Global Citizen?

“Anak saya lahir di kota anu, gedenya di kota onoh. Itu anak pertama. Yang kedua beda lagi tempat lahirnya. Sekarang lagi sekolah di negara ngunu. Ya kami ini sudah seperti global citizen gitu, deh…”

Saya mencibir dalam hati, “Idih, sok bener!” –> sirik tanda tak mampu sebenarnya hahaha. Padahal dalam hati pengin tuuuuuhhh :p.

Waktu masih bekerja, sekitar 8 tahun lalu, saya daftar training dari kantor. Kantor yang ini emang keren. Tiap karyawan di-encourage untuk meningkatkan personal skill. Jadi banyak tuh training model pengembangan karakter pribadi bla bla bla yang bisa kita pilih ^_^.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi itu sih alasan nomor 3. Alasan pertama ya pengin magabut sih sekali-sekali hahahaha. Alasan nomor 2, ya pengin ngerasain makan-makan enak gratis di hotel bintang 5 :p. Kapan lagiiiiiiii :D. Mayan kan, dari sarapan sampai makan siang. Belum lagi dapat snack 2x :D.

Yang ngomong tadi tuh salah satu trainernya. Presentasinya enak banget. Bikin kita enggak ngantuk ^_^.

Enggak hanya pas presentasi, waktu ‘snack time’, trainernya bincang santai dengan kita-kita (peserta training), ngobrolnya juga lepas dan seru. Saya lebih banyak mendengarkan sambil sibuk ngabisin kue-kue cantik yang endes-endes plus penampakannya ‘mahal’ yang sudah pasti gak bakal kebeli di luaran *ngunyahFruitCakeLucuLucu*.

Di situ pertama kali kepikiran tentang “global citizen”. Walau setelah googling barusan, definisinya sih tidak seperti itu hehe.

Yang terbayang oleh saya yang memang dari kecil kepengin banget ngerasain yang namanya nemplok di sana sini, ‘global citizen’ itu memungkinkan kita jalan-jalan dan tinggal di mana pun kita mau. Karena sering berpindah tempat, otomatis kemampuan beradaptasi jadi makin tokcer.

Belum lagi pengalaman bertemu orang banyak dan melewati hari-hari dengan berbagai perbedaan. Seru kan, kan, kan. Makanya buat saya, yang enak tuh BERMUKIM di luar negeri. BUKAN BERLIBUR :D.

pixabay travel bag and passport

Kalau liburan bedaaaaa. Dengan waktu terbatas, kita akan lebih sibuk mikirin mau jalan-jalan ke mana dan makan-makan di mana gak sih? Hehehe. Plus mau belanja oleh-oleh di mana hahaha :p.

Dulu sih saya mikirnya sekolah atau kerja sekalian aja ke luar negeri. Kan ceritanya masih single. Mana tahu ketemu jodoh di sana. Sama-sama orang Indonesia atau orang bule juga gak apa deh. Nanti cari yang punya mimpi yang sama. Berdua deh kita merajut mimpi mengarungi dunia yang luas ini bersama anak-anak kelak *tsaaaaahhh*.

Tentu saja, mimpinya gagaaaaaallll hahahaha.

Tapi ya Tuhan kadang punya cara sendiri menjawab doa-doa kita. Mimpinya terjawab tapi caranya yang tidak terduga ;).

Kalau dulu inginnya jalan-jalan cantik bawa tas atau laptop pakai mantel modis aneka warna aneka model plus sepatu boot sambil nenteng buku mau selfie-selfie di perpus kampus. Pan ceritanya mahasiswi hahaha.

Sekarang mah, jalan-jalan rempong bawa bayi komplit sama strollernya pakai mantel murah meriah pakai sepatu keds biar nyaman ngejar bocah-bocah hahaha. Yang penting judulnya tinggal di luar negeri toh yaaaaa :p.

Mission (still) accomplished ^_^.

Tiga anak saya, lahirnya di Indonesia-Arab Saudi-Irlandia. Life seems perfect hingga akhirnya ….. berurusan dengan visa! Huhuu -_-.

Ternyata, tidak mudah dan sungguh berliku jalan yang harus ditempuh sebagai pemegang paspor hijau tua yang sekarang berubah warna jadi biru tosca :D. Lebay? Lah ya emang begonoh huhuhu.

Apalagi  buat suami ya yang pekerjaannya sekarang menuntut dia untuk sering-sering bepergian ke berbagai negara. Rangkaian drama-ngurus-visa ala suami sudah pernah saya rangkum di tulisan yang lain :D.

Baca : Balada Visa

Sekilas sih rasanya kan cuma urusan administratif bla bla bla. Tapi itu lumayan menguras waktu dan kesabaran, lho. Apalagi kalau ditanya-tanya enggak penting dan lama pula. Pernah juga ditanya penuh selidik yang bikin kita mau enggak  mau jadi baper. Kita? Gue dong kaleeeee hihihi.

Sering juga kondisi kedutaan negara lain itu minimalis banget. Enggak disediain kursi misalnya huhuhu. Tempatnya mungil jadi harus desak-desakan.

Atau yang ngantrinya kayak ular. Buang-buang waktu dan tenaga. Belum deg-degannya harus nungguin apakah visanya disetujui atau tidak. Karena ini berkaitan dengan tiket misalnya. Sialnya, kadang untuk apply visa harus booking tiket dulu.

