Resep Hati Sapi : Gulai Hati Sapi Bumbu Padang

Waktu masih di Irlandia ya kali mau bikin Resep Hati Sapi wong ketemu hati sapinya aja hampir enggak pernah :p. Orang bule enggak makan jeroan. Kalau pun jual jeroan, di toko daging halal jualnya jeroan kambing. Orang India-Pakistan jarang yang mengkonsumsi daging sapi.

Perhatiin deh resep-resep khas sana, paling sering ya pakai daging kambing atau ayam. Nasi biryani misalnya adanya ya Mutton atau Chicken. Mutton sebutan lain untuk daging kambing.

Bagi yang punya kuota lebih dan pengin langsung lihat proses pembuatannya saja, nih sila diceki-ceki vlognya langsung. Live nih dari Dapur Davincka! ;). Resepnya ada di deskripsi video ya. Kalau lanjut baca juga ada kok di postingan ini, sekrol aja ke bawah kalau malas baca pengantarnya hahaha.

Saya sih memang kurang terbiasa makan jeroan. Orang pantai mah senengnya makan ikan dan teman-teman, yes? ;). Tapi suami nih yang memang lidah Minang walau lahir dan besar di perantauan. Walau sejak 4-5 tahun terakhir kita sekeluarga sudah mulai jaga makan, yang namanya kangen masakan dari kampung halaman pasti ada aja kejadiannya.

Nah ini pas di Texas, walaaaah, toko daging halal tidak sedikit dan jenis daging yang dijual juga lebih aneka rupa. Mungkin karena di Ireland kita tinggalnya di kota imut-imut jadi ya, toko daging halal juga menyesuaikan market yang tergolong sepi. Enggak berani jual macam-macam.

Resep Hati Sapi : Gulai Bumbu Padang

Di Texas, gampang banget nemu yang namanya daging sapi. Stoknya memang lebih terbatas, sih. Jauh lebih banyak hati kambing.

Nih, suami sudah beberapa kali beli hati sapi. Tapi ya enggak tiap bulan jugak hehehe. Berbagai olahan hati sapi sudah pernah dicoba. Soalnya di-sambel goreng ya bosan ye, Ceu! *kibasCelemek*.

Kalau sambal goreng saya tentu lebih milih resep andalan dari kampung halaman Bugis nun jauh di sana, Resep Sambal Goreng Daging Sapi ;).

Nah ini kemarin nyoba-nyoba bikin Resep Hati Sapi yang digulai ala-ala Minang maksudnya. Entahlah ini sudah bener apa enggak hahaha. Bumbunya nebak-nebak dari resep gulai standar :p. Ya kurang lebihnya mudah-mudahan oke, ya. Hasilnya sih suami doyan bangeeeeeettt :D.

(Baca juga : Cara Membuat Gulai Tahu)

Kemarin kan sempat bawa hasil Resep Hati Sapi ala gulai padang ini pas acara buka puasa di rumah teman. Suami udah pesen, “Kalau nyisa bawa pulang lagi aja!” Hahahahaha :p.

Posting-posting di sini mana tahu ya bisa jadi menu alternatif buat lebaran nanti ;). Makan-makan ginian mah sekali setahun cukuplah ituh :p.

Resep Hati Sapi diGulai Pakai Bumbu Minang Padang

400 gr hati sapi. Cuci bersih dan potong-potong.

Bahan rebusan hati sapi : (1 sdt ketumbar bubuk, 1 sdt kunyit bubuk, 2 lembar daun salam, garam + gula pasir secukupnya
Air matang kurang lebih 400-500 ml).

1 buah bawang bombay, iris kasar
3 siung bawang putih iris halus
5 butir kemiri, sangrai dan haluskan
6-8 buah cabe merah keriting, haluskan. Bisa pakai “Sambal Oeleg” kurang lebih 2 sdm full.
3 buah cabe rawit jika ingin pedas. Boleh lebih atau kurang tergantung selera.
1 sdt ketumbar bubuk
1 sdt kunyit bubuk
1/2 sdt jinten bubuk
2-3 cm jahe, iris-iris
1 ruas jari lengkuas, iris halus
1 batang sereh, potong-potong dan memarkan
3 lembar daun salam
5 lembar daun jeruk
3 cm kayu manis
5 butir cengkeh
Garam + gula pasir secukupnya
300 ml santan kental

Cara Membuat :

Rebus hati sapi dengan air matang. Bumbunya : 2 lembar daun salam, 1 sdt ketumbar bubuk, dan 1 sdt kunyit bubuk, garam+gula pasir secukupnya. Rebus sampai air habis dan bumbu meresep.
Sisihkan.

Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai wangi. Masukkan kemiri, cabe merah, ketumbar bubuk, jinten bubuk, kunyit bubuk, sereh, jahe dan lengkuas. Aduk sampai bumbu tercampur rata.

Tambahkan daun salam, daun jeruk, cengkeh, dan kayu manis ke dalam tumisan bumbu. Juga garam + gula pasir secukupnya. Aduk sebentar. Masukkan santan dan aduk agar santan tidak pecah.

Setelah mendidih sebentar, masukkan hati sapi yang sudah direbus dengan bumbu tadi. Aduk sampai tercampur rata.
Tambahkan air matang. Didihkan terus sampai air menyusut dan kuah mengental serta bumbu meresap ke dalam hati sapi.

Selamat mencoba.

***

Btw, resep hati sapi juga enak lho kalau digoreng kering gitu. Ini sudah pernah belum ya ditulis resepnya? Kayaknya belum, ya.

Ini saya share vlognya dulu deh ^_^. Resep ada di deskripsi video, ya, kayak biasa ;). Sila disimak proses bikin resep Hati Sapi Goreng secara live dari Dapur Davincka *gayaLo* hahhaha :p.

Farmhouse Lembang Bandung

Dengan tiket masuk hanya 20 ribu rupiah per orang, enggak heran kalau Farmhouse Lembang Bandung langsung jadi hits begitu dibuka di awal Desember 2015 kemarin. Gila deh itu foto-fotonya bertebaran di mana-mana, terutama Rumah Hobbitnya itu tuh :D.

Belum ke sana? Ah masa! Ck ck ck :p. Ini deh vlognya buat intip-intip duluan :

Saya pikir Rumah Hobbit tadi itu adalah tempat andalan dari Farmhouse Lembang Bandung. Tapi ternyata tempatnya lumayan luas lhoooo ^_^. Makanya, bayar 20 ribu itu rasanya murah juga, ya. Apalagi tiket masuk bisa langsung ditukar dengan susu murni atau sosis bakar, kalau mau.

Nah, kami sendiri memanfaatkan harga tiket masuk sebagai voucher saat makan siang di salah satu restoran di dalam area Farmhouse Lembang Bandung ini. Kami makan siang di “Backyard Kitchen”, yang menyediakan aneka menu khas tanah air divariasikan dengan menu-menu internasional.

Harganya berkisar 30 ribu – 200 ribu. Kira-kira saja ya hehehe.

Jadi itinerarynya kemarin ituh, berangkat ke Bandung sehabis sarapan di Jakarta. Nyampenya pas siang-siang gitu. Begitu masuk Farmhouse Lembang Bandung, jalan-jalan dikit dulu sambil foto sesempetnya.

farmhouse lembang bandung

Anak-anak pipis dulu bla bla bla. Adek bayi sekalian ganti popok. Tadinya memang ngirain tempatnya enggak begitu luas. Ealah, ternyata geda’ juga booooo *ngelapKeringat*.

Keburu laper hahaha.

Mampir deh ke Backyard Kitchen ini. Random saja sih milihnya karena beberapa kafe selewatnya tadi saya lihat hanya menyediakan kopi dan teman-temannya gitu.

Anak-anak langsung heboh melihat penampakan sosis macam ular naga panjangnya kayak gini nih hihihi :

Kalau emaknya sih, menu standar kalau makan di resto ya apalagi kalau bukan … nasi goreng! Hahaha. Si lidah kampong iniiiiii :p.

Suami sempet bete karena dia udah bilang mau difoto dulu jangan diacak-acak. Ealah, eike enggak ngeh jadi main tancap ajeeeee. Suami lagi mau nyobain food photography gitu-gitu lah. Duh, maap yaow hihihi. Ini kefotonya jadi pas udah berantakan :p.

