Konflik Turki dan Suku Kurdi

When We Build Too Many “Walls”

Suku Kurdi, mungkin merupakan etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki “negara sendiri”. Mereka tersebar di berbagai wilayah Timur Tengah/Asia Barat dan Eropa Timur. Mayoritas berada di Turki, Iran, Irak dan Suriah.

berita timur tengah terkini Konflik Turki dan suku Kurdi
Kurdistan-women (gambar : cabinet.gov.krd)

 

Etnis Kurdi beda lagi dengan Arab, Persia dan Turki. Di Teheran dulu saya norak, saya sangka banyak orang bule tinggal di Iran hahaha. Ternyata penampakan orang Persia beda dengan orang Arab. Bahasanya pun beda walau sama-sama menggunakan huruf Hijaiyah.

For info, Iran menggunakan bahasa Farsi sebagai bahasa nasional mereka.

Orang Turki juga beda dengan orang Arab. Dan beda lagi dengan orang Persia. Ternyata, etnis Kurdi pun ya dianggap beda.

Belum lagi etnis-etnis campuran Arab-Eropa Timur. Di Afghanistan dan sekitar banyak etnis-etnis minoritas non Arab yang sedihnya, walau agama sama, tapi ya diskriminasi fisiknya tetap ada :(.

Di masa kekuasaan Turki-Ottaman, para etnis ini tergabung dalam kekhalifahan yang sama. Hingga akhirnya di awal abad ke-20, pasca Perang Dunia 1, banyak wilayah memerdekakan diri.

Berita timur tengah terkini Konflik Turki dan Suku Kurdi
Gambar : worldology.com

 

Etnis-etnis besar seperti Arab-Persia-Turki kebagian negara masing-masing. Bangsa Arab malah terpecah jadi beberapa negara. Persia bersatu di Iran. Nah, suku Kurdi ini yang tidak kebagian otoritas wilayah sendiri berupa negara khusus.

Di berbagai negara tinggal mereka, kaum nasionalis Kurdi terus berusaha memerdekakan diri. Termasuk di Turki :(. Dua bom yang meledak berturut-turut di tahun 2016 di ibukota Ankara adalah 2 bukti memuncaknya ketegangan antara otoritas Turki dan pemberontak Kurdi di sana.

Di Irak sendiri mereka sudah lebih “lunak”. Di masa pemerintahan Presiden Saddam Husein, orang-orang Kurdi mengalami tekanan terberat dan diisolasi habis-habisan.

Kini, orang-orang Kurdi di Irak hidup “damai” di sebuah wilayah otonomi khusus, Kurdistan. Kurdistan sendiri masih bagian dari negara Irak.

Salah satu teman, Istiadzah Rohyati, tinggalnya di Kurdistan-Irak ini. Jadi tahu bahwa orang Kurdi di sana punya bahasa sendiri, bendera sendiri dan sebagainya.

Dari Iran rasanya juga belum banyak berita soal ketegangan Kurdi dan pemerintah resmi. Tapi pergerakan separatis Kurdi di sana juga mungkin ada. Di Suriah pun mungkin begitu. CMIIW.

Saya terus terang bingung, mengapa orang Kurdi ini ngotot banget memisahkan diri? Apa karena rasa nasionalisme apa karena tekanan diskriminasi yang mereka terima? Mereka sadar jumlahnya banyak? Pasti signifikan kalau melawan?

Karena etnis minoritas di tempat lain rata-rata memilih hengkang mencari kehidupan yang lebih baik. Misalnya etnis Hazara di Afghanistan yang merantau pergi ke negara-negara lain, meninggalkan tanah kelahiran mencari masa depan lebih baik. Walau mayoritas harus melakoni “pekerjaan kasar” di negara lain. Jumlahnya sangat sedikit soalnya.

Sedih, ya :(.

Kalau kita berpikir Rohingya terusir dari Burma karena perbedaan agama, lantas apa yang terjadi dengan Kurdi dan Hazara? Mereka juga mayoritas muslim, kok :'(. Mengapa mereka berpikir mereka berbeda dan mengapa dibeda-bedakan?

Konflik Turki dan Suku Kurdi berita timur tengah terkini
Gambar : juancole.com

 

Dari sisi otoritas resmi, misalnya pemerintahan Turki, tak bisa kita salahkan begitu saja. Toh, sebenarnya isu gerakan separatisme ini bisa ada di mana-mana. Termasuk di Indonesia. Ramai-ramai menyoal soal Densus 88 kan ya sama-sama mencegah upaya terorisme dalam rangka usaha memisahkan diri atau mengacau keamanan dalam negeri.

Sama! Di Turki pun begitu.

Konflik bersenjata antara Pemerintah Turki dan beberapa kelompok separatis Suku Kurdi di Turki sudah berlangsung sejak tahun 70-an hingga kini.

Tuntutannya beragam. Ada yang garis keras minta berdiri sebagai negara sendiri, ada yang ingin otonomi khusus atau sekadar mendapat porsi yang “layak” di pemerintahan. Pening, ya. Kelompok-kelompok perwakilan Kurdi-nya saja enggak kompak.

Jadi ingat kelompok Taliban di Afghanistan dan sudah menyebar ke Pakistan. Grup-grupnya juga banyak dan kadang berantem sesama mereka sendiri. Cita-citanya sama, mau mendirikan negara Islam. Tapi “Islam” versi mereka masing-masing? :(.

Kelompok pemberontak terbesar di Turki adalah Partai Pekerja Kurdistan. Mereka sudah dilabeli “kelompok teroris” oleh Turki dan negara-negara “satu gengnya”. Siapa saja? Ya termasuk US, Nato, dan Uni Eropa. Turki memang anggota NATO.

Saya juga kalau jadi pemimpin suatu negeri ya pasti seperti buah simalakama, ya. Dibiarin ya mereka mengacau. Diladenin ya mereka bisa ambil kesempatan. Dikerasin? Mereka ngebom membabi buta! *pijetKening*.

 

Masalahnya, banyak pihak lain mengambil kesempatan untuk kepentingan mereka sendiri. Pemasok senjata misalnya. Atau mereka yang punya “niat tertentu”. Tidak segan menjual senjata bahkan mendanai kelompok separatis ini.

Paling sulit memang berada di posisi pemerintahan Turki atau pemerintahan resmi negara mana pun yang berkonfrontasi langsung dengan kelompok pemberontak.

Bom Istanbul belum jelas siapa yang bertanggung jawab. Ini juga merupakan bom ke-2 di Istanbul. Kalau tidak salah, bom pertama yang mengaku itu “afiliasi ISIS”. CMIIW, ya. Kalau yang Ankara, dua-duanya sudah diklaim oleh “geng Kurdi” di sana.

Ada enlightment dari suami soal gerakan separatisme ini.

Istanbul Asian Side. The Moda, pic by Dani Rosyadi
Moda, Istanbul Asian Side, foto : Dani Rosyadi

 

Sebenarnya, beberapa negara maju yang modelnya multi state seperti UK pun tak luput dari tuntutan pemisahan diri.

Masih ingat referendum Skotlandia tahun 2014?

Cuma di negara-negara maju, “peradaban” sosial budaya mereka jauh lebih maju daripada kita di negara-negara berkembang. Enggak harus selalu lempar bom kalau lagi ngambek. Irlandia Utara tapi beda lagi kasusnya.

Hasil referendum Skotlandia? Mayoritas warga masih memilih berada di bawah naungan UK. For info, Scottish ini punya bahasa sendiri juga dulu. Scottish English juga punya aksen khas.

