Tragedi Farkhunda, Antara Agama -Misogini – dan Politik

“Allahu Akbar!” Pekikan ini terdengar saat iring-iringan manusia mengantarkan jenazah Farkhunda ke tempat peristirahatan terakhir.

Ironisnya, pekikan yang sama, “Allahu Akbar” juga digunakan oleh para pelaku saat membunuh Farkhunda beramai-ramai di salah satu pusat kota Kabul, Afghanistan. Dimana dalam kasus ini, kata membantai mungkin lebih tepat.

Gambar : operationworld.org
Gambar : operationworld.org

 

Tanggal 19 Maret 2015, sebuah video amatiran yang direkam oleh banyak orang (ada yang mengklaim ratusan) tersebar viral di media sosial. Orang-orang yang menyebarkan video dengan bangga mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari “tim penyelamat agama” oleh seorang perempuan atheis bernama Farkhunda.

Farkhunda dituduh membakar alquran. Massa yang merubung, diklaim sekitar seribu laki-laki, (SERIBU LAKI-LAKI) yang dari usia abege sampai tua, secara spontan memukuli, menampar, menendang, menyeret tubuhnya dengan mobil sejauh ratusan meter, menaruhnya di tepi sungai, melempari batu hingga akhirnya membakar jasadnya.

Setelah insiden ini, orang tua Farkhunda mengakui kalau putri mereka mengidap gangguan jiwa. Belakangan klaim ini tidak benar. Keluarga Farkhunda dipaksa mengatakan soal penyakit jiwa agar mereka terhindar dari amuk massa. Bahkan orang tuanya sempat diminta meninggalkan kota Kabul untuk sementara waktu.

Gambar : thegrindstone.com
Gambar : thegrindstone.com

 

Sehari setelahnya, kaum ulama dan beberapa petinggi pemerintahan ikut mengecam Farkhunda dan “mendukung” pembantaian tersebut sebagai “tindakan membela agama”. Walau presiden menginstruksikan investigasi dan menolak klaim bersalah terhadap Farkhunda sebelum ada bukti.

Hasil investigasi menunjukkan Farkhunda tidak pernah membakar alquran. Tuduhannya palsu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Di depan sebuah masjid yang juga ramai dikunjungi orang karena berfungsi sebagai tempat wisata, suatu pagi di hari yang sama, Farkhunda menegur seorang laki-laki, Zainuddin, penjual cinderamata di depan masjid.

Farkhunda meminta Zainuddin menghentikan kegiatannya menjual benda-benda kecil yang berisi tulisan-tulisan alquran yang bisa dianggap sebagai jimat. Farkhunda menganggap hal tersebut sebagai bid’ah dan tidak sesuai tuntunan agama.

Zainuddin, bukan hanya penjual cinderamata tapi juga dikenal sebagai ulama lokal di sana. Sementara Farkhunda juga lulusan sebuah sekolah agama yang saat itu juga bekerja sebagai tenaga pengajar agama secara sukarela.

Saat berdebat, Zainuddin berteriak kepada orang-orang yang ramai lalu lalang di sana, “Hei, hei kemarilah. Perempuan ini membakar alquran.”

Tuduhan tersebut menyulut perhatian. Dari situ para lelaki mulai berdatangan dan berkerumun. Di sini, sudah banyak yang mulai merekam.

Farkhunda membantah tuduhan tersebut. Tuduhan juga melebar kepada tuduhan antek Amerika, mata-mata, dsb. Massa makin memanas. Hadehhh, enggak di mana-mana ya. Isu beginian selalu “laku dijual” :'(.

Farkhunda dihajar oleh banyak laki-laki sampai babak belur hingga jilbabnya terbuka dan wajah berlumuran darah. Permohonan ampun dan bantahannya sama sekali tidak ditanggapi. Orang makin ramai berteriak-teriak. Jangan nonton videonya kalau enggak kuat.

Polisi pun tidak sanggup menahan serbuan massa. Malah ada indikasi polisi diam saja saat massa makin membludak. Kalau lihat videonya mungkin benar jumlahnya bisa mencapai seribu orang. Seribu laki-laki membantai SATU PEREMPUAN karena tuduhan membakar alquran yang BELUM ADA BUKTINYA.

Watch your anger, gambar : pixabay.com
Watch your anger, gambar : pixabay.com

Polisi-polisi yang dianggap lalai saat kejadian hanya dihukum 1 tahun itu pun dibebaskan setelah beberapa bulan dengan jaminan bersyarat.

Saat pemakaman yang biasanya “terlarang” bagi wanita, jenazah Farkhunda digotong ramai-ramai oleh para perempuan saja. Laki-laki dilarang mendekat.

Ironisnya, para pelaku, massa laki-laki yang diamuk amarah ini bukan kalangan relijius yang biasanya tinggal di daerah-daerah terpencil atau di perbukitan. Mereka adalah orang-orang perkotaan Kabul yang hidup dan besar di daerah urban.

Lebih sadis lagi, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda ada yang berusaha menolong apalagi melerai. Malah ramai-ramai merekam!!! . Ya itu tadi, polisi saja tidak terlihat upaya maksimal untuk meredakan massa.

Polisi baru terlihat datang dan membubarkan massa saat jasad Farkhunda sudah dilalap api di tepi sungai. Telat ajeeeee .
Kalau nonton videonya di Youtube terus mantengin komentar-komentarnya, ya pasti isu agama menjadi sasaran empuk deh 🙁. Padahal isu agama dalam hal ini tidak berdiri sendiri. Toh, di berbagai belahan dunia lainjuga banyak negara konflik terlepas apa agama yang mayoritas di sana.

Walau kita juga tidak bisa melepaskan fakta bahwa urusan agama memang masih sering dijadikan “tameng politik” dari dulu sampai sekarang. Unfortunately, it worked very well. Makanya masih banyak yang suka “mencari celah” via ayat-ayat suci .

Tragedi Farkhunda salah satu dari banyak penguat betapa masih beratnya melepaskan Afghanistan dari trauma instabilitas politik bahkan sampai level perang Afghanistan selama beberapa dekade.

Di masa penguasaan komunis via Uni Soviet, ada beberapa peraturan yang melegakan misalnya pelarangan kawin paksa dan pengenalan hak politik bagi perempuan. Tapi korbannya tidak sedikit. Banyak sekali warga yang berseberangan ideologi yang terbunuh dan tertindas.