Sebenarnya yang dipesan suami tuh yang enaaaaak. Semacam spaghetti tuna apa ya kalau enggak salah. Jadinya ikut icip-icip juga. Sengaja mesen yang agak “ringan”. Soalnya sudah hafal yaaaaaa, si bini pasti enggak kuat ngabisin nasi gorengnya dan anak-anak juga bakal nyisa karena porsinya gede bener. Good hubby :p.

Setelah kenyang baru lebih tenang yaaaaa jalan-jalannya *elusPerut*.

Baru deh kita cari area si Rumah Hobbit yang ternyata pas di area ini anak-anak tergila-gila dengan kambing dan domba di sana. Eh, ada kelinci juga kalau tidak salah. Nanti beli wortel di sana terus anak-anak bisa memberi makan ke hewan-hewan khas peternakan yang ada, ya si domba dll tadi.

Ngantri foto di Rumah Hobbit lumayan juga. Terus banyak embak-embak pakai baju-baju khas Eropa yang bergerombol terus foto depan Rumah Hobbit. Ada juga yang wara wiri di tempat hewan-hewan. Lucu ya, sayang nih bawa anak bayik, jadi mejeng samping stroller aja deh gue hahaha.

Setelah anak-anak bosan kejar-kejaran sama kambing baru deh mereka bisa digeret dari sana. Tungguin ajalah. Toh memang acara jalan-jalan ini buat mereka kok ya ^_^. Sampai bosan rasanya ngeliat mereka cekikikan karena digodain sama hewan-hewan di sana :D.

Terus kita jalan-jalan ke area yang ada jembatan yang banyak gembok-gemboknya itu. Ya semacam gembok cinta yang hits di mana-mana itu. Di sekitaran tempat itu banyak penjual suvenir segala macam. Termasuk jualan gembok buat yang mau numpang eksis tapi lupa bawa gemboknya kali ya hahahaha.

Tempat ini memang menawarkan wisata ala-ala taman-taman di Eropa gitu ya. Jadi bentuk bangunan menggunakan arsitektur khas negara-negara Eropa. Banyak spot buat foto-foto. Katanya sering dijadikan tempat foto prewedding juga :).

Enggak usah jauh-jauh ke Eropa daratan, cukup muter-muter di Farmhouse Lembang Bandung ini sudah bisa foto pakai baju khas noni-noni Belanda itu lho hihihi. Fotonya di depan rumah-rumahan yang ala-ala luar negeri gitu :p. Komplit! :D.

Tempatnya worth it banget buat uang masuk yang hanya 20 ribu rupiah per orang ;). Bukan hanya emak-emak plus anak-anak yang penuh merubung di tempat ini, ada juga abege-abege datang beramai-ramai. Atau pasangan muda yang kayaknya lagi pacaran. Ish, ish, nyari tempat kencan yang murmer ya Deeeek :p.

Kami ke sana pas liburan lebaran mudik tahun 2016 kemarin. Parkirannya luas dan tidak susah padahal sudah agak jiper ya melihat banyaknya mobil yang masuk ke dalam. Tempatnya luas jadi tidak terlalu berdesak-desakan. Overall, sangat memuaskan ^_^.

Kalian sudah ke sana belum? Jangan lupa ceki-ceki vlognya ya, saya taruh linknya di paragraf atas-atas tuh ;).

 

Petualangan Dinosaurus TMII Jakarta yang Seru dan Heboh

Petualangan Dinosaurus TMII, salah satu wahana di Taman Legenda, yang merupakan bagian dari Taman Mini Indonesia Indah.

Taman Legenda ini dibuka pertama kali di bulan Desember 2015.

Perginya pas bulan Juli, mudik lebaran tahun 2016 kemarin. Tapi ngedit videonya baru sekarang hahaha. Ya kan resolusi vloggernya baru tahun 2017 *ngeles* .

Petualangan dinosaurus taman legenda TMII Jakarta

Tiket masuknya menggunakan sistem ticketing terpadu berupa gelang merah yang diberikan kepada masing-masing pengunjung. Gelang merah ini merupakan gelang RFID (Radio Frequency Identification). Makin canggih aje nih Taman Mini .

