Pengin foto di mana kalau ada kesempatan jalan-jalan ke London? Tempat menarik di London yang paling dimupeng-in? :p.
Kalau saya yang kepikiran pertama kali itu … kotak telepon merah menyala! Hahaha. Enggak penting banget ya :p.
Itu versi noraknya :p. Tentu yang landmark ‘beneran’ tidak jauh-jauh dari Istana Buckingham, Travalgar Square, London Eye, Big Ben, dsb. Nah, ini daftar 10 landmark Kota London tempat saya kepengin eksis. Semuanya landmark mainstream, sih. Kepengin juga menjajal landmark lainnya tapi waktunya cuma 4 hari. Mana cukuuup … jelajah London 4 hari huhuhu :(.
Yah, mengingat ongkos visanya yang super mahal, walau jaraknya selemparan batu dari Republik Irlandia, tapi ya … kapan lagi ada kesempatan ke London? Jadi mari mengincar eksistensi di landmark terjangkau sebisanya :D. Definisi terjangkau di sini tentunya termasuk … aksesnya yang gratis! *teuteuuup*.
Semoga ada keajaiban, pemukim Irlandia walau visa Indonesia bisa jalan-jalan haratisss ke UK. Aamiin *khusyuk*.
Btw, ini masih dari episode jalan-jalan ke London tahun 2014 kemarin. Belum kelar-kelar aja gitu nulisnya hahaha.
1 – Big Ben, The UK Parliament
Sepertinya, Big Ben adalah landmark paling umum digunakan untuk merujuk ke Kota London. Jam gadang ala Eropa ini sebenarnya bagian dari bangunan UK Parliament. Tepatnya di puncak Elizabeth Tower. Towernya sendiri selesai dibangun tahun 1859.
Awalnya, nama Big Ben ini ditujukan untuk lonceng besar yang berada di dalam bangunan jam-nya. Tapi lama kelamaan orang mengenal Big Ben sebagai nama jam-nya, sekaligus nama towernya.
Big Ben (2014), pic by Dani Rosyadi
2 – Istana Buckingham (Bunckingham Palace)
Bangunan yang tadinya bernama Buckingham House ini sudah ada sejak awal abad ke-18. Fungsi bangunan pernah dikhususkan dengan istilah “Queen’s House” untuk Ratu Charlotte istri Raja George III.
Di masa Ratu Victoria, ketika suaminya baru saja meninggal, sang ratu sangat sedih hingga pergi meninggalkan Istana Buckingham. Beliau memilih hidup di tempat lain. Probably she could not resist the grief she felt while living there without the ones she was used to have there.
Kini, kawasan Buckingham hampir tiap hari ramai oleh kerumunan turis untuk menyaksikan ritual harian “The Changing Guard” yang biasanya berlangsung mulai pukul 10 pagi.
Landmark satu ini terletak di sisi selatan Sungai Thames, London. Saat pertama kali diperkenalkan di tahun 1999, bianglala ini menjadi yang paling tinggi di dunia, dengan tinggi bangunan keseluruhan 135 m serta diameter 120 m. Tahun 2006, kota Nanchang membuat bianglala dengan ukuran lebih besar, Star of Nanchang.
Untuk naik dan nyobain langsung bianglala-nya sih enggak gratis. Harus bayar sekitar 20 pound per orang. Lumayan ya, Ceu! Hihihi *ngikikNgirit*. Tapi kekikiran jangan sampai menghalangi semangat eksis :D. Tinggal foto aja depannya, kan beres! Hahaha.
London Eye, Foto : Dani Rosyadi
4 – Trafalgar Square
Public space yang satu ini juga letaknya di City of Westminster, dekat-dekat Buckingham juga. Lokasinya persis di depan bangunan National Gallery.
Umumnya sih orang-orang duduk-duduk di pinggiran air mancur dan foto-foto dekat patung-patung memorial yang bertebaran di taman Trafalgar.
Trafalgar Square, foto : Dani Rosyadi
Salah satu bangunan memorial paling terkenal di Trafalgar Square tentunya The Nelson’s Column, yang ada patung singa di dua sisinya. Ini dia fotonya :
The Nelson’s Column, Foto : Dani Rosyadi
5 – Bus Tingkat Warna Merah (hihihi)
Yoih, selain kotak telepon merah, bus tingkat warna merah juga kudu lah masuk koleksi foto-foto landmark Kota London :D. Saya sendiri pas ke sana enggak pernah malah naik bus ini hahaha.
London Bus, foto : Dani Rosyadi
6 – Piccadilly Circus
Tempat ini letaknya di perpotongan jalan. Bukan jalan biasa, sih. Karena areanya agak luas dan melingkar. Dari sinilah konteks nama Circus-nya. Circus, dalam bahasa Latin, artinya Cirle :D.
Letaknya di Regent Street dan Shaftesbury Avenue. Menghubungkan The Haymarket, Coventry Street, dan Glasshouse Street
Piccadilly Circus, foto : Dani Rosyadi
7 – Tower Bridge
Jangan sampai tertukar dengan London Bridge, ya, hehe. London Bridge sebenarnya bukan area yang hits di London. Lokasinya bukan tujuan utama turis.
Yang menjadi landmark London itu adalah Tower Bridge yang seperti foto di bawah ini. Posisinya di samping Tower of London. Ke Tower of London-nya sih kudu bayar, tapi motret Tower Bridge-nya haratis dooooongggg *tepukTangan* ^_^.
Tower Bridge, London (foto : Dani Rosyadi)
8 – Bangunan British Museum
Kalau tidak salah, film “Night at The Museum”nya Ben Stiller juga mengambil lokasi di museum ini. Kenapa kudu ke sini? Itu lho, Kakaaaa, bangunan tinggi warna putih yang ditopang tiang-tiang panjang kan lumayan unik, yak :p.
