Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada?

by : Jihan Davincka

***

Sebuah tulisan di blog teman pernah menceritakan tentang pengalamannya saat berkunjung ke salah satu negara di Eropa Timur. Eropa Timur kental dengan sosialisnya. Tak heran jika banyak orang di sana tak percaya lagi dengan doktrin ketuhanan mana pun. Istilah tenarnya, Atheis yang berpedoman Jika Surga dan Neraka tak pernah Ada .

jika surga dan neraka tak pernah ada
Homeless Charity (Gambar : www.topnews.ae)

Di sana, teman ini berjalan-jalan dengan kenalan Atheisnya. Ketika melewati seorang pengemis, temannya ini refleks mengeluarkan selembar uang kertas dan memberi ke si pengemis tadi. Teman saya jadi kepo.

“Why do you give your money?”

Teman Atheisnya tertawa geli, “What d’you mean? Is that rude to give some money to them?”

Teman saya malu sendiri. Teman Atheisnya melanjutkan dengan ngeledek, “By the way, it’s called sharing. It’s something good anyway.”

Di blognya, teman saya merasa tertampar, “Gile, dia yang enggak punya agama aja mengerti soal gini-ginian. Kalau dia enggak percaya Tuhan, untuk tujuan apa dia ngasih duit ke pengemis, ya? Kita aja yang jelas-jelas dapat pahala suka males.”

Nah!

***

Sudah nonton film “Hotel Transylvania”? Sebagai ratu drama, film ini tentu masuk dalam daftar film favorit dramanya Mama Jihan. Maklum ya, demennya memang drama-drama komedi cetek seperti ini hehehe. Kartun pula. Kurang cetek apa coba selera gue :P.

Sekilas cuma skenario biasa soal keluarga drakula yang sakit hati dan akhirnya memilih untuk mengisolasi anak perempuan tunggalnya. Terus…wah, panjang, cuy. Nonton sendiri aje, ye.

Salah satu pesan moral yang cukup berbekas adalah ketika penonton disuguhi sebentuk satir, “Jadi, siapa yang sebenarnya jahat, manusia atau para monster?” Di sepertiga terakhir bagian film penonton, sebenarnya penonton sudah digiring pada opini, “No matter who you are, how you look, what you wear, what you BELIEVE, as long as you’re being nice to others, YOU’RE RIGHT/GOOD. That which matters most.”

Maksudnya? Nonton dong, nontooooonnnn :P. Yang belum nonton, biar makin penasaran, here’s my favorite quote :

Jonathan: Are these monster gonna kill me?
Dracula: Not as long as they think you’re a monster.
Jonathan: That’s kinda of racist.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Hotel Transylvania (gambar : www. wired.com)

***

Pesan 2 cerita di atas sama.

Ada satu nih sebuah slogan baru yang bukan cuma diusung oleh kaum non muslim saja, tapi juga sudah ramai dibahas di kalangan umat muslim sendiri, “Semua agama sama. Semua agama benar.” ‘Sinisme’ terhadap agama juga muncul dalam berbagai kalimat. Misalnya, ini dari profil twitter salah satu blogger favorit saya : “Tuhan itu fakta. Agama menjadikan-Nya mitos.”

Termasuk pesan yang ditunjukkan oleh 2 cerita sebelumnya. Buat apa agama? Si Atheis tanpa agama tak menjadikan dia lebih tak bermoril kok daripada kita-kita yang (mengaku) beragama. Buat apa agama? Mau manusia kek, mau drakula kek, mau kafir, mau sembahyang, kalau jahat ya jahat saja.

Muncullah orang-orang yang menganggap bahwa sebenarnya pengkotak-kotakan agama inilah yang justru membuat kejahatan merajalela. Siapa yang tidak pernah dengar Perang Salib? Sebuah sejarah panjang pertikaian yang melibatkan banyak sekali dimensi sosial-geografis-budaya, yang ternyata memang berawal dari sebuah ceramah agama. Jangan cuma bisa bilang, “ooohh perang kristen lawan Islam, ya.” Jangan malas mencari tahu. Gampang diboongin nanti lho :P.

jika surga dan neraka tak pernah ada
The 7th Crusade (gambar : www.wikipaintings.org)

Dan…isu pluralisme semakin kencang berhembus. Maknanya banyak. Di Indonesia, beberapa petinggi para Nahdiyyin dianggap sudah melewati batas dengan paham pluralismenya. Termasuk mendiang Gus Dur. Yang mungkin tak banyak orang mau tahu, di balik ucapan-ucapan nyelenehnya, beliau tak bisa semena-mena kita keluarkan dari daftar “cendekiawan muslim terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.”

Bertentangan tidak, sih, pluralisme ini dengan ajaran Islam? Katanya, “Itu bisa merusak aqidah.” Nah, ini nih menurut saya pribadi yang membuat Islam bagaikan buah simalakama. Agama pedang, katanya. Apa-apa harus berkorban darah. Apalagi kalau soal aqidah. Beuuhhh, harga mati!

Untuk saya, ajaran Islam yang saya yakini itu sempurna. Dimensinya berlangsung 2 arah, vertikalnya diwakili oleh aqidah, secara horisontal amalan muamalah tidak kalah banyaknya. Pastinya langsung diprotes, “Tidak bisa begitu! Aqidah nomor satu! Nanti muamalah tinggal ngikut.” Kalau muamalah tinggal mengikuti itu saya setuju 100%. Tapi kalau ada yang bilang aqidah nomor satu, apa otomatis berarti muamalah boleh dinomorduakan? “Kalau kepepet boleh, Jee.” Apa pula ini dalam agama bawa-bawa kepepet hehehe.

Jebakan batman-nya ada di pertanyaan SUPER ini, “Perempuan dengan akhlak luar biasa seperti Bunda Teresa, dengan seorang yang memiliki track record kejahatan dunia nomor wahid tapi dia percaya Allah dan muslim hingga akhir hayatnya. Siapa yang masuk surga?”

Jawaban familiarnya sudah jelas, “Bunda Theresa pasti masuk neraka. Wong dia kafir. Si Penjahat muslim pasti nanti ke surga juga. Tapi dicuci dulu dosanya di neraka.” Awww, pakai apa? Rinso anti noda? :P.

***

Berbicara soal aqidah bukan perkara gampang. Saya punya pengalaman pribadi soal ini. Saya punya seorang kerabat. Seorang tante. Idola saya waktu saya kecil. Cantik, cerdas, banyak duit pula hehehehe. Alimnya jangan ditanya. Ibu sering bercerita biarpun termasuk orang berada, ibadahnya tak pernah luput. Puasa senin kamis rajin banget. Serentetan pengajian diadakan langsung di rumahnya.

Di suatu hari, entah ada urusan apa, malam-malam saya berkunjung ke rumahnya. Bersama Ibu saya. Kamis malam waktu itu. Kok ingat? Sebenarnya tidak ingat, tapi kejadian yang saya alami saat itu yang membuat saya selalu ingat kalau saat itu adalah malam jumat.

Rumahnya besar di sisi jalanan besar. Halamannya luas. Kami masuk dari pintu garasi. Baru beberapa langkah saya sudah mencium wewangian aneh.

“Bau apa ini?”

