Biografi Bung Hatta, Sebuah Buku yang Tak Akan Pernah Tamat Dibaca

Biografi Bung Hatta

***

Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun.

***

Bung Hatta cukup kontras bila dibandingkan dengan Bung Karno. Sukarno terkenal sebagai orator ulung, penampilannya yang dandy, kisah cinta dengan berbagai wanita, keberaniannya yang menghentak dan perjalanan hidupnya yang bagaikan perputaran matahari. Terbit, tenggelam namun tak berhenti bersinar. Tulisan ini adalah sedikit biografi Bung Hatta.

Gaya bicara Bung Hatta membosankan. Selaras dengan raut wajahnya yang dingin dan kaku. Soal kemewahan, beliau bukan jagoannya. Dengan tampuk pimpinan yang pernah dipegangnya, memiliki sepatu merek ‘Bally’ adalah hal paling mewah yang hanya mampu dimimpikan … hingga akhir hayatnya. Hanya sepasang sepatu dengan merek tergolong mewah saat itu. Apa di zaman Bung Hatta tidak ada pejabat-pejabat bermobil dan hidup mewah? .

Tapi jangan salah. Bung Hatta tidak lahir dari keluarga sederhana. Dalam darahnya mengalir dua perpaduan keluarga terkemuka : pemuka agama dan saudagar. Beliau adalah keturunan dari garis terpandang di kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Di tahun 1947, 2 tahun setelah menjadi orang nomor 2 di Indonesia, beliau membuat seorang sais bendi murka di kampung halamannya. Bung Hatta sibuk menawar namun harga tak kunjung cocok. Sais bendi menghardik gusar, “Kalau tak punya uang, jangan naik bendi. Jalan kaki saja.” Beliau hanya tersenyum dan berlalu.

Hatta telah mempersembahkan sebuah tulisan luar biasa di usia 18, belum lagi menginjak bangku perguruan tinggi. Tulisan personifikasi yang menggambarkan ibu pertiwi dalam diri seorang wanita yang bernama Hindania. Sebuah tulisan yang menggambarkan betapa luasnya bacaan Hatta muda dan tingginya minat beliau pada bidang sastra.

***

Tak kurang sejarah yang menggambarkan dinamika kehidupan seorang Bung Hatta bersama Bung Karno. Setelah dipersatukan oleh cita-cita membawa bangsa Indonesia membuka pintu gerbang kemerdekaan, dwitunggal ini akhirnya tanggal di penghujung tahun 50 an. Ketika akhirnya Hatta dengan arif mengundurkan diri dari pemerintahan dan merelakan biduk negara yang pernah diperjuangkannya selama hampir separuh hidupnya menjadi milik Sukarno seorang.

Nurcholis pernah menggambarkan Hatta sebagai seorang dengan pemikiran yang sangat modern tapi tetap pekat dalam kesalehan agamanya. Terlahir dari keluarga Minang yang kental dengan ajaran Islam, Hatta menjadi sosok yang religius namun memiliki pemikiran tajam, wawasan luas dan tak terbatas waktu.

Masa kecilnya tak hanya diisi dengan belajar, mengaji dan menulis. Hatta adalah penggila bola. Tak hanya bersorak dari pinggir lapangan, Hatta tergabung dalam sebuah klub sepakbola yang diisi oleh pemuda-pemuda belanda dan kaum pribumi. Klub yang menjadi juara Sumatra selama tiga tahun berturut-turut selama dengan Hatta pada posisi gelandang tengah. Teman belandanya menjulukinya, “Onpas seerbaar” (sukar diterobos begitu saja).

Minatnya pada dunia pergerakan membawanya bergabung bersama Jong Sumatranen Bond semasa bersekolah di MULO. Tahun 1921, Hatta tiba di Negeri Kincir Angin untuk melanjutkan kuliah. Semasa di Belanda, Hatta aktif di sebuah perkumpulan yang beberapa kali berganti nama hingga akhirnya memilih nama, “Perhimpunan Indonesia.” Tahun 1926, Hatta memperkenalkan nama “Indonesia” kepada dunia internasional saat memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis.

Tahun 1932, setelah menamatkan pendidikannya di luar negeri, Hatta pulang ke tanah air. Selanjutnya, bersama Sukarno, Sjahrir dan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, mereka bahu membahu mengobarkan perlawanan kepada kaum penjajah. Menafikan semua perbedaan, para kalangan agamis-sosialis (bahkan yang sosialis garis keras sekali pun), bersatu memperjuangkan pencapaian kata “kemerdekaan” bagi segenap bangsa Indonesia.

Awal tahun 1935, Hatta dan kawan-kawannya dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Hatta menolak mentah-mentah tawaran seorang kapten Belanda yang menawarkan agar para tahanan politik ini bekerja pada pemerintah Belanda dengan upah 40 sen sehari dan memiliki kemungkinan untuk dikirim pulang ke ibukota. Hatta menegaskan, “Bila mau bekerja untuk kolonial sewaktu masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji tidak main-main. Tak perlu jauh-jauh ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan upah 40 sen.”

Di pengasingan nun jauh di salah satu wilayah paling timur Nusantara, Hatta membawa serta 16 peti buku-buku koleksinya. Di sana, Hatta terus mengobarkan perlawanannya dengan menulis. Akhir tahun yang sama, Hatta dan kawan-kawan dipindahkan ke Bandaneira.

Di masa pendudukan Jepang, Hatta kembali ke tanah Jawa. Masa-masa ini tak banyak pernyataan yang dikeluarkannya. Namun, di tahun 1942, pidatonya di Lapangan Ikada menggemparkan banyak pihak, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

17 Agustus 1945, bersama Bung Karno, Hatta muncul sebagai pemimpin bangsa yang merdeka secara resmi untuk pertama kalinya. Membawa mereka berdua sebagai “Bapak Proklamator Indonesia.”

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah. Termasuk untuk di bidang ekonomi dan koperasi. Tak hanya menuangkan pikiran dalam rangkaian kata-kata, Hatta aktif membimbing dan melaksanakan cita-cita dalam pembangunan koperasi dan konsepsi ekonominya. Karena jasanya ini, beliau layak mendapatkan predikat sebagai “Bapak Koperasi Indonesia.”

