“Liburan ke sono? Makanan halal denger-denger repot di sono. Makan apaan ntar?”
“Ya makan apa ajalah. Yang penting bukan babi. Baca bismillah saja.”
Sebagian muslim yang saat liburan bahkan bermukim di negara-negara mayoritas non muslim memilih jalan ini. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah … darurat. Darurat sih seharusnya berarti tak ada yang lagi ALTERNATIF LAIN yang tidak bisa kita makan.
Negara Irlandia sendiri, walau tinggal di kota imut-imut seperti Athlone, masih menyediakan toko daging halal. Tempatnya memang tidak di ktengah-tengah kota. Jaraknya sekitar 2-3 km dari gedung apartemen saya. Soalnya saya malas ke sana naik bis sambil nenteng stroller š. Jadi seharusnya, no issue soal makanan halal di Eropa untuk wilayah Irlandia secara umum.
Kalau suami ada biasanya tugas beli daging adalah jatah beliau. Pulang pergi kantor, bisnya pasti lewat depan sana. Kalau suami lagi dinas ke luar negeri, misalnya tempo hari ke Istanbul selama sebulan penuh, mau enggak mau, si mama yang bolak balik beli daging ke sana hehe. Pijat-pijat paha š.
Dengan keadaan seperti ini pun, suami punya cerita unik. Suatu hari di masjid mendatangkan seorang Syekh dari Dublin. Lumayan punya nama dan termasuk jajaran ulama yang mengurusi sertifikasi halal untuk masyarakat muslim di Irlandia.
Beberapa jamaah mengaku lebih memilih membeli daging sapi/ayam/domba di supermarket daripada ke toko halal. Setelah ditanya, alasannya fantastis, “Harga di toko daging halal lebih mahal.” Hahaha.
Keluarga Gober saja sampai tepok jidatĀ . Saya tahu, kok, harga daging di supermarket umum memang jauh lebih murah. Psstt…lebih murah daripada di tanah airĀ .
Sebagian juga menganggap ini kondisi darurat. Which is sangat tidak tepat. Karena masih ada daging halal yang tergolong mudah ditemukan. Emak-emak mungil macam eike saja sanggup bolak balik ke toko sana, masa bapak-bapak kalah? Pada punya mobil semua pula *gubrak*. Stok daging halal juga selalu terjaga. Tergolong sangat cukup.
Kondisi darurat juga dipatahkan dengan fakta bahwa banyak alternatif makanan lain seperti ikan-ikanan dan aneka seafood lainnya. Alternatif lain adalah “any meal that’s suitable for vegetarian” is HALAL. Secara undang-undang, yang setahu saya berlaku umum di negara-negara maju, rumah makan/produsen makanan yang menyediakan makanan berlabel ‘vegetarian’ HARUS memisahkan proses penyajiannya. Kalau ada yang melanggar, mereka bisa dituntut secara HUKUM dan LEGAL.
Menurut si Syekh, “If you enter a restaurant that served some vegetarian meals. Close your eyes and eat them.”
See? Daruratnya sebelah mana hayooooo? š.
Gambar : 21food.com
Di Athlone rumah makan yang menyediakan makanan halal (yang non veg) memang sangat minim. Lagian, harga makanan jadi di sini sangat menjulang. Padahal, harga barang-barang pokoknya enggak mahal-mahal banget, lho. Penggemar supermarket Aldi mana suaranya? *angkatTanganPalingTinggi* hahaha.
Asal jeli, bisa mendapatkan sayur mayur dan buah-buahan segar dengan harga sen-senan. Tiap 2 minggu, jenisnya berganti-ganti. Ada rak-rak khusus yang memajang jenis makanan yang lagi kena diskon. Diskonnya enggak becanda, Cyin. Dari harga 1.79 euro per bungkus bisa drop sampai 59 sen saja *nyengirSeratusCenti*. Ukuran kemasan dan tingkat kesegaran tidak berbedaĀ .
Walau banyak swalayan lain yang jaraknya jauh lebih dekat, Bibi Gober tetap istiqomah bolak balik Aldi yang jaraknya sekitar 1.5 km dari apartemen. Hahaha. Apa pun demi devisa untuk negara tercintaĀ Ā *tsaaaahhh*.
Si Syekh juga punya pesan bagus. Bahwa…hidup itu pilihan š. Meninggalkan tanah air untuk datang merantau ke negeri lain adalah pilihan. Setiap pilihan yang diambil ya harus dipertimbangkan konsekuensinya. Kita bebas memilih tapi kita tidak leluasa mengatur konsekuensi yang setia mengikuti setiap pilihan yang kita ambil. Jika sebuah ujung tongkat kita angkat, ujung lainnya juga pasti ikut terangkat kan š. Termasuk pertimbangan soal makanan halal di Eropa ini.
Walau hati kecil rasanya berat, saya enggak bisa bohong. Tinggal di Athlone jauh lebih nyaman secara batin untuk saya pribadi. Dibandingkan Jeddah atau pun Jakarta, yang didominasi oleh orang-orang yang beriman kepada ajaran yang sama.
Jangan buru-buru menuduh saya ingin mendiskreditkan kaum muslim secara luas. Demi Allah, tidak ada sedikit pun rasa seperti itu.
Justru…pertanyaan besar untuk kita KAUM MUSLIM? Sederhana saja. Satu kalimat islami yang ini, “Kebersihan adalah sebagian daripada iman.” Tidak di Jeddah, tidak di Jakarta, saya selalu menderita kalau liburan ke tempat-tempat terpencilĀ . Harus menahan pipis karena benar-benar tidak tahan kalau harus menggunakan toilet umum yang kondisinya … *pasang icon manyun seratus biji*.
Kebersihan dan kedisiplinan yang seharusnya menjadi AURA kehidupan muamalah kaum muslim terus tergerus dan justru menjadi ciri hidup kaum sekuler yang mungkin seumur hidupnya kenal alquran saja tidakĀ . Selalu sedih kalau harus menulis tentang ini š. Tidak semua umat muslim, sih.
Sudah pernah ke Teheran? Masya Allah bersihnya kota ini. Mereka juga punya selokan-selokan lho. Yang saking jernihnya itu selokan, pandangan mata bisa menembus ke dasar got eh…selokan š. Urusan kebersihan, saya angkat jempol satu juta untuk pemerintah kota TehranĀ . Oh ya, saya juga sering melihat orang-orang antri dengan tertib menunggu bis dan taksi atau dalam mal. Which is akan pemandangan langka kalau tinggal di Saudi hehehe.
Eh tapi, eh tapi … kalau balik lagi ke urusan makanan. Saudi adalah surga untuk kaum muslimĀ . Jaminan halal datang dari pemerintah langsung untuk semua jenis makanan yang dijual di arena publik. Walau ada juga beberapa teman yang meragukan jaminan halal ini. Sekali lagi, hidup itu pilihan š.