Dari sini, banyak pihak luar yang mencari kesempatan, misalnya hadirnya kalangan Mujahidin yang disponsori oleh lawan-lawan politik Sovyet untuk membebaskan Afghanistan dari komunisme. Usahanya berhasil. Tapi tidak membuat kondisi politik Afghanistan “adem”.

Perang Afghanistan (gambar ilustrasi saja)
Gambar : pixabay.com

 

Perang Afghanistan adalah perebutan kekuasaan yang terjadi diantara sesama golongan yang tadinya bersatu mengusir komunisme. Hingga akhirnya Taliban berkuasa sejak tahun 1995. Di era Taliban yang mengklaim dirinya sebagai “Moslem Estate”, represi terhadap kaum perempuan benar-benar “berjaya”.

Dari kewajiban menutup tubuh (benar-benar dari ujung rambut ke ujung kaki), batasan dalam menuntut pendidikan, kawin paksa/perkawinan di usia sangat muda, dsb :. Namun, tak sedikit kalangan Islam baik internal maupun di luar Afghanistan yang mengkritik hal ini sebagai “very wrong idea of Islam.”

Taliban mungkin sudah bisa “ditaklukkan”. Tapi efek kehidupan sosial budaya yang mengarah ke misoginisme -nya mungkin butuh satu atau lebih generasi lagi untuk perbaikan ke depan .

Puluhan orang ditangkap dalam insiden ini saat terbukti Farkhunda ‘bersih’. Sedihnya, beberapa bulan kemudian, hukuman mati yang dijatuhkan kepada beberapa orang malah dibatalkan diganti dengan hukuman 10-20 tahun penjara. Itu pun keputusannya berlangsung dalam ruang tertutup, tidak dibuka untuk publik .

Sebenarnya, tidak sedikit dana yang digelontorkan oleh banyak pihak untuk pemulihan kondisi di Afghanistan. Tapi korupsi yang merajalela makin melumpuhkan harapan perbaikan di sana. Penegakan hukum ya masih jauh dari sempurna .

Perlawanan terhadap kelompok Talliban dll masih berlangsung. Sambil melawan kelompok ekstrimis, perjuangan internal juga diwarnai dengan pemberantasan korupsi. Hingga kini, Afghanistan masih masuk dalam 5 besar negara paling korup di dunia.

Korupsi melumpuhkan kondisi ekonomi di sana. Kondisi ekonomi yang stagnan dan cenderung lemah punya andil besar dalam kondisi psikologis yang menjalar kepada budaya dan sosial masyarakat setempat. Apalagi ini negara yang puluhan tahun hidup dalam suasana perang.

Perbaikan tingkat pendidikan seharusnya bisa menjadi salah satu pemutus ketidakberdayaan masyarakat dalam banyak hal. Tapi kalau duitnya diembat sama pejabat ya bagaimana mau memulai semuanya?

Setidaknya Farkhunda memantik semangat perlawanan dari kalangan aktivis perempuan di Afghanistan dan semoga membuka mata masyarakat di sana untuk bersama memperjuangkan hidup ke arah lebih baik. Aamiin.

Farkhunda jauh di sana, itu juga kejadiannya sudah lebih dari setahun yang lalu. Tapi kita bisa memetik banyak pelajaran, ya. Tentang pentingnya stabilitas politik misalnya. Jangan kalian kira Afghanistan ujug-ujug kacau, ya. Itu banyak penyusupnya dari luar . Termasuk negara-negara besar yang berebut pengaruh.

Hal lainnya terkait…berita bohong. Duh, ini nih masih peer banget. Apalagi di tengah terjangan arus informasi yang super deras. Belajar berenang ya teman-teman, jangan sampai tenggelam karenanya .

Efek berita bohong yang berpotensi menyebar kebencian itu jangan disangka gitu-gitu doang. Selain berujung kepada pembantaian dan pembunuhan kepada satu orang (misalnya kasus Farkhunda), tidak sedikit perang besar di dunia yang salah satu pemantik utamanya adalah … rumor belaka 🙁.

Mobilisasi massa juga harus berhati-hati . Namanya keramaian, apalagi memang tujuannya mau menghujat dan penuh dengan cacian ya pasti potensi bikin orang kejang-kejangnya tinggi.

Salah satu pelaku yang tertangkap karena kelihatan di video di kasus Farkhunda adalah Yaqoob. Usianya masih 16 tahun. Dia bukan anak nakal bahkan sedari kecil rajin bekerja dan sangat melindungi adik-adik perempuannya.

Perang afghanistan
Gambar : pixabay.com

 

Ujug-ujug dia ikut ke dalam keramaian hanya karena mendengar seribu orang berteriak-teriak dan memukuli satu orang perempuan. Yaqoob terlihat melemparkan batu berukuran besar ke tubuh Farkhunda. Orang tua Yaqoob membelanya, “Ya tentu dalam keramaian seperti itu, kita pastilah gampang emosi. Tersulut oleh mayoritas. Dia tidak terpikir bahwa perempuan tersebut tidak bersalah.”

Ya makanya, mbok ya ngumpul-ngumpul itu buat minum teh bareng atau diskusi. Atau memperjuangkan sesuatu yang berfaedah yang bisa menyelamatkan hidup banyak orang atau membawa perbaikan bagi masyarakat. Jangan menghimpun massa untuk mengalirkan amarah 🙁.

Itu di videonya, ada lho anak-anak usia pra remaja yang ikut-ikutan melempar batu dan semacamnya 🙁.

Nama Farkhunda diabadikan sebagai nama jalanan tempat Farkhunda dianiaya dan diseret. Sebuah tugu juga dibuat untuk mengenangnya. Semoga kenangannnya tidak hanya berhenti menjadi label dan bangunan seremonial semata.

Remembering Farkhunda. Remembering the societies where women are still considered as the not more than the second gender .

Masih mempertanyakan mengapa aktivis perempuan suka lebay dan layak didengarkan suaranya?

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org
Kontroversi make up Alicia

Unpretty

Gegara The Voice 2016, jadi ngeh kalau Alicia Keys sekarang memutuskan untuk tidak pakai make up di depan publik. Terus kenapa? Toh tetap tampil cantik tanpa make up juga dia.

Ya kalau kita-kita yang jelata ini enggak make up -an ya siapa yang peduli hahaha. Sementara beliau kan bagian dari dunia entertainment di mana tebal tipisnya pupuran di muka  memang cukup punya peran.

