Menjadi Phala-Wan

Untuk hidup sehat, tidak ada cara lain selain menjaga pola makan dan rajin olah tubuh. Saya lebih suka pakai istilah olah tubuh ketimbang olah raga.

Biasanya kalau pakai istilah olahraga banyak yang mengeluh tidak punya waktu. Padahal pengertiannya kan luas, ya. Untuk ibu rumah tangga, seharian beberes rumah dan berdiri beberapa jam di dapur itu sudah termasuk olah tubuh lho ;). Coba saja dirutinkan tiap hari. Yang bekerja, jangan cengeng enggak punya duit nge gym :p, naik turun tangga ketimbang pakai lift/tangga jalan itu juga sudah termasuk olah tubuh :D.

Percaya tidak sih kalau satu hal baik itu otomatis berimbas ke hal baik lainnya. Menjaga pola makan + bergerak teratur –> membuat badan lebih sehat –> berat badan terjaga –> jadi misalnya untuk ibu-ibu enggak perlu ribet nyari pembenaran enggak penting macam, “badan gendut tandanya bahagia kan”? Hahaha :p. Enggak capek membohongi diri sendiri? ;).

Ha? Ujung-ujungnya soal berat badan saja nih. Tidak juga. Imbas lainnya lebih luas lagi. Umumnya pola makan sehat alami hanya mengandalkan bahan-bahan alami saja dan sebagian besar menyarankan konsumsi bahan alami tanpa diolah semisal sayur dan buah.

Efeknya?

1. Hemat listrik, hemat energi
2. Hemat biaya
3. Sumbangsih lebih baik untuk lingkungan

Kalau makanan olahan enggak jauh-jauh dari minyak. Kemarin jerit-jerit soal asap dan minyak kelapa sawit. Ayolah, berjanji pada diri sendiri untuk berkontribusi pada lingkungan dimulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri dulu :).

Baca : Make That Change … You!

Kalau banyak yang sadar dan lebih sering mengkonsumsi sayur dan buah, bayangkan, demand sayur dan buah bertambah. Supply pun mengikuti. Jadi lebih banyak orang yang menanam aneka sayur dan buah. Penjual gorengan mungkin nantinya berbondong-bondong jualan rujak saja :p.

Gambar : female.kompas.com
Gambar : female.kompas.com

Ingat lho, tanaman itu menyumbangkan oksigen buat lingkungan. Sementara mengkonsumsi protein hewani agak sulit tanpa pengolahan sama sekali. Belum lagi beternak boro-boro nyumbang oksigen, ada juga hewan ternak ikut makanin rumput dan ikut menghabiskan oksigen :p. Kalau jumlahnya terus dipaksa meningkat, keseimbangan alam otomatis terganggu.

Hewan-hewan ini juga dibuat berkembang biak secara cepat mengikuti permintaan pasar :(. Terjadilah ide aneh-aneh. Ikan lele dikasih makan sampah lah karena tempat pemeliharaan terbatas. Sapi/kambing/domba/ayam dikasih makan serampangan, pokoknya gimana caranya biar cepat gede dan dijual.

Tahu sendiri sifat manusia yang dasarnya serakah, ya. Apalagi soal duit. Jangankan daging palsu dicampur macam-macam bahan, berita palsu saja laku dijual online kok :p.

Baca : e-Hate, Bisnis Baru yang Menjanjikan? 

Makanya, saya bilang tadi, hal-hal baik itu biasanya satu paket ^_^. Menjaga pola makan otomatis membuat kita lebih perhatian kepada kesehatan dan otomatis membantu alam menjaga keseimbangannya.

Manusia itu diciptakan sebagai pemimpin alam. Kita yang punya potensi besar menjaganya sekaligus merusaknya :(. Tinggal pilih mau yang mana.

Natural View, Glendalough, Ireland (foto : Dani Rosyadi)
Natural View, Glendalough, Ireland (foto : Dani Rosyadi)

Ya ngomong-ngomong soal pola makan ada macam-macam sih, ya. Saran saya pribadi jauhi pola makan yang nyuruh kita konsumsi satu bahan olahan /pabrikan/kemasan/buatan/non alami tertentu. Tuhan sudah menciptakan semuanya secara alami kok. Sudah dikasih macam-macam kok masih mau melawan Tuhan dengan lebih percaya pada produk pabrikan yang nyata-nyata bikinan manusia? :p.

Siapa tahu tertarik dengan pola makan food combining yang anti suplemen mana pun…monggo dibaca tulisan di link kalau ada waktu ^_^. Panjang banget soalnya hahahaha.

Baca : Solusi Hidup Sehat ala Food Combining 

Tapi tentu enggak ada jaminan kalau pola makan sudah kece terus enggak mungkin sakit. Buat yang percaya kalau Tuhan itu ada :D, lengkapi ikhtiarnya dengan doa dong ya ;).

Terus juga jangan gampang putus asa, ya, soal ngadepin kebiasaan makan kita sendiri. Saya sendiri juga enggak disiplin-disiplin amat hihihihi :p. Yang penting itu ada kesadaran dulu. Lagi-lagi ngutip Mbak Sophie Navita, “Makan yang berkesadaran” :). Bukan hanya asal mangap, lidah senang dan perut begah :p.

Pokoknya tiap hari coba terus. Jangan karena hari ini kebanyakan “makan sampah” besok langsung loyo dan enggak semangat nyoba lagi hehehe.

