Zaman Kegelapan Eropa : Kastil Kilkenny, peninggalan dari abad ke-13 yang didirikan oleh bangsawan Inggris yang bermukim di wilayah Kilkenny saat Kerajaan Inggris Raya masih menguasai Pulau Irlandia secara keseluruhan.
Kastil ini direnovasi di abad ke-19 dan dijadikan tempat wisata. Hingga kini, kastil Kilkenny masih menjadi salah satu atraksi turis andalan di Kota Kilkenny, Republik Irlandia.
Di dalam kastil tidak boleh mengambil foto. Galak euy penjaganya hihihi. Beberapa kali saya kena tegur karena anak-anak pecicilan dalam kastil .
Ke sananya sudah hampir 4 tahun lalu. Anak-anak masih unyu-unyu. Si nomor 2 masih 2 tahun lagi kepala batu-kepala batunya hahahaha.
Ruangan-ruangan dalam kastil sangat mewah. Lengkap deh. Ruang duduk sama ruang rekreasi saja bisa beda gitu. Ruang membaca juga ada. Meja makannya sangat lebar walau konon dalam sehari-hari, yang makan di situ hanya anggota keluarga inti.
Bagaimana mereka memaintain rumah sebegitu besarnya? Belum lagi halamannya. Ya pakai simbok dooooongggg hihihi.
Di abad 12, perbudakan sudah mulai dihapuskan di wilayah UK dan Irlandia. Tapi digantikan dengan sistem tuan tanah dan feodalisme.
Tuan-tuan tanah yang umumnya berasal dari kaum bangsawan, secara turun temurun menguasai lahan yang luas. Sebagian rakyat kurang mampu berlindung kepada para tuan tanah ini. Mereka-mereka inilah yang dijadikan pelayan di kastil-kastil besar milik kaum bangsawan dan tuan tanah.
Kalau lihat di bukti sejarah, perbedaan tempat tinggal antara si kaya vs si miskin jomplang banget. Misalnya nih, dalam keluarga miskin, ukuran rumahnya paling cuma 2-3 meter. Sementara keluarga kaya, halamannya saja bisa berapa hektar hahaha .
Begitulah kehidupan masyarakat di Eropa Barat di Zaman Kegelapan Eropa (Dark Ages). Mulai abad ke-14, masa Renaissance dimulai. Renaissance, abad ke-14 sampai 17, semacam masa peralihan dari Zaman Kegelapan ke Zaman Modern.
Kekuasaan kerajaan berbentuk monarki mewarnai Masa Pertengahan di Eropa. Raja-raja berkuasa secara turun temurun. Mereka juga cukup dekat dengan Gereja. Ibaratnya, kekuasaan mereka “dilindungi” oleh Gereja.
Kilkenny – The View from the Castle
Saling memanfaatkan lah ya mungkin hehehe. CMIIW.
Dalam rentang Renaissance tadi, muncullah paham Protestan untuk menentang kekuasaan Gereja Katolik yang dianggap terlalu mengekang.
Salah satu kritik keras dari Marthin Luther, salah satu penggagas utama paham Protestan, adalah diperjualbelikannya surat pengampunan dosa. Menurut kalangan Protestan, hubungan Tuhan dan Manusia tidak perlu menggunakan campur tangan manusia lain. Apalagi ini dijadikan “bisnis” atau semacam itulah.
Korupsi yang terjadi gereja-gereja Katolik juga memunculkan perlawanan dari pihak yang sama. Pertentangan antara Katolik vs Protestan ini juga memicu pertikaian ratusan tahun yang penuh konflik dan darah.
Perlahan-lahan beberapa wilayah Eropa melepaskan diri dari Monarki Absolut dan Feodalisme. Terutama di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Salah satunya ya kaum komunis yang memperjuangkan nasib kalangan buruh. Belakangan, di wilayah Rusia, Lenin memperjuangkan nasib petani miskin yang dianggapnya sama terpuruknya dengan kalangan buruh.
Black Abbey – Kilkenny
Termasuk perlawanan terhadap sistem kerajaan dan tuan tanah yang dianggap menghisap rakyat kecil itu.
Paham komunisme yang dianggap memperjuangkan kesetaraan dalam masyarakat ini juga menginspirasi kalangan muda dari negeri-negeri terjajah seperti Indonesia. Bersinggunganlah paham ini dengan Islam yang menjadi agama mayoritas di Indonesia saat itu.
Makanya jangan heran, tidak sedikit pejuang kemerdekaan bangsa kita yang komunis iya tapi muslim juga iya 🙂. Karena sebenarnya antara komunisme dan Islam juga tidak 100% bertolak belakang. Keadilan sosial adalah hal yang sama-sama diperintahkan dengan keras baik dalam Islam maupun komunisme.
Cumaaaaaa … caranya mungkin beda. Somehow kaum komunis ini entah mengapa jadinya menghasut orang miskin untuk benci kepada orang kaya :p. Segala tanah milik orang lah mau dibagi-bagi seenaknya. Urusan tanah ini konon yang memperuncing hubungan partai-partai komunis vs kalangan Islam pesantren di tahun 50 dan 60 an.
Tapi begitulah hidup, ya. Urusan apa pun, emang paling nikmat kalau digoyang pakai isu agama :p. Sedep-sedep bikin sakaw gimana gitu :p.
Itulah mengapa Karl Marx, si penulis buku-buku tentang Marxisme, melontarkan kritikannya yang terkenal, “Religion is the opium of the people.” Marx mengkritik kekuasaan Gereja di masa itu.
Candunya yang sudah terkenal dari ratusan tahun yang lalu. Di mana umat Katolik mau mohon ampun saja kudu beli surat tertentu dari Gereja dengan jumlah tertentu. Tentunya dengan ancaman, “Mau beli suratnya atau mau masuk neraka?”
