Cara Membuat sarikaya pisang kepok fatmah bahalwan NCC

Cara Membuat Sarikaya Pisang Kepok

Di Ireland belum beruntung ketemu pisang kepok, eeeeh di Texas malah  banyak banget hehehe. Mungkin karena geografisnya Texas nih ya yang cocok buat tanaman-tanaman tropis termasuk pisang. Tidak ada pun, mereka tinggal impor dari Mexico. Sebelah-sebelahan itu Texas-Mexico hehehe.

Cara Membuat Sarikaya Pisang Kepok
Pisang Kepok (gambar : bertaniorganik.com)

 

Waktu kecil, cemilan pisang kepok yang saya tahu tidak hanya sebatas pisang goreng dan kolak pisang saja. Tapi ada kue pisang gula merah, roko-roko unti (nagasari), dan juaranya … barongkooooooo. Saya pernah juga bikin barongko tapi enggak pakai daun pisang. Ribeeeetttt. Daun pisangnya cuma satu aja yang lebar buat wadah.

Kalau barongko kan aslinya dibungkus pisang satu-satu, ya. Daun pisang juga banyaaaaak di Texas maupun di Ireland. Harganya juga tidak mahal walau tidak semurah di Indonesia, sih.

Kemarin iseng cari-cari kue tradisional alternatif berbahan pisang kepok. Situs andalan buat resep-resep tradisional ya pastinya ke NCC lah ya hehehe. NCC-nya Ibu Fatmah Bahalwan. Voila … ketemu resep sarikaya pisang kepok ini.

Pas baca-baca duh ternyata gampiiiiiiiil. Cek bahan-bahan di kulkas dan lemari? Komplit! Langsung eksekusi ^_^. Saking pedenya, langsung di-video-in juga hihihi. Hasilnya emang enak kok ya. Ini video live dari Dapur Davincka nya :p. Jangan khawatir resep lengkap juga saya tulis di bawah nanti kok ;).

Jangan lupa, pas dikukus, tutupan panci diselumuti pakai kain bersih, ya. Biar uapnya enggak basah kena ke kue. Nanti jadi lembek. Di video enggak kelihatan, maklum Sis, masak sendiri, ngerekam sendiri hihihihi. Itu sebenarrnya pas ngukus saya bungkus tutup pancinya.

Hasilnya empuk, manisnya  pas (y). Tapi ini yang ngomong emang penggemar pisang kelas berat hahaha. Saya senang nyetok pisang di rumah. Kalau setengah matang bisa dibikin keripik, kalau gak males :p. Kalau matang bisa dibikin bolu atau ya sarikaya ini. Untuk cake/bolu biasanya pakai pisang cavendish bukan pisang kepok, sih.

Ini ya resep cara membuat sarikaya pisang kepok nya :

Cara Membuat Sarikaya Pisang Kepok

(by Fatmah Bahalwan)

Bahan:

5 buah pisang kepok matang, iris-iris
125 gr gula jawa
25 gr gula pasir
100 ml air matang
3 butir telur ukuran besar / 4 telur ukuran sedang/kecil
250 ml santan kental
2 lembar daun pandan, sobek-sobek
4 cm ayu manis, atau 1 sdt kayu manis bubuk

Cara Membuat sarikaya pisang kepok fatmah bahalwan NCC

Cara membuat:

1. Masak air, gula merah, dan gula pasir hingga mendidih. Saat gula sudah larut, angkat dan saring. Lalu dinginkan.
2. Sementara menunggu gula mendidih, taruh daun pandan dan kayu manis di dasar wadah mangkok/pinggan tahan panas. Lalu susun potongan pisang di wadah tersebut.
2. Kocok telur dan santan hingga rata. Tuangkan air gula jawa ke dalam kocokan telur secara bertahap sambil dikocok rata.
3. Tuangkan adonan gula-telur ke dalam wadah yang berisi pisang tadi.
4. Kukus dalam dandang sampai matang. Kurang lebih 60 menit. Angkat, dinginkan. Siap disajikan.

Teksturnya lembut jadi anak bungsu saya juga doyan ngunyahnya. Anak umur 2 tahunan kadang kan ogah-ogahan kalau disuruh ngunyah yang agak keras. Kecuali kue kacang-kacangan, anak saya doyaaaaaaannn :D.

