Konflik Rohingya : GOD’S GREAT BIG FAMILY

Konflik Rohingya terus memanas. Ini tulisan tentang Myanmar –> Ditulis tahun 2013 silam, waktu ada event menulis untuk Komunitas ASEAN #10daysForASEAN. 

Tiap hari temanya tentang negara anggota ASEAN.

Myanmar
Myanmar, gambar : 123rf.com

Konflik Rohingya memang terlalu sempit kalau berpikirnya hanya soal agama saja :).

Ada sih faktor agamanya. Tapi tidak berarti di seantero Myanmar mendadak anti Islam gitu kali lah hehehe. Tuh, saya punya teman pakai jilbab yang sekarang lagi bermukim di Myanmar :D.

Tahun 2013 itu menulisnya memang pakai riset kecil-kecilan. Topiknya tentang tanggapan atas Myanmar sebagaii satu-satunya negara ASEAN yang masih menerapkan aturan visa bagi turis sesama ASEAN sekali pun.

Myanmar memang punya sejarah panjang mengenai cengkraman rezim militer terhadap mereka. Belum lama Myanmar menghirup udara ‘kebebasan’ dan masih banyak peer yang harus dihadapi. Mereka juga memilih tidak terlalu terbuka kepada “pihak luar”.

Konflik antar etnis sebenarnya yang lebih terasa di sana. Kebetulannya, etnis ini pun berbeda agama pula. Padahal etnisnya enggak banyak. Secara fisik, etnis mayoritas di Myanmar itu memang miripnya ke etnis Tionghoa. Sementara salah satu etnis minoritas, Rohingya, penampakannya lebih mirip orang-orang Bangladesh, yang juga berbatasan darat dengan Myanmar.

Ribet lah ini urusannya. Karena Bangladesh juga lebih sarat masalah soal kependudukan. Negeri mayoritas muslim ini merupakan negara ke-6 dengan penduduk negara terbanyak. Kondisinya juga ya gitulah :'(. Sengaja sebut-sebut mayoritas muslimnya biar kalian enggak terbakar amarah dan malah ngamuk enggak jelas ke penganut agama Budha.

Apa yang terjadi di internal Myanmar ya jangan langsung bikin sugesti macam-macam lah hehehe. Kita pun tak suka bila ada kekerasan yang mengatasnamakan Islam dan dunia internasional langsung menyerang Islam secara universal. Terus, kenapa sekarang jadi balas dendam dong? Seolah berlomba ingin menunjukkan pada dunia, “Budha juga punya teroris, lho.”

Myanmar, gambar : cosianatour.com
Myanmar, gambar : cosianatour.com

Ya enggak gitulah ya harusnya. COMPASSION. Jangan melakukan hal yang kita tidak suka jika dilakukan terhadap kita, yes? ;). Saat punya kesempatan membalas ya harusnya jadi momen untuk ‘meluruskan’ bukan malah ikutan rusuh. Lingkaran setan dong jadinya hehehe.

Macam kecelakaan pesawat di Perancis tempo hari. Mentang-mentang copilotnya bukan muslim kalian menuntut dia disebut teroris juga? Lah, piye? Katanya enggak suka dibilang teroris? Kok sekarang kepengin supaya si copilot juga dilabel sebagai teroris? Hayooooo…balas dendam ni yeeee hehehe.

Yang terbaik, adalah dukungan untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi. Dan berhenti label-labelan enggak jelas.

Nah solusi untuk Myanmar kalau benar-benar dilihat atas bawah kiri kanan itu memang bikin puyeng. Apalagi mungkin banyak yang kita tidak pahami, tahu pun juga cuma sepotong-sepotong.

Belum lagi banyaknya pihak yang ambil kesempatan, berusaha membakar massa dengan potongan berita sampah. Yang seringnya, beritanya cuma sepihak dan terbukti tidak benar di belakang hari. Apa lacur, linimasa sudah terlanjur bergejolak huhuhu.

Enggak tahu harus ngapain? Ya berdoalah atau berikan yang mampu diberikan. Tapi jangan menuntut macam-macam yang kalian sendiri saja juga tidak paham hehehe. Apalagi kalau hanya untuk nyerang orang yang kalian tidak suka. Ish, dosanya dobel itu. Sudah sok tahu, nyerang orang pula :p. A BIG NO-NO ya teman-teman :).

Pernah nonton film Hotel Rwanda? Tentang suku Hutu dan Tutsi yang mendadak tersulut pertikaian berdarah gara-gara rumor pembunuhan presidennya ya kalau enggak salah. PResidennya suku Hutu. Yang dituduh membunuh adalah pemberontak etnis Tutsi. Langsung deh … perang saudara! Huhuhu.

Awalnya saya bingung itu, secara fisik nyaris tak bisa membedakan yang mana Hutu yang mana Tutsi. Kok sakti amat ya mereka? Hihihihi. Ternyata, selain pergaulan sehari-hari, di kartu tanda pengenal ADA NAMA SUKUnya. Terlihat di salah satu adegan saat si pemeran utama, si Paul, orang Hutu, mau minta tolong apa gitu.

Yang dimintai tolong kayaknya agak curiga sehingga Paul akhirnya harus mengeluarkan semacam kartu yang berisi foto, nama, data pribadi dan dicap dengan tulisan “HUTU”.

