Hari raya Idul Adha : Part of Loving People

Hari raya Idul Adha : Qurban, secara literal berasal dari kata qarib, qaroba, yaqrabu yang artinya DEKAT.

Perhatikan kata “qarib”. Famliar dengan istilah karib kan ya dalam bahasa Indonesia. Nah itu, tidak sedikit kata-kata dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab 🙂. Teman karib, teman dekat.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

ata lain juga banyak yang diserap “mentah-mentah” hanya ganti satu huruf juga misalnya atau nyaris terdengar sama. Seperti : kalbu (qalbu, kalau kalbun beda arti lho ya hehehe), mahkamah, madrasah dsb.

Kata lain dari Qurban adalah Udhiyyah atau dhahiyyah yang artinya hewan sembelihan.

Tapi kata “korban” pun konon diturunkan dari kata Qurban ini. Mungkin karena Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban mengenalkan kita pada prosesi ber-qurban yang secara makna bisa berarti –> memotong hewan sembelihan yang kita korbankan dari sebagian harta kita untuk menDEKATkan diri pada Tuhan.

Dalam ajaran Yudaisme, qurban dikenal dengan istilah Karov yang juga berarti “mendekat”. Jadi, maknanya kira-kira sama lah ya.

Tidak heran ada persamaan dalam hal ini karena asal muasal dari Hari Raya Idul Adha / Qurban adalah kisah Nabi Ibrahim yang dianggap sebagai “Bapak/Nabi” dari 3 agama Samawi di dunia. Kisahnya sendiri sudah banyak di internet dong ya jadi gak perlulah ditulis ulang di sindang 😀.

hari raya idul adha
Gambar : pixabay.com

Pendekatan diri kepada Tuhan dalam prosesi qurban tidak hanya terkait dimensi individu. Karena hasil sembelihan tadi hendaknya jangan di-sate sendiri di rumah yaaaaaaa :p, tapi sebagian untuk dibagi-bagikan kepada kaum fakir dan untuk kerabat/tetangga sebagai penyambung tali silaturahmi atau untuk sedekah. Ada dimensi sosial di dalamnya.

CMIIW ya, setahu saya ya ada pendapat yang membolehkan jika daging qurban disate eh dimakan sendiri secara pribadi. Ibadah ini sendiri sifatnya sunnah bukan wajib.

Jadi hewan qurban itu ya bukan untuk Tuhan. Kita berqurban atau tidak ya tidak ada pengaruhnya sama sekali untuk Yang Maha Pengasih.

Manfaatnya akan selalu kembali ke kita sendiri. Begitu pula sebaiknya. Mudharat dari perbuatan buruk pada akhirnya akan berbalik kepada diri sendiri. Pasti itu 😉. Hanya prosesnya saja yang mungkin tidak terlalu kasat mata.

Saya jadi ingat nih ceramah Surah Al Fatihah dari Bapak Quraish Shihab. Tentang perbedaan antara rahmat dari Tuhan vs rahmat dari sesama manusia.

Tuhan tidak punya kepentingan apa-apa terhadap kita. Mau situ potong satu juta ekor sapi pun, Tuhan tidak akan loncat kegirangan. Bahkan jika seluruh dunia pada akhirnya pada mogok qurban berjamaah ya juga tidak ada pengaruh.

Sebaliknya, kita sebagai manusia, contohnya begini. Saat kita melihat pengemis yang kehidupannya sangat memprihatinkan, ada rasa perih tidak dalam hati kita? Kalau normal harusnya ada :p.

Dari rasa perih itu mungkin kita akhirnya memberikan sedikit pertolongan atau bersedekah buat pengemis atau orang sakit atau siapa pun yang membutuhkan bantuan.

Adakah terselip sedikit saja kepentingan kita dalam hal ini? Ada! Minimal sedikit menurut Imam Gazali. Sedikitnya kita ingin sekadar membebaskan diri dari perasaan bersalah akibat rasa perih tadi.

Rasa perih itu yang mendorong kita memberi bantuan.

Itulah mengapa kasih sayang Tuhan jauuuuuuh di atas kemampuan makhluk lainnya. Yang saya yakini, sifat Pengasih dan Penyayang itulah yang memberi ruh sosial yang sangat kuat kepada agama Islam 🙂.

Itulah mungkin mengapa “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang” menjadi ayat pembuka di hampir semua surah dalam alquran. Untuk mengingatkan kita akan kemuliaan Tuhan dan betapa kita ingin melakukan semua hal hanya untuk Tuhan yang Maha Pemurah.

Betapa kita harus selalu mengingat semua kasih sayangnya yang tanpa batas tanpa pamrih yang kemudian berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari meski mustahil untuk sempurna.

Termasuk kepada lingkungan dan makhluk lain. Jangan dikira proses qurban terhadap hewan sembelihan itu ngasal-ngasal aja lho 😉. Ada ilmunya itu 🙂.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kesimpulan dari ceramah beliau yang tadi itu, “Tinggi tidaknya tingkat keberAGAMAan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana manusia mampu memberikan nilai kesejukan bagi sesama ciptaan Allah.”

Semoga semakin hari, kita bisa terus berproses mewujudkan umat muslim sebagai “rahmatan lil aalamiin”, rahmat bagi seluruh umat manusia.

