Politisasi ‘Pasal Karet’ Undang Undang Penistaan Agama, Ahok, dan The Majority Privilege

Undang undang penistaan agama :  Hampir penghujung Oktober 1998, Tabanan bergolak. Paruman (rapat) akbar digelar oleh pemuka adat, melibatkan ratusan umat Hindu setempat, menuntut Presiden Habibie memecat dan  mengadili salah satu pejabat pusat. Pejabat yang dituduh melakukan penistaan agama.

Salah satu perwakilan mereka, I Gusti Gde Putra Wirasana, mengingatkan pemerintah agar secepatnya mengambil langkah. Jika tak ada tindak lanjut, Wirasana mengancam akan terjadi demo yang lebih besar lagi, juga untuk tetap menjaga citra Bali sebagai kota wisata internasional.

Bali memanas, travel warning ke Bali sempat dikeluarkan bagi turis-turis asing karena maraknya aksi protes yang sambung menyambung.

bali-marah-saefuddin-exit

Sebelum Tabanan, Denpasar sudah lebih dahulu pecah. Disusul Bangli, Gianyar, Jembrana dan berbagai wilayah di Bali. Beberapa demo skala kecil juga terjadi di ibukota. Termasuk memberikan laporan pengaduan resmi atas penodaan agama ke Kapolri saat itu.

AM Saefuddin, Menteri Pangan dan Hortikultura era reformasi, yang saat itu juga digadang-gadang untuk maju sebagai salah satu capres dari PPP jelang Pilpres 1999 membuat pernyataan kontroversial, “Mega pernah sembahyang ke Pura. Saya salat di Masjid. Dia kan agamanya Hindu. Saya Islam. Relakah rakyat Indonesia presidennya beragama Hindu.”

Ucapan AM Saefuddin  membakar amarah umat Hindu di tanah air.

Kalau Ahok perlu Buni Yani untuk memotong video penyuluhannya di Pulau Seribu yang aslinya berdurasi lebih dari satu jam menjadi 3 menit saja, maka pernyataan AM Saefuddin dilontarkannya dalam sebuah wawancara langsung yang dimuat di beberapa media cetak nasional : Republika – Suara Indonesia – Merdeka, pada tanggal 15 Oktober 1998.

Dari ancaman menutup bandara sampai ada gerakan menyarankan untuk melakukan Puputan. Puputan, semacam ritual bunuh diri ketimbang harus menyerah kepada musuh. Terus membesar menjadi ancaman disintegrasi, melepaskan Bali dari kekuasaan Republik Indonesia.

AM Saefuddin telah meminta maaf. Malah, permintaan maaf pun diulangi sampai dua kali.  Tetap tak menurunkan ketegangan umat Hindu di berbagai wilayah, utamanya di Bali.

Banyak pihak menyayangkan peristiwa ini dan menuding ucapan AM Saefuddin telah dipolitisasi oleh “lawan politik”nya demi menjegal kesempatan AM Saefuddin menjadi capres pada Pilpres yang sudah di depan  mata.

AM Saefuddin tergolong pejabat “bersih” termasuk dari virus korupsi.  Beliau adalah tokoh akademis yang mengabdikan lebih dari 30 tahun hidupnya di kampus IPB.  Tahun 1983 – 1986, beliau menjadi rektor Universitas Ibnu Khaldun. Satu lagi tempatnya mengabdikan ilmu, Universitas Djuanda (Bogor).

Tetap saja, sebagai pejabat publik, AM Saefuddin dinilai tidak pantas merendahkan agama lain dalam kapasitasnya sebagai pelayan rakyat.

Bagaimana akhirnya?

Presiden Habibie bergeming. Tak ada pengadilan sama sekali. Tak ada reaksi dari kepolisian. Kasusnya tidak pernah ditingkatkan ke penyelidikan. Selesai begitu saja. Demo berangsur-angsur mereda dengan sendirinya.

AM Saefuddin tidak dicopot dari jabatannya. Masalah pun berlalu dengan sendirinya. Meski partai tempatnya bernaung urung menampilkan namanya sebagai salah satu kandidat capres.

Tanggal 20 Oktober 2009, Undang Undang Penistaan Agama diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) guna diuji konstitusionalitasnya. Salah satu argumen dari pihak yang ingin menghapus/menolak UU Penodaan Agama adalah ketentuannya yang dinilai sangat tidak jelas dan ambigu.

Tidak  jelas/ambigu yang  bisa diistilahkan dengan “Pasal Karet”.

Gambar : farrukhsaif.com
Gambar : farrukhsaif.com

Indonesia, Punya Siapa?

Pernyataan bahwa Undang Undang Penistaan agama bisa melindungi tiap umat untuk menjalankan ibadah masing-masing mungkin cukup tepat. Tapi bagaimana jika dalam “menjalankan ibadah” ini ternyata berbenturan dengan UUD negara kita?

Soal pemilihan pemimpin misalnya. Kembali ke kasus AM Saefuddin, ada pemuka agama Islam yang  mengatakan bahwa ajaran Islam melarang pemimpin non muslim. Mengundang pertanyaan lanjutan, “Tidak bisakah umat selain Islam menjadi pemimpin di Indonesia?”

Secara khusus di kasus 1998, “Tidak bolehkah umat Hindu dipilih sebagai pemimpin?”

Pernyataan Ahok di Pulau Seribu,

” … ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya tidak terpilih pun bapak ibu, saya berhentinya oktober 2017. jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik pun, bapak ibu masih sempat panen sama saya. sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. jadi saya ingin ceritanya bapak ibu semangat. jadi gak usah pikiran, ah, nanti kalo gak kepilih, pasti, Ahok programnya bubar. gak, saya sampai oktober 2017.

jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa. karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. program ini jalan saja. ya jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak, dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok. gak suka ama Ahok. tapi programnya, gue kalo terima, gue gak enak dong ama dia, gue utang budi. jangan.”

