Kumpulan Emak Blogger

Mama Yeah

Masih ingat akun ini gak sih? Hihihi.

Akun ini sempat ramai beberapa tahun lalu di kalangan emak-emak. Akun Mamayeah ini dibuat dan popular via Twitter.

Tweet-tweetnya setajam silet, semacam sarkasme sebagai respons kepada makin membahananya perselisihan kaum emak-emak. Ya you knowlah, ASI vs Sufor – Melahirkan normal vs SC – dan yang paling hits tak lekang ditelan zaman … ibu bekerja vs ibu di rumah!

Masih inget beberapa tweet-tweet dari akun si MamaYeah sebelum akhirnya akunnya direport ramai-ramai dan akhirnya dihapus hahaha.

“Eh anakku ketawa! Twitpic ah. Eh anakku makan! Twitpic ah! Eh anakku napas! Twitpic ah. Eh anakku ga ngapa-ngapain! Twitpic ah.”

” #Bangganya setelah jago main ABCKids, sekarang bayiku udh jago ngulik app CNN. Pasti ntar keterima TK internasional. Semua berkat iPad.”

”Haree genee sibuk cari diskonan Pampers di koran? Clodi dong clodi! Save the environment, save the world. Ciyeee…”

“Pa, tabah ya, ternyata kita harus ngemil beras dulu 2 bln. MamaYeah mending mati daripada si buyung nggak sekolah di TK Internasional…”

Sarkas abessss hahahaha .

Ini lagi beberapa yang bikin emosi jiwa tapi tetap ngikik-ngikik hihihi :

“Bosen debat panggilan ibu. Gmn dgn panggilan pembeti? ART? Pembantu? Bedinde? Nanny (nanny niyeee)? Sitter? Suster? Ncus? Mbak? Kok ribet?”

“Baju anak kalian apa? Kalo baju anak-anak kami gabungan antara Gap, Mothercare, H&M Kids, dan jait sendiri. Maklum, super mom.”

Gambar : va-mom.com

“Goodnight mommies. Tidurlah biar kuat netekin nanti mlm… Ingat, susu formula adalah minuman setan, dan kalo nggak ASIX, ur a devil mom.”

“Selamat bekerja, working moms! Ninggalin anak niyeee…

“Selamat menyambut hari, para IRT! Ingat, pertanyaan yg paling penting “Gak sayang kuliah tinggi2 ujungnya ngangon anak aje?” IRT niyeee…”

“Shiloh Jolie-Pitt dan Suri Cruise juga robot doang, kok. Tenang aja, bayi kita yg paling sempurna.”

Sayangnya akun ini secara terbuka dan eksplisit menyindir-nyindir beberapa panutan ibu-ibu. Termasuk beberapa blogger-blogger perempuan yang lagi hits saat itu.

Mungkin Mama Yeah ini refleksi dilema Ibu di Kehidupan Nyata vs Tuntutan Parenting di Buku dan Ceramah ini itu oleh ahli nganu dan ngono (hahaha) vs Peer Pressure .

Apalagi dunia digital sekarang ini sangat memungkinkan kita untuk intip-intip sana sini hihihi. Atau sebaliknya, kita yang jadi kepengin diintip-intip .

Saya juga tidak paham sih harusnya “ibu yang baik” itu harus bagaimana. Karena kehadiran media sosial membawa perubahan gaya hidup bagi banyak orang. Termasuk para emak-emak dong ya .

Misalnya kita suka menulis blog tentang perkembangan anak. Maksudnya sih buat kenang-kenangan sendiri, eh ternyata banyak yang baca. Ini mungkin kejadian sama Mbak Astri Nugraha yang punya keluarganugraha dot net.

Working at Home – Mommy (Gambar : www.alexisgrant.com)

 

Saya baca blognya dari tahun 2005, anaknya baru satu. Sampai anaknya 4 tahun2010 Mbak Astri masih rajin ngeblog. Fansnya banyak tapi yang nyinyir juga ada .

Sekarang makin ramai, ya. Walau blogger ibu-ibu sekarang trennya sudah bergeser. Topik-topik yang sering ditulis sudah beda lagi kecenderungannya.

Mungkin sih begini ya, umumnya masa-masa “pencarian jati diri” itu ada di anak pertama . Bingung mau bandingin sama siapa. Jadilah kita bandingin sama hasil pencarian kita di kolom search di Google hihihi.

Dari situ kenalan dengan blog-blog ibu-ibu yang share ini itu tentang anaknya. Atau juga masuk forum-forum di mana para Ibu saling share pengalaman masing-masing. Kalau sekarang juga sudah ramai di Instagram-FB dan media sosial lainnya.

Anak pertama penginnya serba ideal. Kalau perlu, 24 jam kita siap di dapur dan bersumpah setia, “Anak gue enggak boleh makan Indomie seumur hidupnya!” Hahhahaha.

Tempo hari juga ada blogger yang menulis tentang FOMO, Fear of Missing Out. Di mana FOMO ini sebenarnya “penyakit era medsos” yang juga sangat mungkin dialami oleh para ibu-ibu.

FOMO, dalam tingkat kronis, akan terus menerus menghidupkan keinginan untuk mengikuti hal-hal yang orang kebanyakan lakukan. Semacam haus untuk merasakan/mencoba/mendapatkan hal-hal kekinian yang lagi hits.

Kumpulan Emak Blogger
Gambar : bloggingmatters.com

Misalnya ya itu tadi di contoh-contoh Mama Yeah. Lagi rame pakai clodi, rame-rame pengin pake clodi. Beli berlusin-lusin walau menderitanya minta ampun ngajarin embak cara mencuci clodi yang baik dan benar. Mau nyuci sendiri kan pegel, Cyin! Hahaha.

Tapi bedakan dong ya antara kaum FOMO vs mereka yang benar-benar terinspirasi oleh diri sendiri . Tidak sedikit kan yang bela-belain pakai clodi karena memang terdorong oleh hasrat pribadi ingin berkontribusi yang lebih baik untuk lingkungan . Orang-orang seperti ini jelas ada.

