Until It’s Gone


by : Jihan Davincka

***

Terlahir sebagai anak ke-5 dari 7 bersaudara, membuat saya banyak mengeluh waktu kecil dulu. Hampir tak ada privasi dalam rumah biarpun bangunannya terdiri dari 3 lantai.

Hanya ada 2 kamar tidur di rumah. Kamar tidur orang tua dan satu lagi entah kamar buat siapa. Bila malam tiba, kami tidur di lantai paling atas. Menggelar kasur-kasur, lengkap dengan kelambunya. Serasa berkemah :P.

Saat pagi menjelang, kasur-kasur akan digulung kembali. Kelambu-kelambu dicopot dan dilipat rapi-rapi. Ditaruh di pinggir-pinggir. Ruangan pun menjelma menjadi tempat santai dan ngumpul sambil menonton televisi.

Waktu kecil saya suka menulis diary. Tak sengaja, kakak saya no.4 pernah merebutnya. Saya panik, dong, langsung rebut balik. Ya, itu diary isinya nama-nama teman laki-laki yang saya taksir di sekolah semua. Hihihihihi. Masih SD padahal :P.

Ayooo ini siapa? hihihihi :D
Ayooo ini siapa? hihihihi 😀

Kakak saya mungkin tak ada niat untuk berbuat lebih jauh. Tapi karena saya merespons terlalu ‘keras’, jadilah dia curiga. Dan tentu tak susah menemukan buku kecil bersampul biru itu pada akhirnya. Ya, rumah mini begitu, mau diumpetin dimana juga pasti ketemu lah.

Jadi deh, saat itu jadi bahan tertawaan kakak-kakak saya. Saya juga sempat takut kalau Mama tahu. Tapi Mama cuma senyum-senyum saja. Hehehehe.

Saya juga suka menggerutu soal meja makan kami yang berukuran ‘normal’. Idealnya untuk 4 orang saja. Bila dipaksakan menambah 2 kursi di sisi-sisi lainnya, bisa sih berjejalan hingga 6 orang.

Kamar mandi pun tak luput dari persaingan. Hanya ada dua kamar mandi. Dan kamar mandi di lantai dasar itu kurang banyak peminatnya. Entahlah, saya merasa tempatnya agak ‘spooky’ *dasarPenakut:P*. Jadilah kamar mandi di lantai dua itu yang wara wiri digunakan oleh seisi rumah.

Empat orang kakak laki-laki saya, duh, serasa menginap deh kalau menggunakan kamar mandi. Kadang mesti digedor kalau ada yang kebelet. Akhirnya kakak no.4 mencanangkan kamar mandi lantai dasar sebagai hak milik pribadi. Tapi masih ada 6 orang lagi saingan untuk penggunaan kamar mandi di lantai dua.

Lagi-lagi saya suka sebal.

***

Ritual bulan Ramadan pun cukup unik. Biasanya di siang hari kami suka main monopoli. Dimana pemainnya biasanya maksimal 4 orang. Ajang berantem lagi.

Menjelang waktu berbuka, biasanya duduk malas-malasan bersama-sama. Nanti ada saja yang iseng. Adik perempuan saya lebih ‘santai’ dan penurut. Jadilah saya (yang dari dulu memang nyolot dan nyinyir) jarang luput dari keusilan kakak-kakak saya. Awas lu semua! :P.

Saat beduk magrib, seisi rumah menyantap hidangan ringan dulu. Pastilah penganan yang manis-manis seperti cendol, biji salak, aneka kolak, dan favorit hampir semua orang : es buah! Saya pribadi sih lebih mengidolakan es kelapa muda yang diberi peresan lemon dan dibubuhi gula pasir *nelenLudah*.

Ritual selanjutnya, salat magrib. Kadang ada yang nekat langsung menyerbu meja makan. Tapi jarang ada yang berani. Pastilah salat berjamaah dulu dan selanjutnya pasang kuda-kuda merebut posisi di meja makan. Hahahaha.

Khusus bulan ramadan, Mama suka bikin menu-menu khusus. Menu yang biasanya sering muncul jika bulan ramadan tiba saja. Seperti misalnya lebih sering membuat masakan ayam. Di kota Makassar kala itu, harga ikan jauh lebih ‘bersahabat’ dibandingkan daging sapi dan ayam. Dan oiya, olahan daging sapi memang tidak banyak yang ‘nendang’, sih. Terutama untuk lidah kami sekeluarga.

Urusan daging ayam pun ada saja yang bisa menjadi sumber keributan. Kakak-kakak saya hanya mau daging dada saja. Pokoknya kalau bukan dada, ogah. Apalagi yang nomor 3. Dada ayam itu harga mati :D.