-Kilkenny, City Center-
Ya orang pasti takutlah sama para pastor yang dianggap memiliki ilmu agama lebih mumpuni 🙂.
Ancaman yang sama, walau mungkin untuk konteks berbeda-beda, terus menerus kejadian … sampai sekarang 🙂.
Ah, kenapa jadi serius. Padahal cuma mau share vlog doang hehehe.
Well, tak mudah menyembunyikan kesedihan karena cukup lelah menyaksikan sejarah yang sama terus berulang tanpa kita mampu berbuat apa-apa untuk mencegah :'(.
Yawdah, bikin vlog ajaaaa yang hepi-hepi joy-joy hihihihi :p.
Mohon maaf bila tulisannya kurang berkenan *sungkem*.
“The use of traveling is to regulate imagination with reality, and instead of thinking of how things may be, see them as they are.” – Samuel Johnson
Mama mencubit lengan saya keras-keras di atas becak karena saya berteriak “Cina Loleeeeeeng…” saat melewati salah satu rumah yang penghuninya beretnis Tionghoa.
Mama membentak, “Ndak boleh teriaki orang begitu. Ana’ dara’ dekke lowang sumpanna.” (Enggak boleh berteriak begitu. Anak gadis kok lebar bener mulutnya).
“Cina Loleng” adalah makian khas di Sulawesi Selatan yang sudah biasa kami lontarkan terhadap orang-orang beretnis Tionghoa yang hidup di sekitar kami.
Gambar : pixabay.com
Marahkah mereka? Enggak bakal berani. Mereka jumlahnya sedikit. Walau sebagian tinggal di rumah mewah, percayalah, sekeras apa pun kami meneriaki mereka, mereka enggak bakal melawan dalam bentuk apa pun.
Saya jadi ingat ini saat membaca komentar salah satu akun di wallnya Mas Ainun Najib. Seorang perempuan beretnis Tionghoa yang berkisah soal “Unspoken Rules” yang diterimanya sejak kecil. Jadi malu bacanya :(.
Bahwa orang tuanya mengajarkan dia untuk tidak melawan terhadap apa pun bentuk penghinaan yang diterima. Jika dia bertanya mengapa saat Natal tidak satu pun yang bertamu kecuali satu keluarga sementara saat lebaran mereka harus ngider-ngider keliling bahkan harus ikut menyumbang saat ada acara-acara keagamaan Islam.
Untuk etnis Tionghoa dari keluarga berada, orang tua mereka banyak yang mengirim mereka ke luar negeri. Untuk mempersiapkan masa-depan-plan-B, menjadi global citizen. Agar kelak, mereka bisa memilih tinggal di tempat lain di luar Indonesia.
Banyak juga yang memilih jalur pengusaha. Pantas ya, tidak banyak teman saya yang beretnis Tionghoa yang bertahan di jalur non-bisnis. Tidak banyak tapi ada . Kalau pun ada ujung-ujungnya pada ke luar negeri.
Saya mengumpulkan memori masa kecil saya. Sebenarnya etos kerja dan kedisiplinan etnis Tionghoa mungkin terbentuk dari keterbatasan dari lingkungan yang mereka terima.
Walau tidak tertulis jelas, ada aturan buat mereka, “Bahwa kita harus bekerja lebih keras, lebih giat, lebih rajin, dan lebih segala-galanya untuk menjamin hidup yang lebih baik. That’s the only way to live ‘normal’ in this country.”
Gambar : pixabay.com
Toko-toko Cina di sekitar rumah saya memang buka lebih pagi. Mereka jarang mempekerjakan pegawai. Ance’ dan Aci’ nya sendiri yang jaga toko.
Di depan kios Bapak di Penampungan Pasar Sentral dulu ada penjual kain yang namanya Sayong. Sempat beberapa hari saat libur sekolah saya sering diajak ke pasar. Saya sih gengsi banget hahahaha.
Ketakutan saya yang terbesar kalau ke pasar itu, ketemu teman sekolah saya yang rata-rata berasal dari keluarga menengah ke atas. Tapi karena diiming-imingi jajanan ini-itu makanya saya ikut saja naik becak bersama Mama menuju kios. Urusan perut bisa meruntuhkan gengsi .
Sayong tidak punya pegawai. Tapi selalu buka lebih pagi karena Bapak sering nitip kunci ke dia. Dengan lincah dia membongkar gulungan kain, sangat fasih menerangkan seluruh jenis kain, lihai membujuk pembeli.
Sesekali menggoda ibu-ibu dengan lontaran, “Ibu Haji coco’ sekali mi ini. Ini kainnya lembut, tida’ gampang keringat gang… Lihatki’ motifnya. Canti’ betul.”
Makan siang pun dese bawa dari rumah. Hemat sekali. Jarang jajan di pasar walau kiosnya termasuk yang lumayan besar dan barang jualannya berkualitas bagus.
Sama seperti Aci’ yang berjualan di Rumah Makan Pelangi di daerah Jakarta Pusat. Teman-teman dari Makassar pernah ke sini gak? Enak betul gang itu Mie Titi’ sama Nasgor Merahnya.
Gambar : pixabay.com
Di suatu malam, pengunjung tiba-tiba bersuit melihat Aci’ melintas dekat kami berpakaian pesta kayaknya mau kondangan. “Cantiknya gang.” Puji kakak saya. Aci’ melet-melet.
Aci’ memang kece. Padahal usianya mungkin sudah mendekat kepala 4 saat itu. Tapi sehari-harinya, walau berstatus pemilik, saya sering melihat Aci’ berpakaian kaos oblong + celana selutut ikut motong-motongin daging di dapur luar sambil melayani pembeli.