Lumayan ya resepnya buat alternatif hidangan dari pisang kepok. Sekalian melestarikan kuliner nusantara, ya. Resep sarikaya banyak juga jenisnya, biasanya jadi topping beras ketan. Di tempat saya namanya Katiri Sala. Suami saya yang asli Minang bilangnya Ketan Sarikaya. Kapan-kapan pengin praktik bikin Katiri Sala ini aaaahhhh :D.

Terima kasih Ibu Fatmah Bahalwan :D. Tetap deh NCC jadi contekan andalan sampai sekarang ;).

film 500 days of summer

There’s Always An Autumn After (500 Days of) Summer

Review ala-ala untuk film 500 days of Summer ceritanya :p. Ini film lawas yang enggak sengaja ketemu di semacam list 20 film komedi-romantis yang “layak tonton”. So-so aja sih ceritanya.

Yang bikin seru adalah perang komen di beberapa klip film 500 days of Summer yang ada di youtube hihihihi. Kirain di FB saja yang pada doyan berantem minim faedah hahaha. Ternyata, ada juga yang  punya waktu lebih untuk eyel-eyelan di Youtube :p.

Oiya, jangan lupa dong subscribe ke channel youtube saya di sini 😀 (tema channel : traveling, skincare review, resep masakan  Indonesia, suka duka tinggal di luar negeri).

Balik ke komen-komen tentang film 500 days of Summer tadi …

Sebagian besar membahas soal “pesan” apa sebenarnya yang pengin disampaikan oleh film ini. Ye kan tergantung yang nonton aja kaliiiiii. Lagian ini film ringan buat ditonton santai-santai sambil gegoleran. Ceritanya juga enggak rumit. Mayan ketebak alurnya.

Endingnya, walau cheesy tapi lumayan bikin geregetan. Endingnya ini nih yang bikin komen-komenan rameeeee :D.

Maaf nih, kayaknya bakal spoiler yak. Akyu bingung kalau ngomongin pilem tapi enggak bahas endingnya. Sungkem dulu. Kalau masih penasaran pengin nonton, tulisan ini dibaca entar-an ajah.

film 500 days of summer
Gambar : amazon.com

Ah ya, pemerannya juga cantik banget, si Zooey Deschanel. Berhubung saya penggemar berat Dr Temperance Brennan di Bones, baik karena karakternya yang pinter warbyasak juga karena tampangnya yang kece banget. Nah pemeran-pemerannya itu adek kakak, yang di Bones itu Emily Deschanel.

Matanya itu lhoooooo ck ck ck. Itu karena pengaruh eye liner apa gimana sih? Hihihi. Tapi warna mata mereka juga cakep sih, ya. Hayoo yang kakak yang mana, yang adek yang maneeeeee.

Emily Deschanel & Zooey Deschanel

Mari kita fokus kembali ke film 500 days of Summer nya, sampai mana tadiiiiiii … beklah, dari awal dulu lah.

Storyline film berkisar soal seorang pria, Tom Hansen (Josep Gordon-Levitt) yang naksir berat dengan cewek imut, Summer (Zooey Deschanel). Summer muncul pertama kali sebagai seorang pegawai baru di kantor yang sama dengan Tom.  Saking imutnya, Tom macam jatuh hati pada pandangan pertama kepada Summer.

Tom ini percaya soal cinta sejati, takdir, bla bla bla, yadda yadda yadda. Sementara kayaknya si Summer tidak terlalu serius soal-soal beginian. Dese kayaknya lebih serius mikirin penampilan dan potongan rambut segala macam hehehe.

Enggak sinkron dari awal, tapi ya gimana, namanya kadung sudah jatuh cinta. Hajar teroooosssss :D.

Singkat cerita, mereka akhirnya jadi dekat. Walau kelihatan ya, Summer was doing it just for fun. Sementara Tom udah kayak Pangeran ketemu Cinderalla dah *pukPukTom*. Jadinya ketebak, bubar deh hubungannya.

Pas putus, Tom kayak yang hilang arah begitu. Mendadak dangdut dan seterusnya. Lalu akhirnya tidak percaya lagi deh sama yang namanya cinta sejati dan segala nganu-nganu nya tadi. Sampai akhirnya resign segala. Summer sudah resign duluan.