Astaga, stasiun kereta bawah tanah pun jadi landmark? Hihihi. Ini kan landmark kota London ala-ala saya :p. The Tube, nama lain dari London Underground, kereta bawah tanahnya salah satu kota metropolitan dunia ini :D.
Struktur yang menghubungkan tempat-tempat di greater area London via The Tube ini dianggap sebagai sistem angkutan massal/cepat yang paling tua.
Iya juga, sih. Saking kunonya mungkin menjadi sulit bagi pemerintah kota untuk merenovasi fasilitas-fasilitas umum di stasiun. Misalnya masih jarang tersedia lift atau eskalator. Lumayan juga ngangkat stroller/buggy naik turun tangga stasiun huhuhu.
Tapi paling enak ke mana-mana memanfaatkan transportasi satu ini ^_^. Apalagi rute ke tempat-tempat turisnya paling komplit dan sudah terintegrasi.
The Tube (London Underground). Foto : Dani Rosyadi
10 – Westminster Abbey
Katedral ini lokasinya juga dekat sekali dari Buckingham Palace. Sayang nih, pas ke sini, lagi hujan lumayan gede huhuhu. Sudah berusaha menunggu hujan reda tapi gak selesai-selesai :(. Jadilah fotonya saya comotkan saja ya via Google Images hehe :p.
Westminster Abbey menjadi saksi dari banyak perhelatan yang berhubungan dengan anggota kerajaan Inggris. Ratu Victoria mengawali 62 pemerintahannya dengan dilantik di katedral ini. Putri Diana juga disemayamkan di tempat ini setelah mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Westminster Abbey (Gambar : chsrentals.com)
Peristiwa besar yang paling anyar yang bertempat di sini adalah pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton di bulan April, tahun 2011 silam. Pada nonton kan, kan, kan? hehehe ;).
***
Yup, akhirnyaaaaaa … ketulis semua, sudah 10 yak *mijetJari* :D. Ya itulah 10 landmark kota London gratisan versi saya :D. Someday, kalau kalian ke sana juga, jangan lupa eksis di sana yah <3.
Joan berlari membuka pintu, mengejar Katherine yang bergegas pergi, “It was my choice not to go! He would have supported it.”
Katherine menggeleng, “But you don’t have to choose!”
“No, I have to. I want a home, I want a family! That’s not something I’ll sacrifice.”
Katherine berkeras, “No one’s asking you to sacrifice that, Joan. I just want you to understand that you can do both.”
Gambar : imdb.com
Joan mengernyit, “Do you think I’ll wake up one morning and regret not being a lawyer?”
“Yes, I’m afraid that you will.”
Joan menangkis, “Not as much as I’d regret not having a family, not being there to raise them. I know exactly what I’m doing and it doesn’t make me any less smart. This must seem terrible to you.”
“I didn’t say that.”
Joan keukeuh, “Sure you did. You always do. You stand in class and tell us to look beyond the image, but you don’t. To you a housewife is someone who sold her soul for a center hall colonial. She has no depth, no intellect, no interests. You’re the one who said I could do anything I wanted. This is what I want.”
Sudah nonton fim Mona Lisa Smile? Ingat tidak dengan scene yang saya kutip di atas :D.
Hari Guru ya, tentunya kudu eksis! Nyahahaha :p.
No, no, I won’t mention any spesific teachers for my 16 years of my formal education back then :D. Buat saya, mereka semua sangat pantas untuk dikenang dan comot sedikit tulisan Mas Iqbal, setiap mereka punya peran dalam membentuk seperti apa kita sekarang :).
They’re all my heroes <3.
Guru identik dengan pendidikan. Dan somehow, buat perempuan, pendidikan itu punya jalan panjang nan berliku not mention drama-dramanya hehehe. Karena itu, banyak film-film yang diangkat dengan tema-tema “to educate women” macam Mona Lisa Smile tadi :).
Seorang guru ala-ala feminis, Katherine, datang mengajar seni di sekolah khusus perempuan di Massachusetts. Bisa dibilang, sekolah ini tempat berkumpulnya perempuan-perempuan berotak encer :D.
Entah kalian sadar atau tidak, bahwa “feminis” itu termasuk isu baru di abad ke-20 yang baru kencang berhembus pasca Perang Dunia 2. Diakibatkan perang berkepanjangan, perempuan pun terpaksa mengambil banyak peran sementara kaum lelaki pergi bertempur di garis depan.
Gambar : en.wikipedia.org
Perang usai, kaum perempuan menyadari satu hal. Sebagian mereka tidak ingin “pulang ke rumah” dan tetap ingin melanjutkan peran di luar rumah. Itu baru terjadi di tahun 50 an lho.
Jadi, bayangkan kerennya pemikiran perempuan-perempuan Indonesia yang sudah menggagas pendidikan dan kebebasan buat kaum perempuan di Indonesia sebelum tahun 1945 ;). Tak sedikit dari perempuan ini justru datang berbekal semangat dan pengetahuannya tentang Islam. Ironisnya, sekarang beberapa kalangan Islam yang malah berusaha membenturkan kembali soal beginian.
Kaum feminis menentang banyak hal. Tapi alih-alih meminta keadilan, lama-lama jadi lepas kendali sehingga ada perlawanan dari sesama kaum perempuan sendiri. Kaum feminis dianggap lebay dan menganggap laki-laki sebagai musuh.
Sebenarnya sih, ada juga feminis yang agak ‘waras’. Mereka tidak memperjuangkan kesetaraan yang gimana-gimana. Mereka hanya ingin PEREMPUAN BISA MEMILIH.
Dan pesan bahwa “PEREMPUAN BISA MEMILIH” itu dijabarkan dengan sangat baik di film Mona Lisa Smile.
Gambar : slopemedia.org
Tahun 50-an banyak anak gadis yang bersekolah seadanya hanya untuk mencari suami yang mapan. Agar mereka punya akses ke arah sana. Masih tabu bagi perempuan untuk terus melanjutkan pendidikan selepas pendidikan selevel SMA. Lulus SMA ya kawin, gitu normalnya.
