Tentang Pengungsi Afghanistan : Giving Up Your Prejudices

“Kok rasanya banyak banget ya orang Cina di sini?”

Suami saya nanya, “Mana orang Cinanya?”

“Tuh, anak-anak kecil lagi.” Tunjuk saya kepada tiga orang anak kecil yang lagi menjajakan sapu tangan lusinan yang dibandrol seharga 5-10 riyal per gulungan.

“Itu bukan orang Cina. Itu orang Afghanistan!”

Pengungsi Afghanistan (gambar ilustrasi)
Etnis Hazara dari Afghanistan bagian tengah (gambar : commons.wikimedia.org)

Lah? Kok bisa? Saya tahunya orang-orang Afghanistan secara fisik kebanyakan mirip dengan orang Arab. Agak beda dengan Pakistan yang condong ke fisik orang India. Iya nih, sampai sekarang masih enggak pandai membedakan antara orang Pakistan dan orang India :D.

Macam mana ada orang Afghanistan matanya sipit-sipit walau hidungnya mancung. Orang-orang dengan ciri begini mudah sekali ditemukan di seantero Kota Jeddah, bahkan mungkin di kota lain di Arab Saudi. Umumnya memang beprofesi sebagai pekerja informal atau (maaf) pekerja kasar. Anak-anaknya malah banyak yang jadi pengemis :(.

Salah satu penjaga gerai kerudung tempat favorit madam-madam Jeddah di Bab Shareef itu kami juluki sebagai “Tau Ming Se” . Mas-mas penjaga itu memang orang Afghanistan dengan ciri fisik mirip orang Cina tadi.

Kita sering cekikikan kalau nawar-nawar harga sama si Tau Ming Se ini :D. Dia enggak bisa bahasa Inggris, para madam bahasa Arabnya mentok di asara-asara doang hahaha.

Tidak salah asumsi saya soal ciri fisik mayoritas penduduk Afghanistan. Si “Tau Ming Se” dan teman-teman “arab sipit”nya yang memiliki ukuran tubuh rata-rata lebih mungil daripada perawakan orang Arab ini ternyata salah satu ras minoritas di Afghanistan. Tepatnya, minoritas yang dikucilkan. Mayoritas penduduk Afghanistan sendiri adalah etnis Pashtun.

Karena merasa “terpinggirkan” inilah, orang-orang Hazara banyak yang hengkang ke negara-negara lain.

Saya jadi tahu soal Pashtun-Hazara dan beberapa etnis lain di Afghanistan dan sepenggal problem sosial di sana dari salah satu bab di buku “Out of The Truck Box” karya Iqbal Aji Daryono :D.

buku iqbal

Tidak hanya tentang Afghanistan, menyerempet juga ke beberapa pengetahuan ringan soal orang-orang dari Chile, India, bahkan Macedonia.

Si Iqbal nih, gaul kaleeeeee :D. Kerja di kedutaan atau staf di badan sekelas PBB gitu? Enggak! Iqbal ini asli Jogya yang tergila-gila pada kampung halamannya tapi somehow harus hengkang ke Australia untuk sementara waktu. Menemani istrinya yang melanjutkan sekolah di sana.

Hingga akhirnya Iqbal terpikir untuk mencari kerja dan akhirnya berhasil menjadi seorang…supir truk! Anti mainstream bener, Kakaaaaa :D. Ngerti kan sekarang kenapa judul bukunya mesti bawa-bawa kata truk hahaha.

Indeed, dari pengalaman menghabiskan waktu di belakang kemudi itulah, Iqbal jadi ketemu banyak teman-teman sesama supir truk dari berbagai negara. Rata-rata pendatang dari negara-negara lain. Termasuk dari Irlandia, lho ;).

Yup, selain Amerika Serikat, Australia adalah “the dream land” bagi orang-orang dari dunia ketiga yang umumnya hendak mencari peruntungan yang lebih baik. Walau konon, dari hasil kepo-kepo Iqbal dengan salah satu rekan Indianya yang katanya seorang Punjabi, ada juga pendatang asal India yang merantau karena prestise semata.

“Out of The Truck Box” ini termasuk kategori buku traveling. Tapi bukan tentang tempat-tempat wisata keren atau traveling guide ke tempat-tempat menarik di Australia :D. Ini semacam memoar si penulis tentang hal-hal yang didapatinya saat jauh dari kampung halaman tercinta.

Gaya bahasa yang santai, di banyak halaman malah bikin ngikik-ngikik, sekilas akan membuat bukunya jadi kayak buku guyon. Tapi itulah yang selalu bikin saya sebal. Beberapa orang tertentu, punya 2 hal keren sekaligus : cerdas dan tukang bikin ngakak! :D. Tidak adilnya dunia. Susah kan ya itu. Jadi orang jenius sekaligus jadi orang yang lucu (walau belum tentu menggemaskan :p).

Tinggal di negara maju tidak membuat Iqbal serta merta langsung menganggap negeri asalnya hanya remah-remah dibanding negara besar selevel Australia. Saya senang, deh, cara Iqbal menggambarkan Australia vs Indonesia sebagai dua hal yang…berbeda! :).

Hal-hal yang dipujinya dari Australia tak harus membuat Iqbal mendadak sebal sama Indonesia ;). Banyak juga hal kurang menyenangkan yang merupakan imbas ‘kehebatan’ Negeri Kangguru yang menurutnya adalah sisi positif dari komunitas sosial di tanah air.

Good job! ^_^. Tak boleh lupa kacang pada kulitnya ;).

Walau banyakan nyengir, sering juga lepas satu bab, saya berhenti dulu. Menertawakan hal yang diceritakan sekaligus jadi tercenung.

buku iqbal 2

Sepert misalnya bahwa negara-negara maju nan sekuler menjadi pilihan-pilihan utama bahkan bagi pengungsi dari negara-negara mayoritas muslim bukan fakta yang menyenangkan, ya :(.

Saya sendiri heran, berbondong-bondong orang Pakistan berusaha keras menembus Eropa barat-Kanada-US-Australia demi apa yang mereka sebut sebagai “better life” atau “good future for our kids”.

Bahkan sekadar untuk merebut posisi-posisi sebagai pekerja informal. Iya sih, di negara-negara maju, sudah rahasia umum jika “pekerja kerah biru” pun bisa hidup layak dan “dimanusiakan” sebagaimana mestinya. Seperti kata Buya Syafi’i Maarif, keadilan sosial yang begitu keras diperintahkan oleh Alquran justru begitu sulit terwujud dalam komunitas muslim hampir di mana pun :'(.

