Kurikulum Sekolah Anak di Irlandia

Masa sekolah untuk tahun ajaran ini akhirnya selesai sudah. Kemarin hari terakhir anak sulung saya masuk sekolah :D. Liburan musim panas ketok palu juga. Kalau yang kecil, jumat minggu lalu hari terakhir masuk pre-school.

Sekolahnya masih lama sudah merengek minta dibeliin seragam yang sama kayak abangnya :D. Finally, “big boy” juga ya Nak hihihihi :p. Pengin teriak “Yes, freedoooommmmm!” Tapi pan ini perut buncit isinya juga bentar lagi keluar. “Freedom”nya ditunda dulu hahaha.

Anak sulung saya bersekolah di sekolah Katolik. Umumnya sekolah negeri di Irlandia memang sekolah Katolik. Di sini, umur 4 tahun sudah boleh masuk TK. Aturannya mirip UK. Agak beda dengan mayoritas negara-negara di Eropa daratan. Misalnya di Swiss kemarin katanya 5 tahun baru boleh masuk TK. SD-nya 7 tahun.

Gambar : athlonetidytowns.ie
Gambar : athlonetidytowns.ie

Beda lainnya, di Eropa daratan, anak TK belum diajarkan membaca dan menulis. Di Irlandia, sejak 4 tahun itu sudah diajarkan membaca menulis dan berhitung ^_^. Tapi ingat, ketiga kemampuan ini dianggap sebagai keterampilan dasar biasa bukan ajang pamer-pamer nilai rapor hahahaha. Dimari enggak ada award-award an atau rengking-rengking an :D.

Umumnya, begitu masuk SD, ya sudah lancar membaca, menulis dan berhitung sederhana ^_^. Seneng deh. Bisa semua-muanya enggak pakai stres dan dipaksa-paksa :p. Saya pribadi lebih suka dengan kurikulum model begini. Tak terlalu suka kalau anak-anak dibesarkan “terlalu santai” ;).

Dunia dan masa depan yang akan mereka hadapi kan tidak seindah di buku-buku cerita atau di buku-buku parenting hahahaha. Kalian boleh beda ^_^. Monggo saja. Cerita selengkapnya di sini ya.

Bagaimana dengan pelajaran agama? Terus terang dari awal saya tidak risau. Saya sudah kenyang bertemu teman-teman sekolah dulu yang alumni sekolah Katolik ^_^. Saya sudah tahu, umumnya sekolah Katolik itu pelajaran agamanya lebih universal :). Pendidikan moral diutamakan.

Mereka punya ritual misa. Tak ada paksaan sama sekali ^_^. Setiap ada misa, sekolah akan mengirimkan surat ke orang tua mengabarkan bahwa anak-anak non Katolik tidak perlu ke sekolah lebih awal. Mereka misa biasanya pagi-pagi. Jadi yang non Katolik ke sekolahnya ya pasca acara Misa ke katedral usai.

Saya enggak beliin buku agamanya sih :p. Itu pun kalau pelajaran agama anak-anak non Katolik tidak wajib mengikuti. Mereka diberi kegiatan lain. Tapi biasanya karena tetap dalam kelas, anak saya jadi ikutan mendengar kadang-kadang. Jangan khawatir sama nilai rapor. Sudah saya bilang, di sini enggak ada rengking-rengkingan! :D.

Di sini juga ada masjid, sih. Di rumah saya ajarkan mengaji. Saya enggak pakai guru mengaji, saya ajarkan sendiri *benerinKerudung* :p. Sekalian emaknya juga belajar mengulang-ulang pelajaran tajwid dan lain-lain hehe. Kalau lagi enggak sekolah, dia ikut bapaknya Salat Jumat di masjid ^_^.

athlone bridge

Kalau kisah-kisah Nabi juga no issue. Di sekolah juga diajarkan. Tempo hari liburan ke London saya masuk ke National Gallery di Travalgar Square. Di sana mayoritas lukisan menggambarkan kisah nabi dalam alkitab. Makin tahu juga, mayoritas kisah nabi-nabi antara Nasrani dan Muslim itu mirip. Hanya beda di nabi pertaman dan 2 Nabi terakhir saja :p.

Suami saya mengantuk dalam museum itu hahaha. Dia memang lebih sering baca buku-buku tentang Prophet dalam bahasa Inggris ketimbang saya :p. Saya lebih senang melihat dalam bentuk lukisan dan sedikit deskripsi. Saya kadang masih bingung soal penamaan Nabi dalam bahasa Inggris. Suami saya hafal semua :D. Hayooo…Nabi Idris itu apa “nama bule”nya? :p.

National Gallery - London (foto : scotsman.com)
National Gallery – London (foto : scotsman.com)

Soal Nabi Isa atau Yesus sudah kami terangkan kepada si sulung ini :). Soal perbedaan status antara Yesus dalam agama Nasrani vs Islam. Tapi saya selalu tekankan untuk tidak membesar-besarkan masalah ini di depan teman-teman Nasraninya ;). Menyakiti orang lain dan menyerang kepercayaan mereka juga dosa, begitu kata saya kepadanya.

Soal Nabi Muhammad sering diajarkan di rumah. Enaknya sekarang sudah ada youtube. Pakai media video kan lebih enak ya ngajarin gini-ginian. Jadi, untuk apa sih internet cepat itu? #eaaaaaa :p.

Soal salat ya enggak perlu pusing. Saban hari dia melihat saya dan bapaknya salat depan dia :D.

