Yes, hari ini, 6 Juli 2013, kota Athlone mengadakan perhelatan olahraga tingkat nasional, “Waterways Ireland triAthlone.”
Gambar : triathlone.com
Kemeriahannya sudah terasa sejak beberapa hari sebelumnya. Padahal, 2 minggu terakhir ini, cuaca sangat tidak bersahabat. Mendung di hampir sepanjang hari. Walaupun tidak selalu, hujan pun tidak segan-segan menyapu seluruh penjuru kota. Belum lagi, angin kencang kadang-kadang tidak mau ketinggalan.
Musim panas bukan, seeehhh? -_-
Untung liburan sekolah sudah menjelang sejak 10 hari yang lalu. Jadi eike tidak harus berlari menembus hujan mengantar jemput si sulung ke sekolah .
Jangan-jangan Eropa pun mengenal pawang hujan, ya? Hihihihi. Sejak kamis kemarin, sinar matahari mendadak berbaik hati. 3 hari terakhir, langit cerah dan suhu menetap di kisaran 17 – 20 derajat celcius.
Ah, sungguh luar biasa memang kemampuan beradaptasi tubuh manusia. Kalau dulu di suhu 20 derajat saya sudah menggigil, baru 4 bulan di Negeri Kulkas ini, saya sudah merasa suhu 20 derajat ini cetarrrrr membahana .
Nah, puncak acara tentu hari ini. Dari pagi, suasana kota sudah hiruk pikuk. Seperti biasa, tiap sabtu jam 9 pagi, saya mengantar si sulung les berenang ke Sheraton. Pulangnya, kami selalu keluar melewati gedung mal. Tadi mampir ke perpustakaan dulu nuker buku buat anak-anak.
Enak deh di sini, enggak perlu keluar duit buat beli-beli buku anak-anak yang harganya rata-rata maharani itu . Ada perpustakaan anak-anak di samping mal. Tempatnya luas, nyaman, dengan koleksi bukunya mencapai seribuan buuku mungkin dan…gratis, tis, tis! *nyengir100Centi*.
Tepat di luar gedung perpustakaan, suasana sudah gegap gempita. Ternyata, di tempat inilah pusat acara perlombaan triathlon nasional tadi. Kios-kios kecil penjaja baju-baju olahraga dan printilan peralatan olahraga sudah berdiri sejak sehari yang lalu. Orang-orang berbodi atletis mulai lalu lalang di sana. Hadeuuuhhh, sayang orang-orang sini jarang yang ganteng-ganteng kayak di Saudi hihihihihhihihi *husssss*.
Melihat keramaian yang tidak biasanya, naluri jurnalisme langsung keluar dong awww *tsaaaahhhhh* … Setelah jepret-jepret sebentar, sempat pula nanya-nanya ke orang-orang di sana, saya memutuskan untuk pulang dulu.
***
Rangkaian triAthlone dimulai dengan lomba berenang. Untuk menonton para peserta berenang, tidak perlu jauh-jauh. Yup! Lomba berenangnya di Sungai Shannon. Lintasannya persis di belakang gedung apartemen saya. Sambil nungguin ikan digoreng, sambel ditumis, sayur di-sop di dapur yang terhubung langsung dengan ruang keluarga dan pintu menuju teras belakang, saya bolak balik ikut bersorak dari balik pintu kaca teras belakang apartemen. Hehehe.
Jumlah pesertanya mungkin ribuan bahkan puluhan ribu orang (males google :P). Untuk berenang saja, dibagi menjadi sekitar belasan batch. Sampai tulisan ini mulai dibuat, batch berenang belum juga habis. Tiap batch terdiri dari sekitar 100-200 orang (yang ini eike itung sendiri dari jauh hehehehe).
Melihat peserta yang sekian banyak padahal pemenangnya paling cuma dipilih beberapa, saya tidak habis pikir, ngapain, sih, pada capek-capek, ya? Bayangkan saja, 750 m berenang + 20 km bersepeda + 5 km berlari! Apa yang dicari?
Di sesi perlombaan berenang, saya melihat beberapa peserta yang ketinggalan di batch masing-masing. Sebagian mereka nampak tidak bergerak dalam air, seluruh tubuh hanya mengapung dengan wajah menengadah ke atas. Tak berapa lama setelah tenaga kembali terserap, ayunan lengannya kembali berkecipak dalam air. Seolah tidak ingin menyerah menyusul teman-temannya yang lain.
Ada juga yang hanya berputar-putar di tempat, kepalanya saja yang menyembul. Setelah dirasa kekuatan telah terkumpul kembali, perenang ini pun kembali memainkan lengannya membawa sekujur badan kembali maju menyusuri lintasan yang tersisa.
Ada juga yang mencoba berganti gaya. Tadinya berenang dengan gaya bebas. Tahu-tahu kepalanya terangkat dan dia memandang ke depan seperti berpikir dan mengatur strategi. Hanya beberapa detik kemudian dia membalikkan badannya. Seakan sedang meminta kekuatan dari sang surya, kali ini dia memilih telentang dan kembali melanjutkan perlombaan dengan gaya dada.
Apa boleh menyudahi lomba dan keluar dari lintasan? Boleh banget. Belasan petugas lomba berperahu karet berjaga di sepanjang lintasan. Anytime they want to quit, these officers are ready to pick them out of the water. Sepanjang pengawasan saya, tidak ada peserta yang ‘menyerah’. Tapi siapa tahu pas saya tinggal-tinggal ke dapur ada yang keangkut .
***
These swimmers taught us something important . Mengingatkan saya pada salah satu running quote yang cukup tenar dari mendiang dr. George Sheehan, bahwa :
“It’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not
to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is
against the little voice inside you that wants you to quit.”
Lintasan berenang, bersepeda maupun berlari, adalah contoh terbaik untuk menggambarkan jalan kehidupan yang harus kita tempuh.
Anggaplah kita sedang berenang. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila ayunan lengan terhenti. Tentu sah-sah saja untuk sekali-sekali berhenti mengatur strategi dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh itu…memanggil petugas di perahu karet tadi, menepi di lintasan dan menunduk putus asa sambil berbisik : “I’m never gonna make it.”
Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi .
***
Buat umat muslim di seluruh penjuru dunia, sebentar lagi putaran waktu akan membawa kita memasuki lintasan tahunan yang mesti kita lewati sebulan penuh. Bulan Ramadan akan tiba dalam hitungan hari saja . Sebuah perlombaan yang mungkin bermakna sama dengan kompetisi nasional tahunan bangsa Irlandia ini. Sama-sama berupa triathlon.
Ya, ramadan tak ubahnya bagai lomba triathlon. Ada 3 hal yang harus kita lewati, berinteraksi dengan hawa nafsu pribadi, berinteraksi dengan sesama manusia dan berinteraksi dengan Sang Pencipta. Begitulah makna menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh bagi saya pribadi.
Tebak bagian mana yang tersulit? Sama dengan lomba mana pun . Eventually you learn that the competition is
against the little voice inside you that wants you to ‘quit’. Menyerah pada hawa nafsu sendiri (yang penting enggak makan enggak minum deh dari subuh sampai petang, sisanya bodo lah).
Menyerah pada egoisme kaum sendiri. Apa-apaan sih rumah makan tetap buka pas puasa? Tutup lo semua! Heloooooo, pernah memikirkan saudara-saudara muslim yang harus melewati bulan puasa di Negeri Minoritas Musllim? :D).
Apa pun itu, semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali kepada bulan suci penuh pengampunan di tahun ini. Marhaban ya, Ramadan, bagi saudara-saudara muslimku di Makassar, Depok, Jakarta, Jeddah, Athlone dan di seluruh penjuru dunia .
Teriring doa perdamaian pada saudara-saudara muslimku di Mesir, Suriah, Palestina, yang masih dan tengah mengalami konflik politik. Doa keselamatan bagi masyarakat Aceh yang untuk kesekian kalinya berduka akibat bencana alam.
Serta doa keteguhan hati bagi puluhan ribu saudara-saudara TKI ilegal yang masih mempertaruhkan statusnya di perpanjangan waktu masa amnesti di Kerajaan Saudi. Semoga Allah selalu melindungi kalian semua, memberikan anugerah kesabaran untuk selanjutnya membayar buah kesabaran tersebut dengan pengampunan dosa-dosa masa lampau dan rezeki berlimpah di masa mendatang. Amin, amin ya rabbal aalamiin .
Sekali lagi, izinkan kami semua kembali berjuang membersihkan diri di bulan penuh pengampunan di tahun ini ya, Rabbi. Marhaban ya, Ramadan.
Sungai Shannon, Maret 2013. Masih lagi dingin-dinginnya, nih :).
Kalau anda lahir di tahun 80-an atau sebelumnya, pasti respons anda akan sama seperti saya ketika melihat gambar di samping. Cekikikan mengingat betapa jadulnya dunia musik di masa kecil dan abege kita :D.