Ibu saya malah menghardik, “Huss, ndak usah tanya-tanya. Awas ya, nanti di dalam jangan tanya-tanya.”

Si mama enggak nyadar kalau anak perempuannya yang satu ini super duper keponya dari dulu. Diam-diam saya ke arah dapur sendiri, bertanya langsung pada asisten rumah tangga di sana. Sebelum bertanya saya sudah melihat sendiri asal wewangiannya. Semacam dupa yang ditaruh di tempat khusus. Jumlahnya ada beberapa. Asisten rumah tangga sibuk meletakkannya di beberapa tempat. Setelah tugasnya selesai, baru saya colek.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.waroengdjadoel.com

“Eh, ini untuk apa?”

“Oh, ini biasa. Tiap malam jumat memang dinyalain. Buat ngusir yang jahat-jahat.”

“Siapa yang jahat?” Kejar saya.

“Enggak tahu. Pokoknya disuruhnya begini tiap malam jumat. Biar rumah ada yang jaga. Biar aman gitu.”

Besar sebagai orang bugis, dalam lingkungan agama yang cukup ‘ketat’, pemasangan dupa beraroma aneh di malam jumat untuk mengusir hal-hal jahat tentu hal baru buat saya, yang kala itu masih duduk di bangku SD. Waktu itu sih, cuek saja. Ketika asisten RT nya pergi, baru deh saya perhatikan lebih dekat si dupa itu. Baunya menyengat jadi saya memilih untuk menjauh saja. Sederhana saja pikiran saya waktu itu, “Mungkin memang ada perampok yang takut wangi-wangian aneh seperti itu.” Nothing important.

Ketika umur agak besar, pelajaran agama bertambah, baru mengerti tentang hal-hal seperti ini. Sekaligus mengerti mengapa almarhum Bapak kadang bersitegang dengan Ibu mengenai kerabat-kerabat seperti ini. Kebiasaan lain tante saya dan kerabatnya yang lain adalah : percaya pada ‘orang pintar’.

Almarhum Bapak saya sangat ‘keras’ terhadap hal-hal seperti ini. Ibu lebih luwes. Kalau tidak salah Ibu secara santun pernah berkata kepada Bapak, “Biar saja. Kita tidak ikut-ikutan. Jangan sembarangan ceramahi orang. Belum tentu dia mengerti. Dia itu saudara. Tidak sedikit bantuannya kepada kita.”

Dan perjalanan takdir memenangkan pilihan Ibu. Beberapa tahun kemudian, Bapak meninggal tiba-tiba. Tak ada tanda-tanda sama sekali. Meninggalkan 7 orang anak yang belum ‘menetas’ satu pun. Disusul dengan badai ekonomi yang pernah membuat saya ketakutan dan tidak bisa tidur beberapa malam, sibuk berdoa, “Ya Allah, kalau pun tak ada rezeki untuk melanjutkan pendidikan, setidaknya beri kesempatan untuk bekerja.” Hihihihihi. Saya benar-benar takut kalau Ibu mengambil jalan pintas dan menikahkan saya :P. Sia-sia kan ke-kece-an ku jika berakhir di pelaminan begitu saja sebelum merebut cita-cita berfoto pakai toga. Ahahahahahahaha *colekPakaiPisau* :P.

Singkat cerita, pengalaman ini pun sekaligus mengajarkan hal lain. Rezeki tiap manusia hak Allah semata-mata. Bukan hak tunggal orang tua :). Suka tidak suka, “banyak anak banyak rezeki” bukan kalimat yang salah :).

Adalah tante saya dan saudara-saudaranya yang sudah mengamalkan penggalan ayat-ayat dalam surah Al-Maun kepada anak-anak yatim yang ditinggalkan oleh almarhum Bapak :). Memberikan tempat tinggal gratis dan dorongan moril yang tidak sedikit kepada Ibu. Memampukan kami bertujuh meretas jalan ke arah yang lebih baik :).

Tante yang sama. Yang menyalakan dupa di segenap penjuru rumahnya di tiap kamis malam. Yang kadang-kadang mempercayakan ramalan masa depannya kepada ‘orang pintar.’

“Kalau lu sayang, harusnya lu berdakwah, dong, ke mereka.” Andaikan interaksi dengan sesama manusia bisa sesederhana itu, ya :). Mungkinkah semua hal di dunia akan beres dengan, “Aqidah nomor satu!”

***

Tentu saja, aqidah tidak kasat mata. Siapa yang tahu, si kerudung panjang yang menjuntai hingga lantai, menyimpan kalung ‘ajaib’ di lehernya yang diyakini sebagai ‘penjaga tambahan’nya?

Aqidah masalah hati. Mau dibolak balik kayak apa, satu-satunya pihak yang berhak menilai adalah Sang Penciptanya itu sendiri :). Manusia, selain tempat salah dan lupa, punya kemampuan untuk bersandiwara. Kita masing-masing adalah aktor utama dalam sinetron kehidupan yang dijalani sehari-hari. Kenapa repot-repot mau mengurusi skenario aktor lain. Sutradaranya cuma satu. Bukan saya, bukan anda, bukan ustaz anu, bukan syeikh ini, bukan raja itu, bukan ulama sana sini, setiap kita bertanggung jawab untuk peranan yang kita mainkan. Secara individu.

Tentu boleh menimba ilmu dari para orang-orang besar ini. Tapi ya jangan memuliakan mereka lebih daripada keyakinan kita terhadap Yang Maha Mulia, dong ;). Saya setuju untuk urusan aqidah, sifatnya sangat individualis. Ketatlah menjaga aqidah untuk diri sendiri. Alquran memang cuma satu, Rasulullah SAW sudah dianggap ‘final’. Tapi penerjemahannya yang tidak satu dan seragam. Pekerjaan sia-sia berusaha menyatukan hal-hal yang sudah dan akan terus berbeda ini.

Amalan yang sifatnya vertikal seyogyanya dilaporkan kepada Allah saja. Tidak usah ditambah-tambahi dengan pasang status publik di media sosial, “Hm…bingung, deh. Buka puasa nanti masak apa, yaaaa?” Sayang kan, amalannya kena diskon gara-gara bercampur riya’, yang mungkin bukan itu tujuan awalnya.

Adakah jaminan melaksanakan amalan salat dan puasa tak terputus-putus akan membuat kita melangkah mulus memasuki surga-Nya? Allah yang Maha Tahu. Apa sudah pasti kalau kafir pasti dilempar ke neraka, no doubt! Banyak ayatnya, menyekutukan Tuhan adalah dosa tak terampuni. Padahal Allah pun menjanjikan pengampunan yang Maha Luas. Bingung? Jangan! Simpel, itu urusan Allah saja. Back off! :). Berusahalah menjadi umat yang terpilih tanpa perlu dipusingkan dengan “anu masuk surga atau neraka”, ya? Mending pikirin NUDI di X-Factor nanti bakal masuk 3 besar gak, ya? Ahahahahahahaha :P.

Mengurusi aqidah orang lain akan membuat kita terjebak sendiri. Kaum pluralis akan makin merasa jumawa bila ada pernyataan perintah untuk menumpahkan darah gara-gara, “Kafir! Salatnya cuma 3 waktu. Yang benar 5 waktu!”

