A Blast from Our Hajj-journey

Mabrook, Haji Dani Rosyadi ^_^. Thawaf qudum 1.5 jam, thawaf ifadah 2.5 jam. Semuanya non stop gendong Narda :). Tetap mampu khusyuk berdoa di tiap putaran. Thawaf wada nyaris 4 jam! Lucky us, I got my period in that morning. Can’t imagine if he did thawaf wada last night with me and our little boy hehehe.

Tercekat melihat Masjidil Haram dan sekitarnya sepanjang sore dan tadi malam. Akses ke lantai 1 ditutup rapat. Thawaf di lantai 2. Sesaknya juga minta ampun. Bis kami yang seharusnya meninggalkan Mekkah ke Jeddah pukul setengah 7 malam, mundur hingga jam 11 malam. Hampir semua rekan-rekan pulang dengan langkah tertatih-tatih dan wajah kelelahan.

Saya tak bisa berbahasa Arab. Hanya sanggup memberi tatapan mata menyemangati sembari berujar, “Mabrook, mabrook, mabrur insya Allah.”

Terima kasih ya Allah, putra kami tergolong tidak rewel sama sekali. Dalam tenda Arafah, orang-orang sekitar berdebat dan tidak sabaran karena panasnya cuaca. Saling berebutan menduduki karpet-karpet yang dekat dengan pendingin ruangan. Anak-anak kecil banyak yang meraung-raung. Tapi Narda terlihat santai saja bermain dengan kantong tidur yang dibagi-bagikan ke tiap orang. Hingga akhirnya terlelap sendiri :'(.

Antri menuju stasiun untuk kembali ke Mina dari Arafah selama 3 jam tak mengeluarkan tangis sama sekali. Sudahlah sesak, gerah, orang-orang tidak sabar dan saling dorong mendorong, tapi Narda diam saja bahkan sesekali tertidur.

Ada kesalahan teknis dalam melontar jumrah hari pertama. Kami jalan kaki dari Mina ke tempat jumarat, seharusnya naik kereta. Sekitar 4 kilo di teriknya siang hari juga tidak membuat bocah 1.5 tahun ini rewel sama sekali. Emaknya malah yang cranky (as usual, ya), ahahahahahahaha.

Thawaf ifada di lantai 2, biarpun memakan waktu 2.5 jam, tapi hawanya sejuk kena AC dan kipas angin yang tersebar di seluruh penjuru atap masjid. Tentu saja Narda riang terus dalam gendongan.

Mabrook juga buat haji kecil kami, Narda Atif Rosyadi :). Si lembut yang sabar hati :). Wajahnya mirip dengan saya (katanya) tapi sifatnya jauh ya booooooo :P.

Cerita-cerita seru lainnya menyusul ;). Ini cuma ‘pemanasan’ ho ho ho. Cerita seru selengkapnya akan saya tulis nanti.

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung

All That Comes Before

Tahun 2010, di bulan Juli melangkahkah kaki keluar dengan penuh keraguan dari bandara. Pertama kalinya menghirup udara kota Jeddah.

Baru saja menjejakkan kaki di Negeri Petro Dolar ini, saya sudah diberi rezeki. Hamil anak ke-2 di bulan ke-2 bermukim di kota (yang ternyata) cantik ini :).

Di tahun pertama itu, tetangga saya berangkat haji. One of my best friendsย  here who has left Jeddah at the beginning of this year.

Biarpun saya menggodanya sepanjang waktu, “Sepertiko mau pergi kemping, Rani. Coba kalau di Makassar, adami itu gandrang bulo antarko pergi Mekkah.” (Kayak mau kemping aja lu, ,Rani. Coba kalau di Makassar, sudah ada Gandrang Bulo yang mengiringi keberangkatan).

Tapi dalam hati saya iriiiiiiiii huhuhu.

Dan di tahun itu juga, saya sudah meyakini, tahun depannya pun, mungkin belum waktunya. Saya akan melahirkan, dan tahun haji berikutnya, si bayi masih akan berusia 6 bulan. No. Gak mungkin lah :(.

