Why (Not) Hillary?

Mayoritas teman di linimasa masih “syok” dengan kemenangan Trump. Di Facebook ya maksudnya. Maklum nih, media sosial saya yang aktif hanya Facebook doang hahaha.

Apa mungkin karena selama ini kita terlalu fokus dengan acara “badut-badutan”nya Trump hehehe. Karena ini, terasa banget bahwa lawannya, Hillary Clinton, sangat layak untuk menang.

hillary

Faktanya, angka golput lumayan tinggi. Hampir 50%. Sebelum-sebelumnya juga sudah sering orang mengeluh betapa pemilihan presiden US tahun ini seperti buah simalakama. Salah satunya oleh Nouman Ali Khan yang mengistilahkan dengan “Evil vs Insane.”

“Evil”nya siapa? Ya Hillary Clinton itu hehehe.

Coba kalian cermati rekam jejak Hillary Clinton dan beralih sedikit dari konyolnya Trump 🙂. Mungkin maki-makian kalian ke Trump bisa lebih direm jadinya 😀.

Masih ingat dengan hangatnya perdebatan LGBT beberapa waktu lalu. Kalian sadar tidak sih kalau Hillary menjanjikan pelegalan pernikahan bagi kaum LGBT di mana Trump justru menolak? .

Beberapa teman saya yang begitu keras menolak pelegalan isu pernikahan LGBT dan isu seputar itu justru kini sangat gencar mendukung Hillary di Pilpres US 2016 ini.

Hillary hendak melegalkan aborsi bahkan saat janin sudah berada di trimester ke-3? Hillary mendukung perempuan atas hak mereka terhadap tubuh mereka sendiri. Tindakan yang dianggap sebagai gerakan “Feminazi” JUSTRU oleh sebagian kalangan perempuan.

Kedua isu ini dijadikan oleh beberapa kalangan misalnya “Nasrani konservatif” untuk memengaruhi orang dan menolak Hillary sebagai Presiden di ajang Pilpres.

Itu baru riak-riak kecil. Tuduhan lebih “medium”, Clinton memanipulasi hasil pemilihan internal Demokrat di mana seharusnya Sanders lah yang menang. Hal ini membuat tidak sedikit dari pemilih Demokrat ikutan bete. Karena banyak yang yakin justru Sanders lah yang lebih mampu menjegal Trump.

“Puncak”nya mungkin beredarnya bukti soal dukungan Hillary Clinton saat menjadi senator di tahun 2002 terhadap tindakan bersenjata di Irak yang menjadi salah satu perang paling kontroversi di seluruh dunia.

Kalian jangan mengira “western people” tidak habis-habisan mendemo Perang Irak ini lho ya. Termasuk warga US sendiri. Itulah makanya Hillary di ujung tanduk saat Wikileaks merilis bukti keterlibatannya di Perang Irak.

Sampai sekarang, siapa pun yang terbukti menyetujui serangan militer ke Irak di tahun 2002 itu, bisa menerima hukuman publik yang tidak sedikit.

Not mention, “peran” Hillary yang dianggap tidak kecil dalam konflik Libya dan Suriah.

Teman-teman, kalian sadar kan ya apa yang terjadi dan kini masih berlangsung di kedua negara tersebut? . Hillary is a part of it.

Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)
Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)

Sekaligus menjadi bukti nyata bagi kalian, masyarakat US pun menyesalkan intervensi pemerintah mereka di berbagai wilayah Timur Tengah. Mungkin begini cara mereka “menghukum” dan menunjukkan ketidaksukaan mereka pada politikus yang doyan “main tembak-tembakan.”

Tuh, pada dasarnya kita ini sejalan di banyak hal. Berhentilah berkutat di teori konspirasi nganu-nganu .

Secara penampilan, Hillary memang cerminan politikus sejati. Tenang, berwibawa, pandai berkata-kata. Tapi rakyat US sudah tergolong matang untuk saatnya merasa lelah dengan yang model begini hehehe.

Bukannya saya mendukung Trump. Amit-amit dah hahahaha. Tapi biar opini lebih berimbang saja, ya. Kalau rajin kulik-kulik media non US, mungkin lebih berimbang informasinya.

Enaknya gini, kalau rusuh di Eropa, cari media penyeimbang dari US. Demikian pula sebaliknya. Biasanya lebih “cair” nanti outputnya . CMIIW, ya.

Soal apakah penduduk US mayoritas pada dasarnya rasis dan seksis? Tunggu dulu. Golputnya saja hampir 50% lho . Masalah utama yang ada sekarang di sana condong ke masalah ekonomi. Sisanya itu hanya bumbu-bumbu saja .

trump-1350370_960_720

Pernah dengar pepatah, “Lebih baik menghadapi orang marah ketimbang orang lapar?” Nah, begitulah mungkin situasi di US sekarang. Dan di berbagai belahan dunia lainnya.

Jadi berhentilah merasa presidenmu adalah presiden terburuk di dunia hahahaha .

Because, globally, we’re all suffering now .

Udahlah lagi begini, dikurangilah itu yang negatif-negatifnya ya teman-teman *pelukSatuSatu*. Melawan ketakutan bersama bisa dimulai dengan melihat segalanya lebih dekat .

Fokus!

“Dulu petugas kebersihan juga sama. Kalau ketemu sampah, ngaaakunya banyak. Katanya tidak ada orang. Padahal orangnya ada belasan ribu … digaji.

Lalu saya mulai membentuk pembayaran gaji dengan transfer langsung. Supaya tidak terjadi yang fiktif. Termasuk juga pegawai taman, termasuk tata air PU.

Tapi apa yang terjadi? Betul-betul fiktif.

Bahkan ada yang nekat minjem nama orang. Sudah ditransfer, betul. Tapi tidak kerja. Jadi ditransfer ini uangnya. Namanya.

Jadi misalnya gini, dia paham aja yang mana orang yang tidak kerja pengangguran, daftarin nama, tahun lalu 2.7 juta, anda kan tidak kerja terima saja 500 ribu, sisanya dia yang kantongin. ATMnya dia yang narik.

Padahal ATMnya ke CCTV kita bisa lihat. Satu orang bisa menarik 400 ATM.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Lalu sekarang ada model baru lagi. Tetap yang bersangkutan yang narik tapi dimintain setelah keluar. Dipinjemin.

Beberapa sudah kita bawa ke Polda untuk diproses pidana. Dan pemberhentian sebagai PNS tanpa hormat.

Lalu kita mulai membentuk yang namanya PPSU. PPSU adalah Para Pekerja Prasarana dan Sarana Umum. PPSU inilah yang sekarang ditempatkan di tiap kelurahan ….. ”

-Ahok, Februari 2016-

Saya mengambil kutipan di atas dari pidato Ahok di depan Pegawai Baru PKWT Dishubtrans DKI Jakarta.

Di awal video, terang-terangan Ahok mengkritik keras jajaran Dishubtrans yang sebenarnya punya keterampilan dan kepiawaian yang tidak diragukan lagi. Masalahnya, mereka takluk pada setoran dari operator. Ya itu-itu juga masalah utamanya, MENTAL KORUP!

Apa? Kalian tidak tahu ada video ini? Padahal viral juga lho tempo hari . Jangan ngandelin video di Kepulauan Seribu melulu dong hehehe. Itu juga yang diulang-ulang yang bagian 3 menit itu .

Ini linknya, nonton yang lengkap yaaaaaaa sebelum terburu nafsu mau komentar  https://www.youtube.com/watch?v=ZdqLbNG51kQ

Praktik yang diceritakan Ahok di atas apakah metode baru dalam praktik korupsi di ibukota (dan mungkin di daerah lain juga)?