Jangan buru-buru tunjuk sana sini, yaaa :D. Solusinya tentu bukan sesuatu yang tidak rumit. Saya juga bingung mau berpikir gimana-gimana. Sanggupnya sebatas cukup dijadikan bahan renungan :).

Dari catatan-catatan ringan Iqbal yang dibundel dalam satu buku tadi, jadi terpikir bahwa merantau seharusnya menjadi ajang kenal-kenalan. Kenal untuk mendalami. Mendalami untuk memahami. Seharusnya, nyaris tak ada ruang untuk prasangka. Karena konon, prasangka itu justru lahir karena ketidaktahuan. Macam pepatah lama, tak kenal maka tak sayang :D.

Namun, tak semua kita bisa mendapatkan kesempatan emas untuk menyorot dunia secara langsung di belahan bumi yang lain. Enggak otomatis membuat kita berhak untuk merasa picik dong, ya. Itulah gunanya membaca macam-macam ;). Saya sendiri belum pernah ke Australia hehehe :p.

Pepatah lama, buku adalah jendela dunia. Bolehlah sesekali kita keliling dunia dengan membaca buku ^_^. Termasuk mengintip kondisi sosial di banyak tempat lain via hasil kepo-kepo si supir truk satu ini.

“Out of the Truck Box” terbit awal bulan ini dan akan segera beredar di toko-toko buku di tanah air minggu depan. Kalian punya waktu semingguan untuk mikir mau beli atau … pinjam! Hahaha.

“It is never too late to give up your prejudices”
― Henry David Thoreau

Selamat membaca ;).

buku iqbal 3

Makanan Halal di Luar Negeri

Makanan Halal di Luar Negeri, Mungkinkah?

Mungkin bangeeeetttt hehehe. Ini karena sering menghangat diskusi soal makanan halal saat jalan-jalan ke luar negeri. Soal bagaimana konsumsi makanan saat bepergian ke luar negeri. Terutama ke negara-negara mayoritas non muslim. Sebagian langsung berpendapat, “Kan emergency. Bolehlah makan apa saja asal tidak ada b*b*nya.”

halal sign

Seharusnya sih, ya, definisi makanan halal itu tidak bisa dibilang “tergantung mazhab”. Karena ketentuannya langsung ada dalam alquran, dalam ayat-ayat yang sifatnya sangat eksplisit :). Panduan utamanya maksudnya. Kalau yang printilan memang rupa-rupa pendapat yang ada hehehe.

Soal daging, jelas dan terang. Kehalalan daging tidak hanya semata-mata, “Asal bukan daging babi, bismillah saja” :D. Dalam ayat-ayatnya, daging yang dimakan harus disembelih secara “benar”.

Karena memang bermukim di luar negeri, kalau mau jalan-jalan ke luar kota, ya saya pribadi lebih prefer bawa bekal sendiri ^_^. Entah nasi goreng, mie goreng, kentang panggang, roti isi, atau apalah :D. Tapi bagaimana kalau 100% turis yang kebetulan jalan-jalan ke luar negeri? Jangan menggampang-gampangkan situasi emergency lah :D.

Kalau daratan Eropa, hampir tidak ada masalah setahu saya. Di masjid tempat suami sering numpang salat, pernah kedatangan ulama dari Dublin yang kebetulan “mengurusi” masalah sertifikasi halal di ranah Eropa.

Bagi pemukim muslim di Eropa, apalagi di negara-negara selevel Belanda atau Jerman, hampir pasti dapat menemukan gerai/penjual daging halal ^_^. Di Irlandia sini saja, di kota yang penduduknya hanya 20 ribu orang ini, gerai daging halal sampai ada 2 lho! Baru saja dekat City Center buka satu toko baru. Horeeeee, enggak perlu jalan jauh-jauh sejauh 2 km untuk ke toko satunya lagi :p.

No excuse to consume non halal meat, unless you want it to ;).

Daging kosher yang umum dikonsumsi oleh orang Yahudi juga tergolong HALAL ^_^. Bukan kata saya. Berdasarkan kesepakatan ulama Eropa, kata si Pak Ustaz tadi :D. Bukan konspirasi lho, ya, hihihihi :p.

Vegetarian menu/food juga halal, insya Allah :). Nah, ini penolong banget. Saat saya ke London tempo hari, gerai makanan halal enggak sinkron dengan rute jalan-jalan kami, jadi kami makan di tempat makan sedapatnya saja.

Boleh enggak makan di Pizza Hut? Boleh, insya Allah. Tapi hanya boleh memesan vegetarian menu. Di Eropa, penanda vegetarian food itu sudah sangat lazim digunakan. Biasanya pakai tanda (v). Vegetarian menu itu include keju-kejuan dan telur, tidak melulu daging saja. Buat saya yang memang FCer, malah enak banget hihihihi.

Halal Butcher, London Road (gambar : geograph.org.uk)
Halal Butcher, London Road (gambar : geograph.org.uk)

Kalau kata Pak Ustaz, pengusaha makanan di Eropa (yang berlisensi resmi) cukup terpercaya. Karena mereka bisa dituntut oleh kaum vegan kalau berani-berani ‘bandel’ memasang bandrol (v) tapi ternyata masakannya mengandung unsur hewani (di luar susu dan semua turunannya + telur). Penegakan hukumnya terpercaya ;).

Jadi, untuk Eropa, saya belum bisa menerima argumen soal penetapan “terpaksa/darurat/emergency” jadi boleh mengkonsumsi “daging apa saja selain b*b* asal baca bismillah” :p.

Mari pindah kawasan :D. Saya ceritakan sedikit pengalaman suami yang sering traveling ke luar negeri sampai lebih dari sebulan. Pas ke Turki mah bebas merdeka yak hihihi. Tapi sempat galau pas ke Santiago, ibukota Chile.

Alhamdulillah, suami saya memang tidak rewel. Sejak tahun lalu pun sudah saya perjuangkan ini satu rumah biar akrab dengan sayur-sayuran dan teman-temannya :D. Suami juga orangnya mau masak sendiri, hanya kalau tidak ada bininya! Hahaha. Kalau ada saya mah, jangan harap dia mau! :p.

Di Chile, gerai daging halal nyaris tidak ada. Lingkungan pergaulan orang Indonesia “di sana” juga ternyata tidak begitu peduli dengan gini-ginian. Bingung mencari penjual daging halal. Akhirnya suami saya memilih makan telur dan seafood selama di sana.

