Weits, postingan mainstream di awal tahun hihihihi :D.
gambar : pixabay.com
Kalau dilihat dari 10 postingan ini, 40% nya menjadi milik kategori Traveling-Arab Saudi. Ya ampun berasa blog syariah begini hihihi. Tapi sebenarnya topiknya umum sih bukan yang gimana-gimana :D.
20% (2 postingan) untuk kategori Food Combining. Sisanya random. Tulisan lama “Every Mom Has Her Own Battle” juga tetap ada di 10 besar tahun ini. Ck ck ck, kalau urusan emak-emak, memang dah, kagak ada matinyeeeee hahahaha :p.
Setelah tahun lalu, postingan “How Islamic are Islamic Countries” menjadi jawara, tahun ini jawaranya postingan Food Combining.
Berikut daftar lengkapnya (nomor urut sesuai peringkat). Biar ala-ala, kita itung mundur dong ya 😀
Postingan ini di urutan paling buncit 10 besar kita. Tapi ini termasuk performance yang oke. Mengingat tulisan ini baru diposting di akhir Agustus 2015. Jadi, lumayan lah bisa nyodok di 10 besar :p.
Ini bukan tulisan tahun 2015. Tapi hitsnya dihitung dari yang tahun 2015 aja lho. Memang sempat ke-share oleh banyak orang waktu saya posting ulang di akun FB saya beberapa bulan lalu. Saya tidak merasa tulisannya kontroversi lho, ya. Setidaknya itu harapan saya. Walau sepertinya yang punya pemahaman beda juga ada.
Foto : Dani Rosyadi
Oh well, we’re only responsible for what we write, not for what they understand, yes? ^_^.
Artikel ini pun ditulis dan dipublikasikannya bukan di tahun 2015. Tepatnya, di hampir penghujung 2014. Tapi kondisi 2015 masih sangat cocok untuk membaca kembali apa isi artikel ini hehehe. Masih alot ini hoax-hoax beredar di mana-mana. It’s ever worse :'(.
Yup, ini dia postingan yang sebenarnya ditulis di tahun 2012, tapi hits tahun 2015-nya tetap berjaya di 10 besar :D. Tahun 2015 memang banyak perdebatan di dunia maya, masih bergelut di topik yang sama di kalangan ibu-ibu, ibu bekerja vs ibu di rumah!
Salam damai ya, Mamah-mamah di mana pun berada <3.
Di urutan ke-6 kembali tulisan tentang Arab Saudi :D. Dari sisi yang positif dong pastinya ;). Ini sekadar penyeimbang bagi orang-orang yang somehow belum pernah bermukim Saudi tapi nyinyirnya ampun-ampunan. Menggambarkan Saudi sudah kayak tinggal di neraka hahaha.
On the other hand ada juga orang-orang yang juga belum pernah tinggal di Saudi tapi menggambarkan Saudi nampak bagi surga dunia hihihi :p.
Topik Food Combining di urutan ke-5 ini :D. Mudah-mudahan ini berarti kesadaran tentang pola makan pelan-pelan mulai jadi tren, ya. Tren yang positif pastinya ;).
Tulisannya saya buat pas bulan puasa tahun ini. Tulisan baru juga tapi hitsnya bisa nyodok :D. Ini mungkin juga karena tulisan ini saya kirimkan ke Citizen6 di Liputan6 :D. Jadinya menuai banyak hits dari Liputan6 juga.
Sedikit komentar kontroversi saya baca-baca di fanpage nya Liputan6 hehehe. Hm, rasanya tulisan saya sih tidak negatif, ya. Coba dibaca deh, bagaimana menurut kalian? ^_^.
Tulisan lama ini sepertinya konsisten menggaet pengunjung karena efek SEO hehehe. Termasuk kata kunci yang banyak dicari pembaca :D. Maklum nih, urusan belanja belanji emang selalu warbyasak deh *tepukTangan*.
Saya bukan tukang belanja sih hahaha. Ini info di tulisan saya dapatkan dari 2 sahabat saya yang masih tingal di Jeddah sampai sekarang, Bunda Ismiyati Afni dan Eneng Niera Purnama. Ciyum dulu buat dua-duanya, mmhhuuaahhh…
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi
2- Syarat Pengiriman Cerpen ke Kartini dan Femina
Nah, ini juga postingan ala-ala SEO hihihi. Sebagian besar pengunjung saya yakin karena digeret dari mesin pencari di internet. Ah, tulisan ini mengingatkan betapa 2 tahun terakhir ini saya benar-benar hampir tidak pernah menulis cerpen-cerpen lagi. Padahal passion saya masih cukup besar untuk menulis fiksi :'(.
Kebanyakan fesbukan sih loooooo *toyorKepalaSendiri. 2016 more fiksi? Ah, takut bikin resolusi ginian lagi ah hahahahahaha :p.