Lama-lama menjadi absurd mau menilai siapa yang mau pamer, siapa yang hanya ikut-ikutan, siapa yang beneran idealis. Ribet lah.

Makanya, jangan dibikin susah hidup ini. Dengan segini banyak sumber informasi berhamburan dari mana-mana, hal yang paling rasional dan memungkinkan adalah “menguasai” diri sendiri .

Ibuk-ibuk, kalau lagi PMS atau semacamnya, jangan malah blusukan di timeline. Nanti anak lagi susah makan, ada orang lain yang kebetulan share anaknya gampang makan, jadi sensitip, “Mau pamer aje lu, Nyet!” Kan serem yak hahahaha .

Gambar : ctworkingmoms.com

 

Mustahil kita mau mengatur-atur bagaimana orang lain harus bersikap dalam akun pribadi mereka masing-masing .

Tapi dari sini kan kita juga bisa bercermin. Eh, jangan-jangan kita yang dalam posisi sebaliknya . Tapi ingat, ngomongnya ke diri sendiri ajaaaa, enggak usah di-status-in lagi hahaha.

Hal penting lainnya adalah tidak pernah melupakan kalau status Ibu itu tidak otomatis melepaskan kita dari identitas pribadi kita.

Saya kurang suka dengan istilah, “Anak itu mencerminkan didikan orang tuanya.” Di mana yang paling sering kena “bogem” ya ibunya lah .

Misalnya saya 7 bersaudara, sifatnya juga 7 kombinasi. Diantara ber7, ada 4 orang yang sangat mudah bergaul. Ada 3 orang yang agak sulit menjalin pertemanan di lingkungan baru. Saya termasuk yang 3 orang ini. Waktu kecil, ada yang makannya gampang, ada yang harus menangis meraung sejam baru mau makan.

Ada yang pendiam, ada yang seperti saya, walau agak susah bergaul tapi cerewetnya naudzubillah hahaha. Ada kakak saya yang depan orang lain seperti patung tapi di dalam rumah paling bisa membuat seisi rumah terpingkal-pingkal.

Adik saya lebih luwes dan sangat plegmatis secara kepribadian. Bandingkan dengan saya yang punya sifat koleris garis keras . Makanya, adik saya jarang berantem secara frontal dengan teman-temannya sementara saya lumayan sering bikin teman-teman saya menangis karena mulut saya yang seperti silet ini hahaha. Sungkem dulu .

Gambar : thestri.cafemom.com

Jadi kami ini cerminan siapa???? APa orang tua saya bunglon apa gimana hahaha.

Makanyaaaaaaa, rileks saja, yes? . Kita lakukan yang terbaik yang kita bisa tapi tidak perlu sampai gimana-gimana banget. Apalagi sampai harus stres lihat anak orang lain.

Mau anak-anak kelak gimana….you are you! . Mereka akan menjadi individu-individu berbeda saat dewasa nanti. Kombinasi dari banyak hal yang akan menjadikan mereka seperti apa.

Banyak faktor lah. Tidak berarti jadi terlalu santai jugaaaaaa . Ya jangan dong. Tanggung jawab jangan lupa .

Have a nice monday, Moms. Jangan lupa bahagia .

The Unspoken Rules, Trump, dan Ketakutan-ketakutan Itu

Mama mencubit lengan saya keras-keras di atas becak karena saya berteriak “Cina Loleeeeeeng…” saat melewati salah satu rumah yang penghuninya beretnis Tionghoa.

Mama membentak, “Ndak boleh teriaki orang begitu. Ana’ dara’ dekke lowang sumpanna.” (Enggak boleh berteriak begitu. Anak gadis kok lebar bener mulutnya).

“Cina Loleng” adalah makian khas di Sulawesi Selatan yang sudah biasa kami lontarkan terhadap orang-orang beretnis Tionghoa yang hidup di sekitar kami.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Marahkah mereka? Enggak bakal berani. Mereka jumlahnya sedikit. Walau sebagian tinggal di rumah mewah, percayalah, sekeras apa pun kami meneriaki mereka, mereka enggak bakal melawan dalam bentuk apa pun.

Saya jadi ingat  ini saat membaca komentar salah satu akun di wallnya Mas Ainun Najib. Seorang perempuan beretnis Tionghoa yang berkisah soal “Unspoken Rules” yang diterimanya sejak kecil. Jadi malu bacanya :(.

Bahwa orang tuanya mengajarkan dia untuk tidak melawan terhadap apa pun bentuk penghinaan yang diterima. Jika dia bertanya mengapa saat Natal tidak satu pun yang bertamu kecuali satu keluarga sementara saat lebaran mereka harus ngider-ngider keliling bahkan harus ikut menyumbang saat ada acara-acara keagamaan Islam.

Untuk etnis Tionghoa dari keluarga berada, orang tua mereka banyak yang mengirim mereka ke luar negeri. Untuk mempersiapkan masa-depan-plan-B, menjadi global citizen. Agar kelak, mereka bisa memilih tinggal di tempat lain di luar Indonesia.

pixabay travel bag and passport

Banyak juga yang memilih jalur pengusaha. Pantas ya, tidak banyak teman saya yang beretnis Tionghoa yang bertahan di jalur non-bisnis. Tidak banyak tapi ada . Kalau pun ada ujung-ujungnya pada ke luar negeri.

Saya mengumpulkan memori masa kecil saya. Sebenarnya etos kerja dan kedisiplinan etnis Tionghoa mungkin terbentuk dari keterbatasan dari lingkungan yang mereka terima.

Walau tidak tertulis jelas, ada aturan buat mereka, “Bahwa kita harus bekerja lebih keras, lebih giat, lebih rajin, dan lebih segala-galanya untuk menjamin hidup yang lebih baik. That’s the only way to live ‘normal’ in this country.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Toko-toko Cina di sekitar rumah saya memang buka lebih pagi. Mereka jarang mempekerjakan pegawai. Ance’ dan Aci’ nya sendiri yang jaga toko.

Di depan kios Bapak di Penampungan Pasar Sentral dulu ada penjual kain yang namanya Sayong. Sempat beberapa hari saat libur sekolah saya sering diajak ke pasar. Saya sih gengsi banget hahahaha.