Saya lebih sering menerangkan arti surah dan menghubungkan dengan sifat-sifat yang harusnya dimiliki oleh seorang manusia. Yang mudah dipahami anak kecil lah ya. Misalnya kenapa sih kita perlu hidup sederhana di setiap kesempatan. Penting nih kalau dia rewel minta mainan atau ini itu hahahaha :p. Kenapa harus rajin makan sayur juga hihihi, gak boleh terlalu banyak makan permen, ya karena harus menjaga kesehatan, tanda bersyukur kepada Tuhan. Gitu-gitu aja lah dulu.

Guru di sekolah mengajarkan, “Only persons who believe in God and do the good things in most of his-lifetime is going to paradise.”

Surga adalah tempat bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Cucok bukan? ;).

Anak saya cerita kata gurunya, kita tidak boleh mengolok-ngolok teman atau perbuatan buruk lainnya karena kita juga enggak suka digituin. Makanya, jangan lakukan hal yang sama kepada orang lain. Bukan main! Itu prinsip dasar COMPASSION, yang konon merupakan napas dakwah utama dari Rasulullah SAW. Iki piye, malah diajarkan sejak kecil di sekolah Katolik hehehe.

Sekolah Katolik umumnya memang tidak mengajarkan soal “yang masuk surga cuma orang Katolik doang, sisanya masuk neraka” hahahaha. Macam masa kecil kita dulu di sekolah hihihi. Hal-hal gituan tidak diajarkan secara formal di sekolah ;).

Pelajaran agama di sekolah mereka sifatnya lebih universal dan selalu menempatkan berbuat baik kepada SESAMA MANUSIA di posisi teratas. Syaratnya ya manusia saja, tidak pakai embel-embel, agama-warna kulit-ras dan semacamnya.

Melengkapi pelajaran moral di sekolah, tinggal kami sebagai orang tua muslim menambahkannya dengan mengajarkan masalah ritual Islam (yang sifatnya lebih individu) di rumah ^_^. Termasuk makanan halal.

halal sign

Sempat saya bingung karena sekolah anak saya memang salah satu sekolah terbesar di sini. Muridnya banyak jadi subsidi pemerintahnya gede hehe. Jadi, sekolah menyalurkan sebagian dana untuk memberikan makanan kepada anak-anak hampir setiap hari. Entah sarapan entah makan siang. Pening, dah. Sekolah lainnya soalnya enggak gini.

Seringnya mereka ngasih roti isi macam-macam atau buah-buahan. Alhamdulillah, kepala sekolah sangat membuka diri terhadap hal-hal sensitif seperti ini. Meski agak sulit juga karena ada juga keluarga muslim yang memberi syarat, “Yang penting bukan daging babi.”

Ini yang tadinya bikin kepsek bingung hehehe. Umumnya kan mereka tahunya juga gitu, asal bukan babi. Mau menerangkan juga ribet, ya, kalau definisi makanan halal sebenarnya bukan “yang penting bukan daging babi” saja huhuhu.

Solusinya, tiap awal tahun ajaran, tiap orang tua diperkenankan membuat surat pernyataan kepada guru masing-masing makanan apa saja yang boleh diberikan kepada si anak. Lega, deh, hehehe.

Saya ngambil ngampangnya saja, pilih opsi Vegetarian. Jangan salah, orang India pun banyak yang tidak makan daging dan vegetarian sejati lho hehehehe. Untunglah sekolah tidak egois dan memperhatikan betul hal-hal prinsipil seperti ini. Kami kan minoritas banget di sini. Apalagi muslim. Tapi kepseknya tuh ya, serius banget lho menanggapi keluhan kami ^_^.

Sekolah anak saya juga memanfaatkan sebagian dana untuk kegiatan para orang tua murid ^_^. Merangkai bunga, kursus bahasa Inggris, kursus bahasa Irlandia, pengetahuan makanan bergizi, acara masak-masak (ini semua gratis, tis, tis), bahkan pelajaran berenang buat para ibu-ibu yang mematok tarif sangat murah ^_^. Enggak sekalian kursus menyetir nih, Bu Kepsek? hahaha.

Seminar-seminar parenting juga sering. Mengundang para pakar segala, lho, untuk berbicara atau sharing depan para emak-emak ^_^. Pemerintah sini memang punya dana lumayan untuk urusan perkembangan anak ;). Tapi tidak semua sekolah di sini punya kegiatan model begini. Seperti saya bilang tadi, sekolah anak saya karena tergolong besar jadi dapat limpahan subsidinya juga besar :D.

Serba dimudahkan alhamdulillah ^_^. OIya, boleh lho pakai jilbab ke sekolah. Ada anak perempuan kelas 6 di sini yang pakai jilbab. Orang Afrika. Saya pernah minta izin ingin mengambil fotonya tapi dese keberatan hehehe. Dia bingung kali, ni kenapa ada mamak-mamak enggak dikenal mau motret-motret gue hahaha.

Athlone Ireland
Where we live!

Soal GRATISnya ya standar lah ya. Di banyak negara di belahan Eropa juga gitu. Sekolah ya gratis ;). Buat siapa saja. Tidak ada istilah “sekolah anak orang kaya” atau “sekolah orang miskin” hahaha. Lah ya di sini juga enggak jelas mana orang kaya mana orang miskin toh ya ;).

Anyway, congrats ya Abang, September nanti insya Allah masuk grade 2. Si nomor 2 juga bakal masuk Junior Infant (TK A atau TK nol kecil). Sementara Mama, insya Allah harus kembali berkutat dengan stroller hahaha :p. Semoga lancar semuanya. Aamiin.

Terima kasih para guru yang sudah membimbing para bujang kecil saya di sekolah ^_^.