Bila ada menu favorit seperti cumi yang dipotong besar-besar dan dibakar, harus sigap. Tidak ada istilah “ingat yang lain, dong.” Pokoknya siapa cepat dia dapat.

Jadi, jangan terlena bila melihat bongkahan buah semangka besar-besar yang menumpuk dalam kulkas. Kalau lengah, tiba saatnya membuka pintu kulkas, hanya nampan kosong yang terhidang di depan mata.

Pokoknya hidup itu keras, Bung. Ahahahaha.

Di tengah-tengah ramadan, Nenek biasanya datang. Nenek saya jago masak. Orangnya kuat betul berkutat di dapur sepanjang hari.

Kalau sudah terhidang yang namanya “likkua manuk” (ayam lengkuas), itu artinya lebaran sudah hampir tiba ^_^.

Pesona si “ayam lengkuas” ini tidak pandang bulu. Pernah ada kejadian, asisten rumah tangga kami kala itu tidak mau ikut salat magrib berjamaah selepas buka puasa sesi hidangan ringan. Padahal biasanya dia rutin ikut.

Mama saya memang santai urusan asisten ini. Terserah saja. Makan saja kami selalu semeja dengan mereka, kok :). Tak pernah dibeda-bedakan piring-mangkok-gelas-sendok sekali pun.

Biar tidak heboh, sesi makan malam saat ramadan itu biasanya dibuat dua shift. Sesi pertama untuk laki-laki. Selanjutnya barulah yang perempuan. Tapi tetap saja suka ribut urusan tempat duduk :P.

Selepas mengucapkan salam, kami mendapati si asisten ini ngedeprok di lantai dapur sambil asyik mengunyah. Posisi dapur di lantai dua, tepat di belakang ruang tengah lantai tempat kami salat berjamaah. Jadi, kalau menengok ke belakang, terlihatlah dia yang tengah makan dengan lahapnya. Oalah, ternyata dia mengincar si “ayam lengkuas” itu. Hahahaha. Padahal seisi rumah belum ada yang menyentuh.

Kami semua cuma cekikikan dan senyum-senyum. Tidak ditegur, tuh, oleh Mama. Paling dibilangin lain kali salat dulu saja baru makan :D, pasti kebagian, kok.

Penanda lain bahwa hari raya sudah menjelang adalah hadirnya belasan (saya curiga jumlahnya 20 an lebih malah) toples-toples kaca berisi kue kering. Toples-toples zaman dulu yang tinggi-tinggi itu, lho. Memenuhi sudut lemari atau digeletakkan begitu saja di bawah jendela saking banyaknya kadang-kadang.

Kue kering coklat yang bertabur kacang mede menempati posisi pertama dengan porsi sekitar 30% dari jenis kue keseluruhan. Kue coklat bisa 6-8 toples sendiri.

Posisi kedua ada kue keju. Mungkin bisa 3-4 toples. Dimana satu-satunya orang yang tidak suka kue keju di rumah adalah…saya! Lidah kampung, kata yang lain :D.

Posisi ketiga dan seterusnya ditempati oleh : kue kelapa, kue pandan, putri salju, ada juga yang modelnya setrip-setrip coklat-vanilla, pokoknya banyak banget deh, jenisnya.

Urusan kue lebaran dan ‘drama’ yang tidak kalah serunya kala hari lebarannya di depan mata akan menjadi episode lebaran tersendiri hihihihi.

Khusus ramadan tahun 1992 adalah edisi pertama dengan kehadiran adik bungsu kami. Belum genap usianya setahun, tapi tiap sahur tiba, tak pernah absen menjadi hiburan tersendiri buat kakak-kakaknya :P. Sekaligus menjadi ramadan terakhir dengan ‘pasukan lengkap’. Karena beberapa bulan setelah itu, Bapak sudah tidak ada di tengah-tengah kami.

***

Belasan tahun sudah berlalu sejak kami terakhir melewatkan ramadan-idul fitri bersama di bangunan tiga lantai yang diberi nama “Japan 70” (jalan pajenekang no.70) :D.

Season terakhirnya adalah di tahun 1995. Selanjutnya, semua resmi menjadi alumni hehehe.

Kalau dulu hanya ada keluhan dan ketidakpuasan, sekarang malah rindu. Dulu, iri dengan teman yang punya jumlah saudara yang irit. Saya membayangkan suasana rumah dengan sedikit anak pastilah lebih “gemah ripah loh jenawi” :P. Susah sekali merasa ‘senang’ saat dulu masih umpel-umpelan di “Japan 70”.

