Kalau anda lahir di tahun 80-an atau sebelumnya, pasti respons anda akan sama seperti saya ketika melihat gambar di samping. Cekikikan mengingat betapa jadulnya dunia musik di masa kecil dan abege kita :D.
Btw, apa ya musik yang saya anggap asyik?
Jujur saja, soal musik, selera saya tidak stabil. Saya bahkan tidak percaya bahwa kaset pertama yang saya beli dulu, ketika usia saya masih 10 tahun, adalah album “Isabella.” Album yang melambungkan grup musik asal Negeri Jiran di tanah air, Search. My oh my :P. Seminggu penuh saya merengek pada ibu. Tiap ibu pulang dari kios, saya merengek, “Ada mi kasetnya?” (Sudah ada kasetnya?)
***
Mengingat-ingat apa kira-kira musik asyik dari dulu hingga kini membuat saya sadar lagi, betapa banyaknya saya bersaudara kandung. Hahahaha. Maklumlah sudah belasan tahun saya tak pernah berkumpul bersama mereka lagi.
Semua kakak saya laki-laki. Semuanya penggemar musik dan tidak segan-segan membelanjakan uang saku untuk mengoleksi kaset dari musisi favorit mereka. Adik saya yang perempuan juga sama. Kalau si bungsu yang usianya jauh terpaut dengan kami semua, sudah berada di era MP3 ketika memasuki masa remajanya.
“White Lion” (Gambar : www.duck.fm)
Kakak yang pertama usianya terpaut 12 tahun dari saya. Karena radionya cuma 1, kakak yang pertama ini yang ‘berkuasa’ atas satu-satunya radio yang ada di rumah. Sejak usia 6 tahun, saya sudah berkenalan dengan lagu rock. Sampai eneg rasanya mendengar lagu “Preman” (dipopulerkan oleh Ikang Fawzi) yang diputar berulang-ulang dari pagi sampai malam.
Di usia sekecil itu saya juga sudah tahu tentang grup-grup beraliran rock asal Negeri Paman Sam. Misalnya saja White Lion dengan salah satu lagu andalannya, “When The Children Cry.”
Saat kakak pertama hengkang ke Surabaya melanjutkan kuliah ke sana, tirani senioritas mulai ditinggalkan dalam urusan memutar kaset :P. Semuanya boleh menikmati radio secara bergantian.
Kakak ke-2 memperkenalkan saya pada kompetisi menyanyi nasional, Festival Lagu Favorit Indonesia. Di ajang ini, tepatnya yang tahun 1987, jadi tahu, deh, sama yang namanya grup vokal Elfa’s Singers.
Kakak saya ini juga yang rajin membeli dan memutar koleksi lagu-dari dari mendiang Chrisye, grup musik legendaris Queen hingga peniup saxaphone, Kenny G. Tidak ketinggalan kaset-kaset dari KLa Project. Saya suka semuanya!
Saya juga ingat betul, dia suka membawa pulang kaset-kaset yang isinya kompilasi dari lagu-lagu barat yang tengah populer. Cuma ingat 2, Mega Hits dan Hit Bank.
Ini ide luar biasa kalau dipikir-pikir. Sekali merengkuh dayung, 11-12 lagu hits langsung bisa didengarkan sekaligus. Hehehehe.
Dibanding yang lain, selera musik kakak ini yang jangkauannya paling luas. Saya jelas terpengaruh. Karena masih kecil jadinya ya ngikut saja.
Termasuk ketika dia tergila-gila pada Dewa 19 dan Boyz II Men, grup musik yang menurut saya adalah pelantun lagu-lagu cinta terbaik sepanjang masa :).
Kompilasi musik yang diperkenalkan oleh kakak no.2 😀 (Sumber gambar : id.wikipedia.org dan www.last.fm)
Kakak saya yang nomor 3 yang paling beda sendiri. Musisi favoritnya the one and only … Iwan Fals! Coba perhatikan lirik-lirik lagu beliau. Komplit. Mulai dari yang jenaka, misalnya di lagu “Pesawat Tempurku”, atau yang ‘idealis’ di lagu “Bongkar” hingga yang romantis di lagu “Yang Terlupakan.”
Ketiga lagu tersebut adalah lagu-lagu kesayangan saya yang pernah dipopulerkan oleh legenda musik Indonesia ini.
Kompilasi gambar dari id.wikipedia.org
Ketika salah satu finalis X-Factor Indonesia, Isa Raja, membawakan lagu “Yang Terlupakan” (lagu terbaik dari Iwan Fals versi saya) di ajang tersebut, saya seperti terhipnotis. Tidak menyangka, belasan tahun berlalu, ada yang bisa menyanyikan lagu indah ini sepiawai penyanyi aslinya :).
Kakak yang nomor 4, selera musiknya memang sedikit nyeleneh dibandingkan pria pada umumnya. Koleksinya didominasi oleh para diva Indonesia seperti : Krisdayanti, Titi DJ, Ruth Shahanaya, Vina Panduwinata juga Rossa. Di lemarinya juga berjajar kaset-kaset penyanyi pria sekelas Utha Likumahua, Harvey Malaiholo dan Yana Julio.
Saya malah ikut-ikutan suka, tuh. Kalau memutar lagu-lagu dari AB Three dan Kahitna, saya selalu ikut bersenandung bersamanya :D.
Kompilasi artis favorit dari kakak no.4 (gambar dikumpulkan dari id.wikipedia.org)
Adik perempuan membawa aliran musik baru. Model hip hop dan RnB favoritnya. Dari dia, saya jadi tahu grup musik TLC dan Destiny’s Child dan ikut-ikutan ngefans seperti biasa :P. Dia juga yang membawa kaset Iwa K pertama kali ke rumah biarpun belakangan didengarkan beramai-ramai.
Waktu dia menawarkan saya untuk saweran membeli kaset grup musik favoritnya, Oasis, saya iya-iya saja. Tidak rugi. Lagunya memang enak-enak, meskipun sekarang saya ingatnya cuma “Wonderwall” saja, hehehe.
Saya memang satu-satunya yang paling malas membeli kaset. Kalau mereka punya selera musik berbeda-beda, sayalah yang labil sendiri. Karena buat saya, semuanya seru.
Adik bungsu si no.7 keluaran era milenium. Bisa sakit kepala emak-emak seperti saya menikmati koleksi MP3 nya. Dari band tenar ST12 sampai band-band baru yang sudah tidak sanggup saya ikuti perkembangannya.
***
Belakangan, ketika sudah tinggal terpisah-pisah, selera musik saya seolah berhenti di tahun 90 an hingga awal-awal tahun 2000 an. Setiap mendengar lagu-lagu dari tahun-tahun tersebut yang kini mudah didapatkan dari berbagai situs online, yang terbayang bukan penyanyi atau liriknya. Liriknya sih sebagian besar masih ada dalam kepala, lho.Tapi yang teringat adalah masa-masa kecil dan remaja bersama saudara-saudara yang belasan tahun dihabiskan di kota Makassar.
Berebutan memegang kertas sampul kaset yang biasanya berisi lirik-lirik lagu sang penyanyi. Berpandangan dengan wajah pucat kalau kami memutar kaset-kaset si empunya yang sedang tidak ada di rumah dan tiba-tiba kasetnya mengeluarkan suara aneh-aneh.
Begitu dikeluarkan, pita kaset sudah terburai. Buru-buru mencari pensil dan saling menyalahkan. Ahahahahha.