Semua transaksi bisa dilakukan sesuai dengan sejumlah uang yang kita berikan di kasir depan sebelum memasuki Taman Legenda. Mulai dari memasuki wahana/permainan, membeli makanan dan minuman, termasuk membeli suvenir segala lho. Tinggal tunjukin gelang merahnya saja.

Jangan takut membayar lebih, ya. Karena kalau “pulsa” gelang merahnya nyisa, bisa diambil di kasir sebelum keluar dari area Taman Legenda ;). Mending lebih-lebih dikit biar kalau di dalam enggak ribet ngisi-ngisi lagi.

Petualangan Dinosaurus Taman Legenda TMII Jakarta

Tiket masuk ke Taman Legenda di hari Senin sampai Jumat, 15 ribu per orang. Untuk akhir pekan, 25 ribu per orang.

Tiap wahana nanti punya tiket masuk terpisah. Untuk Petualangan Dinosaurus dikenakan 30 ribu rupiah per orang. Wahana lain juga banyak, sih. Ada bianglala, komedi putar, bahkan kolam renang segala ^_^.

Tapi kami hanya sempat ke Petualangan Dinosaurus ini. Sempat hujan juga setengah jam lebih jadi kami berteduh di mushalla rame-rame.

Anak-anak pasti seneng deh dibawa jalan-jalan ke sini. Apalagi anak-anak saya kan kayaknya secara turun temurun demen dinosaurus semua. Nih, generasi terbaru si Dino bentar lagi menyusul, si adek bayi, yang pas jalan-jalan di Jakarta nyeker mulu hahahaha.

Panas ya Dek hihihi, dese ogah pakai sepatu apalagi kaos kaki .

Tidak ada rencana mau mampir ke Petualangan Dinosaurus Taman Legenda ini. Kami juga benar-benar baru tahu pas lewat depannya hehehe.

dino-1

Begitu lewat di depan Taman Legenda ini dan ada pamflet gambar Dinosaurus yang lumayan gede terpampang lebar-lebar, tentu saja para penggila hewan purba ini langsung kalap hahahaha.

Anak-anak saya memang tergila-gila dinosaurus sejak kecil. Diawali dengan si sulung yang sukses menular ke adeknya. Entah gimana dengan si anak nomor 3 entar. Apa bakal ketularan juga apa enggak :D.

Bersama Oma-Opa dan Tante, kami sekeluarga jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah di wilayah Jakarta Timur. Ini tempat liburan wajib saban mudik. Murah meriah menyenangkan pakai banget sih ya ^_^.

Petualangan Dinosaurus TMII

Sebelumnya kita dari pagian sudah ke Taman Burung terlebih dahulu.

Seru banget Petualangan Dinosaurusnya karena cukup atraktif buat anak-anak. Hewan-hewan purba ini tidak hanya ditampilkan dalam bentuk fisik tapi juga dilengkapi dengan suara.

Tuh, di video saya tirukan suara dinosaurusnya , mirip kaaaaan. Suaranya yaaaaaaa, bukan orangnya hahahaha. Nih, barusan tadi pagi merampungkan vlognya :D.

Jangan lupa  subscribe juga ke channel youtube saya di sini ya ;).

Soal suara dinonya, suaranya yang benar-benar menggelegar gitu. Tidak sedikit anak-anak di sana yang malah ketakutan pas di sana. Kebanyakan sih yang masih kecil-kecil gitu. Apalagi kalau anak perempuan.

Kalau anak laki-laki apalagi yang memang fans garis kerasnya dinosaurus ya so pasti makin tergila-gila karena efek suara ini hihihi.

Fasilitas dalam Taman Legenda lumayan banget lho. Mushallanya nyaman, luas dan bersih. Makanya keenakan pas berteduh saat hujan hehehe. Sempat mengobrol seru pula dengan pengunjung lain yang kebetulan orang Minang juga :D.

Petualangan Dinosaurus Taman Legenda TMII Jakarta

Pas masuk ke Petualangan Dinosaurus Taman Legenda ini, Oma-Opa-Tante Desi menunggu di luar. Iya juga ya, bisa mati gaya mereka bertiga kalau ikutan ke dalam hihihi.