Mengerikan bukan? Tiap hari mereka hidup bersama dan bertetangga dan saling berbaur. Istri Paul, Tatiana, itu orang Tutsi. Bayangkan bagaimana pusingnya Paul melindungi istri dan kerabat istrinya dari kebrutalan orang Hutu yang lagi dibakar amarah.

hotel_rwanda_la

Secara warna rambut, warna kulit, dan ciri fisik lainnya, entah apa bedanya. Mungkin bahasanya yang beda. Agama juga kayaknya enggak beda, yang jelas sih enggak dibahas. Cuma karena etnis Tutsi ini ada yang memberontak jadilah seluruh orang Tutsi dianggap bertanggung jawab.

Sedihnya, itu bukan cuma film! Itu diangkat dari kisah nyata! Huhuhuhu.

Sampai sekarang pun, situasi di sebagian wilayah Afrika sangat menyedihkan :(. Beberapa dari mereka ada yang datang ke Irlandia sebagai refugee. Republik Irlandia memang membuka diri terhadap imigran asal negara-negara yang sedang konflik dalam negerinya.

Irlandia jangan disamakan kayak Indonesia lah :D. Penduduk Irlandia itu sedikit bangeeettt. Belum sampai 5 juta orang kalau enggak salah, itu pun sudah termasuk pendatang. Geliat ekonomi Eropa memang jauh lebih lambat daripada Asia salah satunya karena minim penduduk.

Kekuatan ekonomi Republik Irlandia juga jauh di atas Indonesia. Dengan sesama Eropa pun, sudah cukup lumayan. Irlandia juga menjadi bidikan beberapa negara Eropa Timur yang kondisi ekonominya juga di bawah Eropa Barat. Misalnya Polandia. Di sini banyaaaakkk banget orang Polandia yang datang mengadu nasib. Jangan heran kalau melihat rambut pirang yang enggak terlalu lancar bahasa Inggris hihihihi.

Refugee di Irlandia itu dapat fasilitas publik yang sama, lho. Bukan diundang datang untuk jadi pengemis dan ditelantarkan. Nope. Mereka bisa menikmati sekolah gratis dan fasilitas kesehatan :). Pakai kartu khusus *uhuk uhuk*. Negara ini juga terkenal dengan aneka kartu yang lagi diterapkan sama presiden kalian di tanah air yang suka kalian hina-hina itu lhoooooooo :p.

Refugee diberi tunjangan khusus sehingga bisa hidup layak di tengah masyarakat. Ya biar tidak mengacau juga kan? Kalau cuma misalnya boleh datang tapi dicuekin ya ujung-ujungnya kriminalitas deh yang ditakutkan. Belum lagi kalau bentrok dengan penduduk lokal atau pendatang lainnya.

Untuk mendapat status refugee juga banyak persyaratannya. Tidak ujug-ujug datang dan diterima begitu saja.

Negara-negara maju yang metodenya macam Eropa Barat-Kanada-Australia yang ekonominya berbau sosialis itu emang gitu. Sangat mencegah kesenjangan ekonomi sosial. Uniknya, agama Islam justru yang menjejali ayat-ayat alquran dengan perintah memperhatikan orang miskin.

Malah Gandhi (yang Hindu) itu yang mempopulerkan istilah “Poverty is the worst of violence”.

Lantas kenapa yang liberal-sekuler-rheumason-illuminati yang malah nerapin sih? *garukKepalaBerjamaah* hihihi

Jadi ya teman-teman, yang namanya mengurus negara dan berinteraksi dengan negara lain itu tidak bisa bekal emosi doang :). Hanya bekal rasa kasihan doang. Of course, kita tidak boleh mati hatinya. Tapi tidak bisa impulsif juga, kan? :).

Mekanismenya kompleks itu pun tidak semuanya mungkin bisa kita pahami. Sementara kalau kalian marah-marah membabi buta juga tidak akan membawa persoalan ke mana-mana kan? :). Takutnya yaaaa, Konflik Rohingya -nya tidak ketemu solusi, kita di Indonesia yang malah berantem.Rugi 2x. Ini aja masalah Pilpres kagak kelar-kelar berantemnya, Cuy! Hahahahaha.

Sementara kita terus mendoakan dan mengupayakan apa yang kita bisa untuk penyelesaian masalah pengungsi dari konflik  Rohingya, hendaknya kita tidak lupa memetik pelajarannya.

Konflik Rohingya
gambar : www.partnersworld.org.au

Dengan etnis yang minim begitu, Myanmar sungguh sulit untuk hidup damai. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Tiap provinsi biasanya punya lebih dari 1 etnis. Kadang, mayoritas ada lebih dari 1. Sulawesi Selatan misalnya. Ada 2 besar : etnis Makassar dan etnis Bugis. Belum lagi yang lain-lain –> Toraja, Mandar (yang sebagian besar sudah jadi Sulawesi Barat), Enrekang, Duri, dsb. Itu baru satu provinsi :D.

Soal fisik apalagi. Suku Dayak ada ciri khasnya. Orang Batak katanya rahangnya persegi. Orang Timur seperti Maluku dan Papua rata-rata berkulit gelap kontras dengan Sunda yang katanya putih-putih. Orang Bugis pun secara fisik macam-macam. Umumnya berkulit gelap. Tapi ibu saya dan kembarannya itu berkulit kuning langsat beda dengan kakak dan adik kandungnya yang sawo matang :D.

Saya kebagian yang kuning langsatnya walau sebagian besar saudara kandung saya itu sawo matang.