Jadi, buat saya musik yang asyik itu tidak tergantung genre, penyanyi atau waktu. Tapi tergantung seberapa sanggup musiknya menguraikan kenangan-kenangan indah bersama orang-orang terkasih :).
If they said, a picture paints a thousand words, then we can also conclude that… a music can sing a thousand memories :). Here, there and everywhere :).
Food Combining sering disingkat sebagai FC. Bukan football club :P.
Biarpun tidak suka memusingkan penampilan, saya termasuk sangat peduli dengan berat badan. Sewaktu usia 20-an alasannya cetek saja, sih. Iri dengan teman-teman berbadan mungil yang bisa sepuasnya membeli baju-celana model paling in di Melawai (waktu itu Melawai blok M masih hits :P). Baju-bajunya murah meriah, tapi sayang…rata-rata ‘all size’! Ujung-ujungnya duit, hahahahahaha.
Dari dulu, saya anti sekali dengan yang namanya obat-obatan, teh-teh an, dan produk pelangsing buatan lainnya. Saya ingin berbodi langsing (langsing bukan kurus!) tanpa efek samping. Biarpun banyak produk buatan ini yang menjanjikan jaminan alami dan bla bla bla. I never trust any of them.
Saya percaya 2 hal untuk pengaturan berat badan : olahraga + pengaturan pola makan! Tidak kurang, tidak lebih :).
Metabolisme Lebih Optimal di Usia Muda
Mendisiplinkan olahraga secara rutin tidak perlu mahal, lho. Masih ingat acara Primaraga di ANTeve yang tayang tiap hari pukul 6 pagi! I only need a pair of shoes dan bangun lebih pagi, kebiasaan yang tidak pernah saya tinggalkan dari gadis hingga kini.
Prima Raga ANTV (sumber : www.veengle.com)
Pola makan tidak macam-macam. Simpel saja. Tinggal mengurangi porsinya, tanpa mengurangi frekuensi makan. Saya memang pantang menghindari makanan apa pun, kecuali ada efek alerginya buat saya. Tiap makanan alami memiliki kandungan gizi masing-masing. Jadi, dari dulu tidak pernah menganut diet rendah kalori, diet tinggi protein, dan diet-diet lainnya. Saya juga takut mengurangi waktu makan.
Mungkin karena faktor usia dan sangat disiplin berolahraga, waktu kuliah tak begitu sulit menurunkan berat badan. Begitu pun saat mulai bekerja. Awal bekerja, puas-puasin makan enak. Terbiasa dengan uang saku pas-pasan, dapat gaji jutaan rasanya bagai dapat durian runtuh hehehehe. Tapi langsung menyadari berat badan yang mulai tak terkendali. Untunglah dekat kantor ada gym ( yang murah :P). Mulailah mengenal gym sejak saat itu.
Terus kapok deh. Sejak itu terus menjalani pola makan yang tidak berlebihan. Sekali-sekali mangkir. Tapi begitu berat mulai melenceng, langsung balik ke jalur ‘aman’. Gampanglah saat itu menurunkan berat badan. Hamil pun, sesuai saran dokter (baik yang di Jakarta dan di Jeddah), kenaikan berat badan cuma 9 kg saja. Untuk perempuan dengan berat badan normal sebelum hamil, maksimum kenaikan seharusnya 12 kg saja. Di atas itu, hati-hati dengan ancaman tekanan darah tinggi yang menjurus ke diabetes. Ini kata dokter, lho, ya ;).
Setelah hamil ke-2 inilah, semuanya buyar pelan-pelan. Melahirkan Narda memang di usia 31 tahun. Metabolisme tidak seoptimal usia 20-an. Diperparah dengan saya yang memang dari dulu tak suka sayur dan buah.
Sudah berusia diatas 30, anak sudah 2, saya tidak terlalu pusing lagi dengan berat badan. Ditambah lagi hidup di Saudi dalam dekapan abaya sehari-hari, benar-benar melenakan :D. Tiap berkaca rasanya langsing-langsing saja.
Lalu, mulai deh diserang migrain secara rutin. Dulu memang saya termasuk gampang masuk angin. Lalu, setelah usia 30 an makin parah. Langganan antangin plus minyak angin. Maklum, hidup jauh dari keluarga tanpa tangan kedua. Mau tak mau tiap bangun pagi, pusing enggak pusing, harus tetap ‘ngantor’ :P. Minyak angin teman setia dari pagi hingga malam.
Puncaknya ketika melihat hasil tes darah di lab. Kolesterol saya mencapai 202. Masih normal memang. Tapi sudah menyentuh batas atas dan kena warning. Padahal berat badan belum berlebih.
Saya mulai sadar lagi dan kembali ke prinsip dulu. Mengurangi porsi makan. Mulai lagi memaksa diri makan sayur dan buah. Sehabis makan, makan buah. Malah begah dan kadang-kadang sudah tidak kuat. Sebelum makan hajar buah, malah rasanya perut jadi aneh. Boro-boro berat badan turun, malah adanya lapar melulu. Dan berat badan terus naik, perlahan tapi pasti.
Mulai giat berlari lagi, aktifitas yang rutin saya lakukan dulu. Sehabis lari, beberapa jam kemudian pasti masuk angin parah dan migrain menjadi-jadi. Biarpun tidak separah pas lari, saat pilates pun saya sering pusing-pusing setelahnya.
Tentu saya tak mengubah prinsip. Saya tetap pantang menjalani diet rendah kalori, diet tinggi protein, dan teman-temannya. Saya takut malah jadi sakit.
Saya mulai pasrah, “I’m getting older. Terima saja.”
Berkenalan dengan Hidup Sehat ala Food Combining
Mulai tahun 2013, saya punya resolusi baru. Ingin hidup lebih sehat. Berusaha mencari formula yang tepat via google. Bagaimana caranya mengkonsumsi segala jenis makanan dengan tepat tanpa perlu menghindari kandungan gizi tertentu. Rasanya sudah cukup banyak browsing yang dilakukan, belum juga ketemu konsep yang cocok.
Betul kata Ustaz Salim A. Fillah, kadang jawaban atas usaha kita datangnya dari arah yang tidak disangka-sangka. Google tak juga memberikan jawaban yang memuaskan, ternyata informasinya datang dari seorang teman, Linda hehehe. Di waktu yang tidak terduga via obrolan iseng. Lesson learned : keep trying, never give up, you’ll find a way somehow :D.
Tiap kamis pagi biasanya ada kegiatan “Thursday Morning Run”. Tanggal 10 januari, obrolan santai sehabis berolahraga adalah tentang pola makan.
Ucapan Linda yang berbekas waktu itu, “Ini dietnya enak, lho. Boleh makan sampai kenyang. Terus boleh makan nasi pakai tempe pakai sambal pakai terong.” Yayyy, it’s my favorite meal!
Pulang ke rumah, langsung browsing. Memainkan jemari di situs Mbah Google dengan kata kunci : “Food Combining.” Banyak sekali ternyata informasinya. Saya melahap teori-teorinya, tanpa sadar ikut mengangguk-angguk sembari membaca. Saya langsung merasa cocok.
Biarpun tidak suka buah dan sayur. Saya langsung yakin kalau niat pasti bisa menjalaninya.
Memulai sama dengan 50% menyelesaikan. Hari kamis saya pelajari konsepnya, via googling saja, sih. Besoknya, hari jumat, langsung praktik. Tidak pakai pemanasan :D. Tanggal 11 Januari, hari pertama FC saya.