Sadarkah kita, kalau di pihak sana pun menyerukan hal yang sama, “Kafir! Kelebihan tuh salatnya.”

Kalau begitu kapan berdakwahnya? Kita masih punya muamalah :). Sekarang malah terbalik, ya. Orang merasa ngotot soal aqidah, tapi kalau soal muamalah malah santai-santai saja. Karena dianggap menyenangkan Tuhan jauh lebih perlu daripada menyenangkan sesama manusia. Katanya, condong ke akhirat akan membuat kita lebih selamat. Yang saya tahu, Islam itu SEIMBANG DUNIA AKHIRAT. Condong ke mana pun hanya akan membuat keseimbangannya goyah :).

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.whitehorseriders.org

Keseimbangan yang bergeser inilah yang sering dijadikan senjata oleh beberapa penganut paham pluralisme mulai ‘menyerang’ kaum ‘agamis’. Padahal kan tidak begitu :(. Beberapa kaum pluralis menuduh agama menyuruh penganutnya menghancurkan penganut agama lain untuk menyenangkan Tuhan. Jihad, dalam agama samawi mana pun, disempitkan maknanya. Entah mengapa, keimanan kita terasa makin membuncah seiring dengan besarnya rasa benci kepada penganut agama lain.

Pernah dengar kalimat ini, “Tuhan tidak perlu disembah.” Sejujurnya, saya setuju. Keagungan Tuhan tidak akan berkurang sedikit pun walau seluruh umat manusia menolak mengakui-Nya. Untuk siapa kita berTuhan? Untuk diri sendiri. Mengapa perlu berbuat baik kepada sesama manusia? Agar Tuhan senang? Ah, Anda meremehkan Tuhan kalau begitu.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.facebookstatusbase.com

“Jika ingin bahagia, bahagiakan orang lain.” Buktikan sendiri. Segala amalan muamalah ya untuk para pelakunya sendiri. Apa yang lebih penting di dunia ini selain kebahagiaan? :). Apa pun definisi kebahagiaan yang Anda pegang.

Amalan muamalah ini berlaku sama untuk umat manusia mana pun. Jangan karena aqidah kita menjadi terpeleset. Beberapa waktu lalu, di news feed ada yang pasang status bingung karena tetangganya yang merayakan paskah mengirimkannya sekotak nasi kuning hasil perayaan paskah. Dia bingung dimakan atau tidak? Haram tidak, ya?

Sebenarnya yang haram itu apa, sih? Daging babinya yang Anda takuti atau yang makan babinya? :P. Bijaksanalah. Kalau ragu, tak perlu kan memajang keraguan sensitif Anda di media sosial. Kecuali Anda yakin 100% bahwa yang baca semuanya sepaham dengan Anda ;).

Jadi, masih pening Bunda Theresa masuk surga apa enggak, nih? Hehehehe. Jangan merisaukan yang bukan urusan kita. Banyak hal baik yang bisa kita pelajari dari perempuan yang bernama asli Agnes Bojaxhiu ini. Dari namanya saja jelas bukan orang India. Tapi mengabdikan sebagian besar hidupnya di pedalaman India. Tokoh islam wanita juga banyak, kok ;).

Jangan sampai aqidah membuat kita menjauh dari muamalah. Aqidah yang benar akan menuntun kita selaras dengan aturan kemanusiaan. Sekepepet apa pun, kedua hal ini tak akan pernah bertentangan. In Shaa Allah :).

Jangan bersedih hati atas bullying dari kaum non agamis yang mengatasnamakan pluralisme. Sebagai muslim, kita tidak menentang pluralisme, kan? :).

Pertahankan keseimbangan dunia dan akhirat. Terlalu condong ke mana pun suatu hari akan menyesatkan kita. Lihatlah sejarah. Presiden Anwar Sadat adalah salah satu tokoh Islam terkemuka asal Mesir. Mati di tangan seorang pemuda Islam yang sakit hati karena beliau menyetujui perjanjian Camp David. Siapa yang tidak tahu Gandhi, seorang yang hingga di akhir hayatnya mengaku sebagai pemeluk Hindu sejati. Siapa yang membunuh Gandhi? Seorang ekstrimis hindu yang mengaku kesal karena Gandhi dianggap terlalu baik kepada pemeluk Islam di India :(.

Apa benar mereka yang tak percaya agama lagi akan lebih baik daripada kita yang tetap beristiqamah di jalanNya?

Dengarkan baik-baik lirik lagu ini, yng dinyanyikan oleh mendiang Chrisye dan Ahmad Dhani, ” Jika surga dan neraka tak pernah ada, Apakah kita semua, benar-benar tulus menyambah padaNya? Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga.”

Apa jawaban kalian, Saudaraku? :).

***

jika surga dan neraka tak pernah ada

Rendang Padang Kemasan Untuk yang Jauh di Mata Dekat di Lidah

Majalah Tempo pernah menerbitkan sebuah rangkaian biografi pelaku sejarah yang diberi judul “4 Bapak Bangsa.” Tidak tanggung-tanggung, 3 dari 4 “Bapak Bangsa” versi para wartawan senior dari media cetak tersohor ini berasal dari Tanah Minang. Ada Muhammad Hatta, Syahrir dan Tan Malaka.

Ranah Minang juga banyak melahirkan ulama-ulama besar  seperti : Agus Salim, Muhammad Natsir, Buya Hamka dll. Tak cuma itu, salah satu suku dari pulau Sumatera ini mempersembahkan tidak sedikit budayawan nasional. Sebut saja salah satu penulis fiksi favorit saya, Motinggo Busye.

Urang Awak, sebutan khas untuk orang Minang, tak hanya meninggalkan banyak jejak dalam sejarah bangsa. Yang mungkin lebih terkenal justru makanan tradisionalnya. Sajian khas Minangkabau cukup beragam.

Selain sate padang, soto padang, dendeng balado, berbagai macam gulai, juaranya tentu saja…rendang padang.

randang padang

Rendang padang pernah ditasbihkan sebagai salah satu makanan paling enak di dunia. Saya tidak terlalu peduli dengan keabsahan predikatnya. Untuk saya pribadi, rendang padang sedari dulu telah masuk daftar ‘the best food ever.’ Saya pun meyakini ketenarannya yang sudah bergema ke (hampir) seluruh pelosok nusantara.

***

rendang padang kemasanTak jarang saya disangka orang Minang. Padahal saya asli Bugis, Sulawesi Selatan. Takdir yang membawa saya ke tanah Jawa. Seperti pepatah, “Asam di gurun, garam di laut, bertemu di belanga.”

Saya merantau dari Makassar ke ibukota, bertemu suami yang asli Minang di kampus Depok. Di resepsi pernikahan kami, pertama kali saya bersentuhan langsung dengan  budaya Minang.

Selama pesta, hampir 2 jam saya bertahan di atas pelaminan dengan hiasan kepala setinggi 30 cm dengan berat kira-kira 3 kg. Namanya suntiang.

Menjadi menantu urang awak memperkenalkan saya lebih jauh dengan si rendang padang. Dulu terbiasa melihatnya sudah terhidang di atas piring, siap disantap dengan nasi putih. Sekarang melihat langsung ibu mertua meracik rendang di dapur.

