Challenge What Your Future Holds!

Bre, Fauzan​, dan Dunia Blogger

***

Siapa Bre? Gak tauuuuuu hahahahaha. Baru tahu gara-gara Daeng Fauzan menulis soal beliau. Itu pun ternyata merujuk pada tulisan Om Iqy. Di mana Om Iqy lagi ngomongin salah satu tulisan di situs mojok dot co.

Kira-kira begini, Pak Bre Redana, seorang wartawan senior yang meratapi soal makin terbenamnya era media cetak, dengan judul esai “Inilah Senjakala Kami.”

Sebenarnya Pak Bre enggak usah mojok :p. Bikin blog aja atuh Pak, menulis di sana. Kalau butuh buzzer buat share-share link blognya, saya siap, Pak! Harga bersahabat! hahaha –> disambit pakai mesin tik!

Ada pun bro Fauzan harus disebut-sebut di judul karena ini alurnya begitu ya, dia juga nulis nama Om Iqy di judul tulisannya.

Etapi biarin deh, ceritain dikit tentang Daeng Bone-ku yang satu ini. Temenan sama dia juga gara-gara diteror di Inbox hahahaha :p. But no regret. Daeng Fauzan, Om di Perth plus fotografer Achmad Sulfikar​ membuat hari-hari di Facebook di era 2015 menjadi lebih berwarna, diantaranya dihajar notifikasi tiap hari hahahaha. I love their writings <3.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Seperti Pak Bre yang konon tengah menatap senja, beberapa isu yang sama menimpa dunia blogger. Apalagi buat kami, eh saya, blogger bapuk yang dulunya bahkan tidak tahu kalau nulis di internet bisa dibaca orang lain hahaha. Maksudnya, bakal ada yang tertarik baca gitu. Wong dulu niatnya cuma mindahin isi diari dari kertas ke digital hehehe.

Apalagi sekarang lihat blogger baru-baru ya. Ada yang isi blognya hanya bahas lipstik, baju, dan sepatu tapi konon bisa meraih jut-jut per bulan. Saya perhatikan di beberapa blog teman, postingan dengan hit terbanyak juga rata-rata dikuasai oleh perkakas-perkakas seperti ini.

Makanya beberapa bulan lalu saya beli lipstik, buat iseng bikin review. Boong deng. Tentu karena lagi diskon! Hahahahaha :p.

Tapi terus saya bingung, memangnya beda lipstik 50 rebu vs 500 rebu apa sih? Kenapa harus beli yang 500 ribu rupiah kalau yang 6 euro juga ada hihihi *ngikikPelit*.

Blog sudah mulai dilirik sebagai metode marketing era digital. Mulai dari lomba blog yang hadiahnya bisa ke luar negeri gratis lho ;). Atau job-job review semacamnya.

Namun kini, sekadar menulis saja tidak cukup.

Belum lagi dengan fenomena SEO. Bersama parameter-parameter yang kita juga tidak pernah paham itu cara ngitungnya gimana hihihi. Beberapa waktu lalu sempat ramai soal Domain Authority, Alexa Rank, Page Authority, ya pokoknya semacam itulah :D.

Yang saya salut, hegemoni Facebook, yang berkali-kali diancam oleh media sosial pendatang baru, tapi tetap dong booo, menjadi yang paling perkasa hingga sekarang. Bener-bener konspirasi Yahudi kali nih hahaha :p.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari fenomena Facebook adalah … inovasi tiada henti!

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Facebook tidak pernah terlena dan tidak antipati dengan kemunculan rupa-rupa Google Plus, Instagram, Path, Twitter dll. Ada juga dibeli semua entar lama-lama sama Facebook hahaha.

Mereka datang dan pergi, tapi Facebook tetap menempati jawara no.2 di Alexa. Nomor satunya ya search engine Google lah :D.

Jangan baper dong ya hehehe ;). It’s simply … life <3.

Kalau kata Desree,

“Life asks no questions, it goes on without you
Leaving you behind if you can’t stand the pace
The world keeps on spinning
You can’t stop it, if you try to
This time it’s danger staring you in the face”

Jangan takut sama senja. Nikmati saja. Toh, besok matahari terbit lagi ^_^.

Penutupnya masih dari lirik lagu yang sama … “Listen as your day unfolds, challenge what your future holds!”

Perubahan bukan untuk dinyinyirin, tapi untuk dihadapi ^_^. Challenge what your future holds!

Sudah siap Kaaaaaaa, lipstik + maskara dll? Hahahahaha :p.

Budak Nafsu

Tanggal 5 November 1605, Guy Fawkes gagal meledakkan gedung parlemen Inggris dengan bubuk mesiu yang sudah disiapkannya di bawah tanah. Peristiwa yang dikenal dengan Gunpowder Plot of 1605 ini membuatnya harus menerima hukuman mati.

Guy Fawkes berusaha membunuh King James, raja Inggris yang beragama Protestan. Sementara Fawkes sendiri adalah pemeluk Katolik.

Topeng Guy Fawkes, gambar : pixabay.com
Topeng Guy Fawkes, gambar : pixabay.com

Fawkes dan pemeluk Katolik lain hidup dalam tekanan saat Kerajaan Inggris berada di bawah pemerintahan raja-raja Protestan. Sebaliknya, saat kerajaan diperintah penguasa Katolik, pemeluk Protestan yang terpinggirkan.