Lalu, mengapa mereka akhirnya banyak yang masih manut ke UK? Ya karena perutnya kenyaaaaaaang ^_^. Secara sosial-ekonomi ya mereka sebenarnya baik-baik saja. Rewel-rewel dikitlah paling. Diskriminasi nyaris tidak ada.

Intinya ya itu-itu juga … betapa keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi dan pemerataan pembangunan memang efeknya tidak kecil (y).

Teringat kembali penggalan dari Buya Syafii Ma’arif, “Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa …”

Suami saya benar. Ini sih ujung-ujungnya urusan perut, kok :(.

Mayoritas beragama sama pun tidak membuat berbagai etnis ini bisa hidup damai berdampingan.

Perbedaan itu sunnatullah. Jangankan beda keyakinan walau sama-sama mengaku mengacu ke kitab suci yang sama, tafsir ya bisa beda-beda. Perbedaan fisik lebih susah lagi kita “lawan”. Itu datangnya dari siapa coba? Siapa sih yang pernah meminta kita ini ingin dilahirkan dari etnis mana?

Sudah tahu memang akan berbeda, mengapa sulit bekerja sama di bidang lain yang kita pasti sepakat? :(. Kurang banyak orang miskin di dunia yang perlu dikasih makan? :(. Kurang banyak anak yatim nan terlantar yang bisa kita diskusikan penanganannya? :(.

Perbedaan sesungguhnya memperkaya. Senang kan kalau punya banyak teman dari banyak budaya. Apa enggak kepo pengin tahu makna dibalik kepercayaan-kepercayaan lokal mereka?

Misalnya saya selalu tertarik dengan gerakan-gerakan Yoga yang katanya berasal dari penganut Budha. Ada banyak filosofi hidup yang tercermin dalam ritual Yoga ini. Try to learn and you’ll be surprised :).

Tapi sepertinya kita lebih sering suka membatasi diri kita sendiri. Membangun tembok-tembok pembatas untuk mempertegas betapa berbedanya kita dengan “mereka di luar sana”.

“We build too many walls and not enough bridges.” -Isaac Newton-

Robohkan dindingnya. Bangunlah penghubung dan seberangi ketakutan-ketakutan dan ego kita sendiri. Again… you’ll be surprised ;).

Di Indonesia, jangan ikut-ikutan “korslet” seperti “mereka” di luar sana :(. Konflik bersenjata untuk urusan apa pun tidak akan membawa kita ke mana-mana.

Syukuri kesanggupan kita hidup bersama dalam perbedaan selama puluhan tahun. More years, even centuries, to come. Aamiin.

Faktanya, tidak banyak tempat di dunia ini yang bisa “senyaman” Sang Zamrud Khatulistiwa ini <3.

‪#‎janganLupakanPapuaDanAceh‬

 

Privilege

Barusan lihat iklan video ala India seliweran di timeline FB :D. Indian, in many ways, shared (almost) the same culture to us, Indonesian. Ini pendapat pribadi ya hehehe. Linknya ada di bawah tulisan ini ya ;). Kita ngobrol dululah sikit baru nonton videonya hehehe.

Tidak hanya India sih. Bangladesh, Pakistan, dan sekitarnya juga mirip-miriplah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Satu hal yang saya perhatikan, some of them had changed as probably they’ve been living in here (Ireland, “western” society) for too long :p. But some stayed the same ;).

Apalagi soal segregasi antara perempuan dan laki-laki. Miripnya pakai bangeeeeetttt :D. Budaya apa ini? Budaya timur apa budaya Asia ya tepatnya.

Satu yang sering bikin saya bingung, kalau iseng nyari di youtube masih banyaaaaaaaaaaak aja gitu “perempuan bule” yang meresahkan soal kesetaraan gender. I thought they were talking about us, the “non western ladies” yang katanya hidupnya memprihatinkan ini hahahaha  :p. But they’re not. They’re speaking for general, including themselves.

Kemarin lihat video bagus juga soal isu ini, yang bawain “ceramahnya” tapi laki-laki. No wonder, videonya yang ngelike vs dislike hampir berimbang hahaha :p.

Tapi pesannya bagus kok. Si penceramah (yang LAKI-LAKI itu) membandingkan 2 hal :

1. Antara perempuan kulit putih vs perempuan kulit hitam. Ternyata, menurut si penceramah itu, dalam keseharian perempuan kulit hitam masih lebih risau soal RASISME, “Every morning I look in the mirror I see a…black person. Black. I’m black.”

Sementara perempuan kulit putih menjawab ringan, “Everyday I look in the mirror and all I see is a woman.”

2. Antara laki-laki kulit putih vs perempuan kulit putih. Laki-laki kulit putih, “Every mirror-time, I see … a human.”

Lihat bedanya?

PRIVILEGE. Kita tidak sadar bahwa kita dianugerahi hak-hak khusus/keistimewaan tertentu yang membuat kita merasa, “Ah, enggak ada apa-apa kok. Apa sih masalah lo? Semuanya oke-oke aja tuh.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Privilege is invisible for those who have it ;).

And yes, according to this gender issue, “western world” punya banyaaaaaak sekali privilege yang belum/masih sedang diperjuangkan di belahan dunia yang lain. MIsalnya kita di Asia ini :D.

Makanya dulu saya menulis “Battle Hymn of The Asian Parents” terkait soal sistem pendudukan antara Asia vs Eropa Barat misalnya. Karena tidak sedikit ibu-ibu Indonesia teman saya yang dikit-dikit Finlandia, dikit-dikit Finlandia :p.

Semua interaksi sosial dan infrastruktur itu saling melengkapi dan memengaruhi dong, ya. Dengan tingkat kesejahteraan yang sudah sangat mapan (dibandingkan banyak negara berkembang) di Asia, Eropa Barat ya pasti lebih enak dalam banyak hal.

Orang-orang kenyang, akses pendidikan merata, masa depan ya 90% cerahlah buat hampir semua kalangan. Penduduk minim dan negaranya dikelilingi oleh negara-negara tetangga-tetangga yang tidak kalah mapannya.

Perlu saya terangkan kondisi mayoritas di Asia? :p.

Jangan heran orang bule mah anaknya enggak ngerjain peer santai saja. Kita? Mamak-mamak Asia? Anak enggak ngerjain peer, merepetlah itu kalimat-kalimat penuh ancaman, “Mau jadi apaaaaaa kalau besar nanti.” Hahaha :p.

Jangan ngakak duluuuuuu. Itu bukan kekhawatiran lebay. Karena iya toh? Mau jadi apa mereka kalau besar nanti?

Makanya, kita perlu memandang isu-isu budaya dengan lebih terbuka dan ….jujur :).

Tentu dong sebagai perempuan yang lahir dan besar di Asia, saya akui, saya sedikit kaget mendapati teman-teman anak saya diantar jemput ke sekolah oleh ayah/bapaknya. Habis sekolah, saya ke supermarket buat belanja, eh ketemu lagi si Ayah/Bapak yang sama. Dia juga lagi belanja. Nanti pulang sekolah ya dia lagi. Begitu seterusnya tiap hari dan ini sudah jalan 3 tahun hehehehe. Tidak satu dua orang lho ;).

Who should do the laundry ???, gambar : pixabay.com
Who should do the laundry ???, gambar : pixabay.com

Tidak bisa serta merta kita bersorak, “Ih, keren kali bapak-bapak bule iniiiiii…” It will take me more and more words to explain why this is not that important to be discussed NOW. NOT until Asia (the worldwide Asia) has done with their basic issue(s) : food, education, sanitation, health care, justice, … do I need to mention them all? :p.

