Berbicara Agama

Ini copas dari status di facebook tempo hari. Pantes lah saya gak bisa cocok sama Twitter. Biarpun dari dulu punya @davincka. Status facebook aja mesti deh minimal 5 paragraf, hehehehehe :P.

Status ini ditulis di tanggal 1 september kemarin. Pas lagi hangat-hangatnya isu Sampang sepertinya :D.
Lumayanlah buat nambah-nambah isi blog :D.

***

Bukan main. Luar biasa. Beberapa isu sensitif (agama, dkk) dalam rentetan peristiwa sekaligus.

Pilkada DKI yang awalnya saya pikir akan menggiring orang-orang untuk akhirnya menyadari bahwa musuh utama tanah air adalah PARA KORUPTOR, sekarang malah berputar-putar di urusan agama.

Konflik Rohingya, yang pernah ternoda oleh penebaran foto-foto palsu bukannya membuat kita tergerak untuk menolong.

Malah membuat foto-foto tentang kebencian terhadap agama Budha sempat beredar luas :(. Saya percaya betul segala penganiayaan itu ada, tapi lihat dong efeknya kalau mata Anda disuguhi foto-foto bombastis).Terus ada #SaveMaryam dengan slogan 2 juta nya. Ah, cuma salah data doang. Beritanya kan mungkin benar. Tapi cermati tujuan si pembuat video. Adakah video ini akan booming kalau mereka ganti datanya misalnya cuma 200 ribu?

Konflik Suriah, saya pikir akan dipahami sebagai lanjutan intervensi pemerintah AS di Timur Tengah (setelah sukses ‘menggoyang’ Mesir, Libya, dan sekarang giliran Suriah). Mulai dihembus-hembuskan sebagai isu kontroversial yang sudah hidup berabad-abad lamanya Sunni vs Syiah.

Isu Sunni vs Syiah diam-diam sudah berkembang sejak awal tahun. Tapi mengapa tiba-tiba ramai di tanah air? Ya karena ada peristiwa Sampang. Selain habis-habisan dikutuk sebagai penyulut pertikaian, paham Syiah pun secara internasional mulai dilirik dan dibahas.

Agak sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kita tidak merasa bingung!

Karena banyak media-media yang dengan mudah menjajakan liputan-liputannya kemana-mana.

Pengalaman pribadi yang pernah saya alami sendiri atas ‘ampuh’nya media internasional memborbardir dunia adalah perisitiwa pemilihan Presiden Iran di tahun 2009. Pemilu 2009 kembali membawa Ahmadinejad memperopleh mahkota pemimpin.

Saya tidak berbicara apakah Syiah sesat bla bla bla, atau apakah Ahmadinejad memperoleh suara terbanyak dengan cara ‘negatif’.

Tapi fakta yang saya tahu pasti, saat protes warga terhadap hasil pemilu, media internasional sudah BERBOHONG besar-besaran. BERBOHONGnya kompak lagi. Yaeyalaaahhh, negara penghasil minyak terbesar di Tim Teng nya kan ‘pacar’nya pemerintah AS. Jangan pura-pura gak tahu, ya ;).

Bukan asal bicara, awal Juni hinggal awal agustus, saya sekeluarga tengah bermukim di kota Tehran. Liputan-liputan media asing internasional diputar berulang-ulang dengan menyuguhkan tayangan yang itu-itu saja. Seolah-olah terjadi kerusuhan massal dan berdarah-darah di Tehran.

Saya sampai kewalahan menerima banyak email dari kerabat, bekas teman-teman kantor, dan teman-teman kuliah, dsb.

Saya tinggal di sekitar Vanak Street, salah satu wilayah jantung kota. Sumpah ya booo, kagak ada apa-apaan! Memang ada protes massal, tapi apa dikira berlangsung sepanjang hari?

Suami saya tetap ke kantor seperti biasa. Karena saya lihat di televisi, BBC, AL Jazeera, dkk, ramai-ramai membahas Tehran, wuiiihhh, jadi kepo dong kita hehehehe.

Gedung apartemen saya memiliki kaca jendela raksasa yang menghiasi seluruh dinding ruang tamu yang menghadap ke jalan. Tak perlu payah-payah saya bisa mengintip ke arah jalan kapan pun dengan mata telanjang. Kok sepi?

Saya telpon suami. Jawabannya bikin saya ngakak, “ooohh, demonya nanti. Kan masih pada kerja. Nanti bubaran kantor baru pada demo lagi.” Ahahahahahahaha.

Gak niat benar, deh :P. Harus belajar dari Indonesia nih. Demo itu ya Mas-mas Mbak-mbak Tehran kudu dari pagi ampe besok pagi laginya. Emang harus capek. Ya kalo nunggu jam kantor kelar, terus abis itu abis magrib udah bubaran, ya kapan suksesnya? hehehe.

Tapi, yang terlihat di berita-berita TV yang diputar tiap jam sekali mungkin (saya pantau terus BBC dan CNN), adalah massa beramai-ramai demo dan berteriak-teriak. Memang ada korban penembakan. Liputan empuk, nih. Saya sampai bosan lihat tayangan itu diputar berulang kali di waktu yang sama, dan pakai slow motion segala.

Bahkan saat demo tiba, masih banyak tempat-tempat publik yang buka seperti toko, dll. Suwer deh, kagak ada mencekam-mencekamnya pisan. Saya sampai gatal pengin ke jalan lihat orang-orang berdemo itu. Tapi rasa penakut saya sendiri yang mengurungkan niat itu hihihihihi.