Nikmat TuhanMu mana yang kalian dustakan bisa hidup berdampingan tanpa perlu bunuh-bunuhan sejak lama di Nusantara dengan segitu banyak etnis dan agama :).

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi SATU. Never lose that spirit ^_^.

Indoensia budaya

Dalam alquran sendiri, Al Hujurat ayat 13 sudah turun ratusan tahun sebelum Michael Jackson membuat dunia terpesona dengan salah satu gubahan indahnya ini :

We can’t go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

We’re all…God’s great big family #prayForRohingya

Have a nice weekend <3.

Suatu Sore di Waduk Pluit Jakarta

Kurang jadul apa ya, Kakaaaaaa :D. Cerita mudik yang sudah hampir setahun lalu lewatnya.

Kalau mudik selalu dimanfaatkan dengan momen kumpul keluarga. Sudah saya ceritakan di sini ya, suami saya attached banget sama orang tuanya :). Libur bareng keluarga besar saya juga ada. Ke Bandung malah waktu itu rame-rame.

Sekarang bahas yang liburan bareng Bapak-ibu mertua dan kakak ipar dulu, nih :D. Termasuk salah satu agenda liburan kita ke … Taman Kota Waduk Pluit Jakarta!! ^_^.

layang2

Taman kota satu ini sudah digadang-gadang sebagai salah satu prestasi kerja Jokowi-Ahok semasa berduet memimpin Jakarta sebelum Pakde hengkang ngurusin negara. Tentunya, sebagai fans mereka berdua, saya dan suami sudah sejak dulu ingin bertabayyun ke tempat ini *tsaaaah*.

Kayak apa, sih, tempatnya? Bener gak sekeren di foto-fotonya?

Keren sih emang keren tapi….puanasnyaaaaaaaa hahaha.

Kami ke Waduk Pluit Jakarta sehabis makan siang. Ya gimana gak panas hehe. Waktu itu hari sabtu apa, ya. Tiba di sana masih jam 3 an. Sepiiiiii. Ada, sih, beberapa anak yang lagi main di sana. Tapi anak-anak sudah keburu senang melihat tanah lapang begitu.

Jadi kita langsung nyari tempat parkir. Parkiran juga masih kosong.

Tempatnya bersih banget. Mungkin tambahin pohon-pohon kali ya biar agak rindang. Emak-emak ribet nih takut kulitnya gosong hahaha.

ANak-anak sih sudah langsung lari-larian dengan gegap gempita begitu melihat ada orang yang menyewakan semacam skuter yang belakangnya bisa diinjak gitu, lho. Skuter model begini waktu itu juga lagi hits dalam kompleks kita.

Skuter disewakan oleh sekelompok abang-abang yang mangkal di sana. Kayaknya sih bukan “wahana” resmi, ya. Hanya swadaya orang-orang yang memanfaatkan taman ini buat nyari rezeki. Entah orang asli sana apa bukan. Agak ragu sih mau nyewa. Tapi anak-anak dah kalap gitu hahaha.

Sewanya murah, sih. Per 30 menit sekitar 15 ribu rupiah. Ya sudah, jadi deh sewa 2 skuter.

narda sepeda

Anak-anak langsung melesat sampai jauh. Suami saja yang ngejar-ngejar. Saya duduk-duduk di kursi taman bareng bapak-ibu mertua dan kakak ipar. Biar bapaknya ajalah yang jagain anak-anak hihihi. Sekalian motret-motret kan? ;).

Habis ngos-ngosan main skuter, saya yang kepengin main becak-becak-an hehehe. Seru juga lihat becak-becak kecil yang juga disewakan oleh abang-abang yang sama tadi. Kita yang narik becak, anak-anak duduk di depan.

Sewanya agak mahal. 15 ribu per 15 menit. Kita pikir ya, si abangnya enggak bakal ngitungin waktu. Eh, tahu-tahu sekitar 15-20 menit, kita dihampiri terus dibilangin, “Udah Bu, waktunya udah abis.” Hihihihihi, ketahuan deh mau nyolong waktu sewa *ngikikLicik*. 15 rebu doang lho Mbaaaaa, masih juga mau kucing-kucingan –> sungkem dulu sama abang-abangnya :p.

pluit mama naik becak

Capek skuter-an, capek teriak-teriak dan ketawa ketiwi, pas pula ada penjual es krim gerobak yang datang. Nah, sekitar sejam kemudian, sudah mulai agak ramai tempatnya.

Beli es krim lah kita. Nah, sembari jilatin es krim ini, anak sulung saya matanya ngelihat ke arah sekelompok orang yang lagi sibuk pamerin layang-layang. Katanya, “What’s that? Let’s go there!”

Oh, ternyata penjual layangan. Yang semangat malah bapak mertua, “Beliin aja, nanti main sama Opa.”

Layangannya murah meriah, sih. Macam-macam harganya. Saya beli yang paling murah pastinya hahaha. Sekitar 5 ribu rupiah per layangan. Beli 2 biar enggak berantem.

Yang sulung langsung asyik dengan Opa-nya. Yang no.2 masih sibuk sendiri  megangin layangannya sambil ngelatin layangan orang lain yang sudah membubung di angkasa. Yoih, tahu-tahu sudah banyak aja yang lagi maenan layangan.

abil layang2 opa

Beneran, lho. Opa piawai bener nerbangin layangan. Suami saya saja perlu lama baru bisa bantuin anak kami yang kecil buat nerbangin layangannya.