Cantik dan tajir tapi gesit bener si Aci’ mengaduk kuah coto sambil menghitung di kasir, sesekali menyiram kuah mie ke dalam mangkok sambil berteriak, “Itu tauwa yang di meja ujung lamanya mo. Cepakko layani!”
Orang Cina ini etos kerjanya memang luar biasa. Tapi tak jarang kita menganggap kesuksesan mereka tak lebih dari buah konspirasi . Gagal kita meneropong lebih dekat betapa ketatnya mereka dididik sejak kecil yang berbuah kedisiplinan dan mental kerja keras yang mumpuni .
Kita dilanda ketakutan yang mungkin berasal dari ketidakberdayaan kita sehingga lebih nyaman mengarahkan telunjuk kepada orang lain. Kita ini hanya korban. Namanya korban ya kita bisa apa. Pokoknya pasti orang lain yang salah.
Mungkin sama seperti kejadian di wilayah Sumatera saat banyak kebun-kebun sawit berdiri dan orang lokal ogah menjadi buruh kebun. Datanglah pendatang dari Jawa yang hendak mengadu nasib di sana. Membangun mimpi dari kebun sawit dengan kerja keras.
Sebagian dari mereka sukses dan mulai menikmati hasil kerja, punya motor sendiri misalnya. Akhirnya bisa membangun rumah. Pelan-pelan jadi banyak, orang lokal pun mendadak iri. Rasa iri menjelma menjadi ketakutan dan seterusnya.
Di Kalimantan juga pernah ada kasus yang sama. Orang Madura yang terkenal gesit dan lincah berbisnis pelan-pelan membangun komunitas di sana. Kecemburuan masyarakat lokal pun muncul. Cemburu berbuah ketakutan akan dominasi para pendatang.
Gambar : pixabay.com
Dan mungkin begitulah seterusnya isu diramu bercampur dengan isu yang lebih cetar misalnya … isu agama .
Jawa dan Madura di daerah asal mereka yang padat sudah terbiasa dengan kompetisi ketat sejak kecil. Saat merantau, disiplin kompetisi inilah yang mereka pegang untuk bisa bertahan di daerah rantau.
Ini bukan hanya perkara lokal. Secara internasional pun begitu.
Kita, orang Asia, berbondong-bondong meretas jalan ke negara-negara maju di Eropa-Kanada-Amerika Serikat-dan Australia. Awalnya mungkin mereka hanya memandang kita warga dunia kelas 2.
Tapi anak-anak kita yang lahir dan besar di negeri mereka mewarisi kesantunan dan kedisplinan khas negara maju berpadu dengan semangat kompetisi dan didika khas Tiger Mom (hahaha) ala negara Asia. Bayangkan para homegrown asal Asia di Eropa-USA dll ini.
Awalnya mungkin banyak orang tua pendatang yang bekerja asal-asalan atau pekerjaan kasar yang tidak sudi dilakukan oleh orang lokal. Tapi anak-anak mereka kelak lebih sukses dan begitu seterusnya.
Tekanan ini yang membuat akhirnya negara maju melakukan pembatasan terhadap para pendatang . Lagi-lagi atas nama ketakutan .
Apalagi sekarang-sekarang ini, situasi ekonomi secara global lagi surut. Timur tengah gelisah dengan harga minyak yang stagnan. Eropa tak kunjung keluar dari krisis besarnya.
Brexit adalah perwujudan nyata dari ketakutan ini. Sebelumnya sudah dipicu oleh beberapa kali kejadian di Paris, ledakan bom di Brussel, hampir bersamaan dengan meningkatnya terjangan dari pengungsi Suriah yang berusaha menembus Eropa Barat .
Cina mengendorkan industri karena mereka sudah bertahun-tahun mencapai pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Pasti ada titik baliknya kan?
Trump memanfaatkan situasi ini dengan mengeksploitasi ketakutan warganya. Shame on him.
But shame on us too, karena di situasi politik lokal pun, ketakutan model begini disetir dengan gas penuh oleh segelintir elit yang hendak memuncaki kekuasaan dengan jalan pintas .
We are scared. Kita panik. Duh, gimana ini. Dalam kepanikan ya muncullah penghiburan semacam, “Ini bukan salah kita. Ini salah mereka tauk. Kita ini hanya korban. Yuk kita eratkan tangan kita bersatu usir mereka.”
Siapa yang ingin diusir Trump? Pendatang? Pendatang dari mana? Tanah Amerika aslinya dihuni oleh Suku Indian. Kalian semua juga kalau dirunut-runut ya pendatang juga.
Sudah 2 minggu saya tinggal di Texas, yang mana sih penduduk asli? Sepanjang penglihatan mata saya, saban ke Walmart, probabilitas ketemu ras “orang bule” itu mungkin hanya 40%. 60% orang yang wara wiri di Walmart, yang menyetir di jalan itu ya orang India-Mexico-Cina-Arab-Afrika.
Beda sekali dengan Irlandia. Texas, khususnya sekitaran Dallas ini, benar-benar kumpulan dari berbagai ras di dunia. 90% pegawai yang wara wiri di apartemen ini orang Afrika atau orang Meksiko. Saya sudah 2 bulanan belajar bahasa Spanyol di Duolingo walau gak rutin-rutin amat hihihi. Kemampuan berbahasa Spanyol saya secara teori sudah 35% .
Kita menyayangkan sikap Trump tapi tanpa sadar menerapkan hal sama di lingkungan sendiri .
Apakah kita pada dasarnya diciptakan rasis? Tidak lah. Fitrah perbedaan itu bukan kuasa manusia . Di Irlandia maupun di Texas, anak-anak saya bersekolah di lingkungan yang sangat heterogen dalam banyak hal.