Sementara, pilihan untuk peran ganda, berkarier sekaligus berkeluarga juga belum umum, lho. Bayangkan itu tahun 50-an. Belum ada 100 tahun dari sekarang! :p.
Tapi lantas, semangat kebebasan ini lama-lama dirasa memojokkan sebagian kalangan perempuan yang memang niatnya ingin menikah dan mengurus anak. Sisanya nyusul ajalah hehehe. Ya syukur-syukur bisa kerja dari rumah. Tidak pun tidak mengapa.
Di Mona Lisa Smile, endingnya juga cakep dan enggak basi. Sorry spoiler hehehe. Tokoh Joan yang mati-matian pengin jadi lawyer dan memang termasuk yang paling cerdas dan rajin akhirnya memutuskan untuk menikah dan tidak mendaftar ke Yale University padahal keterima.
Di percakapan di atas tadi, Joan meyakinkan Katherine bahwa itu adalah PILIHANNYA. Dan pilihan itu tidak membuatnya menjadi tidak merasa pintar, “It doesn’t make me less smart.”
Sebaliknya, ada murid yang lain, Bettie, yang tadinya konservatif banget dan suka meledek Katherine yang dianggapnya “perawan tidak laku”. Bettie nyolot melulu ke Katherine. Bettie sakit hati ketika suaminya ternyata selingkuh. Ibu Bettie memaksa Bettie memaafkan dan melupakan dan terus melanjutkan pernikahan. Perceraian juga termasuk tabu lho waktu itu. Perempuan pun tidak leluasa minta cerai.
Instead, Bettie, yang memang dasarnya juga vokal dan encer, nekat minta cerai dan memutuskan untuk mendaftar ke Yale University yang juga menerimanya :). Ini pokoknya satu geng pinter semua lah ceritanya hihihi. Joan, Bettie, sama ada 2 orang lagi yang seru juga kepribadian dan konfliknya. Suka banget deh sama film ini :D. Perempuan banget hehehe.
Perempuan memang spesial. Banyak dibatasi tapi kepadanya pula banyak tertumpuk harapan setinggi bintang, as they always said, “Perempuan itu guru pertama buat anak-anak mereka nantinya.”
Perempuan makanya harus pandai berdamai dengan dirinya sendiri. Karena pengaruhnya besar kepada anak-anak ditambah lagi tugas penting mendampingi suami. Mendampingi kan bukan hanya cekokin nasi ke mulutnya kalau dia lapar atau setrikain kemejanya kalau dia mau ke kantor toh yaaaa :p.
Kita sendiri yang harus pandai-pandai memutuskan. Pintar-pintar mengenali diri sendiri. Menjunjung tinggi pendidikan tapi tidak mengikat diri kepada label-label yang menyertainya. Sekaligus jangan doyan membanding-bandingkan karena kita ini rentan diadu domba karena lebih baper :p. Hehehe. Terima saja fakta kalau kita ini lebih baper. BAwaannya laPER melulu hahaha :p. Ibu menyusui mode on :v :v.
Peran guru, harusnya lebih banyak menginspirasi ketimbang hanya transfer ilmu. Itu sih, era sekarang baca wikipedia juga sudah cucok yaaaaa :p.
Untuk peran semulia itu, makanya perempuan diciptakan spesial ;).
“Let me tell you something, Toula. The man is the head, but the woman is the neck. And she can turn the head any way she wants.” -Maria Portokalos, from the movie Big Fat Greek Wedding-
Saya ingat betul ucapan salah satu teman saya, “Waktu baru nyampe di Jeddah, pertama kali ke mal, ke Serafi Mall. Terus gue takut banget. Pegangan terus sama suami gue. Gue takut diculik!”
Kalimat tersebut tidak berlebihan. Saya juga begitu. Sewaktu masih di tanah air, cerita-cerita yang mendominasi tentang Saudi ya tentang penculikan perempuan, perkosaan TKW dan sejenisnya. Sebagian besar teman-teman saya di Jeddah punya kesan pertama yang tidak jauh berbeda.
Sekarang sih, jangan ditanya! Siang-siang suami di kantor, kami suka kelayapan kemana-mana. Awal-awalnya masih suka naik taksi dengan supir Indonesia. Lama kelamaan makin banyak yang berani naik taksi ‘abal-abal’. Taksi apa saja yang kami setop sendiri di jalan. Termasuk saya.
Padahal saya termasuk penakut. Manalagi kecerdasan visual saya sangat terbatas. Susah sekali mau menghapal jalan. Sampai sekarang masih suka bingung antara 4 ruas jalan utama yang mengelilingi lokasi apartemen kami : Madinah Road, Sitten Street, Palestine Street dan Tahlia Street.
Saya masih pilih-pilih rute. Kalau cuma ke sekolah anak, rumah teman yang sering saya datangi, saya berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri. Tapi ada, lho, teman saya yang tidak pandang bulu. Ke mana pun berani naik taksi ‘abal-abal’ sendiri!
Taksi di Jeddah
***
Pernah tersiar rumor yang mengatakan bahwa kewajiban menutup aurat bagi wanita di tempat umum malah menjadikan negara Saudi ini sebagai negara yang rawan perkosaan. Datanya dari mana, ya?
Kejahatan pemerkosaan yang beberapa kali diberitakan di media nasional pada umumnya terjadi di wilayah ‘domestik’. Kejadiannya di dalam rumah. Sedangkan di tempat-tempat umum, hijab sangat dijaga antara perempuan dan laki-laki. Kecuali di tempat-tempat tertentu yang pengunjungnya didominasi oleh pendatang seperti di pusat perbelanjaan Balad.
