Can’t Help Falling in Love

Mungkin ada satu masa dimana pernikahan kita baik-baik saja. Paling masalah receh-receh saja. Pokoknya happily married hepi-hepi joy tralala trilili.

Enggak tahu gimana ceritanya tahu-tahu saja we are falling in love again, NOT with our spouse.

Kok bisa ya?

Ya bisa banget dong Dear, simply because we are HUMAN. Bukan robot ūüėú.

Memang kondisi perasaan naik turun dan gak stabil terus-terusan. Termasuk dalam urusan naksir-naksiran begini. Mau umur berapa juga, rasanya kalau kena panah asmara apalagi yang tidak pada tempatnya, memang maknyooosssss ūüėõ. read more

12 Tahun Pernikahan

“Lucky, I’m in love with my best friend”, itu judul lagu yang pas buat kami berdua hihihi.

Kenal dari kampus tapi enggak pernah ngobrol dulu. Yang sini naksirnya siapaaaa, yang sono deketnya ama yang lain lagi. Lingkaran pertemanan berbeda.

Tapi sahabat perempuan saya juga dekat sama dia.

2004!

 

Jadi satu geng gara-gara setelah lulus dan masing-masing sudah bekerja & sering jalan bareng berempat, dua laki-laki dua perempuan. Dia doang yang punya pacar, kami bertiga jones semua ???. Teman kampus seemua.

Yang diomongin mostly soal kerjaan. Lagi labil-labilnya baru lulus ye kan. Berdebat soal masa depan pekerjaan di dunia IT vs Telecommunication. DIA dan teman laki-laki satunya murtad ke Telco, sedangkan cewe-cewe berdua tetap istiqomah di dunia IT .

Selalu pergi berempat gak pernah dua-duaan. Nonton bareng, makan siang bareng, gosipin orang bareng hahahaha.

2005!

 

Kumpul-kumpulnya juga suka-suka. Paling banter sebulan sekali. Pernah juga sampai berbulan-bulan gak ketemu.

Pas dia putus sama pacarnya juga saya tidak tahu. Lagi jarang ketemu waktu itu. Akhirnya tahu dari teman saya yang lain. Tapi ya monmaap, gak ada perasaan apa-apa waktu itu jadi cuek ajah .

Ketemu lagi pas wisuda universitas tahun 2004. Itu setelah 2-3 bulan enggak ketemu eeeehh papasan di Bis Kuning menuju fakultas. Masih banyak teman-teman kami yang baru lulus tahun segitu. Jadi pengin kumpul aja.

Waktu itu saya berduka, karena beredar kabar kalok mantan saya mau merit. Oh tidaaaakkk *pukulPukulDinding* ???.

Meritnya bulan Februari pas acara-acara TV penuh tema-tema Valentine. Kesel banget kaaaaaannnn ???.

Tapi terus saya ditemenin DIA ke kawinan itu. Dijemput di kosan. Pulangnya diajak nonton berdua. Mungkin maksudnya buat menghibur gitu-gitu ya hahaha.

Gak lama abis itu telpon-telponan mulu yang tadinya enggak pernah, lho. Jadi sebelumnya cuma jalan bareng berempat tapi gak pernah sms/telpon khusus ke saya.

Terus bla bla bla bla, 7 Maret 2004 jadian deh. Terus jalan berenam, karena dua teman yang lain jadian juga sama orang lain. Kadang juga masih jalan berempat.

Lupa tahun berapa, 2004 – 2005??

 

Dari situ lupa gimana-gimananya ya tahu-tahu lanjut sampai menikah di tahun 2007.

Jadi terkenang-kenang karena ketemu photobox pertama setelah pacaran. Tahun 2004 yang paling atas tuh lagi kinyis-kinyisnya ???.

What a wonderful years we’ve been thru. Dari berduaan dalam ruangan photobox somewhere in Jakarta sampai berlima sekarang di sebuah dusun nun jauh di Irlandia sini hihihihi.

Semoga sehat selalu, berdua sama-sama gedein anak-anak, aamiin .

2018!

 

Pernikahan sering diibaratkan dengan bahtera.