Termasuk kedewasaan kita menghadapi berbagai perbedaan 😉. Di dunia nyata, apalagi di dunia maya hahahaha 😀.

“I guess that’s just part of loving people: You have to give things up. Sometimes you even have to give them up.”
― Lauren Oliver, Delirium

Jangan dikekepin sendiri dagingnya yaowww, bagi-bagilah kepada teman/saudara/kerabat/orang lain yang membutuhkan 🙂.

Saya mah enggak akan lah minta sate atau sambal goreng pun rendang, cuma anu… minta like-nya aja dong teman-teman kalau berkenan di fanpage Facebook saya di –> The Davincka Code #eaaa.

Hadeeeh, hari raya Idul Adha ya jualan jalan terus dong ya hahahaha :p.

Semoga daging qurban yang didapatkan bisa memberi berkah seluas-luasnya baik kepada si empunya qurban maupun kepada pihak yang menerima. Aamiin ya rabbal aalamiin.

Selamat hari raya Idul Adha buat teman-teman yang merayakan <3.

Film Uang Panai’ : You Can’t Hurry Love, No, You Just Have to … Pay!

Sudah pada nonton film Uang Panai’ ? 😀

“Ko kira gampang menikah, di manako ambil Uang Panai’?” (Situ kira gampang mau nikah? Dari maneeeeee dapat Uang Panai -nya?”)

“Ballasa’ Anca’. Rompa na mamo cintayya…” (Ribet deh si Anca. Rempong bener deh yang namanya cinta).

Siapa yang sudah menonton film “Uang Panai”? Hihihihi. Jangan khawatir buat yang non-Sulsel, ada ji tauwa subtitlenya hahahaha.

Film Uang Panai

Produser film ini teman SMA saya lho. Ketua kelas pas kelas 1. Jangankan kenal secara personal, semua kisah cinta SMA nya juga saya bisa bongkar nih sekarang juga hahahaha.

Ish, malah gosipin produser filmya hihihi. Pa gosip memang tong :p.

Uang Panai’ ini istilah khas dalam salah satu prosesi pra-pernikahan di Sulawesi Selatan. Saya kurang tahu apakah semua suku di Sulsel menerapkan prosesi Uang Panai’ ini. Yang jelas suku Makassar dan Bugis, yang merupakan mayoritas suku di sana, sangat paham tentang itung-itungan Uang Panai’ ini hihihihi.

Uang Panai’ ini beda lagi lho dengan mahar pernikahan. Karena Uang Panai’ ini harus dibayar sebelum akad nikah. Tapi konon, belakangan boleh nyicil sesuai kesepakatan di awal. Ini mau nikah atau mau nyicil KPR coba yaaaaaa hahahaha.

Sering disamakan dengan mahar karena “yang dibeli” adalah pihak perempuan.

Film Uang Panai
Gambar : pixabay.com

Saya sendiri menikah dengan pria asli Minang asal Bukittinggi.

Tapi kebetulan mertua saya juga perantau abisssss. Belum sebulan setelah akad nikah, ibu mertua sudah diboyong ke Gorontalo. Setelah 10 tahun lalu lalang di Gorontalo-Manado-Bitung, hengkang ke Jawa. Memulai 14 tahun petualangan selanjutnya di Muntilan-Pamekasan-Nganjuk.

Lucunya, adat Minang kan juga ada istilah “membeli laki-laki”. Jadi terbalik dengan orang Bugis yang merupakan suku asal saya, ya, hehehe. Tapi hanya daerah Pariaman yang mengenal setoran model begini :p, kalau tidak salah namanya “Uang Jemputan”.

Entahlah macam mana penerapannya.

Sempat sih saya dan suami eh calon suami deng dulu :p, becanda-becanda,

Saya, “Orang Bugis tuh kalau dilamar kudu setoran ya booo.”

Apalagi kalau lulusan S1. UI pula. Fakultasnya yang kata 1 banding 100 ya Kakaaaaa hahahaha. Coba itu yel-yelnya masih valid gak? :p.

Suami saya membalas, “Ada juga gue yang kudu dibeli.”

Waktu itu saya belum tahu kalau adat “Uang Jemputan” ternyata buat orang Pariaman doang, tidak dikenal dalam adat Bukittinggi. Sialan dah! -_-

Jadi ceritanya, kita impas dong ya hahahaha. Uang Panai’ = Uang Jemputan. LUNAS! :p.

Lamaran saja kita santai bagai di pantai cuma calon mertua datang ke rumah om saya di mana ibu saya juga saya hadirkan di sana. Udah gitu doang. Minum teh sama ngemil-ngemil doang :p.

Enggak pakai prosesi Uang Panai’ sama sekali.

Film Uang Panai
Akad nikah dengan baju bodo, adat Sulawesi Selatan 🙂

Ada juga waktu saya bikin lelucon soal Uang Panai di depan Mama saya, “Eh, disuruh bayar berapa nih, Mam?”

Emak eike malah melotot, “Ayyaseng! Makanja’ motu engka tauwe me pubeneko. Makanja’ topa ana’na, madeceng ambo’na indo’na!”

Eike pun yang kena semprot! Hahahahha.

Artinya kira-kira gini, “Ngomong apaan sih! Masih mending ada yang ngelamar. Anak baik-baik. Dari keluarga baik-baik pula.”

