ekonomi? Sihir apa yang tidak hanya menerbangkannya jauh-jauh dari Lumajang hingga ke Inggris, tapi turut melambungkan harapan yang mungkin tak pernah dipikirkannya saat masih bersekolah di Bandung dulu?

Sederhana sekali jawabannya…pendidikan. Salah satu cara ‘mudah’ memutuskan mata rantai keterpurukan ekonomi adalah pendidikan.

Kontras dengan kisah Hadi, sekitar seminggu yang lalu seorang teman di Jeddah menghubungi saya via email. Mengisahkan perihal ‘darurat pendidikan’ bagi murid-murid di sekolah Indonesia di kota Jeddah. Barusan pula, Ibu Elly menelepon saya dan bercerita panjang lebar mengenai ‘cita-cita’nya yang mungkin akan segera terkubur bersama makin ketatnya negara Saudi dengan undang-undang kependidikannya.

Sekolah Indonesia di Jeddah

Siapa Ibu Elly?

Nama lengkapnya Elly Warti Maliki. Lulusan Al Azhar – Mesir yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan tanah air. Ibu Elly bersama keluarga besarnya sudah hidup merantau belasan tahun di Arab Saudi. Tepatnya di kota Jeddah. Kepedulian Ibu Elly terhadap dunia pendidikan tidak hanya sebatas opini dan pantauan semata.

Ibu Elly merupakan pendiri “Sekolah Islam Terpadu – Darul Ulum” (SIT-DU). SIT-DU  menggunakan kurikulum nasional yang dikombinasikan dengan kurikulum hasil temuan Ibu Elly dan tim, “Lantisa” (kemampuan untuk berbicara lancar dalam tiga bahasa, Indonesia – Arab – Inggris).

Awalnya Darul Ulum berdiri sebagai Taman Pendidikan Alquran (TPA) di tahun 1992. Sejak tahun 2007, berdirilah SIT-DU. Sekolah tersebut kini sanggup menampung siswa sekitar 300 orang, dari TK hingga SD.

Ibu Elly menolak menjadikan sekolah ini sekolah swasta. Sesuai SKB dari Depdiknas (1981), pihak swasta (selain pemerintah) tidak boleh mendirikan sekolah Indonesia di luar negeri. Pilihan bagi swasta adalah sekolah internasional. Akhirnya, SIT-DU berafiliasi dengan “Sekolah Indonesia Jeddah” (SIJ) yang merupakan sekolah pemerintah Indonesia di Jeddah. Itu pun sebenarnya statusnya ‘samar-samar’ atau ‘ilegal’.

Ibu Elly tetap percaya diri untuk terus menjalankan sekolah ini dengan status tersebut. Tujuan beliau memang mulia. Sekolah ini didirikan untuk menampung anak-anak dari kalangan tidak mampu. Tak sedikit jumlah perantau asal Indonesia yang bekerja di sektor informal yang akhirnya tinggal bersama keluarga mereka di Jeddah. Termasuk anak-anak mereka. Ada yang juga berstatus ‘ilegal’, tidak punya iqama (KTP Saudi).

Sebagian orang tua dari kalangan ‘formal’ memilih memasukkan anak-anak mereka ke sekolah internasional. Meskipun belakangan, banyak juga orang tua dari kalangan ‘pekerja formal’ yang memasukkan anaknya ke SIT-DU. Namun, hingga kini mayoritas anak-anak yang bersekolah di sana berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Inilah alasan utama mengapa Ibu Elly menolak keras usulan agar menjadikan SIT-DU sebagai sekolah swasta internasional. Sekolah internasional akan terbebani dengan biaya operasional yang besar yang akan berimbas pada tingginya biaya sekolah yang tak akan mungkin sanggup ditanggung oleh sebagian orang tua murid. Sebagai catatan, sekolah internasional mematok harga hingga puluhan ribu riyal per tahun.

Alasan keduanya adalah masalah kurikulum. Ibu Elly berharap dengan mempertahankan kurikulum nasional tak akan mencabut ‘akar-akar kecil’ ini dari tanah kelahirannya. Beliau pun sangat percaya diri dengan program “Lantisa” yang telah diujicobakan dan mendapat hasil yang cukup positif.
Ketika di Jeddah, anak saya pun bersekolah di SIT-DU. Saya pernah menjadi saksi betapa tingginya harapan para ibu-ibu dari kalangan menengah ke bawah ini kepada para ananda tercinta. Tidak main-main mereka dalam menyekolahkan anak. Saat mengantar, berbagai ucapan disampaikan secara serius kepada anak, “Lihat dong muka Ibu. Belajar yang benar, ya. Mana bukunya? Perhatikan pensilnya jangan sampai hilang lagi.” Sebagian mereka, setelah mengantar anak-anak ke sekolah, harus pulang untuk bekerja.