Tapi makin ke sini dunia per-lenong-an memang makin berkembang. Saya ingat tempo hari ada selegram yang bikin tantangan, “Ayo girls, berani enggak selfie tanpa alis?”

Kontroversi make up Alicia Keys
Gambar : pixabay.com

Tanpa alis? Gimana, gimana? Ealah, maksudnya tanpa PENSIL alis. Jadi alis dibiarin natural. Baru setelah kepo-kepoin ke mana-mana (niat! hahaha), saya jadi paham fenomena si pensil alis ini, especially alis super tebel yang konon namanya alis Sinchan itu :D.

Dari situ ter-upgrade pula soal lipstik jenis Matte yang juga hits beserta lipstik lokal Purbasari yang tadinya saya sangka merek jamu hahaha.

Nyinyir kauuuuuuu. Padahal saya sendiri paling tidak sanggup keluar rumah tanpa…bedak! Hahaha >_<.

Tempo hari bedak saya sempat hilang. Sudah pakaian rapi siap berangkat mau sepedaan di Old Rail dekat rumah, saya panik, “Bedak ilang! Bedak enggak ketemu!”

Suami sudah hafal kalau begini artinya emergency alias SOS! Hahaha. Suami langsung mengerahkan anak-anak untuk ikut mencari! :p. Sepuluh menit kami berempat sibuk nyari sana sini disertai omelan suami, “I’ve told you! Taro barang di tempatnya. Jangan main lempar aja. Kebiasaan sih!”

Perempuan mah kalau diginiin bukannya santai malah ngomel balik! Hahaha. Dia yang clumsy dia yang nyolot :p. Camkan, perempuan mana pernah salah, sih *benerinPoni*.

Bedak enggak ketemu dan saya tetap pergi walau hati gundah bukan kepalang. Besoknya harus ke acara di rumah teman teman, bela-belain abis masak, bedak dicari tetap enggak ketemu, saya lari-larian ke mal beli bedak baru. Hahaha.

Kontroversi make up Alicia Keys
Gambar : pixabay.com

Pembelaan saya terhadap urusan bedak ini bakal saya bahas di akhir tulisan. Bear with me karena chitty-chitty-chat ini seperti biasa bakal panjaaaaang :p.

Back to Neng Alicia dulu lah :D.

Sikapnya mengundang pro dan kontra. Termasuk industri kosmetik yang jadi sensi hehehe.

Alicia menerangkan betapa gimana-gitu nya dese pertama kali memasuki industri musik. Di depan publik, adaaaaaaaa saja komentar yang harus diterimanya. Dibilang terlalu tomboy lah, diminta agak manis dikitlah, terlalu kasar lah endebre-endebre-endebre.

Padahal menurut Alicia, “Helooooo, eike New Yorker. Ya memang begitu kebiasaan orang sana.”

Lama-lama Alicia merasa harus jadi bunglon untuk bertahan di dunia musik. Hal ini mempengaruhi musiknya yang seolah-olah liriknya selalu tentang “persembunyian” atau “topeng” atau itulah-itulah.

Enggak sengaja, di sebuah sesi foto, Alicia berfoto tanpa make up sama sekali. Hal ini bikin dese merasa ‘berbeda’. Di situlah momentumnya. When she finally decided to show up in public with her “make-up free action”.

Ada juga yang nyinyir bahwa Alicia bisa memilih seperti itu karena dia pada dasarnya “naturally beautiful”. Coba dia enggak kece ya pasti bakal takluk pada foundation, pensil alis, matte dkk, hehehe :p.

Dengan kemampuannya di dunia musik, Alicia (di luar urusan fisik) memang sudah cetar sih ya. Penulis lagu, penyanyi, bisa main instrumen, dsb. Namun begitulah persaingan di dunia industri. Tetap saja ketebalan pupuran muka punya pengaruh :p.

Kontroversi make up alicia
Gambar : pixabay.com

Alicia berharap pilihannya bisa menjadi semacam revolusi di dunia hiburan.

Untuk menjawab tuduhan tentang perlawanan terhadap industri kosmetik, Alicia mengeluarkan pernyataan resmi bahwa sikapnya sama sekali bukan “anti kosmetik”.

Di akun Twitternya, Alicia ngetweet, “Y’all, me choosing to be makeup free doesn’t mean I’m anti-makeup. Do you!”

Maksudnya Alicia mungkin gini, jangan mau “ditekan” oleh standar-standar yang sebenarnya mengekang kita. Kita enggak mau. Tapi melakukannya karena terpaksa. Untuk diterima oleh lingkungan misalnya.

Beda cerita dong ya kalau memang kita hepi-hepi saja bahkan doyan berdandan. Memangnya kenapa kalau ada kepuasan tersendirinya? Yang tahu niat orang dandan ya pribadi masing-masing, yes? ;).

Kalau di keluarga saya sendiri, jangan ditanya itu Mama saya urusan dandan. Juaranya boooo hahaha. Padahal backgroundnya lahir dan besar di kampung, menikah di usia 15, tapi urusan make up, Mama, seingat saya dari kecil, memang hits abis dah :p.

Situ baru ngerti kalau pensil juga bisa buat bikin alis selain buat coret-coret dinding :p, emak gue sudah lincah gambar alis dalam tempo itungan detik hahaha.

Kontroversi make up alicia
Gambar : pixabay.com

Nah, Mama ini yang ngajarin pakai bedak dari SD. Ini gara-gara saya ikut marching band dan harus berpanas-panasan beberapa kali seminggu. Kalau lagi ada pertandingan, bisa tiap hari latihan sepulang sekolah.

Mama tuh ngajarin pakai Nivea (bukan endorse ya ^_^)  plus bedak. Katanya biar kulit enggak terbakar. Waktu saya SMP, saya dan adik pulang pergi sekolah juga jalan kaki. Tapi adik saya ogah pakai bedak-bedakan waktu itu.

Hasilnya? Emak enggak boong yeeee hehehe. Kulit mukanya berbintik-bintik hitam pengaruh efek terpapar sinar matahari langsung sehari-hari.

Lucunya, waktu kecil adik cuek, sekarang walah, terakhir ketemu buat lunch bareng di salah satu mal besar, dese dandan full! Hehehe. Kalau saya, walau dari kecil sudah kenal bedak, sampai gede ya mentoknya di bedak aja hahaha.