Padahal becanda jugak, sensi bener emak gue hahaha. Takut anaknya bakal jadi perawan tua. Pede dikit dong Mam, punya anak gadis cihuy begini packaging komplit kok bisa galau siiiiih #eaaaaaa#UdahLamaGakBenerinPoni

Uang Panai’ setahu saya bagian dari adat dulu-dulu. Tapi konon sampai sekarang, masih ada saja yang rewel soal beginian. Apalagi kalau kebetulan yang menikah berasal dari keluarga bangsawan. Maklum ya, kita mah rakyat jelata, nyari suami pun kudu merantau ke pulau seberang! Hahahaha #benerinKoper

Makin tinggi pendidikan si perempuan, makin tinggi pula “label harga”nya. Jadi seperti barang saja 🙁. Seperti salah satu curhat embaknya di film Uang Panai’ ini, “Yang dikasih harga itu saya! Pakai price tag.”

Tingginya Uang Panai’ juga punya efek sosial 🙂. Baik untuk keluarga perempuan, “Ish, mahal dong anak kite dibelinya.” JUga untuk keluarga laki-laki yang melamar, “Yoih dong, kita punya banyak duit buat bayarin.”

Ya kalau kita mah yang nikahnya “gratisan” entah dianggap apa ya kalau pakai adat begituan hihihihi.

Jihan Davincka Anniversary Note
Adat Minang

Anyway ada juga yang menganggap bahwa Uang Panai’ ini sebenarnya untuk si calon pengantin perempuan. Bukan buat keluarganya :p. Kalau pada praktiknya sih seringnya duitnya ya buat keluarga perempuannya 😀.

Uang Panai’ dipandang sebagai “perlindungan” kepada masa depan si perempuan. Semacam jaminan bahwa dia akan diperlakukan dengan layak dan kalau ada apa-apa pan tinggal korek Uang Panai’ aja gitu kali ya hihihi.

Oh well, we’ve been in this thing called marriage for years. Does it really matter?

Rasanya, berapa pun Uang Panai’, atau semegah apa pun resepsi pernikahan kita, bahkan jika dalam pesta itu ada banyak sekali tamu VIP yang bikin tamu-tamu gempar, karangan bunga yang sampai melimpah ruah ke gerbang gedung, in the end … hanya akan ada kita berdua di dalamnya 🙂.

Apa pun keputusan penting dan pilihan-pilihan yang KITA BERDUA BUAT SETELAH akad nikah itu terlaksana yang kelak akan menentukan apakah “perjalanan” akan terus berlanjut atau mungkin malah membuat kita akhirnya harus turun di stasiun yang terpisah.

Sudah baca tulisan saya yang dulu itu kan ya, cinta itu kata kerja di mana pernikahan butuh kerja keras dari kedua belah pihak hampir di setiap saat, bukan cuma baper-baperan sebatas malam minggu atau pas kencan macam waktu pacaran hihihihi :p.

Baca : “Will You Still Love Me?” 

Marriage is A HUGE THING <3. Seberapa pun lembaran uang yang harus keluar untuk menandai awalnya tidak akan bisa menjamin bakal langgeng apa tidak 😉.

Kenapa malah ceramah serius gene siiiihhh? Hahaha. Pilem drama komedi pun :p.

Pokoknya jangan lupa ya nonton filmnya di bioskop-bioskop di tanah air. Sayang sih, tempat dan waktu tayangnya memang terbatas 🙂. Nonton yuk biar tahu karya-karya anak bangsa dari belahan timur ^_^.

Minimal dari film ini nanti kalian bisa bedakan logat Batak vs logat Makassar lah yaowww. Pusing nih eike sering bener disangka orang Batak dulu hahahaha.

Good luck ya buat Pak Produser dan seluruh tim yang menggawangi film ini. Makassar bisa tonji! <3.

Lihat dulu trailernya di sini 😉

https://www.youtube.com/watch?v=TN-viZjZMd4

 

Tax Amnesty atau Pembetulan SPT?

Topik tax amnesty atau pembetulan SPT ini nih yang bikin kekisruhan di dunia maya. Iyah, di dunia maya ajah. Karena di dunia nyata mah banyak kerjaan boooo hahahaha :p.

Obyek tax amnesty saja masih banyak yang bingung-bingung. Idealnya sih, targetnya adalah PENGHASILAN yang diperkirakan ada di wilayah abu-abu dan BELUM PERNAH DILAPORKAN.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi faktanya banyak yang mempersoalkan soal rumah/aset yang sifatnya ‘final’ seperti rumah tinggal dsb yang selama ini rajin bayar PBB dll. Mereka resah karena belum pernah memasukkannya ke dalam SPT.

Ya kalau ini mah tinggal masukin SPT saja. Istilahnya, perbaikan SPT. Beres. Beres beneran? Ternyata tidak -_-.

Yang membuatnya tambah rumit ya karena ditakut-takuti sama “orang pajak” sendiri. Entah mengapa, beberapa “oknum pajak” malah menasihati orang untuk ikut tax amnesty. Toh katanya cuma denda 2% biar tenang.

Tidak semuanya ya. Ini berdasarkan hasil kepo-kepoin beberapa timeline teman-teman sendiri. Bukannya menenangkan dan menjelaskan, beberapa malah menyarankan ikut tax amnesty. Jadi makin bingung kan hehehe.