Bisa dibilang tulisan ini adalah tulisan terpanjang di blog ini hahaha. Sebanyak lebih dari 3 ribu kata :D. Ya sambil sharing sambil curhat, sih. Makanya bisa berendeng gitu isinya hehehe.
Tulisan ini sejak dipublish tahu 2013 silam memang sering jadi nomor satu dari tahun ke tahun. Eh, kecuali tahun 2014 deng, 2014 menjadi milik “How Islamic are Islamic Countries?”
Gambar : yucp.net
Akhir kata, terima kasih ya teman-teman yang sudah bersedia meluangkan waktu mengklik :p (dan mudah-mudahan abis diklik dibaca juga hehehe) postingan-postingan dalam blog saya ini ^_^. Ini soalnya yang keitung jumlah kliknya :p.
Demikianlah 10 tulisan di 2015 dengan jumlah pengunjung terbanyak.
Semoga di tahun ini bisa terus menulis lebih banyak lagi. Kuantitas nambah seiring dengan kualitasnya juga, aamiin <3.
Jaket anak sulung sudah memprihatinkan. Udahlah kekecilan, kantong depannya juga sobek. Ini mah bukan sederhana yak, tapi tegaaaaaaa … hahahaha :p.
Tadinya bersabar mau menunggu musim diskon akhir tahun. Apalagi pas boxing day tanggal 26 nanti, brand-brand bagus biasanya banting harga habis-habisan. Beberapa toko sudah mulai duluan, sih :D.
Gambar : all-free-download.com
Tapi memang dari dulu hasilnya sama. Berapa pun harga diskon di toko-toko lain, Penney’s tetap tak terkalahkan! :D.
Nih ya, kemarin lihat jaket di H&M, harganya 20 euro. Itu sudah diskon 50%. Ya memang bagus, sih. Tapi sebenarnya enggak butuh yang gitu-gitu amat. Butuhnya, yang penting tebal dan bahannya tahan air karena di sini kan hujan tidak memandang musim.
Tahun ini ya booo, dari musim panas, musim gugur sampai musim dingin nih, hujannya aweeeetttt :D. Debit air di Sungai Shannon yang melintasi kota saya juga membludak. Di beberapa wilayah pinggiran sungai sudah mulai banjir. Lah, malah bahas hujan dan banjir -_-.
Balik ke topik belanja :p.
Tahun lalu saya ingat, ke NEXT waktu boxing day. Jaket anak-anak juga pada diskon. Tapi ya semurah-murahnya itu kalau gak salah 19 euro. Rata-rata tetap di atas 20 euro. Memang harga aslinya bisa 40-50 euro, sih.
Saya jalan-jalan ke Penney’s beberapa minggu lalu buat nyari perbandingan harga. Jaket di Penney’s juga lumayan lah. Tebal dan bahannya juga enggak yang murahan banget. Widiiiihhh, harga asli saja rata-rata 20 euro. Malah banyak yang di bawah 20 euro. Harga asli, tuh. Sempat berpikir tamak, tunggu aja sampai diskon.
Ditunggu-tunggu kok ndak diskon-diskon juga ya -_-. Dasar kikir, nih, Bibi Gober hahahaha.
Jadilah tetap saya beli tuh jaket yang lumayan tebal. Harganya cuma 15 euro hihihi. Sudah ngantri di kasir pun, enggak bakal nyesel lah ya kalau besok-besok bakal diskon. Dapat harga segitu saja sudah paling murah diantara toko lainnya.
Tidak cuma jaket anak-anak saja. Hampir semua item di Penney’s tergolong jauh lebih murah daripada barang sejenis di toko lain. Ya beda-beda bahan dikit sih.
Tapi ada juga yang bahan sama, model pun mirip, tapi harga bisa jauh. Misalnya knitted clothes buat pakaian musim dingin yang lagi naik daun di kalangan fashionista. Di Penney’s lumayan banyak model dengan kisaran harga 15-25 euro saja. Sementara brand lebih besar, model mirip bahan bisa dibilang sama, harganya minimal 40 euro lah :p.
Itulah kekuatan nama besar sebuah brand, ya :D.
Gambar : cutorcopy.com
Kemarin dapat ilmu baru soal efek Diderot dari komentar seorang teman di wall Facebook saya. Sebenarnya penggambaran efek Diderot ini sudah pernah saya tulis di tulisan “This Best Feeling in The World”.
Diderot pernah diberikan sebuah baju mewah oleh seorang temannya. Saat baju tersebut digantungkannya pada kursi di rumahnya, dia tersadar betapa jeleknya kursi tersebut dibandingkan baju mewah tadi. Kursinya pun diganti. Setelah diganti, terlihat mejanya yang terlihat buruk. Meja pun diganti. Dan seterusnya.
