People We Haven’t Met Yet (8)

“Bu, buuuu, tolongin dong …”

Saya menengok, “Apaan…”

“Ini kemarin sudah ada lagu-lagunya. Tinggal pencet ini. Tapi sekarang mana, ya? Gak ada lagi yang bisa dipencet? Ilang ini pencetannya.”

“Apaan tuh yang dipencet-pencet?” Saya mulai cengengesan.

Si embak menyodorkan ponselnya sambil sibuk nerangin dari awal lagi. Nerangin ala dia. Setelah melihat gambar di ponsel dan keterangan dari mulutnya baru deh bisa sinkron apa itu yang dipencet-pencet segala macam hahaha.

Sebut saja namanya Mbak Paris. Mawar melulu bosan yeeeeee :p.

Mbak Paris ini asisten rumah tangga yang bekerja di rumah yang satu kompleks dengan saya. Di Jakarta, sekitar hampir 7 tahun silam, sebuah pergaulan baru mewarnai hari-hari saya … bergaul dengan embak-embak saban sore sembari nemenin anak main hihihihi. Embak-embak yang sehari-harinya dikenal sebagai asisten atau pembantu rumah tangga.

Pembantu Rumah Tangga

Ikut jongkok bareng-bareng mereka membahas mengapa si Gondrong kalau datang bawanya selalu tempe yang sudah tidak segar. Ikut berdiskusi besok enaknya masak apa biar majikan mereka dan anak-anak semua doyan biar enggak banyak-banyak masaknya. Karena kalau kebanyakan nanti kena marah juga hihihihi.

Eh, siapa si Gondrong? Gondrong ini nama tukang sayur langganan. Satu-satunya gerobak sayur yang boleh masuk ke kompleks kami :D.

Kompleks tinggal saya modelnya town house. Karena sempitnya lahan di tengah-tengah kota, banyak developer yang akhirnya membangun kompleks-kompleks mungil yang biasanya berisi maksimal 20 rumah lah ya. Tapi ada juga yang bisa sampai 30. Minimal bisa 2 rumah doang malah hehehe.

Pulang dari Teheran, saya memang sudah berhenti bekerja sejak setengah tahun sebelumnya. Tak tega meninggalkan anak, saya urungkan dulu niat melanjutkan sekolah ke tingkat S2. Toh dulu niat resign karena kepengin lebih dekat dengan si sulung yang memang aktifnya luar binasa banget deh dari kecil hahahaha. Saya hanya percaya kalau dia dihandle oleh tangan saya sendiri 😉 –> mamah-mamah posesif :p.

Anak baru satu. Suami pergi jauh merantau. Karena visa tak kunjung datang, terpaksa LDR-an hampir setahun.

Tiap sore, saya bawa si kecil (waktu itu anak baru satu) main-main di jalanan kompleks. Kompleks kecil ya jalanannya seadanya juga. Tapi cukup luas buat arena lari-larian kelompok balita dan abege di sana hihihi. Relatif aman juga lah.

Baru saya sadari, mamah-mamah tetangga jarnag ada yang beredar. Anak-anak ditemani oleh embak-nya masing-masing. Jujur, saya sih tidak pernah risih dengan mereka. Mereka yang menjaga jarak dengan saya karena tahu posisi saya sebagai “nyonya”.

Tapi saya pepetin aja terus hahahaha. Saya ajak mengobrol, saya becandai, saya ikut duduk sebelah mereka, walau awalnya mereka langsung bubar kalau saya datang. Idih, berasa gue nenek sihir! Huhuhu.

Saya tidak tahan tidak ada teman mengobrol. Sebanyak itu orang di jalanan kompleks sore-sore, pasti gatal kan pengin bergosip hahahaha.

Saya coba main-main dengan geng balita. Yaela, 5 menit udah bosan. Namanya balita, oper-operan bola aja bisa ngikik-ngikik bareng sampai sejam enggak bakal bisa berhenti. Akhirnya saya dekati satu-satu geng para embak. Dari situ baru mereka mulai “nyaman” dan mulailah saya “diterima” oleh mereka *tsaaaaah*.

Dengan bantuan embak saya juga, sih hihihi.

Pasti kalian mengira mereka suka curhat soal majikan. Tidak juga, lho. Kalau saya sendiri lebih suka bertanya hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Ratu kepo mulai beraksi hahhaha.

Pembantu rumah tangga
gambar : mariaelita.com

Ya pertanyaan ngalor ngidul standar khas orang ketimuran yang memang budaya “kepo”nya lebih kuat daripada orang bule ya hihihi, “Asalmu dari mana sih, Mbak? Sudah menikah? Punya pacar? Anak berapa? Umur berapa?” Kalau mereka sudah mulai nyaman, merembet ke pertanyaan lebih pribadi, “Ada suami? Suami di mana?”

Dari situ juga saya didapuk menjadi tukang benerin ponsel atau membantu download mp3 dan semacamnya hihihihi. Sambil saya utak utik ponselnya, mengalirlah banyak cerita dari mereka. Saya kagum sekali dengan cara mereka menertawakan hidup masing-masing, setengah cengengesan bercerita hal-hal yang menurut saya sedih huhuhu.

Saya kan cengeng ya, tapi saya tahan untuk tetap se-kasual mungkin misalnya saya mereka cerita, “Suamiku lari Bu sama janda. Eh, tabunganku dicuri. Jadi anakku berhenti sekolah. Kutitip di Bude. Aku yo cari kerja di Jakarta. Lumayan Bu, jadi bisa jajanin anak.”

“Sekolahnya?” Tanya saya.

“Belum cukup uangnya Bu. Biar ajalah. Lagian ada adeknya masih bayi. Susu mahal. Lumayan yang gede sudah bisa baca tulis. Nanti tunggu gedean dikit bisa jadi supir kargo. Bagus itu supir kargo. Gak sembarangan juga Bu orang bisa jadi supir.”

Hiks, jadi supir kargo :'(.

Si embak, janda 2 anak. Lain lagi cerita yang gadis.

“Sekolahnya jauh, Bu. Capek ah. Jadi ke sini aja cari duit. Mau beli henpon.”

Kata saya, “Idiiih, mending sekolah. Nanti sekolah tinggi lulus kerjanya bisa lebih bagus. Jangankan henpon Mbak, yang lain juga bisa beli.”

Matanya berbinar-binar, “Iya, betul Bu. Tetanggaku bisa jadi TKW ke Arab. Banyak itu duitnya. Betul itu.”

Hiks, sekolah tinggi untuk jadi TKW di luar negeri :'(.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ada lagi yang membanggakan anaknya yang sudah kelas 2 SMP. Karena katanya di keluarganya, yang lulus SD saja masih sedikit banget. Lulus SMP, siap-siap jadi buruh pabrik di kampung sebelah. Aish *hapusAirMata*.

Jelang ada cuti buat pulang, mereka ribut mau beli baju buat si kecil di kampung. “Kemarin katanya di Pasar Senggol ada celana tentara gitu. Mahal je. 20 rebu.”