Katanya kalau ikut pembetulan SPT bisa dilacak bla bla bla (pokoknya misterius bener dah entah gimana caranya) dan akhirnya dimintai kekuranganpembayaran yang jumlahnya enggak bisa diperkirakan. Jangan-jangan malah lebih besar daripada 2%.

Ya tidak salah juga. Kemungkinan kalangan internal juga punya target khusus. Lumayan pan kalau pada ikut tax amnesty, 2% nya kalau dikumpulin kan gede tuh. Masing-masing punya kepentingan 🙂.

Sementara logika sederhananya, emang punya tenaga dari mana Departemen Pajak mau ngecekin satu persatu pembetulan SPT yang masuk segabruk-gabruk nanti. Coba deh, rasa takutnya disingkirkan dulu. Pakai dulu akal sehatnya 🙂.

Lagian pembetulan SPT mah sudah aturan dari kapan tauk. Kalian saja kali yang baru tahu? 😉

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yang tinggal di luar negeri jangan ikutan drama. Penghasilan yang harus dipertanggungjawabkan hanya penghasilan yang didapatkan di dalam negeri. Yang di Eropa dll pan udah kenyang bayar pajak sana sini nan segabruk-gabruk itu yes? Hahahahaha :p.

Takut dibodoh-bodohi atau ditipu petugas pajak? DONT! Pelajari makanya sebaik mungkin. Kayak negara kita tidak punya hukum aja hehehe. Tidak mungkin ada penetapan pajak berganda. Itu saja dulu yang dijadikan patokan.

Selama ini rajin bayar PBB segala macam hanya sebatas lupa memasukkan ke SPT ya sangat berlebihan kalau ikut-ikutan merasa diteror.

Lain cerita dengan rumah kontrakan dan bisnis lain terkait aset yang kita punya yang selama ini santai saja kitanya, boro-boro bayar pajak, mention di SPT aja enggak hahahahaha :p.

Yang ini juga woles saja. Tinggal ikut tax amnesty saja. Bayar 2%. Jangan lupa lho ya, pajak normalnya itu kalau gak salah sekitar 10%. Tetap untung kaaaaan 😉.

Catat pula, ikutan tax amnesty ini tidak wajib!!!

Masalahnya, bayar pajak ini dianggap hobi sih hahahaha. Jadi, kalau suka ya dikerjakan kalau enggak ya masa bodoh.

Tapi enggak salah dong kalau masyarakat mikir begitu. Trauma berat lah sama Gayus dan sejenisnya. Ngapain bayar pajak kalau hanya untuk dikorupsi?

Kalau mikirnya begitu ya jadinya kayak “Dumb and dumber” aja gak sih 🙂. Koruptor enggak kelar-kelar, rakyat pun ogah bayar pajak. Tapi kalau pemerintahnya suka ngutang, bawelnya juga enggak ketulungan. Jadi gimana dong enaknya nih? ^_^. Negara kita mau dibangun pakai apa?

Pembangunan infrastruktur transportasi merata di  negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)
Pembangunan infrastruktur transportasi merata di negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)

Andai bulu kaki dan bulu ketek seluruh warga bisa dipakai buat bangun jalan dan membangun infrastruktur kita, mengoptimalkan BPJS, membuat sekolah-sekolah sampai ke pelosok terpencil, amanlah Indonesia tercinta *elusKetiak*.

Target pendapatan kita merosot jauh dari perkiraan. Pemerintah pasti bekerja super keras mendapatkan kekurangan dari berbagai sumber.

Ketaatan pajak memang masih sangat rendah di tanah air. Konon, hanya ada sekitar 10 juta orang yang memiliki NPWP. Dan diantara 10 juta itu maksimal hanya 10% yang rajin mengisi SPT.

Jumlah warga produktif di Indonesia seharusnya sih lebih besar daripada 100 juta jiwa.

Jadi potensi pendapatan dari pajak masih jauuuuuuuh dari yang sebenarnya bisa didapatkan.

Jangan lupa ya teman-teman, PAJAK itu tarikan legal. Bukan teror atuh lah hehe.

Tapi saya memaklumi pihak-pihak yang doyan pakai ungkapan-ungkapan begini saban ada “kekacauan” hehe. Yassalam, padahal lagi ngomongin pajak yang jelas-jelas kewajiban kita sebagai warga negara 🙂.

Hukum sedang coba ditegakkan di sini. Is that what we want?

Ya kita bisa apa. Hanya bisa bantu menjelaskan sepanjang yang dimampukan *elusDaster* hehehe.

Menebarkan ketakutan kan memang pola khas dari memancing di air keruh. Rumusnya sama kok dari waktu ke waktu. Pokoknya takut-takutin aja dulu, penjelasan bisa menyusul :p.

Hikmahnya juga ada. Jadi belajar soal pajak lah minimal hahahaha. Jadi rajin baca-baca sana sini dan tekun diceramahin sama suai. Selama ini enggak pernah ngurusin SPT, semua diurus suami *ngumpetDiBalikPanci*.

Tentu saja, kita bisa mengamuk dan mengatakan bahwa betapa tidak adilnya dunia ini. Para koruptor atau hartawan brengsek yang mendapatkan harta kekayaan BUKAN dengan kerja keras atau keberuntungan semata dan menyembunyikannya malah mendapat angin segar. Sementara kita yang rajin bayar pajak dapat apa hah???? *bantingSPT*.