Takjub juga dengan semangat juangnya hehehe. Mengingat suami saya lidahnya Minang abis ya Kakaaaaa. Enggak ketemu daging sapi/kambing seminggu, dia bisa cranky kalau di rumah, “Mamaaaaaaa, bikinin daging!” :v :v :v.

Kalau skype-an pas dia lagi jauh, ribut banget minta resep ini itu. Setengah mati diajarin, ujung-ujungnya, “Susah ah, ditumis-tumis lagi ajah.” :v :v :v.

Saat ke Tiongkok, yang kata orang susah mencari makanan halal, ternyata tidak benar juga. Suami saya sempat assignment ke Kota Wuxi. Ini tergolong bukan kota besar lho di sana. Tapi gerai makanan halal terbilang banyak ^_^. Mana menunya cocok, ya, dengan lidah Asia kita :D.

Setidaknya kalau susah menemukan resto makanan halal, jangan langsung ‘pasrah’. Hindari sebisa mungkin. Menu vegetarian memang tidak terlalu “lazim” di Tiongkok. Ini juga pengalaman saya pas ke China Town di London. Mereka nangkepnya vegetarian menu itu yang ada sayurnya. Bingung kan pas ditawarin susunan menu, paling atas itu ada tulisan “Pork Pak Choy” hahaha.

Tapi tenang, di China Town-London, juga di setiap restonya mencantumkan tanda (v) untuk menu-menu vegetariannya. Tidak 100% mereka patuh, sih. Maklum, ya, bumbu-bumbu khas menu oriental memang agak-agak “mencurigakan”. Tapi ingat, kita sudah mengikuti petunjuk “alim ulama” di tempat yang bersangkutan ^_^. Jangan meribetkan diri sendiri.

Vegetarian food can be yummy :D (gambar : indanang.com)
Vegetarian food can be yummy 😀 (gambar : indanang.com)

Balik ke wilayah-wilayah Asia Timur Jauh seperti Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korsel dll. Paling aman ya memang masak sendiri. Tapi kalau jalan-jalan cuma seminggu masa iya waktu habis di dapur doang hihihi. Next step, usahakan mencari menu vegetarian ^_^. Atau menu-menu seafood, yang walau belum pasti kehalalannya, ya tetap lebih baik. Daripada cari gampang dengan mengkonsumsi makanan berdaging non seafood yang sudah kita pastikan TIDAK HALAL :).

“Ah, saya kan enggak suka sayur. Alergi seafood pula.” –> jangan jalan-jalan ke tempat yang susah cari makanan halal yang ada dagingnya kalau gitu! Which is kota-kota besar di Jepang pun sudah tidak sulit mencari gerai makanan halal. Jadi, alasan ini harusnya mental dengan sendirinya :p.

“Lho? Saya rezekinya di negara itu. Di sana susah atau hampir enggak mungkin, jadi gimana, dong?” Bumi Allah ini, kan, sangat luas :D. Jangan gampang loyo gitu dong, Kakaaaaa ^_^.

Pertimbangkanlah baik-baik ke mana kaki akan melangkah :). Lagian balik lagi ke atas, di Amerika Serikat-Eropa-Australia-Jepang-Korsel-Tiongkok, makanan halal atau vegetarian food bukan barang langka. Kalau ke Timur Tengah mah, enggak usah ditanya hehehe. Tidak sedikit belahan wilayah Afrika juga mayoritas sudah muslim. No excuse :p.

Di Amerika Latin memang tergolong sulit. Jadi, pastikan kalian sudah siap dengan resiko soal makanan manakala hendak merantau ke wilayah itu :). Jangan mempersekutukan “perintah Tuhan” hanya gara-gara alasan rezeki. Yang memberi rezeki adalah Dia semata kok. Kenapa harus ragu? :).

Kalau alasan lainnya seperti dagingnya tidak segar, harganya lebih mahal daripada harga daging di supermarket biasa, ya itu sih sudah urusan masing-masing saja, ya, hehehe.

Saya menulis ini bukan untuk mengancam-ancam. Hanya mencoba meluruskan. Ternyata tidak sedikit yang menganggap situasi liburan/jalan-jalan/bermukim di luar negeri (yang mayoritas bukan muslim) sebagai “keadaan darurat/emergency” jadi boleh makan apa saja asal bukan b*b*. Tidak begitu, kok, kenyataannya ;).

Latin food, (gambar : nycfoodguy.com)
Latin food, (gambar : nycfoodguy.com)

Kemarin sih sudah disindir, disuruh beli hewan hidup dan disembelih sendiri saja katanya hehehe. Lah, saya sih tidak ekstrim. Toh, tidak perlu sebegitunya kok ;). Pilihan lain sudah saya jelaskan detail yang tidak mengharuskan kita . Secara kesehatan pun, dalam ‘pola makan’ yang saya anut, protein hewani itu tidak harus dikonsumsi tiap hari. Di atas usia 30 tahun, malah seharusnya makin dikurangi. Urusan lidah cocok apa tidak? Sangat tidak relevan :p.

Hikmah makanan halal itu sebenarnya tidak hanya sekadar menguji kesabaran dan konsistensi kita di situasi-situasi tertentu. Tapi secara kesehatan, tidak sedikit penemuan ilmiah terkait metode penyembelihan hewan yang disarankan dalam alquran. Tuhan sih tidak ada urusan kita mau makan apa dan bagaimana. Semua untuk kebaikan diri sendiri juga ^_^.

Kalau pun masih sulit dicerna pakai akal biasa dan dianggap “mengada-ada”, benteng terakhir ya tinggal iman saja :D. Tertera jelas dan tanpa sela untuk berdalih dalam kitab suci. Levelnya sudah paling tinggi. Kalau hadis masih bisa “digoyang-goyang”, ada tingkatannya. Tapi urusan makanan halal ini sifatnya sudah final :D.

Apa saya tidak pernah mengkonsumsi daging tidak halal selama di sini? Mungkin pernah :). Karena saya, kalau diundang ke rumah teman, ada acara kumpul ramai-ramai, tidak suka dan tidak akan meributkan apakah makanannya halal atau tidak. Untuk saya, menjaga perasaan tuan rumah dan teman-teman lain lebih penting daripada meributkan makanannya halal atau tidak ;).

Jangan salah, di sini pun, tidak semua muslim mengkonsumsi daging berlabel halal ;).

Prinsip saya yang tidak kalah pentingnya dengan masalah makanan halal adalah soal “Islam, membungkus kebenaran dengan kebaikan.”  Kebaikan itu letaknya lebih tinggi. Tidak menyakiti hati orang lain apalagi yang sudah susah payah mengundang kita bahkan memasak sendiri untuk kita itu tingkatannya lebih utama buat saya ;).