Guy Fawkes sebelumnya pernah menjadi serdadu Kerajaan Spanyol yang sedang menghadapi pemberontakan sekelompok orang yang ingin mendirikan Dutch Republic.

Kerajaan Spanyol yang dipimpin oleh kekuasaan beragama Katolik memanfaatkan orang-orang seperti Fawkes dengan dalih “berjihad” atas nama agama. Spanyol menyewa serdadu bayaran dengan iming-iming mempertahankan Spanyol dari pemberontak yang diklaim sebagai “pihak” Protestan.

Tentu saja, otoritas Spanyol saat itu sebenarnya hanya ingin mempertahankan keutuhan wilayahnya semata. Tapi, apa yang lebih ampuh mengobarkan semangat “bertempur nan berani mati” selain alasan agama? Sad yet true, it continued happening years and years after that.

Setelah Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris dan kembali “dimanfaatkan” oleh sekelompok Katolik yang ingin merebut kekuasaan dari King James saat itu. Politik, politik, politik. Politik atas nama agama. Kok kayaknya familiar, ya? :p.

Dalam beberapa peristiwa lain, atas nama agama, banyak nyawa melayang di berbagai tempat. Bahkan tidak mesti berbeda kepercayaan antara yang membunuh dan yang dibunuh.

Mohandas Karamchand Gandhi, mati tertembak oleh seorang ekstrimis Hindu (Nathuram Godse), saat hendak menuju ke tempat peribadatan. Gandhi pun seorang pemeluk agama Hindu.

Quotation-Mahatma-Gandhi-love-Meetville-Quotes-54326

Pemicu pembunuhan karena ketidakpuasan kalangan ekstrimis Hindu terhadap sikap akomodatif Gandhi kepada kaum muslim India. Pertikaian berdarah antara Hindu-Muslim-Syikh mewarnai awal kemerdekaan India sekitar tahun 1947 silam.

Gandhi, salah satu pelopor kemerdekaan India yang juga terkenal dengan gerakan nonviolent resistance-nya. Gandhi memimpin protes kepada para penguasa pra kemerdekaan India dengan cara “damai”.

Saat kemerdekaan telah direbut dan hubungan sengit antara Hindu dan Muslim terus membara, Gandhi muncul sebagai penengah yang akhirnya dibayar dengan nyawanya sendiri.

Anwar Sadat, juga ditembak mati oleh pemuda muslim (Khalid Islambouli) saat parade militer di Mesir. Pemuda tersebut diperkirakan bagian dari sebuah gerakan Islam dalam Mesir sendiri.

Presiden Anwar Sadat, gambar : pixabay.com
Presiden Anwar Sadat, gambar : pixabay.com

Anwar Sadat dimusuhi pasca menyetujui perjanjian Camp David yang berusaha menurunkan tensi ketegangan antara Mesir dan Israel pasca pemerintahan Gamal Abdel Nasser yang terkenal sangat kontra dengan Israel.

Tahun 1995, Yitzak Rabin juga tebunuh di tangan seorang ekstrimis Yahudi (Yigal Amir). Pembunuh Rabin berasal dari kelompok Yahudi yang menentang perjanjian Oslo, perjanjian perdamaian antara Israel dan Palestina.

Fawkes, Godse, Islambouli dan Yigal Amir, keempatnya mengklaim perbuatan mereka sebagai bagian dari “pengabdian terhadap agama” masing-masing.

Yitzak Rabin, gambar : eteacherhebrew.com
Yitzak Rabin, gambar : eteacherhebrew.com

Mengutip ucapan Gus Nuril (2013), ” “Banyak orang mengira sedang mengabdi kepada Tuhan dan agama. Padahal sebenarnya, mereka hanya sedang melayani nafsunya sendiri.”

Damai terus bumi Indonesia tercinta. Tempat bersatunya berbagai macam agama dan kepercayaan, suku dan bangsa, bahasa dan ragam budaya.

Persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia. Kalau kita bersatu, pihak mana pun hanya akan menemui kesia-siaan jika ingin mencoba mengail di air keruh . Biarkan saja belahan dunia lain rusuh. Tugas kita mendoakan dan mendamaikan. Bukan ikut ribut ya, Cyiiiinnn ^_^.

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”― Winston Churchill

Satu lagi dari Gus Nuril,

“Kalau sampeyan sudah mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kasih, menjadi anak-anak Tuhan, maka kewajiban anda semua mengaplikasikan makna Sang Pengasih itu dalam kehidupan sehari-hari.” -Gus Nuril-

Mari kita hadirkan Sang Maha Kasih nan Penyayang, Ar Rahman Ar Rahiim, dalam kehidupan kita sehari-hari.

“Christmas is not as much about opening our presents as opening our hearts” -Janice Maeditere-

Damai di bumi, damai di hati <3.

Selamat hari Natal 2015 kepada teman-teman yang merayakan <3. Selamat liburan buat teman-teman lainnya ^_^.