Kalau di Jeddah, restoran papan atas berlabel internasional yang asalnya dari negara-negara mana pun terhitung HALAL. Cap cip cup kembang kuncup deh, mana saja boleh dimasuki. Gaya lu! HIhihihi.
Maksudnya kalau mau. Ya kebetulan saya dan suami semasa di Jeddah, walau berlimpah godaan kuliner, tetap setia dengan Warteg Mang Oedin dan Warteg Rindu Alam. Hahaha. Sesekali ‘hidup mewah’ dengan menyambangi Pattaya atau Mr.SateĀ *ngakakPalingPoooolll*.
Dengar-dengar, di masa amnesti, banyak warteg-warteg yang konon memang dijalankan oleh pekerja-pekerja ilegal asal tanah air yang terpaksa tutupĀ .
Sebagai muslim di kota kecil yang berada di negeri yang memang bukan favorit pendatang muslim ini memang tidak selalu gampang. Susahnya jadi manusia. Suhu terbaik ada di tanah air. Sepanjang tahun bermandikan cahaya matahari. Namun…Jakarta macet, belum lagi pening saban baca berita isinya tentang korupsi semua. Masih ada pula pihak yang mati-matian membela para geng koruptor ini *pingsan*.
Mau hidup di kota kecil, suami apa bisa menjadi petani, ya? Hihihihi. Umur sudah ketuaan mau apply PNS. Dan yang lebih penting, belum sanggup meninggalkan pundi-pundi emas di negeri rantau siih hahahahahahaha.
Tinggal di Eropa ya sami mawon. Kangen keluarga, situasi pertemanan yang memang ‘berbeda’, belum kalau musim dingin melanda. Tetap ingat, bersama pilihan, selalu ada konsekuensi.
Bagaimana dengan Jeddah? Aduh sudah kepanjangan. Kalau mau, beli buku “Memoar of Jeddah, How Can I not Love Jeddah?” yang sudah beredar sejak september kemarin. Penulisnya sama dengan yang menulis note geje iniĀ . Ujung-ujungnya ya boooooo hahahaha.
Baiklah, kita sudahi sampai di sini. Mengutip dan memodifikasi sedikit ucapan Cu Pat Kay (penggemar Kera Sakti mana suaranyaaaaa :D) … “Beginilah hidup, deritanya tiada akhir.” (Ada yang ingat kalimat aslinya bagaimana? Ada satu kata yang saya ubah :D).
Dimanakah semua kehidupan dunia ini akan bermuara? Kapan derita akan terhapus selamanya? Dimana tempat yang hanya menjanjikan kesenangan abadi …
āDan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa…” (Ali Imraan : 133)
Dan terkait dengan pilihan-pilihan dalam hidup :
Every mind must make its choice between truth and repose. It cannot have both. -Ralph W Emerson-
It cannot have BOTH š. Demikian tausiyah soal seluk beluk makanan halal di Eropa :p. Ā Jangan lupa pesan sponsornya, yak. Hahahaha.
Barusan melanglang buana ke salah satu blog favorit saya. Enggak berani share linknya di sini . Karena akhir-akhir ini nama sekaligus foto beliau, si empunya blog, muncul di beberapa situs islam tanah air dan diberi cap, “Hati-hati. Dia kafir” .
Tenang, beliau tidak sedang berdakwah di tulisan yang ini . Melainkan membahas tentang seorang penulis internasional yang juga saya kagumi, Karen Armstrong .
Salah satu buku yang disebut-sebut adalah buku “Muhammad Sang Nabi.” Saya juga sudah baca buku ini. Dipinjamkan oleh teman kantor (sekitar tahun 2005) yang juga fansnya si Armstrong yang ini .
Kalau membaca beberapa karya Armstrong, terlihat jelas keberpihakannya pada ajaran Islam. Meskipun buat saya pribadi, beliau masih memiliki penafsiran yang berbeda dengan saya.
Misalnya saja, di buku “Perang Suci”, Armstrong menafikan bukti bahwa Islam tidak memisahkan antara kehidupan beragama dan sendi kehidupan lain. Islam yang saya yakini justru menyatukan semua aspek kehidupan dalam naungan Islam . Kalau pada kenyataannya belum ada bukti praktikal bahwa semua sendi ini bisa berbalut rapi dalam Islam, itu adalah ‘kesalahan’ umatnya. Ajaran Islamnya mah pasti sempurna . In Shaa Allah.
***
Di buku “Muhammad Sang Nabi”, ada bagian yang menceritakan mengenai perjanjian Hudaibiyah. Waktu SD dulu (karena saya sekolahnya di Yayasan Islam Athirah yang porsi pelajaran agama Islamnya cukup besar), saya tahunya kalau perjanjian ini terjadi terbatas karena Rasulullah tidak ingin ribut-ribut dengan penguasa Mekkah.
Armstrong dengan detail menjelaskan betapa Rasulullah punya pertimbangan luar biasa cerdas dan maksud tersembunyi yang sudah diperhitungkan matang-matang. Perjanjian yang dianggap sangat merugikan kaum muslim yang telah hijrah ke Madinah ini menuai rasa bingung/kecewa dari banyak sahabat.
Rasulullah membuktikan ‘kepiawaiannya’ dalam berstrategi. Perjanjian yang dianggap, malah sempat diprotes keras, akan merugikan kaum muslim malah berbalik.
Kembalinya sebagian mukimin Madinah ke Mekkah, yang telah dibekali dengan semangat muamalah Islam yang ‘indah’, membuka jalan dakwah yang nyaris sempurna : tanpa pertumpahan darah dan dengan mudah menarik perhatian/simpati banyak warga Mekkah.
Sebaliknya, mukimin Mekkah yang bebas bolak balik Madinah-Mekkah terbuka lebar-lebar matanya akan keindahan ajaran baru yang dibawa oleh seorang yang bergelar Al Amin . Sejarah membuka bahwa sekali pun ditentang keras oleh banyak petinggi Quraisy, akhlak Rasulullah tak pernah sanggup mereka buang sepenuhnya begitu saja .
Tak heran, belum lagi usai 10 tahun periode perjanjian ini, terjadilah peristiwa Futuh Mekkah. Mekkah diambil alih dengan cara yang ‘indah’, tanpa senjata, tanpa darah. Mahabesar Allah dengan segala petunjukNya. Mahaindah Islam dengan segala keutamaan akidah dan akhlaknya . Nah, makanya kata ‘indah’ saya sebutkan berkali-kali . Ajaran Islam yang saya yakini itu BENAR sekaligus INDAH. Literally.
Apakah semua penduduk Madinah kala itu MEMELUK AJARAN ISLAM SEPENUHNYA? Tak ada kaum Nasrani dan Yahudi? You tell me .
***
Armstrong menyebut-nyebut tentang Compassion (welas asih). Menurutnya, inilah salah satu kesuksesan Rasulullah dalam berdakwah. Compassion adalah sesuatu yang sifatnya stabil. Tidak seperti perasaan manusia yang kadang benci kadang sayang pada berbagai hal.