Saya diaaaam saja mendengar mereka membahas harga-harga barang. Mereka itu, tidak ada keluhan tidak ada protes. Hanya sekadar berbagi dan saling memberi informasi beli bedak merek apa di mana yang harganya paling murah. Beli pulsa di warung anu yang suka dapat diskon. Majikannya kali yang sibuk teriak, “Harga-harga mencekik rakyat” sambil ngerumpi minum-minum kopi di kafe #eh :p.

Pernah di suatu pagi, saya kepoin si Gondrong, “Ndrong, siang amat ke sininya. Bangun pagi napa?”

Sambil masukin belanjaan saya dia nyengir, “Kan muter dulu Bu. Di sini memang jadwalnya ya jam segini.”

“Pagian dong makanya…” Saya tetap protes sambil memilih ikan di gerobak bagian belakang.

“Kan jam 5 juga sudah mulai muter Bu.”

“Ha? Jam 5?”

“Iya. Sebelumnya belanja dulu. Jam 1 sudah nungguin barang di pasar.”

“Jam 1? Tengah malam? Ngerinya. Gak takut lu Ndrong, malam-malam d pasar?”

Dia tergelak, “Pasar mah jam segitu justru rame Bu. Truk-truk ngumpulnya jam segitu. Bawa macam-macam.”

Ooo…I see. Berat juga ya jadi pedagang sayur keliling. Pantas si Gondrong kalau di sms-in sore-sore gak pernah reply. Sms minta dibawain bahan khusus yang dia jarang bawa sehari-hari hihihi. Memang gitu cara kami memesan daging sapi misalnya. Gondrong ogah membawa daging kalau tidak ada yang pesan. Soalnya modal gede kalau bersisa mau ditaruh di mana?

Tinggal sms, “Ndrong, daging buat dendeng satu kilo. Bilangin ke yang jual, potongin tipis-tipis.”

Gambar : pemudawirausaha.com
Gambar : pemudawirausaha.com

Para embak, si Gondrong, semua tinggal terpisah dari pasangan dan anak-anak mereka. Embak-embak ini … sama-sama perempuan seperti saya. Yang sudah berkeluarga, sama-sama jauh dari suami. Bedanya, ada yang janda ada yang suaminya juga bekerja di tempat lain. Ada yang juga berstatus Ibu.

Sementara waktu bekerja dulu, saban habis gajian, seringnya saya dan beberapa teman jalan-jalan ke toko baju lihat-lihat. Yang diobrolin tas yang bisa jadi harganya juta-juta. Lah di hadapan saya, para embak meributkan celana motif army yang harganya 20 ribu :'(. Mahal banget katanya.

Mereka juga jauh dari anak sendiri malah seharian mengurus anak orang lain. Saya sepanjang hari bisa dekat dengan anak.

Perspektif baru ya tentang kehidupan jauh dari pasangan :). Sedihnya kalau harus LDR. Tapi saya jauh lebih beruntung. LDR pun, tidak kesulitan soal uang. Ngambek dikit tinggal minta duit hahahaha :p. Tinggal pun di rumah sendiri. Bisa dibilang full fasilitas. Punya embak pula yang bantu-bantu. Padahal anak cuma satu *tutupMuka*.

Bosan di rumah sekali-sekali pengin keluar tapi malas nenteng bocah? Tinggal telepon Mama. Mama datang menemani anak saya di rumah. Saya keluar ke mal, janji makan siang dengan teman, kadang nonton di bioskop juga. Me time, me time … hihihihi.

Lah itu embak-embak, me time -nya kapan? Ada gitu duit khusus buat me time?

Berat rasanya melewatkan waktu saat jauh dari suami, tuh. Ada aja gitu masalah. Kesepian dan serba tidak pasti. Ceramahin suami melulu soal pentingnya tinggal bersama bla bla bla. Padahal waktu itu sikon memang sulit. Mau enggak mau harus LDR-an sementara. Sementara saja.

Nah coba si embak-embak tadi, entah harus sampai kapan membanting tulang dengan gaji pas-pasan hanya untuk masa depan selevel sopir kargo dan buruh pabrik untuk anak-anak mereka?

Kita ini memang narsis. Saat kondisi sulit, serasa dunia hanya berputar di sekitar kita saja hehehe. Oh, betapa beratnya hidupku. Oh, betapa malang nasibku. Oh dan oh dan oh lainnya. Saya mah sering bener begitu hahaha *ngumpet*.

Btw, I learned a lot from embak-embak tadi :).

Dengan ritme reguler sebagai ibu rumah tangga di rantau pasti tiap hari ya gitu-gitu aja. Bangun-masak-nyiapin anak-ngurusin anak-facebookan (hhahaha)-masak lagi-cuci piring-ngurusin laundry-beberes bla bla bla.

every mom image

Anytime I feel exhausted regarding this never-ending-daily-routines, I remembered them. Biasanya, jadi lebih enakan walau tetap betenya enggak sepenuhnya hilang hahahaha.

Exhaustion is temporary ;). Ada banyaaaaaaaaaaaaaaak hal lain yang bisa dirayakan and they are permanent ^_^.

Makin dibiasakan untuk tidak gampang fokus ke diri sendiri kalau lagi ribet :p. Sering kan kita begitu, kalau dirasa ada kesulitan, dunia serasa berhenti berputar and oh… I’m the most miserable person in this universe yadda, yadda, yadda …

Urusan dunia, usahakan terus lihat ke bawah.

“You must understand the whole of life, not just one little part of it. That is why you must read, that is why you must look at the skies, that is why you must sing, and dance, and write poems, and suffer, and understand, for all that is life.”-Jiddu Krishnamurti

Have a nice weekend <3.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com
Naik kereta cepat di Cina aman

Pengalaman Naik Kereta Cepat di Cina

Sedang ramai membahas High Speed Train yang telah dimulai pelaksanaannya untuk rute Jakarta-Bandung. Selama berada di Kota Wuxi, Cina, selama 6 minggu, suami saya beberapa kali mencoba fasilitas transportasi kereta cepat ini. Di Cina sendiri, penerapan jalur kereta cepat cukup marak di beberapa kota besar dan kota menengah.

Wuxi adalah kota pertama yang dikunjungi di Cina.

Pengalaman naik kereta cepat di China
Kereta cepat di China (foto : Dani Rosyadi)

Pengalaman pertaman, mencoba menggunakan jalur Shanghai – Wuxi. Wuxi berjarak sekitar 140 km dari kota terbesar di Cina, Shanghai. Pendaratan pertama kali melalui  bandara internasional Pudong di Shanghai.

Berdasarkan informasi dari pihak bandara, cara yang membutukan waktu paling sedikit mencapai Wuxi adalah via perjalanan dengan kereta cepat tadi. Kemudian, suami saya bergegas menuju Shanghai Railway Station. Di tiket sudah tertera, kereta tercepat berlabel G-Train. Benar-benar luar biasa … waktu yang dibutuhkan untuk jalur Shanghai – Wuxi hanya 50 menit.

Selain tipe G-Train, ada juga kode D-Train dan Z-train untuk kereta dengan kecepatan menengah. Harganya dipatok lebih murah untuk waktu tempuh yang lebih lama. Masih ada yang lebih murah, kodenya K-Train. Kecepatan K-Train kira-kira sama dengan kereta biasa di tanah air.