Tapi itu benar-benar jarang kejadian :D. Jadi sudah dipertimbangkan frekuensinya. Kalau di luar itu, baik sehari-hari di rumah, maupun lagi piknik ke mana saja, tetap harus disiplin, dong, ya ;).

Gambar : moroccoworldnews.com
Gambar : moroccoworldnews.com
Fotografer Dani Rosyadi

Kota Dermaga di  Pesisir Timur Irlandia

(tulisan jalan-jalan dimuat di Femina edisi Januari 2015)

Oleh : Jihan Davincka

***

Pemandangan hijau ternyata bukan satu-satunya pesona dari Sang Negeri Zamrud, julukan bagi negara Irlandia. Terletak di sebagian besar wilayah Pulau Irlandia, menjadikannya sarat dengan rupa-rupa pemandangan laut.

Republik Irlandia tidak terletak di daratan utama benua Eropa. Melainkan di Pulau Irlandia, di belahan barat daratan sang “Benua Putih.”

Wilayah Republik Irlandia tidak menguasai daratan pulau secara keseluruhan. Sebelah utara Pulau Irlandia termasuk dalam wilayah Kerajaan Inggris Raya. Jadi, Irlandia Utara itu tidak termasuk sebagai bagian dari Republik Irlandia.

Ibukota Republik Irlandia, Dublin, terletak di pesisir timur pulau. Berbatasan langsung dengan perairan yang dikenal sebagai Laut Irlandia. Saat berkesempatan jalan-jalan ke wilayah Irlandia, sungguh sayang bila melewatkan pesona pantainya.

Dun Leary, Kota Dermaga yang Indah  

            Kota kecil ini terletak sekitar 12 km dari jantung kota Dublin. Dekat sekali. Dari City Center – Dublin, bisa ditempuh dengan naik bis dalam kota saja. Kalau menyetir sendiri, hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Dun Leary adalah salah satu kota dermaga di pesisir timur Irlandia. Dua dermaga yang kerap dijadikan landmark kota adalah West Pier dan East Pier. Pelabuhan-pelabuhan yang ada di kedua dermaga masih aktif digunakan sampai sekarang.

Saya sendiri, saat ke sana, mampir ke wilayah West Pier terlebih dahulu. Saya, beserta suami dan anak-anak, bertandang ke Dun Leary di sebuah akhir pekan di musim panas tahun 2013 lalu. Sekitar bulan Agustus. Ternyata, saat musim panas, ada semacam taman bermain yang dilengkapi wahana bermain anak-anak yang dibuka setiap hari sabtu dan minggu.

Fotografer Dani Rosyadi
Pics by : Dani Rosyadi

Tempatnya terasa agak sesak saking  banyaknya pengunjung di hari itu. Arena permainan yang disediakan beragam mulai dari bouncy castle, aneka macam komedi putar mulai mobil-mobilan sampai kereta api, rumah-rumah hantu. Di salah satu sudut lokasi ada wahana Bianglala  yang berdiri tegak.

Anak-anak tentu langsung heboh minta main ke sana. Suami menemani anak-anak bermain di sana, saya jalan-jalan melihat-melihat wilayah West Pier.

Dermaganya terbentang membelah laut. Saya mencoba menyusuri dermaga dengan berjalan santai sekitar 15 menit. Sering berhenti untuk mengambil gambar. Wah, belum sampai ke ujung juga. Takut kelamaan, saya memutuskan berjalan balik. Lumayan panjang juga ternyata. Kalau dilihat di keterangan yang terdapat di tugu kecil di ujung dermaga yang merapat ke pantai, panjangnya sekitar 2-3 km.

Fotografer Dani Rosyadi
Dun Leary West Pier, pics by : Dani Rosyadi

Sekitar belasan perahu dan kapal kecil bersandar di bahu dermaga. Tidak sedikit orang yang lalu lalang di atas batu beton yang membentuk alas dermaga. Sepertinya, tidak cuma para pemilik kapal. Tempatnya juga dimanfaatkan orang-orang lain untuk jalan-jalan menikmati sambil menikmati laut lepas.

Warga setempat yang berkostum olahraga nampak berlari-lari kecil atau jogging ringan di sepanjang dermaga. Beberapa orang nampak menuntun anjing peliharaannya ikut menikmati hangatnya mentari. Maklum saja, sinar matahari tak terlalu sering menghampiri wilayah Irlandia.

Jarak East Pier dari West Pier cukup dekat. Terletak di sisi jalan yang sama. Tidak seperti wilayah West Pier yang ramai, East Pier tidak banyak dikunjungi orang. Dermaganya agak unik. Ada semacam danau kecil berbentuk kotak yang seakan-akan terpisah dari laut. Tempat ini digunakan menjadi tempat parkir untuk kapal-kapal.

Fotografer Dani Rosyadi
Dun Leary – East Pier, pics by : Dani Rosyadi

Hari sudah lebih sore. Angin bertiup  lebih kencang. Mungkin karena suasananya yang tidak sehiruk pikuk di West Pier, kami pun hanya keliling-keliling sebentar di East Pier.

Jangan hanya terpaku pada West Pier dan East Pier. Tak jauh dari kedua tempat ini, pesisir pantai yang berbatasan dengan jalan raya juga tak kalah cantiknya. Jalanan setapak dibangun cukup lebar. Warna jalan yang coklat sangat kontras dengan birunya laut di salah satu sisi pantai. Sisi jalan yang lain berhias warna hijau dari rerumputan yang dibiarkan tumbuh rapi serta bangunan-bangunan rumah penduduk yang didominasi warna putih. Awan yang berarak di langit biru menambah kesempurnaan lukisan alam kala kami menyusuri pantai Dun Leary di sore itu.

Fotografer Dani Rosyadi
Dun Leary – pantai, pics by : Dani Rosyadi

Bersantai Sejenak di Dalkey, Sang Kota Selebritis

            Sebelum ke Dun Leary, kami diberitahu teman soal kota kecil yang tetanggaan langsung dengan Dun Leary. Namanya Dalkey. Konon, Dalkey ini termasuk kawasan elit wilayah Dublin dan sekitarnya. Di sini banyak bermukim selebritis asal Irlandia. Misalnya saja penyanyi terkenal asal grup musik U2, Bono.

Kami memutuskan ke Dalkey bukan untuk bertemu artisnya, sih. Tapi penasaran seperti apa kira-kira wilayahnya.