Terus Tom kan tadinya pengin jadi arsitek tapi enggak lanjutin kuliah dan malah bekerja menjadi copy writer di perusahaan produsen kartu, tempatnya ketemu Summer tadi. Biar bisa move on, Tom pun menghidupkan kembali cita-cita lamanya ini. Kembali mengejar impian menjadi seorang arsitek. Good boy :D.

Mulai down lagi gara-gara merintis jalan menjadi arsitek ternyata enggak mudah. Belum tembus juga lowongan kerja di mana-mana. Jadilah suatu hari Tom duduk-duduk di kursi taman di sebuah spot favoritnya di kota tersebut.

Tebak ketemu siapaaaaaaa? Ya masa ketemu “ibu di jendela” (ini apa sih meme-meme film pengabdi setan rame amat hahaha). Ya pastinya ketemu Summer dong, dong, dong :p.

Ternyataaaa, Summer sudah berstatus “istri orang”. Tom penasaran gitu kok si Summer tahu-tahu merit sementara dulu kok kayaknya kelihatan santai dan gak ada tanda-tanda kepengin jadi bini orang.

Maksudnya Tom semacam, “Ah dulu sama gue kok putus gak pengin pacaran-pacaran segala macam. Lah kok sekarang lu merit sama orang lain seeeehhhh…” #harapBersabarTomIniCobaan #siniYukGabungSamaGengPatahHatiPilkadaHahaha

film 500 days of summer
Gambar : storypick.com

Summer bilang, “It just happened.”

Tom ngotot, “Right, but that’s what I don’t understand. What just happened?”

“I just … I just woke up one day and I knew.”

Tom ngejar terus, “Knew what?”

“What I was never sure of with you.”

Ouch! Itu mungkin perutnya si Tom kayak ditonjok berapa karung goni ituhhhh. Pahit bener huhuhu.

Ya itu mah simpel aja sih, ya. Namanya bukan jodoooooooh :D. Saya ingat istilah sahabat saya dulu, “Enggak KLIK.” Jadi urusan “KLIK” apa enggak ini memang gimana ya … ya mungkin seperti yang dibilang sama Neng Summer tadi, “It just happened.”

Nah, angka 500 itu menggambarkan hari-hari si Tom sejak kenal sampai akhirnya pelan-pelan move on dari Summer.

Di hari ke-500 itulah, Tom datang ke sebuah interview dan kenalan dengan perempuan yang juga ingin melamar kerjaan yang sama. Ketemu di ruang tunggu nih ceritanya. Pas kenalan, namanya adalah … jeng jeeeeenggg … Autumn! 😀

Flirting-flirting an sampai akhirnya Tom ngajak ngupi bareng. Autumn tadinya nolak tapi akhirnya mau. Awww, awww, awwww :p. Di sini deh jadi ramai komentar soal si Mbak Autumn ini. Ada yang bilang halah, paling entar sama Autumn juga si Tom kena depak.

Autumn in Philadelphia (2016) –> foto ini hubungannya ama cerita pilem apaan! Mau riya’ aja kauuuuu hahaha.

Ya iya juga, sama Autumn pun ya belum tentu happy ending. Mungkin bikin sekuelnya dah biar gak pada berantem hahahaha. Enggak “KLIK” di Autumn, ya lanjut aja terus sampai Winter atau Spring. Atau ulang lagi dari awal. Jangan menyerah, Bang Tom! 😀

Ya, makanya pesan filmnya sih mungkin BUKAN tentang tipe-tipe perempuan. BUKAN tentang si Tom yang mukanya nelangsa semacam minta di-patah hati-in mulu hihihihi.

Percintaan itu ya bagian perjalanan hidup saja lah. Muter-muter terus. Habis Summer ya ada Autumn dan seterusnya. Perpindahan musim juga tak terelakkan. Pastilah ada masa-masa gak bisa move on. Udah seneng sama Summer yang anget-anget hepi-hepi ealah harus siap-siap ngadepin udara dingin dan angin kencang ala Autumn.

It’s oke. In the end ya Autumn-nya datang jugaaaaaa :D. Eventually, kita pasti akan dan bisa menghadapi dan melewatinya (y). Cemungud eaaaaaa ^_^. Yang anak 3 mah dah beda omongannya hahahaha.

Ish, dulu-dulu pun ada dong kite punya masa-masa “Summer-Autumn” yang penuh drama dan air mata ini #eaaaaaa.