Itu fenomena biasa yang memang menjadi pola umum sifat konsumerisme manusia di era modern sekali pun. Diderot padahal hidupnya di abad ke 18 :p.
Hari-hari di akhir tahun, harus siap-siap menghadapi gempuran diskonan akhir tahun seperti biasa ya hahahaha. Jebakan luar biasa nih dari brand-brand besar :p.
Butuh banyak pegangan biar enggak kalap kali, ya hahaha.
Dalam hati kita semua, tak berbatas usia/agama/gaya hidup/dll, kita tahu kalau “hidup sederhana” itu adalah hal yang “benar” dalam “kondisi apa pun”. Iya kan, kan, kan? Hehehe.
Dalam hati meyakini tapi praktiknya yang ruwet!
Ukuran kesederhanaan sebaiknya jangan berpatokan ke jumlah harta. Kalau begitu nanti ujung-ujungnya, yang harus sederhana hanya yang miskin aja dong yak hahaha. Kalau banyak duit ya jadinya suka-suka. Selama uangnya ada, hajar teroooossss …
Sementara kalau uangnya gak ada terus harus sederhana, ya itu sih namanya terpaksa, yes? Hahaha.
Jangan juga berkilah dengan standar “kenyamanan”. Nyaman vs gengsi itu suka ketelisut soalnya :p.
Gambar : pixabay.com
Mengukurnya dari mana? Gampang saja. Dari kebutuhan. Definisi kebutuhan itu juga simpel banget. Kalau enggak ada, hidup kita jadi sulit. Hidup jadi sulit beda lho dengan “gengsi ah pakai yang CUMA gituan”.
Tuh, nyaman suka ketuker kan sama yang namanya gengsi? :p.
KESEDERHANAAN itu PRINSIP UNIVERSAL. Bersama dengan keikhlasan, kerja keras, kasih sayang, simpati, empati, … adalah hal-hal kokoh yang akan TEGAK berdiri tanpa sanggup kita tabrak. Nekat nabrak? Kita yang remuk. Percaya deh! ;).
Salah kaprah yang sudah sering kejadian, miskin = sederhana, mewah = kaya. Mewah dan sederhana kan suka dinilai dari “casing luar” saja. Enggak heran, tidak sedikit orang yang berusaha tampil melebihi kemampuannya. Banyak orang juga yang kalau ada kelebihan harta biasanya langsung kena virus OKB hihihi.
Hal-hal begini, bagian dari tekanan lingkungan. Plus sifat dasar manusia yang pada fitrahnya kita ingin dihargai/diperhatikan/dihormati :).
Pernah saya nonton sebuah acara soal “behind the scene” barang-barang bermerek. Beberapa brand yang benar-benar “mewah” secara khusus tidak pernah memberi diskon apa pun. Malah, kalau sudah banyak yang sanggup beli, mereka akan terus menaikkan harga!
Mereka tidak mengincar pembeli yang banyak. Mereka mengincar “kesetiaan” konsumen. Kesetiaan itu dipertahankan dengan embel-embel GENGSI. Jadi, ada “nilai lebih” bagi yang sanggup membeli barang ini. Ya itu tadi, yang mahal adalah GENGSInya hehehe.
Yup, Pak Erizeli Bandaro juga dulu pernah menulis tentang “bisnis gengsi” ini. Sayang ya, enggak ketemu lagi tulisannya. Beliau kalau menulis banyak banget dan frekuentif. Susah menyelam di wall-nya nyari-nyari tulisan lama.
Jangan salah, ini bisnis besar yang mendatangkan banyak uang. Banyak yang berusaha bermain di bisnis-bisnis seperti ini karena memanfaatkan kelemahan umumnya kita sebagai manusia biasa yang gampang kalah sama yang namanya GENGSI. Apalagi perempuan! Hahaha *sadarDiri*.
Jangan galau, ya itulah namanya perjuangan hidup dong, ya. Untuk tidak gampang takluk dengan yang begini-beginian. Ini memang bukan perjuangan periodik. Seumur hidup kita harus terus mati-matian menangkis virus GENGSI ini :D.
Sukses tahun lalu, apakah akan sukses juga tahun ini? Kita lihat saja hasilnya di musim diskon tahun ini!!!! Hahaha.
Hang on, boxing day tinggal beberapa hari lagi lho! Hahahaha *ketawaPucat*.
Btw, jangan dikira cobaan terbesar itu saat kita sedang pas-pasan. Because definitely, it’s not! ;).
Yuk ya, rapalkan manteranya –> “The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed” -Marxie
Untuk hidup sehat, tidak ada cara lain selain menjaga pola makan dan rajin olah tubuh. Saya lebih suka pakai istilah olah tubuh ketimbang olah raga.