Saya cuma berani ke Balad kalau ditemani suami atau ramai-ramai dengan teman perempuan lainnya. Pendatang pada umumnya tidak terlalu terbiasa dengan aturan hijab seperti ini. Tapi, kalau ke mal-mal besar, insya Allah aman buat perempuan yang hanya sendiri atau menenteng balita saja.
Women in Saudi (gambar : theguardian.com)
Pengalaman tiap orang berbeda-beda. Memoar ini tentu berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri. Mungkin berbeda dengan teman-teman lain. Karena ada juga teman saya yang empet luar biasa dengan pria Arab yang menurutnya selalu mencari gara-gara. Alhamdulillah, biarpun ada yang kurang menyenangkan, untuk saya pribadi lebih banyak yang meninggalkan kesan yang baik.
***
Awalnya saya bingung dengan laki-laki yang suka membuang muka pada saya. Atau kalau saya di lift bersama suami, laki-laki lain dalam lift tiba-tiba merapat ke dinding. Kayak gengsi gitu, lho, dekat-dekat saya. Pernah juga di rumah sakit, saya duduk di ujung sebuah kursi panjang. Laki-laki yang duduk di ujung satunya langsung berdiri. Padahal diantara kami masih bisa ditempati oleh sekitar 2-3 orang lagi.
Lain lagi di supermarket. Kalau di kasir, biarpun saya yang ada dalam posisi mengeluarkan uang dari dompet, kasir laki-laki pasti memilih berbicara pada suami saya. Padahal saya kan juga bisa berbahasa Inggris dan sedikit-sedikit mengerti bahasa Arab.
Saya mengomel ke suami, “Buset, deh. Sombong amat laki-laki di sini. Kenapa sih, Bang? Aku disangka TKW, ya? Jijik dekat-dekat orang Indonesia?”
Suami langsung terbahak. Lalu menjelaskan, “Jangan geer dulu. Di tempat umum memang begitu, laki-laki tidak boleh dekat-dekat perempuan. Apalagi mengajak ngobrol yang tidak perlu.”
Benar juga ternyata. Baru, deh, saya perhatikan betul-betul sejak saat itu. Ternyata perlakuan seperti itu berlaku untuk perempuan mana pun.
Jadi, aman kok buat para perempuan untuk bepergian. Apalagi kalau ada suami. Selain lebih aman, kalau mau belanja-belanja kan juga ‘terjamin. Ada ‘ATM colek’ dengan saldo yang tak terbatas. Hahaha.
Apa? Kemana-mana harus menenteng suami? Suami di kantor seharian dari pagi hingga sore. Masa jalan-jalannya malam doang? Tidak, kok. Tadi sudah dibahas jika akan mengunjungi tempat-tempat tertentu saja harus menunggu suami pulang kantor dulu.
Dibandingkan situasi di Jakarta, rasanya memang berbeda. Di ibukota tanah air, saban ke mal, biarpun sudah punya anak dan tampang seadanya, ada saja yang suit-suit enggak jelas. Sudah pakai penutup kepala pula. Di Saudi, perlakuan seperti itu jarang terjadi di tempat-tempat umum.
Foto kenangan waktu liburan ke Yanbu. Mirip dengan Pangandaran kan? Hehehe
***
Bulan januari 2011, saya tengah hamil 6 bulan. Bumil kepengin jalan-jalan malam-malam. Jadi, deh, kita putar-putar ke Corniche Road. Terus mampir di salah satu kios di pantai untuk jajan. Semua keluar dari mobil. Pintu dikunci dengan central lock. Lalu, suami tersadar, “Yaaaaa, kuncinya ketinggalan dalam mobil!”
Waktu itu masih menggunakan mobil sewa. Angin bertiup kencang sekali dan Jeddah sedang berada di puncak musim dingin. Aduh, langsung lemas.
Suami mencoba menghubungi pihak penyewa. Sembari menunggu mereka membawa kunci cadangan, suami berusaha sendiri. Saya berdiri di samping kios sambil kedinginan. Bingung pula mau duduk di mana. Sementara Abil, anak sulung saya, sudah sibuk berlarian sendiri kesana sini.
Tiba-tiba pemilik kios keluar membawa karpet. Saya cuekin saja, pura-pura tidak lihat. Mana tahu maksudnya kurang baik. Eh, pas menoleh lagi, orangnya sudah tidak ada, menghilang ke dalam kiosnya. Dan…karpet yang ditentengnya tadi sudah digelar di atas lantai. Duh, sudah berburuk sangka. Lagi-lagi kegeeran tidak jelas. Tidak berapa lama, dibawain secangkir teh hangat. Tangannya memberi isyarat harganya 1 riyal. Saya ambil terus dia buru-buru pergi lagi.
Main sama bocah di Corniche – Jeddah, 2012
Pemilik kios juga ikut membantu suami beserta satu orang temannya. Tapi dilakukan sambil melayani pembeli. Enggak ada tuh yang mengajak saya mengobrol atau menggoda tidak jelas.
Tahu-tahu sudah pukul 11 malam. Parahnya, tempat penyewa mobil tidak menemukan kunci cadangan. Jadi, mereka sibuk mencari cara lain. Kemudian sebuah mobil mewah berhenti. Seorang pria .arab dengan penampilan necis keluar dari mobil dan mendekat. Saya sudah deg-degan. Mau apa, ya, dia kira-kira. Saya cuma memperhatikan dari jauh. Tidak tahu mereka mengobrol apa. Tapi setelah itu, dia pun sibuk membantu mengeluarkan kunci mobil.
Akhirnya sekitar pukul 12 malam, kunci berhasil dikeluarkan. Para laki-laki itu termasuk suami saya saling berjabat tangan dengan senyum merekah. Alhamdulillah, kaki sudah beku menahan dingin. Herannya, Abil tetap bagai gasing berputar-putar dengan gembira di pelataran parkir.
Saya membayar jajan kami dan bermaksud memberi uang lebih untuk karpet. Pemilik kios menggeleng-geleng, “Mafi musykilah.” (“Tidak ada masala, tidak apa-apa.”)