Yaela, udah kayak bahas apaan aje hahahaha. Dah ah, ya kira-kira begitulah kali yaoww maksud ending filmnya. Juga semacam kode-kode. Mengapa di film jadi pakai nama-nama Summer dan Autumn … bukan Mantili dan Lasmini #laaaaahhh hahaha :p.

Sejak ketemu Autumn di hari interview tadi, dimulai lagi deh itung-itungan harinya :D. Dari hari ke-500 “of Summer”, besoknya sudah ganti “musim”, mulai lagi cerita Day 1 “of Autum” ;). Kalian sudah nonton belom? Gimana? Punya kesimpulan lain kah? ^_^

Film 500 days of Summer review indonesia

Sate Padang

Cara Membuat Sate Padang Daging Sapi

Konon, bumbu sate padang tuh banyaaaaak dan ribet. Buat saya sih, enggak masalah bumbunya banyak asalkan ADA hihihi. Maklum yes, tinggal di rantau, enggak pengaruh sedikit banyaknya bumbu. Concernnya bukan ituuuuu.

Cara Membuat Sate Padang

Misalnya nih untuk membuat Ayam Woku kan bumbunya juga tidak aneh-aneh dan enggak banyak-banyak amat. Tapiiiiiiii mau beli daun kemangi di manaaaaaaaa hahaha. Akhirnya beberapa kali bikin Ayam Woku ya enggak pakai kemangi :D. Belakangan baru tahu kalau daun kemangi bisa diganti dengan daun basil ;).

Back to cara membuat sate padang.

Saya menggunakan daging sapi. Belum pernah nemu penjual lidah sapi di Ireland. Tapi di TExas ada lhoooo. Tapi harganya gak nahan hahaha. Biarin ah, pakai daging sapi ajah :D. Enak juga.

Pas nyari-nyari resepnya, saya perhatikan cara pembuatannya ternyata enggak seheboh yang dibayangkan. Cuma cemplung-cemplung saja. Jadi semangat pengin nyoba.

Tapi resep klasik seperti Sate Padang ini memang butuh waktu lebih untuk bertapa nyari resep yang benar hehehe. Sekarang banyak situs-situs resep boongan euy :(. Pemilik situs-situs model begini suka kreatif gak jelas. Emang niatnya copas doang. Biar beda mereka suka iseng ngilangin 1-2 bumbu. Piye tooooohhh -_-.

Untung deh ketemu banyak situs-situs resep orisinil macam punya Mbak Hesti, Mbak Ita, Mbak Nina, dll. Ini tiga-tiganya alumni NCC deh :D. Salim dulu buat semua masterchef yang disebutin hehehe.

Akhirnya coba-coba campur bumbu dan ketemu deh racikan yang pas. Setidaknya sudah oke menurut lidah suami yang memang asli urang awak :D.

Ternyata Sate Padang tidak seragam juga bumbunya dari tanah asalnya. Kata suami saya, ada yang kuahnya kuning pucat ada yang rada oranye. Iya sih, kalau beli di Ajo Ramon kuahnya lebih pekat. Padahal kalau jajan di pinggir jalan, ada juga yang kuahnya lebih bening.

Katanya sih kalau yang dari Bukittinggi kuahnya yang kuning pucat itu. Kalau dari Pariaman kuahnya oranye pekat. Ooo pantes, sih. Sebutan Ajo itu memang umum dikenal di daerah Pariaman. Ajo = Abang = Uda :D. CMIIW, ya.

Saya agak ragu nih dengan info suami hahaha. Maklum dese walau darah Bukittinggi 100% dari kedua orang tua, tapi lahir dan besar di Pulau Jawa. Takut enggak akurat infonya :p.

Anyway, belom sempat bikinin video live ala Dapur Davincka :D. Padahal udah pernah bikin beberapa kali. Biar deh, resepnya dulu aja yaaaaaa ^_^

Cara Membuat Sate Padang

Bahan  :
  • 1 kg daging sapi, cuci bersih, potong-potong sesuai ukuran yang diinginkan.
  • Air untuk merebus
  • 8 lembar daun jeruk
  • 3 batang sereh, keprek
  • 2-3 lembar daun kunyit (saya beberapa kali skip nih, enggak ada soalnya di sini, mungkin ada tapi belum nemu hehe)
  • 3 cm lengkuas, digeprek
  • 2 potong asam kandis (saya ganti dengan 1 sdt asam jawa)
  • Minyak goreng untuk menumis
  • Taburan bawang goreng
Untuk mengentalkan kuah :
  • 2 sdm tepung beras
  • 2 sdm tepung sagu/tapioka