Jauh sebelum mengundurkan diri secara resmi, Hatta sudah melayangkan surat terlebih dahulu kepada Sukarno. Akhirnya, di 1 Desember 1956, Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Walaupun tengah didera berbagai perselisihan, Sukarno tak serentak mengizinkannya untuk ‘pergi’. Tapi Hatta tetap berkeras. Setelah Hatta benar-benar menyerahkan jabatannya sebagai orang nomor dua di RI, banyak pihak tetap memperjuangkan bersatunya kembali dwitunggal ini. Tak ada yang berhasil.

Tahun 1960, tulisan Hatta yang kontroversial, “Demokrasi Kita”, muncul dalam Majalah “Pandji Masyarakat”, asuhan Buya Hamka. Pemerintah murka. Buya Hamka dipenjara dan tulisan itu terlarang untuk disebarkan.

Namun, perseteruannya dengan Bung Karno tak pernah melebar kepada hal-hal pribadi. Mereka berdua hingga di akhir hayat masing-masing tetap merupakan dua sahabat yang sangat lekat.

Saat masa-masa suram mewarnai akhir hidup seorang Sukarno, Hatta tidak tinggal diam. Hatta yang mengetahui proses perawatan Sukarno yang dianggap kurang terhormat, menuliskan surat kecaman kepada Soeharto. Hatta pun ngotot ingin bertemu sahabatnya.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah setengah sekarat. Hatta menyapa “Bagaimana kabarmu, No?” Matanya sudah basah.

Bung Karno menjawab, susah payah tangannya berusaha meraih lengan Hatta “Hoe gaat het met Jou?” “Bagaimana pula kabarmu?”

Berdua, dalam kamar yang kondisinya sangat tidak layak, kedua proklamator bangsa ini menangis bersama. Sejarah menjadi saksi betapa tidak bahagianya dua orang yang pernah segenap jiwa memperjuangkan kemerdekaan bangsa mereka. Hatta pulang, tak lama Bung Karno pun meninggal. Seolah menunggu agar bisa bersua dengan sahabat lamanya. Sungguh hubungan yang menyesakkan dada.

***

Tak memiliki kemampuan verbal dalam berbicara sepiawai rekannya, Sukarno, Hatta mencurahkan pengetahuannya dalam bentuk tulisan. Meninggal di tahun 1980, Hatta mewariskan harta termahalnya, “30 ribu judul buku.” Integritas dan kesederhanaan hidup menjadikannya mutiara tak terjamah dalam deretan pemimpin dahulu dan sekarang. Lebih langka lagi sebagai negarawan yang juga sangat aktif dalam menulis.

Seorang penyair dari Padang, pernah berkata kepada anak-anak yang datang kepadanya untuk belajar menulis puisi, “Tulislah sesuatu yang kalian ketahui tentang Bung Hatta. Dia orang besar dan hidupnya seperti buku yang tak akan pernah tamat dibaca.”

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan pengampunan bagi beliau. Amin :). Sedikit biografi Bung Hatta ini semoga bisa membantu memahami jalan perjuangannya yang mungkin tidak sementerang rekannya, Bung Karno :).

***

Disarikan dari berbagai sumber :

“Hatta, Jejak Melampaui Zaman” (serial Bapak Bangsa Majalah Tempo)
eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=22
www.ghabo.com/gpedia/index.php/Mohammad_Hatta

Every MakGer Has Her Own Story

MakGer tidak ada hubungannya dengan Mick Jagger :D. MakGer, emak blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak-emak Blogger, baru saja menuntaskan perhelatan akbar, Pemilihan Srikandi Blogger 2013. Maaf untuk para blogger pria, ini khusus untuk penulis blog perempuan saja. Peranan apa yang mereka mainkan sehingga memunculkan kompetisi untuk meraih mahkota ‘Srikandi Blogger’ ini? Apa istimewanya para MakGer ini?

Gambar : emak2blogger.web.id
Gambar : emak2blogger.web.id

Kekuatan Sharing via Blog

Era digital menggiring kita ke era kebebasan informasi. Saya ini termasuk yang sering banget  mengandalkan bantuan si kamus serba ada alias “Mbah Google” dalam soal apa pun. Termasuk saat saya sudah menyandang status Ibu dimana urusan anak otomatis menjadi prioritas penting dalam kegiatan sehari-hari.

Menjadi Ibu di zaman sekarang ini referensinya banyak dan mudah didapatkan secara gratis dari berbagai situs. Misalnya saat anak demam, muntah-muntah, dan diare. Kadang-kadang, bukannya ke dokter, saya malah googling dulu. Hehehe.

Masalah anak bukan cuma kesehatan saja, kan? Soal yang lain juga komplit dan mudah diakses hanya dengan memainkan jemari di atas keyboard saja.

Salah satu referensi andalan saya adalah blog. Terutama blog yang ditulis oleh beragam ibu-ibu di seantero nusantara. Melalui blog, saya leluasa meraup informasi berdasarkan pengalaman langsung dari sesama emak-emak. Saya bersyukur berkat membaca beberapa pengalaman mereka via blog tentang alergi pencernaan yang dialami anak-anak mereka membuat saya akhirnya menemukan jawaban atas alergi yang juga dialami oleh anak sulung saya.

Informasi makanan anak juga lengkap. Mulai dari panduan memilih bahan makanan sejak usia 6 bulan, variasi resep makanan si kecil, hingga tips-tips ketika si kecil memasuki fase GTM. Seiring dengan seru dan ramainya topik yang didiskusikan seputar perkembangan anak ini, memunculkan banyak istilah-istilah lain selain GTM, seperti : Clodi, MPASI, MPASU, Sufor, RUM, dsb. GTM sendiri artinya Gerakan Tutup Mulut. Segala sontekan ini sudah bisa diintip jauh sebelum sang anak hadir di dunia.