Berkaitan dengan sifat welas asih ini, saya ambil informasi blog yang saya sebut di awal tadi, Armstrong membagikan ‘golden rule’ yang disimpulkannya dari berbagai ajaran agama : “Jangan melakukan sesuatu yang kita pun tak ingin orang lain melakukannya pada diri kita.”
Sejalan dengan semangat ajaran ‘welas asih’ tadi, kata-kata kami dan mereka akan selalu melebur menjadi kata ‘kita’. Kita, bukan kami … bukan mereka.
Saya tahu setelah ini pasti banyak kritikan, “Sekuler lu!” Ahahahahahaha. Saya sih akan selalu meyakini bahwa Islam itu “rahmatan lil aalamiin”. Ajarannya tidak akan pernah menjadi sesuatu yang membuat alis kita berkerut, dada kita bergoncang gelisah.
“Apa pantas menyiram air teh ke wajah orang yang lebih tua karena dia itu liberal/pembenci Islam?” Walaupun kita tidak suka dengan figur yang seringkali ‘menantang’ Islam (bahkan siram seember juga rasanya pengin ya hehehehe), tapi apa iya batin kita tidak bergejolak dengan perlakuan seperti itu? Apa pantas berkata, “Allahu Akbar, Allah bersamamu.” Indahnya di mana? .
Baru-baru ini sebuah situs islam memberitakan 3 orang yang digadang-gadang telah berjihad karena membunuh seorang murtadin yang konon selalu mencela-cela ayat suci dan berdakwah sebagai seorang pendeta. Luar biasanya, tak sedikit komentar yang memuja-muja 3 orang tadi, yang kini telah ditangkap dan akan diadili. Katanya, “Biarkan hukum thagut yang melaknatmu. Tapi nama kalian sudah tertera di surga.”
Mengapa kita selalu menggeliat melihat ‘lawan-lawan’ yang mungkin hanya ada dalam pikiran yang selalu kita angap berkonspirasi ini itu? Mengapa tak pernah menggelisahkan umat sendiri?
Seperti pertanyaan besar saya selalu sejak saya pernah mencicipi ‘glamor’nya kota Jeddah, “Saudi sekaya dan sekuat ini, mengapa tak pernah mampu memperjuangkan Palestina secara TERBUKA?” Peristiwa Palestina telah dijelaskan panjang lebar oleh Armstrong di buku “Perang Suci.” Berhentilah melihatnya sebagai pusat perselisihan agama. Ini masalah kemanusiaan. Bahwa ada sekelompok kecil orang yang tahu-tahu mencaplok wilayah kelompok lain yang telah lebih dahulu tinggal di sana secara sah. Memangnya anda kira orang Palestina itu muslim semua? .
Di kota di mana Rumah Tuhan hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan, penghianatan terhadap hukum Tuhan berlangsung begitu banyak? . Baik dari penduduk asli maupun para pendatang. Memang, kalau urusan salat dan bacaan alquran, seratus jempol saya untuk penduduk asli. Tapi, urusan muamalah? .
Berbagai pertikaian di Timur Tengah sudah selayaknya membuka mata kita lebar-lebar. Seperti status dari salah satu teman saya yang mungkin bisa menjadi renungan bersama, “The middle easterns can actually kill each other all the times, but the problem is why the heck should most oils lie in there? Why? Why? :))”
A very good point. Penguasa sumber energi dunia secara logika harusnya bisa menjadi pengendali bumi (ih, jadi ingat avatar gak sih? ahahahahahaha). Pada kenyataannya … malah terbalik . Mungkin introspeksi diri untuk kaum di Middle East sana dan kita-kita yang juga berasal mayoritas yang sama. Mengapa kesenjangan ekonomi justru terjadi di banyak negara dengan mayoritas muslim??? WHY??????
Ini memang kita sudah terkena konspirasi musuh Islam atau kita yang tanpa sadar sudah menyembah tuhan mereka yang baru, “UANG” . Tuhan baru yang mampu melebur di ajaran agama mana pun tanpa memandang ideologi apa pun.
*** “That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to take the hits, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-
We, moslems, are not THOSE COWARDS, aren’t we? ;).
Yes, hari ini, 6 Juli 2013, kota Athlone mengadakan perhelatan olahraga tingkat nasional, “Waterways Ireland triAthlone.”
Gambar : triathlone.com
Kemeriahannya sudah terasa sejak beberapa hari sebelumnya. Padahal, 2 minggu terakhir ini, cuaca sangat tidak bersahabat. Mendung di hampir sepanjang hari. Walaupun tidak selalu, hujan pun tidak segan-segan menyapu seluruh penjuru kota. Belum lagi, angin kencang kadang-kadang tidak mau ketinggalan.
Musim panas bukan, seeehhh? -_-
Untung liburan sekolah sudah menjelang sejak 10 hari yang lalu. Jadi eike tidak harus berlari menembus hujan mengantar jemput si sulung ke sekolah .
Jangan-jangan Eropa pun mengenal pawang hujan, ya? Hihihihi. Sejak kamis kemarin, sinar matahari mendadak berbaik hati. 3 hari terakhir, langit cerah dan suhu menetap di kisaran 17 – 20 derajat celcius.
Ah, sungguh luar biasa memang kemampuan beradaptasi tubuh manusia. Kalau dulu di suhu 20 derajat saya sudah menggigil, baru 4 bulan di Negeri Kulkas ini, saya sudah merasa suhu 20 derajat ini cetarrrrr membahana .
Nah, puncak acara tentu hari ini. Dari pagi, suasana kota sudah hiruk pikuk. Seperti biasa, tiap sabtu jam 9 pagi, saya mengantar si sulung les berenang ke Sheraton. Pulangnya, kami selalu keluar melewati gedung mal. Tadi mampir ke perpustakaan dulu nuker buku buat anak-anak.
Enak deh di sini, enggak perlu keluar duit buat beli-beli buku anak-anak yang harganya rata-rata maharani itu . Ada perpustakaan anak-anak di samping mal. Tempatnya luas, nyaman, dengan koleksi bukunya mencapai seribuan buuku mungkin dan…gratis, tis, tis! *nyengir100Centi*.
Tepat di luar gedung perpustakaan, suasana sudah gegap gempita. Ternyata, di tempat inilah pusat acara perlombaan triathlon nasional tadi. Kios-kios kecil penjaja baju-baju olahraga dan printilan peralatan olahraga sudah berdiri sejak sehari yang lalu. Orang-orang berbodi atletis mulai lalu lalang di sana. Hadeuuuhhh, sayang orang-orang sini jarang yang ganteng-ganteng kayak di Saudi hihihihihhihihi *husssss*.
Melihat keramaian yang tidak biasanya, naluri jurnalisme langsung keluar dong awww *tsaaaahhhhh* … Setelah jepret-jepret sebentar, sempat pula nanya-nanya ke orang-orang di sana, saya memutuskan untuk pulang dulu.