Saya percaya konsepnya. Sesuai pula dengan keyakinan saya selama ini. Bahwa, pola makan memang harus alami, yang ternyata merupakan salah satu konsep dasar FC.
Apa salahnya mencoba? Kalau ternyata kurang cocok ya tinggal berhenti saja, kan?
Prinsip Dasar Food Combining 1 : Pola Makan Mengikuti Pola Pencernaan
Tak ada pantangan apa pun dalam FC. Menurut para ahli, baik karbohidrat, lemak, maupun protein, semuanya dibutuhkan oleh tubuh.
Tapi sistem pencernaan kita perlu kondisi-kondisi khusus untuk bekerja lebih optimal. Nah, pengaturan pola makan ala FC didasarkan pada cara kerja sistem pencernaan kita. Jadi, tak ada ukur-mengukur kalori dalam FC.
Sistem pencernaan bekerja tanpa henti di tiap siklusnya selama 24 jam.
Pukul 12.00 – 20.00 : Kegiatan utamanya adalah pencernaan / pengolahan makanan.
Pukul 20.00 – 04.00 : Kegiatan uatamanya adalah penyerapan makanan.
Pukul 04.00 – 12.00 : Kegiatan utamanya adalah proses pembuangan.
Untuk efisiensi, kita perlu menyesuaikan makanan yang masuk ke dalam sistem pencernaan sesuai dengan pola kerja sistem tersebut. Catat pula bahwa sistem pencernaan merupakan salah satu sistem tubuh yang memerlukan energi yang paling besar.
Pukul 4 pagi hingga jam 12 siang terjadi fase pembuangan. Energi yang diperlukan untuk fase pembuangan sudah cukup besar. Jangan mengganggu kinerja pencernaan kita dengan mengkonsumsi makanan berat. Maka, di jam-jam seperti ini, sarapan dengan konsumsi buah-buahan adalah yang paling efisien.
Wah, sakit perut dong nanti. Bisa lemas, tuh. Itu pun sempat menjadi keraguan saya. But, you never know if you don’t try ;). Buah-buahan termasuk jenis makanan yang sangat cepat dicerna dimana sistem pencernaan kita tidak membutuhkan energi yang besar untuk melakukannya. Karena cepat dicerna, rasa kenyang cepat datang. Kalau lapar lagi, makan buah-buahan lagi. Pastikan buahnya segar, matang tapi tidak busuk, dan telah dicuci bersih.
Yummy 😀 (sumber : www.fruitsinfo.com)
Saya sudah membuktikannya 16 hari ini, buah-buahan terbukti ampuh untuk menjamin pasokan energi hingga jam 12 siang. Sebagai Ibu Rumah Tangga, jam-jam segini ‘kerjaan kantor’ lagi padat-padatnya, lho hehehehe. Jangan takut lemas dan jangan menahan lapar! Kalau lapar, hajar buah lagi. Dan beri jeda 15 menit untuk mengkonsumsi jenis buah lainnya.
Untuk hari pertama hingga ketiga, kalau belum terbiasa, silakan makan siang di jam 10 pagi. Insya Allah setelah hari ketiga, bisa mengikuti pola yang benarnya :).
Jam 12 siang, saatnya mengisi perut dengan makanan lebih berat. Ini adalah fase pencernaan dan pengolahan. Mengenai menunya kita bahas di topik selanjutnya, ya.
Beri jarak antara 2 makanan berat minimal 4 jam. Setelah 4 jam, enzim-enzim pencernaan akan kembali bekerja secara optimal. Tapi usahakan makan malam setelah pukul 18.00, agar malamnya tidak terlalu lapar hehehe. Di sela-sela makan siang dan malam, silakan konsumsi cemilan sehat seperti rujak sayur, rujak buah, kacang-kacangan (sanggrai jangan digoreng), dsb.
Setelah pukul 8 malam, jika masih lapar, hajar buah lagi. Ingat, fase penyerapan pun butuh energi yang tidak sedikit. Jangan membebani sistem pencernaan dengan malahap beberapa potong ayam atau makan mie goreng!
Pola pencernaan pun akan efektif bila kondisi Ph (derajat keasaman) berada di titik 7.5 – 7.8. Ingat kan ya, angka Ph berkisar dari 1 hingga 14. Makin mendekati 1 berarti makin asam. Makin mendekati 14 berarti basa. Berarti, tubuh memerlukan kondisi cenderung basa agar sistem pencernaan bekerja lebih optimal.
Hanya ada 2 jenis makanan yang bersifat basa, sayur-sayuran segar dan buah-buahan segar. Maka dari itu, sekitar 60-70% santapan harian kita harus terdiri dari kedua jenis makanan pembentuk basa ini. Sinkron kan dengan teori makanan sehat yang sering kita dengar? :).
Prinsip Dasar Food Combining 2 : Kombinasi Makanan Serasi
Tulisan ini berdasarkan beberapa literatur di internet dan buku yang ditulis oleh Ibu Andang, salah satu pelopor Food Combining di Indonesia. Saya tentu tak bisa terlalu detail. Dijitak Ibu Andang nanti hehehehe.
Karbohidrat – protein – lemak disebut zat gizi makro karena diperlukan tubuh dalam jumlah besar untuk pemenuhan gizi kita. Hampir semua makanan mengandung ketiga unsur ini tapi dalam proporsi tiap unsur yang berbeda.
Secara alami, dalam tiap jenis makanan hanya terdapat satu unsur gizi makro yang dominan. Selaras dengan sistem pencernaan yang tidak memiliki kemampuan untuk mencerna optimal lebih dari satu zat gizi makro yang dominan.
Langsung paham, dong, maksudnya. Nasi, yang didominasi oleh karbohidrat tidak seharusnya dikonsumsi bersamaan dengan ayam goreng dan protein hewani lainnya, yang memiliki kadar protein tinggi.
Apa? Tidak boleh makan daging? Apa jangan makan nasi? Boleh, Kakaaaakkk :).
Yang tidak boleh adalah melahapnya dalam satu waktu makan yang sama. Jadi, jika siang kita mengkonsumsi nasi, jangan pakai protein hewani. Malamnya barulah kita bebas icip-icip ayam atau sapi atau telur, dll. Bisa juga ditukar. Siangnya makan protein hewani, malamnya menyantap karbohidrat.
Makan malam pun boleh mengkombinasikan protein hewani dan protein nabati. Boleh lho, bikin capcay ayam pakai tahu.
Jangan lupa pula jika tiap-tiap protein hewani memiliki kadar proporsi lemak dan protein yang berbeda-beda. Usahakan dalam satu waktu makan hanya mengkonsumsi satu jenis protein hewani. Kalau makan ayam, enggak perlulah pakai daging sapi lagi. Atau sebutir telur rebus tidak usah dicampur dengan daging ayam. Hemat uang belanja, bukan? Hihihihihi. UUD lagi, deh :P.
Bagaimana dengan sayur? Sudah disebutkan di sub judul sebelumnya bahwa sayur dan buah ini haruslah merupakan aktor utama dalam konsumsi makanan kita sehari-hari. Baik makan siang dan makan malam, sayur tak boleh absen. Dan ingatlah, porsinya harus lebih banyak daripada karbohidrat dan protein utama. Minimal sama.
Sayangnya sayur dan buah bukan kombinasi serasi. Makanya pagi hari, silakan makan buah-buahan sepuasnya (kecuali pisang, durian, alpukat, dan nangka), tanpa mencampurnya dengan sayur-sayuran.