Beberapa kali layangan nyangkut dan anak-anak maksa beli lagi. Ya udahlah, mumpung goceng ini hehehe :p.

Lihat kan keringetan bener anak-anak? Panasnya enggak main-main huhuhu. Pohon dong Koh Ahok, tambah pu’unnyaaaaaaa *benerinKacamataItem*.

narda oma

Akhirnyaaaa, capek juga main layangan. Tapi belum pada  mau pulang. Sudah sekitar jam 5 kalau enggak salah. Eh, ternyata ada abang-abang lain yang datang bawa-bawa semacam jumping castle gitu. Anak-anak boleh masuk dengan membayar sekitar 10 ribu rupiah per orang.

Dikira sudah pada tepar, ya tetap saja pada semangat mau nyobain jumping castle -_-. Apalagi ramai banget anak-anak berkerumun di sana. Sudah chaos banget. Sampai kayaknya sudah susah mau foto-foto. Gak ada fotonya nih yang pas jumping-jumping di sini :D.

Sekitar setengah 6 sore baru  berhasil  menyeret mereka balik ke mobil. Ffiuuuhhh…

Pas balik ke parkiran, baru terasa mobil sudah banyak yang datang. Tapi taman kota Waduk Pluit Jakarta ini tidak hanya jadi alternatif buat kalangan bermobil, lho. Macam-macam kalangan tumpah ruah ke sini :). Soalnya gratis sih, ya hehe. Anak-anak lari-larian saja bawa sepeda sendiri atau main sama teman-temannya rasanya sudah senang ^_^.

Nah, yang begini-beginian yang harusnya diperbanyak, Koh Ahok :D. Tempat-tempat wisata keluarga yang menyenangkan dan murah meriah agar bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat ^_^.

Nah, kalian sendiri yang tinggal di Jakarta, sudah pernah datang langsung ke taman kota satu ini belum? ;).

papa naik becak

Wonders are (Still) Waiting to Start

Gambar : kickofjoy.com
Gambar : kickofjoy.com

Pansel KPK versi terbaru baru saja terpilih. 9 orang. Perempuan semua. Kurang kontroversi apa, sih, Pakde-ku yang satu ini? Hahahaha.

Yang menarik sebuah komentar iseng-iseng, “Wah, perempuan kan makhluk yang lemah katanya. Berarti benar, KPK sedang dilemahkan.” Hahaha. Ngakak kuadrat :p.

Tapi memang benar, kontroversi sudah ada namun sayup-sayup. Semacam komentar, “Mau jadi apa negeri ini? Menyalahi aturan Tuhan. Benar-benar sudah mau kiamat.” Hanya karena pansel KPK 9 orang cewek semua, dunia sudah mau kiamat? –> *sodorinKarpetBuatPiknik* :p.

Kalau tebakan iseng saya mengapa beberapa pihak yang biasanya panas dingin kalau urusan beginian tapi soal teranyar ini urung bersuara itu karena…sosok Ibu Risma hehehe :p.

Tempo hari ramai mempertentangkan kepemimpinan beliau hanya untuk melemahkan sosok Ahok misalnya :p. Kan ribet ya, Cyin, kemarin-kemarin memuja Ibu Risma bak Dewi Kuan Im, sekarang kalau protes soal Pansel nanti bisa jadi senjata makan tuan, deh. Hihihihi :p.

Ngomongin perempuan, beuh, bisa panjang urusannya.

Konon ada juga yang menuduh, “Itulah kelemahan perempuan. Terlalu main perasaan!” Wah, wah, wah, mentang-mentang sebuah jargon lama, “9 perasaan dan 1 pikiran pada perempuan” kok tahu-tahu bisa dianggap lemah?

Sudahlah ini sudah dibahas panjang lebar di sini, baca lagi, dong-dong-dong #eaaaaa –> “In Her Shoes” 

Nanti kalian baca di situ justru ‘dominasi perasaan’ itulah yang menjadi kekuatan utama perempuan yang jungkir balik sekali pun tidak akan mungkin bisa dikuasai para laki-laki. Maksudnya? Ya klik dong linknya :p.

Salah satu pencapaian penting sebagai perempuan itu adalah Gelar “Ibu”. Salah satu lho, yaaaaa :D. Tidak berarti kalau belum jadi Ibu berarti anda perempuan yang tidak penting. Bukan itu maksudnya ;). Percaya deh, motherhood itu sudah satu paket sama keperempuanan kita, whether you’re a Mom or not ;).

Motherhood. Such a long way to go :). Di setiap prosesnya, seolah perasaan kita ikut terbanting-banting kiri kanan atas bawah serong sana serong sini hihihihi :p.

Mungkin waktu baru hamil, apalagi hamil pertama, bisa melewati masa hamil muda saja sudah kayak menang perang gitu ya, Booooo, hahaha.

Padahal masih ada fase melahirkan. Habis melahirkan, apalagi kalau prosesnya ribet dan normal pula, beuh, sudah merasa juara lah pokoknya :p. Tambah lagi ngasih ASI sampai segala puting berdarah dan bernanah tapi pantang menyerah hingga akhirnya bisa pamer foto “Anakku sarjana ASI” makin-makin deh … I’m the best mom ever! :p.

Sudahlah. Banyak dari kita memang HARUS melalui fase-fase narsis seperti itu. Ada yang setelah anak ke-2 dan seterusnya langsung tersadar dan menertawakan diri sendiri. Ada yang enggak move on, sampai anak ke-berapa juga, terus aja berkompetisi tanpa kenal lelah hahahaha. Judge sana sini, merepet sana sini dan sebagainya.