Sering juga kita ngiler jalan-jalan ke negara lain karena iming-iming tiket murah yang harus dibooking di waktu-waktu tertentu. Duitnya sih ada tapi galau urusan visa sudah kadung menghantui. Apa gunanya tiket murah kalau visanya gagal? Ya toh ya toh ya toh *bantingDompet*.

Untuk mengurus visa juga biasanya butuh segabruk surat-surat dokumen ngana ngunu. Belum lagi saldo minimum tabungan seolah jalan-jalan hanya untuk orang tajir aja huhuhu. Maksudnya sih baik, untuk memastikan kita bukan mau mengemis ke negara orang lain misalnya ya hahahaha :p.

pixabay passport

Kasus lainnya kalau ketemunya pakai perjanjian dulu. Di mana dapat jadwal perjanjiannya masih lama sementara kita butuhnya buru-buru. Makanya suami pernah juga gagal assignment karena enggak keburu waktu ngurus visa huhuhu.

Wajar kalau selama merantau suka iri dengan pemegang paspor Negeri Jiran. Mau ke UK kek, ke Schengen kek, tinggal angkat koper. Sementara Irlandia sini masuk Schengen juga kagak! Ke UK pun harus mengemis visa yang harganya tidak murah, termasuk untuk anak bayi! *pingsan*.

Jadiiiiii, kalau ada orang Indonesia yang nekat melanggar aturan DUAL NATIONALITY alias tidak boleh berkewarganegaraan ganda tidak semata-mata karena tidak cinta Indonesia lagi atuh lah ;).

Serba salah jadinya, ya. Kalau mau  jujur, ya harus melepas kewarganegaraan Indonesia. Tapi nanti dituduh tidak nasionalis bla bla bla. Kalau mau ‘aman’ ya sembunyi-sembunyi punya 2 paspor. Tapi nanti gagal jadi menteri hihihihi :p. Sungkem dulu sama Pak Archandra :D.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ada juga negara yang lebih ketat. Misalnya Singapura. Kita hanya bisa apply paspor Singapura setelah menunjukkan secara sah kalau kita tidak lagi terikat dengan negara lain. Tapi lebih banyak negara yang tidak masalah dengan dual nationality. Sayang sekali, Indonesia masih belum boleh :(.

Resiko melepas kewarganegaraan Indonesia ya ada juga sih. Apalagi kalau kita punya banyak investasi di tanah air. Bisa ‘hangus’ deh hasil kerja keras minimal pasti ada problem sedikit banyaknya. Duh, kirain cinta tanah air ya ternyata alasannya kapitalis bener, enggak jauh-jauh dari duit hahaha.

Eniwei, jadi begitulah. Teorinya sih kita pasti diharapkan punya jiwa nasionalisme bla bla bla. Lah, memangnya kalau ganti paspor otomatis ‘berkhianat’ gitu? Kehidupan sehari-hari susah deh kalau mau dipilah jadi hitam atau putih doang :).

Buat yang lagi bermukim di luar negeri, makanya jangan seperti kacang yang lupa pada kulitnya lah. Giliran mudik, yaelah, menggerutu kiri kanan di medsos betapa macetnya Jakarta betapa kumuhnya betapa kotornya, beginilah begitulah. Betapa kerennya negara tinggal mereka sekarang, pokoknya mendadak Indonesia terlihat bagaikan neraka hehehe.

Culture shock itu wajar, kok. Saya juga merasakan. Tapi tidak harus ditumpahkan ke publik semua kan. Komentar seperti itu malah ‘melemahkan’. Apalagi kondisi sekarang yang makin ruwet pasca Pilpres. Efek negatif masih melayang di mana-mana :(. Dikit-dikit salah pemerintah, dikit-dikit salah pemerintah :p.

Macam negara ini dikendalikan sama segelintir orang saja. Padahal seluruh anak negeri adalah bagian dari proses perbaikan sebuah bangsa. Termasuk yang lagi melipir ke negara lain lho ya :p.

Sebagai orang yang tinggal jauh dari tanah air, kita seharusnya lebih cocok menjadi ‘wasit’ :). Melihat dari kacamata orang ketiga. Jangan malah jadi provokator. Kalau memang sulit memuji ya minimal diam saja, yes? ;).

Becoming ‘global citizen’ or whatever it might be called, tidak berarti harus patuh pada satu aturan hidup di daerah tertentu. Oh c’mon, mana ada sih tempat di dunia ini yang hanya menawarkan yang enak-enak semata.

Justru dengan menjadi ‘global citizen’ jadi belajar dengan pemahaman. Bahwa memahami itu beda dengan MENERIMA. Kita bisa memahami perbedaan dan tidak terganggu karenanya dengan tidak perlu menjadi bagian dari hal-hal yang berbeda itu. Nggg..bener gak tuh nulisnya. Belibet gini hahaha.

Sebaliknya, kita juga tidak bisa memaksa soal kesetiaan atau apalah-apalah ini. Hanya akan optimal jika semunya didasarkan kerelaan bukan tuntutan :).

Seperti kita enggak patut memaksa orang Indonesia kudu pegang paspor Indonesia doang. Macam pesan Sutan Syahrir yang ini nih :

“Kita hendak bekerja atas dasar kemerdekaan jiwa orang, atas dasar kerakyatan, atas dasar sukarela, mufakat dan kerjasama, dan tidak dengan paksaan seperti yang telah dilakukan di negeri-negeri totaliter dan diktatur itu.”
– Sutan Syahrir.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Mengutip doa dari Pak Menag di istana saat perayaan 17 Agustus tahun ini :

“Allah, Tuhan penebar kedamaian.