Terlepas dari apakah Ahok telah salah atau tidak dengan membuat pernyataan di atas (yang berwarna merah), kita tidak boleh melepaskan satu hal. Bahwa pernyataan ini adalah reaksinya dari “serangan larangan memimpin muslim” yang beredar luas di masyarakat.

Misalnya, suami saya menerima pesan berantai yang isi beritanya menjelaskan tentang adanya keinginan kaum Kristen tanah air untuk menghancurkan Islam dsb dsb (yang tentu saja hoax) dengan diakhiri anjuran jangan memilih pemimpin yang beragama Kristen disertai Al Maidah ayat 51.

Reaksi Ahok menurut saya jelas. Yang ditujunya adalah “orang tertentu” (lihat warna biru) yang menggunakan ayat ini dalam pesan-pesan yang berisi kebohongan untuk kepentingan politik jelang Pilkada 2017. Tapi tetap saja, ucapannya dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik jelas tidak sesuai etiket.

Ada alibi bahwa pernyataan “non muslim tidak boleh menjadi pemimpin” vs “umat muslim tidak boleh memilih pemimpin non muslim” adalah 2  hal yang berbeda. Faktanya, kaum muslim adalah kalangan mayoritas di tanah air. Menyimpulkan bahwa kedua hal ini tidak berhubungan sepertinya janggal.

Bisakah pemerintah menjembatani hal ini?

Berbeda dengan AM Saefuddin yang masih dalam “tahap penjajakan” menuju Pilpres 1999, Ahok sebagai petahana memiliki elektabilitas cukup tinggi menuju Pilkada 2017. Apakah  mungkin kita menutup mata menganggap demo-demo masif atas nama penodaan agama ini sama sekali bebas dari kepentingan politik?

undang undang penistaan agama
Gambar : temanahok.com

Perbandingan dengan Kasus Lain

Banyak yang menjadikan contoh kasus lain sebagai perbandingan. Misalnya seorang Ibu di Bali yang kasusnya sudah sampai ke status terpidana.

Kasus bermula saat Rusgiani lewat di depan rumah Ni Ketut Surati di Gang Tresna Asih, Jalan Puri Gadung II, Jimbaran, Badung, pada 25 Agustus 2012. Saat melintas, dia menyatakan canang di depan rumah Ni Ketut najis. Canang adalah tempat sesaji untuk upacara agama Hindu.

“Tuhan tidak bisa datang ke rumah ini karena canang itu jijik dan kotor,” kata Rusgiani seperti tertulis dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), 31 Oktober 2013.

Menurut Rusgiani, dia menyampaikan hal itu karena menurut keyakinannya yaitu agama Kristen, Tuhan tidak butuh persembahan. Rusgiani mengaku mengeluarkan pernyataan itu spontan dan disampaikan di hadapan tiga orang temannya.

Perhatikan pernyataannya. Sama sekali tidak bersayap. Menyebutkan dengan jelas obyek agama yang dituju/dihina sehingga bisa dijerat dengan Undang Undang Penistaan Agama.

Majority Privilege?

Membandingkan kasus AM Saefuddin di tahun 1998 jelang Pilpres 1999 VS kasus Ahok di tahun 2016 jelang Pilkada DKI 2017, bagaimana keduanya berlangsung dan berakhir?

Kalau dari segi pelaporan, desakan, demo yang melibatkan massa, keduanya sekilas tidak berbeda. Tapi respons pemerintah sangat berbeda. Perbedaan antara desakan yang terjadi dari umat Hindu 1998 vs umat Islam 2016 terlihat jelas dari SEGI KUANTITAS.

Jumlah pendemo Ahok jauh lebih besar dan terpusat di ibukota. Apakah hal ini yang membuat jajaran pemerintah, dalam hal ini Kapolri, melabrak Aturan Telegram Rahasia dalam Kasus Ahok?

Atau, apakah pemerintah sekarang tidak setegas pemerintahan Habibie dalam hal ini? Serta memilih untuk mengakomodir keinginan para penuntut dengan mengorbankan hukum? Ataukah karena penuntut berasal dari kalangan mayoritas sekaligus yang dituntut kebetulan adalah bagian dari masyarakat minoritas?

Semoga pemerintah tidak mengambil “jalan tengah” demi kestabilan politik semata. Karena sekali kita mengorbankan legitimasi hukum atas nama “persatuan bangsa dan negara”, siapa yang menjamin “mereka” atau kelompok lain tidak akan memanfaatkannya untuk tujuan yang lebih besar. Misalnya, menjatuhkan pemerintahan yang sah di tanah air?

Sedikit renungan menjelang sidang perdana Ahok minggu depan.

***

 

 

If A Picture Paints A Thousand Words

If a picture paints a thousand words
Then why can’t I paint you?
The words will never show
The you I’ve come to know

Sebait lirik pembuka dari lagu berjudul “IF”.

Lagu “If’ sebenarnya gombalan-gombalan klasik gitu-gitulah . Coba saja cari lirik lengkapnya via Google.

Tapi bagian “A picture paints a thousand words” adalah bagian penting untuk memahami mengapa setiap berita kudu banget atuhlah pakai foto-foto endebre-endebre walau HOAX sekali pun!

Gambar : forum.kompas.com
Gambar : forum.kompas.com

Yoih teman-teman, mau bahas hoaks lagi nih. Jangan capek yaaaaa. Harus rajin karena produsen hoax ini, makin ke sini makin giat aja kerjanya -___-.

Foto memang berefek cetaaaar. Seringnya, sebuah foto yang punya “pesan kuat” tanpa caption satu huruf pun sudah bisa menyulut respons bertubi-tubi. Respons yang kini bisa menjelma menjadi jumlah komentar + like + share.