Tempatnya sendiri tidak luas-luas amat. Enggak nyampe sejam sudah selesai keliling-keliling di sana.  Itu juga sudah pakai foto-foto dan ngerekam videonya plus lihat-lihat di toko suvenir walau enggak beli apa-apa hahaha.

Eh, beli pedang-pedangan gitu deng. Pedang-pedangan enggak penting tapi anak-anak cranky minta beli-beli -_-. Karena nyari yang cukup murah, makanya beli gituan :p.

Ya sudahlah.

Overall, senang deh seharian itu main di Taman Mini, mengunjungi 2 tempat : Taman Burung dan Taman Legenda.

Ayooo yang belum ke sana, yang belum ke sana ;). Petualangan Dinosaurus Taman Legenda TMII ini mayan bangetlah buat bikin anak-anak jejeritan hahaha.

Look at their happy faces ^_^

Petualangan dinosaurus TMII

Updated, ada  vlog juga  nih tentang tempat wisata lain yang seru buat anak-anak. Agak jauhan ini, di Batang-Jawa Tengah.

Tapi sekarang kan udah  gampang road trip karena  banyak jalan tol. Mampir ya ke Batang Dolphin Center di Batang, tempatnya mayan banget, murah pula hehehehe :

Kecil-kecil Cabe Rawit

Awal tahun 2011, di bulan Januari kayak sekarang ini, harga cabe juga menjadi buah bibir. Sempat menembus angka 80 RIBU RUPIAH per kg. Itu harga 6 TAHUN LALU yaaaaa.

Enggak usah dicek siapa presidennya. Kecewa kalian nanti .

Tapi ya siapalah yang bisa hidup tanpa cabe ya Kak hahahaha *salamanDulu*. Perantau yang lidahnya sungguh kampungan macam saya ini tentu merasakan beratnya beban hidup dimana tempe dan cabe tidak hanya mahal tapi juga TIDAK ADA di kota tinggal saya.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Sampai akhirnya iseng main ke toko sayur dan buah depan gedung apartemen. Ada orang India yang masuk terus dia langsung ke rak belakang. Saya sebenarnya waktu itu nyari daun mint buat bikin Nasi Biryani. Jadi pengin nanya dia hihihi.

Ealah, ternyata di rak itu banyak bumbu khas Asia termasuk….satu keranjang cabe merah segar ginuk-ginuk montok yang seolah meledek saya, “Ke mane aje loooooooooo….”

Rasanya pengin salto dalam toko hahaha.

Begitu mas-mas Indianya hengkang dari rak itu, saya sikat cabe-cabe merah itu. Sayang, si mas-masnya udah ambil banyak. Tapi ya lumayanlah, sisa segitu cukup buat masak sekali.

Ternyata, pengin salto untuk kedua kalinya pas tahu harganya hahahaha. Rasanya pengin sujud syukur karena si mas-mas India sudah ngeborong duluan .Kan tengsin ya kalau gegayaan mau ngeborong pas di kasir terus minta dibalikin sebagian .

Kalau kata orang Bugis, Siri’ ituuuuuu hahahaha .

Anyway, soal harga cabe di Indonesia. Memang ada pola harga melangit hampir setiap akhir tahun jelang awal tahun. Di tahun 2011 salah satu yang paling pedas kenaikannya hehe.

Tapi tahun 2012 harga cabe turun lebih awal.

Tahun 2015, 2016 dan 2017, mengapa lebih spesial pedasnya harga cabe? Ya masa harus dikasih tahu kenapanya sih hahaha. Hanya di era siapa era siapa era siapaaaaaaaa .

Kurus-kurus cabe rawit dah emang Pakde kite nih hihihi. Eh, kecil-kecil cabe rawit ya .

Jokowi be the man

Tentulah, walau ditempa banyak kesibukan di awal tahun yang penuh resolusi ngana ngunu ini (gayaneeee hahahaha), tetap saja seekor eh seorang kecebong imut ini harus tampil di garis paling depan membela Pakde *benerinBambuRuncing*.

Tenang, tenang, saya mah pembawa berita baik. Berita-berita baik yang luput dari hingar bingarnya kembang api berita yang meletup-letup di news feed saban hari hihihi .