Sekarang kok, ya, kalau dingat-ingat lagi seru banget jadinya. Hal-hal yang dulu dianggap ‘cobaan’ malah tersapu waktu dan terpoles menciptakan kenangan-kenangan indah masa lalu. Biarpun saya tak pernah bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi Ibu dari 7 orang anak. Gile aje, lu :P.

***

Jadi, waktu-waktu yang kita lewati sekarang jangan sampai terisi dengan keluhan-keluhan melulu. Tapi sesekali menarik nafas panjang tak salah dong, ya :).

Misalnya saja saat ini, hampir tiap hari harus ngurusin dua bocah tengil beserta segambreng rutinitas lainnya. Sungguh menguras fisik dan rasa sabar yang memang pas-pasan :P.

Sering terbawa rasa jengkel. Masa iya, anak-anak saya mau tidur saja, mesti pula pakai ritual “pegang-pegang tangan mama” dulu. Atau yang kecil sudah terbawa iri, kalau kakaknya gelendotan, mesti deh, merengek-rengek minta dipeluk juga. Hidup tanpa asisten dengan dua anak kadang bikin pikiran gak sehat hihihihi.

Acara vakum + ngepel seisi rumah yang harusnya cuma makan waktu sejam bisa menjadi ribet karena mereka ikut ‘kepo’ :P.

Tapi teringat akan ada nanti masa-masanya, mereka tumbuh menjadi bujang dan tak merasa perlu lagi “memegang tangan mama” dan “merengek minta digendong” hehehehe. Dinikmati saja ‘masa manja-manja’nya di saat sekarang :).

Karena tak berlebihan bila akan datang saatnya nanti kita akan merenung sembari berucap… “you don’t know what you’ve got until it’s gone.”

Selamat menjalankan sisa ramadan, teman-teman :). Tetap semangat ^_^.

V.V.I.P

 

“Kalo gue, lulus kuliah, langsung kawin! Terus punya anak.”

“Nikah.”

“Sialan lu! Ya kawin, ya nikah.”

“Kalo gue, mau kerja dulu. Mau puas-puasin dulu berkarir. Ke luar negeri kalau perlu.”

“Kalau sudah tua, susah cari suami.”

“Ah, bisa operasi plastik kalau punya banyak uang. Makanya kerja. Punya uang banyak.”

“Nikah cepat. Cepat punya anak. Umur 40, anak gue sudah 17 tahun. Gue jadi tante-tante yang masih cantik.”

“Hahahahaha. Kuliah capek-capek malah mau kawin.”

“Kuliah di tempat yang tepat untuk mendapatkan suami yang tepat.”

“Hahahahhaha. Tidak intelek.”

“Tapi cerdas.”

“Hahahahaha.”

Itu salah satu percakapan saya dengannya di suatu hari saat kami sedang makan siang di salah satu kantin kampus. Kantin balsem, balik semak. Selain harganya yang murah-murah, kami berdua suka melihat beragamnya mahasiswa dari fakultas lain yang ikut makan di sana.

Banyak juga mahasiswa yang sekedar datang dan duduk tanpa memesan makanan atau pun minuman.

Dia selalu menertawakan niat saya yang dulu begitu lulus kuliah ingin segera menikah.

“Lu gak punya pacar.”

“Tahun depan bakal punya.”

“Masa? Caranya?”

“Ya kalau berusaha pasti dapat. Tinggal bilang ke orangnya.”

“Nekad lu. Hahahaha. Lu mah yang itu-itu melulu.”

Benar saja, semester berikutnya saya beneran punya pacar. Dengan si dia, yang sudah diincar sejak pertama melihatnya di masa orientasi. Ihiy. Hehehehe.

Saya tidak tahu kenapa diantara sedikit orang-orang yang bisa saya akrabi, dia termasuk salah satunya. Pertama kali ngobrol di Balairung, saat latihan paduan suara untuk mahasiswa baru. Di bulan Agustus 1998.

Di dua semester awal, saya juga dekat dengan beberapa teman perempuan lainnya. Tak banyak mahasiswi di kampus saya, terlebih lagi di angkatan kami.

Salah satu persamaan kami adalah ketidaksukaan kami menghabiskan waktu berlama-lama di lab. Lab hanya kami kunjungi untuk mengerjakan tugas-tugas kampus.

Kalau teman-teman dekat saya yang lain sibuk men-download film-film kartun dan lain-lainnya, saya menunggu dengan bosan di salah satu sudut lab. Kala itu belum kenal search engine mana pun. Belum ada google yang bisa saya andalkan untuk mencari gosip-gosip artis terkini. Friendster pun belum ada.