Adik saya cukup spesial. Karena dia tidak selalu dandan full. Kalau ketemuannya di rumah atau acara keluarga, dia bisa lho tampil polos even tanpa bedak sama sekali :D. Jadi ya dia tidak tergantung sama kosmetik 100% ;).

Kalau saya mah, ke warung dekat rumah aja mesti banget lho bedakan hahaha. Stabil dong boooo :p. Tapi ya gitu, saya enggak punya lipstik, enggak punya eye shadow, apalagi blush on. Sejak tahu kalau barang beginian ada expired datenya (ya menurut lo? hihihi), saya enggak pernah beli lagi.

Skin care vs kosmetika itu 2 hal yang berbeda lho menurut saya. Tidak doyan make-up tidak berarti kita boleh abai pada kesehatan kulit. Terus aja cari pembenaran si embak bedak satu ini hahaha.

Walau enggak kenal pensil alis dkk, saya rutin pakai pembersih muka tiap hari ;).

Etapi beneraaaaaaaan *ngotot*. Skin care itu buat kesehatan penting. Pilih bedak yang ada perlindungan SPF bla bla itu.

Again, intinya bukan ngajak berdebat enakan pakai make up apa enggak (kalau skin care sebaiknya wajib lhoooo –> ampun Mbak, ampuuuun hahaha *sumpelPakaiBedak*).

Kayaknya sudah cukup banyak ya rentetan peperangan di kalangan perempuan. Janganlah ditambah dengan pertarungan di ranah pensil alis dkk *lelah*.

Saya sendiri, dulu-dulu kalau ke kondangan keluarga selalu maksain ke salon buat didandanin. Bukan MUA yang spesial. Dulu sih bayarnya cuma 50-75 ribu :p. Merasa inferior kalau foto-foto terus kumel sendiri. I thought this is wrong :(. Won’t do that anymore.

Jangan berdandan untuk menjadikannya sebagai booster untuk lebih percaya diri. Something you don’t like but you’re still doing it to “cover” your fear of being unaccepted. Because you believe that’s the ONLY standard of being beautiful. Itu salah ;). Tapi bedak sih wajib ah, apa ini, apa ini, apa iniiiiiiiii hahahaha.

Oh ya, kalau malam-malam lagi iseng enggak bisa tidur, saya main-main dengan aplikasi Insta Beauty yang saya instal di hape :p. Iseng memotret wajah sendiri yang lagi kucel-kucelnya habis bertarung ngurusin anak tengil 3 bijik dari pagi sampai malam hahaha.

Lalu saya touch up foto muka saya dengan berbagai fitur yang ada di aplikasi itu. Idungnya dikecilin (hahaha), muka dibikin tirus, ada pilihan make up yang bisa diatur-atur dari mata sampai ke bibir. Seru yaaaaaaaa :p. What a guilty pleasure :D.

For a moment, saya selalu kagum dengan keajaiban peralatan ngelenong itu walau dalam bentuk photoshop digital. Setelah puas dan mulai ngantuk, foto-fotonya saya hapus semua lalu bobok dengan bahagia ;). Setidaknya bisa merasa berdandan tanpa perlu keluar duit! Nyahahaha.

Bukannya ngaji yaaa sebelum bobok #dikeplakPakaiSajadah.

Suka juga ngikutin perkembangan dunia perlenongan. Nonton-nonton tutorial ini itu. Tapi tetap merasa kece walau cuma nonton doang tanpa perlu diaplikasikan ke wajah sendiri :p. Saya rasa kemampuan berdandan juga merupakan seni tersendiri yang harus diapresiasi.

Gilak, enggak gampang lho ituuuuu jadi Make Up Artist ;).

Kontroversi make up Alicia Keys
Gambar : pixabay.com

Tapi ya balik lagi, jangan terjebak dengan tekanan soal standar kecantikan. You decide it yourself.

Ya seperti yang dibilang sama Neng Alicia tadi, “Do you!”

Judul tulisannya saya ambil dari salah satu judul lagu dari kelompok TLC. Yukkk, abege 90-an mana suaranyaaaaaa :D. Tahu lagu “Unpretty” gak?

Singing …

“You can buy your hair if it won’t grow
You can fix your nose if he says so
You can buy all the make up
That M.A.C. can make
But if you can’t look inside you
Find out who am I too
Be in the position to make me feel
So damn unpretty
I’ll make you feel unpretty too”

Videonya cari di Youtube sendiri yaaaaaaa :D.

Have a nice weekend. Relaaaaaax and do … you! ;).

pixabay-wink

***

 

 

Jalan-jalan ke Taman Burung TMII Jakarta

Taman Burung hanya satu dari sekian banyak tempat/wahana yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Paling favorit deh TMII ini :D. Rasanya enggak kelar-kelar hahaha.

Mudik tahun 2014 ke sana juga. Ke Istana Boneka + naik cable car + Taman Reptil. Nah, tahun ini ke Taman Burung plus ke Taman Dinosaurus. Biar banyak ditulis satu-satu saja.

Yang tahun 2014 aja belom ditulis cobak -_-.

Lokasi Taman Burung agak ke belakang ya kalau enggak salah. Maklum sih ke mana-mana numpang duduk doang jadi tahu-tahu udah nyampe aja hahaha :p.

Ini nih pemandangan pertama setelah melewati pintu masuk.

Taman Burung TMII Jakarta

 

Aduh, kalau saya sih lihat kucing aja merinding, apalagi melihat burung Elang hihihi. Anak-anak juga rada takut-takut pas ditawarin jadi tempat nangkringnya si Elang.

Akhirnya Papa aja yang foto bareng si burung pemangsa satu ini. Sengaja disebutin pemangsa-nya sebagai justifikasi kenapa eike takut hahahaha :p.

Taman Burung TMII Jakarta

Foto model begini bayarnya goceng sajah *tepukTangan*.

Terus jalan ke dalam. Sejujurnya enggak gitu paham sih ini lihat apa saja di dalam hihihi. Anak-anak juga banyakan lari-larian gitu. Apa enggak terlalu doyan lihat burung-burung gitu ya? Kebiasaan ngeliat dinosaurus sih hahaha.

Habis selfie dengan Elang dkk (iya ada jenis burung lain selain Elang kok buat teman foto dekat pintu masuk :D), kita jalan-jalan ke dalam.