Jadikanlah peringatan proklamasi kemerdekaan sebagai momentum merekatkan persatuan.

Jauhkanlah kami dari perselisihan, permusuhan, dan perpecahan.
Kuatkanlah ikatan diantara bangsa kami agar saling menyemai kedamaian, saling menjaga kerukunan, saling menyokong kemajuan.

Eratkanlah tali silahturahim antar kami agar saling memelihara persaudaraan sekaligus saling mengingatkan dalam kebaikan.”

Aamiin ya rabbal aalamiin.

Selamat ulang tahun ke-71 untuk Republik Indonesia.

Dirgahayu tanah air tercinta <3.

Social Alibi

“Kalo gue, lulus kuliah, langsung kawin! Terus punya anak.”

“Nikah.”

“Ya kawin pan nikah jugak.”

“Kalo gue, mau kerja dulu. Mau puas-puasin dulu berkarier. Ke luar negeri kalau perlu.”

“Keburu tua, susah cari suami.”

“Ah, bisa operasi plastik kalau punya banyak uang. Makanya kerja. Punya uang banyak.”

“Nikah cepat. Cepat punya anak. Umur 40, anak gue sudah 17 tahun. Gue jadi tante-tante yang masih cantik.”

“Hahaha. Kuliah capek-capek malah mau kawin.”

“Kuliah di tempat yang tepat untuk mendapatkan suami yang tepat.”

“Busyet”

“Hahahahaha.”

Itu salah satu percakapan saya dengannya di suatu hari saat kami sedang makan siang di salah satu kantin kampus. Kantin balsem, balik semak. Selain harganya yang murah-murah, kami berdua suka melihat beragamnya mahasiswa dari fakultas lain yang ikut makan di sana.

Dia selalu menertawakan niat saya yang dulu begitu lulus kuliah ingin segera menikah.

Gambar : jaksflowergirldresses.com
Gambar : jaksflowergirldresses.com

Salah satu persamaan kami adalah ketidaksukaan kami menghabiskan waktu berlama-lama di lab. Lab hanya kami kunjungi untuk mengerjakan tugas-tugas kampus. Padahal nama pun mahasiswi ilmu komputer yak hihihi.

Jadilah, lama kelamaan saya lebih sering pergi berdua dengannya.
Saat tak ada ujian, tak banyak tugas, kami duduk-duduk di balsem. Mengomentari orang-orang yang lalu lalang. Atau mencemooh dengan penuh dengki mahasiswi cantik yang berpenampilan keren yang nampak dikerubutin cowok-cowok.

“Genit sekali.”

“Tapi bajunya bagus, ya. Lihat deh, pinggulnya ramping banget.”

“Tapi genit, ah.”

“Iya, ketawanya dibuat-buat.”

Hahaha. Sirik tanda tak mampu memang 😀.

Dia jauh lebih santai dalam urusan belajar, dibanding saya. Tapi kami berdua wisuda bareng. Berfoto bersama dengan toga, tersenyum lebar-lebar dengan lipstik merah menyala, tepat di hari sabtu minggu ke-3 di bulan september 2002.

Biarpun tak suka menghabiskan banyak waktu di depan komputer kami menepati janji kami untuk wisuda setelah 8 semester terlewati. Saya mau kawin. Dia mau kerja. Hahaha.

Gambar : rtf.com
Gambar : rtf.com

Tapi kenyataan memang lain. Bulan April tahun yang sama, saya sudah bekerja setelah terlebih dahulu menyelesaikan tugas akhir dan menyematkan S.Kom di belakang nama saya. Bukan sarjana kompor, yeee 😛.

Saya menunggu 6 bulan untuk pemasangan toga secara legal, gagal memenuhi ambisi wisuda di bulan februari.

Tak ada foto berdua dengan lelaki berjas yang menggenggam sekuntum mawar di sebelah kami. Kami sama-sama mengakhiri masa-masa di kampus dengan status jomblo.

Malah, dua tahun setelah lulus, saya masih melewatkan malam minggu dengan menonton apa saja yang bisa ditonton di dalam TV dalam kamar kos, dia sudah berbicara soal pernikahan.

Iya, dia menikah dua tahun lebih dahulu daripada saya, yang bercita-cita memiliki anak berusia 17 tahun saat saya merakayakan ultah ke-40. Hehehe.

Sebulanan sebelum timeline pecah gegara anak Pak Ustaz nan ganteng memutuskan menikah di usia 17, saya sudah sering memantau instagram seorang perempuan muda.

Perempuan ini baru saja lulus kuliah S1 jurusan psikologi. Anak seorang politikus partai biru itu lhooo hehehe. Instagramnya rame banget. Kirain kenapa. Ternyata, dese hits karena memutuskan untuk langsung menikah pas lulus SMA.

Cukup WOW kan untuk ukuran alay terkini hehehe. Ah, jadi ingat cita-cita saya yang kandas untuk kawin muda huhuhu :p.

Anak itu cantik banget. Sembari berjuang menyelesaikan skripsi, dia ternyata sudah hamil anak kedua. Anak pertamanya juga lucu menggemaskan, sering dibawa ke kampus menemani orang tuanya. Suaminya juga kalau gak salah masih muda banget.