Bukan lah. Biasaaaaa mah yang begini. Yang tidak biasa adalah ada Gubernur yang berani terang-terangan memberikan perlawanan dan merombak sistem tanpa basa basi.

Belum tentu juga Gubernur DKI di masa lalu itu jahat-jahat dan korup semua. Belum tentu. Pun dengan para PNS. Belum tentu mereka dari awal sudah niat mau “ambil kesempatan”.

Lingkungan yang mungkin memaksa mereka harus terjerat dalam sistem seperti itu .

Loh, gubernur kan posisinya di atas? Koordinator.

Jangan lupa eksekutif kadang harus berhadapan dengan legislatif. Legislatif ini kumpulan semua partai. Jadi ya memang seperti lingkaran setan saja jadinya.

Ahok kok bisa? Ya karena dia pan sudah lama ditendang dari Gerindra hahaha.

Jangan lupa, perubahan di Jakarta tidak bisa lepas dari Ahok secara personal . Ada teman yang sudah putus asa terkait urusan surat-surat tanah, karena kesal, dia pun mengancam, “Ah, udah deh. Saya mau lapor Ahok saja!”

Sim salabim, setelah itu urusan lancaaaaaar. Hahahaha.

Menghadapi susunan anggaran yang isinya anggaran siluman dengan angka trilyunan, memangnya cukup ya dihadapi dengan senyum manis nan bijaksana, “Ayo yaaaa, jangan nakal. Jangan korupsi. Korupsi dosa lho. Ayo kita semua sadar bersama-sama.”

Ini Jakarta, Bung! Bukan pertunjukan opera sabun .

Pembangunan MRT di Jakarta (gambar : www.tempo.co)
Pembangunan MRT di Jakarta (gambar : www.tempo.co)

Mereka, para pejabat negara itu tiap sumpah jabatan memangnya kalian kira mereka bersumpah atas nama siapa. Atas nama lo, atas nama nenek moyang lo?

Bukaaaaaaan. Mereka bersumpah janji dengan kitab suci kepercayaannya masing-masing.

Dengan sumpah itu, mungkin bisa seenak jidat memasang harga jutaan untuk pengadaan tempat sampah. Per biji. Pengadaan scanner, pasang harga 350 juta. Yaela jangankan urusan yang kata kalian “hanya” urusan duniawi itu, dana haji saja bisa dipermainkan.

Kalian sebut apa orang-orang yang mungkin tiap hari membaca ayat suci tapi perilakunya sama sekali jauh dari yang mereka ucapkan? Apa itu namanya, teman-teman? .

APBD juga menjangkau masalah fasilitas umum termasuk kualitas pendidikan yang seharusnya menjangkau seluruh rakyat. Pendidikan ini hal mendasar karena pendidikan, like I always said, bisa menjadi salah satu pemutus mata rantai ketidakberdayaan dalam hal apa pun .

APBD juga kalau dimanfaatkan seoptimal mungkin ya itu hasilnya … sungai-sungai yang dulu kita sudah pasrah dan hanya mimpi-mimpi, “Kapan Jakarta bisa begini bisa begitu”

Sekarang sungai-sungainya bersih karena PEMBENAHAN habis-habisan yang dilakukan Ahok dan jajaran Pemrov DKI. Kalian kira itu otomatis ya? Kalau otomatis kenapa baru bisa di era Ahok? Dulu-dulu masalahnya apa?

Gambar : Facebook Fanpage "Dinas Kebersihan DKI Jakarta"
Gambar : Facebook Fanpage “Dinas Kebersihan DKI Jakarta”

Belum lama berlalu viral berita soal Ahok mengamuk kenapa tanah kuburan saja bisa dijadikan bahan bancakan cobak? *pijetKening*.

Unfortunately, yang diperjuangkan Ahok itu belum “full tank”. Seperti saya bilang, masih pemanasan. Tidak mungkin bisa mengubah perilaku puluhan tahun hanya dengan dua tahun kepemimpinan. Tugas Ahok belum selesai .

Dan sekarang, calon-calon lain mengklaim MAU MELANJUTKAN program-program Ahok. Kasih senyum manis saja deh .

Ahok juga hebat dalam masalah pengawasan. Dia itu bisa lho ngamuk-ngamuk sambil menyebutkan undang-undang terkait dengan sangat lancar. Jadi, memang repot. Galak + cerdas. Perpaduan yang “ngeri”.

Benar-benar tipe eksekutor. Pemrov DKI diubek-ubeknya. Yang namanya rotasi dan pergantian posisi berlangsung secara disiplin dengan memperhitungkan KINERJA.

Tentu ada korbannya. PNS yang sudah berumur dan sudah “nyaman” dengan sistem yang dulu-dulu tentu terhempas satu persatu. Makanya, resistensi pun tinggi. Memangnya enak kalau sudah biasa ongkang-ongkang kaki sekarang kena pecut melulu .

Jadi, kalian jangan kira kerjaan PNS itu santai-santai dan tukang ketik doang. Setidaknya untuk PNS di Pemrov DKI, hal itu sama sekali tidak berlaku lagi.

Jangan suka nyinyirin PNS. Kalau mereka kerjanya bener kan kita juga yang mendapat manfaat .

Beberapa teman di Pemrov DKI mengeluh betapa beratnya kerja mereka sekarang, ya mari kita hibur mereka dan ngasih semangat yuk sama-sama, “Terima kasih ya teman-teman Pemrov DKI atas kerja kerasnya. Usaha tidak akan mengkhianati hasil (y). Jakarta kini adalah Jakarta yang sungguh berbeda.”

Berbeda dalam arti yang positif dong ya tentunya .

“Serangan” terhadap Ahok terkait isu sensitif tertentu ya harap dimaklumi saja.

Dari tahun 2012, 5 tahun yang lalu, isu yang diangkat juga sama kok.

Ya kita bisa apa. Hampir tidak ada celah untuk menjatuhkan Ahok secara rasional. Terpaksa ya mau tak mau lagi-lagi harus berlindung di balik isu sensitif.

gambar : www.merdeka.com
gambar : www.merdeka.com

Lima tahun berlalu sama sekali tidak ada peningkatan . Tidak ada *thumbsDown*.

Ya itu kan mereka.

Kalau kita mah… fokus saja. Fokus!

Kalian rela, semua perubahan yang sungguh nyata di depan mata ini akhirnya berlalu begitu saja? Yakin kalau diganti akan sanggup menerabas sistem birokrasi secemerlang Ahok?

Modalnya apa, rekam jejaknya apa? Think about it .

Kan saya sudah bilang deh ya, soal Ahok adalah standar baru. Yes! Kinerjanya benar-benar bikin deg-degan. Standarnya tinggi. Keberaniannya bikin jiper. Diskotik tenar yang sudah meresahkan sekian lama saja bisa dibubarkan tanpa banyak drama.

Kalau sampai nanti gagal memenangkan Pilkada dengan prestasi segitu kinclongnya, di daerah-daerah lain jadi terpengaruh, “Ah, si Ahok saja yang capek-capek gini gitu kalah kok. Berarti enggak perlulah tonjolin kinerja. Cukup senyum manis nan bijaksana melambai ke kamera seperti biasa, seperti pejabat dulu-dulu. Tidak ada yang perlu diubah.”

Jangan sampai fokus kalian terpecah atas isu-isu yang itu-ituuuuu saja dibesar-besarkan, digoreng-goreng sampai gosong, ditiup-tiup sekuat tenaga. Jangan terpengaruh .