Nah, konon (konon melulu :p), jika dunia ini sungguh terasa sesak dan tidak bisa dijelaskan dengan logika lagi, maka ingatlah … kalau ada yang namanya TUHAN 🙂.

Teman-teman, kata salah satu ayat dalam kitab suci yang saya yakini kira-kira ada penjelasan kurang lebih begini, “Kalau kalian berbuat kebaikan maka kalian berbuat kebaikan BUAT DIRI KALIAN SENDIRI. Kalau kalian berbuat kejahatan, sesungguhnya KEJAHATAN itu kelak akan berbalik kepada kalian sendiri.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Dunia dan manusia memang bukan tempat keadilan bisa ditegakkan dengan sempurna. Tugas kita ya hanya berusaha walau pasti akan keserimpet juga.

Sudah capek-capek berbuat baik kok ya hidup nelangsa melulu. Ya itu kalau mentok di dunia saja mikirnya. Sementara yang beriman pasti percaya, tidak didapat di dunia, insya Allah di akhirat TIDAK AKAN MELESET. Tidak akan 😉. Karena Yang Mahaadil itu adalah Dia Yang di Atas Sana.

Itu buat yang percaya aja hehehe. Yang mau tetap ngomel ya monggo.

Saya mah sebatas menjalankan tugas sebagai cebong ajalah di masa-masa timeline berada di kondisi seperti ini hahahahahaha –> ngibrit sambil pegang ekor :p.

 

Time Trax

Kata “salary” berhubungan dengan kata “salt”. Garam.

Di masa lalu, garam ternyata dihargai sangat tinggi. Produksinya masih sangat jarang. Sehingga garam dijadikan alat tukar yang berharga. Dari sinilah, garam pun dijadikan sebagai upah bagi pekerja di masa lampau. Salt, then salary 😀.

pixabay garam

Di masa-masa Inggris kesusahan dalam soal materi, para serdadu akhirnya dibayar dengan … garam!

Garam, Cuuuy. Yang beberapa tahun lalu kalau saya borong daging ayam ke si Gondrong, tukang sayur langganan kompleks, suka dikasih gratis satu bungkus 😀.

Dulunya orang mau bekerja keras supaya dapat sejumput garam buat pelezat makanan kali ya. Sekarang … kasih duit seribu rupiah ke tukang sayur, bisa dapat sebungkus yang dipakai bisa sampai sebulan lebih ^_^. Jangan kebanyakan makan garam, sayangi tekanan darah 😉.

Ternyata, sesuatu yang di masa lalu sangat berharga bisa mengalami pergeseran sangat signifikan seiring perkembangan jalan. Enggak cuma garam.

Yang lebih kekinian misalnya ponsel.

Dulu masih ingat banget saya, kelar gajian bulan kedua di kantor pertama bekerja dulu (gaji pertama habis buat bayar utang hahahaha), langsung beli ponsel. Ponsel Nokia yang sangat hits waktu itu. Bangganya enggak ketulungan. Padahal cuma buat menelepon sama sms doang bisanya.

Nokia jadul :D (gambar : snapguide.com)
Nokia jadul 😀 (gambar : snapguide.com)

 

Sekarang? Beuh, ponsel dipakai nyari duit juga tokcer abessssss hahahaha. Makanye, media sosial jangan dipakai buat baper-baperan ajalah 😉. Banyak betul kesempatan dan keuntungan yang bisa kalian raih selain mikirin isi/makna status, kegiatan dan foto-foto orang lain toh yaaaaaa hahahaha :p #uhuk.

Di sekitar awal abad ke 19, ekonom Thomas Malthus meramalkan bahwa di masa depan dunia ini tidak mungkin menampung banyak manusia. Karena jumlah makanan yang mampu disediakan oleh bumi tidak akan bisa cukup. Ini berkaitan dengan perkembangan manusia = deret ukur vs perkembangan makanan = deret hitung.

Diprediksi bahwa jumlah manusia tidak akan mungkin mencapai 1 milyar orang. Karena keburu makanan tidak cukup. Jadi, akan terjadi kelaparan bahkan perang memperebutkan makanan dan banyak yang meninggal hingga akhirnya manusia enggak terlalu banyak lagi dan makanan cukup. Begitu seterusnya. Intinya, jumlah manusia tidak mungkin melebihi 1 milyar.

Concernnya, “Gimana cara menyediakan makanan untuk manusia sebanyak itu?” Catat ya, di abad segitu orang hanya mampu meramal sebatas apa yang terbayang di saat itu saja 🙂. Mana ada makanan instan/pabrikan zaman segitu 😉.

Jangankan abad ke-18, di awal abad ke-20 pun, Daniel Quinn memperkenalkan istilah “Food Race”. Intinya mirip dengan ramalan Malthus. Cuma fokusnya Quinn berbeda, “Gimana cara membatasi pertumbuhan manusia?”

Lihatlah kini. Jumlah penduduk Cina + India saja sudah 3 milyar kali. Disusul US + Indonesia yang jelas-jelas sudah melebihi angka 600 juta jangan-jangan, ya. Malas googling hehehe.

Kita rebutan makanan sampai perang gitu? Heloooooo, ada Indomie, ya, booooo hahaha. Segala macam rasa dari Sabang sampai Merauke juga ada :p. Makanan pabrikan dari semua lini terus menerus tercipta. Teknologi yang sebenarnya juga berasal dari “kecerdasan” manusia sendiri. Bukan sihir toh yaaaaa :p.