Bahan baku rendang padang tidaklah serumit yang saya bayangkan. Maklum saja, rasa khas dari daging berbumbu satu ini sukar dicari tandingannya. Wajar jika saya sempat mengira ada bahan khusus yang (mungkin) tidak pernah digunakan oleh bahan makanan lain. Semacam ‘bumbu rahasia’.

Sebut saja bahan-bahannya secara umum : jahe, daun kunyit, asam jawa, santan, bawang merah, bawang putih, kemiri, daun salam, daun jeruk dan lengkuas. Tidak ada yang ‘aneh-aneh’ bukan?

Ternyata rahasia kelezatannya tidak cuma sekadar memadukan bumbu rempah, daging dan santan. Proses pengolahannya tidak sembarangan. Untuk mendapatkan hasil akhir rendang padang yang hitam, kering dan bumbu yang meresap sempurna hingga ke serat daging yang paling dalam, butuh proses pematangan yang lama.

Menyadari sang menantu yang ‘awam’ urusan dapur, Ibu Mertua setengah becanda bilang ke saya, “Ya ampun, tidak usah terlalu serius mau  bikin rendang padang. Beli saja. Lebih praktis dan enak.”

Saya setuju. Rendang Padang tidak termasuk tipe makanan yang ‘mudah’. Selain perlu  pengalaman, waktu yang dihabiskan juga tidak sedikit. Sayang juga menghabiskan waktu selama itu untuk membuat rendang yang dikonsumsi oleh rumah tangga sendiri saja. Untuk saya pribadi, membeli rendang padang yang sudah jadi adalah pilihan yang lebih bijaksana.

***

Ternyata, bukan cuma perpindahan pulau yang menghampiri nasib saya. Sejak 4 tahun lalu, suami mendapat kesempatan bekerja ke luar negeri. Saya dan anak-anak ikut diboyong.

Setiap waktu mudik usai dan saatnya kembali ke luar negeri, si rendang ini selalu menjadi penghuni tetap koper kami. Karena proses memasaknya yang cermat, rendang padang menjadi tahan lama, tidak mudah basi. Rendang padang juga sering menjadi oleh-oleh yang populer. Khususnya untuk sesama orang Indonesia di tempat kami bermukim.

Siapa sih yang tidak suka rendang? ;). Namun, proses packingnya tidak mudah.

Berdasarkan pengalaman, beberapa imigrasi di negara-negara tertentu sedikit ‘rewel’ urusan isi bagasi para pendatang. Pada umumnya kalau makanan sudah dibungkus rapi dengan merek dagang resmi, petugas imigrasi tidak akan mempermasalahkan. Tapi jika dipaketin secara manual, ada kemungkinan akan diinterogasi macam-macam.

Belum lagi, agar aman, paket makanan biasanya disebar dalam koper dan akan bercampur dengan pakaian dan lain-lain. Harus berhati-hati dalam membungkus makanan agar minyak dan bumbunya tidak berceceran.

Makanya, perlu trik dan waktu khusus lagi untuk si rendang padang ini. Perlu membeli box plastik khusus, perlu plester sana sini berkali-kali, box-nya dipermak lagi agar rapi dan tidak mengundang kecurigaan si petugas imigrasi. Belum lagi kalau memborong rendang sebagai oleh-oleh untuk teman-teman. Membungkusnya tentu harus dipisah-pisah. Makin kewalahan saat packingnya.

Mau serepot apa pun, ya tetap dibela-belain ya boooo :p.

rendang padang kemasan

***

Inovasi yang dilakukan oleh  beberapa rumah makan padang, mungkin akan terlihat sederhana saja. Tapi benar-benar merupakan angin segar buat para perantau seperti kami. Maklumlah, kemana pun kaki melangkah, urusan perut tak bisa diremehkan.

Walaupun dulu merepotkan, kami selalu ngotot memboyong rendang padang kemasan manual dalam koper. Makannya dihemat-hemat agar bisa lama menikmatinya.

Meninggalkan sanak saudara dan kerabat nun jauh di tanah air tidak selalu mudah. Setidaknya menyantap nasi putih yang berhiaskan beberapa potong rendang padang di sisi piring, selalu mengingatkan saya pada satu hal.

Tinggal di Jeddah memang menyenangkan, dekat dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Bisa umrah sepuasnya dan naik haji dengan sangat mudah.

Bermukim di Eropa juga seru. Bertemu hal-hal baru seperti pemandangan yang cantik dan mengenal pola hidup serba disiplin dan mandiri.

Namun, tanah kelahiran tak pernah hilang dalam ingatan. Selalu menjadi tempat impian untuk berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata :).

***

Roda Pedati, Kadang di Atas Kadang di Bawah

by : Jihan Davincka

***

Sudah sebulan hengkang, masih saja suka kepo-kepo tentang Saudi. Dua hari lalu mendengar kasak kusuk soal ‘Saudinisasi’ yang kembali gencar berhembus di Negeri Petro Dolar ini. Ada razia iqama (semacam KTP untuk para pemukim Saudi).

Konon, kali ini razianya konon juga melanda para pekerja profesional. Saya tak enak hati mau bertanya langsung pada teman-teman yang masih di sana. Takutnya disangka mau nyolot :P.

Padahal sebenarnya beneran khawatir. Untunglah hasil kepo-kepo terselubung sudah berhasil mendapat info yang akurat. Ternyata…it’s not that bad. Alhamdulillah :).

NC 2

***

‘Saudinisasi’ bukan isu baru. Entah kapan mulainya, yang jelas beberapa tahun terakhir ini pemerintah Saudi memang dipusingkan dengan membanjirnya pekerja pendatang di Negeri Penjaga Wilayah Haram ini. Sensus tahun 2010 menunjukkan, sekitar 30% penduduk Saudi adalah pendatang. CMIIW, ya.

Sebelum ke Jeddah, saya juga suka keheranan mengapa Saudi masih bertengger di salah satu posisi puncak tujuan kerja para TKI, ya? Terutama untuk pekerja non-formal. Setelah tinggal di Jeddah baru deh ngerasain ‘asoy’nya tinggal di Negeri Gurun yang satu ini hehehehe.

Sekitar setahun lalu, saya sering membahas hal ini dengan suami. “Saudinisasi apaan, sih? Kenapa tiba-tiba Saudi mau mengusir pendatang?”

“Mereka butuh lapangan kerja untuk angkatan kerja usia mudanya.”

“Kok baru ribut-ribut belakangan ini?”

Baru deh suami mulai mendongeng panjang lebar :D. Konon, di tahun 70 hingga 80-an, malah Saudi yang mengundang orang-orang dari luar untuk datang dan ikut ‘mebangun’ Saudi. Potensi sumber daya alam minyak sedang booming.

Sementara saat itu Saudi belum ‘siap’. Malah katanya, waktu itu status warga negara ‘dijual murah’.

Mungkin Kerajaan Saudi ‘terlena’ terlalu lama. Tanpa sadar, puluhan tahun telah berlalu. Penduduk Saudi sudah makin banyak. Bayi-bayi mereka tumbuh makin dewasa. Mungkin 10 tahun terakhir ini, pemuda pemudinya sudah mencapai usia siap kerja. Masalahnya, mau kerja apa?