Kenapa? Temukan jawabannya lebih lanjut di bukunya Ibu Andang, ya ;). Banyak pula kombinasi serasi dan tidak serasi lainnya yang bisa ditemukan dalam buku ini. Lengkap dengan alasannya masing-masing. Saya kasih deh sedikit contekan : spaghetti dan saos tomat ternyata a big no-no!
Okelah, sedikit contekan lagi. Pati dan pati ternyata pasangan yang serasi. Jadi, boleh mengkonsumsi perkedel kentang dan nasi. Tapi ingat, perkedel kentangnya jangan diberi daging dan telurnya sedikiiitttt saja ;).
Prinsip Dasar Food Combining 3 : Makan Perlahan dan Mengunyah Lama
Katanya boleh makan sebanyak mungkin dalam FC? Memang boleh. Tapi aplikasikan pula prinsip ke-3 ini : makanlah dengan perlahan, jangan terburu-buru. Kunyah makanan hingga benar-benar lumat dan terasa bercampur penuh dengan air liur.
Mulut merupakan salah satu bagian dari sistem pencernaan. Air liur kita menghasilkan enzim-enzim tertentu dalam membantu proses pencernaan. Melumat makanan dari kasar menjadi halus pun memang fungsi utama gigi dan lidah.
Efek lain yang saya rasakan adalah, kita jadi mudah kenyang. Prinsip ke-3 ini akan mencegah kita makan secara berlebihan. Tuh kan, tidak perlu sibuk menakar ini itu. Semua prosesnya berlangsung alami :).
Hindari Makanan Rendah Energi
Rendah energi belum tentu rendah kalori. Yang dimaksud rendah energi adalah kandungan gizinya kurang bagus dan kombinasinya tidak serasi. Makanan fastfood adalah salah satunya. Enggak boleh sama sekali, nih? Boleh, dong. Tubuh memiliki toleransi untuk pencernaan makanan rendah energi, kok. Asal jangan sering-sering. Lebih bagus lagi kalau diminimalkan sebisa mungkin.
Fast Food (sumber : www.fitchicktricks.com)
Cemilan-cemilan asin dan gurih juga termasuk makanan rendah energi. Begitu pula tepung terigu dan semua turunannya. Oh noooo… Jangan stres dulu, dong. Boleh dikonsumsi. Tapiiiiiiii… sekali-sekali saja ;). Atau kalau mau manfaatkan tepung yang lain seperti : tepung beras, sagu, jagung, dsb.
Tepung terigu mengandung gluten. Dimana tubuh memerlukan 3×24 jam untuk mengolah si gluten ini. Kasihan kan sistem pencernaan kita jika tiap hari dijejali si gluten ini.
Beras putih pun kalau bisa diganti dengan beras merah. Ini sih saya juga belum bisa hehehehe. Setahap demi setahap :).
Kurangilah mengkonsumsi susu sapi. Takut kekurangan kalsium? Kalsium juga bisa didapatkan dalam jumlah cukup dari : brokoli, ikan salmon, kacang-kacangan, tofu, dll.
FC juga menganjurkan kita untuk mengkonsumsi berbagai jenis makanan. Makin bervariasi makin bagus karena kandungan gizi tiap jenis makanan berbeda-beda proporsinya. Tapi tetap dengan menganut prinsip-prinsip dasar FC lainnya, ya :).
Beberapa pihak mengklaim FC ini bertentangan dengan prinsip “4 Sehat 5 Sempurna.” Masa iya?
Kalau diteliti lebih cermat, FC sangat mendukung prinsip 4 sehat ini. Kecuali susu sapi yang diyakini kurang cocok untuk sistem pencernaan manusia. Tapi kan banyak pengganti kalsium lainnya. FC pun mematuhi prinsip-prinsip pemenuhan gizi dalam tubuh karena sama sekali tidak menghindari baik karbohidrat, protein, maupun lemak.
FC meyakini bahwa semua jenis zat gizi akan bsaling bekerja sama dalam tubuh. Tapi, sinergi hanya akan terjadi JIKA MAKANAN INI TERSERAP DENGAN OPTIMAL dalam tubuh. Setelah diserap dan dicernalah baru terasa manfaatnya oleh tubuh. Jadi, apa gunananya makan banyak makanan bergizi tapi tak terserap sempurna oleh sistem pencernaan kita?
Belum lagi, penyerapan yang tidak sempurna akan menghasilkan residu atau sisa-sisa makanan. Kelak, sisa-sisa ini jika terus menerus menumpuk akan menjelma menjadi penyakit serius.
Ingat, dalam FC, dalam satu hari kita tetap harus mengkonsumsi semua jenis makanan dari berbagai jenis. Waktu makan dan kombinasinya yang diatur. Jadi, kurang tepat jika dikatakan bertentangan dengan prinsip 4 sehat 5 sempurna.
Para pakar FC juga menanggapi rasa skeptis pihak lain dengan tantangan sederhana, “Sebaiknya dicoba dulu dan rasakan manfaatnya.”
Hasil FCnya? Pelaksanaannya?
Waktu membaca testimoni para ahli pendukung FC (mereka kesemuanya mempraktikkan terlebih dahulu) dan orang-orang biasa yang juga menerapkan FC, saya pesimis. Masa iya turun langsung berkilo-kilo dalam tempo sebulan? Terus katanya tetap segar dan malah makin sehat. Lebay amat.
Bukan sulap bukan sihir. Benar lho, hanya dalam tempo 3 hari menjalani FC, migrain saya berkurang secara drastis. Setelah 4 hari sudah hilang sama sekali.
Karena pola makan yang (katanya) mengefisienkan sistem kerja pencernaan ini, maka ‘serangan pertama’ pastilah ke daerah perut. Tidak berlebihan teori ini. Perut buncit saya yang sudah saya pasrahkan (padahal saya pilates tiap hari) mengecil perlahan-lahan awalnya. Dalam tempo 3 hari pun ikut berkurang drastis.
Hidup lebih sehat adalah tujuan utama saya dan memang hasilnya memuaskan hanya dalam hitungan hari. Perut ikut kendur adalah bonus pertamanya. Bonus kedua, penurunan berat badan hingga 4 kg dalam tempo 16 hari. Seminggu pertama malah drastis, langsung terpangkas 2,5 kg.
Sekali lagi, bukan sulap bukan sihir. Masuk angin? Seperti migrain, masuk angin pun lenyap. Setelah seminggu berFC, saya cukup ragu ingin lari pagi di kamis pagi seperti biasa.
Saya takut hanya mengandalkan buah-buahan sebelum berlari. Dari rumah saya membekali perut dengan sebutir telur rebus dan 2 potong tempe goreng. Alhamdulillah, sanggup berlari sejauh hampir 4 km pagi itu. Setelahnya pun tetap bugar. Bahkan, sore hari ikut piknik ‘membedah gurun’ bersama teman-teman hingga malam hari.
Katanya biar tidak bosan, dalam menjalani FC, ambillah hari libur. Dalam seminggu, 5 hari full FC, 2 hari libur, makan seperti biasa (tidak perlu memperhatikan kombinasi makanan serasi).
Saya tidak mengambil libur sama sekali. Tapiiiii, dalam seharian saya tidak selalu 100% FC. Sering juga cemilan sore saya makan donat. Atau ngemil halawa, cemilan khas Arab favorit saya. Tapi porsinya tidak seperti dulu.