Bumbu Halus :

  • 5 buah cabe merah besar (atau pakai cabe merah keriting juga bisa, banyaknya disesuaikan saja ya)
  • 8 butir kemiri sangrai
  • 20 buah bawang merah
  • 12 siung bawang putih
  • 4 ruas jari jahe
  • 1 sdt kunyit bubuk
  • 1.5 sdt ketumbar bubuk
  • 2 sdm bumbu kari instan
  • Garam + gula secukupnya

Cara Membuat :

  • Tumis bumbu halus sampai wangi.
  • Masukkan kunyit (atau daun kunyit), daun jeruk, sereh dan lengkuas. Aduk rata.
  • Panaskan air dalam panci (kira-kira satu liter atau lebih) beserta daging sapi yang sudah dipotong-potong.
  • Tidak perlu tunggu mendidih, masukkan tumisan bumbu + rempah tadi ke dalam panci berisi daging sapi. Masukkan pula asam kandis (atau asam jawa) dan bumbu kari instan ke dalam panci.
  • Rebus hingga daging matang dan bumbu meresap. Jangan sampai kuahnya habis. Karena kuah daging ini yang nanti bakal jadi kuah satenya.
  • Kalau daging sudah matang, angkat dan sisihkan. Tusukkan ke tusuk sate.
  • Kuah sisa rebusan daging dididihkan lagi.
  • Tepung beras dan tepung tapioka dicampur dalam mangkok kecil dan diencerkan degan sedikit air putih. Aduk sampai benar-benar larut.
  • Masukkan campuran tepung ke dalam panci kuah sisa rebusan daging tadi.
  • Aduk sampai rata dan mengental.
  • Masukkan bawang goreng. Aduk lagi. Kalau terlalu kental tambahkan air panas. Jangan lupa koreksi rasa. Setelah dirasa cukup, kuah siap dihidangkan ^_^.
  • Daging sapinya dioles-oles dengan minyak sayur lalu panggang dalam oven atau pemanggang sate (kalau ada). Panggang secukupnya saja ya. Toh daging sebenarnya sudah matang.
  • Sajikan sate padang dengan siraman kuah saosnya plus dinikmati dengan lontong dan tentunya taburan bawang goreng.

 

Jangan gentar dengan banyaknya bumbu yang digunakan. Cara membuatnya enggak susah kaaaaan ^_^. Yang jelas ini favorit suami dan anak-anak banget. Suami saya itu tidak segan-segan mengkritik masakan saya kalau kurang enak kok hahahaha. Tapi yang sate padang ini, dia lumayan suka hasilnya.

Saya sendiri bukan penggemar sate padang awalnya. Waktu masih tinggal di Makassar terus liburan ke Jakarta ke tempat sepupu. Ditawarin sate padang, saya kaget. Soalnya definisi sate yang saya tahu ya sate ayam khas Madura yang pakai kuah kacang manis kental gitu hihihi.

Hampir muntah pas makan sate padang cobak waktu itu hahaha. Keterusan enggak sukanya. Anti banget sama sate padang.

Sampai akhirnya hamil anak pertama dan ngidamnya apa cobaaaaaa …. ya Sate Padang! Hahaha. Suami saya seneng banget. Dia fans garis keras sate padang. Jadi deh, kalau weekend kita kencannya di Sate Padang pinggir jalan :p.

Nah ini anak sulung saya memang suka banget masakan-masakan tradsional Indonesia. Makin pedas makin doyan dia. Makin banyak bumbu dia makin semangat makannya. Titisan bapaknya hehehe. Uniknya anak ke-2 saya enggak suka yang pedas-pedas tapi kalau sate padang, dia mau lho! ;).

Son(Shine)

“The moment the child is born, the mother is also born.”

Untuk anak pertama memang rasanya super banget, ya. Pantas saja dulu saya lihat-lihat di foto album jadul, foto kakak sulung saya banyak bangeeeeeeetttt .

 

Yang tengkurap lah, yang lagi nangis lah, yang lagi berdiri dengan berbagai pose, naik odong-odong, sedang dipangku, nyender sana nyender sini. Enggak ada yang sebanyak dia fotonya.