Perusahaan tentu tidak akan sembarangan memilih pegawai. Para pemuda Saudi ini kurang ditempa dan malah (mungkin) mendapat perlakuan manja dari orangtua dan pemerintah. Sekolah gratis, kesehatan gratis untuk penduduk Saudi asli.

Kalau tidak salah (CMIIW), kurikulum sekolah negeri Saudi juga agak berbeda. Meskipun menggunakan pendidikan umum tapi ada penekanan khusus untuk bahasa Arab dan agama Islam.

Jadi, pelajaran umumnya sedikit tergeser dan mungkin tidak mendalam. Padahal dalam Islam prinsipnya, “seimbang dunia akhirat” kan, ya? ;).

Dijejali dengan kekayaan berlimpah, ditambah pemasukan umrah dan haji, walaupun belum bergelar “negara maju”, Saudi termasuk negara ‘tajir’.

Kalau negara-negara lain ‘mengemis-ngemis’ (pasang iklan sana sini) agar wisatawan datang mengunjungi negerinya (untuk menambah devisa), Saudi malah dengan ketat membatasi jumlah pengunjung ke negaranya.

Selain sentimen ekonomi, Saudi punya magnet lain. Pesona spiritual dari dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Tiap tahun, jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong mendatangi Saudi tanpa bujukan iklan apa pun.

Wajar saja jika pemerintah sangat memanjakan penduduk asli Saudi yang didominasi oleh orang Arab.

Jadi, salah satu jalan terbaik yang harus diambil pemerintah adalah “mengusir para pendatang.” Untuk memuluskan para pemuda Saudi mendapatkan kesempatan kerja.

Karena kalau harus bersaing dengan pekerja asing, para perantau yang semangat kerja dan skill-nya tidak main-main, pasti mereka akan kalah telak hehehe.

Upaya inilah yang disebut sebagai Saudinisasi. Beberapa tahun belakangan ini, berbagai cara telah ditempuh. Antaralain dengan memasang quota pegawai asal Saudi di tiap perusahaan.

Memaksa perusahaan untuk mempekerjakan orang Saudi asli sejumlah angka quota tersebut. Perusahaan yang ‘bandel’ akan masuk dalam zona merah. Harus berhati-hati.

Masih butuh waktu bagi Saudi untuk menyukseskan program Saudinisasi mereka. Membangun etos kerja dan perilaku karyawan bukan pekerjaan mudah dan cepat. Mereka tentu tidak akan gegabah main usir begitu saja kepada para pendatang.

Perusahaan kan tidak mau rugi. Kalau pada ‘ngambek’ dan ikut kabur, pening juga kan pemerintah Saudi? hehehehe.

Alasan lainnya adalah maraknya pekerja ilegal. Saking ‘malas’nya warga Saudi, pemerintah dulunya ‘tutup mata’ dan tak sadar membiarkan para pendatang menjejali tanah mereka. Ya, namanya butuh.

Keluarga Saudi itu punya asisten rumah tangga bisa banyak. Ada asisten untuk memasak dan membersihkan rumah. Belum lagi pengasuh anak. Supir juga wajib. Saudi tak membolehkan kaum wanita menyetir kendaraan sendiri.

Para pendatang ini pun kebanyakan malah kesenengan tinggal di Saudi. Betah secara psikologis sih mungkin tidak. Tapi berikut beberapa petikan hasil kepo-kepo saya dengan beberapa supir taksi asal Indonesia di Jeddah.

Umumnya saya membuka percakapan dengan, “Pak Abc, sudah lama di Saudi? Betah nih, Pak?”

Jawabannya beragam.

“15 tahun, Bu. Dari bujangan. Betah sih tidak. Tapi pernah pulang duitnya masih enakan sini, Bu.”

“Sudah hampir 20 tahun, Bu. Dulu keluarga ikut. Tapi saya pulangin. Anak-anak dah gede-gede. Kuliah semua. Istri jaga kontrakan. Alhamdulillah, ada beberapa rumah kecil-kecil di kampung. Saya mau pulang juga. Tapi Bu, di kampung enggak ada duit.”

(Catat, anaknya 3, kuliah semua! Punya beberapa rumah kontrakan. Supir taksi, cing! :P)

Satu lagi, “Sekitar 8 tahun, Bu. Istri di kampung. Saya punya usaha kerajinan besi. Istri punya kantin kecil-kecilan.” (Nah!)

Pantas pada ogah pulang hehehe. Jadi, jangan buru-buru menyangka TKI di sini penuh darah dan airmata hehehe. Hati-hati, supir taksi bisa jadi juragan kontrakan :D.

Saudi berbeda dengan negara Timur Tengah lainnya. Biaya hidupnya jauh lebih rendah daripada tetangga-tetangganya. Iya sih, kota Dubai dan Abu Dhabi keren luar biasa. Konon, Qatar adalah negara terkaya ke-2. Tapi teman saya di Abu Dhabi merintih atas mahalnya barang-barang di sana.

Mari kita lihat harga barang pokok di Jeddah. Jangan sakit hati, harga daging sapi dan beras lebih murah daripada di Jakarta ;). Karena berlimpah pendatang, hidup di Jeddah tidak terasa seperti di luar negeri.

Ketika Indonesia terkena musibah langkanya tempe, kami di Jeddah tetap bisa mendapatkan makanan khas tanah air ini dengan harga 3 riyal saja. Memang, lebih mahal. Tapi, di luar negeri lain, ada yang jual tempe seharga 7500 rupiah dengan pasokan yang sama banyaknya dengan tanah air? ;).

Harga bensin? Sudahlah ya, garuk-garuk tanah nanti. Ahahahaha.

Saudi tak memungut pajak dari siapa pun. Jadi, semua fasilitas umum bisa dinikmati oleh baik penduduk lokal maupun pendatang. Enak kan, numpang hidup di tempat orang tapi enggak bayar apa-apa :P. Malah ikut menikmati murahnya biaya hidup, bensin dengan harga sale :P, jalanan yang mulus-mulus, dsb.

Ini mungkin yang membuat pemerintah Saudi lama-lama empet juga ahahahahaha, “Gue yang capek-capek, lu orang bisa nikmatin semua dengan gratis.” Pernah ada isu, pemerintah mau menarik pajak dari para pendatang. Tapi konon ditentang oleh para ulama sana. Pajak itu haram katanya. Entah, ya. CMIIW lagi nih hehehe.

Bayangkan, kalau Anda datang sebagai pekerja profesional, diberi gaji dollar layaknya pekerja ekspat tanpa pajak dan Anda sanggup menahan diri untuk tidak ‘foya-foya’ di negeri orang, berapa itu DEVISA terkirim ke tanah air? Hehehehe. Berterima kasihlah pada pemerintah Saudi :P.

Jangan buru-buru menghakimi pemerintah Saudi. Now you can see WHY :).

***

Tapi kita bisa belajar sesuatu nih dari pemerintah Saudi. Kadang, memiliki kelebihan materi tidak menjamin kesejahteraan hidup :).