Huru-hara kasus-kasus yang dialami para TKW yang pernah ramai diberitakan di media nasional tidak meruntuhkan semangat luar biasa mereka untuk meninggalkan kampung tercinta, datang mengadu nasib jauh-jauh ke Saudi. Mereka mungkin lebih takut kalau suatu hari nanti mereka masih diberi umur panjang dan mereka harus menyaksikan anak cucu mereka akan menjalani takdir yang sama. Dengan penghasilan seadanya, kemana mereka harus mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah. Tanpa pendidikan memadai, perbaikan masa depan apa yang bisa ditawarkan pada anak-anak mereka?

Belum lama saya share berita tentang perlakuan yang tidak menyenangkan yang kerap mereka alami di bandara Soetta. Kini, pemerintah pun tak kunjung ‘bersuara’ mengenai anak-anak mereka nun jauh di kota Jeddah sana.

Jangan lupa, sebagian mereka juga seorang Ibu seperti kita. Seorang ibu yang mungkin dalam doa-doanya di malam hari mengangkat tangan dan berbisik dalam doanya kepada Tuhan, “Ya Allah, semoga anak saya kelak menjadi presiden. Aamiin.”

Ancaman Tsunami Pendidikan di Jeddah

Tahun ini, pemerintah Saudi memperketat aturan kependidkan terutama tata kelola sekolah-sekolah asing. Ada dua masalah yang tengah dihadapi Ibu Elly selaku kepala pengelola SIT-DU. Izin operasional kembali dipertanyakan.

Sebenarnya sejak tahun 2010, Ibu Elly sudah berusaha berkoordinasi dengan pihak KJRI mengenai kemungkinan untuk peninjauan ulang SKB mengenai pendirian sekolah Indonesia di luar negeri tadi. Tapi hingga kini tak ada kejelasan status.

Masalah lainnya adalah masalah kelayakan gedung. SIT-DU memang berlokasi di sebuah pemukiman biasa. Sebuah rumah yang disulap menjadi gedung sekolah. Disekat-sekat seadanya. Sudah 3 bulan ini, Ibu Elly berusaha berjuang mencari perlindungan kemana-mana. Sementara salah satu usulan pihak KJRI untuk bergabung ke SIJ cukup mustahil.

SIJ sendiri pun ditempa masalah kelayakan gedung. Jumlah murid di SIJ kini sekitar 1000 siswa. Sementara kapasitas gedung hanya untuk 600 orang. Sudah berkali-kali ada wacana untuk memindahkan gedungnya ke tempat lebih layak. Bahkan konon, beberapa waktu lalu, Bapak Presiden bertandang ke Jeddah dan dijadwalkan untuk meninjau gedung sekolah. Tapi ternyata kunjungannya batal. Wacana pemindahan gedung kembali tersamar, mungkin selamanya akan menjadi sebatas wacana.  Bayangkan, bagaimana bila sekitar 300 murid dari SIT-DU  harus ikut berjejalan di sana? Sementara pihak SIJ pun sudah menunjukkan penolakan.

Persoalan ketiga adalah masalah status beberapa siswa di SIT-DU merupakan anak-anak ilegal (tidak memiliki nomor iqama). Hal itu melanggar peraturan resmi. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Elly, “Saya dianggap seperti penjahat karena melanggar peraturan menampung anak-anak ilegal di sekolah saya. Mereka sepertinya tidak berhak berkumpul dengan anak-anak yang legal. Mereka sepertinya tidak berhak mendapatkan pendidikan.”

Untunglah persoalan terakhir ini telah mendapat titik terang. Pemerintah Saudi telah memberikan amnesti kepada warga asing ‘bermasalah’ yang ingin tetap bekerja di Saudi.

Peninjau sekolah dari Pemerintah Saudi telah memberi ultimatum. Waktu yang tersisa tinggal 47 hari lagi. Ibu Elly kembali bertutur, “Sampai hari ini belum nampak secercah cahaya pun yang dapat menyelamatkan sekolah kami dari ancaman penutupan.”

Melalui telepon, Ibu Elly berkata, “Tsunami di Aceh jelas bencana besar. Kita bisa melihat jelas korbannya secara fisik. Tapi orang-orang tidak sadar, tsunami yang sama tengah terjadi di Jeddah. Korbannya mungkin tak terluka secara fisik. Tapi secara batiniah. Mereka tak sadar hak mereka dirampas. Bencana besar bagi masa depan anak-anak ini.”

Who am I to be Blind?

Sewaktu salah satu anggota Persatuan Orang Tua Murid (POMDA), Bapak Wibowo Pujokongko Adi / Pujo (teman kantor suami di Jeddah), menghubungi saya beberapa waktu untuk meminta saya menuliskan tentang ini, saya sempat ciut. Aduh, pikir saya. Memangnya saya ini siapa, ya? Lagian, di tengah maraknya kekisruhan di tanah air, banyaknya  berita-berita kurang sedap, siapa yang akan peduli? Pemerintah tengah didera berbagai masalah korupsi, baru-baru ini pun masalah Ujian Nasional bergema dengan nyaring.

Dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, berapa persen sih 300 orang ini? 1 persen saja tidak ada. Sementara di tanah air, masalah negatif pendidikan dari berbagai segi tidak kurang gaungnya.

Apa dengan ditiadakannya pembacaan pembukaan UUD 1945 di upacara bendera hari senin, akan membuat ‘mereka yang di atas sana’ ikut meniadakan salah satu kewajiban mereka untuk MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA?

Tapi saya lantas teringat salah satu petuah Bung Karno, “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi. Satu orang pemuda dapat mengubah dunia.” Cuma butuh satu orang pemuda untuk melakukan banyak hal besar. Satu pemuda ini mungkin ada diantara yang kurang dari 1 persen tadi.

Siapa yang tahu, kalau kegalauan meruntuhkan keberanian saya untuk menuliskan ini, sang pengubah dunia itu gagal memenuhi takdirnya. Siapa yang tahu diantara anak-anak ini ada calon “Hadi Susanto-Hadi Susanto” yang seharusnya mampu untuk merapalkan mantra dan sihir untuk terbang jauh mengukir cita-cita setinggi langit di sana. Siapa yang tahu, kelak mereka akan membuat orang tuanya berbangga, melupakan semua kepahitan masa lalu dan tersenyum, “Tidak ada yang sia-sia.”

Maka dari itu…  “who am I, to be blind? Pretending not to see their needs.” (Man in the mirror, M. Jackson)

Saya juga tidak tahu harus ditujukan kepada siapa tulisan ini. Tak ada waktu lagi untuk ‘mengemis’ perhatian di media cetak resmi. Kurang dari 2 bulan lagi, vonis akan dijatuhkan kepada sekolah ini. Maka, saya pun sama sepakat dengan Pak Pujo, “Mungkin kita bisa berbagi melalui media sosial.”

Siapa yang tahu ke mana tulisan ini akan bermuara? Mana tahu ada pihak-pihak yang bisa menggugah pihak berwenang di pemerintahan. Bantulah mengalirkan tulisan ini sejauh yang mungkin bisa.

Bantuan terkecil yang kita bisa tentu berdoa :). Who are we to be blind? Pretending not to see their needs.

Kalau pun tak sanggup pemerintah membuka lapangan pekerjaan bagi mereka di Indonesia sehingga tak perlu payah-payah mereka merantau jauh ke Negeri Gurun…

Kalau pun tak sanggup pemerintah membela hak-hak mereka, memperjuangkan hak-hak mereka di Negeri Rantau…

Kalau pun tak sanggup pemerintah memberikan (setidaknya) perlakuan yang layak bagi mereka saat mereka kembali ke kampung halaman setelah lelah ‘bertarung’ di Negeri Orang… walaupun konon, predikat “Pahlawan Devisa” disematkan pada mereka…

Maka…jangan rebut HARAPAN mereka bagi anak-anak mereka. Anak-anak adalah masa depan orang tua. Cukuplah perlakuan tidak adil bagi mereka.

(Mungkin) satu-satunya yang membuat mereka bertahan adalah HARAPAN, untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Tanpa pendidikan, HARAPAN apa yang bisa dibangun? :(.

“Never deprive someone of hope; it might be all they have.” H. Jackson Brown, Jr.

Let’s not kill THEIR HOPE, it might be all they have to continue all these suffering they’re bearing now. Don’t kill that only reason.

***

Note :

Bapak Pujo, walaupun berkepentingan sebagai salah satu orang tua murid di skana, sebenarnya bisa saja tidak peduli. Beliau, dengan jabatan sebagai manajer di salah satu vendor telekomunikasi internasional, tak akan kesulitan sama sekali memasukkan putra putrinya ke sekolah internasional. Tapi beliau ini memilih ikut ‘berjuang’ :). Sekaligus menjadi salah satu narasumber utama dari tulisan ini, selain Ibu Elly Warti sendiri.

***

Murid-murid SIT-Darul Ulum
Murid-murid SIT-Darul Ulum

“Because one day Mommy, I won’t be this small”

Anak saya yang ke-2 baru saja berulang tahun yang ke-2. I have reached the moment when all I hear is, “No!” Ucapan “No” di hampir setiap tawaran-ajakan-pertanyaan-himbaun padanya disertai dengan kedua tangan dilipat ke arah dada. Syukur-syukur dia tidak pakai buang muka.

Dalam dunia parenting, istilah “the trouble 2” ini cukup populer. Narda, si jagoan kecil ini, punya perangai yang berbeda dengan kakaknya, walaupun sama-sama laki-laki. Termasuk perkembangan motoriknya.

Nabil, kakaknya, biarpun terlihat sangat lincah dan supel, tapi lumayan penakut. Narda, meskipun sekilas kelihatan kalem, pemberaninya jangan ditanya.