***
Rangkaian triAthlone dimulai dengan lomba berenang. Untuk menonton para peserta berenang, tidak perlu jauh-jauh. Yup! Lomba berenangnya di Sungai Shannon. Lintasannya persis di belakang gedung apartemen saya. Sambil nungguin ikan digoreng, sambel ditumis, sayur di-sop di dapur yang terhubung langsung dengan ruang keluarga dan pintu menuju teras belakang, saya bolak balik ikut bersorak dari balik pintu kaca teras belakang apartemen. Hehehe.
Jumlah pesertanya mungkin ribuan bahkan puluhan ribu orang (males google :P). Untuk berenang saja, dibagi menjadi sekitar belasan batch. Sampai tulisan ini mulai dibuat, batch berenang belum juga habis. Tiap batch terdiri dari sekitar 100-200 orang (yang ini eike itung sendiri dari jauh hehehehe).
Melihat peserta yang sekian banyak padahal pemenangnya paling cuma dipilih beberapa, saya tidak habis pikir, ngapain, sih, pada capek-capek, ya? Bayangkan saja, 750 m berenang + 20 km bersepeda + 5 km berlari! Apa yang dicari?
Di sesi perlombaan berenang, saya melihat beberapa peserta yang ketinggalan di batch masing-masing. Sebagian mereka nampak tidak bergerak dalam air, seluruh tubuh hanya mengapung dengan wajah menengadah ke atas. Tak berapa lama setelah tenaga kembali terserap, ayunan lengannya kembali berkecipak dalam air. Seolah tidak ingin menyerah menyusul teman-temannya yang lain.
Ada juga yang hanya berputar-putar di tempat, kepalanya saja yang menyembul. Setelah dirasa kekuatan telah terkumpul kembali, perenang ini pun kembali memainkan lengannya membawa sekujur badan kembali maju menyusuri lintasan yang tersisa.
Ada juga yang mencoba berganti gaya. Tadinya berenang dengan gaya bebas. Tahu-tahu kepalanya terangkat dan dia memandang ke depan seperti berpikir dan mengatur strategi. Hanya beberapa detik kemudian dia membalikkan badannya. Seakan sedang meminta kekuatan dari sang surya, kali ini dia memilih telentang dan kembali melanjutkan perlombaan dengan gaya dada.
Apa boleh menyudahi lomba dan keluar dari lintasan? Boleh banget. Belasan petugas lomba berperahu karet berjaga di sepanjang lintasan. Anytime they want to quit, these officers are ready to pick them out of the water. Sepanjang pengawasan saya, tidak ada peserta yang ‘menyerah’. Tapi siapa tahu pas saya tinggal-tinggal ke dapur ada yang keangkut .
***
These swimmers taught us something important . Mengingatkan saya pada salah satu running quote yang cukup tenar dari mendiang dr. George Sheehan, bahwa :
āIt’s very hard in the beginning to understand that the whole idea is not
to beat the other runners. Eventually you learn that the competition is
against the little voice inside you that wants you to quit.ā
Lintasan berenang, bersepeda maupun berlari, adalah contoh terbaik untuk menggambarkan jalan kehidupan yang harus kita tempuh.
Anggaplah kita sedang berenang. Boleh menurunkan kecepatan. Tak salah bila ayunan lengan terhenti. Tentu sah-sah saja untuk sekali-sekali berhenti mengatur strategi dan mengumpulkan nafas. Yang tidak boleh ituā¦memanggil petugas di perahu karet tadi, menepi di lintasan dan menunduk putus asa sambil berbisik : āIām never gonna make it.ā
Siapa yang tahu, ketika anda menyerah dan berbalik, justru garis finishnya tinggal beberapa meter lagi .
***
Buat umat muslim di seluruh penjuru dunia, sebentar lagi putaran waktu akan membawa kita memasuki lintasan tahunan yang mesti kita lewati sebulan penuh. Bulan Ramadan akan tiba dalam hitungan hari saja . Sebuah perlombaan yang mungkin bermakna sama dengan kompetisi nasional tahunan bangsa Irlandia ini. Sama-sama berupa triathlon.
Ya, ramadan tak ubahnya bagai lomba triathlon. Ada 3 hal yang harus kita lewati, berinteraksi dengan hawa nafsu pribadi, berinteraksi dengan sesama manusia dan berinteraksi dengan Sang Pencipta. Begitulah makna menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh bagi saya pribadi.
Tebak bagian mana yang tersulit? Sama dengan lomba mana pun . Eventually you learn that the competition is
against the little voice inside you that wants you to ‘quit’. Menyerah pada hawa nafsu sendiri (yang penting enggak makan enggak minum deh dari subuh sampai petang, sisanya bodo lah).
Menyerah pada egoisme kaum sendiri. Apa-apaan sih rumah makan tetap buka pas puasa? Tutup lo semua! Heloooooo, pernah memikirkan saudara-saudara muslim yang harus melewati bulan puasa di Negeri Minoritas Musllim? :D).
Apa pun itu, semoga Allah berkenan mempertemukan kita kembali kepada bulan suci penuh pengampunan di tahun ini. Marhaban ya, Ramadan, bagi saudara-saudara muslimku di Makassar, Depok, Jakarta, Jeddah, Athlone dan di seluruh penjuru dunia .
Teriring doa perdamaian pada saudara-saudara muslimku di Mesir, Suriah, Palestina, yang masih dan tengah mengalami konflik politik. Doa keselamatan bagi masyarakat Aceh yang untuk kesekian kalinya berduka akibat bencana alam.
Serta doa keteguhan hati bagi puluhan ribu saudara-saudara TKI ilegal yang masih mempertaruhkan statusnya di perpanjangan waktu masa amnesti di Kerajaan Saudi. Semoga Allah selalu melindungi kalian semua, memberikan anugerah kesabaran untuk selanjutnya membayar buah kesabaran tersebut dengan pengampunan dosa-dosa masa lampau dan rezeki berlimpah di masa mendatang. Amin, amin ya rabbal aalamiin .
Sekali lagi, izinkan kami semua kembali berjuang membersihkan diri di bulan penuh pengampunan di tahun ini ya, Rabbi. Marhaban ya, Ramadan.
Sungai Shannon, Maret 2013. Masih lagi dingin-dinginnya, nih :).
Oiya, tempo hari “Yamaha Motor Indonesia” mengadakan semacam photo contest gitu. Judulnya “Buku Jendela Impianku.” Peserta diminta berfoto dengan salah satu buku favoritnya. Terus di keterangan foto diminta menuliskan resensi buku.
Nah, eike tentu tak ketinggalan ingin bernarsis ria hihihihi. Foto-fotonya mah sebentar banget. Paling cuma 10 menit. Pulang dari nganter anak-anak + suami berenang, kita mampir di tepian Sungai Shannon. Apartemen kita kan emang di pesisir sungai ini. Jadinya kalau pulang, pasti ngelewatin salah satu spot bagus di sisi sungai yang ciamik buat foto-foto.