Tiket kereta sekaligus digunakan untuk membuka autogate menuju platform kereta. Semua fasilitas di stasiun kereta sudah serba otomatis. Ada yang sedikit merepotkan. Saat akan  memasuki ruang tunggu stasiun ada pengecekan X-Ray seperti di bandara. Prosesnya memakan waktu. Untungnya orang-orang China bisa mengantri dengan tertib. Sempat terpikir akan kacau dan rusuh karena banyaknya orang yang hendak masuk.

Naik kereta cepat di Cina
Mengantri di ruang tunggu (foto : Dani Rosyadi)

Stasiun kereta pada umumnya sudah terintegrasi dengan moda transportasi jenis lain. Misalnya : metro (LRT), bus, taxi, dll. Stasiunnya bersih dan rapi. Mungkin, stasiun kereta di Shanghai ini adalah yang terbesar di China sejauh ini.

Rute Shanghai-Wuxi menggunakan tiket seharga (kurang lebih) 60 yuan.

Sebelum berangkat ke Wuxi, sempat bertanya-tanya seperti apa, sih, kota Wuxi ini? Kami membayangkannya sebagai kota kecil dengan fasilitas pas-pasan karena belum pernah mendengar nama kota ini sama sekali. Ternyata, Wuxi termasuk kota lapis kedua di negara besar ini. Jumlah penduduknya kira-kira 6 juta jiwa.

Tidaklah heran jika fasilitas stasiun kereta dan layanan publik lainnya di Wuxi termasuk lengkap dan andal.

Pengalaman kedua dengan High Speed Train ini, mencoba G-Train untuk jalur Wuxi-Nanjing. Harga tiketnya sekitar 80 an yuan.

Stasiun kereta di Wuxi lebih kecil daripada stasiun di Shanghai. Namun tetap terintegrasi dengan fasilitas transportasi lainnya, seperti yang berlaku di Shanghai Railway Station. Pengguna stasiun di Wuxi juga relatif lebih sedikit daripada yang di Shanghai. Tapi proses mengantrinya juga lumayan lama. Ya itu tadi, sebelum masuk ruang tunggu, ada pemeriksaan segala macam seperti masuk bandara.

Jarak Wuxi-Nanjing lebih jauh. Sekitar 175 km dan bisa ditempuh selama 1 jam 8 menit. Hemat waktu banget, kan? ;).

Fasilitas dalam kereta juga terbilang bagus. Dilengkapi dengan kamar kecil (toilet). Kondisinya cukup bersih, agak beda dengan kekhawatiran bahwa umumnya toilet di China kurang terawat. Di beberapa kota di China, kebersihan sudah cukup terjaga. Apalagi di belahan Timur yang kota-kotanya termasuk maju seperti Shanghai-Wuxi-Nanjing ini. Tergantung wilayah.

Naik kereta cepat di Cina aman
Foto : Dani Rosyadi

Selama dalam perjalanan, ada petugas yang wara wiri di sepanjang koridor kereta menjajakan makanan dan minuman.

Pengguna kereta bisa memilih kelas 1 atau kelas 2. Kelas 2 membayar 80 yuan. Sementara Kelas 1 dibandrol sekitar 140 an yuan. Foto-foto yang diambil suami saya hanya di kelas 2 saja. Di kelas 1, ukuran kursinya lebih besar dan pembungkusnya terbuat dari  kulit.

Ruangan dalam kereta cepat di cina
Foto : Dani Rosyadi

Pengalaman terakhir adalah  perjalanan dengan rute Wuxi-Suzhou. Jarak tempuh sekitar 42 km. Singkat sekali perjalanannya yang hanya butuh 11 menit saja. Harga tiket lebih murah, sekitar 20-30 yuan.

Kabar terbaru di tanah air, Jakarta-Bandung sudah diresmikan pembangunan  jalur high speed train yang dimenangkan oleh perusahaan asal Tiongkok. Kita sambut berita ini dengan semangat pembaruan dan harapan bersama. Sebagai pertanda dimulai babak baru dalam era transportasi di tanah air.

Dengan jarak Jakarta-Bandung sekitar 150 km, mudah-mudahan tidak berlebihan jika fasilitas high speed train diterapkan pada jalur ini. Kita doakan semoga proses lancar dan hasilnya bisa dinikmati bersama secara positif.

When Silence is Deafening

Di awal abad ke-20, Republik Irlandia akhirnya berhasil merebut kemerdekaannya dari Kerajaan Inggris Raya. Beberapa aktivis Katolik dan nasionalis Irlandia mengklaim kemerdekaan mereka dan tidak disambut mulus oleh pihak Kerajaan Inggris.
 
Katoliknya harus disebut, ya, karena di masa itu, hubungan Protestan vs Katolik ikut mewarnai perebutan wilayah di Pulau Irlandia oleh Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia. Mayoritas Kerajaan Inggris adalah penganut Protestan.
Gambar : gtaforums.com
Gambar : gtaforums.com
 
Sebelumnya pula, lebih dari 100 tahun, pertikaian antar kepercayaan ini terus berkobar sejak masa penjajahan Kerajaan Inggris terhadap Republik Irlandia. Penekanan dari sisi agama juga dilancarkan oleh pihak penjajah. Misalnya pemaksaan bahwa warga Irlandia HARUS manut pada ajaran Protestan.
 
Yang begini ini yang bikin perselisihan makin sengit.
 
Dari klaim kemerdekaan di tahun 1916 itulah, muncul IRA (Irish Republican Army). Anggotanya : sukarelawan komunitas Katolik di Irlandia (kaum militan katolik) dan anggota militer Inggris yang berasal dari Irlandia.
 
IRA melancarkan operasi-operasi militer yang akhirnya berhasil memaksa Kerajaan Inggris untuk membagi Pulau Irlandia menjadi 2 bagian. Wilayah utara tetap berada dalam naungan Kerajaan Inggris, wilayah selatan yang hingga kini berdiri sebagai satu negara sendiri, Republik Irlandia. Perjanjiannya dikenal dengan nama Traktat Anglo.
 
Note, mbak yang nulis ini tinggalnya di Republik Irlandia sekarang :p. Jadi suka pening kalau ada yang nanya-nanya soal teroris. Salah woi, salaaaaahhh :p. Terorisnya di bagian utara ituuuuuu :D. Tapi baiklah, mumpung temanya lagi pas bahas teroris, kita tuntaskan tanya kalian via tulisan ini *tsaaaaah* :p.
 
Pasca Traktat Anglo, IRA terpecah menjadi 2 : pro Traktat vs kontra Traktat. Yang pro yang setuju-setuju saja wilayah Pulau Irlandia terbagi 2. Yang kontra sebaliknya, kepengin kalau Pulau Irlandia merdeka secara utuh.
 
Berantem sendiri. Hingga akhirnya yang kontra Traktat terdesak dan kalah. Tapi IRA versi kontra ini terus menerus melancarkan perlawanan dengan aksi bersenjata. Tentu dengan dukungan militan Katolik Irlandia.
 