Btw, apa ya musik yang saya anggap asyik?
Jujur saja, soal musik, selera saya tidak stabil. Saya bahkan tidak percaya bahwa kaset pertama yang saya beli dulu, ketika usia saya masih 10 tahun, adalah album “Isabella.” Album yang melambungkan grup musik asal Negeri Jiran di tanah air, Search. My oh my :P. Seminggu penuh saya merengek pada ibu. Tiap ibu pulang dari kios, saya merengek, “Ada mi kasetnya?” (Sudah ada kasetnya?)
***
Mengingat-ingat apa kira-kira musik asyik dari dulu hingga kini membuat saya sadar lagi, betapa banyaknya saya bersaudara kandung. Hahahaha. Maklumlah sudah belasan tahun saya tak pernah berkumpul bersama mereka lagi.
Semua kakak saya laki-laki. Semuanya penggemar musik dan tidak segan-segan membelanjakan uang saku untuk mengoleksi kaset dari musisi favorit mereka. Adik saya yang perempuan juga sama. Kalau si bungsu yang usianya jauh terpaut dengan kami semua, sudah berada di era MP3 ketika memasuki masa remajanya.
“White Lion” (Gambar : www.duck.fm)
Kakak yang pertama usianya terpaut 12 tahun dari saya. Karena radionya cuma 1, kakak yang pertama ini yang ‘berkuasa’ atas satu-satunya radio yang ada di rumah. Sejak usia 6 tahun, saya sudah berkenalan dengan lagu rock. Sampai eneg rasanya mendengar lagu “Preman” (dipopulerkan oleh Ikang Fawzi) yang diputar berulang-ulang dari pagi sampai malam.
Di usia sekecil itu saya juga sudah tahu tentang grup-grup beraliran rock asal Negeri Paman Sam. Misalnya saja White Lion dengan salah satu lagu andalannya, “When The Children Cry.”
Saat kakak pertama hengkang ke Surabaya melanjutkan kuliah ke sana, tirani senioritas mulai ditinggalkan dalam urusan memutar kaset :P. Semuanya boleh menikmati radio secara bergantian.
Kakak ke-2 memperkenalkan saya pada kompetisi menyanyi nasional, Festival Lagu Favorit Indonesia. Di ajang ini, tepatnya yang tahun 1987, jadi tahu, deh, sama yang namanya grup vokal Elfa’s Singers.
Kakak saya ini juga yang rajin membeli dan memutar koleksi lagu-dari dari mendiang Chrisye, grup musik legendaris Queen hingga peniup saxaphone, Kenny G. Tidak ketinggalan kaset-kaset dari KLa Project. Saya suka semuanya!
Saya juga ingat betul, dia suka membawa pulang kaset-kaset yang isinya kompilasi dari lagu-lagu barat yang tengah populer. Cuma ingat 2, Mega Hits dan Hit Bank.
Ini ide luar biasa kalau dipikir-pikir. Sekali merengkuh dayung, 11-12 lagu hits langsung bisa didengarkan sekaligus. Hehehehe.
Dibanding yang lain, selera musik kakak ini yang jangkauannya paling luas. Saya jelas terpengaruh. Karena masih kecil jadinya ya ngikut saja.
Termasuk ketika dia tergila-gila pada Dewa 19 dan Boyz II Men, grup musik yang menurut saya adalah pelantun lagu-lagu cinta terbaik sepanjang masa :).
Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 😀 (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)
Kakak saya yang nomor 3 yang paling beda sendiri. Musisi favoritnya the one and only … Iwan Fals! Coba perhatikan lirik-lirik lagu beliau. Komplit. Mulai dari yang jenaka, misalnya di lagu “Pesawat Tempurku”, atau yang ‘idealis’ di lagu “Bongkar” hingga yang romantis di lagu “Yang Terlupakan.”
Ketiga lagu tersebut adalah lagu-lagu kesayangan saya yang pernah dipopulerkan oleh legenda musik Indonesia ini.
Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org
Ketika salah satu finalis X-Factor Indonesia, Isa Raja, membawakan lagu “Yang Terlupakan” (lagu terbaik dari Iwan Fals versi saya) di ajang tersebut, saya seperti terhipnotis. Tidak menyangka, belasan tahun berlalu, ada yang bisa menyanyikan lagu indah ini sepiawai penyanyi aslinya :).
Kakak yang nomor 4, selera musiknya memang sedikit nyeleneh dibandingkan pria pada umumnya. Koleksinya didominasi oleh para diva Indonesia seperti : Krisdayanti, Titi DJ, Ruth Shahanaya, Vina Panduwinata juga Rossa. Di lemarinya juga berjajar kaset-kaset penyanyi pria sekelas Utha Likumahua, Harvey Malaiholo dan Yana Julio.
Saya malah ikut-ikutan suka, tuh. Kalau memutar lagu-lagu dari AB Three dan Kahitna, saya selalu ikut bersenandung bersamanya :D.
Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)
Adik perempuan membawa aliran musik baru. Model hip hop dan RnB favoritnya. Dari dia, saya jadi tahu grup musik TLC dan Destiny’s Child dan ikut-ikutan ngefans seperti biasa :P. Dia juga yang membawa kaset Iwa K pertama kali ke rumah biarpun belakangan didengarkan beramai-ramai.
Waktu dia menawarkan saya untuk saweran membeli kaset grup musik favoritnya, Oasis, saya iya-iya saja. Tidak rugi. Lagunya memang enak-enak, meskipun sekarang saya ingatnya cuma “Wonderwall” saja, hehehe.
Saya memang satu-satunya yang paling malas membeli kaset. Kalau mereka punya selera musik berbeda-beda, sayalah yang labil sendiri. Karena buat saya, semuanya seru.
Adik bungsu si no.7 keluaran era milenium. Bisa sakit kepala emak-emak seperti saya menikmati koleksi MP3 nya. Dari band tenar ST12 sampai band-band baru yang sudah tidak sanggup saya ikuti perkembangannya.
***
Belakangan, ketika sudah tinggal terpisah-pisah, selera musik saya seolah berhenti di tahun 90 an hingga awal-awal tahun 2000 an. Setiap mendengar lagu-lagu dari tahun-tahun tersebut yang kini mudah didapatkan dari berbagai situs online, yang terbayang bukan penyanyi atau liriknya. Liriknya sih sebagian besar masih ada dalam kepala, lho.Tapi yang teringat adalah masa-masa kecil dan remaja bersama saudara-saudara yang belasan tahun dihabiskan di kota Makassar.
Berebutan memegang kertas sampul kaset yang biasanya berisi lirik-lirik lagu sang penyanyi. Berpandangan dengan wajah pucat kalau kami memutar kaset-kaset si empunya yang sedang tidak ada di rumah dan tiba-tiba kasetnya mengeluarkan suara aneh-aneh.
Begitu dikeluarkan, pita kaset sudah terburai. Buru-buru mencari pensil dan saling menyalahkan. Ahahahahha.
Jadi, buat saya musik yang asyik itu tidak tergantung genre, penyanyi atau waktu. Tapi tergantung seberapa sanggup musiknya menguraikan kenangan-kenangan indah bersama orang-orang terkasih :).
If they said, a picture paints a thousand words, then we can also conclude that… a music can sing a thousand memories :). Here, there and everywhere :).
Jumlah remitansi TKI yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dan BNP2TKI per Juli 2012 merinci untuk kawasan Saudi Arabia remitansi yang dikirim TKI sebesar US$ 1,1 miliar dan Malaysia US$ 1,3 miliar. Selebihnya disumbang oleh TKI di Amerika, Australia dan negara-negara lain di Kawasan Asia Pasifik.
“Hingga akhir tahun 2012 saya yakin bisa menembus US$ 6,8 miliar,” tutupnya.
Dengan demikian secara keseluruhan perolehan devisa dari remitansi TKI pada pada 2012 sampai dengan Juli mencapai Rp 37 triliun (1 US$ = Rp 9.500).
Remitansi adalah dana yang dibawa masuk oleh pekerja migrant ke negaranya asalnya. Remitansi merupakan salah satu sumber daya ekonomi yang paling besar bagi negara, terutama negara berkembang atau negara dunia ketiga. Bahkan menurut World Bank, remitansi merupakan penghasilan terbesar kedua negara-negara berkembang. Karena itu, tingkat kemiskinan di sebuah negara dapat menurun.
Anda bisa merinci uang satu milyar dolar ke dalam rupiah?