Tentu saja, sembari jalan ya sambil apaaaaaaaaa … ya foto-foto! *benerinBuluMata*

Tiket masuk TMII

Abis foto, terus jalan lagi. Terus … ya foto lagi hahaha.

Lihat deh si adek bayi, asoyyy bener tuh nyeker enggak pakai sepatu, no kaos kaki. Mumpung cuaca mendukung ya Dek :D.

Taman Burung TMII Jakarta

Terus … manaaaaaaa burung-burungnya? -_-.

Dalam Taman Burung ini, ada 2 kubah besar tempat di mana mayoritas burung-burung ini beredar. Namanya : Kubah Barat dan Kubah Timur.

Kubah Barat untuk burung-burung khas yang ada dari belahan barat Nusantara seperti : Sumatera, Jawa, Kalimantan dll.

Kubah Timur untuk unggas yang bisa terbang dari sisi timur Indonesia, seperti : Sulawesi, Irian dll. Konon ada hampir 200 jenis burung yang ada dalam Taman Burung ini. Klaimnya yang paling lengkap di Indonesia.

Nah, kayaknya foto-foto dalam Kubah belum selesai proses editingnya sama suami hihihi. Kalau sudah ada, saya edit lagi deh tulisan ini :D. Kalau sudah terlanjur baca, nggg…anu, nanti balik lagi yaaaaaa hahaha :p.

Kenapa pakai bangunan  berbentuk Kubah? Ya biar burung-burungnya enggak ngacir ke mana-mana. Masa kita datang, tahu-tahu Taman Burungnya kosong gitu hihihi.

Etapi, bukankah burung-burung sudah seharusnya dibiarkan bebas di angkasa? Kalau mau bahas perdebatan soal ini, bisa satu tulisan sendiri kayaknya :p.

Selain area dalam Kubah, di dalam Taman  Burung juga ada beberapa kolam yang bisa dipakai buat intip-intip berbagai jenis Unggas. Ya bisa main bareng juga kali, ya. Beberapa anak kelihatan lempar-lemparin remah roti ke dalam kolam.

Sebenarnya enggak boleh ngasih hewan sembarang makanan sih. Kalau mau, ada kok yang jualan makanan ikan. Salah satunya di kafetaria tempat kita mampir pas mau nyari toilet.

Tempatnya kayak dalam terowongan gitu. Di dalam ada kafetaria dan tempat nongkrong depannya. Saelah, tempat nongkrong hihihi.

Di sini juga ada tempat buat foto-foto sama burung. Anak-anak lebih rileks soalnya burungnya lebih ‘ramah’ dan warna warni :p. Kalau mamanya sih tetap memilih ngawasin aja hahaha #penakutMaksimal -_-.

Ni dia, dua bujang kita yang mencoba eksis dengan si burung warna warni tadi ;).

Tiket masuk TMII

abil-burung-narda

Pas ketemu kafetaria ya sekalian jajan. Beli es krim secara panasnya ya booooo huhuhu.

Sekalian numpang salat juga. Kalau enggak salah ada mushalla ‘resmi’ kok di sini. Yang kami tumpangi mushalla pribadi yang punya kantin. Terima kasih ya Pak Bu :D. Sekalian soalnya. Daripada nyari-nyari lagi.

Anak-anak sempat beli-beli makanan ikan dan main-main dekat kolam situ.

Tentu tak lupa … foto  bareng-bareng jugaaaaaaaa :D. Eksis terooossss hihihi.

Tiket masuk TMII

Ya begitu aja sih kegiatannya.

Enggak terlalu lama emang. Selain anak-anak kurang antusias, kite-kite juga rada-rada bosan gitu sih ya :p *tutupMuka*.

Nah, dari sini kita keluar cari makan siang. Habis makan siang baru deh keliling-keliling TMII nyari tempat mampir yang lain. Karena memang tidak punya itinerary khusus di hari itu.

Ealah, enggak sengaja lihat plang “Taman Dinosaurus”. Pastilah para fans garis keras hewan purba ini (si bocah baju biru dan ijo itu tuuuuhhh hihihi) langsung teriak-teriak pengin ke sana.

Acara jalan-jalan pun lanjut ke Taman Dinosaurus yang ternyata berada dalam area Taman Legenda Keong Emas. Ceritanya? Tunggu di postingan berikutnya #eaaaaaa hahaha :p.

Kan udah dibilang, dipisah-pisah ceritanya biar banyaaaaaak :D.

UPdated : tulisan tentang Petualangan Dinosaurus bisa dicek langsung di link berikut, ya.

Atau bisa lihat vlognya di sini ;).

 

Reflect Your Hope, Not Your Fear (2)

Beberapa waktu lalu, seorang teman memprediksi isu agama akan mulai ditinggalkan dalam kampanye Pilkada DKI kali ini.

Pilkada DKI memang spesial 😉.

Sudah berasa mau milih Gubernur Republik Indonesia seperti kata Bang Tomi Lebang hihihi. Yang ikut ribut bisa dari Sabang sampai Merauke sampai yang di luar negeri hahaha #eh :p.

Ramalan teman saya nampaknya salah tuh. Setidaknya sampai tadi iseng blusukan di news feed, wow, yang lebih seru ternyata perdebatan seputar agama ini :p. Tulisan bagus ala-ala “aroma aktivis” malah komentarnya serius-serius semua 😀.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Saya memilih untuk menyalahkan…pendukung Ahok! Pendukung Ahok yang beragama Islam. Ya macam saya inilah hehe.

Seharusnya sih pendukung Ahok yang beragama Islam yang harus mengerti soal perbedaan ini. Buat beberapa kalangan, “larangan” memilih pemimpin non muslim ini memang penting. Menurut mereka, urusannya sudah level akidah.

Mengapa sulit sekali memahami mereka?

Kalau hanya sebatas diingatkan ya kenapa harus marah-marah? Bilang saja iya dan terima kasih sudah diingatkan tapi kita punya penafsiran berbeda. Beres kan urusan?

Kalau mereka masih memperpanjang masalah ini dan masih ngotot ya mengalah saja kenapa siiiiiih? Dituduh liberal aja baper :p #uhuk#benerinPoni.

Harus dipahami juga satu fakta penting. Bahwa tidak semua yang meyakini larangan ini otomatis anti Ahok. Nope! Ada juga yang memang sebatas menjalankan perintah agama (versi mereka). Kalangan ini tidak ikut menjelek-jelekkan Ahok bahkan tidak segan-segan memuji hasil kerja yang mereka rasa oke.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Memang ada sih yang terjebak untuk menjelek-jelekkan tapi ya memang kalian bisa apa?