Banyak banget komentar mupeng di instagramnya si embak itu 😀. Mana adek laki-lakinya ganteng banget ‪#‎ehGimana‬ hahahaha :p. Suaminya sih biasa aja :p. Sungkem ya Uda, jangan baper :p.

Banyak juga komentar yang nyinyir, “Yaela, dia kan anak orang kaya. Kawinnya juga sama anak orang kaya. Tinggal bobok-bobok cantik juga semua sudah tersedia.”

Sebenarnya, sampai sekarang pun saya masih menganggap kawin muda itu keren sih hehehe. As silly as it sounds ya gimana, cita-cita saya itu duluuuuuuu :p.

Di lingkaran pertemanan sendiri, menikah muda tidak selalu berarti keren. Ada juga teman-teman yang menikah muda kemudian kandas. Tapi ada juga yang terbilang sukses.

Kayak teman saya yang baru saja saya datangi rumahnya kemarin hehehe. Halo Bundaaaaaa 😀. Makasih lho nyuknyangnya *elusElusPerut*.

Tetangga depan rumah banget pas di Jeddah. Surprais sekali bertemu anak sulungnya. Dulu pertama kenalan masih kelas 4 SD, masih kinyis-kinyis, masih suka berantem dengan adik-adiknya rebutan naik perosotan hahaha. Sekarang, sudah pakai seragam SMA!

She’s like living my dream. Walau dia nikahnya agak lebih cepet hehehe. Melahirkan anak pertama di usia 20 tahun, sekarang benar-benar kayak adik kakak dengan putri sulungnya <3.

Manalagi dese sukses program dietnya, turun sekitar 20 kg ya booooo 😉. Makin cantik dan makin kinclong. Bikin sirik ajeeeee hahahaha :p.

Menyesal dulu tidak berhasil menikah di usia muda? Enggak laaaaah 😀.

Selain calonnya emang enggak ada (hahaha), situasi dan kondisi ya begitulah. Tapi saya tetap kagum dengan mereka yang berani memutuskan menikah muda apa pun pertimbangannya <3.

Dulu saya sempat berusaha menghibur diri bahwa sebaiknya saya fokus mengejar mimpi ke luar negeri dulu. Via beasiswa atau tugas kerja atau semacamnya lah.

Enggak pernah kesampaian! Hahahaha.

Ya memang saya banyak maunya. Mau kawin muda lah, mau dapat kesempatan tinggal di luar negeri lah, mau inilah, mau itulah.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Iri sekali rasanya dengan teman-teman yang berhasil melanjutkan sekolah ke luar negeri :'(. Saya merasa saya kurang usaha. Lama-lama merasa ketuaan dan capek sendiri mikirinnya hihihi. Mending jalani sajalah. Kerja kantoran sambil nyari suami :p.

Kemudian akhirnya jodohnya datang juga dan singkat cerita anak pertama lahir saya memutuskan berhenti bekerja. Pas masukin surat resign, suami keterima kerja di luar negeri.

Begitulah akhirnya hingga 7 tahun terakhir ini, saya wara wiri di Iran-Arab Saudi dan sekarang di Irlandia. Sembari mampir-mampir di beberapa negara lainnya buat sekadar jalan-jalan.

Hidup kadang sukar ditebak <3.

Soal iri-irian dengan kehidupan orang lain ya makanan sehari-hari yaaaaa :p. Termasuk situ-situ yang ribet banget dengan isu anak Pak Ustaz yang ketemu jodoh di usia 17 tahun :p.

Cuma memang berita ini menjadi pukulan tersendiri buat para jomblo yang usianya sudah jauh di atas 17 tahun hahahaha. Sesuai dengan pendapat banyak teman, saya tidak setuju kalau pernikahan kok ya menjadi ajang balapan. Makin cepat makin bagus gitu?

Enggaklah. Kita-kita yang usia pernikahannya sudah mendekati satu dekade atau lebih, pasti sudah sangat paham…marriage is a huge thing. Super HUGE 🙂.

Jadi ya adik-adik, menikah itu bukan hanya sekadar pasang foto di instagram untuk menunjukkan betapa masih kencengnya kulit kalian saat anak-anak udah gede-gede (hahahaha).

Setelah menikah, masalah itu pasti adaaaaa aja. Akan datang sendiri. Maka jangan cari-cari masalah sebelum menikah, pastikan kalian menambatkan hati pada orang yang tepat di SAAT yang tepat.

Apalagi buat kita kaum perempuan nih. Halamaaaaak, tekanannya bisa atas bawah kiri kanan tuh :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Keputusan menikah jangan hanya karena tren atau karena diancam-ancam dengan dogma agama dan semacamnya. Atau karena sebal dinyinyirin melulu di media sosial? 😀.

“Don’t let marriage be your social alibi. Do it out of love” 😉

Tetap semangat buat yang masih sendiri. Heyyyy, jodoh siapa yang tahu kan? ^_^

Sabar yaaaaaaa…hahahaha :p.

***

Review bagus film Zootopia

Fear Always Works

Judy berteriak kepada Bellwether, “It won’t work!”

Bellwether menyeringai, “Fear always works!”

Sepenggal percakapan di atas salah satu dari final scenes menjelang ending film Zootopia. Yang belum nonton sungkem ya. Spoiler nih hehehe :p.

