Kota Zurich Swiss, Bukan Ibukota Lho!

Jalan-jalan ke Kota Zurich Swiss yuuuuuk ^_^.

Hayoooo ngaku siapa yang sering mengira ibukota Swiss adalah kota Zurich :D. Tersangka lainnya adalah Kota Jenewa hehe.

Wajar sih, ya. Soalnya Zurich memang kota terbesar di negara Swiss ;). Jenewa juga terkenal karena menjadi salah satu kediaman PBB. Ada kantor pusat PBB di Jenewa, terbesar nomor 2 setelah yang di New York, US.

Tapi ingat yaaaaa, ibukota Swiss itu … Bern! :D.

Jalan-jalan ke Kota Zurich Swiss, pic by Dani Rosyadi
Welcome in Zurich ^_^, foto : Dani Rosyadi

 

Kami muter-muter di Swiss di hari terakhir di Swiss pas tempo hari menemani suami yang lagi assignment di sana, Masih hamil waktu itu. Gak selesai-selesai nih  bahas Swiss hihi.

Kami tinggalnya di Bern tapi bolak balik naik pesawat dari/ke Dublin ya via Bandara Internasional di Zurich ^_^. Sekalian deh. Mumpung pesawatnya berangkat malam, sejak pagi kami sudah berangkat dari Bern ke Zurich.

Barang-barang bawaan dititip di loker stasiun. Kami cuma bawa ransel dan stroller saja. Pergi ke mana saja di Kota Zurich?

1-  Berlayar  Menyusuri Danau Zurich

Keluar dari Bahnhof (stasiun kereta), naik tram menuju Zurich Burkliplatz. Di sini nanti ada dermaga buat naik kapalkeliling-keliling Danau Zurich. Habis beli tiket, sambil nunggu kapal datang dan merapat, tentu saja kita … foto-foto duyuuuuuu hihihi *ngikikCentil*.

Dermaga Burkliplatz Zurich Swiss pic Dani Rosyadi
Numpang eksis di Dermaga Burkliplatz Zurich 😀
Kota Zurich Swiss pic by Dani Rosyadi
Pas lagi hamil #week21 di Zurich tempo hari :D.

Kapalnya datang, mari kita cussss :D.

The Zurich Lake pic by Dani Rosyadi, jalan-jalan ke Kota Zurich
Danau Zurich, foto : Dani Rosyadi

Kapal ini bukan hanya untuk turis. Juga merupakan salah satu transportasi sehari-hari untuk orang lokal dalam kota di Zurich. Kapalnya berhenti di banyak tempat. Mampir-mampir nurunin dan naikin penumpang kayak angkot :D.

Cuma bedanya, kapalnya mampir ke dermaga bukan mangkal di halte hehe.

Lake Zurich, the dock, pic by Dani Rosyadi jalan di kota Zurich Swiss
Salah satu dermaga di Danau Zurich, foto : Dani Rosyadi

Duduknya di atas geladak kapal yang sudah disiapin banyak kursi dan meja. Yang membuat saya tidak nyaman saat berada di atas kapal … anginnya kenceng, Ceu! Duh, dingin banget :(. Yang bikin takjub ada saja lho bapak-bapak yang ketiduran sambil mangap di tengah terjangan angin dingin begitu hihihi.

Untung tidak terlalu ramai, jadi bisa duduk agak melipir ke pinggir biar agak aman sedikit dari jangkauan angin. Pemandangannya sih memang cakeeeeep <3. Langsung saja ya lihat foto-fotonya ;).

A view at the Zurich Lake, Zurich Swiss pic : Dani Rosyadi jalan-jalan ke Swiss
Pemandangan dari atas kapal di Danau Zurich, Swiss. Foto : Dani Rosyadi

Tiba di Kota Zurich sudah agak siang. Jadi, kami makan siang di atas kapal. Sudah nyiapin roti isi dari Bern sebelum berangkat tadi hihihi. Habis makan, anak-anak langsung gatal pengin lari-lari. Ya sudahlah. Bumil duduk pasrah saja ngawasin sambil duduk.

Danau Zurich Swiss by Dani Rosyadi
Danau Zurich, foto : Dani Rosyadi

Karena kelamaan dan akhirnya bosan sendiri, kita enggak jadi ngikut satu putaran penuh. Harusnya kan bisa ikut berlayar sampai tiba kembali di Burkliplatz tadi. Enggak ingat turun di dermaga mana, pokoknya begitu dari jauh lihat ada taman bermain, kami siap-siap turun.

2 – Main di Playground dan Lihat-lihat Taman Kota

Bumil lapar pengin ngemil. Jadi jajan di kafetaria dekat dermaga. Aish, mahalnyaaaaa… roti sebiji 3 frank. Ukurannya juga mini gitu.

Anak-anak dibiarin main di taman bermain biar energinya tersalurkan -_-. Daripada lari-larian kayak orang gila.

Cuacanya cukup bagus sebenarnya di Kota Zurich waktu itu. Walau saat berlayar dingin, begitu di daratan kembali, matahari bersinar makin terik. Ramai juga playgroundnya. Sudah jam pulang sekolah kali, ya, di sana makanya pada beredar di taman bermain :D. Orang lokal semua sih nampaknya.