Tetap tonjolkan kinerja-hasil nyata-rekam jejak (y).

Boleh dong kampanye kalau positif ya . Jangan malah menarik diri dari kampanye apa pun . Kalau kita tebar sisi positif terus mereka sakit hati ya salah siapa dong? hehehe.

Ikuti fanpage-fanpage berikut ini kalau tetap gatal pengin share ini itu, ingin memantau hasil kerja Ahok dan Pemrov DKI, serta ingin terhindar dari debat kusir tiada makna :

Pemprov DKI Jakarta
Dinas Kebersihan DKI Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama
Jakarta Smart City

Jangan takut menunjukkan keberpihakan . Jangan ikut-ikutan kayak mau perang gitu ah kelakuannya. Ingat, tidak ada yang bisa kalian lakukan untuk menurunkan ketegangan mereka. TIDAK ADA. It’s their problem. Not yours .

Jakarta sudah berbenah sekian jauh. We’ve come so far, don’t throw it away .

Yang matanya sipit tapi nyalinya lebar jangan sampai lepas!

Fokus, fokus, fokus

People We Haven’t Met Yet (9)

Happy (belated) Deepavali Day for our Indian friends ^_^.

Perayaan Deepavali adalah perayaan khas umat Hindu-India yang umumnya berlangsung pada akhir Oktober atau awal November. Deepavali juga dirayakan oleh orang-orang Syikh di India.

Deepavali, Festival Cahaya, dipercaya sebagai momentum di mana kebaikan mengalahkan kejahatan. Saat di mana cahaya membenamkan kegelapan :).

Di hari raya ini, perempuan-perempuan India, selain membuat aneka penganan khas tradisional untuk jamuan di rumah, juga akan mengenakan pakaian-pakaian khas. Di belahan Utara, Barat, dan Timur, pakaian tradisional yang terkenal adalah Lehengga.

Lehengga, gambar : www.quora.com
Lehengga as a wedding dress, gambar : www.quora.com

Saya pikir baju khas sana itu Saree/Sari. Ternyata banyak booo hehehe. Baru dengar malah yang Lehengga ini. Lebih surprais lagi waktu diberitahu asal muasal budaya berpakaian Lehengga yang ternyata pengaruh dari Kekaisaran Mughal, dinasti Islam yang pernah lama menguasai hampir semua wilayah India, kecuali bagian selatan.

Lehengga memang sekilas terlihat lebih “syar’i” #eaaaa :p.

Lehengga adalah bawahan berupa rok yang biasanya dipasang sampai ke bagian atas perut. Ditambah atasan dan satu scarf panjang. Jadi umumnya terdiri dari 3 potong : rok + atasan + scarf.

Menarik juga lho terminologi pembagian wilayah di India. Menurut hasil kepo-kepol bareng mamak-mamak India di sindang, wilayah Selatan memang “spesial” karena 2 hal.

Soalnya, tidak sedikit orang India kalau memperkenalkan diri tuh mesti banget menekankan, “I’m from South India.”

  1. Karena wilayah selatan di era sekarang cenderung lebih “maju” daripada wilayah lain (Utara-Timur-Barat). Bangalore yang tersohor sebagai Kota IT Internasional itu letaknya di belahan selatan. Konon, wilayah selatan lebih rapi dan masyarakatnya lebih modern gitu-gitulah. Dibandingkan dengan mayoritas wilayah India yang lain. CMIIW ya.
  2. Wilayah Selatan di masa lalu tidak pernah dikuasai oleh Kekaisaran Mughal tapi oleh dinasti Hindu. Nah, pakaian tradisional Saree itulah yang sebenarnya mewakili budaya Hindu ala dinasti yang dulu-dulu.

Tapi kini, sudah tidak penting lagi :). Saree maupun Lehengga sudah dianggap budaya India tanpa perlu meributkan yang mana pribum yang mana non pribumi #eh :p.

Orang India termasuk diaspora terbesar di banyak negara setelah Cina. Ya sesuai dengan jumlah penduduk masing-masing yang sudah melampaui 1 milyar orang. Dua negara ini kalau digabung berdua jumlah penduduknya hampir 3 milyar diantara 7.5 milyar total penduduk di dunia.

Dan orang-orang masih heran saja mengapa orang Cina dan India ada di mana-mana? Hahahaha :p.

India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)
India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)

Di dunia IT misalnya, tidak sedikit lho teman-teman IT di Indonesia yang meremehkan tenaga IT asal India. Suka lupa kalau orang India itu jumlahnya banyaaaaaaaaaaaak banget. Sayangnya, yang ada di Indonesia tidak bisa dianggap punya kemampuan yang mewakili kemampuan IT orang India pada umumnya.

In fact, jangan sakit hati, mayoritas orang India bahkan tidak begitu ngeh soal Indonesia :p. Jadi situ sibuk nyinyirin mereka, mereka bahkan tidak tahu letak Indonesia di mana hahaha.

Dulu saya pikir mereka kurang gaul. Saya diketawain suami hehehe. Ya memang begitulah adanya. Sebagai negara berpenduduk paling banyak ke-4 di dunia, popularitas kita  benar-benar nyungsep euy dibanding Cina dan India :p.

Seperti Indonesia, India juga mengenal banyak sekali  bahasa daerah. Mirip  banget. Tergantung wilayah, kalau di kita kan tergantung provinsi dan suku. Bedanya, India tidak punya bahasa persatuan. Beda dengan kita yang punya Bahasa Indonesia.

Makanya, tidak heran ada beberapa teman India kalau mengobrol ya pakai bahasa Inggris. Karena misalnya di belahan Utara mungkin mayoritas berbahasa Hindi. Di selatan ada bahasa Kannada, Telgu, Tamil dan sebagainya. Ini bukan hanya dari segi pelafalan lho, sampai huruf-hurufnya pun bedaaaaaa. Bukan huruf latin.

Sistem pendidikan di India mengenal istilah “English Medium” biasanya untuk sekolah-sekolah privat. Jadi sekolahnya pakai  bahasa Inggris biar seragam. Nanti ada bahasa kedua yang disesuaikan dengan bahasa lokal setempat.

Kalau sekolah umum ya katanya kualitas sangat kurang dan belum tentu menggunakan bahasa Inggris. Jadi repot kalau mau pindah-pindah. Bahasa sehari-hari kan tergantung domisili.

hindi-letters

Form-form registrasi pemerintahan dan semacamnya pasti selalu menggunakan 2 bahasa : Inggris dan Hindi.

Film-film India kalau produksi Bollywood-Mumbai, itu otomatis pakai bahasa Hindi. Film-film lain yang non Bollywood ya bahasanya tergantung bahasa setempat :D. Ribet ya Cuuuu hehehe.

Jenjang sekolah di India simpel. Begitu masuk SD ya udah di situ aja terus sampai kelas 12 atau kelas 10 hehehe. Kalau hanya sampai kelas 10, mereka harus mengambil pendidikan tambahan selama 2 tahun di college sebelum  masuk universitas. Bila lulus sampai kelas 12, bisa langsung masuk universitas.

Jadi, enggak kenal istilah SD-SMP-SMA. Enak juga ya. Sekali masuk bablas terus sampai lulus. Hemat uang pendaftaran dan bla bla hihihi :p.

Mungkin terkait hal inilah, orang India prefer merantau ke negara-negara berbahasa Inggris seperti : UK, Irlandia, Kanada, US, dan Australia.