Sialnya, yang begini-begini, di era digital yang makin berlari, bisa berkembang menjadi duit. Sementara ada yang memang dengan khusyuk mengetik amin plus share dengan niat “membela agama” apalah-apalah, si pembuat hoax cengar-cengir menikmati komentar + like + share yang mengalir deras.

Yang selalu ramai, misalnya kasus Rohingya. Ini bukan pertama kalinya Rohingya ramai. Sudah kesekian kalinya. Dan seberapa gencar pun kita melawan hoax, saya takjub foto-fotonya masih yang itu-itu juga yang dipakai.

Lebih takjub lagi, masih banyak (bahkan mungkin lebih banyak lagi) yang tersulut. Jangan disalahartikan bahwa saya dan teman-teman yang kayaknya reweeeeel banget urusan beginian hendak menafikan masalah Rohingya.

Tapi gencar dan viralnya foto-foto tipu muslihat nan “busuk” itu yang justru memancing amarah yang salah arah!

Coba yaaaaa, sekumpulan biksu yang lagi bantuin korban bencana alam di mana, masa ujug-ujug dibilang “membantai” kaum muslim. Waduh, terbayang enggak tuh beratnya fitnah yang kalian share, teman-teman .

Versi lokal tidak kalah serunya. Beberapa bulan lalu ada foto nenek-nenek yang sudah sangat berumur dan badannya kurus banget lagi duduk di samping jualan sayurnya. Penampakan nenek sangat memprihatinkan.

Diunggahlah foto itu, mungkin oleh orang yang kebetulan lewat dan melihat si Nenek kok ya nelangsa banget duduknya sambil jualan pula. Foto pun viral dengan caption yang tidak kalah ngeheknya, “Ke mana pemerintah kita?”

Ada kenalan si keluarga Nenek yang mengenali foto itu dan melaporkan ke keluarganya. Ternyata si Nenek sama sekali bukan orang yang tidak mampu. Beliau punya anak dan menantu tapi memilih tinggal di rumah sendiri. Rumahnya juga bukan rumah biasa-biasa. Lumayan banget kondisinya secara ekonomi.

Itu anak dan menantunya sampai sebal banget dan meminta foto tersebut tidak disebarkan lagi. Para kerabat dekat yang mengenal baik keluarga ini juga ikut memberikan klarifikasi.

Keluarga baik-baik kalian ganggu ketenangannya walau pakai alasan, “Kan tidak tahu. Kirain anu.” Ya makanya jangan asal shareeeeeee *gemes*.

Hoax urusan politik lokal ya apalagi zzzzz -_-.  Dah kehabisan kata-kata, deh.

Balik lagi ke hoax isu internesyenel tapi citarasa lokal.

Familiar tidak dengan foto demo di Big Ben-London. Sebuah foto yang memotret Big Ben dari ketinggian di mana jalanan yang berada di sisi kanan Big Ben penuh oleh lautan manusia.

Foto tersebut adalah foto protes massa di tahun 2003 atas serangan terhadap Irak. Jumlah orang yang berdemo di sekitaran Big Ben saat itu diperkirakan lebih dari 10 juta orang!

london-protests-iraqi-war

Foto demo Big Ben yang epik ini sekaligus mementahkan hoax si Abang Horas yang menuduh dunia tidak pernah peduli dengan kejadian/perang/penderitaan yang terjadi di negara mayoritas muslim. Sudah pernah saya tulis ya di sini –> “Katanya, Dunia Tidak Peduli?” 

Foto tersebut lagi-lagi dipakai sebagai hoax juga dengan tuduhan yang berkebalikan. Katanya, “Terjadi demo besar-besaran protes penyerangan Perancis terhadap Suriah tapi media bungkam!”

Yoih, menuduhnya suka-suka mereka saja. Kadang media-media mainstream yang dituduh bungkam. Kadang masyarakatnya yang dituduh tidak punya empati. Suka enggak sinkron emang *ngelapKeringat*.

Yang bikin saya takjub. Foto hoax demo Big Ben ini malah muncul di timeline teman-teman saya dari golongan “anak sekolahan”. Yang tingkat pendidikannya satu atau dua level di atas saya. Terkenal cerdas pula secara akademis.

Itulah yang bikin saya makin keliyengan. Betapa memang hoax ini tidak kenal SARAP (suku agama ras dan IPK hahahaha). Emosi kita yang dipermainkannya .

Kita kan suka bertanya-tanya ya, “Ya udah sih, kalau tidak ketemu foto beneran atau sudah tahu fotonya hoax, mbok ya share info atau berita apa adanya saja. Gak usah pakai foto-fotoan.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ilustrasinya mungkin begini.

Kita pasang berita, “Ada penganiayaan terhadap etnis minoritas Rohingya di Myanmar.” Rohingnya siapa sih? Minimal dari sini orang akan googling dulu lah. Yang tidak punya banyak waktu dan tidak terpancing ya lewat saja.

Kurang efeknya. Diubah dikit, “Ada penganiayaan terhadap umat muslim oleh umat Budha di Myanmar.” Ini sudah mulai bergejolak. “Wah, umat muslim ditindas!!!!” Mulai dah kalap .

Tapi tentunya sekadar barisan kata-kata masih memancing tanya untuk beberapa yang kadar emosinya masih lebih “stabil”, “Dianiaya macam apa sih? Korbannya berapa dan bagaimana kondisinya?”

Kalau mereka memang kepo ya mulailah mereka mencari-cari beritanya. Yang “pemalas” mah ya langsung lewat saja ogah mencari tahu .

Makanyaaaaaa, beritanya harus mampu membakar amarah dalam hitungan detik. Tanpa perlu googling, tanpa perlu banyak tanya-tanya. Apalagi ini era serba instan. Orang mah maunya serba cepat saji. Termasuk berita.

Gimana caranya memengaruhi orang dengan caption seadanya tapi yang melihat bisa langsung murka sambil memaki di kolom komentar plus pencet tombol share sambil memengaruhi orang lain di timelinenya untuk juga marah-marah?