Ketakutan saya yang terbesar kalau ke pasar itu, ketemu teman sekolah saya yang rata-rata berasal dari keluarga menengah ke atas. Tapi karena diiming-imingi jajanan ini-itu makanya saya ikut saja naik becak bersama Mama menuju kios. Urusan perut bisa meruntuhkan gengsi .

Sayong tidak punya pegawai. Tapi selalu buka lebih pagi karena Bapak sering nitip kunci ke dia. Dengan lincah dia membongkar gulungan kain, sangat fasih menerangkan seluruh jenis kain, lihai membujuk pembeli.

Sesekali menggoda ibu-ibu dengan lontaran, “Ibu Haji coco’ sekali mi ini. Ini kainnya lembut, tida’ gampang keringat gang… Lihatki’ motifnya. Canti’ betul.”

Makan siang pun dese bawa dari rumah. Hemat sekali. Jarang jajan di pasar walau kiosnya termasuk yang lumayan besar dan barang jualannya berkualitas bagus.

Sama seperti Aci’ yang berjualan di Rumah Makan Pelangi di daerah Jakarta Pusat. Teman-teman dari Makassar pernah ke sini gak? Enak betul gang itu Mie Titi’ sama Nasgor Merahnya.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Di suatu malam, pengunjung tiba-tiba bersuit melihat Aci’ melintas dekat kami berpakaian pesta kayaknya mau kondangan. “Cantiknya gang.” Puji kakak saya. Aci’ melet-melet.

Aci’ memang kece. Padahal usianya mungkin sudah mendekat kepala 4 saat itu. Tapi sehari-harinya, walau berstatus pemilik, saya sering melihat Aci’ berpakaian kaos oblong + celana selutut ikut motong-motongin daging di dapur luar sambil melayani pembeli.

Cantik dan tajir tapi gesit bener si Aci’ mengaduk kuah coto sambil menghitung di kasir, sesekali menyiram kuah mie ke dalam mangkok sambil berteriak, “Itu tauwa yang di meja ujung lamanya mo. Cepakko layani!”

Orang Cina ini etos kerjanya memang luar biasa. Tapi tak jarang kita menganggap kesuksesan mereka tak lebih dari buah konspirasi . Gagal kita meneropong lebih dekat betapa ketatnya mereka dididik sejak kecil yang berbuah kedisiplinan dan mental kerja keras yang mumpuni .

Kita dilanda ketakutan yang mungkin berasal dari ketidakberdayaan kita sehingga lebih nyaman mengarahkan telunjuk kepada orang lain. Kita ini hanya korban. Namanya korban ya kita bisa apa. Pokoknya pasti orang lain yang salah.

Mungkin sama seperti kejadian di wilayah Sumatera saat banyak kebun-kebun sawit berdiri dan orang lokal ogah menjadi buruh kebun. Datanglah pendatang dari Jawa yang hendak mengadu nasib di sana. Membangun mimpi dari kebun sawit dengan kerja keras.

Sebagian dari mereka sukses dan mulai menikmati hasil kerja, punya motor sendiri misalnya. Akhirnya bisa membangun rumah. Pelan-pelan jadi banyak, orang lokal pun mendadak iri. Rasa iri menjelma menjadi ketakutan dan seterusnya.

Di Kalimantan juga pernah ada kasus yang sama. Orang Madura yang terkenal gesit dan lincah berbisnis pelan-pelan membangun komunitas di sana. Kecemburuan masyarakat lokal pun muncul. Cemburu berbuah ketakutan akan dominasi para pendatang.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Dan mungkin begitulah seterusnya isu diramu bercampur dengan isu yang lebih cetar misalnya … isu agama .

Jawa dan Madura di daerah asal mereka yang padat sudah terbiasa dengan kompetisi ketat sejak kecil. Saat merantau, disiplin kompetisi inilah yang mereka pegang untuk bisa bertahan di daerah rantau.

Ini bukan hanya perkara lokal. Secara internasional pun begitu.

Kita, orang Asia, berbondong-bondong meretas jalan ke negara-negara maju di Eropa-Kanada-Amerika Serikat-dan Australia. Awalnya mungkin mereka hanya memandang kita warga dunia kelas 2.

Tapi anak-anak kita yang lahir dan besar di negeri mereka mewarisi kesantunan dan kedisplinan khas negara maju berpadu dengan semangat kompetisi dan didika khas Tiger Mom (hahaha) ala negara Asia. Bayangkan para homegrown asal Asia di Eropa-USA dll ini.

Awalnya mungkin banyak orang tua pendatang yang bekerja asal-asalan atau pekerjaan kasar yang tidak sudi dilakukan oleh orang lokal. Tapi anak-anak mereka kelak lebih sukses dan begitu seterusnya.

Tekanan ini yang membuat akhirnya negara maju melakukan pembatasan terhadap para pendatang . Lagi-lagi atas nama ketakutan .

Apalagi sekarang-sekarang ini, situasi ekonomi secara global lagi surut. Timur tengah gelisah dengan harga minyak yang stagnan. Eropa tak kunjung keluar dari krisis besarnya.

Brexit adalah perwujudan nyata dari ketakutan ini. Sebelumnya sudah dipicu oleh beberapa kali kejadian di Paris, ledakan bom di Brussel, hampir bersamaan dengan meningkatnya terjangan dari pengungsi Suriah yang berusaha menembus Eropa Barat .

Cina mengendorkan industri karena mereka sudah bertahun-tahun mencapai pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Pasti ada titik baliknya kan?

Trump memanfaatkan situasi ini dengan mengeksploitasi ketakutan warganya. Shame on him.

But shame on us too, karena di situasi politik lokal pun, ketakutan model begini disetir dengan gas penuh oleh segelintir elit yang hendak memuncaki kekuasaan dengan jalan pintas .

We are scared. Kita panik. Duh, gimana ini. Dalam kepanikan ya muncullah penghiburan semacam, “Ini bukan salah kita. Ini salah mereka tauk. Kita ini hanya korban. Yuk kita eratkan tangan kita bersatu usir mereka.”

trump-1350370_960_720

Siapa yang ingin diusir Trump? Pendatang? Pendatang dari mana? Tanah Amerika aslinya dihuni oleh Suku Indian. Kalian semua juga kalau dirunut-runut ya pendatang juga.