Zootopia sempat heboh di timeline pas baru dirilis. Ceritanya memang super. Sama seperti kebanyakan teman yang lain, saya pikir topik utamanya hanya tentang kelinci imut yang ngotot ingin membuktikan kepada dunia bahwa kemungilannya tidak akan menghalanginya mencapai cita-cita menjadi polisi.

Setelah beberapa kali kecewa dengan film-film Disney yang rada garing nan datar, Zootopia membuat saya kembali tergetar *tsaaaaah*, jadi inget ponsel jadul yang bisa digetar-getarin hahahaha :p.

Istilah Zootopia sendiri sungguh pas untuk menggambarkan kondisi kota Zootropolis, tempat di mana Judy ingin hengkang dan mengadu nasib setelah meninggalkan Bunny Burrow, daerah asalnya.

Review film Zootopia keren
Gambar : Forbes.com

Judy merasa Zootropolis sungguh keren karena di sana, berbagai macam binatang bisa hidup rukun dan damai dan siapa pun bisa menjadi apa pun. Hal inilah yang menginspirasi Judy untuk membuktikan dirinya bisa menjadi polisi. Indeed, Judy adalah kelinci pertama yang menjadi anggota kepolisian di Zootropolis.

Tetap saja, sulit menembus tembok stereotip. Judy hanya diserahi tugas remeh temeh di awal penugasan. Hingga akhirnya sebuah kasus yang awalnya disangka ‘ringan’, membuat Judy mendadak hits dan menjadi seleb di Zootropolis 😀.

Beberapa hewan berjenis predator mendadak hilang dalam jumlah cukup siginifikan di waktu singkat. Bla bla bla, akhirnya ketahuanlah kalau hewan-hewan predator ini mendadak menjadi ganas tak terkendali. Walikota Zootropolis, seorang Singa, sengaja menyembunyikan para predator yang mendadak kalap ini agar tidak membuat penduduk Zootropolis, yang mayoritas BUKAN predator menjadi panik.

Tapi akhirnya bocor juga dan beneran … Zootropolis gempar bukan kepalang!

Para predator dan hewan lain yang umumnya menjadi mangsa mereka, yang awalnya hepi-hepi aja gema ripah loh jenawi mendadak menjadi ‘dingin’. Hewan predator mulai dijauhi dan dikucilkan serta dicurigai.

Muncullah teori konspirasi *uhuk* bahwa hewan predator ini pada dasarnya memang beringas dan sampai kapan pun mereka tidak akan bisa menyembunyikan keberingasan itu. Bahwa para predator ini, somehow akan berusaha memangsa hewan lainnya, cepat atau lambat.

Seperti menertawakan kondisi dunia manusia dengan sindiran halus lewat pesan di film ini 🙂.

Otak dibalik ‘teori konpsirasi’ ini adalah Bellweather, seekor domba yang posisinya adalah asisten walikota. Bellweather sering diperlakukan semena-mena oleh si Walikota Singa. Dendam membuatnya terpikir merebut kekuasaan.

Dengan cara apa? Ya membuat teror dan menebarkan ketakutan. Seperti yang diklaimnya kepada Judy, “Fear always works!”

Bellweather menjebak beberapa predator dengan ramuan tertentu yang membuat mereka bisa lepas kendali dalam waktu sekejab.

Klop ya dengan pernyataan Yoda di serial Star Wars (dia lagi, dia lagi hahaha :p), “Ketakutan adalah sisi kelam dari seorang manusia. Karena rasa takut melahirkan marah. Kemarahan membuat kebencian tumbuh subur. Kebencian inilah yang mengakibatkan penderitaan.”

Review bagus film Zootopia
Gambar : pixabay.com

Melihat kondisi terkini di berbagai belahan dunia, teror ketakutan sedang merebak di mana-mana. Misalnya bom di bandara Istanbul tempo hari.

Iya, tanggal 28 Juni kemarin, sebuah bom meledak di sana dan menewaskan hampir 50 orang. Bom meledak di arrrival area sekitar 2 jam setelah saya dan keluarga meninggalkan tempat itu. Bomnya di sekitar pangkalan taksi pula. Haduhhh, langsung gemetar lutut saya waktu suami menenangkan ibu mertua yang panik dan langsung menelepon kami di hotel.

Saya sempat terpikir ingin memaksa suami membatalkan acara jalan-jalan kami selama 4 hari di sana. Pengin cepat-cepat reschedule jadwal pulang saja. Untunglah suami tetap ‘waras’ dan akhirnya jadi juga Ramadan-Trip di Istanbul tersebut 😀. Foto-foto nyusul ya hehehe :p.

Lalu terakhir, bom di Kota Madinah, walau korban tewasnya tidak sedahsyat di Bagdad, sempat menimbulkan ketegangan dan berbagai teori konspirasi. Hadeeeehhh *ngelapJidat*.

Situasi seperti ini, persis seperti yang digambarkan di Zootropolis tadi. Ketakutan sudah membuat hubungan merenggang, melahirkan kecurigaan komplit dengan teori konspirasi ini itu dan dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menuai keuntungan 🙁.

Lawan, ya, teman-teman 🙂.

Jangan terjebak dalam pusaran prasangka dan tetaplah berpihak kepada kemanusiaan dalam kejadian apa pun <3. Karena posisi kita sebagai manusia itulah yang menguatkan persamaan kita dan seharusnya mampu melemahkan banyaknya perbedaan yang ada.