YA PAKAI FOTOOOOOOOOOO!

Foto mah, digoogling sebentar juga dapat. Resize kalau perlu biar gampang diupload. Kasih kata-kata seadanya. Satu kalimat juga cukup. Malah ada yang cuma ditambahi satu kata, “Lawan!”

Paham kan sekarang makna, “A picture paints a thousand words” .

Homeless-charity topnews dot ae

Kabar baiknya, foto gampang didapatkan maka sebaliknya gampang pula ditelusuri jejaknya. Salah satu cara tercepat adalah dengan melakukan “drag and drop” terhadap foto tersebut ke dalam kolom pencarian di situs “Google Images”.

Mesin pencari Google makin ke sini sudah makin canggih. Kalau pun tidak ketemu foto yang persis, akan keluar foto-foto sejenis yang bisa dikenali dari latar dan kesamaan “suasana” dll.

Hasil pencarian juga akan memberikan kita informasi di mana foto aslinya dimuat dan terkait peristiwa apa. Hati-hati kadang situs hoaxnya keluar duluan hahahaha. Pokoknya susuri dengan teliti.

Efek dari sharing hoax ini tidak kecil. Iya sih, kalian bisa saja berpikir kalau salah kan tinggal hapus. Masalahnya, kita tidak pernah tahu ke mana berita tersebut akan bermuara. Sekali dishare di media sosial yang berbasis internet, viralnya akan susah dikontrol .

Ada fakta nyata bahwa bad news akan menyebar jauuuuuh lebih cepat daripada good news. Tidak heran, klarifikasi biasaya kalah tenar dibanding hoaxnya .

Sanggup kalian lacak satu-satu orang yang sudah terpengaruh oleh kebencian yang kalian share? Memang bisa berlindung di balik alasan macam-macam. Alasan agama lah yang paling klasik .

Tapi apa mungkin kita memimpikan kebaikan atas dasar kebencian? Bisakah kita mendirikan bangunan yang kuat dari batu bata murahan, semen yang sudah dimanipulasi bahannya dengan air, bahkan cor-corannya sudah diganti dengan gelas aqua plastik?

Kalian pasti tahulah jawabannya .

***

Tragedi Farkhunda, Antara Agama -Misogini – dan Politik

“Allahu Akbar!” Pekikan ini terdengar saat iring-iringan manusia mengantarkan jenazah Farkhunda ke tempat peristirahatan terakhir.

Ironisnya, pekikan yang sama, “Allahu Akbar” juga digunakan oleh para pelaku saat membunuh Farkhunda beramai-ramai di salah satu pusat kota Kabul, Afghanistan. Dimana dalam kasus ini, kata membantai mungkin lebih tepat.

Gambar : operationworld.org
Gambar : operationworld.org

 

Tanggal 19 Maret 2015, sebuah video amatiran yang direkam oleh banyak orang (ada yang mengklaim ratusan) tersebar viral di media sosial. Orang-orang yang menyebarkan video dengan bangga mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari “tim penyelamat agama” oleh seorang perempuan atheis bernama Farkhunda.

Farkhunda dituduh membakar alquran. Massa yang merubung, diklaim sekitar seribu laki-laki, (SERIBU LAKI-LAKI) yang dari usia abege sampai tua, secara spontan memukuli, menampar, menendang, menyeret tubuhnya dengan mobil sejauh ratusan meter, menaruhnya di tepi sungai, melempari batu hingga akhirnya membakar jasadnya.

Setelah insiden ini, orang tua Farkhunda mengakui kalau putri mereka mengidap gangguan jiwa. Belakangan klaim ini tidak benar. Keluarga Farkhunda dipaksa mengatakan soal penyakit jiwa agar mereka terhindar dari amuk massa. Bahkan orang tuanya sempat diminta meninggalkan kota Kabul untuk sementara waktu.

Gambar : thegrindstone.com
Gambar : thegrindstone.com

 

Sehari setelahnya, kaum ulama dan beberapa petinggi pemerintahan ikut mengecam Farkhunda dan “mendukung” pembantaian tersebut sebagai “tindakan membela agama”. Walau presiden menginstruksikan investigasi dan menolak klaim bersalah terhadap Farkhunda sebelum ada bukti.

Hasil investigasi menunjukkan Farkhunda tidak pernah membakar alquran. Tuduhannya palsu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Di depan sebuah masjid yang juga ramai dikunjungi orang karena berfungsi sebagai tempat wisata, suatu pagi di hari yang sama, Farkhunda menegur seorang laki-laki, Zainuddin, penjual cinderamata di depan masjid.

Farkhunda meminta Zainuddin menghentikan kegiatannya menjual benda-benda kecil yang berisi tulisan-tulisan alquran yang bisa dianggap sebagai jimat. Farkhunda menganggap hal tersebut sebagai bid’ah dan tidak sesuai tuntunan agama.

Zainuddin, bukan hanya penjual cinderamata tapi juga dikenal sebagai ulama lokal di sana. Sementara Farkhunda juga lulusan sebuah sekolah agama yang saat itu juga bekerja sebagai tenaga pengajar agama secara sukarela.

Saat berdebat, Zainuddin berteriak kepada orang-orang yang ramai lalu lalang di sana, “Hei, hei kemarilah. Perempuan ini membakar alquran.”

Tuduhan tersebut menyulut perhatian. Dari situ para lelaki mulai berdatangan dan berkerumun. Di sini, sudah banyak yang mulai merekam.

Farkhunda membantah tuduhan tersebut. Tuduhan juga melebar kepada tuduhan antek Amerika, mata-mata, dsb. Massa makin memanas. Hadehhh, enggak di mana-mana ya. Isu beginian selalu “laku dijual” :'(.