Saya bisa melihat mereka mendeskripsikan teman-temannya tidak pernah berdasarkan ciri fisik . Sepertinya mereka bahkan tidak sadar. Sampai-sampai anak saya pernah bilang ke saya, “Wow Mom, you are so great. How do you know that ABC is Indian? It’s true. I asked him and he said yes. How do you know, Mom?”
Pantai Thuwal, Saudi 🙂
Ya iyalah gue tauk hahahaha. Pan kelihatan dari logat emaknya plus ciri fisiknya . But kids never know that until we teach them to .
Semua itu dimulai dari ketakutan. Analogi paling pas mungkin ada di film Star Wars. Ini film popular jadi gampang di googling ya walau saya sama sekali bukan fansnya Star Wars .
Tapi terus terang saya menganggap Yoda rese’ karena sejak Anakin kecil, Yoda sudah ogah-ogahan mengangkat Anakin menjadi Jedi. Simply because I thought that Hayden Christensen itu kan super cute pakai banget hahahaha *ngakakCentil*.
Sejak Anakin kecil, Yoda sudah melihat potensi Anakin yang kurang cocok untuk menjadi Jedi.
Yoda: How feel you?
Anakin: Cold, sir.
Yoda: Afraid are you?
Anakin: No, sir.
Yoda: See through you we can.
Mace Windu: Be mindful of your feelings.
Ki-Adi-Mundi: Your thoughts dwell on your mother.
Anakin: I miss her.
Yoda: Afraid to lose her I think, hmm?
Anakin: What has that got to do with anything?
Yoda: Everything! Fear is the path to the dark side. Fear leads to anger. Anger leads to hate. Hate leads to suffering. I sense much fear in you.
Buat kaum muslim sendiri, ketakutan ini sudah disebut pula dalam ayat-ayat suci.
Saya jadi ingat salah satu penggalan tulisan Pak Hasanuddin Abdurakhman,
“Kau hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudayya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.”
Sayangnya, justru kalimat yang sama, “Wa man tabi’a hudayya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun” juga digunakan untuk menyulut semangat para so called “mujahid” di kalangan Islam-ekstrmis. Dipakai untuk membakar nyali mereka menebar kebencian kepada kaum non muslim salah satunya dengan cara meledakkan bom bunuh diri .
Refleksi ketakutan justru dibalik untuk membuat orang tidak takut untuk menyakiti, atas nama Tuhan katanya .
Tapi kutipan tulisan Kang Hasan itu sebenarnya diawali dengan,
Gambar : pixabay.com
“Janganlah engkau mencoba membuktikan bahwa Quran itu pembawa damai dengan membunuhi orang-orang yang tidak pecaya padanya. Karena engkau sedang membuktikan sebaliknya.
Engkau tak perlu mencari bukti-bukti, tapi kau harus membuatnya. Engkaulah bukti itu. Engkaulah yang membuktikan. Seperti sains tadi, kau tak perlu menemukan kebenaran mutlak dalam setiap huruf ayat Quran. ”
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, semoga kita semua bisa mengontrol diri dari ketakutan-ketakutan seperti ini ya . Mengendalikan bukan menghilangkan. Ya kita kan manusia biasa.
Siapa bilang saya tidak takut dengan kondisi di sini? Takut juga huhuhu. But I won’t let it consume me, insya Allah. Saya akan berusaha keras untuk tidak menjadikan ketakutan ini menjadi rasa marah. Seperti pesan Yoda tadi.
Mungkin ini saatnya menyadari betapa tidak nyamannya kehilangan privilege hanya karena menjadi minoritas. Then, don’t do that to others .
People with bad behaviour only exists to remind us to NOT to do the same . Jangan lakukan hal yang kita tidak ingin orang lain lakukan terhadap kita.
Muslim di Eropa : “We can do it!” Dengan percaya diri Angela Merkel meyakinkan Eropa bahwa mereka bisa menampung terjangan pengungsi Suriah saat beberapa negara Eropa lainnya malah merasa “gelisah”.
“We can do it” … Ucapan Merkel seperti membelah udara seketika itu juga dan menerbangkan sayap pengharapan bagi jutaan pengungsi.
Tidak hanya dari Suriah, tapi bersama Irak-Afghanistan-dan banyak negara lainnya, jutaan pengungsi berbaris mewujudkan mimpi di tanah baru, Jerman, di jantung Eropa yang berdenyut paling kuat. Mereka mengumandangkan pesan, “Angela said we could come!”
Tak berapa lama, ucapan Merkel digunakan untuk menyerangnya. Siapa yang menduga, pengungsi membanjiri daratan Eropa bagaikan air bah. Mereka bahkan tidak berhenti di Turki. Yang dari Turki pun mati-matian mengorbankan apa saja agar mereka bisa merebut tempat di Eropa.
Berbagai cerita pilu dari kandasya impian pengungsi yang terhuyung ombak, terbawa arus di laut Turki, berbaur dengan kegelisahan dan kemarahan masyarakat Eropa.
Angela Merkel menjadi bulan-bulanan media. Ucapannya dianggap spontan tanpa pertimbangan. Menyebabkan banyak masalah baru di Eropa yang memang sudah lebih dari 10 tahun terakhir ini tertatih dalam berbagai masalah ekonomi internal.
Brexit, dianggap sebagai salah satu dampak pahit dari terjangan pengungsi dan ketidaksiapan Eropa sendiri diserbu jutaan pengungsi dari berbagai penjuru.
Sebuah majalah Jerman memuat fotonya yang berpakaian ala Bunda Theresa dengan olok-olokan, “Mutter Angela”.