Kami langsung menuju ke ruas jalan utama di wilayah Dalkey, Castle Street. Namanya mungkin disesuaikan dengan hadirnya sebuah kastil tua yang ukurannya tidak terlalu besar di salah satu ujung jalan tersebut. Rasanya tidak ada yang terlalu istimewa sehingga kami memutuskan melihat kastil  dari luar saja.

Baru lima menit berputar-putar di Dalkey, terasa betul betapa bersihnya kota ini. Jalan-jalan rayanya kecil saja. Hanya muat 2 mobil. Bangunan-bangunannya rapi dan dicat bersih. Tidak seperti kebanyakan bangunan di kota-kota kecil lain di Irlandia yang sudah tua, dibiarkan kusam dan catnya sudah banyak yang terkelupas.

Di Castle Street juga berjajar beberapa kafe yang menyediakan tempat duduk di luar ruangan. Tentu kami sekeluarga sempat mampir ke salah satu kafe yang terlihat paling ramai. Pada salah seorang pelayan saya iseng bertanya, “Are there any celebrities hanging around in this street?”

Entah becanda atau tidak, pelayannya menjawab setengah tertawa sambil mengedipkan matanya, “Yes, if you’re lucky, you can meet Bono here.”

Fotografer Dani Rosyadi
Dalkey – The Cafe, pics by Dani Rosyadi

Wah, tahu saja kalau kami sudah mendengar rumor tentang Bono yang katanya sering duduk-duduk santai di salah satu kafe di jalan ini.

Kafe ini menyediakan macam-macam penganan kecil berupa aneka muffin dan roti-roti beserta secangkir kopi / teh hangat. Tidak ada yang istimewa, sih. Kami memesan beberapa muffin saja ditemani beberapa cangkir teh hangat. Setiap potong muffin/roti bisa dibeli dengan kisaran harga 2-3 euro. Sedangkan secangkir teh harganya 1-3 euro.

Bray, Perpaduan Cantik Antara Pantai dan Perbukitan     

            Kota satu ini juga tak jauh dari pusat kota Dublin. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai Bray yang berjarak kira-kira 28 km dari wilayah City Center-Dublin.

Pesona utama dari Bray adalah kegiatan menyusuri pesisir pantai dari sebuah pelabuhan kecil di dekat sebuah tempat yang bernama Martello Terrace hingga mencapai wilayah Bray Head. Martello Terrace adalah kediaman masa kecil James Joyce, pengarang puisi dan novelis terkenal asal Irlandia. Bray Head sendiri adalah sebuah bukit setinggi kira-kira 241 meter yang memisahkan kota Bray dan tetangganya, Greystones.

Fotografer : Dani Rosyadi
Bray – Cliff Walk, pics by : Dani Rosyadi

Jalan-jalan di sepanjang pantai diantara 2 wilayah tadi diistilahkan dengan “The Promenade.” Dari arah Martello Terrace, kita sudah bisa melihat hijaunya perbukitan di ujung sana. Berpadu sempurna dengan bukit hijau, sebelah kiri tempat kita berjalan adalah laut lepas berwarna biru terang.

Uniknya, pinggiran pantai tidak berhias pasir namun penuh dengan batu-batu kerikil besar. Antara jalan setapak dan wilayah berbatu yang langsung menuju laut lepas dibuatkan sebuah pagar pembatas.

Sebelah kanan jalan setapak adalah rerumputan hijau yang juga menyediakan tempat-tempat duduk dan arena bermain untuk anak-anak. Setelah rerumputan ada jalan raya. Di seberang jalan berjajar hotel-hotel dan penginapan-penginapan B&B baru turis yang ingin menikmati pesona pantai lebih lama.

Fotografer Dani Rosyadi
Bray – The Promenade, pics by : Dani Rosyadi

Kami butuh satu jam untuk mencapai Bray Head. Ditempuh dengan berjalan santai sambil melihat-lihat pantai. Sesekali melintasi pagar pembatas membiarkan anak-anak seseruan sambil melempar-lempar batu ke arah air laut. Atau bergeser ke arena bermain di wilayah rerumputan yang berada sebelah kanan jalanan setapak.

Fasilitas saat ber-promenade cukup lengkap. Ada kafe atau kantin yang berukuran cukup besar dan terdiri dari 2 lantai. Menyediakan sajian-sajian utama seperti sandwich, kentang goreng dan nugget ayam/ikan/daging sapi, spaghetti dan pizza. Sajian ringan seperti muffin dan aneka roti juga mudah ditemukan. Minumannya bervariasi, jus atau air mineral ada, teh dan kopi juga disediakan.

            Kamar mandi umum tak ketinggalan. Walau agak ragu melihat bangunan toilet yang sudah kelihatan tua. Namun, begitu masuk ternyata wangi dan bersih.

Kami hanya mampir ke toilet tapi tidak ikut masuk ke dalam kantin.. Kami membawa bekal sendiri dari rumah karena merasa lebih nyaman menikmati nasi dan lauk pauk lengkap  khas tanah air.

Setelah mencapai Bray Head, kegiatan dilanjutkan dengan “The Cliff Walk”. Berjalan menyusuri area perbukitan yang menghubungkan kota Bray dan Greystones yang disebut di awal tadi.    Butuh 2 jam untuk  berjalan menyusuri perbukitan Bray Head hingga mencapai Greystones. Kami hanya setengah jam saja dan langsung berbalik arah kembali ke arah pantai Bray. Memang tidak berniat menuju Greystones.

Jalanannya tidak begitu menanjak, kok. Kita pun bisa melihat wilayah pantai lebih luas. Di sepanjang jalanan di perbukitan disediakan beberapa kursi dan meja  untuk mampir dan duduk-duduk menikmati pemandangan pantai dan sekitarnya dari atas bukit.

Fotografer Dani Rosyadi
Bray, Pantai Berbatu, pics by : Dani Rosyadi

Tips Jalan-jalan di Irlandia

  1. Cuaca di Irlandia terkenal sangat ‘moody’. Terik matahari dan hujan bisa bergantian dalam hitungan menit. Hujan pun tak memandang musim. Walau musim panas pun, hujan bisa mengguyur di sebagian besar wilayah tanpa pandang bulu. Sediakan jas hujan selalu.
  2. Angin sering bertiup cukup kencang sehingga penggunaan payung tidak disarankan. Lebih baik memakai mantel atau jas hujan yang bertopi.
  3. Di Dublin, tak perlu menginap di hotel-hotel besar. Banyak sekali penginapan-penginapan kecil yang cukup layak huni. Istilahnya, “Bed & Breakfast” (B&B) yang juga bisa dibooking dari jauh-jauh hari melalui situs-situs seperti booking.com.