Biasanya kalau pakai istilah olahraga banyak yang mengeluh tidak punya waktu. Padahal pengertiannya kan luas, ya. Untuk ibu rumah tangga, seharian beberes rumah dan berdiri beberapa jam di dapur itu sudah termasuk olah tubuh lho ;). Coba saja dirutinkan tiap hari. Yang bekerja, jangan cengeng enggak punya duit nge gym :p, naik turun tangga ketimbang pakai lift/tangga jalan itu juga sudah termasuk olah tubuh :D.
Percaya tidak sih kalau satu hal baik itu otomatis berimbas ke hal baik lainnya. Menjaga pola makan + bergerak teratur –> membuat badan lebih sehat –> berat badan terjaga –> jadi misalnya untuk ibu-ibu enggak perlu ribet nyari pembenaran enggak penting macam, “badan gendut tandanya bahagia kan”? Hahaha :p. Enggak capek membohongi diri sendiri? ;).
Ha? Ujung-ujungnya soal berat badan saja nih. Tidak juga. Imbas lainnya lebih luas lagi. Umumnya pola makan sehat alami hanya mengandalkan bahan-bahan alami saja dan sebagian besar menyarankan konsumsi bahan alami tanpa diolah semisal sayur dan buah.
Efeknya?
1. Hemat listrik, hemat energi
2. Hemat biaya
3. Sumbangsih lebih baik untuk lingkungan
Kalau makanan olahan enggak jauh-jauh dari minyak. Kemarin jerit-jerit soal asap dan minyak kelapa sawit. Ayolah, berjanji pada diri sendiri untuk berkontribusi pada lingkungan dimulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri dulu :).
Kalau banyak yang sadar dan lebih sering mengkonsumsi sayur dan buah, bayangkan, demand sayur dan buah bertambah. Supply pun mengikuti. Jadi lebih banyak orang yang menanam aneka sayur dan buah. Penjual gorengan mungkin nantinya berbondong-bondong jualan rujak saja :p.
Gambar : female.kompas.com
Ingat lho, tanaman itu menyumbangkan oksigen buat lingkungan. Sementara mengkonsumsi protein hewani agak sulit tanpa pengolahan sama sekali. Belum lagi beternak boro-boro nyumbang oksigen, ada juga hewan ternak ikut makanin rumput dan ikut menghabiskan oksigen :p. Kalau jumlahnya terus dipaksa meningkat, keseimbangan alam otomatis terganggu.
Hewan-hewan ini juga dibuat berkembang biak secara cepat mengikuti permintaan pasar :(. Terjadilah ide aneh-aneh. Ikan lele dikasih makan sampah lah karena tempat pemeliharaan terbatas. Sapi/kambing/domba/ayam dikasih makan serampangan, pokoknya gimana caranya biar cepat gede dan dijual.
Tahu sendiri sifat manusia yang dasarnya serakah, ya. Apalagi soal duit. Jangankan daging palsu dicampur macam-macam bahan, berita palsu saja laku dijual online kok :p.
Makanya, saya bilang tadi, hal-hal baik itu biasanya satu paket ^_^. Menjaga pola makan otomatis membuat kita lebih perhatian kepada kesehatan dan otomatis membantu alam menjaga keseimbangannya.
Manusia itu diciptakan sebagai pemimpin alam. Kita yang punya potensi besar menjaganya sekaligus merusaknya :(. Tinggal pilih mau yang mana.
Ya ngomong-ngomong soal pola makan ada macam-macam sih, ya. Saran saya pribadi jauhi pola makan yang nyuruh kita konsumsi satu bahan olahan /pabrikan/kemasan/buatan/non alami tertentu. Tuhan sudah menciptakan semuanya secara alami kok. Sudah dikasih macam-macam kok masih mau melawan Tuhan dengan lebih percaya pada produk pabrikan yang nyata-nyata bikinan manusia? :p.
Siapa tahu tertarik dengan pola makan food combining yang anti suplemen mana pun…monggo dibaca tulisan di link kalau ada waktu ^_^. Panjang banget soalnya hahahaha.
Tapi tentu enggak ada jaminan kalau pola makan sudah kece terus enggak mungkin sakit. Buat yang percaya kalau Tuhan itu ada :D, lengkapi ikhtiarnya dengan doa dong ya ;).
Terus juga jangan gampang putus asa, ya, soal ngadepin kebiasaan makan kita sendiri. Saya sendiri juga enggak disiplin-disiplin amat hihihihi :p. Yang penting itu ada kesadaran dulu. Lagi-lagi ngutip Mbak Sophie Navita, “Makan yang berkesadaran” :). Bukan hanya asal mangap, lidah senang dan perut begah :p.