Berhubung saya anak perempuan pertama, secara kuantitas foto-foto saya bolehlah mendapat peringkat ke-2 hihihi. Lima kali sebelumnya Mama melahirkan, keluarnya daeng-daeng semua. Eeeeh, lanjut ke saya jadinya .

Tiga anak saya, buyuang kabeh!

Entah sadar entah tidak di anak pertama memang para mamah ALL OUT bangeeeeet . Contoh terkini ya emaknya si Baby Kawa. Sejak Baby Kawa lahir, semua milestone Baby Kawa yang diposting oleh si mamah sering bikin uring-uringan jagad Instagram!

Padahal sih kasus-kasusnya ya muter-muter di situ saja. Betapa bangganya si Mama ngasih ASI ekslusif. Terus tetap yoga jadi langsung langsing dan show ke mana-mana lagi. Makin bikin mamak-mamak lain murka dah hahaha.

Cara gendongnya yang menurut orang lebay. Terus caption-captionnya yang dianggap sok-sok an. Terus lanjut ke pertarungan antara Baby Led Weaning vs cara makan pake disuapin dan dijatahin. Dan seterusnya dan seterusnya.

Selain euforia anak pertama, sebagai salah satu selebgram, si mamah kan cuma nyari duit aja. Terbukti gencarnya postingan ala-ala endorsement di produk-produk bayi ini itu .

Jadi yaaaaa, take it easy ya, Moms .

Anak pertama, pengalaman pertama . Serba heboh. Baru lahir saja fotonya sudah bikin memori hape FULL hahaha. Buka mata dikit, foto lagiiiiii. Ganti diaper pertama, direkam kalau perlu! .

Lalu menginjak sebulan pertama. Dua bulan, tiga bulan, makan pertama, merangkak pertama, pokoknya serba yang pertama. Bukan hanya buat si anak. Tapi juga buat mamahnya .

Enggak heran, kalau kita lebih grogi. Belum ada bayangan juga. Jadi gampang galau. Dikomenin dikit baper. Naluri berkompetisi juga lagi tinggi-tingginya jadi yah semacam, “Pokoknya anak gue paling keren. APA LO SEMUA!” ???

Mungkin kita semua memang harus melewati fase-fase yang membuat kita terlihat sangat menjengkelkan ini . Wajar ya .

Terus datang anak kedua. Pelan-pelan ketegangan kita mengendor. Karena sering terpikir, “Ah dulu kakaknya juga gitu. Sudahlah, nanti dia juga bisa sendiri.”

Apalagi anak ketiga, yes? Tahu-tahu sudah nyengir sendiri, tiba-tiba sudah jalan dan berlari (padahal kapan ngajarinnya ya? hahaha).

Mungkin di anak ketiga inilah, kebanyakan dari kita sudah mulai menyadari, “There’s no way to be a perfect mother, but a million ways to be a good one” .

Tuuuuh, yang anaknya baru 2, jangan mau kalah sama Princess Kate dan Princess Jihan #eh ???

Walau kelihatannya sudah tidak se”beringas” yang sebelum-sebelumnya, tapi sayangnya mah tetap mengalir penuh 100% buat semua anak-anak dong ya . Sama derasnya sama banyaknya .

ucapan ulang tahun anak
#boy3

 

Anak pertama, anak kedua, maupun anak ketiga, kalau lagi bobok iiiiiihhh minta diciyum banget deh mukanya .

Dear #boy3, mungkin Mama sudah tidak semangat bikin foto-foto kehamilan seruwet abang-abangmu dulu #eaaaa. Foto-fotonya juga minim. Folder hape Mama sekarang isinya video resep semua hahahaha.

Tuuuh, ngucapin ultah “resmi”nya aja bisa telat seminggu hahahaha.

But just like the other two, you’ll always be the one who stole my heart since the day I screamed and bursted into tears at the same time, seeing those 2 lines on the testpack . Cengeng kalilah mamakmu ini, Nak .

And saving more tears for the day you graduate, the moment you leave the house or the by the time you’re sitting in front of me and saying, “You know Mom. I met this girl. And I thought that I…” Oh nooo, bayanginnya saja sudah mewek .