Hal unik lainnya adalah “kesetiaan” mereka kepada masakan tradisional. Mayoritas mereka tuh ya baik yang sudah benar-benar lahir dan  besar di rantau, makannya ya tetap Nasi Biryani dkk ^_^.

Diuntungkan dengan komunitas yang besar ya tentu lebih mudah bagi mereka nyari bumbu-bumbu di mana-mana sehingga bisa tetap melestarikan kuliner asli. Karena itu juga, kuliner India sanggup menembus level internasional :).

Mereka ini benar-benar menjunjung tinggi budaya asli mereka, jadi terkesan agak “songong”. Sebel deh, kalau saya nanya-nanya resep mereka semangat banget jelasinnya tapi enggak pernah nanya balik soal makanan Indonesia hahaha. Baper kan kiteeee :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ya  balik lagi, mereka enggak familiar dengan Indonesia. Tapi tahu Thailand, Malaysia, Filipina, dan Australia. Ya  nasib, ya nasib. Malah ada yang nanya, “Indonesia mungkin negara kecil jadi kurang populer. Penduduknya nyampe gak sih 5 juta?”

Yaela Jeng, Indonesia itu kurang gede apa dengan penduduk nyaris 260 juta hahahaha :p.

Ibu-ibu India, seperti umumnya mamak-mamak Asia seperti Cina, Jepang dll, so pasti disiplin dalam masalah pendidikan :). Merantau tidak membuat mereka lupa kondisi asal. Anak-anak tetap dijaga agar bisa menggapai tingkat pendidikan semumpuni mungkin.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Samalah kayak mamak Indonesia yang ini *tunjukDiriSendiri* hahaha. Beda ya antara memaksa vs mengoptimalkan potensi mereka ;). Namanya anak-anak, ya pasti penginnya main-main terus. Sesekali perlu kita “kenalkan mereka” ke dunia nyata :).

Persoalan “perempuan sebagai warga kelas dua” yang kayaknya memang umum di belahan Asia Selatan, juga masih menjadi peer besar di India. Pemaksaan menikah di usia muda bagi kalangan perempuan masih banyak kejadian di sana :(.

Kebetulan saja, perempuan India yang saya kenal di sini mayoritas berpendidikan tinggi. Tak jarang dari pasangan India di sini yang keduanya bekerja sebagai tenaga IT di vendor telekomunikasi internasional yang punya kantor besar di kota tinggal saya sekarang.

Umumnya mereka hanya punya satu anak. Walau sebenarnya di India tidak ada pembatasan jumlah anak. Malah banyak pasangan yang menunda untuk punya anak dan lebih senang mengejar karier baik suami maupun istri.

Enggak pernah  berani bertanya spesifik soal ini hehehe. Paling secara umum saja mereka mungkin ingin memberikan yang terbaik buat buah hati mengingat kehidupan asal di India yang memang “tidak mudah”.

Tapi kalau keluarga India yang muslim, anaknya bisa sampai 3 atau 4 hehehe.

Muslim India yang perempuan hampir bisa dipastikan pasti mengenakan jilbab dan gamis. Justru perempuan Pakistan yang 50 : 50. Antara yang pakai jilbab dengan yang tidak hampir seimbang.

Sempat kaget waktu lagi belanja di Tesco tahu-tahu disapa dengan “Assalamu alaikum” oleh perempuan Pakistan yang tidak berkerudung hehehe. Saya enggak enak kalau disangka sombong soalnya enggak nyapa duluan.

Di Pakistan gaya berpakaian perempuan muslim lebih variatif mirip dengan Indonesia, bedanya Pakistan bisa dibilang 99% muslim.

Tapi secara umum, orang-orang India ogah banget disama-samakan dengan Pakistan. Secara politik, sosial, budaya, India vs Pakistan kan memang “bermasalah”, ya. Mulai dari perebutan wilayah Kashmir yang belum benar-benar ketok palu sampai sekarang, hingga isu terorisme yang marak di Pakistan.

Orang-orang India tidak bebas berkeliaran ke wilayah-wilayah Pakistan dan demikian pula sebaliknya.

India sih terbilang aman secara sosial dari isu-isu terorisme :). Perbedaan agama Hindu vs Islam vs Syikh memang pernah diwarnai pertikaian berdarah dari sejak awal kemerdekaan sampai beberapa waktu lalu. Tapi jauuuuuh lebih  kondusif dibanding kondisi dalam negeri Pakistan.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ternyata, keyakinan tunggal tidak menjadi alasan hidup bisa otomatis harmonis :). Semoga menjadi pelajaran buat Indonesia yang jauh lebih majemuk ketimbang India dan Pakistan, ya <3.

Dalam 2 tahun masa pemerintahan Narendra Modi yang menang secara tak terduga di Pilpres 2014 India (iya lho, pilpresnya barengan dan sama ramenya ternyata hahaha), India mengalami peningkatan ekonomi yang lumayan. Bahkan hasil kerja Modi dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam 20 tahun perkembangan ekonomi India.

Salah satu kontroversi Modi adalah “masa lalu”nya saat menjadi Chief Minister di wilayah Gujarat di tahun 2002. Saat itu terjadi  kerusuhan antar agama (Hindu mayoritas vs Muslim minoritas) yang mengakibatkan korban meninggal lebih dari 1000 orang. Korban terbesar berasal dari umat muslim. Peristiwa ini terkenal dengan nama “Gujarat Riot.”

Modi dianggap bertanggung jawab dalam kerusuhan ini karena “terlihat” mensupport pembantaian terhadap muslim.

Tapi di masa pemerintahannya sebagai perdana menteri kini, nyaris tidak ada tindakan Modi yang membahayakan kehidupan minoritas muslim di India :). So far, belum ada :D. Mudah-mudahan tidak akan pernah ada lagi.

Well, bersama China, India pun kini makin melesat mengejar ketertinggalan. Secara internasional, orang-orang India sudah wara wiri ke sana kemari dan mencatatkan nama baik mereka atas banyak sekali pencapaian dalam bidang akademis, profesional, dan sebagainya. Dalam olahraga saja kayaknya India kurang  kedengeran ya hehehe.

Indonesia, tentunya akan segera bergabung dengan kedua negara besar tadi ;). Aamiin. Pak Jokowi, apa kabar? Sehat, Pak? :p.

Dahulu, Bung Karno pernah meramalkan tentang poros India-Cina-Indonesia. Semoga ketiga negara besar ini terus mengejar ketertinggalan dan benar-benar menjadi penyeimbang dunia yang kayaknya bosan aja gitu dengan dominasi US dan Eropa dkk hehehe :D.

Tapi selama kita masih muter-muter di isu SARA dan sebagainya, ya pasti akan sulit berkonsentrasi membangun negeri :(.

“This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke!”
― Bung Karno

Jangan mau kalah sama India. NKRI harga mati <3.

 

Tingkat Korupsi di Indonesia : Perspektif

Asma, lahir di Rumah Bordil Kandapara di Tangail. Asma berhenti sekolah saat teman-temannya mengejek dan melecehkannya karena ibunya bekerja sebagai PSK di Kandapara.

Asma mengikuti jejak ibunya saat menginjak usia 14 tahun. Sebelumnya, Asma disuruh menari di depan para pelanggan dan tamu.

Kajol, melahirkan bayi Mehedi yang kini berusia 6 bulan. Hasil berhubungan dengan para pelanggan di Kandapara. Kajol menikah di usia 9 tahun. Tantenya lalu menjualnya ke Kandapara.

Dua minggu setelah melahirkan, Kajol sudah harus melayani tamu-tamu. Tapi “bisnis”nya menjadi terganggu karena Kajol juga harus mengasuh Mehedi.