Lihat saja bangsa petarung seperti orang-orang Jepang. Punya apa sih Negeri Sakura ini? Tanah subur pas-pasan, kekayaan alam nyaris tidak ada, malah sering terkena bencana alam. But look at them! How strong they are until now :).

Saya teringat waktu kuliah sedang konsultasi dengan Pembimbing Akademik, salah satu senior datang. Dia sedang konsultasi tugas akhir juga. Saya terkesan dengan ucapan PA saya sesaat setelah senior tersebut mengeluhkan tentang isi makalahnya.

PA saya bilang, “Banyak keterbatasan, ya. Tapi kamu kerjakan saja terus. Jangan ganti topik dulu. Keterbatasan kadang membuat kita jadi kreatif, lho.”

Keterbatasan membuat kita jadi kreatif. Nah! Itu mungkin yang membuat orang-orang Jepang terkenal dengan inovasinya. Mereka tahu diri dengan ‘kemiskinan’ sumber daya alam mereka. Mereka pun mencari cara lain. Akhirnya tampil sebagai negara industri dan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.

Hal yang sama untuk negara-negara Eropa. Sebagian mereka minim kekayaan alam. Biaya hidupnya jadi cenderung tinggi. Tapi jadinya orang-orang Eropa sangat disiplin dalam menggunakan uang dan mandiri dalam banyak hal.

Sekaligus membuktikan satu pepatah lagi, “What doesn’t kill you, make you stronger.”

Tapi jadi ‘tajir’ itu bukan dosa. Pun bukan kelebihan. Lebih tepatnya, kekayaan itu cobaan. Lihat kan Negara Saudi? Mentang-mentang tajir, lupa diri ‘mendidik’ warganya hehehe. Dimanjakan terus, deh.

Hidup seperti roda pedati. Tidak selalu di atas. Sebagai orang tua, kita juga jadi belajar waspada. Sedari kecil mengajarkan kesederhanaan dan kerja keras pada anak-anak. Terlalu berat kalau mikirin negara, keluarga saja dulu :D.

Faktanya, lebih berat mengajarkan kesederhanaan pada mereka kala kita diberi kelonggaran rezeki. Kalau rezekinya sempit mah, mau tak mau kudu hemat hehehehe. Tapi coba kalau kita memiliki materi berlimpah? Gatal kan beliin ini itu buat anak-anak atas nama cinta dan, “La memang cari uang untuk mereka, kok.”

Nasib mereka tak pernah bisa kita ramalkan. Tugas kita hanya membangun pondasi yang kuat yang bisa mereka pakai untuk menempuh hidup. Siapa yang tahu, kehidupan mereka secara ekonomi di masa depan? Apa akan sejaya orang tuanya kini?

Makanya, ajarkan kesederhanaan dan kerja keras. Agar seperti apa pun mereka di masa depan, mereka tidak melumrahkan kehidupan dengan misalnya : baju-baju bermerek yang harganya tidak murah, makan di tempat mahal-mahal, liburan mesti ke hotel ;).

Kalau takdir menjadikan mereka sejaya kita sih tak masalah. Tapi apabila hidup menempa mereka lebih keras, siap tidak pakai baju murah makan di warteg? 😛

Bukan hal mudah memang. Ini catatan buat saya juga. Mampukan kami semua ya, Allah :).

***

A Little Snow Before Sunshine

by : Jihan Davincka

***

Sudah 30 hari. Asiiiikkk, ada alasan menulis status :P.

Bersama musim dingin yang sepertinya masih enggan bertukar tahta dengan musim semi hingga penghujung Maret ini, liburan paskah tengah berlangsung di Eropa. Libur resmi sejak hari jumat. Senin besok pun masih libur. 4 days in a row! ^_^

Ada suami di rumah, hari sabtu kemarin saya keluar berbelanja sendiri. Pertama kalinya nih, bersolo karier di jalanan kota Athlone tanpa iring-iringan duo balita :D.

Untuk membeli daging, harus ke toko khusus. Satu-satunya toko berlabel halal berjarak 2-3 km dari apartemen. Sebenarnya ada bis yang bisa mengantar ke sana. Atas nama kesehatan, mari kita berjalan kaki :D.

Cukup aneh buat si pendatang baru di Eropa, berjalan kaki di bawah teriknya matahari tapi suhu mentok di 3 derajat. Kulit muka terasa ditusuk-tusuk terkena tamparan angin dingin. Sempat menyesal tidak memilih naik bis saja.

Semakin menjauh dari pusat kota, jalanan mulai melebar. Pemandangan sisi kiri kanan jalan yang tadinya dipenuhi gedung-gedung toko, restoran atau apartemen, mulai berganti.

Rumah-rumah kecil bercerobong asap. Dengan rumput hijau di seluruh areal pekarangan yang luas. Bangunan bercat warna-warna pastel. Pohon-pohon berjajar rapi. Si banci Eropa mendadak kegirangan sendiri. She was so thankful that she finally had a chance to see all of these, right thru her eyes…directly. Persis seperti yang pernah dibayangkan waktu kecil. Yang dulu diangan-angankan kalau melihat latar belakang gambar buku-buku cerita bule terjemahan.

O ya, ada kebiasaan baru di sini yang mengundang sewot suami. Kalau istilahnya Abil, “permainan mulut naga.” Tahu kan, jika kita menghembuskan nafas lewat mulut di udara sedingin itu, ada asap yang ikut keluar dari mulut.

Kalau sedang bersama suami, kadang saya dan Abil berulang-ulang melakukan itu. Suami langsung ribut, “Ya ampun, udah dong. Norak tauuuu. Entar orang-orang ngeliatin.” Ahahahhhahaha.

Mumpung tidak ada suami, saya berkali-kali menarik nafas panjang, membuangnya lewat mulut. Senyum-senyum sendiri melihat asapnya berhamburan dari mulut. Lalu menghilang terbawa angin. Sampai puas dan akhirnya kelelahan sendiri. Bahagia itu sederhana :). Or let’s simply call it … norak! 😛

Tapi rasa senangnya langsung menguap tak berbekas. Sudah capek-capek berjalan kaki menantang udara dingin sejauh itu, tiba depan pintu toko, tokonya belum buka! Oh, crap! huhuhuhu. Bukanya masih satu jam lagi. Langsung lemas. Setelah menunggu 10 menit, si emak-emak nan malang ini pun pulang naik bis dengan tangan hampa.

***

Kalau soal teman, let’s just say it’s pretty ‘quiet’ here. Tapi karena pada dasarnya memang orang rumahan alias kuper dari sononya, tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Walaupun seringnya kangen juga dengan madam-madamku nun jauh di gurun sana :D. Belahan jiwa, apa kabarmu? Kuharap selalu tetap kau jaga, tumbuhan cinta yang di ladang kitaaaa … #sodorinMic :D.

Soal memasak? Well, a bit tricky yet challenging. Tapi sejak di Jeddah pun, memasak hampir tiap hari. Tidak suka jajan soalnya. Begitu tahu kalau daun jeruk dan sereh ternyata tak susah ditemukan, suddenly … all is well :D. Maklumlah, si lidah kampung bisanya masak masakan ‘kampung’ ;).