Pokoknya tiap hari coba terus. Jangan karena hari ini kebanyakan “makan sampah” besok langsung loyo dan enggak semangat nyoba lagi hehehe.
Terserah mau pilih pola makan alami model mana yang penting jaga baik-baik kesehatan kita semua as we all know …
“The greatest wealth is Health.” -unknown-
Btw, sekarang 10 November kan ya?
Kalau kata wikipedia “Pahlawan” itu berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan. Artinya orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama.
Kadang tuh ya untuk jadi pahlawan enggak usah susah-susah dan ngeri-ngeri lah mikirnya :p. Cukup berbuat baik untuk diri sendiri saja efeknya bisa bagus. Nanti bisa nular ke keluarga dan teman-teman.
Mau jadi pahlawan mikirnya harus punya uang banyak, harta berlimpah, tenaga yang kuat, pengaruh digdaya, bla bla bla. Dari pilihan-pilihan hidup yang kita buat pun, asalkan bisa punya pengaruh bagus, bisa dibilang kita sudah memberikan buah(phala) yang berkualitas untuk sekitar.
Dari rumah, dari kantor, dari mana saja, ayo terus persembahkan phala-phala kebaikan buat siapa saja :D.
Sebuah sudut di Museum Ullen Sentalu – Lereng Merapi Yogyakarta, “Ruang Putri Dambaan”, masih menyisakan jejak kecantikan sang putri. Namanya Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, dari keraton Mangkunegaran.
“Putri Dambaan” bukan julukan sembarangan. Tak serta merta disematkan karena wajah rupawan yang membawanya menjadi salah satu yang tercantik di masanya. Tak sebatas pula karena dia mahir berkuda, menari, menulis sajak, bahkan bermain tenis, suatu yang tak begitu lazim bagi seorang putri keraton di zamannya.
Lebih dari itu, putri dari Mangkunegaran ini pernah menampik lamaran dari tokoh sebesar Bung Karno dan membenamkan harapan seorang Sutan Syahrir. Daftar pria yang patah hati karenanya juga mencakup Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan panglima tentara kenamaan, Kolonel GPH Djatikusumo.
Gusti Nurul hanya satu diantara banyak putri-putri keraton nusantara yang pernah mencuri perhatian karena kecantikan dan kepribadian mereka. Konon, salah satu rahasia kecantikan, sekaligus konsep merawat diri khas ala putri keraton adalah … mengkonsumsi jamu :).
Jamu, Warisan Masa Lampau Nusantara
Obat tradisional sebenarnya sudah dikenal umum di banyak negara. Korea Selatan yang juga disebut sebagai Negeri Ginseng saking terkenalnya penggunaan ginseng sebagai alternatif pengobatan. Tidak hanya di wilayah Korea dan sekitarnya, khasiat ginseng sudah mendunia.
Khusus untuk obat-obatan tradisional asal Indonesia yang dibuat dari bahan-bahan alami ini disebut sebagai jamu. Biasanya dibuat dari bagian-bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang, kulit atau buah.
Jamu sudah dikenal sejak dahulu kala. Bahkan beberapa bukti sejarah yang kebanyakan berasal dari primbon menunjukkan bahwa jamu sudah dikenal sejak abad ke-5.
Tidak hanya primbon, kegiatan membuat jamu bisa ditelusuri dari relief-relief pada candi Borobudur, Prambanan, dll. Lebih lanjut mengenai bukti sejarah bahwa jamu adalah warisan asli dari masa lampau nusantara bisa dilihat di tautan berikut ini.
Jamu kerap dikait-kaitkan dengan budaya Jawa. Tapi sebenarnya tidak juga.
Saya sendiri, yang asli berdarah bugis, sudah tidak asing dengan jamu-jamuan sejak kecil. Ibu punya langganan embak jamu gendong semasa kami masih bermukim di kota Makassar.
Setelah menikah, apalagi sehabis melahirkan, ibu mertua juga yang paling getol menyarankan saya menggunakan ramuan tradisional untuk memulihkan kondisi. Jamu-jamuan yang saya gunakan mencakup obat minum dan obat usap (di kulit). Jangan salah, ibu mertua saya asli Minang, lho ;).
Jadi, budaya ber-Jamu bukan hanya dominasi golongan tertentu di tanah air.
Jamu : Merawat, Mencegah, Mengobati Sekaligus Memulihkan
There are things that money can’t buy. Diantara hal-hal yang tak tertukar dengan harta seberapa pun banyak itu adalah … kesehatan. Harapan kita, apa pun yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan harusnya bukan hal yang sulit untuk dipasarkan. Termasuk penggunaan jamu ini.