Angela bergeming. Angela berseru lantang saat banyak pemimpin Eropa memilih diam atas kasus pengungsi Suriah, “Apakah kita ingin hidup di benua di mana martabat seluruh manusia bahkan mereka yang minoritas tetap ditegakkan? Ataukah kita ingin berada dalam dunia dimana nasionalisme digunakan untuk intoleransi dan membiarkan kegelapan sekali lagi mengalahkan kita?”
Ibu Angela, there must be a super strong reason why the parent named you that . Angela, an angel.
Dari Negeri Penjaga Dua Kota Suci, Pangeran Alwaleed bin Talal Bin Abdul Aziz menyerukan, “Let women drive!”
Prince Waleed Al Talal (gambar : www.forbes.com)
Sudah sejak lama Sang Pangeran memperjuangkan hak-hak kesetaraan bagi perempuan di Saudi. Gelar pangerannya tidak membuatnya tunduk seketika terhadap segala kebijakan Kerajaan Saudi.
Pangeran menggunakan pengaruhnya untuk terus meningkatkan taraf hidup perempuan di tanah Saudi. Namun, baru beberapa bulan lalu, Pangeran menyerukan secara terbuka keinginannya tersebut.
Tidak hanya asal bicara. Sejak lama, Pangeran Talal sudah melakukan sendiri banyak hal yang bisa dilakukannya tanpa persetujuan kerajaan. Termasuk memberikan beasiswa pendidikan pilot kepada Hanadi, perempuan asli Saudi.
Setelah lulus, Hanadi menjadi salah satu supir pesawat jet pribadi Sang Pangeran . Ironisnya, Hanadi leluasa mengendalikan pesawat di udara tapi ketika berada di daratan, Hanadi harus menggunakan supir ke mana-mana .
Larangan menyetir hanya salah satu dari sekian banyak keterbatasan yang mengungkung kehidupan perempuan lokal di sana. Pernah bermukim di salah satu kota terbesar di Saudi, Jeddah, membuat saya melihat kehidupan perempuan sana yang mungkin cocok dengan analogi lawas, “hidup bagai dalam sangkar emas”.
Apakah itu emas, berlian, permata … sangkar ya tetap saja sangkar :(.
Dari daratan tinggi Tibet, Dalai Lama menegaskan bahwa pemimpin Myanmar mempunyai tanggung jawab moral untuk menyelesaikan ketegangan terhadap etnis minoritas Rohingya di sana.
Dari Negeri Seribu Dewa, Narendra Modi, sejauh ini membungkam ketakutan minoritas muslim saat dirinya mengajukan diri menjadi presiden di Pilpres 2014 silam di India.
Narendra Modi pernah terlibat dalam kekerasan terhadap umat muslim saat menjadi pejabat tinggi di wilayah Gujarat tahun 2002 silam. Sikapnya saat itu yang dianggap membiarkan kekerasan menimpa minoritas muslim di Gujarat membuat kaum muslim India resah menghadapi Pilpres 2014.
Gambar : Narendra Modi (independent.co.uk)
Tapi kemenangan Modi, setidaknya dalam 2 tahun terakhir ini, dianggap cukup berhasil meredam ketakutan muslim India . Modi bahkan mampu membawa perekonomian India maju dengan cukup signifikan di bawah komandonya .
Angela Merkel, Alwaleed bin Talal, Dalai Lama, Narendra Modi, tentu punya kebijakan lain yang patut kita perdebatkan. Mereka manusia juga, tidak sempurna seperti kita semua.
Tapi lihatlah, mereka pun, dengan tampuk kekuasaan yang dimilikinya, tetap berusaha keras memperjuangkan banyak kebaikan bagi kemanusiaan.
Humanity beyond our differences, including religion .
Kita seharusnya bekerja lebih keras untuk menyiarkan kedamaian. Memperlihatkan bahwa kita itu bisa lho hidup damai dalam perbedaan. Menunjukkan kalau ada tempat-tempat di dunia ini di mana kalian bisa berjalan bebas tanpa mesti menyembunyikan identitas agama kalian dan kalian tetap mendapat kedamaian dan penghormatan dari orang lain.
Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslimah berjilbab di negara mayoritas Katolik di sini .
Gambar : geekclubbooks.com
Makanya teman-teman, kita harus terus menghidupkan harapan tentang “dunia yang damai” itu ADA dan insya Allah bisa kita perjuangkan.
Semua manusia tidak ada yang sempurna. Termasuk para pemimpin dunia atau siapa pun manusia di dunia ini. Tapi jangan biarkan ketidaksempurnaan itu terus menerus menggerogoti kemanusiaan kita.
Mari menjadi bagian dari mereka yang bekerja keras menyalakan cahaya perdamaian di tengah banyaknya perbedaan yang terasa makin meruncing ini .
Can we do it? Yes, we can. We can do it!
Selamat hari Natal bagi teman-teman yang merayakan . Damai di hati, damai di bumi .
Islam di Eropa : Tahun 1992, Hamdan Bin Rashid Al Maktoum, seorang menteri keuangan dari Dubai-Uni Emirat Arab mendanai sebuah bangunan yang kelak akan menjadi bagian dari “Islamic Cultural Central of Ireland”.
Bangunan ini berdiri dengan megah di sebuah kawasan yang cukup elit di Dublin, ibukota Republik Irlandia. Tepatnya di wilayah Clonskeagh.
Masjidnya keren punya, Cyin! ^_^. Di sebelahnya berdiri pula beberapa bangunan yang menjadi sekolah dan aula yang bisa digunakan untuk berbagai macam kegiatan.
Di bagian bawah, ada sebuah kantin yang dilengkapi meja dan kursi makan yang bisa memuat lebih dari 60 orang untuk makan langsung di sana. Di depan kantin, ada sebuah toko kelontong yang menjual aneka pangan yang tentunya berlabel… halal ;).