Terserah mau pilih pola makan alami model mana yang penting jaga baik-baik kesehatan kita semua as we all know …

“The greatest wealth is Health.” -unknown-

Btw, sekarang 10 November kan ya?

Kalau kata wikipedia “Pahlawan” itu berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan. Artinya orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama.

Kadang tuh ya untuk jadi pahlawan enggak usah susah-susah dan ngeri-ngeri lah mikirnya :p. Cukup berbuat baik untuk diri sendiri saja efeknya bisa bagus. Nanti bisa nular ke keluarga dan teman-teman.

Mau jadi pahlawan mikirnya harus punya uang banyak, harta berlimpah, tenaga yang kuat, pengaruh digdaya, bla bla bla. Dari pilihan-pilihan hidup yang kita buat pun, asalkan bisa punya pengaruh bagus, bisa dibilang kita sudah memberikan buah(phala) yang berkualitas untuk sekitar.

Dari rumah, dari kantor, dari mana saja, ayo terus persembahkan phala-phala kebaikan buat siapa saja :D.

Note : phala lama-lama kalau dibaca jadi pahala yak? hehehe ;).

Selamat hari pahlawan <3.

Gambar : billmarshjr.com
Gambar : billmarshjr.com

People We Haven’t Met Yet (5)

Baca : People We Haven’t Met Yet (4) 

Masa-masa naik kopaja jurusan Depok-Blok M yang ramainya naudzubillah itu tak sampai setahun. Naiknya boleh berdesakan dengan penumpang lain, tapi angkutan umum minim kenyamanan tersebut setia mengantar saya menuju rumah para murid yang rata-rata tinggal di pemukiman mentereng.

Mulai dari Kemang, apartemen daerah Dharmawangsa, hingga kompleks perumahan ekspat yang tertutup tapi super mewah di daerah TB Simatupang.

Biarpun harus menunggu wisuda di bulan Agustus, biarpun gagal meraih ambisi menuntaskan masa perkuliahan 7 semester saja, akhir maret saya resmi menjadi alumni :). Damn, selisih sebulan! huhuhu -_-.

Saya ikhlaskan membayar uang kuliah di semester 8 dimana saya sudah tak aktif kuliah sama sekali. Bahkan sudah memasuki dunia kerja. Selamat tinggal kampus, sampai jumpa di wisuda Agustus!

Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)
Graduation Girl! (Source : www.123rf.com)

***

Dunia kerja membuka mata lebih lebar. Memang tak ada keinginan untuk hengkang kembali ke tanah kelahiran :D. Stres juga mendengar minimnya lapangan pekerjaan untuk IT di daerah :(. Sebagian besar teman saya malah berlomba bekerja jadi pegawai Bank di sana. Duh.

Baca : Di Timur Matahari Mulai Bercahya

Saya ingat, pertama kali kerja di daerah Cikini. Kantornya pas di depan stasiun kereta api Cikini. Dan tidak habis pikir juga ternyata dulu saya sempat menjadi ANKER sejati selama nyaris 4 tahun. Bukan kereta ekspres yang full AC itu, tapi KRL Ekonomi yang murah meriah, yang (katanya) kayak kepiting rebus kalau udah di dalam hihihi.

Stasiun Cikini, gambar : tribunnews.com
Stasiun Cikini, gambar : tribunnews.com

Bergaul bersama rekan kantor, rekan satu divisi, user, dll, selama 5 hari seminggu, 8 jam sehari, tentu membuat wawasan lebih terbuka. Jangan kira, pekerja IT macam kami, sepanjang hari melotot depan layar monitor saja. Hehehe.

Saya jadi menemukan bukti bahwa bukan isapan jempol jika ada asumsi bahwa etnis Tionghoa memiliki etos kerja yang luar biasa. Tentu ada juga yang tidak. Tapi memang, hampir semua yang saya kenal baik memiliki karakter kerja seperti itu :).

Bukannya mereka tak suka bercanda. Duh, waktu masih berkutat dengan para Bapak-bapak di lantai 8 (ruangannya bernama 8C), bisa sampai mules-mules dan pengin pipis kalau bercanda dengan mereka semua. Oiya, asal tahu dari 8 karyawan divisi IT di ruangan ini, hanya satu yang berjenis kelamin perempuan, hehehe.

Tak ada canggung. Mengingat saya dibesarkan di keluarga mayoritas pria, dan kuliah pun di kampus yang (mungkin saat itu) 80% adalah pria.

Tapi begitu ada deadline, semua serius hingga sudi bekerja sampai larut malam dengan hasil kerja yang rata-rata memuaskan :). Play hard, work harder ;).

Mereka bukannya pelit, tapi sangat-sangat menghargai uang. Jangan kira kalau mereka berada bisa sembrono buang-buang duit. Bahkan saya sangat terkesan dengan sebagian besar mereka yang menyantap makan siang hingga butir nasi terakhir. Hingga piring mengkilat saking bersihnya.

Bahkan jika ada yang mengeluh, “Duh, salah pesan. Ini gak enak.” Mereka tetap menghabiskan dengan tekun hingga suapan terakhir.

Saya terkesan dengan kisah seorang rekan yang bercerita mengenai masa kecilnya yang tinggal di lingkungan kampung kecil. Dimana etnis tionghoa entah mengapa menghadirkan rasa enggan sedemikian tinggi dari warga sana. Keluarganya tidak terlalu berada. Setelah berjuang dengan menjadi pedangan keliling, karena konon orang-orang kampung tak suka mereka membuka toko, akhirnya keluarganya memilih hengkang ke kota besar terdekat.