Alhamdulillah ya, next time kita dikasih kesempatan naik pesawat lagi, kamu sudah punya tempat duduk sendiri #asyikBisaNgorokDenganTenang .

Happy belated birthday, Sayang . Doa-doa terbaik untukmu selalu *ciyum*.

ucapan ulang tahun anak

Keep Calm and Continue Writing :)

Buku pertama saya dulu terbit secara indie. Sumpah mampus enggak lagi-lagi dah terbit indie hahaha.

Saat saya bersorak terharu ketika akhirnya bukunya terbit juga (jangan ditanya dramanya hahaha), sesungguhnya perjuangan sebenarnya telah menanti … MENJUAL BUKUNYA!

 

Menawarkan bukunya sendiri lumayan menyita waktu. Semua grup dan semua forum, waktu itu juga masih era milis-milis, digempur semua. Besoknya dicek lagi satu-satu. Mana tahu ada yang nyangkut.

Sampai pegel leher menulis dan mengedit data di Excel. Anak kedua saya umurnya baru setahun lebih. Lah terus kapan nulisnya? *nangis*.

Tantangan terberat itu sebenarnya di masalah ongkir, ya. Pernah ada teman di Kalimantan pengiiiiin banget baca bukunya. Saya jujur saja, ongkirnya terlalu mahal. Tapi dia pengin banget. Yo wis, saya gratiskan ongkirnya.

Ya abis kasihan, ya. Toh dia udah baik banget mau beli bukunya.

Royalti saat terbit indie memang sangat menggoda. Bisa lebih dari 50%. Tapi mencret mikirin ongkir dan siang malam berjuang nyari pembeli *pasangKoyo*.

Bentang alam negara kita memang sangat menantang untuk urusan distribusi barang . Ituuuu yang nyinyir soal infrastruktur transportasi, mana suaranyaaaaaa .

Bodohnya saya tidak terpikir hal ini dari awal. Dasar sanguinis parah hahaha. Padahal saya pernah bekerja sebagai Business Analyst di salah satu consumer goods nan hits di tanah air. Saya pegang area Supply Chain-Distribusi.

Sudah pengalaman dengan curhat-curhatan divisi Transportasi, rekan-rekan di warehouse dan betapa serunya eyel-eyelan tim sales vs tim distribusi kalau sudah berantem soal pengiriman barang ke luar Pulau Jawa .

Masih ingat dulu saya kesal kalau beli majalah, kok ya sampai ada label harga P. Jawa dan harga non P.Jawa. Rasis amat yak hihihihi .

Maklum Sis, dulu beli majalah juga nabungnya bisa lamaaaaa. Dulu-dulu kan kita pernah muda juga, dimana mimpi-mimpi kita tidak jauh-jauh dari poto model atau bintang pilem, yes? Hahaha. Makanya kudu bener tuh beli-beli majalah sambil mengkhayal punya duit banyak dari hasil pemotretan.

Eh sekarang punya suami doyan motret pun, yang dipotret malah anak-anak mulu. Ya nasib ya nasib #bantingPensilAlis.

Buku kedua saya akhirnya terbit via Penerbit Mayor. Main kirim saja. Alhamdulillah berjodoh. Enggak pakai lama langsung approve.

Mungkin karena sudah merasakan “nikmat”nya terbit Indie, saya sama sekali enggak mikirin royalti lagi. Naskah diterima saja rasanya sudah terbang.

Seharusnya, sebagai penulis, fungsi marketing tetap harus dilakukan, yaaaaa. Saya akui, saya sangat lalai dalam hal ini hihihi *ciyumTanganEditor*.

Barusan membaca artikel Tirto tentang kecenderungan penerbit yang sekarang bekerja sama dengan penulis-penulis yang punya penggemar/follower di media-media sosial. Ya gimana ya, wajar-wajar saja rasanya.

Logikanya, kalau dese banyak fans, harapannya nanti banyak yang beli bukunya. Buku, sebagus apa pun isinya, kalau tidak ada yang beli ya matilah kita semua hahaha.

Penerbit itu kan juga perusahaan yang tujuan utamanya adalah laba/keuntungan. Penerbit kan juga terdiri dari banyak divisi dan karyawan.

Lah terus kalau penulis berkualitas gak suka medsos-an, piyeeee?

Waduh iya ya, saya juga bingung jawabnya hahahaha.