Jalan ke kota Zurich di Swiss foto : Dani Rosyadi
Main di taman di Zurich, Pic : Dani Rosyadi

Sebelum mencapai playground-nya, juga melewati taman cantik yang lagi hijau royo-royo ^_^. Gak konsen sih mau explore taman karena anak-anak sudah melihat aneka rupa mainan di playground yang tempatnya disekat pagar kawat di sekelilingnya.

Untung sempat motret :D. Ini sekitar bulan Mei ke sananya. Jadi awal-awal musim panas makanya cuaca bisa lumayan terik begini.

City Park in Zurich Swiss, taman kota Zurich foto : Dani Rosyadi
Taman Kota di Zurich, foto : Dani Rosyadi

3 – Jalan-jalan Ke Kota Tua

Setelah sukses menyeret anak-anak keluar dari playground, kami naik tram menuju ke kawasan Kota Tua. Ini, nih, salah satu obyek wisata tujuan di hampir semua  kota-kota di Eropa.

Salah satu landmark Kota Zurich, Menara Kembar GrossMunster ada di sini. Dari jauh sudah kelihatan puncaknya. Grossmunsternya sendiri merupakan bangunan katedral untuk kaum Protestan. Konon, gaya bangunannya menganut arsitektur romawi kuno. Manut aja kita ya enggak paham juga jenis-jenis arsitektur hihihihi.

GrossMunster Zurich pic by Dani Rosyadi
Menara Kembar GrossMunster di kawasan Kota Tua di Zurich, foto : Dani Rosyadi

Nah itu jalanan di depan tuh sebenarnya jembatan, di bawahnya ada sungai, Limmat River. Coba scroll up ke foto paling pertama di postingan ini. Itu juga penampakan Menara Kembar Grossmunster dari sudut yang berbeda. Di foto itu, kelihatan jembatan yang dimaksud beserta sungainya ^_^.

Bangunan di kota tua ramping-ramping tapi cukup tinggi. Gaya bangunannya masih dipertahankan. Lihat deh itu model jendelanya. Lucu, ya? :D. Mirip sih dengan jendela-jendela di bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda di Indonesia. Tinggi-tinggi dan punya 2 buah tirai kayu yang bisa dibuka lebar-lebar ke sisi kiri dan kanan.

Jalanannya juga kecil-kecil. Di sini hanya bisa dijelajahi dengan jalan kaki atau naik sepeda. Banyak rumah makan/kafe/restoran di ruas-ruas jalannya. Tempat jual suvenir juga mendominasi. Saya selama di Swiss jarang beli-beli, Euy. Mahal aja gituh hahaha *umpetinDompet*.

Old Town Kota Zurich Swiss Kota Tua Swiss foto : Dani Rosyadi
Kota Tua di Kota Zurich, Swiss (foto : Dani Rosyadi)

Walau bangunan lama tapi sangat terawat dan catnya juga masih baru dan bersih. Muter-muter di sini enggak lama, sih. Toko-toko kebanyakan kita lewati begitu saja. Habis suka deg-degan nan grogi kalau lihat harga-harga barangnya hahaha.

Sehabis menyusuri lorong-lorong dalam daerah ini, barulah kami mengunjungi katedralnya. Suami selalu senang lihat-lihat bangunan  model begini. Setiap masuk ke gereja, anak-anak harus dikawal penuh :p. Setiap masuk ke ruangan dalam katedral kan ada saja orang yang lagi khusyuk berdoa. Takutnya mengganggu kalau mereka tanya ini itu apalagi lari-larian.

The Munster in Kota Zurich Swiss, pic : Dani Rosyadi
Foto depan gereja, pic : Dani Rosyadi

4 – Zurich, a View from The Top

Dari Kota Tua, kami naik tram lagi ke daerah City Center. Mau ke main building ETH Zurich University. Mau daftar S2, Neng? Hihihi. Enggaaaaaaa :D.

Tadinya kan mau ke Uetliberg Hill, tempat yang paling direkomendasikan buat melihat Zurich Swiss dari ketinggian. Tapi waktunya sudah enggak pas. Sudah kesorean. Pan kita harus ngejar pesawat mau balik ke Dublin.

Pas masih di Bahnhof, kami sempat nanya-nanya ke Tourist Center di sana. Dari sanalah kita dapat info bahwa dari teras bangunan ETH Zurich Uni tadi juga bisa buat lihat-lihat Kota Zurich Swiss dari “atas”.

Untuk ke sananya saja harus  nyambung naik funicular. Nama angkutan funicularnya, The PolyBahn. Naiknya sih bentar banget. Cuma sekitar 2-3 menit. Naiknya bareng mas-mas dan mbak-mbak yang mau ke kampus :D.

Aiiihhh, lihat bangunan kampus langsung menggelora lagi semangat pengin lanjut kuliah *tsaaaaah*. Mupeng sesaat sih. Langsung lemas lagi pas ketemu banyak mahasiswa/wi yang nenteng-nenteng buku tebal hihihi.

Begini ini nih salah satu pemandangan dari teras bangunan utama kampus ETH Zurich Uni :

A view of Zurich from ETH Zurich University pic Dani Rosyadi Kota Zurich
Zurich, from ETH Zurich University Main Building, pic : Dani Rosyadi

Di teras bangunan kampus banyak kursi-kursi plastik gede-gede warna merah. Tapi di pojok-pojok banyak juga sepasang muda mudi lagi duduk tempel-tempelan sambil anu-anu-an hihihihi.