Farkhunda dihajar oleh banyak laki-laki sampai babak belur hingga jilbabnya terbuka dan wajah berlumuran darah. Permohonan ampun dan bantahannya sama sekali tidak ditanggapi. Orang makin ramai berteriak-teriak. Jangan nonton videonya kalau enggak kuat.

Polisi pun tidak sanggup menahan serbuan massa. Malah ada indikasi polisi diam saja saat massa makin membludak. Kalau lihat videonya mungkin benar jumlahnya bisa mencapai seribu orang. Seribu laki-laki membantai SATU PEREMPUAN karena tuduhan membakar alquran yang BELUM ADA BUKTINYA.

Watch your anger, gambar : pixabay.com
Watch your anger, gambar : pixabay.com

Polisi-polisi yang dianggap lalai saat kejadian hanya dihukum 1 tahun itu pun dibebaskan setelah beberapa bulan dengan jaminan bersyarat.

Saat pemakaman yang biasanya “terlarang” bagi wanita, jenazah Farkhunda digotong ramai-ramai oleh para perempuan saja. Laki-laki dilarang mendekat.

Ironisnya, para pelaku, massa laki-laki yang diamuk amarah ini bukan kalangan relijius yang biasanya tinggal di daerah-daerah terpencil atau di perbukitan. Mereka adalah orang-orang perkotaan Kabul yang hidup dan besar di daerah urban.

Lebih sadis lagi, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda ada yang berusaha menolong apalagi melerai. Malah ramai-ramai merekam!!! . Ya itu tadi, polisi saja tidak terlihat upaya maksimal untuk meredakan massa.

Polisi baru terlihat datang dan membubarkan massa saat jasad Farkhunda sudah dilalap api di tepi sungai. Telat ajeeeee .
Kalau nonton videonya di Youtube terus mantengin komentar-komentarnya, ya pasti isu agama menjadi sasaran empuk deh 🙁. Padahal isu agama dalam hal ini tidak berdiri sendiri. Toh, di berbagai belahan dunia lainjuga banyak negara konflik terlepas apa agama yang mayoritas di sana.

Walau kita juga tidak bisa melepaskan fakta bahwa urusan agama memang masih sering dijadikan “tameng politik” dari dulu sampai sekarang. Unfortunately, it worked very well. Makanya masih banyak yang suka “mencari celah” via ayat-ayat suci .

Tragedi Farkhunda salah satu dari banyak penguat betapa masih beratnya melepaskan Afghanistan dari trauma instabilitas politik bahkan sampai level perang Afghanistan selama beberapa dekade.

Di masa penguasaan komunis via Uni Soviet, ada beberapa peraturan yang melegakan misalnya pelarangan kawin paksa dan pengenalan hak politik bagi perempuan. Tapi korbannya tidak sedikit. Banyak sekali warga yang berseberangan ideologi yang terbunuh dan tertindas.

Dari sini, banyak pihak luar yang mencari kesempatan, misalnya hadirnya kalangan Mujahidin yang disponsori oleh lawan-lawan politik Sovyet untuk membebaskan Afghanistan dari komunisme. Usahanya berhasil. Tapi tidak membuat kondisi politik Afghanistan “adem”.

Perang Afghanistan (gambar ilustrasi saja)
Gambar : pixabay.com

 

Perang Afghanistan adalah perebutan kekuasaan yang terjadi diantara sesama golongan yang tadinya bersatu mengusir komunisme. Hingga akhirnya Taliban berkuasa sejak tahun 1995. Di era Taliban yang mengklaim dirinya sebagai “Moslem Estate”, represi terhadap kaum perempuan benar-benar “berjaya”.

Dari kewajiban menutup tubuh (benar-benar dari ujung rambut ke ujung kaki), batasan dalam menuntut pendidikan, kawin paksa/perkawinan di usia sangat muda, dsb :. Namun, tak sedikit kalangan Islam baik internal maupun di luar Afghanistan yang mengkritik hal ini sebagai “very wrong idea of Islam.”

Taliban mungkin sudah bisa “ditaklukkan”. Tapi efek kehidupan sosial budaya yang mengarah ke misoginisme -nya mungkin butuh satu atau lebih generasi lagi untuk perbaikan ke depan .

Puluhan orang ditangkap dalam insiden ini saat terbukti Farkhunda ‘bersih’. Sedihnya, beberapa bulan kemudian, hukuman mati yang dijatuhkan kepada beberapa orang malah dibatalkan diganti dengan hukuman 10-20 tahun penjara. Itu pun keputusannya berlangsung dalam ruang tertutup, tidak dibuka untuk publik .

Sebenarnya, tidak sedikit dana yang digelontorkan oleh banyak pihak untuk pemulihan kondisi di Afghanistan. Tapi korupsi yang merajalela makin melumpuhkan harapan perbaikan di sana. Penegakan hukum ya masih jauh dari sempurna .

Perlawanan terhadap kelompok Talliban dll masih berlangsung. Sambil melawan kelompok ekstrimis, perjuangan internal juga diwarnai dengan pemberantasan korupsi. Hingga kini, Afghanistan masih masuk dalam 5 besar negara paling korup di dunia.

Korupsi melumpuhkan kondisi ekonomi di sana. Kondisi ekonomi yang stagnan dan cenderung lemah punya andil besar dalam kondisi psikologis yang menjalar kepada budaya dan sosial masyarakat setempat. Apalagi ini negara yang puluhan tahun hidup dalam suasana perang.

Perbaikan tingkat pendidikan seharusnya bisa menjadi salah satu pemutus ketidakberdayaan masyarakat dalam banyak hal. Tapi kalau duitnya diembat sama pejabat ya bagaimana mau memulai semuanya?

Setidaknya Farkhunda memantik semangat perlawanan dari kalangan aktivis perempuan di Afghanistan dan semoga membuka mata masyarakat di sana untuk bersama memperjuangkan hidup ke arah lebih baik. Aamiin.