Sewaktu saya tetap memaksa, suami menegur, “Jangan, Dek. Tersinggung, lho, nanti.”
Ya sudah, kami pun pulang.
Masya Allah pengalaman kami malam itu. Sampai sekarang kalau ingat bantuan mereka (yang tanpa pamrih sama sekali), rasa harunya tak pernah berkurang.
***
Lalu, pernah pula ban mendadak kempes di daerah Balad. Kami mudik mendadak. Jadi, dadakan pula berburu oleh-oleh. Pakai acara ban bermasalah pula saat hendak pulang setelah membeli beberapa barang di toko langganan di Balad.
Saat suami mencoba ganti ban sendiri, beberapa anak kecil berkulit hitam tiba-tiba menghampiri. Mereka menawarkan bantuan. Dari dalam mobil saya was-was. Barang dari bagasi berserakan di luar karena suami mengeluarkan ban serep yang ditaruh di bagasi. Biasanya orang-orang ini terkenal agak-agak Bengal. Konon, mereka suka melakukan tindakan kriminal. Akhirnya, saya berdiri di luar mobil, dekat bagasi. Menjaga barang maksudnya.
Kemudian lewat seorang lelaki dewasa berkulit hitam. Duh, makin cemas. Tapi ternyata laki-laki itu mengajarkan cara mengganti ban yang benar. Benar saja, acara ganti ban berlangsung lebih lancar setelahnya. Setelah memberi pengarahan singkat, laki-laki dewasa itu pergi begitu saja.
Saat kami sibuk memasukkan barang ke bagasi, anak-anak tadi juga ikut pergi. Saya cepat-cepat mengingatkan suami, “Bang, kasih uang, Bang.”
Suami buru-buru mengejar mereka. Mereka malah masuk ke dalam mobil dan siap-siap pergi. Suami mengetuk pintu kaca mobil. Akhirnya dengan wajah malu-malu mereka menerima pemberian suami. Masya Allah, never judge a book by its cover.
Pasar di Jeddah
***
Saat di mal atau di rumah sakit, saya sering kesulitan menjaga Abil. Apalagi ketika Narda pun sudah bisa diajak main oleh kakaknya. Mereka berdua menjadi ‘duet maut’ yang kerap membuat saya sibuk minta maaf ke orang sekitar.
Ini kebiasaan di Indonesia, sih. Rasanya kalau di tanah air, orang-orang kurang suka dengan tipe anak-anak tidak bisa diam. Suka melempar pandangan, “Duh, ibunya bisa ngurus anak enggak, sih?”
Makanya kalau acara pengajian, kebetulan anak sulung saya tidak sekolah, saya memilih menahan diri untuk tidak ikut acara. Kecuali rumah penyelenggara yang saya kenal dekat. Kalau saya sudah tahu nyonya rumah ‘kurang nyaman’ dengan kehadiran anak-anak saya, saya akan memilih enggak datang.
Lain dengan di Jeddah ini. Kalau saya menegur anak-anak, saya sering ditegur balik oleh pria Arab. Pernah di rumah sakit, saya menegur Abil yang bolak balik naik ke kursi terus loncat terus naik lagi terus loncat lagi. Ibu-ibu arab lain senyum-senyum.
Tapi saya pikir mereka hanya senyum basa basi seperti teman-teman dari Indonesia. senyum-senyum di depan, dalam hati menyimpan jengkel. Jadinya tetap saya tegur anak saya. Sorang pria Arab malah melotot ke saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Shagiir“, katanya. (Shagiir = kecil). Mungkin maksudnya masih anak kecil, santai saja. Saya akhirnya membiarkan Abil jadi tontonan orang-orang di ruang tunggu.
Kejadian yang sama di supermarket. Abil mau masuk ke troli seorang pria Arab. Langsung saya tegur. Pria Arabnya mengomel balik ke saya. Malah, anak saya diberi permen.
***
Selanjutnya, bagaimana kesan-kesan bekerja dengan orang-orang Arab? Apa dicambuk kalau bandel? Hahaha. Mari kita tengok pengalaman suami saya.
Di hari acara perpisahan yang diadakan divisi tempat suami bekerja, sepulang dari kantor, wajah suami terlihat muram. Dia menenteng sebuah kotak hitam besar. Katanya souvenir dari teman-teman di kantor. Dia memang tidak menyangka akan dibuatkan acara perpisahan secara khusus. Lengkap dengan tanda mata pula. Kenang-kenangannya pun bukan barang murah.
“Seumur-umur aku kerja, baru kali ini dapat kenang-kenangan.” Kata suami, sekilas saya melihat matanya sedikit berkaca-kaca,
Kalau di Jeddah, adatnya sedikit berbeda. Yang mau pergi yang akan ditraktir oleh teman-temannya. Semasa di Jakarta, biasanya yang akan resign yang ditodong untuk mentraktir teman-teman lain.
Suami saya terharu sekali. Orang Arab memang punya ciri khas sendiri. Tidak jelek-jelek semua, kok. Mereka ada sisi positifnya. Biarpun terkenal ‘bawel’ dan ‘pemalas’, kalau sudah kenal baik dimana kita bisa merebut kepercayaan mereka, mereka bisa memperlakukan kita dengan istimewa.
Tapi cerewetnya memang tidak ketulungan, sih, menurut suami saya. Kadang suka memaksa. Tapi mereka tidak pendendam. Kalau sudah mengomel, tidak berapa lama mereka akan biasa-biasa lagi.
Perpisahan dengan teman-teman di Jeddah (Januari 2013)
Konon seorang teman yang tinggal di Negeri Sakura pernah mengeluh. Supervisornya baik dan jarang protes. Tapi tahu-tahu memberi appraisal atau nilai yang kurang bagus. Padahal sudah mengira hasil kerjanya bagus karena tidak pernah mendapat kritikan. Saya percaya tidak semuanya seperti itu. Kebiasaan kita sebagai orang timur memang banyak “enggak enakan” nya.