Misalnya tahun lalu, pemerintah menaikkan batas minimum PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak) untuk Pajak Penghasilan di pertengahan tahun 2016. Tentu efeknya lumayan buat penerimaan pajak. Penerimaan pajak akan berkurang karena pajak penghasilan akan melorot .

Diantara polemik kegagalan mencapai target penerimaan, pemerintah masih memikirkan kok ya kepentingan masyarakat. Tetap nekat menaikkan PTKP walau resiko penerimaan negara akan berkurang.

Masing-masing memang harus berkorban ;). Negara ini kan kepunyaan kita sama-sama ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Dengan kenaikan PTKP diharapkan daya beli masyarakat secara umum membaik karena otomatis pajak penghasilan yang dibayarkan turun.

Begitu awal tahun 2017 ini ada harga naik, newsfeed pecah dengan rintihan dan keluhan yang muter-muter ke sana kemari yang pada dasarnya menuju ke satu orang itu tuuuuuhhh … pastinya beserta segenap pendukungnya harus menanggung akibat hahaha,

Nyatanya memang “bad news is a good news” ya . Wajar kok kalau berita yang potensinya meresahkan pasti lebih booming.

Anyway, semoga tetap semangat ya teman-teman. Ya memang berat lah itu kalau harga cabe selangit hehehe. I feel you. Tapi maaf, saya enggak bisa ikutan meratap berjamaahnya hehehe.

Soal harga naik ya, globally, it’s not a good time in everywhere. Tapi semoga Indonesia termasuk diantara negara-negara “ajaib” yang sedang meretas jalan untuk naik kelas secara ekonomi global . Tanda-tandanya banyak kok. Aamiin .

Bukan kapasitas saya untuk menerangkan masalah-masalah ekonomi secara detail. Saya mah paling andalannya cuma bisa bilang, “Sabaaaaaarrrrr…”

Namun, siapakah yang hidupnya yang tidak celaka selain mereka yang saling nasihat dan menasihati dalam menetapi kesabaran .

Pikir yang baik-baik, berbicara yang baik-baik, prasangka yang baik-baik, insya Allah yang datang nanti semua yang baik-baik.

The best is yet to come ya teman-teman. Tapi ingat, tidak ada yang bilang perubahan itu mudah . Sabaaaaaaarrrrrr . 

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Politisasi ‘Pasal Karet’ Undang Undang Penistaan Agama, Ahok, dan The Majority Privilege

Undang undang penistaan agama :  Hampir penghujung Oktober 1998, Tabanan bergolak. Paruman (rapat) akbar digelar oleh pemuka adat, melibatkan ratusan umat Hindu setempat, menuntut Presiden Habibie memecat dan  mengadili salah satu pejabat pusat. Pejabat yang dituduh melakukan penistaan agama.

Salah satu perwakilan mereka, I Gusti Gde Putra Wirasana, mengingatkan pemerintah agar secepatnya mengambil langkah. Jika tak ada tindak lanjut, Wirasana mengancam akan terjadi demo yang lebih besar lagi, juga untuk tetap menjaga citra Bali sebagai kota wisata internasional.

Bali memanas, travel warning ke Bali sempat dikeluarkan bagi turis-turis asing karena maraknya aksi protes yang sambung menyambung.

bali-marah-saefuddin-exit

Sebelum Tabanan, Denpasar sudah lebih dahulu pecah. Disusul Bangli, Gianyar, Jembrana dan berbagai wilayah di Bali. Beberapa demo skala kecil juga terjadi di ibukota. Termasuk memberikan laporan pengaduan resmi atas penodaan agama ke Kapolri saat itu.

AM Saefuddin, Menteri Pangan dan Hortikultura era reformasi, yang saat itu juga digadang-gadang untuk maju sebagai salah satu capres dari PPP jelang Pilpres 1999 membuat pernyataan kontroversial, “Mega pernah sembahyang ke Pura. Saya salat di Masjid. Dia kan agamanya Hindu. Saya Islam. Relakah rakyat Indonesia presidennya beragama Hindu.”

Ucapan AM Saefuddin  membakar amarah umat Hindu di tanah air.