Jadilah, lama kelamaan saya lebih sering pergi berdua dengannya.
Saat tak ada ujian, tak banyak tugas, kami duduk-duduk di balsem. Mengomentari orang-orang yang lalu lalang. Atau mencemooh dengan penuh dengki mahasiswi cantik yang berpenampilan keren yang nampak dikerubutin cowok-cowok.

“Genit sekali.”

“Tapi bajunya bagus, ya. Lihat deh, pinggulnya ramping banget.”

“Tapi genit, ah.”

“Iya, ketawanya dibuat-buat.”

Ahahahahaha. Sirik tanda tak mampu memang :D.

Dia jauh lebih santai dalam urusan belajar, dibanding saya. Tapi kami berdua wisuda bareng. Berfoto bersama dengan toga, tersenyum lebar-lebar dengan lipstik merah menyala, tepat di hari sabtu minggu ke-3 di bulan september 2002. Biarpun tak suka menghabiskan banyak waktu di depan komputer (ya nama pun kuliah di fakultas ilmu komputer), kami menepati janji kami untuk wisuda setelah 8 semester terlewati. Saya mau kawin. Dia mau kerja. Hahaha.

Tapi kenyataan memang lain. Bulan April tahun yang sama, saya sudah bekerja setelah terlebih dahulu menyelesaikan tugas akhir dan menyematkan S.Kom di belakang nama saya. Bukan sarjana kompor, yeee :P. Saya menunggu 6 bulan untuk pemasangan toga secara legal, gagal memenuhi ambisi wisuda di bulan februari.

Tak ada foto berdua dengan lelaki berjas yang menggenggam sekuntum mawar di sebelah kami. Kami sama-sama mengakhiri masa-masa di kampus dengan status jomblo.

Malah, dua tahun setelah lulus, saya masih melewatkan malam minggu dengan menonton apa saja yang bisa ditonton di dalam TV dalam kamar kos, dia sudah berbicara soal pernikahan. Iya, dia menikah dua tahun lebih dahulu daripada saya, yang bercita-cita memiliki anak berusia 17 tahun saat saya merakayakan ultah ke-40. Hehehe.

***

Kakak laki-laki saya ada empat orang. Semuanya menyenangkan. Yang pertama, sangat suka ilmu fisika. Fotonya paling banyak di album foto keluarga. Iyalah, anak pertama :D.

Yang ketiga sangat kocak. Kami semua bisa tertawa-tawa seperti orang gila dan nyaris pipis kalau mengobrol ada dia. Tapi anehnya, di depan orang lain, yang bukan lingkungan dekatnya, dia mendadak banyak diam. Gak pede lu, ye. Hehehe.

Yang nomor 4 tergila-gila fashion dari dulu. Memakai baju mesti serasa dari atas hingga ke bawah. Tak heran, sekarang dia sudah menapaki jalan kesuksesan sebagai seorang fashion stylist. Traktir dooonggg kalau gue ke Jakarta :P.

Yang kedua juga anak teknik elektro. Wajahnya persis wajah almarhum Bapak sewaktu masih muda. Paling alim dari dulu. Paling sering melihatnya beraktifitas di atas sajadah dari dulu.

Dan yang paling penting, dia yang mengongkosi kuliah saya sampai lulus. Ahahahahahaha *matreAlert*.

Di semester terakhir, saya ragu untuk meminta uang untuk membeli PC. Rasanya makin sulit mengandalkan lab untuk mengerjakan tugas-tugas akhir. Mau nebeng ke teman pun tak mudah, kami semua sedang berjuang bersama melewati masa-masa penghabisan di kampus. Mereka pun sama sibuknya.

Lagian aneh ya Ceu, anak komputer ya ndak punya komputer, hehehe. Tapi ternyata, dia tidak berpikir lama-lama untuk mengabulkan permintaan saya. Dalam waktu singkat, uang terkirim, dan seperangkat PC itu benar-benar nangkring di atas meja kamar kosan. Alhamdulillah, akhirnya.

Saat ribet mikirin ongkos kawin, tanpa banyak basa basi, beliau ikut mengulurkan tangan. Makanya benarlah jika rezeki anak-anak tidak sepenuhnya di tangan orang tua. Di tangan kakak juga bisa. Hehehe.

Saya suka berdiskusi dengannya. Orangnya kadang lucu juga tapi kalau berbicara maknanya bisa menancap dengan kuat.

***

Selain punya empat kakak laki-laki. Saya ada dua adik. Satu perempuan. Terlahir 2 tahun 5 bulan setelah saya.