***

Saya dan suami sama-sama sepakat bahwa kesempatan untuk hidup di Jeddah adalah salah satu hal terbaik yang pernah dikaruniakan Allah kepada kami. Terima kasih ya, Allah :). Maaf jika dulu saya berburuk sangka :P.

Tapi hidup terus berjalan. Keinginan untuk mencicipi belahan bumi yang lain (dan kalau bisa ada saljunya ya Allah, hahaha :p) tak pernah surut. Setelah tahun ini tuntas menunaikan janji pada orang tua masing-masing, kami merasa, “Maybe it’s time to leave.”

Bulan Juni tahun ini, doanya langsung dijawab Allah. Prosesnya sangat meyakinkan. Tapi ternyata, on a very last step, He said, “Hold on! Not now.” But we managed to move on ;). Padahal saat itu, saya sudah pasrah.

Kami suka bercanda di sini, “Belum sah tinggal di Jeddah kalau belum naik haji.” Hehehehe. Mungkin saya akan termasuk yang tidak ‘sah’.

Selepas Ramadan tahun ini, beberapa teman sudah mencanangkan niat berhaji. Wah, kapan giliran saya? :(. Saya tanggapi dengan bergurau, “jangan semuanya, dong. Tahun depan gue ama siapa? hehehe.”

Dan rahasia dibalik takdirNya terjawab sekitar 2 bulan lalu. Dimulai dengan rekan kerja suami, “Bos, hajian lah. Ayolah. Giliran. Gue belum bisa, nih. Lu aja, Bos.”

Lalu Ibu mertua. Dan akhirnya saya pun meyakinkan suami, “eh, hajian sana. Aku gak apa ditinggal. Cuma 6 hari ini.”

Tadinya rencananya begitu. Suami akan hajian sendiri. Tapi setelah seminggu dia sudah berniat, dia tiba-tiba berkata, “Ikut, yuk.”

“Kemana?”
“Hajian juga.”
“Ha? Narda? Abil?”
“Abil titip. Narda bawa.”
“Ha? Yakin?”
“Bismillah aja.”

Saya kaget juga. Suami saya kok yakin ya bisa bawa anak. Tapi awalnya masih suka ragu. Serius nih mau bawa anak? Tapi dalam hitungan hari, kemantapan itu datang sendiri. Alhamdulillah :).

Bulan lalu, kami resmi mendaftar di sebuah biro haji lokal sini. Membayar lunas dan meyakinkan hati, Insya Allah dilancarkanNya.

On our regular pillow talk at night, I said to my husband, “Wah, kita dikasih kesempatan untuk naik haji dulu, Bang.”

“Iya, yah.”

“Bayangin kalau dari Indonesia. Ngantrinya berapa tahun? Kalau dari negara lain, waktunya pasti gak bisa cuma 6 hari seperti disini. Titip anak ke siapa kalau waktunya lama?”

“Ho-oh.”

“Tuh kan, bener teoriku selama ini. Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu.”

“Ah, bosen. Itu melulu.” Hehehehehe.

ibu-ibu di Jeddah
Some of the best friends ever ๐Ÿ˜€

***

Siapa menyangka, alhamdulillah, dibukakanNya ‘pintu keluar lain’ untuk rencana besar kami tahun ini. Semoga dilancarkan. Amiiinn.

Dan sekaligus diwujudkannya keinginan terbesar saya sejak menapakkan kaki di kota ini, “ingin diberi kesempatan naik haji.”

The path may seem unclear at that time, the moment when we were extremely dissapointed, “kenapa quota visanya mendadak habis?” :(. But all that comes before was truly meant to be :).

And this year is our turn :).

Labbayka Allฤhumma Labbayk. Labbayk Lฤ Sharฤซka Laka Labbayk. Inna l-แธคamda, Wa n-Niสปmata, Laka wal Mulk, Lฤ Sharฤซka Lak.

ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽุŒ ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽ ู„ุงูŽ ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽูƒูŽ ู„ูŽุจูŽู‘ูŠู’ูƒูŽุŒ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ูู‘ุนู’ู…ูŽุฉูŽ ู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒูŽ ู„ุงูŽุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽูƒูŽ

***

Selepas magrib hari ini, kami akan menuju Mekkah untuk tawaf. Dan selanjutnya ke Mina. Untuk bergabung dengan jutaan jemaah lainnya melaksanakan wukuf di Padang Arafah, di tanggal 9 zulhijjah nanti.

Mohon maaf bila ada kesalahan dari saya dan suami :).

***

Selamat menunaikan haji untuk teman-teman tercinta lainnya :
Bunda Ratna, Bunda Andini, Neng Caca, Ibu Peri Mira, Mbak Tety, Mbak Berty, dan suami dan keluarga masing-masing :).

Untuk rekan-rekan fasilkom, Badai dan Selly.

Teman-teman dari Makassar : Riri dan Delsi.

Semoga apa pun kesulitan yang dihadapi setelah memantapkan hati memenuhi panggilan suciNya, kita semua diberi kekuatan untuk melewatinya dengan lancar. Dan tentu saja… menyandang gelar haji yang mabrur :). Amiiinnn.

Tak lupa terima kasih untuk Madam Cantik yang sudah ‘rela’ jagain Abil selama kami hajian nanti. Hihihihihi. Kecup paling kencang untukmu ya, Dear ^_^.

Dan teman-teman lain yang sudah mendoakan, meminjamkan kerudung (hihihihi). Terutama untuk yang malem-malem nganterin kaos kaki-jilbab-thobe buat Narda semalam ;).

How can I not love Jeddah? ;).

20120911-_MG_3698

Berbicara Agama

Ini copas dari status di facebook tempo hari. Pantes lah saya gak bisa cocok sama Twitter. Biarpun dari dulu punya @davincka. Status facebook aja mesti deh minimal 5 paragraf, hehehehehe :P.

Status ini ditulis di tanggal 1 september kemarin. Pas lagi hangat-hangatnya isu Sampang sepertinya :D.
Lumayanlah buat nambah-nambah isi blog :D.

***

Bukan main. Luar biasa. Beberapa isu sensitif (agama, dkk) dalam rentetan peristiwa sekaligus.

Pilkada DKI yang awalnya saya pikir akan menggiring orang-orang untuk akhirnya menyadari bahwa musuh utama tanah air adalah PARA KORUPTOR, sekarang malah berputar-putar di urusan agama.

Konflik Rohingya, yang pernah ternoda oleh penebaran foto-foto palsu bukannya membuat kita tergerak untuk menolong.

Malah membuat foto-foto tentang kebencian terhadap agama Budha sempat beredar luas :(. Saya percaya betul segala penganiayaan itu ada, tapi lihat dong efeknya kalau mata Anda disuguhi foto-foto bombastis).Terus ada #SaveMaryam dengan slogan 2 juta nya. Ah, cuma salah data doang. Beritanya kan mungkin benar. Tapi cermati tujuan si pembuat video. Adakah video ini akan booming kalau mereka ganti datanya misalnya cuma 200 ribu?

Konflik Suriah, saya pikir akan dipahami sebagai lanjutan intervensi pemerintah AS di Timur Tengah (setelah sukses ‘menggoyang’ Mesir, Libya, dan sekarang giliran Suriah). Mulai dihembus-hembuskan sebagai isu kontroversial yang sudah hidup berabad-abad lamanya Sunni vs Syiah.

Isu Sunni vs Syiah diam-diam sudah berkembang sejak awal tahun. Tapi mengapa tiba-tiba ramai di tanah air? Ya karena ada peristiwa Sampang. Selain habis-habisan dikutuk sebagai penyulut pertikaian, paham Syiah pun secara internasional mulai dilirik dan dibahas.

Agak sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kita tidak merasa bingung!

Karena banyak media-media yang dengan mudah menjajakan liputan-liputannya kemana-mana.