HIngga akhirnya tahun 1969 pecah kerusuhan besar. Komunitas Protestan pro Inggris dan polisi setempat sukses mendesak komunitas Katolik. Tidak sedikit penganut Katolik di wilayah Belfast (Irlandia Utara) yang rumahnya dibakar oleh pihak lawan.
 
IRA dikecam oleh militan Katolik karena dianggap gagal melindungi umat Katolik di Belfast. Setelahnya, IRA kembali terpecah : Official IRA (OIRA) vs Provisial IRA (PIRA).
 
OIRA lebih moderat. PIRA yang radikal. Umm…bisa dibilang Fatah vs Hamas kali ya kalau di Palestina? CMIIW.
 
PIRA yang terus melanjutkan tradisi kekerasan militer. PIRA melindungi kalangan Katolik di Irlandia Utara dengan tidak segan-segan menggunakan senjata. Inilah bedanya OIRA dan PIRA. OIRA menghindari bentrokan fisik. Namun, PIRA mendapat dukungan dari militan Katolik baik di Republik Irlandia maupun Irlandia Utara.
 
Sejak tahun 1970 mereka memang menggunakan taktik peledakan bom dan metode “urban warfare”, menyerang polisi Inggris di pemukiman padat penduduk.
 
Karena banyaknya korban dari kalangan sipil, lama-lama rakyat di Republik Irlandia pun ogah mendukung PIRA. Tapi PIRA masih didukung oleh kalangan Katolik di Irlandia Utara yang tidak suka dengan kehadiran militer Inggris.
 
Persenjataan modern PIRA disuplai dari Libya (Qaddafi), komunitas Irlandia di US, ETA (Spanyol) dan PLO (Palestina). Konon, Qaddafi rajin menyuplai senjata karena dendam pribadi terhadap US dan Kerajaan Inggris.
 
Masifnya teror bom oleh kelompok PIRA, Kerajaan Inggris yang kepayahan akhirnya membuat aturan baru. Menangkap siapa saja yang tertuduh PIRA tanpa pengadilan. Hal ini malah membuat kalangan Katolik di Irlandia Utara makin bete dengan militer Inggris.
Serangan bom tahun 1996 di UK,, gambar : irishtimes.com
Serangan bom tahun 1996 di UK,, gambar : irishtimes.com
 
Tahun 1979, PIRA meledakkan bom tidak jauh dari kapal pribadi Lord Mountbatten (veteran Perang Dunia II dari Inggris) di perairan Irlandia. Lord Mountbatten tewas dalam serangan tersebut.
 
Tahun 80-an, PIRA makin hot. Tahun 1984, sebuah bom diledakkan di Hotel Grand Brighton (Inggris). Margareth Thatcher yang sedang berada dekat lokasi selamat. Bom menewaskan 5 orang dan melukai 34 lainnya.
 
Tahun 90-an loyalis Protestan mulai melawan dengan bantuan intelijen Inggris. Makin-makin dah PIRA mengamuk. Terdesak di Irlandia Utara, PIRA terus melancarkan serangan bom di Inggris Raya.
 
Tahun 1993, PIRA mengebom wilayah Chesire. Kesalahan teknis. Yang meninggal justru 2 anak kecil :'(.
 
Tahun 1996, pemboman lebih sukses. PIRA meledakkan bom di beberapa titik di London dan Manchester. Peristiwa ini berhasil membuat Kerajaan Inggris menelan kerugian materi hingga ratusan juta pounds.
 
Proses menuju gencatan senjata terus berlangsung. Hingga akhirnya lahir perjanjian Belfast tahun 1998 yang disepakati oleh PIRA. PIRA berjanji hanya akan memperjuangkan kemerdekaan Irlandia Utara via negosiasi damai tanpa aksi kekerasan.
 
Butuh waktu belasan tahun hingga akhirnya PIRA melenyapkan stok senjatanya.
 
Tapi di sini saya bertemu teman dari India yang pindah dari Belfast ke Athlone sekitar tahun 2011 silam. Menurutnya, keadaan di Belfast di beberapa wilayah tertentu masih suka rusuh kecil-kecilan. Masih suka ada ledakan bom iseng-iseng. Duh, iseng-iseng kok ledakin bom? :'(.
PIRA terkikis tapi warisannya itu lho … metode baru menebar teror via penyerangan fisik/peledakan bom di area sipil :'(. Taktik ini menginspirasi banyak pergerakan/pemberontakan di dunia :(.
 
Suami saya bilang, ide teror bom di kawasan sipil ini awalnya ya dari PIRA ini. Saya belum bisa menemukan data yang lebih dulu soal teror bom di kawasan sipil sebelum era PIRA. Apa benar, ya?
 
Lots of things we can learn.
 
Terutama sensitifnya isu agama ini. Sekarang sih kayaknya sudah hampir tidak ada lagi sumbu pendek antara Protestan dan Katolik. Di sini sendiri ya damai-damai saja so far alhamdulillah :). Apalagi saya di kota kecil. Rasanya belum pernah mendapat teror aneh-aneh terkait selembar kain yang selalu melingkar di kepala saya kalau saya lagi berada di luar apartemen.
 
Ada juga saya pernah disangka orang Gipsi, pengungsi dari Rumania yang kebanyakan jadi tukang minta-minta di banyak negara Eropa yang maju hihihihi. Dikasih duit booooo, sayang cuma 1 euro 50 sen :p. Hadeeeeeh,, hahahahaha :p.
 
Dulu pun di Masjidil Haram, oleh seorang jemaah Indoonesia, anak sulung saya dikasih duit 10 riyal, saya disangka TKW hahahahaha. Anak saya disuruh belajar yang rajin katanya biar pengorbanan saya katanya tidak sia-sia. Onde mandeeeee, banyakan fesbukan seharian di rumah kok dibilang berkorban sih hahahahahaha :p.
 
Masa ya, kece begini selalu disangka orang miskin, sih? *nangis*.
 
Berakhirnya tegangan tinggi antara Protestan dan Katolik ternyata diikuti oleh makin runcingnya pertikaian internal antara Sunni dan Syiah dalam Islam, ya? :(.
 
Sebenarnya pemicu awal pertikaian itu SEMUA diawali dengan masalah yang sifatnya sekuler. Enggak jauh-jauh dari perebutan tanah atau wilayah atau kekuasaan atau lebih kekinian di Timur Tengah, merebut pasar minyak :p. Apalagi goncangnya harga minyak membuat kondisi di sana kejang-kejang. Ya gimana, dominasi penghasilan rata-rata dari minyak. Manalagi sudah biasa hidup “hedon-hedon” :p. Makin pusing pala para Abu dan Ummu :D.
 
Kejang-kejangnya ini yang menular ke mana-mana. Dan bumbu agama untuk kesekian kalinya dimanfaatkan untuk menambah romansa pertikaian. Semangat jihad dikobarkan salah satu tujuannya untuk membentuk militansi, sih, ya.
 
Yang “atas-atas” memang nyari duit dan kekuasaan. Tapi mereka perlu serdadu-serdadu yang bisa dimanfaatkan militansinya tanpa perlu keluar uang banyak. Candu apalagi yang paling tepat selain candu agama?
 