Gimana nih yang kejebak macet di jalan? Gimana, gimana? Jadi perlu ndak nih kita punya kereta cepat Jakarta-Bandung? Hahahaha :p.

Enjoy your holiday anyway! *kiss*

 

To Educate a Woman

Perselisihan kaum feminis di era 50 an juga memperuncing hubungan kaum kapitalis vs komunis. Salah satu daya tarik paham komunisme adalah dukungannya kepada persamaan derajat antara pria dan wanita.

Komunisme memesona bagi sebagian kaum feminis tentang ide “dunia baru” bagi kaum perempuan.

Sekarang ini kayaknya kita cenderung menilai pemikiran berdasarkan apa yang kita alami kini. Kita mencocokkan pola pikir dengan lingkungan/kondisi yang kita jalani sekarang.

Muncul anggapan, ide-ide kaum feminis bertentangan dengan agama. Padahal enggak juga. Misalnya, salah satu perjuangan kaum feminis ini adalah penolakan terhadap obyektifisasi terhadap perempuan. Apa ya padanan KBBI untuk obyektifisasi ini hihihi.

Kaum feminis menolak keras terhadap eksploitasi industri terhadap tubuh perempuan. Mereka benci bener sama yang namanya Kontes Kecantikan bla bla bla. Nah, sejalan kan sebenarnya dengan FPI dkk? Hehehe :p.

Satu sisi saya setuju juga. Sempat searching soal bikini dalam ajang Miss Universe. Oalah, ini ternyata karena memang salah satu sponsor awal acara ini adalah produsen bikini.

Kontes beginian sering berkilah mencari wanita cantik dan pintar. Sementara definisi cantik dan pintar kan sangat luas dan tidak stabil. Persepsi bisa diatur.

Pada akhirnya kontes-kontes beginian menyempitkan makna cantik dan pintar. Cantik adalah tinggi badan segini, ukuran payudara segini, lingkar pinggang seanu, … bla bla bla. Fisik kita diukur-ukur dengan dalih macam-macam. Definisi pintarnya malah enggak jelas melihat dari mananya.

Contoh lain … pameran mobil di tempat umum. Pameran begini biasanya memajang SPG perempuan dengan kostum yang gimanaaa gitu :p.

Sampai seorang teman saya (laki-laki) pernah buat joke, “Coy, ada pameran mobil di onoh. Nonton yuk. Lumayan, lihat pemandangan.” Laki-laki yang mendengar tertawa beramai-ramai.

Lalu beberapa dari mereka memasang foto mobil mewah dengan mbak SPG berpose ya begitulah di samping mobil dengan caption misalnya, “Bagus gak?”

Dari situ nanti komentar-komentarnya bisa bermakna ganda, antara mengomentari mobil atau embak-nya. “Wow mantap Gan, gede ya? Coba dudukin, enak gak? Kalau diraba luarannya mulus ndak?” atau “Berapaan tuh harganya, Gan?” atau “Sempat nyoba sampai ke dalam gak Bos? Luas apa sempit?”

Anehnya, kaum perempuan biasanya menghujat mbak-mbak SPGnya.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Seperti soal ada meme mengibaratkan perempuan dengan permen. Meme ini diaminkan oleh banyak perempuan dan dishare ramai-ramai dengan rasa bangga. Situ permen? Kasihan amat -_-.

Ada meme lebih gila lagi, semacam mau bilang “Kalau lo gak mau nutup aurat, terus lo jalan-jalan dilihat sama laki-laki terus lo diperkosa, jangan nangis, ya!”

Lagi-lagi yang share lagi-lagi kaum perempuan. Zzzzz -_-.

Coba pakai analogi lain. Ada orang yang berlibur ke luar kota. Dia lupa mengunci rumahnya. Rumahnya dibobol maling. Tentu saja polisi tetap menyalahkan si maling. Malingnya tetap sebagai orang yang paling bersalah dalam hal ini.

Heloooo … kalau ada uang jatuh di jalan apa itu berarti boleh dicuri? Enggak boleh kaaaaan :p.

Ya sama, perempuan pakai baju terbuka apa itu artinya dia minta diperkosa?

Ada banyak tempat di mana perempuan bebas berpakaian sesukanya tanpa perlu khawatir diapa-apain. Sebaliknya, ada tempat di mana perempuan sudah setengah mati membungkus diri atas bawah kiri kanan tetap saja tak membuat mereka aman bepergian sendiri :(.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Namun, sebagai pemilik rumah ya kalau mau pergi, rumahnya dikunci. Walau kita tahu, dikunci pun belum tentu maling enggak berusaha masuk. Di jalan, tas kita kekepin pun, tetap saja bisa dijambret. Apa pun kondisinya, penjambret dan perampok ya tetap penjambret dan perampok! Mereka salah dan harus dihukum, tidak peduli apakah rumah/tas sudah setengah mati kita gembok.

Ya sama! Kasus perkosaan pun begitu.

Memangnya situ sudah tertutup rapat pasti enggak bakal diperkosa gitu? Belum cencuuuuuuuu :p. Coba saja cek negara-negara yang menerapkan aturan pakaian tertentu. Bebaskah mereka dari kasus perkosaan? :(. Dalam kasus perkosaan, pelaku perkosaan adalah faktor utama terjadinya pemerkosaan. Mereka pelakunya. Yang diperkosa itu korban.