Tapi, jangan lantas kita sesama ibu-ibu ikut-ikutan merendahkan fakta bahwa peer pressure itu benar adanya. Merasa paling keren karena katanya tidak suka ikut-ikutan gini-ginian, sudah merasa ini basi, tapi komen juga paling kenceng ya, Ceu! Hahaha.

Gambar : ctworkingmoms.com
Gambar : ctworkingmoms.com

Santai sajaaaaaa ^_^. Faktanya memang begitu. Dunia ibu-ibu gitu, lho. Mari merayakan perbedaan dengan cara apa pun. Lagian perang-perang dunia maya mah, nanti kalau ada lomba blog paling temenan lagi dan tuker-tukeran info lagi. Ya gak, ya gak, ya gak? Kedipin dulu satu-satu ;).

Tapi yah akhir-akhir ini saya sendiri kembali digalaukan dengan motherhood-adventure ini.

Anak pertama saya tahu-tahu sudah besar.

Sekarang bapaknya lagi assignment ke luar pun, dia sudah tidak ‘sudi’ lagi tidur bareng saya :(. Padahal anaknya agak penakut lho hihihi –> like mother like son hahahaha. Dia maunya tidur berdua adiknya saja. Adiknya mah dari dulu tidur sendiri juga enggak pernah takut. Anak bugisku ini memang cetarrrrrrr <3 :p.

Karena bapaknya tidak ada, saya yang antar tiap pagi ke sekolah. Tidak mau lagi tangannya digandeng, “I’m a big boy.”

Apalagi dicium hahahahaha. Pokoknya kalau sudah dekat-dekat sekolahan, dia benar-benar menjaga supaya dia terlihat “mandiri”. Pagi-pagi kan waktunya memang mepet.

Di lampu merah terakhir, kalau lampu menyeberang jalan sudah hijau, saya biarkan dia lari menerobos jalan sendiri dan menghilang di balik gerbang sekolah. Biar hemat waktu juga buat saya. Dan dia senang banget dengan ide ini. Mungkin kesannya kayak anak gede gitu, ya. Sudah boleh menyeberang jalan sendiri.

Saya panggil-panggil juga biar dia nengok gitu, dadah-dadah basa basi gitu. Dia enggak nengok dan cuma mengibaskan tangan seolah pengin bilang, “It’s ok, I’m fine. Just go.”

Huhuhuhu. He’s getting bigger and I’m not ready. Not yet! Secepat itu, ya, ternyata.

Drama hamil-menyusui-melahirkan-nyuapin dia yang susah bener makannya dan badannya mungil pula yang bikin saya harus bolak balik ngelus dada menerima judgement macam-macam dari orang-orang… seolah tak ada artinya lagi dibanding mendapati kenyataan di depan mata bahwa tidak selamanya saya bisa menimang dia di samping saya.

Itu juga belum kejadian. Baru kelas 1 SD pun! Hahahahahha. Masih panjang perjalanan yang harus dilewati sebelum dia benar-benar melambaikan tangan untuk bilang, “Okey Mom, I need to catch my flight. See you next year!”

Oh, no. Tentu pengin ya anak-anak terbang sejauh yang mereka bisa tapi ya, faktanya pedih juga, Euy. Ini baru menepis tangannya tak hendak digandeng saya sudah terpukul begini hahahaha. Gimana kalau nanti dia udah ke rumah bawa-bawa bini dan cucu-cucu. Belum lagi kalau-kalau-kalau… like I’ve said, masih panjang betul perjalanan yang harus dilewati.

Itu baru anak pertama. Lanjut terus sampai ke adik-adiknya.

Tapi, anak pertama memang spesial. Saya ingat waktu kakak pertama saya meninggalkan rumah untuk kuliah di kota lain. Keterima Sipenmaru di PTN Surabaya. Bertepatan perginya dengan Ibu saya berangkat haji. Pulang-pulang naik haji, kakak sudah berangkat ke Surabaya.

Ibu saya terisak-isak melihat sepasang sepatu si Kakak yang mungkin sengaja memang tidak terbawa. Masih nangkring di kotak sepatu. Padahal adik-adiknya masih ada 5 biji (yang bungsu belum lahir waktu itu), tetap saja, pengalaman pertama ditinggal satu anak tuh, rasanya drama banget kali, ya, huhuhu.

Jadi intinya, yang sekarang-sekarang ini kita alami saat mereka masih dalam kandungan misalnya atau masih balita, aduh…masih ecek-ecek lah hihihihi. Ecek-ecek tapi lumayan menguras emosi kan, kan, kan? Hahaha *jabatTangan*.

Still, long way to go ini mah yaaa … rangkul satu-satu dari jauh <3.

Don’t lose your way with each passing day
You’ve come so far don’t throw it away
Live believing dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story Faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart
-Diana Ross, “If We Hold On Together”-

Jalan masih panjang begini, save our energy. Wonders are still waiting to start, aren’t they? ;).

Let’s hang on … <3.