Salah satu teman kerja suami di Jeddah merupakan karyawan kesayangan bos. Sam-sama dari Indonesia. Kebetulan bosnya sama dengan bos suami saya. Bos yang ini engineer asal Indonesianya ada beberapa. Ketika suami mau pergi, dia langsung menagih CV teman suami. Sudah jatuh cinta pada orang Indonesia. Padahal rate orang Indonesia konon lebih tinggi daripada rate karyawan asal Pakistan-Bangladesh-India.
***
Tak terasa akhirnya kami pun harus pindah ke tempat lain. 30 bulan di Jeddah menyisakan banyak sekali kenangan manis. Di hari keberangkatan untuk terbang meninggalkan Jeddah, sejak jam 2 malam saya sudah tidak bisa tidur. Sibuk mengingat kalau saya pernah kecewa karena “tak ada salju di kota Jeddah.” Saya sungguh ingin tinggal di negeri yang bersalju..
Gagal bertemu salju. Tapi sukses bersentuhan dengan hal-hal indah lainnya.
Namun, tak ada penyesalan sudah mengambil keputusan yang tidak mudah ini. Insya Allah di tempat baru nanti, jika Tuhan menghendaki, kami pun akan dipertemukan oleh orang-orang baik. Sekali lagi … insya Allah <3.
Perpisahan dengan madam-madam di Jeddah (Corniche, 2013)
(dimuat di Majalah Pesona edisi Oktober/November 2014)
Oleh : Jihan Davincka
Apa yang terlintas pertama kali di benak saat mendengar kata Jeddah?
Kota terbesar ke-2 di Arab Saudi ini menjadi salah satu tempat saya bermukim saat mengikuti suami yang berpindah tugas ke salah satu Negeri Petro Dolar ini.
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi
Saya, sih, jujur saja. Saya takut. Sudah sering saya mendengar tentang keterbatasan yang harus dihadapi oleh kaum perempuan di wilayah ini. Yang paling mengganggu adalah aturan bahwa perempuan tidak boleh ke mana-mana tanpa suami. Duh, suami saya akan berada di kantor dari pagi sampai sore?
Belum lagi banyak mendengar cerita kalau kota-kota di negeri padang pasir satu ini agak terbelakang secara infrastruktur dan tata kota. Konon, bangunannya tua-tua dan dominasi padang pasir hingga ke tengah kota. Masa, sih?
Rupa-rupa Tempat Belanja di Jeddah
Selama ini, jemaah haji dan umrah hanya familiar dengan pusat perbelanjaan Balad. Nama tempat ini sebenarnya Corniche Commercial Center. Bangunannya sudah tua dan model kios-kiosnya mirip dengan pusat perbelanjaan ITC di Jakarta. Jadi wajar jika tak banyak yang tahu wajah lain pusat perbelanjaan di kota tempat berkumpulnya pendatang di Arab Saudi ini.
Padahal banyak sekali mal-mal besar yang tersebar di berbagai penjuru kota. Sebut saja yang paling luas dan megah, Red Sea Mall. Mal ini letaknya memang bukan di jantung kota. Tetapi agak ke pinggir bagian utara. Tepatnya di King Abdul Aziz Road. Mal megah ini bahkan punya lebih dari 10 pintu masuk.
Area mal di Kota Jeddah biasanya memang hanya terdiri dari 1-3 lantai, tapi arealnya sangat luas dengan lobi tengah yang lebar-lebar. Harus punya stamina yang kuat untuk menjelajahi bangunan mal.
Deretan mal besar di Tahlia Street
Pusat mal mewah yang ada di tengah-tengah kota terletak di salah satu sudut Tahlia Street. Di ruas jalan tertentu di Tahlia ini berjajar mal-mal besar seperti : Le Mall, Nojoud Mall, Jeddah Mall, Al Khayat dan Tahlia Shopping Center. Dilengkapi pula dengan butik-butik dari brand-brand internasional kenamaan, misalnya : Prada, Gucci, Louis Vuitton, Ralph Lauren, Dolce & Gabbana dll. Tak ketinggalan sebuah bangunan berselaput warna emas dengan tulisan “Versace” di atasnya.
Harga barang-barang bermerek level dunia di Jeddah tergolong lebih murah daripada di tanah air. Karena umumnya pemerintah Arab Saudi tidak mengenakan pajak pada hampir semua jenis barang yang diperjualbelikan di sana. Menurut info dari seorang teman, selisih sebuah tas kualitas bagus dengan model dan brand yang sama itu rata-rata bisa mencapai ratusan ribu hingga satu juta rupiah. Wow!
Pasar-pasar tradisional atau pasar lokal juga bertebaran di Kota Jeddah. Sebut saja “Pasar Sepeda” yang letaknya dekat dengan monumen “Sepeda Nabi Adam” di Sitten Street. “Pasar Sepeda” adalah julukan khas untuk tempat ini dari para pemukim Jeddah yang berasal dari tanah air.
“Pasar Sepeda” tempat yang tepat untuk berburu rupa-rupa jenis karpet. Harga karpet-karpet di sana juga lebih murah. Tak heran banyak teman sesama pemukim Jeddah yang memanfaatkan selisih harga ini untuk berdagang karpet di tanah air.
Pasar tradisional yang tidak kalah menariknya adalah Bab Shareef. Lokasinya cukup dekat dari pusat perbelanjaan Balad yang selama ini sudah dikenal luas di kalangan jemaah asal tanah air. Hanya saja Bab Shareef ini memang kurang gaungnya karena jarang diperkenalkan.
Area Bab Shareef
Bab Shareef lebih fokus kepada hasil-hasil tekstil. Seperti baju-baju, sajadah dan pashmina/kain jilbab. Harganya cukup menggiurkan jika dibeli ala grosiran. Satu lusin pashmina dengan kualitas bahan buatan Syria bisa diperoleh di harga sekitar 100-300 riyal. 1 riyal = kira-kira 3 ribu rupiah).
