Wonders are (Still) Waiting to Start

Gambar : kickofjoy.com
Gambar : kickofjoy.com

Pansel KPK versi terbaru baru saja terpilih. 9 orang. Perempuan semua. Kurang kontroversi apa, sih, Pakde-ku yang satu ini? Hahahaha.

Yang menarik sebuah komentar iseng-iseng, “Wah, perempuan kan makhluk yang lemah katanya. Berarti benar, KPK sedang dilemahkan.” Hahaha. Ngakak kuadrat :p.

Tapi memang benar, kontroversi sudah ada namun sayup-sayup. Semacam komentar, “Mau jadi apa negeri ini? Menyalahi aturan Tuhan. Benar-benar sudah mau kiamat.” Hanya karena pansel KPK 9 orang cewek semua, dunia sudah mau kiamat? –> *sodorinKarpetBuatPiknik* :p.

Kalau tebakan iseng saya mengapa beberapa pihak yang biasanya panas dingin kalau urusan beginian tapi soal teranyar ini urung bersuara itu karena…sosok Ibu Risma hehehe :p.

Tempo hari ramai mempertentangkan kepemimpinan beliau hanya untuk melemahkan sosok Ahok misalnya :p. Kan ribet ya, Cyin, kemarin-kemarin memuja Ibu Risma bak Dewi Kuan Im, sekarang kalau protes soal Pansel nanti bisa jadi senjata makan tuan, deh. Hihihihi :p.

Ngomongin perempuan, beuh, bisa panjang urusannya.

Konon ada juga yang menuduh, “Itulah kelemahan perempuan. Terlalu main perasaan!” Wah, wah, wah, mentang-mentang sebuah jargon lama, “9 perasaan dan 1 pikiran pada perempuan” kok tahu-tahu bisa dianggap lemah?

Sudahlah ini sudah dibahas panjang lebar di sini, baca lagi, dong-dong-dong #eaaaaa –> “In Her Shoes” 

Nanti kalian baca di situ justru ‘dominasi perasaan’ itulah yang menjadi kekuatan utama perempuan yang jungkir balik sekali pun tidak akan mungkin bisa dikuasai para laki-laki. Maksudnya? Ya klik dong linknya :p.

Salah satu pencapaian penting sebagai perempuan itu adalah Gelar “Ibu”. Salah satu lho, yaaaaa :D. Tidak berarti kalau belum jadi Ibu berarti anda perempuan yang tidak penting. Bukan itu maksudnya ;). Percaya deh, motherhood itu sudah satu paket sama keperempuanan kita, whether you’re a Mom or not ;).

Motherhood. Such a long way to go :). Di setiap prosesnya, seolah perasaan kita ikut terbanting-banting kiri kanan atas bawah serong sana serong sini hihihihi :p.

Mungkin waktu baru hamil, apalagi hamil pertama, bisa melewati masa hamil muda saja sudah kayak menang perang gitu ya, Booooo, hahaha.

Padahal masih ada fase melahirkan. Habis melahirkan, apalagi kalau prosesnya ribet dan normal pula, beuh, sudah merasa juara lah pokoknya :p. Tambah lagi ngasih ASI sampai segala puting berdarah dan bernanah tapi pantang menyerah hingga akhirnya bisa pamer foto “Anakku sarjana ASI” makin-makin deh … I’m the best mom ever! :p.

Sudahlah. Banyak dari kita memang HARUS melalui fase-fase narsis seperti itu. Ada yang setelah anak ke-2 dan seterusnya langsung tersadar dan menertawakan diri sendiri. Ada yang enggak move on, sampai anak ke-berapa juga, terus aja berkompetisi tanpa kenal lelah hahahaha. Judge sana sini, merepet sana sini dan sebagainya.

Tapi, jangan lantas kita sesama ibu-ibu ikut-ikutan merendahkan fakta bahwa peer pressure itu benar adanya. Merasa paling keren karena katanya tidak suka ikut-ikutan gini-ginian, sudah merasa ini basi, tapi komen juga paling kenceng ya, Ceu! Hahaha.

Gambar : ctworkingmoms.com
Gambar : ctworkingmoms.com

Santai sajaaaaaa ^_^. Faktanya memang begitu. Dunia ibu-ibu gitu, lho. Mari merayakan perbedaan dengan cara apa pun. Lagian perang-perang dunia maya mah, nanti kalau ada lomba blog paling temenan lagi dan tuker-tukeran info lagi. Ya gak, ya gak, ya gak? Kedipin dulu satu-satu ;).

Tapi yah akhir-akhir ini saya sendiri kembali digalaukan dengan motherhood-adventure ini.

Anak pertama saya tahu-tahu sudah besar.

Sekarang bapaknya lagi assignment ke luar pun, dia sudah tidak ‘sudi’ lagi tidur bareng saya :(. Padahal anaknya agak penakut lho hihihi –> like mother like son hahahaha. Dia maunya tidur berdua adiknya saja. Adiknya mah dari dulu tidur sendiri juga enggak pernah takut. Anak bugisku ini memang cetarrrrrrr <3 :p.

Karena bapaknya tidak ada, saya yang antar tiap pagi ke sekolah. Tidak mau lagi tangannya digandeng, “I’m a big boy.”

Apalagi dicium hahahahaha. Pokoknya kalau sudah dekat-dekat sekolahan, dia benar-benar menjaga supaya dia terlihat “mandiri”. Pagi-pagi kan waktunya memang mepet.

Di lampu merah terakhir, kalau lampu menyeberang jalan sudah hijau, saya biarkan dia lari menerobos jalan sendiri dan menghilang di balik gerbang sekolah. Biar hemat waktu juga buat saya. Dan dia senang banget dengan ide ini. Mungkin kesannya kayak anak gede gitu, ya. Sudah boleh menyeberang jalan sendiri.

Saya panggil-panggil juga biar dia nengok gitu, dadah-dadah basa basi gitu. Dia enggak nengok dan cuma mengibaskan tangan seolah pengin bilang, “It’s ok, I’m fine. Just go.”