Seperti pesan Judy :

“I thought this city would be a perfect place where everyone got along and anyone could be anything. Turns out, life’s a little bit more complicated than a slogan on a bumper sticker. Real life is messy.

We all have limitations. We all make mistakes. Which means, hey, glass half full, we all have a lot in common. And the more we try to understand one another, the more exceptional each of us will be.

But we have to try. So no matter what kind of person you are, I implore you: Try. Try to make the world a better place. Look inside yourself and recognize that change starts with you.”

Dunia utopis akan menjadi tempat yang sempurna di mana setiap orang bisa bersama dan menjadi apa pun. Kenyataannya, kehidupan sebenarnya lebih rumit daripada sekadar slogan-slogan manis ala meme-meme motivator hihihi 😀. Real life is messy.

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org

Kita semua punya keterbatasan. Pernah berbuat kesalahan. Semakin kita berusaha saling mengenal semakin banyak hal luar biasa yang bisa kita capai masing-masing.

Tapi KITA HARUS MENCOBA. Jadi, siapa pun kita, ayo saling menguatkan untuk menciptakan dunia ini sebagai tempat yang lebih baik dan layak.

Sekali lagi, lawan ketakutan kita. Runtuhkan ego kita.

Semoga ramadan tahun ini mampu menciptakan perubahan-perubahan lebih baik untuk kita semua. DI dunia nyata maupun di dunia maya, yes? 😉.

Remember, change starts with you <3.

Selamat hari raya Idul Fitri bagi teman-teman muslim di mana pun berada.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita semua. Aamiin, aamiin ya rabbal aalamiin.

***

Klasifikasi Hater

Ada sebuah artikel yang dishare teman di salah satu status saya di Facebook beberapa hari yang lalu. Linknya ada di bagian bawah tulisan ini, ya :).

Di artikel itu seorang komedian muslim di Amerika Serikat mengembangkan kampanye tertentu untuk melawan Islamophobia di sana.

Mbak-mbak komedian ini membagi kaum hater dalam beberapa kategori :

Gambar : wallpaperswide.com
Gambar : wallpaperswide.com

1. The Trolls : orang-orang yang memang khusus menghentikan kegiatan mereka yang lain untuk terus-terusan membuat/menyebarkan berita apa pun dalam bentuk “hate speech”.

Istilahnya, nyebarin kebencian ya memang kerjaan mereka sehari-hari 😉.

And yes, there’s nothing we can do about these people 😉. Leave them. But of course, a little prayer won’t hurt anyone, yes? <3

Ada pun kita yang kontra sebaiknya jangan malah ikut-ikutan share/komentar di kolom mereka. Kalau mau klarifikasi ya klarifikasi saja jangan ikut-ikutan ribut di sana. Itu hanya membuat mereka makin tenar ;).

2. Drive-by haters orang-orang yang berhasil dipengaruhi oleh para Troll-er tadi. Golongan ini tidak selalu frontal. Umumnya, mereka cenderung mengubah sikap dan perlakuannya terkait obyek yang di-hate.

3. The mission-oriented-bigot- whose-group-affiliation- gives-them-cover-for-hating hater. Yang ini dikendalikan oleh grup/afiliasi tertentu. Ya mereka enggak bakal terang-terangan menyebut diri mereka “Kami Pembenci Anu” misalnya. Tapi dibungkus dengan lebih rapi dan halus.

4. Swing-haters, ya mirip dengan swing voters. Mereka ya kadang-kadang benci kadang-kadang enggak. Hal ini lebih karena mereka tidak punya cukup informasi.

Nah! Tipe ke-4 Inilah yang merupakan target utama si embak-embak komedian muslim tadi 🙂.

Kalau si embak komedian membahas Islamophobia di US, sebenarnya ketakutan ini berlangsung 2 arah.

Gambar : getthelowdown.co.uk
Gambar : getthelowdown.co.uk

Sebaliknya, di beberapa negara mayoritas muslim, juga terjadi …mmm…apa ya istilah enaknya, barat-phobia? Hehehe.

Ada semacam ketakutan bahwa barat hendak menghancurkan Islam no matter what gitu lah. Ini sampai dikait-kaitkan ke ayat-ayat tertentu dalam Alquran 🙁.

“Barat” di sini mengacu kepada “western countries” (Eropa, Amerika Utara dan Tengah) plus Australia dkk. Umumnya, negara-negara maju di mana Islam bukan mayoritas.

Balik ke tipe ke-4 tadi yang dipicu oleh KETIDAKTAHUAN, tidak ada informasi yang cukup. Jadilah mereka terombang ambing antara, “Benci kagak nih, benci kagak ya? Ummm..benci apa gimana ya? Ngggg….” ya semacam itulah hehehe.

Seperti misalnya heboh pelarangan jilbab di Perancis tempo hari. Memang betul ada keterbatasan soal “berpakaian ala muslimah” di sana. Tapi ya tidak membabi buta, siapa pun yang masuk Perancis harus melepas jilbab -_-. Enggak gituuuuuu.

Demikian pula berbagai berita-berita yang bikin tekanan darah langsung melonjak dari berbagai belahan dunia :(. Kita hanya dapat sepotong-sepotong. Ditambah lagi emosi yang lebih dulu berbicara. Jadilah mngkin hater tipe 4 yang jumlahnya tidak sedikit.