Pengalaman pribadi yang pernah saya alami sendiri atas ‘ampuh’nya media internasional memborbardir dunia adalah perisitiwa pemilihan Presiden Iran di tahun 2009. Pemilu 2009 kembali membawa Ahmadinejad memperopleh mahkota pemimpin.

Saya tidak berbicara apakah Syiah sesat bla bla bla, atau apakah Ahmadinejad memperoleh suara terbanyak dengan cara ‘negatif’.

Tapi fakta yang saya tahu pasti, saat protes warga terhadap hasil pemilu, media internasional sudah BERBOHONG besar-besaran. BERBOHONGnya kompak lagi. Yaeyalaaahhh, negara penghasil minyak terbesar di Tim Teng nya kan ‘pacar’nya pemerintah AS. Jangan pura-pura gak tahu, ya ;).

Bukan asal bicara, awal Juni hinggal awal agustus, saya sekeluarga tengah bermukim di kota Tehran. Liputan-liputan media asing internasional diputar berulang-ulang dengan menyuguhkan tayangan yang itu-itu saja. Seolah-olah terjadi kerusuhan massal dan berdarah-darah di Tehran.

Saya sampai kewalahan menerima banyak email dari kerabat, bekas teman-teman kantor, dan teman-teman kuliah, dsb.

Saya tinggal di sekitar Vanak Street, salah satu wilayah jantung kota. Sumpah ya booo, kagak ada apa-apaan! Memang ada protes massal, tapi apa dikira berlangsung sepanjang hari?

Suami saya tetap ke kantor seperti biasa. Karena saya lihat di televisi, BBC, AL Jazeera, dkk, ramai-ramai membahas Tehran, wuiiihhh, jadi kepo dong kita hehehehe.

Gedung apartemen saya memiliki kaca jendela raksasa yang menghiasi seluruh dinding ruang tamu yang menghadap ke jalan. Tak perlu payah-payah saya bisa mengintip ke arah jalan kapan pun dengan mata telanjang. Kok sepi?

Saya telpon suami. Jawabannya bikin saya ngakak, “ooohh, demonya nanti. Kan masih pada kerja. Nanti bubaran kantor baru pada demo lagi.” Ahahahahahahaha.

Gak niat benar, deh :P. Harus belajar dari Indonesia nih. Demo itu ya Mas-mas Mbak-mbak Tehran kudu dari pagi ampe besok pagi laginya. Emang harus capek. Ya kalo nunggu jam kantor kelar, terus abis itu abis magrib udah bubaran, ya kapan suksesnya? hehehe.

Tapi, yang terlihat di berita-berita TV yang diputar tiap jam sekali mungkin (saya pantau terus BBC dan CNN), adalah massa beramai-ramai demo dan berteriak-teriak. Memang ada korban penembakan. Liputan empuk, nih. Saya sampai bosan lihat tayangan itu diputar berulang kali di waktu yang sama, dan pakai slow motion segala.

Bahkan saat demo tiba, masih banyak tempat-tempat publik yang buka seperti toko, dll. Suwer deh, kagak ada mencekam-mencekamnya pisan. Saya sampai gatal pengin ke jalan lihat orang-orang berdemo itu. Tapi rasa penakut saya sendiri yang mengurungkan niat itu hihihihihi.

Mungkin, Syiah itu punya pemahaman BERBEDA, mungkin mereka di mata kita SESAT (saya pun mengaplikasikan Islam saya sebagai seorang Sunni). Tapi jangan lupakan fakta soal Syiah. Bahwa pemerintah Iran, dedengkotnya para Syiah, adalah yang paling keras mendengungkan soal ‘Anti Zionisme ISrael’.

Iran tak anti Yahudi, lho. Bedakan zionisme Israel vs umat Yahudi di seluruh dunia. Konon, ada orang Yahudi yang hidup damai di tengah-tengah Iran. Jangan salah, warga Palestina juga ada yang berasal dari keturunan Yahudi. Jadi, jangan sampai salah menyebarkan ‘kebencian’ :).