Nah, sama juga dengan prediksi beberapa pihak soal naik haji 😉.

Kata mereka, sebaiknya naik haji itu diubah aja fatwanya menjadi enggak wajib karena di masa mendatang nanti bakal ‘chaos’ bakal begini bakal begitu bla bla bla. Dikait-kaitkan pula dengan pemborosan segala macam endebre-endebre-endebre.

Kompleks jemaah haji di Mina
Kompleks jemaah haji di Mina

 

Belum 50 tahun berlalu lho, saat naik haji itu bisa terlaksana via perjalanan laut saja. Perjalanannya saja bisa memakan sebulanan kali.

Sekarang? Voila! Pakai pesawat yang 10 jam juga enggak nyampe 😉 –> maklum yak, saya pernah bermukim di Jeddah jadi hafal durasi terbang Jakarta-Jeddah hehe.

Mungkin baru lima tahun berlalu saat semua jemaah harus jalan kaki menuju Arafah saat wukuf. Sekarang sudah ada kereta, Kakaaaaa ^_^. Things changed. Many things did change.

Kita meramal begitu wajar sih. Sama seperti Opa Malthus dan Pakde Quinn tadi yang belum terbayang tentang makanan kaleng dan segala macam hihihi. Kita menilai sesuai keterbatasan kita sebagai manusia yang hidup di era sekarang 🙂.

bekerja di luar negeri

Siapalah yang tahu apa yang bisa dicapai manusia di masa mendatang 🙂. Teknologi apa yang sedang dalam proses menunggu untuk ditemukan oleh manusia-manusia di masa depan.

Sebagai muslim, buat saya teori Malthus dan Quinn jelas bertentangan dengan keyakinan saya bahwa Allah yang menjamin rezeki tiap manusia. Ekonom ya boleh saja mengeluarkan berbagai macam teori, tapi faktanya … bukan tanpa dasar Tuhan memilih manusia sebagai khalifah di muka bumi ini 🙂. Sesuatu yang dulu sempat dipertanyakan oleh para malaikat bahkan dilawan oleh kaum iblis.

Saya tidak menantang para ilmuwan lho ya. Ampuuuun. Saya percaya 100% kalau bumi itu bulat lho! #eaaaaa hahaha :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Tapi jangan terlalu pesimis terhadap masa depan. Saya sih sepakat kalau umat muslim harus diberi pencerahan soal naik haji. Jangan juga menganggap bahwa meninggal sebelum naik haji itu “terhina” sehingga hanya menghabiskan waktu dan materi di dunia untuk mikirin gimana biar naik haji doang. No, no, bukan itu maksudnya.

Justru karena itu umat muslim jangan malah menjauh dari ilmu pengetahuan muamalah. Jadilah ilmuwan-ilmuwan di berbagai bidang ilmu yang cetar membahana untuk membuktikan pada orang-orang yang tidak lagi percaya pada agama bahwa agama dan kehidupan dunia itu bukan 2 hal yang bertentangan.

Kejar ilmu dunia untuk kemaslahatan bersama bukan untuk kafir-kakfirin orang lain huhuhu.

Challenge what the future holds, yes? 😉.

Belajar juga dari sejarah garam tadi. Jangan suka takut dan galau soal sumber energi yang katanya mulai menipis.

Di awal tahun 2000 an, produksi minyak dunia dan hasil tambang ditakutkan tidak akan mencukupi kebutuhan dunia lagi. Orang dilanda kekhawatiran dan minyak dunia dianggap penting banget.

Kalau sudah kerja di perusahaan minyak atau tambang, beuuuhhh, kayaknya sudah akan bahagia sampai 7 turunan hehehe.

Sadar tidak, beberapa tahun terakhir ini baik tambang dan minyak dunia terus merosot popularitasnya 🙂. Kendaraan listrik mulai menuai pamor di berbagai tempat. Energi baru mulai ditemukan.

Roda pedati ya, teman-teman. Dunia ini berputar seperti roda pedati. Jangan jumawa pun jangan pesimis. Ada gilirannya siapa yang di atas siapa yang di bawah.

Tugas kita cuma berusaha dan berprasangka baik pada Tuhan. Selalu <3.

Have a nice weekend ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Global Citizen?

“Anak saya lahir di kota anu, gedenya di kota onoh. Itu anak pertama. Yang kedua beda lagi tempat lahirnya. Sekarang lagi sekolah di negara ngunu. Ya kami ini sudah seperti global citizen gitu, deh…”

Saya mencibir dalam hati, “Idih, sok bener!” –> sirik tanda tak mampu sebenarnya hahaha. Padahal dalam hati pengin tuuuuuhhh :p.

Waktu masih bekerja, sekitar 8 tahun lalu, saya daftar training dari kantor. Kantor yang ini emang keren. Tiap karyawan di-encourage untuk meningkatkan personal skill. Jadi banyak tuh training model pengembangan karakter pribadi bla bla bla yang bisa kita pilih ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi itu sih alasan nomor 3. Alasan pertama ya pengin magabut sih sekali-sekali hahahaha. Alasan nomor 2, ya pengin ngerasain makan-makan enak gratis di hotel bintang 5 :p. Kapan lagiiiiiiii :D. Mayan kan, dari sarapan sampai makan siang. Belum lagi dapat snack 2x :D.