Kalau Ahok perlu Buni Yani untuk memotong video penyuluhannya di Pulau Seribu yang aslinya berdurasi lebih dari satu jam menjadi 3 menit saja, maka pernyataan AM Saefuddin dilontarkannya dalam sebuah wawancara langsung yang dimuat di beberapa media cetak nasional : Republika – Suara Indonesia – Merdeka, pada tanggal 15 Oktober 1998.

Dari ancaman menutup bandara sampai ada gerakan menyarankan untuk melakukan Puputan. Puputan, semacam ritual bunuh diri ketimbang harus menyerah kepada musuh. Terus membesar menjadi ancaman disintegrasi, melepaskan Bali dari kekuasaan Republik Indonesia.

AM Saefuddin telah meminta maaf. Malah, permintaan maaf pun diulangi sampai dua kali.  Tetap tak menurunkan ketegangan umat Hindu di berbagai wilayah, utamanya di Bali.

Banyak pihak menyayangkan peristiwa ini dan menuding ucapan AM Saefuddin telah dipolitisasi oleh “lawan politik”nya demi menjegal kesempatan AM Saefuddin menjadi capres pada Pilpres yang sudah di depan  mata.

AM Saefuddin tergolong pejabat “bersih” termasuk dari virus korupsi.  Beliau adalah tokoh akademis yang mengabdikan lebih dari 30 tahun hidupnya di kampus IPB.  Tahun 1983 – 1986, beliau menjadi rektor Universitas Ibnu Khaldun. Satu lagi tempatnya mengabdikan ilmu, Universitas Djuanda (Bogor).

Tetap saja, sebagai pejabat publik, AM Saefuddin dinilai tidak pantas merendahkan agama lain dalam kapasitasnya sebagai pelayan rakyat.

Bagaimana akhirnya?

Presiden Habibie bergeming. Tak ada pengadilan sama sekali. Tak ada reaksi dari kepolisian. Kasusnya tidak pernah ditingkatkan ke penyelidikan. Selesai begitu saja. Demo berangsur-angsur mereda dengan sendirinya.

AM Saefuddin tidak dicopot dari jabatannya. Masalah pun berlalu dengan sendirinya. Meski partai tempatnya bernaung urung menampilkan namanya sebagai salah satu kandidat capres.

Tanggal 20 Oktober 2009, Undang Undang Penistaan Agama diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) guna diuji konstitusionalitasnya. Salah satu argumen dari pihak yang ingin menghapus/menolak UU Penodaan Agama adalah ketentuannya yang dinilai sangat tidak jelas dan ambigu.

Tidak  jelas/ambigu yang  bisa diistilahkan dengan “Pasal Karet”.

Gambar : farrukhsaif.com
Gambar : farrukhsaif.com

Indonesia, Punya Siapa?

Pernyataan bahwa Undang Undang Penistaan agama bisa melindungi tiap umat untuk menjalankan ibadah masing-masing mungkin cukup tepat. Tapi bagaimana jika dalam “menjalankan ibadah” ini ternyata berbenturan dengan UUD negara kita?

Soal pemilihan pemimpin misalnya. Kembali ke kasus AM Saefuddin, ada pemuka agama Islam yang  mengatakan bahwa ajaran Islam melarang pemimpin non muslim. Mengundang pertanyaan lanjutan, “Tidak bisakah umat selain Islam menjadi pemimpin di Indonesia?”

Secara khusus di kasus 1998, “Tidak bolehkah umat Hindu dipilih sebagai pemimpin?”

Pernyataan Ahok di Pulau Seribu,

” … ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa. karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. program ini jalan saja. ya jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak, dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok. gak suka ama Ahok. tapi programnya, gue kalo terima, gue gak enak dong ama dia, gue utang budi. jangan.”

Terlepas dari apakah Ahok telah salah atau tidak dengan membuat pernyataan di atas (yang berwarna merah), kita tidak boleh melepaskan satu hal. Bahwa pernyataan ini adalah reaksinya dari “serangan larangan memimpin muslim” yang beredar luas di masyarakat.

Misalnya, suami saya menerima pesan berantai yang isi beritanya menjelaskan tentang adanya keinginan kaum Kristen tanah air untuk menghancurkan Islam dsb dsb (yang tentu saja hoax) dengan diakhiri anjuran jangan memilih pemimpin yang beragama Kristen disertai Al Maidah ayat 51.