Foto-fotonya 10 menit, resensinya 4 jam! Huhuhuhu. Buku pilihan kali ini tebal punya :P. 400 halaman lebih. Bacanya sudah dari januari kemarin. Tapi kan mesti buka-buka lagi biar resensinya enggak asal jadi. Eh, ternyata baru sehari setelah deadline, pengumuman muncul. Alhamdulillah, juara 2! Horeeeeeee ^_^
Senang dong menang…pastinyaaaaa :D. Tapi langsung curiga, apa iya ini resensinya dibaca oleh juri? Terus nyadar, lahhh namanya juga “photo contest.” Tulisannya malah memang cuma pendukung saja.
Daripada mubazir, ditulisnya saja 4 jam, bela-belain tidur jam 1 malam ngejar deadline lomba :P, saya edit lagi terus dikirim ke rubrik “Ruang Perada” / resensi bukunya Koran Jakarta. Alhamdulillah, dimuaaaattttt :D. Enaknya Koran Jakarta ini, ada versi onlinenya juga :). Resensi saya ada di https://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/122521.
Sepertinya sudah diringkas juga oleh editor Koran jakarta. Berikut adalah versi aslinya :).
***
“Jas Merah” Para Ulama dalam Budaya Lampau Nusantara
Judul buku : Ulama & Kekuasaan, Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanuddin
Penerbit : Mizan
Cetakan : 1 / Juni 2012
Tebal (isi) : 397 halaman, total 496 halaman
ISBN : 978-979-433-691-5
Harga : Rp.85.000
Penulis resensi : Jiihan Davincka
Sebuah peristiwa politik (mungkin) tengah memasuki klimaks, setelah berbulan-bulan ikut menyeret isu ‘islam dalam politik ‘. Keislaman dalam bernegara tengah tergugat.
Menengok masa lampau tanah air, Islam tidak merekah dalam seketika. Tidak serta merta menjadi sebuah kepercayaan mayoritas di sebuah Negeri Khatulistiwa yang senyatanya berhamburan banyak budaya dan tradisi.
Sebuah paparan sejarah yang cukup bernas ditampilkan oleh penulis Jajat Burhanuddin dalam bukunya, “Ulama & Kekuasaan.” Menghamparkan aspek historis yang belum banyak terjamah yang membuat para ulama menancapkan posisi intelektual dan sosial dalam mempertahankan posisi penting mereka dalam Islam Indonesia. Pembahasan dimulai dari periode kerajaan-kerajaan Islam nusantara sebelum masa kolonial.
Munculnya kerajaan-kerajaan Islam tak lepas dari pengaruh para pedagang muslim yang mulai membanjiri pesisir Nusantara di abad ke-13. Setelah Kerajaan Samudera Pasai di Sumatera, kerajaan Islam mulai menuai keberhasilan di pulau Jawa dengan menampilkan kerajaan Demak di akhir abad ke-16. Di masa ini, kaum ulama menjadi bagian dari elite pemerintahan.
Pendekatan penyebaran Islam yang sama sekali tidak mengancam posisi raja membuatnya leluasa meraih pengaruh. “Islam telah dirumuskan dalam kerangka pemikiran politik yang memberi penekanan pada kemahakuasaan raja. Meskipun Islam dijadikan ukuran bagi raja ideal, ia tidak pernah menjadi basis evaluasi perilaku politik raja. Dalam diskursus Islam pada periode tersebut tidak ada peluang bagi rakyat untuk mempertanyakan hal itu kepada raja. Justru, Islam menjadi sumber pembenaran agama bagi para penguasa kerajaan absolutis di Nusantara, yang mencapai puncak di abad ke-17” (Hal.58).
Ide awal mengenai “Insan Kamil” (Manusia sempurna) yang dibawa kaum sufi ditantang oleh Islam yang berorientasi Syariat. “Berakhirnya kerajaan-kerajaan maritim di pesisir sering dipandang sebagai tahap akhir dari Islam kota dan kosmopolitan di pesisir. Pada saat bersamaan dianggap sebagai permulaan dari Islam tradisional yang berbasis di wilayah pedalaman Nusantara” (Hal.73).
Runtuhnya kerajaan, masuknya pengaruh kolonial, membuat para ulama mulai melepaskan diri dan membangun ranah sendiri di luar kerajaan. Muncullah pesantren di Jawa, surau di Minangkabau dan ‘dayah’ di Aceh.
Era ini membuka hubungan lebih jauh antara Islam nusantara dan Timur Tengah. Beberapa guru agama berguru ke Makkah dan Madinah. Selain menegaskan ajaran Islam yang berorientasi Syariat, terbukanya jaringan kepada kedua kota suci muslim tersebut mendatangkan orang-orang Arab di Nusantara sekaligus membentuk sebuah komunitas ulama Indonesia di Makkah, Ulama Jawi.
Semakin merebaknya anti kolonialisme di abad ke-19 membawa kaum ulama tampil sebagai penantang utama. Ulama dan komunitas santri pesantren menjadi kelompok utama dalam mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Mereka memberi justifikasi religius kepada pemimpin perang seperti Pangeran Diponegoro. Mengubah konflik internal keraton Jawa menjadi peperangan berdimensi agama.
“Politik Etis” membawa perubahan yang tidak sedikit bagi perkembangan komunitas Islam nusantara. Salah satu tokoh penting Islam yang dipersembahkan pada era ini adalah Raden Mas Tirtoadisurjo. Seorang priyayi yang memiliki minat sangat tinggi pada dunia jurnalisme. RM Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita, Medan Prijaji dan Putri Hindia. Lebih penting lagi, beliaulah pendiri Sarikat Dagang Islam.
Angin perubahan pun memunculkan reformisme Islam, terkait perubahan jaringan intelektual dari Makkah ke Kairo. Para ulama turut merespons dan memodernisasi pusat-pusat pengajaran Islam di pesantren-pesantren tanah air. Kelahiran organisasi Muhammadiyah yang digagas oleh Ahmad Dahlan di tahun 1912 merupakan salah satu buah reformasi Islam nusantara.
Tanpa disadari, kehadiran para reformis dianggap mengganggu otoritas para ulama tradisional. Pertentangan tokoh reformis vs muslim tradisionalis tergambar dari hubungan kedua sahabat, Wahab Hasbullah dan Mas Mansoer. Kedua sahabat yang hubungannya memburuk sejalan dengan mencuatnya nama kedua tokoh ini sebagai aktor utama dari pertentangan 2 kubu tadi. Mas Mansoer akhirnya bergabung dengan Muhammadiyah dan memulai langkahnya hingga mencapai predikat Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Adapun Wahab Hasbullah, dengan restu ulama sepuh Hasyim Asyaari, mendirikan Nahdatul Ulama (NU) di tahun 1926. NU menjadi organisasi resmi bagi ulama tradisionalis seperti Muhammadiyah bagi kaum reformis islam nusantara.