Sudah 2 minggu saya tinggal di Texas, yang mana sih penduduk asli? Sepanjang penglihatan mata saya, saban ke Walmart, probabilitas ketemu ras “orang bule” itu mungkin hanya 40%. 60% orang yang wara wiri di Walmart, yang menyetir di jalan itu ya orang India-Mexico-Cina-Arab-Afrika.

Beda sekali dengan Irlandia. Texas, khususnya sekitaran Dallas ini, benar-benar kumpulan dari berbagai ras di dunia. 90% pegawai yang wara wiri di apartemen ini orang Afrika atau orang Meksiko. Saya sudah 2 bulanan belajar bahasa Spanyol di Duolingo walau gak rutin-rutin amat hihihi. Kemampuan berbahasa Spanyol saya secara teori sudah 35% .

Kita menyayangkan sikap Trump tapi tanpa sadar menerapkan hal sama di lingkungan sendiri .

Apakah kita pada dasarnya diciptakan rasis? Tidak lah. Fitrah perbedaan itu bukan kuasa manusia . Di Irlandia maupun di Texas, anak-anak saya bersekolah di lingkungan yang sangat heterogen dalam banyak hal.

Saya bisa melihat mereka mendeskripsikan teman-temannya tidak pernah berdasarkan ciri fisik . Sepertinya mereka bahkan tidak sadar. Sampai-sampai anak saya pernah bilang ke saya, “Wow Mom, you are so great. How do you know that ABC is Indian? It’s true. I asked him and he said yes. How do you know, Mom?”

Pantai Thuwal, Saudi :)
Pantai Thuwal, Saudi 🙂

 

Ya iyalah gue tauk hahahaha. Pan kelihatan dari logat emaknya plus ciri fisiknya . But kids never know that until we teach them to .

Semua itu dimulai dari ketakutan. Analogi paling pas mungkin ada di film Star Wars. Ini film popular jadi gampang di googling ya walau saya sama sekali bukan fansnya Star Wars .

Tapi terus terang saya menganggap Yoda rese’ karena sejak Anakin kecil, Yoda sudah ogah-ogahan mengangkat Anakin menjadi Jedi. Simply because I thought that Hayden Christensen itu kan super cute pakai banget hahahaha *ngakakCentil*.

Sejak Anakin kecil, Yoda sudah melihat potensi Anakin yang kurang cocok untuk menjadi Jedi.

Yoda: How feel you?
Anakin: Cold, sir.
Yoda: Afraid are you?
Anakin: No, sir.
Yoda: See through you we can.

Mace Windu: Be mindful of your feelings.
Ki-Adi-Mundi: Your thoughts dwell on your mother.

Anakin: I miss her.
Yoda: Afraid to lose her I think, hmm?
Anakin: What has that got to do with anything?
Yoda: Everything! Fear is the path to the dark side. Fear leads to anger. Anger leads to hate. Hate leads to suffering. I sense much fear in you.

Buat kaum muslim sendiri, ketakutan ini sudah disebut pula dalam ayat-ayat suci.

Saya jadi ingat salah satu penggalan tulisan Pak Hasanuddin Abdurakhman,

“Kau hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudayya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”

Sayangnya, justru kalimat yang sama, “Wa man tabi’a hudayya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun” juga digunakan untuk menyulut semangat para so called “mujahid” di kalangan Islam-ekstrmis. Dipakai untuk membakar nyali mereka menebar kebencian kepada kaum non muslim salah satunya dengan cara meledakkan bom bunuh diri .

Refleksi ketakutan justru dibalik untuk membuat orang tidak takut untuk menyakiti, atas nama Tuhan katanya .

Tapi kutipan tulisan Kang Hasan itu sebenarnya diawali dengan,

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

“Janganlah engkau mencoba membuktikan bahwa Quran itu pembawa damai dengan membunuhi orang-orang yang tidak pecaya padanya. Karena engkau sedang membuktikan sebaliknya.

Engkau tak perlu mencari bukti-bukti, tapi kau harus membuatnya. Engkaulah bukti itu. Engkaulah yang membuktikan. Seperti sains tadi, kau tak perlu menemukan kebenaran mutlak dalam setiap huruf ayat Quran. ”

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, semoga kita semua bisa mengontrol diri dari ketakutan-ketakutan seperti ini ya . Mengendalikan bukan menghilangkan. Ya kita kan manusia biasa.

Siapa bilang saya tidak takut dengan kondisi di sini? Takut juga huhuhu. But I won’t let it consume me, insya Allah. Saya akan berusaha keras untuk tidak menjadikan ketakutan ini menjadi rasa marah. Seperti pesan Yoda tadi.

Mungkin ini saatnya menyadari betapa tidak nyamannya kehilangan privilege hanya karena menjadi minoritas. Then, don’t do that to others .

People with bad behaviour only exists to remind us to NOT to do the same . Jangan lakukan hal yang kita tidak ingin orang lain lakukan terhadap kita.

Have a nice day, teman-teman semua .

 

Arti Sebuah Mimpi

Sebelas tahun yang lalu, saya ingat dia panik menelepon saya, “Jiiii, editkan dulu CV ku Dek.”

“Yaela, gue di kantor nih. Sini mako.”

Dia beneran dateng ke kantor saya di Gatsu dan menyerahkan selembar kertas ditulis tangan. Kakak gue ini gaptek abis dah emang hahaha.

Saya pun merangkai CV nya. Saya bener-benerin kalimat yang salah sambil dirapi-rapiin dikit. Voila! CV selesai. Dia pun lolos masuk menjadi salah satu staf divisi wardrobe di salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta.

Kami bertujuh plus Mama memang akhirnya memutuskan merantau semua ke ibukota. Kayaknya sejak habis semua harta dijual untuk menutupi kebangkrutan usaha yang ditinggalkan oleh almarhum Bapak, memang tidak banyak pilihan ya buat kami.

Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.
Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.