Mungkin, Syiah itu punya pemahaman BERBEDA, mungkin mereka di mata kita SESAT (saya pun mengaplikasikan Islam saya sebagai seorang Sunni). Tapi jangan lupakan fakta soal Syiah. Bahwa pemerintah Iran, dedengkotnya para Syiah, adalah yang paling keras mendengungkan soal ‘Anti Zionisme ISrael’.

Iran tak anti Yahudi, lho. Bedakan zionisme Israel vs umat Yahudi di seluruh dunia. Konon, ada orang Yahudi yang hidup damai di tengah-tengah Iran. Jangan salah, warga Palestina juga ada yang berasal dari keturunan Yahudi. Jadi, jangan sampai salah menyebarkan ‘kebencian’ :).

Pertama kali Ahmadinejad menjadi Presiden di Iran, media nasional ramai-ramai memuji beliau. Jadi tenar deh langsung Ahmadinejad. Entah mengapa saat itu tak ramai membahas Syiah. Bener-bener deh, kita ini mengapa begitu mudah tersulut?

Soal ‘sisi lain’ kejadian di Suriah, ini ada link pembanding. Jangan langsung skeptis krena yang menulis adalah Ibu Dina Sulaeman, yang pernah tinggal di Iran, dan (mungkin) sudah menganut Syiah atau minimal pro Syiah. Baca saja dulu, ya.

Setelah baca, kalau Anda tetap berkeras bahwa Syiah memang ingin membantai Sunni, bolehlah menyimak sedikit ke ‘belakang’. Saat Irak berguncang di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, siapa yang berperan menjadi ‘korban’?

(linknya saya taruh dalam komen. Biar tulisan ini tidak langsung menunjuk pada link nya. Ntar disangka Syiah dan sesat lah saya. Karena menurut menteri agama, “mereka yang tidak menganggap Syiah sesat maka mereka sesat.”) 🙁

Gak akan ada habisnya gak, sih? Apakah pengabdian kita kepada agama akan selalu berbanding lurus dengan pemeliharaan kebencian terhadap penganut kepercayaan lain? (note : syiah dianggap bukan Islam!). Istilah favorit saya yang ditulis oleh salah satu peserta lomba menulis di MP adalah : istiqomah di dalam, toleransi di luar.

Apakah dalam menyiarkan kepercayaan mesti dengan menjelek-jelekkan kepercayaan lain?

Bagaimana kalau menyuarakan kelebihan-kelebihan kepercayaan Anda? Masa sih, menjatuhkan ‘pihak lain’ akan kita yakini sebagai cara untuk menaikkan ‘pihak kita’? Black campaign itu lama-lama #eaaahhhh….

Seberapa besar pun amarah yang berkobar di dada Anda, seberapa cintanya Anda pada ajaran yang menurut Anda telah diinjak-injak oleh orang-orang Syiah, jangan sampai rasa keadilan ikut lebur.

Jangan merasa ini kepentingan Allah. Allah maha Sempurna. Allah tidak butuh Anda untuk membelaNya. Kita beribadah untuk kebaikan kita sendiri, bukan untuk Allah. Tak ada cerita, keagunganNya akan berkurang bila sudah tak ada lagi yang peduli pada ajaranNya. Kalau Anda menyimpang, yang rugi bukan Allah, diri kita sendiri, kan? Camkan hal yang sama untul orang-orang yang Anda anggap sesat.

Anggap saja ini tulisan orang ‘liberalis’ atau ‘pluralis’ atau apalah yang Anda suka. Mungkin ada trend baru yang saya tidak tahu :D.

Ini kan cuma pendapat pribadi saja. Yang mungkin tak saya dapat dari duduk berjam-jam, bertahun-tahun menghapalkan ayat suci. Tapi saya dapatkan dari kehidupan sehari-hari melalui pengalaman dari kesempatan yang diberikan Allah untuk pernah mencicipi hal-hal lain, hidup di tanah berbeda-beda.

Dan mengajarkan bahwa sampai mati pun tak mungkin saya berharap : “ya Tuhan, kenapa seluruh dunia bukan orang Bugis semua? Kalau bisa Bugis-Islam. Dan kalau bisa Islamnya pun harus Sunni. Kalau bisa semua perempuannya pakai jilbab dan abaya hitam, biar gak pusing mereka gonta-ganti baju. Hehehehe” :).

Bila Kau Tidak Mendapatkan Apa yang Kau Inginkan?

by : Jihan Davincka

***

Mungkin saja itu keberuntunganmu!
Tidak percaya?

***

Waktu kelas 6 SD, saya sudah pernah bercerita bahwa bapak saya meninggal karena serangan jantung. Malam itu, Tuhan menepis permintaan saya untuk mengirimkan Bapak kembali pulang ke rumah. Instead, keesokan harinya, kami sekeluarga bersiap-siap untuk mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya.Rasanya sedih sekali. Wajarlah. Siapa yang tidak? It was too soon :(.

Benarkah? Tunggu dulu :).

Sepertinya kekecewaan akan berlanjut. Beberapa tahun setelah itu, things happened. Saya tidak pernah suka membicarakan detailnya seperti apa, tapi yang jelas…waktu itu saya bersorak karena Mama bilang saya akan pindah sekolah ke Jakarta.