5 – Dinner ‘Lesehan’ di Pinggir Jalanan

Sehabis foto-foto dan duduk bentaran di kampus, kami balik ke Bahnhof pakai tram. Tahu-tahu sudah jam setengah 7. Sudah jelang musim panas dimana waktu terang akan jauh lebih lama daripada waktu malam. Wajar, hampir jam 7 tapi hari masih terang benderang :D.

Pergilah kita ke Migros (semacam Carrefour kalau di  Indonesia). Semacam supermarket segala ada gitulah. Tapi enggak gede-gede amat tempatnya. Ceritanya mau beli makan malam murah  meriah :p.

Di Migros, beli chips aneka bentuk biar kenyang dan kesannya banyak (hahaha), satu kotak salad ukuran gede, dan fish fingers plus air mineral. Terus jalan ke arah bangunan Bahnhof.

Depan bahnhof ada jalanan besar yang kiri kanannya toko-toko semua. Di pinggirnya disediakan tempat-tempat duduk sementara di tengah jalan, tram dari berbagai jurusan lewat lalu lalang. Duduk deh di situ sambil makan malam. Saya dan suami mengobrol betapa senangnya kalau kita punya kesempatan tinggal permanen di Kota Zurich. Aamiin <3.

Bahnhof road Zurich, Swiss, pic Dani Rosyadi
Tempat kita dinner hihihi , pic : Dani Rosyadi

 

Kelamaan tinggal di desa, nih, jadi norak lihat kota besar (si Zurich Swiss ini) hahaha.

Selesai makan, suami ngambil foto-foto lagi sekitaran situ. Habis itu baru masuk lagi ke dalam Bahnhof. Ambil barang dari loker … siap-siap naik kereta ke bandara :D.

Until we meet again, Zurich Swiss <3.

Bahnhof Zurich swiss foto : dani rosyadi Kota Zurich Swiss
Bangunan utama Bahnhof Zurich Swiss, foto : Dani Rosyadi

 

Tulisan Kita dicopas Orang Lain?

3 hari terakhir ini di-mention ampe puluhan kali, Euy. Kayak dicolek-colek gitu *geliGeliSeneng*. Udah geer notifikasi banyak ternyata temanya itu-itu juga hihihihi. Di Facebook ya maksudnya :D. Saya mah generasi jadul. Hare geneeeeee…beredarnya masih banyakan di Facebook ajeeee, hahaha.

Eh iya jangan salah sangka yaaaaa. Saya enggak marah lho sama yang nyolek. Seneng malah ^_^. Merasa dibelain *ihiiyyy*. Cium dulu sini satu-satu *cup,cup,cup* <3.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ini soal tulisan “This Best Feeling in The World” yang ternyata ada yang copas. Enggak satu orang sih. Ada beberapa. Masalahnya ada yang tidak mencantumkan sumber dan mungkin karena gaya nulis genggesnya jadi banyak teman saya yang sudah hafal gaya tulisan sok-sok antara mau centil sama mau bijak ala-ala Mama Poni hahahaha.

Makanya, banyak teman saya yang langsung nyadar kalau itu tulisan saya :D.

Si embak padahal sudah mengaku copas kok ya. Gak apa-apa :D. Senang kok ya tulisan copasannya saja share-nya bisa 4 ribu ^_^. Belum yang copas-copas yang lain-lain yang juga sharingnya oke-oke. Jadi geer hahaha.

Sebenarnya ini bukan pengalaman pertama. Yang lebih heboh dulu “Every Mom Has Her Own Battle”. Ini juga lucu, karena saya banyak mendapat tulisan ini dari grup-grup atau dikirim private oleh teman saya dengan caption, “Jee, baca deh. Tulisannya bagus.” Ya iya dong, yang nulis gue gitu lho hahahahaha.

Teman saya tidak tahu karena tulisannya tahu-tahu tulisannya sampai ke dia begitu saja, nama penulisnya sudah beda-beda hahaha. Taulah ya kalau topik standar emak-emak gampang go viral :D.

Waktu itu marah? Bangeeeettttt -_-.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi terus bagaimana? Ngambek? Ngaruh gitu? :p.

Hal-hal begini, menurut saya, berada DI LUAR pengaruh kita. Sebagai penggemar Mas Sean Covey dan bapaknya, 7 habit-er nih kiteeee :p, ada yang namanya LINGKARAN PENGARUH vs LINGKARAN KEPEDULIAN.

Lingkaran pengaruh termasuk hal-hal yang bisa kita kendalikan sendiri. Lingkaran kepedulian sebaliknya. Kita peduli tapi kita enggak bisa ngapa-ngapain. Useless. Dipikirin sampai bongkok juga kita enggak bakal bisa mengubah/mengendalikan.

Terlalu fokus ke lingkaran kepedulian malah bikin kita gila sendiri nanti hahaha. Termasuk urusan copas-copas tulisan ini :D. Bagaimana coba caranya mencegah tulisan tidak dicopas di era digital begini? ;).