Jangan malah dibalik. Karena di zaman edan ini, balita perempuan di bawah umur pun bisa diperlakukan tidak senonoh bahkan oleh keluarganya sendiri.

Itulah hal lain yang diperjuangkan oleh kaum feminis. Kenapa kalau ada kejadian pelecehan seksual, perempuan yang kerap disalahkan. Perempuan yang harus menanggung malu. Perempuan begini perempuan yang begitu. Tekanan terbesar justru diderita oleh perempuan. Perbuatan laki-laki malah dianggap wajar -_-.

“Wajar saja dia diperkosa. Siapa suruh pakai rok mini!” –> ajaibnya, ini ucapan dari sesama perempuan sendiri :'(.

Di banyak belahan dunia, orang lalu lalang pakai rok mini tanpa perlu takut disuit-suitin sekali pun. Ada hukum yang melindungi :). Ada penegakan hukum secara disiplin. Ada budaya hukum formal yang menaungi.

Sebuah artikel random di sebuah majalah bercerita tentang sebuah fenomena di beberapa wilayah India, “Kebebasan bagi perempuan sesederhana … bepergian sendiri tanpa takut diperkosa.”

Budaya di sana, kalau ada perempuan diperkosa kalau dia jalan-jalan sendiri berarti si perempuan itu yang salah! -_-.

Dalam banyak hal di masa lalu, perempuan selalu dianggap sebagai “warga kelas dua”. Jangankan di India, di AMerika Serikat pun pasca Perang Dunia II, hal-hal macam di atas masih kejadian.

Info penting lainnya, kaum perempuan pasca 1960 an bisa bebas mengenakan alat kontrasepsi untuk memberi jarak dan membatasi kelahiran itu adalah upaya dari kaum feminis :p. Sebelumnya, dianggap tabu! Oleh negara seliberal US sekali pun! ;).

Perempuan harus membenahi persepsinya sendiri. Nyatanya, kaum perempuan yang “inferior” itu masih ada di sekitar kita di era yang katanya sudah jauh lebih modern ini :(.

Lah, itu kalian yang mengangguk-angguk kalau konon tubuh perempuan itu diumpamakan sebagai permen? Inferior!

Kaum perempuan yang merasa pakaian mini adalah undangan bagi kaum laki-laki untuk memperkosa? Inferior!

Laki-laki dan perempuan, masing-masing punya pertarungannya sendiri. Secara alamiah, laki-laki emang lebih ngeres hahahaha. Dan itu tidak ada hubungannya dengan jenis pakaian yang perempuan gunakan. Apakah seorang perempuan berpakaian terbuka atau tertutup, seorang laki-laki HARUS melawan nafsu ngeresnya itu :D.

Sebaliknya, naturally perempuan lebih suka pamer. Lebih baper. Lebih pengin dipuji, pengin diperhatikan. Lihatlah bagaimana industri fashion dan sejenisnya memanfaatkan kelemahan perempuan yang satu ini.

Lawan! Sebagai perempuan pun kita harus bekerja keras melawan nafsu yang satu ini :D.

Nah, kalau menurut saya itulah fungsinya berhijab. Melindungi diri dari nafsu sendiri. Berhijab = menyederhanakan penampilan :). Tapi soal menyederhanakan penampilan ya tidak harus berhijab. Karena yang pakai hijab dan malah jadi ribet itu juga ada :p.

Kalau nafsu orang lain itu di luar tanggung jawab kita, dong! Laki mah kalau emang dasarnya ngeres, ngobrol apa saja dengan siapa saja bisa lari ke mana-mana hahaha.

Menanggapi soal statement, “Perempuan baik PASTI pakai jilbab”?

Begini ya, sebagai muslim saya meyakini perintah kebaikan itu banyaaaaaakkk banget. Anggaplah contoh misalnya ada 100 perintah. Mengenakan hijab salah satu diantaranya. Tapi jangan berhenti di situ. Masih ada 99 lainnya kan?

Pakai jilbab enggak pakai jilbab, tidak bisa jadi satu-satunya ukuran kebaikan seorang perempuan :). Mengapa jilbab mengemuka dan sering dijadikan acuan? Mungkin karena penilaiannya yang KASAT MATA. Bisa dilihat dengan mudah oleh mata manusia kita:).

Gampang, dilihat dari jarak 10 meter juga sudah kelihatan.

Tapi begini …

Beberapa tahun lalu saya menonton acara Oprah Winfrey tentang seorang perempuan. Profesinya adalah dokter kandungan. Bule, tapi lupa asal negaranya.

Dokter kandungan ini sudah lama resah dengan kondisi perempuan di salah satu wilayah di Afrika. Perempuan di sana, kalau melahirkan malah disuruh menyepi ke hutan. Melahirkan sendiri di sana karena melahirkan dianggap aib :'(. Setelah melahirkan, tanpa intervensi medis sama sekali, para perempuan ini barulah kembali ke rumahnya.

Ada yang meninggal di hutan bersama bayinya. Ada yang tetap hidup tapi mengalami banyak masalah dengan organ intimnya karena ketidaktahuan mereka akan penanganan medis pasca melahirkan.