Dulu saya sanggup menghabiskan 4 potong donat jumbo dalam 5 menit saja. Makan halawa coklat bisa sekaligus 10 sendok makan tanpa henti. Saya penggila makanan manis dan penggemar berat coklat :D.
Sejak rutin menjalankan hidup sehat ala food Combining, sekali ngemil, cukup setengah atau 1 potong donat. Halawanya cukup 1-2 sendok makan. Tetap nikmat juga ;).
Masih Perlukah Berolahraga?
Pastinyaaaaa :D.
Berolahraga sebenarnya lebih ke arah peningkatan stamina dan kebugaran. Dan kalau Anda seambisius saya, yang sedari dulu nyaris tidak pernah meninggalkan kebiasaan ini, olahraga berfungsi untuk menjaga postur dan mengencangkan tubuh.
Sejak 5 bulan terakhir ini, pilates adalah rutinitas harian saya. Ringan saja, kok. Sekitar 20-30 menit sehari. TIdak pakai alat. Hanya modal matras dan gerakan-gerakannya nyontek dari situs Youtube saja. Saya mah pantang yang mahal-mahal hihihihihi
Rasanya sudah tidak kuat beraerobik high-impact seperti Zumba yang rutin saya lakukan beberapa waktu lalu. Usia sudah memasuki 33 tahun tepat 2 januari tahun ini. Tahu dirilah. Saya bukan atlet hehehehe.
Sejak dahulu, biarpun terlihat kecil. berat badan saya normalnya di kisaran 49-50 kg dengan tinggi badan 158 cm. Sewaktu masih bekerja, saya punya teman yang tingginya sama dengan saya, tapi ukuran celana kami berbeda satu nomor. Dia menggunakan nomor yang lebih besar. Badannya pun sekilas terlihat lebih besar daripada saya. Tapi berat badannya cuma 48 kg, saya 50 kg saat itu. Dia protes menuduh saya sengaja menaikkan angka berat badan. Idih, buat apaaaaa??? hehehehe.
Baru-baru ini seorang teman juga protes. Mengapa berat badannya cuma 1 kg lebih berat daripada saya, padahal saya terlihat jauh lebih kecil. Tinggi badan kami tak jauh beda. Malah mungkin dia lebih tinggi daripada saya.
Ternyata olahraga juga akan mengubah massa lemak menjadi massa otot. Dimana massa otot lebih berat daripada lemak. Melakukannya ya harus teratur. Kontinuitas memegang peranan penting, jauh lebih penting daripada durasi waktunya. Tidak terlalu berpengaruh Anda berlari di atas treadmill selama satu jam penuh jika melakukannya cuma kadang-kadang atau tidak teratur.
Intinya olahraga akan membuat badan lebih padat.
Pakai abaya tidak menghalangi niat olahraga 😉
Menghadapi Lingkungan
Nah, dalam pergaulan sehari-hari, pasti ada saja acara kumpul yang biasanya bertaburan makanan hehehe. Makan saja seperti biasa. Toh, tidak tiap hari, kan? Begitu pula jika ada kawinan atau harus bertamu di jam makan. Ingat konsep FC, tidak ada pantangan ;). Asalkan jangan jadi kebiasaan. Besoknya atau setelahnya, segera mengembalikan pola makan sesuai prinsip FC.
Lalu, pasti ada juga komentar-komentar nyinyir seperti, “Duhhhhh, gue sih males ya menyiksa diri kayak gitu. Mending nikmatin hidup makan enak-enak sepuasanya.” Atau seperti ini, “Gue mah mana sanggup gak makan pakai nasi. Mbok ya hidup jangan dibikin susah.”
Jangan sensi. Santai saja :D. Kalau kurang nyaman, segera tinggalkan percakapan. Dengan cara yang sopan tentunya. Kalau ada teman yang mulai menyindir dengan tajam, saya biasanya undur diri dengan alasan pengin pipis hehehehe. Selama tidak merugikan siapa-siapa, keep on moving ;).
Makanan enak memang salah satu ‘surga dunia’. Tapi siapa yang berani menampik bahwa kesehatan adalah anugerah terindah dari Tuhan yang tidak akan terbeli oleh uang? :). Jangankan cuma makanan enak, dengan tubuh sehat masih banyak hal yang enak-enak lainnya yang bisa kita nikmati dengan leluasa.
***
Ternyata bukan cuma pakar-pakar kesehatan dunia barat yang menganut metode ini. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadis yang mengatakan bahwa sebagian besar penyakit berawal dari perut. Saya kurang tahu apakah ini hadis yang sahih atau bukan. CMIIW.
Konsep FC sangat mendukung hal ini. Dimana pusat perhatian dari pola hidup sehat ala Food Combining adalah urusan PERUT :D.
Sebagai muslim pun kita harus tetap mengingat bahwa pola hidup sehat mana pun hanyalah sebuah bentuk ikhtiar. Hasil akhirnya tetap dengan campur tangan kuasa Allah. Jika dalam pola hidup sehat ala Food Combining, kombinasi pati + sayur atau protein hewani + sayur adalah kombinasi serasi, maka untuk umat muslim, kombinasi IKHTIAR + DOA adalah kombinasi serasi dalam menjalani hidup dalam keadaan apa pun :).
Saya menuliskan ini berdasarkan ikhtiar saya untuk hidup lebih sehat dengan menjalani pola hidup sehat ala food combining selama 16 hari ini. Hari ini yang ke-17 :). Saya sudah membuktikan hidup sehat cara alami dengan hasil yang (mungkin) sedikit lebay. Lebay buat yang belum mempraktikkan tentu saja ;).
Tidak ada cara lain untuk membuktikannya selain ikut menjalaninya, bukan? Kalau begitu, selamat mencoba! ^_^
Salah satu artikel tentang ibu saya : Mundur sejenak ke 14 tahun lalu. Tahun 1998. Bulan Juli yang cerah, saya sedang berada di atas kapal laut bersama Mama. Hendak memulai takdir baru menjadi anak sekolahan di rantau :D.
Suatu siang di kamar kami :
“Wah, mau ke Jakarta juga? Ini anak sulungnya ya, Bu?” seorang Ibu yang juga menghuni kamar yang sama menyapa Mama saya.
“Oh, bukan, bukan. Ini anak gadis pertama. Tapi kakaknya ada 4. Laki-laki semua.”
Ibu yang bertanya nampak bengong sebentar. “Ke-5? Ya ampun, beda usianya setahun-setahun ya, Bu? Rapet jaraknya?”
Mama nyengir santai. “Tidaklah. Selisihnya rata-rata 3 tahun. Ada yang hampir 4 tahun. 2 tahunan juga ada. Ini masih ada adiknya lho 2 orang.”
Saya rasa setelah itu si Ibu yang bertanya sibuk menerka-nerka, Ibu di hadapannya, yang sedang sibuk mengukir alis sepanjang percakapan (hihihihihi), menikah umur berapa, ya? =)).
Indeed :). Ibu saya menikah di usia 15 tahun. Tak sempat menggenggam ijazah SMP, Nenek sudah keburu menerima lamaran seorang pemuda untuknya.
Dan bertahun-tahun setelahnya lahirlah kakak saya yang ke-2, yang ternyata kembar namun tak bertahan hidup. Kakak ke-3, 4, dan 5. Jadi, sebelum saya Mama sudah melahirkan 5 kali. Dan setelah saya, melahirkan 2 kali lagi. Terakhir di usia 39 tahun. Semuanya normal spontan. Semuanya lahir di kota, tidak pernah pulang ke kampung ke tempat Nenek. Mari ngelap keringat bersama-sama hehehehe.
