Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada?

by : Jihan Davincka

***

Sebuah tulisan di blog teman pernah menceritakan tentang pengalamannya saat berkunjung ke salah satu negara di Eropa Timur. Eropa Timur kental dengan sosialisnya. Tak heran jika banyak orang di sana tak percaya lagi dengan doktrin ketuhanan mana pun. Istilah tenarnya, Atheis yang berpedoman Jika Surga dan Neraka tak pernah Ada .

jika surga dan neraka tak pernah ada
Homeless Charity (Gambar : www.topnews.ae)

Di sana, teman ini berjalan-jalan dengan kenalan Atheisnya. Ketika melewati seorang pengemis, temannya ini refleks mengeluarkan selembar uang kertas dan memberi ke si pengemis tadi. Teman saya jadi kepo.

“Why do you give your money?”

Teman Atheisnya tertawa geli, “What d’you mean? Is that rude to give some money to them?”

Teman saya malu sendiri. Teman Atheisnya melanjutkan dengan ngeledek, “By the way, it’s called sharing. It’s something good anyway.”

Di blognya, teman saya merasa tertampar, “Gile, dia yang enggak punya agama aja mengerti soal gini-ginian. Kalau dia enggak percaya Tuhan, untuk tujuan apa dia ngasih duit ke pengemis, ya? Kita aja yang jelas-jelas dapat pahala suka males.”

Nah!

***

Sudah nonton film “Hotel Transylvania”? Sebagai ratu drama, film ini tentu masuk dalam daftar film favorit dramanya Mama Jihan. Maklum ya, demennya memang drama-drama komedi cetek seperti ini hehehe. Kartun pula. Kurang cetek apa coba selera gue :P.

Sekilas cuma skenario biasa soal keluarga drakula yang sakit hati dan akhirnya memilih untuk mengisolasi anak perempuan tunggalnya. Terus…wah, panjang, cuy. Nonton sendiri aje, ye.

Salah satu pesan moral yang cukup berbekas adalah ketika penonton disuguhi sebentuk satir, “Jadi, siapa yang sebenarnya jahat, manusia atau para monster?” Di sepertiga terakhir bagian film penonton, sebenarnya penonton sudah digiring pada opini, “No matter who you are, how you look, what you wear, what you BELIEVE, as long as you’re being nice to others, YOU’RE RIGHT/GOOD. That which matters most.”

Maksudnya? Nonton dong, nontooooonnnn :P. Yang belum nonton, biar makin penasaran, here’s my favorite quote :

Jonathan: Are these monster gonna kill me?
Dracula: Not as long as they think you’re a monster.
Jonathan: That’s kinda of racist.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Hotel Transylvania (gambar : www. wired.com)

***

Pesan 2 cerita di atas sama.

Ada satu nih sebuah slogan baru yang bukan cuma diusung oleh kaum non muslim saja, tapi juga sudah ramai dibahas di kalangan umat muslim sendiri, “Semua agama sama. Semua agama benar.” ‘Sinisme’ terhadap agama juga muncul dalam berbagai kalimat. Misalnya, ini dari profil twitter salah satu blogger favorit saya : “Tuhan itu fakta. Agama menjadikan-Nya mitos.”

Termasuk pesan yang ditunjukkan oleh 2 cerita sebelumnya. Buat apa agama? Si Atheis tanpa agama tak menjadikan dia lebih tak bermoril kok daripada kita-kita yang (mengaku) beragama. Buat apa agama? Mau manusia kek, mau drakula kek, mau kafir, mau sembahyang, kalau jahat ya jahat saja.

Muncullah orang-orang yang menganggap bahwa sebenarnya pengkotak-kotakan agama inilah yang justru membuat kejahatan merajalela. Siapa yang tidak pernah dengar Perang Salib? Sebuah sejarah panjang pertikaian yang melibatkan banyak sekali dimensi sosial-geografis-budaya, yang ternyata memang berawal dari sebuah ceramah agama. Jangan cuma bisa bilang, “ooohh perang kristen lawan Islam, ya.” Jangan malas mencari tahu. Gampang diboongin nanti lho :P.

jika surga dan neraka tak pernah ada
The 7th Crusade (gambar : www.wikipaintings.org)

Dan…isu pluralisme semakin kencang berhembus. Maknanya banyak. Di Indonesia, beberapa petinggi para Nahdiyyin dianggap sudah melewati batas dengan paham pluralismenya. Termasuk mendiang Gus Dur. Yang mungkin tak banyak orang mau tahu, di balik ucapan-ucapan nyelenehnya, beliau tak bisa semena-mena kita keluarkan dari daftar “cendekiawan muslim terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.”

Bertentangan tidak, sih, pluralisme ini dengan ajaran Islam? Katanya, “Itu bisa merusak aqidah.” Nah, ini nih menurut saya pribadi yang membuat Islam bagaikan buah simalakama. Agama pedang, katanya. Apa-apa harus berkorban darah. Apalagi kalau soal aqidah. Beuuhhh, harga mati!

Untuk saya, ajaran Islam yang saya yakini itu sempurna. Dimensinya berlangsung 2 arah, vertikalnya diwakili oleh aqidah, secara horisontal amalan muamalah tidak kalah banyaknya. Pastinya langsung diprotes, “Tidak bisa begitu! Aqidah nomor satu! Nanti muamalah tinggal ngikut.” Kalau muamalah tinggal mengikuti itu saya setuju 100%. Tapi kalau ada yang bilang aqidah nomor satu, apa otomatis berarti muamalah boleh dinomorduakan? “Kalau kepepet boleh, Jee.” Apa pula ini dalam agama bawa-bawa kepepet hehehe.

Jebakan batman-nya ada di pertanyaan SUPER ini, “Perempuan dengan akhlak luar biasa seperti Bunda Teresa, dengan seorang yang memiliki track record kejahatan dunia nomor wahid tapi dia percaya Allah dan muslim hingga akhir hayatnya. Siapa yang masuk surga?”

Jawaban familiarnya sudah jelas, “Bunda Theresa pasti masuk neraka. Wong dia kafir. Si Penjahat muslim pasti nanti ke surga juga. Tapi dicuci dulu dosanya di neraka.” Awww, pakai apa? Rinso anti noda? :P.

***

Berbicara soal aqidah bukan perkara gampang. Saya punya pengalaman pribadi soal ini. Saya punya seorang kerabat. Seorang tante. Idola saya waktu saya kecil. Cantik, cerdas, banyak duit pula hehehehe. Alimnya jangan ditanya. Ibu sering bercerita biarpun termasuk orang berada, ibadahnya tak pernah luput. Puasa senin kamis rajin banget. Serentetan pengajian diadakan langsung di rumahnya.