Tidak perlu repot-repot menawar barang jika berbelanja di Jeddah. Biasanya pedagang di pasar-pasar lokal ini lebih suka memberikan harga pas. Perlakuan mereka kepada calon pembeli juga terkesan agak ‘dingin’. Tidak terlalu heboh seperti jika berbelanja di tanah air. Tapi jangan sakit hati dulu. Mereka tetap senang dan buru-buru ramah jika kita memborong barang dagangan mereka.
Borong pashmina di Bab Shareef
Soal bahasa jangan terlalu khawatir. Tidak sedikit dari mereka yang cukup fasih berbahasa Indonesia tingkat dasar. Apalagi kalau cuma untuk kegiatan jual beli saja. Kalau pun ada kendala komunikasi, cukup tuliskan harga yang kita inginkan di selembar kertas atau bisa meminjam kalkutor di toko yang bersangkutan.
Untuk jalan-jalan ke mal atau ke pasar, tidak perlu menunggu suami pulang kantor atau memaksa suami untuk cuti khusus. Juga tidak harus menanti akhir pekan tiba. Perempuan bebas-bebas saja jalan-jalan di siang hari tanpa suami.
Pasar di Jeddah
Tidak sedikit teman saya yang berani menggunakan taksi umum seorang diri. Walau sebagian besar lebih memilih naik taksi beramai-ramai.
Enaknya karena di Jeddah banyak supir taksi asal Indonesia. Nah, kami biasanya tinggal menelepon salah satu dari mereka untuk kegiatan berbelanja atau sekadar jalan-jalan biasa. Mereka biasanya sudah hafal lokasi gedung tinggal kami jadi antar jemput langsung di depan bangunan apartemen. Seperti memiliki supir pribadi.
Hanya saja menggunakan ‘jasa khusus’ ini memerlukan ongkos lebih. Jauh lebih hemat jika menyetop taksi umum langsung di jalan bagi yang sudah menghafal jalan. Biaya naik taksi di Jeddah paling banter rata-rata 10 riyal saja per trip.
Si Pengantin Laut Merah
Kota Jeddah berbatasan langsung dengan Laut Merah. Makanya, julukan Pengantin Laut Merah wajar diberikan kepada kota metropolitan di pesisir barat wilayah Arab Saudi ini.
Ruas jalan yang bersisian dengan tepian laut diberi nama Corniche Road. Corniche Road sebagian besar dimanfaatkan untuk tempat rekreasi untuk penduduk Jeddah.
Tempat yang paling terkenal dan menjadi persinggahan wajib jemaah haji dan umrah adalah Masjid Terapung. Julukan ini diberkan karena masjid ini konon sebagian pondasinya berada di bawah air. Dari pelataran masjid, kita bebas memandang ke arah perairan lepas.
Monumen yang tidak kalah pentingnya adalah Air Mancur King Fahd yang sanggup memancarkan air hingga ketinggian 320 m di atas permukaan Laut Merah. Yang membuatnya menjadi salah satu air mancur tertinggi di dunia.
Pancaran airnya bisa dinikmati saat senja sudah mulai merambat turun. Di pagi hingga sore hari, air mancurnya tidak dioperasikan.
Spot kegemaran para pemukim Jeddah adalah wilayah North Corniche yang baru saja selesai dipugar di pertengahan 2013 lalu. Di sini ada playground yang menjadi kegemaran anak-anak. Ada areal memancing yang dicari-cari oleh bapak-bapak. Jogging track juga disediakan. Secara umum kawasannya cukup bersih. Fasilitas rekreasi di North Corniche ini bisa dinikmati tanpa dipungut bayaran sepeser pun.
Corniche Road Jeddah
Tempat Jalan-jalan di Sekitaran Jeddah
Kota Mekkah sering menjadi tujuan utama kami saat akhir pekan tiba. Berziarah ke kota Nabi, Madinah, juga menjadi incaran di hari libur.
Tapi kedua kota suci tersebut bukan satu-satunya pesona wisata jikalau berdiam di wilayah Arab Saudi. Tempat wisata di sekitaran Jeddah ada beberapa. Kalau ingin bersantai di tepi pantai di luar kota, tempat favorit saya adalah Pantai Thuwal. Saya juga pernah ikut konvoi bersama teman-teman ke wilayah Bahrah. Sebuah padang pasir yang letaknya diantara Kota Mekkah dan Kota Jeddah.
Butuh sekitar satu jam perjalanan dengan mengendarai mobil untuk mencapai Pantai Thuwal dari Jeddah. Kotanya bernama yang sama yaitu Kota Thuwal.
Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi
Pantai Thuwal tergolong bersih dengan fasilitas umum yang lumayan lengkap. Ada bangunan khusus untuk berteduh jika ingin menghindari teriknya sinar matahari yang terlalu menyengat di siang hari di musim panas. Disediakan pula beberapa kamar mandi atau toilet umum. Ada petugas kebersihan yang wara wiri membersihkan lantai bangunan dan kamar mandi tadi.
Perairan di kawasan Thuwal ini tergolong berair tenang karena letaknya di wilayah teluk. Jadi, para pengunjung boleh berenang sepuasnya di laut lepas. Khusus untuk perempuan dewasa, kewajiban mengenakan abaya tetap harus dijalankan. Abaya adalah sejenis gamis longgar yang umumnya berwarna hitam dengan bahan khusus sehingga tidak terasa berat dan panas. Makanya tak heran jika mendapati banyak ibu-ibu yang terjun ke air tetap mengenakan abaya.
Sedangkan Padang Bahrah hanya berjarak kurang dari sejam dari Kota Jeddah jika ditempuh dengan mengendarai mobil pribadi. Tempatnya masih alami belum ada sentuhan tambahan dari manusia.