Blogger perempuan tak pernah mati gaya dalam berkisah. Sebelum melepas masa lajang, saya sering mengintip kisah-kisah persiapan pernikahan. Tak sedikit blogger perempuan yang mengabadikan perjalanan momen pernikahannya dalam blog. Mulai dari memilih venue, seserahan, model baju pengantin, dsb. Bercerita lengkap dari prosesi lamaran hingga resepsi digelar. Secara terperinci menjelaskan secara detail di mana berburu barang-barang seserahan. Konsep foto pre-wedding pun tidak ketinggalan. Lengkap dengan pilihan tempat untuk menjahit kebaya pernikahan, dsb.

Female Blogger(s) are 'in action'
Female Blogger(s) are ‘in action’ (gambar dari berbagai sumber / tercantum dalam gambar)

Perempuan dan Peer Pressure

Konon, perempuan tak mudah lepas dari peer pressure. Kita mengira segala drama persaingan ini akan berakhir ketika bangku sekolah sudah ditinggalkan.

Memasuki dunia emak-emak, ‘kompetisi’ berlanjut ke masalah anak. Tren ini pun dialami oleh para emak-emak blogger. Tadinya di masa lajang sering menulis tentang diri dan sekitar saja. Ketika hamil mulai rajin mencatatkan minggu demi minggu kehamilannya. Apalagi di kehamilan pertama.

Setelah berstatus resmi sebagai ‘Ibu’, isi blog mulai didominasi oleh perkembangan anak.  Selain untuk merekam kenangan, bisa menjadi referensi buat perempuan lain yang akan atau tengah menghadapi pengalaman serupa.

Terkadang tujuan utama sekadar ingin berbagi cerita. Lama kelamaan menjelma menjadi ajang persaingan. Mulai was-was sendiri melihat berat badan anak dibandingkan dengan berat badan anak si anu. Mengapa anak sendiri usia satu tahun berdiri pun belum tegak, tapi membaca kisah ibu lain di blog yang anaknya sudah berlari di usia 13 bulan.

Awalnya ingin berbagi serunya menyaksikan sendiri perkembangan anak karena memilih menjadi ibu rumah tangga. Namun, kebanggaan berlebihan membuahkan hujatan pada mereka yang berbagi masalah perawatan anak dengan para pengasuh.

Maksud hati ingin menyemangati ibu-ibu lain agar memberi ASI pada anaknya sekaligus berkampanye. Malah sering tak sadar menghakimi mereka yang tak mampu mengemban tugas menyusui anak dan beralih ke susu botol.

Sebuah buku mengenai parenting style, “Battle Hymn of the Tiger Mother” yang ditulis oleh Amy Chua, sempat menjadi menghebohkan kalangan ibu-ibu. Tak sedikit blogger perempuan yang mereview buku tersebut dan menghadirkan kompetisi baru antara ‘western parenting’ vs ‘eastern parenting’. Ada yang masih ingat? :).

Uniknya, perselisihan ‘klasik’ ini tak kalah serunya di dunia maya. Bermunculannya emak-emak blogger dari segala penjuru memungkinkan kita untuk memantau langsung kehidupan mereka sekaligus anak-anaknya. Jangankan anak tetangga, anak orang lain yang tinggal berjarak ratusan mil di sana terasa dekat dengan bantuan sebuah layar komputer saja.

 

mommies war all
(Gambar : dari berbagai sumber / tercantum dalam gambar)

Mengapa bersusah payah meributkan perbedaan yang sampai kapan pun pasti akan selalu ada? Kita sering melupakan satu persamaan besar kita. Kita semua sama-sama PEREMPUAN :). Fokus saja pada itu.

Bersatu di Bawah Naungan “Kumpulan Emak-emak Blogger”

Saya masih termasuk anak bawang dalam “Kumpulan Emak-emak Blogger.” Begitu bergabung, langsung berada dalam keramaian suasana  menjelang tahap akhir seleksi “Pemilihan Srikandi Blogger 2013.”

Saya sendiri tak ikut mendaftar. Saya sempat ciut. Saya pikir, “Ah, ini pasti yang dipilih nanti ibu-ibu yang banyak menulis tentang opini yang susah-susah.” Pasti bukan emak-emak blogger yang lebih sering menulis tentang anak-anak dan hal ringan lainnya seperti saya.

Ternyata…saya terkecoh. Dalam Kumpulan Emak-emak Blogger kita tidak melulu diminta untuk menulis hal yang ‘keren-keren’, misalnya opini tentang politik, kesetaraan gender dan topik-topik ‘tak ringan’ lainnya. Terbukti dari pemilihan para finalis Srikandi Blogger 2013 yang tidak didominasi oleh kalangan tertentu.

Finalis SB2013 (Gambar : dari Grup Facebook "Kumpulan Emak2 Blogger")
Finalis SB2013 (Gambar : dari Grup Facebook “Kumpulan Emak2 Blogger”)

Sebagian adalah ibu rumah tangga yang tak lelah berbagi pada dunia di tengah pertarungan sehari-hari mengurus anak, suami dan rumah. Salah satunya adalah Mak Eka Putri, yang aktif berkampanye “Stop Kekerasan pada Anak.” Ada juga Mak Myra Anastasia yang aktif menulis untuk mengikat kenangan tentang banyak hal termasuk kedua buah hatinya, Keke dan Naima :).

Apa hanya ibu-ibu rumah tangga saja yang berhak mendapat apresiasi lebih? Tidak, tuh :). Di jejeran finalis, ada Mak Diadjeng Laraswati, seorang karyawati yang juga hobi travelling dan fotografi. Tak ketinggalan seorang aktivis kemanusiaan dari Aceh yang kini aktif di UNDP, Mak Alaika Abdullah. Satu lagi nih, ada Mak Nchie Hanie. Selain hobi memasak dan nge-blog, emak satu ini juga berkecimpung di bisnis lain yang masih berhubungan dengan dunia online.

Ibu-ibu lain yang aktif berkiprah di ‘luar rumah’ tapi tidak berkantor ada beberapa. Ada seorang penerjemah paruh waktu, yaitu Mak Dina Begum. Mak Winda Krisnadefa malah menggagas sebuah komunitas yang bernama “Kampung Fiksi.” Cita-citanya ingin membagi semangat menulis fiksi untuk anak-anak usia sekolah. Jangan lupa masih ada Mak Shinta Ries, yang memiliki keahlian untuk mendesain web dan blog.