Makanya, perjuangkan dulu lah minimal keseteraan pendidikan dan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat, barulah kita bisa lebih tenang dan terbuka membahas soal peran perempuan dan laki-laki dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Ini belum bahas soal dogma dan doktrin agama lho :p.

Btw, saya suka video iklan Ariel ini. Suka banget ^_^. Good job, Ariel <3.

Videonya sila di lihat di sini :

Anyway, happy belated International Women Day, my Ladies :D. Masak apa kita hari iniiiiiiiiiiiii :D.

Selamat hari Nyepi jugak dan selamat melihat gerhana matahari sekalian hehehe.

Perempuan Indonesia di Arab Saudi … Jangan Sensi! ;)

Kisah tentang perempuan Indonesia di Arab Saudi ini berdasarkan pengalaman pribadi tentu saja 😉. Macam kisah antara Arab Indonesia :D.

Indonesia di mata Saudi (mungkin juga di kebanyakan negara Timur Tengah yang membuka pintu gerbangnya buat TKI informal) = negara pembantu! Hehehe. Suka enggak suka ya kenyataannya begitu terus gimana dong? ;).

 

Sebenarnya sektor informal yang tersedia di Arab Saudi bukan cuma ranah domestik rumah tangga seperti pembantu rumah tangga dan supir pribadi (yang sedihnya memang didominasi oleh bangsa kita 🙁 huhu). Tapi ada juga penjaga/pelayan toko, pelayan restoran cepat saji, cleaning service di perkantoran, cleaning service di rumah sakit, supir ambulans, supir buat delivery services… hmm, apalagi ya? Pokonya banyak lah.

Gambar : berita.plasa.msn.com
Gambar : berita.plasa.msn.com

Tapi kenapa cuma PRT dan supir pribadi yang banyak menyedot TKI informal asal Indonesia?

Alasan utama mungkin … kendala bahasa. Biarpun termasuk sektor informal, pekerjaan lain yang saya sebutkan belakangan rata-rata butuh kemampuan berbahasa Inggris, bukan cuma bahasa Arab. Apalagi di Jeddah yang rasa-rasanya memang lebih banyak warga pendatang dibanding penduduk asli Saudi.

Dalam hal berbahasa ini, TKI informal asal Filipina, India, Pakistan (=FIP) memang beberapa tingkat di atas kita. TKI informal asal Indonesia kebanyakan memang oke dalam hal berbahasa arab, tapi bahasa inggris? :(.

Alasan kedua (yang mungkin merupakan imbas dari alasan pertama tadi) adalah kemampuan berkomunikasi dengan sekitar yang berpengaruh pada networking juga, lho. Kelihatan bener deh pedenya orang-orang FIP jauuuuuh d iatas TKI kita. Ini masalah mental atau apa ya? Atau mungkin juga mereka memang ‘persiapan’ nya lebih matang. Konon, PJTKI (Indonesia) suka ‘main belakang’ dan kurang disiplin dalam pembinaan bagi para calon TKI yang dikirim? Enggak terlalu berani banyak omong, enggak punya bukti  langsung soalnya 😀.

Dari tadi kok Malaysia enggak disebut? Ho ho ho, jangan salah! Warga Malaysia itu lebih disegani di Saudi. AFAIK, bukan cuma di Saudi sih, secara umum di Timur Tengah, orang Malaysia termasuk figur “Asia” yang disegani.

Iyalah, di Saudi, Malaysia tidak mengirimkan tenaga kerja sektor informal. Minimal level teknisi, dan tidak ada sama sekali TKW asal Malaysia di sini! Begitulah faktanya, memang pamor orang Malaysia secara internasional lebih oke ;).

Ada enggak sih TKI kita yang bekerja di sektor formal?

Ya ada dong aaaah :D. Ini contohnya suami tercinta si penulis postingan ini hehehe. Suami saya adalah seorang telco engineer semasa di Jeddah. Tapi dibandingkan dengan jumlah TKI informal ya jauh perbandingannya. Persentase pekerja formal asal Indonesia sangat kecil dan kurang ‘kedengeran’.

Jadi, ‘jangan sensi’ ini  juga berlaku untuk anda kaum pria kalau tahu-tahu ada yang ngomong, “Wah, baru tahu saya kalau orang Indonesia juga ada yang jadi engineer di sini” :D. Atau ujug-ujug ditanyain, “Kamu supir di mana?” *ngakakGulingGuling*.

Dengan melihat kenyataan-kenyataan di atas, jangan heran kalau anda adalah seorang wanita Indonesia yang tinggal di Jeddah akan sering mendapat perlakuan yang ‘istimewa’ yaitu … dianggap pembantu! Hahaha *ngakakStres*.

Buku saya tentang Kota Jeddah, "Memoar of Jeddah"
Buku saya tentang Kota Jeddah, “Memoar of Jeddah”

 

Bukan itu saja ‘cobaan’ yang harus dihadapi :p, kalau anda seorang wanita Indonesia dan kebetulan bisa berbahasa Inggris, itu juga bukan hal biasa di Arab Saudi. Atau jika berpenampilan rapi dikit disangkain orang Filipina atau Malaysia. Jangan lupa, secara fisik, Filipina itu memang mirip banget dengan orang Indonesia, apalagi Malaysia 😉.

Waktu awal-awal saya pernah bilang ke suami, “Kampungan banget sih orang-orang sini, banyak kaleeee cewek Indonesia yang bisa ngomong Inggris. Norak!norak!norak!” Hahaha.

Waktu melahirkan di Jeddah tempo hari sampai bete saya menerangkan ke orang-orang di rumah sakit kalau saya asli Indonesia. Jadi bukan karena kulit gw yang kuning langsat makanya saya disangka orang Filipina, tapi karena saya selalu berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Abis mau ngomong pakai bahasa apa dong? Bahasa Arab saya kan pas-pasan dan so pasti mereka enggak bisa bahasa indonesia kan? 😉.

 

Pepatah “don’t judge a book by its cover” juga enggak terpakai sama sekali. Indeed, perlakuan sehari-hari yang kita terima tentu saja berbanding lurus dengan apa yang menempel di badan kita 😉. Untung saja dengan tampang saya yang by default sudah jutek dari sananya dan suara yang bariton nan terkesan galak, suster-suster Filipina di rumah sakit enggak berani macam-macam biarpun kemana-mana saya selalu bermodalkan abaya ‘biasa-biasa saja’.

Tinggal di Jeddah Arab Saudi
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

 

Memang, banyak pula ibu-ibu Indonesia yang kebetulan suaminya pekerja formal memilih untuk meng’upgrade’ penampilan 😉. Pake tas-tas mahal, pake abaya keren-keren (ada yang abayanya rata-rata berharga 500 sr ke atas, ihiiiiyyy…pinjem dooong hahaha). Pakai jilbab pun yang sebisa mungkin ‘beda kelas’ dengan jilbab yang dikenakan para ‘bibik/embak’ di Saudi.

Aduh, kalo saya sih, mungkin karena pada dasarnya pelit dan keras kepala rendah hati dan tidak sombong, memilih cara yang lebih murah rajin latihan TOEFL biar grammar makin oke dan melatih aksen bahasa Inggris biar tambah keren hahaha.