Saya kelas 1 SMA dan akan mengakhiri cawu 1 di sekolah. Mama bilang saya sudah harus mengurus kepindahan saya, bilang ke wali kelas segala. Dan tentu saja berfoto-foto dengan teman-teman sekelas sebagai tanda perpisahan. Sejak itu, yang terucap dalam doa-doa saya hanya, “Semoga lancar…semoga lancar…” Saya dari dulu kepengin benar pindah domisili biar ngerasain yang namanya merantau dari kampung kelahiran.

Lagi-lagi … tidak kejadian! Tidak usah dibahas kenapa. Yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah, adik saya malah yang pindah. Dua kali lipat kecewanya. Padahal adik saya malah enggan disuruh  pindah ke Jakarta tadinya.

Belum lagi menepis rasa malu karena masa sudah berfoto habis-habisan, peluk-pelukan sana sini, ternyata di hari pertama cawu 2, saya tetap muncul di kelas. Huhuhu.

Tapi belum genap tiga tahun kemudian, saya malah mengobrol dengan Mama di atas kapal laut yang akan membawa saya ke kota Jakarta. Hihihihi, tahun segitu, kapal laut masih jaya-jayanya dan harga tiket pesawat masih amit-amit jabang bayi :D.

Mama bilang, “Kalau Bapakmu masih ada, gak mungkin dapat izin kuliah ke luar kota. Kakakmu dulu saja mau kuliah di Surabaya, mati-matian diurus biar bisa pindah ke Makassar.”

“Tapi kan akhirnya kuliah juga di Surabaya.”

“Ya, tapi kau kan anak perempuan. Gak akan dibolehin.”

Saya baru tahu, waktu kakak saya diterima di ITS, bapak pernah ‘menyewa’ orang yang mengiming-imingi kalau dia bisa merubah hasil Sipenmaru. Hahaha. Dimaklumi ya, almarhum Bapak enggak makan bangku sekolah. Makannya nasi dong hahaha :p.

Mama benar juga. Bapak memang ekstra protektif terhadap saya dan adik perempuan saya. Dua anak perempuan diantara ketujuh anaknya yang lain. Mama jauh lebih ‘nyeleneh’ dan ‘santai’.

Di akhir juli tahun 1998, nama saya tercantum di koran sebagai salah satu siswi yang lulus UMPTN. Bukan di universitas negeri kota kelahiran saya. Tapi di universitas negeri di ibukota.

Belum tentu saya bisa dengan mulus berangkat ke sana jika saja kelas 1 SMA saya benar-benar pindah ke Jakarta. Semua orang dekat saya paham saya bukan tipe orang yang mudah menyesuaikan diri dengan ‘kehidupan baru’. Bisa saja di Jakarta kompetisi lebih ketat dan saya lebih senewen. Biarpun kelihatan luwes dalam beradaptasi but I AM definitely NOT! :D.

Bila bapak masih ada, saya meyakini, beliau pasti akan menentang keras. Biarpun untuk kasus Bapak ini, kalaupun masa lalu bisa menarik saya kembali ke malam itu, saya akan tetap berharap hal yang sama … saya inginnya beliau diberi umur lebih panjang.

***

Saya juga memasang tulisan ini di dekat monitor PC saya di tempat bekerja saya dahulu. Perusahaan pertama yang menerima saya saat saya bahkan belum diwisuda. Terima kasih, ya, Manulife. Hehehe. Hampir empat tahun bekerja di sana, those almost-4-years are one of the best times in my life.

Tapi namanya manusia. Saya pun kadang ingin terbang lebih tinggi. Mencoba interview di tempat lain yang menjanjikan karir lebih baik (ehm…gaji yang lebih tinggi? :P). Tapi seringnya…gagal! Dan kalau gagal, untuk membangkitkan semangat, saya baca saja berulang-ulang ‘mantera’ saya itu.

Sahabat saya pernah bilang, “Model pelor kayak elo ya mana kuat, Jee, kerja di konsultan. Emang paling cocok di end-user. Lo kan suka marah-marah kalau begadang. Kalo belajar bareng pun, banyakan tidurnya.” Hahaha.

Tapi dia tidak salah. Saya bukan tipe ‘manusia malam’. Sekalinya sahabat saya itu membujuk saya ke bioskop malam-malam untuk pertunjukan pukul jam 8 malam. Jam setengah sepuluh, saya sudah setengah terlelap di bangku bioskop. Hihihihi. Pantang mengajak saya melakukan aktifitas di malam hari :P. Saya manusia ‘subuh’ kalau kata sahabat saya, hehehe. Enaknya diajak lari pagi mungkin? ;).

Memang, harus menunggu hampir empat tahun untuk akhirnya melangkah pergi. Dan kepakan sayap pertama itu malah mengantarkan saya bekerja di tempat yang memang pernah saya impi-impikan.

Pekerjaan yang memang tidak membutuhkan saya untuk banyak begadang dengan gaji yang tidak terlalu jelek. Cukup besar malah menurut saya :P. Perusahaan yang beberapa kali menjadi ‘Indonesia’s the most admired company‘ ;). Bukan konsultan IT.

Biarpun akhirnya setelah beberapa tahun berlabuh di tempat itu, saya akhirnya menyudahi karir saya di sana. Waktu itu rencananya ingin melanjutkan sekolah ke jenjang S2. Mencoba ikhtiar kembali untuk menggali kembali impian lama yang hampir terkubur rapat. Menjadi dosen :).