Kandapara Brothel, gambar : ilovesiliguri.com
Kandapara Brothel, gambar : ilovesiliguri.com

Pakhi, 15 tahun. Sudah tinggal di lokalisasi Kandapara sejak usia 14. Dia menikah di usia 12 tahun dan kabur tak lama setelahnya. Seorang laki-laki memungutnya di jalan da menjualnya ke rumah bordil.

Meghia bekerja di pabrik tekstil saat berusia 12 tahun. Dia bertemu lelaki yang menjanjikan pekerjaan lebih baik yang kemudian menjualnya ke rumah bordil.

Bonna diperkosa oleh ayah tirinya di usia 7 tahun. Dia melarikan diri dari rumah di usia 10 tahun. Seorang laki-laki mengajaknya berkenalan di jalan untuk kemudian lagi-lagi…menjual anak perempuan ini ke rumah bordil.

Bonna kini berusia 27 tahun. Sebagai “senior”, dia mengaku bisa mendapatkan maksimal 19 dolar (USD) per hari.

19 dolar. Maksimal. Per hari!

What kind of world are we living in? .

Bahkan di Irlandia sini, pegawai supermarket digaji 8-12 euro per jam. Per jam!

Kandapara, salah satu bagian tergelap dari dunia prostitusi dan potret buruk perlindungan terhadap kaum perempuan di Bangladesh.

Bangladesh Symbol, gambar : pixabay.com
Bangladesh Symbol, gambar : pixabay.com

Tahun 2015, penelitian mengenai indeks korupsi negara-negara dunia menempatkan Bangladesh sebagai satu diantara 114 negara yang memiliki Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di bawah 50. 0 – 100, makin tinggi berarti korupsi makin kecil.

Kisah di atas hanya satu diantara sekian banyak efek korupsi kepada lumpuhnya kehidupan sosial-ekonomi suatu negara . Rendahnya tingkat pendidikan, terorisme, lingkungan tidak layak, adalah sebagian diantaranya.

10 Besar Negara Paling TIDAK Korup didominasi oleh Eropa Barat
Skandinavia menguasai 5 besar. Sapu bersih .

Perspektif Dukung Ahok
Skandinavia Map, gambar : pixabay.com

Apakah ada hubungannya dengan wilayah? Tidak juga. Karena Asia punya Singapura menempati urutan ke 8! Ada Hongkong dan Jepang yang menemani Irlandia sama-sama di urutan 18.

Di Afrika ada Botswana dengan IPK 63.

Apakah agama?

Tet toooottt!

Negara mayoritas muslim menempatkan Qatar sebagai IPK tertinggi (71) dan menempati nomor 22 dalam daftar negara yang pemerintahannya bersih dari korupsi.

Juga ada Arab Saudi dengan IPK 52 dan Uni Emirat Arab IPK 70.

Ah, itu kan karena mereka minyaknya banyak. O ya? Yuk, tengok Venezuela. Negara ini mungkin salah satu negara dengan cadangan minyak cukup dahsyat. IPKnya? 17 sajah .

Jumlah penduduk pengaruh?

China dan India, yang penduduknya kejar-kejaran di angka 1.3 dan 1.5 milyar, IPKnya enggak rendah-rendah amat, 37!

Haiti yang penduduknya cuma 10 juta, enggak nyampe seperseratus China atau India, IPKnya 17.

Sudahlah korupsi merajalela di sini, kalian tahu tidak, beberapa hari yang lalu bencana alam angin topan menghajar sebagian wilayah Haiti yang sudah menewaskan lebih dari 1000 orang .

5 negara paling korup berturut-turut : Somalia, Korea Utara, Afghanistan, Sudan, South Sudan.

Compared to Indonesia, pendapatan perkapita Bangladesh sangat kecil. Kurang dari sepertiganya. Manalagi jumlah penduduknya lebih kecil, sehingga GDP Indonesia jauh di atas Bangladesh.

Selama di Irlandia sini, memang bertemu beberapa orang-orang Bangladesh. Ya sudah pahamlah mengapa mereka pasti akan mati-matian bertahan walau kadang pekerjaan yang didapat bukan pekerjaan tetap dengan gaji pas-pasan. Ya minimal sekolah gratis dan sistem kesehatan mumpuni (y).

Satu yang saya kenal, profesinya koki di sini. Koki pekerja lepas bukan permanen. Tiap hari ketemu antar jemput anak di sekolah. Beliau sekeluarga sudah memegang paspor Irlandia.

Korupsi memang cetaaarrrr 🙁. Efeknya berpengaruh ke banyak hal. Indeks korupsi juga berhubungan erat dengan kondisi negara secara umum. Kalau korup biasanya otomatis berpengaruh kepada kondisi sebuah negara secara keseluruhan.

Angola, IPK 15, sekaligus menjadi salah satu negara yang paling menyedihkan buat anak-anak. 1 diantara 6 anak meninggal di usia balita .

Di Afghanistan, 80% dana rekonstruksi dan pembangunan ditilep! . Sedihnya, saya kutip ya dari artikel di Aljazeera,

“Regrettably, corruption is no longer considered taboo in Afghan society; it has been ingrained in the culture as an accepted norm.”

Accepted norm. Dianggap biasa-biasa saja. Sebenarnya iya juga, kan?

Di Indonesia sendiri, korupsi juga bukan yang gimana-gimana banget . Malah kita sebagai masyarakat lama-lama sudah mati rasa. Dianggap bagian dari kehidupan sehari-hari.

tingkat korupsi di Indonesia
Lobbying – Corruption, gambar : pixabay.com

Ini memang perkara sistem, sih. Sudah terlalu mengakar dan turun temurun.

Saya kok percaya ya, misalnya nih, seorang PNS muda belia yang baru masuk kerja pasti ada ghirah (ceile, ghirah hihihi) untuk mengabdi bagi nusa dan bangsa.

Dengan gagah berani dia memikirkan solusi buat masyarakat. Datanglah dia kepada bos-nya, “Pak saya ada ide buat mobil kebakaran biar bisa cepat pelayanannya kepada masyarakat. Beli saja mobil kecil-kecil biar bebas keluar masuk kampung yang jalanannya kecil-kecil.”

Bosnya bilang apa? “Gile lo! Kalo mobilnya kecil, sabetannya kecil, dong! Sudahlah. Di proposal tetap tulis kayak biasa saja. Harga dan jenis jangan diutak atik! Paham?”

Ya pasti si PNS bau kencur ini takut dan langsung lunglai. Terbawalah dia ke dalam sistem. Tadinya mungkin dia tidak terpikir tapi ya gimana, lingkungan begitu.

Jangan diejek suruh resign. Situ mau ngasih makan keluarganya seandainya dia adalah satu-satunya tulang punggung keluarga? Lagian kalian pikir jumlah yang model begini sedikit? Belum tentuuuuuu. Bagaimana kalau banyak? Situ sanggup ngasih kerjaan lain?

Sistem tidak akan berjalan tanpa dukungan orang yang berada di dalamnya. Kasus di atas itu terinspirasi kisah nyata lho .

Makanya teman-teman, berapa sih pemimpin-pemimpin daerah yang bisa fenomenal melawan praktik-praktik seperti ini? .

Ahok is definitely one of them.

Tingkat korupsi di Indonesia
Basuki Tjahya Purnama (Ahok), gambar : id.wikipedia.org

Awal dulu Pemrov DKI melakukan transparansi termasuk kepada rapat-rapat kerja Ahok, sempat sering heboh kan? “Scanning file” saja butuh anggaran 350 juta! Printer 40 juta. Pengadaan tempat sampah ratusan juta, dsb, dsb.