Jangan memaksa menambatkan hati pada pelabuhan yang salah hanya demi mendapatkan teman untuk berlayar bersama .

You know, you’re happy enough to be yourself ketimbang harus memilih pasangan yang salah . Keep being the you that you like .

Menikah kurang tepat jika diupayakan untuk mencari bahagia. Pastikan kebahagiaan diri sendiri sebelum menikah. Agar kelak, menikah akan menjadi proses melipatgandakan kebahagiaan. To make it double .

Double happiness.

Tapi terus jangan jadi paranoid, pokoknya kudu nunggu yang bener-bener sempurna. Mau nikah ama malaikat apa sama manusia iniiiiiiii .

Iya dong, rumusnya tetap sama, enggak boleh grasa-grusu, wait until both your heart and your head say YES .

2018!

 

Patokan menikah hanya sekadar debaran-debaran di dada? Yaela, setahun dua tahun juga hilang, Sis & Bro hahahaha.

But …

‚ÄúTo say that one waits a lifetime for his soulmate to come around is a paradox. People eventually get sick of waiting, take a chance on someone, and by the art of commitment become soulmates, which takes a lifetime to perfect.‚ÄĚ
‚Äē Criss Jami, Venus in Arms

This whole new world called marriage … takes a lifetime to be perfect . Always in progress.

2019!

 

Ini kenapa slideshow -nya (lihat vlog di bawah tuh) banyakan foto emaknya hahahaha. Suami saya itu seneng motret sementara saya gak pinter ngambil-ngambil komposisi yang bagus kalau motoin orang lain. Gimana dong ya, kita mah senengnya difoto .

Dia suka kesel kalau saya yang ngambil fotonya hahahaha.

Vlog di bawah ini kompilasi foto dari berdua, bertiga, berempat, sampai berlima kini . Alhamdulillah .

Happy (belated) anniversary, Pops .

 

Sometimes Love Just Ain’t Enough

Memang sukar melepaskan sensasi media sosial tanpa topik buat julid-julid an, yes? Hihihihi. Terutama tentang perceraian.

Persoalan ruang pribadi begini, apalagi ada pihak yang sangat tertutup, sangat menarik buat dibikin teori-teori konspirasinya .

Ini soal Pak BTP yang konon akan segera melangsungkan pernikahannya yang kedua setelah kemarin sudah membuat timeline terbakar dengan isu perceraiannya.

Masalahnya lagi, Ibu Veronica Tan ini sosok yang gimanaaaaa gitu, ya. Sangat tenang tidak banyak bicara. Walau beliau juga pernah mengguncang linimasa waktu menangis sesenggukan pas vonis Ahok jatuh. But didn’t we all?¬†?

Gambar : pixabay.com

Terus kembali ramai dengan isu perselingkuhan. Tapi ibu Ve -nya tetap diam. Tahukah kalian kemarin beliau juga ikut menonton film “A Man Called Ahok” rame-rame di bioskop?

Tentu saja saat diwawancarai, beliau ya seperti biasa, menjawab seadanya nyaris tanpa ekspresi.

It’s a huge thing when two persons with these great personalities (both BTP dan Ibu Ve) akhirnya harus cerai setelah menikah cukup lama. Tidak kuasa untuk tidak julid, walau mungkin sebenarnya kita itu SEDIH ya¬†.

Mungkin karena tidak sadar di budaya kita, bahkan di negara-negara maju lho, PERCERAIAN masih dianggap BUKAN persoalan biasa. Tapi lebih berat beban sosialnya di negara-negara Asia. Terutama untuk perempuan.

Kalok udah cerai berasa aib gitu-gitu lah.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay

Walau kasus BTP ini agak unik. Banyak yang ikutan mencaci Ibu Ve loh. Duh kalian ini. Kenal juga tidak .

Sementara hater tepuk tangan atas ketidaksempurnaan tokoh yang sudah setengah mati mereka cari kekurangannya selain mata sipit dan perbedaan keyakinannya.

Kasus Bunda Maia beda lagi. Kalau biasanya perempuan yang sering dalam posisi tersudut, Bunda Maia mendadak dapat cheerleader yang sampai bertahun-tahun ngikutin kehidupan beliau. Makanya pas akhirnya beliau kembali menikah baru-baru ini, seolah penggemarnya ikut merit juga saking hebohnya hahahahaha.