Usia 10 bulan dia sudah lancar berjalan. Usia 13, dia sudah berlari. Cenderung telat berbicara dibanding kakaknya yang sangat verbal. Kakaknya agak takut ketemu air. Narda sekali dibawa ke kolam renang, mengamuk luar biasa saat diangkat dari kolam untuk ganti baju. Dia berani meloncat dari atas sofa ke lantai di usianya yang masih 15 bulan. Kalau kakaknya iseng mengajaknya memanjat-manjat, Narda tak pernah gentar. Kakaknya sudah turun karena takut lebih tinggi lagi, dia terus merangkak naik.

Nabil lebih mudah diarahkan. Diberitahu apa saja kemungkinan besar akan menurut. Dia takut gelap dan takut bila ditinggal.

Narda berbeda sekali. Dia suka ngambek tidak mau naik ke stroller saat akan dibawa untuk menjemput kakaknya di sekolah. Saya sebal. Saya tinggal saja dia di depan pintu apartemen, saya pura-pura akan meninggalkannya sendiri dengan harapan dia akan terbirit-birit mengikuti saya. Kenyataannya, dia malah berlari menjauh ke arah sebaliknya. Olala, waktu sudah makin sempit, direpotkan pula dengan mengejar bocah ini di sepanjang lorong lobi gedung apartemen. Jadilah saya mesti setengah berlari sambil mendorong stroller agar tak terlambat tiba di sekolah.

Kalau sedang berdinas di dapur saya inginnya dia dekat-dekat saya. Tapi dia kadang ingin bermain di dalam kamar. Saya pura-pura tutup pintunya dengan nada mengancam. Berharap dia akan berteriak-teriak menangis dan minta ikut. Lama saya tunggu. Pas pintu dibuka lagi, dia berdiri menantang dengan wajah keras. Boro-boro menangis ketakutan.

Terdengar menggemaskan, ya? Tapi percayalah, mengurusi kedua balita super aktif ini, saat nun jauh di negeri rantau, tak punya asisten sama sekali, kadang menjadi ‘cobaan’ tersendiri buat Mama-nya yang memang terkenal dengan stok kesabaran yang pas-pasan. Sebagai manusia biasa, tak jarang saya merasa putus asa dan meradang.

Narda dan abang :D (Athlone Regional Sport Center)
Narda dan abang 😀 (Athlone Regional Sport Center)

***

Ibu saya pernah bilang, “Dada waktu kecil dibawa naik perahu menyeberang laut. Nangis terus sepanjang perjalanan.”

Ibu bercerita tentang kakak saya yang nomor 4. Katanya lagi, saking kesalnya mau dibuang ke laut saja rasanya. Kakak saya yang ini cengeng sekali kata Ibu. Apa-apa mesti minta gendong.

Lain lagi dengan kakak saya nomor 2. Waktu memasuki usia sekolah, susah payah Ibu membujuknya untuk ke sekolah.

“Kalau tidak mau sekolah, nanti jadi tedong,” ancam Ibu (tedong = kerbau, bahasa bugis). “Biarmi jadi tedong,” jawab kakak saya sambil menangis. (Biarmi = biar saja, logat sulawesi).

Saya pun bukannya tak pernah berulah. Perkenalkan, si kecil Jihan yang pundungan luar biasa. I’m a picky eater as well. Saking pemilihnya, waktu kecil sakit-sakitan. Kalau sakit, rewel luar biasa. Kalau mood lagi jelek waktu bangun tidur di sore hari, habislah isi lemari baju saya lemparkan semua ke lantai! My oh my *nyengirImut*.

Saat kami semua telah dewasa, saya perhatikan Ibu selalu menceritakan semua kerusuhan yang kami buat saat kecil sambil tertawa-tawa. Tak ada rasa menyesal sama sekali.

Mama and her grown-up babies :D (January, 2013)
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)

***

Saya pernah membaca sebuah kisah populer via internet mengenai dialog seorang anak dengan Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia. Sang anak mengungkapkan kegundahannya atas semua hal-hal yang akan dihadapi di dunia barunya nanti. Tuhan menjawab dengan sabar semua pertanyaan si anak dengan, “Tenang saja. Sudah kusiapkan seorang malaikat di dunia untukmu. Seseorang yang akan kau panggil…Ibu.”

Menurut cerita itu, Ibu adalah malaikat untuk anak-anaknya. Betulkah?

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri (pesertanya sebagian besar ibu-ibu), fasilitator bertanya kepada kami, “Ibu-ibuuuu, anak itu banyak meminta atau banyak memberi.”

Tanpa dikomando, jawaban kompak kami bergema di seluruh ruangan, “Memintaaaa…”

Tiga kali fasilitator bertanya dan kami tetap keukeuh pada jawaban kami, anak-anak lebih banyak meminta. Kami diminta mengeluarkan handphone, masuk ke folder foto, memilih foto anak kami, dan memandanginya lama-lama. Sejenak, seisi ruangan hening. Fasilitator mulai bersuara lagi, “Bayangkan kalau wajah yang Anda pandangi di foto itu sedang sakit. Sakitnya parah. Sampai Anda harus melarikannya ke rumah sakit. Ternyata, takdir tak berpihak pada kita. Anak anda dinyatakan…”

Belum selesai ucapannya, suasana hening buyar dengan tangisan Ibu-ibu peserta tadi.