Finalis yang sangat mencuri perhatian saya adalah Mak Anazkia. Di sela-sela aktivitas pekerjaannya di Negeri Jiran, emak satu ini mempunyai program yang sangat layak diacungi jempol. Dia bercita-cita untuk menyalurkan buku ke seluruh wilayah nusantara.

Idola lain saya adalah Mak Oktaviani Nur Hasanah dari Kepulauan Selayar – Sulawesi Selatan. Bukan karena saya berasal dari propinsi yang sama, lho. Tapi terkesan dengan prinsipnya yang menekankan pentingnya berbagi mengenai hal-hal positif saja. Emak satu ini katanya sering menjuarai lomba blog mengenai kuliner atau kecantikan yang pernah membawanya ke Thailand segala.

Kesepuluh ‘Srikandi’ ini menjadi bintang di malam final yang berlangsung pada tanggal 28 April 2013 lalu. Saya, nun jauh di sini, hanya bisa menyaksikan kemegahannya melalui foto-foto yang tersebar di blog Kumpulan Emak-emak Blogger dan di Facebook.

Gambar : facebook.com/groups/KumpulanEmak2Blogger/
Gambar : facebook.com/groups/KumpulanEmak2Blogger/

Didukung oleh sponsor-sponsor besar, ini bukan acara ecek-ecek. Salah satu sponsornya adalah ACER. Sebagai mantan pekerja IT, saya tahu pasti bahwa ACER adalah brand komputer yang berskala internasional. Sponsor lain yang tak kalah gemerlapnya adalah Rinso. Saya pernah menjadi bagian dari keluarga besar perusahaan yang memproduksi dan memasarkan Rinso. Home care brand satu ini termasuk produk andalan yang cukup laris di tanah air.

Yang akhirnya berhak memperoleh mahkota sebagai “Srikandi Blogger 2013” adalah Mak Alaika Abdullah. Mak Alaika akan menjadi perwakilan KEB di Asean Blogger yang berlangsung di Solo.  Berdasarkan vote, “Srikandi Favorit 2013” diraih oleh Mak Anazkia. Sedangkan vote yang lain memenangkan Mak Myra Anastasia sebagai “Srikandi Persahabatan 2013.”

Ketiga pemenang ini tentu saja banjir hadiah dari Acer, Rinso, maupun sponsor lain yaitu produk kosmetik Wardah. Ada touchscreen notebook, laptop, paket Rinso, kosmetik dll. Ketujuh finalis lainnya pun tidak pulang dengan tangan kosong. Ketujuh finalis masing-masing memboyong sebuah televisi dan hadiah dari Rinso maupun Wardah.

Ada 2 pemenang lain diluar kesepuluh finalis tadi. Mak Haya Aliya Zaki mendapat predikat “Blogger Inspiratif”. Gelar “Blogger dengan Lifetime Achievement” disematkan pada Mak Yati Rachmat. Masing-masing berhak atas sebuah televisi + paket Rinso dan Wardah.

Pemenang SB203 (Gambar : emak2blogger.web.id)
Pemenang SB203 (Gambar : emak2blogger.web.id)

Every MakGer Has Her Own Story

Every MakGer has her own story. Mainkan jemari di keyboard laptop/netbook/tablet atau apa pun ‘senjata’ yang para MakGer miliki. Menangkan hati pembaca tanpa perlu mengarahkan telunjuk kepada pihak mana pun. Jadilah srikandi-srikandi penebar inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif.

Jangan takut untuk menuliskan hal-hal yang kelihatannya sepele. Memaksakan diri untuk menulis opini-opini mengenai topik ‘berat’ tidak selalu menjadi pilihan bijaksana. Jadilah diri sendiri. Berikan sentuhan unik pada cerita-cerita kita. Kumpulan kisah yang berbeda-beda dari berbagai MakGer akan menjadi warna warni tersendiri dalam dunia blogger.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan sehelai daun kering yang tersia-siakan oleh angin bisa dipungut dan dijadikan kerajinan tangan berupa pembatas buku yang cantik :).

“One person can make a difference, and everyone should try.” ― John F. Kennedy

Mari bergabung dengan barisan MakGer. Siapkan diri menjadi penantang di kompetisi besar “Srikandi Blogger” di tahun-tahun mendatang ;).

***

My First Love, Tehran :)

by : Jihan Davincka

***

Sebelum benar-benar ke sana, bayangan saya tentang Timur Tengah memang kurang menyenangkan. Ada, sih, beberapa negara yang ingin saya datangi. Seperti misalnya Emirat yang terkenal dengan kota-kota berkonsep modern-internasionalnya (eg : Dubai dan Abu Dhabi).

Gambar : www.islamicinvitationturkey.com
Gambar : www.islamicinvitationturkey.com

Tapi saat kesempatan untuk tinggal di luar negeri benar-benar datang, sungguh tak menduga kota pertama yang harus saya datangi adalah…Tehran! Maaakkk, kota apaan, tuh?

Selain Tehran adalah ibukota negara Iran, satu-satunya hal yang saya tahu tentang Negeri Persia ini adalah nama presidennya yang sempat menebar wangi semerbak di tanah air di periode awal kepemimpinannya, Ahmadinejad.

Lucu ya, sekarang banyak hujatan kepada Persia si Negara Syiah. Sementara dulu, Ahmadinejad dipuja puji bak pahlawan. Hehehehe. It’s funny that how easy we are manipulated by news :D.

***

Kota Tehran bukan tujuan wisata yang umum bagi orang-orang Indonesia. Tak banyak pula warga Indonesia yang bermukim di sana. Uniknya, dengan bantuan Google, saya malah banyak menemukan curahan hati perempuan-perempuan asli Iran yang sudah hengkang ke negara Amerika.

Mereka menuduh pemerintahan Iran yang dianggap terlalu mengekang kaum perempuannya. Cara berpakaiannya pun diatur-atur. Duile, malah membuat semakin takut. Di tahun 2009 itu pula, Iran sedang seru-serunya berseteru dengan duet maut (Israel-USA) di media massa. Beberapa blog tentang kota Tehran kena blokir. Jadi makin takut.