Saya jadi tersadar. Saya termasuk orang yang (dulu) berpikir, “Ah, semua orang cina kan pasti kaya.”

Dia tapi memilih bungkam ketika saya bertanya apakah dia dan keluarganya ada di Jakarta saat kerusuhan 1998? Padahal saya merasa saya sudah bertanya dengan sangat hati-hati :(.

Baca : Cerbung Temanku Cina

***

Tapi, bukan berarti jika mereka orang berada mereka akan sok dan royal. Salah besar, tuh. Hehehehe. Saya pun pernah kerja di lingkungan yang didominasi etnis tionghoa tapi yang berasal dari kalangan menengah ke atas.

Tidak tanggung-tanggung tajirnya kadang-kadang. Lulusan universitas yang cukup ternama dari luar negeri. Berpenampilan necis dengan mengendarai mobil pribadi tiap hari ke kantor. Nge-kos di daerah segitiga emas yang terkenal tidak murah.

Tapi, urusan uang, mereka pun sama disipilinnya. Ingat lho, bukan kikir. Tapi disiplin :D. Jangan kira tiap hari mereka akan mengajak makan di tempat-tempat enak-enak dan harus merogoh kantong hingga bolong (kantong saya maksudhya ahahahaha).

Budaya saya di geng mata sipit ini ketika bekerja di salah satu perusahaan yang berkantor di gedung BEJ, adalah makan siang ramai-ramai ke Semanggi-Expo. Murah meriah hehehe.

Hal konyol yang rutin kami lakukan adalah berlomba-lomba memesan menu dengan harga termurah! Bahkan ada yang rela tidak memesan minum dengan alasan, “minumnya nanti di kantor saja.” Ahahahahahahaha. Makin murah makin keren :P.

Oiya, hutang seribu perak pun pasti akan ditagih oleh mereka. Hehehe. Itu hak mereka. Bukan kikir sekali lagi. Ini menunjukkan betapa mereka menghargai uang, seberapa pun besarnya :).

***

Berjalannya waktu dan seringnya berpindah tempat kerja juga mengikis stereotip yang sudah terlanjur nempel di kepala terlalu lama. Seperti contoh di atas, tidak semua etnis Tionghoa tergolong orang berada.

Juga, orang Jawa pun jangan lantas dicap ‘jago basa basi’ semua. Ada juga, lho, yang dengan tulus hati rajin nawarin ini itu but they mean it. Contohnya yang kemarin protes di komen yang edisi no.3 ya kalau gak salah :P.

Orang Jawa pun, banyak yang ‘outspoken’ ;).

Orang Batak kasar-kasar dan pemberani? Saya pernah kenalan dengan mbak-mbak yang ngomongnya pelaaaann banget. Gak grasak grusuk pula. Malah cenderung penakut. Kasihan juga melihatnya, saat itu kami sering bertemu di halte stasiun kereta. Biarpun dia mengaku sudah bertahun-tahun naik kereta, dia suka pucat dan pasrah jika kereta terlihat sangat penuh.

Padahal saya sudah coba bantu dengan ikut memegang tangannya. Ya, karena didorong banyak orang, dan dia pun nampak ogah-ogahan jadinya gak keangkut. Sepertinya tak lama dia memilih mengganti jadwal makanya kami cuma sebentar saja akrabnya. Namanya Mbak X Sitompul. KUrang batak apa coba? Ahahahahahaha.

Orang Minang pelit? Memang! ehehehehe. Enggak semuanya tapi :P. Sahabat kuliah saya, yang entah sudah berapa kali saya sematkan namanya di berbagai tulisan adalah asli Minang 100% biarpun lahir dan besar di ibukota.

Orangnya royal sekali biarpun tidak berasal dari keluarga yang tajir mampus. Tak terhitung berapa kali dia mentraktir saya dan teman-teman lain. Kalau titip fotokopian ke dia, dia malah malas menagih dan menghitung. Suka-suka saja mau bayar berapa katanya.

Baca : V.V.I.P 

Hayooo…sebutin orang mana lagi? hihihihihi.

Baca : People We Haven’t Met Yet (6)

****

 

Upper Lake Glendalough Ireland pic by Dani Rosyadi

Glendalough Irlandia yang Indah : Perbukitan diantara Dua Danau

Glendalough Irlandia 2015: Padang rumput luas, danau ini itu, perbukitan hijau, pohon-pohon rimbun, sisa-sisa bangunan batu biara/kastil tua, semuanya ciri khas bentang alam di Republik Irlandia.

Ada satu tempat yang komplit isinya. Ya padang rumput, ya dedanau-an, bukitnya banyak, pohon di mana-mana, tidak ketinggalan reruntuhan bangunan kuno zaman dulu. Selamat datang di Glendalough Irlandia tepatnya di Glendalough National Park! ^_^

Glendalough Irlandia pic Dani Rosyadi
Hamparan padang rumput di sela perbukitan di pinggir danau di Glendalough Irlandia, foto : Dani Rosyadi

Sebelumnya, saya sekeluarga sudah pernah mengunjungi Killarney National Park di County Kerry, Republik Irlandia. Kalau Killarney ini posisinya di belahan selatan pulau Irlandia, maka Glendalough agak ke tengah posisinya.