Ah, kita semua terkecoh. Bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.

Kalaupun ternyata kita yang harus pergi lebih dahulu, mereka bisa dirawat oleh siapa saja. Perlahan, apalagi jika usianya masih sangat kecil, mereka mungkin sanggup menghapus bayangan ibunya. Tapi bila dibalik, Ibu mana yang sanggup membayangkan ketiadaan anak-anaknya? Sejak dua buah garis muncul di selembar testpack saja, kebahagiaan seorang (calon) Ibu sudah sedemikian membuncah-buncah.

Lagi-lagi kita terkecoh. Anak-anak tak pernah meminta dilahirkan. Justru kehadirannya yang memberikan banyak sekali hal yang sebagian besarnya berlabel “kebahagiaan.”

Waktu kecil mungkin mereka akan terlihat bagai monster mini. Apa-apa minta ditemenin. Apa-apa harus diajarin. Makannya pun mesti dijaga. Seperti saya, berjalan kaki kemana-mana makin terasa repot karena ada mereka dalam stroller.

Tapi saya ingat lagi cerita Ibu. Waktu bapak sudah tidak ada, Ibu kerepotan mencari teman untuk dibawa ke kondangan karena waktunya sebagian besar di malam hari. Waktu masih kecil-kecil, semuanya heboh minta ikut. Begitu sudah abege, sudah punya kesibukan sendiri.

Waktu masuk TK sudah ada yang tidak mau tangannya digandeng. Malu pada guru dan teman-temannya. Yang tadinya tak bisa tidur kalau tidak dipeluk sama mama. Ke sekolah pun sudah minta jalan sendiri. Tak senang lagi bila kepalanya diusap-usap, apalagi dipeluk dan dicium.

Ibu-ibu yang kerempongan dengan balita, bersabarlah.

Sebuah puisi kecil ini (copas dari sebuah gambar via internet) mungkin bisa menjadi bahan renungan :

I won’t always cry ‘mommy’ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I won’t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day you’ll miss having a chocolate face to wipe.
You won’t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You won’t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs can’t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I won’t be this small.

***

I don’t know who the author is, but I do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worry… because one day Mommy, they won’t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka. 

Seize the day, Mommies :). You don’t know what you miss when it’s gone.

happy birthday Narda

Selamat ulang tahun, Ananda tercinta…Narda Atif Rosyadi :).

***

Roda Pedati, Kadang di Atas Kadang di Bawah

by : Jihan Davincka

***

Sudah sebulan hengkang, masih saja suka kepo-kepo tentang Saudi. Dua hari lalu mendengar kasak kusuk soal ‘Saudinisasi’ yang kembali gencar berhembus di Negeri Petro Dolar ini. Ada razia iqama (semacam KTP untuk para pemukim Saudi).

Konon, kali ini razianya konon juga melanda para pekerja profesional. Saya tak enak hati mau bertanya langsung pada teman-teman yang masih di sana. Takutnya disangka mau nyolot :P.

Padahal sebenarnya beneran khawatir. Untunglah hasil kepo-kepo terselubung sudah berhasil mendapat info yang akurat. Ternyata…it’s not that bad. Alhamdulillah :).

NC 2

***

‘Saudinisasi’ bukan isu baru. Entah kapan mulainya, yang jelas beberapa tahun terakhir ini pemerintah Saudi memang dipusingkan dengan membanjirnya pekerja pendatang di Negeri Penjaga Wilayah Haram ini. Sensus tahun 2010 menunjukkan, sekitar 30% penduduk Saudi adalah pendatang. CMIIW, ya.

Sebelum ke Jeddah, saya juga suka keheranan mengapa Saudi masih bertengger di salah satu posisi puncak tujuan kerja para TKI, ya? Terutama untuk pekerja non-formal. Setelah tinggal di Jeddah baru deh ngerasain ‘asoy’nya tinggal di Negeri Gurun yang satu ini hehehehe.

Sekitar setahun lalu, saya sering membahas hal ini dengan suami. “Saudinisasi apaan, sih? Kenapa tiba-tiba Saudi mau mengusir pendatang?”

“Mereka butuh lapangan kerja untuk angkatan kerja usia mudanya.”

“Kok baru ribut-ribut belakangan ini?”

Baru deh suami mulai mendongeng panjang lebar :D. Konon, di tahun 70 hingga 80-an, malah Saudi yang mengundang orang-orang dari luar untuk datang dan ikut ‘mebangun’ Saudi. Potensi sumber daya alam minyak sedang booming.

Sementara saat itu Saudi belum ‘siap’. Malah katanya, waktu itu status warga negara ‘dijual murah’.