Saat ke Bahrah, kami sengaja ingin menikmati senja di padang pasir. Beberapa keluarga datang beramai-ramai lalu menggelar tikar dan makanan di tengah padang. Anak-anak berkeliaran ke sana kemari menikmati areal yang mungkin di bagi mereka dianggap sebagai kotak pasir raksasa.
Sementara ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan sambil mengobrol. Rasanya tentu berbeda menikmati semangkok bakso hangat dan bertusuk-tusuk sate yang dibakar di tengah-tengah padang pasir.
Jadi, bagaimana? Masih membayangkan Jeddah sebagai kota yang mengekang, tidak modern dan tidak ramah? 😉
Tertarik mengunjungi negara Republik Irlandia buat jalan-jalan tapi sudah tahu belum cara pengurusan visa Irlandia? :D. Ya kali-kali ya lagi mencari banyak tempat hiking dengan pemandangan alam bebas yang nyaris belum tersentuh tangan manusia ;).
1. Visa Irlandia (Republik Irlandia) BEDA dengan visa UK (Kerajaan Inggris Raya) :D.
2. Bedakan antara Irlandia Utara vs Republik Irlandia. Irlandia Utara memang bagian dari UK dan ke sananya pakai visa UK. Irlandia Utara ibukotanya Belfast. Kalau Rep Irlandia ibukotanya Dublin ;).
Sedikit tambahan, UK memang terdiri dari 4 wilayah, yang dalam kurun itu ibukotanya masing-masing : England (London), Scotland (Edinburgh), Wales (Cardiff) dan North Ireland (Belfast).
Republik Irlandia (Dublin) berdiri terpisah sebagai satu negara lain. Walau berbagi wilayah di Pulau Irlandia dengan North Ireland.
Mudah-mudahan tidak “bingung” lagi hehe ^_^.
3. Visa UK, TIDAK BISA dipakai untuk masuk ke Republik Irlandia.
4. Tapi ada cara “lain” untuk ke Dublin (Rep Irlandia) dari Irlandia Utara karena satu daratan hehehe. Pakai jalan darat (naik bus) dari Belfast (Irlandia Utara) ke Dublin (Rep Irlandia). Jarang banget dicek. Pengalaman teman-teman saya di sini dari Dublin mereka bolak balik ke Belfast aman-aman saja tanpa visa hehehe. Di perbatasan darat memang nyaris tidak ada pengecekan. Kalau pun dicek umumnya diloloskan saja. Tapi saya sarankan tetap waspada ya.
Lebih aman apply saja visa Irlandia jika memang dari UK ingin ke Irlandia (Dublin). Toh gratis ini ;).
5. Visa ke Irlandia untuk paspor Indonesia BEBAS BIAYA. Visanya sih tetap harus apply tapi enggak ada biaya apa pun. Kedutaannya di WTC 1 Lantai 14, Jl. Jend Sudirman. Agak lama prosesnya, bisa 4-6 minggu. Karena katanya memang masih dikirim ke Singapura dulu. Tapi biaya admin yang dulu itu SUDAH TIDAK ADA.
Ibu saya sudah coba apply dan berhasil bulan Juli kemarin. Bebas biaya. Paspor tidak diminta kok. Tetap di kita. Nanti begitu visa jadi, kita ditelepon dan diminta bawa paspor dan nanti pihak kedutaan yang nempelin visanya di paspor kita.
6. Maskapai banyak kok yang ke Dublin. Kemarin ibu saya naik KLM bekerja sama dengan Garuda. Jadi tiketnya KLM, tapi dari Jakarta – Amsterdaam menggunakan pesawat Garuda. Dan pas pulang dari Amsterdaam ke Jakarta juga naik Garuda. Nomor penerbangan tetap KLM.
Dari Amsterdaam ke Dublin dan sebaliknya naik Aer Lingus, maskapai Irlandia.
2x check in tapi bagasi tidak perlu diambil di Amsterdaam. Boarding pass-nya saja yang perlu diminta. Karena dari Jakarta hanya dapat satu boarding pass. Begitu juga pas pulangnya. Prosesnya sama.
7. Tiket Jakarta-Dublin-Jakarta sekitar 800 an euro. Itu biasanya di low-season, april-mei ATAU oktober-november. Musim-musim nanggung hehehehe.
8. Ini persyaratan lengkap untuk pengajuan pengurusan visa Irlandia,
copas langsung nih dalam bahasa Inggris :
Visa Irlandia, gambar : lawandvisas.com
Irish Visa Application Requirements
1. Application Form, download di www.visas.inis.gov.ie – signed by applicant 2. Visa Category – correctly entered 3. Letter of Undertaking signed 4. Company original letter 5. Reference Letter from Ireland 6. Bank Statements/ pay slip – 3 to 6 months 7. Accommodation Details 8. Flight Itinerary (not the ticket) 9. Travel Insurance 10. Birth Cert or Marriage Cert (must be translated in English by sworn translator) 11. Copy of current passport + visas of travel history (validity of passport – more than 6 months) and previous passport 12. 2 Photos with white background 3.5 x 4.5 (zoom 80%) 13. Visa application fee GRATIS for Indonesian Citizen 14. Visa application process approximately 4-6 weeks
**Please make 2 sets of all documents **Please Submit Documents in order as above
The Consulate will NOT keep your original documents, however we will need to see and verify the ORIGINAL PASSPORT and ORIGINAL BIRTH or MARRIAGE CERTIFICATE and then return to applicant.
INCOMPLETE DOCUMENTS ARE NOT ACCEPTED
***
Overall, sih, mirip dengan cara apply visa ke negara lain untuk paspor Indonesia. Demikian tata cara pengurusan visa Irlandia dari saya, ya. Semoga membantu ya ^_^.
Biar makin semangat, saya tunjukin nih vlog-vlog tentang Irlandia ;).