Farkhunda jauh di sana, itu juga kejadiannya sudah lebih dari setahun yang lalu. Tapi kita bisa memetik banyak pelajaran, ya. Tentang pentingnya stabilitas politik misalnya. Jangan kalian kira Afghanistan ujug-ujug kacau, ya. Itu banyak penyusupnya dari luar . Termasuk negara-negara besar yang berebut pengaruh.

Hal lainnya terkait…berita bohong. Duh, ini nih masih peer banget. Apalagi di tengah terjangan arus informasi yang super deras. Belajar berenang ya teman-teman, jangan sampai tenggelam karenanya .

Efek berita bohong yang berpotensi menyebar kebencian itu jangan disangka gitu-gitu doang. Selain berujung kepada pembantaian dan pembunuhan kepada satu orang (misalnya kasus Farkhunda), tidak sedikit perang besar di dunia yang salah satu pemantik utamanya adalah … rumor belaka 🙁.

Mobilisasi massa juga harus berhati-hati . Namanya keramaian, apalagi memang tujuannya mau menghujat dan penuh dengan cacian ya pasti potensi bikin orang kejang-kejangnya tinggi.

Salah satu pelaku yang tertangkap karena kelihatan di video di kasus Farkhunda adalah Yaqoob. Usianya masih 16 tahun. Dia bukan anak nakal bahkan sedari kecil rajin bekerja dan sangat melindungi adik-adik perempuannya.

Perang afghanistan
Gambar : pixabay.com

 

Ujug-ujug dia ikut ke dalam keramaian hanya karena mendengar seribu orang berteriak-teriak dan memukuli satu orang perempuan. Yaqoob terlihat melemparkan batu berukuran besar ke tubuh Farkhunda. Orang tua Yaqoob membelanya, “Ya tentu dalam keramaian seperti itu, kita pastilah gampang emosi. Tersulut oleh mayoritas. Dia tidak terpikir bahwa perempuan tersebut tidak bersalah.”

Ya makanya, mbok ya ngumpul-ngumpul itu buat minum teh bareng atau diskusi. Atau memperjuangkan sesuatu yang berfaedah yang bisa menyelamatkan hidup banyak orang atau membawa perbaikan bagi masyarakat. Jangan menghimpun massa untuk mengalirkan amarah 🙁.

Itu di videonya, ada lho anak-anak usia pra remaja yang ikut-ikutan melempar batu dan semacamnya 🙁.

Nama Farkhunda diabadikan sebagai nama jalanan tempat Farkhunda dianiaya dan diseret. Sebuah tugu juga dibuat untuk mengenangnya. Semoga kenangannnya tidak hanya berhenti menjadi label dan bangunan seremonial semata.

Remembering Farkhunda. Remembering the societies where women are still considered as the not more than the second gender .

Masih mempertanyakan mengapa aktivis perempuan suka lebay dan layak didengarkan suaranya?

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org
Istanbul Asian Side. The port, Kadikoy, pic by Dani Rosyadi

Sejarah Turki yang Bangkit dari Puing-puing Ottoman

Sejarah Turki mungkin dimulai dari Kesultanan Ottoman yang berabad-abad menjadi salah satu kesultanan yang cukup disegani dunia. Wilayahnya membentang dari Afrika Utara hingga Asia Barat.

Ya sesuai motto standar aja ya, hidup seperti roda pedati, kadang perkasa kadang ciut hehe.

Konon, keterlambatan modernisasi di berbagai sektor termasuk angkatan perangnya membuat posisi mereka jadi oleng. Hingga sempat mendapat julukan Sick Man of Europe.

Sejarah Turki Istanbul Asian Side. The Moda, pic by Dani Rosyadi
Moda, Istanbul Asian Side

Pecahnya perang Dunia 1 memperburuk kondisi Ottoman. Nah ini ada teori konspirasinya juga sih.

Kelihaian Churchill melihat potensi melemahkan “Poros Sentral Eropa” (Jerman dkk) membuatnya menerapkan strategi adu-domba.

Salah satu tokoh yang terkenal sukses membuat orang-orang Arab melepaskan diri dari Ottoman adalah Lawrence of Arabia. Tapi ada yang bilang dia ini tokoh fiktif saja.

Pada dasarnya perpecahan dalam Kesultanan Ottoman sudah tidak terelakkan lagi pasca kekalahan geng mereka dalam Perang Dunia 1.

Yoih, Ottoman yang punya perjanjian khusus dengan Jerman akhirnya ikut digempur oleh pihak sekutu. Walau sebenarnya Ottoman sudah bilang emoh ikutan perang.

Hagia Sophia, Aula (pic by Dani Rosyadi)
Hagia Sophia, Aula (pic by Dani Rosyadi)

Ottoman sempat mampu membentengi diri dari pihak sekutu tapi pemberontakan golongan-golongan Arab yang ingin membebaskan diri membuat Ottoman akhirnya menyerah pada sekutu.

Rontoknya poros Jerman dalam PD 1 membuat pemerintahan Ottoman makin terpukul hingga terpaksa manut saat pihak Sekutu ingin menguasai wilayah-wilayahnya.

Jadi dibagi-bagilah wilayah Ottoman untuk negara-negara Sekutu yang menang perang.

Sejarah Turki Hagia Sophia (pic by Dani Rosyadi)
Hagia Sophia (pic by Dani Rosyadi)

Perjanjian Sevres-Swiss tahun 1922 Sebagian besar wilayah Afrika Utara jatuh ke tangan Inggris beserta wilayah Jordan dan jazirah Arab di pesisir selatan. Perancis kebagian wilayah Syam. Yunani juga kecipratan.

Nah, dari sini cukup penting kalian pelajari lanjutannya. Karena dari sinilah akhirnya negara-negara Arab memerdekakan diri dari “tuan baru”nya masing-masing.