Kalian kesal kan kalau dianggap menistakan agama bla bla bla lah terus kenapa dibalas dengan hal yang sama? -_-.

People with bad behavior only exists to remind us to NOT to do the same, yes? 😉.

Susah? Ya susah bangeeeeettttt hahaha.

Makanyaaaa, jangan ikut-ikutan bahas agama kelesssss :p.

Biarkanlah mereka ngotot. Soalnya mereka merasa berkewajiban untuk menyampaikan hal ini. Yes, mereka wajib menyampaikan tapi kalian tidak harus sepakat. Tapi tidak sepakat tidak selalu berarti berantem kan yaaaaaaaaaaa.

Merasa benar vs merasa benar sendiri itu 2 hal yang berbeda-nya pakai banget

Susah? Pastinyaaaaaaa hahaha.

Makanyaaaaa, bahas yang lain sajalah.

Kalian sendiri kenapa memutuskan berkampanye untuk Ahok? Hayo ooo kenapa hayooooo :p.

Kalian sama tidak seperti saya?

I simply see … a hope 🙂. Terus terang, dulu-dulu sih tidak terlalu ngikutin masalah politik. Malas ah hahaha. Enggak paham dan kayaknya enggak ada gunanya juga.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Apalagi untuk selevel Jakarta. Yah, maksud saya, mereka tidak korupsi habis-habisan saja kayaknya sudah cukup, ya, hehehe. Berat lah mau gimana-gimana karena dukungan partai lebih dominan 🙂. Ada gitu yang berani mendobrak tradisi ini?

Ternyata ada!

Menurut saya lho iniiiiiii 😀.

Saya tuh kalau mengurus hal-hal seputar birokrasi juga sudah enggak pernah mikirin bakal gimana-gimana. Mau marah juga kayaknya ngabisin tenaga. Ya sudah, siapkan saja uang calo dan semacamnya. Malas pusing. Enggak ngaruh juga rasanya.

Kemarin ramai isu tanah kuburan pun menjadi “mainan” buat ladang duit di kalangan birokrasi. Ah, apa istimewanya sih? Dana haji saja bisa kena masalah kok ya hehehe. Ya memang gituuuuu. Apa-apa harus bayar, harus lewat calo, harus begini harus begitu. Terima saja.

Itu juga tuh, yang isu tempat sampah bisa sampai 100 juta di anggaran dana. Printer harga puluhan juga. Pokoknya banyaklah mark-up anggaran hal-hal aneh yang sebenarnya kita juga sudah tahu dari dulu. Tapi terus mau apa selain gigit jari dan mengutuk dalam hati?

Sekarang, saya merasa ada perubahan. Tapi bisa saja perasaan saya salah dong ya hehehe –>takut dibully ni yeeee hahaha.

Di Pemrov DKI juga ternyata beneran ada “perubahan besar”. Lagi-lagi ini informasi dari orang dekat saya. Ya kalian boleh tidak percaya 😉.

Tekanan Ahok kepada pejabat eselon tertinggi membuat tekanan itu terus berlanjut ke bawah. Makanya, sekarang tuh kalau enggak kerja ya kena mutasi.

Stereotip “PNS kerjanya santai” kayaknya sudah tidak berlaku untuk Pemrov DKI hihihi. Tetap semangat ya teman-teman di Pemrov DKI 😉. Proud of you all (y).

Perubahan secara sistem juga ada.

Misalnya nih, soal pasukan oranye. Saya takjub ya, ketemu mereka di jalanan kompleks depan rumah lagi sepi begitu kok ya tetap kerja dengan rajin, sih? Ya duduk-duduk saja santai-santai kan sepi ini.

Ternyata, ada aplikasi online yang bisa diakses masyarakat dan dipakai untuk “melapor”. Dan itu yaaaa, lurah terkait juga bisa dinyinyirin sama Ahok kalau sampai ada pengaduan.

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

Iyah, partisipasi masyarakat bagian dari sistem yang coba dibuat berkesinambungan ini.

Lah memangnya dulu kita enggak bisa ngomel-ngomel? Ya bisaaaaaaaaa.

Tapi dulu ditanggepin gak? 😉.

Masalah pendidikan dan kesehatan secara umum juga terlihat jelas perkembangannya. Kalian lebih tahulah daripada saya 😉.

Tentu saja selalu ada celah untuk menjatuhkan. Pastilah hehehe.

Makanya berikanlah celah itu pada “toko sebelah” :p. Kalian fokus ke hasil kerja dan kinerja Ahok yang ada. Kalau bisa yang kalian rasakan sendiri.

Jangan ikut-ikutan ngeributin reklamasi dengan mengandalkan info-info cupu. Malu taukkkk :p. Memang harus ada penyeimbang dalam persoalan seperti ini. Lagian kenapa sih yang anti reklamasi atau anti gusur-gusuran selalu dituding anti Ahok?

Ya siapa pun gubernurnya, kalangan aktivis akan selalu memperjuangkan hal yang sama. Pahami lah. Enggak semua urusan terkait Jakarta harus melulu soal Ahoker vs Anti Ahok.

Pada intinya kita semua ingin ibukota terus berbenah ke hal yang lebih baik. Karena itu kan kalian ingin Ahok melanjutkan kepemimpinannya untuk 5 tahun ke depan? Bukan karena tidak suka dengan calon lainnya kan?

Ya makanya bahas Ahoknya sajaaaaa 😀.

Hati-hatilah, situasi kayak begini bikin media berpesta pora seenak jidat menyiram bensin dengan berita-berita menghasut.

Kayak kemarin tuh, Pak Anies bilang apa, sama media dipelantar pelintir. Dibikin berantem dan kebawa-bawa nama Foke hehehe. Padahal mah, yang dibilang Pak Anies tidak salah.

Buat saya sih, Pak Anies Baswedan bukan tokoh tercela. Saya join relawan Turun Tangan sejak tahun 2014 itu karena terpukau dengan beliau. Terbakar euy mendengar ceramah-ceramahnya yang menyejukkan ^_^.

Hanya saja, saya yakin Ahok adalah eksekutor yang lebih baik, bahkan jauh lebih baik, untuk level DKI Jakarta. I really want him to win 🙂.