Di suatu hari, entah ada urusan apa, malam-malam saya berkunjung ke rumahnya. Bersama Ibu saya. Kamis malam waktu itu. Kok ingat? Sebenarnya tidak ingat, tapi kejadian yang saya alami saat itu yang membuat saya selalu ingat kalau saat itu adalah malam jumat.

Rumahnya besar di sisi jalanan besar. Halamannya luas. Kami masuk dari pintu garasi. Baru beberapa langkah saya sudah mencium wewangian aneh.

“Bau apa ini?”

Ibu saya malah menghardik, “Huss, ndak usah tanya-tanya. Awas ya, nanti di dalam jangan tanya-tanya.”

Si mama enggak nyadar kalau anak perempuannya yang satu ini super duper keponya dari dulu. Diam-diam saya ke arah dapur sendiri, bertanya langsung pada asisten rumah tangga di sana. Sebelum bertanya saya sudah melihat sendiri asal wewangiannya. Semacam dupa yang ditaruh di tempat khusus. Jumlahnya ada beberapa. Asisten rumah tangga sibuk meletakkannya di beberapa tempat. Setelah tugasnya selesai, baru saya colek.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.waroengdjadoel.com

“Eh, ini untuk apa?”

“Oh, ini biasa. Tiap malam jumat memang dinyalain. Buat ngusir yang jahat-jahat.”

“Siapa yang jahat?” Kejar saya.

“Enggak tahu. Pokoknya disuruhnya begini tiap malam jumat. Biar rumah ada yang jaga. Biar aman gitu.”

Besar sebagai orang bugis, dalam lingkungan agama yang cukup ‘ketat’, pemasangan dupa beraroma aneh di malam jumat untuk mengusir hal-hal jahat tentu hal baru buat saya, yang kala itu masih duduk di bangku SD. Waktu itu sih, cuek saja. Ketika asisten RT nya pergi, baru deh saya perhatikan lebih dekat si dupa itu. Baunya menyengat jadi saya memilih untuk menjauh saja. Sederhana saja pikiran saya waktu itu, “Mungkin memang ada perampok yang takut wangi-wangian aneh seperti itu.” Nothing important.

Ketika umur agak besar, pelajaran agama bertambah, baru mengerti tentang hal-hal seperti ini. Sekaligus mengerti mengapa almarhum Bapak kadang bersitegang dengan Ibu mengenai kerabat-kerabat seperti ini. Kebiasaan lain tante saya dan kerabatnya yang lain adalah : percaya pada ‘orang pintar’.

Almarhum Bapak saya sangat ‘keras’ terhadap hal-hal seperti ini. Ibu lebih luwes. Kalau tidak salah Ibu secara santun pernah berkata kepada Bapak, “Biar saja. Kita tidak ikut-ikutan. Jangan sembarangan ceramahi orang. Belum tentu dia mengerti. Dia itu saudara. Tidak sedikit bantuannya kepada kita.”

Dan perjalanan takdir memenangkan pilihan Ibu. Beberapa tahun kemudian, Bapak meninggal tiba-tiba. Tak ada tanda-tanda sama sekali. Meninggalkan 7 orang anak yang belum ‘menetas’ satu pun. Disusul dengan badai ekonomi yang pernah membuat saya ketakutan dan tidak bisa tidur beberapa malam, sibuk berdoa, “Ya Allah, kalau pun tak ada rezeki untuk melanjutkan pendidikan, setidaknya beri kesempatan untuk bekerja.” Hihihihihi. Saya benar-benar takut kalau Ibu mengambil jalan pintas dan menikahkan saya :P. Sia-sia kan ke-kece-an ku jika berakhir di pelaminan begitu saja sebelum merebut cita-cita berfoto pakai toga. Ahahahahahahaha *colekPakaiPisau* :P.

Singkat cerita, pengalaman ini pun sekaligus mengajarkan hal lain. Rezeki tiap manusia hak Allah semata-mata. Bukan hak tunggal orang tua :). Suka tidak suka, “banyak anak banyak rezeki” bukan kalimat yang salah :).

Adalah tante saya dan saudara-saudaranya yang sudah mengamalkan penggalan ayat-ayat dalam surah Al-Maun kepada anak-anak yatim yang ditinggalkan oleh almarhum Bapak :). Memberikan tempat tinggal gratis dan dorongan moril yang tidak sedikit kepada Ibu. Memampukan kami bertujuh meretas jalan ke arah yang lebih baik :).

Tante yang sama. Yang menyalakan dupa di segenap penjuru rumahnya di tiap kamis malam. Yang kadang-kadang mempercayakan ramalan masa depannya kepada ‘orang pintar.’

“Kalau lu sayang, harusnya lu berdakwah, dong, ke mereka.” Andaikan interaksi dengan sesama manusia bisa sesederhana itu, ya :). Mungkinkah semua hal di dunia akan beres dengan, “Aqidah nomor satu!”

***

Tentu saja, aqidah tidak kasat mata. Siapa yang tahu, si kerudung panjang yang menjuntai hingga lantai, menyimpan kalung ‘ajaib’ di lehernya yang diyakini sebagai ‘penjaga tambahan’nya?

Aqidah masalah hati. Mau dibolak balik kayak apa, satu-satunya pihak yang berhak menilai adalah Sang Penciptanya itu sendiri :). Manusia, selain tempat salah dan lupa, punya kemampuan untuk bersandiwara. Kita masing-masing adalah aktor utama dalam sinetron kehidupan yang dijalani sehari-hari. Kenapa repot-repot mau mengurusi skenario aktor lain. Sutradaranya cuma satu. Bukan saya, bukan anda, bukan ustaz anu, bukan syeikh ini, bukan raja itu, bukan ulama sana sini, setiap kita bertanggung jawab untuk peranan yang kita mainkan. Secara individu.

Tentu boleh menimba ilmu dari para orang-orang besar ini. Tapi ya jangan memuliakan mereka lebih daripada keyakinan kita terhadap Yang Maha Mulia, dong ;). Saya setuju untuk urusan aqidah, sifatnya sangat individualis. Ketatlah menjaga aqidah untuk diri sendiri. Alquran memang cuma satu, Rasulullah SAW sudah dianggap ‘final’. Tapi penerjemahannya yang tidak satu dan seragam. Pekerjaan sia-sia berusaha menyatukan hal-hal yang sudah dan akan terus berbeda ini.

Amalan yang sifatnya vertikal seyogyanya dilaporkan kepada Allah saja. Tidak usah ditambah-tambahi dengan pasang status publik di media sosial, “Hm…bingung, deh. Buka puasa nanti masak apa, yaaaa?” Sayang kan, amalannya kena diskon gara-gara bercampur riya’, yang mungkin bukan itu tujuan awalnya.