PIRA/IRA kan berjuang untuk pembebasan Irlandia. Persoalan agama hanya pelengkap yang justru membuat masalah makin sulit diurai.
 
Palestina? Ya masalah tanah juga. Sudah berhamburan berita bahwa di Palestina itu sebenarnya ada penganut agama lain selain muslim. Demikian pula pemerintahan Israel itu sebenarnya sekuler, tidak mewakilli kepercayaan Yahudi.
 
Tapi yah, kalau sudah urusan Palestina, perdebatannya ujung-ujungnya bahas orang kafir, surga dan neraka. Padahal di belahan dunia lain, banyak kalangan masyarakat yang mati-matian mengutuk Israel. Tapi buat mereka yang sudah “kecanduan”, Palestina ya jihad agama! Terkutuklah kau Yahudi dan Nasrani. Lah jangan-jangan petinggi-petinggi Israel atheis semua hahahahaha :p.
 
Pokoknya kalau sudah bawa-bawa Tuhan, repot ya :(.
Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org
 
Susah kan mau minta konfirmasinya gimana. Enggak bisa kita confirm langsung, “Tuhan, jadi yang benar yang mana nih? Dia apa saya?” Lah masing-masing merasa perwakilan Tuhan :p. Mengkritisi mereka berarti mengkritisi Tuhan, onde mande banget kan? :D.
 
Tapi teman-teman muslimku, saya percaya mayoritas kita sebenarnya BUKAN orang-orang yang sakaw yang menganggap keislaman kita adalah seberapa keras kita mengutuk (bahkan membunuh) orang lain di luar Islam. Saya yakin deh, yang error-error itu cuma sedikit.
 
Problemnya, mereka sedikit tapi BERISIK. Terlalu BISING. Suara mereka yang terlampau kencang ini yang membuat orang-orang di luar Islam merasa bahwa sesungguhnya merekalah perwakilan Islam yang “benar”.
 
Saya kutip nih satu komentar di sebuah video yang membahas soal fanatisme kekerasan dalam Islam, “…kalau umat Islam mengklaim yang suka meneror dengan kekerasan hanya orang-orang tertentu yang ekstrimis lalu mengapa tak ada yang lantang menentangnya? Sisanya kok diam saja? Their silence is deafening.”
 
Kata “mereka”, diamnya kita justru bukti bahwa jangan-jangan kita mengiyakan? Padahal mungkin kita malas saja dituduh LIBERAL kan, kan, kan? Hahhaahahaha.
 
Banyak teman saya mengaku menghindari mengomentari hal-hal seperti ini karena ujung-ujungnya bisa berdebat tiada ujung.
 
Alasan sebagian teman, “Lo sih enak, emang lo doyan berantem! Lah kita yang pengin nyari resep doang di Facebook ya ogahlah ngurusin gituan.” Hahahahaha :p. Husss, eike juga rajin nyatet-nyatetin resep di Facebook kali aaaaahhh ;).
 
Tapi kita mungkin sudah berada di masa di mana DIAM tidaklah cukup :).
 
“Our lives begin to end the day we become silent about things that matter.” -Marthin Luther King Jr-
 
Kecuali…tentu saja, kalian diam karena dalam hati memang sepakat. Atau buat kalian, ini bukan perkara yang penting. 
 
Think about it. Please <3. 
Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com
 
***
 
 
 
 
 

People We Haven’t Met Yet (7)

Sebelum baca yang ini, tengok yang bagian 6-nya dulu ya di sini biar enggak kejang-kejang duluan hahahaha.

***

Saya mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini di puncak musim panas tahun 2009. Namun, sisa-sisa musim dingin masih menyajikan pemandangan salju di puncak-puncak perbukitan yang mengelilingi Kota Teheran.

Waktu itu, Mbak kita yang satu ini masih bercita-cita melihat salju. Jadi, dari balik kaca besar yang memenuhi seluruh dinding ruang tengah apartemen, saya kerjaannya liatin salju melulu hahaha.

Pertama kali saya tahu kalau ternyata di Timur Tengah pun ada salju.

Gambar : theiranproject.com
Snow in Tehran, gambar : theiranproject.com

Walau kotanya tua dan minim bangunan mewah nan tinggi, bersihnya jangan ditanya. Dibanding Kota Athlone ini pun, Teheran masih juara rasanya.

Konon, “Kalau ada 10 perempuan Iran lagi jalan bareng, 9 diantaranya pasti cantik.” Itu ilustrasi yang pas untuk menggambarkan betapa kece-kecenya cewek-cewek Persia hehehehe. Emang cantik ya boooo, untung cepet-cepet nyusul suami nih hahahaha :p.

Perempuan di Iran juga wajib berpakaian tertutup tapi modelnya lebih ‘bebas’. Tidak harus ber-abaya, seperti misalnya di Arab Saudi. Yang penting bajunya longgar dan menutupi area paha, di atas lutut sedikit boleh. Celana panjang enggak masalah. Tapi namanya perempuan, banyak juga yang bandel hehehe.

Di Saudi juga sama. Ada lho model abaya ketat melekat gitu ;).

Soal tutup rambut, di Iran masih boleh kerudung-an yang jambulnya kelihatan sedikit hihihi. Di beberapa tempat umum, ada semacam “polisi Syariah” yang berjaga-jaga, menegur perempuan yang bajunya agak “melenceng”. Tapi tenang saja, biasanya mereka enggak rewel ke orang asing.

Soal warna baju juga mirip dengan Saudi. Sebisa mungkin di Iran berpakaian hitam-hitam, tapi dalam praktiknya yang warna-warni juga banyak. Bukan hitam pun, mayoritas warna gelap sih.

Tidak sedikit perempuan di Teheran suka dandan menor-menor. Ampun dah, lipstiknya merah membara dengan blush on tebel-tebel :p. Belum lagi poni disasak tinggi-tinggi pakai anting-anting gede karena kerudungnya enggak nutup kuping. Tapi yang pakai chador (baju perempuan khas Iran), baju hitam panjang mirip abaya tapi jauh lebih longgar, juga banyak.

Gambar : touchIran.com, news.bbc.co.uk, reuters.com
Gambar : touchIran.com, news.bbc.co.uk, reuters.com

Kalau di Saudi perempuan enggak boleh nyetir, di Teheran, embak-embaknya kalau nyetir gila-gila, Ceu! Hahahahhaha. Ngeri aja kalau mau menyeberang jalan di perempatan Vanak Street.

Saya suka jajan kue-kue manis di seberang jalan di area Vanak Street. Awalnya saya bingung gimana cara menyeberangnya. Lampu merah saja suka diterabas di Teheran -_-. Saya dinasihati oleh salah seorang lokal sana.

Katanya, kalau mau menyeberang, enggak usah lihat kiri kanan, jalan saja maju, nanti mobilnya berhenti sendiri. Ajegile! Horor amat! Hahaha. Kalau telat menginjak rem gimana? *ngelapJidat*. Makanya, saya kalau mau menyeberang tunggu ramai dulu. Lalu, saya ngintilin di samping orang-orang yang sama-sama mau menyeberang jalan hihihi :p.