Pernah ada kejadian, lupa deh, entah serangan bom atau apa di wilayah Israel oleh Palestina. Sewaktu suami sudah ke sana dan saatnya saya dan Abil harus ikut, sempat terjadi percakapan konyol,

“Bang, kena bom entar gimana?”

Suami saya heran, “Bom apa, sih?”

“Itu, Bang. Ada bom di Palestina apa Israel gitu.”

Suami langsung ngakak. “Bisa lihat peta, kan? Iran itu di mana? Dekat apa?”

Saya tetap bersikeras, “Ya kan sama-sama Middle East.”

“Makassar dari Jakarta jauh, enggak? Aceh dari Jakarta jauh, enggak? Pluit dari Pejaten aja jauh.” Suami saya menjawab sambil meledek.

Hehehehe. Saking takutnya, hilang sudah pikiran-pikiran rasional. Mengingat ini kesempatan untuk melancong ke luar negeri untuk pertama kalinya, saya berusaha menumbuhkan rasa semangat  dalam hati. Biarpun sesekali mengeluh, “Ya Tuhan, kenapa Tehran, sih?”

***

Hanya butuh waktu beberapa detik untuk jatuh cinta seketika pada kota cantik yang ternyata memiliki 4 musim dan bersalju ini! Maklum cing, waktu itu masih norak-noraknya sama salju. Sekarang sih, ampun dijeeeeeeeee :P.

Begitu keluar dari bandara, saat taksi sudah melesat memasuki jalan, saya sudah takjub. Tidak pernah membayangkan kalau Timur Tengah bisa sehijau itu. Tahunya kan Timur Tengah = Gurun Pasir :P.

Mendekati pusat kota makin hijau. Pohon-pohonnya tertata rapi dan berwarna warni. Betul-betul dibentuk aneka rupa. Satu lagi yang langsung menarik perhatian, kota Tehran ini KEBERSIHANnya juara banget!

Bahkan bila dibandingkan dengan kota kecil Athlone di salah satu  negara maju Eropa ini, Tehran masih lebih bersih :).

Tehran memiliki sistem pengairan yang sama dengan Indonesia. Saluran-saluran airnya tidak terletak di bawah tanah. Tapi di pinggir-pinggir jalan (got maksudnya hehehehe). Tapi selokan-selokannya lebih lebar. Saking bersihnya, pandangan kita  bisa menembus airnya yang  jernih hingga ke dasar saluran.

Sewaktu di Tehran kami mendapat apartemen yang mewah banget :D. Saya datang di bulan Juni, ketika puncak-puncak pegunungan yang mengelilingi kota Tehran masih berselimutkan salju nan tipis. Musim semi tengah berada di puncaknya. Tehran yang memiliki banyak sekali taman-taman bunga yang mahaluas dan mahaindah berada di puncak keindahan alamnya.

Ada dua taman favorit saya, Mellat Park dan Sai Park. Keduanya terletak di Vanak Street, jantung kota yang tak jauh dari posisi gedung apartemen.

Mellat Park
Mellat Park

Transportasi publik di Tehran dibangun dengan rapi dan teratur. Mulai dari bis, taksi hingga subway. Subwaynya mereka sebut Metro. Keren dan tentu saja…bersih ;). Sebagai Negeri berbasis agama (Islam-Syiah), tempat-tempat publik selalu memisahkan antara perempuan dan laki-laki. Termasuk dalam bis atau metro.

Tak terlalu perlu memiliki mobil karena cukup nyaman kemana-mana berjalan kaki atau naik taksi. Ada taksi murah, lho. Namanya “mustaqim”. Taksinya melewati jalur-jalur tertentu saja dan bisa dinaiki oleh siapa saja asalkan belum penuh. Murah sekali. Cuma 1000-3000 rupiah per rute.

tehrn clothersAturan berpakaian juga ada di Tehran. Tapi tidak seketat Saudi. Di Iran, perempuan boleh bercelana jeans atau celana apa pun. Asalkan bajunya lengan panjang dan memanjang hingga menutup minimal setengah bagian paha.

Rambut mesti ditutup kerudung, tak mengapa bila rambut terlihat. Ini aturan umum yang berlaku buat SEMUA PEREMPUAN, baik muslim maupun non muslim.

Perempuan bebas bekerja di Iran. Bebas menyetir sendiri. Preman-preman lho para pengemudi perempuan di sana hehehehe. Obat-obatan yang dijual di apotik sangat murah. Waktu itu Abil sempat sakit mata. Masa harga obatnya cuma 14 ribu rupiah, sudah termasuk obat tetes + salep + obat minum (terserang bakteri jadi ada semacam antibiotik minum juga).

Satu hal yang cukup menyiksa adalah urusan perut. Waktu itu belum semahir sekarang dalam urusan dapur :D. Tapi di Tehran tidak ada gerai-gerai internasional asing yang umum terdapat di tanah air dan kota-kota besar dunia lainnya. Tidak McD, tidak ada KFC, tidak ada Pizza Hut. Intinya, embargo ekonomi US tidak mengizinkan gerai-gerai Amerika berdiri di seluruh penjuru Iran.

Makanan khas mereka nyaris tidak ada rasa. Ada sih gerai internasional dari Eropa, tapi kan tidak populer di tanah air.

Di salah satu sudut kota kami sempat melewati sebuah lahan luas yang masih dihuni sebuah bangunan yang sudah rusak separuh.

“Ini tempat apa, Bang?” Tanya saya ke suami.

“Nah, ini dulu kedutaan Amerika Serikat. Habis revolusi Iran, mereka cabut. Gedungnya dibiarin  begitu saja.”

Tapi harga-harga pokok di Tehran relatif mahal-mahal. Susu dan coklat saja yang harganya murah. Satu lagi hal yang  mengagumkan dari Negeri Para Mullah ini, TAK ADA PENGEMIS SAMA SEKALI! Tapi soal keramahan orang-orangnya, sebelas dua belas deh sama orang-orang Arab hehehe. Sama songongnya :P.