Rata-rata penghasilan TKI informal di Saudi sekitar 1000 – 1200 riyal per orang, sekitar 2.5 – 3 juta rupiah. Biaya hidup di Saudi tergolong murah. Catat, harga beras kualitas premium di Jeddah lebih murah daripada di Indonesia. Daging sapi dipatok seharga rata-rata 25 SR/kg (sekitar 63 ribu rupiah / kg). Didukung oleh harga bensin (ron 91) sekitar seribu rupiah per liter. Anggap saja, per orang sanggup mengirimkan uang ke tanah air senilai rata-rata 1.5 – 2 juta rupiah. Kenyataannya bisa jauh lebih besar daripada itu. Tapi saya ambil batas bawah dulu karena data resmi tidak ada. Oh ya, pemerintah Saudi sama sekali tidak menarik pajak apa pun baik untuk para pendatang dari level mana pun.
Jangan lupa pula bahwa kepergian mereka ke luar negeri akan mengurangi kepadatan penduduk tanah air. Mengurangi konsumsi air, listrik, BBM dll. Dua hal telah mereka sumbangkan sekaligus : devisa dan mengurangi kepadatan penduduk yang merupakan salah satu pucuk masalah terbesar di Indonesia.
Ironis, pemerintah sematkan label “Pahlawan Devisa” di bahu mereka. Sekaligus pemerintah abaikan hak-hak mereka dalam menjalani hidup sebagai ‘Pahlawan’.
Heboh Amnesti TKI Ilegal di Saudi
Tanggal 11 Mei lalu, pemerintah Saudi resmi memberlakukan proses amnesti bagi seluruh tenaga kerja ilegal dari berbagai negara yang masih bermukim di Saudi. Pilihannya ada 2 :
“The Saudi government announced that the workers lacking legal documents will be offered amnesty so that they can either update their legal status or move back to their home countries.” https://www.globaltimes.cn/content/789070.shtml#.UcFhXZzjWZQ
Caranya bagaimana?
“Under the amnesty, people who are now staying illegally in Saudi Arabia would be acknowledged as legal workers if they changed to legal employment, said the department, under the Ministry of Labour, Invalids and Social Affairs.”
Para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ilegal menyambut tawaran ini dengan gegap gempita. Sayang sekali, mereka gegap gempita tapi pihak KJRI Jeddah (selaku perpanjangan tangan pemerintah pusat di Jeddah) malah tergagap-gagap. Baru 10 hari setelah amnesti berjalan, KJRI Jeddah membuka diri untuk membantu proses kelengkapan dokumen untuk para TKI ilegal ini.
Awalnya, sudah dimulai kebingungan. Harus ke mana dulu? Jawazat (pihak imigrasi Saudi) atau ke KJRI Jeddah? Akhirnya diputuskan semua TKI ilegal harus mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) ke KJRI. Setelah itu barulah mengurus lebih lanjut ke jawazat untuk mendapatkan visa + iqamah (semacam KTP bagi para pemukim Saudi).
Sejak pembuatan SPLP mulai bergulir, beberapa pihak sudah mulai meragukannya. Soalnya SPLP hanya berfungsi optimal bagi mereka yang memilih untuk meletakkan takdir di Saudi dan pulang ke tanah air. Tapi KJRI Jeddah tidak bergeming.
Saudi tengah berada di puncak musim panas. Ah, jangankan terik matahari, hidup bertahun-tahun dalam lingkungan gurun yang keras sanggup mereka jalani, kok. Masalahnya setelah mereka menaklukkan sengitnya matahari, tiba di Jawazat, penolakan demi penolakan terus berlangsung. Semuanya bermuara di hal yang sama, Jawazat menuntut paspor asli seperti yang mereka berlakukan kepada negara-negara lainnya. Sebagai informasi, siapa tahu ada yang ingin menyalahkan pemerintah Saudi, negara-negara pendatang seperti Filipina/India/Pakistan BERSEDIA mengeluarkan paspor untuk para tenaga kerja ilegalnya.
Hal penting lainnya adalah cara KJRI Jeddah berkomunikasi dengan para TKI ilegal. Tidak pernah ada wadah resmi. Hanya melalui selebaran yang ditempel. Website resmi KJRI Jeddah tidak difungsikan optimal. Malah banyak informasi berseliweran via media sosial FB saja. Makanya, kesimpangsiuran tak bisa dihindari.
Saat kegelisahan mulai memuncak, TKI ilegal mulai panik. Siapa yang tidak panik? Satu per satu rekan dari negara lain telah sukses menggenggam iqama, sementara para TKI ilegal harus pasrah dengan sepucuk SPLP yang oleh Jawazat dianggap “Mafi Faedah” (tidak ada gunanya).
Sebuah pembakaran nekat dilakukan oleh oknum. Tindakan anarkis yang disesali banyak pihak malah menjelma menjadi “Blessing in disguise”. Pemerintah pusat mulai melek. Media di tanah air mulai ribut. Padahal para TKI ilegal yang jumlah diperkirakan sekitar 150 ribu orang ini sudah berjuang habis-habisan selama nyaris 2 bulan dalam ‘kesunyian’, tanpa dukungan publik di tanah air.
Hingga detik ini, pemerintah tetap berkeras hanya akan mengeluarkan SPLP dan berjanji akan melobi pemerintah Saudi. Sebuah lobi yang belum membuahkan hasil sementara KJRI Jeddah tak pernah sanggup memberikan jaminan apa pun kepada 150 ribu orang ini.
Akankah setelah masa amnesti berakhir di tanggal 3 Juli nanti, para TKI ilegal yang terkatung-katung nasibnya akan terkena razia oleh pemerintah Saudi? Akankah ada jaminan perlindungan dari KJRI Jeddah? Jawaban yang keluar dari sebuah akun FB bernama “Gatot Mansyur” (nama Bapak Dubes RI di Saudi) hanya menyuruh mereka bersabar. Beliau tak berani menjanjikan jaminan apa pun. Penjara dan denda ribuan riyal menanti mereka.
Saya tidak tahu apakah akun ini dikelola sendiri langsung oleh beliau atau hanya menumpang nama tapi dijalankan oleh orang lain / admin.
Simsalabim, Paspor bisa Terbit!
Setelah 2 bulan lebih menampik kesanggupannya untuk menerbitkan paspor, beberapa hari terakhir, KJRI Jeddah memberi lampu hijau bahwa paspor akhirnya boleh diurus. Tidak melalui KJRI Jeddah langsung, tapi melalui ‘pihak ke-3’ yang bernama Perwalu/Apjati. Siapa mereka? Mitra yang ditunjuk oleh Maktab Istiqdam (MI). Menurut Pak Gatot Mansyur, MI adalah badan hukum rekrutmen Saudi yang telah mendapat izin dari pemerintah Saudi dan ini sudah berlangsungn puluhan tahun. Beliau menolak menjelaskan lebih lanjut apakah MI ini dikelola oleh orang Arab atau orang Indonesia?
Perwalu/ Apjati sendiri adalah sekumpulan PJTKI yang siap menyalurkan para tenaga kerja ilegal ini. Lucunya, kalau dirunut ke belakang, PJTKI lah yang seharusnya bertanggung jawab atas status ilegal para TKI ini. Mereka dahulu banyak melakukan penipuan, ibaratnya ‘menjual’ sesama warga ke Saudi demi riyal dan lari dari tanggung jawab ketika para TKI dirundung masalah. Kemungkinan PJTKInya berbeda-beda. Namun, ini adalah jalur yang sama. Lagi-lagi tersirat pemerintah ‘berencana’ menjerumuskan TKI ilegal ke dalam lubang yang sama.
Masalahnya di mana? Anda tahu biaya yang harus dikeluarkan para TKI ilegal saat mengurus paspor via Perwalu/Apjati ini? Menurut sumber yang mengaku sudah berhasil mengurus paspor, biaya pembuatan paspor via Perwalu adalah 3900 riyal. Mereka pun harus membayar uang jasa sebesar 1700 riyal. Angka yang sangat besar. Mengingat biaya resmi pembuatan paspor via KJRI/KBRI rata-rata di bawah 100 SR. Fantastis bukan? Totalnya sekitar 5600 riyal. Kalau mereka sukses menekan para TKI ilegal tersebut, coba kita kalikan secara kasar, 5600 x (kira kira) 50.000 orang = 280.000.000 riyal. Bila 1 riyal = 2500 rupiah, silakan kalian konversi sendiri.
Klaim biaya bisa ditujukan kepada para majikan. Tapi dampaknya, majikan dapat berubah pikiran untuk menurunkan gaji mereka. Lagi-lagi, para TKI yang akan terinjak-injak.
Dari mana informasi tentang pengurusan paspor via ke-3 ini bermula? Kami telusuri, pihak dari KJRI Jeddah sendiri yang mengupload selebaran mengenai proses penerbitan paspor via Perwalu/Apjati. Diupload oleh admin sebuah grup yang bernama “KJRI JEDDAH.” Grup ini merupakan grup ‘resmi’ KJRI Jeddah sejak dahulu. Tapi saya tak berani menyebut nama oknum tersebut. Karena kami tak bisa membuktikan apakah beliau bertindak atas nama pribadi atau atas nama institusi KJRI Jeddah.