Si Dokter kandungan tadi akhirnya menuntaskan kegelisahannya. Dia menjual semua hartanya dan mengajak suaminya pindah ke Afrika. Dia menghabiskan uang hasil penjualan properti tadi untuk membangun klinik sederhana buat perempuan-perempuan afrika yang hendak melahirkan tadi. Memberikan penyuluhan dan pelayanan gratis kepada mereka.

Aih, saya yang sudah lama pakai kerudung ini pun tidak berani berkomentar sedikit pun soal kepalanya yang tidak tertutup sehelai kain pun. What she had done beyond my imagination *love*.

Saya percaya, keimanan itu diukur BERDASARKAN PERBUATAN. Bukan PENGAKUAN. Kalau cuma ngaku-ngaku ya siapa pun juga bisa ngaku ini-itu.

Untunglah, yang ditugasi mengukur perbuatan tiap manusia adalah malaikat bukan sesama manusia :p. Katanya, malaikat tidak punya hawa nafsu seperti kita manusia. Yang berhak mengukur isi hati hanya Tuhan bukan sesama manusia. Kalau sesama manusia yang disuruh menilai, ya suka-suka dia saja dong. Pasti yang masuk surga dia-dia aja beserta gengnya hahahaha.

Saya jangan dianggap menyerang orang berkerudung ya. Saya juga pakai kerudung kok *sodorinPashmina* :D. Pakai kerudung pun ujian yang cukup berat. Bagaimana agar kita tidak jatuh pada jurang kesombongan. Merasa diri lebih tinggi. Jangan sampai seenaknya menilai sesama perempuan yang kepalanya tanpa kerudung :).

Karena sungguh, kebaikan itu punya banyak dimensi. Terlalu banyak dimensi untuk bisa dipahami oleh keterbatasan kita sebagai manusia biasa. Entahlah kalau situ malaikat ya? :p.

Gambar : women2.com
Gambar : women2.com

 

Kaum feminis tidak masalah kok mau pakai pakaian mana pun dan menjalani gaya hidup mana pun. SIapa bilang mereka anti perempuan bercadar? Tidak benar kalau mereka benci dengan profesi ibu rumah tangga. Yang mereka tentang adalah pemaksaannya. Menurut mereka perempuan juga boleh punya keinginan sendiri.

Coba pahami kondisi tahun 50/60 an saat kaum feminis mulai marak, perempuan di masa itu macam mana kehidupannya. Biar kita tidak semena-mena menuduh mereka sesat dan semacamnya hehehe.

Namun, namanya pemikiran/ide, ada saja versi “garis keras”nya :D.

Berhentilah berantem-berantem dan judge-judge enggak jelas. Menganggap bahwa kita bertanggung jawab atas hal-hal yang sebenarnya di luar kuasa kita. Ya iya gitu katanya perempuan bisa bikin suami atau ayahnya masuk neraka. Bikin stres aja dah hehehe. Pemikiran kayak gini yang bikin laki-laki jadi merasa berhak ngancam-ngancam, “Pakai jilbab gak lo? Entar gue masuk neraka nih!” :p.

Gak gitu, ah. Setiap orang kan hanya bertanggung jawab atas keburukan atau kebaikan yang dilakukannya. Kita tidak berhak mengontrol orang lain. Setiap individu bebas dengan pemikirannya masing-masing.

Tugas orang tua/suami/kakak/kerabat/pendamping/teman ya hanya mengingatkan, bukan mengancam apalagi memaksa :D. Mentang-mentang katanya perempuan makhluk yang lemah. Jadi lebih gampang diintimidasi gitu? Situ minta diulek? Hahaha :p.

Ya itulah. Pemahaman atas ke-perempuan-an kita, entah dalam konteks berpakaian dan sebagainya, jadi modal penting sebelum kita melangkah lebih jauh sebagai … seorang Ibu.

Pemahaman itu nanti yang memengaruhi akan seperti apa masa depan generasi dunia kelak. Katanya ibu itu madrasah utama kan, kan, kan? :p.

Kalimat kerennya, “‘You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.”

That we improve the way we see ourself and our peers, so perhaps … we are able to heal the (next) world, Mommies :).

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

***

Bisnis Gengsi :D

Jaket anak sulung sudah memprihatinkan. Udahlah kekecilan, kantong depannya juga sobek. Ini mah bukan sederhana yak, tapi tegaaaaaaa … hahahaha :p.

Tadinya bersabar mau menunggu musim diskon akhir tahun. Apalagi pas boxing day tanggal 26 nanti, brand-brand bagus biasanya banting harga habis-habisan. Beberapa toko sudah mulai duluan, sih :D.

Gambar : all-free-download.com
Gambar : all-free-download.com

Tapi memang dari dulu hasilnya sama. Berapa pun harga diskon di toko-toko lain, Penney’s tetap tak terkalahkan! :D.

Nih ya, kemarin lihat jaket di H&M, harganya 20 euro. Itu sudah diskon 50%. Ya memang bagus, sih. Tapi sebenarnya enggak butuh yang gitu-gitu amat. Butuhnya, yang penting tebal dan bahannya tahan air karena di sini kan hujan tidak memandang musim.