Pertama kali Ahmadinejad menjadi Presiden di Iran, media nasional ramai-ramai memuji beliau. Jadi tenar deh langsung Ahmadinejad. Entah mengapa saat itu tak ramai membahas Syiah. Bener-bener deh, kita ini mengapa begitu mudah tersulut?

Soal ‘sisi lain’ kejadian di Suriah, ini ada link pembanding. Jangan langsung skeptis krena yang menulis adalah Ibu Dina Sulaeman, yang pernah tinggal di Iran, dan (mungkin) sudah menganut Syiah atau minimal pro Syiah. Baca saja dulu, ya.

Setelah baca, kalau Anda tetap berkeras bahwa Syiah memang ingin membantai Sunni, bolehlah menyimak sedikit ke ‘belakang’. Saat Irak berguncang di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, siapa yang berperan menjadi ‘korban’?

(linknya saya taruh dalam komen. Biar tulisan ini tidak langsung menunjuk pada link nya. Ntar disangka Syiah dan sesat lah saya. Karena menurut menteri agama, “mereka yang tidak menganggap Syiah sesat maka mereka sesat.”) ๐Ÿ™

Gak akan ada habisnya gak, sih? Apakah pengabdian kita kepada agama akan selalu berbanding lurus dengan pemeliharaan kebencian terhadap penganut kepercayaan lain? (note : syiah dianggap bukan Islam!). Istilah favorit saya yang ditulis oleh salah satu peserta lomba menulis di MP adalah : istiqomah di dalam, toleransi di luar.

Apakah dalam menyiarkan kepercayaan mesti dengan menjelek-jelekkan kepercayaan lain?

Bagaimana kalau menyuarakan kelebihan-kelebihan kepercayaan Anda? Masa sih, menjatuhkan ‘pihak lain’ akan kita yakini sebagai cara untuk menaikkan ‘pihak kita’? Black campaign itu lama-lama #eaaahhhh….

Seberapa besar pun amarah yang berkobar di dada Anda, seberapa cintanya Anda pada ajaran yang menurut Anda telah diinjak-injak oleh orang-orang Syiah, jangan sampai rasa keadilan ikut lebur.

Jangan merasa ini kepentingan Allah. Allah maha Sempurna. Allah tidak butuh Anda untuk membelaNya. Kita beribadah untuk kebaikan kita sendiri, bukan untuk Allah. Tak ada cerita, keagunganNya akan berkurang bila sudah tak ada lagi yang peduli pada ajaranNya. Kalau Anda menyimpang, yang rugi bukan Allah, diri kita sendiri, kan? Camkan hal yang sama untul orang-orang yang Anda anggap sesat.

Anggap saja ini tulisan orang ‘liberalis’ atau ‘pluralis’ atau apalah yang Anda suka. Mungkin ada trend baru yang saya tidak tahu :D.

Ini kan cuma pendapat pribadi saja. Yang mungkin tak saya dapat dari duduk berjam-jam, bertahun-tahun menghapalkan ayat suci. Tapi saya dapatkan dari kehidupan sehari-hari melalui pengalaman dari kesempatan yang diberikan Allah untuk pernah mencicipi hal-hal lain, hidup di tanah berbeda-beda.

Dan mengajarkan bahwa sampai mati pun tak mungkin saya berharap : “ya Tuhan, kenapa seluruh dunia bukan orang Bugis semua? Kalau bisa Bugis-Islam. Dan kalau bisa Islamnya pun harus Sunni. Kalau bisa semua perempuannya pakai jilbab dan abaya hitam, biar gak pusing mereka gonta-ganti baju. Hehehehe” :).

Lebaran di Arab Saudi : Eid Mubarak 1433 H

Tahun ini, lebaran ke-3 di tanah Saudi, di kota Jeddah. Lebaran di Arab Saudi tentu beda dengan lebaran di kampung halaman.