Sok intelek banget sih loooooo. Emang intelek boooo :p. Karena yesss, biarpun pembagian kasta berdasarkan penampilan merajalela di Arab Saudi, once they knew you can speak english, they would instantly respect you more ;). Norak, ya? Hahahaha :p.

Kesimpulannya, ya balik lagi, kalau kebetulan berstatus ‘perempuan asal Indonesia’ dan tinggal di Arab Saudi, sesuai judul : Jangan Sensi! ^_^

Santai sajaaa ;). Tanggapi semuanya baik-baik, ingat bangsa kita juga terkenal karena keramahan dan senyum manis nya looohhh *nyengirManis*. Biarpun awalnya pasti bete berat yah, dulu di Indonesia rasanya kece-kece saja masa di sini disangkain pembantu hahaha.

Kalau mereka bilang : “Malaysia? Filipina?” Enggak usah emosi. Kan tinggal dijawab saja : “Oh bukan, saya Indonesia.”

Terus kalau dilanjut lagi, “Loh kok bisa bahasa Inggris?” Respons saja, “Ya bisa dong, enggak salah kan?” Biasanya bakal diterusin dengan, “Wah saya baru tahu ada perempuan Indonesia yang bisa bahasa Inggris, jarang-jarang tuh.” Jawab lagi, “Oo, banyaaak. Mungkin belum pernah ketemu saja” Dan seterusnya…dan seterusnya… :D.

Kesannya horor amat yaaa, ribet amat?

Jangan sensi dong saudari-saudari sebangsa dan setanah air ;).

Perempuan Indonesia di Arab Saudi arab indonesia
Berakhir pekan di Corniche Road, Jeddah ^_^

 

Sesungguhnya ada buanyaaaak hal positif di Saudi yang lebih menyenangkan. Anggap saja buat melatih mental, dan biar mereka jadi tahu bahwa perempuan indonesia juga keren-keren. Bukan cuma pekerja domestik rumah tangga saja yang lahir di sana *kedip2SokManis*.

 

Di Saudi mungkin sering di’remeh’in tapi jangan lupa, di sini harga-harga makanan sangat bersahabat, cari asisten rumah tangga gampang tidak seperti umumnya di luar negeri yang lain, makanan indonesia merajalela (dari yang kelas warteg  hingga yang kelas hotel), katering-katering bergelimpangan dengan harga oke, manalagi mal-mal besar buat cuci mata hihi, harga bensin mureeee *tepukTangan*. Harga mobil juga murah.

Bisa piknik setiap weekend ke luar kota, lihat pemandangan padang pasir yang eksotis ^_^. Pokoknya kenikmatannya jauh lebih menonjol lah timbang terus-terusan makan hati karena disangkain pembantu! Hahaha.

Oiya, ini lho role model mamak-mamak Indonesia yang “tabah” menghadapi “sengit”nya kehidupan ala perempuan Indonesia di Arab Saudi #eaaaaaaa hahaha :p.

Kehidupan perempuan Indonesia di Arab Saudi
Anak baru satu, yang nomor 2 dalam perut ;).

People We Haven’t Met Yet (7)

Sebelum baca yang ini, tengok yang bagian 6-nya dulu ya di sini biar enggak kejang-kejang duluan hahahaha.

***

Saya mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini di puncak musim panas tahun 2009. Namun, sisa-sisa musim dingin masih menyajikan pemandangan salju di puncak-puncak perbukitan yang mengelilingi Kota Teheran.

Waktu itu, Mbak kita yang satu ini masih bercita-cita melihat salju. Jadi, dari balik kaca besar yang memenuhi seluruh dinding ruang tengah apartemen, saya kerjaannya liatin salju melulu hahaha.

Pertama kali saya tahu kalau ternyata di Timur Tengah pun ada salju.

Gambar : theiranproject.com
Snow in Tehran, gambar : theiranproject.com

Walau kotanya tua dan minim bangunan mewah nan tinggi, bersihnya jangan ditanya. Dibanding Kota Athlone ini pun, Teheran masih juara rasanya.

Konon, “Kalau ada 10 perempuan Iran lagi jalan bareng, 9 diantaranya pasti cantik.” Itu ilustrasi yang pas untuk menggambarkan betapa kece-kecenya cewek-cewek Persia hehehehe. Emang cantik ya boooo, untung cepet-cepet nyusul suami nih hahahaha :p.

Perempuan di Iran juga wajib berpakaian tertutup tapi modelnya lebih ‘bebas’. Tidak harus ber-abaya, seperti misalnya di Arab Saudi. Yang penting bajunya longgar dan menutupi area paha, di atas lutut sedikit boleh. Celana panjang enggak masalah. Tapi namanya perempuan, banyak juga yang bandel hehehe.

Di Saudi juga sama. Ada lho model abaya ketat melekat gitu ;).

Soal tutup rambut, di Iran masih boleh kerudung-an yang jambulnya kelihatan sedikit hihihi. Di beberapa tempat umum, ada semacam “polisi Syariah” yang berjaga-jaga, menegur perempuan yang bajunya agak “melenceng”. Tapi tenang saja, biasanya mereka enggak rewel ke orang asing.

Soal warna baju juga mirip dengan Saudi. Sebisa mungkin di Iran berpakaian hitam-hitam, tapi dalam praktiknya yang warna-warni juga banyak. Bukan hitam pun, mayoritas warna gelap sih.

Tidak sedikit perempuan di Teheran suka dandan menor-menor. Ampun dah, lipstiknya merah membara dengan blush on tebel-tebel :p. Belum lagi poni disasak tinggi-tinggi pakai anting-anting gede karena kerudungnya enggak nutup kuping. Tapi yang pakai chador (baju perempuan khas Iran), baju hitam panjang mirip abaya tapi jauh lebih longgar, juga banyak.

Gambar : touchIran.com, news.bbc.co.uk, reuters.com
Gambar : touchIran.com, news.bbc.co.uk, reuters.com

Kalau di Saudi perempuan enggak boleh nyetir, di Teheran, embak-embaknya kalau nyetir gila-gila, Ceu! Hahahahhaha. Ngeri aja kalau mau menyeberang jalan di perempatan Vanak Street.

Saya suka jajan kue-kue manis di seberang jalan di area Vanak Street. Awalnya saya bingung gimana cara menyeberangnya. Lampu merah saja suka diterabas di Teheran -_-. Saya dinasihati oleh salah seorang lokal sana.

Katanya, kalau mau menyeberang, enggak usah lihat kiri kanan, jalan saja maju, nanti mobilnya berhenti sendiri. Ajegile! Horor amat! Hahaha. Kalau telat menginjak rem gimana? *ngelapJidat*. Makanya, saya kalau mau menyeberang tunggu ramai dulu. Lalu, saya ngintilin di samping orang-orang yang sama-sama mau menyeberang jalan hihihi :p.

Hal lain soal budaya ke-perempuan-an di Iran adalah soal dukungan terhadap ibu bekerja. Separasi ruang publik untuk laki-laki dan perempuan juga terasa banget di Iran. Bedanya, Iran punya transportasi publik yang lumayan bagus ;). Gak mesti ke mana-mana naik mobil sendiri walau pun Iran juga raja minyak, lho. Di Iran, harga BBM juga terbilang murah.

Separasi laki-laki dan perempuan di Iran itu sifatnya woman only vs Family. Jadi perempuan boleh bepergian tanpa kerabat laki-laki tanpa perlu umpel-umpelan di bus atau di subway/metro. Bujang-bujang yang pergi bareng tanpa perempuan silakan masuk gerbong/area untuk Family.