Tahun ini ya booo, dari musim panas, musim gugur sampai musim dingin nih, hujannya aweeeetttt :D. Debit air di Sungai Shannon yang melintasi kota saya juga membludak. Di beberapa wilayah pinggiran sungai sudah mulai banjir. Lah, malah bahas hujan dan banjir -_-.

Balik ke topik belanja :p.

Tahun lalu saya ingat, ke NEXT waktu boxing day. Jaket anak-anak juga pada diskon. Tapi ya semurah-murahnya itu kalau gak salah 19 euro. Rata-rata tetap di atas 20 euro. Memang harga aslinya bisa 40-50 euro, sih.

Saya jalan-jalan ke Penney’s beberapa minggu lalu buat nyari perbandingan harga. Jaket di Penney’s juga lumayan lah. Tebal dan bahannya juga enggak yang murahan banget. Widiiiihhh, harga asli saja rata-rata 20 euro. Malah banyak yang di bawah 20 euro. Harga asli, tuh. Sempat berpikir tamak, tunggu aja sampai diskon.

Ditunggu-tunggu kok ndak diskon-diskon juga ya -_-. Dasar kikir, nih, Bibi Gober hahahaha.

Jadilah tetap saya beli tuh jaket yang lumayan tebal. Harganya cuma 15 euro hihihi. Sudah ngantri di kasir pun, enggak bakal nyesel lah ya kalau besok-besok bakal diskon. Dapat harga segitu saja sudah paling murah diantara toko lainnya.

Tidak cuma jaket anak-anak saja. Hampir semua item di Penney’s tergolong jauh lebih murah daripada barang sejenis di toko lain. Ya beda-beda bahan dikit sih.

Tapi ada juga yang bahan sama, model pun mirip, tapi harga bisa jauh. Misalnya knitted clothes buat pakaian musim dingin yang lagi naik daun di kalangan fashionista. Di Penney’s lumayan banyak model dengan kisaran harga 15-25 euro saja. Sementara brand lebih besar, model mirip bahan bisa dibilang sama, harganya minimal 40 euro lah :p.

Itulah kekuatan nama besar sebuah brand, ya :D.

Gambar : cutorcopy.com
Gambar : cutorcopy.com

Kemarin dapat ilmu baru soal efek Diderot dari komentar seorang teman di wall Facebook saya. Sebenarnya penggambaran efek Diderot ini sudah pernah saya tulis di tulisan “This Best Feeling in The World”.

Diderot pernah diberikan sebuah baju mewah oleh seorang temannya. Saat baju tersebut digantungkannya pada kursi di rumahnya, dia tersadar betapa jeleknya kursi tersebut dibandingkan baju mewah tadi. Kursinya pun diganti. Setelah diganti, terlihat mejanya yang terlihat buruk. Meja pun diganti. Dan seterusnya.

Itu fenomena biasa yang memang menjadi pola umum sifat konsumerisme manusia di era modern sekali pun. Diderot padahal hidupnya di abad ke 18 :p.

Seperti yang pernah diobrolin sama Windi di postingan yang ini nih ;).

Hari-hari di akhir tahun, harus siap-siap menghadapi gempuran diskonan akhir tahun seperti biasa ya hahahaha. Jebakan luar biasa nih dari brand-brand besar :p.

Butuh banyak pegangan biar enggak kalap kali, ya hahaha.

Dalam hati kita semua, tak berbatas usia/agama/gaya hidup/dll, kita tahu kalau “hidup sederhana” itu adalah hal yang “benar” dalam “kondisi apa pun”. Iya kan, kan, kan? Hehehe.

Dalam hati meyakini tapi praktiknya yang ruwet!

Ukuran kesederhanaan sebaiknya jangan berpatokan ke jumlah harta. Kalau begitu nanti ujung-ujungnya, yang harus sederhana hanya yang miskin aja dong yak hahaha. Kalau banyak duit ya jadinya suka-suka. Selama uangnya ada, hajar teroooossss …

Sementara kalau uangnya gak ada terus harus sederhana, ya itu sih namanya terpaksa, yes? Hahaha.

Jangan juga berkilah dengan standar “kenyamanan”. Nyaman vs gengsi itu suka ketelisut soalnya :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Mengukurnya dari mana? Gampang saja. Dari kebutuhan. Definisi kebutuhan itu juga simpel banget. Kalau enggak ada, hidup kita jadi sulit. Hidup jadi sulit beda lho dengan “gengsi ah pakai yang CUMA gituan”.

Tuh, nyaman suka ketuker kan sama yang namanya gengsi? :p.

KESEDERHANAAN itu PRINSIP UNIVERSAL. Bersama dengan keikhlasan, kerja keras, kasih sayang, simpati, empati, … adalah hal-hal kokoh yang akan TEGAK berdiri tanpa sanggup kita tabrak. Nekat nabrak? Kita yang remuk. Percaya deh! ;). 

Salah kaprah yang sudah sering kejadian, miskin = sederhana, mewah = kaya. Mewah dan sederhana kan suka dinilai dari “casing luar” saja. Enggak heran, tidak sedikit orang yang berusaha tampil melebihi kemampuannya. Banyak orang juga yang kalau ada kelebihan harta biasanya langsung kena virus OKB hihihi.