Di SUlawesi Selatan lowongan pekerjaan sedikit sekali. Saya juga tidak paham kami kok ya tidak ada yang mewarisi bakat berdagangnya Bapak. Tapi Mama memang sudah sering bilang, “Berdagang itu berat, Nak.”

Mungkin trauma dengan pengalamannya bersama Bapak, ya.

Ini kakak saya yang ke-4, persis di atas saya. Waktu kecil dia memang sudah tergila-gila dengan fashion. Di teras lantai atas rumah yang penuh cucian dan jemuran, saya dan adik saya yang perempuan menjadi korban fashion shownya hahahaha.

Selembar sajadah menjadi selendang kami. Sarung dilipat-lipat menjadi bawahan. Rok menjadi wig di kepala. Jepitan cucian yang warna warni menjadi anting-anting hahahaha.

Saya dan adik berlenggak lenggok seperti peragawati. Kakak mengarahkan, “Sekke’nya muka’mu, Jihan. Calleda’-calleda’ tongko sedikit. Aci, jangan terlalu lebar ketawamu. Biasa-biasa mo. Jangan keliatan semua gigimu. Sepertiko nene’ sihir.”

dada-gaya.jpg

–dadagaya– by Anwar Sadat ;)–

KIta pun kecapekan dan ngambek. Tapi besoknya ya mau lagi disuruh-suruh begitu hahaha.

Kakak saya ini paling lemah di pelajaran matematika. Beberapa kali angka merah menghiasi rapornya. Tapi Mama saya selalu menanggapi dengan santai, “Yang penting naik kelas.”

Untung belum era medsos ya Ma, bisa dibantai dah emak gue sama kelian-kelian hahaha .

Kakak saya mudah bergaul punya banyak teman. Waktu SMP sempat pergi disko sembunyi-sembunyi hahaha. Uang jajannya dihemat-hemat buat langganan Majalah Mode . Tapi prestasi akademisnya caur banget dari SD sampai SMA .

Mama cuek saja.

Dua hari setelah saya Ebtanas SD, Bapak meninggal tiba-tiba kena serangann jantung. Sementara Kakak saya ini baru tiga hari kemudian ikut Ebtanas kelulusan SMP.

Kakak lulus SMP. Saya lulus SD dengan NEM terbaik di sekolah.

SMA dia masuk swasta karena NEMnya terlalu kecil untuk masuk SMA negeri. Saya berhasil masuk salah satu SMP negeri terbaik di kota kami .

Jelang UMPTN, belajarnya ogah-ogahan. Paling diomelin sama Mama, “Kalo tida’ lulusko Nak, iko mato tu masessa.” (Kalau kamu tidak lulus Nak, kamu sendiri yang susah).

Jangan haraplah bisa masuk swasta. Saat itu rumah bentar lagi mau dijual hahahaha. Mama sudah bilang tak banyak biaya lagi untuk biaya sekolah kami.

Bareng no.4 dan no.6 :D
Bareng no.4 dan no.6 😀 (Idul Fitri) 2014

Dua hari menjelang UMPTN, Kakak mendadak minta dibelikan buku UMPTN. Kurang telat Bro belajarnya hahahaha.

Dia kelas 3 SMA. Saya kelas 3 SMP. Saya lulus SMP dengan NEM terbaik ke-3 di sekolah . Secara mengejutkan, kakak saya lulus UMPTN di FISIP Unhas, jurusan Komunikasi. Jurusan favorit lho hahahaha. Hokinya ajib banget .

Kita serumah sampai bengong. Dengan teganya, kakak saya yang lain sempat bilang, “Lihatko benar-benar. Siapa tau bukan nomormu.”

Kodong hahahaha .

Saat rumah dijual, saya dan kakak dititipkan di rumah Tante di Makassar. Mama pindah membawa adik-adik saya ke Jakarta. Ya kali kita berdelapan mau menyerbu satu rumah kerabat bareng-bareng hahaha. Harus dibagi-bagi.

Sedih sekali waktu itu. Tapi sudahlah, life goes on .

Untunglah ada kerabat bersedia menampung. Beberapa om dan tante yang membantu kami sudah ada yang meninggal. Al Fatihah ya buat mereka yang sudah mengamalkan perintah Allah untuk menyantuni anak yatim .

Kelas 2 SMA, saya mendaftar les Bahasa Inggris. Buat siap-siap UMPTN juga. Kakak saya mau ikutan. Saya lulus di Intermediate I, kakak saya cuma Basic 2 hihi. Dia juga lemah banget di Bahasa Inggris.

Kiri - kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama
Kiri – kanan : Buntel (adek), Dada (kakak), Eike (yg nulis :P), Mama

Malah, term pertamanya dia tidak lulus. Apes dah, gue yang ngambilin kartu tesnya. Kalau fail kan kartunya warna merah. Saya sampai diliatin sama orang-orang di sana. Siyaaaaallll hahahaha.

Dia ngambek berhenti kursus. Saya juga berhenti jadinya padahal saya lulus ke Intermediate 2 😀. Males ah naik angkot sendiri. Tempatnya jauh. Kalau sama kakak enak, dia asyik banget diajak ngerumpi.

Lulus SMA, saya hengkang ke Jakarta, diterima di UI. Kita pisah.

Dia lulus kuliah, dia juga pindah ke Jakarta. Numpang di rumah salah satu kerabat.

Sempat kakak menyerah dan pengin pulang saja ke Makassar. Tidak juga dapat pekerjaan. Dia ingin pinjam uang kepada salah satu kakak saya yang lain. Dia juga tidak tahu mau ngapain di Makassar. Kakak no.3 menghibur biar sabar karena cari kerja memang sulit.

AKhirnya diterima bekerja menjadi salah satu asisten desainer terkenal.

Berat banget waktu itu karena kerjanya menjadi salah satu asisten desainer harus lembur sampai subuh tapi gaji sangat kecil.

Tapi gimana, Kakak saya bilang dia sangat senang dengan pekerjaannya. Dunia fashion memang passionnya. Jakarta memang keras, Bung!

Karena satu dan lain hal kakak pindah ke rumah kos. Diantara semua saudara waktu itu, gaji saya memang yang paling lumayan. Kakak minta kos bareng biar bisa berbagi biaya sewa. Saya menyanggupi.