Tehran Subway Station (Gambar : wikimedia.org)
Tehran Subway Station (Gambar : wikimedia.org)

Kalau di Saudi, separasinya … single vs Family. Single ditujukan buat bujang laki-laki. Perempuan yang bepergian tanpa laki-laki (which is legally enggak boleh di Saudi) silakan gabung di area Family.

Waktu di Iran, anak saya baru satu, si sulung yang usianya sekitar satu tahun .Karena dia anaknya grasak grusuk tingkat tinggi dan menikmati berada di keramaian jadilah saya masukkan ke daycare. Buat nyari teman saja. Karena bingung di apartemen mau main sama tetangga yang mana hehehe.

Di daycarenya ya saya temenin saja. Yang penting dia ketemu teman-teman baru. Benar saja, hari pertama dia sudah melesat bak anak panah dari gendongan saya hihhi. Sama sekali tidak canggung, menghampiri anak-anak Persia dan ikut main bola bareng :D. Saya juga senang dapat teman ngerumpi hahahaha :p.

Saya mengobrol dengan ibu pemilik daycare. Saya terus terang kurang suka karena beliau terkesan meremehkan saya, “Kamu anak baru satu kok enggak kerja saja? Ngapain saja tuh di rumah? Padahal bisa bahasa Inggris. Masa enggak mau kerja?”

Inginnya sih nyolot balik, “Gimana ya Bu, enakan ngupil di rumah, hambur-hamburin gaji suami. Gaji suami saya gede, lho!” Hahahahaha. Becanda :p.

Nyatanya, pemikiran model begini bukan hanya di Iran saja.

Dari pengalaman saya, baik perempuan Iran maupun perempuan Mesir dan perempuan Saudi, yang pernah berkomunikasi langsung dengan saya, yang lebih sering mencecar, “Kok lulus kuliah malah enggak kerja? Tuh, bisa bahasa Inggris, kok di rumah saja?”

Apa mungkin karena stigma mereka tentang kondisi negara Asia Tenggara ya? Dikiranya kita datang ke Timur Tengah buat ngemis ke mereka hehehe. Disangka Indonesia semiskin apa :p.

Kalau perempuan Saudi mungkin lebih bisa saya maklumi karena mereka memang terbatas akses pendidikannya. Ya malas aja, wong lahan pekerjaan masih mendiskriminasikan mereka. Tekanan sosial terhadap perempuan bekerja masih tinggi.

Nah, Iran sama Mesir lebih norak! :p. Dikiranya mungkin perempuan berpendidikan tinggi masih jarang di Indonesia. Makanya, bagus juga kalau Indonesia itu jangan kebanyakan mengirim TKW informal. Kasihan nih, kita-kita yang dituduh perempuan pemalas hanya gara-gara enggak ikutan nyari duit secara “formal” hahahaha.

Buat kita orang Indonesia, walau memang perselisihan antara ibu di rumah vs ibu bekerja masih ramai, tapi ya tidak terlalu aneh rasanya ada ibu di rumah yang sekaligus lulusan perguruan tinggi ternama dan punya skill formal mumpuni yang milih ngupil-ngupil di rumah aja pas suami di kantor dan anak-anak di sekolah kan? Hahaha :p.

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

Hal unik lainnya di Teheran adalah hobi pasangan muda mudi mojok di banyak sudut taman kota yang memang dibangun secara serius di banyak wilayah Teheran. Di area taman yang sepi, sering lho mendapati semak bergerak-gerak yang pas dilewatin, ternyata ada sepasang pria dan wanita muda lagi duduk lengket-lengketan hahahahaha.

Iran juga ketat soal hubungan laki-laki dan perempuan di tempat publik. Kegiatan selevel pacaran ya mana boleh. Pengawasan juga lumayan ketat dengan wara wirinya “polisi Syariah” di banyak tempat umum.

Tapi ya mau sebanyak apa sih menyebar polisi Syariah kalau kesadaran itu dibentuk atas dasar paksaan dan kekangan ;). Anak muda yang pada dasarnya hobi main api ya nemu aja celah-celah semak buat sekadar ngobrol berdua, duduk empet-empetan *ihiiiiyyyy*. Mana taman-taman di sana memang segede-gede gaban.

Lupakan dulu yang lagi indehoy, karena taman cantik model begini adalah anugerah bagi keluarga Gober yang kikir ini hahahaha. Enggak pusing mau cari cara nyenengin anak. Ajak saja ke taman, Sudah lengkap dengan kebun binatang mini, bunga-bunga dan tetumbuhan yang dirawat serius tumbuh subur di berbagai sudut, plus taman bermain gratis yang dilengkapi aneka rupa mainan buat anak-anak ^_^.

Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)
Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

Konon, taman-taman cantik itu termasuk hasil kerja keras mantan Pak Walikota yang sukses melaju menjadi Presiden hingga 2 periode. Waduh, jangan-jangan … ah enggak ah, nanti kaum cebong kesenengan hahahaha :p.

Secara yaaaa, Teheran modelnya mirip kota-kota di Eropa pada umumnya. Jarang ada mal gede-gede. Jadi, hiburannya banyakan outdoor.

Sekarang bahas laki-lakinya. Saya suka geli kalau melihat laki-laki jalan bareng sambil pegang-pegangan tangan dan rangkul-rangkulan hihihi. Itu bukan kebiasaan umum di budaya Indonesia kita kan ya?

Hubungan antar laki-laki di Teheran memang terbilang “mesra”. Ketemu saja bisa cipika cipiki dengan heboh. Ternyata, kebiasaan itu bukan hanya milik kaum Persia, orang-orang Arab juga begitu ternyata. Malah menurut suami saya, India dan Pakistan juga tidak masalah laki-laki saling bersentuhan atau pegangan tangan kalau jalan bareng. Penasaran saja, apa lagi-lagi ini karena budaya patriarki tadi kah? HIhihihi. Sotoy! :p.

Atau karena di wilayah-wilayah ini, percampuran antara perempuan dan laki-laki masih dianggap “tabu” jadi aja mereka jadi lebih dekat dengan sesama laki-laki? Hihihi.

Taman Mellat di Teheran Iran
Taman Mellat di Teheran (gambar : en. wikipedia.org)

Yang jelas, bukan karena faktor agama! Karena India kan mayoritasnya Hindu. Dan di sana tuh, kondisi “keamanan” untuk kaum perempuan di tempat umum masih memprihatinkan :(.

Kesulitan bahasa menjadi salah satu kendala terberat tinggal di Teheran. Walau sama-sama menggunakan huruf hijaiyah, bahasa resmi Iran adalah Bahasa Farsi, bukan Bahasa Arab. Bedanya lagi, bahasa Farsi mengenal huruf P, bentuknya seperti huruf Ba, tapi titiknya ada tiga di bawah.

Iran tidak terlalu terbuka pada para pendatang. Makanya, pendatang di Teheran tuh mudah mencuri perhatian. Sebelnya, cukup sulit menemukan orang lokal yang bisa berbahasa Inggris. Saya pernah membeli pizza di sebuah warung lokal hanya modal bahasa isyarat dan tunjuk-tunjuk menu hahahahaha. Nama warungnya justru lucu, sok-sok bule dengan memajang plang bertuliskan “UFO Pizza”, zzzzz -_-.

Jangan harap ketemu gerai-gerai standar macam KFC, McD dan Pizza Hut di Teheran. Gak ada! Mereka punya sih ayam goreng sejenis KFC atau McD tapi merek lokal. Enak juga sih. Coca Cola juga tidak ada. Tapi minuman sejenis banyak bikinan lokal.