Belum lagi waktu berantem APBD yang skandal UPS dan berbagai temuan lainnya karena akhirnya datanya dibuka dan kita bisa geleng-geleng kepala melihat berbagai angka-angka ajaib di dalamnya. Berapa lama tuh Ahok berantem sama DPRD hahaha.

Sampai peristiwa, “Pemahaman Nenek lo!” Masih inget gak? Hihihi.

Tapi kalian lebih fokus kepada marah-marahnya Ahok. Mbok ya kalau nonton video tuh yang komplit jangan dipotong-potong . Itu video rapat Ahok di Pemrov DKI masih rutin di-upload lho sampai sekarang .

There are lots and lots of thing we can do kalau dananya benar-benar dipakai untuk rakyat. Yah, enggak usahlah 100%. Tapi mbok ya jangan 80% banget kaleeeee yang dikorupsi huhuhu.

Birokrasi DKI Jakarta sungguh memberikan perubahan nyata. Kelurahan sampai ada satpam yang bukain pintu sampai senyum manis, “Silakan duduk Ibu. Ambil nomor antrian dulu, ya.”

Tahun 2012 saya ke Kelurahan yang sama celingak celinguk kagak ada orang sama sekali! Hahaha. Sampai “assalamu alaikum” berkali-kali setengah berteriak soalnya bingung harus ngomong sama siapa.

Ya dulu sih enggak dirasa gimana-gimana. Pasrah saja. Kalau ketemu petugas ya syukur kalau enggak ya enggak kenapa-kenapa.

Membentuk Pasukan Oranye dan warna-warna lainnya juga bukan tanpa perjuangan lho. Karena sesuai kebiasaan birokrasi “tradisional”, tilep menilep honor petugas kebersihan teruuuuus saja kejadian.

Makanya, Ahok mungkin sudah muak banget. But … don’t we all? .

Belum lagi insiden kuburan dan cobalah ubek-ubek video di Pemrov DKI itu. Banyak hal-hal lain yang belum sempat diviralkan . But again, jangan dipotong-potong mau nontonnya pas beliau ngamuk saja .

Kebersihan di ibukota juga mendapat sorotan yang cukup besar .

Gambar : Facebook Fanpage "Dinas Kebersihan DKI Jakarta"
Gambar : Facebook Fanpage “Dinas Kebersihan DKI Jakarta”

KJP sekarang jangkauannya sudah luas dan terus ditingkatkan. Uang masuk sekolah level SMA/SMU/SLTA di Jakarta sudah gratis.

Ahok juga menyeluruh sampai ke pengawasan. Makanya, tidak heran, ‘kenyamanan’ beberapa pihak pastilah bergeser. Resistensinya pun tidak sedikit.

Ibukota DKI kini tengah disorot. Bukan hanya oleh para pemilih di Jakarta dan di luar Jakarta yang kadang lebih ribet sendiri hahaha. Pemimpin dan calon pemimpin daerah lain juga mengikuti perkembangan di DKI .

Ahok sudah terlanjur memberikan “wajah baru” bagi standar kepemimpinan daerah. Standarnya tinggi boooo . Dari sini, daerah-daerah lain pasti sedang menunggu-nunggu apakah masyarakat sudah siap dengan “perubahan” seperti ini.

Kemenangan Ahok tentu menjadi sinyal baru bahwa tidak ada cara lain memenangkan “pertempuran” selain kinerja-hasil nyata-rekam jejak (y). Prioritas itulah yang mungkin digunakan masyarakat untuk menilai.

Ya mungkin tidak sedrastis itu perubahannya. Soalnya di Sulsel sendiri, daerah asal saya, kabupaten-kabupaten “inti”masih dikuasai KKN . Mirip Banten lah. Si Bapak jadi gubernur, ponakan jadi bupati di sini, adek jadi bupati di sono, dst, dsb. Iyamato, iyamato .

Still…long way to go. Tapi kan sudah ada perubahan signifikan di ibukota. Kalau menang di Pilkada 2017, Ahok akan menjadi standar baru. Ada harapan nyata untuk perlawanan terhadap korupsi.

Percaya deh, percuma saja Pak Jokowi wara wiri ke sana kemari bangun ini itu kalau tidak ditopang oleh pemimpin-pemimpin daerah di wilayah masing-masing. Harus saling bantu membantu .

Kalau gaya komunikasi yang dipermasalahkan, ya gimana ya. Pemimpin model begitu sudah sering lihat, euy, di Indonesia . Banyak kok yang ngomongnya enak, tidak sedikit juga yang pinter masang kancing jasnya (hahaha), yang wajahnya ganteng juga sudah ada (dadah-dadah ke Bang Zumi Zola :p).

Karena itulah, saya memberikan dukungan penuh saya kepada Ahok untuk terpilih kembali di Pilkada 2017 nanti .

Perspektif Dukung Ahok
Gambar : pixabay.com

Kalian tahu efek yang paling menyedihkan dari korupsi ini. Balik ke Angola tadi, 150 ribu anak-anak meninggal dunia setiap tahunnya. Masyarakat sangat menderita. Tapi TIDAK SEMUANYA. Ada segelintir kecil yang tetap hidup nyaman .

Ya jangan lebay juga. Jangan harapkan perubahan radikal yang gimana gitu. Slowly but sure juga oke dong ya .

We really hope that something better is about to happen for Indonesia . Let’s do our best to be a part of it. I’m doing mine now, sesuai kemampuan masing-masing ya hehe #setrikaDaster.

Ngomong-ngomong, IPK Indonesia terus membaik lho . Tahun 2012 dan 2013 kita berada di angka 32. Tahun 2014 naik ke 34. Dan tahun 2015 menjadi 36.

Tentu saja, terkait hal ini, kalian boleh punya pendapat yang berbeda. Ini kan saya tawarkan sudut pandang lain di luar yang diributkan belakangan ini.

Makanya, tulisan ini saya beri judul “Perspektif” bukan “Pemaksaan” .

“Corruption can be beaten if we work together. To stamp out the abuse of power, bribery and shed light on secret deals, citizens must together tell their governments they have had enough.”
-José Ugaz, Chair, Transparency International-

I have had enough. You?

Rosengarten bern swiss

[CERPEN] FLAMINGO MERAH JAMBU 

 

by : Jihan Davincka

***

Terhenti di sudut jalan Burrenstrasse, mataku berbinar senang, “Hanami …”

“Iya, bunga Sakura.”

Aku berdiri di bawah rimbunan kembang merah muda yang memenuhi hampir semua pucuk di ranting pohon itu. Kukeluarkan kamera saku, “Cepatlah. Foto aku.”

“Kau akan terlihat aneh. Jangan lupa, kita di Bern. Ini Swiss. Bukan  Jepang!”

Aku mengibaskan tanganku tidak peduli, “Ayolah  … ”

Kita terus berbicara tentang bunga Sakura walau pohonnya sudah tertinggal jauh oleh langkah-langkah kita. Katamu, “Di Eropa, tak sulit menemukan bunga Sakura. Tapi rasanya biasa saja.”

Aku mengangguk, “Iya. Di Jepang, kalau sakura bermekaran, sudah kayak apa hebohnya turis.”

“Lucu, ya.”

“Tidak juga. Sakura bukan hal yang istimewa di Eropa. Lebih terkenal Tulip mungkin.”

“Tulip juga banyak di Istanbul.”

“Sudahlah, menurutku mau tumbuh di mana pun, Sakura tetap cantik kan?”