Lihat juga tulisan jalan-jalan lain saya yang juga pernah dimuat di Femina ;).

Tur via Kapal di Danau Lucerne di Swiss

Konon, seekor naga pernah terlihat wara wiri antara Pegunungan Rigi dan Pegunungan Pilatus yang masing-masing mengapit Danau Lucerne atau juga disebut Luzern di Swiss. Legenda tersebut termasuk dalam rekaman suara dari sebuah tape kecil yang sudah nangkring di dekat pintu kapal dan boleh kita ambil (gratis, kok, hahaha) sebelum bersiap menjelajahi salah satu danau terbesar di Swiss ini.

 

berlayar di Danau Lucerne

Luzern! Salah satu kota wajib buat turis ^_^.

Yang diincar saat ke Luzern umumnya pada pengin ke Mount Rigi atau Mount Platypus. Di musim dingin, di pegunungan tentu penuh sama tumpukan salju. Di musim panas, sebagian ada yang mencair tapi sebagiannya lagi merupakan wilayah “salju abadi”, enggak mandang musim, saljunya pasti ada terus.

Saya pribadi, sih, ogah bener nyari yang dingin-dingin hehe. Maklum ya, bermukimnya kan juga bukan di negara panas. Sudah cukuplah pemahaman bahwa salju itu hanya indah di layar kaca saja. Kalau ketemu benerannya, ampun saya hahaha :D. Jadi, memang menghindari sih area-area gunung dkk ini.

Kemarin ke sananya akhir Maret di mana cuaca belum begitu move on dari musim dingin huhuhu.

Saat ngintilin suami ke Bern tempo hari, kami memang sudah ada niat ke Luzern. Dipas-pasin dengan janjian ketemu dengan teman yang kebetulan lagi  berlibur bersama keluarganya ke Eropa. Mereka mampir ke Perancis dan Swiss. Jadi, deh, kita janjian ketemuan di Luzern.

Teman sekeluarga datang jauh-jauh dari Jeddah, nih. Lama tak bersua. Dese sudah punya anak ke-3, sementara saya sendiri sedang hamil anak ke-3.  Jadi ingat kita dulu pernah piknik bareng juga di Obhur semasa saya dan keluarga masih tinggal di Jeddah dulu.

How time flies ya Dear :).

Foto di lobi hotel tempat teman menginap. Motret pakai iPhone-nya dia :D
Foto di lobi hotel tempat teman menginap. Motret pakai iPhone-nya dia 😀

Ketemuan dia next time perlu di postingan khusus biar enggak kepanjangan tulisan yang ini hehe.

Mereka sendiri lagi ngejar bus ke Basel, hendak bertolak kembali ke Paris. Jadilah ketemuannya cuma sekitar sejam an. Hanya muter-muter dekat jembatan depan hotel mereka saja.

Sehabis nganter mereka ke stasiun, which is stasiun memang letaknya di seputaran situ juga, barulah saya dan suami (plus anak-anak) menjelajahi Luzern.

Sudah niat mau naik kapal menyusuri danau Lucerne. Walau enggak niat ke Rigi atau ke Pilatus, at least, bisa lihat dari jauh di tengah danau Lucerne :D.

foto tengah danau. jpg

 

Menuju dermaga hanya perlu jalan kaki sekitar 5-10 menit dari stasiun. Tapi karena sambil pecicilan, plus bawa anak-anak yang saban melihat ini itu, kepoooo aja bawaannya -_-. Mesti digeret dulu baru mau jalan lagi.

Jadwal kapalnya sendiri sekitar per 1 jam. Jarak dermaga dari tempat beli tiketnya lumayan tuh. Kami mesti lari-lari demi mengejar skedul terdekat ketimbang nunggu sejam lagi. Pas banget. Kami mendekat, kapal pun merapat. Bumil ngos-ngosan tapi huhuhu.

Naik kapal harusnya sudah include dalam Swiss-Pass (karcis terusan untuk transportasi di seluruh kota di Swiss yang bisa juga dibeli harian). Tapi waktu itu kami cuma beli single ticket, bukan terusan. Untuk menikmati tur di danau Lucerne dengan kapal tadi harus bayar lagi 25 frank per orang. Suami punya half-pass, jadi kena potongan harga. Anak-anak di bawah 6 tahun gratis.

tepi danau

Kapalnya 2 lantai. Lantai bawah yang ruang tertutup buat restoran. Tapi geladak depan bisa buat duduk-duduk bebas. Dingin boooo, jadi kami naro stroller saja di bawah terus naik tangga.

Nah, sebelumnya sudah ada tape recorder mini + headset yang disediakan dekat tangga dan pintu naik di kapal tadi. Silakan diambil. Enggak usah rebutan, banyak banget stoknya hihihi :p. Good idea. Rekaman suara tour guide yang ngomong pakai pengeras suara sepanjang perjalanan bisa mengganggu privasi. Lagian kalau ada yang ribut bagaimana?

Tape recordernya tersedia dalam berbagai bahasa, lho. Tapi bahasa Melayu/Indonesia enggak ada, hiks :'(. Ada bahasa Inggris, Jerman/Belanda, Perancis, Spanyol, Italia, China, Jepang, Urdu/Hindi, Arab dsb. Turis Melayu mungkin masih jarang.

Via headset tadi kita bisa menikmati kiri kanan danau Lucerne sambil mendengarkan keterangan dari tape recordernya. Kalau bosan ya copot saja dulu. Anak saya yang sulung serius bener dengerinnya sementara adiknya lebih suka ngintilin bapaknya yang pastinya…sibuk jeprat jepret.

Sebagian penumpang juga memilih berdiri atau duduk di geladak terbuka, ngemil atau minum-minum sambil mengobrol. Pokoknya terserah saja mau ngapain. Tak jauh dari saya, sepasang manula memandang ke arah danau lepas sambil sender-senderan bahu dengan masing-masing headset terpasang di kepala. Ihiiiyyy…romantis abis <3.

Saya mah boro-boro yaaaaa hahahaha –> lirik dua anak lanang tengil :p.

Danau Lucerne Swiss
Giliran Papa yang pengin eksis pakai headset hihihihi :p

Sepanjang danau Lucerne memang melewati macam-macam tempat. Bukan hanya sejarah si naga tadi beserta lokasi Mount Rigi dan Pilatus yang diceritakan. Beberapa tempat tertentu yang kami susuri juga ada keterangannya.