Mending fokus ke lingkaran pengaruh. Hal-hal yang berada dalam jangkauan “kekuasaan” kita ^_^. Ngurusin aib sendiri misalnya. Banyak bener kan itu? Hahaha. Atau fokus terus menghasilkan karya-karya dalam bentuk apa pun ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jadi, walau keki juga lah dikiiiiiiitttt :p, I’m so over it ;). Udahlah, ambil positifnya saja, tulisannya banyak yang share berarti mudah-mudahan isinya positif dan semoga saja ada yang kali-kali hidupnya jadi lebih baik karena tulisan tersebut. Aamiin <3. Mudah-mudahan bisa menjadi penghapus dosa-dosa yang sudah menumpuk ini, aamiin *gelarSajadah*.

Saya pribadi, senang menulis (walau bukan penulis), karena dulu saya merasa terbantu sama hobi membaca buku/majalah/koran/artikel apa pun.

Iya lah, ada beberapa masa yang dulu-dulu dimana saya gampang sedih hehehe. Terus saya melarikan diri ke kegiatan membaca. Baca biografi orang-orang penting yang dulunya jauh lebih nyelekit hidupnya tapi kemudian bisa bangkit bikin saya semangat. Padahal tahunya hanya dari barisan kata-kata ^_^.

Membaca pengalaman penulis yang kemudian menuangkannya dalam tulisan juga bisa membangkitkan inspirasi. Waktu kuliah, saya suka gratak-gratakin koleksi buku ibu-ibu kos, ah senaaaaaanngggg, dapat banyak bacaan bagus :D.

Termasuk buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” itu tuh. Wah, serius lho, baca buku itu di semester 2 kuliah saat rasanya berat banget karena kiriman mulai gak lancar dan harus muka tembok mulai ngutang-ngutang (hihihi *tutupMuka*), semester 3 saya langsung sikat 24 sks! Hal yang tadinya tidak pernah terpikir.

Begitu terus hingga akhirnya saya bisa kelar 7 semester saja (walau gagal wisudanya hahaha) dan meraih IPK impian 3.3 hahaha. Kenapa gitu? Soalnya saya rajin baca koran lowongan kerja, perusahaan swasta mentoknya minta segitu. Saya catet-catetin pada minta syarat IPK berapa hihih. Alhamdulillah enggak ada yang minta 3.5 hihihi. Paling tinggi 3.3, biar aman saya set 3.33 dan alhamdulillah…berhasil!!! *nariPisang*.

Tujuannya, lulus langsung lamar kerja di perusahaan swasta dapat gaji jut-jut. Tuhan menjawab doa. Kelar sidang, 2 minggu kemudian dah keterima kerja ^_^. Alhamdulillah, gaji pertama licin tandas buat bayar utang doang hahahaha.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Yang paling saya takutkan kalau sampai kandas S1 enggak kelar tuh, disuruh kawin! Hahahaha. Cuma lulusan SMA mau kerja apa, pasti eike dipaksa-paksa kawin dah! -_-.

Sebegitu besar efek “membaca” tulisan orang lain bagi saya :).

Makanya mungkin karena itu, walau memang sudah ada passion dari kecil, makin ke sini di era media sosial, makin tergila-gila menulis hahaha.

Menurut saya, begitu salah satu cara kita berterima kasih kepada orang-orang/kejadian-kejadian yang dikirimkan Tuhan untuk membuat kita bersemangat kembali. Kembali berlari di lintasan yang tadinya sudah ingin ditinggalkan saja.

Untuk setiap kebaikan yang diterima, sekuntum keberuntungan yang kita petik, kalau tak bisa dikembalikan kepada yang memberi… teruskan benihnya kepada orang lain. Pay it forward , pay it forward .

Menulis, salah satu cara untuk menebarkan semangat kepada banyak orang tanpa perlu kita datangi satu persatu. Thanks to internet, thanks to social media. Hey, FB dan twitter tidak hanya untuk pasang-pasang foto narsis saja, lho. Tulisan juga bisa jadi ajang narsis ;). Resep-resep juga. Daku juga cinta banget deh sama orang-orang yang suka share resep dan tips dapur <3.

Satu menjadi seratus. Seratus menjadi sejuta. Sejuta menjadi trilyunan. Pay it forward , pay it forward , pay it forward ^_^.

But another lesson, ttentu saja, enggak suka tulisan kita dicopas? Jangan suka copas juga ya Kakaaaaaa ^_^. Maafkan mereka, lalu lupakan. Tapi jangan lupakan pesan/pelajaran yang bisa dipetik. Sakitnya hati ini kalau bikin tulisan capek-capek malah dicopas seenaknya? Then don’t do that to others, yes? ^_^. Jangan lakukan hal yang kita tidak ingin orang lain lakukan pada kita.

People with bad behavior only exist to remind us to NOT to do the same ^_^ –> btw, ini quote juga copas. Dulu baca ini di wall FBnya Neng Rika Mariani bertahun-tahun yang lalu :D. Tetap ingat karena pesannya menancap kuat di hati *tsaaaaaah*.

***

9 Panduan Sarapan Buah ala Food Combining

Sarapan pagi untuk diet termasuk bagian dari gaya hidup sehat yang menjadi incaran banyak kaum urban terkini. Termasuk memulai hobi olahraga hingga mengadopsi pola makan tertentu. Pola makan Food Combining salah satunya.

Di mana Food Combining ini mempunya ciri khas sarapan buah ekslusif.