Buat guru-guru di preschool, as they said “It takes a big heart to help shape little minds”, thanks for everything ^_^.

Buat ibu-ibu guru di 1st grade si sulung, “A teacher affects eternity: she can never know where her influence stops.” -Henry Brooks Adams-

Thank you, Ibu-ibu Guru ^_^ …so very much ;).

Welcome, Summer Holiday! See U again in September, School!

Gambar : coolimages4free.com
Gambar : coolimages4free.com

***

Bergaya dengan Abaya Arab, Siapa Takut? ;)

Sebelum berangkat ke Jeddah, tidak pernah terbayang jika harus mengenakan sehelai kain hitam kemana-mana. Saya pernah melihat pakaian seperti ini kala sesaat sempat bermukim di kota Tehran. Ternyata itu bukan abaya arab yang umum dikenakan di Saudi. Pakaian hitam-hitam khas ala perempuan Persia tersebut namanya chador.

Biarpun ‘buta fashion’, dalam hal berpakaian saya cukup picky. Lebih suka mengenakan celana panjang, tidak suka rok sama sekali. Nah, bagaimana ceritanya harus tinggal di tempat yang kemana-mana harus mengenakan baju hitam panjang?

Abaya arab
Abaya arab yang modelnya fancy 😀 (gambar : fashstylez.com)

***

Abaya Arab  ada dimana ?

Berburu abaya di Indonesia ternyata tidak sulit. Tapi saya sarankan jangan membeli abaya arab di tanah air. Mahal, booo *penting :P*. Dengan kualitas yang sama, Anda bisa mendapatkan abaya arab dengan harga yang lebih murah di Jeddah.

Catat dulu hal yang pertama , abaya arab itu bukan cuma sehelai kain hitam tanpa bentuk. Abaya juga punya berbagai macam model dan bentuknya tidak melulu hitam 100%.

Rasa nyaman berabaya tidak pernah terpikir sampai akhirnya mudik pertama di tahun 2011. Diajak ke mal sama suami. Langsung kagok. Milih-milih baju, milih-milih celana, cocokin sama jilbab. Suami suka menggerutu, “Lama amat, sih!”

Tak sadar kalau setahun terakhir sebelumnya, tinggal di Jeddah, tidak pernah dipusingkan soal gini-ginian. Lagi ndusel-ndusel sama anak-anak di tempat tidur saja kalau diajak keluar tidak masalah. Tinggal nyamber satu abaya yang selalu tergantung di lemari. Ceplosin, ambil jilbab (warna apa saja, bajunya hitam kan, matching dengan warna apa pun), uwel-uwel di kepala, beres. Lima menit sudah cukup ;).

Satu lagi, saya merasa adem kalau kemana-mana. Tidak pusing dengan, “Idih, celananya lucu amat. Beli dimana, ya?” atau “Wow, blusnya keren. Mauuuuuuu.” Sejauh mata memandang, setiap perempuan berselubung abaya semua. Mau majikan kek, mau baby sitter kek, mau yang non muslim kek, siapin abaya masing-masing. Ini sih pendapat pribadi saya saja, ya. Kalau ada yang malah merasa kebebasannya terenggut dengan kewajiban berabaya ini ya sah-sah saja :).

Masalah abaya juga membuat saya, yang memang dasarnya malas beli-beli baju, jadi kalang kabut sendiri setiap harus liburan ke tanah air. Atau sekarang…saat harus pindah ke tempat lain dimana penggunaan abaya malah akan menjadi hal yang langka.

Abaya arab
Berabaya ramai-ramai dengan teman di Jeddah

Berbulan-bulan hidup damai dengan abaya arab, sekarang harus sibuk mengisi lemari lagi hehehe. Damai di kantong, damai pula saat harus berhadapan dengan kaca, “langsingnya akuuuu” hahaha. Perempuan oh perempuan :P.

Untung Saudi tengah dilanda musim diskon. Mari kembali bergerilya di mal-mal yang tiap dinding kacanya berhiaskan tulisan 50% atau 70% gede-gede. Duh, yang 100% gak ada, nih? Hahaha.

***

Ibu saya kemarin bilang, “Ah, kayak abaya-abayamu itu banyak yang jual di Tanah Abang.”

Saya keluarkan koleksi abaya terbaru yang saya belikan khusus untuk oleh-oleh buat sahabat terdekat. Ibu saya langsung berseru, “Waaahhh, bagusnya yang ini. Ini sih gak ada yang jual di Tanah Abang.”

Saya langsung pongah dong, “Makanya, Ma. Kalau mau lihat tren abaya ya jangan ke Tanah Abang, kali. Lihatnya ke negeri asalnya. ”

Saya pikir dengan adanya aturan kudu berhitam-hitam ria ini membuat hidup akan lebih praktis. Ngapain punya abaya banyak-banyak. Tapi pikiran ini langsung kandas ketika di suatu acara pertemuan para Madam, seorang teman mengobrol basa basi dengan saya :

Madam X : “Mbak Jihan suka sekali ya dengan abaya ini.”
Saya : “Ih, kok tahu?” (menjawab geer berasa artis).
Madam X : “Soalnya Mbak Jihan kemana-mana pakai abaya ini terus.”

Hahaha. Well, I believe she had no intention to be rude :). Tapi begitulah, saya memang tak pernah memperhatikan abaya orang lain. Well, sama-sama abaya hitam gitu, lho. Bedanya apa? Kecuali memang menggunakan motif-mofit berani misalnya loreng-loreng ala macan, atau kembang-kembang segede gambreng, barulah saya bisa ngeh. Hehehe.