Huhuhuhu. He’s getting bigger and I’m not ready. Not yet! Secepat itu, ya, ternyata.

Drama hamil-menyusui-melahirkan-nyuapin dia yang susah bener makannya dan badannya mungil pula yang bikin saya harus bolak balik ngelus dada menerima judgement macam-macam dari orang-orang… seolah tak ada artinya lagi dibanding mendapati kenyataan di depan mata bahwa tidak selamanya saya bisa menimang dia di samping saya.

Itu juga belum kejadian. Baru kelas 1 SD pun! Hahahahahha. Masih panjang perjalanan yang harus dilewati sebelum dia benar-benar melambaikan tangan untuk bilang, “Okey Mom, I need to catch my flight. See you next year!”

Oh, no. Tentu pengin ya anak-anak terbang sejauh yang mereka bisa tapi ya, faktanya pedih juga, Euy. Ini baru menepis tangannya tak hendak digandeng saya sudah terpukul begini hahahaha. Gimana kalau nanti dia udah ke rumah bawa-bawa bini dan cucu-cucu. Belum lagi kalau-kalau-kalau… like I’ve said, masih panjang betul perjalanan yang harus dilewati.

Itu baru anak pertama. Lanjut terus sampai ke adik-adiknya.

Tapi, anak pertama memang spesial. Saya ingat waktu kakak pertama saya meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain. Keterima Sipenmaru di PTN Surabaya. Bertepatan perginya dengan Ibu saya berangkat haji. Pulang-pulang naik haji, kakak sudah berangkat ke Surabaya.

Ibu saya terisak-isak melihat sepasang sepatu si Kakak yang mungkin sengaja memang tidak terbawa. Masih nangkring di kotak sepatu. Padahal adik-adiknya masih ada 5 biji (yang bungsu belum lahir waktu itu), tetap saja, pengalaman pertama ditinggal satu anak tuh, rasanya drama banget kali, ya, huhuhu.

Jadi intinya, yang sekarang-sekarang ini kita alami saat mereka masih dalam kandungan misalnya atau masih balita, aduh…masih ecek-ecek lah hihihihi. Ecek-ecek tapi lumayan menguras emosi kan, kan, kan? Hahaha *jabatTangan*.

Still, long way to go ini mah yaaa … rangkul satu-satu dari jauh <3.

Don’t lose your way with each passing day
You’ve come so far don’t throw it away
Live believing dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story Faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart
-Diana Ross, “If We Hold On Together”-

Jalan masih panjang begini, save our energy. Wonders are still waiting to start, aren’t they? ;).

Let’s hang on … <3.

Gambar : ctworkingmoms.com
Gambar : ctworkingmoms.com

Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati

Ini salah satu tulisan di Buku “Memoar of Jeddah” :D. Ini versi aslinya yang banyak haha-hihinya :p. Versi teks buku tentu tanpa emoticon dan “hahahahaha” :D.

cover-final-memoar-of-jeddah.jpg

***

Suatu hari saya ke UGD salah satu rumah sakit swasta di Jeddah dan harus dilakukan tindakan operasi kecil. Hanya bius lokal. Dokter laki-laki asal Mesir yang menangani saya.

Saya gemetaran karena takut setengah mati. Hahaha. Pak Dokter nampaknya tahu. Dia menenangkan dengan mengajak ngobrol.

Bahasa Arab saya nol besar dan saya pastikan Pak Dokter tak bisa berbahasa Indonesia, jadi kami asyik mengobrol dengan bahasa Inggris.

“Wah, saya kira kamu tadi orang Indonesia, lho,” ujar Pak Dokter setelah ngobrol agak panjang.

Lah, piye? “Saya memang asli Indonesia.”

Matanya terbelalak. “Indonezi? You can speak English? Masya Allah!”

“Sure, why not?”

“Kalau bisa bahasa inggris seperti ini, cari saja pekerjaan lain. Kenapa memilih jadi pembantu?”

Saya merespons dengan terbahak. Ya ampyuuunn, kece-kece begini disangka gitu. Oh tidaaaaaakkkk *tutupMukaSelebayLebaynya* hahaha.

Gambar : weheartit.com
Gambar : weheartit.com

Jangan kaget. Begitulah pada umumnya tanggapan orang-orang jika bertemu dengan perempuan asal Indonesia di Saudi.

Setelah itu dia sibuk bertanya mengapa saya tinggal di Saudi. Dengan siapa. Apa iya di Indonesia banyak perempuan mendapat kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi? Kok bisa orang Indonesia bahasa Inggris?

Antusias benerlah pokoknya si Pak Dokter.  Mungkin juga karena orang Arab kan memang dikenal berapi-api kalau diajak berbincang :D. Ingat ya, kalau ngomongin Arab itu artinya ngomongin ras/suku bangsa. Mereka ada di Saudi, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, Yaman, Sudan, dll. Kalau di Indonesia sebut “Arab” umumnya langsung mengacu ke Arab Saudi saja :D.

Dengan waktu yang tersisa, ya gak mungkin mau lama-lama juga kan dia punya pasien lain, saya coba meluruskan persepsi dia tentang Indonesia. Dokter itu cukup puas dengan penjelasan singkat saya dan memberikan sedikit pembelaan atas komentarnya di awal tadi.

“Kamu jangan salahkan saya kalau saya tidak paham banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Bahwa kota Jakarta sama kerennya dengan Jeddah. Pendidikan bukan hal yang tabu buat perempuan Indonesia. Masalahnya, hampir semua perempuan Indonesia yang saya temui di Saudi ini rata-rata berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.”

Lalu, saya jadi berpikir. Sebenarnya TIDAK 100% orang-orang non Indonesia yang ada disini berpikiran sempit. Mereka berpendapat menurut apa yang mereka temui sehari-hari. Di situ kan umumnya muncul skema stereotip. Generalisasi. Apalagi kalau contoh mayoritasnya memang menunjukkan begitu. Apa hendak dikata hehehe.