Adakah jaminan melaksanakan amalan salat dan puasa tak terputus-putus akan membuat kita melangkah mulus memasuki surga-Nya? Allah yang Maha Tahu. Apa sudah pasti kalau kafir pasti dilempar ke neraka, no doubt! Banyak ayatnya, menyekutukan Tuhan adalah dosa tak terampuni. Padahal Allah pun menjanjikan pengampunan yang Maha Luas. Bingung? Jangan! Simpel, itu urusan Allah saja. Back off! :). Berusahalah menjadi umat yang terpilih tanpa perlu dipusingkan dengan “anu masuk surga atau neraka”, ya? Mending pikirin NUDI di X-Factor nanti bakal masuk 3 besar gak, ya? Ahahahahahahaha :P.

Mengurusi aqidah orang lain akan membuat kita terjebak sendiri. Kaum pluralis akan makin merasa jumawa bila ada pernyataan perintah untuk menumpahkan darah gara-gara, “Kafir! Salatnya cuma 3 waktu. Yang benar 5 waktu!”

Sadarkah kita, kalau di pihak sana pun menyerukan hal yang sama, “Kafir! Kelebihan tuh salatnya.”

Kalau begitu kapan berdakwahnya? Kita masih punya muamalah :). Sekarang malah terbalik, ya. Orang merasa ngotot soal aqidah, tapi kalau soal muamalah malah santai-santai saja. Karena dianggap menyenangkan Tuhan jauh lebih perlu daripada menyenangkan sesama manusia. Katanya, condong ke akhirat akan membuat kita lebih selamat. Yang saya tahu, Islam itu SEIMBANG DUNIA AKHIRAT. Condong ke mana pun hanya akan membuat keseimbangannya goyah :).

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.whitehorseriders.org

Keseimbangan yang bergeser inilah yang sering dijadikan senjata oleh beberapa penganut paham pluralisme mulai ‘menyerang’ kaum ‘agamis’. Padahal kan tidak begitu :(. Beberapa kaum pluralis menuduh agama menyuruh penganutnya menghancurkan penganut agama lain untuk menyenangkan Tuhan. Jihad, dalam agama samawi mana pun, disempitkan maknanya. Entah mengapa, keimanan kita terasa makin membuncah seiring dengan besarnya rasa benci kepada penganut agama lain.

Pernah dengar kalimat ini, “Tuhan tidak perlu disembah.” Sejujurnya, saya setuju. Keagungan Tuhan tidak akan berkurang sedikit pun walau seluruh umat manusia menolak mengakui-Nya. Untuk siapa kita berTuhan? Untuk diri sendiri. Mengapa perlu berbuat baik kepada sesama manusia? Agar Tuhan senang? Ah, Anda meremehkan Tuhan kalau begitu.

jika surga dan neraka tak pernah ada
Gambar : www.facebookstatusbase.com

“Jika ingin bahagia, bahagiakan orang lain.” Buktikan sendiri. Segala amalan muamalah ya untuk para pelakunya sendiri. Apa yang lebih penting di dunia ini selain kebahagiaan? :). Apa pun definisi kebahagiaan yang Anda pegang.

Amalan muamalah ini berlaku sama untuk umat manusia mana pun. Jangan karena aqidah kita menjadi terpeleset. Beberapa waktu lalu, di news feed ada yang pasang status bingung karena tetangganya yang merayakan paskah mengirimkannya sekotak nasi kuning hasil perayaan paskah. Dia bingung dimakan atau tidak? Haram tidak, ya?

Sebenarnya yang haram itu apa, sih? Daging babinya yang Anda takuti atau yang makan babinya? :P. Bijaksanalah. Kalau ragu, tak perlu kan memajang keraguan sensitif Anda di media sosial. Kecuali Anda yakin 100% bahwa yang baca semuanya sepaham dengan Anda ;).

Jadi, masih pening Bunda Theresa masuk surga apa enggak, nih? Hehehehe. Jangan merisaukan yang bukan urusan kita. Banyak hal baik yang bisa kita pelajari dari perempuan yang bernama asli Agnes Bojaxhiu ini. Dari namanya saja jelas bukan orang India. Tapi mengabdikan sebagian besar hidupnya di pedalaman India. Tokoh islam wanita juga banyak, kok ;).

Jangan sampai aqidah membuat kita menjauh dari muamalah. Aqidah yang benar akan menuntun kita selaras dengan aturan kemanusiaan. Sekepepet apa pun, kedua hal ini tak akan pernah bertentangan. In Shaa Allah :).

Jangan bersedih hati atas bullying dari kaum non agamis yang mengatasnamakan pluralisme. Sebagai muslim, kita tidak menentang pluralisme, kan? :).

Pertahankan keseimbangan dunia dan akhirat. Terlalu condong ke mana pun suatu hari akan menyesatkan kita. Lihatlah sejarah. Presiden Anwar Sadat adalah salah satu tokoh Islam terkemuka asal Mesir. Mati di tangan seorang pemuda Islam yang sakit hati karena beliau menyetujui perjanjian Camp David. Siapa yang tidak tahu Gandhi, seorang yang hingga di akhir hayatnya mengaku sebagai pemeluk Hindu sejati. Siapa yang membunuh Gandhi? Seorang ekstrimis hindu yang mengaku kesal karena Gandhi dianggap terlalu baik kepada pemeluk Islam di India :(.

Apa benar mereka yang tak percaya agama lagi akan lebih baik daripada kita yang tetap beristiqamah di jalanNya?

Dengarkan baik-baik lirik lagu ini, yng dinyanyikan oleh mendiang Chrisye dan Ahmad Dhani, ” Jika surga dan neraka tak pernah ada, Apakah kita semua, benar-benar tulus menyambah padaNya? Atau mungkin kita hanya, takut pada neraka, dan inginkan surga.”

Apa jawaban kalian, Saudaraku? :).

***

jika surga dan neraka tak pernah ada

Jejak Urang Awak dalam Sejarah Bangsa

by : Jihan Davincka

***

sejarah kecil

Baru saja menuntaskan sebuah buku dari kumpulan jilid “Sejarah Kecil Perjuangan Bangsa.” Buku ini bukan khusus membahas suku Minang. Buku biografi beiberapa tokoh pelopor sejarah perjalanan bangsa ini ditulis oleh Rosihan Anwar. Kesan pertama setelah menuntaskan isinya, “Minang lagi, minang lagi!” Hehehehehe.

Memang, majalah Tempo pun pernah merilis buku biografi 4 Bapak Bangsa. Tidak tanggung-tanggung, 3 dari 4 (Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka) terlahir dari salah satu suku terbesar di pulau terbarat nusantara. Bukan cuma mempopulerkan rendang, suku minang melahirkan tidak sedikit tokoh-tokoh penting di masa lalu. Pola pikir mereka yang beragam dan ‘intelek’ membuat banyak ideologi yang teranut. Membentang dari sayap kiri, tengah, dan kanan.