Saya langsung kepo mengintip isi lemari teman-teman. Ternyata memang rata-rata memiliki koleksi abaya arab yang cukup banyak. Langsung gembok lemari sendiri yang isinya paling banter 4 abaya doang. Hihihi. Itu pun sudah termasuk abaya favorit pemberian sahabat tercinta di sini. Pakai abaya itu serasa dipeluk Bunda Rani terus :).

Teman saya di Jakarta juga terperangah soal ‘abaya cuma 4 biji’ ini.

“Lu jadi pindah? Abaya-abaya lo buat gue separuh, dong.”

“Adek gue mau 1. Yang satunya udah agak kumel. Lo 2 aja, ya.”

“Ha? Cuma 4?”

“He-eh.”

“2 tahun lebih di Arab, kemana-mana harus pakai abaya, lu cuma punya 4?” Matanya mulai melotot.

“Hehehehhe.”

“Sinting lu. Kikir gak ilang-ilang.”

Hahaha.

Abaya Arab
Cover bunda of Arabia

Btw, bahan abaya arab hitam itu juga adem dan nyaman. Dulunya kan tidak habis pikir, masa negara yang dihujani terik matahari hampir sepanjang tahun tega betul menyuruh kaum perempuan pakai baju hitam-hitam. Gosong gak, nih? :P.

***

Ternyata, pakai abaya hitam itu suatu hal yang positif (buat saya). Dulunya saya suka melepas abaya di acara-acara rumahan. Sekali-sekali ingin dong pamer-pamer jeans atau baju baru hehehe. Belakangan sudah jarang. Membuka abaya hanya dilakukan kalau memang kegiatannya kurang nyaman dilakukan bila harus berabaya.

Walau begitu, menurut saya pakaian lebih lekat ke masalah budaya :). Sekarang sudah bermukim di belahan lain dunia tidak akan memaksa pakai abaya hitam ke mana-mana hehe. Cuaca sini juga kurang cocok dengan abaya hitam yang cenderung adem :D.

 

Saya, sih, prinsipnya tidak menyolok dan tidak mencari perhatian dan jangan yang mahal-mahal lah ya hehehe :p. Soal batasan aurat juga masih banyak pendapat. Panjang pendek jilbab dan model baju juga masih menjadi ruang diskusi yang panjang di berbagai forum diskusi ;).

Kalau di Saudi ya memang wajibnya pakai hitam-hitam. Pakai motif kembang-kembang jelas akan menjadi pusat perhatian. Sebaliknya di INdonesia, siang bolong nunggu angkot di tengah jalan pakai baju hitam-hitam apa tidak menjadi perhatian orang banyak? Hehehe. Di Kuala Lumpur pun, perempuannya masih banyak berbaju kurung dengan motif ramai. Di sana tidak jadi pusat perhatian tuh ^_^. Jadi, definisi ‘menarik perhatian’ ini juga sangat tergantung budaya setempat ;).

Tapi saya tetap menyimpan satu abaya arab sebagai kenang-kenangan sebagai mantan mukimin Jeddah :D.

Abaya Arab
Cover Bunda of Arabia

 

pantai di arab saudi

Kehidupan Orang Arab : “Ngabuburit” ala Orang Arab

Kehidupan Orang Arab : Beberapa kali saya melewatkan bulan ramadan di Negeri Gurun. Tepatnya di kota Jeddah, Arab Saudi. Tentu banyak penyesuaian yang perlu dilakukan.

Ah, saat-saat ramadan dan hari raya, rasa kangen untuk kerabat tercinta di Indonesia pastilah sedang sengit-sengitnya. Untung di Jeddah pun banyak teman-teman baru yang tak kalah serunya.

Dulu saya membayangkan seperti apa, ya, orang-orang Arab menjalani bulan penuh berkah ini? Pastilah lebih ekstrim daripada kita di tanah air. Saya pikir mal-mal pasti ditutup penuh saat bulan puasa. Jangan ditanya ada berapa mal di salah satu kota besar negara Saudi ini. Banyak banget dan besar-besar pula.

Kehidupan orang arab fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Di tahun pertama merasakan ramadan di sini, saya heran dengan tetangga depan apartemen saya. Mereka sekeluarga juga dari Indonesia. Sekitar jam sepuluh malam, mereka selalu keluar rumah. Saya tahu, karena selain jarak antar pintu apartemen kami cuma 4-5 meter saja, anaknya ada 3 orang dan mereka cukup bising.

Ini bukan cuma beberapa kali. Namun, hampir tiap hari. Saya tidak tahu jam berapa mereka pulang. Tapi saya bingung, kemana mereka jam segitu, ya? Di Indonesia, saat ramadan tiba, toko-toko malah tutup lebih cepat, bukan? Tidak enak mau bertanya-tanya langsung kepada mereka.

Tapi di Jeddah memang berbeda. Pagi hari nampak bagai kota mati di bulan ramadan. Nyaris tidak ada aktivitas apa-apa. Hanya orang kantoran mungkin yang tampak lalu lalang di jalan raya. Toko-toko kelontong tutup semua. Semua gerai dalam mal tutup. Kecuali tempat-tempat seperti : Hyperpanda, Danube, dan Bin Dawood. Ketiga tempat itu semacam swalayan besar yang umum dikenal di sana.

Semua anak sekolah wajib libur. Dan suasana senyap ini berlangsung hingga waktu ashar tiba. Barulah, setelah ashar, beberapa gerai dalam mal ada yang buka. Tapi tidak semuanya, lho. Tempat makan juga sudah mulai dibuka. Selepas magrib, mereka semua serempak tutup lagi. Sehabis isya, barulah kehidupan dimulai!