***

Orang Filipina juga banyak TKWnya. Tapi mereka juga banyak yang berprofesi sebagai perawat, sales, penjaga toko, manajer bank, engineer, konsultan IT/SAP, dsb. Profesi mereka variatif. Demikian pula dengan pendatang lain dari negara-negara seperti : Pakistan, India, dll.

Orang Indonesia? Kalau Anda laki-laki, biasanya akan disangka supir. Kalau perempuan, otomatis dianggap pekerja rumah tangga. Saking banyaknya TKI informal asal negara kita di negara ini. Begitulah kenyataannya. Jadi, tidak perlu sensi, ya 😉

Kalau menyusuri pelataran parkir di mal-mal besar di kota Jeddah ini, akan terlihat kerumunan lelaki yang sedang duduk-duduk mengobrol dekat pintu masuk. Sebagian besar berasal dari Indonesia. Kelihatan dari suara mereka yang berbincang dengan bahasa Indonesia. Mereka adalah para supir pribadi yang sedang menunggu majikan yang berbelanja dalam mal.

Kemana perginya para pekerja profesional kita? Mungkin salah satu alasan utama keengganan TKI formal asal negeri kita untuk mengadu nasib ke Saudi adalah ‘keamanan keluarga’. Terutama untuk para perempuan. Bukan rahasia umum, banyak ‘dinding pembatas’ untuk para wanita yang hidup di Saudi ini. Belum lagi sering di’remeh’kan karena kerap disangka TKW.

Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)
Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)

Perempuan tidak boleh menyetir di Saudi. Tapi aman, kok, naik taksi sendiri di sini. Belum lagi kemudahan untuk melakukan ibadah umrah. Tak perlu antri dan mengeluarkan biaya besar untuk naik haji.

Kalau mau ke mal, tidak mesti menunggu suami senggang. Ajak saja beberapa teman atau saling menjemput dan beramai-ramai menjajal mal di siang hari.

Belum lagi ada banyak rumah makan Indonesia. Mulai dari level kaki lima hingga bintang lima. Tinggal pilih. Sate Madura, pempek, bakso, tahu, tempe, tidak ada istilah ‘langka’. Semua bumbu khas Indonesia pun tak sulit ditemukan.

Perempuan wajib berabaya hitam kemana-mana. Tapi abaya hitam itu banyak yang modis. Pokoknya tidak ada kata mati gaya. Bahannya ternyata nyaman dan tidak panas.

Ternyata tiap tempat menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila ditanya, “Gimana sih hidup di Jeddah itu?” Mungkin jawaban yang cukup tepat saya ambil dari lirik salah satu lagu di tanah air, “Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati.”

“Bahagia, meski  mungkin tak sebebas merpati” juga sub judul dari buku saya yang pertama, “Bunda of Arabia” :D. Bunda of Arabia ini terbitnya secara indie. Covernya agak-agak keramean gitu. Desain covernya kami rancang sendiri soalnya ^_^. Biar hemat hahaha. Maklum kalau indie modalnya ya kocek kantong dewe :p.

buku-boa.jpg

To Read More Pages

 

Abege 90 an biasanya familiar dengan acara Asia Bagus :D. Paling memorable kalau mendengar kontestan dari Jepang menyanyi. Kalau lirik dari bahasa lokal mereka ya tidak istimewa.

Tapi kalau menyanyikan lirik lagu bahasa Inggris? Saya sampai bengong. Itu beneran bahasa Inggris atau diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang sih? Hihhi.

Mereka punya aksen dengan logat patah-patah. Kalau berbicara mereka punya napas yang pendek. Saat berbahasa Inggris, apalagi kalau menyanyi, ngomong patah-patah tadi terus terbawa.

Gambar : youtube.com

Gedean dikit, masuk dunia kerja, harus banyak berurusan dengan regional support dari India. Waktu masih di Bern tempo hari, saya ngobrol panjang lebar dengan suami soal aksen Inggris orang India. Suami saya, sekarang juga di development center, harus banyak berurusan dengan developer yang regional supportnya lagi-lagi pakai IT-India :D.

Kita ngakak bareng-bareng berbagi kisah-kisah unik saat berkomunikasi dengan mereka.

Singapura dengan Sing-lish nya lebih cetar lagi bukan? Hahahhahahha.

Satu hal dari developer India ini. Segitu “gengges”nya bahasa internasional ala mereka, kemampuan mereka mendunia sungguh luar biasa! :).

IT Park, Bangalore-India (gambar : indiacatalog.com)
IT Park, Bangalore-India (gambar : indiacatalog.com)

 

Berapa banyak perusahaan besar di dunia selevel Unilever misalnya (consumer goods yang cukup popular di Asia), atau Ericsson (vendor telekomunikasi yang juga cukup oke), menggunakan IT-support asal India. Sebuah kota khusus di sana, Bangalore, sudah dikenal sebagai kota IT internasional :D.

Gin-gini mamak-mamak dasteran pernah juga lah mencicipi kehidupan kantoran yang rasanya keren aja gitu :p.

Tapi uniknya, pasca berhenti bekerja, “pergaulan internasional” justru baru saja dimulai. Ikut merantau ngintilin suami :D. Waktu masih di Jeddah, secara bahasa, tak ada tantangan lah. Wong mainnya sama sesama orang Indonesia terus :p.

kisah inspiratif islam

Nah, waktu di Irlandia jadi super minoritas di kota ini, mau enggak mau harus bergaul dengan bangsa lain. Dengan penduduk lokal Irlandia sendiri yang nyata-nyata berbahasa Inggris, saya dibuat pening dengan aksennya yang luar biasa.

Tapi dua tahun berlalu, lama-lama terbiasa. Nonton komentator Irlandia bahas bola saja rasanya sudah kayak makan kacang aja. Sombong kauuuuu hahahaha.