Terletak di County Wicklow, berjarak kira-kira 53 km, butuh sekitar satu  jam menyetir dari ibukota Dublin menuju Glendalough.  Kalau dari kota tinggal saya, Athlone, letaknya agak jauh. Athlone – Glendalough memakan waktu 2 jam dengan menyetir mobil.

Kastil di Glendalough Irlandia pic by Dani Rosyadi
Diantara reruntuhan biara dan kastil di Glendalough, Irlandia. Foto : Dani

Sebelum memasuki bulan Ramadan di bulan Juni kemarin, saya dan keluarga jalan-jalan ke Glendalough ini. Bareng satu keluarga Indonesia lain yang juga bermukim di kota yang sama dengan kami.

Mumpung musim panas jadi lebih nyaman mendatangi tempat terbuka seperti Glendalough. Walau katanya sih kalau musim gugur, dedaunan di pepohonan cantik banget aneka warna. Tapi angin dan dinginnya? Brrrr…

Jalan-jalan ke national park ini sebenarnya satu paket dengan edisi muter-muter di Kildare Shopping Village yang sudah duluan ditulis tempo hari itu :D. Setelah membuat para suami cemas karena para istri (yang juga nenteng kartu ATM para suami) lama juga acara shopping window-nya (hahaha), kami segera menuju Glendalough.

Tiba di parkiran, sempat ribet mau nyari parkiran gratisan. Ternyata sudah ada lahan parkir khusus yang memang tidak bayar sama sekali. Kami menaruh mobil di area “Upper Lake Parking Lot”.

Sudah jam makan siang waktu baru tiba di sana. Jadi, kami makan di mobil masing-masing terlebih dahulu. Setengah jam kemudian, bocah-bocah nih yang agak ribet ngurusinnya hehe, baru berhamburan keluar dari mobil.

Ritual selanjutnya : numpang pipis! Hihihi.

Tidak jauh dari parkiran, bisa kelihatan bangunan Visitor Center-nya. Di  belakang bangunan ini tersedia toilet buat pengunjung yang cukup bersih dan nyaman <3.

Tepat di samping Visitor Center membentang padang rumput luas yang dipakai untuk bersantai oleh pengunjung. Baru lihat kalau di sini ternyata ada beberapa kursi-meja dari kayu yang bisa dipakai duduk-duduk buat makan.

Ada anak-anak yang main-main bola juga. Ini nih yang membuat para bocah teralih perhatiannya dan ikut lari-larian di sana. Anak-anak kami kebetulan laki-laki semua.Anak laki kan gitu ya, lihat bola dikit langsung ganas hahahaha. Lumayan itu nangkepin mereka di rumput lapang seluas ini nih.

Glendalough Irlandia Lapangan rumput di samping gedung Visitor Center, Upper Lake Area, Glendalough
Lapangan rumput di samping gedung Visitor Center, Upper Lake Area, Glendalough

Setelah menyusuri jalan setapak di tengah lapangan tadi sampai ujung, ketemu jembatan kecil. Di bawahnya ada sungai. Tentu saja…mampir dulu foto-foto! Hahaha.

Tenang foto narsisnya diumpetin aja :p, ini nih penampakan dari atas jembatan.

Glendalough Irlandia Glendalough Ireland pic by Dani Rosyadi
Lokasi : Glendalough (Irlandia), foto : Dani Rosyadi

Lihat lebih detail ke fotonya. Di bagian belakang, agak ke kanan ada bangunan tinggi kurus. Kelihatan, ndak? Nah, dari ujung jembatan inilah, ada jalan setapak yang tinggal kita ikuti saja terus. Tempat persinggahan pertamanya adalah lokasi dari bangunan tadi.

Bangunan bulat tinggi itu namanya Round Tower. Round Tower adalah salah satu dari beberapa sisa-sisa bangunan peninggalan biara dari masa (sekitar) 10 abad yang lalu. Tinggi bangunannya 33 meter. Bangunan tinggi model begini dulunya sering dimanfaatkan sebagai tempat persembunyian kala kompleks biara mengalami penyerangan. Sehari-harinya digunakan sebagai tempat lonceng yang dibunyikan saat kondisi khusus.

Model bangunan juga cocok dijadikan sebagai tempat pengintaian. Round Tower ini salah satu landmark utama di Glendalough National Park.

The Round Tower Glendalough Ireland pic Dani Rosyadi
The Round Tower, Glendalough (foto : Dani Rosyadi)

Kalau jalan sampai ke belakang, ada hotel cukup besar buat penginapan bagi para turis yang hendak menghabiskan waktu lebih lama di sana. Kalau mau mampir-mampir buat jajan juga bisa. Lengkap kok dengan kafetaria-nya.

Keluarga ngirit ya pastinya numpang lewat saja hahaha. Lanjut balik ke jalan setapak. Kita pengin jalan kaki terus sampai ke area Lower Lake nya.

Pilihan jalannya ada 2 : ada yang tetap lewat jalan setapak tadi. Satunya lagi melalui sebuah jembatan menuju ke sisi seberang. Kita memutuskan perginya lewat jembatan, pulangnya nanti baru lewat jalan setapak lagi.

Pas ketemu Lower-Lake, berfotolah kita beramai-ramai ^_^. Danau belakang orang-orang narsis itu tuh :p … yang merupakan bagian dari Lower Lake, Glendalough.