Gambar : tabloidbintang.com
Gambar : tabloidbintang.com

Pola makan Food Combining mengikuti siklus sirkadian tubuh yang terbagi 3 :

  • (a) Pukul 04.00 dini hari – 12.00 siang, sistem pencernaan berada dalam proses pembuangan sisa-sisa makanan
  • (b) Pukul 12.00 siang – 20.00 malam, sistem pencernaan saatnya fase penyerapan makanan
  • (c) Pukul 20.00 malam – 04.00 dini hari, sistem pencernaan tengah mengolah sari makanan yang sudah diserap

Begitu seterusnya dari hari ke hari. Saat berada dalam proses (a) dan (c), sistem cerna memerlukan banyak energi agar hasilnya optimal, sebaiknya jangan dibebani dengan konsumsi makanan lagi. Tapi dalam proses (a), tubuh juga butuh energi untuk aktivitas sehari-hari sepanjang pagi hingga siang. Makanya, konsumsi buah-buahan dianggap paling tepat.

Buah-buahan sangat mudah dan cepat dicerna oleh tubuh. Jadi, sistem pencernaan tidak perlu mengeluarkan energi berlebihan. Buah-buahan juga punya kalori yang cukup asal dikonsumsi dengan benar.

Berikut panduan sarapan buah ala Food Combining :

 

  1. Awali dengan konsumsi jeruk nipis perasan. Siapkan segelas air hangat lalu peras jeruk nipis ke dalamnya. Aduk sebentar. Minum perlahan. Jangan terburu-buru. Agar tiap tegukan bercampur dengan enzim pencernaan dalam ludah di mulut.
  2. Buah dalam kondisi matang. Jangan yang setengah matang atau mengkal. Apalagi yang masih mentah. Tapi jangan sampai makan buah yang sudah busuk/rusak.
  3. Konsumsi buah jangan ditakar-takar.  Jangan hanya dimakan sekali lalu membiarkan perut dalam keadaan lapar.  Buah ini memang unik. Karena gampang dicerna, hanya butuh sekitar maksimal 30 menit bagi sistem pencernaan untuk mengolahnya, maka gampang lapar kembali. Kalau lapar, silakan makan buah lagi. Siapkan menu buah dalam beberapa porsi kalau perlu. Sesuaikan dengan aktivitas tubuh masing-masing. Tidak ada batasan jumlah.
  4. Untuk menghindari penumpukan zat tertentu dari buah yang itu-itu saja, variasikan jenis buah-buahan yang dikonsumsi. Idealnya, tiap hari mengkonsumsi minimal 3 jenis buah. Misalnya : hari ini mangga-pepaya-duku, besoknya mangga-semangka-jeruk, besoknya lagi pepaya-jeruk-rambutan,  dan seterusnya.
  5. Jangan pilih-pilih dan hanya mengkonsumsi buah favorit saja. Tiap buah dalam kondisi segar alami memiliki kandungan vitamin/mineral/gizi yang berbeda-beda. Usahakan mengkonsumsi jenis buah sebanyak mungkin.
  6. Jangan fokus pada buah tertentu apalagi buah impor yang harganya mahal. Utamakan buah-buahan lokal yang murah didapatkan dengan harga yang lebih bersahabat.

    sarapan pagi untuk diet ala Food combining
    Buah lokal , gambar : student.ipb.ac.id
  7. Mengunyah jangan terburu-buru. Kunyah yang lama. Sama dengan poin nomor 1 di atas. Biarkan kunyahan buah di mulut bercampur sempurna dengan enzim yang dikeluarkan ludah di mulut sebelum masuk ke kerongkongan.
  8. Beberapa jenis makanan yang sudah sering dianggap buah ternyata termasuk kategori sayur dalam Food Combining. Karena kandungannya kurang cocok dengan definisi buah yang dimaksud. Misalnya : wortel, alpukat, tomat, ketiganya BUKAN buah.
  9. Kalau tidak terlalu suka mengunyah, buah-buahannya boleh dijadikan jus. Tanpa tambahan apa pun termasuk gula. Air boleh dicampur sedikit.

Demikianlah panduan sarapan ala buah Food Combining.  Jika diterapkan dengan benar, mudah-mudahan tidak ada lagi keluhan sarapan buah tidak bikin kenyang. Selamat mencoba ^_^.

Makanan di Rumah Makan Putri Sriwijaya Jeddah foto Dani Rosyadi

Perut Terjamin Lahir Batin di Jeddah :D

Again, salah satu tulisan dari buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” :D.

***

Setelah menuntaskan kontrak kerja di Jeddah, suami saya memutuskan untuk pindah ke Irlandia. Menjelang tiga hari keberangkatan menuju kota Athlone, Irlandia, saya sibuk menjejali isi koper dengan berbagai macam bumbu dan rempah khas tanah air. Sembari heboh dengan acara packing, sesekali terlintas nostalgia untuk Jeddah.

Selama tinggal di Jeddah, 2x saya mudik. Acara beres-beres koper kala liburan usai dan harus kembali ke Jeddah selalu berlangsung santai. Malah beberapa hari sebelum berangkat, saya woro-woro ke teman-teman di Jeddah, “Ada yang mau titip, gak? Koper gue kosong, nih.”

Gambar : sedapsekejap.net
Gambar : sedapsekejap.net

Tinggal di Jeddah, biarpun judulnya ‘luar negeri’, tidak membuat kita jumpalitan membawa segala macam bumbu dan penganan khas tanah air. Di Jeddah…all you can eat, Babe! Oh ya, karena ke mana-mana berabaya, tidak perlu pula pusing-pusing memikirkan baju dan teman-temannya.