Sayap kiri ada Tan Malaka. Seorang tokoh komunis nasional yang namanya sempat diendapkan oleh rezim orde baru. Anda mungkin berpikir Tan Malaka seorang atheis :). Beliau seorang penghapal alquran. Mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sosialis ekstrim kiri. Berbeda dengan sosialis komunis yang diterapkan oleh Lenin dan Stalin, yang sayangnya menjadi standardisasi dalam menilai pengusung paham komunis. Selain Tan Malaka, ada juga Rustam Effendi.

Sayap tengah ada Syahrir. Bapak Bangsa yang jasanya tidak sedikit namun berakhir tragis dalam isolasi politik hingga akhirnya meninggal dunia. Syahrir sosialis beraliran kiri namun tidak menyetujui sosialisme ala Uni Soviet. Menurutnya, sosialisme adalah mengakui persamaan derajat antar sesama manusia.

Tokoh populer di sayap kanan antaralain : Muhammad Natsir, Agus Salim, dan Buya Hamka. Ketiganya bukan nama asing, kan?

Urang awak juga menghiasi daftar pujangga besar dan pejuang kemanusiaan tanah air. Ada Motinggo Busye, A.A Navis, Muchtar Lubis, dan Lukman Harun. Saya baru tahu kalau Motinggo Busye, cerpenis favorit saya, ternyata orang Minang juga. Rata-rata mereka memiliki keahlian bermacam-macam nan mumpuni. Seorang versatile.

Disebutkan kalau orang Minang tidak berjodoh dengan pemerintahan. Hatta mundur ketika merasa garis politiknya sudah tidak sejalan dengan Sukarno. Syahrir mundur dari jabatan perdana menteri di tahun 1947. Tan Malaka terlempar dari organisasi yang diperjuangkannya dengan segenap jiwa. Buya Hamka juga akhirnya memutuskan hengkang dari pucuk kepemimpinan dari MUI.

A.A Navis mengeluhkan apa yang salah dengan orang Minang?

Sementara Sukarno dan Suharto mati-matian membentuk kekuasaan. Sekali tergenggam, mereka tak sudi melepaskannya.

Orang Minang mulai ‘tersisih’ ketika pemberontakan PRRI/Permesta bergejolak. Satu persatu tokoh-tokohnya mulai dilemahkan.

Sisa-sisa intelektualitasnya masih sangat terasa hingga kini. Sebagian besar teman saya yang lahir dan besar di sana, saat merantau pas kuliah atau sudah bekerja, kecerdasannya memang tidak main-main :).

Bahkan pernah kami naik taksi. Supirnya ternyata urang awak. Saat macet tidak terasa karena dia dan suami sibuk mengobrol soal politik tanah air. Cara bicaranya tidak seperti orang kebanyakan. Kok bisa jadi supir taksi, ya? hehehehe.

Saya ingin menghindari stereotip atau stigma semacam ini. Tapi ya, sejarah dan pengalaman sehari-hari mana sanggup saya bantah :). Tidak semuanya, lebih tepat (mungkin) sebagian besar.

***

Ngomong-ngomong soal agama, suami saya bilang orang Minang termasuk suku yang ‘ketat’ untuk urusan keyakinan. Bisa dibilang, suku ini 100% penganut muslim. Makanya tidak berlebihan jika film “Cinta Tapi Beda” karya Hanung menuai protes keras dari ‘petinggi-petinggi Minang’. Duh Mas Hanung, apa yang dicari? Jangan disama-samakan yang memang sudah berbeda :). Toleransi ada batasnya.

Saya penasaran sekali mengapa orang-orang Minang ini bisa ‘eksentrik’ begitu, ya. Padahal sebagian besar mereka mengalami gemblengan masa kecil ala pesantren konservatif. Memiliki pengetahuan agama Islam yang tidak ecek-ecek. Memang banyak dari mereka yang akhirnya berkiprah dan memiliki nama besar dalam pengetahuan agama. Tapi banyak juga yang akhirnya memilih berpihak pada sosialisme.

Sebenarnya bila ditilik lebih jauh, para sosialis ini muncul sebagai bentuk perlawanan kepada kaum kapitalis. Makanya kalau melihat sejarah perjuangan bangsa, selain kaum muslim yang memang sudah mendominasi kala itu, perlawanan habis-habisan pun datang dari kaum sosialis. Muslim memandang imperialisme sebagai ‘kristenisasi’ dan Sosialis yang memandang imperialisme sebagai kapitalis.

Sebagian paham sosialisme memimpikan perwujudan “Masyarakat Madani”. Karena paham ini kerap dihembus-hembuskan sebagai ekstrim kiri, konotasinya menjadi negatif 100%. Padahal ekstrim kiri ya karena ekstrim kanannya sudah menjadi pakem penganut kapitalis :D. Iya enggak, sih? *sotoy*.

Kalau ditinjau lebih jauh lagi, sebagian paham sosialis belum sepenuhnya ‘mati’. Sebagian besar Eropa Barat masih menerapkan aturan sosialisme kemanusiaan. Berbeda dengan Amerika Serikat yang kental dengan liberalismenya. Liberalisme? Jangan bingung. ‘Teman’nya kapitalisme juga, kok. Hehehe.

Liberalisme mengingatkan pada istilah liberal. Islam di era terkini di Indonesia mulai digerogoti sebuah kelompok kecil yang menamakan dirinya JIL (Jaringan Islam Liberal). Pemahaman mereka bisa dicek di website resminya. Yang saya bingung, mereka banyak menyerang pemahaman Islam ‘konservatif’ termasuk ‘meragukan’ isi alquran. Lha ya bikin agama baru aja, kenapa mesti dompleng nama Islam? :). Takut enggak dapat pengikut ni yeeeee :P.

Tapi apesnya, istilah ‘liberal’nya ini menjadi istilah yang tidak jarang digunakan secara ‘serampangan’. Misalnya pas Pilkada kemarin milih Jokowi, dituduh ‘liberal, lu!’. Suami saya nih yang kerap dituduh ‘liberal’ oleh teman-temannya. Ahahahahhaha.

Suami saya kebetulan urang awak juga. Saya mengagumi semangatnya belajar bahasa Arab. Alasan utamanya karena dia ingin lebih mengerti isi alquran. Memang, orangnya kurang suka dengan doktrin-doktrin yang menurutnya membuat orang menjadi ‘malas belajar’ dan mencari tahu sendiri:).

***

Semoga sepenggal cuplikan masa lalu urang awak di atas (exclude my husband! :P) bisa menyemangati kita sebagai intelektual muda kaum muslim *tsaaahhh* untuk tidak enggan menggali dan terus mengasah pengalaman. Jangan takut rasa penasaran akan menjerumuskan kita. Perbedaan akan me’liberalisasi’ kita ?Tidak, kok. Bukan label ustaz yang akan membawa kemuliaan bagi tiap manusia.