Untuk Mas Agus, ya no komenlah. Selain urusan fisik, kayaknya belum ada gebrakan yang gimana gitu dari sana hehehe. Katanya badannya tinggi, ganteng pula. Aduh gimana ya, suami saya juga tinggi dan ganteng nyahahaha –> dilempar granat!

Jadi, jangan terpancing dengan isu-isu yang mengeksploitasi ketakutan dari toko sebelah hehehe. Biarkanlah. Memangnya kita bisa apa.

Tapi gatel pengin kampanye tapi kadang bingung mau share apaan? Ya coba saja sodorkan bukti kerja dan harapan versi kalian sendiri?

Atau mungkin bisa dicoba menelisik hasil kerja Pemrov DKI di bawah kepemimpinan Ahok via fanpage-fanpage berikut ini :

Dinas Kebersihan DKI Jakarta
Pemprov DKI Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama

Yuk yaaaaa, putuskan lingkaran setannya. Sampai kapan ini saban ada kampanye berantem meluluuuuuuu :p.

Kita memilih atau mendukung dengan harapan agar DKI Jakarta bisa dibawa ke arah yang lebih baik. Bukan karena takut sama ini itu, yes? ^_^.

“May your choices reflect your hopes, not your fears.”
― Nelson Mandela

Itu.

Broadcast Message, Share (NOT)!

Dua tahun terakhir ini, Mama saya belajar bermedia sosial. Tapi akhirnya beliau nyaman dengan WA saja.

Nah, via WA inilah, awalnya sempat tuh si Mama hobi banget forward BM an …. dari mana saja! Soal kesehatanlah, soal anu lah, soal inilah, yang tidak jarang berakhir dengan “Tolong share jika Anda peduli.”

Ada juga yang lebih ‘lebay’, “Tolonglah, setitik perhatian Anda adalah surga bagi mereka. Klik share atau Anda akan menyesal selamanya.”

Set dah! -_-

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Waktu Pilpres ya lebih seru lagi toh ya hahaha. Sampai pening saya dijejali isu salah satu capres yang konon anak si ini anak si itu pokoknya durjana banget lah. Yang intinya, Islam pokoknya mau dihancurkan kalau dia menang. Dihancurkan bagaimanya? Ya pokoknya hancur, cur, cur.

Selain topik agama cetar nan sensitif, paling gampang dan mudah dipakai mencekoki orang untuk ketik Amin dan share, adalah topik anak-anak. Misalnya video enggak jelas soal penyiksaan anak.

Topik tentang anak-anak memang cukup cespleng. Sialnya, kalau melihat video aneh-aneh, tanpa pikir panjang kita akan otomatis memaki, “Ibu Jahanam!” atau “Gila ni orang!” atau “Tangkap saja ibu gila ini!”

Menurut sebagian orang, benar atau tidak ya tidak masalah. Yang jelas videonya asli bodo amat konteksnya apa dan menyajikan hal-hal yang “kelihatan” berbahaya.

Tet toooot!!

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

 

Tapi memang saya akui, kalau tema kontroversial soal anak-anak, sulit sekali untuk cepat-cepat mengendalikan akal sehat. Biasanya, refleks aja gitu. Semacam tanggung jawab sosial mungkin? Tapi kita bahkan tidak paham apa yang sebenarnya terjadi?

Masalahnya, sekali broadcast message berita-berita model begini (yang isinya memicu kebencian dan kekerasan di luar batas) menjadi viral, hampir mustahil untuk “menarik”nya kembali 🙁.

Masih ingat kasus anak remaja yang bunuh diri itu?

Saya enggan menyebutkan namanya karena kasus ini masih dipakai oleh akun-akun / fanpage-fanpage pencari jempol di mana kalau dikasih klarifikasinya mereka tetap ngeyel tidak mau menghapus postingan tersebut. Alasannya, biar jadi pembelajaran.

Belajar kok nyebarin fitnah sih? Pakai foto dan nama asli pula :'(.

Sudah terlanjur keenakan sih ya, akun tiba-tiba banyak follower, postingan sudah dishare sampai ribuan, ya siapa juga yang mau hapus? :p.

Anak laki-laki yang bunuh diri. Lalu, seorang yang mengaku kerabat dekat membeberkan kisah hidup si anak yang tinggal bersama neneknya di mana orang tuanya sudah bercerai.

Sasaran utama ya siapa lagi kalau bukan ibunya 🙁.

Gambar : getthelowdown.co.uk
Gambar : getthelowdown.co.uk

 

Standarlah, ibunya dituduh membuang anak, kok anak bisa tinggal sama nenek, ibunya sudah enak-enak sama keluarga baru bla bla bla.

Apa anehnya sih? Saya punya sahabat yang sejak SMP sampai kuliah tinggal bersama neneknya dan hubungannya baik-baik saja dengan orang tuanya yang sudah bercerai yang masing-masing sudah menikah kembali.

Dia tumbuh menjadi anak berprestasi dan tidak mengalami hambatan sosial apa pun.

Beritanya viral sampai belasan ribuan share. Belum lagi akun-akun yang ambil kesempatan dengan copas langsung biar postingannya yang viral.

Sampai-sampai akun media sosial ibunya tersebar luas. Facebook, Twitter yang sempat saya cek. Instagramnya juga ada kalau tidak salah.

Foto-foto atau postingannya yang publik habis diserbu komen-komen yang entah apa yang terjadi pada saya kalau sampai saya yang ada di posisinya huhuhuhu.

Kenal saja tidak. Kok bisa-bisanya ada yang komen panjang lebar memberi nasihat ini itu yang ujung-ujungnya mau memaki-maki.

Saya berkali-kali berkomentar di akun-akun teman-teman yang ikut share dulu, “Mbak kenal tidak dengan keluarga ini?”

“Enggak sih. Saya kan cuma share. Tanya saja sendiri.”

Lah, cuma share tapi captionnya penuh amarah gitu. Padahal tidak kenal.

Belakangan, si Ibu angkat bicara. Karena kaget beritanya menjadi di media sosial. Dia menulis klarifikasi panjang lebar dan beberapa kerabat serta kawan dekatnya menghibur yang bersangkutan.

Si pihak yang diduga pertama kali menyebarkan berita ini ikut memberi klarifikasi. Sedihnya, klarifikasi itu hanya dishare sekitar 100 an saja. Sudah tidak ada yang peduli. Mungkin orang-orang yang tadinya berkomentar setajam silet juga sudah lupa kali bahkan tidak sadar.