Teman saya, sesama pemukim Jeddah, punya pengalaman sama. Dia mudik ke tanah air bersama kakak iparnya. Kebetulan mereka berbarengan membereskan barang bawaan untuk pulang kembali ke tempat masing-masing.

Kalau kakak iparnya sibuk memasukkan segala macam bumbu, sampai bawang goreng pun dibawa hingga berkilo-kilo, teman saya malah bingung, “Duh, bawa makanan apa, ya?”

Teman saya hendak kembali ke Jeddah, kakak iparnya ke Dubai. Padahal Dubai terletak di Uni Emirat, berbatasan langsung dengan negara Arab Saudi. Tapi urusan makanan bagaikan bumi dan langit.

***

Dari sebuah traveling blog, saya jadi punya banyak teman sesama ibu-ibu yang bermukim di luar negeri. Mereka ke luar negeri karena bermacam-macam alasan : mengikuti suami, sekolah atau bekerja di sana. Keluhan mereka rata-rata hampir sama, “Kangen euy masakan Indonesia.”

Di beberapa negara, makanan Indonesia tidak susah ditemukan. Tapi terganjal masalah lain. Kalau harganya tidak mahal, rasanya yang kurang enak.

Teman saya di belahan dunia lain, yang tadinya buta urusan dapur, mendadak jadi jagoan di depan kompor. “Tidak ada pilihan lain, terpaksa jadi jago masak,” begitu rata-rata alasan mereka.

Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)
Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)

Alhamdulillah urusan perut terjamin lahir dan batin di Jeddah. Harganya sangat ‘terjangkau’ dan rasanya juga enak. Makanya, impian saya menjadi ‘masterchef‘ kalau tinggal di luar negeri pupus sudah.

***

Rumah makan ala Indonesia di Jeddah cukup banyak. Apalagi jika berada di distrik Sharafiyah dan Bagdadiyah, 2 distrik yang sarat pemukim asal Indonesia. Levelnya bervariasi. Yang model warteg juga ada, lho. Menyediakan nasi rames komplit dengan rasa yang tak jauh beda dengan tanah air.

Rumah makan level menengah ke atas juga ada. Menunya pun lengkap. Katering rumahan juga menjamur. Inilah salah satu alasan saya cukup percaya diri menjalani proses hamil hingga melahirkan anak ke-2 di kota Jeddah. Biarpun saya tahu baik ibu saya maupun ibu mertua berhalangan untuk datang menemani di masa-masa melahirkan.

Semasa hamil muda dimana saya melilhat dapur saja rasanya sudah muak, kami memutuskan untuk menggunakan jasa katering. Diantarkan langsung ke pintu apartemen, lho.

Makanan di Rumah Makan Putri Sriwijaya Jeddah foto Dani Rosyadi
Hidangan khas Indonesia di Rumah Makan Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Senang bertarung di dapur pun tidak perlu khawatir. Bumbu khas tanah air mudah sekali ditemukan di toko-toko Indonesia dengan harga yang masuk akal. Daun-daunan, rempah-rempah hingga tahu tempe selalu tertata rapi di rak-rak toko.

Tak perlu pula susah-susah memboyong bungkus-bungkus instan. Indomie bukan barang langka di Saudi. Indomie bahkan dengan mudah ditemukan di toko-toko lokal Saudi, apalagi di supermarket. Harganya? 1 riyal saja per bungkus ^_^.

Pagi-pagi di saat akhir pekan, para istri pun ingin bersantai di taman atau pantai. Dapur diliburkan dulu. Kalau tak sempat memesan katering, datangi saja toko-toko Indonesia yang terbilang ramai.

Tiap pagi toko-toko ini tak pernah absen menyediakan nasi rames kotakan khas tanah air. Isinya nasi, sejumput sayu dan lauk pauk (seperti telur, daging atau tahu-tempe plus sambel). Untuk membawa sekotak nasi rames, harga yang harus dibayar rata-rata 3-5 riyal! (1 riyal sekitar 2500 rupiah). Amboi, murahnya.

***

Salah satu makanan siap saji yang menjadi trademark kota Jeddah adalah Al Baik. Biarpun hanya berupa ayam goreng tepung, tapi Al Baik ini sangat tersohor di kota Jeddah. Sebelum saya menginjakkan kaki di kota Jeddah, suami saya sudah sering banget mengelu-elukan si ayam goreng yang satu ini. Padahal biasanya suami kurang suka dengan segala menu yang berupa ayam.

Baru 2 hari menghirup udara Jeddah, di suatu malam, diajaklah saya ke Serafi Mal, khusus buat icip-icip si Al Baik ini. Saat di foodcourt, melihat antriannya yang panjang, saya cukup optimis membayangkan kelezatan Al Baik ini. Tapi setelah mencoba sendiri, saya tidak merasa ada yang istimewa.,Mungkin selera saya yang kurang umum.

Al Baik ini sendiri adalah sejenis fastfood seperti KFC / McDonalds. Tidak semua kota di Saudi menyajikan si Al Baik ini. Hanya ada di Makah, Jeddah, Madinah, Yanbu dan Taif. Di kota Jeddah ini, saking tenarnya, cabangnya ada sekitar 20. Tersebar di berbagai mal dan gerai yang berdiri sendiri.