Hal-hal begini, bagian dari tekanan lingkungan. Plus sifat dasar manusia yang pada fitrahnya kita ingin dihargai/diperhatikan/dihormati :).

Pernah saya nonton sebuah acara soal “behind the scene” barang-barang bermerek. Beberapa brand yang benar-benar “mewah” secara khusus tidak pernah memberi diskon apa pun. Malah, kalau sudah banyak yang sanggup beli, mereka akan terus menaikkan harga!

Mereka tidak mengincar pembeli yang banyak. Mereka mengincar “kesetiaan” konsumen. Kesetiaan itu dipertahankan dengan embel-embel GENGSI. Jadi, ada “nilai lebih” bagi yang sanggup membeli barang ini. Ya itu tadi, yang mahal adalah GENGSInya hehehe.

Yup, Pak Erizeli Bandaro juga dulu pernah menulis tentang “bisnis gengsi” ini. Sayang ya, enggak ketemu lagi tulisannya. Beliau kalau menulis banyak banget dan frekuentif. Susah menyelam di wall-nya nyari-nyari tulisan lama.

Jangan salah, ini bisnis besar yang mendatangkan banyak uang. Banyak yang berusaha bermain di bisnis-bisnis seperti ini karena memanfaatkan kelemahan umumnya kita sebagai manusia biasa yang gampang kalah sama yang namanya GENGSI. Apalagi perempuan! Hahaha *sadarDiri*.

Jangan galau, ya itulah namanya perjuangan hidup dong, ya. Untuk tidak gampang takluk dengan yang begini-beginian. Ini memang bukan perjuangan periodik. Seumur hidup kita harus terus mati-matian menangkis virus GENGSI ini :D.

Sukses tahun lalu, apakah akan sukses juga tahun ini? Kita lihat saja hasilnya di musim diskon tahun ini!!!! Hahaha.

Hang on, boxing day tinggal beberapa hari lagi lho! Hahahaha *ketawaPucat*.

Btw, jangan dikira cobaan terbesar itu saat kita sedang pas-pasan. Because definitely, it’s not! ;).

Yuk ya, rapalkan manteranya –> “The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed” -Marxie

 

monkey happy

 

Tulisan Kita dicopas Orang Lain?

3 hari terakhir ini di-mention ampe puluhan kali, Euy. Kayak dicolek-colek gitu *geliGeliSeneng*. Udah geer notifikasi banyak ternyata temanya itu-itu juga hihihihi. Di Facebook ya maksudnya :D. Saya mah generasi jadul. Hare geneeeeee…beredarnya masih banyakan di Facebook ajeeee, hahaha.

Eh iya jangan salah sangka yaaaaa. Saya enggak marah lho sama yang nyolek. Seneng malah ^_^. Merasa dibelain *ihiiyyy*. Cium dulu sini satu-satu *cup,cup,cup* <3.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ini soal tulisan “This Best Feeling in The World” yang ternyata ada yang copas. Enggak satu orang sih. Ada beberapa. Masalahnya ada yang tidak mencantumkan sumber dan mungkin karena gaya nulis genggesnya jadi banyak teman saya yang sudah hafal gaya tulisan sok-sok antara mau centil sama mau bijak ala-ala Mama Poni hahahaha.

Makanya, banyak teman saya yang langsung nyadar kalau itu tulisan saya :D.

Si embak padahal sudah mengaku copas kok ya. Gak apa-apa :D. Senang kok ya tulisan copasannya saja share-nya bisa 4 ribu ^_^. Belum yang copas-copas yang lain-lain yang juga sharingnya oke-oke. Jadi geer hahaha.

Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama. Yang lebih heboh dulu “Every Mom Has Her Own Battle”. Ini juga lucu, karena saya banyak mendapat tulisan ini dari grup-grup atau dikirim private oleh teman saya dengan caption, “Jee, baca deh. Tulisannya bagus.” Ya iya dong, yang nulis gue gitu lho hahahahaha.

Teman saya tidak tahu karena tulisannya tahu-tahu tulisannya sampai ke dia begitu saja, nama penulisnya sudah beda-beda hahaha. Taulah ya kalau topik standar emak-emak gampang go viral :D.

Waktu itu marah? Bangeeeettttt -_-.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi terus bagaimana? Ngambek? Ngaruh gitu? :p.

Hal-hal begini, menurut saya, berada DI LUAR pengaruh kita. Sebagai penggemar Mas Sean Covey dan bapaknya, 7 habit-er nih kiteeee :p, ada yang namanya LINGKARAN PENGARUH vs LINGKARAN KEPEDULIAN.

Lingkaran pengaruh termasuk hal-hal yang bisa kita kendalikan sendiri. Lingkaran kepedulian sebaliknya. Kita peduli tapi kita enggak bisa ngapa-ngapain. Useless. Dipikirin sampai bongkok juga kita enggak bakal bisa mengubah/mengendalikan.

Terlalu fokus ke lingkaran kepedulian malah bikin kita gila sendiri nanti hahaha. Termasuk urusan copas-copas tulisan ini :D. Bagaimana coba caranya mencegah tulisan tidak dicopas di era digital begini? ;).