Istimewanya, kerabat perempuan yang seusia Mama tidak banyak yang menikah muda. Mama saya punya saudara kembar. Mereka pernah hamil hampir berbarengan. Tante hamil anak pertama, Mama hamil anak ke-6! Jadi, Mama sudah mulai mantu, tante-tante lain masih sibuk dengan ABG-ABGnya. Yyyiiiuuukkkk.
Foto keluarga tahun 2005. Sayangnya, minus si sulung :(.
Itu belum ada apa-apanya. Semasa masih gadis, lupa kapan, saya pernah membaca berita tentang seorang penjual pecel di stasiun. Anaknya 13. Yang membuat saya melongo adalah isi beritanya. Disebutkan sehabis melahirkan anaknya yang ke-13 di malam hari sekitar pukul 10 malam, subuh harinya, 7 jam kemudian, si Ibu sudah absen kemabli di stasiun. Siap dengan pecel buatannya :'(.
Isu kedua cerita di atas merembet dari isu menikah muda, hingga memberi jarak kelahiran, isu-isu sosial, sampai isu how does she raise her children? Tapi pertanyaan besarnya : HOW DO THEY GET THE STRENGTH TO GO THROUGH IT?
***
Saya tidak suka anak-anak. Misalnya saja ketika adik bungsu saya lahir. Usianya berjarak 11 tahun dengan saya. Adik saya yang perempuan (disingkat jadi Buntel aja, ya) yang sayang banget. Saat Mama melahirkan, Buntel ikut jagain dan menginap di rumah sakit hingga Mama pulang ke rumah.
Kakak yang lain pun senang menggodanya. Saya? Huh, tak usah, ya. Dengerin dia nangis malam-malam, saya ikut gelisah. Menggerutu karena jam tidur malam terganggu. Suatu kali Mama harus keluar, tak ada orang lain di rumah, si bungsu nampak shock ditinggal berdua dengan saya. Nah lo, nah lo, ahahahahahaha.
Makanya sampai sekarang, saya tak pernah menjadi ‘magnet’ buat anak kecil mana pun. Yang paling friendly sekalipun. Tapi untuk anak sendiri? Ho ho ho.
Saya menyimpan kegelisahan ini sebelum hamil anak pertama. But everything is as easy as it says. Jangankan pas lahir, dari awal tahu ada dua garis di atas test pack, rasa cinta itu tumbuh subur tak terbendung.
Proses kelahiran anak ke-2 yang sempat menggalau. Belum genap dua bulan di Jeddah, saya positif hamil. Memang niat, kok ;). Maboknya jangan ditanya. Sejak hamil muda rasanya sudah ingin pulang ke tanah air, bermanja-manja pada Mama :P.
Apalagi ketika usia kandungan 6 bulan, dapat kabar positif baik Mama dan Mami, tak ada yang bisa didatangkan untuk menemani saya. Tidaaaakkkkk.
Sebagai istri, bukan cuma anak dan diri sendiri yang harus dipikirkan. Sebagai muslim, ketika berani menerima pinangan seorang pria, prdikat istri mengikat janji untuk setia pada suami. Saya pun dulu sulit menerima nasihat, “Kesetiaan istri nomor satu pada suami.” Seiring berjalannya waktu, saya mulai paham betapa indahnya Islam :).
Saya teringat perjuangan suami memboyong saya dan si sulung ke Jeddah. 11 bulan kami ‘dipermainkan’ oleh agen, diberi janji-janji surga akan diberikan iqama (resident permit).
Saya hepi-hepi di Jakarta, banyak saudara, bisa ngider kemana-mana, duit kurang? tinggal ngadu lewat sms (hihihihi). Sementara suami menanggung rindu pada kami :'(.
Masa iya, baru dua bulan bersama, saya hamil, saya harus memutuskan hengkang ke tanah air lagi? Harus berani, pikir saya. Ucapan suami membakar semangat, “Aku siap bantu apa pun.”
Begitu tekad sudah dipupuk, voilaaaa… kekuatan itu datang sendiri :). Tentu mentalnya naik turun, ya. Seperti hormon yang gak stabil. Tapi kenyataannya, sukses melahirkan anak ke-2 tanpa sanak keluarga sama sekali. Hanya meminta tambahan tenaga dari asisten rumah tangga 3x seminggu, 4 jam sehari.
Betapa malunya segitu saja sudah merasa hebat. Bagaimana dengan penjual pecel beranak 13 dan Ibunda sendiri yang melahirkan hingga 8 kali? *plakkk*. Masih harus banyak belajar :'(.
***
Tanpa kita sadari, banyak diantara kita yang bertransformasi setelah menjadi Ibu. Yoi dong, “We are the real TRANSFORMERS” :p.
Ibu saya di masa gadisnya, boro-boro deh bisa masak. Konon beliau yang dikawinkan karena malas membantu Nenek menumbuk padi di lumbung. Suka licik. Maunya main sepeda terus. Disuruh memasak, malah kabur berenang ke sungai. Ahahhahaha. Keberanian yang tidak diwariskan pada saya yang sampai sekarang tak bisa berenang dan belum fasih bersepeda roda 2 :P.
Siapa sangka ABG tomboy itu dianugerahi 7 orang anak and she’s just fine ;). Love you, Mama.
Lulus SMP saja tidak, ngotot kalau anak-anaknya harus sarjana juga tidak pernah, tuh. Kepergian Bapak secara mendadak lebih dari 20 tahun yang lalu menciptakan badai ekonomi yang hebat. Tapi rezeki datangnya dari Allah, orang tua cuma perantara :).
5 dari kami menggenggam ijazah dari perguruan tinggi negeri. 1 orang memutuskan sendiri untuk berhenti di bangku SMA. Dan si bungsu sudah di tahun terakhirnya di bangku kuliah.
Selamat hari Ibu untuk Mamaku yang keren ;). Untuk Ibu Mertua, biarpun hubungan tak semulus jalan tol, rasa iri tak pernah luntur. Terima kasih ya Mami, sudah membesarkan anak-anak yang hebat untuk para menantumu ini hehehe. Semoga waktu kelak menghapus segala kesalahpahaman yang pernah, sedang, dan akan datang.
Untuk para sahabat yang masih berjuang meretas jalan merebut status Ibu. Allah Mahabesar. Iringi selalu perjuangan dengan munajat padaNya, ya :).
Untuk teman-teman yang jauh dari tanah air, yang kerap bermimpi membawa segala kerempongan kita balik ke pangkuan Ibunda tercinta, we know we can do it, rite? Tossss. Sharing lah di Mamasejagat *eaaaahhhh*.
As long as we believe, we can make it through…everything! Insya Allah.
“Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed.” ~Linda Wooten
Bosen ah ber-saya-saya. Mari ber-gue-gue hehehe. Secara ini pun postingan iseng hehehe.
Waktu masih kerja di ULI, tiap tahun pasti ada acara gathering ke luar kota (selama 3 tahun berturut-turut gue di sana, acaranya ke Bali terus). Namanya annual conference. Yang paling ditunggu-tunggu selain menutup laptop rapat-rapat dan memanfaatkan jalan-jalan gratis dari kantor (hehehe), adalah ‘goodie bag‘ nya :D.
Nah, di tahun 2009 itu, tersebarlah rumor beberapa minggu sebelum hari H kalau salah satu starter kit yang bakal dibagikan sebelum berangkat adalah…sepatu Crocs!