Jadi ingat, libur lebaran tahun lalu, gue sekeluarga ke Yanbu-Badar. Perjalanan yang sangat-sangat menyenangkan sekaligus ‘menguntungkan’. Bulan lalu, kisah jalan-jalan itu berhasi di’duit’in karena dimuat di Femina hihihihihi.

Sayang sekali, tahun ini, suami malah terbang ke Dublin 5 hari huhuhu. Mungkin tertunda liburan ke luar kota, nunggu majikan balik dulu :D.

Inginnya salat Eid di Masjidil Haram, Mekkah. Tapi berangkatnya mesti jam 2 malam. Duh, kasihan anak-anak :(. Sempat iri dengan teman-teman lain yang tetap semangat salat Eid di Haram. Tapi lega juga dengar cerita mereka yang akhirnya gelar sajadah di bawah tangga masjid saking penuhnya areal Haram. Hehehehe.

Jadi, pagi hari tepat di hari raya itu, tetap terbangun jam 5 pagi. Thanks to alarm yang masih ke-set di jam segitu :P. Tapi gak ikutan salat, jagain para bocah di rumah. Suami yang salat di masjid dekat rumah. Abis itu kita sarapan pake…nasi goreng! Ahahahahahahaha.

Gue masak, kok ;). Tapi buat menu siang. Yaeayalaaahh, masaknya baru jam 6 pagi :P. Masak gulai ayam + goreng persediaan empal gepuk di kulkas. Lumayanlah. Empal itu udah gue bikin 3 hari sebelumnya. Sengaja bikin dalam porsi banyak, buat persiapan hehehe.

Sorenya baru deh halal bi halal bareng teman-teman Keluarga besar Telko di kota Jeddah. Kita kumpul-kumpul di playground dekat Corniche. Menu utamanya Kari Rajungan bikinan Mbak Ratna. Sayang euy, biarpun lahir dan besar di kota pantai, gue dari dulu gak demen makan rajungan atau kepiting :D. Selain kari tadi, juga ada ayam goreng, sayur nangka, sambal ati, lontong, dll. Kenyang lah ^_^.

Baru deh 2 hari kemudian, si Papa capcus ke Dublin.

Overall, tetap senang sih dengan lebaran kali ini :). Suasana yang memang beda banget dengan tanah air lama-lama ilang sendiri. Entah ya, makin lama makin terkikis rasa nasionalisme sejak tinggal jauh dari tanah air hehehe.

Nih, ada foto para Madam yang lagi santai-santai di playground kemaren itu ;). Kinclong sekali dong ya kita-kita ini hahahaha.

Yaaayyy, Umrah Ramadan!!

Akhirnya tahun ini, di bulan ramadan terkini, jadi juga umrah ke Mekkah.

Awalnya ragu, sih. Bawa-bawa 2 bocah apa bisa, ya? Jadilah yang sulung dititipin temen hehehe.Thanks ya Ibu Peri Mira ;). Yang bontot aja yang dibawa.

Sengaja memilih waktu abis dzuhur biar gak padet-padet banget. Iya sih gak padet. Tapiiiiii…puanassnya pollllll :P. Aduh, ampe keliyengan gitu. Pas Sa’i jadinya naik kursi roda hihihihi. Dan pas si Narda malah bobok didorong-dorong gitu :D.

Pas tawaf gak konsen mau baca doa. Berkali-kali copotin kacamata hitam buat ngelap keringat yang ngumpul di daerah mata dan bikin burem :(. Tapi enaknya, ada Ibu-ibu yang lalu lalang nyiram-nyiram kita pake air es hehehe. Khusus buat anak-anak, ditawarin minum segala. Narda kesenangan diciprat-ciprat air dingin :P.

Milih siang juga biar kita bisa parkir di Kudai. Parkirannya lebih deket dari Haram, dan banyak bis pulang pergi. Kalau berangkatnya setelah ashar, besar kemungkinan gak bakal boleh tembus masuk sampai Kudai. Harus parkir di deket checkpoint. Jauh dan bisnya jarang-jarang pula.