Biarpun begitu, aktivitas rutin saya tetap seperti biasa. Tetap tidur paling lambat jam sebelas malam. Tapi suatu hari jadwal belanja bulanan menghampiri. Suami mengajak keluar selepas isya saja. Bukan main suasana jalan raya saat itu. Nyaris macet dimana-mana. Seolah semua orang tumpah ruah di jalan.

Kami parkir seperti biasa dan masuk ke dalam mal. Jeng…jeeeeng…ramainya minta ampun! Saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Luar biasa antrian di kasir Hyperpanda. Itu bukan akhir pekan, lho. Pukul satu pagi, barulah acara belanja itu selesai. Dan suasana dalam mal masih penuh hiruk pikuk. Bisa dibilang semua gerai tidak ada yang tutup, termasuk food courtnya.

Kehidupan orang arab di Corniche Road, Jeddah
Corniche Road, Jeddah

Barulah saya mengerti ke mana tetangga saya menghabiskan waktu malamnya. Konon itu berlangsung hingga waktu subuh tiba. Bila subuh berakhir, semua toko akan tutup seperti biasa, dan pelan-pelan ‘pesta’ pun berakhir.

Inilah yang dimaksud istilah teman saya, “Kalau ramadan di Saudi, siang jadi malam, malam jadi siang.” Pantas saja pagi hingga sore hari di bulan puasa, nyaris tak ada aktivitas di luar rumah. Kalau kata suami saya, “Mereka ngabuburitnya abis isya, nunggu sahur.” Beda dengan kita, ngabuburitnya menjelang jadwal berbuka.

Rasanya aneh juga. Saya tak terbiasa menghabiskan waktu puasa di siang hari dengan berdiam diri di rumah. Main ke rumah teman lain juga nyaris tak mungkin. Sebagian besar teman saya sudah mengikuti ‘pola’ hidup seperti ini jika ramadan tiba. Tapi susah juga mau jalan-jalan karena toko dan pasar tidak ada yang buka hingga malam menjelang nanti.

Sisi positif tinggal dekat dari tanah suci saat bulan puasa menjelang, kita bisa melaksanakan umrah ramadan. Duh, jangan ditanya ramainya oarng-orang mengerumuni Ka’bah dan Masjidil Haram di bulan ramadan. Ingat, ramadan tidak seperti waktu haji. Jika haji ada pembatasan jumlah jemaah. Untuk umrah ramadan…tidak ada batasan sama sekali. Paling ramai sehabis ashar hingga waktu subuh. Subuh berakhir, berangsur-angsur agak longgar biarpun tetap ramai. Tapi tak banyak orang memilih melakukan ritual umrah di siang hari.

Meskipun keadaannya sangat berbeda, saya lama-lama menikmati menghabiskan puasa di kota yang berjarak 70 km dari kota Mekkah ini. Memang, rasa rindu pada keluarga tak kunjung habis. Walau saya bingung kenapa di sini orang-orang kok malah kelayapan tengah malam saat bulan puasa, ya?

Mau tak mau sesekali kami pun harus ikut ngabuburit ala mereka. Kelayapan tengah malam demi anak-anak. Kasihan karena mereka tidak ada hiburan.

Aduh, sering merasa ibadah puasa malah tidak khusyuk. Bagaimana mau menikmati bulan penuh berkah ini?

Tapi akhirnya saya menyadari beberapa hal. Ngabuburitnya boleh beda, tapi ibadah puasanya bukan hak kita, sesama manusia, untuk menilai.

Makna puasa itu kan ibadah kepada Allah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya dimana saja, apa pun suasananya. Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar. Selamat menjalankan ibadah puasa dimana pun Anda berada.

***

People We Haven’t Met Yet (1)

“Gak mau ah nunggu di gereja…”

“Ayooooo… disuruhnya tunggu disitu!” Adik saya sudah menarik-narik tangan saya.

Akhirnya kami berdua menunggu jemputan di sebuah gereja (yang belakangan saya ketahui sebagai gereja katolik karena memasang patung Bunda Maria dimana-mana). Gereja yang berdiri megah ini terletak di ujung jalan yang sama dengan sekolah saya, Sekolah Islam Athirah.

Gedung sekolah Athirah Makassar 2011 (gambar referensi.data.kemdikbud.go.id)
Gedung sekolah Athirah Makassar 2011 (gambar referensi.data.kemdikbud.go.id)

Kalau tidak salah, jalanan sekolah kami satu arah. Jadi untuk memudahkan, penjemput kami, yang biasanya menggunakan motor vespa, kami menunggu di persimpangan. Y,a di gereja itu.

Ternyata teman saya banyak yang menunggu di sana. Teman dekat pula. Mereka tinggal di kompleks dosen UNHAS. Dan berbagi mobil jemputan dengan anak kompleks lain yang bersekolah di sekitar jalan Kajaolalido itu.

Sembari menunggu, ada pula anak-anak sekolah dari Frater (sekolah kristen). Tapi anak-anak sekolah ini juga banyak yang muslim. Atau dari sekolah Nusantara, sekolah swasta yang juga dimiliki oleh yayasan Kristen.

Aduh, rasanya aneh sekali. Saya, yang bertahun-tahun sekolah di sekolah Islam tak biasa bercengkrama dengan anak-anak bermata sipit dari Frater. Atau anak-anak dengan wajah yang cukup ‘khas’ yang dikenal sebagai etnis Toraja, wilayah yang didominasi pemeluk Protestan.