Ada pihak yang mengakui bahwa selebaran hardcopy memang dibagi-bagikan di lingkup KJRI Jeddah. Tidak oleh satu orang tapi oleh banyak orang. Selebaran yang dimaksud adalah langkah-langkah mengurus paspor via Perwalu/Apjati.
Yang jelas, Pak Gatot menyiratkan bahwa benar proses pengurusan paspor melalui pihak ke-3 ini memang ada. Tapi beliau menampik soal biaya. Biaya adalah 100% kewenangan Perwalu/Apjati.
Pak Gatot pun mengatakan KJRI tidak ikut campur dalam urusan ini. Sebuah ‘permainan kotor’ tengah berlangsung. KJRI Jeddah secara tersirat mengatakan ketidakberdayaan mereka dalam kasus ini. Saya tidak mengerti mengapa Pak Gatot tidak bersedia menjawab secara lugas pertanyaan besar kami semua, “MENGAPA KRJI/KBRI harus menyerahkan masalah paspor pada pihak ke-3? Mengapa tidak boleh menerbitkan langsung tanpa perantara dengan biaya yang jauh lebih minim?”
Kalau saya perhatikan, ‘kunci’ jawaban Pak Gatot ada di kalimat ini, ” … INI SUDAH BERLANGSUNG PULUHAN TAHUN.” Kok bisa pihak swasta seperti Perwalu/Apjati punya KUASA LEBIH BESAR daripada pemerintah sendiri? (Pemerintah = KJRI Jeddah).
Jadi, merunut pada pengakuan akun FB nya Pak Gatot, selama puluhan tahun ini ada sebuah badan bernama Maktab Istiqdam yang bebas memilih mitra swastanya (mengapa tidak berafiliasi langsung dengan KJRI, ya?) untuk mengurus para tenaga kerja informal asal Indonesia. Pertanyaannya, apakah pemerintah pusat tahu tentang hal ini? Siapa yang menyetujui perjanjian kerja sama ini? Siapa yang tega menggadaikan warga yang sebagian besar datang dari kalangan tidak mampu dan berpendidikan rendah, yang telah payah-payah berjuang demi nasib lebih baik – merantau hingga ke gurun, pada mereka?
Jangan buru-buru menuduh pemerintah Saudi terlibat secara resmi. Percayalah, uang triyunan rupiah hanya remah-remah bagi negara kaya yang cadangan minyaknya berlimpah dan memiliki pemasukan tetap tahunan dari jemaah haji dan umrah. Kalaupun pihak kerajaan terlibat, saya yakin itu oknum. Ke mana pemerintah Indonesia sendiri?
Anehnya, tak berapa lama, Pak Gatot kembali merespons bahwa boleh saja para TKI ilegal mengurus langsung paspor melalui KJRI/KBRI asalkan proses di jawazat telah selesai dan iqamah sudah di tangah. Lagi-lagi pernyataan ‘sembrono’ yang berbelit-belit dan mengabaikan fakta yang ada bahwa, “JAWAZAT MENOLAK PENGURUSAN APA PUN JIKA DILAKUKAN BERMODALKAN SPLP. JAWAZAT MINTA PASPOR ASLI!”
Sembari melakukan tanya jawab dengan akun “Gatot Mansyur” ini mesti berkali-kali istighfar. Jawabannya sungguh menguji kesabaran. Saya salut pada teman-teman pencari fakta yang rela meladeni beliau hingga berjam-jam. Saya sih, melihat jawaban ‘cuci tangan’nya yang terus diulang-ulang dengan kalimat panjang-panjang sudah banting keyboard putus asa :(.
Jujur saja, kalau ada yang menuduh saya ‘reaktif’, saya tidak terima. Sejak dua bulan lalu, saya sudah memendam rasa muak atas kasus ini. Terus menyimpan hasrat berbaik sangka bahwa pemerintah pun tengah berjuang. Kami abaikan fakta keterlambatan mereka, kami berusaha saja terus membantu menyebarkan informasi bagi para TKI ilegal, berusaha keras untuk tidak mengail di air keruh.
Tapi, sisa 12 hari lagi masa amnesti. Siapa pula yang tega melihat ‘pemerasan’, yang meskipun dibantah berkali-kali, tapi dibiarkan berlangsung di hadapan mata?
Catatan lagi, bagi mereka yang ingin pulang pun, modal SPLP tak bisa membantu banyak.
***
Saya kirimkan doa dari jauh untuk teman-teman TKI ilegal yang masih berjuang memenangkan kekisruhan ini. Suara-suara miring bertebaran dari mana-mana. Jangan merisaukan tuduhan dan makian. Tidak usah diingat-ingat lagi yang dulu-dulu. Mengapa begini, mengapa begitu. Mengapa bisa ke Saudi? Mengapa bisa menjadi ilegal? Semuanya bagian dari perjalanan hidup.
Tak perlu kalian menjelaskan kepada khalayak. Tak usah begitu rupa membuat mereka mengerti jalan panjang yang telah terlanjur ditapaki. Simpan rahasia ini untuk kalian dalam hati masing-masing. Toh, para pencaci ini pun bila dihadapkan pada takdir yang sama apakah sanggup menanggung bebannya? Apakah akan memilih jalan yang berbeda?
Saya mohon pula, jangan melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Sabar dan ikhlas adalah satu-satunya pilihan terbaik meskipun saya yakin sekali sulit untuk menjalankannya di tengah situasi seperti ini.
Anda-anda sudah menunjukkan keberanian yang tak terbantahkan. Mempertaruhkan banyak hal untuk merebut rezeki jauh dari tanah air, tidak memilih berdiam diri di tengah situasi sulit. Rela memperjuangkan nasib demi masa depan lebih baik bagi keluarga yang ditinggalkan. Walaupun terlihat ‘kalah’, kalianlah sesungguhnya pemenang sejatinya :). Karena saudaraku,
“Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.” -Sutan Syahrir-
Kalau tak kalian menangkan di dunia, sebagai muslim kita percaya, “Akhirat adalah tujuan akhir semua umat. Di sanalah nanti akan ada seadil-adilnya keadilan. Tak akan ada usaha yang tak berbayar.”
Bisikkanlah dalam hati masing-masing, “Hanya padaMu Tuhan, tempatku berteduh dari semua kepalsuan dunia.” (Chrisye – Damai BersamaMu).
***
Lakukan hal yang baik yang Anda yakini tanpa merisaukan tentang orang lain. Karena sesungguhnya,
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri”, (QS. Al Israa’. 7).
Satu lagi, untuk teman yang berpendapat, “Yaela Je, capek bener ngabisin waktu ngurusin ginian. Pemerintah bebal kok dipikiran. Udah putus asa kaleee orang-orang.”
Sebuah kalimat yang saya dapatkan dari lembaran awal buku skripsi kakak pertama saya adalah alasan utama saya dalam hal ini, “Janganlah kamu berputus asa. Bila pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.” Makanya, saya tidak mengelak kalau saya juga sudah hilang harapan, tapi sebagai usaha pamungkas saya … menuliskan note ini.
Sebagai muslim, saya juga meyakini, tak akan lengkap sebuah tawakal yang hanya dihias dengan ikhtiar (usaha). Saya tutup rangkaian ikhtiar ini dengan sebuah doa,
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. 112. 2). Karena “Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al Anfaal. 40).
***
Bila cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan
Sabar, sabar, sabar dan tunggu … itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan, robohkan setan yang berdiri mengangkang
Belum lama berlalu ketika saya membaca status seorang teman yang terdampar di Kuwait. Sebelumnya, teman bersama suami dan anak-anaknya tinggal di salah satu negara Eropa. Teman saya ini bukan orang biasa-biasa saja.
Namanya pernah menjadi hits di beberapa media cetak karena kesuksesannya berdakwah di Negeri Non Muslim dan membawa belasan perempuan mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya :). Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa beliau sekeluarga :).
Ada apa dengannya di Kuwait?
Teman saya mengalami benturan budaya yang luar biasa. Dia terkaget-kaget. Sementara saya tersenyum-senyum membaca statusnya. Sebagai alumni Jeddah, kota terbesar nomor 2 di Arab Saudi, saya tidak heran sedikit pun membaca ‘kegalauan’nya. Been there, done that.
Gambar : britannica.com
***
“How Islamic are Islamic Countries” adalah sebuah penelitian lama yang hasilnya dipublikasikan tahun 2010 silam.
Berikut kutipan dari kompas.com (https://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia) :
Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.
Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?
Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.
Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.
***
Penasaran dengan hasilnya? Saya kasih sontekan sedikit. Selain Selandia Baru, urutan ke-2 hingga 5 ditempati oleh berturut-turut : Luxemburg, IRLANDIA *uhukUhuk*, Eslandia dan Finlandia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim yang menempati urutan tertinggi adalah … Malaysia! Menempati peringkat ke-39.