Karena jelas tipe 1-3 itu ya sudah di luar kendali kita 😉. Tapi yakinlah, golongan 1-3 ini jumlahnya keciiiiiiil banget. Mereka terlihat gengges karena bacotnya aja yang kenceng hehehe.

Ya mungkin dari kedua belah pihak harus lebih banyak tukar menukar informasi, saling mendengarkan, saling berbagi hal-hal yang mungkin luput dan malah dimanfaatkan oleh Para Troll dkk untuk memantik api 🙁.

Lagi-lagi kutipan dari video embak-embak mantan CIA kudu dipajang dimari,

“Because as long as your enemy is a subhuman psychopath, that’s going to attack you no matter what you do, THIS NEVER ENDS.
But if your enemy is a policy, however complicated, THAT WE CAN WORK WITH.”

Selama kita memilih untuk percaya bahwa ada kaum tertentu yang akan menghabisi Islam no matter what we do, THIS NEVER ENDS.
Tapi jika yang mengganggu kita lebih karena kebijakan-kebijakan tertentu, walau serumit apa pun, THAT WE CAN WORK WITH <3.

Tonton video singkat dengan pesan keren dari embak mantan anggota CIA ini di akun fanpage AJ+ di Facebook ;).

Anway, beberapa waktu lalu, kru Trans7 datang khusus ke Republik Irlandia untuk meliput Islam di sini. Inilah videonya. Sila dilihat sendiri bagaimana kondisi Islam di salah satu negara paling barat di Benua Putih ini 🙂.

https://www.youtube.com/watch?v=Xl5Y89_JRjI

Kalau ada kuota lebih, mari ditonton videonya. Tayangan ini sudah diputar di Trans7 edisi Kamis 16 Juni kemarin. Sayang nih belum ketemu video yang kualitasnya lebih bagus :(.

Jangan membatasi diri kita sendiri. Membangun tembok-tembok pembatas untuk mempertegas betapa berbedanya kita dengan “mereka di luar sana”.

“We build too many walls and not enough bridges.” -Isaac Newton-

Baca : When We Build Too Many Walls

Robohkan dindingnya. Bangunlah penghubung dan seberangi ketakutan-ketakutan dan ego kita sendiri. Again… you’ll be surprised 😉.

Selamat melanjutkan ibadah puasa ya teman-teman <3.

Artikel “A highly Scientific Taxonomy of Haters” bisa dibaca di sini :).

Balada Visa

“Apakah Anda pernah terlibat kelompok terorisme?”
“Apakah Anda punya kemampuan merakit bom?”
“Apakah Anda berencana untuk melakukan tindakan berbau terorisme saat berada dalam wilayah United States nanti?”

Saya sampai ngikik-ngikik pas diceritain. Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah contoh dari isi form yang harus dijawab oleh setiap applicant saat suami saya mau apply visa kerja ke US (sudah diterjemahkan secara bebas :p).

Ya kaliiiii ada yang bakal jawab “IYA” untuk pertanyaan-pertanyaan kayak gitu hahaha.

Yoih, setelah libur sekitar setahun dari assignment di luar negeri buat nemenin Maknyak yang abis lahiran, sekarang harus back to work lagi.

Ya emang harus gitu dong ya :p. Kerja, kerja, kerja –> contoh cebong yang menyesuaikan tagline ke dalam hidup sehari-hari #eaaaaa hahaha :p.

ayo kerja ganteng gak cukup

 

Drama visa bukan pertama kali, sih, ya. Karena intensitas traveling yang cukup tinggi. Rata-rata juga mintanya bukan sekadar visa turis. Tapi visa kerja. Maklum ya, paspor hijau tua (eh, sekarang sudah biru dongker yak) memang kurang maknyus dipakai traveling :p.

Pakdeeee, apa kabar janji dual-nationality? :(.

Paling epik ya waktu ngurus visa kerja ke Swiss. Baru tahu kalau Swiss itu tidak termasuk Uni Eropa. Bahkan warga negara di wilayah Uni Eropa mau ke Swiss urusan kerjaan pun harus apply visa kerja.

Masalahnya, di Republik Irlandia tidak ada kedutaan Swiss. Kalau mau apply visa ke sana harus numpang ke kedutaan Austria. Tapi itu hanya untuk visa turis saja. Untuk visa kerja harus langsung ke Kedutaan Swiss.

Kedutaan Swiss paling dekat tuh ya di London!

Sementara untuk ke London, suami saya harus apply visa UK dong, ya. Hahaha. Gitu aja deh kerjaan saban mau assignment. Keriting ngurusin visa -_-.

Ngurus visa UK ya ribetnya jangan ditanya. Nunggu visa selesai bisa 3 minggu. Sementara ke London-nya cuma 2 hari saja. Khusus untuk ngurus visa kerja di Kedutaan Swiss doang.

Itu kantor suami saya ngabisin berapa duit ya buat bayar-bayarin visa karyawannya hahaha. Soalnya di tim suami yang memang banyak bepergian ke mana-mana, isinya rata-rata warga negara Indonesia dan India. India sendiri kan nasib paspornya 11-12 dengan Indonesia :D.

Kehamilan ke-3 sempat melewati beberapa minggu di Swiss
Kehamilan ke-3 sempat melewati beberapa minggu di Swiss

Yang bikin ‘seru’ karena episode Swiss diwarnai oleh Maknyak yang lagi hamil muda dan lagi gengges-genggesnya hihihi. Lemas boooo. Anak pertama, kedua dan ketiga, sapu bersih deh drama hamil mudanya :D.