Gambar : ctworkingmoms.com
Gambar : ctworkingmoms.com

Macam macam Media Sosial dan Pergaulan di Masing Masing Medsos :D

Makin macam macam media sosial yang hits sekarang ini. Sekitar hampir 3 bulan lalu, saya delete akun di Path :D. Jadi, bukannya remove-remove friend list, tapi akunnya sudah benar-benar saya DELETE, ya, teman-teman. Sungkem dulu satu-satu :p. Sempat ada yang merasa di-REMOVE. Cep, cep, cep, jangan sensi ah ;).

logo path

Merasa kurang “cocok” dengan “atmosfir” ala Path jadi saya DELETE sekalian hehehe. Takutnya kalau dibiarkan nanti seperti akun-akun non aktif yang dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya di FB dan Twitter, dikerjain orang :(.

Sekali lagi, bukan remove-remove friend lho yaaaaa ;).

Untuk media sosial, saya masih fokus di 3 akun saja. Blog saya di jihandavincka.com ini, twitter saya @davincka, dan akun FB. Akun saya semuanya PUBLIC. Tidak perlu di follow-follow lah, bisa dibaca sepuas hati hehehe.

Di FB pun sebenarnya 90% postingan sifatnya PUBLIC, jadi enggak perlu jadi FRIEND juga kalian seharusnya bebas mengakses isi wall saya :D. Paling aktif itu memang di FB. Enggak kekinian banget ya eike. Orang-orang sudah move on ke Path/Instagram, dimari masih fesbukan ajeeee :p. Punya fanpage di Facebook segala lhoooo, ditunggu like-nya :p.

Saya kesulitan eksis di media sosial yang hanya bisa diakses via smartphone dan semacamnya :p. Maklum ya emak-emak jadul, maenannya laptop, Cyin :D. Selain itu, anu … ponsel saya itu masih pakai yang 3 inchi gitu dengan fasilitas yang cukup memprihatinkan di era digital modern nan canggih ini.

Saya kan anak rumahan jadi sering banget kelihatan online. Kalau lagi ke luar rumah misalnya weekend jalan-jalan atau liburan ke luar kota, saya enggak maenan gadget ;). Internetnya emang ngandelin yang di rumah doang. Di luar rumah ya no internet kecuali suami nyalain SYGIC di ponselnya. buat nyari lokasi tujuan hehehe.

Keluarga Gober gitu lho *gembokDompet*.

Saya masih mending pernah beli-beli ponsel. Suami 100% ngandelin ponsel pemberian kantornya. Bekerja di dunia telco, memang dapat jatah ponsel dari kantor. Tapi ya bukan yang canggih-canggih amat. Kalau teman-temannya tetap mempersenjatai diri dengan gadget selevel iPhone, iPad dan i-i lainnya, suami mah enggak pernah terpengaruh.

Dia memang gitu. Enggak pernah tergila-gila gadget dan semacamnya :D. Doyan fotografi pun, duh, kameranya masih level cupu-cupu gitu :p. Dia lebih senang memaksimalkan fungsi perangkat lunak dan memperdalam ilmu editingnya. Murah meriah ya Bang hahahahaha.

Jadilah kami berdua memang laptop mania urusan media sosial :D.

Di mobil kalau ke luar rumah ya kami mengobrol ngalor ngidul saja berdua. Kebetulan sama-sama bawel sih, ya :p. Macam-macam yang kami obrolin. Dari soal politik, ekonomi, gosip artis, masing-masing curhat kerjaan sampai main tebak-tebakan sama anak-anak dalam mobil.

Pusing kepala saya kalau buka-buka ponsel kalau lagi berkendara, Euy. Kalau jalan-jalan juga gitu. Kalau di luar kota yang full tamasya outdoor, ya bebas merdeka dari internet. Paling kita berdua ngecek-ngecek email pas nyampe hotel.

Tapi, beberapa bulan lalu kami membeli tablet. Yang harganya dirasa cukup miring. Maksudnya biar dipakai nonton tivi di rumah. Suami mau udahan langganan tivi, ada paket lain yang lebih murah, nonton via internet gitu :D. Jadinya sekarang sama anak-anak malah tabletnya dipakai main game -_-. Jadi pada kecanduan, deh, huhuhu.

Saya juga enggak doyan selfie. Aish, punya suami yang doyan motret ngapain nyiksa diri selfie-selfie an hihihihihi. Lagian kalau selfie anglenya suka kurang pas aja gitu #eaaaaaa. Kalau jalan-jalan, ya dipotret pakai kamera “beneran” :D.

macam macam media sosial

 

Kita juga fokusnya kalau ke luar kota ya motret pemandangan biar bisa dijadiin duit karena saya pun hobi menulis tulisan jalan-jalan, dikirim ke media cetak, dapat uang jajan deh :p. Dimasukin ke blog juga biasanya.

Motret makanan? Aduh Cyin, sama-sama bukan tukang jajan :D. Apa yang mau dipamerkan? Ke mana-mana juga seringnya bawa bekel dari rumah :D. Motret masakan sendiri? Rupa-rupanya enggak keruan gitu hahaha. Kecuali foto masakan sendiri buat dipajang di blog resep ya :D.

Pokoknya tanpa laptop, no internet buat saya ^_^. Kecuali hal-hal penting yang memang perlu internet (bukan media sosial pastinya! :p). Enggak mungkin kan nenteng laptop yang ukurannya masih 14 inch ini ke mana-mana hahaha.

Saya butuh macam macam media sosial untuk menulis sih sebenarnya :D. Untuk menyebarkan tulisan-tulisan saya. Yang saya harapkan isnya yang baik-baik dan mudah-mudahan bermanfaat. Sesekali nyolot #eaaaaaa :v :v :v. Ya nyari-nyari amal banyak caranya toh ya ;).