Kotanya berhasil mencuri hati seketika kaki melangkah keluar dari bandara, tapi sayangnya, rezeki pekerjaan tidak mulus. Suami memutuskan untuk mencari peruntungan di tempat lain. Saat itu harapan kembali merekah. Sewaktu kami sekeluarga masih di Tehran, kabar baik malah  datang dari Jeddah. Lagi-lagi Timur Tengah. Ya sudahlah.

***

Meskipun banyak episode-episode terbaik dalam hidup saya malah bertempat di Jeddah, tapi Tehran ini ‘cinta pertama’ hehehehe. Hanya ingin berbagi soal salah satu kota tercantik di dunia ini. Pesonanya yang nyaris tenggelam dengan maraknya pertentangan yang menyoroti paham Syiahnya.

Padahal kalau mau jujur, dalam hati kurang suka dengan suasana Jeddah yang sangat kental kapitalisnya. Kelebihannya yang hanya bisa dinikmati secara maksimal oleh mereka yang memiliki materi lebih.

Makanya, selalu ada dua sisi tentang Negeri Saudi yang mampir ke telinga kita.

Jangan bingung, begitulah gemerlapnya Saudi, yang sering dianggap perwakilan mayoritas Sunni. Di satu sisi membuat banyak hal terlihat indah. Di saat yang sama, menggoreskan sakit hati yang tidak sedikit bagi beberapa pendatang yang kurang beruntung :(.

It doesn’t feel right. Terutama bagi saya, yang pernah dimanjakan oleh indahnya kehidupan di ibukota Persia, penganut paham Syiah paling populer di dunia. Pernah menjadi bagian dari ‘beberapa hal tidak menyenangkan’ yang menjadi fakta-fakta dari kota Jeddah. Jeddah, kota terbesar ke-2 di Saudi, yang sering dijadikan kiblat kaum Sunni.

Kalau saya pribadi, lebih suka menyoroti ketidaksukaan saya pada kaum ‘kapitalis’. Tidak sreg dengan ‘kapitalisme’. Sebuah paham yang mengajarkan bahwa uang adalah segala-galanya. Bahwa harga diri kita adalah apa yang kita pakai. Yang menjurus pada tampil mentereng adalah kewajiban untuk mendapatkan penghormatan dari orang lain. Dalam  memilih alat penunjang hidup, kita mulai menafikan fungsi dan kenyamanan. Merek dan gengsi lebih dipertimbangkan.

Kedengarannya sepele. Padahal semua penghargaan yang terlampau tinggi pada MATERI ini adalah dasar dari begitu banyak bencana yang telah (dan mungkin akan) menimpa kita semua.

Jangan lupa sambangi tulisan-tulisan saya tentang Kota Jeddah  juga ya hehehe ;).

***

Watch Your Step, Ladies!

Model Sepatu, dari Impian Kanak-kanak Hingga Dewasa

Di usia belasan, saya sering membayangkan diri saya sepuluh tahun ke depan. Dengan lipstik merah di bibir, memakai blazer ke kantor dan tentu saja memakai sepatu high heels kemana-mana. Menurut saya kala itu, high heels merupakan salah satu aksesoris penting untuk memasuki gerbang kedewasaan.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Saya pernah  bergaya di depan kaca dengan koleksi sepatu berhak tinggi punya Ibu. Berusaha menyeimbangkan langkah ketika berjalan. Tapi seringkali percobaan demi percobaan berakhir dengan kaki terasa pegal. Saya bingung mengapa banyak perempuan dewasa yang bisa bertahan begitu lama dengan beralaskan sepatu model ini, ya? “Ah, nanti kalau sudah besar pasti akan otomatis terbiasa,” pikir saya.

Memasuki gerbang universitas, salah satu kakak saya yang penggila fashion  membelikan sepasang sepatu baru. Sol sepatunya tinggi tapi tebal merata dan tidak runcing seperti biasanya. Ketika dipakai jauh lebih nyaman. Belakangan saya tahu, namanya wedges.

 

Saya langsung merasa cocok dengan wedges. Tapi pada akhirnya di kampus saya lebih sering memakai sepatu kets. Dari tempat kos, saya mesti berjalan cukup jauh untuk mengambil bis menuju ke kampus. Begitu pula saat pulang. Kadang-kadang jalanan yang saya lewati tergenang sisa-sisa air hujan, sering pula jalannya becek. Sepatu kets pilihan yang paling tepat.

Mengawali kehidupan baru sebagai karyawati di perusahaan swasta, mulai ingat lagi dengan bayangan masa kecil. Saatnya mengenakan high heels? Lagi-lagi situasi dan kondisi yang tidak kunjung tepat. Dahsyatnya kemacetan ibukota memaksa saya mengandalkan transportasi kereta. Ditambah lagi posisi kantor dan tempat kos yang sangat dekat dari stasiun.

Tentu saja pesona kereta yang ‘anti macet’ tak cuma memikat saya, tapi juga menjadi pilihan utama ratusan ribu penumpang lainnya. Saat jam pergi dan pulang kantor, luar biasa jumlah penumpangnya. Harus gesit saat merebut jalan untuk masuk ke dalam, harus sigap menyelinap keluar saat tiba di stasiun tujuan. Saat itu saya merasa nyaman dengan flat shoes.

Flat shoes pun punya banyak ragam model dan warna. Penampilan bisa tetap terlihat chic.

 

Banyak rekan perempuan di kantor punya cara unik tentang penampilan. Ada rekan yang sesama pengguna kereta. Di kereta, dia hanya berkaos biasa dan memakai sandal. Begitu tiba di kantor, dia tak langsung menuju ke ruang kerja. Tapi berputar ke arah kamar mandi dan mengganti baju di sana. Alas kakinya pun segera ditukar begitu tiba di meja kerja. Ternyata, beragam high heels dan wedges aneka rupa dan warna telah ditata rapi di salah satu rak mejanya. Tinggal dipilih. Hanya sesekali dibawa pulang. Cerdik juga.