Yang ngomong tadi tuh salah satu trainernya. Presentasinya enak banget. Bikin kita enggak ngantuk ^_^.

Enggak hanya pas presentasi, waktu ‘snack time’, trainernya bincang santai dengan kita-kita (peserta training), ngobrolnya juga lepas dan seru. Saya lebih banyak mendengarkan sambil sibuk ngabisin kue-kue cantik yang endes-endes plus penampakannya ‘mahal’ yang sudah pasti gak bakal kebeli di luaran *ngunyahFruitCakeLucuLucu*.

Di situ pertama kali kepikiran tentang “global citizen”. Walau setelah googling barusan, definisinya sih tidak seperti itu hehe.

Yang terbayang oleh saya yang memang dari kecil kepengin banget ngerasain yang namanya nemplok di sana sini, ‘global citizen’ itu memungkinkan kita jalan-jalan dan tinggal di mana pun kita mau. Karena sering berpindah tempat, otomatis kemampuan beradaptasi jadi makin tokcer.

Belum lagi pengalaman bertemu orang banyak dan melewati hari-hari dengan berbagai perbedaan. Seru kan, kan, kan. Makanya buat saya, yang enak tuh BERMUKIM di luar negeri. BUKAN BERLIBUR :D.

pixabay travel bag and passport

Kalau liburan bedaaaaa. Dengan waktu terbatas, kita akan lebih sibuk mikirin mau jalan-jalan ke mana dan makan-makan di mana gak sih? Hehehe. Plus mau belanja oleh-oleh di mana hahaha :p.

Dulu sih saya mikirnya sekolah atau kerja sekalian aja ke luar negeri. Kan ceritanya masih single. Mana tahu ketemu jodoh di sana. Sama-sama orang Indonesia atau orang bule juga gak apa deh. Nanti cari yang punya mimpi yang sama. Berdua deh kita merajut mimpi mengarungi dunia yang luas ini bersama anak-anak kelak *tsaaaaahhh*.

Tentu saja, mimpinya gagaaaaaallll hahahaha.

Tapi ya Tuhan kadang punya cara sendiri menjawab doa-doa kita. Mimpinya terjawab tapi caranya yang tidak terduga ;).

Kalau dulu inginnya jalan-jalan cantik bawa tas atau laptop pakai mantel modis aneka warna aneka model plus sepatu boot sambil nenteng buku mau selfie-selfie di perpus kampus. Pan ceritanya mahasiswi hahaha.

Sekarang mah, jalan-jalan rempong bawa bayi komplit sama strollernya pakai mantel murah meriah pakai sepatu keds biar nyaman ngejar bocah-bocah hahaha. Yang penting judulnya tinggal di luar negeri toh yaaaaa :p.

Mission (still) accomplished ^_^.

Tiga anak saya, lahirnya di Indonesia-Arab Saudi-Irlandia. Life seems perfect hingga akhirnya ….. berurusan dengan visa! Huhuu -_-.

Ternyata, tidak mudah dan sungguh berliku jalan yang harus ditempuh sebagai pemegang paspor hijau tua yang sekarang berubah warna jadi biru tosca :D. Lebay? Lah ya emang begonoh huhuhu.

Apalagi  buat suami ya yang pekerjaannya sekarang menuntut dia untuk sering-sering bepergian ke berbagai negara. Rangkaian drama-ngurus-visa ala suami sudah pernah saya rangkum di tulisan yang lain :D.

Baca : Balada Visa

Sekilas sih rasanya kan cuma urusan administratif bla bla bla. Tapi itu lumayan menguras waktu dan kesabaran, lho. Apalagi kalau ditanya-tanya enggak penting dan lama pula. Pernah juga ditanya penuh selidik yang bikin kita mau enggak  mau jadi baper. Kita? Gue dong kaleeeee hihihi.

Sering juga kondisi kedutaan negara lain itu minimalis banget. Enggak disediain kursi misalnya huhuhu. Tempatnya mungil jadi harus desak-desakan.

Atau yang ngantrinya kayak ular. Buang-buang waktu dan tenaga. Belum deg-degannya harus nungguin apakah visanya disetujui atau tidak. Karena ini berkaitan dengan tiket misalnya. Sialnya, kadang untuk apply visa harus booking tiket dulu.

Sering juga kita ngiler jalan-jalan ke negara lain karena iming-iming tiket murah yang harus dibooking di waktu-waktu tertentu. Duitnya sih ada tapi galau urusan visa sudah kadung menghantui. Apa gunanya tiket murah kalau visanya gagal? Ya toh ya toh ya toh *bantingDompet*.

Untuk mengurus visa juga biasanya butuh segabruk surat-surat dokumen ngana ngunu. Belum lagi saldo minimum tabungan seolah jalan-jalan hanya untuk orang tajir aja huhuhu. Maksudnya sih baik, untuk memastikan kita bukan mau mengemis ke negara orang lain misalnya ya hahahaha :p.

pixabay passport

Kasus lainnya kalau ketemunya pakai perjanjian dulu. Di mana dapat jadwal perjanjiannya masih lama sementara kita butuhnya buru-buru. Makanya suami pernah juga gagal assignment karena enggak keburu waktu ngurus visa huhuhu.