Hal lain soal budaya ke-perempuan-an di Iran adalah soal dukungan terhadap ibu bekerja. Separasi ruang publik untuk laki-laki dan perempuan juga terasa banget di Iran. Bedanya, Iran punya transportasi publik yang lumayan bagus ;). Gak mesti ke mana-mana naik mobil sendiri walau pun Iran juga raja minyak, lho. Di Iran, harga BBM juga terbilang murah.

Separasi laki-laki dan perempuan di Iran itu sifatnya woman only vs Family. Jadi perempuan boleh bepergian tanpa kerabat laki-laki tanpa perlu umpel-umpelan di bus atau di subway/metro. Bujang-bujang yang pergi bareng tanpa perempuan silakan masuk gerbong/area untuk Family.

Tehran Subway Station (Gambar : wikimedia.org)
Tehran Subway Station (Gambar : wikimedia.org)

Kalau di Saudi, separasinya … single vs Family. Single ditujukan buat bujang laki-laki. Perempuan yang bepergian tanpa laki-laki (which is legally enggak boleh di Saudi) silakan gabung di area Family.

Waktu di Iran, anak saya baru satu, si sulung yang usianya sekitar satu tahun .Karena dia anaknya grasak grusuk tingkat tinggi dan menikmati berada di keramaian jadilah saya masukkan ke daycare. Buat nyari teman saja. Karena bingung di apartemen mau main sama tetangga yang mana hehehe.

Di daycarenya ya saya temenin saja. Yang penting dia ketemu teman-teman baru. Benar saja, hari pertama dia sudah melesat bak anak panah dari gendongan saya hihhi. Sama sekali tidak canggung, menghampiri anak-anak Persia dan ikut main bola bareng :D. Saya juga senang dapat teman ngerumpi hahahaha :p.

Saya mengobrol dengan ibu pemilik daycare. Saya terus terang kurang suka karena beliau terkesan meremehkan saya, “Kamu anak baru satu kok enggak kerja saja? Ngapain saja tuh di rumah? Padahal bisa bahasa Inggris. Masa enggak mau kerja?”

Inginnya sih nyolot balik, “Gimana ya Bu, enakan ngupil di rumah, hambur-hamburin gaji suami. Gaji suami saya gede, lho!” Hahahahaha. Becanda :p.

Nyatanya, pemikiran model begini bukan hanya di Iran saja.

Dari pengalaman saya, baik perempuan Iran maupun perempuan Mesir dan perempuan Saudi, yang pernah berkomunikasi langsung dengan saya, yang lebih sering mencecar, “Kok lulus kuliah malah enggak kerja? Tuh, bisa bahasa Inggris, kok di rumah saja?”

Apa mungkin karena stigma mereka tentang kondisi negara Asia Tenggara ya? Dikiranya kita datang ke Timur Tengah buat ngemis ke mereka hehehe. Disangka Indonesia semiskin apa :p.

Kalau perempuan Saudi mungkin lebih bisa saya maklumi karena mereka memang terbatas akses pendidikannya. Ya malas aja, wong lahan pekerjaan masih mendiskriminasikan mereka. Tekanan sosial terhadap perempuan bekerja masih tinggi.

Nah, Iran sama Mesir lebih norak! :p. Dikiranya mungkin perempuan berpendidikan tinggi masih jarang di Indonesia. Makanya, bagus juga kalau Indonesia itu jangan kebanyakan mengirim TKW informal. Kasihan nih, kita-kita yang dituduh perempuan pemalas hanya gara-gara enggak ikutan nyari duit secara “formal” hahahaha.

Buat kita orang Indonesia, walau memang perselisihan antara ibu di rumah vs ibu bekerja masih ramai, tapi ya tidak terlalu aneh rasanya ada ibu di rumah yang sekaligus lulusan perguruan tinggi ternama dan punya skill formal mumpuni yang milih ngupil-ngupil di rumah aja pas suami di kantor dan anak-anak di sekolah kan? Hahaha :p.

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

Hal unik lainnya di Teheran adalah hobi pasangan muda mudi mojok di banyak sudut taman kota yang memang dibangun secara serius di banyak wilayah Teheran. Di area taman yang sepi, sering lho mendapati semak bergerak-gerak yang pas dilewatin, ternyata ada sepasang pria dan wanita muda lagi duduk lengket-lengketan hahahahaha.

Iran juga ketat soal hubungan laki-laki dan perempuan di tempat publik. Kegiatan selevel pacaran ya mana boleh. Pengawasan juga lumayan ketat dengan wara wirinya “polisi Syariah” di banyak tempat umum.

Tapi ya mau sebanyak apa sih menyebar polisi Syariah kalau kesadaran itu dibentuk atas dasar paksaan dan kekangan ;). Anak muda yang pada dasarnya hobi main api ya nemu aja celah-celah semak buat sekadar ngobrol berdua, duduk empet-empetan *ihiiiiyyyy*. Mana taman-taman di sana memang segede-gede gaban.

Lupakan dulu yang lagi indehoy, karena taman cantik model begini adalah anugerah bagi keluarga Gober yang kikir ini hahahaha. Enggak pusing mau cari cara nyenengin anak. Ajak saja ke taman, Sudah lengkap dengan kebun binatang mini, bunga-bunga dan tetumbuhan yang dirawat serius tumbuh subur di berbagai sudut, plus taman bermain gratis yang dilengkapi aneka rupa mainan buat anak-anak ^_^.

Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)
Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

Konon, taman-taman cantik itu termasuk hasil kerja keras mantan Pak Walikota yang sukses melaju menjadi Presiden hingga 2 periode. Waduh, jangan-jangan … ah enggak ah, nanti kaum cebong kesenengan hahahaha :p.

Secara yaaaa, Teheran modelnya mirip kota-kota di Eropa pada umumnya. Jarang ada mal gede-gede. Jadi, hiburannya banyakan outdoor.

Sekarang bahas laki-lakinya. Saya suka geli kalau melihat laki-laki jalan bareng sambil pegang-pegangan tangan dan rangkul-rangkulan hihihi. Itu bukan kebiasaan umum di budaya Indonesia kita kan ya?

Hubungan antar laki-laki di Teheran memang terbilang “mesra”. Ketemu saja bisa cipika cipiki dengan heboh. Ternyata, kebiasaan itu bukan hanya milik kaum Persia, orang-orang Arab juga begitu ternyata. Malah menurut suami saya, India dan Pakistan juga tidak masalah laki-laki saling bersentuhan atau pegangan tangan kalau jalan bareng. Penasaran saja, apa lagi-lagi ini karena budaya patriarki tadi kah? HIhihihi. Sotoy! :p.

Atau karena di wilayah-wilayah ini, percampuran antara perempuan dan laki-laki masih dianggap “tabu” jadi aja mereka jadi lebih dekat dengan sesama laki-laki? Hihihi.

Taman Mellat di Teheran Iran
Taman Mellat di Teheran (gambar : en. wikipedia.org)

Yang jelas, bukan karena faktor agama! Karena India kan mayoritasnya Hindu. Dan di sana tuh, kondisi “keamanan” untuk kaum perempuan di tempat umum masih memprihatinkan :(.