Indonesia sendiri, sudah disebutkan dalam kutipan artikelnya, urutan ke-140. Arab Saudi? Di urutan ke 131.
Beberapa negara ‘penting’ dunia lainnya, misalnya Amerika Serikat, menempati urutan ke-25. Jepang di urutan ke-29 dan Jerman, salah satu negara terbesar di Eropa, di urutan ke-17.
Saya lahir dan besar di Indonesia yang konon merupakan “Negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.” Pernah berkesempatan tinggal di Arab Saudi, “Negeri Penjaga Dua Kota Suci Umat Muslim Sedunia.”
Baru-baru ini berkesempatan liburan ke Kuala Lumpur, ibukota Malaysia, “Negara Mayoritas Muslim yang Berada di Peringkat Tertinggi.” Dan kini…saya berada di Irlandia, peraih medali perunggu “Negara Paling Islami” :D. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).
Kuwait sendiri urutannya tak terlalu buruk. Bayangkan, teman saya saja yang terdampar di “Negeri Paling Islami no.48” bisa sebegitu stres-nya hehehe. Bagaimana dengan kita-kita yang pernah tinggal di Saudi, si peringkat ke-131? Madam-madam Jeddah, mana suaranya? Ahahhahahahaha.
***
Jujur saja, selama tinggal di Indonesia dulu, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak pernah merasa terzalimi. Ya, kadang-kadang mungkin terselip sakit hati. Saya anggap wajar-wajar saja masalah muamalah di Indonesia. Mungkin kasarnya…pasrah.
Hingga akhirnya saya ke Jeddah. For me, Jeddah is better than Jakarta. ‘Gemerlap’nya sih mirip-mirip. Yang namanya ‘gap’ antara si kaya dan si miskin menganga sedemikian lebar baik di Jakarta maupun di Jeddah.
Alasan pertama saya lebih senang di Jeddah karena beberapa hal. Bensin murah, mobil murah, penghasilan suami jauh lebih besar (daripada di Jakarta), enggak terlalu macet, kemana-mana terasa dekat, bahkan beberapa bahan pokok di Jeddah lebih murah daripada di Jakarta. Unbelievable.
North Corniche – Jeddah
Belum lagi kesempatan untuk umrah sepuasnya. Tahun lalu dimampukanNya kami untuk naik haji. Di tahun terakhir kami di sana sebelum akhirnya dibukakan pintu rezeki di negara lain. Sekali lagi, Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).
Saya akui, secara umum perilaku orang-orang Arab di Jeddah cukup mengecewakan. Meskipun pengalaman pribadi saya tidak separah beberapa teman saya yang sudah sebegitu sewotnya sama orang-orang Arab hehehe.
Saya pun tak bosan-bosannya menuliskan bahwa beberapa episode-episode terbaik dalam hidup saya bertempat di Jeddah. Selama di sana, saya tergolong ‘yang paling bahagia’ hehehehe. Meskipun tak sedikit hal yang membuat saya selalu mengelus dada, “How come they call themself a moslem?”
Berusaha untuk selalu berfokus pada hal-hal yang menyenangkan, membuat 30 bulan pengalaman tinggal di Jeddah menjadi ‘rangkuman kenangan indah’. Ingat saja hal-hal luar biasa yang selalu membuat saya bersyukur. Tak pernah luput mengenang Mekkah dan Madinah sebagai tempat-tempat terindah yang pernah saya datangi.
Begitu mudahnya dulu kami menghampiri kedua kota suci tersebut. Sementara tak sedikit umat Islam di Indonesia baru hanya sebatas memimpikannya saja. Bentar…hapus air mata dulu *drama-part :P*. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).
Dulu, saya suka bertanya-tanya, mengapa teman-teman yang berada di Eropa bisa sebegitu ngebetnya tinggal di sana. Tak sedikit yang mencari-cari cara setelah lulus sekolah agar bisa tetap bermukim di sana.
Bahkan, ada yang sudah terpikir untuk menggadaikan status kewarganegaraannya. Ingin berganti warna paspor. Apa enaknya hidup berlama-lama dalam ‘kulkas”? :P.
Tapi santai saja. Orang-orang lain tidak ada yang peduli, tuh. Enggak penting memikirkan sebagian kecil yang kurang ramah.
Di Athlone, hampir tak ada pengemis. Kalau pun ada tunawisma, penampilannya enggak germbel-gembel amat. Di Jakarta, yang bilang Pajero bukan barang mewah ada, yang gembel jadi tukang semir sepatu tak kalah banyaknya . Di Jeddah, Ferrari bukan barang langka, tapi pengemis terpencar di berbagai sudut kota.
Athlone, perayaan St Patrick’s day
Fakta-fakta yang menguatkan pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya :
” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.
Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”
Dulu sih, semasa di Jakarta dan Jeddah, bila mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain, tak pernah menjadi pikiran. Dimaklumi saja. Di Jakarta, sering dicuekin sama satpam di mal. Padahal kepada seorang Ibu yang turun dari mobil mentereng dengan berbagai aksesoris wah di badannya, tersenyum mengangguk setengah membungkukkan badan.
Hidupnya sudah cukup ‘berwarna’ dalam menjalani tugas sebagai satpam, tak usahlah menyimpan dendam yang tidak perlu.
Di Jeddah, pernah mendapat pengalaman pahit saat antre di kasir dalam toko di mal. Sebelumnya, saat 2 perempuan arab berdebat soal antrean, penjaga kasir dengan tegas melerai dan menunjuk ibu yang memang sudah datang lebih dahulu.
Giliran saya diselak orang Arab, saya protes, kasirnya malah diam seribu bahasa. Ya, sudahlah. Saking sudah seringnya, sudah mati rasa ane hehehe.
Terdampar di tempat lebih jauh, berbaur di tengah-tengah masyarakat non muslim, dari ras yang secara fisik sangat berbeda pula, malah mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Sepele, ya? Biarpun suami suka meledek saya yang dianggapnya, “Dasar kamu ini. Belum apa-apa sudah lebay soal eropa”, menurut saya ini bukan hal sepele :).
Setiap pagi mengantar anak ke sekolah, kami selalu berjalan kaki. Hampir 100% orang-orang yang berpapasan akan tersenyum menyapa, “Good morning.” Di Jeddah, seringnya mendapat pandangan penuh tanda tanya, mungkin berpikir, “Prikitiwww, mbak-mbak TKW ini cakep juga, yak.” Ahahahahaha.
Di Athlone, saat mengantre di kasir setelah berbelanja barang-barang dapur dll di supermarket, semua orang mengantre dengan tertib. Bahkan, kasir benar-benar menunggu kita selesai mengemasi barang baru melayani customer setelah kita.
Awalnya saya sering gugup. Saking takutnya kalau mengganggu antrean, mau buru-buru masukin barang ke stroller + plastik + ransel, barang-barang malah berserakan jatuh ke lantai. Malunya minta ampun.
Tapi kasir cuma tersenyum, “That’s ok. Take your time.” Bahkan, ibu-ibu berambut kuning yang mengantre di belakang saya ikut memunguti barang-barang yang jatuh. Masya Allah. Sudah terbiasa diperlakukan bak TKW di tengah-tengah umat yang seiman, rasanya terharu diperlakukan seperti itu. Lebay? Whatever.
Kata-kata “thank you”, “sorry”, berhamburan begitu mudah dari bibir mereka. Jadinya saya pun, biarpun awalnya agak kagok, jadi terbiasa selalu ber “thank you” dan ber “sorry” ria :).
Di Irlandia, pajak memang termasuk tinggi. Biarpun gak setinggi di negara eropa lain pada umumnya. Tapi fasilitasnya juga enggak main-main. Jalanan dibuat senyaman mungkin. Angkutan umum sangat diperhatikan. Harga mobil sangat mahal. Bensinnya apalagi.
Tapi lihatlah, sebagian besar penduduk jadinya berbaur di trotoar jalan kaki atau dalam angkutan umum. Bagus juga ide pajak tinggi dan dikenakan secara proporsional. Agar si ‘tajir’ mikir-mikir kalau mau beli barang mahal dan yang kurang mampu tak terlampau tersakiti.
Sekolah gratis dengan fasilitas yang sangat memadai *nyengirLebar*. Malah, di selebaran pengumuman buat orang tua murid, ditulis jelas-jelas larangan untuk ‘tampil mewah’. Baju harus seragam. Seragam resmi terasa mahal? Kepala sekolah mempersilakan membeli di tempat lain yang lebih murah asal warnanya mirip.
Disebutkan dengan jelas jenis-jenis sepatu tertentu yang TIDAK BOLEH digunakan ke sekolah. Bahkan, kotak untuk bekal makan pun dianjurkan untuk sesederhana mungkin. Ini semua dituliskan secara resmi dalam selembar kertas yang dibagi-bagikan pada orang tua murid sebelum hari pertama sekolah si anak.