Wajar kalau selama merantau suka iri dengan pemegang paspor Negeri Jiran. Mau ke UK kek, ke Schengen kek, tinggal angkat koper. Sementara Irlandia sini masuk Schengen juga kagak! Ke UK pun harus mengemis visa yang harganya tidak murah, termasuk untuk anak bayi! *pingsan*.

Jadiiiiii, kalau ada orang Indonesia yang nekat melanggar aturan DUAL NATIONALITY alias tidak boleh berkewarganegaraan ganda tidak semata-mata karena tidak cinta Indonesia lagi atuh lah ;).

Serba salah jadinya, ya. Kalau mau  jujur, ya harus melepas kewarganegaraan Indonesia. Tapi nanti dituduh tidak nasionalis bla bla bla. Kalau mau ‘aman’ ya sembunyi-sembunyi punya 2 paspor. Tapi nanti gagal jadi menteri hihihihi :p. Sungkem dulu sama Pak Archandra :D.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ada juga negara yang lebih ketat. Misalnya Singapura. Kita hanya bisa apply paspor Singapura setelah menunjukkan secara sah kalau kita tidak lagi terikat dengan negara lain. Tapi lebih banyak negara yang tidak masalah dengan dual nationality. Sayang sekali, Indonesia masih belum boleh :(.

Resiko melepas kewarganegaraan Indonesia ya ada juga sih. Apalagi kalau kita punya banyak investasi di tanah air. Bisa ‘hangus’ deh hasil kerja keras minimal pasti ada problem sedikit banyaknya. Duh, kirain cinta tanah air ya ternyata alasannya kapitalis bener, enggak jauh-jauh dari duit hahaha.

Eniwei, jadi begitulah. Teorinya sih kita pasti diharapkan punya jiwa nasionalisme bla bla bla. Lah, memangnya kalau ganti paspor otomatis ‘berkhianat’ gitu? Kehidupan sehari-hari susah deh kalau mau dipilah jadi hitam atau putih doang :).

Buat yang lagi bermukim di luar negeri, makanya jangan seperti kacang yang lupa pada kulitnya lah. Giliran mudik, yaelah, menggerutu kiri kanan di medsos betapa macetnya Jakarta betapa kumuhnya betapa kotornya, beginilah begitulah. Betapa kerennya negara tinggal mereka sekarang, pokoknya mendadak Indonesia terlihat bagaikan neraka hehehe.

Culture shock itu wajar, kok. Saya juga merasakan. Tapi tidak harus ditumpahkan ke publik semua kan. Komentar seperti itu malah ‘melemahkan’. Apalagi kondisi sekarang yang makin ruwet pasca Pilpres. Efek negatif masih melayang di mana-mana :(. Dikit-dikit salah pemerintah, dikit-dikit salah pemerintah :p.

Macam negara ini dikendalikan sama segelintir orang saja. Padahal seluruh anak negeri adalah bagian dari proses perbaikan sebuah bangsa. Termasuk yang lagi melipir ke negara lain lho ya :p.

Sebagai orang yang tinggal jauh dari tanah air, kita seharusnya lebih cocok menjadi ‘wasit’ :). Melihat dari kacamata orang ketiga. Jangan malah jadi provokator. Kalau memang sulit memuji ya minimal diam saja, yes? ;).

Becoming ‘global citizen’ or whatever it might be called, tidak berarti harus patuh pada satu aturan hidup di daerah tertentu. Oh c’mon, mana ada sih tempat di dunia ini yang hanya menawarkan yang enak-enak semata.

Justru dengan menjadi ‘global citizen’ jadi belajar dengan pemahaman. Bahwa memahami itu beda dengan MENERIMA. Kita bisa memahami perbedaan dan tidak terganggu karenanya dengan tidak perlu menjadi bagian dari hal-hal yang berbeda itu. Nggg..bener gak tuh nulisnya. Belibet gini hahaha.

Sebaliknya, kita juga tidak bisa memaksa soal kesetiaan atau apalah-apalah ini. Hanya akan optimal jika semunya didasarkan kerelaan bukan tuntutan :).

Seperti kita enggak patut memaksa orang Indonesia kudu pegang paspor Indonesia doang. Macam pesan Sutan Syahrir yang ini nih :

“Kita hendak bekerja atas dasar kemerdekaan jiwa orang, atas dasar kerakyatan, atas dasar sukarela, mufakat dan kerjasama, dan tidak dengan paksaan seperti yang telah dilakukan di negeri-negeri totaliter dan diktatur itu.”
– Sutan Syahrir.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Mengutip doa dari Pak Menag di istana saat perayaan 17 Agustus tahun ini :

“Allah, Tuhan penebar kedamaian.

Jadikanlah peringatan proklamasi kemerdekaan sebagai momentum merekatkan persatuan.

Jauhkanlah kami dari perselisihan, permusuhan, dan perpecahan.
Kuatkanlah ikatan diantara bangsa kami agar saling menyemai kedamaian, saling menjaga kerukunan, saling menyokong kemajuan.

Eratkanlah tali silahturahim antar kami agar saling memelihara persaudaraan sekaligus saling mengingatkan dalam kebaikan.”

Aamiin ya rabbal aalamiin.

Selamat ulang tahun ke-71 untuk Republik Indonesia.

Dirgahayu tanah air tercinta <3.