AKhirnya saya pindah dari Depok ke Pancoran biar kami berdua dekat dengan lokasi kerja masing-masing. Sudah capek juga banting tulang naik KRL ekonomi pulang pergi selama 4 tahun hahahaha. Ampun dijeeeee .

Waktu tinggal bareng itulah, saya semangati dia untuk cari kerja lain yang gajinya lebih bagus dengan waktu kerja lebih masuk akal. Saya bilang, yang penting CV kece. Saya bantuin bikin CV. Gue gitu loh #benerinPoni.

Saya pun menikah dan meninggalkan rumah kontrakan kami.

Hari pertama saya tidur di rumah mertua, kakak telepon, “APa ko bikin gang? Rinduku’….” Hehehe. Waktu itu adik perempuan saya sudah tinggal di sana juga. Kami sempat ngontrak bertiga. Trio gosip paling hits sejagad raya hahaha.

Trio Gosip hahahaha (2007)
Trio Gosip hahahaha (2007)

Kami padahal sering berantem juga lho hahaha. Diantara 7 bersaudara, kami berdua yang memang tegangannya paling tinggi. Paling ngotot. APalagi saya kan paling cuek sama penampilan sementara kakak saya, ya ampun dari jarak 100 meter aja dia sudah bisa mengomentari penampilan orang kali hahahaha .

Mudik terakhir itu kita berantem hebat lagi lho. Makanya di foto keluarga terakhir, saya enggak ada! Hahahahaha . Padahal saya masih di Jakarta waktu mereka foto-foto. Kaddoro’ memang tong .

Suami saya sampai enggak enak hati gitu. Maksa-maksa saya minta maaf ke Kakak karena saya yang lebih muda. Enak ajah! .

Yaela santai ajaaaaa, kita mah emang biasa berantem . Suami saya kan dari keluarga “normal” ya . Keluarga cemara gitu-gitulah yang saling menghormati saling menyayangi gitu-gitulah beda dengan keluarga saya yang preman abis hahaha.

Sering berantem tapi sering curhat dan gosip-gosip jugak hahaha.

Kakak saya sumber segala gosip di tanah air selama saya merantau 7-8 tahun terakhir ini .

And today, waking up this morning, kakak saya yang lain nge-tag saya di foto-foto ini . Fashion show si Kakak no.4 di Indonesia Fashion Week. Entahlah itu acara apaan hahaha. Ini sudah kedua kalinya Kakak berpartisipasi di acara tersebut.

Kariernya di televisi swasta terus menanjak sampai menjadi Manajer Divisi. PUnya banyak bawahan dan juga sibuk ngojek jadi Stylist dan merintis lini busananya sendiri.

Finally, he can walk thru that catwalk he’s been dreaming of .

dada gaya

-dadagaya, Indonesia Fashion Week 2017-

Bukan lagi di teras rumah yang panasnya minta ampun di bawah tumpukan jemuran bersama dua adik kecilnya yang didandani bak ondel-ondel hahaha. Tapi bareng peragawan dan peragawati beneran dooooooong .

I’m a proud sister! .

Nanti kita foto keluarga lagi yuk hahahahaha. Baju gue mesti yang paling mahal, paling hits dan paling bagus! Tapi kalau bisa yang paling murah hahahahaha .

Kalau jadi ke NY, mampir Texas lah bawain baju buat ponakan #tetepMengemis . Ada 3 ya, laki-laki, ukurannya nanti gue WA ajah hahaha #pepetTeruuuussss.

Well I guess, both our dreams came true at last. Dia mau jadi desainer, saya mau keliling dunia . Tuhan Maha Mendengar segala doa-doa dan kerja keras kita .

Saya kutip penggalan terakhir dari salah satu tulisan saya di blog :

Kita sih inginnya selalu happy-happy joy-joy. Siapalah yang pernah meminta kondisi-kondisi sulit. Tinggal di lingkungan “preman” lah, orang tua cuma pedagang kecil di pasar lah, bapak meninggal tiba-tiba lah, usaha yang ditinggalkan bangkrut lah, segala macam rumah-kios-barang-barang harus dijual lah, tapi … jangan sedih, yaaaa .

Walau dulu juga rasanya berat hendak membangkitkan angan-angan yang dirasa ketinggian. Jangan gentar dengan kondisi begitu.

Your story may not have such a happy beginning, but that doesn’t make you who you are. it is the rest of your story, who you choose to be… So, who are you, Panda? -Sootsayer, Kung Fu Panda 2-

Have a nice Monday, teman-teman .

I Did It My Way

Huaaaaaaa…ternyata Billy Gilman kalah ya di The Voice huhuhu. But wait, yang menang Sundance Head. Dia memang keren juga kok (y).

Di Finale, Billy menyanyikan lagu “My Way”, megahit yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra. Dengan gayanya sendiri, lagunya jadi lebih kekinian oleh Billy. Mungkin juga karena “kisah hidup”nya Billy sendiri juga ada drama-drama “My Way”nya, ya.

Lihat kan closingnya, kirain bakal teriak habis-habisan, Billy malah berbisik doang, “Yes it was … my way.”. Tapi bisikannya bikin kita makin merinding.

Gambar : justjared.com
Gambar : justjared.com

Anyway, apa sih iniiiii malah gosipin The Voice. Bukaaaaan. Sesuai judul di atas dan profesi (tsaelah profesi hahhahaha) sebagai blogger, tiap awal tahun kan suka ikut-ikutan gitu melihat-lihat ke belakang what I’ve done so far.

Sudah lebih dari 10 tahun tapi kok kayaknya gini-gini aja hihihi. Dulu sempat semangat karena ada adsense, tapi setelah belajar SEO dan menemukan fakta betapa cara saya memilih judul artikel – topik yang saya senangi – bla bla bla, ternyata bertolak belakang banget dengan tips-tips SEO hahaha.

Dulu sempat diskusi dengan suami dan kita jadinya tahu soal keyword-analytics endebre-endebre itu. Memang hopeless sih hahaha.