Saya tak menerapkan itu. Bukannya tak peduli penampilan. Tapi pekerjaan saya sebagai IT programmer kala itu lebih sering membuat saya bercengkrama dengan layar monitor. Sesekali bertemu user yang juga lebih banyak menghabiskan waktu di belakang meja. Membicarakan banyak hal teknis. Penampilan tak terlalu penting. Peer pressure-nya pun tak banyak. Mengingat di divisi kerja saya yang saat itu terdiri dari sekitar 60 orang, pegawai perempuannya hanya sekitar 5 orang saja.

Walau begitu, saya tidak nyinyir dengan urusan penampilan rekan perempuan lain. Apalagi soal sepatu. Beberapa pria suka meremehkan kebiasaan pasangan atau rekan perempuannya yang mendewakan  urusan sepatu. Jangan memandang rendah kalau menurut mereka sepatu bukan urusan main-main. Tidak percaya?

“A pair of shoes can obviously change your life. Just ask Cinderella.” -Anonymous

Gambar : www.dangerdame.com
Gambar : www.dangerdame.com

Fashionable Daily Shoes, Where to Get?

Bagi sebagian perempuan, sepatu tak dianggap sekadar pelengkap. Walaupun hanya alas kaki, pengaruhnya terhadap keseluruhan penampilan tidak bisa dianggap enteng.

Funny that a pair of really nice shoes makes us feel good in our heads — at the extreme opposite end of our bodies.” -Levende Waters

Funny yet true. Jangan heran kalau tidak sedikit perempuan yang gemar mengoleksi sepatu. Sepatu menjadi salah satu penunjang penampilan harian. Kebutuhan akan fashionable daily shoes cukup umum di kalangan perempuan.

Saya bukan penggila sepatu. Apalagi jika harganya mahal. Saya merasa lebih baik memiliki beberapa pasang sepatu yang cukup nyaman dengan harga yang terjangkau. Selain harga, model pun patut dipertimbangkan.

Sepatu beralas rata dan rendah menjadi pilihan sehari-hari. Dengan menenteng 2 balita laki-laki kemana-mana, saya merasa nyaman dengan flat shoes. Selain flat shoes, sandal juga pilihan yang jitu. Tapi ada juga, lho, rekan saya yang biarpun ber-high heels setiap waktu, tetap lincah dan tidak terganggu ;).

 

Filosofi Sepatu

Ada yang sudah terbiasa ber-high heels kemana-mana. Tidak sedikit pula yang seleranya sama dengan saya, pencinta flat shoes. Tak jarang yang koleksi sepatunya didominasi oleh wedges. Bahkan, yang percaya diri dengan sandal kemana-mana juga banyak.

Untuk saya, tampil ‘cantik’ di hadapan umum itu perlu. Tapi jangan sampai mengorbankan kenyamanan. Memaksakan diri memakai high heels agar terlihat anggun sementara kaki memberontak bukan pilihan bijaksana.

Siapa bilang dengan flat shoes atau sandal tak menjamin untuk tampil menawan? Penampilan juga dipengaruhi dengan cara kita memandang diri sendiri yang datang dari dalam hati. Kita bebas memilih jenis sepatu mana pun. Tak ada kata mati gaya. Just be yourself <3. 

Namun, jangan pula menutup diri dengan mencoba sesuatu yang baru hanya karena takut atau merasa rendah diri. Penggemar flat shoes seperti saya, sesekali pernah juga mencoba wedges di beberapa kesempatan. It still feels good on me. Bertahan sekitar sejam di acara undangan pernikahan dengan high heels pun pernah saya coba hehe. Sejam saja tapi yaaaaa, lebih dari itu pingsan deh, hahaha :p.

Lebih penting lagi, selalu berhati-hati dengan langkah-langkah yang Anda ambil. Sepatu apa pun yang melekat di kaki, “Always remember to Watch your step, Ladies. You don’t know where it might lead you to.”

untuk mengambil langkah ke depan untuk masa depan yang lebih baik ;).

***

“Because one day Mommy, I won’t be this small”

Anak saya yang ke-2 baru saja berulang tahun yang ke-2. I have reached the moment when all I hear is, “No!” Ucapan “No” di hampir setiap tawaran-ajakan-pertanyaan-himbaun padanya disertai dengan kedua tangan dilipat ke arah dada. Syukur-syukur dia tidak pakai buang muka.

Dalam dunia parenting, istilah “the trouble 2” ini cukup populer. Narda, si jagoan kecil ini, punya perangai yang berbeda dengan kakaknya, walaupun sama-sama laki-laki. Termasuk perkembangan motoriknya.

Nabil, kakaknya, biarpun terlihat sangat lincah dan supel, tapi lumayan penakut. Narda, meskipun sekilas kelihatan kalem, pemberaninya jangan ditanya.

Usia 10 bulan dia sudah lancar berjalan. Usia 13, dia sudah berlari. Cenderung telat berbicara dibanding kakaknya yang sangat verbal. Kakaknya agak takut ketemu air. Narda sekali dibawa ke kolam renang, mengamuk luar biasa saat diangkat dari kolam untuk ganti baju. Dia berani meloncat dari atas sofa ke lantai di usianya yang masih 15 bulan. Kalau kakaknya iseng mengajaknya memanjat-manjat, Narda tak pernah gentar. Kakaknya sudah turun karena takut lebih tinggi lagi, dia terus merangkak naik.

Nabil lebih mudah diarahkan. Diberitahu apa saja kemungkinan besar akan menurut. Dia takut gelap dan takut bila ditinggal.

Narda berbeda sekali. Dia suka ngambek tidak mau naik ke stroller saat akan dibawa untuk menjemput kakaknya di sekolah. Saya sebal. Saya tinggal saja dia di depan pintu apartemen, saya pura-pura akan meninggalkannya sendiri dengan harapan dia akan terbirit-birit mengikuti saya. Kenyataannya, dia malah berlari menjauh ke arah sebaliknya. Olala, waktu sudah makin sempit, direpotkan pula dengan mengejar bocah ini di sepanjang lorong lobi gedung apartemen. Jadilah saya mesti setengah berlari sambil mendorong stroller agar tak terlambat tiba di sekolah.