Makanya, tersiksa kalau harus online dari gadget. Saya kalau mengetik harus 10 jari biar bisa cepat karena kan yang mau dikerjain juga banyak. Sok sibuk bener dah hahaha. Dari kuliah saya sudah rajin belajar mengetik 10 jari biar bisa berkiprah di atas keyboard dengan kecepatan cahaya #eaaaaa :p atau siap-siap jadi sekretaris mana tahu kesempatan kerja burem? :p.

Aslinya saya juga cerewet di dunia nyata. Banyak yang bilang kalau senang menulis bisanya secara personal malah pendiam. Aduh, mungkin saya anomali-nya deh hahaha. Mungkin karena suka ngomong dan kalau ngomong memang cepat, mengetik juga begitu.

Jadi ya sementara, memang butuh media sosial yang membuat saya leluasa mengetik panjang kali lebar. Twitter kan enggak. Dulu punya akun Twitter buat ikut lomba-lomba blog hihihihi. Seringnya, ada syarat harus punya akun Twitter dan ngetweet ini itu untuk syarat lomba dan semacamnya. Twitter saya juga sepi kok :p.

twitter logo

Bingung mau ngapain di Twitter? Ya saya pakai untuk share-share link di blog hahaha. Mentok, tok, tok.

Gak heran ya, sebentar saja di Path, saya sudah bosan sendiri. Apaan itu sekrol-sekrol atas bawah isinya FOTOOOOOO semua :v :v :v. Sempat saya ikut-ikutan upload foto-foto liburan plus foto-foto diri sendiri + anak-anak memenuhi permintaan beberapa teman lama (di Path banyakan teman sekolah di Makassar dulu hehe) yang bertanya, “Di mana mako sekarang Jihan? Kayak apa mi mukamu sekarang? Berapami anakmu? Kayak apa mukanya anak-anakmu?”

Kalau posting foto di FB, bisa diberi ‘keterangan’ panjang agar supaya foto-fotonya seperti terbingkai satu paket dengan ceritanya. Tidak hanya ngeliatin foto, ya mana tahu ada pesan moral apaan kek gitu :p. Sudah belagu sok bijak pula ck ck ck :D.

Kayak waktu ke London, pantang dong, posting foto doang tapi minim kisah ^_^. Terciptalah 3 tulisan : “Both Side of The Story”, “London Bridge is (not) Falling Down” dan “Hate The Sin Love The Sinner”. Lumayan buat nyeritain sejarah kotanya dan pelajaran yang bisa dipetik selain biaya hidup di London yang bikin keki hahaha.

Itu juga peer London-nya masih banyak banget. Terus terang, blusukan di news feed FB itu yang paling  menyita waktu, euy, :(. Suka keasyikan, tahu-tahu peer terbengkalai dan malah sibuk nyinyir-nyinyiran di komentar di wall orang pula! Nyahahahaha. Kurangi woiiiii, kurangi !!! *pentungTiga*

Di FB enaknya gitu sih ya. Bisa bikin status panjang-panjang :D. Lebih leluasa juga untuk berantem *ups* :p. Bacaan juga lebih komprehensif. Terus terang sampai sekarang saya mati gaya kalau harus menulis pendek-pendek. Apalagi cuma 140 karakter macam di Twitter :D. Status di FB aja kadang bisa lebih dari 2 ribu kata! Nah, tulisan-tulisan di FB itu yang saya kumpulkan dan saya masukin ke blog ini :D.

Kalau instagram ya belum juga. Mungkin kalau suatu hari Path dan Instagram bisa diakses via laptop, saya pun pasti berkeliaran di sana hahaha.

Udah sih mau cerita gitu-gitu doang. Dan ini pun ternyata sudah lebih dari 1000 kata huhuhu :p.

macam macam media sosial

Macam macam media sosial ya makna pergaulannya bisa macam-macam, ya. Inginnya sih eksis di dunia nyata plus dunia maya. Apa daya kadang, sudahlah tidak tenar di dunia nyata, di dunia maya pun juga keok hahaha.

Tergantung niatnya untuk apa sih, ya ^_^. Btw, kalian aktif di dunia maya tidak? Paling senang bergaul via media sosial yang mana?  Kalau aktif, kira-kira apa yang ingin dicari? Sudah tercapai ndak kira-kira? ;).

***

Bahagia, Meski Mungkin Tak Sebebas Merpati

Ini salah satu tulisan di Buku “Memoar of Jeddah” :D. Ini versi aslinya yang banyak haha-hihinya :p. Versi teks buku tentu tanpa emoticon dan “hahahahaha” :D.

cover-final-memoar-of-jeddah.jpg

***

Suatu hari saya ke UGD salah satu rumah sakit swasta di Jeddah dan harus dilakukan tindakan operasi kecil. Hanya bius lokal. Dokter laki-laki asal Mesir yang menangani saya.

Saya gemetaran karena takut setengah mati. Hahaha. Pak Dokter nampaknya tahu. Dia menenangkan dengan mengajak ngobrol.

Bahasa Arab saya nol besar dan saya pastikan Pak Dokter tak bisa berbahasa Indonesia, jadi kami asyik mengobrol dengan bahasa Inggris.

“Wah, saya kira kamu tadi orang Indonesia, lho,” ujar Pak Dokter setelah ngobrol agak panjang.

Lah, piye? “Saya memang asli Indonesia.”

Matanya terbelalak. “Indonezi? You can speak English? Masya Allah!”