Waktu kami kecil dulu, dia seperti dayang-dayang saya. Saya tega membangunkan dia yang sedang tidur siang untuk, “Dek, belikanka’ dulu gula-gula camba kodong. (Dek, beliin permen asem, dong).”

Kenapa tidak beli sendiri ke warung? Ya, karena saya selalu punya dia untuk disuruh-suruh. Hahaha. Kadang saya lebihkan uangnya. Jasanya pun dimanfaatkan oleh kakak-kakak saya yang lain. Tentu dengan imbalan uang. Dari kecil kelihatan sudah punya bakat bisnis :P.

Waktu kuliah juga begitu. Dia membuka jasa pengetikan. Tidur larut untuk mengerjakan ‘bisnis jasa’nya. Tak pernah malu menjajakan apa pun. Beda sekali dengan saya, yang selalu merasa risih kalau disuruh menjual apa pun. Untung jual buku sendiri masih mau :P.

Makanya, di akhir tahun 1995, saat begitu banyak hal yang terjadi dan dia pindah ke Jakarta, rasanya sungguh tak enak. Sudah terbiasa tidur dengannya. Terbiasa menyuruhnya ini itu, hehehe.

jihan achie

Kami tinggal bersama lagi di tahun 2001. Tinggal di dalam kamar kos yang sama. Masa awal kerja kantoran, hampir tiap pagi kami berdua berpikir keras harus memasak atau membeli apa agar bisa dijadikan sarapan sekaligus bisa buat bekal makan siang saya. Lumayan menghemat uang jajan di kantor :P.

Tahun 2002, setelah tanpa putus asa mencoba UMPTN untuk terakhir kalinya, dia lulus di Bandung. Ditinggal lagi, deh. Huhuhuhu.

Dia lebih ceria daripada saya. Dia itu sanguinis-phlegmatis. Temannya banyak sekali dari berbagai kalangan. Iri sekali dengannya. Tidak seperti say
a yang biarpun kelihatan cerewet dan suka bergaul tapi galaknya minta ampun. Tidak segan-segan menghardik siapa pun yang saya anggap ‘menyerang’ saya. Saya tidak pernah punya geng perempuan.

Dia lebih suka suasana ramai. Saya lebih suka berdiam diri dalam kamar atau rumah. Dia suka mengelompok, saya lebih menjaga jarak dengan orang lain. Padahal menurut orang-orang, sifat kami itu sama. Cerewet tiada terkira dan suka terbahak-bahak tanpa malu di depan umum. Ahahahaha.

Di hari wisudanya, malah saya yang menangis, bukan Mama. Dia menuntaskan kuliahnya dengan predikat cum laude, setelah gagal menembus UMPTN dua tahun berturut-turut.

***

Empat tahun lalu, saya menginap di rumah sakit beberapa hari untuk proses melahirkan dia. Anak pertama saya.

Dua hari kemudian kalau tidak salah, final piala Eropa 2008. Spanyol masuk final. Sejak mengidolakan Spanyol (apa Casillas? :P) di piala dunia 2002, tak pernah berhenti berharap melihatnya menggenggam predikat juara.

Dia menangis meraung setiap kali saya menyalakan televisi. Ah, rewelnya. Saya kecilkan volumenya pun dia masih menangis. Jadi benar-benar televisinya tak boleh dinyalakan.

Kesal juga, ketika di pagi hari melihat berita kalau Spanyol juara. Aaaarrggghhhh….
Anaknya cerewet sekali. Tak diragukan dia mewarisi darah ibunya :P. Kehadirannya membuat saya banyak mengambil keputusan penting yang tidak pernah saya duga akan saya ambil. Termasuk meletakkan karir dan mengakhiri masa-masa bekerja di kantor 3 tahun yang lalu.

Tempat saya menempa kesabaran. Dimana kadar kesabaran saya bisa dibilang sangat tipis :(. Tapi dengannya saya menyadari, bahwa pada dasarnya pikiran kebanyakan orang itu salah.

Orang banyak menganggap Ibu melakukan apa pun untuk kebahagiaan anaknya. Tapi buat saya, segala kepanikan saat dia sakit, tidak saya lakukan untuk kebahagiaannya. Dialah justru salah satu sumber kebahagiaan saya. Saya menjaganya sepenuh hati bukan karena dia butuh saya, tapi nyatanya…saya yang tak pernah berhenti membutuhkan dia sejak dia lahir!

Saya lakukan untuk kebahagiaan diri saya sendiri. Dia bisa dirawat dan disayangi oleh siapa saja. Tapi saya yang tak pernah berani membayangkan ketiadaannya dalam hidup saya. Sejak detik dia meraung keras di kamar persalinan dan dokter yang membantu proses kelahirannya berkata, “Selamat Bu, laki-laki. Putih..ganteng..”