Kalau sedang berdinas di dapur saya inginnya dia dekat-dekat saya. Tapi dia kadang ingin bermain di dalam kamar. Saya pura-pura tutup pintunya dengan nada mengancam. Berharap dia akan berteriak-teriak menangis dan minta ikut. Lama saya tunggu. Pas pintu dibuka lagi, dia berdiri menantang dengan wajah keras. Boro-boro menangis ketakutan.

Terdengar menggemaskan, ya? Tapi percayalah, mengurusi kedua balita super aktif ini, saat nun jauh di negeri rantau, tak punya asisten sama sekali, kadang menjadi ‘cobaan’ tersendiri buat Mama-nya yang memang terkenal dengan stok kesabaran yang pas-pasan. Sebagai manusia biasa, tak jarang saya merasa putus asa dan meradang.

Narda dan abang :D (Athlone Regional Sport Center)
Narda dan abang 😀 (Athlone Regional Sport Center)

***

Ibu saya pernah bilang, “Dada waktu kecil dibawa naik perahu menyeberang laut. Nangis terus sepanjang perjalanan.”

Ibu bercerita tentang kakak saya yang nomor 4. Katanya lagi, saking kesalnya mau dibuang ke laut saja rasanya. Kakak saya yang ini cengeng sekali kata Ibu. Apa-apa mesti minta gendong.

Lain lagi dengan kakak saya nomor 2. Waktu memasuki usia sekolah, susah payah Ibu membujuknya untuk ke sekolah.

“Kalau tidak mau sekolah, nanti jadi tedong,” ancam Ibu (tedong = kerbau, bahasa bugis). “Biarmi jadi tedong,” jawab kakak saya sambil menangis. (Biarmi = biar saja, logat sulawesi).

Saya pun bukannya tak pernah berulah. Perkenalkan, si kecil Jihan yang pundungan luar biasa. I’m a picky eater as well. Saking pemilihnya, waktu kecil sakit-sakitan. Kalau sakit, rewel luar biasa. Kalau mood lagi jelek waktu bangun tidur di sore hari, habislah isi lemari baju saya lemparkan semua ke lantai! My oh my *nyengirImut*.

Saat kami semua telah dewasa, saya perhatikan Ibu selalu menceritakan semua kerusuhan yang kami buat saat kecil sambil tertawa-tawa. Tak ada rasa menyesal sama sekali.

Mama and her grown-up babies :D (January, 2013)
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)

***

Saya pernah membaca sebuah kisah populer via internet mengenai dialog seorang anak dengan Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia. Sang anak mengungkapkan kegundahannya atas semua hal-hal yang akan dihadapi di dunia barunya nanti. Tuhan menjawab dengan sabar semua pertanyaan si anak dengan, “Tenang saja. Sudah kusiapkan seorang malaikat di dunia untukmu. Seseorang yang akan kau panggil…Ibu.”

Menurut cerita itu, Ibu adalah malaikat untuk anak-anaknya. Betulkah?

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri (pesertanya sebagian besar ibu-ibu), fasilitator bertanya kepada kami, “Ibu-ibuuuu, anak itu banyak meminta atau banyak memberi.”

Tanpa dikomando, jawaban kompak kami bergema di seluruh ruangan, “Memintaaaa…”

Tiga kali fasilitator bertanya dan kami tetap keukeuh pada jawaban kami, anak-anak lebih banyak meminta. Kami diminta mengeluarkan handphone, masuk ke folder foto, memilih foto anak kami, dan memandanginya lama-lama. Sejenak, seisi ruangan hening. Fasilitator mulai bersuara lagi, “Bayangkan kalau wajah yang Anda pandangi di foto itu sedang sakit. Sakitnya parah. Sampai Anda harus melarikannya ke rumah sakit. Ternyata, takdir tak berpihak pada kita. Anak anda dinyatakan…”

Belum selesai ucapannya, suasana hening buyar dengan tangisan Ibu-ibu peserta tadi.

Ah, kita semua terkecoh. Bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.

Kalaupun ternyata kita yang harus pergi lebih dahulu, mereka bisa dirawat oleh siapa saja. Perlahan, apalagi jika usianya masih sangat kecil, mereka mungkin sanggup menghapus bayangan ibunya. Tapi bila dibalik, Ibu mana yang sanggup membayangkan ketiadaan anak-anaknya? Sejak dua buah garis muncul di selembar testpack saja, kebahagiaan seorang (calon) Ibu sudah sedemikian membuncah-buncah.

Lagi-lagi kita terkecoh. Anak-anak tak pernah meminta dilahirkan. Justru kehadirannya yang memberikan banyak sekali hal yang sebagian besarnya berlabel “kebahagiaan.”

Waktu kecil mungkin mereka akan terlihat bagai monster mini. Apa-apa minta ditemenin. Apa-apa harus diajarin. Makannya pun mesti dijaga. Seperti saya, berjalan kaki kemana-mana makin terasa repot karena ada mereka dalam stroller.

Tapi saya ingat lagi cerita Ibu. Waktu bapak sudah tidak ada, Ibu kerepotan mencari teman untuk dibawa ke kondangan karena waktunya sebagian besar di malam hari. Waktu masih kecil-kecil, semuanya heboh minta ikut. Begitu sudah abege, sudah punya kesibukan sendiri.

Waktu masuk TK sudah ada yang tidak mau tangannya digandeng. Malu pada guru dan teman-temannya. Yang tadinya tak bisa tidur kalau tidak dipeluk sama mama. Ke sekolah pun sudah minta jalan sendiri. Tak senang lagi bila kepalanya diusap-usap, apalagi dipeluk dan dicium.

Ibu-ibu yang kerempongan dengan balita, bersabarlah.

Sebuah puisi kecil ini (copas dari sebuah gambar via internet) mungkin bisa menjadi bahan renungan :

I won’t always cry ‘mommy’ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I won’t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day you’ll miss having a chocolate face to wipe.
You won’t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You won’t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs can’t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I won’t be this small.

***

I don’t know who the author is, but I do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worry… because one day Mommy, they won’t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka. 

Seize the day, Mommies :). You don’t know what you miss when it’s gone.

happy birthday Narda

Selamat ulang tahun, Ananda tercinta…Narda Atif Rosyadi :).

***