Bergaul dengan mamak-mamak India pun menjadi tak terhindarkan. Justru pendatang Polandia yang juga menjamur di sini banyak yang bahasa Inggrisnya memprihatinkan :D. So that you know, di seantero Eropa mungkin hanya 2 negara yang berbahasa Inggris secara nasional, UK dan Irlandia.

Baik UK dan Irlandia aksennya juga kurang familiar untuk umumnya orang Indonesia yang lebih terbiasa dengan aksen Inggris ala orang US :D. Waktu ke London tahun lalu, dengar mereka ngomong cepat-cepat saya sampai putus asa mau kepoin orang ngobrol di kereta.

Tiap hari di sekolah kalau nungguin anak juga ngobrol ngalor ngidur dengan mamah-mamah India/Pakistan. Lama-lama jadi terbiasa dengan logat mereka. Betapa dunia menjadi lebih berwarna, ya ^_^.

Pernah ramai membahas langgam mengaji :D.

Urusan mengaji, sebagai orang Bugis, dari kecil sudah biasa dengan langgam Arab yang pakem itu :D. Kalau melihat sejarahnya (sumber : buku Ulama dan Kekuasaan di Nusantara), penyebaran Islam di Sumatera dan Sulawesi memang didominasi oleh ulama-ulama yang langsung belajar di Mekkah :D.

Kain Sutra Bugis, gak nyambung banget gambar sama artikel hahahahha (gambar : klikhotel.com)
Kain Sutra Bugis, gak nyambung banget gambar sama artikel hahahahha (gambar : klikhotel.com)

 

Agak beda dengan Pulau Jawa yang pergaulannya lebih kompleks dengan pengaruh pedagang-pedagang India di sana yang juga membawa pengaruh Hindu yang besar.

Itulah mengapa banyak adat Bugis yang kebawa juga pengaruh Islam. Misalnya dalam tata cara akad nikah, sementara mempelai suami bertegang-tegang ria menjelang ijab kabul, mempelai perempuan diumpetin dulu di kamar. Keluarnya nanti setelah para saksi menjawab tegas, “SAH!”

Sementara suami dan salah satu kakak saya selaku wali nikah sibuk ngapalin ijab kabul, saya mah cekikikan sambil “selfie-selfie” sama kakak saya yang lain dalam kamar hahahahaha.

Pertama merantau pun lama tinggal di Jeddah. Mengajinya juga sama sesama ibu-ibu Indonesia. Guru dari Indonesia. Nyaris tidak ada “konflik”.

Di Irlandia sempat ikut pengajian antar bangsa. Mayoritas sih dari India-Pakistan. Sempat bengong mendengar ibu-ibu India/Pakistan ini kalau mengaji. Model alqurannya sendiri agak bingung lihatnya. Terjemahannya dalam bahasa Urdu. Hurufnya bukan Latin. Alquran mereka juga tidak disekat per juz seperti lazimnya di kita. Jika mengaji misalnya sudah sepakat per lembar atau per halaman, mereka kurang bisa ngikutin.

Jangankan tajwid, soal pengucapan huruf juga agak sulit di lidah mereka (India-Pakistan tadi). Padahal kalau mengaji di Jeddah, rasanya jarang ketemu ibu-ibu yang enggak lancar mengajinya. Ada juga mayoritas teman-teman pengajian Indonesia di Saudi sudah pandai melagu yang indah-indah, ala telinga Indonesia kita yaaaa :). Tapi guru mengaji kami yang asal Mesir santai saja.

Orang India-Pakistan kalau mengaji cepat sesuai cara bicara mereka tapi panjang pendeknya jadi enggak keruan. Sekilas kalau bukan di pengajian mungkin saya enggak nyadar kalau mereka lagi mengaji hehehehe.

Don’t worry, cara mengaji orang Indonesia-Malaysia selalu disambut dengan ucapan “Mumtaaz” dari ibu guru hehehehe *benerinKerudung*.

Urdu vs arabic , sekilas agak nyaru kan? :D (gambar : urduplanet.com)
Urdu vs arabic , sekilas agak nyaru kan? 😀 (gambar : urduplanet.com)

 

Ada satu yang berasal dari Afrika. Wah, yang ini benar-benar belum bisa  mengaji. Sementara emak-emak dari Sudan yang memang sehari-harinya berbahasa Arab juga suka ngikutin ngajarin. Problem is, sering saya menangkap ada perbedaan aksen antara si ibu guru Mesir dengan emak-emak Sudan tadi. Jadilah yang dari Sudan suka bisik-bisik nyinyirin “Ih, dasar orang Mesir. Padahal kan tuh bacanya harusnya gini, gini, gini.”

Tak paham sih saya logat-logat Arab. Yang jelas, antara Mesir dan Saudi memang beda :D. Apalagi di Saudi dulu dikenal “bahasa Arab ngasal” alias Arab abal-abal yang dipopulerkan oleh para pendatang :p.

Macam swayya-swayya dan mafi mushkilah secara grammar itu kan parah total hahahahaha.

Terus terang, ada rasa jumawa menyelinap dalam hati mendengar cara mengaji umumnya emak-emak non Arab (selain Indonesia Malaysia). Semacam ada kesombongan dalam hati, “Ih, ancur banget deh ngajinya. Mendingan gue deh ke mana-mana!”

Soalnya ya, dalam lingkungan mereka, hal itu tidak dianggap sebuah ketidaklancaran membaca alquran. Ya memang bacanya begitu untuk keseharian mereka.

Di Indonesia umumnya, tak perlu jadi ustaz besar kalau hanya untuk menguasai cara baca alquran. Apalagi dari kecil pakai pakem Arab yang standar itu.

kisah inspiratif islam
Anak-anak belajar mengaji (gambar : joss.today)

 

Makanya orang Arab itu suka terpesona dengan orang-orang Indonesia-Malaysia yang jagoan baca alquran tapi sama sekali tidak mengerti bahasa Arab! Buat mereka itu sesuatu hal yang luar biasa.