Kendaraan yang lalu lalang di jalan juga banyak merek lokal. Iran lumayan juga. Kena embargo malah jadi lebih mandiri hehehe. Nah, kalau di Jeddah, senang cuci mata lihat mobil mewah lalu lalang di jalanan. Warna-warnanya gonjreng dan atraktif :D. Di Teheran, mobilnya dekil-dekil dan seperti mobil tua. Sama kayak di Irlandia hahaha :p.

Soal duit juga ribet di Iran. Di sana, ATM-nya tidak bisa menggunakan kartu jenis Visa atau Mastercard. Pendatang juga tidak leluasa buka rekening lokal. Suami saya gajiannya seru banget. Jadi berbaris gitu terus dibagiin amplop satu persatu, hahahahaha. Semua pekerja asing kayak gitu, level formal sekali pun :p.

Kontrak kerja pakai USD tapi terimanya dalam bentuk Euro. Jadi, nominal gaji berubah-ubah tergantung kurs Euro terhadap USD. Transfernya juga ribet. Tapi sebenarnya dalam peredaran sehari-hari, USD juga tetap boleh digunakan.

Urusan public service, orang Persia juga mirip dengan orang Arab, enggak ada ramah-ramahnya huhuhu. Malah Teheran parah karena ada kendala bahasa. Sempat butuh ke rumah sakit karena anak saya kena sakit mata. Sampai minta tolong ke KBRI buat ditemenin daftar di klinik hihihi.

Dokternya sih ramah ^_^. Surprisingly, harga obat juga murah banget di Iran. Tapi di Iran ini tapi mayoritas harga mahal-mahal. Yang terbilang murah hanya beberapa kebutuhan pokok. Misalnya roti, gandum, susu, tepung, dan itu tadi…obat :D. Sisanya sih, bikin pijet-pijet kening, deh hehe.

Soal kehidupan sosial, Saudi jelas lebih homogen. Karena di Teheran ya bebas-bebas saja berdiri rumah ibadah non Islam. Kalau di Saudi kan tidak boleh, ya. Hanya boleh ada masjid hehehe.

Sinagog juga ada di Teheran. Rabi-rabi yang pakai topi kecil khas Yahudi juga rasanya pernah papasan. Pemerintah Iran, wewotnya sepertinya hanya kepada pemerintahan Israel dkk :D. Ya enggak jauh-jauh dari urusan minyak dan duit lah :p.

Soal Sunni-Syiah waktu itu belum terlalu terasa sih. Jadi saya juga enggak terlalu merhatiin. Yang jelas, kalau shalat Jumat, suami saya shalatnya di gedung KBRI bukan di masjid umum. Mereka shalat jumat di lapangan tertentu saja kata suami. Suami juga takut-takut sih memperlihatkan identitas Sunninya hehehe. Walau selama di sana ya memang tidak diapa-apain.

Soal alquran beda ya jelas hoax. Di apartemen umumnya sudah disediakan alquran sama batu kecil something oleh landlord. Batu itu katanya buat sujud. Penganut Syiah sujudnya harus pakai batu/tanah dan semacamnya. Kira-kira begitulah. CMIIW ya.

Alquran-nya normal. Enggak setebal tuduhan orang-orang. Ukuran sama dan pas dibaca-baca ya nama surahnya sama. Saya bukan hafizah sih ya jadi enggak bisa bandingin ayat per ayat :D.

Saya di sana di masa-masa Pilpres sedang berlangsung. Konon, kemenangan Ahmadinejad di periode ke-2 bikin “lawan politik” luar negerinya bete. Jadilah itu ramai-ramai bikin berita hoax soal berita hasil Pemilu di Teheran.

Kota Teheran Iran
Lovely Teheran (gambar : commons.wikimedia.org)

Saya kan jadi bingung. Rasanya di Teheran biasa-biasa saja tapi berita di CNN, BBC, Al Jazeera dkk sudah kayak kerusuhan berdarah-darah. The power of media ya. Kasihan sih dengan kerabat di Indonesia. Ibu mertua ribut nyuruh suami pulang hahahaha.

Padahal masalah yang menjerat kami bukan soal itu. Tapi kena tipu oleh agen yang merekrut suami. Sampai suami overstay dan status tinggalnya terhitung ilegal. Lumayan menguras emosi menghadapi situasi saat itu. Ketambahan lagi kisruh politik jadi bikin tambah stres dah.

Ahmadinejad bisa dibilang Koppig versi Iran hahahaha :p. Beliau kaku dan tidak kenal kompromi. Sebenarnya, di kota-kota besar di Iran seperti Teheran, Ahmadinejad kurang disukai. Apalagi oleh kaum muda di Teheran. Dianggap terlalu konservatif.

Tapi katanya, di kota-kota kecil dan di pedalaman, Ahmadinejad masih didukung penuh oleh mayoritas rakyat saat itu. Wallahu alam lah, gak paham situasi politik. Namanya juga mamak-mamak ya, yang diterawang ya urusan seputar per-daster-an aja hahahaha.

Sayang ya, waktu itu suami belum hobi fotografi dan banyak masalah dengan agen jadi kami gak puas jalan-jalannya. Padahal Persia merupakan salah satu peradaban tertua di dunia. Tidak banyak rekaman gambar untuk bersaksi betapa indahnya Kota Teheran <3. Ya fotonya masih banyakan muka emak dan anak -_-.

Soal pekerjaan, untunglah gaji tetap lancar dibagiin dalam amplop tiap bulan hihihi. Somehow, we managed to get out from there, safe and sound 😀. Dari sanalah, suami akhirnya keterima bekerja di Jeddah. Berakhirlah episode Teheran di awal musim gugur di tahun yang sama :).

Saya rasa sih, Iran sama Arab Saudi banyak samanya daripada bedanya. Bedanya cuma di masalah Sunni-Syiah. Tapi hobi maksanya sama saja hehehe :p. Sama-sama tajir minyak juga jadi mungkin masing-masing merasa berhak menjadi “raja” di Jazirah sana :p.

Enakan jadi orang Jepang kali ya, kekuatan negeri ada di sumber daya manusia ;). Manusia yang seharusnya menjadi kekuatan terbesar sebuah negeri, bukan intan berlian, bukan minyak dan tidak juga hasil non tambang lainnya.

Apa karena itu ya, hikmah mengapa manusia dipilih menjadi khilafah di muka bumi ini? Kita ini khilafahnya, kita ini koordinator yang harusnya mengatur, kok malah diperbudak oleh materi? ;).

***

People We Haven’t Met Yet (6)

Tulisan ini merupakan salah satu bab dalam buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” :D.

***

Saya ingat betul ucapan salah satu teman saya, “Waktu baru nyampe di Jeddah, pertama kali ke mal, ke Serafi Mall. Terus gue takut banget. Pegangan terus sama suami gue. Gue takut diculik!”

Kalimat tersebut tidak berlebihan. Saya juga begitu. Sewaktu masih di tanah air, cerita-cerita yang mendominasi tentang Saudi ya tentang penculikan perempuan, perkosaan TKW dan sejenisnya. Sebagian besar teman-teman saya di Jeddah punya kesan pertama yang tidak jauh berbeda.

Baca : People We Haven’t Met Yet (5) 

Sekarang sih, jangan ditanya! Siang-siang suami di kantor, kami suka kelayapan kemana-mana. Awal-awalnya masih suka naik taksi dengan supir Indonesia. Lama kelamaan makin banyak yang berani naik taksi ‘abal-abal’. Taksi apa saja yang kami setop sendiri di jalan. Termasuk saya.