Kesulitan bahasa menjadi salah satu kendala terberat tinggal di Teheran. Walau sama-sama menggunakan huruf hijaiyah, bahasa resmi Iran adalah Bahasa Farsi, bukan Bahasa Arab. Bedanya lagi, bahasa Farsi mengenal huruf P, bentuknya seperti huruf Ba, tapi titiknya ada tiga di bawah.

Iran tidak terlalu terbuka pada para pendatang. Makanya, pendatang di Teheran tuh mudah mencuri perhatian. Sebelnya, cukup sulit menemukan orang lokal yang bisa berbahasa Inggris. Saya pernah membeli pizza di sebuah warung lokal hanya modal bahasa isyarat dan tunjuk-tunjuk menu hahahahaha. Nama warungnya justru lucu, sok-sok bule dengan memajang plang bertuliskan “UFO Pizza”, zzzzz -_-.

Jangan harap ketemu gerai-gerai standar macam KFC, McD dan Pizza Hut di Teheran. Gak ada! Mereka punya sih ayam goreng sejenis KFC atau McD tapi merek lokal. Enak juga sih. Coca Cola juga tidak ada. Tapi minuman sejenis banyak bikinan lokal.

Kendaraan yang lalu lalang di jalan juga banyak merek lokal. Iran lumayan juga. Kena embargo malah jadi lebih mandiri hehehe. Nah, kalau di Jeddah, senang cuci mata lihat mobil mewah lalu lalang di jalanan. Warna-warnanya gonjreng dan atraktif :D. Di Teheran, mobilnya dekil-dekil dan seperti mobil tua. Sama kayak di Irlandia hahaha :p.

Soal duit juga ribet di Iran. Di sana, ATM-nya tidak bisa menggunakan kartu jenis Visa atau Mastercard. Pendatang juga tidak leluasa buka rekening lokal. Suami saya gajiannya seru banget. Jadi berbaris gitu terus dibagiin amplop satu persatu, hahahahaha. Semua pekerja asing kayak gitu, level formal sekali pun :p.

Kontrak kerja pakai USD tapi terimanya dalam bentuk Euro. Jadi, nominal gaji berubah-ubah tergantung kurs Euro terhadap USD. Transfernya juga ribet. Tapi sebenarnya dalam peredaran sehari-hari, USD juga tetap boleh digunakan.

Urusan public service, orang Persia juga mirip dengan orang Arab, enggak ada ramah-ramahnya huhuhu. Malah Teheran parah karena ada kendala bahasa. Sempat butuh ke rumah sakit karena anak saya kena sakit mata. Sampai minta tolong ke KBRI buat ditemenin daftar di klinik hihihi.

Dokternya sih ramah ^_^. Surprisingly, harga obat juga murah banget di Iran. Tapi di Iran ini tapi mayoritas harga mahal-mahal. Yang terbilang murah hanya beberapa kebutuhan pokok. Misalnya roti, gandum, susu, tepung, dan itu tadi…obat :D. Sisanya sih, bikin pijet-pijet kening, deh hehe.

Soal kehidupan sosial, Saudi jelas lebih homogen. Karena di Teheran ya bebas-bebas saja berdiri rumah ibadah non Islam. Kalau di Saudi kan tidak boleh, ya. Hanya boleh ada masjid hehehe.

Sinagog juga ada di Teheran. Rabi-rabi yang pakai topi kecil khas Yahudi juga rasanya pernah papasan. Pemerintah Iran, wewotnya sepertinya hanya kepada pemerintahan Israel dkk :D. Ya enggak jauh-jauh dari urusan minyak dan duit lah :p.

Soal Sunni-Syiah waktu itu belum terlalu terasa sih. Jadi saya juga enggak terlalu merhatiin. Yang jelas, kalau shalat Jumat, suami saya shalatnya di gedung KBRI bukan di masjid umum. Mereka shalat jumat di lapangan tertentu saja kata suami. Suami juga takut-takut sih memperlihatkan identitas Sunninya hehehe. Walau selama di sana ya memang tidak diapa-apain.

Soal alquran beda ya jelas hoax. Di apartemen umumnya sudah disediakan alquran sama batu kecil something oleh landlord. Batu itu katanya buat sujud. Penganut Syiah sujudnya harus pakai batu/tanah dan semacamnya. Kira-kira begitulah. CMIIW ya.

Alquran-nya normal. Enggak setebal tuduhan orang-orang. Ukuran sama dan pas dibaca-baca ya nama surahnya sama. Saya bukan hafizah sih ya jadi enggak bisa bandingin ayat per ayat :D.

Saya di sana di masa-masa Pilpres sedang berlangsung. Konon, kemenangan Ahmadinejad di periode ke-2 bikin “lawan politik” luar negerinya bete. Jadilah itu ramai-ramai bikin berita hoax soal berita hasil Pemilu di Teheran.

Kota Teheran Iran
Lovely Teheran (gambar : commons.wikimedia.org)

Saya kan jadi bingung. Rasanya di Teheran biasa-biasa saja tapi berita di CNN, BBC, Al Jazeera dkk sudah kayak kerusuhan berdarah-darah. The power of media ya. Kasihan sih dengan kerabat di Indonesia. Ibu mertua ribut nyuruh suami pulang hahahaha.

Padahal masalah yang menjerat kami bukan soal itu. Tapi kena tipu oleh agen yang merekrut suami. Sampai suami overstay dan status tinggalnya terhitung ilegal. Lumayan menguras emosi menghadapi situasi saat itu. Ketambahan lagi kisruh politik jadi bikin tambah stres dah.

Ahmadinejad bisa dibilang Koppig versi Iran hahahaha :p. Beliau kaku dan tidak kenal kompromi. Sebenarnya, di kota-kota besar di Iran seperti Teheran, Ahmadinejad kurang disukai. Apalagi oleh kaum muda di Teheran. Dianggap terlalu konservatif.

Tapi katanya, di kota-kota kecil dan di pedalaman, Ahmadinejad masih didukung penuh oleh mayoritas rakyat saat itu. Wallahu alam lah, gak paham situasi politik. Namanya juga mamak-mamak ya, yang diterawang ya urusan seputar per-daster-an aja hahahaha.

Sayang ya, waktu itu suami belum hobi fotografi dan banyak masalah dengan agen jadi kami gak puas jalan-jalannya. Padahal Persia merupakan salah satu peradaban tertua di dunia. Tidak banyak rekaman gambar untuk bersaksi betapa indahnya Kota Teheran <3. Ya fotonya masih banyakan muka emak dan anak -_-.

Soal pekerjaan, untunglah gaji tetap lancar dibagiin dalam amplop tiap bulan hihihi. Somehow, we managed to get out from there, safe and sound 😀. Dari sanalah, suami akhirnya keterima bekerja di Jeddah. Berakhirlah episode Teheran di awal musim gugur di tahun yang sama :).

Saya rasa sih, Iran sama Arab Saudi banyak samanya daripada bedanya. Bedanya cuma di masalah Sunni-Syiah. Tapi hobi maksanya sama saja hehehe :p. Sama-sama tajir minyak juga jadi mungkin masing-masing merasa berhak menjadi “raja” di Jazirah sana :p.