Sekali lagi dalam hidup saya, tepat pukul 10.05 malam itu, Tuhan menganugerahkan seorang pria tampan :).

***

13 Juni, selamat ulang tahun, sahabatku tersayang, Tri Leniarti :).

14 Juni, selamat ulang tahun, adik terbaik di seantero dunia, Nasli.

22 Juni, selamat ulang tahun, Daeng Salman Alfaris.

28 Juni, selamat ulang tahun, ananda tercinta Adnan Nabil Rosyadi.

(Penuh Cinta dari Jeddah
– Sahabat, Kakak, Adik, dan Mama- )

Every Mom Has Her Own Battle

by : Jihan Davincka

***

Salah satu pertikaian yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. Stay at Home Mom vs Working Mom. Please, don’t say ‘Fulltime Mom’, karena tidak ada yang namanya ‘Part-time MOm’.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.sadlyno.com

“Alhamdulillah ya, sesuatu banget. Gajian lagi hari ini. Bisa beli ini-itu tanpa nyodorin tangan ke suami. Nikmatnya menjadi wanita mandiri.”

Kubu sebelah siap membalas, “Alhamdulillah ya, badan encok karena sibuk BBM an. Kerja gratisnya tidak sia-sia, lho. Insya Allah surga balasannya. Super sesuatu.” BBM = beberes, benah-benah, memasak. Hihihihi.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru : Working at Home Mom. Biasanya di jumat sore, saat macet menaklukkkan ibukota apalagi jika dibombardir dengan hujan, kubu yang ini siap berkicau :

“Aduh, hujan nih. Berkah namanya. Alhamdulillah ya, di rumah-rumah saja dari tadi. Bebas dari lebatnya hujan. Tapi kantong tetap basah, gak ikut-ikutan kering. Main sama anak sekaligus dapat penghasilan sendiri. Sesuatu banget.”

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, “hey I’ve got both, mandiri plus kebersamaan bersama keluarga.”

***

Parenting style itu unik tiap orang. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Jika para WM harus mengorbankan keluarganya demi karir. Contoh nyatanya banyak di sekitar saya. Yang saya lihat langsung.

Every Mom has her own battle
Working at Home – Mommy (Gambar : www.alexisgrant.com)

Ibu saya bukan SAHM. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya ;). Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama stay at home for us. Cukup seperti dulu. She’s always be the best Mom for us ;).

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai WM. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur SAHM. Tapi entahlah, anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Every Mom has her own battle
Gambar : www.nazshemah.com

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Working-Mom 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. It’s my own choice. Buat saya pribadi, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain ;).

Tentu ada adjustment yang harus dilakukan. Tidak 100% kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

“Ah, dia gak ngurus anak. Seharian saja di kantor. Anak dikasih ke pembantu.” Cibiran buat Ibu pekerja kantoran.

Hey, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dicopot begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan mencibirnya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

Every Mom has her own battle
Working Mom (Gambar : www.eyesonheaven.net)

“Ih, kok mau yaaaa, sekolah tinggi-tinggi kok lha ya BBM-an doang di rumah.” Definisi BBM nya diatas, masih ingat kan? :P.

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya, Bok :P. Jangan bertanya-tanya, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera mereka yang memilih jalan ini.

“Ih, paling keren gue dong. Bisa sepanjang hari di rumah. Uang mengalir terus. Deket ama anak sekaligus mandiri secara keuangan.” Mau, mau, mauuuuuuu! Hehehe.

Pada umumnya yang model seperti ini ikut bisnis MLM. Wah, berkarir di dunia MLM ini beda lagi lho tantangannya ;). Atau buat yang berbisnis lain di rumah, pasti repot membagi pikiran sekaligus tenaga jadi dua di saat yang sama. Kita bisa melihat dan mencontoh persistensi mereka yang tak ada habis-habisnya.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karir demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain?

“Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.”

Every Mom has her own battle
Happy Mom (Gambar : www.mohersnotebook.com)

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaha :P. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu :).

Semua pasti ada pengorbanannya. As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.

Sepakat? ;).

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

Pengalaman pertama memang biasanya yang paling berkesan ;).

hdr-4-jhn.jpg

***

Bunda of Arabia (Behind The Scene)

By : Jihan Davincka

***

“Bunda of Arabia” tadinya adalah judul novel yang ingin saya buat. Tapi kala itu saya berpikir saya tak pandai menulis fiksi. Jadi, judul itu menganggur saja.