Mungkin Kerajaan Saudi ‘terlena’ terlalu lama. Tanpa sadar, puluhan tahun telah berlalu. Penduduk Saudi sudah makin banyak. Bayi-bayi mereka tumbuh makin dewasa. Mungkin 10 tahun terakhir ini, pemuda pemudinya sudah mencapai usia siap kerja. Masalahnya, mau kerja apa?

Perusahaan tentu tidak akan sembarangan memilih pegawai. Para pemuda Saudi ini kurang ditempa dan malah (mungkin) mendapat perlakuan manja dari orangtua dan pemerintah. Sekolah gratis, kesehatan gratis untuk penduduk Saudi asli.

Kalau tidak salah (CMIIW), kurikulum sekolah negeri Saudi juga agak berbeda. Meskipun menggunakan pendidikan umum tapi ada penekanan khusus untuk bahasa Arab dan agama Islam.

Jadi, pelajaran umumnya sedikit tergeser dan mungkin tidak mendalam. Padahal dalam Islam prinsipnya, “seimbang dunia akhirat” kan, ya? ;).

Dijejali dengan kekayaan berlimpah, ditambah pemasukan umrah dan haji, walaupun belum bergelar “negara maju”, Saudi termasuk negara ‘tajir’.

Kalau negara-negara lain ‘mengemis-ngemis’ (pasang iklan sana sini) agar wisatawan datang mengunjungi negerinya (untuk menambah devisa), Saudi malah dengan ketat membatasi jumlah pengunjung ke negaranya.

Selain sentimen ekonomi, Saudi punya magnet lain. Pesona spiritual dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Tiap tahun, jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong mendatangi Saudi tanpa bujukan iklan apa pun.

Wajar saja jika pemerintah sangat memanjakan penduduk asli Saudi yang didominasi oleh orang Arab.

Jadi, salah satu jalan terbaik yang harus diambil pemerintah adalah “mengusir para pendatang.” Untuk memuluskan para pemuda Saudi mendapatkan kesempatan kerja.

Karena kalau harus bersaing dengan pekerja asing, para perantau yang semangat kerja dan skill-nya tidak main-main, pasti mereka akan kalah telak hehehe.

Upaya inilah yang disebut sebagai Saudinisasi. Beberapa tahun belakangan ini, berbagai cara telah ditempuh. Antaralain dengan memasang quota pegawai asal Saudi di tiap perusahaan.

Memaksa perusahaan untuk mempekerjakan orang Saudi asli sejumlah angka quota tersebut. Perusahaan yang ‘bandel’ akan masuk dalam zona merah. Harus berhati-hati.

Masih butuh waktu bagi Saudi untuk menyukseskan program Saudinisasi mereka. Membangun etos kerja dan perilaku karyawan bukan pekerjaan mudah dan cepat. Mereka tentu tidak akan gegabah main usir begitu saja kepada para pendatang.

Perusahaan kan tidak mau rugi. Kalau pada ‘ngambek’ dan ikut kabur, pening juga kan pemerintah Saudi? hehehehe.

Alasan lainnya adalah maraknya pekerja ilegal. Saking ‘malas’nya warga Saudi, pemerintah dulunya ‘tutup mata’ dan tak sadar membiarkan para pendatang menjejali tanah mereka. Ya, namanya butuh.

Keluarga Saudi itu punya asisten rumah tangga bisa banyak. Ada asisten untuk memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pengasuh anak. Supir juga wajib. Saudi tak membolehkan kaum wanita menyetir kendaraan sendiri.

Para pendatang ini pun kebanyakan malah kesenengan tinggal di Saudi. Betah secara psikologis sih mungkin tidak. Tapi berikut beberapa petikan hasil kepo-kepo saya dengan beberapa supir taksi asal Indonesia di Jeddah.

Umumnya saya membuka percakapan dengan, “Pak Abc, sudah lama di Saudi? Betah nih, Pak?”

Jawabannya beragam.

“15 tahun, Bu. Dari bujangan. Betah sih tidak. Tapi pernah pulang duitnya masih enakan sini, Bu.”

“Sudah hampir 20 tahun, Bu. Dulu keluarga ikut. Tapi saya pulangin. Anak-anak dah gede-gede. Kuliah semua. Istri jaga kontrakan. Alhamdulillah, ada beberapa rumah kecil-kecil di kampung. Saya mau pulang juga. Tapi Bu, di kampung enggak ada duit.”

(Catat, anaknya 3, kuliah semua! Punya beberapa rumah kontrakan. Supir taksi, cing! :P)

Satu lagi, “Sekitar 8 tahun, Bu. Istri di kampung. Saya punya usaha kerajinan besi. Istri punya kantin kecil-kecilan.” (Nah!)

Pantas pada ogah pulang hehehe. Jadi, jangan buru-buru menyangka TKI di sini penuh darah dan airmata hehehe. Hati-hati, supir taksi bisa jadi juragan kontrakan :D.