Keterlibatan ulama di dalam politik riil merupakan cara lain untuk menegaskan keberadaan mereka pasca-kolonial. Mereka mulai menggunakan peranan beberapa posisi strategis di pemerintahan, seperti Kementrian Agaman, sebagai pelindung konstituennya. Cara ini menuai suara kritis dari tokoh-tokoh muslim baru yang menamakan diri, “intelektual Muslim.” HMI adalah salah satu bentukan organisasi yang mewakili kelompok ini.
Gerakan tarbiyah (pendidikan) yang muncul dalam kelompok-kelompok kecil adalah akar dari kehadiran sebuah partai dakwah, “Partai Keadilan” (PK) yang berdiri di tahun 1998. Sebelum pemilihan umum tahun 2004, PK mengganti nama menjadi “Partai Keadilan Sejahtera.”
Islam Indonesia kontemporer juga memunculkan dewan ulama yang disponsori pemerintah Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Yang menurut penulis, sebagian besar fatwa MUI dibuat dalam rangka justifikasi Islam bagi kebijakan-kebijakan pemerintah.
***
Kelemahan utama dari buku ini adalah cara penulisannya yang terlalu datar dan sungguh mudah memicu kebosanan. Yang membuat saya tak berkutik untuk tidak menyelesaikan 397 halaman isinya adalah ketertarikan saya (mungkin) terlalu besar pada sejarah. Topiknya pun tidak main-main. Membawa kita pada tamasya sejarah perkembangan Islam dalam rentang waktu beberapa abad lamanya. Kelengkapan referensi dan banyaknya aspek pendukung yang belum umum dibahas sangat menarik untuk dilewatkan.
Keberpihakan penulis pada ulama tradisionalis yang salah satunya ditunjukkan dalam kalimat, “Tidak ada yang lebih kuat tentang partisipasi ulama di Hindia Belanda yang tengah berubah selain pembentukan NU di tahun 1926” (Hal.13) tidak terlalu mengganggu keseimbangan isinya. Sekalipun untuk pembaca seperti saya, yang dibesarkan dalam lingkungan Muhammadiyah yang cukup taat.
Buku ini favorit saya di awal tahun ini yang mungkin bisa menjawab pergulatan pemikiran bagi saya dan sebagian orang akan, “Masih perlukah membawa Islam dalam kehidupan politik tanah air?” Bahkan perdebatan yang menimpa kaum muslim sendiri, yang hingga saat ini masih merupakan komunitas terbesar di tanah air.
Salah satu ungkapan terkenal dari Bung Karno adalah “Jas Merah,” jangan sekali-sekali melupakan sejarah. “Ulama & Kekuasaan” adalah “Jas Merah” dari pergumulan elite muslim sebelum masa kolonial hingga puluhan tahun setelah kata “merdeka” resmi disematkan bagi bangsa besar ini. Selamat membaca :).
***
Ini hasilnya kenapa jutek begini? Padahal itu karena mataharinya terik lho, jadi sok-sok galak gitu hehehehe…
Belum lama berlalu ketika saya membaca status seorang teman yang terdampar di Kuwait. Sebelumnya, teman bersama suami dan anak-anaknya tinggal di salah satu negara Eropa. Teman saya ini bukan orang biasa-biasa saja.
Namanya pernah menjadi hits di beberapa media cetak karena kesuksesannya berdakwah di Negeri Non Muslim dan membawa belasan perempuan mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya :). Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa beliau sekeluarga :).
Ada apa dengannya di Kuwait?
Teman saya mengalami benturan budaya yang luar biasa. Dia terkaget-kaget. Sementara saya tersenyum-senyum membaca statusnya. Sebagai alumni Jeddah, kota terbesar nomor 2 di Arab Saudi, saya tidak heran sedikit pun membaca ‘kegalauan’nya. Been there, done that.
Gambar : britannica.com
***
“How IslamicĀ are Islamic Countries” adalah sebuah penelitian lama yang hasilnya dipublikasikan tahun 2010 silam.
Berikut kutipan dari kompas.com (https://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia) :
Sebuah penelitian sosial bertema āHow Islamic are Islamic Countriesā menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.
Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?
Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.
Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.
***
Penasaran dengan hasilnya? Saya kasih sontekan sedikit. Selain Selandia Baru, urutan ke-2 hingga 5 ditempati oleh berturut-turut : Luxemburg, IRLANDIA *uhukUhuk*, Eslandia dan Finlandia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim yang menempati urutan tertinggi adalah … Malaysia! Menempati peringkat ke-39.
Indonesia sendiri, sudah disebutkan dalam kutipan artikelnya, urutan ke-140. Arab Saudi? Di urutan ke 131.
Beberapa negara ‘penting’ dunia lainnya, misalnya Amerika Serikat, menempati urutan ke-25. Jepang di urutan ke-29 dan Jerman, salah satu negara terbesar di Eropa, di urutan ke-17.
Saya lahir dan besar di Indonesia yang konon merupakan “Negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.” Pernah berkesempatan tinggal di Arab Saudi, “Negeri Penjaga Dua Kota Suci Umat Muslim Sedunia.”
Baru-baru ini berkesempatan liburan ke Kuala Lumpur, ibukota Malaysia, “Negara Mayoritas Muslim yang Berada di Peringkat Tertinggi.” Dan kini…saya berada diĀ Irlandia, peraih medali perunggu “Negara Paling Islami” :D. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).
Kuwait sendiri urutannya tak terlalu buruk.Ā Bayangkan, teman saya saja yang terdampar di “Negeri Paling Islami no.48” bisa sebegitu stres-nya hehehe. Bagaimana dengan kita-kita yang pernah tinggal di Saudi, si peringkat ke-131? Madam-madam Jeddah, mana suaranya? Ahahhahahahaha.
***
Jujur saja, selama tinggal di Indonesia dulu, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak pernah merasa terzalimi. Ya, kadang-kadang mungkin terselip sakit hati. Saya anggap wajar-wajar saja masalah muamalah di Indonesia. Mungkin kasarnya…pasrah.
Hingga akhirnya saya ke Jeddah. For me, Jeddah is better than Jakarta. ‘Gemerlap’nya sih mirip-mirip. YangĀ namanya ‘gap’ antara si kaya dan si miskin menganga sedemikian lebar baik di Jakarta maupun di Jeddah.
Alasan pertama saya lebih senang di Jeddah karena beberapa hal. Bensin murah, mobil murah, penghasilan suami jauh lebih besar (daripada di Jakarta), enggak terlalu macet, kemana-mana terasa dekat, bahkan beberapa bahan pokok di Jeddah lebih murah daripada di Jakarta. Unbelievable.