Semisal sebuah gereja kecil yang katanya sering digunakan untuk para pengantin baru untuk mengikat janji. Juga ada gereja lain, apa patung (udah lupa hihihi) dari St. Nicholas yang umum dikenal sebagai Santa Klaus.

Recordingnya cuma nyala setengah perjalanan aja, sih. Dari total satu jam di atas kapan, setengah jamnya bisa puas mengerjakan yang lain-lain. Soalnya sayang ya kalau enggak dengerin ceritanya sampai habis. Saya demen sama yang gini-ginian. Selintas jadi ingat, waktu kecil dulu tergila-gila sama cerita-cerita anak yang diputar via kaset itu, lho, hihihihi.

geladak kapal

Walau di lantai 2 kapal berada dalam ruang beratap rasanya ya dingin juga. Jadi malas mau ikutan pas suami dan anak-anak muter-muter di geladak. Mending duduk manis sendirian :D. Lagian pas hamil ini, dikit-dikit bawaannya pengin pipis. Padahal ada kamar mandi di bawah. Malas aja turun tangga lagi.

Air danaunya enggak bening-bening amat. Biru hijau kecoklatan. Yang jelas enggak ada sampah la yaowww :p. Bersih, sih, sih.

Paling menyolok ya pemandangan gunung-gunung es yang sebagian memang merupakan bagian dari Pegunungan Alpen yang tersohor di Eropa itu. Sebagiannya kan memang terletak di wilayah Swiss, Mount Rigi tadi misalnya.

Untuk kesekian kalinya pengin memuji pemandangan alam super cantik dari Swiss ini :D. Komplit juga yang bisa dilihat.

Tak hanya gunung es, yang hijau-hijau banyak. Walau belum optimal karena musim seminya masih malu-malu. Sebagian masih berupa dahan dan ranting kecoklatan dengan daun-daun yang minim.

Beberapa bangunan juga terlihat. Gereja rasanya tidak cuma satu dua. Kastil juga ada. Kumpulan-kumpulan rumah-rumah biasa juga dilewati. Entah jadi tempat tinggal sehari-hari atau mungkin rumah peristirahatan/vila gitu kali, ya. Enggak kebayang dinginnya kayak apa kalau bulan Desember-Februari, tuh. Brrrrr … *rapetinJaket*.

berlayar 2

Turun dari kapal, penjelajahan Luzern masih lanjut. Tapi udah kepanjangan ini nampaknya. Next time, City Center-nya juga dibahas. Banyak juga tempat-tempat bagus yang kami singgahi. Tunggu di postingan Swiss berikutnya, ya … mudah-mudahan enggak lupa dan enggak malas! Hahaha :p.

Wir sehen uns! ^_^

mama abil tepi danau

Food Combining Sarapan Buah Tidak Kenyang?

Selain minum jeniper tiap bangun pagi, sarapan buah ini termasuk ritual FC yang cukup khas. Khas dan mengundang segudang pertanyaan. Apa bisa kenyang tuh makan buah doang sampai jam 11-12 siang?

Gambar : yucp.net
Gambar : yucp.net

Ada yang belum familiar dengan FC alias Food Combining? Sila baca dasar-dasar Food Combining di sini dulu, ya.

Refresh sedikit dulu. Begitu bangun pagi-pagi, segera mengkonsumsi air perasan jeruk nipis (seringnya diistilahkan jeniper/jeruk nipis perasan). Cara buatnya gampang. Tuangkan air hangat ke dalam gelas minum biasa lalu peras jeruk nipis ke dalamnya. Aduk sedikit.

Minum pelan-pelan ya, jangan langsung glek-glek-glek hehe. Diusahakan dalam beberapa teguk dulu. Rasakan dalam mulut biar bercampur dengan air liur sebelum terjun ke dalam kerongkongan :D. Ini sama dengan fungsi mengunyah makanan perlahan sampai halus –> mengoptimalkan peran enzim pencernaan yang seharusnya sudah dimulai sejak makanan masuk mulut.

Gambar : beritasatu.com
Gambar : beritasatu.com

Kira-kira setengah jam setelah minum perasan jeruk nipis ini, barulah ritual makan buah dimulai. Pola makan FC diatur berdasar yang namanya sistem sirkadian tubuh. Diyakini, pukul 4 pagi hingga 12 siang, yang berlangsung adalah fase pembuangan.

Sisa-sisa makanan yang sudah diserap (waktu serap adalah pukul 8 malam hingga 4 pagi) harus dikeluarkan dari tubuh. Proses ini butuh energi yang cukup besar. Jadi, mari membantu sistem cerna dengan tidak membebaninya dengan makanan ‘berat’.

Karena itulah, sarapan buah ekslusif dilakukan hingga jam 11/12 siang ;). Buah-buahan segar, matangnya cukup (bukan yang mengkal), jumlah fruktosa yang relatif tinggi, punya karakteristik unik. Untuk mengolah buah-buahan, sistem cerna hanya perlu energi sedikit dan prosesnya berlangsung cepat ^_^.

Jadi, sistem cerna tetap bisa optimal menjalankan proses pembuangan sekaligus tetap menyuplai energi buat kegiatan kita sehari-hari. Tapi apa benar makan buah saja cukup? Seharusnya cukup jika dilakukan dengan BENAR :D.

Pelajari dulu sifat-sifat buah. Buah-buahan ini sebenarnya membuat kita kenyang lebih cepat. Karena dicernanya kan memang ekspres :D. Tapiiiiii … cepat kenyang sekaligus bikin cepat lapar lagi.

Tempo hari teman saya mengeluh kok suaminya sarapan buah tapi malah mual dan maagnya kambuh. Waduh, saya jadi tidak enak. Saya tanya, “Makan buah apa?”

“Jeruk.”

“Jeruk aja? Seberapa banyak?”

“Iya jeruk saja. Satu biji aja.”

Ya iyalaaaaah hahaha. Yang benar saja! Masa cuma 1 butir jeruk sih? -_-.

Berikut panduan singkat yang selama ini saya terapkan, CMIIW ya buat teman-teman yang juga berFC.  Kali nih saya ada yang kurang tepat juga hehehe :

1. Makan buahnya jangan pelit-pelit lah yaaaa hehe. Porsinya memang harus cukup. Tidak diatur harus seberapa. Sebutuhnya tubuh masing-masing. Kan sesuai kegiatan tiap individu butuhnya seberapa banyak energi.