Glendalough Irlandia 2015

Lanjut jalan terus akhirnya tiba di parkiran satunya lagi. Nah, sebenarnya dari Upper Lake Parking, kalau malas jalan bisa nyetir sampai ke parkiran sini. Cuma ya, pesona utama Glendalough kan penampakan alamnya, ya. Mending jalan kaki sambil lihat-lihat.

Enggak usah saya ceritain banyak-banyak suasana di sana, foto-fotonya sudah cukup “bercerita” kan ya? ;).

lower lake

Dekat parkiran yang barusan itu tadi, ternyata ada penjual es krim. Kami ngemil sebentar sebelum lanjut menuju lokasi danau satunya lagi, Upper Lake.

Lagi-lagi melewati sebuah padang rumput yang luas. Jalan terus melewati padang rumputnya, tadaaaaa … inilah dia Upper Lake yang dimaksud. Yuk yaaaa, mari futu-futu lagiiiiii, hahaha :p.

Glendalough Irlandia 2015

Kita  mentok sampai Upper Lake saja. Anak-anak main-main sampai ke air. Sampai ada insiden sepatu dan kaos kaki pada basah semua. Termasuk si kecil anaknya Tante Maya tuh, senang banget cibang cibung di air :D.

Dari danau, sempat lari-larian lagi di padang rumput sebelum akhirnya balik ke parkiran mobil. Lumayan sih jalannya. Jalan kakinya saja sekitar 1 jam lebih, pulang pergi.

Glendalough ini termasuk bagian dari Wicklow National Park yang juga meliputi perbukitan di sepanjang County Wicklow. Wisata alam nomor wahid lah buat para turis.  Kalau doyan hiking cucok banget ;). Cuma yang paling banyak dikunjungi konon memang yang area Glendalough-nya. Paling laris.

Glendalough sendiri bisa berarti “valley of 2 lakes”, Perbukitan diantara Dua Danau. Ini foto pamungkasnya. Cantik ya? ^_^. See you in Ireland <3.

Glendalough Irlandia Upper Lake Glendalough Ireland pic by Dani Rosyadi
Upper Lake, Glendalough Irlandia (foto : Dani Rosyadi)

 

Keindahan tempat wisata Glendalough Irlandia ini juga sudah saya bikinin vlog dari kumpulan fotonya di sini 😉 :

 

Sungai Rhine Basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi

Basel Swiss : Numpang Lewat di Kota Industri :D

Tidak terlalu ada niat mengunjungi Kota Basel Swiss sebenarnya. Pas dicek di jajaran kota-kota turis yang highly-recommended buat didatangi, kota Basel Swiss juga tidak ada. Basel memang lebih dikenal sebagai kota industri.

Tapi pas pengin ke Jenewa, kok rasanya sayang ya. Jaraknya agak jauh dari Bern, kota tinggal saya pas nyangkut di Swiss selama 2 bulan tempo hari :D. Saya penginnya dalam sehari itu bisa jalan-jalan ke beberapa  kota sekaligus. Minimal 2 kota lah. Kalau ke Jenewa, secara jarak kurang cucok. Sayang kan, tiket keretanya mahal hihihihi. Kita belinya tiket  harian. Jadi bisa dipakai sepuasnya selama 24 jam.

Jadilah di suatu akhir pekan itu, kami  memutuskan untuk pagi-pagi ke Basel Swiss, lalu lanjut ke Interlaken-LauterBrunnen-Murren. Di tulisan ini mau bahas Basel-nya dulu :D.

Kota Basel Swiss foto oleh Dani Rosyadi
Kota Basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi

Dari Bahnhof (stasiun kereta), harus naik tram sekali menuju ke pusat kota (City Center). Tentu harus absen ke salah satu landmark kota Basel, The Basel Minster.

The Basel Minster, sebuah katedral kuno dengan dua menara yang hampir sekujur bangunannya berwarna merah bata. Unik, ya ^_^. Tadinya awal dibangun diperuntukkan sebagai gereja Katolik namun kini digunakan sebagai gereja Protestan. Sekitar tempat ini yang paling dirubung sama turis-turis.

Kita bisa masuk ke dalam buat lihat-lihat.

Katedral di kota basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi
Suasana dalam katedral, Basel

Anak-anak saya sudah rusuh lari-larian. Enggak enak juga, sih. Soalnya kan tempat buat sembahyang gitu, ya. Mana lagi lumayan ramai. Jadi saya bujukin buat melipir ke pinggir-pinggir biar enggak mengganggu dan bikin bising.

Jendela-jendela berukuran tinggi nan lebar menghiasi pinggir-pinggir bangunan. Anak-anak sempat mau difoto di sini.

Katedral in Basel Swiss, pic by Dani Rosyadi
Foto dekat jendela Katedral

Keluar dari bangunan katedral, tembus ke halaman belakangnya. Ternyata, di belakang ada semacam taman gitu. Dari taman ada tembok-tembok yang berbatasan dengan Sungai Rhine yang mengalir melalui Kota Basel.

Dari atas tembok di taman belakang Katedral itu kelihatan aliran sungai yang kebetulan saat itu airnya berwarna keruh kecoklatan. Sepertinya karena habis turun hujan beberapa hari berturut-turut. Sungai di Bern juga begitu. Aslinya berwarna hijau kebiruan. Sehabis hujan berhari-hari, warnanya berubah jadi kecoklatan.

Liburan ke Swiss foto di Sungai Rhine Basel foto oleh Dani Rosyadi

Karena waktunya lumayan mepet, sebentar saja foto-foto di katedral ini hihihi, anak-anak sudah rewel minta ke museum. Biasaaaaa, mau lihat dinosaurus hahaha. Enggak bosen-bosennya, ya, zzzzz -_-.