Takwanya, bukan ‘label’nya :).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Jangan berlindung di balik zona nyaman, “kata ustaz kan begitu”. Jangan mentok gitu, dong hehehehe. Tentu kita selalu butuh guru dan bimbingan. Manalagi kita dihantui ketakutan hati tiap insan mudah terombang-ambing dan resiko ‘tergelincir’ itu selalu ada. Maka, lafadzkan selalu :

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

[HR.Tirmidzi]

Sekalipun rasa hormat pada kaum ulama harus selalu menjadi bagian dari akhlak utama seorang muslim, bersandarlah selalu pada Allah. Bukan pada orang, figur, dan lain-lainnya.

Hasbunallah wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar). Surah Ali `Imran (3).

Amin :).

***

Mengenang Gandhi

***

Hari ini, tahun 1948 silam, seorang tokoh dunia telah wafat karena terbunuh. Tokoh yang terkenal dengan kesederhanaan dan sikap anti kekerasannya. Dijuluki Mahatma (Jiwa Agung). Seorang yang terlahir dengan nama asli Mohandas Karamchand Gandhi.

Gandhi_smiling_R

Gandhi terbunuh oleh penganut Hindu fanatik yang menganggapnya terlalu baik kepada kaum muslim India.

Gandhi terkenal dengan 10 ajarannya :

1. Change Yourself.

“You must be the change you want to see in the world.”

Berubah dulu untuk diri sendiri. Jangan berharap dunia/lingkungan berubah dengan sendirinya. Seperti kata Michael Jackson, “I’m starting with a man in the mirror.” :).

2. You are in Control.

“Nobody can hurt me without my permission.”

Kita adalah pengendali utama untuk diri kita sendiri.

3. Forgive and Let it Go.

“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong…. An eye for eye only ends up making the whole world blind.”

Tepat sekali. Memaafkan memang merupakan salah satu hal tersulit di dunia ini :(.

4. Without Action You aren’t Going Anywhere.

“An ounce of practice is worth more than tons of preaching”

Indeed, action speaks louder :).

5. Take care of this moment.

“I do not want to foresee the future. I am concerned with taking care of the present. God has given me no control over the moment following.”

Seize the day! ^_^

6. Everyone is Human.

“I claim to be a simple individual liable to err like any other fellow mortal. I own, however, that I have humility enough to confess my errors and to retrace my steps.”

“It is unwise to be too sure of one’s own wisdom. It is healthy to be reminded that the strongest might weaken and the wisest might”

Tidak ada yang sempurna. Tak ada gading yang tak retak.

7. Persist.

“First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.”

Jangan menyerah, pantang mundur.

8. See the Good in People and Help Them.

“I look only to the good qualities of men. Not being faultless myself, I won’t presume to probe into the faults of others”

“Man becomes great exactly in the degree in which he works for the welfare of his fellow-men”

“I suppose leadership at one time meant muscles; but today it means getting along with people”

Kasturba, wanita pendamping Mahatma yang setia itu, barangkali bingung mendengar ucapan Sang Mahatma. Maka, pada suatu hari ia bertanya: “Bila memang demikian, kenapa kau ingin mengusir Inggris dari India? Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan dengan mereka?”

Mahatma membisu selama beberapa detik, baru menjawab: “Karena negeri ini adalah negeri kita, dan sudah sepatutnya kita sendiri yang mengurusinya. Mereka tidak perlu mengurusi kita.”

“Nonviolence does not signify that man must not fight against the enemy, and by enemy is meant the evil which men do, not the human beings themselves.”

“Tanpa-Kekarasan tidak berarti kita tidak boleh melawan musuh. Hanya saja yang kita musuhi adalah kejahatan yang dilakukan oleh manusia, bukan manusianya.” Kita melawan tanpa senjata, tetapi dengan kekuatan logika, rasio, dan di atas segalanya cinta-kasih serta pemaafan.

9. Be Congruent, be Authentic, be Your True Self.

“Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.”

“Always aim at complete harmony of thought and word and deed. Always aim at purifying your thoughts and everything will be well.”

10. Continue to Grow and Evolve.

“Constant development is the law of life, and a man who always tries to maintain his dogmas in order to appear consistent drives himself into a false position.”

Keep on moving on, everyone!

***

Rest in peace, our Mahatma :).

Salahuddin Al Ayyubi

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), Dicinta Kawan Dipuja Lawan

Salahuddin Al Ayyubi (Saladin), salah satu tokoh besar yang dipersembahkan oleh peradaban Islam di abad 6 – 7 Hijriah. Lahir tahun 1138 M di daerah Tikrit, Irak. Seorang keturunan Kurdi yang di usia belasan ikut hijrah bersama keluarganya ke Damaskus, Suriah. Namun menaiki panggung kebesarannya melalui daratan Mesir.

Namanya adalah Yusuf bin Najmuddin. Dijuluki sebagai Salahuddin. Dunia barat memanggilnya sebagai Saladin. Al Ayyubi merupakan nama keluarganya. Salahuddin Al Ayyubi.

Salah satu keistimewaannya adalah namanya tidak cuma bergema di kalangan muslim saja. Tapi disebut-sebut di berbagai literatur barat.

Salahuddin Al Ayyubi
Salahuddin Al Ayyubi

***

Secara sekilas sudah sering sekali mendengar kebesaran seorang Salahuddin Al Ayyubi. Tapi baru benar-benar ‘tersentak’ ketika membaca sepak terjangnya secara khusus dalam perjalanan panjang kisah Perang Salib. Ditulis dalam buku “Perang Suci, dari Perang Salib Hingga Perang Teluk.”

Karena peristiwa di Gaza beberapa waktu lalu, saya terpancing untuk kembali membolak-balik 800 halaman dari buku yang ditulis oleh seorang Karen Armstrong yang mengaku dirinya sebagai ‘freelance monotheist’ ini. Tapi rasanya pengetahuan saya masih terlalu minim untuk membahas soal Gaza dan zionisme.

[adCOntent]

Saat kembali mengurai halamannya satu persatu, kisah Salahuddin Al Ayyubi (Saladin) -lah yang lagi-lagi mencuri perhatian.

Membaca pertama kali buku ini hampir 3 tahun yang lalu, saya sampai-sampai begitu ngotot kalau punya anak laki-laki lagi, namanya mesti Saladin. Ketika 20 bulan lalu putra kedua saya lahir, usul ini tidak mendapat approval dari bapaknya hehehehe.

***

Yusuf remaja sebenarnya adalah pemuda yang sangat sensitif. Malah cenderung penakut. Yusuf trauma dengan peperangan melelahkan yang pernah dijalani bersama pamannya, Syirkuh. Terkesan ogah-ogahan saat harus kembali berangkat menuju Mesir bersama Syirkuh. Namun akhirnya, bersama Yusuf, Syirkuh berhasil memukul mundur para Crusaders (ksatria Perang Salib) dari perbatasan Mesir.