Gambar : techgirl.co.za (kukunya cantik banget, so pasti bukan kuku gue! Hahaha)

 

Karena jujur saja, sebelum ada medsos pun kecenderungan orang untuk BELI BUKU ya tidak dahsyat-dahsyat amat. Nih ya, saya punya pengalaman juga jualan tas brand tertentu dari luar negeri pas lagi mudik.

Ampun ya Bu Sri *ciyumTanganLagi*. Ini dulu lho Buuuuuuu, mohon jangan ditagih pajaknya , sekarang saya sudah kapok.

Saya sudah siapin mental nih, kalau harus angkat bambu runcing lagi mengingat pengalaman jualan buku hahaha. Tapi berhubung kalau jualan tas keuntungannya menggiurkan, ya kenapa tidak dicoba?

Aih gilak, belum juga seminggu bergerilya iseng nawarin ke orang-orang terdekat saja sudah harus setop PO saking banyaknya yang tertarik . Sampai harus cancel beberapa PO lebih karena kopernya tidak muat lagi hahahaha.

Jangan nyinyir yaaaaa. Terimalah kenyataan itu apa adanya . Orang-orang emang lebih suka beli barang-barang lain selain buku. Buku belum menjadi kebutuhan utama.

Apalagi sekaraaaaaang. Sudah banyak wadah lain untuk membaca apalagi e-book gratisan kualitas oke sudah bisa didownload SECARA LEGAL di banyak tempat .

As for me, menulis memang bukan penghasilan utama. Hasilnya tidak seberapa sementara waktu lumayan terkuras. Anak udah 3 nih sekarang *benerinOtot*. Merantau di luar tanpa tangan ketiga.

Gambar : va-mom.com

Suami cari-cari cara biar kegiatan menulis ini tetap ada hasilnya secara materi meskipun cuma receh. Karena biar berkelanjutan harus ada timbal baliknya kan, ya. Jaminan sustainability terbaik ya kayaknya mah duit yak hahahaha.

Dulu rajin kirim-kirim ke majalah. Kalau dihitung lumayan itu karena saya fokus ke tulisan traveling.

Tulisan traveling honornya bisa sampai jutaan kalau di majalah-majalah bagus asalkan foto-fotonya keren. Saya menulis, suami motret. Ealah, sekarang media cetak sedang mengalami kemunduran .

Total tulisan yang pernah dimuat di media cetak itu ada puluhan tulisan. Sesekali bikin fiksi. Tapi sekarang bikin fiksi saya sukar berkonsentrasi. Karena dari pagi sampai malam diburu-buru sama wajan, diaper, cucian kering, lantai kotor, peer anak-anak, dan seterusnya dan seterusnya.

Saya sudah tidak terpikir menerbitkan buku lagi. Karena rasanya tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan .

Terus kita juga coba adsense di blog. Saya terus-terusan belajar SEO. Cobain vlog juga akhir-akhir ini. Karena suami saya senang banget traveling. Dia ngumpulin video segitu banyak tapi gak punya waktu buat mengedit. Sayang kan?

Tapi saya tetap rutin menulis di blog .

Memang zamannya sudah berubah banget, ya. Jangan putus asa buat teman-teman penulis. Sekarang situs-situs banyak yang butuh content writer dengan honor yang tidak kecil.

Beberapa situs besar juga menerima tulisan dari penulis lepas dengan upah yang lumayan banget. Malah ada situs yang menerima naskah novel, lho. Cobak itu digoogling .

Jadi ghost writer juga bisa. Penulis cerita hantu gitu? Hahaha. Googling sana! .

Menulis-menulis di akun medsos masing-masing juga oke sajalah, why not? . Cuma memang agak challenging kalau mau dikonversi ke rupiah, ya, hehehe.

Yah intinya saya juga tidak tahu sih harus menghibur apaan hahahaha. Basi juga kalau mau bilang yang penting amalnya, yang penting pesannya nyampe bla bla bla. Karena namanya manusia biasa ya, masa iya bisa terus-terusan berpikir bak malaikat model begitu? .

Apalagi kalau yang menjadikan profesi ini sebagai sumber penghasilan utama. Memang pintar-pintarnya kita menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Apa pun kegelisahan itu, jadi ingat quote kakak sulung saya di buku skripsinya, “Janganlah kamu berputus asa. Kalau pun berputus asa, berusahalah dalam keputusasaan itu.”

.