North Corniche – Jeddah
Belum lagi kesempatan untuk umrah sepuasnya. Tahun lalu dimampukanNya kami untuk naik haji. Di tahun terakhir kami di sana sebelum akhirnya dibukakan pintu rezeki di negara lain. Sekali lagi, Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).
Saya akui, secara umum perilaku orang-orang Arab di Jeddah cukup mengecewakan. Meskipun pengalaman pribadi saya tidak separah beberapa teman saya yang sudah sebegitu sewotnya sama orang-orang Arab hehehe.
Saya pun tak bosan-bosannya menuliskan bahwa beberapa episode-episode terbaik dalam hidup saya bertempat di Jeddah. Selama di sana, saya tergolong ‘yang paling bahagia’ hehehehe. Meskipun tak sedikit hal yang membuat saya selalu mengelus dada, “How come they call themself a moslem?”
Berusaha untuk selalu berfokus pada hal-hal yang menyenangkan, membuat 30 bulan pengalaman tinggal di Jeddah menjadi ‘rangkuman kenangan indah’. Ingat saja hal-hal luarĀ biasa yang selalu membuat saya bersyukur. Tak pernah luput mengenang Mekkah dan Madinah sebagai tempat-tempat terindah yang pernah saya datangi.
Begitu mudahnya dulu kami menghampiri kedua kota suci tersebut. Sementara tak sedikit umat Islam di Indonesia baru hanya sebatas memimpikannya saja. Bentar…hapus air mata dulu *drama-part :P*. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).
Dulu, saya suka bertanya-tanya, mengapa teman-teman yang berada di Eropa bisa sebegitu ngebetnya tinggal di sana. Tak sedikit yang mencari-cari cara setelah lulus sekolah agar bisa tetap bermukim di sana.
Bahkan, ada yang sudah terpikir untuk menggadaikan status kewarganegaraannya. Ingin berganti warna paspor. Apa enaknya hidup berlama-lama dalam ‘kulkas”? :P.
Tapi santai saja. Orang-orang lain tidak ada yang peduli, tuh. Enggak penting memikirkan sebagian kecil yang kurang ramah.
Di Athlone, hampir tak ada pengemis. Kalau pun ada tunawisma, penampilannya enggak germbel-gembel amat. Di Jakarta, yang bilang Pajero bukan barang mewah ada, yang gembel jadi tukang semir sepatu tak kalah banyaknya . Di Jeddah, Ferrari bukan barang langka, tapi pengemis terpencar di berbagai sudut kota.
Athlone, perayaan St Patrick’s day
Fakta-fakta yang menguatkan pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya :
” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.
Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”
Dulu sih, semasa di Jakarta dan Jeddah, bila mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain, tak pernah menjadi pikiran. Dimaklumi saja. Di Jakarta, sering dicuekin sama satpam di mal. Padahal kepada seorang Ibu yang turun dari mobil mentereng dengan berbagai aksesoris wah di badannya, tersenyum mengangguk setengah membungkukkan badan.
Hidupnya sudah cukup ‘berwarna’ dalam menjalani tugas sebagai satpam, tak usahlah menyimpan dendam yang tidak perlu.
Di Jeddah, pernah mendapat pengalaman pahit saat antre di kasir dalam toko di mal. Sebelumnya, saat 2 perempuan arab berdebat soal antrean, penjaga kasir dengan tegas melerai dan menunjuk ibu yang memang sudah datang lebih dahulu.
Giliran saya diselak orang Arab, saya protes, kasirnya malah diam seribuĀ bahasa. Ya, sudahlah. Saking sudah seringnya, sudah mati rasa ane hehehe.
Terdampar di tempat lebih jauh, berbaur di tengah-tengah masyarakat non muslim, dari ras yang secara fisik sangat berbeda pula, malah mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Sepele, ya? Biarpun suami suka meledek saya yang dianggapnya, “Dasar kamu ini. Belum apa-apa sudah lebay soal eropa”, menurut saya ini bukan hal sepele :).
Setiap pagi mengantar anak ke sekolah, kami selalu berjalan kaki. Hampir 100% orang-orang yang berpapasan akan tersenyum menyapa, “Good morning.”Ā Di Jeddah, seringnya mendapat pandangan penuh tanda tanya, mungkin berpikir, “Prikitiwww, mbak-mbak TKW ini cakep juga, yak.” Ahahahahaha.
Di Athlone, saat mengantre di kasir setelah berbelanja barang-barang dapur dll di supermarket, semua orang mengantre dengan tertib. Bahkan, kasir benar-benar menunggu kita selesai mengemasi barang baru melayani customer setelah kita.
Awalnya saya sering gugup. Saking takutnya kalau mengganggu antrean, mau buru-buru masukin barang ke stroller + plastik + ransel, barang-barang malah berserakan jatuh ke lantai. Malunya minta ampun.
Tapi kasir cuma tersenyum, “That’s ok. Take your time.” Bahkan, ibu-ibu berambut kuning yang mengantre di belakang saya ikut memunguti barang-barang yang jatuh. Masya Allah. Sudah terbiasa diperlakukan bak TKW di tengah-tengah umat yang seiman, rasanya terharu diperlakukan seperti itu. Lebay? Whatever.
Kata-kata “thank you”, “sorry”, berhamburan begitu mudah dari bibir mereka. Jadinya saya pun, biarpun awalnya agak kagok, jadi terbiasa selalu ber “thank you” dan ber “sorry” ria :).
Di Irlandia, pajak memang termasuk tinggi. Biarpun gak setinggi di negara eropa lain pada umumnya. Tapi fasilitasnya juga enggak main-main. Jalanan dibuat senyaman mungkin. Angkutan umum sangat diperhatikan. Harga mobil sangat mahal. Bensinnya apalagi.
Tapi lihatlah, sebagian besar penduduk jadinya berbaur di trotoar jalan kaki atau dalam angkutan umum. Bagus juga ide pajak tinggi dan dikenakan secara proporsional. Agar si ‘tajir’ mikir-mikir kalau mau beli barang mahal dan yang kurang mampu tak terlampau tersakiti.
Sekolah gratis dengan fasilitas yang sangat memadai *nyengirLebar*. Malah, di selebaran pengumuman buat orang tua murid, ditulis jelas-jelas larangan untuk ‘tampil mewah’. Baju harus seragam. Seragam resmi terasa mahal? Kepala sekolah mempersilakan membeli di tempat lain yang lebih murah asal warnanya mirip.
Disebutkan dengan jelas jenis-jenis sepatu tertentu yang TIDAK BOLEH digunakan ke sekolah. Bahkan, kotak untuk bekal makan pun dianjurkan untuk sesederhana mungkin. Ini semua dituliskan secara resmi dalam selembar kertas yang dibagi-bagikan pada orang tua murid sebelum hari pertama sekolah si anak.
‘Attitude’ adalah landasan utama pendidikan anak-anak di usia dini. Saya perhatikan betul, guru-guru dan kepala sekolahnya sangat disiplin dalam masalah tingkah laku. Mereka tak terlalu peduli dengan kemampuan kognitif.