Yang tak terduga, seringnya terpaksa memencet tombol ‘hide’ untuk akun-akun yang hobinya memposting foto-foto Ka’bah atau anywhere @Madinah :P. Dua tempat yang konon katanya memang paling menyita rasa rindu untuk para alumni Jeddah :).

Pemandangan di belakang apartemen saya cantik sekali. Dari jendela kaca raksasa yang menguasai dinding belakang apartemen, kita bisa sepuasnya melihat sungai cantik yang membelah kota Athlone menjadi 2 sisi. Ada kapal-kapal kecil berwarna putih, yang masih sering terlihat diam di sisi-sisi dermaga kayu yang terhampar di sepanjang pinggiran sungai. Mungkin sama seperti saya. Sudah gelisah menunggu datangnya musim semi agar bisa melepas jangkar, membawa penumpang dan kembali meneruskan fitrahnya untuk…berlayar :).

cropped-mg_6040_1_2_tonemapped.jpg

Karena sinar matahari cukup langka di negeri berlangit muram dan murah hujan ini, begitu terik sedikit, saya tak membuang kesempatan untuk duduk-duduk di atas sofa. Tepat di hadapan jendela kaca tadi. Di seberang sungai, sebuah gereja tua berarsitektur khas Eropa kuno berdiri tegak. Ada jam dinding besar di sisi gereja yang menghadap ke sungai yang bisa kami intip kapan saja. Jadi hemat deh, enggak perlu beli jam dinding segala. Ahahahahahha.

Bahkan, yang seindah itu pun tak cukup sanggup memuluskan masa-masa beradaptasi, ya hehehehe. Mengapa pula di musim pertama tinggal di sini mesti dipertemukan dengan musim dingin selama ini. April sudah menjelang, tapi menurut sebagian besar penghuni benua ini, “Suasananya masih seputih bulan desember.”

Pernah suatu hari di Jeddah, dengan memakai baju kaos berlapis sweater plus celana panjang dan kaos kaki, saya memencet bel tetangga depan. Kala itu, baik saya dan dia belum berstatus ‘alumni’ :D.

“Bundaaaaa, dinginnyaaaaa…” Saya langsung menghambur masuk begitu empunya rumah membuka pintu.

“Iya. Katanya sekarang suhunya 19 derajat. Di bawah 20, nih.”

“Duh, pantesan dingin banget.”

Ironis, ya. Di sini, 19 derajat mungkin sudah puncaknya musim panas. Hehehehehe.

Itu baru soal suhu. Soal harga juga butuh penyesuaian khusus :P. Saya pernah menegur suami yang suka protes dengan harga-harga di sini, “Stop converting anything to riyal. It never works.” Apalagi kalau sudah menyerempet pajak. Stop remembering Saudi! Ahahahaha. Surga dunia urusan uang ;).

Maybe when in Europe, we can start learning about the value, rather than the price :).

Iya tho? Lain lubuk lain ikannya. Beda ladang, beda ilalang :). Mana pernah jalan-jalan di Saudi, berpapasan dengan orang yang baru ketemu pertama kali dan mereka menyapa dengan wajah penuh senyum, “Hai, how are you?”

Pernah suatu kali saat berjalan kaki menuju supermarket, sebuah bis diberhentikan oleh seorang bapak-bapak. Dia melambaikan tangan dari seberang jalan. Supir berhenti. Ternyata, dia bersama seorang perempuan sebayanya, yang mungkin istrinya. Juga seorang anak laki-laki dan setumpuk barang bawaan yang tidak mungkin terangkut dengan sekali jalan. Supir bis menunggu dengan sabar sembari si Bapak menuntun istrinya, balik lagi menjemput si anak, kemudian kembali membawa barang-barangnya.

Hebatnya, antrian mobil di belakang bis tadi tidak sedikit, lho. Tidak ada suara klakson sama sekali hingga akhirnya bis kembali berjalan. Kalau di Jeddah, sedang mengantri di lampu merah pun, suara klakson saling menyahut tidak sabaran :P.

Menurut teman di sini, orang-orang Irlandia ada juga yang suka menyerobot dan tidak sabaran. But I told her, “Trust me, once you live in Jeddah, you’ll change your mind in one second.” Berinteraksi dengan sesama pengemudi di jalanan Saudi punya seni tersendiri. Hehehehe.

Tapi kemudian, terbayang lagi yang murah-murah tadi semasa masih tinggal di Jeddah. Tak perlu repot mencari bahan makanan apa pun. Everything is halal in shaa Allah :).

Hampir pingsan melihat harga bensin di sini. Kami saja yang tidak terlalu sering jalan-jalan, meteran pengukur jarak di mobil (Jeddah) menunjukkan angka 35 ribu km untuk masa pakai 2 tahun. Ke warung jarak 100 m saja naik mobil kitaaaa ahahahaha. Hm, pantas saja susah sekali berbadan langsing di Saudi. Manalagi mendapat ‘perlindungan penuh’ dari abaya hitam yang wajib dikenakan kemana-mana :P.

***

Mana ada tempat yang isinya senang-senang semua? :).

Pasti ada masa-masa matahari bersinar dengan sangat teriknya. Sampai-sampai kita mesti memicingkan mata dan tak sadar mengutuk, “Gile, panas amat, sih. Bisa gosong nih gue.” Tapi kalau sinarnya menghilang, bete deh cucian enggak kering-kering.

Selalu ada saat-saat hujan menguasai masa. Susahnya mau kemana-mana. But wise man said, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.”

Seperti pula di musim dingin berkepanjangan yang kadang membuat orang terlihat sedikit lebay (me, me, me! :P). Nyaris tak ada salju di Irlandia. Nyaris. Sudah beberapa kali pemandangan dari jendela memperlihatkan sekumpulan kapas kecil-kecil beterbangan di udara. Finally, I see snow. Thank God, just a little ones :). Dan saya setuju dengan suami yang pernah berkata, “Perhatiin gak, kalau habis salju kecil biasanya langit bakal terang.”

Indeed. And if we can make a little change …”You can’t have a sunshine without a little snow.” There it goes our motivational quote ^_^.

Can’t wait to see spring and summer. Satu-satunya hal paling tepat yang bisa dilakukan, seperti yang tertera di bak-bak belakang truk yang biasanya melintasi jalanan antar kota, “SABAR MENANTI.” 🙂

Gambar : weheartit.com
Gambar : weheartit.com

 

Selamat Datang di Negeri Leprechaun! :)

It’s been a week!

Sabtu lalu, jam 7 pagi, kami berempat mendarat di Dublin International Airport. Keluar dari pesawat sih masih pecicilan. Kostum masih ala-ala orang tropis. Setelah berganti kostum di ruang tunggu, baru deh menuju halte. Menunggu bis menuju Athlone.

Si duo N masih segar bugar. Sibuk mengunyah. They’re extremely great during the trip. Terbang 9 jam dari Jakarta ke Abu Dhabi, Boy2 tidur terusssss :D. Boy1 sibuk sendiri dengan tontonan dan gamesnya, makannya juga lancar dan banyak. Trio Emirates-Etihad-Saudi Airlines memang makin top ^_^. Viva Middle East :D.

Transit di Abu Dhabi, bocah-bocah ribut minta makan lagi. Penerbangan ke-2 selama 7-8 jam menuju Dublin, dua-duanya juga kompak tidur setelah sebelumnya ikut makan dengan lahap ;).