‘Attitude’ adalah landasan utama pendidikan anak-anak di usia dini. Saya perhatikan betul, guru-guru dan kepala sekolahnya sangat disiplin dalam masalah tingkah laku. Mereka tak terlalu peduli dengan kemampuan kognitif.
Tapi coba saja ada anak yang berani memukul temannya, kepala sekolah tidak segan-segan menarik tangan si anak dan menceramahinya panjang lebar dengan nada yang tinggi. Saya pernah melihat langsung.
Soal penampilan pun tidak ada yang heboh-heboh. Ada lah beberapa yang agak ‘gaya’ tapi bisa dihitung jari. Pede-pede saja kemana-mana pakai training pants + kaos + jaket + sepatu kets + ransel :D. Mbak-nya mau mendaki gunung, ya? Ahahahahaha.
Di Irlandia, dalam memperlakukan orang lain, people don’t really care whether you’re Catholic, Moslem or even you don’t believe in any religion at all :). Berperilaku sopan dan non diskriminatif adalah hal universal buat siapa saja.
Ajaran yang saya tahu pasti adalah landasan muamalah dalam Islam. Sadly, you can hardly see this in (most of) moslem countries. Ironically, pretty easy to see the practice in non-moslem countries. Tanya kenapa?
Memang, awal di Athlone, saya benar-benar teruji oleh udara dingin. Tapi tak lama. Baru 3 bulan tinggal di sini, rasa betah menerjang sedemikian kuat. Meskipun keinginan untuk mengganti status paspor sama sekali belum ada. Tapi saya ingin agar anak-anak saya suatu hari nanti melangkahkan kaki mereka sejauh yang mereka bisa.
Saya doakan, semoga saya dianugerahkan kesehatan yang mumpuni (menjalani pola hidup sehat ala FC adalah salah satu ikhtiar saya dari sekarang untuk doa yang ini), tak perlu meresahkan anak-anak kelak, sehingga saya bisa menghabiskan sisa usia di negeri kelahiran tercinta. Sampai akhir menutup mata. Amin :).
***
Kembali mengutip pendapat Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah)
Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?
Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam—syahadat, shalat, puasa, zakat, haji—dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya.
Pada hal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.
***
Saya setuju sekali, kita terlalu sering menyepelekan ‘kesalehan sosial’. Pengalaman saya naik haji kemarin, selain menyisakan rasa haru yang masih terus berbekas hingga kini, terselip rasa kecewa yang mendalam.
Seusai wukuf, jemaah biro haji kami keluar dari tenda ke arah jalan untuk menuju stasiun kereta. Saya tercekat melihat suasana jalan raya yang sudah kosong dari para jemaah ‘haji koboi’ yang sudah kembali ke Mina/Musdalifah. Kotornya luar biasa. Bau pesing tak terkira. Ceceran makanan, botol minuman dan entah cairan apa itu *yucky* berbaur menjadi satu. Subhanallah, sampahnya tidak main-main.
Besoknya, saat akan tawaf ke Mekkah, jam 7 pagi kami sudah berjalan ke arah jembatan untuk menunggu taksi. Lautan sampah di mana-mana. Baunya pun sangat menyengat. Saya ingat saat itu sempat bergumam kepada suami, “Kebersihan sebagian dari iman.” Kebersihan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan sekitar, kan?
Saat sepi pun, kalau tawaf, saya sering memperhatikan ‘rusuh’nya keadaan di sekitar hajar aswad. Tidak pernah damai suasananya. Sikut-sikutan, teriak-teriak, dorong-dorongan. Itu cuma amalan sunnah, saudara-saudaraku.
Teringat pesan ustaz Syafiq yang mengisi ceramah pengajian di acara syukuran salah satu teman di Jeddah sebelum kami berangkat haji, “Jangan melakukan amalan sunnah dengan cara-cara haram.”
Malah, bagi sebagian muslim, yang penting : salat, zakat, puasa. Perlakuan kepada orang lain, gaya hidup sehari-hari, tidak akan mempengaruhi keislaman kita selama kita salat-zakat-puasa. Sadar tidak sadar, penyempitan makna “rahmatan lil ‘aalamin” dilakukan oleh kaum muslim sendiri.
Dalam salah satu ceramah, Cak Nun bertutur, “Apakah di sini anda bisa punya cara untuk mengetahui seberapa iman anda? Bisa nggak kita mengukur akidah? Bisa nggak kita mengukur, kita ini Islam atau belum Islam? Kalau engkau menjawab “bisa”, lho, itu rak cangkemmu? Lha atimu? (itu kan mulutmu, lha hatimu?). Kita tidak bisa menilai Islamnya orang, kita tidak bisa menilai sesat atau bukan kecuali MUI.” Ucapannya disambut tawa jamaah.
Ketika beberapa waktu lalu, saat ramai-ramainya pilkada DKI, saya berdebat dalam sebuah grup masalah akhlak vs aqidah. Seorang teman tak ragu-ragu menyematkan label ‘sekuler/liberal’ kepada saya? Untuknya, sebuah kalimat syahadat akan selalu berada di tempat teratas, jauh melampaui masalah-masalah yang berkaitan dengan kesalehan sosial.
Dia mengejek, “Lo lebih pilih manusia daripada Tuhan?”
Saya menjawab, “Pilihan yang mana? Memuliakan sesama manusia adalah perintah Tuhan.”
Untuk saya pribadi, sangat jelas. Islam itu seimbang dunia akhirat. Terlalu condong kepada salah satu hanya akan membuat keseimbangannya goyah. Pengalaman hidup di Jakarta, Jeddah dan kini Athlone membuat saya mensyukuri betapa ‘liberal’nya saya.
Sedangkan dalam hati saya selalu bersyukur saya dilahirkan sebagai seorang muslim. Dan selalu memohon agar Tuhan tidak akan memalingkan saya hingga akhir hayat nanti :).
Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda?
Satu lagi dari Cak Nun yang mungkin bisa jadi bahan renungan, “Tuhan yang tahu akidahmu. Masyarakat butuh akhlakmu.”
Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk membawa seluruh umat manusia untuk bersyahadat bersama dalam satu bendera penafsiran yang sama (Sunni? Syiah? Wahabi? Salafi?). Tapi untuk menunjukkan (bukan menghakimi apalagi mengancam) bahwa : Islam = rahmatan lil aalamin.
Bahkan rasulullah pun menekankan dirinya HANYA sebagai PEMBAWA PERINGATAN dan PENJELASAN. Bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, kan?
Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.” (QS. al-Hajj [22]: 49).
Alquran, adalah petunjuk dan rahmat. Bukan untuk mengancam-ancam orang yang tidak sepaham.
Maksudnya apa? Renungkan sendiri :).
Semoga bertahun-tahun setelah tahun 2010, saat penelitian How Islamic are Islamic Countries ? digelar kembali, jajaran negara-negara muslim bisa bertengger di peringkat 10 besar. Amin :).
Usai melahirkan adik perempuan saya, anaknya yang ke-7, Ibu saya datang ke dokter kandungannya, “Saya mau pasang KB, Dok.”
Sang dokter, yang sedari kehamilan ke-3 sudah mendesak Ibu agar memasang KB, agak syok. Tapi konon sang dokter akhirnya hanya senyum-senyum menggoda Ibu saya, “Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali ya, Bu.”
Usia beliau saat itu baru 30 tahun. Sebenarnya di masa-masa Ibu lahir dan besar, pernikahan usia dini sudah bukan hal yang lumrah. Walaupun belasan tahun masa kecilnya dihabiskan di Rappang, kampung kelahirannya nun jauh di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
Ibu punya saudara kembar. Saudara kembarnya ini menikah di usia yang tidak terlalu muda. Saat tante hamil anak pertama, Ibu pun sedang hamil saya, anaknya yang ke-6. Semua teman sepermainan kecilnya menikah di usia nyaris 30 tahun. My mom rocks! Ahahahahahaha.
Di usia 15, setelah menikah dengan almarhum Bapak, mereka berdua langsung hengkang ke ibukota propinsi, yang dahulu masih bernama kota Ujung Pandang. Memulai segalanya dari 0. Hidup menumpang pada kerabat lain sambil membantu usaha kerabat tersebut.
***
Ibu sering sekali bercerita kalau sebenarnya dia ingin melanjutkan pendidikan hingga lulus SMU. Berharap kami semua bisa meneruskan cita-citanya itu. Tapi istimewanya, Ibu tak menyimpan ‘ambisi’ masa lalu ini terlampau dalam.
Santai saja beliau dalam mendidik kami. Tak pernah mewajibkan kami ini itu. Tidak ngotot kami harus les ini les itu.Yang terjadi malah kebalikannya. Salah satu anak Ibu sangat ambisius dalam urusan sekolah, apalagi urusan nilai rapor.