***

Saat sudah hendak mendaftar ulang sebagai mahasiswi S2, takdir lain kembali menghampiri. Suami saya bilang, kalau dia ingin saya dan anak saya ikut bersamanya ke luar negeri. Duh, gagal lagi, deh, cita-cita satu ini.

Bulan april 2010, Montreal lah tujuan kami. Sebenarnya suami lebih menginginkan untuk tetap di Jeddah, tapi iqama (resident permit) tak kunjung datang. Jadi saya dan anak saya tak kunjung bisa ikut serta ke Jeddah. Kami tidak suka berlama-lama hidup terpisah.

Akhirnya suami mencoba peruntungan di negara lain. Dan dengan tangan terbuka, Montreal mengirimkan final offer dan kami bersiap-siap untuk pengurusan visa. Jangan ditanya senangnya saya. Montreal adalah salah satu kota impian saya. Selain ingin melihat salju, saya tahu kota ini salah satu kota tercantik di negara Kanada. Sibuklah saya menelepon kakak saya untuk menemani saya berburu mantel dan sepatu boot. Hihihihi. Cetek bener, dah :P.

Tak disangka, selang dua hari, final offer dari Montreal diterima, tawaran Iqama juga datang dari Jeddah. Dan secara mengejutkan, suami saya memilih Jeddah!

Suami saya sama keras kepalanya dengan saya. Dan saya tidak menampik, alasan dia lebih masuk akal. Jadilah dengan setengah hati, saya mengemasi koper, membuang jauh-jauh rencana berburu mantel + boot, dan mengomel panjang lebar disertai ultimatum ke suami, “pokoknya jangan lama-lama, ya. Satu tahun itu udah lama banget!”

***

Dan lihatlah sekarang. genap sudah dua tahun saya dan keluarga kecil saya berpijak di salah satu kota terbesar kedua di negara Saudi ini. Yang berjarak hanya 70 km dari kota suci Mekkah. Dan hanya perlu menyetir 3 jam melewati jalanan mulus sepanjang 400 km (gak pake macet!) untuk berziarah ke kota Nabi di Madinah.

Seminggu pertama saya menjejakkan kaki disini tidak terpikir untuk melewati banyak hal menarik disini. Tinggal di Jeddah yang awalnya saya yakini akan menjadi ‘momen kemunduran’ malah menghadirkan banyak hal penting.

Anak kedua saya lahir disini. Proses produksinya juga di Jeddah, hihihihi. Gagal mengejar mimpi menjadi dosen membuat saya menemukan passion sejati saya.

Bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SD, saya sangat suka mengolah kata di atas kertas. Menulis banyak sekali cerita fiksi. Banyak naskah drama, yang setelah saya tulis, saya bawa ke kelas, dan saya minta teman-teman saya berlakon sesuai skenario yang saya buat tadi. Hahahaha. Saya sering membagi-bagikan tulisan saya secara gratis.

Entah kenapa, begitu SMP dan seterusnya, hobi menulis ini nyaris hilang. Hanya sekedar menulis iseng di buku harian saja. Makanya, teman-teman SD saya tak ada yang terkejut ketika sekarang ini saya suka ‘menulis dengan lebih serius’. Sedangkan teman SMP, SMA, kuliah, kantor, bahkan suami saya sendiri mengernyitkan dahi, “sejak kapan bisa menulis? kenapa tiba-tiba?” hehehe.

Hobi menulis membawa saya mengajak teman-teman saya menerbitkan sebuah buku. Yang lagi-lagi prosesnya di Jeddah.

Juga membuat dua blog komunitas. Mamasejagat untuk teman-teman sesama ibu-ibu yang sedang bermukim di luar negeri. Dan blog ceritaJeddah untuk teman-teman di Jeddah yang ingin berbagi cerita.

Ah, blog yang isinya ramai-ramai pasti lebih gampang. Eit, siapa bilang? Butuh kesabaran dan konsistensi untuk membujuk orang-orang lain menorehkan kisahnya disana. Perlu pakai acara wawancara pula kadang-kadang hehehe.

***

Tak ada orang yang seumur hidupnya selalu menengadahkan tangan ke atas dan dalam sekejap waktu segala permohonannya terhidang di hadapan mata. Tidak ada.

Tapi tak pernah ada alasan untuk putus asa dan kecewa berkepanjangan. Bukannya Tuhan menepis keinginan kita, He’s just preparing something better.

Jadi, betul bukan kata saya di awal tulisan ini, bahwa : “Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan? Maka, mungkin itu saja keberuntunganmu!” ;).

(Apalah) Arti Sebuah Nama

by : Jihan Davincka

***

Hanya satu kata di akte kelahiran saya yang menunjukkan identitas nama lahir saya : JIHAN.

JIHAN sendiri diambil dari nama istri salah seorang presiden Mesir yang cukup terkenal di penghujung tahun 70 an, Anwar Sadat. Nama istri Presiden Sadat adalah Lady Jihan. Kakak saya sendiri juga ada, lho, yang namanya Anwar Sadat :P.

Kemungkinan besar nama Jihan Fahira pun diambil dari nama Lady Jihan ini. Mengingat Jihan yang ini lahirnya Januari 1978, tepat dua tahun sebelum saya. Hehehehe *pentingYeeee*.

Masalah mulai muncul ketika sekolah, nama harus pakai dua kata. Jadilah waktu SD, nama saya menjadi “Jihan Syamsuddin”. “Syamsuddin” itu nama Bapak.