Ori apa KW neh? hehehe. Duh, kalau kerja di ULI mah ya, jangan inferior begitu. Ya pasti ori dong, dong, dong :P. Awalnya gue dan beberapa teman protes keras. Apalagi pas lihat harganya di website resmi Crocsnya (450 ribu waktu itu!), makin nyinyir aje gue. “Ngapain sih ngasih sepatu plastik warna permen kayak gitu? Banyak palsunya tau di ITC! mending ngasih duit!”
Oiya, selain ngasih Crocs, di tahun itu juga dapat IPod Nano booo, dalam rangka ulang tahun kantor. Boleh milih antara IPod Nano dan tas LongChamp. Karena gue mikirnya kalau tas susah jualnya, jadi milih IPod aja ahahahahahaha. Itu IPod harganya 1.5 jutaan tempo hari. Kalau ingat yang gini-gini, kok mendadak lupa ingatan kenapa ya dulu bisa sampe resign? hehehe.
Balik ke Crocs. Karena gak bisa ngapa-ngapain juga, ya terpaksa diterima aja tuh acara bagi-bagi crocsnya. Gue cerita ke Buntel dan kakak gue. Eh, mereka malah yang semangat. Buntel sukses membuat gue bersumpah kalau entar pulang dari Bali, crocsnya buat dia!
Anw, Crocsnya salah pesen, ukuran kegedean, jadi gak gue bawa ke Bali. Pulang dari Bali baru deh dapet tukerannya yang ‘bener’.
Gak ngerti seluk beluk Crocs, akhirnya gue ikut ‘suara terbanyak’ cewe-cewe yang milih Malindi Cotton. Dan pilih warna candy (pink) biar lebih imut :P.
Terus kan ceritanya pulang dari Bali udah last days tuh. Udah resign dari bulan lalu. Jadi sekalian perpisahan ama ULI, tetep ngotot ikut jalan-jalan ke Bali :D.
Dan udah mau berangkat ke Tehran, tuh. Iseng gue pake si Malindi Candy belanja-belanja ke ITC. LUmayan lama muter-muter di sana.
Eh pas pulang, duduk-duduk di rumah bongkar-bongkar belanjaan terus nyadar, “gileee, ada kali 3 jam muter-muter.” 3 jam itu waktu yang super lama buat orang yang males berkeliaran di pusat perbelanjaan kayak gue. Soalnya kaki suka pegel. Ini kok gak pegel-pegel ya. Langsung inget tadi pake sepatu CROCS! Iklan banget dah, ahahahahaha.
Gue pegang-pegang tuh sepatu karet (bukan plastik ye ternyata :P) dengan takjub. Padahal baru sekali pake. Biasnya kan sepatu masih bikin lecet-lecet kaki di awal-awal pemakaian. Eh, ini kok langsung nyaman, ya. Baru, deh, ngerti kenapa si Crocs yang modelnya (waktu itu) cupu-cupu bisa hits dimana-mana. Dan sekaligus menjelaskan harga mahalnya itu. Emang nyaman to the max.
Langsung gue batalin sumpah ke Buntel. Pasti dia ngamuk tapi berhasil diredam dengan IPod Nano :D. Gak apalah nyenengin adek sendiri. Gue emang lebih butuh CROCSnya. Tadinya si IPod juga mau dijual aja sih hihihihi. Jadilah sejak hari pertama berCROCS ria itu gue langsung naksir abis-abisan.
Hampir kemana-mana pakai CROCS. TInggal ke kondangan doang kali yang enggak. Gue bawa 3 sepatu ke Tehran, tapi dari naik pesawat, pas jalan-jalan di sana, ampe pulang lagi naik pesawat, teteeeepppp… pake CROCS terus :P.
Sampe ke Jeddah pun, gak bawa sepatu apa-apa lagi. Cuma si Malindi Candy seorang itu. Kuat ya, selama sekian tahun gue pake, gak ada lecet dan kerusakan sedikit pun. Nyucinya juga gampang. Keringnya gampang. Dan yang paling penting…super nyaman di kaki!
Selamat 3.5 tahun bersama dengan si Crocs gratisan itu, jodoh kita berakhir saat Umrah Ramadhan kemarin :(. Karena gak inget naro kresek sepatu di rak nomor berapa, sibuklah kita menjelajahi rak sepatu yang super banyak itu dalam masjidil Haram. Tahu sendiri kalau Ramadan, sesaknya Haram kayak apa :(. Jadi pasrah saja ketika kreseknya gak ketemu. Dengan demikian, selamat tinggal, Malindi Candy.
Karena pengetahuan gue yang terbatas mengenai fashion sepatu ini, gak pake pikir panjang mau beli Crocs lagi hehehe.
Belinya di Andalus Mall. Ternyata ada counter CROCS di sana. Baru sih, kata temen-temen. Beli, deh yang modelnya mirip-mirip Malindi. Malindi udah gak dijual di sana katanya :(.
Nah, yang baru ini namanya Flower Dance Espresso. Tetep ya mesti yang pinky-pinky dikit biar imutnya gak ilang hehehe. Dan berhasil membujuk suami juga ikut beli Crocs. Si doi kan tadinya males bener beli sendal yang menurutnya gak jelas dan mahal itu :D. Tapi gue suruh pake di toko, langsung mau dia ^_^.
Selama dua tahun lebih di Jeddah, gue emang jarang banget beli sepatu, sih. PErnah sekali beli pas diskon. Sepatu merek apaaa gitu. Eh, jarang dipake. Kepake pas si Malindi ilang doang. Begitu abis beli Crocs baru, nganggur lagi deh sepatu itu.
Katanya modelnya Crocs ini terbatas dan kurang fasionable. Tapi bener-bener, kalau buat gue, nyamannya itu tiada tandingan lah :D. Dipake kemana aja mantap! Mungkin ntar Crocs bisa bikin model yang fancy dikit dong, buat dipake ke kondangan, hehehe.
Sebelum “Bunda of Arabia” terbit, sebenarnya telah terbit satu buku non fiksi bergenre komedi yang bertajuk “Kedai 1001 Mimpi” yang dikarang oleh Vabyo, yang juga menggunakan latar belakang negara Saudi.
Ketika gencar berpromosi di beberapa milis (thanks to Bapak Dani hehehehe, Baba of Arabia :P), beberapa orang bertanya tentang “Bunda of Arabia” dan “Kedai 1001 Mimpi.” Isinya dianggap bertentangan.”Kedai 1001 Mimpi” karangan Vabyo (yang konon laris manis ini) diterbitkan oleh penerbit formal, Gagasmedia.
Gagasmedia sendiri kebetulan penerbit yang banyak melahirkan penulis-penulis favorit saya seperti suami istri Adhitya Mulya-Ninit Yunita dan Raditya Dika.Sayangnya sampai sekarang saya sendiri belum membaca buku ini. Tapi dari banyak review di berbagai media online, saya jadi maklum kenapa sampai disebut-sebut ‘bertentangan’.Sebenarnya, kedua buku tersebut TIDAK BERTENTANGAN sama sekali :). Kok, kok, kok???
Sudut pandang penceritanya berbeda. Ini nih pokok perbedaannya :).
Vabyo datang ke Saudi dengan ‘menyamar’ sebagai TKI informal dan bekerja di beberapa tempat untuk mengumpulkan bahan cerita.