Ini terbukti waktu naik haji dimana satu tenda orang Mesir semua. Mereka takjub saya bisa baca alquran tapi gak bisa bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Biasa kaleeeeee di Indonesia mah hahahaha.

Dari ilmu kognitif sendiri, mencoba ingat-ingat mata kuliah Psikologi zaman kuliah dulu, menghafal lebih mudah jika kita aktif menggunakan otak untuk menyimpan data dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah-sudah. Termasuk mencocokkan makna dan pemahaman arti.

Pasti lebih mudah menghafalkan teks dalam bahasa Inggris ketimbang teks bahasa Perancis. Jangan ngotot kalau bahasa Perancis itu lebih susah. Lebih susah untuk kita. Buat orang Perancis jelas lebih gampang bahasa Perancis daripada bahasa Inggris sekali pun hehehehe.

The thing is, perbedaan itu mendewasakan :).

Waktu kecil nonton Asia Bagus mana paham saya walau logatnya amburadul, Jepang adalah salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Sebelum benar-benar merantau ke mana-mana dan bertemu mereka di mana-mana, mana mengerti saya walau aksennya gengges, pamor India di mata internasional jauuuhhh lebih tokcer daripada Indonesia. Jangan sakit hati kalau dunia internasional masih mengernyitkan kening mendengar kata Indonesia tapi ngangguk-ngangguk cepat kalau ditanyakan soal India ;).

Bahkan yang kayak Filipina pun yang sering kita pandang sebelah mata, tenaga medisnya menjamur ke seluruh pelosok dunia. Bangsa Tiongkok apalagi. Sudahlah jangan ditanya hehehe. Etos kerja, kedisiplinan, dan kecerdasan mereka sudah jadi buah bibir di hampir semua benua.

Singlish ala SIngapura boleh membuat kita terpingkal-pingkal. Tapi ingat, negara mini ini sangat superior di level internasonal sekali pun ;).

Traveling itu tidak hanya hanya tentang tempat-tempat wisata dan selfie-selfie depan landmark kota dong, ya ;).

It’s about knowing each other. Memperluas cakrawala berpikir, melonggarkan hati bukan malah memperkecil wawasan, mempersempit perasaan.

Bergaul dengan rupa-rupa manusia mungkin seperti mengajarkan kita jika selama ini kita yakinnya, “Bangunan datar sisi empat itu kalau enggak persegi panjang ya bujur sangkar.”

Tapi seiring dengan wawasan yang bertambah kita jadi tahu, “Oooohhh, jajaran genjang itu juga punya 4 sisi. Trapesium juga. Diamond juga segi empat. Ada lagi model layang-layang.”

Semuanya punya 4 sisi. Tapi kita enggak familiar dengan modelnya. Secara simbol beda tapi makna kan sama-sama 4 sisi ^_^.

Terjemahan Al Hujurat ayat 11 hingga 13 menerangkan hal ini dengan sangat indah :).

49:11. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) …

49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain …

49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Gambar : pixabay.com

 

Seindah itu lho alquran meminta kita untuk tidak mengolok, menjauhi prasangka, instead … menyarankan kita untuk “bergaul” biar saling mengenal.

The world is a book, and those who do not travel read only a page.
– Saint Augustine

Let’s read more pages, shall we? 🙂

***

Courage Doesn’t Always Roar

Dulu bingung kalau menonton video klip lagu “Anything” dari 3T. Yuhuuu, abege 90an masa iya enggak tahu 3T? 3T itu lhooooo, ponakan-ponakannya Om Jacko yang kece-kece itu. Kece di masanya tentu saja :D.

Saya pikir mungkin mereka berhemat jadinya hanya menggunakan satu model perempuan. 

Di video klipnya, model ceweknya hanya satu. Sementara kan lagunya macam lagu cowo-cowo patah hati gitu. Tapi tiga-tiganya patah hatinya sama SATU perempuan gitu? Sudah semacam curiga ini simbol apa kali ya hanya make satu model doang? 

Kalau dulu susah kepo karena internet belum hits, sekaranglah baru segala misteri itu terjawab sudah! 😀

Saat lagi rekaman album itu, di tahun 1994, ternyata ibunda mereka tercinta, Delores “Dee Dee’, meninggal karena kecelakaan di kolam renang.

Personel 3T sangat terpukul. Konon mereka memaksa ayah mereka, Tito Jackson, untuk habis-habisan menuntut si tersangka yang merupakan pasangan baru dari Delores tadi, “Don’t let him get away, Dad!”

Jadilah katanya lagu “Anything” ini dipersembahkan untuk mengenang ibunda Delores tercinta :’). Bertahun-tahun menyimpan kecurigaan nan berburuk sangka sekarang nangis deh pas tahu backgroundnya huhuhuhu.

That girl in that video, yang mereka “ratap-ratapin” itu, adalah personifikasi dari almarhumah ibunda Delores “Dee Dee” yang keburu meninggal sekitar setahun sebelum album mereka rilis secara resmi.

Yang menarik juga adalah fakta bahwa Delores dan Tito Jackson sebenarnya sudah cerai sejak tahun 1990. Delores malah sudah punya cem-ceman baru lagi. But the boys still love her as much as before :’).

Kurang tahu cerainya karena apa, yang jelas 3T tetap sayang banget sama si Papa dan Mama. Apa karena udah pada gede-gede ya? :). They seemed completely understand about their parent’s situation.

Kalau menurut saya pribadi, dalam kehidupan pernikahan apalagi dalam urusan anak, beban terbesar terlalu sering diletakkan kepada sang Ibu :(. Sebenarnya senang juga mendengar istilah, “Ibu adalah madrasah utama untuk anak-anaknya.” Pokoknya ibu, ibu, ibu.

Bangga gitu ya :). But, but, but … bagaimana kalau seringkali kenyataannya tidak seindah itu?

As a mother, terasa tidak sih, selain beban bahwa “Anak gagal berarti ibunya yang gak beres!”, mamah-mamah kayak kita pun sering dirundung ketakutan apakah anak-anak akan menggambarkan kita sebaik yang kita inginkan?