Lebih parah, beberapa bulan lalu, beritanya viral lagi. Percuma juga diklarifikasi 🙁. Seperti yang saya bilang tadi, si akun yang memviralkan berita ngotot tidak mau menghapus karena alasan pembelajaran tadi. Sudah banyak yang berkomentar di sana.

Bullshit! Bilang saja sudah keenakan dapat banyak like dan share :p.

Bukan berarti kita harus cuek dengan sekeliling. Hanya saja, misalnya nih kasus foto si abang ojek yang katanya pegang-pegang payudara anak perempuan di sekolahan, itu yang motret boro-boro ngomong ke ortu si anak.

Malah difoto langsung dan diviralkan! Itu juga saya tidak yakin kejadiannya beneran atau tidak. Fotonya blur.

Jangan share broadcast message

Ya otomatis, orang-orang beramai-ramai share dan memaki-maki abang ojek plus orang tuanya. Dari sini bisa berkembang banyak api, orang tua tidak bertanggung jawab kok anak diantar jemput ojek dan sebagainya -_-. Sampai isu : negara ini sudah hancur dan tidak ada yang peduli.

Ujung-ujungnya ya salah siapaaaaaaa…..ayo coba siapa, hahaha.

Coba kita mulai lagi dari awal. Sekilas ini hanya masalah kecil. Halah, kan cuma share, kan cuma komen dikit, kan cuma kasihan, kan cuma … ya pokoknya kan cuma, kan cuma, kan cuma.

Bayangkan kalau beritanya tidak benar :

1. Kalian sudah memfitnah. Bagus kalau belakangan sadar. Ya kalau ngeyel atau tidak ngeh kalau ada klarifikasi? Berlalu begitu saja tanpa sadar.

2. Kalian menebarkan ketakutan. Yes, tadinya orang baik-baik saja, memulai hari dengan gembira, menyuapi anak dan melihat anak berangkat sekolah dengan hati lapang, ya dikasih berita gituan. Langsung lemas dan dunia mau runtuh. Tetiba merasa dunia benaran sudah hancur.

Ikut-ikutan share, ikut-ikutan saling nakut-nakutin di grup-grup. Asyik dah ngerumpi enggak penting yang ujung-ujungnya malah jadi ngeri sendiri, pakai icon nangis seribu bijik! UNTUK BERITA YANG TIDAK JELAS KEBENARANNYA.

gambar : mariaelita.com
gambar : mariaelita.com

 

3. Justru jangan-jangan kalian memberi ide kepada para “penjahat beneran”. Misalnya ada abang ojek yang baca berita itu. Dia langsung senyum licik dalam hati, “Wah, iya juga ya. Ide bagus nih, Kok enggak pernah kepikiran? Asyik juga.”

Topik ini menjadi salah satu pembahasan dalam buku best seller, “The Tipping Point.” Peristiwa bunuh diri yang diselidiki dan ada kesimpulan bahwa berita orang bunuh diri yang viral malah memicu orang-orang depresi untuk memikirkan hal yang sama.

It gave them the idea.

4. You are judging others! Jangan sembarangan ngasih pendapat untuk hal-hal yang kalian tidak tahu pasti.

Misalnya nih, enggak sengaja melihat ibu toyor kepala anaknya depan umum, langsung bikin foto dan dikasih caption, “Astagfirullah, ibu macam apaaaaahhhhh!!!! Dasar ibu tidak tahu diri. Ibu ngana ibu nganu…”

Do you know the whole story?

Apa kalian kenal dan mengikuti keseharian ibu tadi? Kalian yakin sehari-harinya Ibu itu sudah pasti menyakiti anaknya terus?

You, yourself, as a Mom, sudah sempurna banget ya? Enggak bakal gitu suatu hari kalian yang tentunya manusia biasa ini berada di posisi yang sama?

Terus gimana dong? Diam saja kalau melihat ada yang tidak beres? Kalau melihatnya sekilas, tidak sengaja, tidak kenal pula, dan tidak membahayakan, yang terbaik ya dicuekin.

Cuma lihat ibu-ibu memarahi anaknya dengan membabi buta karena menumpahkan minuman di sebuah rumah makan kok bisa kalian tiba-tiba melabeli beliau sebagai ibu tidak bertanggung jawab?

Kalau dia memukul anaknya dengan kasar dan menurut kalian sudah sangat berbahaya, cegah sebisa mungkin! Jangan malah difotooooooo. Keburu celaka nanti anaknya -_-. Kalian mau membantu atau membuat malu?? Think!

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

 

Kalau tidak urgent banget tapi tetap merasa harus melakukan sesuatu segera dekati langsung kalau berani atau laporkan ke pegawai restoran atau pemilik restoran atau siapalah yang cocok dengan kondisi.

Kalau di lingkungan tinggal ya coba dengan tetangga lain atau ketua RT atau ketua RW. Lebih terarah, terukur dan insya Allah, solusi bisa cepat ditemukan.

Satu contoh bagus pernah ditunjukkan oleh seorang wartawati yang melihat anak kecil lalu lalang di sebuah apartemen elit. Dulu juga viral nih. Tapi ini contoh yang bagus.

Diaper si anak sudah penuh sampai kedodoran di bawah lutut. Si anak itu juga bisa terancam bahaya karena ibunya terlihat tidak peduli dan banyak mobil lalu lalang di sana.

Si wartawati ini mendekati si anak dan berusaha menolongnya. Si Ibu seperti orang gila teriak-teriak tidak jelas dan sama sekali cuek dengan si anak.

Akhirnya dapat cerita dari satpam di sana. Dari sini malah timbul empati karena ternyata si Ibu juga mengalami KDRT dan bla bla bla. Kasusnya juga sampai ke komite perlindungan anak dan semacamnya lah.

Sampai akhirnya nenek si anak yang datang dan mengambilnya. Masalah ibunya saya tidak mengikuti perkembangannya.

See? Ada solusi dan penyelesaian. Malah mencegah kita untuk buru-buru menghakimi ibunya. Akan jadi lebih mudah kalau kita paham detailnya. Tolong si anak, tolong si ibu 🙂.

“There’s a difference between knowing somebody and hearing about somebody. Just because you ‘heard’ doesn’t mean you ‘know'”

Again, think about it 😉.