Tapi coba saja ada anak yang berani memukul temannya, kepala sekolah tidak segan-segan menarik tangan si anak dan menceramahinya panjang lebar dengan nada yang tinggi. Saya pernah melihat langsung.
Soal penampilan pun tidak ada yang heboh-heboh. Ada lah beberapa yang agak ‘gaya’ tapi bisa dihitung jari. Pede-pede saja kemana-mana pakai training pants + kaos + jaket + sepatu kets + ransel :D. Mbak-nya mau mendaki gunung, ya? Ahahahahaha.
Di Irlandia, dalam memperlakukan orang lain, people don’t really care whether you’re Catholic, Moslem or even you don’t believe in any religion at all :). Berperilaku sopan dan non diskriminatif adalah hal universal buat siapa saja.
Ajaran yang saya tahu pasti adalah landasan muamalah dalam Islam. Sadly, you can hardly see this in (most of) moslem countries. Ironically, pretty easy to see the practice in non-moslem countries. Tanya kenapa?
Memang, awal di Athlone, saya benar-benar teruji oleh udara dingin. Tapi tak lama. Baru 3 bulan tinggal di sini, rasa betah menerjang sedemikian kuat. Meskipun keinginan untuk mengganti status paspor sama sekali belum ada. Tapi saya ingin agar anak-anak saya suatu hari nanti melangkahkan kaki mereka sejauh yang merekaĀ bisa.
Saya doakan, semoga saya dianugerahkan kesehatan yang mumpuni (menjalani pola hidup sehat ala FC adalah salah satu ikhtiar saya dari sekarang untuk doa yang ini), tak perlu meresahkan anak-anak kelak, sehingga saya bisa menghabiskan sisa usia di negeriĀ kelahiran tercinta. Sampai akhir menutup mata. Amin :).
***
Kembali mengutip pendapat Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah)
Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?
Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islamāsyahadat, shalat, puasa, zakat, hajiādia sudah merasa sempurna.Ā Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya.Ā
Pada hal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.
***
Saya setuju sekali, kita terlalu sering menyepelekan ‘kesalehan sosial’. Pengalaman saya naik haji kemarin, selain menyisakan rasa haru yang masih terus berbekas hingga kini, terselip rasa kecewa yang mendalam.
Seusai wukuf,Ā jemaah biro haji kami keluar dari tenda ke arah jalan untukĀ menuju stasiun kereta. Saya tercekat melihat suasana jalan raya yang sudah kosong dari para jemaah ‘haji koboi’ yang sudah kembali ke Mina/Musdalifah. Kotornya luar biasa. Bau pesing tak terkira. Ceceran makanan, botol minuman dan entah cairan apa itu *yucky* berbaur menjadi satu. Subhanallah, sampahnya tidak main-main.
Besoknya, saat akan tawaf ke Mekkah, jam 7 pagi kami sudah berjalan ke arah jembatan untuk menunggu taksi. Lautan sampah di mana-mana. Baunya pun sangat menyengat. Saya ingat saat itu sempat bergumam kepada suami, “Kebersihan sebagian dari iman.” Kebersihan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan sekitar, kan?
Saat sepi pun, kalau tawaf, saya sering memperhatikan ‘rusuh’nya keadaan di sekitar hajar aswad. Tidak pernah damai suasananya. Sikut-sikutan, teriak-teriak, dorong-dorongan. Itu cuma amalan sunnah, saudara-saudaraku.
Teringat pesan ustaz Syafiq yang mengisi ceramah pengajian di acara syukuran salah satu teman di Jeddah sebelum kami berangkat haji, “Jangan melakukan amalan sunnah dengan cara-cara haram.”
Malah, bagi sebagian muslim, yang penting : salat, zakat, puasa. Perlakuan kepada orang lain, gaya hidup sehari-hari, tidak akan mempengaruhi keislaman kita selama kita salat-zakat-puasa. Sadar tidak sadar, penyempitan makna “rahmatan lil ‘aalamin” dilakukan oleh kaum muslim sendiri.
Dalam salah satu ceramah, Cak Nun bertutur, āApakah di sini anda bisa punya cara untuk mengetahui seberapa iman anda? Bisa nggak kita mengukur akidah? Bisa nggak kita mengukur, kita ini Islam atau belum Islam? Kalau engkau menjawab ābisaā, lho, itu rak cangkemmu? Lha atimu? (itu kan mulutmu, lha hatimu?). Kita tidak bisa menilai Islamnya orang, kita tidak bisa menilai sesat atau bukan kecuali MUI.ā Ucapannya disambut tawa jamaah.
Ketika beberapa waktu lalu, saat ramai-ramainya pilkada DKI, saya berdebat dalam sebuah grup masalah akhlak vs aqidah. Seorang teman tak ragu-ragu menyematkan label ‘sekuler/liberal’ kepada saya? Untuknya, sebuah kalimat syahadat akan selalu berada di tempat teratas, jauh melampaui masalah-masalah yang berkaitan dengan kesalehan sosial.
Dia mengejek, “Lo lebih pilih manusia daripada Tuhan?”
Saya menjawab, “Pilihan yang mana? Memuliakan sesama manusia adalah perintah Tuhan.”
Untuk saya pribadi, sangat jelas. Islam itu seimbang dunia akhirat. Terlalu condong kepada salah satu hanya akan membuat keseimbangannya goyah. Pengalaman hidup di Jakarta, Jeddah dan kini Athlone membuat saya mensyukuri betapa ‘liberal’nya saya.
Sedangkan dalam hati saya selalu bersyukur saya dilahirkan sebagai seorang muslim. Dan selalu memohon agar Tuhan tidak akan memalingkan saya hingga akhir hayat nanti :).
Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda?
Satu lagi dari Cak Nun yang mungkin bisa jadi bahan renungan, “Tuhan yang tahu akidahmu. Masyarakat butuh akhlakmu.”
Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk membawa seluruh umat manusia untukĀ bersyahadat bersama dalam satu bendera penafsiran yang sama (Sunni? Syiah? Wahabi? Salafi?). Tapi untuk menunjukkan (bukan menghakimi apalagi mengancam) bahwa : Islam = rahmatan lil aalamin.
Bahkan rasulullah pun menekankan dirinya HANYA sebagai PEMBAWA PERINGATAN dan PENJELASAN. Bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, kan?
Katakanlah, āWahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.ā (QS. al-Hajj [22]: 49).
Alquran, adalah petunjuk dan rahmat. Bukan untukĀ mengancam-ancam orang yang tidak sepaham.
Maksudnya apa? Renungkan sendiri :).
Semoga bertahun-tahun setelah tahun 2010, saat penelitian How Islamic are Islamic Countries ? Ā digelar kembali, jajaran negara-negara muslim bisa bertengger di peringkat 10 besar. Amin :).