Apa kabar dengan Bripda Puput dan Neng Mulan?

Pernikahan itu memang gimana, ya. Dibilang penjara karena mengekang kebebasan ya juga iya (hahahaha). For both lho ya, bukan cuma buat yang lakik ;).

Dianggap menyempurnakan hidup ya iya juga. Disangka membuat hidup lebih bergelombang ya so pasti banget .

Nobody can really tell apa sih rahasia langgengnya hubungan?

Apa iya karena memang saling melengkapi. Ya siapa yang tahu. Ada juga kok yang bertahan semata karena takut menghadapi tekanan lingkungan, posisi karier, mikirin anak dst dst.

Dari yang memilih “bertahan” karena hal-hal lain di luar dirinya ini, jangan dianggap pasti kelar hidupnya. Ada juga yang berhasil melewati¬†. Yang gagal ya ada juga.

Selevel selebriti yang sering diisukan bakal pisah, bakal pisah, dan didera banyak gosip bla bla bla laaaaahhh…sampai sekarang masih rukun-rukun saja. Amit-amit dah, jangan cerai yak Kakak Victoria dan Aa’ David. Aamiin¬† :D.

Gambar : eonline.com

Sama dengan yang memilih berpisah. Ada yang baik-baik saja ada yang tidak. We never know. Ndak paham juga itu gimana-gimananya, faktor-faktornya, teori-teorinya dsb dsb.

Pusing kita dengan kasus-kasus perceraian pada pasangan yang dari luar tampak terlalu sempurna. Mau yang istrinya ikutan berkarier atau istrinya patuh di rumah, semua kasus pokoknya ada contohnya.

Ada yang kelihatannya limbung tapi kok ya lanjut terus sampai kakek nenek dan ya gitu … kayak gak ada apa-apa aja¬†.

Silakan lah diramu rumusnya keluarga bahagia itu kek apa, harus gimana-gimana. Harus mengikat suami sekencang-kencangnya gak boleh berhubungan dengan perempuan mana pun?

Katanya kalau cinta itu seperti pasir, digenggam terlalu kuat pasti akan merembes ke sela jari-jari kita.

Tapi juga seperti air, kalau dibiarin aja di telapak tangan tanpa tertangkup ya lama-lama tumpah semua.

Gak usah pusing, karena pernikahan itu sudah lepas deh dari yang namanya cinta-cintaan, dada berdebar, bla bla bla .

Perkara KOMITMEN. Siapa bilang kita tidak mungkin jatuh cinta lagi pada orang lain selain pasangan setelah menikah asalkan kita setia asalkan kita rajin ibadah bla bla bla? Kata siapaaaaa .

Ya mungkin saja. Cinta suka datang tiba-tiba euy.

Tapi emang iya kalau suka sama orang lain berarti end of marriage. Ya tidak juga. Tergantung KOMITMEN masing-masing .

Tapi sama juga. Ketika harus bercerai ya tidak berarti END OF LIFE kaaaaaaaan.

Asumsi masyarakat tentang kesempurnaan hidup yang kudu berurusan dengan surat nikah ini juga yang harus diberantas . Jomblo dibully, orang cerai dikomentarin panjang lebar, giliran pernikahan tidak bahagia ribet sendiri mau cerai apa kagak lebih karena takut pada tekanan lingkungan.

Seperti kata lagu lirik lawas, “There’s a reason why people don’t stay where they are … Baby, sometimes LOVE just ain’t enough …”

Tapi karena akoh anaknya nasionalis, ku-share lagu dari negeri sendiri terkait topik pisah-pisahan ini hihihihihi¬†. D’you know this song?¬†

Ayam Kremez

Jules terisak-isak sambil¬†curhat, “I don’t want to be buried alone. Paige’ll be with her husband, and Matt’ll be with his new family, and I will be buried with strangers. I’ll be buried in the strangers singles section of the cemetery. Not that that is a reason to stay together. But it’s just, you know, a scary sidebar.”

Ben menyodorkan selembar tisu, “Let’s take that one off your plate right now. You can be buried with me and Molly. I happen to have space, okay?”