Terlebih lagi, kini dunia kesehatan modern cukup gencar memberikan edukasi penggunaan obat-obatan kimia secara rasional. Seharusnya produsen jamu bisa ikut memanfaatkan momen ini dan menawarkan jamu sebagai alternatif utama.
Saya ingat di salah satu kunjungan ke dokter gigi, dokter saya bilang begini, “Obat kimia itu sebenarnya racun bagi tubuh. Jadi, jangan sembarangan dipakai. Hanya untuk emergency saja. Selama sakitnya masih bisa ditahan, obatnya tidak perlu diminum, ya, Mbak.”
Jamu-jamuan bisa dibilang memiliki kemampuan yang hampir setara dengan efek obat-obatan kimiawi dengan satu kelebihan yang menonjol : jamu-jamuan memiliki efek samping yang jauh lebih ringan. Tentu saja hal ini bisa dicapai dengan memperhatikan betul-betul sisi higienis dan takaran.
Aneka ramuan tradisional yang memiliki efek pengobatan antaralain :
Ramuan mengkudu yang multifungsi. Mengkudu paling sering disebut-sebut dalam pengobatan kanker selain ramuan daun dewa dan ramuan daun ceremai.
Ramuan lengkuas/laos yang bisa mengobati rasa mual/mabuk saat berkendara
Timun dan kunyit yang juga berfungsi sebagai obat luar/obat oles. Keduanya bisa menghaluskan kulit dan mengobati kulit ketiak yang kehitaman.
Ramuan kapulaga, kayu manis, cengkeh dan campuran lainnya bisa meredakan keluhan asam urat.
Tidak hanya mumpuni dalam hal pengobatan dan pemulihan, jamu juga erat kaitannya dengan fungsi perawatan dan pencegahan.
Penyakit degeneratif seperti kanker makin menghantui banyak orang. Terutama penduduk di kota-kota besar. Konon, hal ini tak lepas dari gaya hidup modern yang makin menjauh dari hal-hal yang bersifat alami. Makin lama makin didominasi oleh yang serba instan. Pola makan salah satunya. Tak sedikit ahli yang mengungkapkan kanker sebenarnya bisa dicegah dengan memperhatikan asupan yang dikonsumsi tubuh sehari-hari.
Sekilas dari tante saya yang pernah divonis menderita kanker payudara saya mendengar tentang khasiat ramuan kunyit putih yang ditengarai bisa mencegah kanker. Setidaknya bisa mencegah peningkatan ke stadium lebih lanjut.
Upaya pencegahan itu selalu lebih ‘murah dan mudah’ daripada mengobati.
Upaya Melestarikan & Mempopulerkan Jamu
1. Buzzer Selebritis sebagai Duta Herbal Nusantara
Manfaatkan instagram, twitter dan media sosial yang kini sudah lebih bergema pengaruhnya daripada media klasik seperti televisi dan media cetak. Beberapa kalangan bisa memiliki followernya sejumlah ratusan ribu.
Salah satu tips pemasaran dari buku terkenal Tipping Point menyebutkan tentang pemanfaatan sekelompok orang yang bersifat “Maven”. Para Maven ini memiliki pengaruh istimewa di mata banyak orang. Entah mengapa, mereka bisa mempengaruhi pilihan orang banyak. Mungkin semacam trend setter.
Jangan salah, sosok trend setter/selebritis di dunia maya tidak melulu harus dari kalangan artis atau “orang-orang penting”. Terkadang, seorang ibu rumah tangga biasa, dengan caranya yang unik, bisa memikat perhatian publik di dunia maya. Dalam artian yang positif tentunya.
Tinggal mencari sosok yang kira-kira punya pengaruh besar terhadap calon konsumen. Ada kemungkinan memilih beberapa orang sesuai dengan target pasar. Misalnya, konsumen ibu-ibu, konsumen lelaki atau konsumen remaja. Agak tidak mungkin jika semuanya diwakilkan oleh satu orang. Konsepnya ringan saja. Upload foto-foto santai si buzzer dalam kegiatan sehari-hari lebih bagus. Terlihat lebih natural.
Cara ini sudah sering dipakai. Salah satu ajakan hidup sehat via “running activity” yang makin booming di tanah air tak lepas dari peran aktif para “Maven” yang terus menerus mempromosikan ajakan ini via akun-akun pribadi mereka.
Apalagi kalau ‘pemantik api’nya adalah orang nomor satu di tanah air, ya?
Bagaimana pendapat anda tentang foto di bawah ini? Saya ambil fotonya dari fanpage Bapak Joko Widodo di salah satu media sosial. Beliau mengakui kalau salah satu tips sehat andalannya adalah jamu :).
Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla minum jamu temulawak
2. Jamu di Hotel-hotel.
Orang-orang asing suka sekali sentuhan natural. Mereka datang umumnya ingin melihat sesuatu yang berbeda dan khas.