Menu udang di Al Baik Mekkah
Menu udang, di Al Baik gambar : www.albaik.com

Menunya terdiri dari : ayam, udang dan ikan.  Ketiganya disajikan dalam bentuk hidangan goreng tepung dan nugget. Menu yang lebih ringan juga ada, misalnya : jagung-jagungan dan es krim.

Apanya yang khas? Rasa memang sedikit berda dibanding ayam goreng tepung lainnya. Lebih kaya bumbu dengan aroma rempah-rempah yang unik. Selain dinikmati dengan saos tomat, hidangan utama Al Baik juga bisa disajikan bersama saos bawang putih (garlic sauce) yang rasanya juara banget.

Harga-harga menu di Al Baik lebiih murah dibandingkan dengan menu yang sama dari fastfood lain yang sejenis. Mungkin selain rasanya yang khas, karena harganya ini yang membuat orang-orang lebih memilih Al Baik.

Porsi makanan di Saudi secara umum sangat mengenyangkan. Misalnya paket menu ayam goreng yang regular isinya : 4 potong ayam, sekantong kentang goreng, 1 buah roti dan sekaleng minuman bersoda. Kalau untuk saya pribadi, ukuran seporsi tadi terlalu banyak untuk jatah makan satu orang. Seringnya kami membeli 1 paket lalu dibawa pulang ke rumah dan dinikmati bersama-sama dengan anak-anak.

Alasan lain kenapa saya lebih suka makan di rumah adalah di gerai Al Baik tidak menyediakan nasi. Maklumlah lidah kampong saya ini, makannya mesti pakai nasi.

***

Mumpung tinggal luar negeri, tak ada salahnya mencicipi masakan internasional. Tapi, konon di banyak tempat di luar tanah air agak sulit menemukan makanan yang halal. Bahkan di negara-negara yang mayoritas muslim. Nah, ini kelebihan lain negara Saudi. Pemerintah menjamin kehalalan semua restoran yang dibuka untuk umum. Saudi menerapkan aturan ini, entahlah dengan negara TimTeng lainnya.

Jadi, jangan takut wisata kuliner di restoran publik mana pun. Saya sekeluarga kebetulan tidak terlalu suka makan di luar rumah. Tapi kami juga punya restoran favorit, namanya Pattaya. Restoran yang menyajikan masakan Thailand yang segar dengan harga cukup murah. Sebagian teman saya lebih menyukai restoran lain yang menyediakan menu sejenis. Restoran Asia namanya. Restoran Asia ini yang lebih umum dikenal oleh para jemaah umrah atau haji asal tanah air.

Di ruas jalan Andalus banyak berjajar restoran-restoran papan atas kelas dunia. Dijamin halal. Saya selama ini seringnya menumpang lewat saja. Selama 30 bulan tinggal di Jeddah, tidak pernah terbersit keinginan coba-coba jajan di sana. Suami sih sering ribut ngajakin makan ke sana. Apa hendak dikata, lidah istrinya ini lidah kampung. Hahaha.

Masakan khas Arab juga patut dicoba. Hidangan Timur Tengah dan sekitarnya tak sulit ditemukan. Mulai dari aneka kebab daging segar khas Turki, masakan ayam bakar ala Pakistan-Afganistan, nasi kari ala India atau berbagai menu lebanon.

Gambar : islesgillian.com
Gambar : islesgillian.com

Masakan ala oriental juga bertaburan. Misalnya hidangan khas Cina, Jepang, Thailand maupun Filipina.

Jangan ragu-ragu, dijamin kehalalannya oleh pemerintah setempat. Tidak perlu capek-capek cek label halal :P. Meskipun beberapa teman saya ada yang tetap ‘berkeras dan menganggap pemerintah Saudi ‘tidak terlalu disiplin’ dan label halal mudah dipermainkan. Di masa kini, apa sih yang tidak bisa dibeli? Jangankan label halal, harga diri pun mudah tergadai dimana-mana.

Untuk urusan kehalalan makanan di Saudi prinsip saya, sih, hidup jangan dibuat susah. Kita ikhtiar semampunya. Pemerintah berani menjamin berarti tanggung jawab pun siap mereka tanggung. Mari menikmati

***

Di Jeddah, urusan perut memang terbilang memuaskan untuk para perantau dari tanah air. Biaya hidup secara umum yang tergolong murah membuat saya sempat enggan untuk pindah. Kesempatan emas untuk mengkatrol angka tabungan seoptimal mungkin hehehehe.

Materi memang penting. Tapi tentunya kita semua sepakat, PENGALAMAN adalah hal yang tidak mungkin terbeli oleh uang. Tiap tempat pasti punya keistimewaannya masing-masing :).

Travel! You will find a replacement for what you leave behind,

And strive! Because the joy of living is in striving.

– Imam al-Shafi’i-

foto traveling

Resep Gulai Daun Kale enak

Sayur Kale : Resep Gulai Daun Kale (Pengganti Daun Singkong)

Resep Gulai Sayur Kale seperti apa rasanya? Ya kayak judulnya ituuuu…seperti daun singkong yang digulai! Enaaaakkk.

Pas acara kumpul-kumpul 17 belasan di Dublin beberapa bulan lalu ketemu Mbak Nayu. Mbak Nayu ini doyan masak ya saya tanya saja, “Mbak, tau Curly Kale gak? Itu enaknya diapain yah, biar cocok sama lidah Indonesia kita.”