Proses inilah yang punya peran penting dalam masalah Palestina – Israel serta terlunta-luntanya suku Kurdi hingga kini yang pada saat itu tidak kebagian negara khusus.

Perjanjian Swiss tadi juga mengizinkan sekutu untuk membawa pasukannya di wilayah Turki.

Sejarah Turki Istanbul Asian Side. LRT, pic by Dani Rosyadi
LRT di Istanbul

Di sinilah kaum nasionalis Turki jadi bete berat dan merasa harga diri mereka terhempas (kok kayak Incess ya hahaha). Tapi mereka terhempasnya enggak pakai manja-manja kayak Incess. Sebel beneran boooo.

Sudahlah sebagian besar wilayah Ottoman digadaikan. Bangsa Turki pun harus dikuasai oleh pihak asing.

Jadilah kaum nasionalis menggalang persatuan untuk membebaskan Turki dari kekuasaan Sekutu (Inggris dkk).

Cara damai dianggap enggak mempan karena Kesultanan Ottoman seperti tidak punya daya dan upaya lagi, maka kaum nasionalis memilih untuk angkat senjata.

Dipimpin oleh Mustafa Kemal, perlawanan kaum nasionalis terhadap tentara Sekutu berakhir dengan terjadinya perjanjian damai “Traktat Lausanne” di bulan Juli 1923.

Sekitar 3 bulan setelahnya, akhir Oktober 1923, Republik Turki resmi dideklarasikan. Bahasa nasional ditetapkan Bahasa Turki.

Setahun sebelumnya Kesultanan Ottoman dibubarkan dan membuat Sultan Mehmed VI meninggalkan tanah Turki dan tidak kembali lagi hingga akhir hayatnya.

Mustafa Kemal mendapat gelar “Ataturk” yang kira-kira artinya “Bapak Bangsa”.

Tidak semua kalangan dari bangsa Turki menyetujui sepak terjang Mustafa Kemal. Perlawanan terberat datang dari kaum konservatif.

Istanbul foto bagus
Foto : Dani Rosyadi

Entah mengapa Mustafa Kemal mengubah haluan Turki menjadi negara sekuler. Mungkin trauma dengan perpecahan dalam tubuh Ottoman kali ya.

Salah satu kebijakannya yang juga mengundang kontroversi karena dese kayak sebel bener sama yang berbau kearab-araban. Sampai azan pun diubah ke Bahasa Turki.

Kalau menilik sejarah ya mungkin karena sebel itu tadi. Rongrongan bangsa Arab yang ingin memerdekakann diri di masa Ottoman-Turki lagi ribet melawan sekutu membuat Ottoman makin kewalahan hingga akhirnya kalah.

Mungkin lho yaaaaa. Lah gimana orangnya udah enggak ada hehehe.

Jadi, membicarakan Mustafa Kemal memang seperti 2 sisi mata uang. Di mata kaum sekuler/nasionalis Turki, beliau tentu pahlawan besar karena memerdekakan Turki dari cengkraman Sekutu juga bukan perjuangan kecil.

Tapi di mata kaum konservatif muslim ya beliau dianggap pembangkang dan berendeng julukan ngeri-ngeri lainnya yang enggak elok mau ditulis di sini hehehe.

Sejarah Turki Istanbul baklava kue enak manis
Foto : Dani Rosyadi

Mirip seperti Arung Palakka dari tanah Bugis, Sulawesi Selatan. Buat orang-orang Bugis terutama Kerajaan Bone, beliau jelas adalah pahlawan yang memperjuangkan pembebasan bagi suku Bugis atas perbudakan oleh suku Makassar.

Tapi di buku-buku sejarah dulu-dulu dibilangnya pengkhianat bangsa hehehe.

Anw, antara Bugis-Makassar kini everything is over lah 🙂. Kami sudah hidup damai dan tidak sampai terbentuk kelompok lover-hater untuk tokoh Arung Palakka sih hahahaha.

Adapun Turki kini, setidaknya yang sempat saya lihat langsung di Istanbul tempo hari, makin memantapkan diri sebagai negara mapan baik di wilayah Eropa maupun Asia 🙂.

Perdana Menteri Erdogan bisa dianggap sukses meletakkan dasar-dasar perbaikan ekonomi yang signifikan bagi kemajuan negara Turki.

Kehidupan sehari-hari dan fasiitas publik di sana sudah cukup layak bersanding dengan negara-negara Eropa lho 😉.

Saya berharap Negara Turki bisa menjadi salah satu pelopor negara mayoritas muslim yang sukses mempersandingkan modernitas dan nilai agama yang katanya sudah mulai tidak cocok disandingkan dengan kehidupan di era terkini :). Mudah-mudahan ya. Aamiin.

Indonesia juga dong, dong, dong <3.

Sejarah Turki Foto Istanbul bagus
Foto : Dani Rosyadi

Doanya ya teman-teman.

Tuh, enggak disuruh mikir-mikir susah-suah kok ya cuma disuruh berdoa aja hehehe.

Lagian weekend kok mikir, mending piknik ke mana kek. Nah, kalau yang weekend ini kebagian piknik di dunia maya saja (hahaha), lihat-lihat foto-foto Istanbul aja yuk hihihihi :p.

All pics here taken by my husband, NOT ME! –> Dani Rosyadi.

Saya kebagian nambahin deskripsinya aja biar kelihatan pinter gituuuu hahahahaha :p.

Enjoy the pics and have a nice weekend ^_^.

Hari raya Idul Adha : Part of Loving People

Hari raya Idul Adha : Qurban, secara literal berasal dari kata qarib, qaroba, yaqrabu yang artinya DEKAT.

Perhatikan kata “qarib”. Famliar dengan istilah karib kan ya dalam bahasa Indonesia. Nah itu, tidak sedikit kata-kata dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab 🙂. Teman karib, teman dekat.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

ata lain juga banyak yang diserap “mentah-mentah” hanya ganti satu huruf juga misalnya atau nyaris terdengar sama. Seperti : kalbu (qalbu, kalau kalbun beda arti lho ya hehehe), mahkamah, madrasah dsb.