Mending fokus ke lingkaran pengaruh. Hal-hal yang berada dalam jangkauan “kekuasaan” kita ^_^. Ngurusin aib sendiri misalnya. Banyak bener kan itu? Hahaha. Atau fokus terus menghasilkan karya-karya dalam bentuk apa pun ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jadi, walau keki juga lah dikiiiiiiitttt :p, I’m so over it ;). Udahlah, ambil positifnya saja, tulisannya banyak yang share berarti mudah-mudahan isinya positif dan semoga saja ada yang kali-kali hidupnya jadi lebih baik karena tulisan tersebut. Aamiin <3. Mudah-mudahan bisa menjadi penghapus dosa-dosa yang sudah menumpuk ini, aamiin *gelarSajadah*.

Saya pribadi, senang menulis (walau bukan penulis), karena dulu saya merasa terbantu sama hobi membaca buku/majalah/koran/artikel apa pun.

Iya lah, ada beberapa masa yang dulu-dulu dimana saya gampang sedih hehehe. Terus saya melarikan diri ke kegiatan membaca. Baca biografi orang-orang penting yang dulunya jauh lebih nyelekit hidupnya tapi kemudian bisa bangkit bikin saya semangat. Padahal tahunya hanya dari barisan kata-kata ^_^.

Membaca pengalaman penulis yang kemudian menuangkannya dalam tulisan juga bisa membangkitkan inspirasi. Waktu kuliah, saya suka gratak-gratakin koleksi buku ibu-ibu kos, ah senaaaaaanngggg, dapat banyak bacaan bagus :D.

Termasuk buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” itu tuh. Wah, serius lho, baca buku itu di semester 2 kuliah saat rasanya berat banget karena kiriman mulai gak lancar dan harus muka tembok mulai ngutang-ngutang (hihihi *tutupMuka*), semester 3 saya langsung sikat 24 sks! Hal yang tadinya tidak pernah terpikir.

Begitu terus hingga akhirnya saya bisa kelar 7 semester saja (walau gagal wisudanya hahaha) dan meraih IPK impian 3.3 hahaha. Kenapa gitu? Soalnya saya rajin baca koran lowongan kerja, perusahaan swasta mentoknya minta segitu. Saya catet-catetin pada minta syarat IPK berapa hihih. Alhamdulillah enggak ada yang minta 3.5 hihihi. Paling tinggi 3.3, biar aman saya set 3.33 dan alhamdulillah…berhasil!!! *nariPisang*.

Tujuannya, lulus langsung lamar kerja di perusahaan swasta dapat gaji jut-jut. Tuhan menjawab doa. Kelar sidang, 2 minggu kemudian dah keterima kerja ^_^. Alhamdulillah, gaji pertama licin tandas buat bayar utang doang hahahaha.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yang paling saya takutkan kalau sampai kandas S1 enggak kelar tuh, disuruh kawin! Hahahaha. Cuma lulusan SMA mau kerja apa, pasti eike dipaksa-paksa kawin dah! -_-.

Sebegitu besar efek “membaca” tulisan orang lain bagi saya :).

Makanya mungkin karena itu, walau memang sudah ada passion dari kecil, makin ke sini di era media sosial, makin tergila-gila menulis hahaha.

Menurut saya, begitu salah satu cara kita berterima kasih kepada orang-orang/kejadian-kejadian yang dikirimkan Tuhan untuk membuat kita bersemangat kembali. Kembali berlari di lintasan yang tadinya sudah ingin ditinggalkan saja.

Untuk setiap kebaikan yang diterima, sekuntum keberuntungan yang kita petik, kalau tak bisa dikembalikan kepada yang memberi… teruskan benihnya kepada orang lain. Pay it forward , pay it forward .

Menulis, salah satu cara untuk menebarkan semangat kepada banyak orang tanpa perlu kita datangi satu persatu. Thanks to internet, thanks to social media. Hey, FB dan twitter tidak hanya untuk pasang-pasang foto narsis saja, lho. Tulisan juga bisa jadi ajang narsis ;). Resep-resep juga. Daku juga cinta banget deh sama orang-orang yang suka share resep dan tips dapur <3.

Satu menjadi seratus. Seratus menjadi sejuta. Sejuta menjadi trilyunan. Pay it forward , pay it forward , pay it forward ^_^.

But another lesson, ttentu saja, enggak suka tulisan kita dicopas? Jangan suka copas juga ya Kakaaaaaa ^_^. Maafkan mereka, lalu lupakan. Tapi jangan lupakan pesan/pelajaran yang bisa dipetik. Sakitnya hati ini kalau bikin tulisan capek-capek malah dicopas seenaknya? Then don’t do that to others, yes? ^_^. Jangan lakukan hal yang kita tidak ingin orang lain lakukan pada kita.

People with bad behavior only exist to remind us to NOT to do the same ^_^ –> btw, ini quote juga copas. Dulu baca ini di wall FBnya Neng Rika Mariani bertahun-tahun yang lalu :D. Tetap ingat karena pesannya menancap kuat di hati *tsaaaaaah*.

***