“Lah, itu daun kale namanya. Rasanya persis kayak daun singkong. Digulai saja kayak biasa.”

“Ha? Masa sih?”

Sayur Kale : Resep gulai daun kale pengganti daun singkong
Gulai Daun Kale (pengganti daun singkong)

Curly Kale ternyata bisa disebut Daun Kale, dimana saya juga baru tahu hahaha.

Sering banget melihat si daun sayur Kale ini di sini, pas diskon saya pernah beli banyak-banyak. Tanpa diskon pun harganya juga enggak mahal-mahal amat dan banyak dijual di mana-mana. Tapi bingung mau dimasak apa. Pernah saya tumis sesuai petunjuk resep via Google. Rasanya kurang, euy :(. Tapi kalau dimasukin ke jus ya enak-enak saja :D.

Benar dong, pas saya cari-cari di google pakai kata kunci ” Sayur Kale ” baru deh keluar tuh semua infonya. Memang, Daun/ sayur Kale ini saudara kembarnya si daun singkong. Tapi penampakannya bagaikan bumi dan langit. Gak ada mirip-miripnya -_-. Mungkin kembar beda telor hahaha *krik,krik,krik*.

Suami saya itu doyan banget sama yang namanya gulai daun singkong. Tapi di mana pula nyari daun singkong dimari :p.

Begitu tahu si sayur Kale ini punya citarasa 11-12 dengan daun singkong, yang saya cari ya resep gulai daun singkong. Dan ke mana lagi mencari selain ke blognya Mbak Diah Didi atau ke Mbak Endang :D. Nemunya di blog Mbak Endang (Just Try and Taste itu lho :D). Ini ya resep aslinya :D.

Saya tulis ulang di sini karena saya pakainya daun kale dan ada bumbu-bumbu lain yang kebetulan habis jadi saya sesuaikan sendiri. Daun salam sih sudah pasti skip terus, belum pernah nemu di sini :(. Kebetulan juga lengkuas lagi gak ada. Terus takaran bumbunya juga suka-suka saya aja :p. Tapi rasanya sih tetap enak ^_^. Setidaknya saya dan suami makannya rebutan! Hahaha :p.

Buat yang Food Combining, ini memang bukan menu ideal. Tapi boleh kok disantap pakai tempe goreng + sayuran segar lainnya. Saya potongin timun dan tomat segar sih kayak biasa ;). Tetap endeus rasanya <3.

Sayur Kale : Resep Gulai Daun Kale (Pengganti Daun Singkong)

Bahan

1. Sebungkus Daun Kale yang direbus sampai halus. Kira-kira 200-300 gram.
Catatan :Cobain saja. Kalau sudah tidak liat berarti sudah halus :D.

2- Cabe besar sekitar 3 biji.
Catatan : Warnanya random nih di sini, ada yang kuning ada yang orens ada yang merah hahaha :p.

3- Bawang merah besar setengah biji
Catatan : di sini adanya bawang merah yang hampir segede kepalan tangan orang dewasa

4- Bawang putih 2 siung
5- Ketumbar halus (kira-kira hampir satu sendok makan)
Catatan : Saya jarang beli ketumbar butiran, enggak punya ulekan 😀

6-  Jintan halus (kira-kira setengah sendok
7 – Kunyit halus (kira-kira hampir satu sendok teh)
8- Jahe secukupnya
9- Batang Serai, karena kecil saya pakai 2.
10- Daun Jeruk 3 lembar
11- Garam dan gula pasir, kombinasikan sesuai selera
12- Kaldu blok, saya cuma pakai secubit seukuran setengah kuku jari. Pakai dikit saja sudah pengaruh kok ;).
13- Merica secukupnya
14- Santan cair
15- Air kira-kira 2 gelas belimbing atau disesuaikan

Cara Membuatnya :

1- Daun kalenya sudah saya potong-potong sebelum direbus. Saya buang batangnya yang besar-besar. Direbus dengan air garam sesuai dengan resep aslinya :D. Setelah teksturnya halus, buang air rebusan. Sisihkan.

2- Karena saya pakai mayoritas bumbu dalam bentuk bubuk, yang dihaluskan hanya bawang merah, bawang putih, jahe dan cabe besar. Saya nguleknya di talenan kayu :p. Setelah halus, saya campur ke dalamnya bumbu-bumbu bubuk (ketumbar, jintan, dan kunyit).

3- Tumis campuran bumbu tadi sampai harum. Lalu masukkan, sereh + daun jeruk. Aduk-aduk sedikit sampai bercampur dan baunya keluar semua.

4- Lalu masukkan daun kale yang sudah direbus tadi. Aduk-aduk bentar.

5- Tambahkan air, didihkan.

6- Masukkan gula, garam, merica, kaldu blok, dan santan. Tunggu sampai mendidih lagi sambil diaduk-aduk. Koreksi rasa. Kalau sudah oke, matikan apinya. Siap disantap :D.

Ini dia nih hasil akhir dari resep gulai sayur Kale :D. Bagi yang tinggal di daratan Eropa, setidaknya kita (eh saya aja kali yang baru tahu) nyadar ternyata ada alternatif lain  menikmati gulai daun singkong. Mari makaaaaaannnn ^_^

Sayur Kale : Resep Gulai Daun Kale enak
Gulai Daun Kale