Atas jasanya, Syirkuh diangkat menjadi wazir Mesir. Ketika Syirkuh wafat, secara tak terduga, Yusuf-lah yang ditunjuk untuk menggantikannya.

Saat inilah perubahan besar mulai terjadi pada pemuda berhati lembut ini. Yusuf meyakini takdirlah yang telah mengutusnya untuk berjihad di jalan Islam. Membawa kembali kejayaan Muslim yang seakan terbenam dengan direbutnya Baitul Maqdis di periode Perang Salib pertama.

Mendalami agama dan mengobarkan semangat jihad, Yusuf menjelma menjadi seorang pemberani yang diimbangi oleh tingkat kesalehan yang tinggi.

Yusuf tampil dan dikenal dengan gaya kepemimpinan yang revolusioner. Pemimpin besar pendahulunya, Sultan Nuruddin, dikenal sebagai pemimpin saleh dan dermawan. Tapi seperti kebanyakan model kepemimpinan di Timur Tengah, Nuruddin nyaris tak terjangkau oleh rakyatnya. Tinggal di istana besar dalam kemewahan, Nuruddin tak luput dari gaya despotiknya yang kental.

Yusuf justru membuka aksesibilitas dirinya terhadap rakyat seluas-luasnya. Gayanya yang informal mengejutkan banyak pihak. Termasuk ketika beliau pasrah kepada pelayannya yang menceramahinya untuk banyak beristirahat. Hanya tertawa-tawa ketika kuda salah satu pengawalnya mencipratinya dengan lumpur.

Yusuf kembali mengingatkan dunia Islam akan sejarah masa lampau Kepemimpinan Islam yang diterapkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Ingatlah Nabi Muhammad, kenanglah Abu Bakar, lihatlah Umar, Usman, dan Ali. Adakah mereka memberi jarak terhadap umat yang seharusnya dibela kepentingan dan kehormatannya?

Satu kejadian lucu saat saya membawakan materi ini di pengajian rutin kami minggu lalu, di bagian ini, seorang teman saya langsung menyeletuk, “Ih, kayak Jokowi dong, ya.” Hehehehe. Bukan tanpa dasar, saya sempat mengelu-elukan beliau secara khusus di wall ini ;).

Ya, beda kelas lah :D. Terlalu dini untuk menyanjung seorang Jokowi setinggi pahlawan besar seperti Salahuddin. Namun kita berharap Jokowi adalah sebuah tipping point bagi negeri yang tengah terpuruk ini :(. Membawa angn segar, setidaknya memacu perubahan tipe kepemimpinan yang makin memihak kepada rakyat. Hidup blusukan :P.

Dengan semangat tinggi, Yusuf menyatukan kerajaan-kerajaan Islam kecil menjadi satu kekuatan besar. Mengobarkan semangat jihad yang pada akhirnya merebut kembali Baitul Maqdis di Perang Salib periode ke-2.

Sekalipun Yusuf adalah petarung ulung dalam perang, jangan lupakan pribadinya yang mudah tersentuh. Yusuf tak pernah menyiksa tawanan perang. Yusuf tak segan mengabulkan permintaan gencatan senjata bila lawan sedang kepayahan. Dalam Islam, tak masalah dilakukan gencatan selama tidak merugikan kaum muslim.

Kejujurannya pun sangat teruji. Yusuf tak pernah melanggar gencatan senjata mana pun. Sekali beliau murka ketika para Crusader menyerang rombongan kaum muslim yang akan berangkat berhaji di masa gencatan senjata tengah berlangsung. Tanpa ragu, Yusuf turun langsung mengobarkan perlawanan kepada musuh yang dianggap berkhianat. Pengasih namun pantang direndahkan :).

Salah satu kisah teladannya menghadapi musuh adalah saat berhadapan dengan Raja Richard. Richard yang dijuluki The Lion Heart, Hati Singa, saking pemberaninya.

Ketegasan nyaris tak pernah mempengaruhi jiwa kemanusiaannya. Di suatu pertempuran, kala pasukan Richard terdesak, dimana akhirnya sang Raja ikut berjalan bersama pasukannya tanpa menunggang kuda, Yusuf luluh.

Yusuf meminta salah seorang serdadu mengirimkan kuda buat Richard. Sabdanya, “Aku tak tega melihat pejuang besar sepertinya mempermalukan diri seperti itu.”

Saat Richard tengah sakit keras, Yusuf mengirimkan tabib terbaik kerajaan untuk turut merawatnya.

Allah bersabda, “Hai orang-orang yg beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yg selalu menegakkan keadilan karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat pada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya :).

Di akhir hayatnya, pemimpin besar ini hanya meninggalkan harta 47 dirham saja. Konon, pengawal pribadinya selalu menyisihkan sebagian harta kerajaan secara diam-diam untuk mencukupi kehidupan seorang Salahuddin. Masya Allah :'(.

***

Ada satu hal penting lain tersirat dari buku sejarah (saya lebih suka menyebutnya sebagai “buku sejarah” instead of “buku agama”) karya Armstrong ini.

Di masa-masa awal perang Salib, Eropa barat selaku kaum yang menginvasi umat Muslim di Timur Tengah, tengah berada dalam periode abad kegelapan. Peradaban mereka diwakili oleh kaum Frank, yang digambarkan Armstrong sebagai kaum barbar.

Perang Salib sedikit demi sedikit memacu mereka memasuki babak baru. Abad kebangkitan. Darimana mereka ‘mengembangkan’ peradaban mereka?

Invasi mereka ke kaum muslim sekaligus memperkenalkan budaya keislaman di Timur Tengah. Bangsa Eropa barat ini belajar mandi dan membersihkan diri dan kaum muslim. Mereka belajar kebersihan, memakai wangi-wangian, dan tertarik pada kain tenun khas Timur Tengah. Peradaan Muslim yang kala itu banyak melahirkan ilmuwan dan sastrawan besar tak luput dari perhatian mereka.

Mereka berusaha ‘memindahkan’ peradaban ini dan memajukan kawasan mereka. Dan sejarah meninggalkan jejaknya hingga kini. Seperti apa kehidupan umat muslim sehari-hari di kawasan Timur Tengah. Pernah tinggal di Saudi? Doyan mandi gak orang Saudi? :P. Isu kebersihannya bagaimana? Di Indonesia bagaimana? :(.

Apakah yang khas dari negara-negara maju di Eropa? Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan tahun lalu, “How Islamic are Islamic countries?” menasbihkan negara New Zealand dan negara-negara barat lainnya di jajaran 10 besar. Kemana umat muslim? Di urutan keberapa negara-negara yang dijejali penduduk yang berstatus Islam? Arab Saudi di urutan ke-131! Indonesia? Urutan 140!

Coba bayangkan, mereka belajar kebersihan dari dunia muslim? How come? 🙁

***

Nama Salahuddin Al Ayyubi terpatri kuat di hati rakyatnya. Semangat jihadnya menyebar benih-benih kekuatan bagi dunia Islam saat itu. Namun, kebesarannya pun tak luput dari perhatian dan puja puji dari kaum lawan.