Saudi berbeda dengan negara Timur Tengah lainnya. Biaya hidupnya jauh lebih rendah daripada tetangga-tetangganya. Iya sih, kota Dubai dan Abu Dhabi keren luar biasa. Konon, Qatar adalah negara terkaya ke-2. Tapi teman saya di Abu Dhabi merintih atas mahalnya barang-barang di sana.

Mari kita lihat harga barang pokok di Jeddah. Jangan sakit hati, harga daging sapi dan beras lebih murah daripada di Jakarta ;). Karena berlimpah pendatang, hidup di Jeddah tidak terasa seperti di luar negeri.

Ketika Indonesia terkena musibah langkanya tempe, kami di Jeddah tetap bisa mendapatkan makanan khas tanah air ini dengan harga 3 riyal saja. Memang, lebih mahal. Tapi, di luar negeri lain, ada yang jual tempe seharga 7500 rupiah dengan pasokan yang sama banyaknya dengan tanah air? ;).

Harga bensin? Sudahlah ya, garuk-garuk tanah nanti. Ahahahaha.

Saudi tak memungut pajak dari siapa pun. Jadi, semua fasilitas umum bisa dinikmati oleh baik penduduk lokal maupun pendatang. Enak kan, numpang hidup di tempat orang tapi enggak bayar apa-apa :P. Malah ikut menikmati murahnya biaya hidup, bensin dengan harga sale :P, jalanan yang mulus-mulus, dsb.

Ini mungkin yang membuat pemerintah Saudi lama-lama empet juga ahahahahaha, “Gue yang capek-capek, lu orang bisa nikmatin semua dengan gratis.” Pernah ada isu, pemerintah mau menarik pajak dari para pendatang. Tapi konon ditentang oleh para ulama sana. Pajak itu haram katanya. Entah, ya. CMIIW lagi nih hehehe.

Bayangkan, kalau Anda datang sebagai pekerja profesional, diberi gaji dollar layaknya pekerja ekspat tanpa pajak dan Anda sanggup menahan diri untuk tidak ‘foya-foya’ di negeri orang, berapa itu DEVISA terkirim ke tanah air? Hehehehe. Berterima kasihlah pada pemerintah Saudi :P.

Jangan buru-buru menghakimi pemerintah Saudi. Now you can see WHY :).

***

Tapi kita bisa belajar sesuatu nih dari pemerintah Saudi. Kadang, memiliki kelebihan materi tidak menjamin kesejahteraan hidup :).

Lihat saja bangsa petarung seperti orang-orang Jepang. Punya apa sih Negeri Sakura ini? Tanah subur pas-pasan, kekayaan alam nyaris tidak ada, malah sering terkena bencana alam. But look at them! How strong they are until now :).

Saya teringat waktu kuliah sedang konsultasi dengan Pembimbing Akademik, salah satu senior datang. Dia sedang konsultasi tugas akhir juga. Saya terkesan dengan ucapan PA saya sesaat setelah senior tersebut mengeluhkan tentang isi makalahnya.

PA saya bilang, “Banyak keterbatasan, ya. Tapi kamu kerjakan saja terus. Jangan ganti topik dulu. Keterbatasan kadang membuat kita jadi kreatif, lho.”

Keterbatasan membuat kita jadi kreatif. Nah! Itu mungkin yang membuat orang-orang Jepang terkenal dengan inovasinya. Mereka tahu diri dengan ‘kemiskinan’ sumber daya alam mereka. Mereka pun mencari cara lain. Akhirnya tampil sebagai negara industri dan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.

Hal yang sama untuk negara-negara Eropa. Sebagian mereka minim kekayaan alam. Biaya hidupnya jadi cenderung tinggi. Tapi jadinya orang-orang Eropa sangat disiplin dalam menggunakan uang dan mandiri dalam banyak hal.

Sekaligus membuktikan satu pepatah lagi, “What doesn’t kill you, make you stronger.”

Tapi jadi ‘tajir’ itu bukan dosa. Pun bukan kelebihan. Lebih tepatnya, kekayaan itu cobaan. Lihat kan Negara Saudi? Mentang-mentang tajir, lupa diri ‘mendidik’ warganya hehehe. Dimanjakan terus, deh.

Hidup seperti roda pedati. Tidak selalu di atas. Sebagai orang tua, kita juga jadi belajar waspada. Sedari kecil mengajarkan kesederhanaan dan kerja keras pada anak-anak. Terlalu berat kalau mikirin negara, keluarga saja dulu :D.

Faktanya, lebih berat mengajarkan kesederhanaan pada mereka kala kita diberi kelonggaran rezeki. Kalau rezekinya sempit mah, mau tak mau kudu hemat hehehehe. Tapi coba kalau kita memiliki materi berlimpah? Gatal kan beliin ini itu buat anak-anak atas nama cinta dan, “La memang cari uang untuk mereka, kok.”