Tapi entah kenapa, “menunggu di gereja” menjadi hal yang rutin. Penjemput merasa itu adalah jalur tercepat. Ya sudah, biarp canggung, lama-lama terbiasa sendiri.

Karena dasarnya kepo, begitu rasa kikuk tak lagi tersisa, mulai deh gatal ingin melihat seperti apa sih kawasan dalam gedung gereja?

Adik saya selalu menolak kalau diajak masuk. Dia lebih suka melepas sepatu, berlari-lari seperti orang gila di halaman gereja hihihi :p. Atau bermain pasir di sebuah bundaran tengah halaman. Gak penting amat sih kegiatan lu, Buntel? hahaha.

Biarpun penakut, rasa penasaran menyeret saya memasuki pintu gerbang gedung gereja di bagian samping yang saat itu entah kenapa terbuka lebar. Biasanya terkunci.

Gereja Katedral Makassar , Kajaolalido (gambar : kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Gereja Katedral Makassar , Kajaolalido (gambar : kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Halaman samping gereja berupa taman yang rapi. Di tengah taman, ada semacam kolam kecil yang di tengahnya ada patung Bunda Maria. Ada kamar-kamar di ujung taman. Pas pengin menyelinap masuk, ada beberapa biarawati yang memergoki. Duh, rasanya ingin kencing :P.

Mereka pasti mengenali saya. Seragam sekolah kami cukup unik. Waktu SD, saya tak pernah mengenakan seragam putih merah. Tapi seringnya seragam kotak-kotak hijau dengan rok hijau pastel yang menurut saya seragam yang paling keren :D.

Tak berpikir panjang, lari terbirit-birit keluar. Hahaha.

Sampai akhirnya, ijazah SD sudah distempel dan saatnya memulai dunia ABG jadi anak SMP :D.

Sebenarnya ingin sekali melanjutkan di sekolah yang sama, secara kecengan SD semuanya kembali bersekolah di sana. Mulia sekali alasannya, Kakaaaa, hahaha. Tapi 2 hari setelah Ebtanas SD, Bapak meninggal tiba-tiba. Jadi tahu diri saja deh, NEM nya cukup untuk masuk sekolah negeri yang kala itu masih sangat-sangat murah :P. Dipilihlah SMP negeri yang merupakan SMP terbaik (katanya) sepropinsi.

***

Menginjak bangku SMP lain lagi ceritanya. Biarpun waktu SD, akhirnya terbiasa menunggu bersama dengan anak sekolah lain (yang sipit, dll itu :P), tetap saja canggung ketika harus berbagi kelas yang sama.

Waktu SD, teman saya juga ada yang sipit. Tapi ketika azan dzuhur tiba, dia juga duduk bersama kami mengenakan kerudung dalam mushalla sekolah. Delapan tahun penuh saya sebelumnya bersekolah di lingkungan Islam. Semuanya muslim. Dari guru hingga teman-teman. Di lingkungan tempat tinggal pun, anak perempuan di rumah saya tak bebas bermain keluar rumah. Sementara kakak saya yang laki-laki semua boleh kelayapan kemana suka. Itu aturan dari Bapak :D.

SMPN 6 Makassar (gambar : referensi.data.kemdikbud.go.id)
SMPN 6 Makassar (gambar : referensi.data.kemdikbud.go.id)

Jadinya aneh juga, sepanjang hari harus bertemu mereka. Mengobrol bersama mereka. Bahkan mereka latihan paduan suara untuk gereja di sebuah kelas terbuka saat jam istirahat tiba. Entah kenapa, awalnya ada rasa enggan. Tak terbiasa. Dada saya berdebar-debar tidak jelas kalau mendengar paduan suara seperti ini. Sebal saja rasanya.

Jujur saja, 3 tahun di bangku SMP, saya tak pernah dekat dengan teman-teman non muslim. Sekedar kenal dan saling menyapa. Hingga lulus, saya gagal menepis ‘rasa canggung’ saya terhadap mereka. Kelas saya hampir 100% beragama Islam. Ada 2 kelas lain yang didominasi agama lain, meskipun muridnya pasti ada yang muslim.

Ngapain, pikir saya. Teman muslim banyak, kok :D. Bahkan pernah terbersit rasa tidak suka ketika salah seorang teman dekat bercerita kalau dia naksir dengan X. Dimana X ini seorang penganut Protestan.

Pantai Losari, Makassar (gambar : bukuwisata.com)
Pantai Losari, Makassar (gambar : bukuwisata.com)

Kelas 2 SMP, apa kelas 3 ya, ada anak baru di kelas kami. Agamanya protestan. Anaknya ceria dan jadinya banyak yang dekat dengannya. Bahkan saya dan beberapa teman dekat membuat acara bazaar yang melibatkannya. Duh, jujur saja, saat itu saya ingin mundur saja karena ada dia. Tapi saya takut dan malu karena apa dong alasannya?

Jadilah dengan setengah hati tetap ikut. Bahkan, kami pernah main ke rumahnya, lho. Susah payah saya menepis ketidaksukaan saya. Berusahan bersikap senormal mungkin, padahal waktu di rumahnya, otak saya dipenuhi pikiran aneh-aneh, “duh, ntar kita dikasih babi gak, ya?” Tolol to the max, ya, saya. Hahaha.

Bangku SMA lah yang akhirnya ‘membobol’ sedikit-sedikit rasa ‘aneh’ tidak jelas itu :P. Yang belakangan saya sadari, dulu pun saya ternyata mengidap xenophobia yang tidak ringan. Hehehehe.