Sayang, sih, menu-menu di kantin rasanya kurang enak. Menurut saya lho yaaaaa, sungkem dulu sama Pak Koki hehehe.
Menu yang dihidangkan umumnya khas India-Arab seperti Nasi Biryani dkk. Harganya juga tidak begitu murah. Tiap menu utama umumnya dihargai sekitar 7-9 euro per porsi.
Biasanya saban kami sekeluarga ke Dublin, selalu menyempatkan diri mampir ke Masjid di Clonskeagh ini. Kadang numpang salat atau buat makan siang dan sebagainya.
Kantinnya bersih jadi nyaman buat makan di sini bareng anak-anak apalagi si anak bayi nih hehehe.
Tempat parkirannya hampir selalu penuh. Apa karena gratis gitu, ya? Jadi pada numpang parkir hehehe.
Maklum sih, dimari mau parkir saja ongkosnya lumayan, tuh. Secara infrastruktur transportasi, Dublin dan Republik Irlandia secara umum belum sebagus di Eropa daratan :(. Masih perlu banget punya mobil pribadi di sini :(.
Terus, apa kabar kakaknya yang enggak bisa nyetir? Hahaha. Kabar baik kok yaaaaaa :p.
Kawasan Islamic Center yang di Clonskeagh-Dublin ini juga menempati areal yang cukup luas. Dari luar saja sudah kelihatan bangunan masjid yang berdiri megah dengan pekarangan yang lapang.
Tepat di depan kawasan ini terdapat sebuah perumahan elit. Kami pernah tidak sengaja mampir sampai ke pintu gerbangnya buat numpang muter balik hihihi. Keasyikan mengobrol, pintu masuk ke Islamic Centernya kelewatan :p.
Btw, namanya kawasan elit, umumnya letaknya agak jauh dari City Center. Termasuk kawasan Islamic Center yang di Clonskeagh ini.
Tapi tenang aja, di kawasan City Center Dublin juga ada masjid, lho ;). Tempatnya juga lumayan luas, cuma lokasinya agak nyempil dan model bertingkat.
Letak masjidnya di Earl Street North. Di O’Connell Street kan ada monumen Spire yang terkenal itu. Dari arah Sungai Liffey, Earl Street North terletak di sebelah kiri Menara Spire :).
Rumah Makan Halal (Turkish Food)
Di ruas jalan yang sama juga ada beberapa kedai/rumah makan yang menyajikan menu-menu halal. Misalnya Kebab Iskandarsyah yang menjual menu-menu khas Turki. Nah, kalau yang ini endeeessss :D.
Dulu, sebelum punya mobil sendiri, kalau ke Dublin kami naik bus sekeluarga. Nanti kan tinggal jalan dikit dari stasiun Bus Busaras ke City Center. Sering deh mampir makan ke kedai Turki yang itu.
Nah, masjidnya terletak beberapa bangunan sebelum rumah makan Turki itu. Pintunya kecil saja, enggak kelihatan kalau dalamnya masjid.
Nanti begitu masuk pintu kita naik tangga agak tinggi ke atas. Di situ deh ada area buat laki-laki sekalian tempat wudhunya. Naik satu tangga lagi, ada tempat buat perempuan plus tempat mengambil wudhu yang juga terpisah.
Tempatnya luas cuma ya itu, bertangga-tangga aja. Hati-hati kalau bawa bocah. Pening dah hahahaha :p.
Ah ya, tahu tidak sih di Dublin juga ada museum alquran yang lumayan lengkap, lho. Lokasinya juga di sekitaran City Center.
Tepatnya di area Dublin Castle. Sayang sekali, saya tidak tahu soal keberadaan manuskrip alquran di Cheaster Beatty Library ini :(. Waktu ke Dublin Castle, kita malah muter-muter enggak jelas.
Jarang nih ada kesempatan ke Dublin. Karena lumayan jauh kan nyetirnya, hampir 2 jam kalau dari arah kota tinggal saya. Terus kalau ke City Center yang susah itu … cari parkirannya -_-.
Pernah sih ngajak suami naik bus bareng-bareng lagi kayak dulu, cuma ya dese enggak betah jalan-jalan kayak gitu bawa 3 bocah hahaahha. Ruweeet. Belum lagi kalau hujan dll.
Nanti kalau sudah pada gede, Mama bisa “melarikan diri sendiri” kali ya ke Dublin backpacker-an. Terus diledekin suami, “Terus kalau nyasar tinggal nangis ya minta dijemput!” Hahahaha :p.
Btw, menjaga lingkungan adalah salah satu tugas terberat manusia yang sudah ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi ini. Malaikat saja sempat keberatan kepada Tuhan, “Why?”
Iblis malah terang-terangan menolak pengukuhan ini.
Gambar : pixabay.com
Membela lingkungan pun bagian dari membela agama lho . Efeknya bukan hanya ke diri sendiri, ke ego kita sendiri, tapi kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini . Islam, rahmatan lil aalamiin .
Praktiknya membawa manfaat, ketenangan, kedamaian, keteraturan, ketertiban dan tentu saja … kesejahteraan BAGI SIAPA PUN.
Perhatian tentang lingkungan sudah menjadi jargon-jargon utama secara internal di negara-negara maju. Tentunya setelah kebutuhan dasar masyarakatnya sudah terpenuhi seperti pendidikan dan kesehatan serta fasilitas umum yang mumpuni dan mencapai seluruh kalangan. Pemerataan pembangunan secara umum sudah cukup berhasil.
Itulah mengapa penelitian “How Islamic are Islamic Countries?” memberikan hasil yang bertolak belakang dengan agama mayoritas penduduknya. Karena sejatinya, petunjuk hanya akan membawa hasil JIKA dan HANYA JIKA DIPRAKTIKKAN. Bukan jadi jargon semata .