Sudah nonton film The Intern? Hehehe.

Saya baru tahu filmnya tadi pagi, suami yang cerita hehehe. Jadi, waktu baru bangun tadi, saya memperlihatkan video kantor tempat saya dulu bekerja pada suami saya.

the-intern

Then we were joking around, “Nih kantor barunya. Keren, ya. Duh kalau aku gak resign, sekarang aku udah jadi manajer kali Bang. Gak perlu pusing abang nyari kerja! You just stay at home with the boys. Nanti aku aja yang kerja di kantor.”

Saya suka becandain, “Coba gue masih kerja. ¬†I can bring big bunch of money. Abang bobok-bobok aja di rumah.”

Suami sih nyenyir saja terus tahu-tahu dese cerita tentang film ini hahaha. Ampun, Bang! #tiarap :p.

Filmnya sendiri bercerita soal seorang intern, a senior intern, a super senior one hehehe, Ben (Robert De Niro). Menjadi intern di sebuah start up company yang CEOnya perempuan muda yang super sibuk extremely smart and super lincah, Jules (Anne Hathaway).

Jujur saya enggak nonton filmnya utuh. Karena saya sudah lama mempersiapkan tulisan Ayam Kremez ini cuma lagi nyari-nyari “punchline” yang pas #eaaaa hihihi. Saya rasa Jules dan Matt (suaminya) bolehlah kita jadikan salah satu contoh :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jules seorang perempuan bekerja, very bright, super sibuk di kantor. Jadilah anaknya, Paige, dirawat sehari-hari oleh Matt, suami Jules. Matt tidak bekerja biar bisa konsen mengurus rumah dan Paige. Ya iyalah, di luar negeri enggak ada simbok dkk hehehe.

Tadi Jules curhat ke Ben soal Matt yang ternyata berselingkuh. Jules tidak ingin memberitahu Matt jika dia tahu soal perselingkuhan ini. Jules punya kecemasan yang lain.

Ayam Kremez istilah yang muncul untuk mengimbangi Macan Ternak, Mama Cantik Anter Anak ke Sekolah vs Ayah Muda Keren Bikin Gemez hahaha. Ada-ada saja.

Tapi di kota tinggal saya sekarang ini, dan saya rasa di banyak wilayah di negara-negara “mapan”/western countries, fenomena Ayam Kremez berkeliaran bareng anak-anak tanpa kehadiran istrinya adalah fenomena biasa. Kalau di Indonesia, waduh, ada papah-papah muda wara wiri ngurus anak tanpa bini pasti langsung digodain, “Poligami itu boleh lho, Mas!” Hahahaha.

Di sekolah anak saya, rutin banget ketemu beberapa Ayam Kremez –> kremez beneran boooo hahaha, untung suami kagak kalah kremeznya, harus langsung klarifikasi biar kartu ATM enggak disita hahaha. Ketemu di sekolahan pas nganter anak, eh papasan di supermarket pas lagi belanja, pulangnya ketemu lagi pas jemput anak hihihi.

Ada juga yang saban pagi dorong stroller keluar dari gedung apartemen. Paling saling menyapa sebentar dia pun ngacir pergi berdua saja dengan adek bayi dalam stroller. Rutin tiap hari. Siang-siang ngeliat dese masuk gedung dengan segabruk belanjaan. Dari kantong belanjaan nyembul sayur-sayuran semacamnya gitu hehe.

Belum tentu mereka tidak bekerja sama sekali, sih. Ada yang memang part timer. Jadi bisa bekerja fleksibel. Ada yang memang menjual jasa tergantung kebutuhan/order. Istri mereka biasanya bekerja full time menjadi pegawai toko, office girl di mal, dsb. Catet ya, pekerjaan seperti ini gajinya tetap oke banget untuk ukuran sini.

Karena di negara-negara maju, apalagi model Eropa-Australia-Kanada, gap gaji tidak terlalu jomplang hehehe. Bosan banget ya saya ceritain soal ini hehehe.