Natural History Museum letaknya memang dekat-dekat lokasi Katedral juga. Jalan sedikit dari katedral. Sempat mampir pengin pipis, eh, toilet depan katedral enggak bisa dibuka pintunya. Padahal sudah masukin koin.

Akhirnya numpang pipis di sebuah toko penjual cinderamata gitu yang ketemu di jalan menuju museum. Untung dibolehin sama yang punya toko :D.

Tiba di museum, sempat berdebat dulu sama suami. Soalnya museumnya kelihatannya cupu begitu tapi uang masuknya 8 frank per orang. Anak-anak gratis, sih. Kalau pakai Swiss Travel Pass juga gratis.

Suami ogah masuk ke sana. Tapi saya enggak tega lihat muka anak-anak. Sudah mupeng gitu pengin ketemu dinosaurus hahaha.

Akhirnya kita tetap masuk berempat :D. Iya sih, museumnya memang garing. Suka sakit hati ya mengingat dulu masuk Natural History Museum di London yang megah, besar, dan komplit itu … GRATIS! *gigitTiket* :p.

Museumnya terdiri dari beberapa lantai. Lumayan lah itu naik turun tangganya. Pengunjung juga tidak terlalu ramai saat weekend. Ini salah satu penampakan dalam museum.

Inside Natural History Museum in Basel, Swiss

Jauh banget lah interiornya dibanding Natural History Museum yang di London :D. Sudah diintip-intip juga belum link yang saya kasih di atas? :p.

Anak-anak sih tetap senang dan heboh kayak biasa. Tetap ribut sendiri. Sumpah deh, saya bosan banget, hoaheeemmm… tapi demi anak-anak, cengiran tetap maksimal saat difoto #eaaaaaa hahaha.

Liburan ke Swiss Natural History Museum in Basel (pic by dani Rosyadi)

Setelah menjelajahi semua lantai, buru-burulah kita keluar. Garing banget gilak huhuhu. Bagian dari liburan ke Swiss yang paling wakwaw nih, tapi gimana, anak-anak seneng jadi ya sudahlah.

Anak-anak tuh ya kalau sudah keinginannya dipenuhi pasti rewel minta pulang ke rumah! Idih, perjalanan masih panjang kali, Guys :p *kekepinKarcisKereta*.

Dari museum, kita jalan ke arah jembatan yang menghubungkan sisi kota yang terpisah oleh aliran Sungai Rhine. Ini juga tempat turis banget. Ramai nian orang lalu lalang dan jepret-jepret di sepanjang jalan di atas jembatan. Termasuk kita lah pastinya hahaha.

Liburan ke Swiss Kota Basel , foto oleh Dani Rosyadi

Ya karena memang itinerary pas di Basel Swiss semata-mata berdasarkan asal icip-icip Basel saja ogah rugi sama harga tiket (hihihi), selesai mejeng di area jembatan di atas sungai, kita mulai hilang arah. Mau ngapain lagi, ya?

Lagian juga harus ngejar waktu kereta karena dari Basel Swiss kudu ke Interlaken lagi. Tapi seperti biasa, suami tetap ngotot kita harus all out.

Harusnya tinggal jalan dikit buat naik tram ke arah Bahnhof, tapi kita jalan agak jauh ke arah pasar. Aduh lupa itu pasar apaan ya namanya hehehe :p. Ngelewatin juga ruas-ruas jalan kecil yang dipenuhi toko ini itu. Enggak terlalu konsen lihat-lihatnya karena sambil ngangon anak :p.

Anak-anak  mah ngakunya bosan tapi tetap enerjik lari-larian -_-.

Lihat-lihat bentar suasana di pasar. Sambil nunggu tram ke arah stasiun kereta. Ramai juga karena weekend. Yang dijual  umumnya makanan-makanan ringan, suvenir ini itu, bahkan ada sayur mayur juga.

market

Sekitar 15 menit kemudian, tram-nya datang juga. Balik deh kita ke stasiun kereta, nunggu jadwal ke Interlaken ;).

Numpang lewat Basel-nya sekitar 4 jam-an gitu lah. Nyesal enggak sih mampir ke Basel Swiss? Ya enggak lah, kalau dikenang-kenang lagi sekarang ya tetap memorable juga.

Kota Basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi

Apalagi bangunan katedralnya tadi. Jarang-jarang melihat bangunan kuno berwujud kastil/katedral yang warnanya agak ‘beda’ … merah bata :). Biasanya warna-warna standar seperti abu-abu kehitaman atau kecoklatan. Dan minimal…bisa jadi satu postingan khusus di blog terkait tema liburan ke Swiss, kaaaaan? Hhihihi :p.

Last pic from Basel, nih :D.

sungai di basel

Yuk, yuk, yuk, liburan ke Swiss … rame-rame liburan ke Swiss! ^_^.

Paham Komunis : Cita-cita Komunisme

Paham komunis : Puluhan tahun generasi bangsa didikte untuk membenci hal yang sebenarnya tidak pernah kita pahami benar-benar. Kepada ideologi komunisme misalnya. Saya tidak menganggap komunisme itu keren atau gimana-gimana. Tapi ternyata benar bahwa distorsinya cukup signifikan.