Misalnya saya 7 bersaudara. Gedenya ternyata beda-beda. Nah itu gimana itung-itungannya hihihi. Kami dibesarkan oleh orang tua yang sama tapi kok ya ujung-ujungnya bisa beda-beda nasib gini. Berarti faktornya kadang tidak sesederhana itu dong ya :).

Lalu, saya jadi terkenang dengan sebuah film hollywood, duh lupa judulnya. Cuma film asal lewat gitu. Diputar di TVRI. Tentang anak perempuan umur 6 tahun yang setengah mati dibujuk oleh dinas sosial agar mau meninggalkan ibunya yang janda yang kecanduan minuman keras dan jadi pelacur gara-gara dipecat dari tempat kerjanya.

Ibunya sendiri pas diwawancara oleh dinas sosial ya pasrah-pasrah saja. Umumnya, di negara-negara maju, negara bertanggung jawab pada anak-anak yang terlantar. Negara berhak mengambil alih pengasuhan anak jika orang tua dianggap tidak mampu.

Ilustrasi aja ya, gak ada hubungan ama filmnya hehe (gambar : kadinsalmevzular.com)
Ilustrasi aja ya, gak ada hubungan ama filmnya hehe (gambar : kadinsalmevzular.com)

Sang Ibu dikirim ke pusat rehabilitasi. Ibunya oke saja. Tapi anaknya yang ngamuk-ngamuk, she was screaming, “You don’t know that she’s the only person that love me that much!”

Yang ada di memori si anak wedok itu adalah ibunya menyisir rambutnya tiap hari. Memasak makanan kesukaannya tiap hari. Pernah sekali diingatnya, ibunya tidak jadi beli lipstik gara-gara dia mengamuk minta es krim dan balon-balon waktu jalan-jalan ke toko something.

Waktu dikonfrontasi oleh Pak Polisi kalau ibunya sering mukulin dia, anak kecil itu tetap bertahan, “It’s because I’m not listening when she asked me to do something. But she hugs me after that. You know nothing! You know nothing!”

Itu adegan paling nyesek. Karena ibunya ada di ruangan sebelah.

Sebelumnya si ibu sudah menyatakan penyesalan dan bersedia menjalani hukuman apa pun. Dia mengaku stres. Standarlah. Suami kabur sama perempuan lain. Dia tidak punya apa-apa. Hanya sanggup ngontrak di flat sempit. Suaminya juga membebaninya dengan banyak utang.

Dia bahkan ingin meminta maaf pada anaknya tadi. Dia bilang dia pasrah kalau anaknya sampai dewasa nanti tidak akan kembali lagi padanya, “I deserved to be abandoned.”

Mendengar anaknya malah ngomong gitu, ibunya makin mewek lah ya pastinya. Berkali-kali dia bergumam, “Oh God, after all this time, she still thought that I’m her angel.”

Si anak kecil meronta kayak banteng saat melihat ibunya dibawa oleh Pak Polisi.

Akhirnya, sang Ibu yang tadinya ogah-ogahan menerima prosedur pengobatan, pas mau disuntik apa gitu. Dia maunya langsung masuk penjara aja.

Kemaren-kemaren dia meronta-ronta, habis dengar anaknya ngomong gitu, sang Ibu malah meminta prosedur pengobatannya dipercepat dan dia bersedia kooperatif asalkan cepat sembuh. Kalau gak salah ibu itu sempat bilang, “My girl needs me.”

Memorable banget flmnya hehehehe.

Ada satu video lagi yang lebih kekinian.

https://www.youtube.com/watch?v=T3WC58czpRc

Sejumlah ibu-ibu dikumpulkan. Diminta untuk, “Describe yourself as a mother”. Keluarlah semua curcol. Emak-emak gitu lho hahahaha.

Kebanyakan grogi dan malah menyesalkan banyak hal. Berharap menjadi ibu yang lebih sabar, kepengin menjadi ibu yang lebih bisa mengendalikan diri. Intinya, rata-rata merasa mereka kurang capable dan merasa ada yang harus diubah.

But guess what, beberapa hari kemudian giliran anak-anak mereka yang dpanggil dan ditanyain tentang ibunya. Para unyu-unyu ini menjawab dengan mata bersinar-sinar, “My Mom was totally awesome” atau “She does cook a lot of food for me” atau “She’s just unique that’s why I love her so much”.

Ibu-ibunya diberi kesempatan menonton rekaman masing-masing anak mereka. Tentu saja, mewek lagi, mewek lagi lah mereka melihat ternyata beda banget persepsi anak vs semua kekhawatiran mereka :).

Ini maksudnya apa sih? Is it oke to be a monster Mom gitu? Boleh gitu jadi mamak-mamak tukang marah-marah? Sah-sah saja mamah-mamah jadi pencandu miras? Hehehehe.

Pesannya sih bukan begitu. Sepenangkapnya saya yaaaa, yang jelas-jelas bukan pemerhati anak-anak, bukan ahli parenting dalam bidang apa pun, background pendidikan juga banyaknya gaul ama mesin hhihihi ….

Bern zendermatelli 1

Menurut saya, as a mother, many times we need to stand back for a while :). Sekadar untuk mengingatkan diri sendiri untuk tidak terbebani dengan macam-macam slogan seperti yang saya sebutkan di awal tadi. Sadarilah, dengan menjadi seorang Ibu pun, kita itu TETAP MANUSIA BIASA.

Walau tentu, harapan kita pastilah ingin menjadi BIDADARI TERBAIK untuk suami dan anak-anak *benerinSayap*.

But you know… sometimes things did not go as we wanted them to be :). Sering juga lepas kendali. Kalau baca buku parenting kalau ibu harus begini, harus lembut tidak boleh marah-marah, bahkan katanya bilang jangan saja enggak boleh harus diganti dengan kata-kata lebih lunak bla bla bla.