Baca : People We Haven’t Met Yet (2) 

 

Wisata di London : Upacara Changing Guard di Buckingham

Tempat wisata di London itu macam-macam banget selain mejeng di samping box telepon warna merah macam embak-embak norak ini … (hahaha)

london box telepeon tempat wisata london wisata di london

…belum sah ritual jalan-jalan di London kalau belum melihat upacara pergantian pengawal di Istana Buckingham :D. Changing Guard Ceremony, yang dilaksanakan tiap hari sekitar jam 11 an tiap pagi.  Umumnya sih pasti ada tiap hari. Apalagi musim panas. Kalau hujannya lumayan biasanya dibatalkan.

Pembatalan  mendadak karena cuaca buruk kami alami pas ke London tahun lalu. Iya sih sudah masuk Spring, tapi cuaca UK kan mirip-mirip Irlandia. Hujannya enggak pandang musim. Padahal sudah lari-lari lho itu keluar dari stasiun tube menuju Buckingham.

Memang agak telat. Begitu nyampe, sudah ramai banget. Dapat tempatnya juga sudah enggak jelas. Eh, tahu-tahu diumumkan kalau hari itu upacara changing guard Buckingham dibatalkan. Huhuhu.

Ada hikmahnya juga. Berarti besok harus berangkat lebih awal biar bisa dapat spot yang bagus buat eksis dan foto-foto hihihi :p. Nah, setelah kepo-kepo di Google katanya ada 3 tempat berdiri yang ‘oke’ jika ingin optimal menyaksikan iring-iringan pasukan berseragam khas merah ini saat datang :

1. Di area Victoria Monument

2. Di rel pembatas depan bangunan Buckingham Palace

3. Di Spur Road, tempat rombongan serdadu baju  merah topi hitam tinggi berbulu ini datang menuju istana.

Besoknya, cuaca cerah. Memang, moody banget deh cuaca di UK/Irlandia itu :D. Kami datang lebih awal. Dan sukses mengamankan posisi di area Victoria Monument, tepat depan Istana Buckingham ^_^.

Victoria Monument Buckingham Palace
Victoria Monument

Walau diadakan tiap hari, terlihat betul hegemoni London sebagai salah satu kota turis utama di dunia. Tempat wisata di London kan rupa-rupa, ya. Upacara Changing Guard di Buckingham ini selaluuu saja dirubung turis. Sejak jam 9 an pagi, orang-orang sudah ngumpul di depan Buckingham.

Buckingham Palace London wisata di london
Kerumunan orang menunggu dimulainya Upacara Changing Guard di Buckingham – London

Kami lumayan awal datangnya. Jadi bisa foto-foto dulu hihihi. Penginnya sih jangan terlalu pecicilan biar tempatnya enggak diambil orang. Tapi dasar anak-anak yaaaa, zzzzz -_-. Pelataran Victoria Monument kan lumayan luas, tuh. Tentu saja mereka lari-larian ke sana kemari.

Sempat ketemu dengan keluarga Asia gitu. Pakai jilbab juga emaknya. Saya sih sudah feeling banget ini pasti orang Malaysia :D. Emang iya hehe. Awalnya sering geer kalau ketemu mamak-mamak pakai jilbab dengan tampang Melayu. Disangka turis Indonesia. Tapi suami yang sering ngingetin, “Itu orang Malaysia kaleeeeee…”

Ya enggak apa-apa dong, ya. Anggap saja doa :D. Semoga beneran nanti turis Indonesia bisa mengimbangi turis asal Malaysia ^_^. Aamiin.

Malaysia, selain kekuatan ekonominya secara umum memang jauh di atas Indonesia, juga diuntungkan dengan aturan bebas visa untuk masuk Inggris dan seluruh wilayah Schengen. Republik Irlandia juga. Tidak semata-mata karena mereka masuk dalam negara persemakmuran. Soalnya India juga termasuk persemakmuran, nasib paspornya 11-12 tuh sama Indonesia hihihi :p.

Victoria Monument London
Tampak samping Victoria Monument

Ya, makanya, mari mencoba mengambil hikmah apa kira-kira yang bisa kita pelajari dari majunya Sang Negeri Jiran. Bukannya malah nyinyir-nyinyiran ;).

Aish, malah ceramah si embak hahaha. Yuk ah, balik ke upacara Changing Guard Buckingham lagi.

Walau lokasi-lokasi strategis sudah diserbu pengunjung sejak pagi, acaranya mulai sekitar jam 11 an. Sebelumnya, ada beberapa polisi penjaga yang datang pakai kuda. Ada aja gitu yang tepuk tangan hahaha. Disangka mereka bagian dari prosesi upacara Changing Guardnya :p. Padahal cuma polisi biasa sih kayaknya.

Polisi penjaga berkuda
Polisi penjaga berkuda

Enggak lama, jalanan ‘dibersihkan’, suasana mulai hening. Padahal rasanya enggak ada aba-aba apa-apa. Sibuk foto-foto kali ya eike jadi enggak ngeh hahahaha :p.

Tak lama, suara musik marching band kedengeran. Huaaaaa … mantan anak marching band langsung sok-sok-an nostalgia :D. Laki-laki berbaris rapi dari kejauhan, berjalan teratur diiringi dentuman lagu-lagu mars. Baju merah, celana hitam, topi hitam berbulu, pertanda bahwa benar … pasukan tersebut berasal dari Inggris!

Seragam merah-hitam ini  kan trademark-nya Inggris banget ^_^. Yayyyy, sudah sah jalan-jalan  Londonnya hahahaha *tepukTangan*.