Padahal saya termasuk penakut. Manalagi kecerdasan visual saya sangat terbatas. Susah sekali mau menghapal jalan. Sampai sekarang masih suka bingung antara 4 ruas jalan utama yang mengelilingi lokasi apartemen kami : Madinah Road, Sitten Street, Palestine Street dan Tahlia Street.

Saya masih pilih-pilih rute. Kalau cuma ke sekolah anak, rumah teman yang sering saya datangi, saya berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri. Tapi ada, lho, teman saya yang tidak pandang bulu. Ke mana pun berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri!

Taksi di Jeddah
Taksi di Jeddah

***

Pernah tersiar rumor yang mengatakan bahwa kewajiban menutup aurat bagi wanita di tempat umum malah menjadikan negara Saudi ini sebagai negara yang rawan perkosaan. Datanya dari mana, ya?

Kejahatan pemerkosaan yang beberapa kali diberitakan di media nasional pada umumnya terjadi di wilayah ‘domestik’. Kejadiannya di dalam rumah. Sedangkan di tempat-tempat umum, hijab sangat dijaga antara perempuan dan laki-laki. Kecuali di tempat-tempat tertentu yang pengunjungnya didominasi oleh pendatang seperti di pusat perbelanjaan Balad.

Saya cuma berani ke Balad kalau ditemani suami atau ramai-ramai dengan teman perempuan lainnya. Pendatang pada umumnya tidak terlalu terbiasa dengan aturan hijab seperti ini. Tapi, kalau ke mal-mal besar, insya Allah aman buat perempuan yang hanya sendiri atau menenteng balita saja.

Women in Saudi (gambar : theguardian.com)
Women in Saudi (gambar : theguardian.com)

Pengalaman tiap orang berbeda-beda. Memoar ini tentu berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Mungkin berbeda dengan teman-teman lain. Karena ada juga teman saya yang empet luar biasa dengan pria Arab yang menurutnya selalu mencari gara-gara. Alhamdulillah, biarpun ada yang kurang menyenangkan, untuk saya pribadi lebih banyak yang meninggalkan kesan yang baik.

***

Awalnya saya bingung dengan laki-laki yang suka membuang muka pada saya. Atau kalau saya di lift bersama suami, laki-laki lain dalam lift tiba-tiba merapat ke dinding. Kayak gengsi gitu, lho, dekat-dekat saya. Pernah juga di rumah sakit, saya duduk di ujung sebuah kursi panjang. Laki-laki yang duduk di ujung satunya langsung berdiri. Padahal diantara kami masih bisa ditempati oleh sekitar 2-3 orang lagi.

Lain lagi di supermarket. Kalau di kasir, biarpun saya yang ada dalam posisi mengeluarkan uang dari dompet, kasir laki-laki pasti memilih berbicara pada suami saya. Padahal saya kan juga bisa berbahasa Inggris dan sedikit-sedikit mengerti bahasa Arab.

Saya mengomel ke suami, “Buset, deh. Sombong amat laki-laki di sini. Kenapa sih, Bang? Aku disangka TKW, ya? Jijik dekat-dekat orang Indonesia?”

Suami langsung terbahak. Lalu menjelaskan, “Jangan geer dulu. Di tempat umum memang begitu, laki-laki tidak boleh dekat-dekat perempuan. Apalagi mengajak ngobrol yang tidak perlu.”

Benar juga ternyata. Baru, deh, saya perhatikan betul-betul sejak saat itu. Ternyata perlakuan seperti itu berlaku untuk perempuan mana pun.

Jadi, aman kok buat para perempuan untuk bepergian. Apalagi kalau ada suami. Selain lebih aman, kalau mau belanja-belanja kan juga ‘terjamin. Ada ‘ATM colek’ dengan saldo yang tak terbatas. Hahaha.

Apa? Kemana-mana harus menenteng suami? Suami di kantor seharian dari pagi hingga sore. Masa jalan-jalannya malam doang? Tidak, kok. Tadi sudah dibahas jika akan mengunjungi tempat-tempat tertentu saja harus menunggu suami pulang kantor dulu.

Dibandingkan situasi di Jakarta, rasanya memang berbeda. Di ibukota tanah air, saban ke mal, biarpun sudah punya anak dan tampang seadanya, ada saja yang suit-suit enggak jelas. Sudah pakai penutup kepala pula. Di Saudi, perlakuan seperti itu jarang terjadi di tempat-tempat umum.

Yanbu Arab Saudi
Foto kenangan waktu liburan ke Yanbu. Mirip dengan Pangandaran kan? Hehehe

***

Bulan januari 2011, saya tengah hamil 6 bulan. Bumil kepengin jalan-jalan malam-malam. Jadi, deh, kita putar-putar ke Corniche Road. Terus mampir di salah satu kios di pantai untuk jajan. Semua keluar dari mobil. Pintu dikunci dengan central lock. Lalu, suami tersadar, “Yaaaaa, kuncinya ketinggalan dalam mobil!”

Waktu itu masih menggunakan mobil sewa. Angin bertiup kencang sekali dan Jeddah sedang berada di puncak  musim dingin. Aduh, langsung lemas.

Suami mencoba menghubungi pihak penyewa. Sembari menunggu mereka membawa kunci cadangan, suami berusaha sendiri. Saya berdiri di samping kios sambil kedinginan. Bingung pula mau duduk di mana. Sementara Abil, anak sulung saya, sudah sibuk berlarian sendiri kesana sini.

Tiba-tiba pemilik kios keluar membawa karpet. Saya cuekin saja, pura-pura tidak lihat. Mana tahu maksudnya kurang baik. Eh, pas menoleh lagi, orangnya sudah tidak ada, menghilang ke dalam kiosnya. Dan…karpet yang ditentengnya tadi sudah digelar di atas lantai. Duh, sudah berburuk sangka. Lagi-lagi kegeeran tidak jelas. Tidak berapa lama, dibawain secangkir teh hangat. Tangannya memberi isyarat harganya 1 riyal. Saya ambil terus dia buru-buru pergi lagi.

Main sama bocah di Corniche - Jeddah, 2012
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012

Pemilik kios juga ikut membantu suami beserta satu orang temannya. Tapi dilakukan sambil melayani pembeli. Enggak ada tuh yang mengajak saya mengobrol atau menggoda tidak jelas.

Tahu-tahu sudah pukul 11 malam. Parahnya, tempat penyewa mobil tidak menemukan kunci cadangan. Jadi, mereka sibuk mencari cara lain. Kemudian sebuah mobil mewah berhenti. Seorang pria .arab dengan penampilan necis keluar dari mobil dan mendekat. Saya sudah deg-degan. Mau apa, ya, dia kira-kira. Saya cuma memperhatikan dari jauh. Tidak tahu mereka mengobrol apa. Tapi setelah itu, dia pun sibuk membantu mengeluarkan kunci mobil.

Akhirnya sekitar pukul 12 malam, kunci berhasil dikeluarkan. Para laki-laki itu termasuk suami saya saling berjabat tangan dengan senyum merekah. Alhamdulillah, kaki sudah beku menahan dingin. Herannya, Abil tetap bagai gasing berputar-putar dengan gembira di pelataran parkir.

Saya membayar jajan kami dan bermaksud memberi uang lebih untuk karpet. Pemilik kios menggeleng-geleng, “Mafi musykilah.” (“Tidak ada masala, tidak apa-apa.”)