Karena suami assignmentnya sampai 3 bulan jadilah saya dan anak-anak juga diangkut. Sudah sering baca kan cerita jalan-jalan ala Swiss tahun lalu tuh ;). Makanya, harus ngurus visa juga.

Kami tinggal di Athlone, tapi ngurus visa harus ke Dublin. Karena kondisi saya masih “begitulah” penginnya sih kita berangkat bareng. Btw, saya dan anak-anak pakai visa turis saja. Jadi bisa ke Dublin enggak perlu rombongan ke London.

Pas mau bikin appointment di Kedutaan Austria di Dublin, alamaaaak, ngantrinya lama bener. Sampai sebulan! Nangis, deh. Sementara suami sudah diharapkan pergi secepatnya.

Akhirnya saya ngasih usulan ke suami, gimana kalau minta tolong ngurus bareng visa sekeluarga di London tapi pakai perwakilan. Jadi, saya dan anak-anak enggak perlu ikut. Jelasin saja kondisinya. Ya mana tahu mereka mau ngerti ya kondisinya.

Rezeki bumil salehah *benerinKerudung*, perwakilan Kedutaan Swiss di London … setuju!

Begitulah drama yang terjadi sebelum kita piknik beramai-ramai selama hampir 2 bulan ke Swiss. Kata suami, “Piknik mbah-mu. Kerja iniiiiiiiii…” Hahaha. Pan situ yang kerja, Bang :p. Kita mah piknik, ya kan anak-anak? Hahaha. Sampai bolos 5 minggu di sekolahan.

What a memory ya :). Itu yang bikin gara-gara, yang tadinya dalam perut, sekarang udah kayak gini niiiiiii *ciyumAdekBayi*.

aimar kompilasi 4 bulan

 

Tapi ada beberapa negara yang memang cukup “ramah” terhadap warga negara Indonesia. Seperti misalnya Chile dan Turki. Cukup dengan Visa on Arrival ^_^.

Balik ke balada visa US tadi. Walau pertanyaannya dalam form rada-rada lucu-gimana-gitu-bete-kagak-kesel-iya, ternyata pas diwawancara di kedutaan lebih santai. Visanya juga langsung di-approve. Mungkin karena “nama kantor”. Karena kan pakai referensi dari kantor, ya.

Yang dikeluhkan suami paling karena wawancara dan ngantri di Kedutaan US (di Dublin) tuh serba berdiri. Untung katanya suami cepat datangnya. Enggak berapa lama setelah datang, antrian yang tadinya cuma 2-3 orang tahu-tahu mengular sampai ke pintu depan.

Oiya satu lagi nih yang sempat bikin panik yaitu status suami yang pernah bermukim di Arab Saudi dan Iran. Especially Iran, ya. Jadilah itu sempat heboh ngumpulin segala macam dokumen terkait status kerjaan di kedua tempat itu.

Takut disangka agen ganda ya, Bang? Hahaha. Situ James Bond? :p.

 

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Tapi kok ya kalau suami mengeluh soal ribetnya mengurus visa ini terasa jadi kurang bersyukur ya :(. Ngggg…iya sih, urusan dokumen-dokumen beginian saya orangnya pemalas dan clumsy hahaha. Suami yang handle masalah beginian :p.

Maksud saya begini, ngurus visa ya paling menguras waktu berapa lama sih? Pengorbanannya juga ya tidak seberapa. Toh kalau bolak balik Dublin juga transport segala macam diganti kantor. Berapa orang yang bisa bolak balik traveling ke mana-mana tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri? :).

Jadi deh saya suka menceramahi suami panjang lebar kalau dia ogah-ogahan mau berangkat assignment, “Udah deh kita tukeran saja! Situ jaga anak, gue yang gantiin di kantor!” –> kayak bisa aja! Hahaha :p.

But seriously, saya kan memang sering cerita ya di berbagai postingan kalau saya ini kepengin  banget keliling dunia. Terus terang kalau untuk liburan 3-5 hari bahkan seminggu saya tidak terlalu ingin.

Lebih seru kalau bermukim atau misalnya urusan pekerjaan. Training lebih dari semingguan  misalnya. Karena kita jadi punya waktu berinteraksi dan menjadi bagian dari penduduk setempat kan? Merasakan naik angkutan umum buat ke tempat training misalnya :). Ikut berpacu dengan ritme kerja orang setempat.

Kalau liburan mah, pasti yang dipikirin mau nginep di hotel mana dan mau jalan-jalan ke mana. Makanya pas ke Swiss tempo hari, bisa tinggal sampai hampir 2 bulan tuh priceless banget. AKomodasi gratisan dari kantor pulak hahaha.

Makanya Bang, nikmat TuhanMu manakah yang kau dustakan? ;).

Tetap semangat ya buat Pops yang jelang mudik di awal Ramadan pula harus angkat koper ke negara lain :D. Again…kerja, kerja, kerja :p.

Kan jadi bisa ngerasain Ramadan di negeri orang ^_^. Nambah pengalaman nambah wawasan, mudah-mudahan nambah pemahaman. Penting banget tuh buat modal hidup lebih baik ;).

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.”
― Marcel Proust

Enjoy your new experience, Pops ^_^.  Baru pertama kali pula ke US kan, kan, kan ;). Break a leg dan jangan lupa oleh-olehnya #eaaaaaaa :p.