Di penghujung 2011, setelah (sangat) aktif menulis di blog mamaSejagat dan ceritaJeddah, saya menyadari satu hal, “Saya suka sekali menulis!”

Saat itu saya menghitung ada puluhan postingan dari saya di mamaSejagat, dan puluhan postingan lain yang saya edit. Dan belasan postingan yang saya tulis tentang negara lain, yang diceritakan teman saya via message. Tapi saya menuliskan nama teman saya sebagai penulisnya. Hehehe.

Begitu tergila-gilanya saya menulis. Gak apa deh, yang penting blognya ramai dan saya ada alasan menulis. Toh, foto-fotonya dari teman saya itu.

Saya menuliskan kalimat ini di catatan resolusi 2012 saya :

“Mamasejagat was some kind of sign to remind me of how much I loved writing when I was just a kid. It led me to create another blog : ceritaJeddah. Then I truly realized how I still love writing until now, and tadaaaaa … suddenly we get one resolution for 2012 : writing something more serious than a casual post on my blogs (a book perhaps? :P)”
Resolusi iseng saja. Tapi yang iseng-iseng ini justru mengganggu jadwal tidur selama berhari-hari di awal bulan Januari itu. Akhirnya daripada gak bisa tidur, why not? Let’s write a book!

***

Tapi dasar sok keren, saya pikir sekedar menerbitkan sebuah buku saja kayaknya terlalu biasa-biasa. Bagaimana kalau pakai deadline? Ya, jangan 1 tahun. Yang menantang, dong! Saya pun menantang diri sendiri, “Do it in 3 months! From the scratch!”

Jadilah tanggal 1 April 2012 saya jadikan tanggal keramat. Di tanggal itu nanti buku pertama saya akan terbit, whatever it takes!

Nama pun bukan penulis, ketika googling dan menemukan berbagai artikel mengenai berapa lama biasanya sebuah buku terbit, saya langsung layu. Rata-rata minimal 3-6 bulan. Itu pun levelnya udah penulis tenar, bukan orang macam saya yang out of nowhere tiba-tiba merasa pengin nerbitin buku. Hehehe. Siapa lu?

Tapi anehnya, sifat keras kepala saya malah meluap-luap, “Masa sih tidak ada cara lain?” Jadilah saya colek-colek Mbah Google dan menemukan banyak sekali informasi tentang Indie publishing. Serasa bertemu jodoh, dalam hati saya bersorak, “Eureka! Eureka!”

***

Nah, sekarang mulai menulis. Karena memang buku pertama ini mengandung misi ‘terselubung’ (misinya saya ceritakan di minggu depan, ya), saya memilih bentuk antologi. Sejujurnya, ini tantangan baru lagi. Saya tahu pasti mengedit tulisan orang jauuuhhhhh lebih susah daripada menulis sendiri.

Teman-teman saya disini tak banyak yang suka menulis. Dimulailah bergerilya mencari kontributor. Saya ceritakan misi saya. Belum ada yang tertarik. Saya arahkan tema apa saja yang saya mau. Sudah ada yang tertarik tapi mengaku tak bisa menulis.

Tapi layar sudah terkembang, pantang surut ke daratan. Saya bujuk tanpa henti (via BBM, inbox di facebook, ada yang saya samperin ke apartemennya) satu per satu, orang yang saya incar kisahnya. Saya bujuk, saya wawancara, akhirnya mereka mulai menulis.

Namanya saja mereka banyak yang menulis pertama kali, saya sudah memprediksi akan banyak sekali mengedit tulisan mereka. Nekad, ya. Sementara saya juga cuma penulis boong-boongan, hehehe.

Hasil berburu kontributor dengan intensif membuahkan sebuah naskah dalam tempo 3 minggu. Jangan ditanya sepetnya mata ngedit tulisan tiap malam, hehehe. Hey, there’s no such thing called free lunch! Mana ada sih yang enak-enak untuk mendaki puncak pengharapan ;).

Tapi, begitu naskah selesai, jalannya masih panjaaaaannnggg…

522016_206055992838871_1253662978_n.jpg

***

Sesungguhnya, rasa gentar itu sudah selalu menghantui dari awal. Sejak mencanangkan proyek menerbitkan buku 3 bulan saja, kadang-kadang lutut sudah bergetar.

Saat hampir putus asa mencari kontributor, saya sudah lemas. “Ah, sudahlah. Lanjutin kapan-kapan aja, deh. Lagian kok sinting mau nerbitin buku 3 bulan.”