Kata lain dari Qurban adalah Udhiyyah atau dhahiyyah yang artinya hewan sembelihan.

Tapi kata “korban” pun konon diturunkan dari kata Qurban ini. Mungkin karena Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban mengenalkan kita pada prosesi ber-qurban yang secara makna bisa berarti –> memotong hewan sembelihan yang kita korbankan dari sebagian harta kita untuk menDEKATkan diri pada Tuhan.

Dalam ajaran Yudaisme, qurban dikenal dengan istilah Karov yang juga berarti “mendekat”. Jadi, maknanya kira-kira sama lah ya.

Tidak heran ada persamaan dalam hal ini karena asal muasal dari Hari Raya Idul Adha / Qurban adalah kisah Nabi Ibrahim yang dianggap sebagai “Bapak/Nabi” dari 3 agama Samawi di dunia. Kisahnya sendiri sudah banyak di internet dong ya jadi gak perlulah ditulis ulang di sindang 😀.

hari raya idul adha
Gambar : pixabay.com

Pendekatan diri kepada Tuhan dalam prosesi qurban tidak hanya terkait dimensi individu. Karena hasil sembelihan tadi hendaknya jangan di-sate sendiri di rumah yaaaaaaa :p, tapi sebagian untuk dibagi-bagikan kepada kaum fakir dan untuk kerabat/tetangga sebagai penyambung tali silaturahmi atau untuk sedekah. Ada dimensi sosial di dalamnya.

CMIIW ya, setahu saya ya ada pendapat yang membolehkan jika daging qurban disate eh dimakan sendiri secara pribadi. Ibadah ini sendiri sifatnya sunnah bukan wajib.

Jadi hewan qurban itu ya bukan untuk Tuhan. Kita berqurban atau tidak ya tidak ada pengaruhnya sama sekali untuk Yang Maha Pengasih.

Manfaatnya akan selalu kembali ke kita sendiri. Begitu pula sebaiknya. Mudharat dari perbuatan buruk pada akhirnya akan berbalik kepada diri sendiri. Pasti itu 😉. Hanya prosesnya saja yang mungkin tidak terlalu kasat mata.

Saya jadi ingat nih ceramah Surah Al Fatihah dari Bapak Quraish Shihab. Tentang perbedaan antara rahmat dari Tuhan vs rahmat dari sesama manusia.

Tuhan tidak punya kepentingan apa-apa terhadap kita. Mau situ potong satu juta ekor sapi pun, Tuhan tidak akan loncat kegirangan. Bahkan jika seluruh dunia pada akhirnya pada mogok qurban berjamaah ya juga tidak ada pengaruh.

Sebaliknya, kita sebagai manusia, contohnya begini. Saat kita melihat pengemis yang kehidupannya sangat memprihatinkan, ada rasa perih tidak dalam hati kita? Kalau normal harusnya ada :p.

Dari rasa perih itu mungkin kita akhirnya memberikan sedikit pertolongan atau bersedekah buat pengemis atau orang sakit atau siapa pun yang membutuhkan bantuan.

Adakah terselip sedikit saja kepentingan kita dalam hal ini? Ada! Minimal sedikit menurut Imam Gazali. Sedikitnya kita ingin sekadar membebaskan diri dari perasaan bersalah akibat rasa perih tadi.

Rasa perih itu yang mendorong kita memberi bantuan.

Itulah mengapa kasih sayang Tuhan jauuuuuuh di atas kemampuan makhluk lainnya. Yang saya yakini, sifat Pengasih dan Penyayang itulah yang memberi ruh sosial yang sangat kuat kepada agama Islam 🙂.

Itulah mungkin mengapa “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang” menjadi ayat pembuka di hampir semua surah dalam alquran. Untuk mengingatkan kita akan kemuliaan Tuhan dan betapa kita ingin melakukan semua hal hanya untuk Tuhan yang Maha Pemurah.

Betapa kita harus selalu mengingat semua kasih sayangnya yang tanpa batas tanpa pamrih yang kemudian berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari meski mustahil untuk sempurna.

Termasuk kepada lingkungan dan makhluk lain. Jangan dikira proses qurban terhadap hewan sembelihan itu ngasal-ngasal aja lho 😉. Ada ilmunya itu 🙂.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kesimpulan dari ceramah beliau yang tadi itu, “Tinggi tidaknya tingkat keberAGAMAan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana manusia mampu memberikan nilai kesejukan bagi sesama ciptaan Allah.”

Semoga semakin hari, kita bisa terus berproses mewujudkan umat muslim sebagai “rahmatan lil aalamiin”, rahmat bagi seluruh umat manusia.

Termasuk kedewasaan kita menghadapi berbagai perbedaan 😉. Di dunia nyata, apalagi di dunia maya hahahaha 😀.

“I guess that’s just part of loving people: You have to give things up. Sometimes you even have to give them up.”
― Lauren Oliver, Delirium

Jangan dikekepin sendiri dagingnya yaowww, bagi-bagilah kepada teman/saudara/kerabat/orang lain yang membutuhkan 🙂.

Saya mah enggak akan lah minta sate atau sambal goreng pun rendang, cuma anu… minta like-nya aja dong teman-teman kalau berkenan di fanpage Facebook saya di –> The Davincka Code #eaaa.

Hadeeeh, hari raya Idul Adha ya jualan jalan terus dong ya hahahaha :p.

Semoga daging qurban yang didapatkan bisa memberi berkah seluas-luasnya baik kepada si empunya qurban maupun kepada pihak yang menerima. Aamiin ya rabbal aalamiin.

Selamat hari raya Idul Adha buat teman-teman yang merayakan <3.