Sewaktu saya tetap memaksa, suami menegur, “Jangan, Dek. Tersinggung, lho, nanti.”

Ya sudah, kami pun pulang.

Masya Allah pengalaman kami malam itu. Sampai sekarang kalau ingat bantuan mereka (yang tanpa pamrih sama sekali), rasa harunya tak pernah berkurang.

***

Lalu, pernah pula ban mendadak kempes di daerah Balad. Kami mudik mendadak. Jadi, dadakan pula berburu oleh-oleh. Pakai acara ban bermasalah pula saat hendak pulang setelah membeli beberapa barang di toko langganan di Balad.

Saat suami mencoba ganti ban sendiri, beberapa anak kecil berkulit hitam tiba-tiba menghampiri. Mereka menawarkan bantuan. Dari dalam mobil saya was-was. Barang dari bagasi berserakan di luar karena suami mengeluarkan ban serep yang ditaruh di bagasi. Biasanya orang-orang ini terkenal agak-agak Bengal. Konon, mereka suka melakukan tindakan kriminal. Akhirnya, saya berdiri di luar mobil, dekat bagasi. Menjaga barang maksudnya.

Kemudian lewat seorang lelaki dewasa berkulit hitam. Duh, makin cemas. Tapi ternyata laki-laki itu mengajarkan cara mengganti ban yang benar. Benar saja, acara ganti ban berlangsung lebih lancar setelahnya. Setelah memberi pengarahan singkat, laki-laki dewasa itu pergi begitu saja.

Saat kami sibuk memasukkan barang ke bagasi, anak-anak tadi juga ikut pergi. Saya cepat-cepat mengingatkan suami, “Bang, kasih uang, Bang.”

Suami buru-buru mengejar mereka. Mereka malah masuk ke dalam mobil dan siap-siap pergi. Suami mengetuk pintu kaca mobil. Akhirnya dengan wajah malu-malu mereka menerima pemberian suami. Masya Allah, never judge a book by its cover.

Pasar di Jeddah
Pasar di Jeddah

***

Saat di mal atau di rumah sakit, saya sering kesulitan menjaga Abil. Apalagi ketika Narda pun sudah bisa diajak main oleh kakaknya. Mereka berdua menjadi ‘duet maut’ yang kerap membuat saya sibuk minta maaf ke orang sekitar.

Ini kebiasaan di Indonesia, sih. Rasanya kalau di tanah air, orang-orang kurang suka dengan tipe anak-anak tidak bisa diam. Suka melempar pandangan, “Duh, ibunya bisa ngurus anak enggak, sih?”

Makanya kalau acara pengajian, kebetulan anak sulung saya tidak sekolah, saya memilih menahan diri untuk tidak ikut acara. Kecuali rumah penyelenggara yang saya kenal dekat. Kalau saya sudah tahu nyonya rumah ‘kurang nyaman’ dengan kehadiran anak-anak saya, saya akan memilih enggak datang.

Lain dengan di Jeddah ini. Kalau saya menegur anak-anak, saya sering ditegur balik oleh pria Arab. Pernah di rumah sakit, saya menegur Abil yang bolak balik naik ke kursi terus loncat terus naik lagi terus loncat lagi. Ibu-ibu arab lain senyum-senyum.

Tapi saya pikir mereka hanya senyum basa basi seperti  teman-teman dari Indonesia. senyum-senyum di depan, dalam hati menyimpan jengkel. Jadinya tetap saya tegur anak saya. Sorang pria Arab malah melotot ke saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Shagiir“, katanya. (Shagiir = kecil). Mungkin maksudnya masih anak kecil, santai saja. Saya akhirnya membiarkan Abil jadi tontonan orang-orang di ruang tunggu.

Kejadian yang sama di supermarket. Abil mau masuk ke troli seorang pria Arab. Langsung saya tegur. Pria Arabnya mengomel balik ke saya. Malah, anak saya diberi permen.

***

Selanjutnya, bagaimana kesan-kesan bekerja dengan orang-orang Arab? Apa dicambuk kalau bandel? Hahaha. Mari kita tengok pengalaman suami saya.

Di hari acara perpisahan yang diadakan divisi tempat suami bekerja, sepulang dari kantor, wajah suami terlihat muram. Dia menenteng sebuah kotak hitam besar. Katanya souvenir dari teman-teman di kantor. Dia memang tidak menyangka akan dibuatkan acara perpisahan secara khusus. Lengkap dengan tanda mata pula. Kenang-kenangannya pun bukan barang murah.

“Seumur-umur aku kerja, baru kali ini dapat kenang-kenangan.” Kata suami, sekilas saya melihat matanya sedikit berkaca-kaca,

Kalau di Jeddah, adatnya sedikit berbeda. Yang mau pergi yang akan ditraktir oleh teman-temannya. Semasa di Jakarta, biasanya yang akan resign yang ditodong untuk mentraktir teman-teman lain.

Suami saya terharu sekali. Orang Arab memang punya ciri khas sendiri. Tidak jelek-jelek semua, kok. Mereka ada sisi positifnya. Biarpun terkenal ‘bawel’ dan ‘pemalas’, kalau sudah kenal baik dimana kita bisa merebut kepercayaan mereka, mereka bisa memperlakukan kita dengan istimewa.

Tapi cerewetnya memang tidak ketulungan, sih, menurut suami saya. Kadang suka memaksa. Tapi mereka tidak pendendam. Kalau sudah mengomel, tidak berapa lama mereka akan biasa-biasa lagi.

Perpisahan dengan teman-teman di Jeddah (Januari 2013)
Perpisahan dengan teman-teman di Jeddah (Januari 2013)

Konon seorang teman yang tinggal di Negeri Sakura pernah mengeluh. Supervisornya baik dan jarang protes. Tapi tahu-tahu memberi appraisal atau nilai yang kurang bagus. Padahal sudah mengira hasil kerjanya bagus karena tidak pernah mendapat kritikan. Saya percaya tidak semuanya seperti itu. Kebiasaan kita sebagai orang timur memang banyak “enggak enakan” nya.

Salah satu teman kerja suami di Jeddah merupakan karyawan kesayangan bos. Sam-sama dari Indonesia. Kebetulan bosnya sama dengan bos suami saya. Bos yang ini engineer asal Indonesianya ada beberapa. Ketika suami mau pergi, dia langsung menagih CV teman suami. Sudah jatuh cinta pada orang Indonesia. Padahal rate orang Indonesia konon lebih tinggi daripada rate karyawan asal Pakistan-Bangladesh-India.

***

Tak terasa akhirnya kami pun harus pindah ke tempat lain. 30 bulan di Jeddah menyisakan banyak sekali kenangan manis. Di hari keberangkatan untuk terbang meninggalkan Jeddah, sejak jam 2 malam saya sudah tidak bisa tidur. Sibuk mengingat kalau saya pernah kecewa karena “tak ada salju di kota Jeddah.” Saya sungguh ingin tinggal di negeri yang bersalju..

Gagal bertemu salju. Tapi sukses bersentuhan dengan hal-hal indah lainnya.

Namun, tak ada penyesalan sudah mengambil keputusan yang tidak mudah ini. Insya Allah di tempat baru nanti, jika Tuhan menghendaki, kami pun akan dipertemukan oleh orang-orang baik. Sekali lagi … insya Allah <3.

Perpisahan dengan madam-madam di Jeddah (Corniche, 2013)
Perpisahan dengan madam-madam di Jeddah (Corniche, 2013)

***