Saat naskah sudah jadi. Berburu indie publishing tidak kalah melelahkannya. Siapalah saya, cuma blogger doang gitu, lho. Info hanya mengandalkan Google. Sempat takut dengan beberapa peristiwa penipuan via penerbit indie ini. Duh, apa mundur saja, ya?

Setelah menghubungi 5 penerbit, akhirnya menemukan satu yang cocok. Ini pun deg-degan sangat. Untung salah satu teman dekat saya disini kenal baik dengan pemiliknya.

Ya sudah, korek isi tabungan hasil berkarir 7 tahun kemarin.

***

Selesai sampai disitu? Belum ternyata, saudara-saudara! Inilah puncaknya. Penerbit indie memang asoy, naskah kita tak akan tertolak. Tapiiii… penerbit tidak mengurusi marketing dan sales nya. Itu tanggung jawab penulis. Mereka hanya bantu proses distribusi. Onde mandeee, siapa yang mau beli buku ini?

Tapi ya sederhana saja ternyata. Jual saja door to door. Ada internet, pikir saya. Kirim message saja banyak-banyak. Oiya, saya malas mentag orang lain di wall mereka. Saya pikir itu kurang sopan. Karena saya juga tidak suka bila nama saya dipajang di barang dagangan orang lain. Hehehe. Kecuali mereka minta izin lebih dulu.

Saya message satu persatu via inbox FB. Message nya kan sama tinggal copy-paste saja dan mengganti beberapa bagian yang dirasa perlu, hehehe. As simple as that ;). Melelahkan sangat tapi.

Awalnya respons sangat minim. Ya, lagi-lagi ciut. “Bego sih, nekad langsung cetak 800.” Tapi ya gimana lagi, terus saja saya menyebar message secara personal. Chatting satu persatu. Pokoknya tutup mata dulu dengan hasil. Lakukan saja yang terbaik semampunya.

Saya terbakar dengan kalimat dari Ust. Salim A Fillah, “Keajaiban kadang memancar dari sumber yang lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha.
Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.”

Jadi…just do your best! Let Allah takes care the rest!

Menjelang buku terbit, entah kenapa, mendadak banyak yang tertarik. Satu persatu
mulai membalas message. Tiba-tiba banyak teman yang menawarkan jadi reseller. Anehnya, saya tidak pernah menghubungi mereka. Ternyata mereka tahu dari teman saya yang lain. See? Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita ;).

***

So far, cetakan pertamanya habis dalam tempo 10 hari sejak terbit. Tapi kalau terbit secara indie, sebelum buku benar-benar terbit, kita sudah harus hunting pembeli, lho.

Sekarang saya sedang melanjutkan ikhtiar untuk cetakan ke-2 nya hehehe.

Benar-benar belajar banyak hal dari pengalaman yang satu ini. Satu yang utama, saya pikir, setelah menjalani banyak tahapan yang ‘melelahkan’, saya kapok. Enggak lho, saya makin cinta menulis. Berusaha agar makin mahir. Kalau membaca lagi naskah “Bunda of Arabia”, ah, saya sungguh tidak puas.

Dan satu kesimpulan saya yang mungkin tercantum dalam kalimat ini (saya ambil dari Running Quotes from George Sheehan), bahwa :

“It’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is against the little voice inside you that wants you to quit.”
Benar juga. Sebenarnya dalam setiap mimpi yang berusaha kita gapai, dalam setiap langkah kita untuk mendekat padanya, ada satu musuh dalam diri yang sukar terlihat makanya terlihat susah ditaklukkan : “a little voice inside you that wants you to quit.”

Melawan diri sendiri itu intinya. Melawan bisikan-bisikan yang dihembuskan oleh batin sendiri, “Udahlah, ngapain capek-capek. Berhenti aja. Emang gak mungkin kali. Jangan sotoy, deh.”

Kemenangannya bukan terletak saat bukunya akhirnya terbit. Terbit lebih cepat dari target, 25 maret udah terbit. Yayyyy. Tapi pada kemenangan-kemenangan kecil dalam tiap pertarungan untuk menaklukkan bisikan-bisikan tadi. Mengusir jauh-jauh keinginan untuk berhenti saat garis finishnya malah sudah di depan mata.

Anggaplah kita sedang berlari. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila langkah melambat. Tentu tak masalah sekali-sekali berhenti mengelap keringat dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh itu…melepaskan sepatu anda, menepi di lintasan lari dan menunduk putus asa sambil berbisik : “I’m never gonna make it.” Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi.

Jadi, cari garis start nya. Pasang sepatu. Mulailah…mulailah berlari. Jangan mengizinkan ayunan langkah terhenti sebelum anda yakin bahwa garis finish telah terlewati ;).

buku-boa.jpg