Nama “Davincka” resmi saya tambahkan sendiri sejak duduk di bangku SMP. “Behind the scene” nama ini sendiri kok ya malas ya ngebahasnya hihihihi. Entar deh kapan-kapan :P.

***

Sebenarnya saya kurang puas, nih, dengan fakta nama satu kata ini. Jadilah, kedua anak saya, masing-masing memiliki 3 kata sebagai nama lahirnya di akte kelahiran. Hihihihihi *balasDendam*.

Ketika membuat akun email pertama kali di tahun 1998, tahun pertama kuliah, tanpa berpikir panjang, langsung memilih nama Davincka. Dan hampir semua identitas di dunia maya akhirnya menggunakan embel-embel Davincka ini.

Untuk teman-teman SMP, SMA, kuliah dan kantor, pasti langsung mengenali nama ini :D. Teman SD yang suka bertanya-tanya.

***

Begitu media sosial bermunculan, saya pun tak ragu-ragu mencantumkan nama “Jihan Davincka.” Ingat, ya. Pakai C dan K sekaligus *penting!* :D.

Masalah nama kadang tidak bisa dianggap sepele. Begitu mulai menikah, saya melihat beberapa teman mengganti nama belakang mereka. Saya suka kebingungan kadang-kadang. Kenapa mesti mengganti nama belakang, sih?

Hal lainnya adalah ketika ada invitation dari beberapa teman lama yang malah menuliskan namanya sebagai “Bundanya anu” atau “Umminya X” atau “Mamanya D.” Dan diper’parah’ dengan profil foto anak-anak mereka -_-. My oh my. How am I supposed to recognize you, my dear friends? Hehehehehe.

Makanya bukan cuma karena alasan narsis semata, mengapa saya lebih senang memakai foto diri sendiri untuk profil apa pun di dunia maya. Akhir-akhir ini lebih sering berfoto bertiga karena ‘terganggu’ dengan beberapa pesan yang bernada ‘kurang sopan’. Entah itu dari antah berantah atau dari teman lama yang mungkin malas mengecek sendiri isi info pribadi.

Foto bersama anak sekaligus menegaskan, “I’m married with 2 boys. Back off!” Mamak-mamak yang sok kecakepan bener gak, sih? Ahahahahaha.

_MG_6651

***

Dan baru-baru ini pun saya ‘terpaksa’ harus (lagi-lagi) memindahkan isi blog ke tempat yang baru. Saya pilihlah nama Jihan Davincka di wordpress ini. Apalah arti sebuah nama ya :D.

Semua postingan akhirnya rampung dipindahkan kesini. Biarpun ‘benah-benah’nya belum rampung 100%.

Foto profil pastilah memilih foto diri sendiri. Untuk blog karena komunikasinya lebih banyak satu arah, saya tak merasa perlu pamer-pamer foto anak jadi foto profil. Nama blog pun memilih nama sendiri (ini sih karena males repot + mikir lagi hehehe).

Sebagai seorang perempuan, identitas kadang menjadi ‘labil’. Dari kecil hingga dewasa, kita akan dikenali sebagai anaknya Pak Anu. Ketika sudah menikah, nama belakang pun ikut diganti. Padahal menurut guru mengaji saya disini, nama belakang seorang muslimah seharusnya tetap menggunakan nama Bapak, bahkan setelah menikah.

Setelah punya anak, berubah menjadi “Bunda/Mama/Ummi/Ibu-nya Anu.” Kalau teman baru di dunia maya, rasanya risih saya bertanya, “Mbak, namanya siapa, ya?” Jadi dengan canggung saya menyapa, “Mbak Bundanya X, apa kabar?” Hihihihihihi.

Saya rasa, berstatus apa pun seorang wanita (dari kecil hingga dewasa dan punya anak), identitas sebagai pribadi tetap harus dijaga :).

Jadi, saya adalah Jihan. Jihan Davincka ;). Jihan Davincka yang sekarang sekaligus menjadi seorang istri dan Ibu dari 2 anak laki-laki.

_MG_1747

Cara menerbitkan buku indie

Kritik Terhadap Bunda of Arabia

***

Kritik pertama adalah soal keakuratan isinya.

Sebelum “Bunda of Arabia” terbit, sebenarnya telah terbit satu buku non fiksi bergenre komedi yang bertajuk “Kedai 1001 Mimpi” yang dikarang oleh Vabyo, yang juga menggunakan latar belakang negara Saudi.

Ketika gencar berpromosi di beberapa milis (thanks to Bapak Dani hehehehe, Baba of Arabia :P), beberapa orang bertanya tentang “Bunda of Arabia” dan “Kedai 1001 Mimpi.” Isinya dianggap bertentangan.”Kedai 1001 Mimpi” karangan Vabyo (yang konon laris manis ini) diterbitkan oleh penerbit formal, Gagasmedia.

Gagasmedia sendiri kebetulan penerbit yang banyak melahirkan penulis-penulis favorit saya seperti suami istri Adhitya Mulya-Ninit Yunita dan Raditya Dika.Sayangnya sampai sekarang saya sendiri belum membaca buku ini. Tapi dari banyak review di berbagai media online, saya jadi maklum kenapa sampai disebut-sebut ‘bertentangan’.Sebenarnya, kedua buku tersebut TIDAK BERTENTANGAN sama sekali :). Kok, kok, kok???

Sudut pandang penceritanya berbeda. Ini nih pokok perbedaannya :).