Suara marching band benar-benar mengingatkan saya pada perhelatan Parade Senja di Istana Negara setiap bulan tanggal 17 dulu. Sekarang masih ada enggak, ya? Parade Senja juga rutin diadakan di level Kantor Gubernur.

Rundown Upacara Changing Guard di Buckingham jauh lebih sederhana daripada Parade Senja di istana. Satu regu pasukan datang dengan iringan marching band. Lalu pintu gerbang istana dibuka. Mereka masuk. Di dalam ada seremoni kecil-kecilan semacam serah terima tugas. Satu regu yang bertugas sebelumnya pun berbaris keluar. Sudah gitu doang :D.

drum band
Iringan Marching Band
Pintu gerbang istana terbuka
Pintu gerbang istana terbuka

Tapi packagingnya kali ya yang menarik. Dan juga nama besar “LONDON” dan UK sebagai tempat wisata bergengsi di dunia :D. Semacam kalau sudah di London tuh pengin teriak, “Maaaakkk, aku di London! Aku di London!” sambil sujud syukur –> lo doang kaleeeeee hahahaha.

pasukan depan istana tempat wisata di london

Marketing dan packaging. Sementara Indonesia masalahnya masih berendeng sebelum memikirkan lebih jauh soal marketing pariwisata. Terus berbenah ya, Nusantara tercinta :).

Ah, dulu enggak foto-foto nih waktu ikut Parade Senja :D. Kan lumayan buat bahan nostalgia. Dulu aja udah segitu noraknya bisa masuk Istana Negara. Saya ikut Parade Senja via tim Gema Patra Makassar Marching Band, besutan Pertamina di kota saya :D. Kami tampil di halaman istana di sore hari tanggal 17 Februari 1994 silam. What a memory :).

Sebelum mellow enggak jelas, lanjut lagi info soal upacara Changing Guard di Buckingham ini.

Kalau mau ke sana, transportasinya bisa melalui berbagai jalur. Kami sendiri sih pastinya via tube stations, kereta bawah tanah di London.

1. Turun di Stasiun Victoria, bisa dijangkau melalui District Line, Circle Line atau Victoria Line.  Dari sini jalan kaki 10-15 menit.

2. Turun di stasiun Green Park, melalui Piccadilly Line, Victoria Line atau Jubilee Line. Jalan kakinya lebih dekat ini. Kurang dari 10 menit juga bisa.

3. Turun di Stasiun St James’s Park, melalui District Line atau Circle Line. Nah, kami lewat sini nih kemarin. Kayaknya juga jalan kaki normal tuh 10 menit. Cuma biasa yaaaaa, mata suka jelalatan lihat-lihat sana sini hihihihi.

serdadu berkuda wisata di london

Terus bisa juga lewati Stasiun Kereta. Beda lho ya antara tube sama definisi kereta di sini. Tube itu ukurannya lebih kecil dan jalurnya beda. Walau nama stasiun kadang sama dan lokasi deketan.

Via stasiun kereta, turun di London Victoria, jalan kaki sekitar 15-20 menit dari sini.

Melalui bus, bisa menaiki nomor-nomor berikut : 11 , 211 , 239 , C1 , C10. Berhentinya di halte Buckingham Palace Road.

Melalui mobil pribadi sangat tidak disarankan. Parkiran jelas susah dan pastinya…mahal! :D.

rel depan buckingham tempat wisata di london

Yang memorable dari acara jalan-jalan yang ini … sepatu anak saya yang nomor 2 … ilang melulu sebelahnya, zzzzz -_-. Beberapa hari sebelum ke Buckingham, sudah jatuh sebelah sepatunya di stasiun kereta di Harlow. Kita buru-buru mau naik, eh sebelah sepatu lepas sebelum dia naik.

Ribet kan, enggak ada sepatu. Sementara kadang juga dia harus jalan kaki di saat-saat tertentu. Untung ada Primark, idola mamak-mamak penggemar barang murah. Sungguh keajaiban memang kehadiran Primark di London yang termasuk kota mihil ini :p. Dibelikanlah sepatu baru, 2.5 pound saja sepasang *kibasDompet*.

Pas pulang dari Buckingham, kita menyusuri St.James’s Park buat ke Westminster Abbey, dia capek dan ketiduran di stroller. Enggak lama dicek, sepatunya ilang lagi sebelah. Onde mandeeeeee huhuhu. Jadi deh, hari itu juga, sehabis dari Westminster Abbey, kita ngibrit ke Primark lagi.

Cukup 2x saja ya Nak :D.

tempat wisata london istana buckingham

Lumayan mengganggu rute jalan-jalan kalau harus nyari-nyari toko Primark. Walaupun gerai Primark enggak terlalu susah ditemukan.

Oh well, namanya juga anak-anak. Untung bisa beli sepatu murmer hehe. Baiklah. Demikian liputan acara jalan-jalan di London edisi Buckingham kali ini :D.

Sebenarnya bisa juga lho masuk ke dalam istana pakai tur khusus gitu. Ongkosnya tapi malesin banget. Sekitar 150 pound per orang. Ngeri kan? Hahaha :p. Itu juga ada waktu-waktu khusus. Di musim panas doang deh kayaknya.

Enggak apa-apalah. Kita mah nyarinya memang yang gratis-gratis saja hihihihi :p. Walau enggak sempat sungkem sama Ibunda Ratu dan para sepupu di Buckingham, bolehlah numpang mengambil gambar diri di depan bangunan istana. Until we meet again, Buckingham ^_^. Numpang narsis di satu foto ini ya Kakaaaaaaa :p.

wisata di london istana buckingham