Sure, why not?”

“Kalau bisa bahasa inggris seperti ini, cari saja pekerjaan lain. Kenapa memilih jadi pembantu?”

Saya merespons dengan terbahak. Ya ampyuuunn, kece-kece begini disangka gitu. Oh tidaaaaaakkkk *tutupMukaSelebayLebaynya* hahaha.

Gambar : weheartit.com
Gambar : weheartit.com

Jangan kaget. Begitulah pada umumnya tanggapan orang-orang jika bertemu dengan perempuan asal Indonesia di Saudi.

Setelah itu dia sibuk bertanya mengapa saya tinggal di Saudi. Dengan siapa. Apa iya di Indonesia banyak perempuan mendapat kesempatan untuk duduk di perguruan tinggi? Kok bisa orang Indonesia bahasa Inggris?

Antusias benerlah pokoknya si Pak Dokter.  Mungkin juga karena orang Arab kan memang dikenal berapi-api kalau diajak berbincang :D. Ingat ya, kalau ngomongin Arab itu artinya ngomongin ras/suku bangsa. Mereka ada di Saudi, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, Yaman, Sudan, dll. Kalau di Indonesia sebut “Arab” umumnya langsung mengacu ke Arab Saudi saja :D.

Dengan waktu yang tersisa, ya gak mungkin mau lama-lama juga kan dia punya pasien lain, saya coba meluruskan persepsi dia tentang Indonesia. Dokter itu cukup puas dengan penjelasan singkat saya dan memberikan sedikit pembelaan atas komentarnya di awal tadi.

“Kamu jangan salahkan saya kalau saya tidak paham banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Bahwa kota Jakarta sama kerennya dengan Jeddah. Pendidikan bukan hal yang tabu buat perempuan Indonesia. Masalahnya, hampir semua perempuan Indonesia yang saya temui di Saudi ini rata-rata berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.”

Lalu, saya jadi berpikir. Sebenarnya TIDAK 100% orang-orang non Indonesia yang ada disini berpikiran sempit. Mereka berpendapat menurut apa yang mereka temui sehari-hari. Di situ kan umumnya muncul skema stereotip. Generalisasi. Apalagi kalau contoh mayoritasnya memang menunjukkan begitu. Apa hendak dikata hehehe.

***

Orang Filipina juga banyak TKWnya. Tapi mereka juga banyak yang berprofesi sebagai perawat, sales, penjaga toko, manajer bank, engineer, konsultan IT/SAP, dsb. Profesi mereka variatif. Demikian pula dengan pendatang lain dari negara-negara seperti : Pakistan, India, dll.

Orang Indonesia? Kalau Anda laki-laki, biasanya akan disangka supir. Kalau perempuan, otomatis dianggap pekerja rumah tangga. Saking banyaknya TKI informal asal negara kita di negara ini. Begitulah kenyataannya. Jadi, tidak perlu sensi, ya 😉

Kalau menyusuri pelataran parkir di mal-mal besar di kota Jeddah ini, akan terlihat kerumunan lelaki yang sedang duduk-duduk mengobrol dekat pintu masuk. Sebagian besar berasal dari Indonesia. Kelihatan dari suara mereka yang berbincang dengan bahasa Indonesia. Mereka adalah para supir pribadi yang sedang menunggu majikan yang berbelanja dalam mal.

Kemana perginya para pekerja profesional kita? Mungkin salah satu alasan utama keengganan TKI formal asal negeri kita untuk mengadu nasib ke Saudi adalah ‘keamanan keluarga’. Terutama untuk para perempuan. Bukan rahasia umum, banyak ‘dinding pembatas’ untuk para wanita yang hidup di Saudi ini. Belum lagi sering di’remeh’kan karena kerap disangka TKW.

Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)
Medical stuff in Jeddah Hospital, multi cultural (gambar : thepinoy.com)

Perempuan tidak boleh menyetir di Saudi. Tapi aman, kok, naik taksi sendiri di sini. Belum lagi kemudahan untuk melakukan ibadah umrah. Tak perlu antri dan mengeluarkan biaya besar untuk naik haji.

Kalau mau ke mal, tidak mesti menunggu suami senggang. Ajak saja beberapa teman atau saling menjemput dan beramai-ramai menjajal mal di siang hari.

Belum lagi ada banyak rumah makan Indonesia. Mulai dari level kaki lima hingga bintang lima. Tinggal pilih. Sate Madura, pempek, bakso, tahu, tempe, tidak ada istilah ‘langka’. Semua bumbu khas Indonesia pun tak sulit ditemukan.

Perempuan wajib berabaya hitam kemana-mana. Tapi abaya hitam itu banyak yang modis. Pokoknya tidak ada kata mati gaya. Bahannya ternyata nyaman dan tidak panas.

Ternyata tiap tempat menawarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila ditanya, “Gimana sih hidup di Jeddah itu?” Mungkin jawaban yang cukup tepat saya ambil dari lirik salah satu lagu di tanah air, “Bahagia, meski mungkin tak sebebas merpati.”

“Bahagia, meski  mungkin tak sebebas merpati” juga sub judul dari buku saya yang pertama, “Bunda of Arabia” :D. Bunda of Arabia ini terbitnya secara indie. Covernya agak-agak keramean gitu. Desain covernya kami rancang sendiri soalnya ^_^. Biar hemat hahaha. Maklum kalau indie modalnya ya kocek kantong dewe :p.

buku-boa.jpg