Makannya memang tidak sekaligus. Makan dulu sampai dirasa cukup. Lapar? Ya makan lagi sampai dirasa cukup. Lapar? Ya makan lagi. Begitu saja terus sampai jam 11/12 siang ;).

2. Makan buah bervariasi. Saya pribadi tiap pagi sudah menyiapkan sepiring besar yang umumnya berisi minimal 3 jenis buah. Apel saja enggak bisa kalau cuma sebiji kecuali ukurannya jumbo. Apel sini umumnya  mungil-mungil, kadang saya bisa habis 3 biji.

Kombinasi buah-buahan saya umumnya apel + anggur + jeruk ATAU pear + strawberry + anggur ATAU melon + plum + apel dan seterusnya. Kadang juga ada kiwi atau semangka. Pokoknya yang mana-mana yang lagi diskon lah hahahaha :p.

Gambar : colourbox.com
Gambar : colourbox.com

Jangan pilih-pilih makan buahnya. Paksa diri untuk makan macam-macam buah. Aslinya saya enggak suka banget sama apel huhuhu. Tiap buah itu punya kelebihan masing-masing. Mengkonsumsi satu jenis terus-terusan secara BERLEBIHAN malah membuat suatu zat tertentu menumpuk dalam tubuh dan itu jelas tidak bagus buat sistem cerna.

3. Wah, apel … anggur … pear … strawberry … buah-buahan mahal semua? Ya tergantung lokasi dong, Kakaaaaa. Eike kan lagi nyangkut di negeri dimana justru buah-buahan tersebut harganya murah. Jadi, selalu manfaatkan buah lokal :).

Saya pribadi hobinya tuh makan pepaya, jambu, rambutan sama mangga. Buah-buahan khas tropis semua maklum nih lidah kampung hahaha. Apa daya, justru  buah-buahan tersebut di sindang harganya bikin nangis jadilah saya berusaha menyesuaikan dengan buah lokal yang umum di sini.

4. Mengunyah dengan pelan dan tidak buru-buru menelan. Buah-buahan umumnya memiliki kandungan fruktosa/gula yang tinggi. Makan cepat-cepat malah membuat lonjakan fruktosa tiba-tiba dalam jumlah besar bikin perut terasa kembung. Makanya banyak tuh yang mengeluh makan buah kok malah terasa mual.

Ingat, ingat, biarkan makanan lumer dalam mulut dan berlama-lama berbaur dengan air liur biar fungsi enzim di mulut bisa optimal.

Btw, anjuran makan perlahan, jangan pelit mengunyah, pertama kali malah saya tahu dari mata pelajaran Biologi waktu kita sekolah dulu ;). Jadi, sejalan kan sebenarnya dengan anjuran cara makan yang selama ini sudah kita pelajari ^_^.

5. Hal khusus tentang melon-melonan. Dulu juga saya pernah dapat literatur soal uniknya jenis buah satu ini. Melon-melonan itu termasuk melon dan semangka. Melon sendiri ternyata ada macam-macam, ya. Melon kuning, melon hijau, melon oranye :D. Norak nih, baru tahu setelah tinggal di yurop hahaha :p.

Melon-melonan sebaiknya tidak dicampur makannya dengan buah-buahan lain. Duh, maaf saya lupa alasannya huhuhu. Cuma ingat, kalau pencernaan sensitif, biasanya perut jadi enggak enak kalau makan melon sekaligus dengan buah lain. Beri jarak, ya.

Maksudnya gini, saya nih suka mix, sekali ngunyah bisa masuk apel + anggur sekaligus misalnya. Nah, si melon-melonan enggak boleh diginiin. Makannya harus terpisah. Tapi tidak berarti sepanjang pagi itu makan melon saja sampai jam 11/12 siang :D. Diatur saja komposisinya.

6. Karakteristik pisang itu sebenarnya sudah mendekati jenis makanan karbo. Sebaiknya untuk kudapan sore saja. Tapi kalau kepepet, ya boleh juga mengkonsumsi pisang di waktu sarapan. Baiknya didahului dengan mengkonsumsi buah lain dahulu.

Gambar : blokand.com
Gambar : blokand.com

7. Alpukat, tomat, wortel tidak termasuk buah ya dalam “pola makan FC” :D. Ketiganya dimasukkan ke dalam kategori sayur.

8. Malas mengunyah? Boleh dibikin jus. Airnya jangan banyak-banyak dan jangan dicampur dengan apa pun termasuk gula. Buah kan sudah manis. Kalau terlalu manis nanti banyak yang naksir gimana? #eaaaaaaaa :p. Minum jus juga tetap patokan dengan no.4 di atas ya. Kulum dulu dalam mulut. Jangan glek-glek-glek aja hehehe.

Nah, gitu deh kira-kira saya menerapkannya. Ya berdasar teori-teori FC yang saya baca juga :D.

Awalnya sih masalah sugesti, ya. Maklumlah, kita sudah terlanjur under-estimate nih sama buah-buahan. Padahal kalau dikonsumsi dalam jumlah cukup dan BENAR (cek lagi no 1-8 di atas), seharusnya pagi-pagi itu oke-oke saja makan buah-buahan doang ;).

Tapi jujur saja, pas lagi hamil  muda dan mual-mual saya agak kesulitan makan buah pagi-pagi. Mungkin karena malamnya juga makannya enggak bener huhuhu. Waktu hamil muda pagi-pagi saya makan nasi + dendeng baru rasanya plong hahahaha.

Begitu hamil muda lewat, ya balik lagi pola makannya ke Food  Combining ;).

Demikian edisi food combining sarapan buah kali ini :D. Yuk yaaaa, jangan lemes duluan dengar kata buah-buahan. Coba dulu dan praktikkan tata caranya dengan baik dan benar. Mudah-mudahan cocok buat kalian juga.

Saya bukan tipe FC-er garis keras kok :p. Kalau dirasa kurang cocok ya enggak apa-apa juga. Silakan dicoba pola makan lain yang dirasa lebih cocok ^_^.  Sumpah, saya enggak bakal nyumpah-nyumpahin kok! Hahahahaha :p.

Jangan lupa, hidup sehat itu satu paket. Mulai dari pola makan, olah tubuh, kebersihan hati sampai kesehatan pikiran, semuanya harus dijaga ;). Berantem soal pola makan mana yang paling benar hanya akan membuat hati dan pikiran stres gak sih? hehehe.

Salam damai buat semua :D. Mari jalankan ikhtiar masing-masing dan semoga kita semua tetap sehat dalam lindunganNya <3.

***