Berbagai pengalaman menginap di beberapa penginapan/hotel, tak sedikit yang menyediakan semacam “welcome Drink”. Umumnya berupa minuman ringan seperti jus jeruk. Mengapa tidak menyediakan ramuan jamu yang setipe dengan minuman ringan yang standar. Jangan juga nekat, orang asing langsung disuguhi jamu nan pahit yang tentu sulit diadaptasi oleh lidah mereka.
Hotel-hotel dan penginapan-penginapan di berbagai kawasan wisata bisa diupayakan menjadikan jamu sebagai “welcome drink”. Kalau perlu dijadikan salah satu menu sarapan.
3. Memanfaatkan International Channel
Misalnya, bekerja sama dengan kosmetik internasional untuk membuat brand khusus yang memanfaatkan herbal nusantara untuk konsumsi pasar Indonesia dan sekitarnya.
Jika mungkin pemasaran mencakup Asia. Bekerja sama dengan produsen pasta gigi misalnya. Promosikan penggunaan buah kepel sebagai pasta gigi. Bekerja sama dengan brand yang sudah mapan bisa menghemat rantai pemasaran mengingat mereka sudah punya nama.
Kebiasaan konsumen tanah air yang lebih memilih menggunakan produk yang punya embel-embel internasional harus mendapat perhatian khusus. Tidak ada gunanya ‘melawan’ arus globalisasi macam ini. Yang lebih baik kita lakukan adalah mengoptimalkan potensi untuk ikut berkembang dalam arus perubahan.
Terobosan ini sangat mungkin. Mengingat potensi pasar Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak no.4 di dunia. Jangan hanya pasif sebagai konsumen. Kekuatan pasar / konsumsi dalam negeri harus kita jadikan posisi tawar yang penting. Pemerintah dan seluruh jajaran terkait harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan untuk mendesak ‘produsen asing’ untuk keuntungan negari sendiri ;).
Tentu ada kompensasi khusus bagi mereka yang menyetujui kerja sama ini. Semacam simbiosis mutualisme tepatnya. Menguntungkan kedua belah pihak.
4. Re-branding Jamu kepada generasi muda
Mengasah terus kreatifitas untuk pengenalan herbal sejak dini. Misalnya: buku-buku cerita dengan menggunakan tokoh-tokoh rempah-rempah seperti Jahe, Kemiri dll. Dibuat karakter-karakter seperti penokohan buah-buahan atau hewan-hewanan yang sudah sering dilakukan.
Contoh karakter buah-buahan dari www.fruitycuties.com
Contoh lainnya adalah tokoh Popeye, salah satu kartun asal Negeri Paman Sam yang cukup laris di masanya. Konon, Popeye dibuat agar mendapatkan kekuatan ekstra dari kegemarannya makan bayam, agar anak-anak tertarik untuk mengkonsumsi sayur-sayuran.
5. Penertiban tata kelola usaha yang berhubungan dengan pengobatan alternatif.
Mencerdaskan masyarakat memang sangat perlu. Karena tidak sedikit pihak yang mengatasnamakan pengobatan alternatif berbahan alami/herbal/jamu-jamuan yang ternyata hanya kedok untuk mengeruk keuntungan materi tanpa memperhatikan keselamatan konsumen.
Sebenarnya pengobatan alternatif berbasis bahan alami/herbal/jamu-jamuan ini bisa bersanding bersama-sama dengan pengobatan medis yang mengacu pada penggunaan bahan-bahan kimiawi. Khasiat jamu memang ada dan sudah banyak yang mengakui dan bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi ketidakdisiplinan pihak-pihak terkait dalam pengelolaan izin usaha yang berbasis obat tradisional/jamu bisa merusak upaya pelestarian jamu sebagai pengobatan alternatif yang baik dan benar.
Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga
Ribut-ribut atas rencana pemerintah menaikkan BBM baru-baru ini membuat banyak orang terlalu fokus kepada sumber migas nusantara yang (katanya) masih melimpah ruah itu. Yang orang-orang lupa bahwa sebanyak-banyaknya potensi migas suatu hari akan habis juga. Karena migas adalah sumber daya yang tidak bisa diperbaharui.
Berbeda dengan sumber daya alam non migas yang bisa terus kita rawat dan pelihara agar lestari. Alam sudah diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaannya. Tinggal manusianya saja yang harus pandai-pandai mengolah dan menjaganya.
Sumber daya alam non migas yang dikandung oleh tanah Indonesia sangat beragam. Termasuk kekayaan rempah-rempahnya. Agar tidak lupa, penjajahan ratusan tahun oleh bangsa Eropa terhadap bumi nusantara tak lepas dari pesona rupa-rupa rempah-rempah ini.