Nasib mereka tak pernah bisa kita ramalkan. Tugas kita hanya membangun pondasi yang kuat yang bisa mereka pakai untuk menempuh hidup. Siapa yang tahu, kehidupan mereka secara ekonomi di masa depan? Apa akan sejaya orang tuanya kini?

Makanya, ajarkan kesederhanaan dan kerja keras. Agar seperti apa pun mereka di masa depan, mereka tidak melumrahkan kehidupan dengan misalnya : baju-baju bermerek yang harganya tidak murah, makan di tempat mahal-mahal, liburan mesti ke hotel ;).

Kalau takdir menjadikan mereka sejaya kita sih tak masalah. Tapi apabila hidup menempa mereka lebih keras, siap tidak pakai baju murah makan di warteg? 😛

Bukan hal mudah memang. Ini catatan buat saya juga. Mampukan kami semua ya, Allah :).

***

Setetes Embun di Majalah Kartini

Kabar gembira nih dari rubrik Setetes Embun di Majalah Kartini ^_^.

Di Facebook, seorang teman men-tag saya di postingannya dengan cover Majalah Kartini. Intinya mengabari kalau tulisan saya ada yang dimuat di sana. Kaget juga. Redaktur sama sekali tidak memberi kabar. Dimuatnya tepat satu edisi setelah edisi yang memuat tulisan jalan-jalan kemarin. Padahal waktu liburan ke Jakarta harusnya sempat beli, tuh. Tapi karena gak tahu ya gak beli hehehe :P.

Belinya yang memuat tulisan jalan-jalan ke Thaif itu saja. Tahu gitu kan bisa beli satu edisi setelahnya lagi :(. Ya sudahlah, tahunya juga belakangan hehehe.

Untungnya di baqala Indonesia (Singaparna) ternyata menjual Kartini edisi ini. Horeeeee… Dimuat di rubrik setetes embun di Majalah Kartini. Akhirnya non fiksi selain tulisan jalan-jalan mulai menemukan jodohnya *tsaaahhh*.

Saya pikir kabar bahagia tentang jejak pena di media cetak sudah berakhir di tahun ini. Ternyata ada lagi. Alhamdulillah.

Terima kasih, Majalah Kartini ;).

Berikut tulisannya ya, naskah asli yang saya kirim ke Majalah Kartini sebagai  berikut (saya modifikasi dari tulisan “Every Mom Has Her Own Battle”, ganti-ganti katanya dikit biar lebih formal ^-^)  :

Ini dia

Contoh Tulisan Setetes Embun di Majalah Kartini

***

Salah satu ‘perang dingin’ yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. (Stay at Home Mom vs Working Mom).

Ibu Pekerja akan jumawa memamerkan dirinya sebagai potret emansipasi. Punya uang sendiri, berdiri di atas kaki sendiri. Merasa menampilkan wajah modern perempuan terkini.

Sedangkan Ibu Rumah Tangga akan membanggakan baktinya sebagai potret sejati seorang Ibu. Tinggal di rumah, merawat anak langsung dengan tangan sendiri adalah pekerjaan mulia tiada terkira. Dengan keyakinan penuh bahwa surgalah balasannya kelak.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru. Ibu yang tinggal di rumah namun tetap berbisnis dan menghasilkan uang.

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, menggenggam kemandirian sekaligus berperan aktif dalam rumah sepanjang hari.

Parenting style itu unik tiap keluarga. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Sekaligus tidak meyakini sepenuhnya bahwa para WM harus mengorbankan keluarganya demi karier.

Ibu saya tidak di rumah sepanjang waktu. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya. Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama sepanjang hari di rumah bersama kami.

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai Ibu Kantoran. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur ’Ibu Rumah Tangga’. Tapi kenyataan membuktikan anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Ibu Kantoran 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. Itu pilihan saya pribadi. Buat saya, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain.Tentu banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Tidak 100%  kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

Tak perlu mencibir Ibu Kantoran yang menghabiskan banyak waktu di kantor. Sementara anak mungkin dititipkan kepada pengasuh atau kerabat.

Jangan lupa, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dilepas begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan menghakiminya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Jangan meremehkan para Ibu yang memilih untuk tak berbagi dengan siapa pun dalam pengasuhan anak dan urusan rumah tangga. Sekali pun mungkin mereka pernah mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya. Jangan anggap sepele, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera yang dimiliki mereka, yang memilih jalan ini.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karier demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja, tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain? Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka, jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “Selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaham bahkan Ibu Pelajar. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.

Semua pasti ada pengorbanannya. Setiap Ibu punya pertaruhan masing-masing. Menangkan pertempuran yang Anda pilih tanpa perlu nyinyir terhadap mereka yang memilih jalan ’lain’.

***

Tertarik mengirim ke rubrik Setetes embun di Majalah Kartini? Kirim saja ke email redaksi_kartini@yahoo.com ;).