“Itulah. Menurutku orang-orang di sini kurang menghargai bunga Sakura.”

Aku mengernyitkan kening, ” Apa harus sama seperti Jepang? Jadi tempat wisata? Swiss punya banyak ciri khas yang lain. Tak harus tentang Sakura.”

“Di sini banyak gunung es. Di Jepang juga dan di sana gunung es pun dihargai sebagai tempat wisata.”

Aku tetap ngotot, “Swiss punya banyak danau, beda dengan Jepang.”

“Tapi kan … ”

“Ya ampun, kenapa jadi sensitif sekali dengan bunga Sakura? Santai sajalah. Apa kau ingin kupotret juga dengan pohon Sakura?”

“Bukan begitu …”

Aku tertawa menggoda, “Kenapa laki-laki takut sekali dengan bunga?”

Tak hanya tentang Sakura, kita kembali ribut soal burung Flamingo. Di suatu akhir pekan kita ke Tierpark, kebun binatang paling besar di Bern. Bersama kerumunan orang banyak yang tumpah ruah di sana. Ingin ikut merayakan teriknya matahari yang menandai datangnya musim semi.

“Wah, tempatnya gratis! Gratis! Gratis!” Aku memekik senang. Beberapa pandang mata langsung menatap ke arahku.

Kau berbisik, “Jangan norak. Gratis itu juga bahasa Jerman. Artinya sama.”

Tierpark Bern Swiss
Playground di Tierpark Bern

Aku terkikik. Buru-buru menutup mulut dengan sebelah tangan. Pantas saja orang-orang melihat ke arahku. Berlebihan betul tingkahku tadi.

Setelah melihat hewan-hewan ternak seperti kelinci, hamster kecil, keledai, kuda, yang dirubung anak-anak, kita jalan lebih jauh ke dalam. Sedikit mendaki, tibalah di sebuah kolam kecil. Kawanan burung flamingo langsung menarik perhatianku.

“Cantik sekali.”

Kuserahkan kamera saku padamu. Aku mengambil pose tepat di samping burung-burung berkaki panjang yang berwarna merah jambu yang berkerumun di salah satu sudut kolam.

Di deretan kursi kayu yang berjajar di hadapan kolam, kita terduduk. Memuaskan diri memandangi sekelompok unggas yang paruhnya ternyata berwarna hitam walau dominasi merah muda memenuhi sekujur bulunya.

Aku tercenung, “Apa tidak kesepian? Hanya berputar-putar di kolam ini?”

“Kenapa harus sepi? Lihat, mereka berkelompok-kelompok.”

Kuedarkan pandangan. Benar juga, di beberapa sudut danau, burung-burung merah jambu ini berdiri bergerombol. Tiap kawanan mungkin berjumlah belasan.

Tetap terpikir, “Apa mereka tidak ingin terbang melihat dunia luas?”

“Bagi mereka, tidak penting ada di mana. Asal selalu bersama orang-orang dekatnya. Dikelilingi oleh teman-teman dan mungkin…kekasihnya.”

Aku jadi ingin tertawa mendengar jawabanmu, “Kupikir mungkin mereka tidak bisa terbang. Kau sedang membahas apa, sih?”

Tapi kau tidak ikut tertawa. Malah menatapku bergeming, suaramu memelan, “Membahas tentang kita.”

Aku tidak siap dengan jawabanmu, “Tentang kita?”

“Sampai kapan kau mau begini? Terus-terusan meninggalkanku. Pulanglah. Ibuku sudah tanya-tanya terus.”

Aku makin tak siap, “Kita sudah kenal lama. Kau tahu ini pekerjaanku. Aku tidak mungkin pulang begitu saja. Kesempatanku di sini, bukan di sana.”

“Iya, sudah lama. 6 tahun. Apa kurang lama? Kalau hanya ingin melihat bunga Sakura, burung flamingo, aku pun sanggup membawamu nanti.”

Aku menggeleng cepat, “Kau seperti  baru mengenalku. Kau tahu pekerjaan seperti ini sudah kutunggu-tunggu dari dulu.”

Tak ada respons. Aku memainkan kamera saku di tanganku. Kubuka-buka foto-foto hasil jalan-jalan beberapa hari terakhir ini. Layar kamera terasa macet. Jari-jariku berkeringat. Sebuah tanya memenuhi kepala, tak berani terlontar dari mulut, “Ada apa denganmu?”

Tahu-tahu kau kembali bersuara, “Jadi?”

“Apanya?”

“Pulanglah. Aku ingin … umm… Menetaplah bersamaku di Jakarta.”

Kamera sampai terjatuh dari tangan. Entah harus bahagia atau bagaimana. Kupikir ini kunjungan biasa. Memang, belum pernah selama ini kau sampai jauh-jauh datang menghampiri sejak aku pindah ke Eropa. Pekerjaan yang mengharuskanku sering-sering membenahi koper dan melancong ke banyak negara.

Dalam pesan singkatmu, kau bilang ingin bertemu saja. Kangen. Sudah setahun lebih aku tidak pulang. Sebelumnya, bisa 3x setahun aku menyempatkan pulang ke Jakarta. Akhir-akhir ini, jadwal traveling sehubungan tugas kantor begitu padat.

Kupungut kamera. Giliranku yang tidak bersuara. Suara-suara burung flamingo yang mendadak ribut bersahut-sahutan menyelamatkan keresahanku yang dipertajam lekatnya tatapanmu. Menuntut jawaban.

Perhatianmu teralih. Kuambil kesempatan, memecahkan percakapan yang buntu, “Wah, kenapa tuh? Mendadak berisik?”

Kau berdiri, melongokkan kepala. Mengalihkan pandangan ke tepian danau di seberang. “Oh, itu. Ada pengunjung yang melemparkan makanan.”

Aku berdiri, menunduk sambil mengibas celanaku yang sama sekali kutahu tidak kotor, “Sudah yuk, ayo ke tempat lain lagi.”

“Eh, tunggu …” Kau memanggilku yang sengaja melangkah cepat-cepat. Kuperlambat langkah biar segera tersusul.

Kau tersenyum kecil menengok kepadaku saat langkah kita telah sejajar, “Burung flamingo bisa terbang, kok.”

Aku mengerutkan kening sejenak. Membiarkanmu mempercepat langkah untuk kemudian mengejarmu kembali, “Oh kupikir tidak bisa. Ternyata bisa?”

“Iya, bisa. Tapi mereka memilih menetap di kolam.”

Hari itu, bunga Sakura bukan tujuan utama kita. Tier Park pun kita singgahi karena kebetulan salah naik tram. Aku ingin mengajakmu ke Zytglogge. Tempat yang pertama terpikir saat kau bertanya, “Apa tempat paling khas di Bern ini?”

Turun dari tram, kau langsung tahu harus ke mana. Kau jalan cepat-cepat, “Penasaran tentang jam besar yang semalam kulihat di situs tentang tempat ini.”

Aku berlari kecil mengimbangi, “Wah, kau sudah survey di internet, ya?”

Tak lama, kita berdua sudah bergabung bersama turis lain yang umumnya saat datang ke tempat ini pastilah berlama-lama di bawah sebuah bangunan jam besar yang menjadi semacam pintu gerbang di wilayah kota tua Zytglogge, Bern.

Kau nampak kecewa, “Ha? Cuma begini saja? Apa istimewanya?”

“Ini jam tertua di Swiss.”

“Tidak ada apa-apanya dibanding Big Ben.”