Hadeeeeh kalau di Jakarta sudah habis tuh bininya dinyinyirin habis-habisan. Syukur-syukur si Ayam Kremez bersangkutan kagak difoto-foto terus disebarin di medsos, “Manaaaaaa istrinya, manaaaaaaa… Perempuan macam apaaaaahhhh…” :p.

Etapi sebenarnya sudah ada juga¬†lho pasangan model begini di Jakarta. Saya pernah kenal juga keluarga dengan “sistem seperti ini”. Walau sang suami tidak benar-benar full time di rumah, ada pekerjaan juga. Atau punya usaha yang bisa disambi dari rumah.

Satu ¬†hal yang jelas, pengurusan rumah tangga dominan dipegang oleh suami yang umumnya menjadi tanggung jawab istri (well, setidaknya dalam kacamata “ketimuran” kayak kita-kita ini). Di luar negeri sih tidak ada simbok/nanny, jadi memang kelihatan banget peran suaminya.

Kalau di Jakarta masih bisa dibantu simbok/embak/nenek/eyang/tante dan lain-lain kali ya hehehe.

Saya kurang tahu sudah seberapa besar penerimaan masyarakat terhadap “pertukaran peran” macam ini di Indonesia. Ada yang punya datanya? Hihihihi.

Isunya membentang dari “seberapa jauh efek emansipasi perempuan bla bla bla”, “apa laki-laki benar-benar rela anu-anu-anu”, “menantang kodrat kah” dan seterusnya.

Tapi di film Intern masih kelihatan ya, di “dunia barat” pun hal-hal seperti ini masih menjadi tantangan tersendiri. Belum 100% terlepas menjadi hal umum. Masih bersisa tabu-tabunya dikit.

Jules malah takut kalau dia memilih konfrontasi secara terbuka, Matt malah akan ‘pergi’.

Menurut Jules, Matt pasti mudah menemukan pasangan kembali. Jules meradang sendiri,”I’m not easy.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jadi begini, Matt pun sebenarnya dulu juga bekerja malah kariernya lumayan. Tapi dia mengalah untuk Jules. Jules pun pede menjalani hari-harinya karena dia percaya kepada Matt.

Again ya, jadi perempuan emang repot hihihi.

Dalam kasus ini saja, malah Jules yang¬†disisipin perasaan bersalah dan merasa “deserved”. Makanya dia sempat memilih mau meloloskan penggantinya saja dan ingin ‘step down’ dari perusahaan. Demi menyelamatkan rumah tangganya.

Berat ya menjadi perempuan seperti Jules. Kita ingin mempunyai keluarga -suami dan anak- tapi kita pun ingin “terbang tinggi” dan merasa keduanya sama pentingnya.

Tapi lihatlah, pasti kesenggol melulu kalau menjadi yang model begini. Jangankan adat ketimuran, di film ini saja yang jelas-jelas settingnya di negara yang konon paling liberal, masalah begini ternyata masih kejadian hehe.

Ish, enaknya jadi laki-laki :p. Cari uang buat keluarga dipandang hebat. Mau mengalah demi istri pun tetap dipuji-puji besar hati dan sebagainya.

Kita perempuan? Di rumah dinyinyirin, kerja juga dipelototin hahaha.

Saya pribadi kagum dengan model “Ayam Kremez” begini hehehe. Tentu tidak mudah kan mengorbankan ego alami laki-laki demi perempuan yang kita sayangi <3.

Hal lainnya lagi, kalau pun misalnya suami dan istri sudah sama-sama sepakat lantas bagaimana dengan tekanan lingkungan atau keluarga? Apalagi kalau di  Indonesia ya. Beuh, dua-duanya bisa dihajar habis-habisan tuh hahahaha.

“Istrinya egois amat!!”

“Dasar laki-laki lemah!!”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kalau dalam keluarga saya pribadi, maksud saya antara saya dan suami ya mungkin so far terasa “nyaman” saja. Kita kurang tahu ya ke depannya hehehe. Semoga nyaman terus ya Bang ;).

Ini karena ya dia tipe “I’m a man and let me be the one.” Sementara saya memang yang enjoy aja bangun pagi wara wiri di dapur, ngurus anak di rumah, tentu sambil sambil bertempur di Facebook dong ya hahaha. Kayaknya saban Pilkada sama Pilpres, ribut melulu wall gue hahaha.