Tapi kan suami jadi menegur karena saya kok jadi jalan di tempat. Bikin apaan kek hehehe. Bukan memaksa atau gimana-gimana ya. Ya benar kan, hidup mah harusnya dibikin maju. Dikit-dikit juga yang penting maju.

Sekarang ini juga media sosial digempur sama berita-berita hoax. Sungguh menyakitkan ya, melihat fanpage yang isinya kombinasi dari postingan-postingan “terekdungces” + hoax + provokasi, likernya bisa puluhan ribu. Kadang cuma satu meme gak jelas isi satu atau 2 kalimat provokatif luar biasa dishare sampai ratusan ribu.

Gambar : forum.kompas.com
Gambar : forum.kompas.com

Apa kabar kita yang capek-capek, kadang gegayaan ngumpulin sumber sana sini, bisa semingguan baru satu tulisan kelar. Tulisan ringan begini pun, kadang ribet juga nyeleseinnya hihihi.

Tentu saja, walau kita tahu berita hoax provokatif jaminan traffic tinggi, tapi pantang dong ya ikut-ikutan gila hehehe ;). Pasti ada cara lain yang lebih barokah *benerinKudung*.

Jadilah sekitar sebulan lalu saya iseng nge-track masalah traffic dari blog teman-teman yang saya kenal. Mencoba melakukan penelitian mentah asal-asalan (hahaha) soal top posts mereka itu biasanya tentang apa, sih.

Ya hasilnya kembali menggampar saya. Ternyata, yang lagi hits dan sepertinya akan makin cerah di tahun 2017 ini adalah…topik-topik seputar kecantikan. Hidup Beauty Blogger! :D.

Warbyasak ya. Dari beberapa teman saya yang jelas-jelas genre blognya BUKAN tentang dunia make up dkk begini, top postsnya kalau enggak review bedak ya review lipstik gitu-gitu lah hihihi.

Halamakjang…lipstik sepotong pun tidak punya. Eh wait, dulu pernah beli deng waktu lagi diskon barengan mau beli bedak. Itu juga karena kasihan sama penjaga tokonya. Maklum ya, kota kecil begini, pembeli sulit bahkan counter make up sekali pun :D. Sudah pasang diskon heboh, ealah, yang datang cuma gue. Itu juga beneran cuma mau beli bedak tok :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jadi katanya, kalau beli apaan gitu, nanti bisa beli item ke-2 setengah harga. Duh, salting abis harus beli apa. Tadinya ditawarin bulu mata palsu soalnya ada yang murah gitu. Walah, kapan dipakainya -_-. Jadilah pilih lipstik saja soalnya harga relatif murah jugak hahaha.

Kini, lipstik itu pun entah ada di mana :p. Kalau ketemu pasti lumayan buat satu postingan ya hahaha. Makanya teman-teman blogger, punya satu biji lipen pun, buruan bikin reviewnya di blog :D. Punya 3 biji lipen, berarti 3 blog post tuh! :D.

Saya tipe pemalas yang kalau sudah pakai satu produk itu bisa belasan tahun. Kalau sudah merasa cocok, ya kayak sekarang ini pakai produk TBS sudah lebih dari 10 tahun. Bukan karena setia, lebih karena malas saja ganti/bandingin/coba-coba merek lain :D.

Dari TBS, produk skin care vitamin C nya, saya pakai 2 item dari total 6 item. Bukan endorse ya iniiiiiiiii :D.

Saya kepikiran bikin review tapi terus saya bingung kalau bikin review gini-ginian itu harusnya gimana hahaha. Masa mau nulis, “Eh, saya jadi cantik lho pakai produk ini.” Gimana gitu ya, sebenarnya tanpa gitu-gituan pun saya selalu merasa cantik –> dilempar granat! Hahaha.

Sudah terbayanglah kegagalan besar-besaran kalau nekat sok-sok an meretas jalan menjadi biuti bloher :p. I believe that beauty has nothing to do with the “mask” –> sok bijak lu! Padahal dirinya sendiri lebih baik bunuh diri daripada keluar rumah tanpa bedak! >_<

Wah, apa review bedak saja? Muhahahahahaha.

Kemarin-kemarin juga ada banyak sekali tips soal meningkatkan kualitas tulisan untuk memancing traffic yang pakai angka-angka itu lho. Misalnya “10 cewek paling imut di dunia ini pasti bikin kamu panas dingin”, deh. Ada sih beberapa artikel saya yang dibuat gitu-gituan. But again, kurang cucok buat karakter blog saya –> jadi maunya appaaaaaaahhh hahaha.

Tapi balik lagi yaaaaa. Dunia ini memang tidak seragam. Tantangan buat kita ya itu bagaimana caranya menciptakan tren bukan malah terbawa arus sampai jauh. Eh, maksud saya, kalau memang doyan make up ya tidak apa-apa banget lho menuangkan hobi ke dalam tulisan di blog. Malah bagus.

Maksudnya jangan sampai yang kayak saya yang jelas-jelas bedain blush on sama eye shadow saja tergagap-gagap mendadak pengin ikut merusuh jadi beauty blogger demi trepik hahahaha :p.

Yang terbaik itu mungkin bersaing dengan diri sendiri dulu. Coba yaaaaa, itu tahun lalu jangan-jangan banyakan fesbukannya *jeweeeeerrrr*. Duh gimana nih, jelang Pilkada bouw. Membahas politik itu penting buat saya :D. Bukan sekadar buat nyari beranteman doang huhuhu.

Gambar : koran-indonesia
Gambar : koran-indonesia

Dari sekian banyak tips ngeblog, saya pun rajin bacanya. Semuanya saya baca kalau sempat :D. Tapi tidak semua saya ikutin. Dilihat-lihat saja yang mana kira-kira cocok.

Yang penting mungkin tahun ini jadi nambah satu topik regular di blog pribadi ini. Sembari tetap semangat ngurusin blog dapur, dan meretas jalan menjadi vlogger hihihi. Terus melakukan hal-hal yang memang kita senangi dan beneran bikin kita hepi.

Tentu, saya tetap semangat meningkatkan traffic segala macam, tapi seperti kata Om Sinatra tadi, “I did it my way” <3.