Gambar : pixabay.com
Masih mau menyama-nyamakan kepemimpinan negara-negara maju dengan Fir’aun dan siapa-siapalah itu yang lagi rame memenya tempo hari?
Mayoritas negara-negara maju memang punya peraturan disiplin tentang lingkungan, fokus pada penghematan energi, menyantuni anak yatim dan kaum perempuan (catatan : misalnya tunjangan child benefit yang hanya berhak diberikan kepada ibunya untuk SETIAP ANAK sejak anak lahir hingga usia 18 tahun di Irlandia).
Mereka juga sangat keras menghalau kemiskinan, membangun fasilitas kesehatan yang menjangkau seluruh masyarakat, fasilitas umum yang bisa dinikmati kaya-miskin-tua-muda-Islam-Kristen-atheis-agama lainnya-perempuan-lelaki.
Bahkan, penyandang cacat dan kaum berkebutuhan khusus diberi fasilitas spesial di banyak negara maju. Mereka bebas beraktivitas di luar rumah tanpa kendala berarti . Di sini biasa saja tuh melihat anak-anak down syndrome berangkat sekolah sendiri . Orang-orang berkursi roda jalan ke supermarket belanja sendiri .
Pemerintah punya program gratis buat para orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Pemerintah menjamin pengobatan dan perawatan untuk anak-anak ini.
Yang kayak begini kalian sebut sebagai kepemimpinan ala Fir’aun? .
Lantas, bagaimana dengan Afghanistan, Sudan, Somalia, Bangladesh, Libya, Irak, yang nyata-nyata mayoritas muslim tapi kondisi negara mereka seperti itu?
Gambar : pixabay.com
Fir’aun memperbudak BANI ISRAIL. Saat Musa datang untuk memberinya peringatan dan meminta Fir’aun menyerahkan Bani Israil, dia membangkang dan merasa dirinya lebih berkuasa daripada Tuhan. ITU penyebab dia diazab. Bukan karena dia membangun bangunan-bangunan tinggi, menguasai teknologi bla bla bla .
Cobalah sekali-sekali menggunakan argumen yang lebih komplit dan terarah ketimbang menggunakan meme-meme sederhana dengan pesan dangkal. Sudahlah dangkal, digunakan pula untuk menyerang orang lain yang tidak sepaham.
Kalian toh lebih beriman, lebih saleh, tentunya lebih sering membaca alquran dibanding kami-kami yang konon munafik ini . Tentu kalian lebih fasih menguraikan betapa banyaknya amalan-amalan muamalah yang diurai dalam alquran yang bertujuan menaungi keselamatan dan kesejahteraan manusia di dunia .
Sebagai penuntun dan petunjuk bagi SELURUH umat manusia.
But look at you, sangat-sangat-sangat sensitif dengan fakta bahwa betapa kemiskinan menjadi wajah khas dari tidak sedikit negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Pertikaian internal dan korupsi menjadi salah satu penyebab utama di banyak negara-negara tersebut.
Kalian malah fokus ke wilayah “keimanan” yang sungguh saya tidak pernah paham bagaimana cara mengukurnya? Dari merek minumannya? Merek rotinya? Tontonan televisinya? Pilihannya pas Pilpres/Pilkada? Picik sekali.
Keimanan itu bukan ranah manusia. Memangnya tahu dari mana seseorang itu salatnya khusyuk atau tidak. Orangnya rajin puasa atau tidak? Mau dipasangin CCTV di seluruh penjuru rumahnya? Memangnya CCTV bisa membaca hati manusia? .
Ujung-ujungnya lebih banyak berdebat akan hal-hal yang sifatnya batiniah . Hal-hal yang tidak bisa diukur dalam kapasitas kemanusiaan kita .
Kisah-kisah kaum Ad, Tsamud, Madyan, Fir’aun, Bani Israil, SELALU disikapi dengan retorika bahwa “Mereka dilaknat karena mereka menentang Tuhan. Menentang Tuhan = bukan Islam.” Definisi Islamnya ya berpegangan kepada hal-hal ritual saja .
Coba lihat perilaku mereka lebih mendalam. Kaum Madyan diperingatkan untuk tidak melebihkan timbangan, Kaum Tsamud sudah diperingatkan untuk tidak mengganggu seekor Unta betina yang dititipkan dan bersedia berbagi sumber air dengannya. Ealah, untanya disembelih.
Itu semua kan metafora yang bisa dipikirkan dengan kapasitas akal kita sebagai manusia. Melebihkan timbangan saja dalam berdagang yang mungkin sifatnya person to person sudah diperingatkan secara KERAS. YA GIMANA KALAU KORUPSI TRILYUNAN YANG MENYENGSARAKAN RAKYAT SEGINI BANYAAAAAAAKKKKK .
Berbagi sumber air dengan seekor Unta betina mungkin tertitip pesan bahwa BUKAN hanya manusia yang punya hak atas kehidupan di dunia ini. Coba lihat sekitar kita. Lingkungan dan makhluk hidup lainnya tetap harus dijaga haknya sesuai fitrah yang diturunkan Tuhan bagi setiap makhluk hidup di dunia.
Bani Israil yang serba ogah-ogahan dan culas setelah berhasil diselamatkan oleh Nabi Musa. Bukan karena IDENTITASnya sebagai BANI ISRAIL. Tapi karena SIFAT dan PERILAKU MEREKA SAAT ITU.
Karena masalah identitas inilah, tidak sedikit kaum muslim menentang kemaslahatan atas nama kemanusiaan jjika itu DATANG dari golongan di luar Islam. Logical fallacy terhadap Fir’aun yang dicocok-cocokkan dengan kehidupan di banyak negara maju yang faktanya memang mayoritas non muslim.