Vabyo datang ke Saudi dengan ‘menyamar’ sebagai TKI informal dan bekerja di beberapa tempat untuk mengumpulkan bahan cerita.

Sedangkan “Bunda of Arabia” ditulis oleh ibu-ibu asal Indonesia yang datang ke Jeddah untuk mengikuti suami yang bekerja di sana. Spesifik tentang kota Jeddah dan sekitarnya.

Apa yang diceritakan Vabyo dalam “kedai 1001 mimpi” adalah kumpulan pengalamannya bekerja di Saudi selama (kalau tidak salah) 3 pekan (apa 3 bulan), ya.

Sedangkan para Bunda yang menuangkan pengalamannya di “Bunda of Arabia” rata-rata sudah bermukim minimal satu tahun.

Saya tidak suka menceritakan hal ini. Tapi memang pada kenyataannya kaum pekerja formal di kota Jeddah memiliki ‘dunia yang berbeda’ dengan dengan kaum pekerja informal.

Anda jangan lantas menganggap pekerja formal disini sombong. Salah satu sahabat saya disini, akibat terlalu entah lugu entah apa, dimanfaatkan secara materi oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.

Oknum, sih. Tapi ya, pengalaman itu guru paling berharga, bukan?

Juga jumlah kaum informal terlalu banyak. Dan nyaris tak tersentuh karena mereka tinggal di lingkungan tertentu dan seringnya berkelompok. Kerasnya kehidupan yang mereka alami mungkin sudah mengikis separuh rasa kesantunan mereka. Tapi jangan digeneralisir. Tentu tidak semuanya :).

Hal-hal ‘sensitif’ ini tak mudah untuk saya terangkan panjang lebar dalam tulisan :(.

***

Kritik kedua adalah isi “Bunda of Arabia” kok kayaknya ‘senang-senang’ semua? Emberrrrrr ahahahahahahaa :P.

Bunda-bunda hepi 😀

Justru sebenarnya saya menggagas buku ini sebagai penyeimbang. Atas berita-berita yang menurut saya terlalu berat sebelah tentang salah satu negara ‘penguasa’ gurun ini. Terutama mengenai kehidupan orang-orang yang berasal dari tanah air.

Saya sudah mengawalinya dengan blog mamasejagat dan ceritaJeddah. Tapi tentu perlu ada langkah lebih ‘serius’. Jadilah saya, yang memang memendam mimpi menjadi penulis (kelak), memberanikan diri mengangkat sisi lain ini ke dalam buku “Bunda of Arabia.”

Ah, berarti untuk kalangan terbatas. Kalau menilik tujuan awalnya saya setuju jika orang-orang berkata ini untuk kalangan terbatas. Makanya saya pantang berdebat lebih jauh ketika mencoba menawarkan naskah buku kepada sebuah penerbit formal dan langsung ditolak dengan alasan ‘segmented readers’. Saya sepenuhnya paham :).

Waktu membahas isu ini pun, resistensi dari rekan-rekan Bunda yang saya tawari untuk ikut menulis pun sudah ada.

Bahkan saya akhirnya rela mengganti judul yang awalnya adalah : “How can we not love Jeddah?” menjadi “Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati” untuk ‘menggaet’ salah satu penulis yang awalnya hendak hengkang, padahal dia adalah penulis incaran utama saya.

Beliau inilah yang sebenarnya memiliki kemampuan menulis yang paling ‘mumpuni’ diantara kami hehehe. Heran saya, orangnya masih gak pede juga melangkah lebih ‘jauh’ padahal sudah saya komporin hehehehe. Mana buku solo-mu, Mbaaaaakkkk? :D.

Demikian juga dengan rekan penulis lain yang menunjukkan keengganan saat saya minta menulis dengan tema yang sudah saya tetapkan. Meskipun tidak kepada saya, saya tahu dia meminta pertimbangan dari mana-mana. Saya maklum. Dia takut disangka mau pamer. Tapi alhamdulillah, melalui BBM intensif, beliau pun akhirnya ‘takluk’ dan mau nyetor tulisan hehehe.

Perempuan Indonesia yang banyak mendiami wilayah Saudi, sebagian besar datang dengan status TKW. Dan diantara mereka, jumlah terbesarnya memang ada di ranah domestik, sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh anak.

Jadi, kami (para penulis) pun mencoba sangat berhati-hati dalam tiap tulisan. Agar orang tak lantas menuduh kami sebagai ‘musuh dalam selimut’. Dan demi Tuhan, kami tak ada yang menentang dan tak ‘memusuhi’ apalagi memandang rendah pada mereka. Setiap orang berhak mencari rezeki halal dengan kesanggupannya masing-masing.

Maka dari itu, butuh kerja ekstra untuk terus menumbuhkan semangat ini kepada rekan penulis yang lain, bahkan mengusir ‘ketakutan’ yang sering hinggap di pikiran saya sendiri.

Meskipun tetap ada teman yang malah menganjurkan menulis tentang ‘tema perjuangan’, mengangkat kisah-kisah TKW dan semacamnya. Ini memang mungkin akan menjadi topik populer (mengingat kisah menyayat hati memang cukup laku di tanah air hehehe), tapi justru kisah-kisah seperti ini yang saya hindari.

Maksud saya, cukuplah berita-berita memilukan hati ini dimanfaatkan oleh media untuk menaikkan jumlah pembaca mereka. Sekali lagi, saya ingin menghadirkan ‘kisah penyeimbang’ :).