Zytglogge Bern
Menara Jam di Zytglogge

Aku menjawab panjang lebar, “Menara jam ini usianya jauh lebih tua daripada Big Ben. Soal megahnya mungkin kalah. Tapi sejarahnya lebih menarik. Modelnya juga klasik, tentu beda dengan Big Ben yang lebih modern.”

Dia tak menjawab. Kusentuh lengannya, “Kau tidak akan tahu megahnya Big Ben kalau kau tidak pernah melihat jam besar di Zytglogge  ini bukan?”

Dia menggamit lenganku, “Tak sekalian kau datangi Timbuktu untuk memuaskan perbandinganmu terhadap  banyak hal?”

Sontak kumenengok, nada suaramu agak tajam.  Kau membalas tatapanku, terasa lebih sengit,  “Apa belum cukup?”

“Apanya yang belum cukup?” Tak sadar kutarik lenganku darinya dengan cepat.

Suaramu melunak, “Sampai kapan? Kau tahu, aku tak selamanya bisa menunggu.”

Ah, soal itu lagi?

Tiba di apartemen setelah kuantar ke hotel tempatmu menginap, aku tercenung. Mengapa terasa mendadak? Ada sesuatukah? Sampai kau perlu jauh-jauh menghampiri ke Bern. Setelah agak lama aku tersenyum sendiri. Mungkin benar kau hanya kangen saja. Lama tak bertemu, kau terbawa suasana.

Besok … akan kuajak kau menjelajah di Bukit Gurten. Banyak tempat tracking yang seru di sekeliling perbukitan.

Benar saja, kau terlihat bersemangat. Kita tracking hampir 2 jam mengelilingi salah satu sisi bukit Gurten. Hingga lelah dan terduduk di salah satu sudut terbaik untuk sepuasnya memandang kota dari puncak tertinggi di Bern ini. Kukeluarkan bekal roti isi yang kupersiapkan dari apartemen.

“Kalau makan di kafe lumayan. Bawa bekal biar hemat.” Kusodorkan sebungkus kepadamu.

Hingga roti isi tinggal setengah di tangan masing-masing, kita asyik membahas letak-letak tempat yang sudah kita singgahi jika dilihat dari atas. “Itu yang garis coklat kayaknya Sungai Aare.”

Aku memicingkan mata, “Apa betul?”

“Nah, coba lihat, itu tuh jembatan layang di Burrenstrasse, dekat apartemenmu. Terus yang tinggi itu katedral yang depannya Tier Park. Mungkin yang gedung satunya lagi…”

Aku tidak terlalu menyimak. Diam-diam memandangimu dari samping. Soal beginian kau sangat ahli. Kemampuan visual yang sangat bagus. Membuatku nyaman ke mana-mana menemanimu. Padahal aku tak pandai mengenali jalan. Kurasa, kita memang cocok. Kira-kira, pembicaraan kemarin itu …

Seolah kau mampu membaca isi hatiku, kau menengok perlahan. Mata kita bertemu. Aku jadi tidak enak. Mungkin kau sadar aku tidak menyimak pembicaraan barusan.

“Aku masih menunggu jawaban dari pertanyaan kemarin.”

On top of Gurten Swiss pic by Dani Rosyadi
Dari atas Bukit Gurten Swiss, fotografer Dani Rosyadi

Ya ampun, harus dibahas lagi? Sekarang? Kujawab malas-malasan, “Harus dijawab sekarang?”

“Dan kenapa aku harus terus menunggu?”

“Aku tak memaksa untuk menunggu.”

“Jadi?”

“Jadi …”

“Sepertinya masih banyak yang ingin kau lihat. Aku suka dengan keinginanmu itu. Tapi …”

Lirih suaraku menyambut, “Tapi …”

Kutahu jawabannya, kau paham akan ke mana akhirnya. Saat kurasa angin perbukitan menerpa wajahku lebih keras, entah mengapa terasa lebih dingin daripada yang seharusnya. Tak banyak lagi yang bisa dibicarakan.

Hanya omongan lalu lalang tentang ranting-ranting pohon yang tak kunjung menghijau walau musim semi mungkin sudah mencapai puncaknya.

Hatiku terasa tertusuk mendengarmu setengah berbisik, “Kalau boleh memilih, kita lebih suka pepohonan rimbun jadi angin tidak terlalu kencang rasanya. Sekaligus tetap bisa menikmati pemandangan kota dari atas sini tanpa terhalangi oleh daun-daunnya. Tapi kau tahu … tak selamanya semua keinginan bisa terkabul. Seringnya, kita harus memilih. Atau … keadaan memaksa untuk melepaskan salah satunya.”

Kita turun lebih awal. Banyak membisu dalam funicular yang mengantarkan penumpang dari atas bukit kembali ke bawah. Kau ingin pulang ke hotel. Aku tak memaksa walau seharusnya, dari Gurten kuingin mengajakmu ke Rose Garten, tempat lain untuk melihat cantiknya Bern dari dataran tinggi di kebun bunga mawar di sana.

Di stasiun Wander, aku turun dari tram. Sendiri. Kembali ke apartemenku.

Dua tahun lalu, aku menemanimu berkeliling kota Bern. Kupikir, selain kangen, kau  datang karena terpikat dengan kisahku tentang cantiknya ibukota Swiss ini. Ternyata ada maksud lain.

Kau ingin mengajakku pulang. Sesuatu yang belum terpikir olehku. Lebih jauh lagi. ada rencana yang lebih serius.

Di bahnhof Bern, sebelum naik ke kereta menuju bandara di Zurich, kau bilang, “Kau membuatku jadi berani.”

Sedihku belum sepenuhnya luntur, tak tahu harus jawab apa.

Kau melanjutkan, “Kata ibuku, mencintai itu harus berani. Berani melihat orang yang kita cintai bahagia walau kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”

Aku langsung menangis. Seperti orang bodoh, terisak-isak di tengah keramaian stasiun.

Kini, aku kembali duduk di tepian danau di Tierpark, Bern. Pekerjaan membuatku harus berada di kota ini sekali lagi. Memaksa untuk mengingat saat-saat terakhir kita bersama. Termasuk mengenang perdebatan tentang sekawanan flamingo merah jambu yang kini masih bergerombl di hadapanku, di kolam yang sama. Entah apakah mereka kawanan yang sama dengan yang dulu.

Masih tersisa sedikit  perih di hatiku.

Aku sungguh ingin berdamai dengan diriku sendiri sebelum kuputuskan untuk berbagi kebahagiaan dengan siapa pun. Melihat dunia adalah inginku. Sejak dulu, sebelum kau datang. Walau bertemu denganmu membuat keinginanku yang lain muncul. Aku berharap bisa melihatnya bersamamu.

Tapi berkali-kali aku disadarkan. Seperti katamu di puncak bukit Gurten, kita tak mungkin bisa terus memenuhi segala harap. Diantara sekian banyak hal yang harus kupilih selama hidupku, melepaskanmu termasuk pilihan tersulit yang harus kubuat.

Untuk pilihan ini, keberanianku pun diuji. Saat beberapa bulan lalu kau kirimkan kabar tentang hari bahagiamu yang akan segera menjelang. Selembar undangan ikut menghiasi isi surat elektronik yang kau kirimkan. Kuberanikan diri mendoakan kebahagiaanmu walau aku tidak termasuk dalam kebahagiaan itu. Walau bukan namaku yang tertulis di sana.

Mungkin aku belum sebijak sang flamingo. Walau sanggup mengepakkan sayapnya terbang tinggi akhirnya memilih berdiam di kolam bersama kawanan yang disayanginya. Mungkin kelak akan kusudahi kepakan sayapku. Nanti, bukan sekarang.