Bahkan banyak tokoh-tokoh pergerakan yang juga benar-benar ikut berjuang selama puluhan tahun yang kiprahnya ikut menguap karena sengaja dilenyapkan :(. Sebutlah salah satu tokoh komunis “terbesar” di tanah air … Tan Malaka.

Namanya bersanding dengan Soekarno, Mohammad Hatta dan Soetan Syahrir, digelar “Bapak Bangsa” oleh redaksi Majalah Tempo. Biografi keempatnya diterbitkan secara terpisah oleh Tempo beberapa tahun silam.

Atheisme dan agama paham komunis
Gambar : merdeka.com

Sosok Tan Malaka, jauh sekali dari bayangan “doktrin Orba” akan paham komunis atau ideologi komunisme. Dibesarkan di Ranah Minang, dengan keislaman yang kental, Tan Malaka tidak pernah melepaskan status muslim hingga akhir hayatnya.

Sekitar tahun 20-an di Belanda, Tan Malaka pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap Stalin kepada Bung Hatta. Menurutnya Stalin telah menjelma menjadi seorang diktator kejam pasca merebut kekuasaan.

Bung Hatta yang memang tidak pernah “suka” dengan paham komunis / komunisme menyindirnya, “Bukankah diktator adalah bagian dari komunisme?”

Tan Malaka menentang keras. Menurutnya konsep komunisme adalah sebuah pengabdian dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Konon, inspirasi pembicaraan ini direkam oleh Bung Hatta dan dituangkannya dalam Pasal 33 UUD 1945. Coba dicek sendiri hehehe.

CMIIW, ya. Shame on me, enggak ingat sumber bacaannya. Heran deh, kalau gosip artis aja, saya gampang bener ingat sumbernya hahaha :p.

Komunisme, kalau dibaca benar-benar teorinya adalah sebuah paham yang nyaris tanpa cela. Komunisme memimpikan kehidupan masyarakat tanpa kelas, yang kaya menyokong yang miskin, keadilan sosial yang merata tanpa mengenal kaum papa.

Mungkin karena itulah, tokoh-tokoh komunis dunia lahir dari mereka yang tumbuh dan besar dalam kemiskinan di tengah-tengah kapitalisme penguasa. Stalin dan Mae Zedong misalnya. Merangkak dari bawah, menyaksikan ketimpangan kesejahteraan masyarakat. Lantas bertekad membangun komunisme untuk mengenyahkan ketidakadilan yang juga mereka rasakan sendiri.

Simak cita-cita Mae Zedong saat berada di tampuk kekuasaan, yang menginspirasinya untuk menerapkan konsep “The Giant Leap”

Kira-kira begini cita-cita Mae Zedong –> “Rakyat China tidak akan ada yang kelaparan karena pemerintah sanggup menyediakan makanan sebanyak-banyaknya. Rakyat China tidak perlu ke luar negeri untuk jalan-jalan karena pemerintah sanggup membangun negeri China yang sangat indah di seluruh pelosok. Tidak ada orang miskin, tidak ada yang tertindas, tidak ada yang sengsara.”

Mereka hendak menciptakan surga di dunia :). Korsletnya di mana? Untuk memenuhi cita-cita ini, mereka maksa!!!

Kaum komunis lupa sifat dasar manusia :). Menafikan fakta bahwa manusia tidak bisa dipaksa. Bahwa “surga” tidak akan terwujud hanya dengan campur tangan manusia.

Yang tidak setuju dan tidak menurut dienyahkan. Pemimpin komunis tidak segan-segan menebar teror dan propaganda untuk melenyapkan pihak yang tidak sepaham. Mae Zedong memaksa petani bekerja siang malam demi kecukupan pangan yang dicita-citakannya untuk seluruh rakyat China yang super banyak itu.

Ironis bukan? Mae Zedong hendak meningkatkan kesejahteraan para petani di negerinya yang tertindas segitu lama tapi praktiknya…??? Hendak mencapai surga dengan menciptakan neraka bagi kehidupan orang lain. Piye jal? :p.

Kontroversi lain adalah tokoh Che Guevara. Katanya sih, sahabat kaum miskin dan tertindas. Tapi di mata lawan-lawannya, Guevara adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak segan-segan membantai siapa pun yang tidak sejalan.

Komunis adalah atheis juga salah kaprah yang sering terjadi :). Mungkin karena Karl Marx, si pencetus “Das Kapital”, yang dijadikan rujukan para tokoh komunis dunia, menentang agama di sisi lain. Di masa-masa Marx menulis buku-bukunya, negara Eropa banyak yang masih berbentuk kerajaan dengan menganut agama tertentu. Marx menganggap agama dijadikan para penguasa untuk menekan orang-orang miskin agar tidak melakukan perlawanan.

Stalin, dibesarkan sebagai seorang Katolik dan digadang-gadang oleh ibunya agar menjadi pendeta. Tapi justru Stalin tidak suka dengan doktrin-doktrin agama yang menurutnya sudah membodoh-bodohi rakyat miskin untuk tidak menuntut haknya untuk hidup sejahtera kepada penguasa.

Mae Zedong, pada dasarnya juga tidak pernah mengenal agama samawi :D. Jadi ya, dia mau jadi komunis apa enggak, condongnya pasti ke atheis.

Padahal, di Indonesia sendiri, komunisme dianggap perlawanan terhadap imperialisme. Tokoh-tokoh “kiri” di Indonesia yang ikut mati-matian merebut kemerdekaan itu banyak lho, Kakaaaa :D. Sebagian besar pun kelahiran tanah Minang :).