Kita enggak boleh keras kepala dan ngotot melakukan hal-hal sia-sia yang tidak menunjukkan kemajuan. Tapi enggak boleh juga melepaskan prinsip-prinsip utama hanya demi tujuan yang seharusnya tidak menjadi tujuan primer *mbuletYaaaaa* :p.

Boleh dong bercita-cita mendapat keduanya ;). Tetap dengan cara yang kita merasa nyaman dengannya tapi hasilnya juga cetaaaarrrr :D. Gimana caranya? Nah itu, gimana ya caranyaaaaaa hahahaha.

Perhaps, let’s just try our best, tetap menjadi diri sendiri, sambil menyesuaikan diri dengan tantangan era digital yang super dinamis ini :

“You have to take the tradition and decorate it your way.” -Carrie Bradshaw, Sex and The City-

You did it … your way ;).

Btw, ya Allah, itu lipstik gue tarok mana yaaaaaaaaaaa >_<.

***

Kecil-kecil Cabe Rawit

Awal tahun 2011, di bulan Januari kayak sekarang ini, harga cabe juga menjadi buah bibir. Sempat menembus angka 80 RIBU RUPIAH per kg. Itu harga 6 TAHUN LALU yaaaaa.

Enggak usah dicek siapa presidennya. Kecewa kalian nanti .

Tapi ya siapalah yang bisa hidup tanpa cabe ya Kak hahahaha *salamanDulu*. Perantau yang lidahnya sungguh kampungan macam saya ini tentu merasakan beratnya beban hidup dimana tempe dan cabe tidak hanya mahal tapi juga TIDAK ADA di kota tinggal saya.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Sampai akhirnya iseng main ke toko sayur dan buah depan gedung apartemen. Ada orang India yang masuk terus dia langsung ke rak belakang. Saya sebenarnya waktu itu nyari daun mint buat bikin Nasi Biryani. Jadi pengin nanya dia hihihi.

Ealah, ternyata di rak itu banyak bumbu khas Asia termasuk….satu keranjang cabe merah segar ginuk-ginuk montok yang seolah meledek saya, “Ke mane aje loooooooooo….”

Rasanya pengin salto dalam toko hahaha.

Begitu mas-mas Indianya hengkang dari rak itu, saya sikat cabe-cabe merah itu. Sayang, si mas-masnya udah ambil banyak. Tapi ya lumayanlah, sisa segitu cukup buat masak sekali.

Ternyata, pengin salto untuk kedua kalinya pas tahu harganya hahahaha. Rasanya pengin sujud syukur karena si mas-mas India sudah ngeborong duluan .Kan tengsin ya kalau gegayaan mau ngeborong pas di kasir terus minta dibalikin sebagian .

Kalau kata orang Bugis, Siri’ ituuuuuu hahahaha .

Anyway, soal harga cabe di Indonesia. Memang ada pola harga melangit hampir setiap akhir tahun jelang awal tahun. Di tahun 2011 salah satu yang paling pedas kenaikannya hehe.

Tapi tahun 2012 harga cabe turun lebih awal.

Tahun 2015, 2016 dan 2017, mengapa lebih spesial pedasnya harga cabe? Ya masa harus dikasih tahu kenapanya sih hahaha. Hanya di era siapa era siapa era siapaaaaaaaa .

Kurus-kurus cabe rawit dah emang Pakde kite nih hihihi. Eh, kecil-kecil cabe rawit ya .

Jokowi be the man

Tentulah, walau ditempa banyak kesibukan di awal tahun yang penuh resolusi ngana ngunu ini (gayaneeee hahahaha), tetap saja seekor eh seorang kecebong imut ini harus tampil di garis paling depan membela Pakde *benerinBambuRuncing*.

Tenang, tenang, saya mah pembawa berita baik. Berita-berita baik yang luput dari hingar bingarnya kembang api berita yang meletup-letup di news feed saban hari hihihi .

Misalnya tahun lalu, pemerintah menaikkan batas minimum PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak) untuk Pajak Penghasilan di pertengahan tahun 2016. Tentu efeknya lumayan buat penerimaan pajak. Penerimaan pajak akan berkurang karena pajak penghasilan akan melorot .

Diantara polemik kegagalan mencapai target penerimaan, pemerintah masih memikirkan kok ya kepentingan masyarakat. Tetap nekat menaikkan PTKP walau resiko penerimaan negara akan berkurang.

Masing-masing memang harus berkorban ;). Negara ini kan kepunyaan kita sama-sama ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Dengan kenaikan PTKP diharapkan daya beli masyarakat secara umum membaik karena otomatis pajak penghasilan yang dibayarkan turun.

Begitu awal tahun 2017 ini ada harga naik, newsfeed pecah dengan rintihan dan keluhan yang muter-muter ke sana kemari yang pada dasarnya menuju ke satu orang itu tuuuuuhhh … pastinya beserta segenap pendukungnya harus menanggung akibat hahaha,

Nyatanya memang “bad news is a good news” ya . Wajar kok kalau berita yang potensinya meresahkan pasti lebih booming.

Anyway, semoga tetap semangat ya teman-teman. Ya memang berat lah itu kalau harga cabe selangit hehehe. I feel you. Tapi maaf, saya enggak bisa ikutan meratap berjamaahnya hehehe.

Soal harga naik ya, globally, it’s not a good time in everywhere. Tapi semoga Indonesia termasuk diantara negara-negara “ajaib” yang sedang meretas jalan untuk naik kelas secara ekonomi global . Tanda-tandanya banyak kok. Aamiin .

Bukan kapasitas saya untuk menerangkan masalah-masalah ekonomi secara detail. Saya mah paling andalannya cuma bisa bilang, “Sabaaaaaarrrrr…”

Namun, siapakah yang hidupnya yang tidak celaka selain mereka yang saling nasihat dan menasihati dalam menetapi kesabaran .

Pikir yang baik-baik, berbicara yang baik-baik, prasangka yang baik-baik, insya Allah yang datang nanti semua yang baik-baik.

The best is yet to come ya teman-teman. Tapi ingat, tidak ada yang bilang perubahan itu mudah . Sabaaaaaaarrrrrr . 

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com