Enakan jadi orang Jepang kali ya, kekuatan negeri ada di sumber daya manusia ;). Manusia yang seharusnya menjadi kekuatan terbesar sebuah negeri, bukan intan berlian, bukan minyak dan tidak juga hasil non tambang lainnya.

Apa karena itu ya, hikmah mengapa manusia dipilih menjadi khilafah di muka bumi ini? Kita ini khilafahnya, kita ini koordinator yang harusnya mengatur, kok malah diperbudak oleh materi? ;).

***

10 Tulisan di 2015 dengan Pengunjung Terbanyak :D

Weits, postingan mainstream di awal tahun hihihihi :D.

gambar : pixabay.com
gambar : pixabay.com

Kalau dilihat dari 10 postingan ini, 40% nya menjadi milik kategori Traveling-Arab Saudi. Ya ampun berasa blog syariah  begini hihihi. Tapi sebenarnya topiknya umum sih bukan yang gimana-gimana :D.

20% (2 postingan) untuk kategori Food Combining. Sisanya random. Tulisan lama “Every Mom Has Her Own Battle” juga tetap ada di 10 besar tahun ini. Ck ck ck, kalau urusan emak-emak, memang dah, kagak ada matinyeeeee hahahaha :p.

Setelah tahun lalu, postingan “How Islamic are Islamic Countries” menjadi jawara, tahun ini jawaranya postingan Food Combining.

Berikut daftar lengkapnya (nomor urut sesuai peringkat). Biar ala-ala, kita itung mundur dong ya 😀

10-  Saat Ka’bah Hanya Berjarak Satu Jam Saja

Postingan ini di urutan paling buncit 10 besar kita. Tapi ini termasuk performance yang oke. Mengingat tulisan ini baru diposting di akhir Agustus 2015. Jadi, lumayan lah bisa nyodok di 10 besar :p.

9- Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada?

Ini bukan tulisan tahun 2015. Tapi hitsnya dihitung dari yang tahun 2015 aja lho. Memang sempat ke-share oleh banyak orang waktu saya posting ulang di akun FB saya beberapa bulan lalu. Saya tidak merasa tulisannya kontroversi lho, ya. Setidaknya itu harapan saya. Walau sepertinya yang punya pemahaman beda juga ada.

Padang Bahrah Arab Saudi foto Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Oh well, we’re only responsible for what we write, not for what they understand, yes? ^_^.

8- e-Hate, Bisnis Baru yang Menjanjikan?

Artikel ini pun ditulis dan dipublikasikannya bukan di tahun 2015. Tepatnya, di hampir penghujung 2014. Tapi kondisi 2015 masih sangat cocok untuk membaca kembali apa isi artikel ini hehehe. Masih alot ini hoax-hoax beredar di mana-mana. It’s ever worse :'(.

Gambar : play.google.com
Gambar : play.google.com

7- Every Mom Has Her Own Battle

Yup, ini dia postingan yang sebenarnya ditulis di tahun 2012, tapi hits tahun 2015-nya tetap berjaya di 10 besar :D. Tahun 2015 memang banyak perdebatan di dunia maya, masih bergelut di topik yang sama di kalangan ibu-ibu, ibu bekerja vs ibu di rumah!

Salam damai ya, Mamah-mamah di mana pun berada <3.

6- 10 Keuntungan tinggal di Arab Saudi

Di urutan ke-6 kembali tulisan tentang Arab Saudi :D. Dari sisi yang positif dong pastinya ;). Ini sekadar penyeimbang bagi orang-orang yang somehow belum pernah bermukim Saudi tapi nyinyirnya ampun-ampunan. Menggambarkan Saudi sudah kayak tinggal di neraka hahaha.

On the other hand ada juga orang-orang yang juga belum pernah tinggal di Saudi tapi menggambarkan Saudi nampak bagi surga dunia hihihi :p.

Women in Saudi (gambar : theguardian.com)
Women in Saudi (gambar : theguardian.com)

5- Food Combining How to Start 

Topik Food Combining di urutan ke-5 ini :D. Mudah-mudahan ini berarti kesadaran tentang pola makan pelan-pelan mulai jadi tren, ya. Tren yang positif  pastinya ;).

4- Ngabuburit ala Orang Arab

Tulisannya saya buat pas bulan puasa tahun ini. Tulisan baru juga tapi hitsnya bisa nyodok :D. Ini mungkin juga karena tulisan ini saya kirimkan ke Citizen6 di Liputan6 :D. Jadinya menuai banyak hits dari Liputan6 juga.

Sedikit komentar kontroversi saya baca-baca di fanpage nya Liputan6 hehehe. Hm, rasanya tulisan saya sih tidak negatif, ya. Coba dibaca deh, bagaimana menurut kalian? ^_^.

3- Di mana Membeli Abaya Arab?

Tulisan lama ini sepertinya konsisten menggaet pengunjung karena efek SEO hehehe. Termasuk kata kunci yang banyak dicari pembaca :D. Maklum nih, urusan belanja belanji emang selalu warbyasak deh *tepukTangan*.

Saya bukan tukang belanja sih hahaha. Ini info di tulisan saya dapatkan dari 2 sahabat saya yang masih tingal di Jeddah sampai sekarang, Bunda Ismiyati Afni dan Eneng Niera Purnama. Ciyum dulu buat dua-duanya, mmhhuuaahhh…

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

2- Syarat Pengiriman Cerpen ke Kartini dan Femina

Nah, ini juga postingan ala-ala SEO hihihi. Sebagian besar pengunjung saya yakin karena digeret dari mesin pencari di internet. Ah, tulisan ini mengingatkan betapa 2 tahun terakhir ini saya benar-benar hampir tidak pernah menulis cerpen-cerpen lagi. Padahal passion saya masih cukup besar untuk menulis fiksi :'(.

Kebanyakan fesbukan sih loooooo *toyorKepalaSendiri. 2016 more fiksi? Ah, takut bikin resolusi ginian lagi ah hahahahahaha :p.

Namanya Aryana, Femina no.24 (2)

1- Solusi Hidup Sehat ala Food Combining

Bisa dibilang tulisan ini adalah tulisan terpanjang di blog ini hahaha. Sebanyak lebih dari 3 ribu kata :D. Ya sambil sharing sambil curhat, sih. Makanya bisa berendeng gitu isinya hehehe.

Tulisan ini sejak dipublish tahu 2013 silam memang sering jadi nomor satu dari tahun ke tahun. Eh, kecuali tahun 2014 deng, 2014 menjadi milik “How Islamic are Islamic Countries?”

Gambar : yucp.net
Gambar : yucp.net

Akhir kata, terima kasih ya teman-teman yang sudah bersedia meluangkan waktu mengklik :p (dan mudah-mudahan abis diklik dibaca juga hehehe) postingan-postingan dalam blog saya ini ^_^. Ini soalnya yang keitung jumlah kliknya :p.

Demikianlah 10 tulisan di 2015 dengan jumlah pengunjung terbanyak.

Semoga di tahun ini bisa terus menulis lebih banyak lagi. Kuantitas nambah seiring dengan kualitasnya juga, aamiin <3.

Bring it on, 2016 !! ^_^