Orang Minang, di masa pergerakan banyak melahirkan pemikir besar yang sekaligus terjun langsung ke kancah perjuangan secara fisik. Rata-rata mereka dibesarkan dalam pendidikan Islam yang kuat ala-ala pesantren. Suku lain enggak usah sirik :p. Fakta masa mau dilawan, Cuy. Walau tidak semua yang kekiri-kirian pasti komunis.

Muso pun seorang muslim. Muso itu Musa dalam bahasa Jawa. Tapi coba, ada yang berani gak ngasih nama anak Muso pasca 1965? :p. PKI lahir dari beberapa tokoh yang besar dalam naungan Sarekat Islam.

Antara Mae Zedong vs Stalin pun sempat terjadi cekcok di mana hubungan sempat mendingin.

Keinginan para sejarawan untuk mengungkap peristiwa G-30-S dari sudut pandang satunya lagi tidak hendak mengatakan bahwa PKI seharusnya dibiarkan hidup dan terus berkembang di tanah air. Tapi sekadar meluruskan sejarah yang sudah saya sebut di atas : distorsinya banyak pakai bangeeettttt :(.

Bahwa dalam perjalanan politiknya, PKI juga banyak melakukan tindakan-tindakan teror terhadap yang tidak sejalan. Tapi jangan sampai kebencian membuat kita tidak adil. Pernah ada yang mengklaim, PKI pernah membunuhi orang dalam masjid saat lagi sembahyang hingga darah menggenang semata kaki. First thing first, kasih tahu dong nama masjid dan lokasinya? Ada yang tahu?

Tapi banyaknya jumlah korban yang terbunuh pasca G-30-S ternyata bukan rekayasa :(. Pemerintah hanya mengakui 500 ribu orang, which is bukan jumlah yang sedikit juga kan? Penelitian selanjutnya, bahkan pengakuan orang-orang yang “terlibat” dalam pembantaian berani mengklaim korban mencapai satu juta orang. Bahkan ada klaim hingga 3 juta orang.

Mengapa sulit menemukan angka yang pasti? Karena keluarga korban banyak yang memilih bungkam. Sebagian takut ribut-ribut demi kelangsungan hidup anak-anak dan cucu mereka. Karena saking lebaynya, generasi-generasi lanjutan dari orang-orang yang “tertuduh PKI” pun harus menanggung “dosa” orang tuanya.

Propaganda komunis bahaya laten disuburkan oleh rezim yang berkuasa setelahnya karena mereka butuh legitimasi kekuasaan. Tidak mudah merebut simpati rakyat dari Bung Karno saat itu :).

Juga yang menganggap Bung Karno menjadikan PKI sebagai anak kesayangan. Ingat Dekrit 1959? Jangan banyakan baca hoax lah. Sekali-sekali mbok ya baca buku sejarah beneran ngono lho hehehe :p. Kalau tak ada Dekrit 1959, di Pemilu selanjutnya sudah pasti PKI akan menang telak dengan banyaknya jumlah pendukung dan simpatisannya.

Justru Bung Karno hendak menekan “kebesaran” kaum komunis dengan menggeser mereka dari kursi legislatif. Saat itu cukup lancar walau ditentang oleh banyak petinggi partai. Bung Karno didukung penuh oleh Angkatan Darat. Sejarah pun mencatat, 6 tahun setelah itu, Bung Karno sukses dilengserkan oleh kekuatan yang sama.

Ya begitulah. Sejarah…tergantung siapa yang bercerita :). Makin banyak baca mudah-mudahan makin tidak mudah panik dan heboh sendiri hehehe :p.

Jangan sampai deh ya kita termakan hasutan dan ikut-ikutan membenci hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Mengerti enggak ikut memaki iya. Duh jangan sampai lah ya :). Kalau memang malas mencari tahu ya seharusnya jangan sampai ikut-ikutan benci enggak jelas hehe :p.

Salah satu buku sejarah mengenai G 30 S, ditulis oleh sejarawan John Roosa, dengan judul : “Dalih Pembunuhan Massal”. Mengupas lengkap dari peninjauan ulang terhadap dokumen dan bukti sejarah terkait kejadian ini.

Saya pernah menulis ringkasannya di sini :

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 1
“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 2
“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 3
“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 4

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 5

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian 6

“Dalih Pembunuhan Massa” bagian terakhir

Kalau ada waktu luang, sila dibaca.

Btw, buku aslinya bisa didownload gratis kok. Cari saja linknya via Google ;).

Sebuah negara itu tidak hanya dibentuk oleh pemimpinnya. Tapi oleh kerja keras semua elemen masyarakat. Apakah mungkin bersinergi secara positif kalau situ terus-terusan mencari kekurangan pemimpin sendiri? :). Mending baca buku sejarah kali ah hehehe :p.

Again, sejarah seharusnya membentuk pemahaman bukan penghakiman.

Mari berkontribusi positif dalam pembangunan negeri. Pekerjaan rumah bagi semua anak bangsa. Belajar sejarah salah satunya agar kita tidak mengulang yang pahit-pahit yang pernah terjadi :).

“Para politikus dengan kekurangan pengalaman dan pengetahuan mungkin dapat membawa negara ke jalan buntu. Tapi SELURUH RAKYAT akan membantu negara menemukan jalannya.” -Sutan Syahrir-

Numpang lewat sejenak. Yuk ah, mari ngurus anak bayi lagi hihihi :p.

***