Soal keuangan suami cenderung hemat tidak macam-macam jadi kita punya investasi yang alhamdulillah “cukup” lah so far.¬†Dan saya juga bukan tipe yang harus punya baju 2 lemari atau punya tas bermerek atau apalah-apalah.

Jadi tidak ada ‘beban’ tambahan hehehe.

Saya pernah kok berdebat dengan ibu saya soal kemandirian secara finansial. Ibu saya tidak suka “perempuan di rumah” hehehe.

Tapi bagaimana ya, probably because I trust him. Bukan percaya membabi buta gitu-gitu ya bahwa dia akan setia sampai mati bla bla bla. Tapi ya begitu deh, kami berdua merasa nyaman aja gitu :D.

Jangan dikira dia ngupil-ngupil aja pulang kantor hahaha. Ini luar negeri, Men! Kagak ada embak. Pulang kantor ya dia bantuin saya di rumah :p. Weekend dia yang nganterin anak-anakk berenang segala macam sementara saya ngupil di rumah hahaha.

Dia membantu anak-anak mengerjakan peer, do some laundry sometimes, bahkan tidak segan mengganti popok adek bayi.

Ya pada intinya balik lagi. Every family has its own rule, yes? :D.

Selama keduanya sepakat, let’s go on! Yang lain-lainnya¬†bisa ‘menyusul’, yes? ;).

 

When The World Had Somehow Shifted

Saya suka iseng nanya ke suami, “Kok dulu tetap mau nikah padahal gue kan kerja kantoran? Kalau gak mau resign gimana hayoooo…”

“Gak tahu juga ya. Abis feelingnya pasti bakal resign hehehe…”

Beberapa waktu lalu, sebuah wawancara dengan artis laki-laki yang dikenal banyak hater sempat ramai dihujat orang. Terkait pernyataan si laki, “Saya tidak ingin ada 2 matahari dalam keluarga saya.”

Kalau saya sih bisa paham model laki-laki kayak begini. Lah, suami saya juga ketiplek ketumplek kayak begini hahaha :p.

Jihan Davincka Anniversary Note

Sebelum menikah, bayangan saya tentang kehidupan rumah tangga lebih banyak terisi dengan apa yang di depan mata saja. Misalnya orang tua kandung saya sendiri.

Melihat ibu saya yang “terhempas” begitu ditinggalkan bapak yang meninggal tiba-tiba membuat saya selalu berpikir, “Pokoknya nanti saya mau jadi wanita karier! Titik!”

A bit funny, karena ibu kandung saya bukan perempuan “rumahan”, punya usaha sendiri selain ikut membantu bapak jualan di kios di pasar. I won’t judge her :). Sikonnya ya memang begitulah.

Walau tahu kalau suami saya kepengin punya istri yang “di rumah mengurus anak”, saya tetap ngeyel minta dikawinin hahaha. Hadeeeh, pokoknya kawin dulu dah. Apa yang terjadi nanti bisa pikir nanti –> kebelet apa kenapa, Neng? Hahaha.

Kelamaan menjomblo bikin panik ya, Cuy! Hahaha.

Ya tapi suami saya juga tetap melamar padahal saya tetap kerja dan mengklaim terang-terangan, “Jangan harap bisa maksa gue berhenti kerja, ya! You won’t!”

Probably he saw ‘something’ yang saya pun belum yakin saat itu hehehe. Or simply because I’m too cute to be ignored dong yaaaaaa –> dikeplak panci! Hahaha.

ucapan anniversary pernikahan
Gambar : pixabay.com

Iya sih, setelah menikah, a new image about how a family can be run came from my in-laws :), bapak dan ibu mertua saya.

Ya perempuan Minang memang punya didikan spesial, ya (y). Budaya matrilineal membuat perempuan Minang tidak terlalu baper soal emansipasi-emansipasi an hehe.

Keputusan resign saya tidak seimpulsif itu sih. Sebelumnya, sudah saya pertimbangkan matang-matang kanan kiri atas bawah. It took me months to finally “go on” with the plan :D.