Kenapa begitu? Karena kalian menganggap ISLAM itu sebatas “bungkusan” saja. Isinya tidak penting. Bungkusnya dulu dah.
Pokoknya mau punya PEMIMPIN MUSLIM. Titik. Terserah deh gimana-gimananya, pokoknya MUSLIM DULU. Sisanya menyusul. Mau korupsi kek, mau nganu kek, mau nginu kek, bodo amat! Pokoknya kudu muslim, lim, lim.
Dimana definisi muslimnya ya itu aja kali … cek kolom agama di KTPnya. Sifat dan karakter kepemimpinan malah tidak pernah dijadikan patokan. Seolah kalau muslim sudah pasti selamat. Faktanya ternyata tidak. Sibuk lagi mencari alasan gimana biar identitas muslimnya tidak terganggu.
Jadikan ISLAM sebagai KARAKTER kita, teman-teman. Kita, termasuk saya dong, ya .
Gambar : pixabay.com
Sesuatu yang akan memancar dari dalam. Jadi tidak perlu kalian berkoar-koar, akhir-akhir ini doyan bener ngajak ngumpul-ngumpul untuk memamerkan kepada orang lain betapa banyaknya kalian??? Terus kalau banyak kenapa? Biar orang takut gitu?
Gimana caranya mau jadi rahmat buat orang lain, begitu muncul saja orang sudah terkencing-kencing pengin sembunyi. Begitu mau ngumpul, orang heboh siapin pengamanan bla bla bla. Berat di ongkos, euy *ngelapKeringat*.
Orang malah tidak suka dekat-dekat karena perangainya yang terkenal “beringas”.
Jilbab di kepalamu itu, wahai kaum muslimah, jangan kalian gunakan untuk bikin meme menakut-nakuti perempuan lain yang tidak pakai jilbab. Jilbab itu sebagai salah satu sarana bagi kita kaum perempuan untuk menundukkan diri dari kelemahan kita sebagai makhluk yang memang ribet penampilan dan senang pamer-pamer hehehe.
Jilbab itu lebih untuk menyederhanakan penampilan. Makanya tanya pada diri kalian sendiri, jangan-jangan sejak memutuskan untuk berhijab syar’i atau sebangsanya kok ya ongkosnya lebih gede? .
Enggak apa-apa katanya. Seperti kata salah satu penjual gamis syar’i online, “Memang surga harganya mahal.” Cucoooookkkk . Kalian pernah mendengar istilah, “Jangan menjual ayat dengan harga yang murah”? .
Demi identitas boleh doooong keluar duit lebih. Padahal kesederhanaan adalah karakter seorang muslim yang melekat kuat pada diri Rasulullah. Kalian justu menggunakannya sebagai IDENTITAS semata BUKAN sebagai KARAKTER .
Kesederhanaan menjadi pemicu rendah hati. Nah, jangan-jangan kalian sudahlah makin menor makin tinggi hati pula merasa diri lebih baik karena selembar pakaian di badan .
Sudah saatnya umat muslim menjadi bagian dari perbaikan kehidupan di dunia ini. Di banyak wilayah Afrika masih banyak sekali anak-anak yang hidup kelaparan. Afrika bukan wilayah miskin kalau kita berbicara soal sumber daya alam.
Tapi kerakusan para pemimpin dan mungkin ketidakpedulian kita yang membuat mereka terus menerus berkubang dalam duka .
Tahun lalu saya membuat tulisan tentang seorang anak muda di Amerika Serikat yang menemukan teknologi untuk membuat tangan buatan (robotik) yang bisa membantu meringankan hidup kaum tunadaksa. Selama ini, perlu biaya sekitar 80 ribu dollar untuk mengupayakan hal seperti ini.
Temuannya membuat ongkos pembuatannya bisa ditekan hingga hanya 250 dollar saja .
Hebatnya, anak muda itu melepaskan hak cipta atas temuannya menjadi “open source”. Bisa digunakan dan dikembangkan lebih lanjut oleh siapa pun tanpa perlu membayar hak cipta.
Di Inggris, juga tahun lalu, sebuah penelitian di bidang kesehatan tentang Baby 3 Parents untuk membantu pencegahan penyakit genetik yang sudah melahirkan banyak anak-anak cacat yang sungguh sulit untuk hidup normal sejak lahir hingga dewasa. Walau konsep ini masih sangat debatable.
Gambar : pixabay.com
Di blog juga sudah saya bahas hehehe.
Di banyak negara maju sudah muncul aturan untuk MEWAJIBKAN tiap perusahaan membolehkan orang-orang berkebutuhan khusus seperti down syndrome untuk menjadi karyawan tetap dan digaji SAMA dengan karyawan lainnya.
Sebulan lalu saya membawa anak saya kontrol perkembangan motorik rutin di sebuah klinik dekat rumah. Di halaman klinik ternyata ada pelatihan bagi orang-orang yang duduk di kursi roda untuk … menyetir mobil sendiri! Gratis oleh pemerintah.
Sudah sejauh itu mereka melangkah, teman-teman. Kita? Jangankan kesempatan menyetir untuk mereka di kursi roda, mau sekolah saja kadang gedungnya yang tidak ada .
Umat muslim HARUS menjadi bagian dari hal-hal BESAR seperti ini. Jangan hanya terus menerus meratap-ratap betapa orang lain ingin menghancurkan kita bla bla bla.
Sampai kapan mau menghadirkan musuh yang jangan-jangan hanya ada dalam imajinasi kalian sendiri? Penyakit hati kita sendiri jangan-jangan yang menjadi penghalang kemajuan kita?
Kesombongan kita terhadap identitas kita yang membuat kita lalai memperjuangkan karakter .
Iya gak sih, teman-teman?
Mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang mengenakkan.