What a super-duper-pleasant trip :).

***

Begitu keluar dari gedung bandara, langsung keder. Di pesawat sebelum landing sudah diberi tahu suhu di luar sekitar 0-1 derajat. Pede amat hanya memakai mantel yang agak tipis. Peristiwa saltum yang harus dibayar dengan bibir-lutut-tangan gemetaran setiap berada di luar ruangan.

Saya dan suami sama-sama mendorong troli yang sesak dengan barang plus 2 bocah laki-laki yang cuma bisa mingkem kalau lagi tidur :P. Sedapnya, dorong-dorong troli menembus suhu super dingin.

Butuh 2 jam perjalanan dengan bis untuk mencapai kota tujuan, Athlone. Dalam bis lumayan hangat. Si duet maut duduknya dipisah. Yang kecil dengan saya. Tidur pulas sepanjang perjalanan. Sementara mamanya menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan noraknya. Ahahahahaha. We’re in Europe, Maaannnn! :P.

***

Menurut suami saya sih, Irlandia termasuk negara Eropa yang biasa-biasa saja. Jerman-Swiss-Perancis masih jauh lebih bagus. Iya deeeeehhh, yang sudah sering keluyuran kemana-mana :P.

“Ireland is just a beginning. You can take me to the mainland later. Bring me to anywhere I want.” Suami langsung stres. Ahahahahaha.

Irlandia juga tidak terlalu populer di tanah air. Buktinya banyak teman-teman saya sibuk bertanya “Irlandia itu dimana, sih?” Kalau pun ada yang familiar, pastilah karena Boyzone :P.

Irlandia, terletak di salah satu wilayah paling barat di Eropa. Tetangganya Inggris. Nanti kalau sepupu saya (si Kate) lahiran, insha Allah mau nengokin. Ahahahahahaha.

Irlandia terletak di pulau terpisah. Ibukotanya Dublin. Athlone hanya sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 124 km dari ibukota. Penduduknya cuma sekitar 20 ribu orang. This city is always sleeping :D.

Kontras sekali dengan kota metropolitan seperti Jakarta dan Jeddah. It’s definitely a brand new life :).

***

Saya suka Eropa terutama karena ‘sosialis’nya :). I love Jakarta and Jeddah for sure. Tapi tidak terlalu nyaman dengan kelas-kelas dalam masyarakat yang terbentuk dengan sendirinya. Apa serunya naik mobil kemana-mana kalau kita bisa melihat pengemis ada dimana-mana? :(.

Di Athlone, gap-gap seperti ini nyaris tak terlihat. Seperti pada umumnya di berbagai kota di negara-negara maju lainnya. Kalangan menengah mendominasi.

Tentu ada harga yang harus dibayar. Selamat tinggal kehidupan ala Madam di Saudi :P.

Di Jeddah, kemana-mana naik mobil. Mau ke warung dekat rumah saja, kalau suami di rumah, pasti dia memilih mengantar naik mobil. Di Athlone, kemana-mana enak juga berjalan kaki. Kotanya kecil, kok ;). Kami belum memutuskan untuk segera membeli mobil.

Di Jeddah mau keluar tinggal menyambar abaya. Kalau buru-buru, anak-anak bisa ganti baju di mobil. Kemana-mana pakai sandal saja. Di Athlone, sebelum keluar rumah, ritualnya cukup banyak. Memakaikan baju berlapis plus jaket tebal plus kaos kaki plus sepatu pada para bocah. Untuk mamanya juga begitu. Maklum ya, masih penyesuaian. Bodi masih suasana gurun mendadak pindah ke ‘kulkas’ hihihihihi :P.

Apartemen sementara kami di lantai 3. Catat ya, ternyata tidak banyak apartemen di sini yang memiliki fasilitas lift. Kalau suami di kantor, saya harus menenteng stroller naik turun tangga sambil menggendong si kecil dan mengawasi penuh kakaknya yang pecicilannya minta ampun. Kalau plus barang-barang belanjaan lebih maknyus lagi.

Kalau dulu membayangkan akan menyusuri jalanan dengan santai sambil menenteng kamera, memakai sepatu boot + mantel yang keren, tas nya juga mesti yang dandy punya. Keep it in your dream, Mommie! Hehehehe.

Kemana-mana mendorong stroller, sepatu keds ternyata pilihan yang lebih nyaman. Kamera? mau ditaruh di mana? Ransel (model tas yang sudah lama tak pernah dilirik) pun ditenteng kemana-mana. Sembari nyinyir di sepanjang jalan, “Abiiiiil, jangan lari. Abiiil, jangan loncat-loncat, jalan biasa aja. Abiiiilll, tungguin mama, dong.” Ahahahahahaha. Welcome in Europe, Mama Jihan ^_*.

Berbelanja di supermarket pun tantangan tersendiri. Lupakan troli. Mana sanggup mendorong troli dan stroller sekaligus? Lagian untuk menggunakan troli mesti pakai koin. Entah nanti koinnya dibalikin apa gimana. Dan tentu saja…no plastic bags available for free! Memangnya di Saudi. Belanja beberapa item saja, plastiknya bisa segambreng.

Tujuannya bagus :). Ramah lingkungan. Itu pula gunanya membawa ransel. Sebagian belanjaan bisa disisipkan di punggung, sisanya taruh di stroller. Belum memungkinkan membeli tas belanja khusus. Soalnya kemana-mana saya bawa buntut sambil berjalan kaki.

Uniknya adalah masalah berhemat. Semua orang pasti akan berusaha hidup hemat lah di negara-negara Eropa. Penghasilan dihantam dengan pajak yang tidak sedikit dan biaya hidup yang tidak murah. Masih ingat kan, di Saudi pajaknya 0 rupiah :D. Kami seharusnya tidak masalah, dong, ya. Semasa tinggal di Saudi sudah terkenal sebagai “keluarga Gober” hehehehe. Tapi suami saya sempat berujar, “Beda ya rasanya, berhemat karena pengin sama berhemat karena terpaksa.” Ahahahahahaha.

***

Other than that, I love Athlone. Dari kecil saya sudah jatuh cinta pada Eropa. Terima kasih tak terhingga buat Clara dan keluarga yang sangat helpful pada kami. Juga untuk sahabat jiran baru kami, Kak Lina dan keluarga :).

Mungkin memang saya termasuk orang yang gampangan. Gampang senang :P. Karena saya juga menikmati masa-masa tinggal di Jeddah. Teman-teman saya kadang mengeluh betapa panasnya cuaca di Jeddah. Menurut saya, limpahan matahari itu berkah tersendiri. Maklum, menghabiskan 18 tahun kehidupan di kota pantai. Asli Makassar, nih ;).

Udara dingin kadang bikin keki. Tapi senang karena kemana-mana berjalan kaki tidak cepat terasa lelah.

Ah, ini kan baru seminggu. Jangan sombong dulu kauuuuu :D. Well, as long as we believe that “happiness is not given but it is made,” mari kita selalu bergembira, “Disini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang.”

Wish us nothing but the best. Selamat datang di Negeri Leprechaun! :).

athlone, ireland
Athlone-Irlandia