Menghadapi sekian banyak pekerjaan tiap hari, apa mungkin tone suara kita bisa stabil sepanjang hari, sepanjang tahun gitu? :v :v :v.

Tidak nyari pembenaran apa-apa lho hehehe. Mengingat saya ini memang bukan tipe ibu bijak nan lembut penuh kasih sayang huhuhu. Enggak teriak-teriak sehari saja kayaknya sudah rekor tuh hahahahaha *tutupMuka*, minimal tiap pagi harus merepet ke sana kemari sembari nyiapin anak-anak buat sekolah 😀 *ngumpetDiBalikPanci*.

Tapi…janganlah hal ini membuat semangat ke-IBU-an kita perlahan memudar.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya. Selalu belajar memaafkan diri sendiri. Harus berani menerima kekurangan, tentunya ada usaha perbaikan diri juga hehehe. Diskusikan dengan suami, curhat di forum emak-emak, ya banyaklah caranya untuk bisa terus belajar dan mengasah diri lah ya :D.

Dan mungkin…waktu yang dibutuhkan juga beda-beda. Take your time. As long as kesadaran itu selalu ada kan ya? :).

Tidak hanya berani menghadapi macam-macam masalah tapi juga berani memasrahkan apa yang sudah terjadi. Mana sangguplah kita membeli waktu atau memintanya berputar ulang? ;).

Jangan juga kebanyakan drama mikirin apa kata pakar-pakar parenting something. Habisnya kadang kita kayak ditakut-takutin gitu gak sih. Belum lagi banyaknya label macam-macam. Baru ngeh pas dikasih tahu teman, “Ada lho sekarang label Ibu Profesional. Berarti ada Ibu Amatir gitu kali ya.” Hahahahahaha.

Bern gutern

Many times, kita terlalu dikuasai ketakutan yang tidak perlu. Tuh sudah ada buktinya. Seringkali anak-anak memandang kita jauh berbeda dengan apa yang kita galaukan :). Anak-anak lebih “murni” lho pikirannya, tidak macam orang dewasa yang sudah kena virus dan bakteri macam-macam :p.

Jadi perempuan apalagi sudah menyandang status “ibu”, pressure-nya kan memang tidak ringan. Apalagi peer pressurenya itu lho. Persaingan ketat sesama ibu-ibu hahahahaha.

Terima saja faktanya. Mari coba kita imbangi terus dengan cara … learn to love yourself. As well as learn to forgive yourself… all the time.

Jangan takut untuk memulainya dari awal lagi, berjanji kembali, dan tetap semangat menghadapi hari-hari ke depan walau dirasa kok ya kemaren-kemaren banyak errornya ini hehehehhe.

Pokoknya tiap bangun pagi kudu, “Cemungud eaaaaaa…”

“Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the little voice at the end of the day that says I’ll try again tomorrow.”
― Mary Anne Radmacher

Never lose that courage, Moms! ^_^

***

A Tribute to Our Leaders

Katanya, kita kan harus selalu belajar dari sejarah, ya.

Setiap bagian kehidupan kita yang terkini, sedikit banyak adalah kombinasi dari apa yang terjadi di masa lalu. Termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk juga kebijakan-kebijakan yang pernah diambil oleh pemimpin negeri kita.

Luar biasa kalau melihat dukungan kepada Bung Karno udah kayak apa sekarang ini. Pokoknya kayaknya kalau beliau hidup sampai sekarang, sudah jadi negara maju kali kita :p. Padahal kalau mau menengok sejarah panjang di masa lalu, beliau juga manusia biasa, kok :). Seolah beliau jatuh itu semata-mata karena konspirasi doang hehehe.

Kalau ditelisik lebih mendalam, ada juga ketidaktepatan keputusan yang pernah beliau ambil. Sebagian yang tejadi dan runtuhnya kekuasaannya juga tidak lepas dari keputusan-keputusan yang pernah beliau buat. Ya ada juga kali konspirasinya. Tapi tidak 100%.

Masa-masa kejatuhannya juga banyak dikritik tajam lho oleh banyak kalangan. Situ kira, demo mahasiswa tahun 1998 doang. Sama aja kali, Cuy. Tahun 1965 pun, mahasiswa jadi “bahan bakar” untuk menjatuhkan pemerintah. Terulang lagi di tahun 1998. Saya kasih senyum imut saja deh kalau banyak yang menganggap pemerintahan Soekarno dan Soeharto, keduanya jatuh karena demo mahasiswa. Nggg …. iya-in aja deh hahahahahaha.

Setelah era keduanya, Habibie pun mengakhiri masa kekuasaannya dengan kepahitan. Pahitnya beda. Lepasnya Timor Timur dari NKRI membuat Habibie ikut terbenam. Pidato pertanggungjawabannya “dihajar” habis-habisan.

Awal 2014, beliau muncul dalam wawancara khusus di Mata Najwa. Ealah, langsung dipuji-puji bak pahlawan. Labil kali, Kakaaaaaaa :D. Malah sekarang ada juga yang bilang Habibie itu deh yang paling cocok jadi presiden hihihi.

Almarhum Gusdur ya sami mawon nasibnya. Beliau memang salah satu presiden Indonesia yang cukup unik. Katanya keren berani melawan DPR. Ya itulah yang terjadi dengan Bung Karno. Dengan kharisma yang segitu gemilang yang dimiliki Bung Karno, tetap saja Bung Hatta memberi “peringatan keras” kepadanya terkait Dekrit Presiden 1959 waktu itu. Bung Hatta tidak setuju perubahan demokrasi parlemen ke demokrasi terpimpin.

Menilik sedikit sejarah tentang Bung Hatta yang tidak suka komunis. Salah satu ketidaksukaan Bung Hatta karena komunisme itu identik dengan diktator. Itulah juga mengapa Bung Hatta tidak pernah sreg dengan ide demokrasi terpimpin-nya Bung Karno. Beliau kurang cucok sama yang berbau-bau “diktator”. Penginnya bareng-bareng ^_^. Berpikir bersama, maju bersama, sejahtera bersama ^_^.