Setelah selesai umrah, nyari-nyari kresek isi sepatu yang kita jejelin ke rak-rak sepatu sebelum mulai tawaf. Mulai panik. Lupa ngapalin nomernya :(. Ternyata…ilang dong, dong, dong! Huhuhuhu… udah capek banget, mulut udah pahit saking keringnya, masih kita bolak-balik berusaha bongkarin rak berkali-kali.

Tapi apa daya, si Malindi – Candy dan sendal suami gue memang bener-bener ilang :(.

Nyeker deh keluar masjid. Kita udahan sekitar jam setengah 6. Wiihhh, abis ashar emang langsung heboh. Tawafnya bener-bener padet. Sudah rame orang-orang nyiapin menu berbuka. Waktu masih nyeker di pelataran masjid, masih adem. Begitu masuk ke pelataran mal, alamaaaakkk, ampe jinjit-jinjit lari-lari saking panasnya. Ahahahahaha.

Untunglah ada Bin Dawood di Zam-zam Tower, yang letaknya persis di depan salah satu pintu keluar masjid. Bin Dawood ini semacam supermarket selevel Hero kalau di Indonesia. Sambil nyari-nyari sandal jepit, juga beli jus + susu + cemilan buat buka. Mood udah kacau balau :(. Manalagi mungkin orang-orang heran ngeliat kita nyeker dalam toko hihihihihi.

Pas udah turun dari bis, dimana gue kesel (LAGI) karena suami gue salah milih tempat turun, kita mesti jalan agak jauh ke tempat parkiran mobil kita. Pas udah lempar badan ke jok, nyalain AC, baru deh, “alhamdulillaaaahhhh…”

Kita ninggalin Kudai sekitar jam 6.40. Jadwal beduk masih setengah jam lagi. Suami kayaknya udah kepayahan. Hebat euy. Dia bener-bener konsen umrahnya. Segala doa dalam buku habis dilahap. Tawafnya pun gendong si Narda sepanjang waktu. Pas Sa’i juga dia jalan sendiri. Konsen banget baca doanya. Gak mau nyiram-nyiram kepala pakai keran air zam-zam yang ramai dikerubutin orang. Takut ketelen alasannya. Subhanallah :).

Sembari nyetir pulang, suami bilang mulutnya udah bener-bener pahit, ludahnya udah kering banget. Gue nawarin mampir dulu tapi dia bilang entar aja pas buka puasa, mampir di pompa bensin. Alhamdulillah jam 7.03 (waktu jam mobil), suara azan berkumandang dari radio.

Nenggak susu sebotol penuh ahahahaha. Botol jus segede gambreng juga langsung ludes. Untung tadi sempat dapat pembagian kurma :). Berbuka puasa dengan buah kurma memang beda :). Gue baru ngeh sekarang-sekarang. Dulu-dulu ogah makan kurma. Setelah mampir sebentar, akhirnya tancap gas menuju Jeddah, langsung ke Aziziyah jemput Abil di rumah Tante Mira.

Pas nyampe rumah langsung tepar dong? Ho-oh. Tapi gak lama-lama. Dapur belum diberesin dari siang, karena pas nitip Abil, gue sempetin pagi-paginya bikin lauk buat keluarga Mira. Sambil nyuapin anak-anak, jadi gak keburu beres-beres sebelum berangkat umrah. What a day ^_^.

Suhu sore itu di sekitar Masjidil Haram – Mekkah adalah 38 dercel. Bayangin, siangnya kayak apa. Sepertinya sekitar 43-45 dercel. Hebat juga si Narda tahan banting. Pas salat ashar, banyak tangisan anak-anak di shaf gue, dia anteng aja duduk-duduk deket kaki gue. Hehehehe. Hebat anak mama. Mamanya nih yang payah :(.

Alhamdulillah. Umrah ramadan kesampaian juga :).
Foto di bawah bukan pas umrah kemarin. Foto lama, sih. Gak ingat kapan hehehe. Pokoknya foto pas depan Masjidil Haram biar rada nyambung ama postingannya :D.