Jadi ya, dari awal pun, tujuannya malah untuk memperkenalkan ‘sisi lain Saudi’ kepada tanah air. Agar kalau Anda-anda kebetulan sedang umrah dan hajian, bertemu dengan perempuan berabaya hitam di masjidil haram, Anda tidak buru-buru memandangi mereka dengan rasa kasihan, mengeluarkan uang 10 riyal untuk anak kecil yang mereka bawa dan berucap, “senang disini? majikannya baik?” hehehehe ;). Terlepas dari apakah cerita macam ini akan ‘laku’ atau tidak :).

Bahwa hidup di kota Jeddah mungkin memang serba dilarang tapi ada hal-hal lain yang akan membuat iri para perantau asal Indonesia di negara lain :P.

***

Kritik ketiga, judulnya terlalu ‘drama’ sementara isinya sangat deskriptif. Hehehehe.

Saya akui pemilihan judul memang untuk menarik perhatian publik :D. Dan kalimat ini yang selalu terngiang di kepala saya saat melihat foto-foto teman-teman disini yang hobi sekali ‘foto loncat-loncat’ kalau lagi main ke pantai hihihihihi. Sebenarnya selain dicomot dari salah satu lirik lagu Kahitna, kalimat ini juga saya jadikan judul foto teman-teman yang tempo hari piknik ke South Corniche. Saya tak ikut, tapi saya yang menuliskan ceritanya di blog hehehe.

Ada pun tentang cara penulisan dan sebagainya, saya cuma mau bilang, kami tak ada yang berprofesi penulis sebelumnya. Harap dimaklumi :P. Cuma 3 orang blogger dan 6 orang Bunda yang mungkin sebenarnya ‘terpaksa’ karena saya teror terus. Ahahahaha.

***

Terima kasih atas pihak yang sudah membeli dan memberikan kritikan dan memberi review untuk buku kami :).

Bagi yang belum beli, saran saya cuma satu : inbox saya secepatnya, ya! hehehehehe.

Jangan lupa kunjungi page kami, di facebook – fanpage ini.

Salam dari Jeddah

Jihan Davincka, on behalf of penulis “Bunda of Arabia” (Ibu Euis Fauziah, Ibu Vica Item, Ibu Aina Hidayati, Ibu Nining HaerAni, Ibu Ismiyati Afni, Ibu Dini Fabria, Ibu Alfiani, Ibu Mira Sonia).

Semua Anak … Cerdas!

“Kunci kesuksesan anak Anda? Matematika dan bahasa Inggris!” Begitu isi tulisan sebuah spanduk yang terpampang lebar-lebar yang dipasang di sebuah jembatan penyeberangan.

Saya tidak sengaja melihatnya ketika melewati salah satu jalan protokol ibu kota. Lagi macet parah. Daripada putus asa karena taksi saya tak kunjung bergerak maju, saya alihkan saja pandangan menyisir apa saja selain keruwetan yang terjadi di depan jalan sana.

Kelihatan spanduk yang cukup besar itu. Slogan di atas tertulis mencolok dengan warna ngejreng. Oh, ternyata iklan sebuah tempat kursus buat anak-anak. Di bawah kalimat tadi, ada keterangan mengenai nama tempat kursus, lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

Wah, trik pemasaran yang cukup jitu ;) .

***

Kenapa, sih? Jangan-jangan saya menulis ini karena saya tak pandai di kedua mata pelajaran di atas. Jangan salah. Saya ini sering sekali menjadi juara kelas dari SD hingga SMA, sombong sedikit hihi :p.

Bahkan kuliah di fakultas yang sangat mengandalkan kemampuan logika matematika. Bahasa Inggris? Wah, sedari kecil saya suka sekali dan tak pernah punya kesulitan berarti dengan bahasa Inggris.

Saya berasal dari keluarga besar. Tujuh bersaudara. Jadi sudah biasa dengan macam-macam karakter dan pola pikir. Saya yang sangat cerewet ini bisa hidup damai tentram satu atap belasan tahun dengan kakak-kakak dan adik-adik saya yang “warna warni”.

Adik saya yang perempuan sangat supel, banyak teman, biarpun prestasi akademisnya sedang-sedang saja. Iri deh dengan kemampuannya bergaul di semua kalangan. Kontras dengan dia, kakak saya yang nomor 3 sangat pemalu. Hanya bisa mengobrol santai dengan orang-orang terdekat saja, padahal orangnya super kocak. Jika di depan umum, membisu seribu bahasa.

Salah satu kakak saya, yang nomor 4, pas di atas saya, saat ini sedang berada di puncak kariernya. Dia salah satu definisi sukses buat saya. Memangnya apa sih kerjanya? Ahli matematika? Jago sekalikah bahasa Inggrisnya?

Bukan sama sekali! Kakak saya bekerja di bidang mode. Bukan seorang desainer, tapi seorang fashion stylist! Saya tak menyangka juga hobinya mengutak-atik cara berpakaian seseorang, berburu busana dari mal mewah hingga pasar loak, bisa menghasilkan uang banyak.

Dari kecil kakak saya ini sangat alergi sama yang namanya matematika. Dia sungguh kerepotan menghadapi mata pelajaran yang satu ini. Dia juga tidak suka bahasa Inggris. Tapi sekarang sudah mulai mau belajar karena sering bepergian ke luar negeri.

***

Semua orang menginginkan anaknya tumbuh cerdas dan menuai kesuksesan di masa depan. Tapi apa sebenarnya definisi CERDAS ini?