Sedangkan “Bunda of Arabia” ditulis oleh ibu-ibu asal Indonesia yang datang ke Jeddah untuk mengikuti suami yang bekerja di sana. Spesifik tentang kota Jeddah dan sekitarnya.
Apa yang diceritakan Vabyo dalam “kedai 1001 mimpi” adalah kumpulan pengalamannya bekerja di Saudi selama (kalau tidak salah) 3 pekan (apa 3 bulan), ya.
Sedangkan para Bunda yang menuangkan pengalamannya di “Bunda of Arabia” rata-rata sudah bermukim minimal satu tahun.
Saya tidak suka menceritakan hal ini. Tapi memang pada kenyataannya kaum pekerja formal di kota Jeddah memiliki ‘dunia yang berbeda’ dengan dengan kaum pekerja informal.
Anda jangan lantas menganggap pekerja formal disini sombong. Salah satu sahabat saya disini, akibat terlalu entah lugu entah apa, dimanfaatkan secara materi oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.
Oknum, sih. Tapi ya, pengalaman itu guru paling berharga, bukan?
Juga jumlah kaum informal terlalu banyak. Dan nyaris tak tersentuh karena mereka tinggal di lingkungan tertentu dan seringnya berkelompok. Kerasnya kehidupan yang mereka alami mungkin sudah mengikis separuh rasa kesantunan mereka. Tapi jangan digeneralisir. Tentu tidak semuanya :).
Hal-hal ‘sensitif’ ini tak mudah untuk saya terangkan panjang lebar dalam tulisan :(.
***
Kritik kedua adalah isi “Bunda of Arabia” kok kayaknya ‘senang-senang’ semua? Emberrrrrr ahahahahahahaa :P.
Bunda-bunda hepi 😀
Justru sebenarnya saya menggagas buku ini sebagai penyeimbang. Atas berita-berita yang menurut saya terlalu berat sebelah tentang salah satu negara ‘penguasa’ gurun ini. Terutama mengenai kehidupan orang-orang yang berasal dari tanah air.
Saya sudah mengawalinya dengan blog mamasejagat dan ceritaJeddah. Tapi tentu perlu ada langkah lebih ‘serius’. Jadilah saya, yang memang memendam mimpi menjadi penulis (kelak), memberanikan diri mengangkat sisi lain ini ke dalam buku “Bunda of Arabia.”
Ah, berarti untuk kalangan terbatas. Kalau menilik tujuan awalnya saya setuju jika orang-orang berkata ini untuk kalangan terbatas. Makanya saya pantang berdebat lebih jauh ketika mencoba menawarkan naskah buku kepada sebuah penerbit formal dan langsung ditolak dengan alasan ‘segmented readers’. Saya sepenuhnya paham :).
Waktu membahas isu ini pun, resistensi dari rekan-rekan Bunda yang saya tawari untuk ikut menulis pun sudah ada.
Bahkan saya akhirnya rela mengganti judul yang awalnya adalah : “How can we not love Jeddah?” menjadi “Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati” untuk ‘menggaet’ salah satu penulis yang awalnya hendak hengkang, padahal dia adalah penulis incaran utama saya.
Beliau inilah yang sebenarnya memiliki kemampuan menulis yang paling ‘mumpuni’ diantara kami hehehe. Heran saya, orangnya masih gak pede juga melangkah lebih ‘jauh’ padahal sudah saya komporin hehehehe. Mana buku solo-mu, Mbaaaaakkkk? :D.
Demikian juga dengan rekan penulis lain yang menunjukkan keengganan saat saya minta menulis dengan tema yang sudah saya tetapkan. Meskipun tidak kepada saya, saya tahu dia meminta pertimbangan dari mana-mana. Saya maklum. Dia takut disangka mau pamer. Tapi alhamdulillah, melalui BBM intensif, beliau pun akhirnya ‘takluk’ dan mau nyetor tulisan hehehe.
Perempuan Indonesia yang banyak mendiami wilayah Saudi, sebagian besar datang dengan status TKW. Dan diantara mereka, jumlah terbesarnya memang ada di ranah domestik, sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh anak.
Jadi, kami (para penulis) pun mencoba sangat berhati-hati dalam tiap tulisan. Agar orang tak lantas menuduh kami sebagai ‘musuh dalam selimut’. Dan demi Tuhan, kami tak ada yang menentang dan tak ‘memusuhi’ apalagi memandang rendah pada mereka. Setiap orang berhak mencari rezeki halal dengan kesanggupannya masing-masing.
Maka dari itu, butuh kerja ekstra untuk terus menumbuhkan semangat ini kepada rekan penulis yang lain, bahkan mengusir ‘ketakutan’ yang sering hinggap di pikiran saya sendiri.
Meskipun tetap ada teman yang malah menganjurkan menulis tentang ‘tema perjuangan’, mengangkat kisah-kisah TKW dan semacamnya. Ini memang mungkin akan menjadi topik populer (mengingat kisah menyayat hati memang cukup laku di tanah air hehehe), tapi justru kisah-kisah seperti ini yang saya hindari.
Maksud saya, cukuplah berita-berita memilukan hati ini dimanfaatkan oleh media untuk menaikkan jumlah pembaca mereka. Sekali lagi, saya ingin menghadirkan ‘kisah penyeimbang’ :).
Jadi ya, dari awal pun, tujuannya malah untuk memperkenalkan ‘sisi lain Saudi’ kepada tanah air. Agar kalau Anda-anda kebetulan sedang umrah dan hajian, bertemu dengan perempuan berabaya hitam di masjidil haram, Anda tidak buru-buru memandangi mereka dengan rasa kasihan, mengeluarkan uang 10 riyal untuk anak kecil yang mereka bawa dan berucap, “senang disini? majikannya baik?” hehehehe ;). Terlepas dari apakah cerita macam ini akan ‘laku’ atau tidak :).
Bahwa hidup di kota Jeddah mungkin memang serba dilarang tapi ada hal-hal lain yang akan membuat iri para perantau asal Indonesia di negara lain :P.
***
Kritik ketiga, judulnya terlalu ‘drama’ sementara isinya sangat deskriptif. Hehehehe.
Saya akui pemilihan judul memang untuk menarik perhatian publik :D. Dan kalimat ini yang selalu terngiang di kepala saya saat melihat foto-foto teman-teman disini yang hobi sekali ‘foto loncat-loncat’ kalau lagi main ke pantai hihihihihi. Sebenarnya selain dicomot dari salah satu lirik lagu Kahitna, kalimat ini juga saya jadikan judul foto teman-teman yang tempo hari piknik ke South Corniche. Saya tak ikut, tapi saya yang menuliskan ceritanya di blog hehehe.
Ada pun tentang cara penulisan dan sebagainya, saya cuma mau bilang, kami tak ada yang berprofesi penulis sebelumnya. Harap dimaklumi :P. Cuma 3 orang blogger dan 6 orang Bunda yang mungkin sebenarnya ‘terpaksa’ karena saya teror terus. Ahahahaha.
***
Terima kasih atas pihak yang sudah membeli dan memberikan kritikan dan memberi review untuk buku kami :).
Bagi yang belum beli, saran saya cuma satu : inbox saya secepatnya, ya! hehehehehe.
Jihan Davincka, on behalf of penulis “Bunda of Arabia” (Ibu Euis Fauziah, Ibu Vica Item, Ibu Aina Hidayati, Ibu Nining HaerAni, Ibu Ismiyati Afni, Ibu Dini Fabria, Ibu Alfiani, Ibu Mira Sonia).