Selayaknya, tak ada keraguan, jika dipatuhi secara benar dan displin, sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil ‘aalamin. Dan tokoh Saladin merupakan salah satu peletak dasar atas (pernah) berjayanya Syariah Islam di hampir 2/3 belahan dunia kala itu. Sejarah pernah mencatat bahwa ketiga agama ini pernah hidup tentram damai selama 450 tahun dalam naungan Syariah Islam. 450 tahun, hampir setengah milenium!

Jangan hanya lantang berbicara aqidah. Muliakan akhlak dan buat dunia sekali lagi mengakui kebesaran Islam :). Rahmat bagi seluruh umat manusia :).

***

Biografi Soekarno : Yang Terbit, Tenggelam, dan Kembali Bersinar

by : Jihan Davincka

***

Rujukan tulisan, disarikan dari berbagai sumber. Lihat di akhir tulisan, ya ;).

***
Di pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, yang cukup sering diulas adalah peristiwa Gestapu. Peristiwa yang me’wajib’kan kita, terutama para belia di masa tahun 80 an, untuk menghujat PKI (organisasi busuk yang kerjanya membantai ustaz). Sekaligus menanamkan paham bahwa Soekarno, sang presiden kala itu, bertanggung jawab atas salah satu sejarah terkelam tersebut.

Kelam bukan karena ada 7 jenderal yang terbunuh di penghujung bulan september 1965. Tapi, justru ada ratusan ribu nyawa lain yang ikut melayang selepas peristiwa tersebut.

Peristiwa yang sudah menyajikan banyak bukti namun masih sarat misteri dalam gelaran sejarah revolusi nasional.Sang presiden yang punya prinsip ‘gila’ untuk menyatukan kaum Nasionalis-Agamis-Komunis tersebut tentu tak diizinkan mendapat simpati dari kaum muslim. Jadi, semasa sekolah, saya tahunya komunis itu ya penentang Islam.Saya tidak memuja komunis.

Buat saya, baik kapitalis maupun sosialis, tak ada yang benar. Sebagai seorang muslim, saya selalu percaya syariah Islam masih satu-satunya jalan terbaik untuk kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, mohon maaf, kalau yang sekarang lagi hits membawa-bawa nama Islam dalam dunia politik sangat jauh dari bayangan saya tentang kesempurnaan Islam itu sendiri *noOffense* :P.***Timeline hari ini ramai membahas gelar “Pahlawan Nasional” yang akhirnya resmi disematkan kepada Soekarno-Hatta. Sebelumnya, keduanya cuma resmi mendapat gelar “Pahlawan Proklamator”.

Kebetulan literatur yang sudah banyak dibaca adalah tentang Soekarno. Jadi tulisan ini khusus untuk membahas Bung Karno. Presiden pertama RI yang pernah sukses membuat ‘galau’ pemerintahan kapitalis Amerika di tahun 60-an silam :D.

***

Dulu, satu-satunya yang saya tahu, presiden satu ini nyentrik banget. Tergila-gila pada seni dan…wanita! Hehehe. Buku pertama tentang Soekarno yang saya baca adalah : “Istri-istri Soekarno.”

Masa remajanya banyak diulas dalam buku “Kuantar ke Gerbang.” Sebuah buku yang sebenarnya bercerita tentang Inggit Garnasih, perempuan pertama yang berusia 12 tahun lebih tua daripada beliau. Yang berhasil menawan hati sang proklamator dalam rentang waktu paling lama.

Diceritakan tentang Soekarno muda yang tampan, idealis, cerdas, dan dari dulu ternyata memang penggemar wanita. Hehehe.

Cara berpikir lugas dan kegemarannya berbicara membawanya sebagai salah satu orator ulung. Salah satu untaian kata-kata beliau yang sangat terkenal adalah :

“BERI aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.” (Bung Karno)

Sesungguhnya Soekarno muda sudah sering mendapat perhatian khusus dari guru-guru belandanya. Tapi beliau memang bukan orang sembarangan. Di usia belia, sudah ditancapkannya cita-cita membawa bangsa Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka.

Sebuah mimpi besar yang kelak membawanya bolak balik masuk penjara, bahkan terbuang di pengasingan nun jauh di Pulau Bangka.

Di masa-masa perjuangan kemerdekaan, sedari muda, pergaulannya sudah sangat luas. Salah satu tempat favoritnya adalah di lingkungan rumah Tjokroaminoto (yang disebutnya sebagai “dapur revolusi Indonesia.”). Disinilah beliau bertemu Ki Hajar Dewantara (penggagas pendidikan nasional melalui Taman Siswa), berkenalan dengan Alimin (yang memperkenalkannya pada Marxisme), bahkan dengan Semaun. Seorang tokoh yang aktif di Sarekat Dagang Islam sekaligus anggota dari ISDV, cikal bakal PKI.

Mungkin dari situlah, Soekarno mendapat gagasan tentang Agama-Komunis, dua hal yang hingga kini tak pernah bisa terjembatani. Tapi kemudian di masa kuliah, Soekarno takluk pada paham Nasionalis. Di masa itulah, mimpinya, akan sebuah negara merdeka tempat berbagai ras dan agama mengikatkan kesetiaan pada satu tanah air yang sama, mulai bersemi.

Namanya makin bergaung setelah menuliskan artikel “Nasionalisme, Islam, dan Marxisme.” Soekarno menyerukan semangat persatuan. Berdiri dalam lingkaran yang sama untuk melakukan perlawanan non-kooperatif terhadap penjajahan Belanda.

Soekarno adalah ilham terhadap Sumpah Pemuda. Sekaligus perumus dasar-dasar Pancasila secara gemilang.

***

Perjuangannya mengalami pasang surut. Tak jarang Soekarno yang narsis mengalami hubungan yang sulit dengan rekannya, Bung Hatta. Bung Hatta menginginkan kaderisasi untuk mendukung lahirnya militan-militan sekaliber Soekarno. Sebaliknya Soekarno lebih suka berkoar-koar di depan massa, mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menggerakkan mereka.

Siapa sangka, karier politiknya, yang kelihatannya akan berakhir di pengasingan selama 4 tahun di Pulau Ende, malah kembali bersinar setelah Belanda menyerah pada Jepang.

Soekarno memiliki harapan yang terlampau tinggi pada ‘tuan baru’nya ini. Ditelannya rasa arogan yang dulu berkobar sedemikian perkasa terhadap Para Meneer. Dikerahkannya kemampuan untuk menghipnotis khalayak melalui orasinya. Dibujuknya para pemuda untuk ikut barisan Romusha. Sebagian besar mereka dikirim untuk kerja paksa dan tak pernah kembali lagi.