Anak perempuan sulungnya menangis dan berdiam diri berhari-hari setelah di semester ke-4 di bangku SMP harus puas dengan peringkat ke-2 di kelas, setelah 3 semester berturut-turut menjadi juara kelas. Malah semester 1 juga menjadi peringkat 1 umum sekolah! Ahahahahahaha. Can’t believe that it was…ME! .
Maafkan anakmu yang norak ini ya, Mama hehehehe. Tidak pernah lho Ibu memaksa kami untuk berprestasi secara akademis setinggi mungkin. Catat, ya. Tidak pernah. Itu karena anaknya yang itu saja yang terlalu bernafsu ndak jelas ahahahahaha.
Sejak kelas 5 SD, saya aktif menjadi anggota drum band di sekolah. Kami sampai ke Jakarta segala lho ikut lomba . Waktu itu ada iuran sebesar 150 ribu. Saya kaget sekali waktu Bapak menolak keras dan menyarankan saya supaya tidak usah ikut. Ya ampun, padahal sudah capek-capek ikut latihan berbulan-bulan.
Waktu itu Ibu diam saja dan menenangkan saya yang sudah sesenggukan di meja makan, “Sudahmi. Nantipi Mama yang bicara sama Bapak. Diam mako dulu.” (Sudahlah. Nanti Mama yang bicara ke Bapak. Diam dulu, ya).
Akhirnya beberapa hari kemudian, Ibu kembali berkata, “Ooohh, salah dengarki Bapak. Dia kira 750 ribu. Kalau 150 ji, ada kok uangnya.”
Ah, waktu itu saya lega dan percaya saja pada kata-katanya. Tapi kini, saya paham. Pasti Ibu yang membujuk Bapak untuk membayar biaya kepesertaan tersebut.
Di kelas 6 SD, banyak teman drum band yang diresahkan oleh orang tua mereka yang menuntut agar mereka berhenti mengikuti kegiatan bermain musik tersebut. Kegiatannya dianggap akan mengganggu kegiatan belajar di sekolah.
Ibu tenang-tenang saja, “Ah, masa sih begitu? Belajar ya belajar. Main terompet itu kan bagus juga. Kau pasti bisa lah. Masa gara-gara drum band pelajaran jadi terganggu. Tidak ada itu.”
Beneran lho, ucapan Ibu sangat membakar saya. Cawu 1 kelas 6, saya dihujani puji-pujian oleh pembina drum band dan para pelatih . Setelah sekian lama selalu puas di peringkat 2,3 atau 4, pertama kalinya saya menjadi juara kelas .
Kala aktif-aktifnya saya dengan kegiatan drum band saya yang banyak dihujat oleh kalangan orang tua. Bahkan, wali kelas saya yang tadinya ‘sinis’ pada kami, si penggila drum band ini hihihihi, ikut memuja-muja saya di hadapan orang tua murid lain .
Sehabis menerima rapor kala itu, saya kegirangan dan percaya diri luar biasa kalau saya akan mendapat perlakuan istimewa darinya. Sewaktu di becak berdua Ibu, dalam perjalanan pulang, saya yakin sekali akan mendapat jawaban ‘ya’ ketika saya memberanikan diri untuk berujar padanya, “Ma, makan coto, yuk.”
Ibu menjawab tenang, “Aiii, tidak ada uangku, Nak. Nantipilah kapan-kapan, ya.”
Kasian deh loooo, ahahahahahaha. Mentang-mentang rengking 1 . Inilah salah satu keistimewaan beliau. Ibu tidak pernah mengistimewakan anak-anak berdasarkan prestasi akademis. Sama rata pokoknya. Kalau ada kerabat yang menyinggung-nyinggung adik perempuan saya, “Ini yang kecil tidak pintar seperti kakaknya di’ …”
Ibu selalu menjawab taktis, “Ooo, ini yang kecil banyak sekali temannya tauwa di sekolah. Pintarnya bergaul. Tidak seperti kakaknya. Pacceicereng ladde’, napoji mapakereng-kereng.” Hayooo, apa itu artinya, ahahahahaha.
2 hari setelah ebtanas SD, bapak meninggal dunia secara mendadak. Salah satu masa-masa terberat bagi kami semua. Tapi, menjelang pendaftaran masuk SMP, beliau tetap menyerahkan keputusan pada saya, “Jadi bagaimana ini, Nak? Tetap di Athirah atau mau ko masuk SMP 6?”
Saya sungguh tidak mengira Ibu akan bertanya. Sebesar apa pun keinginan saya untuk melanjutkan SMP ke Athirah, sekolah swasta selevel Al Azhar di kota saya dimana semua kecengan pun masuk sana boooo , saya tentu tahu diri untuk memilih sekolah negeri.
Kami semua sudah tahu, kepergian Bapak waktu itu lambat laun akan menghantam ekonomi keluarga. Tinggal masalah waktu saja.
“SMP 6 mi saja. Cukup kan NEM nya.” Saya menjawab tanpa ragu. Alhamdulillah, NEM saya sangat gemilang. Lebih dari cukup untuk bersaing merebut kursi di SMP negeri terbaik di kota kami saat itu. Eh, masih enggak, ya sekarang? ;).
***
Di bangku SMA, sebuah kejadian penting pun mewarnai hubungan kami. Sebuah perdebatan kecil pada saat penataran membuat saya menjadi berpikir masalah kerudung. Padahal semasa Bapak masih hidup, beliau sudah menegaskan kalau SMP, saya harus mulai berkerudung.
Idih, malas amat. Saya tentu menentang keras. Ibu membela saya, “Tidah usah dipaksa-paksa. Anak masih kecil disuruh pakai kudung.” (kudung -= kerudung).
Saat penataran, saya mengemukakan pendapat dengan ‘nyinyir‘nya dalam kelas, kira-kira isinya begini, “Sebagai negara dengan penganut agama bermacam-macam, anjuran memakai jilbab itu hanya akan mengurangi rasa nasionalisme. Cuma mau pamer-pamer agama saja.” Sekuler bener ini Mbak-nya ahahahaha, masih tahun 1995, bahkan Ulil bersama JIL-nya pun belum menetas kala itu :p.
Ketika saya dipindah kelas, saya bertemu dengan seorang teman berkerudung yang sangat bersahaja. Penampilannya rapi dan (maaf) badannya tidak bau hehehehe . Darinya, saya mendapat sebuah buku bersampul kuning, yang hanya butuh sekitar 2 jam untuk menuntaskan isinya. Sungguh, hidayah rahasia Allah semata .
Hanya perlu satu buku itu saja untuk memberanikan saya berkata secara tiba-tiba pada Ibu, “Ma, mo ka’ pakai jilbab.”
Ibu tentu terkejut. Memandangi putri sulungnya, yang rasanya belum lama berlalu ngomel-ngomel disuruh pakai jilbab, di usia 15 mendadak ingin mengenakan jilbab. Ibu keheranan, “Kenapa?”
Saya menyerahkan buku bersampul kuning tadi. Dan saya tinggalkan beliau yang segera sibuk membolak balik buku tersebut.
Besoknya, dari balik tangga, saya duduk sendiri mendengarkan Ibu berbicara di telepon. Entah dengan kerabat yang mana. Ibu lebih banyak diamnya, hanya sesekali menjawab. Tapi belakangan saya tahu, ternyata banyak kerabat yang menentang.
Saat itu di keluarga besar kami tak banyak remaja putri di usia SMA yang berkerudung, kecuali sepupu-sepupu yang memang lulusan pesantren. Tuduhannya macam-macam. Masa ada yang menuduh saya ikut-ikutan aliran sesat *adaAdaAjaDeeehhh:P*. Dihujat karena terlalu banyak baca buku.
Ah, saya pasrahkan saja. Tahun segitu, memakai jilbab di usia 15 memang masih gimana gitu. Saya pikir, toh saya sudah mencoba. Kalau pun memang belum boleh, saya tak akan sedikit pun menentang beliau.
Tapi, sungguh tak disangka, beberapa hari kemudian, di suatu malam Ibu memanggil saya. Sambil menyerahkan sebuah kantong plastik hitam, “Ini dua pasang baju sekolah, lengan panjang sama rok panjang. Jilbabnya juga 2. Kapan mau pakai jilbab?”
Rasanya ingin terbang. Teman-teman lain di sekolah menghadapi begitu banyak drama hanya untuk menggunakan kerudung, jalan saya begitu mudah . Malam itu, agak sulit saya memejamkan mata. Bantal pun dihujani air mata. Terima kasih ya Mama, diantara sekian banyak hujatan, Mama memutuskan untuk percaya pada pilihan putrinya.
Sebagai informasi, baru beberapa tahun terakhir ini Ibu memutuskan untuk memakai tutup kepala. Saat saya meminta izin untuk berjilbab, beliau pun belum berjilbab saat itu.