Contohnya saya. Prestasi akademis saya terbilang gemilang di masa sekolah. Tapi tahu tidak, ada satu mata pelajaran yang sangat saya takuti. Olahraga. Iya, saya paling tidak bisa olahraga. Saya bolak-balik mendapat angka 6 untuk pelajaran satu ini.

Pada suatu ujian praktik, saat duduk di bangku SMA, malunya minta ampun. Saya satu-satunya siswi yang tidak berhasil mencetak satu angka pun di bawah ring bola basket. Masing-masing diberi kesempatan sebanyak 10 kali. Dan saya gagal total. Teman-teman banyak yang meledek. Termasuk kecengan saat itu yang memang salah satu punggawa tim basket di sekolah kami. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi.

Di kantor dulu pernah mewabah hobi main pingpong. Berebutan ingin belajar. Ternyata gampang karena tiba-tiba jadi banyak yang bisa. Termasuk para karyawati. Saya ikutan belajar, dong. Biarpun sudah tiap hari sepulang kantor minta diajari, selama sebulan penuh, servis saja tidak pernah bisa!

Yah, urusan olahraga, bukan kurang lagi, tapi saya termasuk idiot. Sama dengan urusan menghafal jalan. Entah sudah berapa kali kami sekeluarga berangkat ke Mekkah dari kota Jeddah. Saya masih kebingungan dengan rutenya. Saya sering merasa jalan yang kami lewati itu berubah-ubah.

Suami saya sampai jengkel karena saya sering bertanya, “Kok lewat sini? Tidak lewat jalan kemarin saja?” Dia menggerutu, “Aduh, ini kan jalannya dari dulu selalu lewat sini. Masa tidak hafal juga, sih?”

Lagi-lagi, urusan menghafal jalan, saya cuma bisa pasrah. Saya sangat lemah untuk urusan satu ini. Makanya selama tinggal di Jeddah, suami melarang keras saya naik taksi sendiri. Padahal di sini boleh-boleh saja, lho, perempuan naik taksi sendiri ke mana-mana. Padahal struktur jalan di kota Jeddah teratur banget, lurus, dan berbentuk kotak.

Nah, karena pada dasarnya kecerdasan itu memang macam-macam. Pasti sudah familiar dong dengan istilah multiple intelligence. Apakah itu?

Ada 8 kecerdasan yang tercantum dalam pengertian ini :

  1. Verbal/Linguistik
  2. Logis/Matematis
  3. Visual/Pandang-ruang (spasial)
  4. Tubuh/Kinestetik
  5. Musikal
  6. Intrapersonal
  7. Interpersonal
  8. Naturalis

Jadi sebenarnya naive sekali, ya, kalau kita hanya menempelkan definisi cerdas secara sempit. Cerdas itu ya mesti jagoan matematika. Jago berhitung. Jago fisika. Padahal semua yang disebutkan barusan cuma satu di antara 8 kecerdasan yang ada.

Siapa bilang anti matematika punya pengaruh besar dalam kesuksesan kita? Nanti saya kenalkan ke kakak saya ya.

Jadi, tipe-tipe kecerdasan ini cukup penting untuk digali agar kita lebih mudah mengarahkan bakat anak kita untuk masa depannya nanti. Kalau sudah bisa menemukan passion yang tepat, didalami dengan sungguh-sungguh, tinggal urusan waktu saja untuk menuai keberhasilan.

Ini bisa iseng-iseng kita tes, lho. Konon katanya, menurut penelitian, tiap orang itu biasanya “kuat” di 3 hal, sedang-sedang saja di 2 hal, dan cukup “lemah” di 3 hal lainnya.

Contohnya… lagi-lagi, saya! Saya cukup fasih secara verbal-logis-interpersonal, tapi biasa-biasa saja di musikal dan intrapersonal, dan lemah di visual-natural-kinestetik.

Makanya tidak heran, saya lemah di kemampuan visual, jadinya gampang kesasar di jalan. Hal yang sama berlaku untuk kemampuan kinestetik/olah tubuh. Makanya tidak pernah bermimpi jadi atlet, cukup jadi fansnya atlet yang ganteng-ganteng saja. Hahaha.

***

Jadi, jangan buru-buru panik bila si kecil mengerutkan kening ketika dihadapkan dengan sederetan angka-angka. Coba serahkan raket tenis atau kenakan sepatu balet di kakinya?

Atau mungkin si kecil yang cantik tak kunjung gemulai jika suara musik menghentak-hentak mengajak menari. Coba kenalkan dia lebih dekat pada alam. Mungkin jiwanya mengarah ke naturalis.

Kesimpulan tulisan ini, saya kutip dari tulisan salah satu orang cerdas yang dikenang sepanjang masa :

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”  ― Albert Einstein

Yakini, semua orang itu… cerdas!

***

Nah, ilustrasi fotonya adalah foto para bocah-bocah gue hehehehe. Terlihat jelas biarpun sama-sama anak laki, mereka  tipe yang berbeda :). Si sulung Abil sudah menunjukkan potensi verbal dan logika yang cukup tinggi. Terlihat aktif dan lincah nan ‘garang’ namun persis kayak Mamanya, kinestetisnya kurang hihihihi.

Adapun si kecil Narda. Lebih pemberani mengarah ke naturalis kali, ya. Kinestetik jauh lebih terasah dari abangnya.

Love you both…no matter what ;). *kecupBasahSatuSatu*

kata kata bijak tentang belajar