Hatinya remuk mengenang dirinya yang dianggapnya telah mengirim mereka ke lembah kematian. Tapi ucapannya setelah itu, “Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, akan saya lakukan.”

Tentu saja, hal ini akan selalu menjadi polemik sepanjang waktu. Perdebatan moral yang tak ada habisnya.

Bersama Hatta, Soekarno tampil ke depan podium, membuka sejarah baru untuk bangsa Indonesia. Jatuh bangun bersama-sama di awal masa-masa kemerdekaan. Namun, Hatta yang lebih ‘dingin’ dan disiiplin akhirnya memilih untuk menyingkir dan membiarkan Soekarno yang terkesan tak sabaran berkibar dengan Demokrasi Terpimpin-nya.

***

Di tahun 60-an, prinsip Nasakomnya membuat kaum kapitalis gemas. Pemerintah Amerika yang tengah bergulat dengan komunis Vietnam, makin dirundung kecemasan dengan Soekarno yang keras kepala. Indonesia, dengan PKI-nya, berhasil menjadi negara dengan partai komunis terbesar di luar negara-negara yang memang berpaham komunis.

Tapi, kepopuleran Soekarno di mata rakyat menggentarkan sang Negara Jantung Dunia untuk ‘menyerang’ secara terbuka. Konon, kaum kapitalis ini, diam-diam menyusup dalam setiap kisruh yang sepanjang tahun 50 dan 60-an gencar dilancarkan oleh daerah. Melalui mata-matanya, para kapitalis turut membiayai dan mendanai para perongrong kekuasaan Bung Karno.

Namun kemudian, sadar dengan kesalahannya, kaum kapitalis akhirnya menemukan ‘sekutu sejati’nya : Angkatan Darat.

Tak ada buku yang benar-benar sanggup membahas siapa sebenarnya ‘otak’ dari peristiwa Gestapu. Peristiwa sehari yang terkesan ‘konyol’ ini yang akhirnya diputarbalikkan secara sempurna untuk menjungkalkan kekuasaan Soekarno.

PKI, yang kala itu merupakan anak emas Soekarno, salah satu alat kesombongannya untuk menantang Raksasa Kapitalis, ditumpas nyaris tak berbekas. Setelah Gestapu dilumpuhkan dalam tempo sangat singkat, kurang dari 24 jam saja.

Pertanyaan besar yang sudah tak menyisakan saksi hidup ini masih terus berputar. Mengapa PKI, sebuah partai besar beranggotakan sekitar 3 juta orang, mendapat dukungan penuh dari Presiden Soekarno, yang masih sangat berpengaruh saat itu, rela ‘membunuh diri’nya dengan pemberontakan bodoh (yang secara skenario sudah dipastikan akan gagal) di penghujung september 1965.

***

Di tengah-tengah kehancuran yang tengah dijalaninya, Soekarno ‘menitipkan’ Ali Sadikin untuk ibukota. Soeharto merestui dengan setengah hati. Kala Ali Sadikin memimpin Jakarta, dana yang dikucurkan sangat sedikit. Tapi, Soekarno tak salah pilih. Justru di tangan Ali Sadikin, Jakarta berbenah dengan sendirinya.

Meskipun jalan yang ditempuh Bang Ali cukup kontroversial. Beliau mendanai pembangunan fasilitas umum dengan melegalkan perjudian dan prostitusi. Ditanggapinya semua kontroversi dengan ucapan, “Anda nikmati saja semua fasilitas umum itu. Kita tahu dananya darimana. Urusan lainnya, itu antara saya dengan Tuhan saja.”

Dan sejarah menasbihkan Ali Sadikin sebagai salah satu gubernur yang dianggap paling mumpuni, hingga detik ini.

Berpuluh-puluh tahun setelah G 30 S, Orde Baru berusaha keras membenamkan nama besar Soekarno. Namun, Soekarno membuktikan sumpahnya sendiri, “Sejarah akan membersihkan namaku.”

Segala upaya tersebut berakhir dengan hasil terbalik. Sesungguhnya nama besarnya tak pernah pudar. Dan orde baru tak pernah benar-benar mampu melumpuhkan pesona seorang Bung Karno. Sejarah dan waktu justru melahirkan pengampunan untuk kekhilafannya di masa lalu.

Bahkan, pemerintah menolak permintaannya untuk dikuburkan di Bogor. Bogor terlalu dekat dengan pusat pemerintahan. Tentu dikhawatirkan makam beliau akan menjadi tempat ziarah populer.

Dalam salah satu buku 4 serangkai bapak bangsa keluaran Tempo “Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia” dituliskan bahwa “Jasad matinya pun membuat gentar!”

Kini, kapitalis sudah sangat menggurita. Mungkin sudah terlambat untuk mencerna cita-cita seorang Soekarno yang pernah ingin mengusir penuh kepemilikan asing untuk sumber daya apa pun di Indonesia. Yang begitu perkasa meyakini kemampuan kita untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Dan tak lelah membagi ‘kesombongan’ ini kepada rakyatnya.

Lihatlah kita, bahkan sebagai negara penghasil tempe, kita pernah diterjang badai : kisruh soal tempe. Sudah semakin menjauh dari pernyataan garang beliau, ” Biar Bangsa Tempe Asal Bukan Mental Tempe!”

***

Sebegitu banyak ironi yang ditampilkan dari sosok pemimpin kontroversial ini. Tapi nama besarnya tentu tak boleh sedikit pun dikecilkan atas jasa luar biasanya.

Meskipun (mungkin) tak pernah mengangkat senjata secara langsung di hadapan kompeni, tapi anak muda luar biasa ini jatuh bangun bertahun-tahun, melepaskan tawaran masa depan dari Para Meneer, bersama-sama para pejuang lain, mengantarkan kita semua memasuki gerbang kebebasan sebagai bangsa yang merdeka.

Bahkan nama besarnya masih bergema di KTT GNB 2012, dikutip oleh pemimpin Iran, Khameini, “….tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Sukarno, satu dari para pendiri gerakan ini di Konferensi Bandung 1955 yang legendaris, dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan.”

***

Begitulah seorang Soekarno. Seseorang yang sarat dengan puja dan caci. Yang tak pikir panjang menentang pembentukan negara Federasi atas Malaysia dan Singapura oleh pemerintahan Inggris di kala itu. Namanya pernah menciutkan pemimpin dunia sekaliber negara Amerika sekali pun.

“Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja bagai dewa.” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat).

***

Disarikan dari berbagai buku :

“Soekarno, Paradoks Revolusi Indonesia.” (seri 4 serangkai Bapak Bangsa oleh Majalah Tempo)

“Dalih Pembunuhan Massal / Pretext for Mass Murder” (John Roosa, 2006)

“Kuantar ke Gerbang” (Ramadhan KH).

“Istri-istri Soekarno.” (Lupa nama pengarangnya :P).