Reaksi Ahok menurut saya jelas. Yang ditujunya adalah “orang tertentu” (lihat warna biru) yang menggunakan ayat ini dalam pesan-pesan yang berisi kebohongan untuk kepentingan politik jelang Pilkada 2017. Tapi tetap saja, ucapannya dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik jelas tidak sesuai etiket.

Ada alibi bahwa pernyataan “non muslim tidak boleh menjadi pemimpin” vs “umat muslim tidak boleh memilih pemimpin non muslim” adalah 2  hal yang berbeda. Faktanya, kaum muslim adalah kalangan mayoritas di tanah air. Menyimpulkan bahwa kedua hal ini tidak berhubungan sepertinya janggal.

Bisakah pemerintah menjembatani hal ini?

Berbeda dengan AM Saefuddin yang masih dalam “tahap penjajakan” menuju Pilpres 1999, Ahok sebagai petahana memiliki elektabilitas cukup tinggi menuju Pilkada 2017. Apakah  mungkin kita menutup mata menganggap demo-demo masif atas nama penodaan agama ini sama sekali bebas dari kepentingan politik?

undang undang penistaan agama
Gambar : temanahok.com

Perbandingan dengan Kasus Lain

Banyak yang menjadikan contoh kasus lain sebagai perbandingan. Misalnya seorang Ibu di Bali yang kasusnya sudah sampai ke status terpidana.

Kasus bermula saat Rusgiani lewat di depan rumah Ni Ketut Surati di Gang Tresna Asih, Jalan Puri Gadung II, Jimbaran, Badung, pada 25 Agustus 2012. Saat melintas, dia menyatakan canang di depan rumah Ni Ketut najis. Canang adalah tempat sesaji untuk upacara agama Hindu.

“Tuhan tidak bisa datang ke rumah ini karena canang itu jijik dan kotor,” kata Rusgiani seperti tertulis dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), 31 Oktober 2013.

Menurut Rusgiani, dia menyampaikan hal itu karena menurut keyakinannya yaitu agama Kristen, Tuhan tidak butuh persembahan. Rusgiani mengaku mengeluarkan pernyataan itu spontan dan disampaikan di hadapan tiga orang temannya.

Perhatikan pernyataannya. Sama sekali tidak bersayap. Menyebutkan dengan jelas obyek agama yang dituju/dihina sehingga bisa dijerat dengan Undang Undang Penistaan Agama.

Majority Privilege?

Membandingkan kasus AM Saefuddin di tahun 1998 jelang Pilpres 1999 VS kasus Ahok di tahun 2016 jelang Pilkada DKI 2017, bagaimana keduanya berlangsung dan berakhir?

Kalau dari segi pelaporan, desakan, demo yang melibatkan massa, keduanya sekilas tidak berbeda. Tapi respons pemerintah sangat berbeda. Perbedaan antara desakan yang terjadi dari umat Hindu 1998 vs umat Islam 2016 terlihat jelas dari SEGI KUANTITAS.

Jumlah pendemo Ahok jauh lebih besar dan terpusat di ibukota. Apakah hal ini yang membuat jajaran pemerintah, dalam hal ini Kapolri, melabrak Aturan Telegram Rahasia dalam Kasus Ahok?

Atau, apakah pemerintah sekarang tidak setegas pemerintahan Habibie dalam hal ini? Serta memilih untuk mengakomodir keinginan para penuntut dengan mengorbankan hukum? Ataukah karena penuntut berasal dari kalangan mayoritas sekaligus yang dituntut kebetulan adalah bagian dari masyarakat minoritas?

Semoga pemerintah tidak mengambil “jalan tengah” demi kestabilan politik semata. Karena sekali kita mengorbankan legitimasi hukum atas nama “persatuan bangsa dan negara”, siapa yang menjamin “mereka” atau kelompok lain tidak akan memanfaatkannya untuk tujuan yang lebih besar. Misalnya, menjatuhkan pemerintahan yang sah di tanah air?

Sedikit renungan menjelang sidang perdana Ahok minggu depan.

***