Demi menumbangkan PKI, Angkatan Darat mendukung penuh Dekrit Bung Karno. Semua partai protes keras. Ironisnya, “Angkatan Darat” pula-lah yang “menyudahi” kepemimpinan Bung Karno. Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah ;).

Megawati jangan ditanyalah. Ini lagi naik daun meme-nya di mana-mana. Santai saja orang share meme penghinaan terhadap sosoknya ditimpali dengan komentar tak kalah “sadis”nya hehehe. Jadi perlu dibahas agak banyak, nih :D.

Uniknya, sosoknya paling “misterius”. Padahal sebagai perempuan, memang agak sulit berakting melawan perasaan seperti kebanyakan laki-laki. Itu sudah dari sananya. Ditambah lagi, Megawati tidak begitu suka pecicilan di hadapan publik. Semua dihadapi dengan diam. Tak suka konferensi pers, tak suka klarifikasi.

Menjadi presiden di tahun 2001 memang cukup apes. Bagai harus merangkai puing-puing ambruknya negara pasca krisis besar tahun 1998 yang tak kunjung beres di tangan Habibie dan Gusdur. Lucunya, sekarang dituduh-tuduh menjual aset negara seenak jidat hihihihi :p. Dikata aset negara punya presiden pribadi apa gimana ya? Hahahaha.

Kasus BLBI yang juga merupakan limpahan krisis 1998 paling banyak dibebankan kepada Megawati :p. Padahal saya yakin banget yang teriak-teriak BLBI ngerti 50% masalahnya aja belum tentu. Pokoknya Megawati sudah mencuri ratusan trilyun dari negara. Titik! Hahaha.

Tapi ya begitulah Ibu Banteng satu ini :D. Dari dulu, tak terlalu suka menanggapi omongan miring publik. Bolehlah Bu sekali-sekali curhat ke publik ;). Dalam diamnya itulah muncul berbagai rumor yang lagi-lagi selalu enggan ditanggapi oleh yang bersangkutan. Tak banyak yang kenal dan benar-benar tahu sepak terjangnya. Terpilihnya Jokowi jadi presiden diawali prakarsanya dan PDIP membuat namanya kembali terusik.

Sikapnya yang tak banyak bicara bikin kita-kita jadi banyak dosa aja dah hahahaha. Tenggelam dalam prasangka atas ketidaktahuan kita sendiri.

Memang ajaib, dalam banyak ketidakmengertian kita tentang sosoknya, justru Megawati yang kayaknya paling banyak menuai makian. Manusia, membenci apa yang tidak diketahuinya. So true :).

Habis ini eike juga dihajar dan diklaim jadi antek-antek Ibu Banteng hahahaha. Enggaklah, saya mah apa atuhlah. Jujur, enggak “kenal” juga :p. Makanya, bingung kenapa harus ikut membenci? :).

Pun SBY, walau sekarang sudah tampak bagai pahlawan di mata sebagian hater Jokowi, sering juga dulu dimaki-maki. Terutama di masa-masa akhir jabatannya.

Persis saat Soeharto melepaskan tahta dalam banjirnya kritikan dan sorotan, ealah, sekarang meme bergambar beliau dengan tulisan “Piye kabare? Sing penak jamanku toh?” banyak dipuja-puja orang hahahahaha. Itu anak bungsunya booo, punya akun Twitter pula. Tweet-tweetnya Tommy diretweet beramai-ramai bak pahlawan dan analis politik ekonomi yang andal. Ibarat kata, Buto Ijo mendadak jadi malaikat. Pusing pala Timun Mas :p.

Dulu pun SBY diledekin cengeng. Orang-orang yang milih SBY dianggap termakan pencitraan karena gayanya yang dandy, ganteng, dan “bungkus” lainnya. Iyah, saya milih SBY lho ;). Saya sih menentang hestek untuk meledek beliau yang tidak kuasa mengatur partainya terkait masalah Pilkada langsung. Walau saya kecewa, ya amit-amit lah sampai mau ikut-ikutan kayak gitu. Mending tanda tangan petisi daripada maki-maki orang gak jelas, yes? ^_^.

Eh, sekarang pada sebel sama Jokowi, SBY pun dipuja-puja. Mendadak banyak bener jasanya Pak SBY padahal masih ingat banget dulu suka dituduh lelet dan lamban dan tukang curhat!

Jadi, maunya apaaaahhhh? Maunya presiden kayak gimana? :p

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya oleh seseorang :

“Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau?

Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”

[Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.]

Dalam ajaran Islam sendiri, menghadapi/mengkritisi pemimpin itu memang ada adabnya :). Pasti semua pada tahu lah mana yang benar.

Ditambah lagi dengan pesan Gandhi, “Hate the sin love the sinner.” Dibahaslah apa kesalahannya dan bagaimana solusinya. Jangan malah kebalik. Ngerti salahnya enggak, mengerti masalahnya pun samar-samar, tapi paling kenceng maki-maki orangnya hehehehe.

Siapa pun mereka, diantara sekian banyak pro dan kontra, pasti pernah terselip dalam hati masing-masing untuk memperjuangkan cita-cita yang sama, mimpi yang sama untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Mari berprasangka baik :D.

Tentu tak mudah mengurus rakyat sebanyak ini. Sudahlah banyak, bacotnya juga aduhaiiiii :p. Makin tak terkendali dengan banyaknya media sosial. Boro-boro menawarkan solusi, minimal paham masalahnya benar-benar deh, ini malah caci makinya yang bergema paling kenceng :D. Bikin meme paling pintar, nyinyirin paling pakar, tapi solusi nol besar ;).

“Respect was invented to cover the empty place where love should be.”
― Leo Tolstoy

If it’s almost impossible to love them, at least … show some respect ;).

Ini saya share tulisan lama saya, September 2014. Masih cukup relevan untuk pembelajaran kita semua. Iya, kita. Saya termasuk ;).