Dengan rangkaian produk alam yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, kekayaan rempah-rempah yang sedari dulu telah menggoda dunia luar untuk datang bertandang, tidak muluk-muluk bukan? Tanah Indonesia adalah tanah surga :).
Dari tanah surga inilah, rangkaian produk jamu bisa muncul dan berkembang. Adalah tugas kita untuk melestarikan jamu sekaligus merawat dan memelihara sumber daya alam non migas berupa rempah-rempah yang beraneka ragam di atas bumi nusantara.
Food Combining? Apaan, tuh? Teori dasar tentang Food Combining cek di sini dulu :). Pengantarnya mungkin sedikit gengges di sana tapi ya sudahlah yaaaa hihihihi :D. Nama pun Ratu Drama disindang :P. Sekarang kita bahas cara membuat semur tahu kacang merahnya, deh.
Nah, kalau sudah dari link di atas pasti familiar dengan istilah “Kombinasi Makanan Serasi.” Inilah salah satu ciri khas pola makan ala “Food Combining” . Dengan memperhatikan sistem pencernaan dan enzim-enzim yang membantu prosesnya, FC meyakini bahwa sebaiknya karbohidrat dan protein hewani tidak disantap di waktu yang bersamaan.
Kalau pun belum sanggup seideal itu, minimal jumlahnya JANGAN sama atau hampir sama banyaknya. Misalnya, mulailah dengan sepiring nasi dan sayuran melimpah plus SETENGAH POTONG ayam goreng. Ingat, setengah saja, jangan malah ditambah menjadi 3 potong! hihihihi *ngikikRakus*. Sambelnya saja yang ditambah :P.
Kondisi ideal Food Ccombining, menu karbo ya menu karbo dan menu protein hewani dipisah dari karbohidrat. Dan kedua jenis menu tentu tetap harus berpasangan dengan sayur-sayuran yang sebisa mungkin segar. Kalau pun masih makan yang tumis-tumis dan rebus-rebus ya masih terbilang dimaafkan ;). Kayak judul lagu, “Pelan-pelan sajaaaa…”
Protein nabati bagaimana? Kalau yang ini boleh dijodohkan dengan karbo maupun protein hewani. Jadi, kalau orang Indonesia mah enggak usah heboh, ya. Tinggal ganti ayam goreng dkk dengan menu-menu dari tahu atau pun tempe ;). Alternatif protein nabati lainnya adalah…jamur :). Tetap sedap dong, ya ;). Resep food combining kali ini akan membahas tahu-tempe :D.
Tahu-tempe enggak ada matinya. Mau digoreng enak, dikukus nyam-nyam, ditumis boleh, dibalado hayuk, apalagi disemur ^_^. Ini dia cara membuat semur tahu yang ternyata enggak susah sama sekali ;). Resepnya saya lihat dari sini, dari situs Kecap Bango :D.
Karena bahan-bahan di Athlone ini cukup terbatas, jadi cara membuat semur tahu ini saya sesuaikan saja. Rasanya tetap enak walau tanpa daun salam dan bunga kecombrang (ini apaan sih ngomong-ngomong? Hihihi).
Nah, ini si Semur Tahu Kacang Merah versi Mama Jihan yang kemampuan memasaknya memang sangat tergantung pada Google hahahaha … *Google Masterchef :P* :
Semur Tahu Kacang Merah
Terus ya, biar si kecil mau makan, cabe hijaunya saya pisahkan. Tidak saya tumis bareng. Soalnya anak saya yang nomor 2 ini enggak tahan dengan yang pedas-pedas. Kalau abangnya mah sudah jagoan dia hahaha :D.
Kalau menu dengan rasa cukup ‘tajam’ seperti ini usahakan untuk disantap dengan sayuran segar :). Saya biasanya dengan potongan tomat dan timun segar :D.
Ingat, ayam – telur – bebek – daging sapi / kambing – dan aneka protein hewani lainnya sebisa mungkin diumpetin dulu hihihi. Enak koook si semur ini tanpa kehadiran mereka.
Cukup disantap bersama sepiring nasi plus sambal dan potongan sayur segar tadi. Tempo hari karena ada seledri, saya tambahin deh potongan seledri segar. Nyam-nyam-nyam :D.
Eh tapi, si semur yang ini juga cocok dijadikan menu protein hewani. Nasinya digeser diganti dengan telur rebus juga boleh. Kan enak juga, tuh :D.
Untuk menghindari mulut yang enggak bisa setop saat ngunyah yang anget-anget pedas manis plus sambel ini hihihi *tunjukDiriSendiri*, mengunyahnya harus pelan-pelan dan lama ;). Yap, dengan mengunyah seperti ini selain akan cepat terasa kenyang, juga akan memudahkan tugas si sistem cerna kita :). Mari dicoba ya resep food combining yang ini :D.