***
Kontras dengan peristiwa awal mula berkerudung di kelas 1 SMA itu, menjelang pernikahan saya, hubungan kami tak terlalu baik. Resepsi pernikahan menjadi polemik tersendiri. Dengan dana pas-pasan, akhirnya jalan terbaik yang ditempuh adalah menumpang acara pernikahan di rumah kerabat.
Kondisi ekonomi keluarga sudah lama ambruk. Masing-masing kami membiayai sendiri acara pernikahan. Jadi, harap maklum kalau jadinya malah menumpang hehehhe.
Mau resepsi di mana pula eike, rumah pun tak ada ya, Ceu ehehehehe. Masa di rumah kontrakan? ahahahaha. Saya pun ingin menghormati keluarga suami dengan tidak mengadakan ‘acara murahan’ yang bertempat hanya di mesjid, sementara mereka sukarela mengadakan perhelatan di sebuah gedung tanpa meminta biaya dari pihak saya.
Kala itu, saya masih berstatus trainee di sebuah perusahaan besar yang memang sejak dulu menjadi incaran saya. Namanya juga trainee, masih masa-masa cari muka dan tidak berani bolos-bolos la yaoowww ahahahaha. Jadi, saya mempercayakan semuanya pada Ibu. Belum apa-apa, masalah baju pengantin sudah membuat darah mendidih.
Sudah sejak lama saya mewanti-wanti Ibu, “Pokoknya saya mau tetap pakai jilbab. Pakai baju la’bu’, jangan baju bodo.” (Baju la’bu’ = baju panjang, baju bodo = baju pendek).
Seolah ingin menambah drama pernikahan saya, beberapa hari sebelum resepsi akad nikah digelar, sebuah peristiwa menggegerkan divisi saya di kantor. Sebuah tabel utama dalam database perusahaan lenyap isinya. Ter-delete semua. Ini apa yaaa, bahasanya IT banget ahahahahaha.
Peristiwanya hari rabu. Sementara hari sabtu sudah harus duduk manis di pelaminan. Hampir mati rasanya waktu itu. Saya satu-satunya trainee dalam tim saya.
Alhamdulillah tak perlu tercekam terlalu lama, pucuk masalah ketahuan juga. Tim development dodol di Bangolore sudah melakukan kesalahan tolol dengan menghapus data di database production. Ahahahahahha. Itu peristiwa memalukan sebelum akhirnya setahun kemudian, perusahaan resmi beralih ke SAP .
Rabu itu, tak ada ampun meskipun berstatus sebagai satu-satunya perempuan dalam tim untuk ikut ‘menjaga’ proses recovery data hingga dini hari. Hari kamis pukul 4 pagi, barulah kami semua beranjak pulang meninggalkan kantor. Hari kamis pukul 9 pagi sudah pasang tampang siap siaga lagi depan Bos. Trainee oh trainee ahahahaha.
Hari jumatnya, karena peristiwa tersebut, saya tidak diberi cuti penuh. Bos tetap menghendaki saya untuk masuk setengah hari. Siangnya, pulang ke rumah kontrakan, maksudnya ingin langsung rebahan mengingat beberapa hari terakhir tidur tak pernah pulas. Ibu malah datang membawa berita, “Sudah disiapkan baju bodo baru. Warnanya biru. Bagus sekali bajunya.”
Tante saya ikut melaporkan biaya penyewaan tenda yang harganya melambung tinggi di luar perkiraan!
Sudahlah kurang tidur beberapa hari, stres mikirin urusan kantor, masih pening mikirin ongkos nikah yang menguras hampir seluruh isi tabungan, saya meledak-ledak . Berbicara dengan nada kasar pada beliau. Mengatakan banyak hal-hal yang amat tidak pantas .
Can you imagine, hanya beberapa jam menjelang hari pernikahan, saya malah bertengkar dengan Ibu. Dramanya pun mencapai puncak ketika malam itu juga, saya dihujat oleh keluarga besar karena dianggap tidak mensosialisasikan acara pernikahan. Selama itu, saya memang tidak berani minta cuti, saya menyerahkan semuanya pada Ibu .
Saya ini bodoh sekali. Sudah tahu dana cekak, masih saja berani berbagi keangkuhan pada Ibu bahwa semua biaya sanggup saya tanggung.
Tidak menyadari bahwa judulnya saja hanya ‘menumpang’, sudah seharusnya kami yang ikut keinginan keluarga besar. Jadi, selama ini Ibu tidak pernah berani berbicara terus terang kepada saya. Saya juga terlalu sibuk di kantor, tak terlalu merasa perlu ikut campur terlalu jauh.
Kakak-kakak saya yang lain pun tak berdaya ikut membantu. Mereka juga ya sibuk lah bekerja di kantor masing-masing. Tinggalnya terpencar-pencar. You know lah Jakarta beserta macetnya .
Lupa memaklumii bahwa siapalah Ibu saya. Mana mungkin Ibu mau sok tahu ikut-ikutan mengatur jalannya acara meskipun yang menikah adalah anak gadisnya .
Intinya, sesibuk apa pun, sempatkanlah untuk bersilaturahmi. Tidak ada istilah macet, capek dan segala macam.
***
Setelah menikah dan memiliki anak pun, rasanya kasih sayang Ibu tidak akan pernah terputus, ya. Saat bertikai masalah kepindahan ke Jeddah dengan suami, Ibu ikut menasihati saya, “Apa tahan terus-terusan hidup pisah-pisah? Di mana suamimu mau bekerja, menurut sajalah. Setengah mati diurus supaya kau bisa ikut, kenapa sekarang tidak mau?”
Kala itu saya berbagi kekesalan saya pada Ibu masalah Montreal vs Jeddah hehehe. Ibu pun menyemangati saya, “Jeddah itu bagus, kok. Jangan dengar kata orang-orang. Bayangkan Nak kau nanti di sana, bisa umrah, bisa naik haji. Dekatnya itu Mekkah na dari Jeddah. Kau itu beruntung, Nak. Ikut saja apa kata suamimu.”
Jadi, saya selalu iri pada teman-teman yang bisa pulang ke haribaan ibunda tercinta untuk berlibur panjang bersama anak-anak sementara suami tak bisa lama-lama mengambil cuti hehehehe. Ibu saya bisa murka, “Musalai lakkemmu? Madosa ladde’ tu, Nak.” (Kau tinggalkan suamimu? Berdosa sekali itu, Nak).
Suami saya mungkin memberi izin, tapi malas enggak sih kalau dikutuk oleh ibunda sendiri? Hehehehe.
Kala hamil, tak pernah berani menyisipkan pikiran untuk pulang ke tanah air biarpun waktu hamil muda saya seperti orang gila (literally!) ahahahahaha. Ask my husband! . Ibu pasti akan menceramahi saya panjang lebar, “Baru hamil begitu sudah tidak tahan?
Mama itu melahirkan 8 kali, de nengka ulisu okko bolana indo’ku.” (Tidak pernah saya pulang ke rumah ibu saya).
Terima kasih ya Mama. Itu pelajaran sangat berharga . Tanpa kita sadari, kekuatan itu ada kok dalam diri kita. Setakut-takutnya saya saat hamil anak ke-2 jauh di negeri rantau, segaring-garingnya saya di Jeddah kala ramadan datang, terngiang selalu pesan Ibu, “Susah senang sama-sama, Nak. Begitu memang kalo sudah kawin.”
***
Ah, mau seribu paragraf pun rasanya tak akan pernah cukup untuk mengisahkan perempuan hebat ini . Tentu saja, Ibu saya pun hanya manusia biasa. Tak sedikit kekurangan bahkan hal-hal tak ‘layak’ yang pernah mengundang gunjingan orang. Meskipun saya pun tak pernah membahas hal ini secara terbuka dengan saudara-saudara saya, saya yakin hal itu tidak akan mengurangi rasa hormat kami pada beliau .
“But there’s a story behind everything. How a picture got on a wall. How a scar got on your face. Sometimes the stories are simple, and sometimes they are hard and heartbreaking. But behind all your stories is always your mother’s story, because hers is where yours begin.”
― Mitch Albom , For One More Day
61 tahun lalu, tepatnya tanggal 26 Mei, beliau terlahirkan ke dunia ini . Kelahirannya yang akan menghadirkan rangkaian perjalanan cerita pada kami bertujuh. 8 kali melahirkan, anak ke-2 (kakak kembar saya) menghembuskan nafas terakhir hanya beberapa detik setelah terlahir. Selamat ulang tahun, Ibunda tercinta .
Mama and her grown-up babies 😀 (January, 2013)
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ
سورة نوح﴿٢٨﴾
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA
Ya Alloh ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku
(QS.Nuh 28)
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِـيْراً
سورة الإسراء﴿٢٤﴾
ROBBIR_HAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil
(QS. Al-Isro’ 24)