Siapa yang tahu apa yang terjadi ke depannya? Peristiwa yang menimpa almarhum bapak saya bisa terjadi kepada siapa pun. Mungkin pula … somewhere along this windy road we’ve lost the trust, seperti kata Usher di salah satu lirik lagunya.

Makanya, saya pelajari soal pembagian harta gono gini! Hahaha :p. Buat saya, cinta tak pernah buta *kepretinDuit*.

Tapi ya jangan negatif-negatifnya saja yang dipikir lah ya. Saya pun percaya segala kemalangan yang menimpa kita bisa berupa 2 hal : ujian kah? Atau jangan-jangan akibat dari perbuatan kita sendiri? :).

Kelar mikirin urusan materi duniawi (hahaha), selepas resign, saya memutuskan untuk berusaha menjadi pasangan yang baik, semampu saya untuk mendampingi sebagai istri ;). Minimal kalau pun nanti dia “macam-macam”, saya mudah-mudahan terlepas dari kelalaian akibat diri sendiri hehe. Aamiin.

Berbagai pertimbangan yang saya korek dari teman-teman di kantor seperti ini :

“Ealah Jee, lipstik mahal, tas mahal, baju mahal. Gile aja kalau ngemis suami melulu.” Hihihi

Saya nyengir kalau soal ini :D. Maklum ya, saya ini tipe orang yang takut lihat barang-barang mahal. Dari dulu sampai sekarang ya tetap takut hahaha.

Soal kosmetik juga ya begitulah :p. No issue terkait hal ini.

“Gini ya Jee, kalau berhenti kerja, takutnya kita itu diremehin suami. Dia malah jadi nganggap kita gimana gitu.”

Nah, saya sempat khawatir soal ini. Tapi sampai sekarang suami saya tidak berubah ^_^.

ucapan anniversary pernikahan
gambar: pixabay.com

Dia tetap menganggap saya teman diskusi yang “layak” dalam berbagai hal. Pillow talks kita beragam mulai dari ngomongin anak, ekonomi, politik, sejarah, nostalgia masa kampus (hihihi), eyel-eyelan soal siapa dulu yang IPKnya lebih tinggi (hahaha), dan tentu saja spesialisasi saya … hosip-hosip artis!!!! Hahaha.

Keputusan kecil maupun besar pun dia tetap ngotot saya harus berkomentar. Padahal ya seperti urusan saham misalnya, gue kagak paham, woiiiiii -_-.

Ya mungkin saya nyaman karena suami juga membuat saya nyaman dengan pilihan ini :).

Keputusan saya dalam hal ini tentu berkaitan dengan karakter pribadi, situasi dan kondisi, dan yang tidak kalah pentingnya, dukungan/sikap/respons suami :).

Ya makanya jangan suka banding-bandingkan :D. Orang yang paling tepat kita mintai pendapat terkait keputusan dalam menikah ya pasangann kita sendiri dulu lah ya. Pendapat yang lain-lain bisa minggir dulu :p.

Laki-laki juga beda-beda. Ada memang teman saya yang lebih sreg kalau istrinya ikut berkarier. Ada yang seperti suami saya. Ada yang modalin istrinya untuk berbisnis malah. Ya tergantung tipe bini juga kan?

Ada perempuan kayak saya, leyeh-leyeh di rumah pun sepanjang hari tak pernah merasa gimana-gimana hehe. Ada juga yang memang bawaannya rusuh kalau di rumah terus.

‘Tekanan’ buat perempuan memang lebih condong untuk “mengabdi di rumah” dan fokus pada anak, literally. Tapi buat teman-teman perempuan yang mungkin belum menemukan pelabuhan untuk berlabuh, pertimbangkan ini juga ya, sebuah puisi bagus dari Goodreads nih :),

“Dear Woman,
Sometimes you’ll just be too much woman.
Too smart,
Too beautiful,
Too strong.
Too much of something that makes a man feel like less of a man,
Which will make you feel like you have to be less of a woman.
The biggest mistake you can make
Is removing jewels from your crown
To make it easier for a man to carry.
When this happens, I need you to understand
You do not need a smaller crown‚ÄĒ
You need a man with bigger hands.‚ÄĚ
‚Äē Michael Reid read more